Transcript
zdXUI2xXLmA • 996: Budaya ANEH & EKSTRIM Negara China yang Bikin STRES BERAT
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0800_zdXUI2xXLmA.txt
Kind: captions Language: id Hidup di Jakarta itu berat banget. Lu bangun pagi, desak-desakan di KRL, kerja seharian, pulang malam tenaga udah habis. Tapi gaji cuma lupa lewat. Buat beli rumah di pinggiran Jakarta aja mungkin lo harus nabung total gaji lo selama 10 sampai 20 tahun bahkan. Atau mungkin lo mikir, "Ah, pindah ke Bali aja deh healing." Eh, pas sampai sana ternyata sama aja pacet di mana-mana, banjir kalau hujan, dan harga kosan atau sewa villa udah enggak masuk akal mahalnya. Tapi gimana kalau gue bilang ada tempat yang jauh lebih gila, jauh lebih absurd, dan level kesulitannya itu jauh di atas Jakarta atau Bali. Selamat datang di Beijing, China. Di sini tekanan hidupnya udah di level nightmare. Riset tunjukin ya. Kalau lo mau beli rumah di kota besar kayak Beijing atau Shenzen, lo harus nabung 100% gaji lo tanpa makan, tanpa jajan selama 50 tahun. Gue ulangin, 50 tahun. Kalau lo mulai kerja di umur 22, lo baru lunas beli rumah pas umur 72 tahun. Ibaratnya kayak udah keberu mati, Bro. Standar ekonomi yang absur tinggi ini akhirnya melahirkan sebuah budaya kerja yang aneh yang saking kerasnya bikin manusia enggak lagi kerasa kayak manusia. Nah, pertanyaannya separah apa sih budaya kerja di China sampai bikin warganya putus asa dan apa dampaknya buat mental mereka? Selamat datang di Jurnal Investigasi BY 1%. Hari ini kita bakal bedah tuntas fenomena 996, culture kerja ekstrem di China yang bikin warganya stres, burn out, dan memilih untuk membusuk. Enjoy. [musik] Kenalin perempuan ini namanya Nicole. Dia lahir tahun 1992, lulusan S2 dari Inggris. Dan secara profil dia ini bibit unggul, pintar, dan juga ambisius. Nicole kerja di salah satu raksasa internet terbesar di China yang mana harusnya kalau kita lihat sekilas ya, hidupnya tuh harusnya enak, gajinya gede, karirnya juga bagus. Nah, tapi realitanya justru berbeda jauh. Di call cerita jam kerjanya itu di sana terlalu brutal. Dia mulai kerja jam 09.30 pagi, tapi jam pulangnya enggak pernah jelas. Di paruh ke 2 tahun, dia sering banget baru bisa pulang jam 11.30 malam atau bahkan sampai jam 12.30 dini hari. Lu bayangin ya, dia pulang ke rumah cuma numpang buat tidur dan saking capeknya otaknya udah enggak kuat lagi buat dipakai mikir. Nicole juga bilang dia ngerasa mati rasa. rutinitas malamnya cuma mandi, rebahan, terus kolling HP tanpa tujuan, cuma ngelihatin layar kosong tanpa benar-benar bisa nyerna informasi sampai akhirnya dia ketiduran sendiri karena kecapekan. Ini bukan cuma capek fisik ya, [musik] tapi juga capek jiwa. Nicole bilang sensasinya itu bukan kayak habis olahraga, tapi kayak lagi terus-menerus jatuh atau tenggelam ke dasar laut yang gelap. Dan dampaknya ke fisik itu nyata banget. Dalam 1 tahun, Nicole harus ke rumah sakit sampai empat kali karena jantungnya sering berdebar enggak nyaman. Dia sadar kerjaannya ini ngebunuh dia secara pelan-pelan. Kasus Nikol ini bukan yang pertama dan satu-satunya ya. Di China, fenomena kematian mendadak akibat kerja berlebih atau karoshi itu sering banget terjadi. Ada kasus karyawan dari perusahaan ritail di China yang mendadak meninggal pas pulang kerja di jam [musik] .30 30 pagi. Masalah ini berakar dari budaya kerja yang emang gila banget di China [musik] yang disebut 996. Istilah 996 ini sebenarnya kode buat jam kerja di perusahaan China. [musik] Masuk jam 09.00 pagi, pulang jam 09.00 malam, dan juga kerja selama 6 hari dalam 1 minggu. Itu totalnya kalau dijumlahin bisa 72 jam kerja per minggu. Jauh [musik] banget di atas standar hukum internasional atau bahkan hukum China sendiri yang sebenarnya cuma 44 jam. Awalnya budaya ini tuh lahir dari perusahaan teknologi raksasa kayak Alibaba atau Tensen dan didorong sama ambisi buat ngejar ketertinggalan dari barat. Bahkan sosok kayak Jaekma pernah bilang kalau bisa kerja 996 itu adalah sebuah fuba atau berkah yang besar. [musik] Nah, tapi pertanyaannya apakah beneran kerja 996 ini adalah berkah? Iya sih, China tuh sekarang pertumbuhannya bisa pesat banget ya. Tapi kalau sampai ada orang yang meninggal tiba-tiba tengah malam karena kecapekan, apakah budayanya masih worth it buat dilakuin? [musik] Nah, pas dengar cerita kayak Nicole tadi, reaksi wajar kita itu ya pasti ya elah kalau stres dan sakit-saketan gitu kenapa enggak resign aja sih? Cari kerjaan lain kek yang lebih nyaman. Nah, gue ngerti kenapa lu mikir kayak gitu. Tetapi di China [musik] pilihan buat lisan itu enggak segampang yang kita bayangin. Lulusan universitas di China itu membeludak. Ada sekitar 12 juta lulusan baru tiap [musik] tahun. Tapi lapangan kerja kelas menengahnya itu segitu-gitu aja. Dan akibatnya, sarjana yang harusnya kerja di kantor kepaksa kerja kasar jadi buruh pabrik. Misalnya ya, ada contoh kasus ada laki-laki namanya Lee Shaulin. Dia ini anak muda umur 25 tahun, lulusan universitas dan sekolah yang bagus. Tapi kerjanya tiap hari ya repetitif banget. Ngcek kebocoran bensin, ganti oli, lihatin ban aus dari jam 09.00 pagi sampai 5 sore 6 hari dalam seminggu. Apakah Lee Shaulin punya mimpi? Dulu punya. Dia pengin banget ya dapat kerjaan bagus dan hidup layak. Tapi realitas kompetisi di China bikin dia sadar kalau mimpi itu udah ketinggian banget. That's why buat orang-orang kayak Nicole yang udah dapat posisi enak di perusahaan teknologi, mereka juga enggak berani keluar. Kenapa? Karena ya mereka takut kagak bisa dapat kerja yang lebih layak lagi. Bahkan di sana juga ada satu istilah namanya itu kutukan umur 35. Di industri kerja China, kalau lo udah di atas 35 tahun, lo dianggap tua, mahal, dan juga enggak punya energi buat kerja 996 kayak anak muda. Jadi kalau Nall Resign di umur 30-an, kemungkinan besar enggak ada perusahaan yang mau nerima dia lagi. Jadi, ya buat orang-orang yang kerjanya udah proper, pilihannya tuh cuma dua. bertahan di kerjaan yang bikin lo mati rasa dan sakit jantung atau resign terus jatuh miskin dan mungkin berakhir jadi kurir pengantar makanan atau kerja di pabrik yang juga saingannya ada jutaan orang yang mau kerjaan-kerjaan itu. Bahkan lebih parahnya lagi lo itu kagak bisa cuma asal kerja cuy. Kerjaan lo itu wajib bagus dan improve terus. Kenapa? Karena kalau lu jelek aja sekali dua kali lu bisa aja langsung diganti sama salah satu dari jutaan orang yang mengincar posisi lo sekarang. [musik] Ya, akhirnya ya mau enggak mau lo harus lari sampai muntah-muntah sakit ya, cuma buat tetap berada di tempat yang sama dengan gaji yang kagak seberapa [musik] atau bahkan kagak naik-naik banget. Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau kasih info penting buat lo yang ngerasa stuck sama arah karir, relationship atau bahkan [musik] sama diri sendiri. Sekarang 1% punya product membership premium namanya The Good Life Membership. The Good Life Membership adalah ekosistem pengembangan diri yang dirancang khusus buat bantu lo yang mau mencapai hidup seutuhnya dengan bertumbuh 1% setiap harinya. Apa aja sih yang bakal lo dapetin dengan join membership ini? Locotes premium [musik] satu per bulan, empat webinar premium per bulan, video dan playlist premium, artikel premium, grup WhatsApp, dan juga gathering [musik] khusus member. Semua produk ini kalau lo beli ketengan di 1% itu harganya bisa sampai jutaan rupiah. Tapi [musik] kalau lo join member, produk jutaan tadi lo bisa dapatkan dengan harga mulai dari Rp79.000 aja per [musik] bulan. Mantap banget ya. Langsung aja ya kunjungi website kita satpers.net atau lu bisa klik link [musik] 1.bio/goodlifem membership buat info lebih lanjut. Nah, terus apa yang bakal terjadi kalau manusia itu keterusan [musik] dipush sampai ke batasnya, sampai ke limitnya. Yang pasti kebanyakan dari kita bakal meledak ya at some point. Tetapi di China ledakannya itu bukan dalam bentuk demo bakar ban di jalanan. Enggak ada tuh demo-demo kayak gitu. Tapi ledakannya itu sunyi. Anak-anak mudanya mulai sadar kalau sistem ini itu curang dan juga merusak. Mereka sadar kalau janji manis kerja keras pangkal kaya itu adalah bohong. Akhirnya muncullah dua filosofi perlawanan yaitu Tang Ping dan juga Bailand. Pertama kita bahas dulu dari Tang Ping atau ling flat alias rebahan. Ini adalah sikap pasif. Mereka nolak beli rumah, nolak nikah, nolak kerja keras berlebihan. Mereka cuma kerja seadanya buat makan dan sisa waktunya dipakai buat menikmati hidup. Contoh nyatanya ada di kisah Guan Iiz. Dia perempuan umur 29 tahun, tinggal di kota mahal dan dia kerja jadi guru less freelance. Tapi dia batasin cuma mau ngajar maksimal dua kelas sehari. Sisa waktunya ya dia main skateboard di taman 4 sampai 5 jam sehari. Pendapatannya mungkin ngepas banget ya, apalagi setelah industri les privat itu di sana kena regulasi pemerintah. Tapi I enggak panik, dia malah makin santai. Bagi dia kebahagiaan personal dan kesehatan mental itu jauh lebih mahal daripada apartemen atau tas branded. Selain dari kasus guaniz ini ada yang lebih ekstrem lagi dari Tangping. Namanya itu adalah baand. Byand itu artinya let it rot atau biarkan pembusuk. Kalau Tang itu adalah ungkapan kalau orang-orang tuh pengin istirahat, ba itu lebih ke bodo amat, hancur-hancur deh sekalian. Ini adalah level keputusasaan yang udah next level. Misalnya ada kisah Wang Yang Dong. Dia itu anak teknik udah 5 tahun merantau di Beijing. Harusnya 5 tahun itu progres karirnya sebenarnya udah bagus, tetapi dia malah ngerasa makin jauh dari tujuannya. Daripada stres mikirin masa depan yang enggak pasti, uangnya dong ya milih lepas tangan aja sama kerjaannya. Dia di kantor kerjanya asal-asalan. Effort-nya minimal dan benar-benar enggak peduli kalau dipecat atau ditegur. Sikap-sikap ini melahirkan fenomena for no youth atau pemuda empat tidak. Tidak [musik] pacaran, tidak menikah, tidak beli rumah, dan juga tidak punya anak. Bahkan data survei juga nunjukin ya ada sekitar 500 juta anak muda yang relate sama sikap ini secara demografis. Mereka ngerasa buat apa nikah atau punya anak kalau cuma mewariskan penderitaan. Nampaknya ke ekonomi juga gila ya, munculnya trend reverse consumption atau Pinkty economy. Anak muda di sana sekarang tuh malas beli barang branded kayak Nike atau Starbucks. Mereka lari ke barang Pinkti alias barang du tiruan lokal yang kualitasnya tuh sama tapi harganya seperepuhnya. [musik] At the end of the day mungkin di Indonesia kondisinya belum seekstrem nabung 50 tahun buat rumah ya atau budaya 1996 yang dilegalkan secara sosial di China. Tapi bibit-bibitnya sebenarnya udah kita mulai rasain sekarang. Misalnya kayak hassle culture yang masa kita kerja 24/7 [musik] FOMO gitu ya. Lihat pencapaian orang di sosm. Harga rumah di Jabo Detabek juga udah makin enggak masuk akal sampai [musik] ke gaji kita, income kita yang mungkin rasanya cuma segitu-gitu aja. Apa yang terjadi di China, fenomena [musik] Tangting dan juga Bail adalah sebuah peringatan bahwa manusia itu punya batas. Kalau sistem ekonomi dan sosial terus-terusan nekan manusia melampaui batas kemanusiaannya, manusia enggak akan jadi makin produktif. mereka bakal rusak dan kalau [musik] udah rusak mereka bakal berhenti peduli. Dari kasus-kasus yang udah gue bahas sebelumnya, kita belajar satu hal penting. Ambisi itu boleh, tapi jangan sampai kita kehilangan diri sendiri. Gimana menurut lo? Apakah Indonesia bakal nyusul China dengan budaya kerja gila kayak gini atau kita bisa nemuin jalan tengah yang lebih manusiawi? Coba lo sampaiin pendapat lo di kolom komentar ya. Kita bisa coba diskusi. Buat lo yang suka pembahasan kayak gini 1% juga udah sempat bikin video yang serupa, ya. Lu bisa langsung aja klik video yang ada [musik] di sebelah kiri atau di sebelah kanan. Silakan sesuai dengan batin lu. That's all for this video. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya. [musik] Thanks. [musik]