Transcript
p2fRsVer9qg • Mengapa Banyak Orang Baik yang Bodoh & Gampang Ditipu?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0798_p2fRsVer9qg.txt
Kind: captions
Language: id
Pernah enggak sih lo mikir, kenapa sih
banyak orang baik yang nasibnya tuh
selalu apes gitu? Tapi di sisi lain kok
banyak ya orang jahat atau orang licik
yang berakhir sukses. Kalau lo nonton
film ya judulnya itu The Founder, lo
bakal tahu gimana Rey Crck manfaatin
keluguhan McDonald bersaudara dengan
licik mainin celah kontrak, ngerebut hak
nama sampai akhirnya dia sukses nendang
pendiri McDonald dari perusahaannya
sendiri. Dan akhirnya McD sukses sampai
sekarang. Orang yang suksesnya mendunia
pun juga ngalamin [musik] apes yang
sama. Misalnya kayak Lisa Blackpink
pernah ditipu 11,8 miliar sama [musik]
ex managernya yang adalah orang
kepercayaannya dia. Taylor Swift juga
sama di tahun 2019 hak master dari enam
album pertamanya itu diambil alih sama
Scooter Brown yang akhirnya Tayor
ngabisin duit sekitar R,8 triliun buat
dapetin lagi hak master dari albumnya.
Ini adalah fakta pahit yang kejadiannya
tuh ada di mana-mana. Di kerjaan. Lu
bisa jadi yang paling rajin, murah
senyum, atau suka membantu. Tapi pas
giliran promosi jangan kaget ya kalau
yang naik malah teman lo yang cari
pintar muka atau munafik. Nah, makanya
jangan heran kenapa kok kayaknya banyak
ya orang jahat yang sukses ya. Karena
orang baik itu terlalu naif, gampang
ditipu, dan juga mudah dijahatin.
Sekalinya ada celah, ya orang baik ini
bisa hancur dan dimanfaatin sama orang
likik. Nah, pertanyaannya apakah di
dunia ini orang baik itu sama dengan
ditakdirkan susah buat sukses atau
sebenarnya ini masalah sistem di dunia
modern yang udah korup dan kebablasan?
Welcome to kelas kehidupan bayar 1%.
Enjoy.
Di Indonesia kita itu seringkiali
dilatih untuk jadi baik. Kalau ada
barang hilang, ya udah ikhlasin aja.
Kalau ada yang jahatin kita di kantor,
ya udah balas dengan kebaikan. Ada juga
istilah biar Tuhan aja deh yang balas di
akhirat. Istilah ini kalau dipikir-pikir
ya enggak salah sih. Bahkan mindset
kayak gini juga bisa menenangkan mental
kita ya pas kena musibah. Tetapi ada
satu filsuf namanya Nietzs yang berkata
lain, "Kalau mindset lo begitu, itu mah
bukan baik. Lo cuma lemah aja." Menurut
Niet, mindset kayak gini tuh lahir
gara-gara konsep agama. Kita selalu
diajarin buat memaafkan, buat menerima,
mengikhlaskan. Dan menurut Ice, hal itu
tuh toxic sebenarnya. Kenapa? Karena ya
menurut dia itu tuh mindset orang lemah
alias mindset budak. [musik] Jadi di
bukunya Nietzsche itu ada ngenalin dua
istilah, master morality dan juga slave
morality. Sifat yang baik menurut
Nietzsche adalah ya jadi orang berkuasa
dan punya banyak uang. Jangan lemah,
harus punya [musik] pribe. Dan inilah
yang disebut sebagai moralitas tuan.
Sementara itu, moralitas budak itu
sebaliknya. Karena banyak orang di dunia
ini atau para budak-budak ini enggak
punya kekuasaan, enggak punya uang, ya
yang bisa mereka lakukan adalah
membalikkan fakta. Sifat-sifat si tuan
yang gagah dan berkuasa tadi itu dicap
jadi jahat. Sedangkan sifat lemah mereka
kayak pasrah, patuh, atau sabar itu
dibranding jadi baik. Nah, itu adalah
namanya moralitas budak. Simpelnya, lu
juga sebenarnya tuh pengin kaya, lo
pengin jadi berkuasa, bahkan kalau
dikasih kesempatan jadi pejabat, mungkin
lu bakal korupsi juga. Tapi karena alam
bawah sadar lu udah dicekokin sama
narasi-narasi perbudakan yang dianggap
normal, akhirnya lu pun menyerah sama
mimpi lu. Bahkan lu sampai menganggap
kalau jadi lemah itu baik, mengalah itu
baik, miskin itu baik karena ya nanti lu
bisa masuk surga gitu. Gitu kan
ibaratnya. Padahal diam-diam lo sendiri
juga tahu kalau sifat baik itu hadir
karena lu lemah, bukan karena lu emang
baik. Yang serunya lagi di era modern
ini bukan hanya ada dua moralitas budak
dan tuan, tapi muncul satu moralitas
yang menarik yaitu adalah moralitas
pendeta. Apa maksudnya? Kita bakal coba
bahas di section selanjutnya.
Karena orang baik itu lemah, banyak dari
mereka yang akhirnya cari pelindung
[musik] yang bisa wakilin suara mereka.
Kita bisa sebut orang-orang ini sebagai
kasta [musik] pendeta atau pris.
Biasanya para pris ini muncul sebagai
idol, ustaz, motivator, aktivis,
influencer, atau profesor yang bergelar
tinggi. Biasanya manusia-manusia yang
memegang moralitas budak ini berharap
pris ngebela mereka yang ada di
masyarakat. Dan para kasap pendeta ini
pun seringki membranding diri mereka
sebagai pembela dan juga penolong
masyarakat. Nah, tapi plot twist-nya
Nietzs juga bilang kalau Pris itu justru
adalah orang yang paling jahat dan
paling membenci orang lain. Dan bahkan
lo sadar enggak sih kalau sekarang
banyak idola dalam tanda kutip yang lu
mungkin dulu idolain tapi sekarang
berkhianat. Mereka sekarang enggak lagi
mewakili suara lo, tapi jadi bagian
orang yang menindas lo juga. Bahkan
misalnya tuh [musik] kayak dulunya tuh
orangnya aktivis tapi sekarang jadi
anggota DPR dan berubah. Misalnya ada
pemuka agama yang dulu fokusnya ke
ajaran agama. sekarang jadi pengelola
tambang atau sebelumnya juga ada orang
influencer ya yang enggak pernah cari
sensasi tapi sekarang tiap ada sensasi
ya itu dikonten ya. Jadi polanya
seringkiali memang begitu dan itu enggak
salu negatif sih ya tapi jarang-jarang
sih yang kayaknya itu positif setelah
masuk politik atau dikasih ketenaran.
Sebenarnya sisi pelimpan dari kasa
pendeta ini udah dijelasin sama Rene
Jirard. Dia bilang manusia itu adalah
makhluk copy paste atau peniru. Id lu
itu meski termasuk kasta pendeta itu
sebetulnya enggak ada bedanya sama kasta
tuan atau oligarki. Mereka merasakan
enaknya punya uang, kekuasaan, dan
ketenaran. Dan jangan heran ya kalau
dari sana eventually mereka ini akan
masuk ke politik dan jadi bagian dari
kekuasaan juga. Tapi, Bang, idola gue
enggak jadi bagian dari oligarki [musik]
kok. Dia malah ngekritik pemerintah
sampai berantem sama influencer lain
yang pro pemerintah. Nah, ini nih yang
menarik. Kelihatannya sih mungkin banyak
dari kasta pendeta ini yang emang
musuhan ya sama kasta tuan. Tetapi
sebenarnya Ten Jirard itu bilang kalau
ya mereka sama-sama aja istilahnya ya
same different toilet lah.
Kepercayaan mereka mungkin beda ya di
beberapa hal tapi cara mereka buat
dapetin apa yang mereka mau itu masih
sama. Sama-sama haus atensi dan
engagement. Sama-sama manfaatin sosmate
kayak TikTok beserta cliper-clipper dan
juga para buzer-bzernya. Sama-sama
framing narasi tertentu dan juga
sama-sama saling serang dan juga adu
mulut. Kalau dipikir-pikir ya akhirnya
sama-sama aja. Makanya kemarin ya muncul
istilah yang namanya performative
activism ya. Jadi aktivis tapi nyatanya
lebih ke riding the wave aja tanpa
dampak yang begitu berarti. Rakyat
akhirnya adu mulut tapi yang untung ya
dia karena dapat atensi besar. Dan
posisi kita sebagai orang baik yang
lemah tadi cuma jadi penonton yang diadu
domba aja sama orang-orang ini. Dan
siapa yang akhirnya paling dirugikan? Ya
adalah kita rakyat biasa yang tidak
menjadi master ataupun jadi pendeta ya.
Yaitu para slave yang akhirnya
dirugikan.
Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau
ngasih tahu info buat lu yang lagi
ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya, sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam psikotes
premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lu lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
reportnya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren kalau lu enggak ngerti atau
lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight
lanjutan lewat konsultasi bareng expert
dari 1% langsung berdasarkan hasil tes
lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/psicotespremium
buat info lebih lanjut.
[musik]
Lo udah sadar kalau selama ini lo itu
cuma lemah. Lu juga udah tahu kalau
pelindung lo alias idola lo sekarang ya,
si Pris tadi ternyata enggak bisa bantu
lo karena mereka juga serakah. Nah,
terus pertanyaannya, apakah lo harus
jadi orang jahat biar enggak bodoh dan
sukses? Tentu jawabannya enggak kayak
gitu ya. Kalau bisa sih lo jangan jadi
orang yang jahat dan merugikan orang
lain. Nice juga enggak pernah nyuruh lu
jadi penjahat. Dia cuma nyuruh lo jadi
manusia yang modern. Manusia modern itu
maksudnya gimana? pertama, lo punya
pemikiran dan impiannya sendiri. Dan
yang kedua, bebas dan enggak terjebak
[musik] sama pendapat orang lain atau
kebiasaan lama yang mengekang manusia.
Ini yang Nietzsche sebut sebagai
Ubermans atau manusia unggul. Nah,
bedanya orang baik yang lemah tadi
adalah lo punya keinginan untuk sukses
dan lo punya skill yang oke buat dapetin
itu. Kejar karir lo, cari duit yang
[musik] banyak, dan juga asah otak lo.
Jangan lagi-lagi bilang kalau ah uang
itu enggak penting. Yang penting itu
hati yang bersih. Apalagi kalau
diam-diam sebenarnya lu juga pengen
duitnya, gitu. Nah, kalau kayak gitu ya
itu adalah mental budak. Jadilah baik
karena memang lu baik, bukan karena lu
lemah dan gak bisa ngapa-ngapain. Kalau
lo mau tahu perspektif lain tentang
orang baik yang susah buat sukses, lu
juga bisa coba nonton video 1% yang ada
di sebelah kiri ini ya. Atau lu juga
bisa cek rekomendasi kita yang ada di
sebelah kanan. Silakan dipilih aja.
That's all for this video. Gue Danang
dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan
lupa hidup seutuhnya. Thanks. [musik]