File TXT tidak ditemukan.
File TXT tidak ditemukan.
Kenapa Orang Miskin Lebih Pilih Rokok daripada Makan?
fK0EgoApmOc • 2025-12-08
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Belakangan ini gue sempat baca data BPS
yang cukup mind blowing. Ternyata
pengeluaran rokok di rumah tangga miskin
itu adalah pengeluaran terbesar kedua
setelah beras. Bahkan kalau dibreakdown
pengeluaran rokok itu tiga kali lipat
lebih gede dari beli telur, empat kali
lipat lebih gede dari beli daging,
bahkan en kali lipat lebih gede dari
gabungan semua pengeluaran sumber
protein mereka. Simpelnya, banyak
keluarga yang rela makan nasi garam
doang asal bapaknya bisa ngebul, bisa
sebat. Pertanyaan besarnya adalah
kenapa? Apakah mereka adalah orang yang
bodoh atau mereka sebenarnya gak sayang
sama keluarga? Welcome to Jurnal
Investigasi by 1%. Hari ini kita bakal
bahas alasan kenapa orang miskin lebih
pilih rokok dibanding makanan. [musik]
Enjoy.
Pertama, lo mungkin harus sadar dulu
kalau otak manusia di zaman sekarang itu
udah banyak yang sakit. Sistem dopamin
kita semua udah dibajak habis-habisan
sama yang namanya dopamin instan. Kita
scrolling TikTok dan reels berjam-jam
tanpa henti atau biasa disebut sama doom
scrolling. Bahkan ada juga yang terjebak
sama judul game gaca. Buat kelas
menengah pilihan pelariannya itu
sebenarnya banyak. Lu bisa nonton
bioskop, nge-gym, jalan di blok M, atau
aktivitas entertainment lainnya yang
emang ngeluarin duit. Tapi buat
masyarakat miskin yang hidup dalam
tekanan stres berat, pilihan pelariannya
yang paling cepat dan murah itu cuma
satu, yaitu beli rokok. Kenapa rokok?
Karena ya mekanismenya tuh sebenarnya
mirip kayak pornografi. Kalau lo makan
nasi, lo itu kan sebenarnya bisa kenyang
dan berhenti. Ya, tetapi kalau rokok itu
enggak ada titik kenyangnya. Lo ngerokok
berbatang-batang bahkan satu bungkus
dalam satu duduk dan otak lo itu enggak
akan pernah bilang cukup. Ditambah lagi
ada faktor fisik yang sering dianggap
remeh yang biasanya kita sebut sama
mulut asem. Banyak yang ngira ini cupa
ungkapan doang, tapi sebenarnya ini
adalah fakta medis. Rokok berat itu
seringki mengalami perubahan pH atau
tingkat keasaman di mulut mereka. Dan
ketika mereka itu berhenti ngerokok,
tubuh mereka tuh langsung ngasih sinyal
withdrawal atau sakau berupa rasa tidak
nyaman. Jadi mereka itu ngerokok bukan
cuma cari rasa yang enak, tapi juga buat
ngilangin rasa sakit atau gak nyaman
dari mulut asem tadi.
Nah, tapi Bang rokok kan sekarang mahal,
cukai naik terus.
Nah, memang rokok itu yang legal sih
mahal ya, bahkan sampai R3.000-an
sekarang. Dan ketika harga naik muncul
satu solusi yang saat ini dilakuin juga
sama orang-orang miskin, yaitu adalah
rokok ilegal. Di warung-warung desa
bertebaran tuh rokok yang namanya itu
enggak jelas, yang harganya cuma Rp3.000
sampai R7.000 per bungkus. Dan peredaran
rokok ilegal itu meroket drastis ya.
Sejak cukai dinaikin terus ya sama Sri
Mulyani dari 28% jadi 46% di tahun 2024.
Jadi argumen naikin harga biar orang
miskin berhenti itu sebenarnya kurang
valid ya. Karena ya selama mereka butuh
dopamin dan barang ilegalnya itu bisa
diakses ya mereka tetap bakal jadi rokok
bahkan kalau harus ngurangin jatah makan
mereka sendiri.
Selain karena masalah dopamin, media
juga jadi penyebab krusial kenapa orang
miskin ini lebih pilih rokok daripada
makangan. Di tahun 1929 ada satu
campaign namanya Torch of Freedom.
Campaign ini bertujuan buat bikin
cewek-cewek di Amerika itu mau ngerokok.
Rokok dibranding sebagai simbol
kebebasan dan juga perlawanan wanita
pada masanya. Kesuksesan formula
campaign itu ternyata masih dibawa
sampai sekarang. Di Indonesia lu bisa
coba lihat ya iklan-iklan rokok
sekarang. Misalnya kayak pria punya
selera, gambar cowok petualang, tangguh,
maskulin. [musik]
Atau juga belakangan ini ya, beberapa
tahun lalu sempat di pop culture kita
ada rilis satu serial namanya gadis
kretek atau MadMan yang akhirnya juga
nunjukin kalau rokok itu adalah sesuatu
yang prestise. Dan secara estetika
merokok itu digambarkan keren banget,
klasiy, misterius, dan juga penuh
heritage. Dan buat orang miskin yang
mungkin tiap harinya diinjak-injak harga
dirinya sama keadaan ekonomi mereka yang
susah, rokok itu seringkiali jadi simbol
status sosial. Mungkin mereka gak bisa
ya setiap hari beli barang mahal, beli
makanan yang mahal, tapi mereka bisa
beli rokok dengan merek yang sama kayak
yang dihisap sama bos mereka. Saat itu
terjadi ada rasa setara, ada gengsi yang
terbayar. Makanya jangan kaget ya kalau
ada kuli bangunan yang rokoknya itu
mahal padahal ya mungkin makanan
sehari-harinya cuma tahu sama tempe. Itu
adalah cara mereka membeli sedikit harga
diri dari tekanan-tekanan sosial yang
selama ini mereka rasain.
Menariknya kalau di kasus tongkrongan
kelas bawah maupun kelas menengah, rokok
itu bukan sekedar benda yang dibakar.
Rokok adalah alat komunikasi paling
efektif buat ngebuka obrolan sama orang
baru. Misalnya kayak, "Bang, boleh minta
apinya? Bang, mau minjam koreknya
boleh?" Itu kan buat mereka rokok itu
kayak ice breaker. Misalnya di pos
ronda, di pangkalan ojek atau mungkin di
tempat kuli bangunan istirahat. Rokok
adalah tiket masuk yang bisa diterima.
Kalau lo misalnya enggak ngerokok atau
lo itu pelit ya enggak mau bagi-bagi
rokok, lo itu bisa dianggap sombong atau
sok asik. Dan buat kalangan menengah ke
bawah, punya teman adalah jadi aset yang
penting buat bertahan hidup. Temanlah
yang bakal bantu kalau misalnya ada
masalah apa-apa. Jadi beli rokok itu
sebenarnya bukan cuma sekedar hiburan ya
dopaminnya tadi, tapi juga adalah biaya
wajib buat investasi di ranah sosial.
[musik] Jadi merokok itu bukan cuma
dianggap keren, tapi juga dianggap
normal. Aneh justru kalau lu misalnya
laki-laki tapi enggak ngerokok di
lingkungan itu.
Setiap kali topik rokok muncul, selalu
ada satu komentar klasik. Coba uang
rokok itu ditabung. Setahun ditabung
juga bisa buka usaha. Di atas kertas sih
emang ideal ya. Misalnya satu bungkus
harganya Rp50.000 R000 dan seorang
perokok habis 10 bungkus per bulan. Itu
[musik]
udah Rp500.000. Setahun bisa jadi R
juta, 2 tahun bisa jadi R juta. Secara
logika emang matematikanya itu masuk,
perhitungannya itu masuk. Tapi secara
psikologis enggak sesederhana itu.
Karena ya sebenarnya masalahnya bukan
cuma soal hitungan, tapi juga masalahnya
ada di cara kerja otak yang hidup dalam
tekanan ekonomi. Emang mindset orang
miskin itu jauh berbeda ya sama orang
yang berkecukupan. Bagi banyak perok
miskin, ancaman kanker 20 tahun lagi itu
terasa jauh lebih abstrak daripada stres
yang sedang mereka hadapi saat ini juga.
Bahkan ada penelitian menarik tentang
petani tebu di India. IQ mereka itu bisa
tiba-tiba turun signifikan pas hasil
pertanian mereka itu gagal atau lagi
kosong. Dan hal yang sama juga terjadi
ketika mereka diajak coba nabung buat
usaha. Kedengarannya tuh logis, tapi
kenyataannya membuka usaha itu jauh
lebih rumit daripada sekedar ngumpulin
modal. Begitu modal kekumpul dan mulai
berbisnis pun biasanya muncul masalah
baru. Misalnya kayak lu harus nyatat
stok barang satu-satu, lu juga harus
ngurusin kas masuk keluarnya, cash
flow-nya juga harus benar kan. Harus
juga bisa bikin laporan keuangan yang
rapi. Bahkan juga harus bisa dipastikan
semua bisnisnya, semua operasionalnya
tuh bisa berjalan dengan baik setiap
hari. Nah, bagi orang yang hidup dalam
tekanan, semua itu bukan sekedar repot,
tapi juga overwhelming. Bahkan saking
ribetnya, banyak usaha kecil yang mati
bukan karena enggak ada modal, tapi
karena manajemennya itu berantakan. Nah,
ini bagian yang sebenarnya tuh jarang
banget disadari sama orang-orang buat
naik kelas. Orang enggak cuma butuh
mental yang kuat atau semangat jualan.
Mereka juga butuh sistem yang bikin
prosesnya jauh lebih ringan. Untungnya
ya sekarang udah ada sistem manajemen
bisnis yang bisa ngurusin hal-hal ribet
itu dengan mudah dalam satu tempat.
Mulai dari penjualan, stok barang,
website sampai laporan keuangan yang
update otomatis setiap terjadi
transaksi. Sistem kayak gini itu
sebenarnya bikin beban mikir dalam tanda
kutip jauh lebih kecil sehingga pelaku
usaha itu bisa fokus ke hal yang penting
yaitu apa? Yaitu jualan, stresis
pelanggan, dan juga muter barang.
Platform yang gua tunjukin sekarang di
layar ini adalah ODU, platform bisnis
yang nyatuin semua kebutuhan operasional
ke dalam satu aplikasi dan udah
dipercaya sama banyak perusahaan. Untuk
siapapun yang sekarang tuh lagi nyari
cara buat jalanin usaha dengan lebih
efisien, gak terus-terusan hands on gitu
ya, ngurusin operasional, sistem kayak
gini bisa ngurangin hambatan dalam
bisnis yang biasanya tuh bikin orang
nyerah. Odu juga udah menyesuaikan
sistemnya sama kebutuhan lokal, termasuk
yuris dan juga perpajakan. Dan
menariknya satu aplikasinya ini bisa
dipakai secara gratis dan selebihnya
bisa dicoba dulu lewat trial sebelum lu
coba COVID lebih jauh. Misalnya lu bisa
mulai dari digitalisasi yang perlu dulu
ya, kayak invoicing, sales, accounting
dengan biaya langganan 120.000 aja per
bulan. Nah, kalau lu butuh aplikasi lain
ya lu bisa tinggal download enggak ada
biaya tambahan. Mau konsul dengan tim
ODU atau belajar langsung di event sama
mereka juga bisa ya. Ini juga udah gua
taruh ya, linknya ada di description box
bisa lu coba cek. At the end of the day,
perilaku merokok itu ternyata enggak
sesimpel yang kita pikir, ya. Tapi kita
bisa selfy say kalau merokok itu
berbahaya. Dia bisa merusak kesehatan
dan finansial kita dalam jangka panjang.
So, gimana menurut lo? Apakah ada
pendapat lain? Lo coba sampaiin langsung
aja ya di kolom komentar. Dan buat lo
yang suka bahasan kayak gini, gue juga
ada rekomendasi video lainnya. Lu bisa
coba klik aja ya video yang ada di
sebelah kiri atau sebelah kanan. Silakan
pilih sesuai topik yang emang lu suka.
That's all for this video. Gue Danang
dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan
lupa hidup seutuhnya. Thanks.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:34 UTC
Categories
Manage