File TXT tidak ditemukan.
Transcript
fK0EgoApmOc • Kenapa Orang Miskin Lebih Pilih Rokok daripada Makan?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0796_fK0EgoApmOc.txt
Kind: captions Language: id Belakangan ini gue sempat baca data BPS yang cukup mind blowing. Ternyata pengeluaran rokok di rumah tangga miskin itu adalah pengeluaran terbesar kedua setelah beras. Bahkan kalau dibreakdown pengeluaran rokok itu tiga kali lipat lebih gede dari beli telur, empat kali lipat lebih gede dari beli daging, bahkan en kali lipat lebih gede dari gabungan semua pengeluaran sumber protein mereka. Simpelnya, banyak keluarga yang rela makan nasi garam doang asal bapaknya bisa ngebul, bisa sebat. Pertanyaan besarnya adalah kenapa? Apakah mereka adalah orang yang bodoh atau mereka sebenarnya gak sayang sama keluarga? Welcome to Jurnal Investigasi by 1%. Hari ini kita bakal bahas alasan kenapa orang miskin lebih pilih rokok dibanding makanan. [musik] Enjoy. Pertama, lo mungkin harus sadar dulu kalau otak manusia di zaman sekarang itu udah banyak yang sakit. Sistem dopamin kita semua udah dibajak habis-habisan sama yang namanya dopamin instan. Kita scrolling TikTok dan reels berjam-jam tanpa henti atau biasa disebut sama doom scrolling. Bahkan ada juga yang terjebak sama judul game gaca. Buat kelas menengah pilihan pelariannya itu sebenarnya banyak. Lu bisa nonton bioskop, nge-gym, jalan di blok M, atau aktivitas entertainment lainnya yang emang ngeluarin duit. Tapi buat masyarakat miskin yang hidup dalam tekanan stres berat, pilihan pelariannya yang paling cepat dan murah itu cuma satu, yaitu beli rokok. Kenapa rokok? Karena ya mekanismenya tuh sebenarnya mirip kayak pornografi. Kalau lo makan nasi, lo itu kan sebenarnya bisa kenyang dan berhenti. Ya, tetapi kalau rokok itu enggak ada titik kenyangnya. Lo ngerokok berbatang-batang bahkan satu bungkus dalam satu duduk dan otak lo itu enggak akan pernah bilang cukup. Ditambah lagi ada faktor fisik yang sering dianggap remeh yang biasanya kita sebut sama mulut asem. Banyak yang ngira ini cupa ungkapan doang, tapi sebenarnya ini adalah fakta medis. Rokok berat itu seringki mengalami perubahan pH atau tingkat keasaman di mulut mereka. Dan ketika mereka itu berhenti ngerokok, tubuh mereka tuh langsung ngasih sinyal withdrawal atau sakau berupa rasa tidak nyaman. Jadi mereka itu ngerokok bukan cuma cari rasa yang enak, tapi juga buat ngilangin rasa sakit atau gak nyaman dari mulut asem tadi. Nah, tapi Bang rokok kan sekarang mahal, cukai naik terus. Nah, memang rokok itu yang legal sih mahal ya, bahkan sampai R3.000-an sekarang. Dan ketika harga naik muncul satu solusi yang saat ini dilakuin juga sama orang-orang miskin, yaitu adalah rokok ilegal. Di warung-warung desa bertebaran tuh rokok yang namanya itu enggak jelas, yang harganya cuma Rp3.000 sampai R7.000 per bungkus. Dan peredaran rokok ilegal itu meroket drastis ya. Sejak cukai dinaikin terus ya sama Sri Mulyani dari 28% jadi 46% di tahun 2024. Jadi argumen naikin harga biar orang miskin berhenti itu sebenarnya kurang valid ya. Karena ya selama mereka butuh dopamin dan barang ilegalnya itu bisa diakses ya mereka tetap bakal jadi rokok bahkan kalau harus ngurangin jatah makan mereka sendiri. Selain karena masalah dopamin, media juga jadi penyebab krusial kenapa orang miskin ini lebih pilih rokok daripada makangan. Di tahun 1929 ada satu campaign namanya Torch of Freedom. Campaign ini bertujuan buat bikin cewek-cewek di Amerika itu mau ngerokok. Rokok dibranding sebagai simbol kebebasan dan juga perlawanan wanita pada masanya. Kesuksesan formula campaign itu ternyata masih dibawa sampai sekarang. Di Indonesia lu bisa coba lihat ya iklan-iklan rokok sekarang. Misalnya kayak pria punya selera, gambar cowok petualang, tangguh, maskulin. [musik] Atau juga belakangan ini ya, beberapa tahun lalu sempat di pop culture kita ada rilis satu serial namanya gadis kretek atau MadMan yang akhirnya juga nunjukin kalau rokok itu adalah sesuatu yang prestise. Dan secara estetika merokok itu digambarkan keren banget, klasiy, misterius, dan juga penuh heritage. Dan buat orang miskin yang mungkin tiap harinya diinjak-injak harga dirinya sama keadaan ekonomi mereka yang susah, rokok itu seringkiali jadi simbol status sosial. Mungkin mereka gak bisa ya setiap hari beli barang mahal, beli makanan yang mahal, tapi mereka bisa beli rokok dengan merek yang sama kayak yang dihisap sama bos mereka. Saat itu terjadi ada rasa setara, ada gengsi yang terbayar. Makanya jangan kaget ya kalau ada kuli bangunan yang rokoknya itu mahal padahal ya mungkin makanan sehari-harinya cuma tahu sama tempe. Itu adalah cara mereka membeli sedikit harga diri dari tekanan-tekanan sosial yang selama ini mereka rasain. Menariknya kalau di kasus tongkrongan kelas bawah maupun kelas menengah, rokok itu bukan sekedar benda yang dibakar. Rokok adalah alat komunikasi paling efektif buat ngebuka obrolan sama orang baru. Misalnya kayak, "Bang, boleh minta apinya? Bang, mau minjam koreknya boleh?" Itu kan buat mereka rokok itu kayak ice breaker. Misalnya di pos ronda, di pangkalan ojek atau mungkin di tempat kuli bangunan istirahat. Rokok adalah tiket masuk yang bisa diterima. Kalau lo misalnya enggak ngerokok atau lo itu pelit ya enggak mau bagi-bagi rokok, lo itu bisa dianggap sombong atau sok asik. Dan buat kalangan menengah ke bawah, punya teman adalah jadi aset yang penting buat bertahan hidup. Temanlah yang bakal bantu kalau misalnya ada masalah apa-apa. Jadi beli rokok itu sebenarnya bukan cuma sekedar hiburan ya dopaminnya tadi, tapi juga adalah biaya wajib buat investasi di ranah sosial. [musik] Jadi merokok itu bukan cuma dianggap keren, tapi juga dianggap normal. Aneh justru kalau lu misalnya laki-laki tapi enggak ngerokok di lingkungan itu. Setiap kali topik rokok muncul, selalu ada satu komentar klasik. Coba uang rokok itu ditabung. Setahun ditabung juga bisa buka usaha. Di atas kertas sih emang ideal ya. Misalnya satu bungkus harganya Rp50.000 R000 dan seorang perokok habis 10 bungkus per bulan. Itu [musik] udah Rp500.000. Setahun bisa jadi R juta, 2 tahun bisa jadi R juta. Secara logika emang matematikanya itu masuk, perhitungannya itu masuk. Tapi secara psikologis enggak sesederhana itu. Karena ya sebenarnya masalahnya bukan cuma soal hitungan, tapi juga masalahnya ada di cara kerja otak yang hidup dalam tekanan ekonomi. Emang mindset orang miskin itu jauh berbeda ya sama orang yang berkecukupan. Bagi banyak perok miskin, ancaman kanker 20 tahun lagi itu terasa jauh lebih abstrak daripada stres yang sedang mereka hadapi saat ini juga. Bahkan ada penelitian menarik tentang petani tebu di India. IQ mereka itu bisa tiba-tiba turun signifikan pas hasil pertanian mereka itu gagal atau lagi kosong. Dan hal yang sama juga terjadi ketika mereka diajak coba nabung buat usaha. Kedengarannya tuh logis, tapi kenyataannya membuka usaha itu jauh lebih rumit daripada sekedar ngumpulin modal. Begitu modal kekumpul dan mulai berbisnis pun biasanya muncul masalah baru. Misalnya kayak lu harus nyatat stok barang satu-satu, lu juga harus ngurusin kas masuk keluarnya, cash flow-nya juga harus benar kan. Harus juga bisa bikin laporan keuangan yang rapi. Bahkan juga harus bisa dipastikan semua bisnisnya, semua operasionalnya tuh bisa berjalan dengan baik setiap hari. Nah, bagi orang yang hidup dalam tekanan, semua itu bukan sekedar repot, tapi juga overwhelming. Bahkan saking ribetnya, banyak usaha kecil yang mati bukan karena enggak ada modal, tapi karena manajemennya itu berantakan. Nah, ini bagian yang sebenarnya tuh jarang banget disadari sama orang-orang buat naik kelas. Orang enggak cuma butuh mental yang kuat atau semangat jualan. Mereka juga butuh sistem yang bikin prosesnya jauh lebih ringan. Untungnya ya sekarang udah ada sistem manajemen bisnis yang bisa ngurusin hal-hal ribet itu dengan mudah dalam satu tempat. Mulai dari penjualan, stok barang, website sampai laporan keuangan yang update otomatis setiap terjadi transaksi. Sistem kayak gini itu sebenarnya bikin beban mikir dalam tanda kutip jauh lebih kecil sehingga pelaku usaha itu bisa fokus ke hal yang penting yaitu apa? Yaitu jualan, stresis pelanggan, dan juga muter barang. Platform yang gua tunjukin sekarang di layar ini adalah ODU, platform bisnis yang nyatuin semua kebutuhan operasional ke dalam satu aplikasi dan udah dipercaya sama banyak perusahaan. Untuk siapapun yang sekarang tuh lagi nyari cara buat jalanin usaha dengan lebih efisien, gak terus-terusan hands on gitu ya, ngurusin operasional, sistem kayak gini bisa ngurangin hambatan dalam bisnis yang biasanya tuh bikin orang nyerah. Odu juga udah menyesuaikan sistemnya sama kebutuhan lokal, termasuk yuris dan juga perpajakan. Dan menariknya satu aplikasinya ini bisa dipakai secara gratis dan selebihnya bisa dicoba dulu lewat trial sebelum lu coba COVID lebih jauh. Misalnya lu bisa mulai dari digitalisasi yang perlu dulu ya, kayak invoicing, sales, accounting dengan biaya langganan 120.000 aja per bulan. Nah, kalau lu butuh aplikasi lain ya lu bisa tinggal download enggak ada biaya tambahan. Mau konsul dengan tim ODU atau belajar langsung di event sama mereka juga bisa ya. Ini juga udah gua taruh ya, linknya ada di description box bisa lu coba cek. At the end of the day, perilaku merokok itu ternyata enggak sesimpel yang kita pikir, ya. Tapi kita bisa selfy say kalau merokok itu berbahaya. Dia bisa merusak kesehatan dan finansial kita dalam jangka panjang. So, gimana menurut lo? Apakah ada pendapat lain? Lo coba sampaiin langsung aja ya di kolom komentar. Dan buat lo yang suka bahasan kayak gini, gue juga ada rekomendasi video lainnya. Lu bisa coba klik aja ya video yang ada di sebelah kiri atau sebelah kanan. Silakan pilih sesuai topik yang emang lu suka. That's all for this video. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya. Thanks. [musik]