Mengungkap Sisi Gelap Pesantren di Indonesia
koenre9fAWs • 2025-11-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Netizen pun curiga nih bahwa bisa jadi inilah sebabnya sebagian kiai makin kaya raya. Ya, pertemuan berisi klarifikasi dan permintaan maaf ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kota Kediri. Polemik isu pesantren yang terjadi belakangan ini akhirnya bikin para netizen kebagi jadi dua kubu ya. Ada kubu yang ngerasa pesantren itu disudutkan, citranya rusak, pencemaran nama baik, dan juga langsung menyerukan boikot. Kemarin juga sempat ramai ya bulan lalu boikot Trans 7. Di sisi lain ada kubu yang ngerasa, "Nah, ini nih saatnya bobrok-bobroknya pesantren itu dibuka dan dibersihkan." Jadi mereka ibaratnya senang gitu bobroknya pesantren akhirnya naik ke publik. Video ini diproduksi bukan buat ikut-ikutan nghujat pesantren ya, bukan juga buat nutup-nutupin masalah yang mungkin emang ada. Video ini dibuat karena gue dan mungkin banyak dari kalian terlalu sayang sama pesantren buat diam aja dan ngelihat berbagai isu negatif ini lagi ramai belakangan ini. Welcome to Jurnal Investigasi by 1%. Hari ini kita bakal bahas isu pesantren di Indonesia. Semua kasus negatif yang kita dengar itu sebenarnya bukan kejadian yang berdiri sendiri. Mereka semua adalah budaya senioritas dari kiai-kiai yang akhirnya secara langsung atau enggak langsung, sadar atau enggak sadar memanfaatkan para santri. Ibaratnya budayanya tuh kayak zaman feodal, budaya feodalisme itu kayak budaya antara budak dan juga tuan. Tuannya di sini adalah kiai ya dan para ustaznya. Dan budaknya adalah para santri. Gue enggak bilang semua pesantren itu udah pasti kayak gini. Tapi ada beberapa oknum pesantren yang kiai dan keluarganya tuh dianggap oleh para santri sebagai orang yang punya posisi dan kekuasaan mutlak dan seringkiali dibenarkan dengan dalih mencari barokah atau pahala sampai ke level ekstrem. Misalnya santri harus berjalan jongkok atau ngesot saat lewat di depan kiai atau bahkan berubut buah sisa yang ditendang oleh seorang Gus atau anaknya Kiai karena percaya kalau buah itu penuh berkah. Nah, dari akar kultur ini tumbuh beberapa masalah yang sebenarnya tuh sangat merusak. Masalah pertama adalah eksploitasi santri. Tenaga santri dianggap sebagai bagian dari pengabdian tanpa batas. Santriwati yang harusnya fokus belajar malah difungsikan jadi kayak pembantu atau asisten rumah tangga yang gratis kagak dibayar buat keluarga para kiai. Ada juga dugaan kasus di mana santri perempuan dipaksa jadi kuli bangunan tanpa keahlian, tanpa pengaman, dan juga tentu saja tanpa bayaran. Jadwal kerjanya bisa dari pagi sampai magrib dan kalau pingsan karena kecapekan malah dibilang mereka itu kurang ikhlas. Dan harga yang dibayar itu sangat mahal ya dalam salah satu kasus yaitu nyawa. Ada bangunan musala yang ambruk yang ternyata bangunan itu dikerjakan dengan tenaga santri tanpa izin mendirikan bangunan dan juga tanpa pengawasan profesional. Bahkan ada dugaan kalau pesantren nyembunjungin korban dari pihak berwajib. Masalah kedua, predator terkedok agama. Lingkungan yang sangat tertutup menuntut kepatuhan 100% dan minim pengawasan adalah surga bagi para predator. Pelakunya bisa macam-macam ya mulai dari senior, pengurus dan juga oknum pengajar atau guru. Misalnya dulu sempat ramai ya kasus pelecehan 13 santriwati di Bandung. Bahkan beberapanya sampai hamil dan melahirkan. Ada juga kasus di pesantren di Jombang yang melibatkan anak kiai yang terpandang di sana. Dan masih banyak kasus lainnya yang kalau diberitain di BBC lebih dari 40.000 santri rentan mengalami kekerasan di lingkungan pondok pesantren. Bahkan gue sempat baca juga modus para oknum pelaku ini adalah nikah siri tanpa wali dengan dalih transfer ilmu dan mendapatkan barokah buat memperdaya santriwati di bawah umur. Dan buat para korban yang berani speak up justru seringkiali diancam diintimidasi buat menjaga branding pesantren supaya tetap positif. Masalah keempat perilaku yang dianggap menyimpang kayak atau itu sebenarnya banyak ya. Bukan cuma di lingkungan pesantren aja, tapi juga di beberapa lingkungan pendidikan agama lainnya. Misalnya kayak agama Kristen juga ada pendeta yang hal ini juga merembet ke yang sebenarnya menarik adalah ini tuh terjadi di pesantren di mana itu ditolak gitu secara keras dan ironisnya malah kita sering dengar ini kejadian di banyak pondok pesantren dan gua juga sempat ngewawancara langsung ya beberapa orang dan itu ada kasusnya juga. Sampai di sini mungkin di kepala lo ada pertanyaan anjir kalau emang stok itu, kenapa pesantren ini enggak dibubarin aja? Ya karena enggak semua pesantren itu jelek. Ada juga pesantren yang emang bagus dan banyak juga kok yang bagus. 1% tuh sering banget ya ngisi inouse training atau acara-acara di pesantren. Dan so far sih dari pengalaman kita banyak pesantren yang modern, egaliter, santri-santrinya berkualitas, bahkan itu berprestasi sampai ke tingkat dunia gitu. W gua sempat baca ya, ada santri dari pesantren Darul Ulum Jombang dan juga dari Nurul Fikri Boarding School Bogor yang berhasil menyabet membadali emas dan penghargaan bergengsi di ajang International Youth Robotic Competition Korea Selatan. Gue juga sempat baca 12 santri diterima di kampus top dunia kayak Nanyang Technological University, Singapura, University of Toronto, hingga kampus di Inggris dan juga Australia. Bahkan kemarin sempat ramei video tiga santri asal Madura yang dapat juara satu debat bahasa Mandarin gitu. Dan lu juga bisa coba lihat ya videonya ada di layar. Jadi kasus-kasus yang negatif kita bisa safely say bahwa itu adalah oknum. Meskipun kalau dibilang banyak apa enggak kita juga enggak tahu ya data spesifik dan detailnya tuh berapa. Tapi yang jelas kita lihat pesantren yang oke itu banyak. Tapi banyak juga pesantren yang dianggap buruk dan juga mengeksploitasi para santrinya. Nah, terus pertanyaannya gimana solusinya? Kita bakal coba bahas di section selanjutnya. Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam Psikotes Premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin report-nya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/psicotespremium buat info lebih lanjut. Kita itu sebenarnya butuh banget pesantren buat bertahan di era digital. Peran fungsional pesantren itu jadi jauh lebih krusial di zaman sekarang. Karena anak muda sekarang itu tumbuh di era tsunami informasi. Semua konten baik dan buruk itu bisa diakses 24/7 setiap hari lewat device di kamar mereka. Misalnya konten-konten yang negatif ya, kayak konten yang risetnya sudah jelas bisa merusak sistem dopamin dan perkembangan otak anak. ini jaraknya itu hanya satu klik itu ada di HP mereka. Belum lagi juga masalah soft. Di zaman sekarang itu banyak sekali ya konten-konten yang enggak segamblang itu, tapi tetap ditujukan buat merangsang hasrat film yang populer juga ya di platform streaming atau bioskop juga seringkiali kan tentang perselingkuhan lah terus campur horor dan juga campur. Belum lagi kita ngomongin soal masalah cyber bullying sampai ke culture flexing di media sosial yang terbukti memicu krisis kecemasan dan juga depresi pada remaja. Pesantren itu sebenarnya bisa jadi safe heaven atau lingkungan yang terkontrol. sebuah ekosistem di mana hal-hal negatif dari luar bisa diminimalisir. Di saat dunia luar mengajarkan kebebasan tanpa batas, pesantren idealnya menanamkan adab dan juga disiplin. Gimana caranya kita ngelola arus informasi ke pribadi. Di saat dunia luar menuhankan influencer, pesantren idealnya memberikan figur role model pada sosok guru. Tapi ini bukan guru yang menanamkan budaya feodal atau malah ngelakuin kekerasan. Tapi ini guru yang memang baik, guru yang memang berwibawa dan juga tulus membantu santri-santrinya. Di saat dunia luar mendorong individualisme, pesantren mengajarkan kehidupan gotongroyong alias saling support, saling bantu, bukan eksploitasi santri sebagai tenaga kerja. Jadi, fungsi pesantren hari ini itu harusnya kayak gitu. Bukan problematik kayak sekarang yang lagi ramai di berita belakangan ini. Bahkan menurut gue, kita juga bisa coba adopsi salah satu pemikirannya Gus Dur. Pesantren itu kan sekarang image-nya negatif ya, dianggap antikritik dan trisolasi. Nah, Gus Dur bilang pesantren itu harusnya jangan sibuk dengan dunianya sendiri, jangan sibuk dengan kitabnya sendiri, sementara masyarakat di sekelilingnya masih miskin dan bodoh. Pesantren, kalau kata Gus Dur punya kewajiban moral untuk turun tangan menjadi solusi bagi masalah-masalah yang nyata terjadi di masyarakat. Harapan gue sih dengan adanya konten ini semoga berita-berita negatif soal pesantren itu bisa berkurang. Semoga juga para pengurus pesantren bisa lebih hati-hati lagi. Termasuk juga para santri apalagi ketika memang ada tanda eksploitasi harus bisa lebih berani ya buat speak up. Apakah santri atau organisasi ngasih duit ke pengurus pesantren adalah salah? Ya enggak salah sih asal dipertanggungjawabkan dan jangan sampai dikorupsi. Apakah santri yang ngasih tenaga kerjanya cuma-cuma itu adalah salah? Ya enggak juga kalau memang mereka itu ikhlas ya dan mau berkontribusi untuk kebutuhan sosial. Dan apakah salah buat santri untuk respect ke guru-guru dan juga kiai? Ya, itu juga enggak salah. Karena kan guru dan kiai juga udah berjasa ya buat santri itu sendiri. Apalagi kalau santrinya bisa berprestasi. Pilihannya sekarang cuma ada dua, kita mau terus-terusan denial, marah kalau dikritik, dan juga membiarkan institusi ini berjalan menuju kepunahan. Atau kita semua mau dari alumni, orang tua, masyarakat atau para pengelola pesantren itu sendiri untuk berani, jujur, membuka diri, dan juga mulai menjalankan perbaikan. Buat lo yang suka sama bahasan kayak gini, gue juga ada rekomendasi video ya yang waktu itu kita sempat bahas soal iPhone. Lu bisa cek video kita yang sebelah kiri atau lu juga bisa cek rekomendasi kita yang lainnya yang ada di sebelah kanan. That's all for now. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya. Thanks.
Resume
Categories