Transcript
koenre9fAWs • Mengungkap Sisi Gelap Pesantren di Indonesia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0794_koenre9fAWs.txt
Kind: captions
Language: id
Netizen pun curiga nih bahwa bisa jadi
inilah sebabnya sebagian kiai makin kaya
raya.
Ya, pertemuan berisi klarifikasi dan
permintaan maaf ke Pondok Pesantren
Lirboyo di Kota Kediri.
Polemik isu pesantren yang terjadi
belakangan ini akhirnya bikin para
netizen kebagi jadi dua kubu ya. Ada
kubu yang ngerasa pesantren itu
disudutkan, citranya rusak, pencemaran
nama baik, dan juga langsung menyerukan
boikot. Kemarin juga sempat ramai ya
bulan lalu boikot Trans 7. Di sisi lain
ada kubu yang ngerasa, "Nah, ini nih
saatnya bobrok-bobroknya pesantren itu
dibuka dan dibersihkan." Jadi mereka
ibaratnya senang gitu bobroknya
pesantren akhirnya naik ke publik. Video
ini diproduksi bukan buat ikut-ikutan
nghujat pesantren ya, bukan juga buat
nutup-nutupin masalah yang mungkin emang
ada. Video ini dibuat karena gue dan
mungkin banyak dari kalian terlalu
sayang sama pesantren buat diam aja dan
ngelihat berbagai isu negatif ini lagi
ramai belakangan ini. Welcome to Jurnal
Investigasi by 1%. Hari ini kita bakal
bahas isu pesantren di Indonesia.
Semua kasus negatif yang kita dengar itu
sebenarnya bukan kejadian yang berdiri
sendiri. Mereka semua adalah budaya
senioritas dari kiai-kiai yang akhirnya
secara langsung atau enggak langsung,
sadar atau enggak sadar memanfaatkan
para santri. Ibaratnya budayanya tuh
kayak zaman feodal, budaya feodalisme
itu kayak budaya antara budak dan juga
tuan. Tuannya di sini adalah kiai ya dan
para ustaznya. Dan budaknya adalah para
santri. Gue enggak bilang semua
pesantren itu udah pasti kayak gini.
Tapi ada beberapa oknum pesantren yang
kiai dan keluarganya tuh dianggap oleh
para santri sebagai orang yang punya
posisi dan kekuasaan mutlak dan
seringkiali dibenarkan dengan dalih
mencari barokah atau pahala sampai ke
level ekstrem. Misalnya santri harus
berjalan jongkok atau ngesot saat lewat
di depan kiai atau bahkan berubut buah
sisa yang ditendang oleh seorang Gus
atau anaknya Kiai karena percaya kalau
buah itu penuh berkah. Nah, dari akar
kultur ini tumbuh beberapa masalah yang
sebenarnya tuh sangat merusak. Masalah
pertama adalah eksploitasi santri.
Tenaga santri dianggap sebagai bagian
dari pengabdian tanpa batas. Santriwati
yang harusnya fokus belajar malah
difungsikan jadi kayak pembantu atau
asisten rumah tangga yang gratis kagak
dibayar buat keluarga para kiai. Ada
juga dugaan kasus di mana santri
perempuan dipaksa jadi kuli bangunan
tanpa keahlian, tanpa pengaman, dan juga
tentu saja tanpa bayaran. Jadwal
kerjanya bisa dari pagi sampai magrib
dan kalau pingsan karena kecapekan malah
dibilang mereka itu kurang ikhlas. Dan
harga yang dibayar itu sangat mahal ya
dalam salah satu kasus yaitu nyawa. Ada
bangunan musala yang ambruk yang
ternyata bangunan itu dikerjakan dengan
tenaga santri tanpa izin mendirikan
bangunan dan juga tanpa pengawasan
profesional. Bahkan ada dugaan kalau
pesantren nyembunjungin korban dari
pihak berwajib. Masalah kedua, predator
terkedok agama. Lingkungan yang sangat
tertutup menuntut kepatuhan 100% dan
minim pengawasan adalah surga bagi para
predator. Pelakunya bisa macam-macam ya
mulai dari senior, pengurus dan juga
oknum pengajar atau guru. Misalnya dulu
sempat ramai ya kasus pelecehan 13
santriwati di Bandung. Bahkan
beberapanya sampai hamil dan melahirkan.
Ada juga kasus di pesantren di Jombang
yang melibatkan anak kiai yang
terpandang di sana. Dan masih banyak
kasus lainnya yang kalau diberitain di
BBC lebih dari 40.000 santri rentan
mengalami kekerasan di lingkungan pondok
pesantren. Bahkan gue sempat baca juga
modus para oknum pelaku ini adalah nikah
siri tanpa wali dengan dalih transfer
ilmu dan mendapatkan barokah buat
memperdaya santriwati di bawah umur. Dan
buat para korban yang berani speak up
justru seringkiali diancam diintimidasi
buat menjaga branding pesantren supaya
tetap positif. Masalah keempat perilaku
yang dianggap menyimpang kayak atau itu
sebenarnya banyak ya. Bukan cuma di
lingkungan pesantren aja, tapi juga di
beberapa lingkungan pendidikan agama
lainnya. Misalnya kayak agama Kristen
juga ada pendeta yang hal ini juga
merembet ke yang sebenarnya menarik
adalah ini tuh terjadi di pesantren di
mana itu ditolak gitu secara keras dan
ironisnya malah kita sering dengar ini
kejadian di banyak pondok pesantren dan
gua juga sempat ngewawancara langsung ya
beberapa orang dan itu ada kasusnya
juga.
Sampai di sini mungkin di kepala lo ada
pertanyaan anjir kalau emang stok itu,
kenapa pesantren ini enggak dibubarin
aja? Ya karena enggak semua pesantren
itu jelek. Ada juga pesantren yang emang
bagus dan banyak juga kok yang bagus. 1%
tuh sering banget ya ngisi inouse
training atau acara-acara di pesantren.
Dan so far sih dari pengalaman kita
banyak pesantren yang modern, egaliter,
santri-santrinya berkualitas, bahkan itu
berprestasi sampai ke tingkat dunia
gitu. W gua sempat baca ya, ada santri
dari pesantren Darul Ulum Jombang dan
juga dari Nurul Fikri Boarding School
Bogor yang berhasil menyabet membadali
emas dan penghargaan bergengsi di ajang
International Youth Robotic Competition
Korea Selatan. Gue juga sempat baca 12
santri diterima di kampus top dunia
kayak Nanyang Technological University,
Singapura, University of Toronto, hingga
kampus di Inggris dan juga Australia.
Bahkan kemarin sempat ramei video tiga
santri asal Madura yang dapat juara satu
debat bahasa Mandarin gitu. Dan lu juga
bisa coba lihat ya videonya ada di
layar. Jadi kasus-kasus yang negatif
kita bisa safely say bahwa itu adalah
oknum. Meskipun kalau dibilang banyak
apa enggak kita juga enggak tahu ya data
spesifik dan detailnya tuh berapa. Tapi
yang jelas kita lihat pesantren yang oke
itu banyak. Tapi banyak juga pesantren
yang dianggap buruk dan juga
mengeksploitasi para santrinya. Nah,
terus pertanyaannya gimana solusinya?
Kita bakal coba bahas di section
selanjutnya. Oke, guys. Sebelum lanjut,
gua mau ngasih tahu info buat lu yang
lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya, sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam Psikotes
Premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lo lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
report-nya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren kalau lu enggak ngerti atau
lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight
lanjutan lewat konsultasi bareng expert
dari 1% langsung berdasarkan hasil tes
lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/psicotespremium
buat info lebih lanjut.
Kita itu sebenarnya butuh banget
pesantren buat bertahan di era digital.
Peran fungsional pesantren itu jadi jauh
lebih krusial di zaman sekarang. Karena
anak muda sekarang itu tumbuh di era
tsunami informasi. Semua konten baik dan
buruk itu bisa diakses 24/7 setiap hari
lewat device di kamar mereka. Misalnya
konten-konten yang negatif ya, kayak
konten yang risetnya sudah jelas bisa
merusak sistem dopamin dan perkembangan
otak anak. ini jaraknya itu hanya satu
klik itu ada di HP mereka. Belum lagi
juga masalah soft. Di zaman sekarang itu
banyak sekali ya konten-konten yang
enggak segamblang itu, tapi tetap
ditujukan buat merangsang hasrat film
yang populer juga ya di platform
streaming atau bioskop juga seringkiali
kan tentang perselingkuhan lah terus
campur horor dan juga campur. Belum lagi
kita ngomongin soal masalah cyber
bullying sampai ke culture flexing di
media sosial yang terbukti memicu krisis
kecemasan dan juga depresi pada remaja.
Pesantren itu sebenarnya bisa jadi safe
heaven atau lingkungan yang terkontrol.
sebuah ekosistem di mana hal-hal negatif
dari luar bisa diminimalisir. Di saat
dunia luar mengajarkan kebebasan tanpa
batas, pesantren idealnya menanamkan
adab dan juga disiplin. Gimana caranya
kita ngelola arus informasi ke pribadi.
Di saat dunia luar menuhankan
influencer, pesantren idealnya
memberikan figur role model pada sosok
guru. Tapi ini bukan guru yang
menanamkan budaya feodal atau malah
ngelakuin kekerasan. Tapi ini guru yang
memang baik, guru yang memang berwibawa
dan juga tulus membantu
santri-santrinya. Di saat dunia luar
mendorong individualisme, pesantren
mengajarkan kehidupan gotongroyong alias
saling support, saling bantu, bukan
eksploitasi santri sebagai tenaga kerja.
Jadi, fungsi pesantren hari ini itu
harusnya kayak gitu. Bukan problematik
kayak sekarang yang lagi ramai di berita
belakangan ini. Bahkan menurut gue, kita
juga bisa coba adopsi salah satu
pemikirannya Gus Dur. Pesantren itu kan
sekarang image-nya negatif ya, dianggap
antikritik dan trisolasi. Nah, Gus Dur
bilang pesantren itu harusnya jangan
sibuk dengan dunianya sendiri, jangan
sibuk dengan kitabnya sendiri, sementara
masyarakat di sekelilingnya masih miskin
dan bodoh. Pesantren, kalau kata Gus Dur
punya kewajiban moral untuk turun tangan
menjadi solusi bagi masalah-masalah yang
nyata terjadi di masyarakat. Harapan gue
sih dengan adanya konten ini semoga
berita-berita negatif soal pesantren itu
bisa berkurang. Semoga juga para
pengurus pesantren bisa lebih hati-hati
lagi. Termasuk juga para santri apalagi
ketika memang ada tanda eksploitasi
harus bisa lebih berani ya buat speak
up. Apakah santri atau organisasi ngasih
duit ke pengurus pesantren adalah salah?
Ya enggak salah sih asal
dipertanggungjawabkan dan jangan sampai
dikorupsi. Apakah santri yang ngasih
tenaga kerjanya cuma-cuma itu adalah
salah? Ya enggak juga kalau memang
mereka itu ikhlas ya dan mau
berkontribusi untuk kebutuhan sosial.
Dan apakah salah buat santri untuk
respect ke guru-guru dan juga kiai? Ya,
itu juga enggak salah. Karena kan guru
dan kiai juga udah berjasa ya buat
santri itu sendiri. Apalagi kalau
santrinya bisa berprestasi. Pilihannya
sekarang cuma ada dua, kita mau
terus-terusan denial, marah kalau
dikritik, dan juga membiarkan institusi
ini berjalan menuju kepunahan. Atau kita
semua mau dari alumni, orang tua,
masyarakat atau para pengelola pesantren
itu sendiri untuk berani, jujur, membuka
diri, dan juga mulai menjalankan
perbaikan. Buat lo yang suka sama
bahasan kayak gini, gue juga ada
rekomendasi video ya yang waktu itu kita
sempat bahas soal iPhone. Lu bisa cek
video kita yang sebelah kiri atau lu
juga bisa cek rekomendasi kita yang
lainnya yang ada di sebelah kanan.
That's all for now. Gue Danang dari 1%.
Jangan lupa bahagia dan jangan lupa
hidup seutuhnya. Thanks.