Kenapa Orang 'Miskin' Punya Banyak Anak?
VlyXTFjMOYg • 2025-06-08
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Kenapa sih orang yang hidupnya susah itu justru punya banyak anak? Fenomena ini tuh sebenarnya nyata. Bahkan enggak sedikit yang menganggap anak itu sebagai tabungan, sebagai orang yang bisa ngebantu kita di masa kini dan masa depan dan menganggap anak itu sebagai sebuah investasi. Tapi apa iya bahwa anak itu adalah investasi? Well, kita enggak bakal nge-judge. Ya, mungkin bakal nge-judge lah sedikit. Tapi kita perlu paham kenapa sih pola ini bisa terjadi? Kenapa orang miskin itu cenderung punya banyak anak? dan gimana cara mutusin siklusnya biar dunia ke depannya bisa jadi lebih baik. Welcome to Psychology of Finance. Kita bakal bahas tentang anak. Welcome toychology of finance. Kita coba lihat ke masa lalu ya. di ratusan tahun yang lalu. Ya, sampai sekarang sih punya anak itu dianggap sebagai berkah. Karena apa? Karena setiap lu punya anak, lu bisa bantu ekonomi keluarga. Apalagi sebelum ada zamannya ekonomi digital, sebelum ada internet, apalagi sebelum ada AI seperti zaman sekarang. Zaman dulu ratusan tahun lalu anak itu bisa disuruh bertanik, disuruh ngangkat-ngangkat sesuatu buat bantu-bantu usaha, disuruh ngurus adik-adiknya juga, disuruh ngurus ya kalau kita sudah tua sebagai orang tua, ngurus orang tua juga ya membiayai orang tua dan lain-lain. Dan ketika anak ini sudah tua dan orang tuanya meninggal, anak-anak tuh diharapkan bisa menjaga dan mewarisi bisnis dan tanah dari ayah atau ibunya. Nah, ini masih terjadi sebenarnya sampai sekarang. Jadi, dari ratusan tahun lalu sampai sekarang. Karena di banyak daerah miskin yang ekonominya belum digital, belum upgrade ekonomi, belum pakai AI, anak itu sangat bisa jadi penolong ya. Di kota juga banyak yang jadi penolong ya. Jadi pengemis. Nolongin orang tua tapi jadi pengemis ya. Kita bisa lihat banyak lah ya di blok M ya, di dekat Grand Indonesia tuh yang bahkan sampai kasar juga ngemisnya. Jadi punya anak tuh sama dengan punya jaminan dan narasi lama seperti istilah kata banyak anak, banyak rezeki dalam tanda kutip itu tuh masih hidup sampai sekarang. Tapi kita mulai melihat perpindahan zaman, kita bisa lihat bahwa ada invasi, hidup makin mahal. Ketika kita punya anak, ada biaya sekolah, ada biaya makan, ada biaya internet, ada biaya les. Kalau dulu anak ketika lahir sampai umur 10 tahun udah bisa bantu orang tua. Sekarang orang tua harus kerja lebih keras supaya anak bisa bertahan. Dan anak juga sekarang mungkin bisa jauh lebih manja ya. Karena 10 tahun ke belakang, 20 tahun ke belakang kita enggak ada perang. terutama di Indonesia ya, kita enggak ada perang, damai, ekonomi sejahtera segala macam. Tapi seiring berjalannya waktu, kita bisa lihatlah sejak COVID terutama 2022 biaya hidup rumah tangga dengan anak usia sekolah itu lebih tinggi 1,5 kali lipat dibanding yang enggak punya anak. Jadi kalau lu punya anak, biaya lu bakal ningkat drastis. Apalagi tahun 2025 sekarang. Jadi inflasi ini bikin susah punya anak. Yang kedua, cara bekerja dan ekonomi sekarang itu sudah berubah dan akan makin drastis perubahannya dengan adanya AI. Manusia gak butuh lagi kerja fisik, tapi harus kerja pakai otak karena ya pekerjaan fisik udah bisa digantikan oleh robot. Sementara itu, orang-orang menengah ke bawah yang punya banyak anak, ya mereka enggak siap dengan ini. Selama ini ketika anak lahir, ya udah mau dia bodoh, mau dia pintar, dia tetap bisa bantu orang tua pakai pekerjaan fisiknya. sekarang punya banyak anak, apalagi kalau enggak pintar anaknya itu tidak lagi jadi keuntungan. Yang jadi keuntungan justru ketika el punya anak dan anak lu bisa memanfaatkan potensi digital dan teknologi yang baru. Ya, anak lu dan el sih. Dan banyak orang menengah ke bawah atau miskin tidak menyeru tentang hal ini. Jadi jangan heran ya bakal tetap punya banyak anak aja karena mindsetnya masih sama bisa ngebantu orang tua. Yang ketiga, punya anak memang bikin bahagia. Ya, jadi memang secara instinktif tuh manusia tuh bahagia punya anak. Tapi sekarang kebahagiaan itu banyak alternatifnya. Misalnya sekarang mau bahagia ya bisa nonton Netflix, bisa nonton YouTube dan lain-lain. Nah, ini banyak terjadi di kota-kota besar. Jadi orang sudah bisa bahagia tanpa perlu punya anak. Hidupnya udah nyaman gitu. Enggak perlu punya anak udah bahagia kok. Kalau udah punya banyak uang pun ya banyak yang memilih untuk ya udahlah gua bisa jalan-jalan dulu ke luar negeri, gua bisa kejar karir dulu, gua bisa S2 dulu, S3 dulu. di kota-kota besar seperti itu. Makanya banyak orang di kota-kota besar itu menunda atau bahkan tidak mau punya anak. Kenapa? Karena mereka bisa bahagia dengan cara lain. Dan mungkin banyak yang nge-judge, "Ah, lu mah enggak bahagia. Enggak bakal bahagia, Bro, enggak punya anak. Bro, sekarang child free dan orang-orang yang punya anak itu justru malah lebih menyedihkan daripada yang tidak punya anak. Kita lihat sendirilah. Iya kan? Mungkin kalian kenal sama teman-teman kalian yang sudah punya anak tapi enggak punya duit. Apakah mereka bahagia? ya kalian bisa menilai sendiri jika dibandingkan dengan yang misal nih ya punya duit, sering traveling tapi gak punya anak gitu. Menurut kalian lebih bahagia yang mana tuh? Ya anak bagi orang menengah ke bawah itu sebenarnya kan adalah solusi jangka pendek. Tapi kita harus sadarilah untuk orang menah ke bawah atau orang miskin mikir panjang itu adalah privilege. Jadi banyak orang yang memang enggak sempat ngerencanain keluarganya secara matang. habis nikah langsung punya anak aja. Karena apa? Karena di otak mereka, "Ya udah hari ini bisa makan apa itu aja belum kejawab mungkin. Besok bisa kerja atau enggak itu juga belum kejawab mungkin." Jadi ya udah apa yang perlu dilakuin? Ya mungkin ya udah berhubungan badan dulu aja lah. Jadi entertainment dulu, jadi pelarian dulu, akhirnya apa? Jadi punya anak. Kenapa gua bisa bilang kayak gitu? Karena ini fakta loh di lapangan banyak anak lahir bukan direncanakan, tapi karena kurangnya akses edukasi. Jadi survei itu nunjukin satu dari empat perempuan ya, terutama yang nikah muda nih, itu belum pernah mendapat edukasi soal kontrasepsi ya, soal punya anak pertama tuh harus ngapain gitu dan lain-lain. Selain itu juga nah ini yang mendukung orang untuk punya banyak anak karena orang yang belum punya anak itu dianggap enggak bahagia, dianggap kurang lengkap dan disindir tiap balik pas lebaran. ya kan? Enggak usah lebaran sih. Tiap ketemulah mungkin bahkan disindir, ditanya dan lain-lain. Jadi punya anak sampai sekarang bukan cuma soal kebutuhan ekonomi, tapi juga soal pengakuan sosial dan identitas. Banyak orang tua berharap tuh anaknya jadi teman hidup gitu, jadi sumber kebahagiaan, harapan masa depan. Banyak nenek yang pengin punya cucu juga ya. Tapi gimana kalau kondisi enggak mendukung gitu kan. Punya banyak anak justru bisa jadi memperburuk keadaan, bisa jadi beban. Anak yang lahir dan besar dalam kondisi serba kekurangan itu punya resiko tinggi untuk punya masalah kesehatan, masalah pendidikan, dan masalah kerja. Peluang kerja kagak bisa nyari kerja. Bukannya jadi aset malah jadi beban. Dan zaman sekarang orang tua enggak bisa seenaknya. Minta sesuatu ke anak enggak bisa. Ya enggak bisa seenaknya mukul anak. Sekarang dengan keterbukaan informasi anak-anak bisa sadar. Anak-anak bisa laporin orang tuanya. Dan bahkan anak-anak juga bisa sadar nih udah dewasa ya kan sering dituntut sama orang tua apa yang anaknya lakuin, apa yang anaknya pikirin. Daripada gua udah kerja gua biayain orang tua gua yang beban, mereka up, mereka enggak mendidik gua dengan baik, apa yang bakal mereka lakuin? Mendingan gua kerja, mendingan gua nikmatin kehidupan sendiri. Nah, menurut lu anak yang kayak gini salah apa enggak? Anak yang memilih untuk keluar dari jeratan sandwich generation, nikmatin sendiri, jadi kaya sendiri. Menurut lu salah apa enggak? Akhirnya ya kita udah ada di zaman yang berubah. Yang namanya orang tua berarti kan harus mengubah cara pandang. Termasuk juga calon orang tua ini buat lu yang Genzi yang nonton ya. Yang mungkin lu ke depannya akan nikah atau sudah menikah mau punya anak. Jadi anak itu bukan lagi sebuah aset yang bisa bekerja buat lu. Bukan lagi tabungan masa depan, bukan lagi mesin ATM yang bisa ngebalikin semua pengorbanan lu. Seakan-akan pengorbanan lu tuh tabungan. Ya, justru sebaliknya. Anak itu zaman sekarang kalau lu enggak punya duit itu investasi bodong. Bisa sih jadi investasi yang bagus, tapi investasi itu butuh modal yang besar. Butuh waktu, butuh perhatian, butuh uang. Tiga hal ini, waktu, perhatian, dan uang jarang sekali dimiliki oleh orang menah ke bawah, apalagi orang miskin. Akhirnya apa? Yang kaya kita lihat ya tetap punya banyak anak tambah kaya juga. Yang miskin punya anak lebih banyak makin miskin. Kelas menengah yang populasinya paling banyak sekarang akhirnya memilih untuk apa? Untuk menunda atau tidak punya anak sama sekali alias child free. Makanya solusinya apa? Kalau lu belum siap mental dan finansial, punya banyak anak bisa jadi bencana buat bukan solusi. Jangan pikir anak tuh adalah solusi. Anak butuh orang tua yang kuat dan stabil bukan orang tua yang stres karena keuangan mepet. Dan berharap nanti ini anak kalau udah gede bisa kontribusi lebih buat balikin investasinya. Enggak bisa zaman sekarang. Ada solusi ringan yang bisa lu mulai dari sekarang sebagai calon ayah atau ibu. Kalau misalnya lu mau punya anak, pertama, lu mulai atur keuangan keluarga. Kalau lu adalah sandwich generation sekarang, lu atur keuangan semua keluarga. Lu bikin anggaran sederhana, pisahin kebutuhan primer kayak makan, sekolah, dan lain-lain. Sama yang sekunder sama yang tersier. Hindari utang, apalagi utang konsumtif kalau enggak butuh-butuh amat. mulai investasi finansial buat jangka panjang. Bahkan sebelum anaknya lahir, lu harus mikirin ini gimana lu bisa ngebiayain mereka buat kuliah. Yang kedua, edukasi diri dan pasangan. Kalau belum siap punya anak atau belum siap untuk ngelahirin anak lagi, penting banget edukasi diri dan pasangan biar bisa rencanain keluarga. Cari info soal pengelolaan keuangan dan parenting. Biar keputusan tuh enggak asal jalan aja gitu. Buat lu mungkin video ini terkesan kayak lah berarti lu ngelarang kita punya anak segala macam. Kagak. Menurut gua justru punya anak sama sekali enggak salah. Justru kalau lu udah siap finansial, ya kenapa enggak punya anak aja? Karena justru el lu yang ragu sekarang yang sebelum nonton video ini lu udah ragu punya anak nih. Lu berarti pintar gitu. Lu adalah kelas menengah yang pintar, yang harusnya paling bisa mendidik anak. Jadi yang sering kita temukan justru adalah orang yang ragu dan merasa belum siap untuk punya anak. Justru adalah orang yang paling siap untuk punya anak. Karena di luar sana banyak orang enggak bisa mikir panjang. Banyak orang yang kurang pintar, kurang kaya, yang punya anak duluan, kagak mikir, yang enggak ragu sama sekali, yang bodo amat, yang tidak merasakan ketidakpastian untuk masa depan gitu. Ironisnya seperti itu. Jadi kalau lu ragu itu bisa jadi indikator bahwa jangan-jangan lu udah siap gitu karena lu ragu karena lu bisa mikir panjang. Namanya juga dan Krueger effect ya. Nah, menariknya kebetulan banget buat lo yang pengin belajar lebih dalam buat ngatur keuangan dan rencana keluarga, kita ada webinar gratis kolaborasi bareng Blue yang bisa ngebantu lu untuk belajar cara yang gampang dimengerti untuk ngelola keuangan untuk calon orang tua ya supaya anak lu enggak jadi korban sandwich generation. Di webinar ini, lu bakal belajar cara ngatur keuangan keluarga, strategi rencanain keuangan keluarga yang sehat, tips biar anak bisa tumbuh tanpa harus ngerasain beban finansial. Lu juga bisa belajar mindset apa yang harus dimiliki sebelum menikah dan sesudah menikah. Klik link deskripsi buat daftar. Pendaftaran ditutup tanggal 16 Juni. Silakan diklik webinarnya, gratis. Gua F dari 1%. Well, thanks [Musik]
Resume
Categories