Transcript
VlyXTFjMOYg • Kenapa Orang 'Miskin' Punya Banyak Anak?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0745_VlyXTFjMOYg.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Kenapa sih orang yang hidupnya susah itu
justru punya banyak anak? Fenomena ini
tuh sebenarnya nyata. Bahkan enggak
sedikit yang menganggap anak itu sebagai
tabungan, sebagai orang yang bisa
ngebantu kita di masa kini dan masa
depan dan menganggap anak itu sebagai
sebuah investasi. Tapi apa iya bahwa
anak itu adalah investasi? Well, kita
enggak bakal nge-judge. Ya, mungkin
bakal nge-judge lah sedikit. Tapi kita
perlu paham kenapa sih pola ini bisa
terjadi? Kenapa orang miskin itu
cenderung punya banyak anak? dan gimana
cara mutusin siklusnya biar dunia ke
depannya bisa jadi lebih baik. Welcome
to Psychology of Finance. Kita bakal
bahas tentang anak.
Welcome toychology of finance.
Kita coba lihat ke masa lalu ya. di
ratusan tahun yang lalu. Ya, sampai
sekarang sih punya anak itu dianggap
sebagai berkah. Karena apa? Karena
setiap lu punya anak, lu bisa bantu
ekonomi keluarga. Apalagi sebelum ada
zamannya ekonomi digital, sebelum ada
internet, apalagi sebelum ada AI seperti
zaman sekarang. Zaman dulu ratusan tahun
lalu anak itu bisa disuruh bertanik,
disuruh ngangkat-ngangkat sesuatu buat
bantu-bantu usaha, disuruh ngurus
adik-adiknya juga, disuruh ngurus ya
kalau kita sudah tua sebagai orang tua,
ngurus orang tua juga ya membiayai orang
tua dan lain-lain. Dan ketika anak ini
sudah tua dan orang tuanya meninggal,
anak-anak tuh diharapkan bisa menjaga
dan mewarisi bisnis dan tanah dari ayah
atau ibunya. Nah, ini masih terjadi
sebenarnya sampai sekarang. Jadi, dari
ratusan tahun lalu sampai sekarang.
Karena di banyak daerah miskin yang
ekonominya belum digital, belum upgrade
ekonomi, belum pakai AI, anak itu sangat
bisa jadi penolong ya. Di kota juga
banyak yang jadi penolong ya. Jadi
pengemis. Nolongin orang tua tapi jadi
pengemis ya. Kita bisa lihat banyak lah
ya di blok M ya, di dekat Grand
Indonesia tuh yang bahkan sampai kasar
juga ngemisnya. Jadi punya anak tuh sama
dengan punya jaminan dan narasi lama
seperti istilah kata banyak anak, banyak
rezeki dalam tanda kutip itu tuh masih
hidup sampai sekarang. Tapi kita mulai
melihat perpindahan zaman, kita bisa
lihat bahwa ada invasi, hidup makin
mahal. Ketika kita punya anak, ada biaya
sekolah, ada biaya makan, ada biaya
internet, ada biaya les. Kalau dulu anak
ketika lahir sampai umur 10 tahun udah
bisa bantu orang tua. Sekarang orang tua
harus kerja lebih keras supaya anak bisa
bertahan. Dan anak juga sekarang mungkin
bisa jauh lebih manja ya. Karena 10
tahun ke belakang, 20 tahun ke belakang
kita enggak ada perang. terutama di
Indonesia ya, kita enggak ada perang,
damai, ekonomi sejahtera segala macam.
Tapi seiring berjalannya waktu, kita
bisa lihatlah sejak COVID terutama 2022
biaya hidup rumah tangga dengan anak
usia sekolah itu lebih tinggi 1,5 kali
lipat dibanding yang enggak punya anak.
Jadi kalau lu punya anak, biaya lu bakal
ningkat drastis. Apalagi tahun 2025
sekarang. Jadi inflasi ini bikin susah
punya anak. Yang kedua, cara bekerja dan
ekonomi sekarang itu sudah berubah dan
akan makin drastis perubahannya dengan
adanya AI. Manusia gak butuh lagi kerja
fisik, tapi harus kerja pakai otak
karena ya pekerjaan fisik udah bisa
digantikan oleh robot. Sementara itu,
orang-orang menengah ke bawah yang punya
banyak anak, ya mereka enggak siap
dengan ini. Selama ini ketika anak
lahir, ya udah mau dia bodoh, mau dia
pintar, dia tetap bisa bantu orang tua
pakai pekerjaan fisiknya. sekarang punya
banyak anak, apalagi kalau enggak pintar
anaknya itu tidak lagi jadi keuntungan.
Yang jadi keuntungan justru ketika el
punya anak dan anak lu bisa memanfaatkan
potensi digital dan teknologi yang baru.
Ya, anak lu dan el sih. Dan banyak orang
menengah ke bawah atau miskin tidak
menyeru tentang hal ini. Jadi jangan
heran ya bakal tetap punya banyak anak
aja karena mindsetnya masih sama bisa
ngebantu orang tua. Yang ketiga, punya
anak memang bikin bahagia. Ya, jadi
memang secara instinktif tuh manusia tuh
bahagia punya anak. Tapi sekarang
kebahagiaan itu banyak alternatifnya.
Misalnya sekarang mau bahagia ya bisa
nonton Netflix, bisa nonton YouTube dan
lain-lain. Nah, ini banyak terjadi di
kota-kota besar. Jadi orang sudah bisa
bahagia tanpa perlu punya anak. Hidupnya
udah nyaman gitu. Enggak perlu punya
anak udah bahagia kok. Kalau udah punya
banyak uang pun ya banyak yang memilih
untuk ya udahlah gua bisa jalan-jalan
dulu ke luar negeri, gua bisa kejar
karir dulu, gua bisa S2 dulu, S3 dulu.
di kota-kota besar seperti itu. Makanya
banyak orang di kota-kota besar itu
menunda atau bahkan tidak mau punya
anak. Kenapa? Karena mereka bisa bahagia
dengan cara lain. Dan mungkin banyak
yang nge-judge, "Ah, lu mah enggak
bahagia. Enggak bakal bahagia, Bro,
enggak punya anak. Bro, sekarang child
free dan orang-orang yang punya anak itu
justru malah lebih menyedihkan daripada
yang tidak punya anak. Kita lihat
sendirilah. Iya kan? Mungkin kalian
kenal sama teman-teman kalian yang sudah
punya anak tapi enggak punya duit.
Apakah mereka bahagia? ya kalian bisa
menilai sendiri jika dibandingkan dengan
yang misal nih ya punya duit, sering
traveling tapi gak punya anak gitu.
Menurut kalian lebih bahagia yang mana
tuh?
Ya anak bagi orang menengah ke bawah itu
sebenarnya kan adalah solusi jangka
pendek. Tapi kita harus sadarilah untuk
orang menah ke bawah atau orang miskin
mikir panjang itu adalah privilege. Jadi
banyak orang yang memang enggak sempat
ngerencanain keluarganya secara matang.
habis nikah langsung punya anak aja.
Karena apa? Karena di otak mereka, "Ya
udah hari ini bisa makan apa itu aja
belum kejawab mungkin. Besok bisa kerja
atau enggak itu juga belum kejawab
mungkin." Jadi ya udah apa yang perlu
dilakuin? Ya mungkin ya udah berhubungan
badan dulu aja lah. Jadi entertainment
dulu, jadi pelarian dulu, akhirnya apa?
Jadi punya anak. Kenapa gua bisa bilang
kayak gitu? Karena ini fakta loh di
lapangan banyak anak lahir bukan
direncanakan, tapi karena kurangnya
akses edukasi. Jadi survei itu nunjukin
satu dari empat perempuan ya, terutama
yang nikah muda nih, itu belum pernah
mendapat edukasi soal kontrasepsi ya,
soal punya anak pertama tuh harus
ngapain gitu dan lain-lain. Selain itu
juga nah ini yang mendukung orang untuk
punya banyak anak karena orang yang
belum punya anak itu dianggap enggak
bahagia, dianggap kurang lengkap dan
disindir tiap balik pas lebaran. ya kan?
Enggak usah lebaran sih. Tiap ketemulah
mungkin bahkan disindir, ditanya dan
lain-lain. Jadi punya anak sampai
sekarang bukan cuma soal kebutuhan
ekonomi, tapi juga soal pengakuan sosial
dan identitas. Banyak orang tua berharap
tuh anaknya jadi teman hidup gitu, jadi
sumber kebahagiaan, harapan masa depan.
Banyak nenek yang pengin punya cucu juga
ya. Tapi gimana kalau kondisi enggak
mendukung gitu kan. Punya banyak anak
justru bisa jadi memperburuk keadaan,
bisa jadi beban. Anak yang lahir dan
besar dalam kondisi serba kekurangan itu
punya resiko tinggi untuk punya masalah
kesehatan, masalah pendidikan, dan
masalah kerja. Peluang kerja kagak bisa
nyari kerja. Bukannya jadi aset malah
jadi beban. Dan zaman sekarang orang tua
enggak bisa seenaknya. Minta sesuatu ke
anak enggak bisa. Ya enggak bisa
seenaknya mukul anak. Sekarang dengan
keterbukaan informasi anak-anak bisa
sadar. Anak-anak bisa laporin orang
tuanya. Dan bahkan anak-anak juga bisa
sadar nih udah dewasa ya kan sering
dituntut sama orang tua apa yang anaknya
lakuin, apa yang anaknya pikirin.
Daripada gua udah kerja gua biayain
orang tua gua yang beban, mereka
up, mereka enggak mendidik gua dengan
baik, apa yang bakal mereka lakuin?
Mendingan gua kerja, mendingan gua
nikmatin kehidupan sendiri. Nah, menurut
lu anak yang kayak gini salah apa
enggak? Anak yang memilih untuk keluar
dari jeratan sandwich generation,
nikmatin sendiri, jadi kaya sendiri.
Menurut lu salah apa enggak?
Akhirnya ya kita udah ada di zaman yang
berubah. Yang namanya orang tua berarti
kan harus mengubah cara pandang.
Termasuk juga calon orang tua ini buat
lu yang Genzi yang nonton ya. Yang
mungkin lu ke depannya akan nikah atau
sudah menikah mau punya anak. Jadi anak
itu bukan lagi sebuah aset yang bisa
bekerja buat lu. Bukan lagi tabungan
masa depan, bukan lagi mesin ATM yang
bisa ngebalikin semua pengorbanan lu.
Seakan-akan pengorbanan lu tuh tabungan.
Ya, justru sebaliknya. Anak itu zaman
sekarang kalau lu enggak punya duit itu
investasi bodong. Bisa sih jadi
investasi yang bagus, tapi investasi itu
butuh modal yang besar. Butuh waktu,
butuh perhatian, butuh uang. Tiga hal
ini, waktu, perhatian, dan uang jarang
sekali dimiliki oleh orang menah ke
bawah, apalagi orang miskin. Akhirnya
apa? Yang kaya kita lihat ya tetap punya
banyak anak tambah kaya juga. Yang
miskin punya anak lebih banyak makin
miskin. Kelas menengah yang populasinya
paling banyak sekarang akhirnya memilih
untuk apa? Untuk menunda atau tidak
punya anak sama sekali alias child free.
Makanya solusinya apa? Kalau lu belum
siap mental dan finansial, punya banyak
anak bisa jadi bencana buat bukan
solusi. Jangan pikir anak tuh adalah
solusi. Anak butuh orang tua yang kuat
dan stabil bukan orang tua yang stres
karena keuangan mepet. Dan berharap
nanti ini anak kalau udah gede bisa
kontribusi lebih buat balikin
investasinya. Enggak bisa zaman
sekarang.
Ada solusi ringan yang bisa lu mulai
dari sekarang sebagai calon ayah atau
ibu. Kalau misalnya lu mau punya anak,
pertama, lu mulai atur keuangan
keluarga. Kalau lu adalah sandwich
generation sekarang, lu atur keuangan
semua keluarga. Lu bikin anggaran
sederhana, pisahin kebutuhan primer
kayak makan, sekolah, dan lain-lain.
Sama yang sekunder sama yang tersier.
Hindari utang, apalagi utang konsumtif
kalau enggak butuh-butuh amat. mulai
investasi finansial buat jangka panjang.
Bahkan sebelum anaknya lahir, lu harus
mikirin ini gimana lu bisa ngebiayain
mereka buat kuliah. Yang kedua, edukasi
diri dan pasangan. Kalau belum siap
punya anak atau belum siap untuk
ngelahirin anak lagi, penting banget
edukasi diri dan pasangan biar bisa
rencanain keluarga. Cari info soal
pengelolaan keuangan dan parenting. Biar
keputusan tuh enggak asal jalan aja
gitu. Buat lu mungkin video ini terkesan
kayak lah berarti lu ngelarang kita
punya anak segala macam. Kagak. Menurut
gua justru punya anak sama sekali enggak
salah. Justru kalau lu udah siap
finansial, ya kenapa enggak punya anak
aja? Karena justru el lu yang ragu
sekarang yang sebelum nonton video ini
lu udah ragu punya anak nih. Lu berarti
pintar gitu. Lu adalah kelas menengah
yang pintar, yang harusnya paling bisa
mendidik anak. Jadi yang sering kita
temukan justru adalah orang yang ragu
dan merasa belum siap untuk punya anak.
Justru adalah orang yang paling siap
untuk punya anak. Karena di luar sana
banyak orang enggak bisa mikir panjang.
Banyak orang yang kurang pintar, kurang
kaya, yang punya anak duluan, kagak
mikir, yang enggak ragu sama sekali,
yang bodo amat, yang tidak merasakan
ketidakpastian untuk masa depan gitu.
Ironisnya seperti itu. Jadi kalau lu
ragu itu bisa jadi indikator bahwa
jangan-jangan lu udah siap gitu karena
lu ragu karena lu bisa mikir panjang.
Namanya juga dan Krueger effect ya. Nah,
menariknya kebetulan banget buat lo yang
pengin belajar lebih dalam buat ngatur
keuangan dan rencana keluarga, kita ada
webinar gratis kolaborasi bareng Blue
yang bisa ngebantu lu untuk belajar cara
yang gampang dimengerti untuk ngelola
keuangan untuk calon orang tua ya supaya
anak lu enggak jadi korban sandwich
generation. Di webinar ini, lu bakal
belajar cara ngatur keuangan keluarga,
strategi rencanain keuangan keluarga
yang sehat, tips biar anak bisa tumbuh
tanpa harus ngerasain beban finansial.
Lu juga bisa belajar mindset apa yang
harus dimiliki sebelum menikah dan
sesudah menikah. Klik link deskripsi
buat daftar. Pendaftaran ditutup tanggal
16 Juni. Silakan diklik webinarnya,
gratis. Gua F dari 1%. Well, thanks
[Musik]