Transcript
lGFYIP5_Jf8 • PRABOWO REMOVES IMPORT QUOTAS!! ANOTHER BLUNDER??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0354_lGFYIP5_Jf8.txt
Kind: captions Language: id Good news nih, Guys. Rupanya Presiden Prabowo itu penonton channelnya Benix juga, ya. Karena apa? Beliau gerak cepat dan langsung mengumpulkan ya teman-teman pengusaha yang ada di Indonesia untuk berdiskusi bareng dan ini gua baru aja dikirim potongan videonya. So, buat lu yang penasaran gimana sih ya reaksinya, diskusinya dan apa sih yang kita bisa ambil kesimpulan dari pertemuan Presiden Prabowo dengan para pengusaha yang ada di Indonesia. Jangan dikip video ini. Let's check this out. Kita ini negara besar ya. Mungkin kita selalu ada rasa was-was, selalu rasa rendah diri ya kan. Kita kuat, kita punya mineral-mineral strategis kok. Kita ada daya saing. Benar enggak? Jadi, Saudara-saudara, dalam kita negosiasi kita juga bukan tidak punya kiat-kiat yang cukup meyakinkan. Ya, sebagai contoh defisit defisit kita 17 miliar dolar ee surplus kita 17 miliar dolar sama Amerika. Benar. Itu yang jadi masalah bagi mereka kan. Saya sangat confident. Saya sudah saya sudah menugaskan Menko perekonomian negosiasi. Kita sudah sampaikan Pak Luhud juga kita bisa kita bikin Pak Po Pak Po ada istilah istilah bisnis bisa ya break boleh presiden ngomong Pak Po boleh ya boleh boleh saya saya tawarin mereka Pak Po saya bisa 17 miliar 10 kita 17 miliar kita akan beli dari Amerika kita bukan negara miskin kita bisa beli 17 miliar dari Amerika ya apa yang kita butuh dari Amerika kita butuh LPG. LPG 8 miliar dolar kita butuh 9 miliar ya. Kita butuh minyak BBM kita bisa impor lagi 9 miliar lagi ya. Kita butuh alat-alat teknologi rikrick drilling dari mereka. Kita akan membuka 10.000 sumur lama dengan teknologi baru. Mungkin 3 empat item Pak Po ya. [Musik] Kedelay. Saya kadang-kadang terlalu cepat bicara keluarnya keledai. Enggak kedelay kita butuh dari mereka ya. Gandum apalagi kapas pesawat terbang. I kan tapi sekarang pesawat terbang dari Tiongkok murah-murah loh ya. Oke, ini another good news nih, Guys. Jadi, Presiden Prabowo sepertinya memang nonton video-videonya Benix karena di situ gua udah bilang ya jauh-jauh hari bahwa strategi Vietnam untuk mengecilkan bea masuk dia jadi 0% bahkan supaya barang-barang dari Amerika Serikat yang masuk ke Vietnam itu 0%. Supaya Amerika Serikat memaafkan Vietnam dan mau mengurangi tarif barang-barang Vietnam. Sebaliknya nih yang masuk ke Amerika, Vietnam ambil strategi yang salah. apa yang dilakukan oleh Vietnam, dia langsung buru-buru bikin itu jadi 0%. Apakah kemudian lantas Donald Trump bilang, "Gua cabut tarif untuk Vietnam?" Enggak. Karena Vietnam itu enggak ngerti bahasa kodenya Donald Trump. Kodenya Donald Trump itu bukan soal lu 0%, 1%, 5%, no. Soal defisitnya berapa. Nah, Amerika dengan Indonesia kita itu ekspor berlebihan. Amerika akibatnya impor lebih banyak barang dibandingkan yang mereka ekspor ke Indonesia. Selisihnya kemarin itu hampir 18 billion dolar. Dan gua udah bilang di video itu Indonesia bagus nih kalau kita mengurangin biaya masuk barang-barang made in USA itu bagus bagus. Tapi yang paling penting idenya dari Donald Trump adalah eh lu kasih gua balik duit gua tuh 18 billiun dolar itu 17 sampai 18 bilion dolar kasih pulang ke gua. Tapi lu enggak bisa, lu enggak mampu. Ya udah kalau gitu gua diskon dalam bentuk tarif. diskon 50% hasil keluarnya 32% yang ada di video kita yang kemarin. Tapi esensinya yang diinginkan oleh Donald Trump bukan buat negara-negara ini ngecilin tarif impornya mereka. Karena semua negara-negara ini pun udah punya banyak trik nontarif barrier di bawah. Pakai peraturan teknislah, pakai syarat izin impor lah, pakai syarat izin lokasi lah, pakai biaya demosil, pakai biaya preman lah, semua hal yang berhubungan dengan non tarif itu diattack. Belum lagi TKDN segala macam. So, yang diinginkan benar-benar Donald Trump adalah lu bayar sama gua 17 sampai 18 billi dolar. Dalam bentuk apa? Terserah lu. Pokoknya lu belanja sekitar itu. Nah, inilah yang mau diomongin sama Presiden Prabowo tadi. Itu betul-betul pas tuh isunya bahwa kita harus belanja sebanyak itu. Kita sebenarnya bisa belanja senjata, kita bisa belanja kapal tempur, pesawat terbang segala macam bisa. Cuma kan denegen ya, itu perlu persetujuan dari kongres Amerika Serikat juga. Mereka mengizinkan enggak pemerintah Amerika Serikat untuk mengekspor senjata canggihnya mereka? Tapi di sini, di konteks ini, gua senang banget, Guys. Asli gua senang banget. Karena Presiden Prabowo itu betul-betul aware yang kita lakukan adalah belanja lebih banyak. Oke, kalau gitu belanja barang yang strategik. Tadi dimention apa? Kita kalau gitu impor minyak, kita impor Rick RCK oil yang dari Amerika Serikat buat buka sumur-sumur bekas Belanda yang sebetulnya masih banyak kandungan minyaknya itu banyak, Guys. Kita impor kapas dari mereka enggak apa-apa, enggak ada masalah. Kapas kita masukin ke Indonesia, kita pintal jadi benang. Benang nanti jadi kain, jadi industri tekstil kita naik. Kenapa detik ini industri teksil kita susah banget dapat bahan baku? Karena tadi ada kuota-kuota mau impor benang, impor filamen, impor biji plastik susah bukan main. So kalau bahan baku kapas ini kita bisa solve ya teman-teman di industri tekstil juga pasti diuntungkan karena Indonesia tidak bisa memproduksi kapas sebanyak itu. Kebutuhan kita buat kapas lebih banyak dibanding kemampuan petani kita menghasilkan kapas. Lalu ada apa lagi? Katanya bakal impor kedelai gandum pesawat terbang. Bagus enggak? Menurut gua bagus karena kita butuh itu semua. Teman-teman suka enggak suka kedelai itu di Indonesia semua makan kedelai, kacang kedelai jadi tempe, jadi tahu. Kan lu suka. Kalau harganya makin murah karena kita impornya dari Amerika Serikat bisa direct, bisa langsung, lu juga yang happy. Gandum. Gandum itu di Indonesia dipakai banget. Lu makan Indomie kan enak banget rasanya. Lu makan roti, lu makan risol, lu makan donat, lu makan martabak telur. Itu semua kan isinya gandum pakai tepung gandum. Jadi ini adalah barang-barang yang strategik dan memang kita tidak mampu buat nanam itu dan tidak bisa karena apa? Iklimnya enggak cocok. Itu tanaman-tanaman subtropik. Kita negara tropis. Jadi memang strategik enggak berkompetisi dengan produk lokal kita. Jadi gua sangat-sangat setuju dan menurut gua ini yang diattack nih sama Prabowo ini sangat-sangat bagus loh. Ya, lu ngomong tadi gandum, soibin, kedelai ya, kita enggak bisa nanam. Climate-nya beda dengan di Indonesia. Kita enggak bisa. Kapas ya kita memang butuh impor minyak, alat-alat minyak kita memang butuh. Tapi sedikit catatan ya buat yang minyak ya. Umur-tumur Belanda di Indonesia masih banyak yang bagus cuma butuh pendalaman aja. Tapi kalau seandainya kita impor rik skala besar apakah artinya lifting minyak Indonesia bakal langsung naik? Gua rasa tidak. Kenapa? Karena begitu banyak perizinan yang harus diurus yang menyengsarakan pengusaha-pengusaha lokal yang mau buka tambang minyak di Indonesia. So, please buat Presiden Prabowo dan pembisiknya yang follow gua gini, orang mau buka sumur minyak di Indonesia bekas siapa? Katakan bekas sial. Ada banyak di Jawa Tengah, ada banyak di Sumatera. Ketika lu mau ngebor itu izinnya panjang banget. Lu udah harus izin ke SDM, lu harus izin lagi nanti ke Mementerian Lingkungan Hidup. Lu izin lagi nanti Kementerian Kehutanan kalau kawasan yang kemungkinan di kawasan hutan. Terus habis itu apalagi? Lu harus ada sosialnya sama masyarakatnya. Terus pemerintah daerah juga ada. Ada kabupaten, ada gubernur, ada Pemkot yang lain sebagainya. Lu harus urusin itu supaya bisa jalan dari A to Z. Dan ini betul-betul sangat lambat ya. Kita ngomong kalau batu bara lah lu mau nambang lu butuh iup. Begitupun lu minyak-minyak yang ada di Indonesia sekarang kan sudah dihandle sama Pertamina. Pertamina ini lucunya begini. Dia itu senangnya impor impor minyak dari luar negeri. Padahal banyak sumur-sumur yang ada. Dia sendiri enggak capable buat nampung itu, buat ngegali itu. Kenapa enggak dipermudah sih buat pengusaha lokal yang mau mengelola sumur-sumur minyak itu? Gua kemarin habis meeting, Guys. Jujur aja nih, gua mau kelola sumur minyak yang ada di gerobakan di Jawa Tengah. Gua mau datang ngurusin izinnya udah ngobrol sama perusahaan lokal, lu harus bikin join venture ya sama perus perusahaan daerah supaya mereka dapat royalti. Ya, oke. Nanti urus AMDnya, urus per segala macam. Kita hitung-hitung izinnya cuma buat ngebor satu umur aja. Proses perizinannya minimal 1 tahun. Gila banget. Gimana caranya negara ini bisa maju? Ini perizinan susah banget di negara ini. Nah, ini gua sangat apresiasi sama Pak Presiden. Sekali lagi ini isunya sangat kuat tapi solusinya sangat selektif, sangat target dan gua yakin tidak berkompetisi malah justru menyelamatkan bangsa kalau kita impor lebih banyak lagi kedelai gandum, kapas dan sejenisnya. Gua sangat setuju listing minyak kita perbanyak justru bagus mengurangi impor minyak kita yang pakai dolar itu. Jadi rupiah bisa menguat lah. Kalau lu kira enak ya impor minyak, impor minyak, impor minyak itu belinya pakai dolar loh. Tambah sengsara rupiah loh. Tambah tergadaikan rupiah buat ngisi bensin mobil lu. Nah, kalau seandainya dipermudah nih lifting-lifting minyak kita, ya it's a good news. Jadi Indonesia bisa independency, energy. Satu yang menarik ya itu sumur yang digerobokan itu sebetulnya udah pernah ditambang juga dulu sekitar 60 barel lah per titik. Kemudian dia explore. Ternyata bisa naik dari 60 ke 300 barel per titik per hari. Now imagine di titik itu sebetulnya total ada 40 titik sumur yang bisa direaktivasi. Kalau di situ ada 40 titik dikali 300 barel per hari per titik 300 * 40 itu udah 12.000 barel per hari loh. Enggak kecil loh itu. Enggak main-main loh. Tapi kenapa perizinannya ribet banget guys? Gua jadi mikir-mikir, jalan enggak ya? Jalan enggak ya? Jalan enggak ya? Padahal ahlinya udah begitu banyak di sana. Even offakernya eh hasil minyaknya itu mau diambil sama Pertamina juga. Mereka sudah siap semuanya. Cuman yang enggak siap di sini adalah kalau perizinannya begitu lama sampai 1 tahun izin macam-macam. Tadi gua bilang ya ada izin Pertamina lah, izin ke anak usaha Pertamina lah, terus izin ke Kementerian SDM lah, izin ke Kementerian Lingkungan Hiduplah, izin ke Kementerian Kehutan. Gila benar ini baru di level pusat belum izin yang di level daerah butuh 1 tahun. Kapan majunya industri minyak kita? Sayang banget. Padahal itu bisa membuka lapangan kerja loh begitu banyak dan meningkatkan penghasilan negara. Ya, karena kita bayar royalty juga, Guys, ke negara. Kita harus bagi duit sama Pertamina loh. Bukan semuanya buat kita. Kita harus ngasih ke perusahaan daerah royalty. Kita ngasih duit juga ke Pertamina. Baru pengusaha yang kayak kita nih yang terima revenue-nya. Nah, semua itu dilakukan ada resikonya enggak? Ada. Lu kira orang kalau ngebor pasti langsung dapat? Enggak. Dari 100 titik sumur bekas paling yang ada isinya maybe 60%. Itu kan pakai modal. Kalau eksplorasinya gagal, kalau casing-nya pecah, kalau tekanannya besar tidak terkontrol di ujungnya jadi lumpur Lapindo kan jadi masalah. Jadi pengusaha harus tahan resiko itu. Mereka berjudi juga dan sayangnya pemerintah juga enggak mau menggaransi itu. Artinya apa? Kalau ada satu titik lu mau buka lagi biaya butuh 5 M. Lu mau buka 100 titik lu berarti butuh duit 500 M. Kalau sukses rate lu itu cuman 30% lu udah keluar 500 M berarti lu bakal bakar 350 miliar. Itu bukan jumlah yang kecil. So, betul-betul pemerintah nih kalau serius dengan lif minyak, tolonglah at least pengusaha ini udah berjudi loh. Mereka keluarin 5 miliar per titik. Belum lagi perizinan. Perizinan sekitar 3 sampai 4 m per titik. Pengusaha udah berjudi nih buat invest di lapangan-lapangan itu. At least jangan dipersulit dong perizinannya. Dipermudah dong. Bahkan kalau bisa tokan yang diuntungkan Pertamina juga, tapi kok semuanya serba dipersulit? Apakah ini karena Pertamina lebih senang barang impor dibanding barang lokal? Ya jangan begitu dong. Gua harap sih tidak seperti itu. But then again, gua sekali lagi mau mengapresiasi Presiden Prabowo sudah bawa isu ini bahwa apa? Kita harus belanja lebih banyak ke Amerika Serikat supaya mereka mau mengurangi tarifnya yang dia kenakan kepada barang-barang dari Made in Indonesia. Dan yang barang yang mau diimpor ini gua bisa bilang aman, clean and clear. Tidak berkompetisi dengan produk lokal kita manapun. Kedelai gandum kita memang butuh banyak. So, it's real, it's bagus. So, it's a good job. Thank you, Pak Presiden. Next. Sekarang saya beri garis kepada kabinet semua. Pertama, efisien kerjanya harus efisien. Kedua, buang semua regulasi yang tidak masuk akal. Ya, permudah. Permudah semua proses untuk pengusaha. Ini ini bagusnya presidenmu mantan pengusaha juga gitu loh. Iya benar loh. Saya tuh 25 tahun kan di luar kekuasaan saya pengusaha menghadap pejabat ini. G mantan panglima menghadap datang ke Himbara menghadap menghadap Bank Mandiriakbalik. Iya kan? Jadi benar, kita bersaing sama Vietnam, kita bersaing sama Bangladesh, kita bersaing sama Thailand, kita bersaing sama Malaysia. Kita enggak usah terlalu pintar. Kalau mereka lakukan sesuatu, kalau perlu nyontek. Enggak boleh nyontek di sekolah. Kalau dalam kehidupan nyontek itu boleh. Iya kan? Apa itu tadi? Kemarin ada satu satu taipan ngomong ke saya, dia punya ilmu, dia bilang, "Cope with pride." Dia iya. Enggak apa-apa. Kalau Vietnam berani apa pasang ee tarif 0% kita kenapa harus berani juga dong? Ya. Jadi perizinan saya minta ya menteri-menteri ya jangan jangan ragu-ragu dan saya minta demi rakyat. Oke ini bagus tapi Pak Presiden harus hati-hati. Gua yakin isu ini bakal digoreng. Sama kayak kemarin tuh gua bilang kan bagus sih Apple investasi kita kasih aja dia gratis pajak 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun. So kalau Vietnam berani 30 tahun, kita kasih 35 tahun. Vietnam kasih bebas pajak 40 tahun, kita kasih 45 tahun. Soat yang penting dia invest ke sini buka lapangan kerja. Terus kemarin gua dibully. Lah ini emang enggak solutif. Gimana kalau seandainya pabrik-pabrik lain jealous mereka minta fasilitas yang sama? Ya gampang ya. Lu invest sebanyak Apple. Kalau Apple invest 1000 triliun dapat fasilitas ya lu Samsung lu enggak usah komplain. Lu invest aja 1000 triliun. Kalau Apple berani invest 200.0008 kerja tercipta lu. Ovo, Oppo, Vivo, lu berani enggak hir 200.000 manusia? Kalau enggak, jangan berani lu minta fasilitas yang sama. Kan simpel aja sih begitu. Nah, sekarang Pak Brobowo udah punya ide buat nolkan tarif nih. Gua yakin ini yang akan digoreng nih sama media-media sok nasionalis buat menyerang Presiden Prabowo adalah gimana nanti UMKM kita mati, pengusaha kita mati, segala macam. Gua minta jangan kau gentar, Pak Presiden. Kenapa? Karena memang kita butuh tarif 0% itu. Begitu banyak pengusaha Indonesia manufacturing. Lu ngomong TPT lah tekstil. Orang bikin kain, orang bikin baju, tapi cari bahan bakunya susah, beli benangnya susah. Berapa banyak sih pemain di Indonesia ini, perusahaan di Indonesia ini yang bisa merubah minyak bumi menjadi filamen, menjadi benang? Sangat sedikit. Akibatnya apa? Lu belanja baju kan mahal, lebih murah impor dari Tiongkok. Padahal mereka harus bayar logistik, harus bayar kapal. Kenapa enggak lebih murah di Indonesia? Harusnya begitu dong. Contoh, lu nanam beras, kenapa kita beli beras dari India? Logikanya harusnya lebih murah beras India apa beras Indonesia? Beras dari India aja udah kalah, Bro. Itu dia harus bayar logistik. Logistik truk, logistik kapal. Kok bisa-bisanya beras India lebih mahal dari beras Indonesia? Kan enggak masuk akal. E sebentar, Guys. Bentar, Guys. Sebelum kita lanjut videonya, good news, guys. Colah Sambenix season 7 kembali dibuka nih. Jadi, buat teman-teman yang belum sempat join yang season 6, kita sekarang udah masuk ke season keet7uh. Dan ini seru banget karena tahun ini kita membahas tentang energi terbarukan. So, teman-teman tahu enggak orang kalau ngomong energi di Indonesia ini cuman ada batu bara atau minyak bumi. Tetapi sekarang kita sudah masuk ke era di mana saham-saham perusahaan yang prospek itu justru datang bukan dari batu bara lagi, tapi dari energi terbarukan. Dan banyak loh sebetulnya energi terbarukan. Ada lu ngomong minyak sawit, ada namanya gas bumi, ada namanya tenaga surya dari matahari termasuk tenaga air. Dan masih begitu banyak lagi yang belum kita bahas. Nah, makanya di season 7 ini kita akan membahas saham-saham yang sangat prospek, investasi yang menurut gua sangat menarik buat kita pelajari bersama. Hanya di Skola Sambenix Season 7 tentang emiten-emiten dan prospek prospek yang luar biasa dari sektor energi terbarukan. Makanya jangan sampai ketinggalan, Guys. Segera buruan daftar karena kita ada promo nih diskon 25% hanya untuk 50 orang pertama yang daftar sebelum 25 April 2025. So, tunggu apaagi, Guys? Buruan yuk, segera hubungi nomor handphone yang ada di bawah ini atau www.skalashambenix.com. Artinya di Indonesia tidak efisien karena kita diproteksi dengan tarif. Akibatnya petani kita manja, tidak mau berevolusi. Dari dulu pakai cangkul, sekarang pakai cangkul. dari 1000 tahun lalu pakai kerbau, detik ini masih pakai kerbau. Gimana mau canggih, gimana mau maju? Karena mereka merasa terproteksi. Dan ini juga ikut sampai ke atasnya. Input untuk petani itu apa? Pupuk. Obat pestisida, herbisida. Pupuknya dari mana? Pupuk-pupuk plat merah enggak ada yang efisien, enggak ada yang bagus. Mereka enggak mau berinovasi. Kenapa harus berinovasi? Kenapa harus bikin pupuk yang lebih bagus? Pupuk-pupuk yang ada aja sudah pasti dibeli sama negara. Ini kan perusahaan plat merah lah. Akibatnya apa? Petani-petani apa adanya pakai pupuk gitu-gitu doang. Padahal pupuk impor jauh lebih bagus. Sebut merek aja lah dari Norwegia ya Ramila. Sama aja NPK 16 16. Coba lu bandingkan dengan pupuk merek lokal, pabrikan lokal punya negara sama-sama 16 16 NPK-nya. Mana yang lebih bagus? Yang pupuk yang impor itu padahal kandungannya sama-sama NPK 16. Jadi dari sini sudah bisa ambil rasionya. Malah pupuk impor itu jauh lebih bagus. Tapi kenapa langka? Kenapa susah? Kenapa banyak mafia pupuk? akibatnya orang enggak bisa bertani dengan efisien lah. Kalau kita bikin 0% gua sih berharap bagus. Jadi playing field-nya sama. Mereka bisa impor truk, mereka bisa impor traktor, mereka bisa impor pupuk dengan bebas perbisida, peptisida masuk ke Indonesia berkompetisi. Jadi yang baik, yang lebih efisien, yang lebih efektif biarkan mereka menang. Nah, kalau playing field-nya sudah sama, masa sih harga beras Indonesia lebih mahal dari India? Enggak. Kalau pupuknya udah sama, traktornya udah sama, input cost-nya udah sama, pasti kita jadi lebih efektif dan efisien. Dan ini yang harus kita lakukan. Contohnya kan udah ada zaman dulu Pertamina 20 tahun yang lalu, pemain tunggal, Bro. Lu kalau pergi ke Pertamina busuk bukan main, WC-nya kotor, kualitasnya dipertanyakan. Tapi kan sekarang mereka mau enggak mau harus berkompetisi, mereka harus upgrade karena udah ada British Petroleum, udah ada Shell, udah ada Vivo. Jadi dulu ada Petronas bahkan jadi dia udah enggak bisa lagi ngasal. Artinya kompetisi membawa hal yang baik atau hal yang buruk? Kompetisi membawa hal yang baik. Dulu mereka diproteksi, enggak ada orang lain bisa jualan bensin. Suka-suka aja, barang busuk ya mau apaagi pilihannya. Enggak ada toko, cek toko sebelah punya Go Pertamina juga. Begitu proteksinya dicabut, orang bisa usaha di Indonesia mau enggak mau mereka upgrade. So, that's a good thing kompetisi itu. Jadi, mau enggak mau UMKM kita, pengusaha kita dipaksa untuk bisa menang, untuk bisa lebih efisien, lebih canggih, upgrade evolusi. So, gua setuju dengan yang namanya tarif 0% ini. Jangan gentar kalau lu diserang, siap-siap ya, Pak Presiden. Pasti akan diserang sama media-media sok nasionalis bilang bahwa ini menghancurkan pengusaha kita. Menurut gua enggak. simpel aja lah. Tadi gua bilang manufacturing TPT pasti senang kapas itu makin banyak makin murah, benang makin banyak makin murah. Yang penting apa barang jadinya nih? Kalau seandainya belum begitu bagus, ya itu mungkin bisa kita masih kasih tarif. Tapi banyak di middle prosesnya ini hulu ke hilir di tengah even di manufacturing yang memang kita enggak siap. Contoh orang mau bikin pabrik TV di Indonesia apa kita bisa bikin end to end dari semuanya? Kan enggak. Beli kacanya di mana? Beli touch screen-nya di mana? Emang ada pabriknya? Mikroprosesornya emang di Indonesia ada. Jadi, ada begitu banyak transmitter receiver emang kita bisa bikin ya. Memang kalau seandainya itu enggak diimpor, gimana dia bisa dibikin di Indonesia? Karena waktu diakui kita enggak bisa bikin A to Z semuanya di sini. Ya, mudahkanlah beberapa komponen itu supaya kita bisa impor dengan bebas. Kalau itu enggak dilakukan apa? Orang malas bikin pabrik di sini. Karena enggak mungkin enggak ada barang impor. Lu bikin pabrik mobil di mana pun pasti ada komponennya yang diimpor. Mau touch screen-nya kah, mau komponen di kursinya kah, mau pencetan tombol jendelanya, bahkan jendelanya sendiri di mesinnya, engine-nya, bearingnya, pasti masih ada komponen impor. Yang kalau seandainya itu dipersulit, ya gimana mobilnya bisa jalan. Misalkan bannya aja harus impor, gimana bisa jalan kalau dilarang impor ban mobil? Siapa yang mau bikin pabrik mobil di sini? Kan itu logikanya. So, gua sangat setuju dengan tarif 0% ini, tapi harus playing field-nya dibuka semua. Jangan cuma jadi permainan nanti di set up kuota-kuota atau di tingkat bawah. Orang main di level-level peraturan-peraturan yang jadi celah untuk kasih minyak pelumas. Jadi di sini gua sangat suka ketika Presiden bilang kita harus permudah regulasi buat para pengusaha supaya lapangan kerja makin banyak yang tercipta. Dan tadi kan dibilang ya Prabowo minta kabinetnya bekerja dengan efisien. Ini another good thing. Gua sudah kasih contoh begitu banyak program kementerian kita yang enggak jelas cuma buat buang-buang anggaran. Tolong itu semua diperiksalah, diberantaslah. Dan gua setuju kalau seandainya kita belum sanggup berevolusi pikir yang canggih, copy paste aja programnya Vietnam yang sukses apa. Regulasi pajak dipermudah, kita juga permudah. Regulasi impor dipermudah, kita juga permudah. Ya, amati, tiru, modifikasi. Itu aja simpel banget. So, this is a very good thing loh. Ini kabar baik karena ya lu tahu gua investor, gua juga pengusaha. Jadi, gua sangat sambut baik. Ini kebijaksanaan yang gua harap bukan omon-omon ya. memang betul-betul dieksekusi ini sangat-sangat baik. Next. Kadang-kadang ya ini birokrat-birokrat ini saya kasih peringatan ya. Ada aja ya sudah dikeluarkan keputusan presiden, dia bikin lagi apa namanya? Peraturan teknis. Pertek apa itu pertek ya kadang-kadang perteknya tuh lebih lebih galak daripada keputusan presiden. Enggak ada lagi prekk-perpect. Pokoknya pertek keluarkan oleh kementerian harus seizin Presiden Republik Indonesia. Ya, mudahkan ini. Ini saya sebetulnya dalam hati ya. Benar. Tadi siapa yang sampaikan sebetulnya Pak Purbaya ya ini sebetulnya Pak Presiden Trump mungkin membantu kita ini sebetulnya dia maksa kita supaya kita supaya kita ramping, supaya kita efisien, supaya kita tidak manja ya kan. Ini kesempatan saya minta ya, ada Menteri Pertanian, ada Menteri Perdagangan. Enggak usah ada kuota kuota, kuota apalagi semua enggak ada kuota-kota itu. Siapa mau impor daging silakan siapa aja boleh impor, Saudara-saudara mau impor apa silakan buka aja. Rakyat kita juga pandai kok. Iya kan? Jangan bikin kuota-kota. Habis itu perusahaan A B C di yang yang hanya ditunjuk hanya dia boleh impor. Enak aja. Iya kan? Udahlah udahlah kita sudah lama jadi orang Indonesia udah enggak pakai jangan pakai praktik-praktik itu lagi gitu ya. Oke. Ini betul-betul bagus nih, Guys. Karena apa? Indonesia ini semuanya dimafiain. Lu tahu lu mau impor daging sapi, lu impor bawang, itu semua ada mafianya dalam bentuk apa? Kuota. Mereka minta kuota di Kementerian Perdagangan. Kuota tahun ini 1 juta ton. Lu kalau mau lu gua kasih 200.000 ton. Lu berani bayar berapa? Lu berapa? 100.000 ton. Lu berani bayar berapa? Kan ujung-ujungnya jadi enggak bagus. Ujung-ujungnya lu sebetulnya beli daging itu harganya juga lebih mahal karena udah lu harus bayar transportasinya logistiknya karena barang impor. Kedua, lu juga yang bayar kan minyak pelumasnya. Kenapa lu yang bayar minyak pelumasnya? Karena itu semua kan nanti akan dibebankan kepada konsumen akhir which is lu juga. Makanya kalau seandainya sistem kuota ini diberantas, udahlah diberantas. Biar orang kalau mau impor bahan pokok, mau impor makanan, dipermudah, dipermurah. Ujung-ujungnya lu yang untung. Jangan sampai harga pangan makin lama makin mahal, makin mahal. Karena petani kita enggak efisien, peternak kita enggak efisien, ujung-ujungnya lu bayar lebih mahal. Nah, kalau ini kota-kota ini dibuka, gua yakin standar hidup, kualitas hidup orang Indonesia itu malah bakal naik karena mereka bisa dapat barang berkualitas dengan harga yang lebih murah. Dibandingkan pakai kuota-kuota yang tujuannya katanya melindungi peternak lokal atau petani lokal, tetapi itu semua praktiknya kan diperjual belikan. Ujung-ujungnya yang menang siapa? Mafia kuota. Lu bayangkan misalkan daging sapi dikasih minyak pelumas Rp7.000 per kilo, lu kuota 1 tahun Rp1 juta. Rp7.000 Rp.000 dikali R juta itu udah R miliar ya kalau Rp1 juta. Kalau Rp100 juta yang diimpor lu dapat 700 miliar. Hei mafia kan gimana ya? Mendingan daripada duitnya masuk ke kantong-kantong mafia itu kenapa enggak kasihnya ke rakyat dalam bentuk apa? Ya ku hilangin itu semua. Jadi kita bisa beli daging sapi dengan lebih murah. Ujung-ujungnya rakyat yang pintar makin banyak dapat protein berkualitas lebih bagus lebih banyak. So, ujung-ujungnya ya kita juga yang diuntungkan gitu loh. Tapi sekali lagi level playing field, petani-petani sapi di Indonesia juga dibantu. Jangan sampai harga pakan itu mahal karena mafia jagung ada banyak, mafia pupuk ada banyak. So, mereka juga harus dikasih bantuan. Kalau seandain ini bisa dilakukan nih, impor-impor kuota-kuota ini diberesin, gua sih sangat-sangat yakin sih lu akan bisa menyaksikan ya Indonesia, gua yakin ya Indonesia itu bisa meraup ya begitu banyak keuntungan. Apakah arti kita cuma jadi market? Enggak. At the end of the day, kalau seandainya ini hulu ke hilirnya betul-betul dirapihin, dibikin bagus, masa sih harga sapi di Brazil bisa lebih murah dibanding harga sapi di Indonesia? Masa sih kita tetap impor sapi dari India ke Indonesia? Masa tetap lebih mahal di Indonesia? Enggak lah. Asal semuanya udah level playing field. Efisiensi yang diterapkan di India, efisiensi yang diterapkan di Brazil ya, kita lakukan juga yang sama di Indonesia. Sudah pastilah kita menang. At least dari biaya logistik di Indonesia lebih murah daging sapi kita dibandingkan bawa itu dari Brazil. Jadi sekali lagi gua sangat-sangat appreciate dengan ini. Udah terlalu lama mafia-mafia impor, kuota impor mulai dari bawang lah, beras, jagung, gula sampai daging sapi. Berapa kali menteri kita masuk penjara gara-gara mainin kuota impor daging sapi. Jangan itu jadi lahan basa lah. Udahlah dibuka aja biar biar transaksi makin gampang, makin cepat, rakyat makin cerdas dan bisa dapat bahan pangan dengan lebih murah. Ujung-ujungnya untung rakyat Indonesia juga lu jadi kalau belanja ke pasar enggak usah bayar mahal. Kenapa lu bayar lebih mahal? Karena ada minyak pelumas di situ. Komponennya masuk di harga pangan lu. Minyak pelumas yang nikmati cuma mafia-mafia itu. Next. Memang deregulasi itu saya bertekad untuk terus memangkas, menghilangkan sistem perizinan yang berbelit-belit yang terlalu banyak. Ya kan? Ee ini menjadi mission ya jadi mission kita kita harus ee laksanakan. Saya kira ini sudah benar sekali. Eh, saya tertarik yang Anda mengatakan apa itu next to next atau I to. Saya terima kasih minta masukannya itu luar biasa. Saya sudah sebelum Bapak bicara saya sudah kasih instruksi ya. TKDN sudahlah ya niatnya baik ya kan nasionalisme saya kalau Saudara ee mungkin sudah kenal saya lama ya mungkin ya dari saya ini mungkin paling nasionalis ya saya pokoknya kalau istilahnya dulu kalau mungkin jantung saya dibuka yang keluar merah putih mungkin tapi kita harus realistis iya kan TKDN dipaksakan ini akhirnya kita kalah kompetitif. Saya sangat setuju TKDN fleksibel sajalah. Mungkin diganti dengan insentif ya. Ya, tolong ya para para pembantu saya, menteri saya semua ya udahlah ya realistis tolong diubah itu TKDN dibikin yang realistis saja ya. Masalah kemampuan dalam negeri, konten dalam negeri itu adalah masalah luas. itu masalah pendidikan IPTEK ya kan sains. Jadi itu masalah enggak bisa kita dengan cara bikin regulasi IPTEK naik apa TKDN naik. Saya sangat setuju ya. Ini gua setuju sih. Jangan dipersulit regulasi. Tegaden sudahlah ganti saja dengan insentif. Itu gua setuju banget tadi yang gua bilang orang mau bikin pabrik kultas di Indonesia misalkan ya kalau diwajibkan katakan TKDN-nya 100%. Apa iya di Indonesia udah ada pabrik untuk membuat freon? Apa di Indonesia ada pabrik yang bisa bikin sensor suhu di Indonesia? Apa di Indonesia udah ada pabrik yang bisa bikin body kulkas yang sebagaimana mestinya, belum regulatornya, dinamonya segala macam. Itu kan komponen end to end. Belum lagi komponen faktor manusia, sumber daya manusia kita. Apakah sudah siap sumber daya manusia kita yang bisa memproduksi sensor dingin? Apakah sudah siap sumber daya manusia kita untuk menyediakan teknisi freon, teknisi AC, teknisi dan lain-lain yang ada berhubungan dengan produk-produk yang kita mau produksi? Gua rasa enggak semudah itu karena memang ini namanya global supply chain. Even Elonmas saja di Tesla yang dia bikin di Amerika Serikat, dia kesulitan kalau seandainya semua negara itu pada tutup pintu. Karena Tesla aja yang diproduksi di Amerika Serikat itu tidak 100% made in Amerika. Bannya dia ada impor dari Kanada. Senderan joknya dia impor dari Taiwan. Teknologi layarnya dia impor dari China. dia punya baterai ada yang dia impor dari Korea, Jepang, dan China. Jadi di dalam baterainya lagi ada lagi litiumnya. Lithiumnya ada yang diimpor dari Afrika. Jadi inilah namanya perdagangan dunia. Dari ujung ke ujung ada begitu banyak diperkirakan ada hampir 70 negara loh yang men-supply dalam satu bentuk mobil Tesla. Terus gimana lu mau ngotot dengan TKDN 100%? Atau di Indonesia bikin kulkas, bikin TV, TKDN 100% katakan dia berat. ujung-ujungnya itu cuma dijadikan permainan. Lu berani bayar ke berapa ke surveyor? Biar ke surveior bisa naikin tuh komponen TKDN. Ujung-ujung kan jadi mafia. Mafia sertifikasi TKDN itu supaya persentase lu naik. Minimal 70% minimal 60%. Udahlah ini kan jadi non tarif barrier itu loh. Jadi begitu banyak ruang buat tukang palak nih udah berantas aja udah itu semua. Kalau memang pengusahanya mau survive mau bagus dia bikin pabrik TV di Indonesia gua yakin bisa. Bisa. Tapi enggak mungkin semua komponen yang A sampai Z itu dia bisa bikin. Enggak mungkin. Dia akan rakit itu di sini dan dia akan ambil barang yang paling murah. Kalau layar TV kacanya lebih murah ber dari Cina, dia beli dari Cina. Kalau komponen transistornya lebih murah dari Taiwan, dia ambil dari Taiwan. Namanya juga pengusaha. Kalau seandainya PCB-nya atau sensor remote-nya atau transmitter atau receiver Wi-Fi sinyalnya lebih murah dia impor dari Jepang? Dia impor dari Jepang. Namanya juga pengusaha. Lah kalau itu semua dipersulit, gimana lu? Jangan pernah bermimpi Indonesia punya pabrik TV sendiri, Indonesia punya pabrik kulkas sendiri, Indonesia punya pabrik mobil sendiri. Karena enggak ada bisa negara yang bisa bikin itu semua 100% made in negaranya tanpa ada bantuan dari negara lain yang bisa memproduksi barang itu lebih efisien. Tidak mungkin. Even China aja banyak komponen produksi mereka itu yang impor dari negara lain. Impor dari Eropa, impor dari Jepang, impor dari Amerika. Jadi enggak ada negara yang benar-benar bisa independen. Sekarang udah memang di era perdagangan dunia. So, gua sangat setuju regulasi yang mempersulit udah dipangkas aja. Makanya ya kita jangan banyak-banyaklah pejabat di republik ini. Makin banyak pejabat, makin banyak pos yang harus diisi. Makin banyak pos yang harus diisi menyebabkan birokrasi semakin tebal. Birokrasi yang makin tebal menyebabkan makin banyak pelumas yang harus kita kasih supaya mesin ini jalan. Supaya apa ya? Paper ini naik level. paper di lantai satu, paper ke lantai du, paper ke lantai 3. Kalau enggak, enggak jangan-jangan dokumennya. That's real. Jadi memang gua sangat setuju kalau regulasi itu harus dipangkas. Sekarang udah masuk eranya pemerintahan kita harus lebih ramping, lebih efisien. So, gua juga sama Donald Trump yang akhirnya di masa hidup gua, gua bisa melihat ya Indonesia itu bukan jadi negara paperwork dikit-dikit, paperwork dikit-dikit izin. Aduh, aduh gila zaman udah canggih, bisnis itu harusnya dipermudah bukan dipersulit. Manset PNS kita itu cuman ada yang lewat injak minta duit, ada yang lewat injek minta duit, persulit minta duit. Ya begitu dong zaman udah maju nih, masa lu kalah sama negara komunis Vietnam. Malu dong. Sebel banget gua. Semoga ya. Semoga ya. Sekali lagi gua berharap presiden kita enggak omon-omon apa yang dia bilang di sini. Dia mau pangkas birokrasi, dia mau pangkas pertek, dia mau pangkas TKDN segala macam itu diberlakukan. Indonesia sudah darurat. Enggak seksi bikin manufacturing di Indonesia. Karena dari SDM-nya aja udah banyak yang enggak capable. Enggak banyak capable. Enggak banyak SDM kita yang bisa bikin sensor, yang bisa bikin PCB, solder yang bagus. Jangan solder ngelas yang benar aja susah nyari SDM-nya di Indonesia. Eh, sekarang kita mau bikin rakit barangnya sendiri. mau impor bahan bakunya, materialnya, spare part-nya juga enggak bisa kan susah. So, gua sangat dukung nih kebijakan Presiden Prabowo kalau dia mau memudahkan itu semua, tarif 0% enggak ada yang diberantas. Berikan insentif untuk pengusaha lokal supaya bisa bersaing dengan pengusaha luar negeri. This is a very good thing. Hopefully realisasinya jadi kenyataan. Contoh KDM tuh kemarin tuh ada yang kena palak supir-supir angkot di Bogor. Tiba-tiba harusnya mereka dapat subsidi R,5 juta kalau gua enggak salah. tiba-tiba duitnya disikat ya sama orang dari apalah. Katanya sih ada yang ngakunya diup lah, Organda lah, Kso lah, gua enggak ngerti. Tapi apa yang dilakukan oleh KDM itu yang harus kita apresiasi. Dia langsung turun ke bawah, lu bayar ke siapa, orangnya siapa, oknomnya siapa. Gua laporin polisi, bersihin itu semua. Cepat pangkas itu semua. Memang udah eranya kita harus seperti itu. Pejabat turun langsung berantas mafia-mafia di bawah, bikin sistem yang lebih lean, lebih langsing lah. Birokrasi itu dipangkas, jangan diperbanyak. Itu aja saran gua. So, closingannya dari gua adalah gua sangat appreciate. Thank you banget nih buat Presiden dan thank you banget buat Apindo ya, bisa ngundang Presiden dan hopefully kita lihat ke depan negara kita menuju ke arah yang lebih baik, lebih efisien, lebih bersih dari korupsi. Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Ditunggu loh. Kalau menurut lu, lu setuju enggak dengan agendanya Presiden Prabowo untuk memudahkan pengusaha berbisnis untuk menghilangkan tarif barrier itu kalau perlu 0% dan memudahkan TKDN lah. Lu setuju enggak sih kalau makin dipermudah? impor barang masuk ke Indonesia, bahan baku dan barang setengah jadi datang ke Indonesia. Ditunggu, Guys, komentar kalian di bawah ini. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. Hai, Sobat Investor. Kalau kamu tertarik dengan konten-konten seperti ini dan ingin tahu lebih dalam lagi tentang Benix, yuk ikuti sosial media kita yang lain seperti beranda Facebook kita di @benix atau ikuti juga Instagram kita di @benix.official. Ditunggu ya. Kartosana наруки