BANYAK ALASAN: Kenapa Kita Harus Peduli Papua?
J0BlcStHADQ • 2025-06-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Setiap kali kita dengar kabar dari Papua, yang muncul adalah kata-kata seperti konflik, kelompok kriminal bersenjata, atau operasi militer. Lalu kita lebih banyak menghindar untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi di Papua. Papua sering kita anggap jauh dan tidak terkait dengan urusan kita. Kita lupa bahwa warga Papua adalah manusia yang punya hak hidup, hak mengeluarkan pendapat, serta hak untuk diperlakukan adil. Oke, inilah yang akan saya bahas. Empat alasan kenapa kita semua harus membuka mata dan peduli terhadap masalah di Papua. Alasan yang pertama, Papua punya luka sejarah yang masih berbekas. Papua dulu Irian Barat bergabung dengan Indonesia tahun 1969 lewat penentuan pendapat rakyat atau PEPRA. PEPRA adalah pemungutan suara yang dilaksanakan untuk mengetahui pilihan rakyat Irian Barat apakah ingin bergabung dengan Indonesia atau tidak. Proses dan hasil PEPRA dianggap tidak demokratis karena tidak menggunakan sistem one man onefot. Sistem yang dipakai adalah Dewan Musyawarah PEPRA. Sejak itulah banyak warga Papua yang merasa mereka tak pernah benar-benar dilibatkan dalam berbagai urusan kehidupan mereka. Akar dari rasa tidak percaya itu berasal dari sini. Selama puluhan tahun Papua dipandang dengan pendekatan keamanan bukan pendekatan kemanusiaan. Akibatnya jawaban negara terhadap persoalan-persoalan Papua lebih banyak mengedepankan kekuatan senjata daripada dialog. Kalau kita tidak mau masalah ini terus berdarah-darah, maka kita harus mau melihat akar masalahnya, bukan cuma gejalanya. Alasan yang kedua, rakyat Papua adalah korban berlapis, ditindas lalu disalahkan. Rakyat Papua bukan hanya korban konflik bersenjata. Mereka adalah korban kegagalan negara membangun secara adil. Selama puluhan tahun, pembangunan di Papua didesain dari Jakarta tanpa melibatkan masyarakat adat yang sangat banyak hidup di Papua. Jalan bandara proyek infrastruktur dibangun tapi bukan untuk kepentingan warga, melainkan untuk mempermudah akses industri pertambangan dan militer yang dapat keuntungan bukan rakyat Papua, tapi korporasi besar dan pemerintah pusat. Ketika masyarakat menolak, mereka distigma sebagai anti NKRI. Aktivis Papua yang bicara tentang keadilan diawasi, ditangkap, dan dikriminalisasi. Suara yang berbeda selalu dianggap sebagai ancaman. Inilah contoh kekerasan struktural. Diciptakan oleh keputusan politik yang terpusat, dipertahankan oleh aparat keamanan, dan bahkan diperkuat oleh narasi media yang berpihak pada penguasa. Alasan yang ketiga, Papua kaya tapi rakyatnya sengsara. Papua adalah rumah bagi tambang-tambang emas, tembaga, kayu, sawit, dan mineral lainnya. Di banyak lokasi di Papua kini menjadi target eksploitasi sumber daya alam. Lagi-lagi masyarakat adat diabaikan suaranya dan bahkan terancam digusur dari tanah adat mereka. Kalau kita yang tinggal di luar Papua masa bodoh, maka ketidakadilan itu akan terus berulang. bisa terjadi di mana saja dan tinggal tunggu waktu kita juga jadi korbannya. Alasan keempat, Papua adalah cermin Indonesia sebenarnya. Kalau di Papua demokrasi mati, maka itu artinya demokrasi Indonesia cacat. Kalau di Papua hak asasi tidak dihormati, itu artinya hak kita semua juga terancam. Papua itu ujian. Apa kita benar-benar siap menjadi negara yang setara dan beradab atau kita masih terus membangun nasionalisme sempit yang didukung lewat kekerasan dan kekuatan senjata. Kita tidak perlu takut jika bicara Papua akan dicap sebagai pendukung sparatisme. Membicarakan Papua adalah bentuk kepedulian. Bicara tentang Papua adalah cara kita untuk memastikan bahwa semua orang diperlakukan adil dan setara. Jadi, kenapa harus takut bicara Papua? Kalau kamu punya alasan lain kenapa kita harus peduli Papua? Tulis di kolom komentar.
Resume
Categories