Transcript
J0BlcStHADQ • BANYAK ALASAN: Kenapa Kita Harus Peduli Papua?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/WatchdocDocumentary/.shards/text-0001.zst#text/0284_J0BlcStHADQ.txt
Kind: captions
Language: id
Setiap kali kita dengar kabar dari
Papua, yang muncul adalah kata-kata
seperti konflik, kelompok kriminal
bersenjata, atau operasi militer. Lalu
kita lebih banyak menghindar untuk
mengetahui lebih jauh tentang apa yang
terjadi di Papua. Papua sering kita
anggap jauh dan tidak terkait dengan
urusan kita. Kita lupa bahwa warga Papua
adalah manusia yang punya hak hidup, hak
mengeluarkan pendapat, serta hak untuk
diperlakukan adil. Oke, inilah yang akan
saya bahas. Empat alasan kenapa kita
semua harus membuka mata dan peduli
terhadap masalah di Papua.
Alasan yang pertama, Papua punya luka
sejarah yang masih berbekas. Papua dulu
Irian Barat bergabung dengan Indonesia
tahun 1969
lewat penentuan pendapat rakyat atau
PEPRA. PEPRA adalah pemungutan suara
yang dilaksanakan untuk mengetahui
pilihan rakyat Irian Barat apakah ingin
bergabung dengan Indonesia atau tidak.
Proses dan hasil PEPRA dianggap tidak
demokratis karena tidak menggunakan
sistem one man onefot. Sistem yang
dipakai adalah Dewan Musyawarah PEPRA.
Sejak itulah banyak warga Papua yang
merasa mereka tak pernah benar-benar
dilibatkan dalam berbagai urusan
kehidupan mereka. Akar dari rasa tidak
percaya itu berasal dari sini.
Selama puluhan tahun Papua dipandang
dengan pendekatan keamanan bukan
pendekatan kemanusiaan. Akibatnya
jawaban negara terhadap
persoalan-persoalan Papua lebih banyak
mengedepankan kekuatan senjata daripada
dialog. Kalau kita tidak mau masalah ini
terus berdarah-darah, maka kita harus
mau melihat akar masalahnya, bukan cuma
gejalanya. Alasan yang kedua, rakyat
Papua adalah korban berlapis, ditindas
lalu disalahkan. Rakyat Papua bukan
hanya korban konflik bersenjata. Mereka
adalah korban kegagalan negara membangun
secara adil. Selama puluhan tahun,
pembangunan di Papua didesain dari
Jakarta tanpa melibatkan masyarakat adat
yang sangat banyak hidup di Papua. Jalan
bandara proyek infrastruktur dibangun
tapi bukan untuk kepentingan warga,
melainkan untuk mempermudah akses
industri pertambangan dan militer yang
dapat keuntungan bukan rakyat Papua,
tapi korporasi besar dan pemerintah
pusat.
Ketika masyarakat menolak, mereka
distigma sebagai anti NKRI. Aktivis
Papua yang bicara tentang keadilan
diawasi, ditangkap, dan dikriminalisasi.
Suara yang berbeda selalu dianggap
sebagai ancaman. Inilah contoh kekerasan
struktural. Diciptakan oleh keputusan
politik yang terpusat, dipertahankan
oleh aparat keamanan, dan bahkan
diperkuat oleh narasi media yang
berpihak pada penguasa. Alasan yang
ketiga, Papua kaya tapi rakyatnya
sengsara. Papua adalah rumah bagi
tambang-tambang emas, tembaga, kayu,
sawit, dan mineral lainnya. Di banyak
lokasi di Papua kini menjadi target
eksploitasi sumber daya alam. Lagi-lagi
masyarakat adat diabaikan suaranya dan
bahkan terancam digusur dari tanah adat
mereka. Kalau kita yang tinggal di luar
Papua masa bodoh, maka ketidakadilan itu
akan terus berulang. bisa terjadi di
mana saja dan tinggal tunggu waktu kita
juga jadi korbannya. Alasan keempat,
Papua adalah cermin Indonesia
sebenarnya. Kalau di Papua demokrasi
mati, maka itu artinya demokrasi
Indonesia cacat. Kalau di Papua hak
asasi tidak dihormati, itu artinya hak
kita semua juga terancam. Papua itu
ujian. Apa kita benar-benar siap menjadi
negara yang setara dan beradab atau kita
masih terus membangun nasionalisme
sempit yang didukung lewat kekerasan dan
kekuatan senjata. Kita tidak perlu takut
jika bicara Papua akan dicap sebagai
pendukung sparatisme. Membicarakan Papua
adalah bentuk kepedulian. Bicara tentang
Papua adalah cara kita untuk memastikan
bahwa semua orang diperlakukan adil dan
setara. Jadi, kenapa harus takut bicara
Papua? Kalau kamu punya alasan lain
kenapa kita harus peduli Papua? Tulis di
kolom komentar.