Transcript
aKQBA4VNpzc • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 14 - METODOLOGI PENULISAN PENGEMBANGAN PROFESI BAGI PEJABAT FUNGSIONAL
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0025_aKQBA4VNpzc.txt
Kind: captions Language: id [musik] Halo, sobat ASN. BPSDM Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan webinar seri 14 [musik] ASN belajar dengan tema metodologi penulisan pengembangan profesi [musik] bagi pejabat fungsional. menghadirkan para pembicara yang menarik di antaranya Ibu Prof. [musik] Dr. Sarmini, M.Hum. Universitas Negeri Surabaya, Bapak Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG, [musik] M.Hum. Badan Riset dan Inovasi Nasional serta keynote [musik] Speaker Bapak Aris Agung Payawai, Kepala BPSDM [musik] Jawa Timur. Webinar seri 14 ini akan dimoderatori oleh Bapak Dr. Ir. H. Joni Haryanto, [musik] MDM. Sebelum memulai, peserta webinar harap mematuhi beberapa tata tertib webinar seri [musik] 14 ini. Satu, diharapkan hadir 10 menit sebelum acara dimulai. Dua, menggunakan nama sesuai format. Nama lengkap diikuti dengan asal [musik] instansi. Tiga, wajib mengaktifkan kamera dan menonaktifkan mikrofon selama acara untuk kenyamanan peserta. Empat, [musik] pertanyaan dapat diajukan langsung dalam room Zoom 1 melalui fitur raise hand atau melalui kolom chat. Lima. Posisikan kamera secara landscape, memperlihatkan wajah, [musik] dan kenakan pakaian sopan selama acara berlangsung. Enam, gunakan virtual background yang telah disediakan. Tujuh, link presensi [musik] dan materi akan diberikan sesaat menjelang acara beracir. Delan, [musik] siapkan koneksi internet yang stabil dan alat tulis selama acara [musik] berlangsung. Selamat dan semangat dalam mengikuti webinar seri 14. [musik] Acara ini dipersembahkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. [musik] Ye. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil alamin. La haula wala quwwata illa billah. Amma ba'du. Selamat pagi Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Ee Bapak, Ibu yang tergabung di seluruh link kita. dan selamat datang di webinar ASN Belajar BPSDM Jawa Timur. Dan hari ini kita memasuki proses yang kesekian kali. Tapi sebelumnya izinkan saya sebagai moderator mengajak Bapak Ibu untuk melakukan applause secara virtual. Monggo applause kita secara virtual Bapak Ibu. Oke. Saya percaya format pembelajaran akan tetap mengikuti satu. Your motion will influencing your emotion. gerakan akan berpengaruh pada emosi. Baik, jadi webinar ASN belajar saya akan kutipkan dulu opening statement dari tiga orang. Yang pertama dari prahalat. Pertama adalah if you don't learn, you don't change. And if you don't change, you will die. Kalau Anda tidak belajar, Anda tidak berubah. Anda tidak berubah, Anda mati. Pasti mati kita secara pikiran dan pasti secara hati. Yang kedua, apabila perubahan di luar dirimu lebih cepat dari perubahan di dalam dirimu, nasibmu akan sangat mengenaskan. Jadi, biarlah perubahan di dalam diri kita, proses di mind, help and hand itu lebih cepat dari perubahan di luar. Dan yang ketiga, kita selalu mengikuti hukum pantare di luar sono. Jadi, perubahan itu sangat cepat dan terus tidak ada yang berhenti kecuali perubahan itu sendiri. Baik, kita hari ini akan menghadirkan dua narasumber. Yang pertama mungkin nanti Lady First, Ibu Prof. Dr. Sarmini, M.Hum. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya. Dan kalau dibaca biodata beliau akan sangat panjang, tetapi izinkan saya nanti melakukan interaksi langsung dengan beliau. Selamat datang Ibu Prof. Dr. Sarmini, MHum. Saya terima kasih, Mas. Iya. Oke. Baik. Jadi, beliau akan menjadi panelis satu kan untuk proses diskusi kita. Yang kedua akan kita sapa Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG, M.Hum. Selamat pagi, Profesor. Selamat pagi, Pak. Asalamualaikum semuanya. Salam. Salam kenal. Salam kenal. [tertawa] peneliti ahli utama dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Organis Riset Rasional Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional atau Brin BRNN. Dan kedua, beliau akan mengisi topik kita metodologi penulisan pengembangan profesi bagi pejabat fungsional. Jadi, Teman-teman sekali lagi berbahagialah kita pejabat fungsional mendapat masukan narasumber yang hebat. Tetapi saya ingin kutipkan dulu ini sejarahnya berawal dari Amerika sono. Jadi Amerika di Pittsburg, Pennsylvania bilang begini, "A man die, a nation can rise and false, but an idea must live on. An idea have endurance without times restriction." Jadi, kira-kira dalam bahasa Maduranya seperti ini, bahasa Indonesianya adalah manusia boleh mati, lalu negara boleh runtuh. Tetapi idea itu ide ide gagasan kita akan tetap hidup dan melampaui batasan usia. Itu catatan pertama dari Amerika. Yang kedua saya harus kutipkan juga dari orang-orang Romawi kuno mereka bilang begini, "Kok gitu Ergosam? Aku berpikir maka aku ada." Tapi tidak cukup. Mereka bilang juga verbaan skriptamanon. Jadi apa yang ditulis itu abadi tetapi yang diucap akan hilang. Nah, untuk substansi ketiga inilah konklusinya akan disampaikan secara rancak dulu. Dan untuk kesempatan pertama saya mohon Ibu Prof. Dr. Sarmini, MHum untuk menyampaikan presentasinya selama kurang lebih 45 menit sebagai panelis 1 disambung oleh Bapak Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG, MHum. Nanti selama 45 menit baru kita adakan diskusi dengan para ee dari anggota-anggota diskusi kita sehingga akan menjadi panelis 1 dan panelis du secara runtut. Ibu Prof. Sarmini disilakan. I eh terima kasih Bapak Dr. Ir. H. Joni Haranto, MDM. Ee mohon izin Bapak Ibu yang saya hormati untuk share screen. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa taala yang telah melimpahkan seluruh rahmat, taufik, dan hidayah sehingga kita bisa hadir dalam ruang virtual ini dalam kondisi sehat walafiat ee dalam kondisi kita menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan ee ibadah puasa kita berjalan lancar dan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Yang saya hormati ee Kepala Badan Pengembang Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur Bapak Aris Agung Pawai. Yang saya hormati e rekan narasumber pada kesempatan pagi hari ini yaitu Bapak Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG, M.Hum. Yang saya hormati tentu saja Bapak Dr. Ir. Hajuni eh Haryanto, MDM. Yang saya hormati seluruh panitia kegiatan dan Bapak Ibu jabatan fungsional dan pemerhati peningkatan kompetensi ASN di seluruh wilayah Jawa Timur khususnya maupun seluruh Indonesia. Karena tadi ee kita cek di kolom chat ada beberapa teman yang berasal dari Kalimantan dan provinsi yang lain. Bapak, Ibu yang saya hormati, hari ini saya mendapatkan materi terkait dengan ee strategi penulisan dan publikasi karya ilmiah pengembangan profesi jabatan fungsional. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati, tampaknya jabatan fungsional ini menjadi seksi dibicarakan karena ini sesungguhnya meletakkan teman-teman ASN kemudian sejajar dengan teman-teman yang lebih dulu ee memiliki jabatan fungsional dari sisi ee pendidik misalkan guru dan dosen. Ee lalu kemudian ee teman-teman yang semula memiliki jabatan yang disebut sebagai jabatan fungsional tertentu. Nah, ee kita kemudian akan mendudukkan dulu yang disebut sebagai jabatan fungsional di sini adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. Kemudian yang disebut sebagai pejabat fungsional adalah pegawai ASN yang menduduki jabatan fungsional pada instansi pemerintah. Nah, dasar hukum yang pertama yang terkait dengan kedudukan jabatan fungsional itu kita melihat di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 ini di dalam ASN ada tiga ee kategori, yaitu jabatan pimpinan tinggi. Ee di situ ada tiga komponen. Jabatan pimpinan tinggi utama, pimpinan tinggi madya, pimpinan tinggi pratama, lalu kemudian jabatan administrasi ee kemudian jabatan administrator, jabatan pengawas dan jabatan pelaksana. Kemudian jabatan fungsional, ada jabatan fungsional keahlian, kemudian ahli utama, ahli madya, ahli muda, dan ahli pertama. Kemudian jabatan keterampilan yaitu penyelia, mahir, terampil, dan pemula. Kemudian terkait dengan penyetaraan jabatan fungsional ini ee terdapat nomenklatur yang jika kita pelajari betul dari nomor ini, nomklatur jabatan fungsional diatur di dalam Permen PAN RP nomor 41 tahun 2018. di mana di dalam lampiran jabatan fungsional yang ada di Permenpan itu ada tiga komponen di dalam lampirannya dan jumlahnya atau nama jabatan fungsional itu begitu banyak dan masing-masing memiliki peraturan sendiri, memiliki Permen sendiri untuk tindak lanjut dari jabatan fungsional tersebut. Nah, di dalam pasal 4 dari Permenpan nomor 41 tahun 2018 di dalam nomenklatur jabatan pelaksana digunakan sebagai acuan bagi instansi pemerintah untuk penyusunan dan penetapan kebutuhan, untuk penentuan pangkat dan jabatan, kemudian pengembangan karir, pengembangan kompetensi, penilaian kinerja, penggajian, dan tunjangan serta pemberhentian. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati. Tadi saya sampaikan bahwa setiap jabatan fungsional memiliki peraturan tersendiri sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing. Misalkan ketika kita cek Permen PAN RB nomor 29 tahun 2020 mengatur tentang jabatan fungsional pengelola pengadaan barang dan jasa. misalkan seperti itu. Jadi masing-masing memiliki Permen sendiri terkait dengan jabatan fungsionalnya. Nah, di dalam permen tersebut monggo nanti Bapak Ibu langsung mirsani permen sesuai dengan jabatan fungsional yang dimiliki. Jadi di dalam Permen tersebut berisi tentang bagaimana tugas pokok, bagaimana pengembangan karir, bagaimana penilaian kinerja, bagaimana angka kredit masing-masing dari jabatan fungsional itu. Oleh karena itu, di dalam kesempatan pagi hari ini ee kami tidak akan melihat ee secara satu-satu tetapi kita ambil secara garis besar yang pada keseluruhan jabatan fungsional memiliki hal tersebut yaitu terkait dengan penulisan karya inovatif. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati, ada ketentuan untuk kenaikan pangkat terkait dengan jabatan fungsional. Yang pertama adalah memenuhi angka kredit kumulatif kenaikan pangkat. Yang kedua adalah telah 2 tahun dalam pangkat terakhir. Kemudian yang ketiga adalah penilaian prestasi kerja bernilai baik dalam 2 tahun terakhir. Yang ini diambil dari SKP dan perilaku kerja dari setiap tahun. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati. Mengapa kemudian pejabat fungsional harus menulis ee publikasi karya ilmiah? Bapak, Ibu yang saya hormati, jika kita mirsani, jika kita melihat Permenpan yang mengatur jabatan fungsional tersebut, ada tiga komponen yang melahirkan angka kredit atau yang dinilai ee memiliki angka kredit. Pertama adalah jabatan fungsional. yang terkait dengan tugasnya. Jadi, tugas dari jabatan fungsional tersebut. Jadi misalkan ketika kita melihat di pasal 8 Permenpan RB nomor 29 tahun 2020 terkait dengan jabatan fungsional pengadaan barang dan jasa, di situ sudah ada tugas pokok dari BPJ ahli pertama, BPC ahli muda, dan BPD ahli madya. Jadi komponen tugas dari jabatan fungsional ini dinilai sebagai angka kredit. Deskripsinya sesuai dengan Permenpan yang mengatur jabatan fungsional masing-masing. Berikutnya adalah yang kedua, kegiatan pengembangan profesi jabatan fungsional. Dan di sini nanti kita akan melihat di sini letaknya ee diskusi pada kesempatan hari ini yaitu karya inovatif dalam rangka pengembangan profesi jabatan fungsional. Di situ macamnya banyak sekali sesuai dengan jabatan fungsional juga yang dimiliki. Demikian juga terkait dengan kegiatan penunjang. kegiatan yang dilakukan di dalam menunjang kegiatan tugas ee ee pokok dari jabatan fungsional dan rambu-rambunya sudah diatur secara rinci dalam lampiran masing-masing Permen PAN RB yang mengatur jabatan fungsional tersebut. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, setiap jabatan fungsional sekali lagi memiliki peraturannya sendiri. Kita akan mencoba melihat sebagai contoh. Sebagai contoh saja ini adalah kita ambil dari Permenpan RB nomor 29 tahun 2020 terkait dengan jabatan fungsional pengelolaan pengadaan barang dan jasa. Nah, di sini terkait dengan tugas dan pokok seperti tadi saya sampaikan di komponen angka kredit yang pertama diambil dari tugas dan pokok sesuai dengan Permenpannya. Lalu pengembangan profesi ini ada beberapa komponen. Yang pertama adalah perolehan ijazah atau gelar melalui pendidikan formal ini. Kemudian yang B ini pembuatan karya ilmiah di bidang masing-masing. Kebetulan dictoh ini bidang pengadaan barang dan jasa. Jadi komponen B ini setiap fungsional memiliki atau bertanggung jawab di dalam mengembangkan diri sesuai dengan ee karya inovatif sesuai dengan bidangnya masing-masing. Oleh karena itu, yang pertama kali yang harus dipahami adalah di sini tugas jafungnya, tugas pokok jafungnya. Karena dari tugas pokok jafung itu akan melahirkan buku, akan melahirkan artikel-artikel, akan melahirkan penelitian-penelitian sebagai bentuk dari inovasi. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati. Saya yakin dalam kesempatan yang akan datang bukan hanya karya inovatif yang akan kita belajar bersama, tetapi juga bagaimana menerjemahkan buku atau menyusun buku, bagaimana menyusun ee SOP atau pedoman atau petunjuk pelaksanaan dan seterusnya. Jadi ini adalah bagian dari pengembangan profesi. Oleh karena itu, jika kita tandaskan sekali lagi bahwa angka kredit jabatan fungsional terdiri dari tiga komponen. Yang pertama adalah tugas pokok yang diambil dari Permenpan masing-masing. Kemudian kegiatan pengembangan profesi ini juga sudah diatur di dalam Permenpan masing-masing. kegiatan penunjang. Baik, Bapak Ibu yang saya hormati, kita akan mencoba melihat karya inovatif yang akan kita pahami pada kesempatan pagi hari ini. Tentu tidak bisa keseluruhan karena waktu yang sangat terbatas. Kita akan memperkenalkan dulu bahwa karya inovatif itu ada artikel kemudian ada buku di dalam Perminnya. artikel itu kita bisa menuliskan di dalam jurnal, kemudian kita bisa menuliskan di dalam proseding. Jurnal itu kita bisa jurnal nasional, ada jurnal juga jurnal internasional proseding atau kita mengikuti seminar juga seminar nasional maupun seminar internasional. Kemudian buku kita ketemu ada buku referensi, ada book chapter, ada monograf. Nah, ini kita bisa menerbitkan dalam bentuk cetak maupun dalam bentuk elektronik atau ecetak. Bapak, Ibu yang saya hormati, ketika kita menuliskan karya inovatif ini, kita bisa melakukan secara berkelompok. Jika saya menuliskan dengan satu teman, jadi artikel atau tulisan itu dituliskan berdua, maka penulis pertama memiliki angka kredit 60%. Penulis kedua angka kredit 40%. Jika kita menuliskan tiga orang, maka penulis pertama 50 50% dari nilai angka kredit buku tersebut atau artikel tersebut. Lalu penulis kedua dan penulis ketiga masing-masing adalah 25%. Nah, jika kita menuliskan kelompok berempat maka di situ 40% untuk penulis pertama. Sedangkan penulis kedua, ketiga, dan keempat masing-masing adalah 20%. Nah, ini adalah ketentuan-ketentuannya. Oleh karena itu ee kami yakin Bapak Ibu dari jabatan fungsional tidak ada hal ee yang tidak kita bisa lakukan karena kita bisa menuliskan secara berkelompok dan yang kita tulis adalah tentunya seputar dengan tugas-tugas yang terkait dengan tugas pokok dari jabatan fungsional. Bapak, Ibu, Bapak, Ibu yang saya hormati, bagaimana caranya kita membuat karya ilmiah? tentunya kita akan memulai di sini. Pertama karya yang kita publikasikan itu bisa diambil dari hasil penelitian. Jadi dari hasil penelitian nanti bagaimana ee ee apa namanya dari hasil penelitian itu bagaimana meneliti dan seterusnya akan disampaikan oleh ee rekan kami. Kemudian yang berikutnya adalah berdasarkan pengalaman ketika kita melakukan kegiatan penunjang juga boleh. Jadi ide-ide kreatif ketika kita melakukan kegiatan penunjang. Kemudian berikutnya kita juga bisa memberikan atau menuliskan hasilnya ee terkait dengan hasil pokok pemikiran kita. Bagi Bapak Ibu yang suka sekali dengan membaca, jadi memainkan studi literatur di sini dipakai sebagai ide kreatif bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan ASN. Kemudian Bapak Ibu bisa menuliskan ide-ide itu di dalam karya inovatifnya. Jadi sekali lagi sumbernya kita antara lain ada tiga ini. Jadi hasil penelitian penelitian ini bisa penelitian kualitatif, bisa penelitian kuantitatif, bisa ya panjenengan pakai match, bisa pengalaman hasil kegiatan penunjang ketika panjenengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang ee kegiatan panjenengan dari ee Permempan itu kemudian dituliskan di dalam bentuk ee artikel bisa ide pemikiran. Jadi ada tiga komponen itu. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ee kerangka artikel atau kerangka tulisan itu selalu dimulai dari pendahuluan, kemudian ee metode, kemudian hasilnya apa, kemudian simpulan, beberapa jurnal memberikan template ucapan terima kasih ee termasuk beberapa proseding memberikan ruang untuk menuliskan terima kasih. Terima kasih. Ini ee terkait dengan pendanaan dan kesempatan, kemudian referensi. Nanti kita akan bahas satu-satu terkait dengan ee komponen-komponen berikut. Nah, bagaimana caranya menyusun ee karya ilmiah yang dipublikasikan? Kita akan melihat di sini ee terkait dengan tulisan. Yang pertama, tulisan kita tentang apa? Jadi, tulisan kita ini sesungguhnya berbicara tentang apa? Satu, mengapa kemudian kita menuliskan lingkupnya apa? Kemudian makna terpentingnya apa, noveltinnya bagaimana? Menjawab pertanyaan apa? Jadi kalau kita urutkan kemudian tulisan kita ini tentang apa, menjawab apa, kemudian bagaimana orang lain sudah melakukan itu, lalu ruang lingkupnya seberapa, maknanya apa, urgensinya apa, kita akan melakukan tulisan ini atau me-publish ini. Kemudian kebaruannya ada di mana? Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, karya inovatif itu merupakan deseminasi. sifatnya artinya adalah memberikan sesuatu yang baru yang kita temukan agar dibaca, agar dicermati, agar bisa digunakan oleh orang lain yang memiliki jabatan fungsional yang sama atau orang-orang yang memperhati jabatan fungsional tersebut. Ketika yang kedua itu berarti tulisan panjenengan difungsikan sebagai pijakan. Sebagai pijakan. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati, ini adalah komponen dari pendahuluan. Kita akan melihat menunjukkan pengetahuan yang melatar belakangi penelitian. Jadi, pengetahuan yang melatar belakangi penelitian. Mengapa publikasi atau mengapa hal ini harus kita lakukan? Kemudian yang kedua, apa yang sudah dilakukan ahli tentang ini? Kemudian bagaimana ee gap-nya, bagaimana datanya, data-data yang terkait apa yang kita tulis, kemudian bagaimana temuannya untuk kemajuan dari pengetahuan terkini di bidang tersebut. Jadi kalau kita misalkan menulis terkait dengan pengadaan barang dan jasa, apa yang baru kemudian dari penelitian panjenengan itu terkait dengan jabatan fungsional ee pengadaan barang dan jasa. Sehingga ada dua di sini yang kita bisa catat. Apa yang sudah dilakukan orangor lain terkait dengan apa yang kita lakukan kemudian mengapa kita melakukan. Jadi ini kemudian komponen-komponen yang harus ada di dalam pendahuluan. Nah, sehingga Bapak Ibu yang saya hormati di dalam pendahuluan kita akan menjawab beberapa pertanyaan. Ada lima pertanyaan yang akan kita jawab di dalam komponen pendahuluan itu. Apakah masalah ini dapat terpecahkan? Lalu kemudian apakah ada solusi kekinian yang kita bisa tawarkan? Lalu kemudian apakah itu yang terbaik? Kemudian apakah ee apa batasan utamanya? ya. Jadi ini ruang lingkup ee tulisan itu. Lalu apa yang dilakukan untuk mencapai hal yang diinginkan? Ee Bapak Ibu yang saya hormati, beberapa hal untuk menilai kualitas tulisan di dalam pendahuluan. Orang menggunakan enam komponen ini. Apakah pertanyaan penelitiannya jelas atau substansi penelitiannya jelas? Lalu apakah cukup berbeda di antara abstrak dengan pendahuluan itu? Karena seringki kita temukan kalimat pertama di dalam abstrak sering kita copy dari pendahuluan. Apakah cukup berbeda? Kemudian yang ee yang ketiga, apa yang kemudian saya rujuk di dalam pembahasan ini? Jadi di dalam pembahasan itu apa yang dirujuk? Lalu apakah realitas dalam pendahuluan saya sesuai dengan roadmap untuk memahami penelitian saya? Kemudian apakah saya perlu menyebutkan pembaca yang sesuai dengan penelitian yang saya lakukan? Jadi ini diperuntukkan untuk siapa? Apakah saya telah menjelaskan secara runtut, jelas, dan padat? Ada yang mengatakan, "Apakah saya cukup menjelaskan urut, runtut logis, sistematis?" Artinya adalah di dalam pendahuluan itu mengalir sesuai dengan pendekatan penulisan yang Bapak Ibu gunakan. Apakah menggunakan pendekatannya dengan deduktif ataupun induktif? Mana yang dipilih monggo, tetapi yang penting adalah tidak melompat atau tidak loncat. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, berikutnya adalah di dalam pendahuluan itu kita akan menuliskan tujuan tujuan untuk beberapa ee karya itu kemudian sinergi dengan rumusan masalah di dalam penelitian. atau problem statement yang akan kita bahas. Ada beberapa kata awal kata kerja yang kita gunakan. Misalkan menganalisis, misalkan membandingkan, kemudian menjelaskan, kemudian memperkuat, mengidentifikasi, menginvestigasi, me-review, dan seterusnya. Nah, kata-kata operasional ini tentu sangat sesuai dengan tulisan panjenengan semua. Jadi ee Bapak Ibu bisa memilih mana kata kerja yang digunakan di dalam tujuan atau problem statement-nya di dalam karya ilmiah. Nah, ini adalah contoh. Jadi, contoh di dalam salewati tidak saya bahas secara satu-satu. Nanti kita bisa lihat ini ee ketika materi ini disampaikan oleh Bapak Ibu ketika dibagikan. Jadi ini di mana ee terkait dengan problem pentingnya kemudian state of the di tulisan. Jadi kekiniannya, kebaruannya itu dilatar belakang harus bisa dirujuk secara jelas di mana posisi urgensinya dan seterusnya. Ini ee contoh-contoh. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, kita akan melihat sekarang bagaimana kemudian ee kesalahan umum dalam menuliskan pendahuluan. Yang pertama adalah memberikan informasi dalam latar belakang yang tidak perlu. ini ee sering sekali kita temukan bagi penulis-penulis ee awal ya. Penulis awal yang menulis karena sebagai penulis awal seringki memberikan tulisannya kurang padat. Jadi ee artinya ngobro-ngomro kalau bahasa jawanya adalah menuliskan hal-hal yang seharusnya tidak perlu kemudian perlu. Kemudian berikutnya adalah melebih-lebihkan fenomena yang sedang diteliti. Artinya kurang fokus menuliskan substansi yang diteliti. Kemudian gagal menjelaskan makna pertanyaan penelitian. Ini sering sekali kita temukan baik pada ee tulisan-tulisan yang kaliber untuk kenaikan pangkat maupun lomba. Ee kadang-kadang antara substansi yang digagas atau substansi yang ingin dibahas dengan pembahasan itu sedikit geset. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, itu menjadi penting untuk dicek kembali. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, berikutnya kita masuk ke kategori yang kedua, yaitu terkait dengan metode penelitian. Di dalam sebuah karya ilmiah, di dalam artikel kita menempatkan metode penelitian biasanya pada pada sub B atau sub yang kedua. Sedangkan subpendahuluan terdiri dari tiga komponen, yaitu latar belakang, problem statement, kemudian tujuan, kemudian ee teori. Seringki masuk di situ kalau kita menggunakan teori. Lalu kemudian yang kedua adalah metode penelitian. Apa yang harus ada di dalam metode penelitian? Di dalam metode penelitian kita akan mendeskripsikan bagaimana hasil penelitian itu telah didapatkan. Jadi, Bapak, Ibu yang saya hormati, ketika kita menuliskan karya inovatif yang akan dipublikasikan, maka di situ berarti penelitiannya sudah selesai. Sehingga di dalam metodenya harus kita jelaskan terkait dengan bagaimana data itu telah kita dapatkan. Jadi bukan akan didapatkan. Sehingga harus terinci dengan jelas. Kalau kita melakukan wawancara, wawancaranya menggunakan wawancara mendalam atau wawancara biasa, hal-hal apa yang diwawancarakan, komponennya apa, lalu kemudian di situ kepada siapa diwawancarai, kapan mewawancarai. Jadi sudah jelas karena ini sekali lagi kalau publikasi itu adalah sifatnya diseminasi. Kemudian berikutnya adalah tidak selalu memerlukan langkah secara eksplisit. Jadi, Bapak, Ibu yang saya hormati, ee karakteristik metode penelitian di dalam penulisan sebuah karya ilmiah ketika publikasi kita akan sekali lagi ngecek terkait dengan ee template atau budaya selingkung dari jurnal yang kita tuju. Ada jurnal yang menghendaki secara eksplisit. Jadi misalkan kita menuliskan desainnya apa, kemudian fokusnya apa, ee teknik dan alat pengumpulan datanya apa secara jelas, teknik analisis datanya secara jelas. Ada yang meminta seperti itu, ada yang meminta menuliskannya secara mengalir tetapi komponen-komponen dari metode penelitian terjawab. Jadi, jadi ee untuk gaya penulisan itu ee terserah kepada Bapak Ibu sesuai dengan jurnal atau ee proseding yang dituju. Tetapi komponen yang harus ada adalah desain penelitian, lalu kemudian ee subjeknya siapa, kemudian fokusnya apa, teknik dan alat pengumpulan datanya seperti apa, teknik analisis datanya seperti apa. itu terkait dengan metode. Nah, oleh karena itu metode yang baik akan menggambarkan empat komponen ini. Apa yang dilakukan? Jadi, apa yang dilakukan pengumpulan data terkait dengan bla bla bla. Bagaimana itu dilakukan? Dilakukan dengan menggunakan kuisioner misalkan. Kemudian di situ memastikan bahwa betul membuktikan desainnya terkait sesuai dengan fenomena yang diteliti. Jadi mengapa menggunakan studi kasus? Mengapa menggunakan eksploratif? Mengapa menggunakan ee eksperimen atau kuasi eksperimen? Mengapa menggunakan expos factur? Jadi alasan-alasan menggunakan metode ee terjawab jelas di dalam metode tersebut. Kemudian seperti yang saya sampaikan tadi di dalam metode harus menggambarkan terkait dengan subjek kemudian teknik pengumpulan data dan analisis data yang digunakan. Berapa alineia di dalam menuliskan metode ini sesuai dengan template yang jurnal yang dituju. Memintanya berapa halaman dari jurnal tersebut biasanya kita akan menggunakan persentase. Ada yang 30, 20, 40, 10. ada yang persentase di metode 10 dan seterusnya tergantung dari jumlah ee halaman yang harus dipenuhi di dalam di dalam template jurnal tersebut dan juga ketentuan ee deskripsi dari metode karena masing-masing jurnal atau masing-masing publikasi ee tujuan publikasi memiliki karakteristik yang berbeda. N Bapak Ibu yang saya hormati, ini bagian-bagian yang harus ee menjawab pertanyaan ini untuk metode. Siapa yang saya teliti itu menunjukkan subjek. Jadi, lalu di mana saya melakukan penelitian ini menunjukkan e lokasi. Apakah saya di Jember, apakah saya di Kalimantan, apakah saya di Tresik, apakah saya di Sidoarjo. Berapa banyak yang saya ukur? Berapa jumlahnya? informannya, mengapa, berapa sampelnya, mengapa, bagaimana saya memperlakukan fokus penelitian ini? Artinya bagaimana panjenengan melakukan penelitiannya waktu itu. Komponen apa saja yang saya butuhkan di dalam penelitian ini terkait dengan identifikasi hal-hal yang menunjang di dalam kegiatan penelitian, terkait dengan pelaksanaan penelitian, bagaimana saya caranya mengumpulkan dan menganalisis data. Nah, ini adalah ketika semua pertanyaan ini terjawab di dalam tulisan panjenengan terkait dengan metode ee penelitian, maka tulisan terkait dengan metode penelitian di dalam karya ilmiah panjenengan saya yakin sudah aman. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, berikutnya kita masuk di dalam ee paparan terkait dengan hasil. Ada beberapa tips ketika kita menyusun hasil pembahasan dan simpulan ini ee kalau di dalam penelitian menuliskan bagian dari pelaksanaan peneliti, bagian dari apa yang data kita gunakan. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ada beberapa garis atau hal yang harus dijaga. Betul. Ketika kita memaparkan memaparkan hasil, maka ada hal yang perlu diingat paradigma yang digunakan di dalam penelitian panjenengan sebelumnya itu apa? Apakah saya menggunakan paradigma positivistik? Apakah saya menggunakan paradigma interpretif? Ataukah saya akan menggunakan paradigma fenomenologi atau paradigma-paradigma yang lain? Apa gunanya kita kemudian mencermati penggunaan paradigma itu? Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, penggunaan paradigma ada yang menuliskan secara eksplisit. Tulisan ini dicermati dari perspektif paradigma bla bla bla bla bla bla. Tetapi banyak juga penggunaan paradigma dilakukan secara implisit. Artinya tulisan mengalir. Tetapi jika kita bisa mencermati dengan baik, kita bisa melihat paradigma yang digunakan oleh sang penulis. Bapak, Ibu yang saya hormati, penggunaan paradigma tadi akan signifikan dengan sub-subbagian yang akan digunakan di dalam penjelasan dari hasil penelitian. Oleh karena itu, jika kita menggunakan positivistik misalkan, maka subnya akan berbeda dengan fenomenologi. Subnya di bab 4. Tetapi dari keseluruhan penggunaan tadi ada benang merahnya yaitu fokus yang diteliti. apapun paradigmanya, maka penggunaan sub-sub di bab hasil ini sesuai dengan fokus penelitian. Dari mana fokus penelitian itu diambil? Tentu dari problem statement, dari rumusan masalah penelitian itu. Di dalam rumusan masalah kita akan ketemu definisi operasional bagaimana bagaimana masalah ini dioperasionalkan di dalam pengambilan data. Maka dari konsep akan kita ubah menjadi kata operasional. Maka di situ akan ketemu fokus. fokusnya misalkan saya akan melakukan tulisan bagaimana menyusun HPS yang efektif dan efisien kata efektivitas maka kemudian dilihat dari unsurnya apa misalkan bagaimana kemudian kenaikan pangkat itu akan ee berjalan dengan cepat kita menyusun atau membangun sistem maka kemudian ee upaya membangun sistem pentahapannya seperti Apa? Berarti itu ee yang disebut sebagai fokus. Maka fokus di bab 4 sinergi dengan substansi yang dibahas di bab 3, sinergi dengan problem statement di pendahuluan. Jadi pertama kali adalah mencermati kembali apa yang menjadi fokus penelitian, mencermati kembali perspektif atau paradigma yang digunakan. Kemudian ketemu benang merah, naskah yang harus disiapkan. Ini biasanya kita akan menuliskan Bapak, Ibu yang saya hormati, kita membuat kerangka kerangka di awal ya. Kalau ee apa saya pribadi selalu kita memetakan membuat pemetaannya itu ee sebelum kita datang ke lapangan ada pemetaan yang kita susun klop dengan lapangan ada yang harus kita ubah. Tetapi rambu-rambu ketika kita dari fokus itu seorang peneliti atau seorang penulis, kita harus memiliki kira-kira saya akan menuliskan bagian ini seperti apa gitu. Kemudian Bapak Ibu yang saya hormati karena bagian hasil ini adalah jumlah alineanya atau jumlah ee apa namanya? halamannya banyak. Maka kemudian Bapak Ibu harus mencermati sekali lagi seperti yang saya sampaikan template-nya berapa ini jumlah ee template ee berapa halaman kira-kira untuk pembahasan ini berapa berapa alinea? Nah ee ini biasanya ketika kita menuliskan satu spasi, menuliskan dua spasi, menuliskan alinea yang pantas isinya misalkan 8 sampai 12. baris dan seterusnya. Kita akan merancang dulu ini biasanya kita rancang betul agar tidak ada yang kurang dan tidak kelebihan. Jadi ee melebihi dari fokus. Kemudian tunjukkan betul state of the art-nya, tunjukkan betul novelty-nya mana yang baru dari sini bagian-bagian analisis dari hal yang kita bahas itu. Nah, Bapak Ibu yang ee saya hormati. Simpulan dan implikasi dari ee hasil riset ini terkait dengan saran, terkait dengan hasilnya dari hasil tadi hasil dari paparan hasil di bab hasil maka kita akan menjawab beberapa pertanyaan ini. Apakah tujuan risetnya sudah tercapai? Jadi, apakah rumusan masalahnya sudah terjawab semua? Apakah tidak mengulang? mana yang pernyataan yang generalisasi, mana yang pernyataan yang memiliki keterbatasan, kemudian pernyataannya yang ringkas, pernyataan yang mudah dibaca, kemudian ee sarannya terkait dengan hasil penelitian ini saran terkait dengan saran praktis. Jadi saran yang dari hasil penelitian ini yang bisa digunakan. Kemudian saran secara teoritis itu menjadi manfaat teoritis. Kemudian penelitian ini kalau mau dilanjutkan seperti apa? Lalu bagaimana ini ee biasanya kita akan memunculkan hal-hal semacam ini adalah di bagian simpulan. Oleh karena itu, simpulan selalu dikatakan adalah abstraksi dari hasil yang kita peroleh. Bapak, Ibu yang ee perlu diperhatikan di dalam penyusunan hasil dan pembahasan serta kesimpulan. Pertama adalah apakah kesesuaian? Jadi, kita cek kesesuaian dengan tujuan antara tujuan dan simpulan. kesesuaian adanya kesinambungan antara masalah paradigma dan hasil. Jadi, Bapak Ibu mohon dicek kembali ketika kita melakukan di posisi ee hasil kemudian simpulan itu ada keruntutan antara apa yang ada. Nanti kita akan cek di sini Bapak Ibu keruntutannya. keruntutannya antara apa yang ada di dalam rumusan masalah problem statement, kemudian di metode penelitian, kemudian di hasil, lalu disimpulan. Nah, di dalam membuat simpulan jangan melebihi dari apa yang dibahas. Demikian juga di dalam membuat saran, kita tidak boleh menyer menyarankan melebihi apa yang kita bahas. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati, ini adalah contoh dari yang simpulan. Jadi mana nanti yang terbaik? Nanti kita bisa juga cek jurnal-jurnal yang terbit di indeks ee yang tinggi, jurnal-jurnal yang memiliki kualifikasi bagus. Jadi contoh-contoh membuat simpulan. Lalu ee ini adalah hasil pembahasan yang digabung kalau dengan interpretasi. Jadi analisis dan hasilnya ee kalau digabung itu ee memang sederhana tetapi kurang jelas ee ketika kita memaparkan di bab hasil dan pembahasan itu ada yang jurnal meminta digabung, ada jurnal yang meminta dipisah sehingga hasil penelitian kemudian B-nya pembahasan. Jadi Bapak Ibu itu semuanya adalah memiliki keuntungan dan kelemahan. Tetapi sekali lagi kita menuliskannya sesuai dengan permintaan dari template itu. Nah, Bapak Ibu hati-hati dengan paparan di dalam hasil itu. Pertama ee kita harus cek kesesuaian dengan metodenya, nggih. Lalu berikutnya terkait dengan ilustrasi, terkait dengan gambar, terkait dengan foto, terkait dengan diagram, penggunaan tabel grafik foto diagram, mohon betul-betul kemudian diberikan pembahasan sesuai dengan substansi dari tabel grafik foto dan diagram. Nah, foto yang diambil di sini adalah atau foto yang dicantumkan adalah foto terkait dengan data penelitian, bukan foto dalam pelaksanaan kegiatan, tetapi foto terkait dengan data ini. Kemudian ee dibahas dibahas sesuai dengan interpretasi Bapak, Ibu. Interpretasinya menggunakan teori apa? atau menggunakan aturan apa atau menggunakan patokan apa interpretasinya. Karena di dalam melakukan interpretasi kita bisa menggunakan pendekatan teoritis, kita bisa menggunakan pendekatan undang-undang, kita bisa menggunakan pendekatan nilai tergantung dari substansi yang kita bahas sehingga alur penelaahannya secara utuh akan seperti ini. Yang pertama kita akan berbicara terkait dengan pendahuluan. Jadi pendahuluan pendahuluan ada kunci terkait dengan state of the art-nya, acuan mutakhir yang digunakan. Lalu kemudian di sini apa yang ditawarkan dari pendahuluan ini yang baru nanti apa yang baru kira-kira dari penelitian ini jika dibandingkan dengan penelitian yang lain sehingga ketika kajian state of the art kita kemudian akan melihat beberapa ahli beberapa ee peneliti lain melakukan hal yang sama dengan apa yang kita teliti. Bapak, Ibu yang saya hormati. Di sini sekaligus kita menunjukkan bahwa reading bacaan Bapak Ibu sekaligus akan memperlancar di dalam menyusun pendahuluan ini. Di waktu yang sama jika kita kurang membaca jurnal-jurnal sebelumnya, tulisan-tulisan sebelumnya, kurang membaca aturan-aturan sebelumnya, maka terkait dengan state of the art ini kadang-kadang lemah gitu. Jadi ini tampak sekali nanti di dalam latar belakang itu akan sangat kelihatan bagaimana bacaan-bacaan kita. Lalu berikutnya adalah tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini ada di state of the di bagian terakhir di pendahuluan. Di bagian pendahuluan ini orang menyebut sebagai problem statement seperti saya ee sampaikan tadi ada yang menyebut tujuan ee dari penulisan ini adalah apa gitu. Lalu kemudian metode. Kemudian setelah metode adalah bab pembahasan. Di dalam setelah itu kemudian di dalam pembahasan kita cek sesuai dengan fokus, sesuai dengan paradigma yang kita gunakan. Lalu kita membuka simpulan, menuliskan simpulan. Kesimpulan ini kita cek lagi beberapa pertanyaan apakah semua problem statement kita sudah terjawab lalu hasilnya seperti apa dari jawaban ee rumusan masalah kita atau problem statement kita. Lalu kemudian mengapa hasilnya seperti itu? Lalu kemudian kita akan menuliskan abstraknya kemudian kita masuk ke judul atau ee bagaimana mengemas. Jadi ee dalam judulnya. Nah, bolehkah kemudian dibalik kita menyusun judul dulu baru yang lain? Monggo. Yang tidak boleh adalah kita tidak melakukan tulisan atau tidak menulis publikasi di alur ini kita bisa memulai dari mana saja. Jika kita sudah piawai, kita langsung ke problem statement dulu kemudian masuk metode kita peneliti. Kemudian seiring juga berjalan menuliskan di pendahuluan. Jadi monggo saja dari mana alur ini. Nah, ee Bapak Ibu yang saya hormati ee ada beberapa yang biasanya kita pakai sebagai komponen untuk penilaian dalam sebuah publikasi ya. penyajiannya jelas, penekanan pada temuannya juga jelas, uji statistiknya juga ada, lalu kebenaran analisisnya, kebenaran analisis itu memadai dan lengkap. Ada data penting yang ditampilkan. Jadi, Bapak, Ibu yang saya hormati, ketika kita menggunakan data kualitatif sekalipun, maka data primer yang ditampilkan adalah data yang terkait dengan substansi yang kita bahas, gitu. Jadi data-data yang sifatnya introduction, wawancara, data awal wawancara kita selalu memberikan simbol titik tiga di dalam penulisan itu artinya adalah data ini dipotong dari data yang tidak sesuai dengan rumusan masalah dengan data ee komplemen data pelengkapnya gitu. Lalu berikutnya datanya konsisten dan akurat. mendekati konsist konsisten dan akurat. Konsisten itu apa? Akurat itu apa? Nanti ketika kita meneliti di dalam penelitian kualitatif, kita akan bisa melihat betul penelitian kualitatif. Misalkan data wawancara asli yang kita lakukan antar subjek sangat dipengaruhi oleh background subjek tersebut. Oleh karena itu, jika kita kemudian memalsu itu maka akan jelas tampak ungkapan dan bahasa yang digunakan pasti berbeda. Profini mohon maaf waktunya hampir habis kurang 3 menit. Nggih. Siap. Nggih. Ya. Siap. Siap. Nggih. Ya. Bapak Ibu yang saya hormati ada ini adalah ilustrasi grafis ya. Ilustrasi grafis. Jadi mudah-mudahan waktunya tepat. ini kurang sedikit sekali. Ilustrasi grafis nanti mohon dibaca sendiri yang ilustrasi grafis. Lalu ee ini hal-hal penting ketika kita akan melakukan publikasi yang harus diperhatikan juga. Lalu ini adalah contoh dari narasi ilustrasi yang mana yang baik dan mana yang kurang baik. Lalu ee berikutnya ada tiga yang harus saya sampaikan. Pertama adalah abstrak. di sini abstrak ee ditulis secara utuh sesuai dengan menggambarkan esensi isi keseluruhan. Kemudian ee dirangkum dengan keakuratan isi. Ada metode yang disampaikan, ada fokusnya, ada hasilnya, ada rekomendasinya. Lalu berikutnya ucapan terima kasih itu di dalam tulisan harus disampaikan kepada pihak yang memberikan dana atau pihak yang memberikan kesempatan kita untuk melakukan publikasi. Jadi ucapan terima kasih itu harus ada. Jika kita memang diberi dana silakan menyebutkan ee SK pendanaan itu. Lalu kemudian berikutnya adalah daftar referensi. Ini yang terakhir. Ini adalah daftar referensi yang diacu sesuai dari latar belakang hingga pembahasan. Ada beberapa yang meminta mengurutkan sesuai dengan sitasi. Ada yang meminta mengurutkan sesuai dengan abjat. Tetapi yang penting adalah semua dokumen yang ada di daftar referensi ketika kita cek di artikel, di tulisan maka betul adanya telah disitasi. Jadi di sini harus skop. Kalau di depan kita ketemu sitasi jumlahnya 20, di belakang ketemu 20. Kira-kira seperti itu. Kecuali nanti ada beberapa satu jurnal yang diulang di dalam melakukan sitasi. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ini gaya penyuntingan saja. Jadi, nanti kita bisa di ee membaca sendiri ini penyuntingan makro di dalam sebuah jurnal menggunakan konsep ABCD, akurat, brief, clear, dan mikro. Eh, itu jadi ee biasanya digunakan oleh teman-teman reviewer ketika kita melakukan review terkait dengan artikel yang Bapak, Ibu kirimkan. Oke, ini adalah beberapa jurnal yang kita bisa acu, yang kita bisa tuju untuk jurnal-jurnal di tingkat ee apa? Jurnal nasional yang terakreditasi di Ristek Dikti di Sinta. Tetapi Bapak, Ibu juga bisa menuliskan mengirimkan ke jurnal-jurnal internasional baik internasional biasa maupun internasional yang berputasi. Baik, mungkin itu Bapak Ibu yang bisa saya sampaikan. Mudah-mudahan kita bisa belajar lebih jauh lagi di dalam kesempatan ini maupun kesempatan yang lain. Waktu berikutnya saya kembalikan kepada moderator. Terima kasih. Baik, terima kasih Prof. Sarmini dan kepada Bapak, Ibu, Saudara, teman-teman peserta webinar. Kita berikan applause kepada beliau dan untuk kita semua secara virtual. Baik, kita akan berlanjut ke narasumber berikutnya, tetapi mungkin ada sedikit jeda untuk memberikan persiapan dan juga mungkin beberapa teman untuk memutarkan beberapa hal e sifatnya informatif. Yang kedua nanti adalah Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG, M.Hum. Selamat siang, Profesor. Selamat siang, Pak. Selamat siang. Sehat, I Prof. Ngh Sehat, alhamdulillah. Oke, saya akan mencoba berdiskusi sebentar sebelum panjenengan masuk di sesi kedua. Kalau melihat latar belakang dari Prof. Ali Humaidi ini cukup banyak karyanya dan panjenengan, Bapak ada di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Organisasi Riset Sosial Humaniora di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Mungkin bisa diceritakan sekilas, Prof. tentang lembaganya dan nanti apa pesan yang akan disampaikan kepada para pejabat fungsional. Silakan, Prof. Ee mohon maaf, masih ada suara menyanyikan lagu Indonesia Raya itu loh, Pak. Ya, secara kantor ini sebentar. Oke. Baik. Ee terima kasih. Mohon maaf tadi ada suara Indonesia Raya rupanya di kantor baru ada tradisi menyanyikan lagu Indonesia Raya di jam 950 gitu. Nah, tadi ada pertanyaan yang cukup menarik bahwa ee bagaimana dengan lembaga kami? Lembaga kami itu sebenarnya saya sendiri awalnya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia jadi LIPI dahulu. Lalu kemudian berdasarkan keputusan presiden ee ee undang-undang dan sebagainya kemudian dilebur menjadi Badan Riset dan Inovasi ee Nasional Brin. Jadi ada sekitar eh empat lembaga utama kemudian didukung oleh lembaga LDBank dari berbagai kementerian dan sebagainya. Jadi sekarang pegawainya hampir ee 15.000 orang. 15.000 orang yang awalnya kalau di LIPI hanya 3.000 orang dan seterusnya. Nah, ee kalau di LIP dahulu ee ilmu sosial ada di kedeputian ilmu sosial dan kemanusiaan. Tetapi sekarang ketika diin ilmu sosial terpecah menjadi tiga. Ee ilmu sosial humaniora, kemudian tata kelola dan kemudian ee or arkeologi, bahasa, dan sastra. Jadi ada tiga e ranah ilmu sosial. Selebihnya adalah ilmu-ilmu alam ee ee nuklir dan sebagainya. begitu, Pak. Baik. Dan dengan adanya badan riset dan inovasi nasional atau BRIN ini ee bagaimana kira-kira prospek jabatan fungsional, Prof. supaya kita yang ada di daerah, di provinsi, kabupaten, kota bisa mempunyai spirit dan semangat yang sama bahwa ini not the end of the career, gitu. Silakan, Prof. Iya. ee tentu ketika ee semua jabatan fungsional peneliti dikumpulkan di apa di BRIN, maka rencana ke depannya itu kan ada yang namanya brida badan riset dan inovasi daerah. Itu seperti bapedanya yang di apa dibuat oleh ee tingkat pemerintah daerah. Tetapi kemudian ee fungsional-fungsional lain juga banyak misalnya analisis kebijakan, perencanaan hukum undang-undang dan seterusnya. Nah, potensinya sebenarnya akan akan berkembang ke depannya. Jadi, ee selama ini kan kita hanya ke start atau kemudian ke struktural, tetapi kemudian ketika dialihkan ke fungsional dinamika berorganisasi itu semakin kencang, Pak. Semakin kuat dan seterusnya. Nah, salah satu syarat dari kita mampu menapaki jenjang fungsional itu adalah kemampuan meneliti, kemampuan menulis sebagaimana yang tadi Ibu Sarmini ee Prof. Sar mini itu sampaikan itu menjadi poin penting menurut saya. Oke. Baik. Dengan pesan singkat yang akan disampaikan kira-kira apa nanti, Prof. supaya kita punya brief history terhadap pesan yang mau disampaikan Prof. Ali Humaidi. Silakan. ya ee apapun jabatan fungsional kita baik peneliti, perencana, analisis kebijakan dan sebagainya, kalau saya selalu mempersyaratkan ada tiga kemahiran, ada tiga hal yang modal modal modal dasar dari seorang pejabat fungsional. pertama adalah sensitivitas yang tinggi, kepekaan. Kepekaan terhadap suatu situasi yang ada berkembang di sekeliling kita. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua adalah kemampuan ee mencari dan menggali data. Menggali data itu penting karena itu menjadi basis ee data apapun. Bisa untuk karya tulis, bisa untuk analisis kebijakan dan sebagainya. Lalu yang ketiga itu adalah keterampilan menulis. Ini yang sering kita lupa keterampilan menulis. Seolah-olah ya mungkin Bapak Ibu yang selama ini sebelumnya itu adalah pejabat struktural di suatu tempat dan sebagainya. Kemahiran menulis itu seringki dilupakan. Tetapi ketika Bapak Ibu dipaksa untuk menjadi pejabat fungsional, maka mau tidak mau keterampilan menulis itu menjadi prasyarat utama untuk kenaikan jabatan fungsional Bapak, Ibu semuanya ataupun untuk menjadi sesuatu yang berbeda atau seseorang yang berbeda dari orang lain yang mungkin kerjaannya tidak menulis dan sebagainya. Seperti itu menurut saya. Ee kuatkan tiga modal dasar itu ee di dalam perjalanan karir Bapak Ibu semuanya. Oke, menarik sekali yang disampaikan Prof. Ali Humaidi. Teman-teman panitia, mungkin ada yang mau ditayangkan secara sekilas untuk mengilustrasi atau kita lanjut saja? Oke. Baik, kalau kita lanjut, Prof. disilakan untuk menyampaikan materinya kurang lebih 45 menit. Disilakan, Prof. sebagai panelis dua. Baik. ee Bapak Ibu. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya muliakan ee Bap ee Kepala BPSDM Jawa Timur ee Bapak Aries eh saya sulit pawa ya, Pak. Kemudian eh Bapak Moderator Pak Joni. Kemudian Ibu Prof. Sarmini eh MHum ee selaku rekan narasumber. Jadi terima kasih atas ee kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memberikan paparan mengenai ee metode penyusunan rancangan dan pelaksanaan penelitian pengembangan profesi jabatan fungsional. Sebenarnya ini adalah ee beberapa kali mungkin saya sudah menyampaikan ee poin-poinnya tetapi kemudian ada kekhususan pada aspek-aspek terentu ee ini saya ee Prof. Dr. M. Alhumedi di Brin. Kemudian terima kasih tadi sudah saya sebutkan kepada Bapak Aris Agung Pawai sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber DAUSA Provinsi Jawa Timur. Ibu Prof. Dr. Sarmini, Bapak Prof. eh Dr. Ins. H. Joni Haryanto, MDM. Para peserta dan panitia kegiatan yang saya muliakan. Ee ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. pertama adalah ee mohon maaf kalau sedikit bersombong nanti tentang inspirasi mencapai prestasi melalui penelitian dan penulisan sebagai buah ee sebagai apa pemantik buat Bapak Ibu semuanya untuk ee apa terpacu di dalam ee proses penelitian dan penulisan. Kemudian kedua adalah penyusunan rancangan penelitian dan ketiga adalah teknik pelaksanaan untuk mendukung pasokan data tulisan. Jadi, Bapak, Ibu inspirasi mencapai tulis apa mencapai prestasi ee ini saya gambarkan seperti ini. Saya menjadi PNS itu tahun 2008 tetapi kemudian mendapatkan SK eh profesor riset dari presiden itu adalah 1 Juli 2016. Jadi dalam waktu 8 tahun ee saya mencapai eh jenjang tertinggi itu ada 1300 yang saya ajukan tetapi kemudian yang apa yang tersimpan itu masih ada 156 poin. Ini saya mendapatkan SK Presiden itu adalah ketika saya berada di golongan 3D. 3D baru 3D. Selanjutnya baru kemudian berproses menjadi ee apa ee 4A, 4B, dan 4C. Sekarang ada ini karya-karya sendi ee yang saya lakukan. Jurnal internasional 4 artikel, buku internasional standar PBB 2 buah, chapter buku internasional satu artikel, proseding internasional dan sebagainya. Jurnal nasional tak akreditasi hampir 85 artikel dan seterusnya. Nah, cadangannya itu sampai sekarang sampai tahun 2021 akhir itu adalah 125 poin. Sayangnya di dalam tradisi ilmu pengetahuan itu tidak ada namanya sodqah ee angka kredit. Itu menjadi menjadi ini menjadi hal yang ee kita ee tetapkan di dalam kode etik ee apa kode etik akademik, kemudian yang lain-lain confidential paper untuk presiden dan sebagainya. Nah, penelitian yang saya lakukan selama ee perjalanan karir saya sampai 2021 adalah penelitian internasional 5 judul ee mendapatkan dana 7,2 miliar, penelitian nasional 22 judul sekitar 12, miliar, kerja sama program kegiatan 4 miliar dan sebagainya. Total pendapatan yang saya terima ee di dalam proses pengajuan proposal penelitian itu adalah 24,2 miliar. Uang itu diserahkan ke lembaga untuk kegiatan penelitian dan program. Nah, apa sebenarnya ee ketika kita misalnya ee melakukan penelitian dan penulisan itu tadi ee Ibu Profesor Sarmini sudah jelas memberikan apa ee secara gamblang memberikan ee apa paparan mengenai tujuan penulisan itu. Tetapi poin yang paling penting adalah bahwa tujuan meneliti dan menulis itu ada enam minimal. Pertama adalah untuk angka kredit kenaikan jabatan fungsional, untuk pengembangan ilmu pengetahuan. itu yang biasalah itu ee bagian dari tanggung jawab akademi kita. Lalu pelancar seleksi jabatan open biding. Kalau kita mengikuti seleksi jabatan itu ketika kita mampu melakukan penelitian dan penulisan yang bagus insyaallah dipermudahkan. Laporan kegiatan, bentuk komitmen pelaksanaan tugas dan seterusnya. Kemudian sebagai bentuk eksistensi diri menjaga martabat, memuaskan pimpinan dan sebagainya itu estimate eh kebutuhan eksistensi. Lalu pencapaian akhir studi dan seterusnya. ini yang berhubungan dengan studi. Tetapi di dalam proses itu kita ada kelemahan. Kelemahannya itu mungkin Bapak Ibu merasakan kelemahannya adalah sulit menulis, ada rasa kurang percaya diri, sulit meneliti, mudah bosan. Kita coba duduk di meja 1 jam, kuat enggak untuk menulis ee tiga halaman? Kalau kuat, insyaallah Bapak, Ibu bisa berlanjut menjadi ee 3 jam, 5 jam ee untuk menulis ee apapun di dalam ee dalam setiap harinya dan seterusnya. Sulit bergaul, sulit atau telat berpikir dan sebagainya. Itu yang kemudian menjadi kendala di dalam proses penulisan kita. Lalu mengukur kelebihan. Apakah kita kemudian mampu berpikir sistematis, mau berpikir tentang apapun. Saya selalu bilang ee sebenarnya hal remeh-temeh yang ada di sekeliling kita itu kalau kita pikirkan secara matang dan secara ee apa universality keilmuan itu akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat ilmu pengetahuan, buat karir kita dan sebagainya. Atau yang kemudian kita apakah kita kemudian memiliki kelebihan dalam luas dalam berpikir? Tidak kaku. Karena keluasan berpikir itu biasanya apa? Mengembangkan ee cara berpikirnya kita dan sebagainya. Lalu disiplin waktu. tidak bosanan atau betah, tidak betah, lalu berani menetapkan dan mencapai target kita. Siap enggak? Misalnya 1 hari saya mengetik ee 6 jam menghasilkan ee 10 halaman spasi satu ee sekian ee tentang isinya tentang apa saja dan sebagainya. Kalau kita berani menetapkan target dengan benar dan baik, insyaallah nanti masalah keluhan-keluhan kok saya sulit menulis, kok saya sulit naik jenjang dan sebagainya itu akan mudah ee akan mudah teratasi. Nah, tadi saya sampaikan ada tiga modal dasar peneliti dan apa kerawanan plagiarisme yang ada atau jabatan fungsional apapun. Pertama adalah sensitivitas, kepekaan dan hasrat ingin tahu tentang sesuatu dalam dunia penelitian. Inilah yang kemudian menghasilkan ICP, idea konsep paper atau proposal penelitian yang seringki kita terjebak pada plagarisme ide, meniru kegiatan orang lain, meniru proposal orang lain dan sebagainya. Lalu yang kedua adalah kemahiran pengumpulan dan analisis data yang didukung metode yang tepat. Tadi Ibu Prof. Sarmini sudah menyampaikan bagaimana metode yang tepat bisa menghasilkan data yang bagus dan sebagainya. Prasyarat utama ini adalah untuk menghasilkan kedalaman dan keluasan data. Kedalaman data berarti kualitatif, keluasan data berarti kuantitatif. Lalu yang ketiga adalah kemahiran menulis. Bagi ilmuwan adalah kekuatan luar biasa yang menaklukkan. Kalau Bapak Ibu sebagai pejabat analisis kebijakan mampu merumuskan sebuah kebijakan dan itu kemudian dipakai oleh lembaga Ibu Bapak, maka sesungguhnya Bapak, Ibu sudah menaklukkan e pimpinan sudah menaklukkan ee lembaga tersebut untuk mengikuti apa yang kita sarankan dan sebagainya. Nah, ee tadi saya sebutkan bahwa sensitivitas itu penting. Itu adalah rasa ingin tahu tentang sesuatu, berupa rasa penasaran tentang sesuatu atau karena ada gejala yang senyatanya dengan sesuatu yang seharusnya terjadi. Proses ini tidak selaras akan melahirkan banyak gejala, fenomena, kejadian, peristiwa, dan unsur lain. Jadi, prinsip dasarnya adalah kepekaan. untuk mengelola kepekaan itu saya selalu dalam 1 bulan sekali saya jalan kaki entah berkilo-kilometer tanpa tujuan pokoknya jalan kaki saja supaya sensitivitas saya tetap terjaga kemudian mendapatkan inspirasi dan sebagainya. Nah, sumber pengetahuan itu banyak. Ada yang dari ilmu pengetahuan secara umum, ada yang dari authority dan tradisi yang sudah berlaku secara umum. Kemudian ada ee apa kepercayaan beragama, ada studi kasus, termasuk ada pengalaman pribadi dan termasuk mitos. Jadi ini banyak ceritalah bagaimana kemudian pengalaman-pengalaman pribadi misalnya saya ee berada di wilayah Jember menemukan dua masjid yang berhadapan ee hanya diselingin jalan nasional eh Dendeles Utara eh Dendeles Selatan. Masjid satu dibangun lama lalu masjid baru ada di depannya. Nah, salat Jumat mereka berdua dilakukan dan sebagainya. Bagi saya itu adalah personal experience yang luar biasa. Eh, itu adalah menciptakan konflik keagamaan di apa di tingkat masyarakat yang bisa digali secara mendalam dan seterusnya. Nah, sekarang adalah proses penyusunan rancangan penelitian. Ee di dalam proses perancangan penelitian itu sebenarnya ada tiga komponen utama. pertama adalah kerangka berpikir atau apa ee mendapatkan teori atau belajar teori atau mengambil teori atau melansirkan teori. Lalu yang kedua adalah data dan yang ketiga adalah keterampilan menulis. Jadi perpaduan inilah yang kemudian tadi yang disampaikan oleh Bu Prof. Sarmini itu sebagai sesuatu yang apa yang bisa menghasilkan karya tulis yang baik dan sebagainya. Kerangka berpikir berarti adalah lansiran atau orientasi dari sebuah tulisan. Itu jiwa tulisan. Sementara yang data itu adalah bahan pasokan tulisan. Kalau kita menulis tidak ada data, tidak ada bahan ee sebagai pasokan itu tidak akan menarik. Jadi hanya opini saja dan seterusnya. Ini yang kemudian tulisan akan kuat dan bernilai baru jika proses penelitiannya benar dan baik. Ee baik dan benar. Lalu e keterampilan menulis berarti adalah proses mengemas tulisan agar mudah terbaca. Ini yang berhubungan dengan seni atau cara menulis agar apa? Tulisan menjadi baik, bagus, benar, sistematis, koherent, dan komprehensif. Nah, Bapak Ibu ee yang saya muliakan, prosesnya adalah ee bahwa tadi ide yang berasal dari ide dari sensitivitas itu kemudian menjadi gagasan diturunkan menjadi ide konsep paper eh sebuah rancang bangun ee pelaksanaan kegiatan apapun baik penelitian maupun kebijakan. Kemudian proses pengumpulan data dengan instrumen penelitian yang sudah disiapkan. ini adalah ee proses kita ke lapangan ee bisa ke lapangan, bisa ke laboratorium, ataupun bisa ke perpustakaan dan sebagainya. Itu itu tergantung metode apa yang kita gunakan. Kemudian analisis data ee proses menginterpretasi data itu menjadi penting. Kadang orang hanya mengambil data lalu menaruh data itu di dalam laporan penelitian saja, tetapi tidak melakukan proses analisis data pun itu tidak bagus, tidak baik, dan seterusnya. lalu melalui proses penulisan dan pelaporan lalu dijadikan dia output baik dalam bentuk dokumen ee kebijakan maupun prototype. Itu apa bentuknya? Misalnya adalah tadi karya tulis ilmiah terindeks global, terindeks Scopus, terindeks nasional dan sebagainya atau bereputasi nasional Sinta 1, Sinta 2 dan seterusnya. Jadi kalau untuk level Bapak Ibu menurut saya sudah yang harus dikejar itu adalah Sinta 3, Sinta 2 dengan Sinta 1. Kalau Sinta eh 4 5 6 sebenarnya adalah level untuk mahasiswa S1 dan S2 ya, S1 dengan S2. Tapi S2 pun sekarang harus Sinta 2 dan eh seterusnya. Nah, jadi prosesnya seperti ini Bapak Ibu untuk melakukan rancangan bahwa ada ide itu bagi saya itu mahal banget. Tapi semakin dibagi semakin mengalir. Makanya kemudian setiap ada orang yang meminta saya untuk ee berbagi ide tentang sesuatu penelitian akan saya bagikan, akan saya berikan. Karena semakin saya berikan semakin akan ee akan semakin banyak ide saya tentang sesuatu itu. Ide itu isinya adalah tentang kebermanfaatan. Baik ilmu untuk ilmu, ilmu untuk kehidupan, ilmu untuk kebijakan dan sebagainya. Lalu dari ide itu susun menjadi proposal dan kalau prinsip saya adalah wajib berhasil. saya mendapatkan dana dari LPDP, dari Kementerian Parekrap, dari apa Kristen Aid, dari Muslim Aid dan sebagainya itu pasti akan berhasil. Oleh karena itu, kemudian prinsipnya adalah membuat proposal adalah sebuah karya seni bukan fabrikasi. Saya sering menjadi juri di beberapa tempat, proposal A, proposal B sama, nyaris sama, kutipannya sama dan sebagainya. Jadi, itu adalah model fabrikasi. Prinsip dasarnya membuat proposal itu adalah seperti sebuah karya seni. Semakin detail, semakin hebat, semakin sentuhan tangan kita masuk, maka semakin bernilai proposal kita itu. Di dalamnya ada start of the art yang tadi digambarkan oleh Ibu Prof. Kemudian kebermanfaatan rasional, otentik, dan ada kebaharuan. Itu penting. Kebaharuan. Start of the art, novelty itu poin pentingnya di dalam membentuk proposal. Kemudian riset yang hebat, melakukan riset yang hebat. Di dalam proses riset yang hebat itu kita membuat rancangan penelitian yang kuat. Di situ ada instrumen penelitian yang sudah ditetapkan, ada tentatif outline yang sudah ditetapkan, ada apa, ada pelaksanaan teknis metode yang kita tetapkan dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kedalaman data, data yang spesifik, ada data keterluasan sesuai dengan metode penelitian yang kita gunakan di dalam melakukan riset yang hebat. selalu saya dorong Bapak Ibu untuk keluar dari zona nyaman. Kalau Bapak Ibu sekarang misalnya berada menjadi pejabat eselon 2 atau eselon 3, tapi ketika menjadi pejabat fungsional maka lupakan jabatan lama itu. Dia harus keluar dari zona nyaman. Ee apapun yang dihasilkan, disampaikan oleh masyarakat kita harus benar-benar dengar, harus benar-benar telisik, dan sebagainya. Jadi perjalanan lapangan bukan perjalanan 3P, perjalanan pesawat, kemudian penginapan yang bagus atau yang ketiga adalah P, yang ketiga adalah mencari pasar untuk oleh-oleh dibawa pulang dan sebagainya. Tapi perjalanan ke lapangan betul-betul ingin mendapatkan data yang dalam, yang luas, dan spesifik. Jadi keluar dari zona nyaman, penuh dengan keuletan, tidak semua dapat dilakukan dengan teknik yang sama. Lalu proses menulis ee itu untuk ilmu pengetahuan, untuk kebijakan, maupun pengembangan. Ini nilai manfaatnya jelas bagi pengetahuan dan pembangunan. Sementara target hasil penelitiannya adalah keterbacaan, gaya penulisan, bukan keruutan berpikir yang ditransmisikan kepada orang lain. Jadi, itu poin penting di dalam proses menulis. Nah, Bapak, Ibu yang saya ee saya muliakan bahwa ada segitiga emas yang mau tidak mau kita tidak bisa lepaskan di dalam proses menulis ee sesuatu itu. Pertama adalah grand, jadi biaya dana itu menjadi poin penting. Makanya sebagai seorang pejabat fungsional nanti ke depannya adalah kemampuan Bapak Ibu membuat proposal penelitian pun adalah prasyarat untuk bisa menghasilkan penelitian dan menghasilkan tulisan yang bagus. Jadi, GR itu bentuknya adalah ide kak apa konsep ee apa eh kerangka acuan kerja, proposal, rancangan penelitian, tentatif outline dan sebagainya. Lalu melakukan riset. eh riset itu akan menghasilkan data dan seterusnya itu rapot data, pasok outline, analisis, interpretasi, penulisan, publikasi dan sebagainya baru menghasilkan manuskrip. Manuskrip itu berarti karya tulis ilmiah. Bisa dalam bentuk laporan, bentuk KTER, publikasi, naskah kebijakan atau yang tadi disampaikan oleh Ibu Prof ada dua, ada dua kon dua kluster. Yang satu adalah buku, yang satunya kemudian KPI terpublikasi baik nasional maupun global. Tetapi naskah kebijakan bagi para ee fungsional analisis kebijakan bisa menghasilkan model regulasi strategi untuk apa pembangunan dan kesejahteraan ini prosesnya TOR ee dibuat oleh pihak sponsor panduan membuat proposal lalu ICP ide eh ide konsep eh ide konsep paper ide awal proposal ringkas dibuat oleh peneliti. Kemudian proposal penelitian dibuat oleh peneliti. Kemudian riset desain dibuat peneliti. ini adalah uraian lengkap rencana penelitian setelah proposal disetujui baru kemudian dilakukan penelitian baru menghasilkan output berupa karya tulis ilmiah buku maupun jurnal dan sebagainya. Jadi rancangan penelitian seperti ini Bapak Ibu kalau yang sebelah kiri itu adalah ee proposal penelitian. Tetapi ketika dia menjadi rancangan penelitian, maka lebih detail lagi ada judul, ada abstrak, kemudian ada macam-macam itu. Metodenya pun diperjelas, hasil dan keluarannya apa, personalia dan hal yang paling penting di dalam rancangan penelitian kemudian adalah bangunan instrumen penelitian, baik berupa pedoman wawancara mendalam, panduan observasi, outline FGD, kuesioner bila kuantitatif, pegangan telusur dokumen bila ee membutuhkan penguatan data dokumen. Lalu hal yang lain adalah tentative outline. Jadi kadang orang membuat tentatif outline itu adalah setelah kelapangan. Kalau saran saya tentatif outline lebih baik dibuat dibangun sebelum kita ke lapangan, sebelum melakukan penggalian data. Jadi sistematika penulisan seluruh laporan baik buku maupun jurnal itu ditetapkan di awal itu tentatif. Sementara nanti masalah kemudian perubahannya ke depan itu adalah setelah ke lapangan ih ada ini ini kita berubah itu enggak ada masalah. pembagian tugas penelitian dan penulisan ee anggota tim. Jadi, sejak awal kita harus pecah timnya. Si A menulis apa, si B menulis apa, si C menulis apa agar apa tidak terjadi klaim data, tidak terjadi amuk ee apa pengakuan data kemudian atau saling menggantungkan ee penulisan kepada seseorang saja. Jadi misalnya saya menulis ee bab 2 bab 3 ee kemudian Pak Joni misalnya menulis bab 4 dan bab 5. Lalu Ibu Maya misalnya menulis bab 6 bab 7. Ibu Tika bisa menulis bab 8, bab 9 dan sebagainya. Jadi itu sudah harus dibagi ee ee pembagian tugasnya di dalam penelitian dan penulisannya. Nah, proses membuat tentative outline itu adalah pertama judul. Ingat ya, judul itu adalah sebenarnya adalah kalimat sederhana dari rumusan masalah. Ini adalah masalah pokok yang diturunkan ke beberapa pertanyaan. Jadi harus ini. Kemudian turunkan masalah ke subbagian. Setiap pertanyaan menjadi satu subbagian tetapi diikat dengan rumusan masalah pokok basis isi substansi judul. Terus terang Bapak Ibu eh lalu yang ketiga ini isi setiap bagian dengan data, proses analisis. Setiap bagian diisi oleh data dianalisis dengan kerangka teori sebagai pisau analisisnya narasikan secara mengalir dan kuatkan dengan rujukan. Terus terang tadi saya mohon maaf ee saya terus terang paling tidak setuju membuat buku itu misalnya bab 1 pendahuluan, bab du kerangka teori, bab 3 metodologi penelitian, lalu bab 4 adalah hasil dan pembahasan, bab 5 penutup. Saya itu untuk menjadi sebuah buku itu tidak menarik bagi saya. bab 1, bab 2, bab 3 dikumpulkan saja menjadi bab 1. Kemudian yang bab 2 sampai seterusnya itu adalah isi turunan dari pertanyaan ee turunan dari masalah penelitian yang diturunkan ke beberapa pertanyaan yang kemudian diselesaikan di setiap babnya. Bab dua menyelesaikan misalnya gambaran wilayah. Bab 3 misalnya tentang apa? Tentang livelihood system-nya masyarakat. Kemudian bab ee lianya adalah tentang karakter ee ekonomi masyarakat di dalam ee mengatasi kemiskinannya dan sebagainya itu harus harus tertata. Masing-masing bab misalnya 20 halaman, 20 halaman, 20 halaman. Selesai. Jadi kalau 7 bab berarti ee 7 * 2 berarti sudah 14 ee 114 ee ee halaman. Kalau itu dijadikan buku berarti 220 halaman. Itu itu poin yang harus ditegaskan dari awal. Nah, jadi setelah proposal selesai sebagai pamer ide dan pamer metode selesai, maka persiapan mengoperasionalisasikan dokumen substansi ke dalam bentuk dokumen siap kerja wajib dilakukan. Itu yang kemudian disebut dengan rancangan penelitian. Dokumen kerja seringki dinamakan sebagai rancangan penelitian karena sifatnya teknis dan operasional. Tidak lagi seperti proposal penelitian yang apa proposal itu kan hanya pamer ide sama pamer metode. Tetapi kalau kemudian rancangan penelitian itu sudah harus lebih teknis. karena sifatnya teknis dan operasional dan dapat dilakukan oleh siapapun yang terlibat dalam keanggotaan tim. Jadi kalau saya melibatkan Ibu Tika misalnya, Bu Tika ee Ibu Tika karena bidangnya adalah misalnya ee lingkungan sementara penelitian kami adalah tentang kebudayaan. Tolong ee hubungkan antara pengaruh lingkungan dengan ee praktik kebudayaan di masyarakat. Ini poin 1, poin du, poin nya selesaikan. saya minta 20 halaman sampai 30 halaman spasi 1. Nanti Ibu Tika mencari responden atau mencari informan sesuai dengan apa yang ee dia tetap apa kita tetapkan di dalam proses ee ee ee penelitiannya atau penulisannya. Jadi tentatif outelennya itu sudah jelas ee kerjaan Ibu Tika itu apa dan seterusnya. Lalu pemilihan anggota tim yang didasarkan pada komitmen, kepakaran dan chemistri yang sama menjadi prasyarat utama. Jadi kalau chemisternya kita lancar terbangun misalnya saya sama Ibu Prof eh Saram mini misalnya chemistrynya terbangun dengan baik, apapun yang dilakukan oleh kita pasti akan ee saling didiskusikan untuk mencapai sesuatu yang baik dan seterusnya. Lalu, penyusunan instrumen penelitian. Instrumen penelitian pun harus dirumuskan dengan mempertimbangkan dan mempertautkannya pada rumusan masalah pokok dan rinciannya beserta tujuan penelitiannya. Penyesuaian instrumen penelitian dengan metode penelitian pun adalah prasyarat utama. Setiap penguraian pertanyaan pastikan terhubungan dengan tabel asparin, aspek, variabel, indikator, dan sub-subnya. Pastikan setiap pertanyaan di dalamnya ada kekuatan teori dan tinjuan pustaka yang akan dihadirkan dalam proses analisis dan interpretasi datanya. Yakinkan bahwa setiap poin penyusunan instrumen penelitian itu akan berguna bagi upaya mendapatkan data-data penting yang akan menjadi pemasuk outline yang ditetapkan sementara sebelum ke lapangan dan akan menjadi outline fix pasca ke lapangan. Sekalipun terlihat operasional, basis teoritis di alam bawah sadar peneliti harus terus menjadi elemen penting pengarah semua tulisannya. Jadi eh preposisi harus terbangun. Kalau dalam bahasa kuantitatif itu hipotesis itu jawaban sementar itu harus ada di dalam e belak apa alam bawah sadarnya kita ketia wawancara dan sebagainya agar mengarah ee ke sana arah ee pertanyaannya, mencari jawabannya dan sebagainya. Nah, instrumen penelitian kedua adalah setiap pertanyaan yang diajukan memiliki konsekuensi terhadap penguatan laporan penelitiannya. Jadi pertanyaan itu boleh basa-basi awalnya, tetapi kemudian basa-basinya itu nanti meruncing ke arah sesuatu yang berhubungan dengan jawaban dari permasalahan yang kita ajukan. Basis pengalian data lebih utama dibandingkan data yang bersifat sekunder atau dokumen. Jadi, kecuali teman-teman hukum, kemudian teman-teman statistik dan sebagainya. Ee saya lebih mendorong agar Bapak Ibu melakukan penggalian data di lapangan itu lebih real. Lalu pembuatan outline harus diturunkan dan dijabarkan dari rumusan masalah yang ada. Data yang didapatkan dari proses pengumpulan data baik kualitatif ataupun kuantitatif akan memasuk setiap bagian dari outline yang ada sehingga ia akan menjadi bagian penting penelitian. Proses penerjemahan klasifikasi reduksi pengolahan dan analisis data dimulai saat data lapangan mulai muncul. Lalu penguatan data lapangan dilakukan dengan dukungan data dokumen dan sebagainya. Jangan dibalik Bapak Ibu. Penelitiannya sudah jelas-jelas kualitatif kemudian menggunakan field riset data lapangan di sebuah lokasi. Tapi yang terjadi ketika Bapak, Ibu apa memberikan laporan penelitian hampir 60%-nya itu adalah data sekunder, guntingan-guntingan dari penelitian orang lain atau apapun. Sementara data data lapangannya, data real lapangannya itu ee hanya 10% atau 20% itu namanya keterlaluan. itu harus benar-benar sesuai dengan pilihan metode penelitiannya. Nah, proses analisis data adalah kumpulan data harus diolah secara simultan yang sesuai menyangkut bagaimana data akan diolah, diklasifikasikan, dan diatur ke dalam variabel yang ada. Prinsip dasarnya analisis data itu adalah setiap aspek harus dihubungkan dengan aspek lain. Jangan pernah mendiri menyendirikan satu aspek di antara aspek yang lain. Jadi, dia harus mencari relasi antar aspek. Itu kan namanya proses analisis dan interpretasi data. Kemudian cara mengorganisasikan data adalah mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih bagian yang penting untuk dipelajari, membuat kesimpulan. Ini proses yang pada umumnya dilakukan oleh oleh para peneliti atau para penulis. Kemudian sifat analisis data kualitatif adalah data yang diperoleh diturunkan, dikembangkan pola hubungan tertentu. Apakah dia tematik atau kemudian ada tadi yang saya bilang keterhubungan antara aspek satu dengan yang lain. Kemudian pola yang diperoleh dicarikan data secara berulang. Apakah sama di tempat lain juga atau dan sebagainya. Bila pola tersebut benar dari data yang berulang, maka dikembangkan teori baru. Kita bisa menghasilkan teori baru. Nah, kekuatan penelitian kualitatif sesungguhnya adalah menawarkan tema-tema baru. Jadi, ee misalnya judul itu membuktikan ee sebuah tema baru. Judulnya misalnya kalau kita di Gresik ya misalnya saya pernah melakukan penelitian tentang wong lumpur di Gresik. Ee hibriditas Wong lumpur ee di Gresik. Bagaimana kemudian ee sifat orang giri bertemu dengan orang Madura di daerah pinggir laut yang tadinya halus bertemu dengan orang Madura yang tanda kutip sedikit tegas yang hasil kebudayaannya begini dan seterusnya itu menjadi sesuatu yang menarik dan tidak pernah ada ee teori itu. Jadi saya kemudian menawarkan tentang teori hibriditas wong lumpur Gresik eh di jurnal ee Madura dan alhamdulillah diterima itu Sinta 1 kalau tidak salah. Melakukan reduksi data, merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan pola serta membuang data yang tidak penting. Lalu data display penyajian data ini nanti akan saya berikan ee gambarannya bagaimana cara menyajikan data secara ee secara baik dan benar. Jadi intinya adalah data kemudian disajikan, disuguhkan janganlah sekedar kutipan wawancara tetapi kemudian saling didiskusikan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Nah, ini adalah model membuat data apa? Tabel asparin. Tadi saya menyatakan bahwa ee ketika kita mau merancang sebuah penelitian ee tabel asparinnya itu harus jelas. Ini kita mengambil contoh dari masalah ee peran tokoh agama di dalam penanggulangan bencana. masalah penelitiannya adalah yang berhubungan dengan keawanan, kerentan, risiko bencana. Kemudian landasan teorinya akan double disaser berarti j list. Kemudian aspeknya apa saja, bencana ganda apa variabelnya apa, karakter bencana dan sebagainya, indikatornya apa dan seterusnya. Nah, dari indikator inilah yang kemudian diturunkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian yang kira-kira pertanyaan penelitian itu kalau terjawab semua itu akan menyelesaikan masalah penelitian tentang kerawan kerentanan eh double disaster ini. Variabel ini ee menurunkan dari pedoman wawancara observasi. Jadi variabel tentang karakter bencana, indikatornya apa, lalu pertanyaannya apa, informanya siapa, observasinya apa, fokus amatannya apa. Jadi itu sudah jelas dari awal, sudah ditetapkan di rancangan penelitian sebelum kita melakukan penelitian, sebelum turun ke lapangan itu harus sudah ditetapkan. Nah, ini kemudian data digital apa yang diperlukan? Ee misalnya kita menggunakan data dukung untuk etnografi digitalnya adalah aspek tentang kerawanan. Diambil dari mana? dari YouTube, Facebook, kemudian peran dan ee kuasa para tokoh agama dari mana? Dari Twitter dan sebagainya itu di dilihat ee ininya apa ee ee ke ee ee visibilitasnya itu harus diperhatikan secara sukama dan sebagainya. Nah, jadi komponen-komponen produksian dalam ee komponen-komponen ee apa ee di dalam penelitian dan penulisan sesungguhnya adalah pertama adalah kita melakukan proses analisis. Kemudian pemaknaan, penjelasan, penyimpulan, tindak lanjut, dan pemantaban itu rata-rata di dalam di dalam ee di dalam penelitian itu akan akan melakukan hal seperti itu. Nah, sekarang kita mulai langsung ke detail-detailnya dulu. Teknik pelaksanaan untuk mendukung pasokan data tulisan. Data sebagai bahan baku tulisan. Bapak, Ibu tadi sudah disampaikan oleh Ibu Prof itu bisa dihasilkan dari metode apapun. metode risetnya kualitatif, kuantitatif, maupun mixed metode atau dari bacaan primer, sekunder, atau dari refleksi. Refleksi misalnya dari analogi hukum misalnya ee kok teori ini enggak ada. Kita bisa melakukan refleksi ee berdasarkan analogi e kalau dalam bahasa hukum Islam itu kias namanya. Lalu reflektif hasil bacaan, perenungan mendalam dan sebagainya. Ini untuk apa? untuk mendapatkan ee ke jurnal nasional global, karya tulis akhir ee studi jurnal nasional dan global maupun buku dan seterusnya. Sementara yang ini juga untuk menghasilkan opini, proposal desain e fiksi, non fiksi, dan seterusnya. Jadi masing-masing sudah punya ee ee punya targetnya bahwa data itu adalah sekumpulan informasi yang didapatkan dengan teknik atau metode tertentu dan telah teruji validitas kesahihannya. Nah, ee hal yang paling penting adalah kemudian kita harus membuat apapun menggunakan basis data. Jadi, melihat akar masalahnya, membangun dan membuktikan secara tepat preposisi hipotesis, meletakkan kerangka konsep, kerangka teori yang benar untuk bisa menghasilkan data yang tepat, menggali dan mengumpulkan data yang luas dan mendalam, melaporkan temuan data yang benar dan bukan dengan kebohongan, memberikan analisis yang tepat atas temuan, menghasilkan laporan sistematis, dan seterusnya. Metode dan proses penelitian tidak ansih milik peneliti, tetapi keahlian dan keterampilan meneliti dan menulis adalah harus Bapak Ibu miliki. Terlebih ketika kita berada pada pilihan karir yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan dunia tulis-menulis dan pengajaran. Apalagi jabatan fungsional apapun rata-rata hasil penilaiannya itu adalah dengan karya tulis ilmiah ataupun dengan makalah dan sebagainya. Nah, menata dan mengolah data itu ada tiga, ada tiga aspek yang penting tadi ee apa penerjemahan dari apa reduksi data eh analisis data dan sebagainya. Pertama adalah menata menata data. Menuliskan data dalam sebuah transkripsi atau tabel secara lengkap. Kemudian menghimpunkan data dalam substansi yang sama. Sementara mengolah itu adalah mengklaser kategorisasi data sesuai tujuan penelitian dan rumusan masalah. Kemudian mendistribusikan data sesuai outline sementara tentative outline yang dibuat sebelum proses pengumpulan data. Dan kemudian tahap ketiga adalah menjabarkan dan interpretasi data. Mengalihkan transkripsi atau tabel data ke dalam sebuah narasi. Ini tidak semua orang bisa. Jadi ada orang yang main copy paste ee kutipan wawancara langsung dimasukkan ke dalam KTI-nya kita. Itu enggak bisa. Harus ada rambu-rambunya. kaitkan dan kuatkan dengan analisis mendalam dengan teori yang berkesesuaian. Interpretasikan dan jabarkan data sesuai antar aspek dan seterusnya. Nah, ini contoh tentatif outline Bapak Ibu yang tadi double bencana. Double apa? Ee apa dobel ya bencana ganda. Karena ini adalah ee laporan akhirnya adalah berupa tesis. Jadi menyesuaikannya seperti ini. Pendahuluan tinjuan pustaka sebagaimana gaya yang sudah ditetapkan atau pedoman yang sudah ditetapkan oleh kampusnya. Bab 1 sampai 3 ini berhubungan dengan pengantar. Lalu bab bab 4 tuh bab 4 menelisi rawan wilayah bencana ganda tadi yang apa yang tabel yang tadi asparin tentang kerawanan bencana ganda 1 2 3 sudah jelas. Kemudian bab 5 perron di tengah bencana. Berarti ini menjawab masa penelitian tentang bagaimana peran patron ee agama di tengah kebencanaan. Nah, ini jawaban bab 4 eh bab 5. Lalu bab 6 ee bagaimana kemudian ada pertanyaan di di rumusan masalahnya adalah misalnya bagaimana konflik yang terjadi di antara para patron ee yang kemudian mengganggu atau kemudian mampu menguatkan resiliensi masyarakat menghadapi bencana. Ini yang kemudian ee disodorkan bab 6 sebagai jawaban dari pertanyaan penelitian. itu baru bab ee 5 eh bab 8 eh bab 7 itu adalah model kebijakan yang bisa ditarik dari tiga ee komponen utama ini ditarik untuk menjadi sebuah model kebijakan karena ini adalah anak bimbingan di sosiologi ee perekayaan kebijakan akhirnya ada ee bab 7 yang seperti ini, bab 8 penutup. Jadi Bapak Ibu hasil dan pembahasan itu bisa dituangkan ke dalam beberapa bab dan seterusnya. Ini contoh yang saya buat buku kuliner. Jadi, bagaimana kemudian ee bagian bagian tadi yang saya bilang ee pendahuluan, metode penelitian, dan kerangka teori saya kumpulkan di bab satu saja. Ini ada 27 halaman ya, jejaring kuliner uraian awal kekayaan budaya. Ini adalah per ee diskusi antara ee apa lapangan ee kemudian teori dan metode penelitian di situ. Kemudian bab 2, bab 3, bab 4 sampai seterusnya itu adalah isi benar-benar isi kecuali bab 10 itu penutup. Jadi itu kesimpulan itu kalau kita membuat buku seperti ini. Bayangkan dalam sebuah buku saya menulis hampir 8 dari 10 bab. Sebenarnya bisa menulis sendiri tapapi tetapi hal ini adalah bentuk penghargaan dan jeripaya anggota tim peneliti. Jadi akhirnya saya libatkan mereka untuk memasukkan tulisan ke bab 7 bab 6 kemudian bab 8 dan seterusnya. Nah, itu jadi berbagi, berbagi cerita, berbagi tulisan, berbagi bab itu menjadi poin penting. Kita harus tetapkan dari awal untuk ini tentatif hotelnya itu menjadi penting. Nah, ini adalah sistematika penulisan ee jurnal globalnya. Jadi, eh saya melakukan penulisan dengan Mas Parham sama Mas Gustaf eh untuk apa? Sistem informasi eh tradisi kuliner. Jadi, ini yang diajukan ke etnik food. Eh, mereka menggunakan modelnya seperti ini, abstrak. Kemudian pendahuluan itu bisa terbagi ini kata-kata ini culinary megend dan sebagain itu bukan berarti sub di dalam di dalam ee di dalam tulisannya tetapi itu hanya apa eh poin apa main idea dari eh setiap eh beberapa paragraf yang ada kuliner megatrend kemudian eh ee kebudayaan kuliner di Indonesia, kuliner database di Indonesia. Kemudian literatur review-nya seperti itu sat du lalu riset metode danya eh research metodenya ada empat modelnya seperti itu. Kemudian research and discussion-nya adalah seperti itu. Jadi kemudian saya tetapkan masing-masing eh fokus ini result and discussion-nya itu misalnya masing-masing dua halaman atau satu halaman akhirnya menjadi 7uh halaman sampai 8 halaman. Plus laturator review dua halaman. Bagian bab eh bagian pendahuluan eh dua halaman. Berarti semuanya adalah 15 halaman sampai 17 halaman. Selesai. Itu ke jurnal ethnic food ee di Korea dan selesai. Ee angka kreditnya kan 40 poin atau 20. Iya. Angka kredit ee indeks global itu adalah 40 poin. Kemudian yang jurnal nasional misalnya saya membuat tentang tulisan pengkang. Ee pertanyaan adalah bagaimana karakter hibriditas dan kreativitas pengelolaan kuliner tradisional seperti pengkang. pengalang itu lemper bakar itu dilakukan seiring pertemuan budaya akibat pola migrasi beberapa kelompok etnik yang ada di Indonesia. Nah, ini yang kemudian dipecahkan menjadi beberapa sub ee bab Bapak Ibu di dalam jurnal itu kita boleh melakukan pembabakan seperti ini. Eeemb pembahasan A peneliti Kalimantan Barat sebagai wilayah migrasi berbagai kelompok etnik. Ini semacam gambaran kewilayahan dan tradisi sosial kebudayaan mereka. Kemudian yang kedua adalah pengkang hibriditas pengelolaan kuliner tradisional. Lalu yang C berjumlah silsila perantau dalam hibriditas kuliner pengkang. Jadi ini ketika kita menyelesaikan C itu berarti bagian pertanyaan itu sudah selesai. Berjumpa silsilah perantau dalam hibriditas kuliner pengkang itu sesungguhnya kita mampu menjawab pertanyaan tentang karakter hibriditas itu. Lalu penutup daftar pustaka dan sebagainya sebagaimana gaya selingkungnya mereka. Nah, ini Bapak Ibu bagaimana kemudian memasukkan antara teori data wawancara, analisis data, menurunkan teori dalam konteks data. Jadi, kalau saya membuat dua halaman yang ada ee misalnya nih eh teori bagi berger keberadaan komunitas agama dianggap penting untuk memberikan struktur kemasukakalan bla bla bla lakmen ini ya. Ini teori berarti. Kemudian wawancara ini wawancaranya itu kutipan seperti ini. Apa yang terjadi kemarin itu observasi. Ee apa yang terjadi kemarin ee itu ee ee hasil wawancara dengan Bapak Ty data wawancara. Kemudian analisis datanya seperti ini. Jadi semua apa ee perangkat kita di lapangan data yang dihasilkan terpakai di dalam ee penyusunan ee bab-bab ini. Itu akan menjadi sesuatu yang menarik. Nah, poin akhirnya kemudian menurunkan teori dalam konteks data. Jadi kita sekedar memancing ee supaya ada hubungan antara data yang ada dengan ee dengan ee kondisi ee kita ee di lapangan itu itu jadi mencari keterubungan itu. Lalu atau yang seperti ini. Jadi ini adalah wawancara observasi ee ini wawancaranya lalu penelitian terdahulunya muncul lalu observasinya seperti ini Pak Bu. Observasi tentang ruang sakral kita gambarkan seperti ini. Jadi ee kalau ada perpaduan antara wawancara dengan observasi ee minta di minta digambarkan apakah benar seperti ini Pak, Bu? Itu kalau benar kita berikan gambaran seperti ini. Ada ruang sosial, ada ruang sakral dan sebagainya. Ini yang kemudian menjadi poin plus dari penelitian tentang bencana ganda itu. Lalu analisis data dari data bacaan ini seperti ini di apa? dimunculkan dengan menjadikan masih sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses penguatan resilan komunitas, maka dengan sendirinya bala bla bla bla dan seterusnya. Nah, ini termasuk data kuantitatif. Jadi, bagaimana kemudian data kuantitatif? Kadang orang memasukkan di dalam jurnal itu data kuantitatif itu angka-angkanya saja. Jangan. Kita harus memberikan pengantar, kalimat pengantarnya ada, kemudian data hasil observasi kunjungan kita ke lapangannya ada. Kemudian dikuatkan dengan data hasil kuesionernya. Jadi jangan kemudian hanya intinya tabel-tabel melulu tetapi tanpa ada narasi. Eh sebuah jurnal membutuhkan narasi. Narasi itulah yang kemudian kita sodorkan dan seterusnya. Membuat kesatuan dalam jejaring data dan analisis data itu kemudian menjadi poin penting. Begini Bapak Ibu, saya selalu menyatakan begini bahwa ee teori, data, dan analisis itu menjadi poin penting di dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu posisinya bukan berimbang tetapi harus ee sesuai, harus akomodatif di antara ketiganya itu. Ada teori penelitian terdahulu itu rujukan-rujukan. Lalu ada alokasi distribusi data itu ada seperti misalnya ee distribusi data itu adalah misalnya data lama ee data penelitian orang lain kita bisa ambil itu 20. Data mendalam dari penelitian kita sendiri itu 50%. Jadi nanti saling beradu 50%, 20%, 30% yang kemudian menghasilkan sesuatu yang menarik. Ini prosesnya adalah kemudian mengalirkan narasi, membuat tulisan semengalir mungkin. Jangan mentransmisikan keruetan berpikir penulis ke pembaca. Penggunaan tata bahasa yang baik menjadi poin pentingnya. Nah, kadang kita sudah ruwet berpikir, nulis, kemudian tulisan kita ditransfer ke eh reviewer. Reviewernya menjadi rumit berpikirnya. itu namanya mentransmisikan kuotan berpikir. Itu jangan. Itu pasti akan dibatalkan ee naskahnya oleh reviewer atau oleh redaktur jurnal. Lalu yang kedua adalah mengikatkan atau mencari hubungan antara satu aspek. Jangan biarkan satu aspek berdiri sendiri tetapi harus dihubungkan dan dihadapkan antara satu dengan lainnya sehingga menjadi sebuah diskusi yang semarak. Universalitas keilmuan tautan teori dengan analisis komprehensif menjadi poin penting di sini. Lalu keselaran narasi. terus menautkan diri pada kelindaran utama kerumusan masalah dengan selalu mengarah ke tentatif outline. Jadi outline itu harus sudah jadi sebelum kita ke lapangan. Masalah kemudian perbaikan, revisi, dan sebagainya itu setelah data muncul itu nanti urusan urusan sembari jalan saja mengarahkan tulisan menjadi sistematis. Orang banyak tidak mampu menulis secara sistematis karena outline dari awal tidak ada. Itu yang saya rasakan sendiri di dalam proses ee saya melakukan penelitian dan penulisan maupun proses bimbingan kepada teman-teman lainnya. Narasi mengalir dengan bahasa yang baik. Perbanyak atau mengayakan kosakata yang lazim dan tidak lazim. Ikuti tata aturan kebahasan Indonesia yang baku. Setiap paragraf memiliki main ide yang tepat yang harus terhubung antara satu paragraf dengan paragraf setelahnya. Jadi jangan kemudian berdiri sendiri. ada paragraf yang anak hilang ya kasihan ini ke mana hubungannya dan seterusnya. Jadi harus ada kata sambung, ada kata apa kata penghubung dan sebagainya. Narasikan tulisan semaksimal mungkin. Jangan tergoda, jangan pernah tergoda untuk mengambil kutipan atau memperasekan tulisan orang lain secara terburu-buru. Ini aja dulu. Tulis aja kita punya data, kita punya analisis dan sebagainya. baru nanti dikuatkan oleh tulisan orang lain atau kutipan-kutipan itu. Setelah target penulisan dengan ukuran seluruh substansi terbahas dan target halaman pers tercapai, maka proses penyelarasan dapat dilakukan kembali. Pada fase inilah proses pengutipan dan kaitan erat dapat dilakukan. Kemudian masalah kemudian analisis data komprehensif, penulis sebenarnya memiliki kuasa atas temuan datanya. Kuasa itu tentu didasarkan pada perspektif dan bangunan teori yang digunakan. Oleh karena itu, satu objek penelitian yang sama akan bisa dimaknai berbeda oleh penulis lain. Tergantung pada bangunan teori yang digunakannya. Jadi, jangan khawatir kalau ada misalnya saya, Ibu Maya, Pak Ahmad dan sebagainya melakukan penelitian tentang objek yang sama, belum jadi tulisan yang sama. Karena misalnya pendekatannya berbeda. Ibu Maya menggunakan apa? menggunakan sosiologi, saya menggunakan ekonomi, ee Pak Ahmad misalnya menggunakan politik dan sebagainya. Walaupun objek matter-nya adalah tentang orang lumpur di Gresik misalnya seperti itu. Sepanjang sesuai kaidah ilmu pengetahuan dengan soliditas pada bangunan teori yang digunakan, maka penulis sah-sah saja menganalisis dan menafsirkan data yang ada. Prinsip dasarnya itu kemampuan menganalisis data yang baik adalah mencari keterhubungan antar aspek yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari setiap variabel yang ada dalam penelitiannya. menguatkan proses analisis dan teori referensi atau rujukan lain. Tujuannya adalah temuan data yang ada akan terhubung secara universalitas ilmu pengetahuan. Jika teori atas masalah yang diangkat belum ada atau belum ditemukan setelah kita membaca banyak buku secara maksimal, jangan kemudian baru membaca dua buku tiba-tiba oh enggak ada teorinya itu enggak boleh. Ketika kita sudah menggali banyak atau kemudian tidak ada, maka penulis diperkenankan menggunakan hukum kias analogi dengan teori yang nyari serupa, tetapi membahas objek material lainnya itu diperbolehkan. Lalu merujuk kepada masalah yang lain, ee dalam tulisan kita bisa mendiskusikan setiap data teman yang ada secara bebas tetapi tetap kembali pada inti substansi masalah yang teliti. Itu adalah judul rumusan masalah tentative outel yang harus selalu diperhatikan dalam penulisan. Penggunaan teori yang tidak berhubungan atau tidak memiliki manfaat mengangat atau mendiskusikan masalah yang ditulis harus dihindarkan. Jangan terjebak pada keterpesonaan teori atau tulisan lain yang membuat kita terpancing mengutipnya tanpa batas. Lebih baik menganalisis secara mendalam atas data yang ditemukan oleh kita. Poin pemajuan ilmu pengetahuan bukan terus mengulangi tulisan orang lain, tetapi kemampuan menghadirkan sesuatu yang baru dari apa yang kita tulis dan apa yang kita temukan. Itu poin pentingnya menurut saya. Dan ketika itu saya selalu munculkan e banyak jurnal kemudian menerima saya dan akhirnya ee saya termasuk apa mencapai sebuah jenjang karir yang relatif lebih cepat. Sebab itulah kesejatian diri seorang penulis akan terlihat jelas pada otentisitas tulisannya. Ketika seorang mengambil kutipan terus dan memenuhi 70% tulisannya dan menyodorkan data hanya 30% ee saja, maka otentitas itu pas dipastikan tidak akan pernah dijumpai. Dan akhirnya apa? Plagiarisme itu sangat dekat dengan orang yang menggunakan 70% tulisannya dari kutipan-kutipan, 30%-nya data dan seterusnya. ee saya ee proses membuat e strategi ee strategi merancang bangun dari data lapangan kemudian ke tulisan seperti ini Bapak Ibu. Pertama adalah penulisan keseluruhan. Ini draf kasar satu bab 1 minggu, satu draf jurnal 1 minggu. Itu target misalnya upayakan data terpilih masuk mengalir ee upayakan data terpilih masuk kemudian mengalirkan narasi sesuai sebahasan. Jangan pernah menoleh dulu kekutipan-kutipan buku dan sebagainya. fokus pada tulisan kita dulu dari data lapangan. Kemudian kedua adalah proses ada jeda 1 minggu lalu proses melakukan penyelarasan tulisan. Pembacaan kembali hubungan antar aspek pada yang sudah kita tulis seminggu sebelumnya. Lalu mulai memasukkan kutipan-kutipan penting. Mulai melakukan analisis mendalam yang diwarnai ikatan dengan teori ini adalah draf halus. Satu bab sama dengan 4 hari, satu draf jurnal diselesaikan selama 4 hari. Lalu jeda 3 hari kemudian mulai proses pengeditan dan pengecekan itu menuju DAMI satu bab DAMI eh 3 hari satu d jurnal 3 hari. Jadi di situ adalah pengadilitan tata bahasa, ketersambungan antar subbahasan, ketersetujuan atas ketertujuan atas item rumusan masalah, penyesuaian gaya selingkung, jurnal, publishing house dan sebagainya. Jadi itu akhirnya menjadi sesuatu yang sempurna. tulisan kita masuk, data kita masuk, ee kaitan erat dengan teori yang lainnya pun bisa selesai dan seterusnya. Sedikit lagi ini latihan menulis dan ikhtiar publikasi. Tolong Bapak Ibu bisa menggunakan ee model latihan seperti ini. Salin tiga kali, anggap aja motong ee opini di dalam Kompas itu yang halaman 4 atau halaman 5. Gunting. Kemudian ee salin saja apa adanya tiga kali selama tiga ee dilakukan selama tiga kali. Kemudian menggubah. itu berarti kata-kata yang misalnya tentang ee sebuah konteks wilayah di Kompas itu adalah tentang Sumatera Barat. Lalu penelitian kita di di Gersik diubah saja. Semua yang berhubungan dengan Sumatera Barat diubah Gersik. Tapi ingat jangan diterbitkan itu masih plagias. Lalu baru mulai proses menarasikan secara bebas baru kita bisa ajukan itu bisa ee main idenya hampir sama tetapi kemudian tulisan datanya sudah berubah dan seterusnya. Salah satu bentuk keberhasilan dalam menulis adalah dami buku, draf jurnal, rencana naskah, opini ketika mendapatkan review dari pengelola terbitan. Jadi kalau sudah ada review dari terbitan itu eh berarti sudah berhasil nih, sudah ada satu langkah ee ee langkah maju bahwa tulisan kita diterima oleh orang dan seterusnya. Tadi Ibu Prof sudah memberikan paparan mengenai apa beberapa jurnal seperti ini, jurnal-jurnal nasionalnya seperti ini. Jadi jangan yang berhubungan dengan manajemen saja, tetapi jurnal ilmu sosial di berbagai kementerian banyak di apa di perguruan tinggi banyak dan sebagainya. Itu itu hanya tambahan saja dan sebagainya. Saya ringkasan singkat. Kemudian kalau orang selalu bilang bahwa menulis itu adalah bakat, tetapi yang saya alami saya menulis bukan bakat. tidak ada bakat karena di dalam lingkungan keluarga tidak memiliki bakat untuk menulis. Tetapi saya kemudian yakin bahwa ilmu pengetahuan bisa menaikkan derajat para ilmuwan, kewajiban studi dan pencam karir. Maka ikhtiar menulis yang baik, benar, sistematif, dan komprehensif terus saya lakukan dengan latihan-latihan terus yang saya lakukan tadi. Komitmen dengan niatan dan kemauan keras adalah prasyarat utama bahwa menulis itu mudah. Melatih dan menjadi diri dalam menulis adalah membentuk kesejatian diri kita sebagai ilmuwan berkarakter dan berkemajuan. Saya kira itu Bapak Ibu ee apa yang saya antarkan. Semoga bisa menjadi renungan Bapak Ibu di dalam memperbaiki dan meningkatkan kapasitas diri untuk kemampuan melakukan penelitian dan penulisan. Mohon dimaafkan kalau ada kata salah. Ee terima kasih atas perhatiannya. Akhir kalam wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya kembalikan keamuh. Bapak, Ibu sekalian, para peserta webinar, saya pikir kita harus memberikan applause yang meriah untuk kedua narasumber kita. Luar biasa kedua narasumber kita dan kita bisa menggali banyak hal. Sebagai moderator saya tidak menyimpulkan, hanya mencoba mengambil hikmah sedikit supaya kita mendapat gambaran yang lebih utuh. Ada tujuh hal yang barangkali berharga untuk kita cermati dan kita ambil hikmahnya. Yang pertama berpikirnya harus extraordinary, tidak bisa berpikir biasa-biasa. Yang kedua, menjadi penting untuk menuliskan state of the art-nya. Yang ketiga, novelty itu menjadi kata mutlak yang harus dihasilkan. Yang keempat, desain penelitian juga harus menjadi tegas. Yang kelima, fokusnya benar. Dan keenam, nanti tidak hanya berpikir tentang sebuah ee data analisis, tapi juga teorinya. Dan yang ketujuh, tidak hanya cukup berpikir seperti halnya kita yang ada di kelas-kelas bawah, kelas awal namanya apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana atau ditambahkan dengan 5C ada konten ee konteks, konstrak, komparasi, dan korelasi tetapi juga harus punya tito. Ada tujuannya, ada targetnya, ada strateginya, dan pasti ada output-nya. Nah, untuk itu semua sekali lagi saya mohon applause untuk kedua narasumber hebat kita, Bapak, Ibu. Oke, luar biasa kita mendapat pencerahan dan ini ada beberapa penanya, tetapi saya ingin mendapat dulu yang direct yang barangkali dengan raise hand ee satu atau dua orang, nanti segera itu saya bacakan dari Zoom dan dari YouTube. Teman-teman yang dari ee direct Zoom yang bisa kita tatap di layar, silakan raise hand satu dua orang supaya interaksi kita lebih bagus. Mangga ada ee silakan raise hand angkat tangan Bapak Ibu ada belum ya? Kalau belum mungkin kita butuh waktu sebentar saya bacakan dari bawah untuk Prof. Ali dari Aceng Aceng Lukman ISBI Bandung. Pertanyaannya kepada Prof. Ali. masalah penelitian seperti apa yang menarik agar mendapatkan bantuan dana dari berbagai sumber seperti yang tadi disampaikan oleh Prof. Ali, Prof. Ali disilakan dulu langsung menjawab. Baik, terima kasih ee Pak Aceng. Jadi masalah penelitian yang baik itu apa? Itu adalah pertama tentu yang berhubungan dengan keadaan yang aktual yang sekarang sedang terjadi. Itu satu. Kemudian kedua, kita bisa merancang bangun atau menawarkan sesuatu yang sifatnya menjadi solusi bangsa, menjadi solusi dunia dan sebagainya. Hal yang paling penting, perhatikan misalnya eh indikator-indikator East digis. Jadi kita eh perhatikan digis, kemudian lihat lokal dan sebagainya. Oleh karena itu, saya selalu mendorong agar Bapak, Ibu melakukan apa yang disebut dengan team think globally, locally, ecologically. berpikir global, ee bertindak lokal, dan ramah lingkungan itu. Karena apa? Karena kita akan melihat situasi itu menjadi bagian penting di dalam persoalan-persoalan ee apa isu-isu internasional, isu aktual dan sebagainya. Saya kira itu kalau masalah kemudian ke bidang-bidang studinya apa ya tinggal disesuaikan aja dengan Bapak Ibu. Misalnya responnya LPDP, ada pemajuan kebudayaan. Apa nih aspek apa yang paling bagus? Ada yang berhubungan dengan tata kelola apa nih aspek apa? berhubungan dengan apa energi apa dan seterusnya itu monggo ee saya kira Bapak Ibu punya ide-ide cemerlang untuk itulah. Baik, begitu Pak Moderator. Terima kasih Prof. Ali. Beralih ke Ibu Prof. Sarmini dulu. Iya. Dari Palupi DKPP Kabupaten Jombang. Saya merupakan perencana ahli muda hasil penyetaraan. Terus terang saya masih belum memahami terkait butter kegiatan di mana pada unsur perencanaan terdapat output berupa laporan dan dokumen. Yang ingin saya tanyakan kepada Prof. Sarm ini adalah secara aturan penulisan apakah ada perbedaan antara laporan dan dokumen dan apakah format keduanya bisa sama atau ada perbedaan? Mohon penjelasan. Silakan Prof. Nggih. Terima kasih. Ee Pak Lutfi dari Jombang yang saya hormati. Memang kalau jabatan fungsional ee dari ee penyetaraan itu kan dampak implementasi dari Permenpan RB nomor 17 tahun 2021. Oke, ini asalnya memang dari teman-teman dari jabatan administrasi dan tampaknya ini menjadi sesuatu yang baru ya, betul-betul baru. Ee saya berpesan terkait dengan ini Bapak Ibu yang memiliki jabatan fungsional dari hasil penyetaraan monggo langsung membuka Permen yang langsung mengatur panjenengan semua sesuai dengan bidangnya masing-masing. Terkait dengan Permen tersebut akan dijelaskan secara rinci terkait dengan tugas pokok. Jadi tugas pokok dari masing-masing jabatan fungsional dari penyetaraan itu. Lalu kemudian di dalam tugas pokok itu ee di situ juga dijelaskan terkait dengan apa saja unsur-unsur apa saja yang akan digunakan sebagai ee angka kredit. Nah, di situ memang ada laporan dan dokumen. Nah, di situ di dalam Permen itu meminta memang ada pedoman di dalam penyusunan laporan dan pedoman penyusunan dokumen. Jadi, artinya adalah ketika kita menyusun laporan mengikuti rambu-rambu dari ee sistematika dari laporan itu. Jadi, rambut-rambut secara umum ee tadi seperti yang kita bahas yaitu terkait dengan adanya pendahuluan, adanya kajian pustaka, adanya metode penelitian, adanya hasil penelitian. Kalau itu dianggap sebagai laporan laporan dari ee penelitian. Tetapi terkait dengan dokumen itu seringki ini memang bagian dari hasil penelitian itu menyebutnya dokumen. Jadi misalkan ee di Universitas Negeri Surabaya juga lagi getol terkait dengan ee menata jabatan fungsional itu kita melahirkan dokumennumen terkait dengan uraian jabatan, dokumen terkait dengan pengembangan karir. Jadi ketika kita ngomong misalkan ke apa pengadaan barang dan jasa, di situ jabatan fungsinya demikian banyak. Maka di situ kita merinci tugas pokoknya apa. Lalu kemudian terkait dengan pengembangan profesinya, kalau diklat diklatnya tentang apa, berapa lama dan seterusnya itu berarti kita melahirkan dokumen-dokumen dari komponen-komponen itu. Nah, dari dokumen itu sesungguhnya juga punya sistematika. Nah, ini sistematika menyesuaikan dengan lingkup dari aturan masing-masing yang ada di jabatan jurnal ini. Itu mungkin ee Pak Joni untuk sementara yang kita bisa berikan ee kepada Pak Lutfi. Jadi mudah-mudahan ee apa namanya? Segera mempelajari Permenpan RB yang mengatur tentang jabatan fungsionalnya beliau. Oke, terima kasih. Baik, Bu Sarmini ee saya bisa tampilkan kembali mungkin bagi Bu Palupi dari DKPP Kabupaten Jombang. Mohon maaf Prof. Sarmini ini seorang ibu. Apakah Oh ya, Pak Lupih, mohon maaf. Mohon maaf Ibu Palupi. Iara online. Oke. Sembari mengingatkan teman-teman peserta bahwa peserta webinar seri 14 ini bisa mengisi presensi melalui link di bawah. Jadi silakan dicek dan langsung bisa mengisi saat ini. Baik, karena Bu Palupi mungkin tidak hadir, saya tuntaskan dulu untuk Prof. Sarmini dua lagi. Yang kedua, Prof. dari Prima Utama BPSDM Jawa Timur. Yang terhormat Ibu Sarmini, izin bertanya terkait dengan konteks novelt atau keterbaruan dalam menulis karya ilmiah. Apakah harus benar-benar sebuah unsur baru atau bisa dari modifikasi atau temuan penelitian sebelumnya? Terima kasih. Monggo, Ibu. Oke, terima kasih ee Pak ee Bapak terkait dengan novelty. Nggih, terima kasih pertanyaannya menarik sekali dan ini sering sekali ditanyakan di berbagai kesempatan ya terkait dengan novelty. Sesuatu unsur yang baru. Jadi kebaruan itu di dalam penelitian itu memang harus muncul tapi ee besaran kebaruan, kebesaran kebaruan itu tergantung kepada rumusan masalah yang kita bangun. ya ketika kita melihat atau bermula dari membaca realita itu berbeda. Realita yang kita baca tadi disampaikan oleh Prof. ee Ali bahwa ketika kita melihat objek yang sama, melihat realita yang sama, tetapi kita mendefinisikan secara berbeda, maka hasilnya berbeda. Jadi hasilnya di dalam penelitian berbeda. Maka kebaruan sesungguhnya dimulai ketika kita membaca realita itu. Sedangkan peneliti-peneliti sebelumnya, peneliti-peneliti sebelumnya kita menyebutnya sebagai pustaka pijakan primer. sehingga ketika orang lain dalam hal yang sama menghasilkan hal tersebut, gitu. Kalau saya menganalogikan sederhana, misalkan begini, saya pengin membuka warung soto, kebetulan saya berada di Ketintang. Maka saya akan menikmati dulu, akan mencermati dulu pengemasannya berbagai soto yang ada di sekitar ketimp. Setelah itu saya akan mendesain soto saya akan mengemas tampilannya, packaging-nya maupun rasanya. ini yang kemudian yang disebut sebagai pustaka primer. Nanti kebaruannya bisa bentuknya besar. Jadi besar itu artinya kalau orang packingnya pakai mangkok, saya mungkin tidak ee tidak menggunakan mangkok dengan argumentasi tertentu. Mungkin rasanya kalau orang cenderung menggunakan kecap manis, saya akan tidak menggunakan kecap manis. Maka kebaruannya terletak pada perbedaan dengan penelitian sebelumnya itu. Nah, ini ee sekali lagi ee tadi disampaikan oleh Prof. awali juga bahwa meneliti itu sebuah seni ya. Ketika kita meneliti secara detail, secara utuh, secara ee apa? Ada hati nurani itu kita juga bisa masuk maka data kita juga bagus. Apalagi kalau di dalam penelitian kualitatif ya. Jadi kualitas data sangat tergantung kepada orang yang mencari data. Jadi artinya kebaruan-kebaruan itu muncul ketika kita berada di lapangan, ketika kita mendekati dengan teori yang berbeda kita ketika kita kemudian menggunakan beda. Oke, terima kasih mungkin itu. Baik, sebelum beralih ke Prof. Ali, saya selesaikan satu putaran di sesi satu ini. Untuk Prof. Sarmini ini bertanya untuk penelitian dengan jumlah responden atau partisipan 40 orang, apakah lebih baik menggunakan kualitatif atau kuantitatif, Prof? disilakan. Oke. Baik. Pertanyaan yang menarik sekali ee seringki kemudian orang melihat kuantitatif dan kualitatif itu dari jumlah responden ya. Bapak, Ibu yang saya hormati. Kualitatif dan kuantitatif tidak dilihat dari jumlah responden sesungguhnya, tetapi problem yang ingin kita selesaikan datanya itu bentuknya apa. Jadi kalau di dalam ee penjelasannya kemudian begini, kapan saya akan menggunakan penelitian kualitatif dan kapan saya akan menggunakan penelitian kuantitatif. Nah, saya kembali penjelasannya ketika kita membaca fenomena sosial budaya. Jadi, ee kita selalu melihatnya dari realita. sesuatu yang dianggap ada gitu ya. Karena di dalam lingkup jabatan fungsional penjenengan pun ketika kita mencermati tugas dan pokok saya berkeyakinan belum semuanya khatam, belum semuanya memaknai dengan betul ee apa ee tugas dan pokok dari masing-masing jabatan fungsional. Misalkan kita melihat ee pengelola BPC ahli muda, demikian banyak. Demikian banyak kita menganggap ada poin di situ yang menjadi masalah. Jadi membaca realitanya dilihat dari uraian pokok dari tugas tadi. Lalu kemudian di situ kita setelah kita ee melihat sebagai realita, kita akan mendefinisikan sebagai fakta. Realita. Definisi dari realita itu adalah fakta. Setelah itu kemudian kita akan mencari data. Data itu apa? Fakta yang terpilih. Terpilih kenapa? Karena sesuai dengan rumusan masalah kita. Maka ketika kita mendefinisikan data itu sifatnya adalah kualitas gitu ya, kata-kata, maka itulah kemudian kita kualitatif. Tetapi ketika kita bentuknya data itu angka kuantitas, maka itu kemudian kuantitatif. Nah, di sini kemudian kita akan masuk di dalam paradigma kuantitatif. Tadi sudah dibahas oleh Prof. Ali. bahwa di dalam penelitian kuantitatif pun itu muncul berbagai desain. Apakah kita akan eksperimen true eksperimen, apakah kita akan kuasi? Nah, ketika 40 cocok atau tidak. Jadi, ini yang kemudian selalu ee kita mendiskusikan masing-masing ee karakteristik dari desain penelitian yang kita pilih memiliki dampaknya, memiliki dampak atau memiliki konsekuensi. Sehingga kalau kita melakukan penelitian, kita harus cek lagi rumusan masalah kita yang sering sekali saya menyebut sebagai jantung di dalam penelitian itu dari rumusan masalah yang kita bangun. Di situ kita akan menentukan teorinya yang di situ kita akan menggunakan menentukan desain yang kita pilih. Dari desain itu kita akan menggunakan siapa subjeknya, bagaimana caranya mengambil subjek, teknik yang kita gunakan apa, dan seterusnya. Jadi mungkin itu jawabannya. Jadi tidak tidak ee begitu mudah menentukan sebaiknya kuantitatif atau kualitatif, tetapi kita runtut lagi di ee ke belakang terkait dengan rumusan masalah yang dibangun. Ng terima kasih Pak Joni. Oke. Baik, kita beri app dulu Bapak, Ibu, teman-teman untuk semuanya supaya semangat kita tetap positif untuk menghadiri seksi ini dengan semangat tinggi. Saya berpindah dulu. Tapi sebelum pindah barangkali sudah ada perkembangan dari teman-teman yang directly di Zoom, ada di layar bisa raise hand yang mau menanyakan sesuatu Bapak Ibu sebelum saya bacakan dari yang tertangkap di yang tadi ada yang rais hand silakan. Sudah Pak Bapak. Iya silakan Bapak. Oke. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ee Profesor Sarini dan Prof. Ali. Alhamdulillah materinya luar biasa ya. Alhamdulillah dari sini saya dapat menangkap bahwasanya strategi untuk publikasi dangkar ilmiah adalah merupakan satu persyarat untuk kenaikan pangkat dan ini adalah penting sekali. Yang saya tanyakan ada dua. Yang pertama kepada Prof. Sarmini, yang kedua Prof. Ali. Yang pertama kepada Profini, yang pertama untuk karya inovatif tadi ada dua artikel sama buku. yang ujung-ujungnya nanti ada jurnal sama ee yaitu referensi buku dicetak nasional dan internasional. Apakah karya kita artikel atau buku itu misalnya dicetak untuk lingkungan sendiri mungkin kabupaten dikatannya atau provinsi apakah sudah diakui sebagai karya inovatif? Itu yang pertama. Yang kedua untuk Profesor Ali dari teknik ee penulisan karya ilmiah kutipan. Apakah sebaiknya kutipan itu secara tidak langsung? Artinya ee berarti banyak referensi yang kita gunakan cuma menggunakan bahasa kita. Apakah itu hal yang baik sehingga menghindari plagiasi? Terima kasih Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Prof. Sarmini disilakan dulu kemudian menyusul Prof. Ali. Nggih. Ee terima kasih Bapak ee pertanyaannya bagus sekali. ee apakah publikasi di ee di jurnal di tingkat kabupaten sudah dianggap sebagai karya inovatif? Nah, sebenarnya ee kategori karya inovatif tidak dilihat dari di mana mempublikasikan, tetapi dilihat dari konten substansi. Nah, publikasi itu kan pasar nggih. Istilahnya ee artikel ini dipasarkan ke mana gitu ya, dipasarkan ke mana di kalau ee ketika kita memiliki jurnal di tingkat kabupaten dan jurnal itu kemudian ee apa namanya? Belum terakreditasi. Jadi memang tidak semuanya jurnal terakreditasi. Ee Prof. Ali tadi menyarankan kalau kita ee sebagai pejabat ee jabatan fungsional itu sudah mainnya di Sinta 1, Sinta 2 gitu ya. Tapi ketika ketika kita belum bisa meraih di sana yang penting kan ada gitu. Yang penting ada dulu ee sebagai latihan nggih. Sebagai latihan ada dulu. Kalau di kabupaten sudah ada jurnal dan kemudian kita dipublikasikan, kita tetap itu adalah karya inpatif. Tetapi nanti di dalam penghitungan angka kredit itu mungkin harganya atau angkanya berbeda ketika di jurnal nasional atau jurnal internasional gitu, Bapak. Ng. Karena Bapak, Ibu yang saya hormati, ini untuk angka kredit karya inovatif itu tinggi. Jadi ketika kita cek ee komponennya untuk ee angka kredit tugas pokok itu 0,0 koma gitu ya. Kalau di inovatif tinggi. Jadi mohon dengan sangat ee teman-teman kemudian termotivasi untuk menyusun agar segera memenuhi angka kredit. Nggih. Terima kasih. Baik, terima kasih Prof. Prof. Ali disilakan. Baik. Ee terima kasih e pertanyaan yang bagus. ee masalah kutipan kalau ia bersifat isinya adalah konsep, pengertian, kemudian variabel-variabel, itu lebih baik kutipan langsung, Pak. Kutipan langsung. Tapi kalau sekadar menjadi penguat, penegas dan sebagainya itu menggunakan kutipan tidak langsung. Jadi itu pakai praprasenya kita saja. Menurut saya itu yang paling poin penting. Begitu, Pak Moderator. Baik, terima kasih. Silakan teman-teman yang direct dari layar bisa raise hand. Ini sudah ada pengawalan dari beliau. Silakan yang lain langsung saja raise hand dan kepada siapa ditujukan pertanyaannya. Monggo. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Iya, saya Ria Amalia dari Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur. Saya ingin bertanya kepada Prof. Sarmini dan Prof. Ali. ini dua narasumber yang luar biasa. Tentunya [tertawa] saya sebagai ee generasi muda jadi lebih harus semangat lagi gitu ya karena narasumber-narasumbernya luar biasa. Ee saat ini izin Prof. ee saya saat ini ee fungsional pranata humas ahli muda begitu. Tapi ketika ee mendengarkan secara langsung materi-materi yang disampaikan ini kita masih jauh gitu ya, belum pernah melakukan risetnya sedalam itu gitu ya. Karena kalau di fungsional pranata humas sendiri kita acuannya pada Permenpan 6 tahun 2014 dan kita selalu untuk SKP dan DUPAK memilih ee jalur zona nyaman begitu ya. Memilih butir kegiatan yang ee membuat karya tulis ee berupa makalah yang tidak dipublikasikan dan merupakan gagasan sendiri. Itu lebih zona nyaman kita gitu. Dan itu ini ee informasi yang disampaikan sangat luar biasa. Yang ingin saya tanyakan begitu tadi Prof. Sarmini juga ee menyampaikan terkait dengan paradigma riset ee ada positivisme, kemudian ada interpretatif dan kritis. Yang ingin saya tanyakan apakah untuk ketiga paradigma riset tersebut ini digunakan untuk penelitian kualitatif dan kuantitatif ataukah ada pemilihannya semisal ee positivisme itu digunakan untuk ee paradigma riset kuantitatif atau kualitatif. Nah, itu seperti apa, Prof? Mohon arahannya karena saya masih pemula banget gitu. Ee kemudian yang kedua tadi Prof. Sarmini juga menyampaikan terkait dengan ee strategi publikasi karya tulis ilmiah yang ingin saya tanyakan begitu ya. Seperti apakah ee kategori karya tulis ilmiah yang layak untuk dipublikasikan seperti yang Prof. Sarmini sampaikan. Kemudian yang kedua saya juga ingin ee menyampaikan tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Ali ini luar biasa gitu ya dari Brin ee tadi juga menyampaikan terkait karya ilmiah tulisan yang baik, bagus, dan benar. Nah, kategorinya seperti apa ini Prof. Ali untuk bisa ee masuk pada kategori KTI yang ee tulisan baik, bagus, dan benar. Apakah ini hanya ee terkait dengan konten tulisannya saja ataukah ee karya tulis ilmiahnya ini sudah sesuai dengan struktur penulisan yang sesuai? Itu saja pertanyaan dari saya. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Prof. Sarmini dulu disilakan. Oke, terima kasih Pak Joni. Ee Mbak Ria Amalia yang cantik pertanyaannya luar biasa. Jadi Bapak Ibu yang saya hormati tampaknya ini ee semangat bertanyanya sesuai dengan usia ya. Mbak Ria Amelia ini pertanyaannya keren juga. Jadi sesuai dengan usia ini Mbak Juni. Ee terkait dengan penggunaan paradigma. Jadi paradigma di dalam ee di dalam ilmu sosial, paradigma di dalam pendidikan itu kan sebenarnya kan berawal dari keilmuan ya. Jadi paradigma positivisme, paradigma interpretif. Ketika kita menggunakan paradigma ee kritis, ada paradigma fenomenologi, orang menyebut paradigma struktural dan poststruktural dan seterusnya. Ini sesungguhnya bisa kita gunakan dalam kedua penelitian itu. Jadi bisa kualitatif, pendekatan kualitatif, bisa menggunakan pendekatan kuantitatif gitu ya. Tetapi penggunaan itu sangat tergantung pada rumusan masalah yang kita bangun. Nah, jika kita ee terkait dengan ee positivistik gitu, maka aliran maupun teori-teorinya kan teori-teori positivistik. Jadi, kalau kita berdiskusi tentang paradigma tampaknya agak lama gitu ya, agak lama. Jadi, misalkan ketika paradigma positivistik asumsinya kan memahami fenomena sosial budaya sesuai dengan fenomena alam. Jadi misalkan begini, orang itu kalau sudah diberi sosialisasi pasti nurut ya kan gitu ya. Jadi orang itu kalau sudah dijelaskan pasti jelas gitu misalkan contohnya seperti itu. Tetapi kan tidak demikian halnya terjadi di lapangan. Tidak seperti itu. Oleh karena itu, paradigma positivistik terkait dengan pemahaman tentang perilaku manusia, tentang karakter manusia kadang-kadang tidak sampai. Jadi tidak bisa menggali itu. Kemudian orang ketika meneliti tentang karakter gitu, orang tidak menggunakan paradigma positivistik. Bukan berarti jelek paradigma itu, tidak. Tetapi tidak sesuai. Oleh karena itu, kesesuaian pemilihan paradigma itu menjadi penting sekali ya. Menjadi penting sekali karena setiap paradigma juga punya punya aliran, punya teori. Teori berarti punya penganut kan begitu ya. kita kemudian berada di aliran yang mana yang tidak boleh adalah atau kurang kurang kurang bagus adalah menggunakan di dalam satu artikel atau satu penelitian dua paradigma itu itu menjadi repot sekali ketika kita mencari sitasi jurnal karena ketika kita menggunakan positivistik maka referensinya yang lain juga positivistik jadi kita tidak boleh kemudian menggunakan positivistik tapi bacaan referensi untuk publikasi kita adalah menggunakan paradigma interpretif gitu ya, karena memang itu aliran gitu. Lalu pertanyaan yang kedua menarik sekali ini bagaimana caranya kita ee strategi publikasi ya ee Bapak Ibu yang saya hormati dan Mbak Ria Amelia yang saya sayangi. Ee tampaknya ee publikasi itu kan membidik ya saya kira-kira akan membidik ke mana? Tadi disampaikan Prof. Ali ketika kita ke ke yang sifatnya global, jurnal-jurnal internasional, jurnal internasional bereputasi, maka sebelum kita memasukkan artikel kita ke jurnal tersebut, maka kita wajib hukumnya membaca tulisan-tulisan dari jurnal yang ingin kita tuju. Ini sekaligus tadi menjawab pertanyaan di kolom chat yang mengatakan bahwa contohnya kayak apa sih artikel yang baik? Jadi, Bapak, Ibu bisa mencari langsung ke jurnal-jurnal yang terkait dengan jabatan fungsional penjenengan. Nah, ketika kita sudah men-download atau membaca artikel yang dimuat oleh jurnal itu, direnungkan dengan baik, disandingkan dengan tulisan kita, kira-kira berani enggak ya saya ke jurnal internasional ee Q3 misalkan. Wah, kalau Q3-nya hanya seperti ini, saya akan men-submit ke Q2. Nah, kita kita ambil lagi jurnal yang kita tuju yang Q2 itu terkait dengan komunikasi itu misalkan di mana, jurnal apa yang pas, kita baca dari salah satu jurnal, dua jurnal atau tiga jurnal yang dimuat kemudian kita sesuaikan dengan tulisan kita gitu ya. Ohoh tulisan kita kayaknya cocoklah, teorinya sudah oke, datanya juga lengkap, rigid, urut, runtut, logis, sistematis. Oleh karena itu saya masukkan ke sini. Nah, selebihnya tentu faktor nasib dan doa kan gitu ya. Kadang jurnal kita bagus ternyata kemudian kereceh kan gitu kan. Kan gitu ya Profali ya. Iya. Kadang itu kurang bagus kita enggak PD men-submit eh ternyata diresponeview begitu. Jadi apapun terakhirnya adalah itu ee keberuntungan dan doa. Terima kasih. Mungkin itu. Baik Prof. Lanjut Prof. Ali. Disilakan Prof. Baik, terima kasih. Ee kriteria sebuah karya tulis ilmiah yang baik dan benar itu tentu ada dua ya, Mbak dalam dua kluster. Pertama adalah persoalan substansinya dan yang kedua adalah soal teknisnya. Soal substansi berarti berhubungan dengan ee soliditas dan validitas data, kemudian proses analisis datanya yang sistematis, kemudian komprehensif dan sebagainya. Itu ada tekniknya sendiri. tadi sudah saya sedikit banyak kami berdua sudah memberikan paparan mengenai itu. Lalu yang berhubungan dengan teknis itu pada umumnya adalah berhubungan dengan penarasian. Keterampilan penarasian ini yang kemudian kekayaan kosakatanya, kemudian ee tata bahasanya, rujukan-rujukan yang digunakan dan seterusnya, kepatuhan terhadap gaya selingkung dan seterusnya. Nah, dua komponen itu pada umumnya kalau redaktur jurnalnya ee apa benar-benar ketat itu harus komposisinya benar sama. Tapi kalau misalnya ada redaktor jual yang penting substansinya saja dulu deh baru nanti tata bahasanya menyusul. itu sangat jarang memang saya sangat jarang menemukan karena biasanya dua-duanya itu harus harus berjalan bersama karena substansi yang baik akan terlihat dari ee paparan yang bagus itu. Itu kan. Nah, saran saya begini Bapak Ibu semuanya. Kalau Bapak, Ibu semuanya sudah memiliki karya tulis ilmiah yang dianggap memenuhi kriteria substansi dan narasi yang bagus, cobalah percaya diri saja, ajukan saja ke jurnal-jurnal yang lain. Ajukan. Kemudian prinsipnya adalah manfaatkan redaktur jurnal atau reviewer jurnal sebagai pembaca tulisan kita. Kan enggak bayar kita kepada mereka kan enggak bayar. Jadi manfaatkan mereka nanti. Kalau misalnya jurnal itu ditolak ee KTI kita ditolak, berarti kita tahu apa yang sisi negatifnya dari tulisan kita, apa sisi kurangnya dari kita dan sebagainya. Syukur alhamdulillah kalau keterima begitu. Yang penting kita harus punya tulisan. Jangan bercita-cita dulu tapi enggak punya tulisan-tulisan. Sama aja bohong. Itu itu ya, Bu ya. Terima kasih. Saya kembalikan ke Pak Moderator. Baik, Profali. Satu dua teman lagi yang directly view di layar. Silakan. Setelah Pak moderator saya mohon maaf jam 11.20-an ya. Saya soalnya ada ketemu dengan Pak Kepala Branden. Oh, baik. Satu lagi barangkali dari layar ee untuk Prof. Ali terutama. Kalau tidak saya beralih, Prof. Apakah berkenan satu rangkuman pertanyaan dari teman-teman, Prof. Ngih. Monggo. Oke. Baik, saya rangkum dulu untuk Prof. Ali, kemudian nanti kita langsung ke Prof. Sarmini. Yang pertama untuk Prof. Ali dari Dimas SDN 3 Talk Kandang. Yang pertama, apakah penelitian tindakan kelas atau PTK wajib diseminarkan? Itu yang pertama. Yang kedua dari Dinar Dnaker Gersik. Apakah ada semacam wadah yang digunakan untuk publikasi karya ilmiah khusus ASN? Itu yang kedua, Prof. Yang ketiga, biar kami rangkum, mohon maaf, saat ini banyak sekali tawaran dari pihak ketiga untuk mengkonversi sebuah tesis atau skripsi menjadi sebuah karya ilmiah agar diperhitungkan AK-nya, angka kreditnya. Apakah ini tidak menyalah? Mohon penjelasannya. Silakan, Prof. Baik, terima kasih. Ee penelitian tindakan kelas ya, apakah wajib diseminarkan atau tidak? Sebenarnya semua proses itu kan ee wajib ya ee apa ya sangat dianjurkan. Bukan diwajibkan tapi sangat dianjurkan. Nah, hal yang paling menarik adalah kemudian proses diseminasi ilmu pengetahuan itu adalah lewat ee jurnal-jurnal itu. Jadi bagaimanapun kemudian diusahakanlah Bapak, Ibu kalau memang memiliki apa penelitian tindakan kelas bisa kemudian diajukan ke sana ee diajukan ke jurnal-jurnal dan seterusnya. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, masalah jurnal khusus ASN atau konsorsium itu saya melihat tidak pernah ada di dalam ee di dalam ee tradisi ilmu pengetahuan, pengkhususan begitu semuanya bersifat terbuka. Jadi siapapun ee ee akademisi, ilmuwan yang memiliki tulisan atau siapapun yang memiliki tulisan boleh mengajukan. Jadi tidak ada pengkhususan ini harus ASN dan sebagainya. tidak ada. Karena ilmu pengetahuan itu selalu prinsipnya adalah bersifat terbuka. Makanya kemudian di setiap jurnal yang penting kan nama, kemudian alamat, email. Kadang emang ada nama lembaga kalau memang sudah bekerja. Kalau tidak bekerja ya enggak apa-apa. Itu kan nama sama alamat email saja. Lalu yang ketiga ee pihak ketiga ini kayaknya kurang etis ya, Pak, Bu. ini di BRIN membayar terbitan saja itu sudah tidak diperkenankan. Apalagi kemudian menyewa pihak ketiga untuk mengkonversi karya tulis kita menjadi sebuah jurnal atau tulisan-tulisan lain. Itu itu sebenarnya tanggung jawab kita lah. Tanggung jawab kita yang menulis bukan oleh orang lain. Kecuali menerjemahkan. Ya, kalau menerjemahkan masih diperkenankan. Jadi misalnya saya penuh dengan keterbatasan bahasa Inggris, kemudian saya punya versi bahasa Indonesia, lalu saya minta kepada Ibu Ria, "Bu Ria tolong diterjemahkan ke dalam versi bahasa Inggris." Itu diperkenankan. Tapi kalau untuk mengkonversi menjadi sebuah jurnal dan sebagainya itu tanda kutip itu sudah menjadi bagian dari pelanggaran etika menurut saya dan diakui di Brin juga itu adalah sebagian dari pelanggaran etika akademik. Begitu Pak Joni. Saya kembalikan ke Terima kasih Prof. Ali dan dengan segala hormat kalau Prof. kali berkenan mau live dari webinar dipersilakan. Kita beri applause dulu teman-teman untuk beliau. Ngih. Terima kasih Bapak Ibu semuanya khususnya kepada ee Prof. Sarmini salam kenal semoga selalu sehat. ee kepada moderator ee Pak Joni terima kasih juga atas ee panduan tadi. Ee mohon izin untuk meninggalkan dari ruangan ini karena ada pertemuan dengan Kepala Bring. Terima kasih, sehat-sehat selalu. Akhir kalam wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam. Salam kenal kembali nggih Prof Ali. Nggih, Bu. kemarin di lapangan kontek-kontekan nggih nggih nggih. Mari mari ngih Profini masih berkenan satu putaran terakhir ee 7 menit nggih, Pak karena saya juga harus segera apa menguji. Baik, siap ee Prof. Saya rangkum saja pelan-pelan. Ee ini tinggal empat pertanyaan terakhir Prof. Sarmini yang pertama dari Bapak Diono, Satpol PP Provinsi Jatim. Izin, Prof. Barangkali ada kiat khusus untuk menghindari transmisi keruutan berpikir ke dalam tulisan. Karena sebagai penulis pemula biasanya terbawa oleh suasana di sekitar saat ingin menuangkan ide gagasan ke dalam tulisan. Ini yang pertama, Prof. dari Pak Diono Satpol PP tentang upaya untuk menghindari transmisi keruutan berpikir. Yang kedua, Prof. untuk kita rangkum karena Prof juga waktunya terbatas. [tertawa] Yang kedua untuk dari Pak Setyo Puji, bagaimana agar karya kita bisa dimuat dalam jurnal nasional? Bagaimana supaya karya kita dimuat dalam jurnal nasional? Yang kedua, Prof. Yang ketiga dari Bu Nurul Handayani. Apakah tulisan yang harus kita sampaikan harus sesuai dengan jabatan fungsional yang kita emban atau bisa di luar japfung untuk mendapatkan angka kredit? Ini dari Bu Nurul Handayani. Dan yang terakhir dari Pak H. Nugraha, bagaimana sistem penganggaran dalam membuat tulisan? Oke, ini identik dengan yang dibuat dalam jurnal eh dalam YouTube, Prof. Jadi, empat penanya terakhir. Monggo disilakan, Prof. Sarmini. Nggih. Nggih. Baik, terima kasih, Pak Joni. Pertanyaan pertama dari Pak Gion ini sebenarnya bukan dari beliaunya saja. Ee Bapak yang saya hormati ee semua orang punya keruwetan dari termasuk diri saya pribadi ya. Jadi memang menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. ketika kita memang dihadapkan dari berbagai pekerjaan, kecuali kalau kita memang tugasnya adalah sebagai peneliti dan penulis, maka penulis itu menjadi ee habit yang sudah ee sangat lancar. Tetapi ketika kita dihadapkan tugas administrasi, dihadapkan tugas di lapangan dan seterusnya, maka menulis itu menjadi satu problema tersendiri. Maka semua itu bisa diselesaikan dengan ini. Yang pertama ee kalau saya menyebut reading, jadi membaca. Yang kedua membaca lagi, yang ketiga adalah membaca. Ketika kita memiliki kebiasaan membaca itu menjadi bagian dari tradisi, maka kita kemudian akan gampang melakukan introspeksi. dari semua dokumen yang saya baca kok tidak ada nama saya ya yang dari bacaan ini. Dari situ kemudian biasanya muncul muncul muncul keinginan. Nah, keinginan itu ingin saja tidak cukup. Jadi ketika kita mau menulis, jadi kita memang mengosongkan waktunya itu betul-betul ya. Kalau saya misalkan di akhir minggu ee hari Sabtu atau Minggu saya akan menulis, maka 3 hari sebelumnya itu saya akan posisi reading. Jadi membaca collecting semua hal yang akan saya tulis. kemudian baru bisa menginspirasi baru mengalir. Nah, ketika kita mau menulis sebagai pemula ee Bapak Ibu mohon izin berkenan untuk membuat ee kisi-kisi ya, rambu-rambu kira-kira apa ya alinea satu, alinea kedua apa ya, alineia ketiga apa ya, alinea keempat apa ya, kisi-kisi itu terbangun terbangun dari reading-reading sebelumnya itu. Nah, sementara mengalir saja begitu. Kenapa harus membuat kisi-kisi? Kenapa harus membuat kisi-kisi? Ketika Bapak, Ibu memiliki kesibukan lain misalkan tiba-tiba Pak Gono harus mengantarkan istrinya atau menjemput balik lagi ke laptop itu gak hilang gitu ya. Karena kadang-kadang kalau kita tidak memiliki kisi-kisi di depan laptop itu um kalimatnya begini dengan demikian. Oleh karena itu sehingga dia mula air gitu ya kalau bahasa saya ya. Jadi muter-muter saja maka perlu membuat kisi-kisi dan ketika nanti sudah lancar kita semua bisa memulai menulis di mana saja. Tapi yang penting adalah reading reading and reading. Kemudian kita latihan latihan dan latihan gitu. Dan saya yakin kalau semuanya itu dijalankan. Satu lagi butuh komitmen ini ee Pak Joni tampaknya bagi Bapak Ibu yang sudah berkeluarga ee komitmen dengan pasangan ya. Karena menulis itu perlu ekstra konsentrasi sehingga juga perlu didukung oleh pasangannya. Kenapa? Karena jangan sampai idenya mood mau keluar tiba-tiba begini ayo terno ning pasar yuk gitu ya. Ayo antarkan saya ke pasar. Antarkan saya begini. Hilang lagi idenya nanti gitu. Jadi mohon kerja sama dengan dengan ee apa pasangan masing-masing orang-orang yang dicintai di rumah untuk men-support tulisan ini. Kemudian berikutnya ee dari Pak Setyo Puji ya. Dari Pak Seto. Karya yang dibuat Puji Prof. Eh bisa diulang. Yang kedua, karya yang dibuat bagaimana agar karya kita bisa dimuat dalam jurnal nasional, Prof. Oke. Baik. Bagaimana agar karya kita bisa dimuat di jurnal nasional? Bapak, Ibu yang saya hormati, pertama kali adalah yang penting kita memiliki karya. Nah, ketika ee kita memiliki karya, kalau kesendirian itu berat gitu ya. Misalkan saya menulis sendirian kok berat ya. Pertama enggak ada teman berbagi beban maka monggo teman-teman ee bergabung bisa berdua, bisa bertiga. Tentu dengan teman-teman yang klik ya, dengan yang cocok dengan kita. Nah, ketika kita sudah memiliki karya dan kita akan memberikan ee kira-kira cita-citanya ke jurnal nasional yang mana nasional itu ada terakreditasi, yang tidak terakreditasi, maka kemudian kita baca dulu karya-karya itu. Seperti tadi saya sampaikan ya, kalau karya kita ini ee apa? Sitasinya jelas. Kemudian dari sitasi itu 5 tahun terakhirnya jelas. Jadi semuanya adalah baru ee mutakhir gitu ya. Lalu kemudian mengikuti template yang jelas, temanya yang jelas. Temanya sudah cocok dengan ruang lingkup jurnal itu. Paling saya yakin kita akan dimuat. Kalau tidak apes-apesnya kita adalah kita menunggu terbit berikutnya ngantri istilahnya. Jadi Bapak Ibu yang saya hormati, ketika jurnal kita dimuat itu ada dua kemungkinan ya. mungkin betul bagus gitu, memang sangat bagus tulisannya. Tetapi yang kedua mungkin di dalam jurnal itu butuh naskah gitu ya. Tetapi tentu yang kedua faktor keberuntungan ini tidak kita bahas dalam kesempatan hari ini. Jadi kita menulis saja yang bagus gitu. Nulis saja yang bagus. Ee berikutnya dari Bu Nurul ini. Apakah kita menulis harus sesuai dengan jabatan fungsional? Pertanyaannya saya balik. Apakah kita bisa menulis di luar jabatan fungsional? ya atau sehari-hari kita bekerja sesuai dengan tugas dan pokok gitu. Jadi ee uraian tugas di dalam Permen itu banyak sekali, maka muaranya ya ke arah sana ee agar nanti kemudian kita sesuai ketika kita pakai sebagai angka kredit untuk kenaikan pangkat, terutama ketika kita sebagai penulis pertama. Tetapi kalau sebagai penulis kedua, penulis ketiga itu kan kadang-kadang kita diajak teman yang memiliki jafung berbeda. Jadi misalkan saya, saya sudah 4E, saya sebagai guru besar 4E sudah selesai saya. Artinya saya menulisnya kalau sebagai penulis pertama saya harus e sesuai dengan rumpun keilmuan saya. Tetapi sebagai penulis anggota saya bisa nebeng dalam arti ikut dengan penulis-penulis lain yang rumpun keilmuannya masih sama gitu. Karena kan ee saya tidak saya gunakan untuk kenaikan pangkat. Jadi artinya adalah sebagai penulis kedua, penulis ketiga itu seyogianya sesuai dengan rumpun. Tetapi ketika kita tidak cocok dengan jafung, tapi kan ada latihan untuk menulis. Barangkali teman kita yang memiliki jafung itu ee apa namanya bisa berbagi ee apa pembelajaran ya terkait dengan materi-materi yang bisa kita tulis gitu. Eh, berikutnya yang dari Pak Hestu. Pak Joni bisa diulang yang dari Pak Hestu ya. Iya. Saya bacakan Ibu bagaimana sistem penganggaran dalam membuat tulisan. Oke. Oke. Baik. Terkait dengan sisi penganggaran, ketika itu untuk penelitian itu sudah ada aturan mainnya, penggunaannya. Penggunaannya sudah ada aturan mainnya. Misalkan untuk tahap ee prapenelitian orang menyebut ada bahan, ada alat, ada tahap pengumpulan data, ada tahap analisis data, kemudian tahap publikasi. Jadi komponennya sudah ada, tetapi berapa besarannya ikut SPM? Misalkan saya di dalam pengumpulan data, saya menggunakan ee FGD, forum grup diskusasi ee kita menggunakan FGD. Kemudian dalam itu kita mengundang orang untuk memberikan makan siang. Maka makan siang itu berapa per kotak mengikuti SBM yang ada. Demikian juga ketika kita memberikan uang transport untuk beliaunya yang rawuh di FGD mengikuti aturan main yang ada. Demikian juga ketika kita melakukan workshop, workshop itu mengundang narasumber, maka kita juga mengikuti ketentuan yang jadi semuanya sudah ada di PMK terkait dengan biaya-biaya penelitian ini. Tetapi ketika kita melakukan publikasi, biaya publikasi ada. Kalau di perguruan tinggi, biaya publikasi ditanggung bukan ditanggung oleh perguruan tinggi, tetapi nanti dihargai, diberikan reward sesuai dengan kualitas jurnal. Nah, saya kurang paham ketika di kantornya Bapak, Ibu. Mudah-mudahan nanti ke depan karena ini bagian dari ee apa namanya? angka kredit yang panjenengan penuhi, maka lembaga dalam arti ee instansi panjenengan menganggarkan dari target kerjanya terkait dengan biaya-biaya publikasi menik. Nggih, terima kasih. Mungkin itu Pak Doni yang bisa saya sampaikan. Baik, Prof. berkenan juga menyampaikan kata penutup ee berdua mewakili Prof. Ali juga silakan Profini. Nggih. Baik. Ee terima kasih. Yang pertama Bapak Ibu yang saya hormati memang untuk menulis itu bukan bagian dari culture kita. Jadi budaya kita tidak budaya tulis, tetapi budaya kita adalah budaya lisan. Oleh karena itu ee apa latihan latihan menulis yang didahului dengan reading-reading menjadi penting. Kemudian yang kedua ee Bapak Ibu yang saya hormati, kita harus memahami terkait dengan tugas pokok kita. Karena dengan tugas dan pokok sesuai dengan Permen itu kita akan melakukan kreasi-kreasi dengan melakukan penelitian dan dari itu kita akan memunculkan inovasi-inovasi baru. Nah, di dalam Permenpan RB nomor 8 tahun 2021 maka inovasi atau karya inovatif diberikan ruang. Inovasi itu diberikan ruang untuk penilaian SKP kita. Jadi ada nilai terkait dengan itu. Jadi inovasi-inovasi yang digunakan di lingkungan kerja panjenengan berapa, di tingkat yang lebih atas berapa, ketika digunakan di pemerintah daerah berapa, ada nilainya. Nah, jadi inovasi itu muncul karena dari karya-karya inovatif ini. Lalu, Bapak Ibu ini yang bagi pimpinan mohon memberikan ruang inovasi seluas-luasnya bagi teman-teman jabatan fungsional IDD kreatifnya mohon diberikan kesempatan kemudian tidak dimaknai menjadi bagian tanda petik ee menjadi tidak baik. Tetapi justru sebaliknya kita mengakomodir semua karya inovatif termasuk tadi memunculkan jurnal. Jadi kita membentuk jurnal menjadi dimensi penting untuk mewada, tetapi di dalam jurnal itu sifatnya terbuka seperti yang disampaikan oleh ee Prof. Ali tadi. Oleh karena itu ee kita sama-sama mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan ee hari ini mampu memicu ya memicu bagaimana kita kemudian menjadi untuk menulis gitu. Untuk detailnya saya yakin pimpinan panjenengan akan melakukan inisiasi untuk pendampingan tulisan-tulisan panjenengan agar sampai kepada Mungkin itu yang bisa kami sampaikan. Kita harus tetap semangat menjalankan ee semua tugas ASN. Jangan lupa membaca semua peraturan yang berlaku terkait dengan itu. Baik, terima kasih. Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan. Saya akhiri. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Kita applause dulu teman-teman untuk semuanya. Sebagai closing statement moderator, izinkan saya menyampaikan tiga poin. Yang pertama, webinar ASN Belajar seri 14 ini tidak mungkin terselenggara tanpa leadership yang hebat dari Bapak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Seyogyanya beliau akan hadir tadi di pembukaan dengan posisi sebagai keynote speaker. Tapi ketidakmampuan saya sebagai moderator untuk menangkap. Tetapi saya yakin beliau dengan kebijakan, dengan pikiran dan hati beliau yang sedang mengikuti PKN 1 di Jakarta akan selalu mengawal ASN belajar ini terutama di seri ke-14. Jadi sekali lagi mohon applause-nya untuk Bapak Aris Agung Pawe di Jakarta. Applause untuk kita semua. Yang kedua, terima kasih kepada dua narasumber hebat kita, Prof. Ali Humaidi dan Prof. Sarmini dan teman-teman yang hadir juga secara virtual. Kalian luar biasa. dan sharing caring serta inspiring ini mudah-mudahan barokah untuk Indonesia dan pejabat fungsional. Dan yang terakhir izinkan saya menutup bahwa sebenarnya harus ada fokus sehingga kata seorang pakar dari sebelah yang berbicara begini, hidup ini akan berarti kalau kita punya tiga poin. Satu, ke mana fokus hidup diarahkan sebagai pejabat fungsional. Yang kedua, bagaimana merespon peristiwa yang terjadi. Dan yang ketiga, bagaimana strategi kita meraih impian kita dengan ucapan alhamdulillahiabbil alamin. Barakallah untuk pejabat fungsional Indonesia dan untuk Indonesia kita tutup. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om santi santi shanti. Om namo buddhaya dan selamat siang. Sekali lagi mohon applause yang meriah untuk Indonesia. Matur nuwun, Prof. Dan sami-sami Bapak mohon izin nggih. Semoga semuanya sehat selalu. Mohon izin nggih. [musik] e [musik] e [musik] He.