Transcript
aKQBA4VNpzc • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 14 - METODOLOGI PENULISAN PENGEMBANGAN PROFESI BAGI PEJABAT FUNGSIONAL
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0025_aKQBA4VNpzc.txt
Kind: captions
Language: id
[musik]
Halo, sobat ASN. BPSDM Provinsi Jawa
Timur menyelenggarakan webinar seri 14
[musik]
ASN belajar dengan tema metodologi
penulisan pengembangan profesi [musik]
bagi pejabat fungsional. menghadirkan
para pembicara yang menarik di antaranya
Ibu Prof. [musik]
Dr. Sarmini, M.Hum. Universitas Negeri
Surabaya, Bapak Prof. Dr. M. Ali
Humaidi, MAG, [musik] M.Hum. Badan Riset
dan Inovasi Nasional serta keynote
[musik] Speaker Bapak Aris Agung
Payawai, Kepala BPSDM [musik] Jawa
Timur.
Webinar seri 14 ini akan dimoderatori
oleh Bapak Dr. Ir. H. Joni Haryanto,
[musik] MDM.
Sebelum memulai, peserta webinar harap
mematuhi beberapa tata tertib webinar
seri [musik] 14 ini. Satu, diharapkan
hadir 10 menit sebelum acara dimulai.
Dua, menggunakan nama sesuai format.
Nama lengkap diikuti dengan asal [musik]
instansi. Tiga, wajib mengaktifkan
kamera dan menonaktifkan mikrofon selama
acara untuk kenyamanan peserta. Empat,
[musik] pertanyaan dapat diajukan
langsung dalam room Zoom 1 melalui fitur
raise hand atau melalui kolom chat.
Lima. Posisikan kamera secara landscape,
memperlihatkan wajah, [musik] dan
kenakan pakaian sopan selama acara
berlangsung. Enam, gunakan virtual
background yang telah disediakan. Tujuh,
link presensi [musik] dan materi akan
diberikan sesaat menjelang acara
beracir. Delan, [musik] siapkan koneksi
internet yang stabil dan alat tulis
selama acara [musik] berlangsung.
Selamat dan semangat dalam mengikuti
webinar seri 14. [musik]
Acara ini dipersembahkan oleh Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur.
[musik]
Ye.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil
alamin. La haula wala quwwata illa
billah. Amma ba'du. Selamat pagi Bapak,
Ibu, Saudara sekalian. Ee Bapak, Ibu
yang tergabung di seluruh link kita. dan
selamat datang di webinar ASN Belajar
BPSDM Jawa Timur. Dan hari ini kita
memasuki proses yang kesekian kali. Tapi
sebelumnya izinkan saya sebagai
moderator mengajak Bapak Ibu untuk
melakukan applause secara virtual.
Monggo applause kita secara virtual
Bapak Ibu. Oke. Saya percaya format
pembelajaran akan tetap mengikuti satu.
Your motion will influencing your
emotion. gerakan akan berpengaruh pada
emosi. Baik, jadi webinar ASN belajar
saya akan kutipkan dulu opening
statement dari tiga orang. Yang pertama
dari prahalat. Pertama adalah if you
don't learn, you don't change. And if
you don't change, you will die. Kalau
Anda tidak belajar, Anda tidak berubah.
Anda tidak berubah, Anda mati. Pasti
mati kita secara pikiran dan pasti
secara hati. Yang kedua, apabila
perubahan di luar dirimu lebih cepat
dari perubahan di dalam dirimu, nasibmu
akan sangat mengenaskan. Jadi, biarlah
perubahan di dalam diri kita, proses di
mind, help and hand itu lebih cepat dari
perubahan di luar. Dan yang ketiga, kita
selalu mengikuti hukum pantare di luar
sono. Jadi, perubahan itu sangat cepat
dan terus tidak ada yang berhenti
kecuali perubahan itu sendiri. Baik,
kita hari ini akan menghadirkan dua
narasumber. Yang pertama mungkin nanti
Lady First, Ibu Prof. Dr. Sarmini,
M.Hum.
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum
Universitas Negeri Surabaya. Dan kalau
dibaca biodata beliau akan sangat
panjang, tetapi izinkan saya nanti
melakukan interaksi langsung dengan
beliau. Selamat datang Ibu Prof. Dr.
Sarmini, MHum. Saya
terima kasih, Mas. Iya.
Oke. Baik. Jadi, beliau akan menjadi
panelis satu kan untuk proses diskusi
kita. Yang kedua akan kita sapa Prof.
Dr. M. Ali Humaidi, MAG, M.Hum. Selamat
pagi, Profesor.
Selamat pagi, Pak. Asalamualaikum
semuanya. Salam. Salam kenal.
Salam kenal. [tertawa]
peneliti ahli utama dari Pusat Riset
Masyarakat dan Budaya Organis Riset
Rasional Humaniora, Badan Riset dan
Inovasi Nasional atau Brin BRNN. Dan
kedua, beliau akan mengisi topik kita
metodologi penulisan pengembangan
profesi bagi pejabat fungsional. Jadi,
Teman-teman sekali lagi berbahagialah
kita pejabat fungsional mendapat masukan
narasumber yang hebat. Tetapi saya ingin
kutipkan dulu ini sejarahnya berawal
dari Amerika sono. Jadi Amerika di
Pittsburg, Pennsylvania bilang begini,
"A man die, a nation can rise and false,
but an idea must live on. An idea have
endurance without times restriction."
Jadi, kira-kira dalam bahasa Maduranya
seperti ini, bahasa Indonesianya adalah
manusia boleh mati, lalu negara boleh
runtuh. Tetapi idea itu ide ide gagasan
kita akan tetap hidup dan melampaui
batasan usia. Itu catatan pertama dari
Amerika. Yang kedua saya harus kutipkan
juga dari orang-orang Romawi kuno mereka
bilang begini, "Kok gitu Ergosam? Aku
berpikir maka aku ada." Tapi tidak
cukup. Mereka bilang juga verbaan
skriptamanon. Jadi apa yang ditulis itu
abadi tetapi yang diucap akan hilang.
Nah, untuk substansi ketiga inilah
konklusinya akan disampaikan secara
rancak dulu. Dan untuk kesempatan
pertama saya mohon Ibu Prof. Dr.
Sarmini, MHum untuk menyampaikan
presentasinya selama kurang lebih 45
menit sebagai panelis 1 disambung oleh
Bapak Prof. Dr. M. Ali Humaidi, MAG,
MHum. Nanti selama 45 menit baru kita
adakan diskusi dengan para ee
dari anggota-anggota diskusi kita
sehingga akan menjadi panelis 1 dan
panelis du secara runtut. Ibu Prof.
Sarmini disilakan.
I eh terima kasih Bapak Dr. Ir. H. Joni
Haranto, MDM. Ee mohon izin Bapak Ibu
yang saya hormati untuk share screen.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Puji syukur mari kita
panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa
taala yang telah melimpahkan seluruh
rahmat, taufik, dan hidayah sehingga
kita bisa hadir dalam ruang virtual ini
dalam kondisi sehat walafiat ee dalam
kondisi kita menjalankan ibadah puasa.
Mudah-mudahan ee ibadah puasa kita
berjalan lancar dan diterima oleh Allah
subhanahu wa taala. Yang saya hormati ee
Kepala Badan Pengembang Sumber Daya
Manusia Provinsi Jawa Timur Bapak Aris
Agung Pawai. Yang saya hormati e rekan
narasumber pada kesempatan pagi hari ini
yaitu Bapak Prof. Dr. M. Ali Humaidi,
MAG, M.Hum. Yang saya hormati tentu saja
Bapak Dr. Ir. Hajuni eh Haryanto, MDM.
Yang saya hormati seluruh panitia
kegiatan dan Bapak Ibu jabatan
fungsional dan pemerhati peningkatan
kompetensi ASN di seluruh wilayah Jawa
Timur khususnya maupun seluruh
Indonesia. Karena tadi ee kita cek di
kolom chat ada beberapa teman yang
berasal dari Kalimantan dan provinsi
yang lain. Bapak, Ibu yang saya hormati,
hari ini saya mendapatkan materi terkait
dengan ee strategi penulisan dan
publikasi karya ilmiah pengembangan
profesi jabatan fungsional. Nah, Bapak,
Ibu yang saya hormati, tampaknya jabatan
fungsional ini menjadi seksi dibicarakan
karena ini sesungguhnya meletakkan
teman-teman ASN kemudian sejajar dengan
teman-teman yang lebih dulu ee memiliki
jabatan fungsional dari sisi ee pendidik
misalkan guru dan dosen. Ee lalu
kemudian ee teman-teman yang semula
memiliki jabatan yang disebut sebagai
jabatan fungsional tertentu. Nah, ee
kita kemudian akan mendudukkan dulu yang
disebut sebagai jabatan fungsional di
sini adalah sekelompok jabatan yang
berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan
pelayanan fungsional yang berdasarkan
pada keahlian dan keterampilan tertentu.
Kemudian yang disebut sebagai pejabat
fungsional adalah pegawai ASN yang
menduduki jabatan fungsional pada
instansi pemerintah. Nah, dasar hukum
yang pertama yang terkait dengan
kedudukan jabatan fungsional itu kita
melihat di dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2014 ini di dalam ASN ada tiga ee
kategori, yaitu jabatan pimpinan tinggi.
Ee di situ ada tiga komponen. Jabatan
pimpinan tinggi utama, pimpinan tinggi
madya, pimpinan tinggi pratama, lalu
kemudian jabatan administrasi
ee kemudian jabatan administrator,
jabatan pengawas dan jabatan pelaksana.
Kemudian jabatan fungsional, ada jabatan
fungsional keahlian,
kemudian ahli utama, ahli madya, ahli
muda, dan ahli pertama. Kemudian jabatan
keterampilan yaitu penyelia, mahir,
terampil, dan pemula. Kemudian terkait
dengan penyetaraan jabatan fungsional
ini ee terdapat nomenklatur yang jika
kita pelajari betul dari nomor ini,
nomklatur jabatan fungsional diatur di
dalam Permen PAN RP nomor 41 tahun 2018.
di mana di dalam lampiran jabatan
fungsional yang ada di Permenpan itu ada
tiga komponen di dalam lampirannya dan
jumlahnya atau nama jabatan fungsional
itu begitu banyak dan masing-masing
memiliki peraturan sendiri, memiliki
Permen sendiri untuk tindak lanjut dari
jabatan fungsional tersebut. Nah, di
dalam pasal 4 dari Permenpan nomor 41
tahun 2018 di dalam nomenklatur jabatan
pelaksana digunakan sebagai acuan bagi
instansi pemerintah untuk penyusunan dan
penetapan kebutuhan, untuk penentuan
pangkat dan jabatan, kemudian
pengembangan karir, pengembangan
kompetensi, penilaian kinerja,
penggajian, dan tunjangan serta
pemberhentian. Nah, Bapak Ibu yang saya
hormati. Tadi saya sampaikan bahwa
setiap jabatan fungsional
memiliki peraturan tersendiri sesuai
dengan jabatan fungsional masing-masing.
Misalkan ketika kita cek Permen PAN RB
nomor 29
tahun 2020 mengatur tentang jabatan
fungsional pengelola pengadaan barang
dan jasa. misalkan seperti itu. Jadi
masing-masing memiliki Permen sendiri
terkait dengan jabatan fungsionalnya.
Nah, di dalam permen tersebut
monggo nanti Bapak Ibu langsung mirsani
permen sesuai dengan jabatan fungsional
yang dimiliki. Jadi di dalam Permen
tersebut berisi tentang bagaimana
tugas pokok, bagaimana pengembangan
karir, bagaimana penilaian kinerja,
bagaimana angka kredit masing-masing
dari jabatan fungsional itu. Oleh karena
itu, di dalam kesempatan pagi hari ini
ee kami tidak akan melihat ee secara
satu-satu tetapi kita ambil secara garis
besar yang pada keseluruhan jabatan
fungsional memiliki hal tersebut yaitu
terkait dengan
penulisan karya inovatif. Nah, Bapak,
Ibu yang saya hormati, ada ketentuan
untuk kenaikan pangkat terkait dengan
jabatan fungsional. Yang pertama adalah
memenuhi angka kredit kumulatif kenaikan
pangkat. Yang kedua adalah telah 2 tahun
dalam pangkat terakhir. Kemudian yang
ketiga adalah penilaian prestasi kerja
bernilai baik dalam 2 tahun terakhir.
Yang ini diambil dari SKP dan perilaku
kerja dari setiap tahun. Nah, Bapak, Ibu
yang saya hormati. Mengapa kemudian
pejabat fungsional harus menulis ee
publikasi karya ilmiah? Bapak, Ibu yang
saya hormati, jika kita mirsani, jika
kita melihat Permenpan yang mengatur
jabatan fungsional tersebut, ada tiga
komponen yang
melahirkan angka kredit atau yang
dinilai ee memiliki angka kredit.
Pertama adalah jabatan fungsional. yang
terkait dengan tugasnya.
Jadi, tugas dari jabatan fungsional
tersebut. Jadi misalkan ketika kita
melihat di pasal 8
Permenpan RB nomor 29 tahun 2020 terkait
dengan jabatan fungsional pengadaan
barang dan jasa, di situ sudah ada tugas
pokok
dari
BPJ ahli pertama,
BPC
ahli muda, dan BPD
ahli madya.
Jadi komponen tugas dari jabatan
fungsional ini dinilai sebagai angka
kredit. Deskripsinya sesuai dengan
Permenpan yang mengatur jabatan
fungsional masing-masing.
Berikutnya adalah yang kedua,
kegiatan pengembangan profesi jabatan
fungsional. Dan di sini nanti kita akan
melihat di sini letaknya ee diskusi pada
kesempatan hari ini yaitu karya inovatif
dalam rangka pengembangan profesi
jabatan fungsional. Di situ macamnya
banyak sekali sesuai dengan jabatan
fungsional juga yang dimiliki.
Demikian juga terkait dengan kegiatan
penunjang. kegiatan yang dilakukan di
dalam menunjang kegiatan tugas ee ee
pokok dari jabatan fungsional
dan rambu-rambunya sudah diatur secara
rinci dalam lampiran masing-masing
Permen PAN RB yang mengatur jabatan
fungsional tersebut. Nah, Bapak Ibu yang
saya hormati, setiap jabatan fungsional
sekali lagi memiliki peraturannya
sendiri. Kita akan mencoba melihat
sebagai contoh. Sebagai contoh saja ini
adalah kita ambil dari Permenpan RB
nomor 29 tahun 2020 terkait dengan
jabatan fungsional pengelolaan pengadaan
barang dan jasa. Nah, di sini terkait
dengan tugas dan pokok seperti tadi saya
sampaikan di komponen angka kredit yang
pertama diambil dari tugas dan pokok
sesuai dengan Permenpannya. Lalu
pengembangan profesi ini ada beberapa
komponen. Yang pertama adalah perolehan
ijazah atau gelar melalui pendidikan
formal ini. Kemudian yang B ini
pembuatan karya ilmiah di bidang
masing-masing. Kebetulan dictoh ini
bidang pengadaan barang dan jasa. Jadi
komponen B ini setiap
fungsional memiliki atau bertanggung
jawab di dalam mengembangkan diri sesuai
dengan ee karya inovatif sesuai dengan
bidangnya masing-masing. Oleh karena
itu, yang pertama kali yang harus
dipahami adalah di sini tugas jafungnya,
tugas pokok jafungnya. Karena dari tugas
pokok jafung itu akan melahirkan buku,
akan melahirkan artikel-artikel,
akan melahirkan penelitian-penelitian
sebagai bentuk dari inovasi.
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati. Saya
yakin dalam kesempatan yang akan datang
bukan hanya karya inovatif yang akan
kita belajar bersama, tetapi juga
bagaimana menerjemahkan buku atau
menyusun buku, bagaimana menyusun ee SOP
atau pedoman atau petunjuk pelaksanaan
dan seterusnya. Jadi ini adalah bagian
dari pengembangan profesi. Oleh karena
itu, jika kita tandaskan sekali lagi
bahwa angka kredit jabatan fungsional
terdiri dari tiga komponen. Yang pertama
adalah tugas pokok yang diambil dari
Permenpan masing-masing. Kemudian
kegiatan pengembangan profesi ini juga
sudah diatur di dalam Permenpan
masing-masing. kegiatan penunjang.
Baik, Bapak Ibu yang saya hormati, kita
akan mencoba melihat karya inovatif
yang akan kita pahami pada kesempatan
pagi hari ini. Tentu tidak bisa
keseluruhan karena waktu yang sangat
terbatas. Kita akan memperkenalkan dulu
bahwa karya inovatif itu ada artikel
kemudian ada buku di dalam Perminnya.
artikel itu kita bisa menuliskan di
dalam jurnal,
kemudian kita bisa menuliskan di dalam
proseding.
Jurnal itu kita bisa jurnal nasional,
ada jurnal juga jurnal internasional
proseding atau kita mengikuti seminar
juga seminar nasional maupun seminar
internasional.
Kemudian buku kita ketemu ada buku
referensi, ada book chapter, ada
monograf. Nah, ini kita bisa menerbitkan
dalam bentuk cetak maupun dalam bentuk
elektronik atau ecetak. Bapak, Ibu yang
saya hormati, ketika kita menuliskan
karya inovatif ini, kita bisa melakukan
secara berkelompok.
Jika saya menuliskan dengan satu teman,
jadi artikel atau tulisan itu dituliskan
berdua, maka
penulis pertama memiliki angka kredit
60%.
Penulis kedua angka kredit 40%.
Jika kita menuliskan
tiga orang, maka penulis pertama 50 50%
dari nilai angka kredit buku tersebut
atau artikel tersebut. Lalu penulis
kedua dan penulis ketiga masing-masing
adalah 25%.
Nah, jika kita menuliskan kelompok
berempat
maka di situ 40% untuk penulis pertama.
Sedangkan penulis kedua, ketiga, dan
keempat masing-masing adalah 20%.
Nah, ini adalah ketentuan-ketentuannya.
Oleh karena itu ee kami yakin Bapak Ibu
dari jabatan fungsional tidak ada hal ee
yang tidak kita bisa lakukan karena kita
bisa menuliskan secara berkelompok dan
yang kita tulis adalah tentunya seputar
dengan tugas-tugas yang terkait dengan
tugas pokok dari jabatan fungsional.
Bapak, Ibu, Bapak, Ibu yang saya
hormati, bagaimana caranya kita membuat
karya ilmiah? tentunya kita akan memulai
di sini. Pertama karya yang kita
publikasikan
itu bisa diambil dari hasil penelitian.
Jadi dari hasil penelitian nanti
bagaimana ee ee apa namanya dari
hasil penelitian itu bagaimana meneliti
dan seterusnya akan disampaikan oleh ee
rekan kami. Kemudian yang berikutnya
adalah berdasarkan pengalaman ketika
kita melakukan kegiatan penunjang juga
boleh. Jadi ide-ide kreatif ketika kita
melakukan kegiatan penunjang. Kemudian
berikutnya kita juga bisa memberikan
atau menuliskan hasilnya ee terkait
dengan hasil pokok pemikiran kita. Bagi
Bapak Ibu yang suka sekali dengan
membaca, jadi memainkan studi literatur
di sini dipakai sebagai ide kreatif
bagaimana meningkatkan kualitas
pelayanan ASN. Kemudian Bapak Ibu bisa
menuliskan ide-ide itu di dalam karya
inovatifnya. Jadi sekali lagi sumbernya
kita antara lain ada tiga ini. Jadi
hasil penelitian penelitian ini bisa
penelitian kualitatif, bisa penelitian
kuantitatif, bisa ya panjenengan pakai
match, bisa pengalaman hasil kegiatan
penunjang ketika panjenengan melakukan
kegiatan-kegiatan yang menunjang ee
kegiatan panjenengan dari ee Permempan
itu kemudian dituliskan di dalam bentuk
ee artikel bisa ide pemikiran. Jadi ada
tiga komponen itu. Nah, Bapak Ibu yang
saya hormati, ee kerangka artikel atau
kerangka tulisan itu selalu dimulai dari
pendahuluan,
kemudian ee metode, kemudian hasilnya
apa, kemudian simpulan, beberapa jurnal
memberikan template ucapan terima kasih
ee termasuk beberapa proseding
memberikan ruang untuk menuliskan terima
kasih. Terima kasih. Ini ee terkait
dengan pendanaan dan kesempatan,
kemudian referensi. Nanti kita akan
bahas satu-satu terkait dengan ee
komponen-komponen berikut. Nah,
bagaimana caranya menyusun ee karya
ilmiah yang dipublikasikan? Kita akan
melihat di sini ee terkait dengan
tulisan. Yang pertama, tulisan kita
tentang apa? Jadi, tulisan kita ini
sesungguhnya berbicara tentang apa?
Satu, mengapa kemudian kita menuliskan
lingkupnya apa?
Kemudian
makna terpentingnya apa, noveltinnya
bagaimana? Menjawab pertanyaan apa? Jadi
kalau kita urutkan kemudian tulisan kita
ini tentang apa, menjawab apa,
kemudian bagaimana orang lain sudah
melakukan itu, lalu ruang lingkupnya
seberapa,
maknanya apa, urgensinya apa, kita akan
melakukan tulisan ini atau me-publish
ini. Kemudian kebaruannya ada di mana?
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, karya
inovatif itu merupakan deseminasi.
sifatnya artinya adalah memberikan
sesuatu yang baru yang kita temukan agar
dibaca, agar dicermati, agar bisa
digunakan oleh orang lain yang memiliki
jabatan fungsional yang sama atau
orang-orang yang memperhati jabatan
fungsional tersebut. Ketika yang kedua
itu berarti tulisan panjenengan
difungsikan sebagai pijakan. Sebagai
pijakan. Nah, Bapak, Ibu yang saya
hormati, ini adalah komponen dari
pendahuluan.
Kita akan melihat menunjukkan
pengetahuan yang melatar belakangi
penelitian.
Jadi, pengetahuan yang melatar belakangi
penelitian.
Mengapa publikasi atau mengapa hal ini
harus kita lakukan?
Kemudian yang kedua, apa yang sudah
dilakukan ahli tentang ini?
Kemudian bagaimana ee gap-nya,
bagaimana datanya, data-data yang
terkait apa yang kita tulis, kemudian
bagaimana temuannya untuk kemajuan dari
pengetahuan terkini di bidang tersebut.
Jadi kalau kita misalkan menulis terkait
dengan pengadaan barang dan jasa, apa
yang baru kemudian dari penelitian
panjenengan itu terkait dengan jabatan
fungsional ee pengadaan barang dan jasa.
Sehingga ada dua di sini yang kita bisa
catat. Apa yang sudah dilakukan orangor
lain terkait dengan apa yang kita
lakukan kemudian mengapa kita melakukan.
Jadi ini kemudian komponen-komponen
yang harus ada di dalam pendahuluan.
Nah, sehingga Bapak Ibu yang saya
hormati di dalam pendahuluan kita akan
menjawab beberapa pertanyaan. Ada lima
pertanyaan yang akan kita jawab di dalam
komponen pendahuluan itu. Apakah masalah
ini dapat terpecahkan? Lalu kemudian
apakah ada solusi kekinian yang kita
bisa tawarkan? Lalu kemudian apakah itu
yang terbaik?
Kemudian apakah ee apa batasan utamanya?
ya. Jadi ini ruang lingkup ee tulisan
itu. Lalu apa yang dilakukan untuk
mencapai hal yang diinginkan?
Ee Bapak Ibu yang saya hormati,
beberapa hal untuk menilai kualitas
tulisan di dalam pendahuluan. Orang
menggunakan enam komponen ini. Apakah
pertanyaan penelitiannya jelas atau
substansi penelitiannya jelas? Lalu
apakah cukup berbeda di antara abstrak
dengan pendahuluan itu? Karena seringki
kita temukan kalimat pertama di dalam
abstrak sering kita copy dari
pendahuluan. Apakah cukup berbeda?
Kemudian yang ee yang ketiga, apa yang
kemudian saya rujuk di dalam pembahasan
ini? Jadi di dalam pembahasan itu apa
yang dirujuk? Lalu apakah realitas dalam
pendahuluan saya sesuai dengan roadmap
untuk memahami penelitian saya?
Kemudian apakah saya perlu menyebutkan
pembaca yang sesuai dengan penelitian
yang saya lakukan? Jadi ini
diperuntukkan untuk siapa? Apakah saya
telah menjelaskan secara runtut, jelas,
dan padat? Ada yang mengatakan, "Apakah
saya cukup menjelaskan urut, runtut
logis, sistematis?" Artinya adalah di
dalam pendahuluan itu mengalir
sesuai dengan pendekatan penulisan yang
Bapak Ibu gunakan. Apakah menggunakan
pendekatannya dengan deduktif ataupun
induktif? Mana yang dipilih monggo,
tetapi yang penting adalah tidak
melompat atau tidak loncat. Nah, Bapak
Ibu yang saya hormati, berikutnya adalah
di dalam pendahuluan itu kita akan
menuliskan tujuan tujuan untuk beberapa
ee karya itu kemudian sinergi dengan
rumusan masalah di dalam penelitian.
atau problem statement yang akan kita
bahas. Ada beberapa kata awal kata kerja
yang kita gunakan. Misalkan
menganalisis, misalkan membandingkan,
kemudian menjelaskan, kemudian
memperkuat, mengidentifikasi,
menginvestigasi, me-review, dan
seterusnya. Nah, kata-kata operasional
ini tentu sangat sesuai dengan tulisan
panjenengan semua. Jadi ee Bapak Ibu
bisa memilih mana kata kerja yang
digunakan di dalam tujuan atau problem
statement-nya di dalam karya ilmiah.
Nah, ini adalah contoh. Jadi, contoh di
dalam salewati tidak saya bahas secara
satu-satu. Nanti kita bisa lihat ini ee
ketika materi ini disampaikan oleh Bapak
Ibu ketika dibagikan. Jadi ini di mana
ee terkait dengan problem pentingnya
kemudian state of the di tulisan. Jadi
kekiniannya, kebaruannya itu dilatar
belakang harus bisa dirujuk secara jelas
di mana posisi urgensinya dan
seterusnya. Ini ee contoh-contoh.
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, kita
akan melihat sekarang bagaimana kemudian
ee kesalahan umum dalam menuliskan
pendahuluan. Yang pertama adalah
memberikan informasi dalam latar
belakang yang tidak perlu. ini ee sering
sekali kita temukan bagi penulis-penulis
ee awal ya. Penulis awal yang menulis
karena sebagai penulis awal seringki
memberikan tulisannya kurang padat. Jadi
ee artinya ngobro-ngomro kalau bahasa
jawanya adalah menuliskan hal-hal yang
seharusnya tidak perlu kemudian perlu.
Kemudian berikutnya adalah
melebih-lebihkan fenomena yang sedang
diteliti. Artinya kurang fokus
menuliskan substansi yang diteliti.
Kemudian gagal menjelaskan makna
pertanyaan penelitian. Ini sering sekali
kita temukan baik pada ee
tulisan-tulisan yang kaliber untuk
kenaikan pangkat maupun lomba. Ee
kadang-kadang antara substansi yang
digagas atau substansi yang ingin
dibahas dengan pembahasan itu sedikit
geset. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati,
itu menjadi penting untuk dicek kembali.
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati,
berikutnya kita masuk ke kategori yang
kedua, yaitu terkait dengan metode
penelitian. Di dalam sebuah karya
ilmiah, di dalam artikel kita
menempatkan metode penelitian biasanya
pada pada sub B atau sub yang kedua.
Sedangkan subpendahuluan terdiri dari
tiga komponen, yaitu latar belakang,
problem statement, kemudian tujuan,
kemudian ee teori. Seringki masuk di
situ kalau kita menggunakan teori. Lalu
kemudian yang kedua adalah metode
penelitian. Apa yang harus ada di dalam
metode penelitian?
Di dalam metode penelitian kita akan
mendeskripsikan
bagaimana hasil penelitian itu telah
didapatkan. Jadi, Bapak, Ibu yang saya
hormati, ketika kita menuliskan karya
inovatif yang akan dipublikasikan,
maka di situ berarti penelitiannya sudah
selesai. Sehingga di dalam metodenya
harus kita jelaskan terkait dengan
bagaimana data itu telah kita dapatkan.
Jadi bukan akan didapatkan. Sehingga
harus terinci dengan jelas. Kalau kita
melakukan wawancara, wawancaranya
menggunakan wawancara mendalam
atau wawancara biasa, hal-hal apa yang
diwawancarakan,
komponennya apa, lalu kemudian di situ
kepada siapa diwawancarai, kapan
mewawancarai. Jadi sudah jelas
karena ini sekali lagi kalau publikasi
itu adalah sifatnya diseminasi.
Kemudian berikutnya adalah tidak selalu
memerlukan langkah secara eksplisit.
Jadi, Bapak, Ibu yang saya hormati, ee
karakteristik metode penelitian di dalam
penulisan sebuah karya ilmiah ketika
publikasi kita akan sekali lagi ngecek
terkait dengan ee
template atau budaya selingkung dari
jurnal yang kita tuju. Ada jurnal yang
menghendaki secara eksplisit. Jadi
misalkan kita menuliskan desainnya apa,
kemudian fokusnya apa, ee teknik dan
alat pengumpulan datanya apa secara
jelas, teknik analisis datanya secara
jelas. Ada yang meminta seperti itu, ada
yang meminta menuliskannya secara
mengalir tetapi komponen-komponen dari
metode penelitian terjawab.
Jadi, jadi ee untuk gaya penulisan itu
ee terserah kepada Bapak Ibu sesuai
dengan jurnal atau ee proseding yang
dituju. Tetapi komponen yang harus ada
adalah desain penelitian, lalu kemudian
ee subjeknya siapa, kemudian fokusnya
apa, teknik dan alat pengumpulan datanya
seperti apa, teknik analisis datanya
seperti apa. itu terkait dengan metode.
Nah,
oleh karena itu metode yang baik akan
menggambarkan empat komponen ini. Apa
yang dilakukan? Jadi, apa yang dilakukan
pengumpulan data terkait dengan bla bla
bla. Bagaimana itu dilakukan? Dilakukan
dengan menggunakan kuisioner misalkan.
Kemudian di situ memastikan bahwa betul
membuktikan desainnya terkait sesuai
dengan fenomena yang diteliti. Jadi
mengapa menggunakan studi kasus? Mengapa
menggunakan eksploratif? Mengapa
menggunakan ee eksperimen atau kuasi
eksperimen? Mengapa menggunakan expos
factur? Jadi alasan-alasan menggunakan
metode ee terjawab jelas di dalam metode
tersebut.
Kemudian seperti yang saya sampaikan
tadi di dalam metode harus menggambarkan
terkait dengan subjek kemudian teknik
pengumpulan data dan analisis data yang
digunakan. Berapa alineia di dalam
menuliskan metode ini sesuai dengan
template yang jurnal yang dituju.
Memintanya berapa halaman dari jurnal
tersebut biasanya kita akan menggunakan
persentase. Ada yang 30, 20, 40, 10. ada
yang persentase di metode 10 dan
seterusnya tergantung dari jumlah ee
halaman yang harus dipenuhi di dalam di
dalam template jurnal tersebut dan juga
ketentuan ee deskripsi dari metode
karena masing-masing jurnal atau
masing-masing publikasi ee tujuan
publikasi memiliki karakteristik yang
berbeda. N
Bapak Ibu yang saya hormati, ini
bagian-bagian yang harus ee menjawab
pertanyaan ini untuk metode.
Siapa yang saya teliti itu menunjukkan
subjek. Jadi, lalu di mana saya
melakukan penelitian ini menunjukkan
e lokasi. Apakah saya di Jember, apakah
saya di Kalimantan, apakah saya di
Tresik, apakah saya di Sidoarjo. Berapa
banyak yang saya ukur? Berapa jumlahnya?
informannya, mengapa, berapa sampelnya,
mengapa,
bagaimana saya memperlakukan fokus
penelitian ini? Artinya bagaimana
panjenengan melakukan penelitiannya
waktu itu. Komponen apa saja yang saya
butuhkan di dalam penelitian ini terkait
dengan identifikasi hal-hal yang
menunjang di dalam kegiatan penelitian,
terkait dengan pelaksanaan penelitian,
bagaimana saya caranya mengumpulkan dan
menganalisis data. Nah, ini adalah
ketika semua pertanyaan ini terjawab di
dalam tulisan panjenengan terkait dengan
metode ee penelitian, maka tulisan
terkait dengan metode penelitian di
dalam karya ilmiah panjenengan saya
yakin sudah aman. Nah, Bapak Ibu yang
saya hormati, berikutnya kita masuk di
dalam ee paparan terkait dengan hasil.
Ada beberapa tips ketika kita menyusun
hasil pembahasan dan simpulan ini ee
kalau di dalam penelitian menuliskan
bagian dari pelaksanaan peneliti, bagian
dari apa yang data kita gunakan. Nah,
Bapak Ibu yang saya hormati, ada
beberapa garis atau hal yang harus
dijaga. Betul. Ketika kita memaparkan
memaparkan hasil, maka ada hal yang
perlu diingat paradigma yang digunakan
di dalam penelitian panjenengan
sebelumnya
itu apa?
Apakah saya menggunakan paradigma
positivistik?
Apakah saya menggunakan paradigma
interpretif?
Ataukah saya akan menggunakan paradigma
fenomenologi atau paradigma-paradigma
yang lain? Apa gunanya kita kemudian
mencermati penggunaan paradigma itu?
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati,
penggunaan paradigma ada yang menuliskan
secara eksplisit. Tulisan ini dicermati
dari perspektif paradigma bla bla bla
bla bla bla. Tetapi banyak juga
penggunaan paradigma dilakukan secara
implisit. Artinya tulisan mengalir.
Tetapi jika kita bisa mencermati dengan
baik, kita bisa melihat paradigma yang
digunakan oleh sang penulis. Bapak, Ibu
yang saya hormati, penggunaan paradigma
tadi akan signifikan dengan
sub-subbagian
yang akan digunakan di dalam penjelasan
dari hasil penelitian. Oleh karena itu,
jika kita menggunakan positivistik
misalkan, maka subnya akan berbeda
dengan fenomenologi. Subnya di bab 4.
Tetapi dari keseluruhan penggunaan tadi
ada benang merahnya yaitu fokus yang
diteliti. apapun paradigmanya,
maka penggunaan sub-sub di bab hasil ini
sesuai dengan fokus penelitian.
Dari mana fokus penelitian itu diambil?
Tentu dari problem statement,
dari rumusan masalah penelitian itu. Di
dalam rumusan masalah kita akan ketemu
definisi operasional bagaimana bagaimana
masalah ini dioperasionalkan
di dalam pengambilan data. Maka dari
konsep akan kita ubah menjadi kata
operasional. Maka di situ akan ketemu
fokus. fokusnya misalkan saya akan
melakukan tulisan bagaimana menyusun HPS
yang efektif dan efisien kata
efektivitas maka kemudian dilihat dari
unsurnya apa misalkan bagaimana kemudian
kenaikan pangkat itu akan ee berjalan
dengan cepat kita menyusun atau
membangun sistem maka kemudian ee upaya
membangun sistem pentahapannya seperti
Apa? Berarti itu ee yang disebut sebagai
fokus. Maka fokus di bab 4 sinergi
dengan substansi yang dibahas di bab 3,
sinergi dengan problem statement di
pendahuluan. Jadi pertama kali adalah
mencermati kembali apa yang menjadi
fokus penelitian, mencermati kembali
perspektif atau paradigma yang
digunakan.
Kemudian ketemu benang merah, naskah
yang harus disiapkan. Ini biasanya kita
akan menuliskan Bapak, Ibu yang saya
hormati, kita membuat kerangka kerangka
di awal ya. Kalau ee apa saya pribadi
selalu kita memetakan membuat
pemetaannya
itu ee sebelum kita datang ke lapangan
ada
pemetaan yang kita susun klop dengan
lapangan ada yang harus kita ubah.
Tetapi rambu-rambu ketika kita dari
fokus itu seorang peneliti atau seorang
penulis, kita harus memiliki kira-kira
saya akan menuliskan bagian ini seperti
apa gitu. Kemudian Bapak Ibu yang saya
hormati karena bagian hasil ini adalah
jumlah alineanya atau jumlah ee apa
namanya? halamannya banyak. Maka
kemudian Bapak Ibu harus mencermati
sekali lagi seperti yang saya sampaikan
template-nya berapa ini jumlah ee
template ee berapa halaman kira-kira
untuk pembahasan ini berapa berapa
alinea? Nah ee ini biasanya ketika kita
menuliskan satu spasi, menuliskan dua
spasi, menuliskan alinea yang
pantas isinya misalkan 8 sampai 12.
baris dan seterusnya. Kita akan
merancang dulu ini biasanya kita rancang
betul agar tidak ada yang kurang dan
tidak kelebihan. Jadi ee melebihi dari
fokus. Kemudian tunjukkan betul state of
the art-nya, tunjukkan betul novelty-nya
mana yang baru dari sini bagian-bagian
analisis dari hal yang kita bahas itu.
Nah, Bapak Ibu yang ee saya hormati.
Simpulan dan implikasi dari ee hasil
riset ini terkait dengan saran,
terkait dengan hasilnya dari hasil tadi
hasil dari paparan hasil di bab hasil
maka kita akan menjawab beberapa
pertanyaan ini. Apakah tujuan risetnya
sudah tercapai? Jadi, apakah rumusan
masalahnya sudah terjawab semua?
Apakah tidak mengulang?
mana yang pernyataan yang generalisasi,
mana yang pernyataan yang memiliki
keterbatasan,
kemudian pernyataannya yang ringkas,
pernyataan yang mudah dibaca, kemudian
ee sarannya terkait dengan hasil
penelitian ini saran terkait dengan
saran praktis. Jadi saran yang dari
hasil penelitian ini yang bisa
digunakan. Kemudian saran secara
teoritis itu menjadi manfaat teoritis.
Kemudian penelitian ini kalau mau
dilanjutkan seperti apa? Lalu bagaimana
ini ee biasanya kita akan memunculkan
hal-hal semacam ini adalah di bagian
simpulan. Oleh karena itu, simpulan
selalu dikatakan adalah abstraksi dari
hasil yang kita peroleh.
Bapak, Ibu yang ee perlu diperhatikan di
dalam penyusunan hasil dan pembahasan
serta kesimpulan. Pertama adalah apakah
kesesuaian? Jadi, kita cek kesesuaian
dengan tujuan
antara tujuan dan simpulan. kesesuaian
adanya kesinambungan antara masalah
paradigma dan hasil. Jadi, Bapak Ibu
mohon dicek kembali ketika kita
melakukan di posisi ee hasil kemudian
simpulan itu ada keruntutan
antara apa yang ada. Nanti kita akan cek
di sini Bapak Ibu keruntutannya.
keruntutannya antara apa yang ada di
dalam rumusan masalah problem statement,
kemudian di metode penelitian,
kemudian di hasil, lalu disimpulan. Nah,
di dalam membuat simpulan jangan
melebihi dari apa yang dibahas. Demikian
juga di dalam membuat saran, kita tidak
boleh menyer menyarankan melebihi apa
yang kita bahas. Nah, Bapak, Ibu yang
saya hormati, ini adalah contoh dari
yang simpulan. Jadi mana nanti yang
terbaik? Nanti kita bisa juga cek
jurnal-jurnal yang terbit di indeks ee
yang tinggi, jurnal-jurnal yang memiliki
kualifikasi bagus. Jadi contoh-contoh
membuat simpulan. Lalu ee ini adalah
hasil pembahasan yang digabung kalau
dengan interpretasi. Jadi analisis dan
hasilnya ee kalau digabung itu ee memang
sederhana tetapi kurang jelas ee ketika
kita memaparkan di bab hasil dan
pembahasan itu ada yang jurnal meminta
digabung, ada jurnal yang meminta
dipisah sehingga hasil penelitian
kemudian B-nya pembahasan. Jadi Bapak
Ibu itu semuanya adalah memiliki
keuntungan dan kelemahan. Tetapi sekali
lagi kita menuliskannya sesuai dengan
permintaan dari template itu. Nah, Bapak
Ibu hati-hati dengan paparan di dalam
hasil itu. Pertama ee kita harus cek
kesesuaian dengan metodenya, nggih. Lalu
berikutnya terkait dengan ilustrasi,
terkait dengan gambar, terkait dengan
foto, terkait dengan diagram, penggunaan
tabel grafik foto diagram, mohon
betul-betul kemudian diberikan
pembahasan sesuai dengan substansi dari
tabel grafik foto dan diagram. Nah, foto
yang diambil di sini adalah atau foto
yang dicantumkan adalah foto terkait
dengan data penelitian, bukan foto dalam
pelaksanaan kegiatan, tetapi foto
terkait dengan data ini. Kemudian ee
dibahas dibahas sesuai dengan
interpretasi Bapak, Ibu. Interpretasinya
menggunakan teori apa? atau menggunakan
aturan apa atau menggunakan patokan apa
interpretasinya. Karena di dalam
melakukan interpretasi kita bisa
menggunakan pendekatan teoritis, kita
bisa menggunakan pendekatan
undang-undang, kita bisa menggunakan
pendekatan nilai tergantung dari
substansi yang kita bahas sehingga alur
penelaahannya
secara utuh akan seperti ini. Yang
pertama kita akan berbicara terkait
dengan pendahuluan. Jadi pendahuluan
pendahuluan
ada kunci terkait dengan state of the
art-nya, acuan mutakhir yang digunakan.
Lalu kemudian di sini apa yang
ditawarkan dari pendahuluan ini yang
baru nanti apa yang baru kira-kira dari
penelitian ini jika dibandingkan dengan
penelitian yang lain sehingga ketika
kajian state of the art kita kemudian
akan melihat beberapa ahli beberapa ee
peneliti lain melakukan hal yang sama
dengan apa yang kita teliti. Bapak, Ibu
yang saya hormati. Di sini sekaligus
kita menunjukkan bahwa
reading bacaan Bapak Ibu sekaligus akan
memperlancar di dalam menyusun
pendahuluan ini. Di waktu yang sama jika
kita kurang membaca jurnal-jurnal
sebelumnya, tulisan-tulisan sebelumnya,
kurang membaca aturan-aturan sebelumnya,
maka terkait dengan state of the art ini
kadang-kadang lemah gitu. Jadi ini
tampak sekali nanti di dalam latar
belakang itu akan sangat kelihatan
bagaimana bacaan-bacaan kita. Lalu
berikutnya adalah tujuan penelitian.
Tujuan penelitian ini ada di state of
the di bagian terakhir di pendahuluan.
Di bagian pendahuluan ini orang menyebut
sebagai problem statement seperti saya
ee sampaikan tadi ada yang menyebut
tujuan ee dari penulisan ini adalah apa
gitu. Lalu kemudian metode.
Kemudian setelah metode adalah bab
pembahasan. Di dalam setelah itu
kemudian di dalam pembahasan kita cek
sesuai dengan fokus, sesuai dengan
paradigma yang kita gunakan. Lalu kita
membuka simpulan, menuliskan simpulan.
Kesimpulan ini kita cek lagi beberapa
pertanyaan apakah semua problem
statement kita sudah terjawab lalu
hasilnya seperti apa dari jawaban ee
rumusan masalah kita atau problem
statement kita. Lalu kemudian mengapa
hasilnya seperti itu? Lalu kemudian kita
akan menuliskan abstraknya kemudian kita
masuk ke judul atau ee bagaimana
mengemas. Jadi ee dalam judulnya. Nah,
bolehkah kemudian
dibalik kita menyusun judul dulu baru
yang lain? Monggo. Yang tidak boleh
adalah kita tidak melakukan tulisan atau
tidak menulis publikasi di alur ini kita
bisa memulai dari mana saja. Jika kita
sudah piawai, kita langsung ke problem
statement dulu kemudian masuk metode
kita peneliti. Kemudian seiring juga
berjalan menuliskan di pendahuluan. Jadi
monggo saja dari mana alur ini.
Nah, ee Bapak Ibu yang saya hormati ee
ada beberapa yang biasanya kita pakai
sebagai komponen untuk penilaian dalam
sebuah publikasi ya. penyajiannya jelas,
penekanan pada temuannya juga jelas, uji
statistiknya juga ada, lalu kebenaran
analisisnya,
kebenaran analisis itu memadai dan
lengkap.
Ada data penting yang ditampilkan. Jadi,
Bapak, Ibu yang saya hormati, ketika
kita menggunakan data kualitatif
sekalipun, maka data primer yang
ditampilkan adalah data yang terkait
dengan substansi yang kita bahas, gitu.
Jadi data-data yang sifatnya
introduction,
wawancara, data awal wawancara kita
selalu memberikan simbol titik tiga di
dalam penulisan itu artinya adalah data
ini dipotong dari data yang tidak sesuai
dengan rumusan masalah dengan data ee
komplemen data pelengkapnya gitu. Lalu
berikutnya datanya konsisten dan akurat.
mendekati
konsist
konsisten dan akurat. Konsisten itu apa?
Akurat itu apa? Nanti ketika kita
meneliti di dalam penelitian kualitatif,
kita akan bisa melihat betul penelitian
kualitatif. Misalkan data wawancara asli
yang kita lakukan antar subjek sangat
dipengaruhi oleh background subjek
tersebut. Oleh karena itu, jika kita
kemudian memalsu itu maka akan jelas
tampak ungkapan dan bahasa yang
digunakan pasti berbeda.
Profini mohon maaf waktunya hampir habis
kurang 3 menit. Nggih.
Siap. Nggih. Ya. Siap. Siap. Nggih. Ya.
Bapak Ibu yang saya hormati
ada ini adalah ilustrasi grafis ya.
Ilustrasi grafis. Jadi mudah-mudahan
waktunya tepat. ini kurang sedikit
sekali. Ilustrasi grafis nanti mohon
dibaca sendiri yang ilustrasi grafis.
Lalu ee ini hal-hal penting ketika kita
akan melakukan publikasi yang harus
diperhatikan juga. Lalu ini adalah
contoh dari narasi ilustrasi yang mana
yang baik dan mana yang kurang baik.
Lalu ee berikutnya ada tiga yang harus
saya sampaikan. Pertama adalah abstrak.
di sini abstrak ee ditulis secara utuh
sesuai dengan menggambarkan esensi isi
keseluruhan. Kemudian ee dirangkum
dengan keakuratan isi. Ada metode yang
disampaikan, ada fokusnya, ada hasilnya,
ada rekomendasinya.
Lalu berikutnya ucapan terima kasih itu
di dalam tulisan harus disampaikan
kepada pihak yang memberikan dana atau
pihak yang memberikan kesempatan kita
untuk melakukan publikasi. Jadi ucapan
terima kasih itu harus ada. Jika kita
memang diberi dana silakan menyebutkan
ee SK pendanaan itu. Lalu kemudian
berikutnya adalah daftar referensi. Ini
yang terakhir. Ini adalah daftar
referensi yang diacu sesuai dari latar
belakang hingga pembahasan.
Ada beberapa yang meminta mengurutkan
sesuai dengan sitasi.
Ada yang meminta mengurutkan sesuai
dengan abjat. Tetapi yang penting adalah
semua dokumen
yang ada di daftar referensi ketika kita
cek di artikel, di tulisan maka betul
adanya telah disitasi. Jadi di sini
harus skop. Kalau di depan kita ketemu
sitasi jumlahnya 20, di belakang ketemu
20. Kira-kira seperti itu. Kecuali nanti
ada beberapa satu jurnal yang diulang di
dalam melakukan sitasi. Nah, Bapak Ibu
yang saya hormati, ini gaya penyuntingan
saja. Jadi, nanti kita bisa di ee
membaca sendiri ini penyuntingan makro
di dalam sebuah jurnal menggunakan
konsep ABCD, akurat, brief, clear, dan
mikro. Eh, itu jadi ee biasanya
digunakan oleh teman-teman reviewer
ketika kita melakukan review terkait
dengan artikel yang Bapak, Ibu kirimkan.
Oke, ini adalah beberapa jurnal yang
kita bisa acu, yang kita bisa tuju untuk
jurnal-jurnal di tingkat ee apa? Jurnal
nasional yang terakreditasi di Ristek
Dikti di Sinta. Tetapi Bapak, Ibu juga
bisa menuliskan mengirimkan ke
jurnal-jurnal internasional baik
internasional biasa maupun internasional
yang berputasi.
Baik, mungkin itu Bapak Ibu yang bisa
saya sampaikan. Mudah-mudahan kita bisa
belajar lebih jauh lagi di dalam
kesempatan ini maupun kesempatan yang
lain. Waktu berikutnya saya kembalikan
kepada moderator. Terima kasih.
Baik, terima kasih Prof. Sarmini dan
kepada Bapak, Ibu, Saudara, teman-teman
peserta webinar. Kita berikan applause
kepada beliau dan untuk kita semua
secara virtual. Baik,
kita akan berlanjut ke narasumber
berikutnya, tetapi mungkin ada sedikit
jeda untuk memberikan persiapan dan juga
mungkin beberapa teman untuk memutarkan
beberapa hal e sifatnya informatif. Yang
kedua nanti adalah Prof. Dr. M. Ali
Humaidi, MAG, M.Hum. Selamat siang,
Profesor.
Selamat siang, Pak.
Selamat siang.
Sehat, I Prof.
Ngh Sehat, alhamdulillah.
Oke, saya akan mencoba berdiskusi
sebentar sebelum panjenengan masuk di
sesi kedua. Kalau melihat latar belakang
dari Prof. Ali Humaidi ini cukup banyak
karyanya dan panjenengan, Bapak ada di
Pusat Riset Masyarakat dan Budaya
Organisasi Riset Sosial Humaniora di
Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Mungkin bisa diceritakan sekilas, Prof.
tentang lembaganya dan nanti apa pesan
yang akan disampaikan kepada para
pejabat fungsional. Silakan, Prof.
Ee mohon maaf, masih ada suara
menyanyikan lagu Indonesia Raya itu loh,
Pak. Ya, secara kantor ini sebentar.
Oke.
Baik. Ee terima kasih. Mohon maaf tadi
ada suara Indonesia Raya rupanya di
kantor baru ada tradisi menyanyikan lagu
Indonesia Raya di jam 950 gitu. Nah,
tadi ada pertanyaan yang cukup menarik
bahwa ee bagaimana dengan lembaga kami?
Lembaga kami itu sebenarnya saya sendiri
awalnya di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia jadi LIPI dahulu. Lalu
kemudian
berdasarkan keputusan presiden ee ee
undang-undang dan sebagainya kemudian
dilebur menjadi Badan Riset dan Inovasi
ee Nasional Brin. Jadi ada sekitar
eh empat lembaga utama kemudian didukung
oleh lembaga LDBank dari berbagai
kementerian dan sebagainya. Jadi
sekarang pegawainya
hampir ee 15.000 orang. 15.000 orang
yang awalnya kalau di LIPI hanya 3.000
orang dan seterusnya. Nah, ee kalau di
LIP dahulu ee ilmu sosial ada di
kedeputian ilmu sosial dan kemanusiaan.
Tetapi sekarang ketika diin ilmu sosial
terpecah menjadi tiga. Ee ilmu sosial
humaniora, kemudian tata kelola dan
kemudian ee
or arkeologi, bahasa, dan sastra. Jadi
ada tiga e ranah ilmu sosial. Selebihnya
adalah ilmu-ilmu alam ee ee nuklir dan
sebagainya. begitu, Pak.
Baik. Dan dengan adanya badan riset dan
inovasi nasional atau BRIN ini ee
bagaimana kira-kira prospek jabatan
fungsional, Prof. supaya kita yang ada
di daerah, di provinsi, kabupaten, kota
bisa mempunyai spirit dan semangat yang
sama bahwa ini not the end of the
career, gitu. Silakan, Prof.
Iya. ee tentu ketika ee semua jabatan
fungsional peneliti dikumpulkan di apa
di BRIN, maka rencana ke depannya itu
kan ada yang namanya brida badan riset
dan inovasi daerah. Itu seperti
bapedanya yang di apa dibuat oleh ee
tingkat pemerintah daerah. Tetapi
kemudian ee fungsional-fungsional lain
juga banyak misalnya analisis kebijakan,
perencanaan hukum undang-undang dan
seterusnya. Nah, potensinya sebenarnya
akan akan berkembang ke depannya. Jadi,
ee selama ini kan kita hanya ke start
atau kemudian ke struktural, tetapi
kemudian ketika dialihkan ke fungsional
dinamika berorganisasi itu semakin
kencang, Pak. Semakin kuat dan
seterusnya. Nah, salah satu syarat dari
kita mampu menapaki jenjang fungsional
itu adalah kemampuan meneliti, kemampuan
menulis sebagaimana yang tadi Ibu
Sarmini ee Prof. Sar mini itu sampaikan
itu menjadi poin penting menurut saya.
Oke. Baik. Dengan pesan singkat yang
akan disampaikan kira-kira apa nanti,
Prof. supaya kita punya brief history
terhadap pesan yang mau disampaikan
Prof. Ali Humaidi. Silakan.
ya ee apapun jabatan fungsional kita
baik peneliti, perencana, analisis
kebijakan dan sebagainya, kalau saya
selalu mempersyaratkan ada tiga
kemahiran, ada tiga hal yang modal modal
modal dasar dari seorang pejabat
fungsional. pertama adalah sensitivitas
yang tinggi, kepekaan. Kepekaan terhadap
suatu situasi yang ada berkembang di
sekeliling kita. Itu yang pertama.
Kemudian yang kedua adalah kemampuan ee
mencari dan menggali data. Menggali data
itu penting karena itu menjadi basis ee
data apapun. Bisa untuk karya tulis,
bisa untuk analisis kebijakan dan
sebagainya. Lalu yang ketiga itu adalah
keterampilan menulis. Ini yang sering
kita lupa keterampilan menulis.
Seolah-olah ya mungkin Bapak Ibu yang
selama ini sebelumnya itu adalah pejabat
struktural di suatu tempat dan
sebagainya. Kemahiran menulis itu
seringki dilupakan. Tetapi ketika Bapak
Ibu dipaksa untuk menjadi pejabat
fungsional, maka mau tidak mau
keterampilan menulis itu menjadi
prasyarat utama untuk kenaikan jabatan
fungsional Bapak, Ibu semuanya ataupun
untuk menjadi sesuatu yang berbeda atau
seseorang yang berbeda dari orang lain
yang mungkin kerjaannya tidak menulis
dan sebagainya. Seperti itu menurut
saya. Ee kuatkan tiga modal dasar itu ee
di dalam perjalanan karir Bapak Ibu
semuanya.
Oke, menarik sekali yang disampaikan
Prof. Ali Humaidi. Teman-teman panitia,
mungkin ada yang mau ditayangkan secara
sekilas untuk mengilustrasi atau kita
lanjut saja?
Oke. Baik, kalau kita lanjut, Prof.
disilakan untuk menyampaikan materinya
kurang lebih 45 menit. Disilakan, Prof.
sebagai panelis dua.
Baik. ee Bapak Ibu.
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Yang saya muliakan ee Bap ee Kepala
BPSDM
Jawa Timur ee Bapak Aries eh
saya sulit pawa ya, Pak. Kemudian eh
Bapak Moderator Pak Joni. Kemudian Ibu
Prof. Sarmini eh MHum ee selaku rekan
narasumber. Jadi terima kasih atas ee
kesempatan yang diberikan kepada saya
untuk memberikan paparan mengenai ee
metode penyusunan rancangan dan
pelaksanaan penelitian pengembangan
profesi jabatan fungsional. Sebenarnya
ini adalah ee beberapa kali mungkin saya
sudah menyampaikan ee poin-poinnya
tetapi kemudian ada kekhususan pada
aspek-aspek terentu
ee ini saya ee Prof. Dr. M. Alhumedi di
Brin. Kemudian terima kasih tadi sudah
saya sebutkan kepada Bapak Aris Agung
Pawai sebagai Kepala Badan Pengembangan
Sumber DAUSA Provinsi Jawa Timur. Ibu
Prof. Dr. Sarmini, Bapak Prof. eh Dr.
Ins. H. Joni Haryanto, MDM. Para peserta
dan panitia kegiatan yang saya muliakan.
Ee ada tiga hal yang ingin saya
sampaikan. pertama adalah ee mohon maaf
kalau sedikit bersombong nanti tentang
inspirasi mencapai prestasi melalui
penelitian dan penulisan sebagai buah ee
sebagai apa pemantik buat Bapak Ibu
semuanya untuk ee apa terpacu di dalam
ee proses penelitian dan penulisan.
Kemudian kedua adalah penyusunan
rancangan penelitian dan ketiga adalah
teknik pelaksanaan untuk mendukung
pasokan data tulisan. Jadi, Bapak, Ibu
inspirasi mencapai tulis apa mencapai
prestasi ee ini saya gambarkan seperti
ini. Saya menjadi PNS itu tahun 2008
tetapi kemudian mendapatkan SK eh
profesor riset dari presiden itu adalah
1 Juli 2016. Jadi dalam waktu 8 tahun ee
saya mencapai eh jenjang tertinggi itu
ada 1300 yang saya ajukan tetapi
kemudian yang apa yang tersimpan itu
masih ada 156 poin. Ini saya mendapatkan
SK Presiden itu adalah ketika saya
berada di golongan 3D. 3D baru 3D.
Selanjutnya baru kemudian berproses
menjadi ee apa ee 4A, 4B, dan 4C.
Sekarang ada ini karya-karya sendi ee
yang saya lakukan. Jurnal internasional
4 artikel, buku internasional standar
PBB 2 buah, chapter buku internasional
satu artikel, proseding internasional
dan sebagainya. Jurnal nasional tak
akreditasi hampir 85 artikel dan
seterusnya. Nah, cadangannya itu sampai
sekarang sampai tahun 2021 akhir itu
adalah 125 poin. Sayangnya di dalam
tradisi ilmu pengetahuan itu tidak ada
namanya sodqah ee angka kredit. Itu
menjadi menjadi ini menjadi hal yang ee
kita ee tetapkan di dalam kode etik ee
apa kode etik akademik, kemudian yang
lain-lain confidential paper untuk
presiden dan sebagainya. Nah, penelitian
yang saya lakukan selama ee perjalanan
karir saya sampai 2021 adalah penelitian
internasional 5 judul ee mendapatkan
dana 7,2 miliar, penelitian nasional 22
judul sekitar 12, miliar, kerja sama
program kegiatan 4 miliar dan
sebagainya. Total pendapatan yang saya
terima ee di dalam proses pengajuan
proposal penelitian itu adalah 24,2
miliar. Uang itu diserahkan ke lembaga
untuk kegiatan penelitian dan program.
Nah, apa sebenarnya ee ketika kita
misalnya ee melakukan penelitian dan
penulisan itu tadi ee Ibu Profesor
Sarmini sudah jelas memberikan apa ee
secara gamblang memberikan ee apa
paparan mengenai tujuan penulisan itu.
Tetapi poin yang paling penting adalah
bahwa tujuan meneliti dan menulis itu
ada enam minimal. Pertama adalah untuk
angka kredit kenaikan jabatan
fungsional, untuk pengembangan ilmu
pengetahuan. itu yang biasalah itu ee
bagian dari tanggung jawab akademi kita.
Lalu pelancar seleksi jabatan open
biding. Kalau kita mengikuti seleksi
jabatan itu ketika kita mampu melakukan
penelitian dan penulisan yang bagus
insyaallah dipermudahkan. Laporan
kegiatan, bentuk komitmen pelaksanaan
tugas dan seterusnya. Kemudian
sebagai bentuk eksistensi diri menjaga
martabat, memuaskan pimpinan dan
sebagainya itu estimate eh kebutuhan
eksistensi. Lalu pencapaian akhir studi
dan seterusnya. ini yang berhubungan
dengan studi. Tetapi di dalam proses itu
kita ada kelemahan. Kelemahannya itu
mungkin Bapak Ibu merasakan kelemahannya
adalah sulit menulis, ada rasa kurang
percaya diri, sulit meneliti, mudah
bosan. Kita coba duduk di meja 1 jam,
kuat enggak untuk menulis ee tiga
halaman? Kalau kuat, insyaallah Bapak,
Ibu bisa berlanjut menjadi ee 3 jam, 5
jam ee untuk menulis ee apapun di dalam
ee dalam setiap harinya dan seterusnya.
Sulit bergaul, sulit atau telat berpikir
dan sebagainya. Itu yang kemudian
menjadi kendala di dalam proses
penulisan kita. Lalu mengukur kelebihan.
Apakah kita kemudian mampu berpikir
sistematis, mau berpikir tentang apapun.
Saya selalu bilang ee sebenarnya hal
remeh-temeh yang ada di sekeliling kita
itu kalau kita pikirkan secara matang
dan secara ee apa universality keilmuan
itu akan menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat buat ilmu pengetahuan, buat
karir kita dan sebagainya. Atau yang
kemudian kita apakah kita kemudian
memiliki kelebihan dalam luas dalam
berpikir? Tidak kaku. Karena keluasan
berpikir itu biasanya apa? Mengembangkan
ee cara berpikirnya kita dan sebagainya.
Lalu disiplin waktu. tidak bosanan atau
betah, tidak betah, lalu berani
menetapkan dan mencapai target kita.
Siap enggak? Misalnya 1 hari saya
mengetik ee 6 jam menghasilkan ee 10
halaman spasi satu ee sekian ee tentang
isinya tentang apa saja dan sebagainya.
Kalau kita berani menetapkan target
dengan benar dan baik, insyaallah nanti
masalah keluhan-keluhan kok saya sulit
menulis, kok saya sulit naik jenjang dan
sebagainya itu akan mudah ee akan mudah
teratasi. Nah, tadi saya sampaikan ada
tiga modal dasar peneliti dan apa
kerawanan plagiarisme yang ada atau
jabatan fungsional apapun. Pertama
adalah sensitivitas, kepekaan dan hasrat
ingin tahu tentang sesuatu dalam dunia
penelitian. Inilah yang kemudian
menghasilkan ICP, idea konsep paper atau
proposal penelitian yang seringki kita
terjebak pada plagarisme ide, meniru
kegiatan orang lain, meniru proposal
orang lain dan sebagainya. Lalu yang
kedua adalah kemahiran pengumpulan dan
analisis data yang didukung metode yang
tepat. Tadi Ibu Prof. Sarmini sudah
menyampaikan bagaimana metode yang tepat
bisa menghasilkan data yang bagus dan
sebagainya. Prasyarat utama ini adalah
untuk menghasilkan kedalaman dan
keluasan data. Kedalaman data berarti
kualitatif, keluasan data berarti
kuantitatif. Lalu yang ketiga adalah
kemahiran menulis. Bagi ilmuwan adalah
kekuatan luar biasa yang menaklukkan.
Kalau Bapak Ibu sebagai pejabat analisis
kebijakan mampu merumuskan sebuah
kebijakan dan itu kemudian dipakai oleh
lembaga Ibu Bapak, maka sesungguhnya
Bapak, Ibu sudah menaklukkan e pimpinan
sudah menaklukkan ee lembaga tersebut
untuk mengikuti apa yang kita sarankan
dan sebagainya. Nah, ee tadi saya
sebutkan bahwa sensitivitas itu penting.
Itu adalah rasa ingin tahu tentang
sesuatu, berupa rasa penasaran tentang
sesuatu atau karena ada gejala yang
senyatanya dengan sesuatu yang
seharusnya terjadi. Proses ini tidak
selaras akan melahirkan banyak gejala,
fenomena, kejadian, peristiwa, dan unsur
lain. Jadi, prinsip dasarnya adalah
kepekaan. untuk mengelola kepekaan itu
saya selalu dalam 1 bulan sekali saya
jalan kaki entah berkilo-kilometer tanpa
tujuan pokoknya jalan kaki saja supaya
sensitivitas saya tetap terjaga kemudian
mendapatkan inspirasi dan sebagainya.
Nah, sumber pengetahuan itu banyak. Ada
yang dari ilmu pengetahuan secara umum,
ada yang dari authority dan tradisi yang
sudah berlaku secara umum. Kemudian ada
ee apa kepercayaan beragama, ada studi
kasus, termasuk ada pengalaman pribadi
dan termasuk mitos. Jadi ini banyak
ceritalah bagaimana kemudian
pengalaman-pengalaman pribadi misalnya
saya ee berada di wilayah Jember
menemukan dua masjid yang berhadapan ee
hanya diselingin jalan nasional eh
Dendeles Utara eh Dendeles Selatan.
Masjid satu dibangun lama lalu masjid
baru ada di depannya. Nah, salat Jumat
mereka berdua dilakukan dan sebagainya.
Bagi saya itu adalah personal experience
yang luar biasa. Eh, itu adalah
menciptakan konflik keagamaan di apa di
tingkat masyarakat yang bisa digali
secara mendalam dan seterusnya.
Nah, sekarang adalah proses penyusunan
rancangan penelitian. Ee di dalam proses
perancangan penelitian itu sebenarnya
ada tiga komponen utama. pertama adalah
kerangka berpikir atau apa
ee mendapatkan teori atau belajar teori
atau mengambil teori atau melansirkan
teori. Lalu yang kedua adalah data dan
yang ketiga adalah keterampilan menulis.
Jadi perpaduan inilah yang kemudian tadi
yang disampaikan oleh Bu Prof. Sarmini
itu sebagai sesuatu yang apa yang bisa
menghasilkan karya tulis yang baik dan
sebagainya. Kerangka berpikir berarti
adalah lansiran atau orientasi dari
sebuah tulisan. Itu jiwa tulisan.
Sementara yang data itu adalah bahan
pasokan tulisan. Kalau kita menulis
tidak ada data, tidak ada bahan ee
sebagai pasokan itu tidak akan menarik.
Jadi hanya opini saja dan seterusnya.
Ini yang kemudian tulisan akan kuat dan
bernilai baru jika proses penelitiannya
benar dan baik. Ee baik dan benar. Lalu
e keterampilan menulis berarti adalah
proses mengemas tulisan agar mudah
terbaca. Ini yang berhubungan dengan
seni atau cara menulis agar apa? Tulisan
menjadi baik, bagus, benar, sistematis,
koherent, dan komprehensif.
Nah, Bapak Ibu ee yang saya muliakan,
prosesnya adalah ee bahwa tadi ide yang
berasal dari ide dari sensitivitas itu
kemudian menjadi gagasan diturunkan
menjadi ide konsep paper eh sebuah
rancang bangun ee pelaksanaan kegiatan
apapun baik penelitian maupun kebijakan.
Kemudian proses pengumpulan data dengan
instrumen penelitian yang sudah
disiapkan. ini adalah ee proses kita ke
lapangan ee bisa ke lapangan, bisa ke
laboratorium, ataupun bisa ke
perpustakaan dan sebagainya. Itu itu
tergantung metode apa yang kita gunakan.
Kemudian analisis data ee proses
menginterpretasi data itu menjadi
penting. Kadang orang hanya mengambil
data lalu menaruh data itu di dalam
laporan penelitian saja, tetapi tidak
melakukan proses analisis data pun itu
tidak bagus, tidak baik, dan seterusnya.
lalu melalui proses penulisan dan
pelaporan lalu dijadikan dia output baik
dalam bentuk dokumen ee kebijakan maupun
prototype. Itu apa bentuknya? Misalnya
adalah tadi karya tulis ilmiah terindeks
global, terindeks Scopus, terindeks
nasional dan sebagainya atau bereputasi
nasional Sinta 1, Sinta 2 dan
seterusnya. Jadi kalau untuk level Bapak
Ibu menurut saya sudah yang harus
dikejar itu adalah Sinta 3, Sinta 2
dengan Sinta 1. Kalau Sinta eh 4 5 6
sebenarnya adalah level untuk mahasiswa
S1 dan S2 ya, S1 dengan S2. Tapi S2 pun
sekarang harus Sinta 2 dan eh
seterusnya.
Nah, jadi prosesnya seperti ini Bapak
Ibu untuk melakukan rancangan bahwa ada
ide itu bagi saya itu mahal banget. Tapi
semakin dibagi semakin mengalir. Makanya
kemudian setiap ada orang yang meminta
saya untuk ee berbagi ide tentang
sesuatu penelitian akan saya bagikan,
akan saya berikan. Karena semakin saya
berikan semakin akan ee akan semakin
banyak ide saya tentang sesuatu itu. Ide
itu isinya adalah tentang
kebermanfaatan. Baik ilmu untuk ilmu,
ilmu untuk kehidupan, ilmu untuk
kebijakan dan sebagainya. Lalu dari ide
itu susun menjadi proposal dan kalau
prinsip saya adalah wajib berhasil. saya
mendapatkan dana dari LPDP, dari
Kementerian Parekrap, dari apa Kristen
Aid, dari Muslim Aid dan sebagainya itu
pasti akan berhasil. Oleh karena itu,
kemudian prinsipnya adalah membuat
proposal adalah sebuah karya seni bukan
fabrikasi. Saya sering menjadi juri di
beberapa tempat, proposal A, proposal B
sama, nyaris sama, kutipannya sama dan
sebagainya. Jadi, itu adalah model
fabrikasi. Prinsip dasarnya membuat
proposal itu adalah seperti sebuah karya
seni. Semakin detail, semakin hebat,
semakin sentuhan tangan kita masuk, maka
semakin bernilai proposal kita itu. Di
dalamnya ada start of the art yang tadi
digambarkan oleh Ibu Prof. Kemudian
kebermanfaatan rasional, otentik, dan
ada kebaharuan. Itu penting. Kebaharuan.
Start of the art, novelty itu poin
pentingnya di dalam membentuk proposal.
Kemudian riset yang hebat, melakukan
riset yang hebat. Di dalam proses riset
yang hebat itu kita membuat rancangan
penelitian yang kuat. Di situ ada
instrumen penelitian yang sudah
ditetapkan, ada tentatif outline yang
sudah ditetapkan, ada apa, ada
pelaksanaan teknis metode yang kita
tetapkan dan sebagainya. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan kedalaman data,
data yang spesifik, ada data keterluasan
sesuai dengan metode penelitian yang
kita gunakan di dalam melakukan riset
yang hebat. selalu saya dorong Bapak Ibu
untuk keluar dari zona nyaman. Kalau
Bapak Ibu sekarang misalnya berada
menjadi pejabat eselon 2 atau eselon 3,
tapi ketika menjadi pejabat fungsional
maka lupakan jabatan lama itu. Dia harus
keluar dari zona nyaman. Ee apapun yang
dihasilkan, disampaikan oleh masyarakat
kita harus benar-benar dengar, harus
benar-benar telisik, dan sebagainya.
Jadi perjalanan lapangan bukan
perjalanan 3P, perjalanan pesawat,
kemudian penginapan yang bagus atau yang
ketiga adalah P, yang ketiga adalah
mencari pasar untuk oleh-oleh dibawa
pulang dan sebagainya. Tapi perjalanan
ke lapangan betul-betul ingin
mendapatkan data yang dalam, yang luas,
dan spesifik. Jadi keluar dari zona
nyaman, penuh dengan keuletan, tidak
semua dapat dilakukan dengan teknik yang
sama. Lalu proses menulis ee itu untuk
ilmu pengetahuan, untuk kebijakan,
maupun pengembangan. Ini nilai
manfaatnya jelas bagi pengetahuan dan
pembangunan. Sementara target hasil
penelitiannya adalah keterbacaan, gaya
penulisan, bukan keruutan berpikir yang
ditransmisikan kepada orang lain. Jadi,
itu poin penting di dalam proses
menulis.
Nah, Bapak, Ibu yang saya ee saya
muliakan bahwa ada segitiga emas yang
mau tidak mau kita tidak bisa lepaskan
di dalam proses menulis ee sesuatu itu.
Pertama adalah grand, jadi biaya dana
itu menjadi poin penting. Makanya
sebagai seorang pejabat fungsional nanti
ke depannya adalah kemampuan Bapak Ibu
membuat proposal penelitian pun adalah
prasyarat untuk bisa menghasilkan
penelitian dan menghasilkan tulisan yang
bagus. Jadi, GR itu bentuknya adalah ide
kak apa konsep ee apa eh kerangka acuan
kerja, proposal, rancangan penelitian,
tentatif outline dan sebagainya. Lalu
melakukan riset. eh riset itu akan
menghasilkan data dan seterusnya itu
rapot data, pasok outline, analisis,
interpretasi, penulisan, publikasi dan
sebagainya baru menghasilkan manuskrip.
Manuskrip itu berarti karya tulis
ilmiah. Bisa dalam bentuk laporan,
bentuk KTER, publikasi, naskah kebijakan
atau yang tadi disampaikan oleh Ibu Prof
ada dua, ada dua kon dua kluster. Yang
satu adalah buku, yang satunya kemudian
KPI terpublikasi baik nasional maupun
global. Tetapi naskah kebijakan bagi
para ee fungsional analisis kebijakan
bisa menghasilkan model regulasi
strategi untuk apa pembangunan dan
kesejahteraan
ini prosesnya TOR ee dibuat oleh pihak
sponsor panduan membuat proposal lalu
ICP ide eh ide konsep eh ide konsep
paper ide awal proposal ringkas dibuat
oleh peneliti. Kemudian proposal
penelitian dibuat oleh peneliti.
Kemudian riset desain dibuat peneliti.
ini adalah uraian lengkap rencana
penelitian setelah proposal disetujui
baru kemudian dilakukan penelitian baru
menghasilkan output berupa karya tulis
ilmiah buku maupun jurnal dan
sebagainya. Jadi rancangan penelitian
seperti ini Bapak Ibu kalau yang sebelah
kiri itu adalah ee proposal penelitian.
Tetapi ketika dia menjadi rancangan
penelitian, maka lebih detail lagi ada
judul, ada abstrak, kemudian ada
macam-macam itu. Metodenya pun
diperjelas, hasil dan keluarannya apa,
personalia dan hal yang paling penting
di dalam rancangan penelitian kemudian
adalah bangunan instrumen penelitian,
baik berupa pedoman wawancara mendalam,
panduan observasi, outline FGD,
kuesioner bila kuantitatif, pegangan
telusur dokumen bila ee membutuhkan
penguatan data dokumen. Lalu hal yang
lain adalah tentative outline. Jadi
kadang orang membuat tentatif outline
itu adalah setelah kelapangan. Kalau
saran saya tentatif outline lebih baik
dibuat dibangun sebelum kita ke
lapangan, sebelum melakukan penggalian
data. Jadi sistematika penulisan seluruh
laporan baik buku maupun jurnal itu
ditetapkan di awal itu tentatif.
Sementara nanti masalah kemudian
perubahannya ke depan itu adalah setelah
ke lapangan ih ada ini ini kita berubah
itu enggak ada masalah. pembagian tugas
penelitian dan penulisan ee anggota tim.
Jadi, sejak awal kita harus pecah
timnya. Si A menulis apa, si B menulis
apa, si C menulis apa agar apa tidak
terjadi klaim data, tidak terjadi amuk
ee apa pengakuan data kemudian atau
saling menggantungkan ee penulisan
kepada seseorang saja. Jadi misalnya
saya menulis ee bab 2 bab 3 ee kemudian
Pak Joni misalnya menulis bab 4 dan bab
5. Lalu Ibu Maya misalnya menulis bab 6
bab 7. Ibu Tika bisa menulis bab 8, bab
9 dan sebagainya. Jadi itu sudah harus
dibagi ee ee pembagian tugasnya di dalam
penelitian dan penulisannya.
Nah, proses membuat tentative outline
itu adalah pertama judul. Ingat ya,
judul itu adalah sebenarnya adalah
kalimat sederhana dari rumusan masalah.
Ini adalah masalah pokok yang diturunkan
ke beberapa pertanyaan. Jadi harus ini.
Kemudian turunkan masalah ke subbagian.
Setiap pertanyaan menjadi satu subbagian
tetapi diikat dengan rumusan masalah
pokok basis isi substansi judul. Terus
terang Bapak Ibu eh lalu yang ketiga ini
isi setiap bagian dengan data, proses
analisis. Setiap bagian diisi oleh data
dianalisis dengan kerangka teori sebagai
pisau analisisnya narasikan secara
mengalir dan kuatkan dengan rujukan.
Terus terang tadi saya mohon maaf ee
saya terus terang paling tidak setuju
membuat buku itu misalnya bab 1
pendahuluan, bab du kerangka teori, bab
3 metodologi penelitian, lalu bab 4
adalah hasil dan pembahasan, bab 5
penutup. Saya itu untuk menjadi sebuah
buku itu tidak menarik bagi saya. bab 1,
bab 2, bab 3 dikumpulkan saja menjadi
bab 1. Kemudian yang bab 2 sampai
seterusnya itu adalah isi turunan dari
pertanyaan ee turunan dari masalah
penelitian yang diturunkan ke beberapa
pertanyaan yang kemudian diselesaikan
di setiap babnya. Bab dua menyelesaikan
misalnya gambaran wilayah. Bab 3
misalnya tentang apa? Tentang livelihood
system-nya masyarakat. Kemudian bab ee
lianya adalah tentang karakter ee
ekonomi masyarakat di dalam ee mengatasi
kemiskinannya dan sebagainya itu harus
harus tertata. Masing-masing bab
misalnya 20 halaman, 20 halaman, 20
halaman. Selesai. Jadi kalau 7 bab
berarti ee 7 * 2 berarti sudah 14 ee 114
ee ee halaman. Kalau itu dijadikan buku
berarti 220 halaman. Itu itu poin yang
harus ditegaskan dari awal.
Nah, jadi setelah proposal selesai
sebagai pamer ide dan pamer metode
selesai, maka persiapan
mengoperasionalisasikan dokumen
substansi ke dalam bentuk dokumen siap
kerja wajib dilakukan. Itu yang kemudian
disebut dengan rancangan penelitian.
Dokumen kerja seringki dinamakan sebagai
rancangan penelitian karena sifatnya
teknis dan operasional. Tidak lagi
seperti proposal penelitian yang apa
proposal itu kan hanya pamer ide sama
pamer metode. Tetapi kalau kemudian
rancangan penelitian itu sudah harus
lebih teknis. karena sifatnya teknis dan
operasional dan dapat dilakukan oleh
siapapun yang terlibat dalam keanggotaan
tim. Jadi kalau saya melibatkan Ibu Tika
misalnya, Bu Tika ee Ibu Tika karena
bidangnya adalah misalnya ee lingkungan
sementara penelitian kami adalah tentang
kebudayaan. Tolong ee hubungkan antara
pengaruh lingkungan dengan ee praktik
kebudayaan di masyarakat. Ini poin 1,
poin du, poin nya selesaikan. saya minta
20 halaman sampai 30 halaman spasi 1.
Nanti Ibu Tika mencari responden atau
mencari informan sesuai dengan apa yang
ee dia tetap apa kita tetapkan di dalam
proses ee ee ee penelitiannya atau
penulisannya. Jadi tentatif outelennya
itu sudah jelas ee kerjaan Ibu Tika itu
apa dan seterusnya. Lalu pemilihan
anggota tim yang didasarkan pada
komitmen, kepakaran dan chemistri yang
sama menjadi prasyarat utama. Jadi kalau
chemisternya kita lancar terbangun
misalnya saya sama Ibu Prof eh Saram
mini misalnya chemistrynya terbangun
dengan baik, apapun yang dilakukan oleh
kita pasti akan ee saling didiskusikan
untuk mencapai sesuatu yang baik dan
seterusnya. Lalu, penyusunan instrumen
penelitian. Instrumen penelitian pun
harus dirumuskan dengan mempertimbangkan
dan mempertautkannya pada rumusan
masalah pokok dan rinciannya beserta
tujuan penelitiannya. Penyesuaian
instrumen penelitian dengan metode
penelitian pun adalah prasyarat utama.
Setiap penguraian pertanyaan pastikan
terhubungan dengan tabel asparin, aspek,
variabel, indikator, dan sub-subnya.
Pastikan setiap pertanyaan di dalamnya
ada kekuatan teori dan tinjuan pustaka
yang akan dihadirkan dalam proses
analisis dan interpretasi datanya.
Yakinkan bahwa setiap poin penyusunan
instrumen penelitian itu akan berguna
bagi upaya mendapatkan data-data penting
yang akan menjadi pemasuk outline yang
ditetapkan sementara sebelum ke lapangan
dan akan menjadi outline fix pasca ke
lapangan. Sekalipun terlihat
operasional, basis teoritis di alam
bawah sadar peneliti harus terus menjadi
elemen penting pengarah semua
tulisannya. Jadi eh preposisi harus
terbangun. Kalau dalam bahasa
kuantitatif itu hipotesis itu jawaban
sementar itu harus ada di dalam e belak
apa alam bawah sadarnya kita ketia
wawancara dan sebagainya agar mengarah
ee ke sana arah ee pertanyaannya,
mencari jawabannya dan sebagainya. Nah,
instrumen penelitian kedua adalah setiap
pertanyaan yang diajukan memiliki
konsekuensi terhadap penguatan laporan
penelitiannya. Jadi pertanyaan itu boleh
basa-basi awalnya, tetapi kemudian
basa-basinya itu nanti meruncing ke arah
sesuatu yang berhubungan dengan jawaban
dari permasalahan yang kita ajukan.
Basis pengalian data lebih utama
dibandingkan data yang bersifat sekunder
atau dokumen. Jadi, kecuali teman-teman
hukum, kemudian teman-teman statistik
dan sebagainya. Ee saya lebih mendorong
agar Bapak Ibu melakukan penggalian data
di lapangan itu lebih real. Lalu
pembuatan outline harus diturunkan dan
dijabarkan dari rumusan masalah yang
ada. Data yang didapatkan dari proses
pengumpulan data baik kualitatif ataupun
kuantitatif akan memasuk setiap bagian
dari outline yang ada sehingga ia akan
menjadi bagian penting penelitian.
Proses penerjemahan klasifikasi reduksi
pengolahan dan analisis data dimulai
saat data lapangan mulai muncul. Lalu
penguatan data lapangan dilakukan dengan
dukungan data dokumen dan sebagainya.
Jangan dibalik Bapak Ibu. Penelitiannya
sudah jelas-jelas kualitatif kemudian
menggunakan field riset data lapangan di
sebuah lokasi. Tapi yang terjadi ketika
Bapak, Ibu apa memberikan laporan
penelitian hampir 60%-nya itu adalah
data sekunder, guntingan-guntingan dari
penelitian orang lain atau apapun.
Sementara data data lapangannya, data
real lapangannya itu ee hanya 10% atau
20% itu namanya keterlaluan. itu harus
benar-benar sesuai dengan pilihan metode
penelitiannya. Nah, proses analisis data
adalah kumpulan data harus diolah secara
simultan yang sesuai menyangkut
bagaimana data akan diolah,
diklasifikasikan, dan diatur ke dalam
variabel yang ada. Prinsip dasarnya
analisis data itu adalah setiap aspek
harus dihubungkan dengan aspek lain.
Jangan pernah mendiri menyendirikan satu
aspek di antara aspek yang lain. Jadi,
dia harus mencari relasi antar aspek.
Itu kan namanya proses analisis dan
interpretasi data. Kemudian cara
mengorganisasikan data adalah
mengorganisasikan data, menjabarkannya
ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusun ke dalam pola, memilih bagian
yang penting untuk dipelajari, membuat
kesimpulan. Ini proses yang pada umumnya
dilakukan oleh oleh para peneliti atau
para penulis. Kemudian sifat analisis
data kualitatif adalah data yang
diperoleh diturunkan, dikembangkan pola
hubungan tertentu. Apakah dia tematik
atau kemudian ada tadi yang saya bilang
keterhubungan antara aspek satu dengan
yang lain. Kemudian pola yang diperoleh
dicarikan data secara berulang. Apakah
sama di tempat lain juga atau dan
sebagainya. Bila pola tersebut benar
dari data yang berulang, maka
dikembangkan teori baru. Kita bisa
menghasilkan teori baru. Nah, kekuatan
penelitian kualitatif sesungguhnya
adalah menawarkan tema-tema baru. Jadi,
ee misalnya judul itu membuktikan ee
sebuah tema baru. Judulnya misalnya
kalau kita di Gresik ya misalnya saya
pernah melakukan penelitian tentang wong
lumpur di Gresik. Ee hibriditas Wong
lumpur ee di Gresik. Bagaimana kemudian
ee sifat orang giri bertemu dengan orang
Madura di daerah pinggir laut yang
tadinya halus bertemu dengan orang
Madura yang tanda kutip sedikit tegas
yang hasil kebudayaannya begini dan
seterusnya itu menjadi sesuatu yang
menarik dan tidak pernah ada ee teori
itu. Jadi saya kemudian menawarkan
tentang teori hibriditas wong lumpur
Gresik eh di jurnal ee Madura dan
alhamdulillah diterima itu Sinta 1 kalau
tidak salah. Melakukan reduksi data,
merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting,
dicari tema dan pola serta membuang data
yang tidak penting. Lalu data display
penyajian data ini nanti akan saya
berikan ee gambarannya bagaimana cara
menyajikan data secara ee secara baik
dan benar. Jadi intinya adalah data
kemudian disajikan, disuguhkan janganlah
sekedar kutipan wawancara tetapi
kemudian saling didiskusikan antara satu
aspek dengan aspek lainnya. Nah, ini
adalah model membuat data apa? Tabel
asparin. Tadi saya menyatakan bahwa ee
ketika kita mau merancang sebuah
penelitian ee tabel asparinnya itu harus
jelas. Ini kita mengambil contoh dari
masalah ee peran tokoh agama di dalam
penanggulangan bencana. masalah
penelitiannya adalah yang berhubungan
dengan keawanan, kerentan, risiko
bencana. Kemudian landasan teorinya akan
double disaser berarti j list. Kemudian
aspeknya apa saja, bencana ganda apa
variabelnya apa, karakter bencana dan
sebagainya, indikatornya apa dan
seterusnya. Nah, dari indikator inilah
yang kemudian diturunkan menjadi
pertanyaan-pertanyaan penelitian yang
kira-kira pertanyaan penelitian itu
kalau terjawab semua itu akan
menyelesaikan masalah penelitian tentang
kerawan kerentanan eh double disaster
ini.
Variabel ini ee menurunkan dari pedoman
wawancara observasi. Jadi variabel
tentang karakter bencana, indikatornya
apa, lalu pertanyaannya apa, informanya
siapa, observasinya apa, fokus amatannya
apa. Jadi itu sudah jelas dari awal,
sudah ditetapkan di rancangan penelitian
sebelum kita melakukan penelitian,
sebelum turun ke lapangan itu harus
sudah ditetapkan. Nah, ini kemudian data
digital apa yang diperlukan? Ee misalnya
kita menggunakan data dukung untuk
etnografi digitalnya adalah aspek
tentang kerawanan. Diambil dari mana?
dari YouTube, Facebook, kemudian peran
dan ee kuasa para tokoh agama dari mana?
Dari Twitter dan sebagainya itu di
dilihat ee ininya apa ee ee ke ee ee
visibilitasnya itu harus diperhatikan
secara sukama dan sebagainya. Nah, jadi
komponen-komponen produksian dalam ee
komponen-komponen ee apa ee di dalam
penelitian dan penulisan sesungguhnya
adalah pertama adalah kita melakukan
proses analisis. Kemudian pemaknaan,
penjelasan, penyimpulan, tindak lanjut,
dan pemantaban itu rata-rata di dalam di
dalam ee di dalam penelitian itu akan
akan melakukan hal seperti itu. Nah,
sekarang kita mulai langsung ke
detail-detailnya dulu. Teknik
pelaksanaan untuk mendukung pasokan data
tulisan. Data sebagai bahan baku
tulisan. Bapak, Ibu tadi sudah
disampaikan oleh Ibu Prof itu bisa
dihasilkan dari metode apapun. metode
risetnya kualitatif, kuantitatif, maupun
mixed metode atau dari bacaan primer,
sekunder, atau dari refleksi. Refleksi
misalnya dari analogi hukum misalnya ee
kok teori ini enggak ada. Kita bisa
melakukan refleksi ee berdasarkan
analogi e kalau dalam bahasa hukum Islam
itu kias namanya. Lalu reflektif hasil
bacaan, perenungan mendalam dan
sebagainya. Ini untuk apa? untuk
mendapatkan ee ke jurnal nasional
global, karya tulis akhir ee studi
jurnal nasional dan global maupun buku
dan seterusnya. Sementara yang ini juga
untuk menghasilkan opini, proposal
desain e fiksi, non fiksi, dan
seterusnya. Jadi masing-masing sudah
punya ee ee punya targetnya
bahwa data itu adalah sekumpulan
informasi yang didapatkan dengan teknik
atau metode tertentu dan telah teruji
validitas kesahihannya. Nah, ee hal yang
paling penting adalah kemudian kita
harus membuat apapun menggunakan basis
data. Jadi, melihat akar masalahnya,
membangun dan membuktikan secara tepat
preposisi hipotesis, meletakkan kerangka
konsep, kerangka teori yang benar untuk
bisa menghasilkan data yang tepat,
menggali dan mengumpulkan data yang luas
dan mendalam, melaporkan temuan data
yang benar dan bukan dengan kebohongan,
memberikan analisis yang tepat atas
temuan, menghasilkan laporan sistematis,
dan seterusnya. Metode dan proses
penelitian tidak ansih milik peneliti,
tetapi keahlian dan keterampilan
meneliti dan menulis adalah harus Bapak
Ibu miliki. Terlebih ketika kita berada
pada pilihan karir yang berhubungan
langsung dengan masyarakat dan dunia
tulis-menulis dan pengajaran. Apalagi
jabatan fungsional apapun rata-rata
hasil penilaiannya itu adalah dengan
karya tulis ilmiah ataupun dengan
makalah dan sebagainya.
Nah, menata dan mengolah data itu ada
tiga, ada tiga aspek yang penting tadi
ee apa penerjemahan dari apa reduksi
data eh analisis data dan sebagainya.
Pertama adalah menata menata data.
Menuliskan data dalam sebuah transkripsi
atau tabel secara lengkap. Kemudian
menghimpunkan data dalam substansi yang
sama. Sementara mengolah itu adalah
mengklaser kategorisasi data sesuai
tujuan penelitian dan rumusan masalah.
Kemudian mendistribusikan data sesuai
outline sementara tentative outline yang
dibuat sebelum proses pengumpulan data.
Dan kemudian tahap ketiga adalah
menjabarkan dan interpretasi data.
Mengalihkan transkripsi atau tabel data
ke dalam sebuah narasi. Ini tidak semua
orang bisa. Jadi ada orang yang main
copy paste ee kutipan wawancara langsung
dimasukkan ke dalam KTI-nya kita. Itu
enggak bisa. Harus ada rambu-rambunya.
kaitkan dan kuatkan dengan analisis
mendalam dengan teori yang
berkesesuaian. Interpretasikan dan
jabarkan data sesuai antar aspek dan
seterusnya. Nah, ini contoh tentatif
outline Bapak Ibu yang tadi double
bencana. Double apa? Ee apa dobel ya
bencana ganda. Karena ini adalah ee
laporan akhirnya adalah berupa tesis.
Jadi menyesuaikannya seperti ini.
Pendahuluan tinjuan pustaka sebagaimana
gaya yang sudah ditetapkan atau pedoman
yang sudah ditetapkan oleh kampusnya.
Bab 1 sampai 3 ini berhubungan dengan
pengantar. Lalu bab bab 4 tuh bab 4
menelisi rawan wilayah bencana ganda
tadi yang apa yang tabel yang tadi
asparin tentang kerawanan bencana ganda
1 2 3 sudah jelas. Kemudian bab 5 perron
di tengah bencana. Berarti ini menjawab
masa penelitian tentang bagaimana peran
patron ee agama di tengah kebencanaan.
Nah, ini jawaban bab 4 eh bab 5. Lalu
bab 6 ee bagaimana kemudian ada
pertanyaan di di rumusan masalahnya
adalah misalnya bagaimana konflik yang
terjadi di antara para patron ee yang
kemudian mengganggu atau kemudian mampu
menguatkan resiliensi masyarakat
menghadapi bencana. Ini yang kemudian ee
disodorkan bab 6 sebagai jawaban dari
pertanyaan penelitian. itu baru bab ee 5
eh bab 8 eh bab 7 itu adalah model
kebijakan yang bisa ditarik dari tiga ee
komponen utama ini ditarik untuk menjadi
sebuah model kebijakan karena ini adalah
anak bimbingan di sosiologi ee
perekayaan kebijakan akhirnya ada ee bab
7 yang seperti ini, bab 8 penutup. Jadi
Bapak Ibu hasil dan pembahasan itu bisa
dituangkan ke dalam beberapa bab dan
seterusnya.
Ini contoh yang saya buat buku kuliner.
Jadi, bagaimana kemudian ee bagian
bagian tadi yang saya bilang ee
pendahuluan, metode penelitian, dan
kerangka teori saya kumpulkan di bab
satu saja. Ini ada 27 halaman ya,
jejaring kuliner uraian awal kekayaan
budaya. Ini adalah per ee diskusi antara
ee apa lapangan ee kemudian teori dan
metode penelitian di situ. Kemudian bab
2, bab 3, bab 4 sampai seterusnya itu
adalah isi benar-benar isi kecuali bab
10 itu penutup. Jadi itu kesimpulan itu
kalau kita membuat buku seperti ini.
Bayangkan dalam sebuah buku saya menulis
hampir 8 dari 10 bab. Sebenarnya bisa
menulis sendiri tapapi tetapi hal ini
adalah bentuk penghargaan dan jeripaya
anggota tim peneliti. Jadi akhirnya saya
libatkan mereka untuk memasukkan tulisan
ke bab 7 bab 6 kemudian bab 8 dan
seterusnya. Nah, itu jadi berbagi,
berbagi cerita, berbagi tulisan, berbagi
bab itu menjadi poin penting. Kita harus
tetapkan dari awal untuk ini tentatif
hotelnya itu menjadi penting. Nah, ini
adalah sistematika penulisan ee jurnal
globalnya. Jadi, eh saya melakukan
penulisan dengan Mas Parham sama Mas
Gustaf eh untuk apa? Sistem informasi eh
tradisi kuliner. Jadi, ini yang diajukan
ke etnik food. Eh, mereka menggunakan
modelnya seperti ini, abstrak. Kemudian
pendahuluan itu bisa terbagi ini
kata-kata ini culinary megend dan
sebagain itu bukan berarti sub di dalam
di dalam ee di dalam tulisannya tetapi
itu hanya apa eh poin apa main
idea dari eh setiap eh beberapa paragraf
yang ada kuliner megatrend kemudian eh
ee kebudayaan kuliner di Indonesia,
kuliner database di Indonesia. Kemudian
literatur review-nya seperti itu sat du
lalu riset metode danya eh research
metodenya ada empat modelnya seperti
itu. Kemudian research and
discussion-nya adalah seperti itu. Jadi
kemudian saya tetapkan masing-masing eh
fokus ini result and discussion-nya itu
misalnya masing-masing dua halaman atau
satu halaman akhirnya menjadi 7uh
halaman sampai 8 halaman. Plus laturator
review dua halaman. Bagian bab eh bagian
pendahuluan eh dua halaman. Berarti
semuanya adalah 15 halaman sampai 17
halaman. Selesai. Itu ke jurnal ethnic
food ee di Korea dan selesai. Ee angka
kreditnya kan 40 poin atau 20. Iya.
Angka kredit ee indeks global itu adalah
40 poin.
Kemudian yang jurnal nasional misalnya
saya membuat tentang tulisan pengkang.
Ee pertanyaan adalah bagaimana karakter
hibriditas dan kreativitas pengelolaan
kuliner tradisional seperti pengkang.
pengalang itu lemper bakar itu dilakukan
seiring pertemuan budaya akibat pola
migrasi beberapa kelompok etnik yang ada
di Indonesia. Nah, ini yang kemudian
dipecahkan menjadi beberapa sub ee bab
Bapak Ibu di dalam jurnal itu kita boleh
melakukan pembabakan seperti ini. Eeemb
pembahasan A peneliti Kalimantan Barat
sebagai wilayah migrasi berbagai
kelompok etnik. Ini semacam gambaran
kewilayahan dan tradisi sosial
kebudayaan mereka. Kemudian yang kedua
adalah pengkang hibriditas pengelolaan
kuliner tradisional. Lalu yang C
berjumlah silsila perantau dalam
hibriditas kuliner pengkang. Jadi ini
ketika kita menyelesaikan C itu berarti
bagian pertanyaan itu sudah selesai.
Berjumpa silsilah perantau dalam
hibriditas kuliner pengkang itu
sesungguhnya kita mampu menjawab
pertanyaan tentang karakter hibriditas
itu. Lalu penutup daftar pustaka dan
sebagainya sebagaimana gaya
selingkungnya mereka. Nah, ini Bapak Ibu
bagaimana kemudian memasukkan antara
teori data wawancara, analisis data,
menurunkan teori dalam konteks data.
Jadi, kalau saya membuat dua halaman
yang ada ee misalnya nih eh teori bagi
berger keberadaan komunitas agama
dianggap penting untuk memberikan
struktur kemasukakalan bla bla bla
lakmen ini ya. Ini teori berarti.
Kemudian wawancara ini wawancaranya itu
kutipan seperti ini. Apa yang terjadi
kemarin itu observasi. Ee apa yang
terjadi kemarin ee itu ee ee hasil
wawancara dengan Bapak Ty data
wawancara. Kemudian analisis datanya
seperti ini. Jadi semua apa ee perangkat
kita di lapangan data yang dihasilkan
terpakai di dalam ee penyusunan ee
bab-bab ini. Itu akan menjadi sesuatu
yang menarik. Nah, poin akhirnya
kemudian menurunkan teori dalam konteks
data. Jadi kita sekedar memancing ee
supaya ada hubungan antara data yang ada
dengan ee dengan ee kondisi ee kita ee
di lapangan itu itu jadi mencari
keterubungan itu. Lalu atau yang seperti
ini. Jadi ini adalah wawancara observasi
ee ini wawancaranya lalu penelitian
terdahulunya muncul lalu observasinya
seperti ini Pak Bu. Observasi tentang
ruang sakral kita gambarkan seperti ini.
Jadi ee kalau ada perpaduan antara
wawancara dengan observasi ee minta di
minta digambarkan apakah benar seperti
ini Pak, Bu? Itu kalau benar kita
berikan gambaran seperti ini. Ada ruang
sosial, ada ruang sakral dan sebagainya.
Ini yang kemudian menjadi poin plus dari
penelitian tentang bencana ganda itu.
Lalu analisis data dari data bacaan ini
seperti ini di apa? dimunculkan dengan
menjadikan masih sebagai bagian tidak
terpisahkan dari proses penguatan
resilan komunitas, maka dengan
sendirinya bala bla bla bla dan
seterusnya.
Nah, ini termasuk data kuantitatif.
Jadi, bagaimana kemudian data
kuantitatif? Kadang orang memasukkan di
dalam jurnal itu data kuantitatif itu
angka-angkanya saja. Jangan. Kita harus
memberikan pengantar, kalimat
pengantarnya ada, kemudian data hasil
observasi kunjungan kita ke lapangannya
ada. Kemudian dikuatkan dengan data
hasil kuesionernya. Jadi jangan kemudian
hanya intinya tabel-tabel melulu tetapi
tanpa ada narasi. Eh sebuah jurnal
membutuhkan narasi. Narasi itulah yang
kemudian kita sodorkan dan seterusnya.
Membuat kesatuan dalam jejaring data dan
analisis data itu kemudian menjadi poin
penting. Begini Bapak Ibu, saya selalu
menyatakan begini bahwa ee teori, data,
dan analisis itu menjadi poin penting di
dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu
posisinya bukan berimbang tetapi harus
ee sesuai, harus akomodatif di antara
ketiganya itu. Ada teori penelitian
terdahulu itu rujukan-rujukan. Lalu ada
alokasi distribusi data itu ada seperti
misalnya ee distribusi data itu adalah
misalnya data lama ee data penelitian
orang lain kita bisa ambil itu 20. Data
mendalam dari penelitian kita sendiri
itu 50%. Jadi nanti saling beradu 50%,
20%, 30% yang kemudian menghasilkan
sesuatu yang menarik. Ini prosesnya
adalah kemudian mengalirkan narasi,
membuat tulisan semengalir mungkin.
Jangan mentransmisikan keruetan berpikir
penulis ke pembaca. Penggunaan tata
bahasa yang baik menjadi poin
pentingnya. Nah, kadang kita sudah ruwet
berpikir, nulis, kemudian tulisan kita
ditransfer ke eh reviewer. Reviewernya
menjadi rumit berpikirnya. itu namanya
mentransmisikan kuotan berpikir. Itu
jangan. Itu pasti akan dibatalkan ee
naskahnya oleh reviewer atau oleh
redaktur jurnal. Lalu yang kedua adalah
mengikatkan atau mencari hubungan antara
satu aspek. Jangan biarkan satu aspek
berdiri sendiri tetapi harus dihubungkan
dan dihadapkan antara satu dengan
lainnya sehingga menjadi sebuah diskusi
yang semarak. Universalitas keilmuan
tautan teori dengan analisis
komprehensif menjadi poin penting di
sini. Lalu keselaran narasi. terus
menautkan diri pada kelindaran utama
kerumusan masalah dengan selalu mengarah
ke tentatif outline. Jadi outline itu
harus sudah jadi sebelum kita ke
lapangan. Masalah kemudian perbaikan,
revisi, dan sebagainya itu setelah data
muncul itu nanti urusan urusan sembari
jalan saja mengarahkan tulisan menjadi
sistematis. Orang banyak tidak mampu
menulis secara sistematis karena outline
dari awal tidak ada. Itu yang saya
rasakan sendiri di dalam proses ee saya
melakukan penelitian dan penulisan
maupun proses bimbingan kepada
teman-teman lainnya.
Narasi mengalir dengan bahasa yang baik.
Perbanyak atau mengayakan kosakata yang
lazim dan tidak lazim. Ikuti tata aturan
kebahasan Indonesia yang baku. Setiap
paragraf memiliki main ide yang tepat
yang harus terhubung antara satu
paragraf dengan paragraf setelahnya.
Jadi jangan kemudian berdiri sendiri.
ada paragraf yang anak hilang ya kasihan
ini ke mana hubungannya dan seterusnya.
Jadi harus ada kata sambung, ada kata
apa kata penghubung dan sebagainya.
Narasikan tulisan semaksimal mungkin.
Jangan tergoda, jangan pernah tergoda
untuk mengambil kutipan atau
memperasekan tulisan orang lain secara
terburu-buru.
Ini aja dulu. Tulis aja kita punya data,
kita punya analisis dan sebagainya. baru
nanti dikuatkan oleh tulisan orang lain
atau kutipan-kutipan itu. Setelah target
penulisan dengan ukuran seluruh
substansi terbahas dan target halaman
pers tercapai, maka proses penyelarasan
dapat dilakukan kembali. Pada fase
inilah proses pengutipan dan kaitan erat
dapat dilakukan. Kemudian
masalah kemudian analisis data
komprehensif, penulis sebenarnya
memiliki kuasa atas temuan datanya.
Kuasa itu tentu didasarkan pada
perspektif dan bangunan teori yang
digunakan. Oleh karena itu, satu objek
penelitian yang sama akan bisa dimaknai
berbeda oleh penulis lain. Tergantung
pada bangunan teori yang digunakannya.
Jadi, jangan khawatir kalau ada misalnya
saya, Ibu Maya, Pak Ahmad dan sebagainya
melakukan penelitian tentang objek yang
sama, belum jadi tulisan yang sama.
Karena misalnya pendekatannya berbeda.
Ibu Maya menggunakan apa? menggunakan
sosiologi, saya menggunakan ekonomi, ee
Pak Ahmad misalnya menggunakan politik
dan sebagainya. Walaupun objek
matter-nya adalah tentang orang lumpur
di Gresik misalnya seperti itu.
Sepanjang sesuai kaidah ilmu pengetahuan
dengan soliditas pada bangunan teori
yang digunakan, maka penulis sah-sah
saja menganalisis dan menafsirkan data
yang ada. Prinsip dasarnya itu kemampuan
menganalisis data yang baik adalah
mencari keterhubungan antar aspek yang
menjadi bagian tidak terpisahkan dari
setiap variabel yang ada dalam
penelitiannya. menguatkan proses
analisis dan teori referensi atau
rujukan lain. Tujuannya adalah temuan
data yang ada akan terhubung secara
universalitas ilmu pengetahuan. Jika
teori atas masalah yang diangkat belum
ada atau belum ditemukan setelah kita
membaca banyak buku
secara maksimal, jangan kemudian baru
membaca dua buku tiba-tiba oh enggak ada
teorinya itu enggak boleh. Ketika kita
sudah menggali banyak atau kemudian
tidak ada, maka penulis diperkenankan
menggunakan hukum kias analogi dengan
teori yang nyari serupa, tetapi membahas
objek material lainnya itu
diperbolehkan.
Lalu merujuk kepada masalah yang lain,
ee dalam tulisan kita bisa mendiskusikan
setiap data teman yang ada secara bebas
tetapi tetap kembali pada inti substansi
masalah yang teliti. Itu adalah judul
rumusan masalah tentative outel yang
harus selalu diperhatikan dalam
penulisan. Penggunaan teori yang tidak
berhubungan atau tidak memiliki manfaat
mengangat atau mendiskusikan masalah
yang ditulis harus dihindarkan. Jangan
terjebak pada keterpesonaan teori atau
tulisan lain yang membuat kita
terpancing mengutipnya tanpa batas.
Lebih baik menganalisis secara mendalam
atas data yang ditemukan oleh kita. Poin
pemajuan ilmu pengetahuan bukan terus
mengulangi tulisan orang lain, tetapi
kemampuan menghadirkan sesuatu yang baru
dari apa yang kita tulis dan apa yang
kita temukan. Itu poin pentingnya
menurut saya. Dan ketika itu saya selalu
munculkan e banyak jurnal kemudian
menerima saya dan akhirnya ee saya
termasuk apa mencapai sebuah jenjang
karir yang relatif lebih cepat. Sebab
itulah kesejatian diri seorang penulis
akan terlihat jelas pada otentisitas
tulisannya. Ketika seorang mengambil
kutipan terus dan memenuhi 70%
tulisannya dan menyodorkan data hanya
30% ee saja, maka otentitas itu pas
dipastikan tidak akan pernah dijumpai.
Dan akhirnya apa? Plagiarisme itu sangat
dekat dengan orang yang menggunakan 70%
tulisannya dari kutipan-kutipan, 30%-nya
data dan seterusnya. ee saya ee proses
membuat e strategi ee strategi merancang
bangun dari data lapangan kemudian ke
tulisan seperti ini Bapak Ibu. Pertama
adalah penulisan keseluruhan. Ini draf
kasar satu bab 1 minggu, satu draf
jurnal 1 minggu. Itu target misalnya
upayakan data terpilih masuk mengalir ee
upayakan data terpilih masuk kemudian
mengalirkan narasi sesuai sebahasan.
Jangan pernah menoleh dulu
kekutipan-kutipan buku dan sebagainya.
fokus pada tulisan kita dulu dari data
lapangan. Kemudian kedua adalah proses
ada jeda 1 minggu lalu proses melakukan
penyelarasan tulisan. Pembacaan kembali
hubungan antar aspek pada yang sudah
kita tulis seminggu sebelumnya. Lalu
mulai memasukkan kutipan-kutipan
penting. Mulai melakukan analisis
mendalam yang diwarnai ikatan dengan
teori ini adalah draf halus. Satu bab
sama dengan 4 hari, satu draf jurnal
diselesaikan selama 4 hari. Lalu jeda 3
hari kemudian mulai proses pengeditan
dan pengecekan itu menuju DAMI satu bab
DAMI eh 3 hari satu d jurnal 3 hari.
Jadi di situ adalah pengadilitan tata
bahasa, ketersambungan antar subbahasan,
ketersetujuan atas ketertujuan atas item
rumusan masalah, penyesuaian gaya
selingkung, jurnal, publishing house dan
sebagainya. Jadi itu akhirnya menjadi
sesuatu yang sempurna. tulisan kita
masuk, data kita masuk, ee kaitan erat
dengan teori yang lainnya pun bisa
selesai dan seterusnya.
Sedikit lagi ini latihan menulis dan
ikhtiar publikasi. Tolong Bapak Ibu bisa
menggunakan ee model latihan seperti
ini. Salin tiga kali, anggap aja motong
ee opini di dalam Kompas itu yang
halaman 4 atau halaman 5. Gunting.
Kemudian ee salin saja apa adanya tiga
kali selama tiga ee dilakukan selama
tiga kali. Kemudian menggubah. itu
berarti kata-kata yang misalnya tentang
ee sebuah konteks wilayah di Kompas itu
adalah tentang Sumatera Barat. Lalu
penelitian kita di di Gersik diubah
saja. Semua yang berhubungan dengan
Sumatera Barat diubah Gersik. Tapi ingat
jangan diterbitkan itu masih plagias.
Lalu baru mulai proses menarasikan
secara bebas baru kita bisa ajukan itu
bisa ee main idenya hampir sama tetapi
kemudian tulisan datanya sudah berubah
dan seterusnya. Salah satu bentuk
keberhasilan dalam menulis adalah dami
buku, draf jurnal, rencana naskah, opini
ketika mendapatkan review dari pengelola
terbitan. Jadi kalau sudah ada review
dari terbitan itu eh berarti sudah
berhasil nih, sudah ada satu langkah ee
ee langkah maju bahwa tulisan kita
diterima oleh orang dan seterusnya. Tadi
Ibu Prof sudah memberikan paparan
mengenai apa beberapa jurnal seperti
ini, jurnal-jurnal nasionalnya seperti
ini. Jadi jangan yang berhubungan dengan
manajemen saja, tetapi jurnal ilmu
sosial di berbagai kementerian banyak di
apa di perguruan tinggi banyak dan
sebagainya. Itu itu hanya tambahan saja
dan sebagainya. Saya ringkasan singkat.
Kemudian kalau orang selalu bilang bahwa
menulis itu adalah bakat, tetapi yang
saya alami saya menulis bukan bakat.
tidak ada bakat karena di dalam
lingkungan keluarga tidak memiliki bakat
untuk menulis. Tetapi saya kemudian
yakin bahwa ilmu pengetahuan bisa
menaikkan derajat para ilmuwan,
kewajiban studi dan pencam karir. Maka
ikhtiar menulis yang baik, benar,
sistematif, dan komprehensif terus saya
lakukan dengan latihan-latihan terus
yang saya lakukan tadi. Komitmen dengan
niatan dan kemauan keras adalah
prasyarat utama bahwa menulis itu mudah.
Melatih dan menjadi diri dalam menulis
adalah membentuk kesejatian diri kita
sebagai ilmuwan berkarakter dan
berkemajuan. Saya kira itu Bapak Ibu ee
apa yang saya antarkan. Semoga bisa
menjadi renungan Bapak Ibu di dalam
memperbaiki dan meningkatkan kapasitas
diri untuk kemampuan melakukan
penelitian dan penulisan. Mohon
dimaafkan kalau ada kata salah. Ee
terima kasih atas perhatiannya. Akhir
kalam wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya kembalikan keamuh.
Bapak, Ibu sekalian, para peserta
webinar, saya pikir kita harus
memberikan applause yang meriah untuk
kedua narasumber kita.
Luar biasa kedua narasumber kita dan
kita bisa menggali banyak hal. Sebagai
moderator saya tidak menyimpulkan, hanya
mencoba mengambil hikmah sedikit supaya
kita mendapat gambaran yang lebih utuh.
Ada tujuh hal yang barangkali berharga
untuk kita cermati dan kita ambil
hikmahnya. Yang pertama berpikirnya
harus extraordinary, tidak bisa berpikir
biasa-biasa. Yang kedua, menjadi penting
untuk menuliskan state of the art-nya.
Yang ketiga, novelty itu menjadi kata
mutlak yang harus dihasilkan. Yang
keempat, desain penelitian juga harus
menjadi tegas. Yang kelima, fokusnya
benar. Dan keenam, nanti tidak hanya
berpikir tentang sebuah ee data
analisis, tapi juga teorinya. Dan yang
ketujuh, tidak hanya cukup berpikir
seperti halnya kita yang ada di
kelas-kelas bawah, kelas awal namanya
apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan
bagaimana atau ditambahkan dengan 5C ada
konten ee konteks, konstrak, komparasi,
dan korelasi tetapi juga harus punya
tito. Ada tujuannya,
ada targetnya, ada strateginya, dan
pasti ada output-nya. Nah, untuk itu
semua sekali lagi saya mohon applause
untuk kedua narasumber hebat kita,
Bapak, Ibu. Oke, luar biasa kita
mendapat pencerahan dan ini ada beberapa
penanya, tetapi saya ingin mendapat dulu
yang direct yang barangkali dengan raise
hand ee satu atau dua orang, nanti
segera itu saya bacakan dari Zoom dan
dari YouTube. Teman-teman yang dari ee
direct Zoom yang bisa kita tatap di
layar, silakan raise hand satu dua orang
supaya interaksi kita lebih bagus.
Mangga
ada
ee silakan raise hand angkat tangan
Bapak Ibu
ada belum ya? Kalau belum mungkin kita
butuh waktu sebentar saya bacakan dari
bawah untuk Prof. Ali dari Aceng Aceng
Lukman ISBI Bandung. Pertanyaannya
kepada Prof. Ali. masalah penelitian
seperti apa yang menarik agar
mendapatkan bantuan dana dari berbagai
sumber seperti yang tadi disampaikan
oleh Prof. Ali, Prof. Ali disilakan dulu
langsung menjawab.
Baik, terima kasih ee Pak Aceng. Jadi
masalah penelitian yang baik itu apa?
Itu adalah pertama tentu yang
berhubungan dengan keadaan yang aktual
yang sekarang sedang terjadi. Itu satu.
Kemudian kedua, kita bisa merancang
bangun atau menawarkan sesuatu yang
sifatnya menjadi solusi bangsa, menjadi
solusi dunia dan sebagainya. Hal yang
paling penting, perhatikan misalnya eh
indikator-indikator East digis. Jadi
kita eh perhatikan digis, kemudian lihat
lokal dan sebagainya. Oleh karena itu,
saya selalu mendorong agar Bapak, Ibu
melakukan apa yang disebut dengan team
think globally,
locally, ecologically. berpikir global,
ee bertindak lokal, dan ramah lingkungan
itu. Karena apa? Karena kita akan
melihat situasi itu menjadi bagian
penting di dalam persoalan-persoalan ee
apa isu-isu internasional, isu aktual
dan sebagainya. Saya kira itu kalau
masalah kemudian ke bidang-bidang
studinya apa ya tinggal disesuaikan aja
dengan Bapak Ibu. Misalnya responnya
LPDP, ada pemajuan kebudayaan. Apa nih
aspek apa yang paling bagus? Ada yang
berhubungan dengan tata kelola apa nih
aspek apa?
berhubungan dengan apa energi apa dan
seterusnya itu monggo ee saya kira Bapak
Ibu punya ide-ide cemerlang untuk
itulah.
Baik,
begitu Pak Moderator.
Terima kasih Prof. Ali. Beralih ke Ibu
Prof. Sarmini dulu.
Iya.
Dari Palupi DKPP Kabupaten Jombang. Saya
merupakan perencana ahli muda hasil
penyetaraan. Terus terang saya masih
belum memahami terkait butter kegiatan
di mana pada unsur perencanaan terdapat
output berupa laporan dan dokumen. Yang
ingin saya tanyakan kepada Prof. Sarm
ini adalah secara aturan penulisan
apakah ada perbedaan antara laporan dan
dokumen dan apakah format keduanya bisa
sama atau ada perbedaan? Mohon
penjelasan. Silakan Prof.
Nggih. Terima kasih. Ee Pak Lutfi dari
Jombang yang saya hormati. Memang kalau
jabatan fungsional ee dari ee
penyetaraan itu kan dampak implementasi
dari Permenpan RB nomor 17 tahun 2021.
Oke,
ini asalnya memang dari teman-teman dari
jabatan administrasi
dan tampaknya ini menjadi sesuatu yang
baru ya, betul-betul baru. Ee saya
berpesan terkait dengan ini Bapak Ibu
yang memiliki jabatan fungsional dari
hasil penyetaraan monggo langsung
membuka Permen yang langsung mengatur
panjenengan semua sesuai dengan
bidangnya masing-masing. Terkait dengan
Permen tersebut akan dijelaskan secara
rinci terkait dengan tugas pokok. Jadi
tugas pokok dari masing-masing jabatan
fungsional dari penyetaraan itu. Lalu
kemudian di dalam tugas pokok itu ee di
situ juga dijelaskan terkait dengan apa
saja unsur-unsur apa saja yang akan
digunakan sebagai ee angka kredit. Nah,
di situ memang ada laporan dan dokumen.
Nah, di situ di dalam Permen itu meminta
memang ada pedoman di dalam penyusunan
laporan dan pedoman penyusunan dokumen.
Jadi, artinya adalah ketika kita
menyusun laporan mengikuti rambu-rambu
dari ee sistematika dari laporan itu.
Jadi, rambut-rambut secara umum ee tadi
seperti yang kita bahas yaitu terkait
dengan adanya pendahuluan, adanya kajian
pustaka, adanya metode penelitian,
adanya hasil penelitian. Kalau itu
dianggap sebagai laporan laporan dari ee
penelitian. Tetapi terkait dengan
dokumen itu seringki ini memang bagian
dari hasil penelitian itu menyebutnya
dokumen. Jadi misalkan ee di Universitas
Negeri Surabaya juga lagi getol terkait
dengan ee menata jabatan fungsional itu
kita melahirkan dokumennumen terkait
dengan uraian jabatan, dokumen terkait
dengan pengembangan karir. Jadi ketika
kita ngomong misalkan ke apa pengadaan
barang dan jasa, di situ jabatan
fungsinya demikian banyak. Maka di situ
kita merinci tugas pokoknya apa. Lalu
kemudian terkait dengan pengembangan
profesinya, kalau diklat diklatnya
tentang apa, berapa lama dan seterusnya
itu berarti kita melahirkan
dokumen-dokumen dari komponen-komponen
itu. Nah, dari dokumen itu sesungguhnya
juga punya sistematika. Nah, ini
sistematika menyesuaikan dengan lingkup
dari aturan masing-masing yang ada di
jabatan jurnal ini. Itu mungkin ee Pak
Joni untuk sementara yang kita bisa
berikan ee kepada Pak Lutfi. Jadi
mudah-mudahan ee apa namanya? Segera
mempelajari Permenpan RB yang mengatur
tentang jabatan fungsionalnya beliau.
Oke,
terima kasih. Baik, Bu Sarmini ee saya
bisa tampilkan kembali mungkin bagi Bu
Palupi dari DKPP Kabupaten Jombang.
Mohon maaf Prof. Sarmini ini seorang
ibu. Apakah
Oh ya, Pak Lupih, mohon maaf. Mohon maaf
Ibu Palupi. Iara online.
Oke. Sembari mengingatkan teman-teman
peserta bahwa peserta webinar seri 14
ini bisa mengisi presensi melalui link
di bawah. Jadi silakan dicek dan
langsung bisa mengisi saat ini. Baik,
karena Bu Palupi mungkin tidak hadir,
saya tuntaskan dulu untuk Prof. Sarmini
dua lagi. Yang kedua, Prof. dari Prima
Utama BPSDM Jawa Timur. Yang terhormat
Ibu Sarmini, izin bertanya terkait
dengan konteks novelt atau keterbaruan
dalam menulis karya ilmiah. Apakah harus
benar-benar sebuah unsur baru atau bisa
dari modifikasi atau temuan penelitian
sebelumnya? Terima kasih. Monggo, Ibu.
Oke, terima kasih ee Pak ee Bapak
terkait dengan novelty. Nggih, terima
kasih pertanyaannya menarik sekali dan
ini sering sekali ditanyakan di berbagai
kesempatan ya terkait dengan novelty.
Sesuatu unsur yang baru. Jadi kebaruan
itu di dalam penelitian itu memang harus
muncul tapi ee besaran kebaruan,
kebesaran kebaruan itu tergantung kepada
rumusan masalah yang kita bangun. ya
ketika kita melihat atau bermula dari
membaca realita itu berbeda. Realita
yang kita baca tadi disampaikan oleh
Prof. ee Ali bahwa ketika kita melihat
objek yang sama, melihat realita yang
sama, tetapi kita mendefinisikan secara
berbeda, maka hasilnya berbeda. Jadi
hasilnya di dalam penelitian berbeda.
Maka kebaruan sesungguhnya dimulai
ketika kita membaca realita itu.
Sedangkan peneliti-peneliti sebelumnya,
peneliti-peneliti sebelumnya kita
menyebutnya sebagai pustaka pijakan
primer. sehingga ketika orang lain dalam
hal yang sama menghasilkan hal tersebut,
gitu. Kalau saya menganalogikan
sederhana, misalkan begini, saya pengin
membuka warung soto,
kebetulan saya berada di Ketintang. Maka
saya akan
menikmati dulu, akan mencermati dulu
pengemasannya berbagai soto yang ada di
sekitar ketimp. Setelah itu saya akan
mendesain soto saya akan mengemas
tampilannya, packaging-nya maupun
rasanya. ini yang kemudian yang disebut
sebagai pustaka primer. Nanti
kebaruannya bisa bentuknya besar. Jadi
besar itu artinya kalau orang packingnya
pakai mangkok, saya mungkin tidak ee
tidak menggunakan mangkok dengan
argumentasi tertentu.
Mungkin rasanya kalau orang cenderung
menggunakan kecap manis, saya akan tidak
menggunakan kecap manis. Maka
kebaruannya terletak pada perbedaan
dengan penelitian sebelumnya itu. Nah,
ini ee sekali lagi ee tadi disampaikan
oleh Prof. awali juga bahwa meneliti itu
sebuah seni ya. Ketika kita meneliti
secara detail, secara utuh, secara ee
apa? Ada hati nurani itu kita juga bisa
masuk maka data kita juga bagus. Apalagi
kalau di dalam penelitian kualitatif ya.
Jadi kualitas data sangat tergantung
kepada orang yang mencari data. Jadi
artinya kebaruan-kebaruan itu muncul
ketika kita berada di lapangan, ketika
kita mendekati dengan teori yang berbeda
kita ketika kita kemudian menggunakan
beda. Oke, terima kasih mungkin itu.
Baik, sebelum beralih ke Prof. Ali, saya
selesaikan satu putaran di sesi satu
ini. Untuk Prof. Sarmini
ini bertanya untuk penelitian dengan
jumlah responden atau partisipan 40
orang, apakah lebih baik menggunakan
kualitatif atau kuantitatif, Prof?
disilakan.
Oke. Baik. Pertanyaan yang menarik
sekali ee seringki kemudian orang
melihat kuantitatif dan kualitatif itu
dari jumlah responden ya. Bapak, Ibu
yang saya hormati. Kualitatif dan
kuantitatif tidak dilihat dari jumlah
responden sesungguhnya, tetapi problem
yang ingin kita selesaikan datanya itu
bentuknya apa. Jadi kalau di dalam ee
penjelasannya kemudian begini, kapan
saya akan menggunakan penelitian
kualitatif dan kapan saya akan
menggunakan penelitian kuantitatif. Nah,
saya kembali penjelasannya ketika kita
membaca fenomena sosial budaya. Jadi, ee
kita selalu melihatnya dari realita.
sesuatu yang dianggap ada gitu ya.
Karena di dalam lingkup jabatan
fungsional penjenengan pun ketika kita
mencermati tugas dan pokok saya
berkeyakinan belum semuanya khatam,
belum semuanya memaknai dengan betul ee
apa ee tugas dan pokok dari
masing-masing jabatan fungsional.
Misalkan kita melihat ee pengelola BPC
ahli muda, demikian banyak. Demikian
banyak kita menganggap ada poin di situ
yang menjadi masalah. Jadi membaca
realitanya dilihat dari uraian pokok
dari tugas tadi. Lalu kemudian di situ
kita setelah kita ee melihat sebagai
realita, kita akan mendefinisikan
sebagai fakta. Realita. Definisi dari
realita itu adalah fakta. Setelah itu
kemudian kita akan mencari data. Data
itu apa? Fakta yang terpilih. Terpilih
kenapa? Karena sesuai dengan rumusan
masalah kita. Maka ketika kita
mendefinisikan data itu
sifatnya adalah kualitas gitu ya,
kata-kata,
maka itulah kemudian kita kualitatif.
Tetapi ketika kita bentuknya data itu
angka kuantitas, maka itu kemudian
kuantitatif. Nah, di sini kemudian kita
akan masuk di dalam paradigma
kuantitatif. Tadi sudah dibahas oleh
Prof. Ali. bahwa di dalam penelitian
kuantitatif pun itu muncul berbagai
desain. Apakah kita akan eksperimen true
eksperimen, apakah kita akan kuasi? Nah,
ketika 40 cocok atau tidak. Jadi, ini
yang kemudian selalu ee kita
mendiskusikan masing-masing ee
karakteristik dari desain penelitian
yang kita pilih memiliki dampaknya,
memiliki dampak atau memiliki
konsekuensi.
Sehingga kalau kita melakukan
penelitian, kita harus cek lagi rumusan
masalah kita yang sering sekali saya
menyebut sebagai jantung di dalam
penelitian itu dari rumusan masalah yang
kita bangun. Di situ kita akan
menentukan teorinya yang di situ kita
akan menggunakan menentukan desain yang
kita pilih. Dari desain itu kita akan
menggunakan siapa subjeknya, bagaimana
caranya mengambil subjek, teknik yang
kita gunakan apa, dan seterusnya.
Jadi mungkin itu jawabannya. Jadi tidak
tidak ee begitu mudah menentukan
sebaiknya kuantitatif atau kualitatif,
tetapi kita runtut lagi di ee ke
belakang terkait dengan rumusan masalah
yang dibangun. Ng terima kasih Pak Joni.
Oke. Baik, kita beri app dulu Bapak,
Ibu, teman-teman untuk semuanya
supaya semangat kita tetap positif untuk
menghadiri seksi ini dengan semangat
tinggi. Saya berpindah dulu. Tapi
sebelum pindah barangkali sudah ada
perkembangan dari teman-teman yang
directly di Zoom, ada di layar bisa
raise hand yang mau menanyakan sesuatu
Bapak Ibu sebelum saya bacakan dari yang
tertangkap di yang tadi ada yang rais
hand silakan.
Sudah Pak Bapak.
Iya silakan Bapak.
Oke. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee Profesor Sarini dan Prof. Ali.
Alhamdulillah materinya luar biasa ya.
Alhamdulillah dari sini saya dapat
menangkap bahwasanya strategi untuk
publikasi dangkar ilmiah adalah
merupakan satu persyarat untuk kenaikan
pangkat dan ini adalah penting sekali.
Yang saya tanyakan ada dua. Yang pertama
kepada Prof. Sarmini, yang kedua Prof.
Ali. Yang pertama kepada Profini, yang
pertama untuk karya inovatif tadi ada
dua artikel sama buku. yang
ujung-ujungnya nanti ada jurnal sama ee
yaitu referensi buku dicetak nasional
dan internasional. Apakah karya kita
artikel atau buku itu misalnya dicetak
untuk lingkungan sendiri mungkin
kabupaten dikatannya atau provinsi
apakah sudah diakui sebagai karya
inovatif? Itu yang pertama. Yang kedua
untuk Profesor Ali dari teknik ee
penulisan karya ilmiah kutipan. Apakah
sebaiknya kutipan itu secara tidak
langsung? Artinya ee berarti banyak
referensi yang kita gunakan cuma
menggunakan bahasa kita. Apakah itu hal
yang baik sehingga menghindari plagiasi?
Terima kasih Bapak. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Prof. Sarmini disilakan
dulu kemudian menyusul Prof. Ali.
Nggih. Ee terima kasih Bapak ee
pertanyaannya bagus sekali. ee apakah
publikasi di ee di jurnal di tingkat
kabupaten sudah dianggap sebagai karya
inovatif? Nah, sebenarnya ee kategori
karya inovatif tidak dilihat dari di
mana mempublikasikan, tetapi dilihat
dari konten substansi. Nah, publikasi
itu kan pasar nggih. Istilahnya ee
artikel ini dipasarkan ke mana gitu ya,
dipasarkan ke mana di kalau ee ketika
kita memiliki jurnal di tingkat
kabupaten dan jurnal itu kemudian ee apa
namanya? Belum terakreditasi. Jadi
memang tidak semuanya jurnal
terakreditasi. Ee Prof. Ali tadi
menyarankan kalau kita ee sebagai
pejabat ee jabatan fungsional itu sudah
mainnya di Sinta 1, Sinta 2 gitu ya.
Tapi ketika ketika kita belum bisa
meraih di sana yang penting kan ada
gitu. Yang penting ada dulu ee sebagai
latihan nggih. Sebagai latihan ada dulu.
Kalau di kabupaten sudah ada jurnal dan
kemudian kita dipublikasikan, kita tetap
itu adalah karya inpatif. Tetapi nanti
di dalam penghitungan angka kredit itu
mungkin harganya atau angkanya berbeda
ketika di jurnal nasional atau jurnal
internasional gitu, Bapak. Ng. Karena
Bapak, Ibu yang saya hormati, ini untuk
angka kredit karya inovatif itu tinggi.
Jadi ketika kita cek ee komponennya
untuk ee angka kredit tugas pokok itu
0,0 koma gitu ya. Kalau di inovatif
tinggi. Jadi mohon dengan sangat ee
teman-teman kemudian termotivasi untuk
menyusun agar segera memenuhi angka
kredit. Nggih. Terima kasih.
Baik, terima kasih Prof. Prof. Ali
disilakan.
Baik. Ee terima kasih e pertanyaan yang
bagus. ee masalah kutipan kalau ia
bersifat isinya adalah konsep,
pengertian, kemudian variabel-variabel,
itu lebih baik kutipan langsung, Pak.
Kutipan langsung. Tapi kalau sekadar
menjadi penguat, penegas dan sebagainya
itu menggunakan kutipan tidak langsung.
Jadi itu pakai praprasenya kita saja.
Menurut saya itu yang paling poin
penting. Begitu,
Pak Moderator.
Baik, terima kasih. Silakan teman-teman
yang direct dari layar bisa raise hand.
Ini sudah ada pengawalan dari beliau.
Silakan yang lain langsung saja raise
hand dan kepada siapa ditujukan
pertanyaannya. Monggo.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi.
Iya, saya Ria Amalia dari Dinas Kominfo
Provinsi Jawa Timur. Saya ingin bertanya
kepada Prof. Sarmini dan Prof. Ali. ini
dua narasumber yang luar biasa. Tentunya
[tertawa]
saya sebagai ee generasi muda jadi lebih
harus semangat lagi gitu ya karena
narasumber-narasumbernya luar biasa. Ee
saat ini izin Prof. ee saya saat ini ee
fungsional pranata humas ahli muda
begitu. Tapi ketika ee mendengarkan
secara langsung materi-materi yang
disampaikan ini kita masih jauh gitu ya,
belum pernah melakukan risetnya sedalam
itu gitu ya. Karena kalau di fungsional
pranata humas sendiri kita acuannya pada
Permenpan 6 tahun 2014 dan kita selalu
untuk SKP dan DUPAK memilih ee jalur
zona nyaman begitu ya. Memilih butir
kegiatan yang ee membuat karya tulis ee
berupa makalah yang tidak dipublikasikan
dan merupakan gagasan sendiri. Itu lebih
zona nyaman kita gitu. Dan itu ini ee
informasi yang disampaikan sangat luar
biasa. Yang ingin saya tanyakan begitu
tadi Prof. Sarmini juga ee menyampaikan
terkait dengan paradigma riset ee ada
positivisme, kemudian ada interpretatif
dan kritis. Yang ingin saya tanyakan
apakah untuk ketiga paradigma riset
tersebut ini digunakan untuk penelitian
kualitatif dan kuantitatif ataukah ada
pemilihannya semisal ee positivisme itu
digunakan untuk ee paradigma riset
kuantitatif atau kualitatif. Nah, itu
seperti apa, Prof? Mohon arahannya
karena saya masih pemula banget gitu. Ee
kemudian yang kedua tadi Prof. Sarmini
juga menyampaikan terkait dengan ee
strategi publikasi karya tulis ilmiah
yang ingin saya tanyakan begitu ya.
Seperti apakah ee kategori karya tulis
ilmiah yang layak untuk dipublikasikan
seperti yang Prof. Sarmini sampaikan.
Kemudian yang kedua saya juga ingin ee
menyampaikan tertarik dengan apa yang
disampaikan oleh Prof. Ali ini luar
biasa gitu ya dari Brin ee tadi juga
menyampaikan terkait karya ilmiah
tulisan yang baik, bagus, dan benar.
Nah, kategorinya seperti apa ini Prof.
Ali untuk bisa ee masuk pada kategori
KTI yang ee tulisan baik, bagus, dan
benar. Apakah ini hanya ee terkait
dengan konten tulisannya saja ataukah ee
karya tulis ilmiahnya ini sudah sesuai
dengan struktur penulisan yang sesuai?
Itu saja pertanyaan dari saya. Terima
kasih. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Prof. Sarmini dulu
disilakan.
Oke, terima kasih Pak Joni. Ee Mbak Ria
Amalia yang cantik pertanyaannya luar
biasa. Jadi Bapak Ibu yang saya hormati
tampaknya ini ee semangat bertanyanya
sesuai dengan usia ya. Mbak Ria Amelia
ini pertanyaannya keren juga. Jadi
sesuai dengan usia ini Mbak Juni. Ee
terkait dengan penggunaan paradigma.
Jadi paradigma di dalam ee di dalam ilmu
sosial, paradigma di dalam pendidikan
itu kan sebenarnya kan berawal dari
keilmuan ya. Jadi paradigma positivisme,
paradigma interpretif. Ketika kita
menggunakan paradigma ee kritis, ada
paradigma fenomenologi, orang menyebut
paradigma struktural dan poststruktural
dan seterusnya. Ini sesungguhnya bisa
kita gunakan dalam kedua penelitian itu.
Jadi bisa kualitatif, pendekatan
kualitatif, bisa menggunakan pendekatan
kuantitatif gitu ya. Tetapi penggunaan
itu sangat tergantung pada rumusan
masalah yang kita bangun. Nah, jika kita
ee terkait dengan ee positivistik gitu,
maka aliran maupun teori-teorinya kan
teori-teori positivistik. Jadi, kalau
kita berdiskusi tentang paradigma
tampaknya agak lama gitu ya, agak lama.
Jadi, misalkan ketika paradigma
positivistik asumsinya kan memahami
fenomena sosial budaya sesuai dengan
fenomena alam. Jadi misalkan begini,
orang itu kalau sudah diberi sosialisasi
pasti nurut ya kan gitu ya. Jadi orang
itu kalau sudah dijelaskan pasti jelas
gitu misalkan contohnya seperti itu.
Tetapi kan tidak demikian halnya terjadi
di lapangan. Tidak seperti itu. Oleh
karena itu, paradigma positivistik
terkait dengan pemahaman tentang
perilaku manusia, tentang karakter
manusia kadang-kadang tidak sampai. Jadi
tidak bisa menggali itu. Kemudian orang
ketika meneliti tentang karakter gitu,
orang tidak menggunakan paradigma
positivistik. Bukan berarti jelek
paradigma itu, tidak. Tetapi tidak
sesuai. Oleh karena itu, kesesuaian
pemilihan paradigma itu menjadi penting
sekali ya. Menjadi penting sekali karena
setiap paradigma juga punya punya
aliran, punya teori. Teori berarti punya
penganut kan begitu ya. kita kemudian
berada di aliran yang mana yang tidak
boleh adalah atau kurang kurang kurang
bagus adalah menggunakan di dalam satu
artikel atau satu penelitian dua
paradigma
itu itu menjadi repot sekali ketika kita
mencari sitasi jurnal karena ketika kita
menggunakan positivistik maka
referensinya yang lain juga positivistik
jadi kita tidak boleh kemudian
menggunakan positivistik tapi bacaan
referensi untuk publikasi kita adalah
menggunakan paradigma interpretif gitu
ya, karena memang itu aliran gitu. Lalu
pertanyaan yang kedua menarik sekali ini
bagaimana caranya kita ee strategi
publikasi ya ee Bapak Ibu yang saya
hormati dan Mbak Ria Amelia yang saya
sayangi. Ee tampaknya ee publikasi itu
kan membidik ya saya kira-kira akan
membidik ke mana? Tadi disampaikan Prof.
Ali ketika kita ke ke yang sifatnya
global, jurnal-jurnal internasional,
jurnal internasional bereputasi, maka
sebelum kita memasukkan artikel kita ke
jurnal tersebut, maka kita wajib
hukumnya membaca tulisan-tulisan dari
jurnal yang ingin kita tuju. Ini
sekaligus tadi menjawab pertanyaan di
kolom chat yang mengatakan bahwa
contohnya kayak apa sih artikel yang
baik? Jadi, Bapak, Ibu bisa mencari
langsung ke jurnal-jurnal yang terkait
dengan jabatan fungsional penjenengan.
Nah, ketika kita sudah men-download atau
membaca artikel yang dimuat oleh jurnal
itu, direnungkan dengan baik,
disandingkan dengan tulisan kita,
kira-kira berani enggak ya saya ke
jurnal internasional
ee Q3 misalkan. Wah, kalau Q3-nya hanya
seperti ini, saya akan men-submit ke Q2.
Nah, kita kita ambil lagi jurnal yang
kita tuju yang Q2 itu terkait dengan
komunikasi itu misalkan di mana, jurnal
apa yang pas, kita baca dari salah satu
jurnal, dua jurnal atau tiga jurnal yang
dimuat kemudian kita sesuaikan dengan
tulisan kita gitu ya. Ohoh tulisan kita
kayaknya cocoklah, teorinya sudah oke,
datanya juga lengkap, rigid, urut,
runtut, logis, sistematis. Oleh karena
itu saya masukkan ke sini. Nah,
selebihnya
tentu faktor nasib dan doa kan gitu ya.
Kadang jurnal kita bagus ternyata
kemudian kereceh kan gitu kan. Kan gitu
ya Profali ya.
Iya. Kadang itu kurang bagus kita enggak
PD men-submit eh ternyata diresponeview
begitu. Jadi apapun terakhirnya adalah
itu ee keberuntungan dan doa. Terima
kasih. Mungkin itu.
Baik Prof. Lanjut Prof. Ali. Disilakan
Prof. Baik, terima kasih. Ee kriteria
sebuah karya tulis ilmiah yang baik dan
benar itu tentu ada dua ya, Mbak dalam
dua kluster. Pertama adalah persoalan
substansinya dan yang kedua adalah soal
teknisnya. Soal substansi berarti
berhubungan dengan ee soliditas dan
validitas data, kemudian proses analisis
datanya yang sistematis, kemudian
komprehensif dan sebagainya. Itu ada
tekniknya sendiri. tadi sudah saya
sedikit banyak kami berdua sudah
memberikan paparan mengenai itu. Lalu
yang berhubungan dengan teknis itu pada
umumnya adalah berhubungan dengan
penarasian. Keterampilan penarasian ini
yang kemudian kekayaan kosakatanya,
kemudian ee tata bahasanya,
rujukan-rujukan yang digunakan dan
seterusnya, kepatuhan terhadap gaya
selingkung dan seterusnya. Nah, dua
komponen itu pada umumnya kalau redaktur
jurnalnya ee apa benar-benar ketat itu
harus komposisinya benar sama.
Tapi kalau misalnya ada redaktor jual
yang penting substansinya saja dulu deh
baru nanti tata bahasanya menyusul. itu
sangat jarang memang saya sangat jarang
menemukan karena biasanya dua-duanya itu
harus harus berjalan bersama karena
substansi yang baik akan terlihat dari
ee paparan yang bagus itu. Itu kan. Nah,
saran saya begini Bapak Ibu semuanya.
Kalau Bapak, Ibu semuanya sudah memiliki
karya tulis ilmiah yang dianggap
memenuhi kriteria substansi dan narasi
yang bagus, cobalah percaya diri saja,
ajukan saja ke jurnal-jurnal yang lain.
Ajukan. Kemudian prinsipnya adalah
manfaatkan redaktur jurnal atau reviewer
jurnal sebagai pembaca tulisan kita. Kan
enggak bayar kita kepada mereka kan
enggak bayar. Jadi manfaatkan mereka
nanti. Kalau misalnya jurnal itu ditolak
ee KTI kita ditolak, berarti kita tahu
apa yang sisi negatifnya dari tulisan
kita, apa sisi kurangnya dari kita dan
sebagainya.
Syukur alhamdulillah kalau keterima
begitu. Yang penting kita harus punya
tulisan. Jangan bercita-cita dulu tapi
enggak punya tulisan-tulisan. Sama aja
bohong. Itu itu ya, Bu ya. Terima kasih.
Saya kembalikan ke Pak Moderator.
Baik, Profali. Satu dua teman lagi yang
directly view di layar. Silakan.
Setelah
Pak moderator saya mohon maaf jam
11.20-an ya. Saya soalnya ada ketemu
dengan Pak Kepala Branden.
Oh, baik. Satu lagi barangkali dari
layar
ee untuk Prof. Ali terutama.
Kalau tidak saya beralih, Prof. Apakah
berkenan satu rangkuman pertanyaan dari
teman-teman, Prof. Ngih. Monggo.
Oke. Baik, saya rangkum dulu untuk Prof.
Ali, kemudian nanti kita langsung ke
Prof. Sarmini. Yang pertama untuk Prof.
Ali dari Dimas SDN 3 Talk Kandang. Yang
pertama, apakah penelitian tindakan
kelas atau PTK wajib diseminarkan? Itu
yang pertama. Yang kedua dari Dinar
Dnaker Gersik. Apakah ada semacam wadah
yang digunakan untuk publikasi karya
ilmiah khusus ASN? Itu yang kedua, Prof.
Yang ketiga, biar kami rangkum, mohon
maaf, saat ini banyak sekali tawaran
dari pihak ketiga untuk mengkonversi
sebuah tesis atau skripsi menjadi sebuah
karya ilmiah agar diperhitungkan AK-nya,
angka kreditnya. Apakah ini tidak
menyalah? Mohon penjelasannya. Silakan,
Prof.
Baik, terima kasih. Ee penelitian
tindakan kelas ya, apakah wajib
diseminarkan atau tidak? Sebenarnya
semua proses itu kan ee wajib ya ee apa
ya sangat dianjurkan. Bukan diwajibkan
tapi sangat dianjurkan. Nah, hal yang
paling menarik adalah kemudian proses
diseminasi ilmu pengetahuan itu adalah
lewat ee jurnal-jurnal itu. Jadi
bagaimanapun kemudian diusahakanlah
Bapak, Ibu kalau memang memiliki apa
penelitian tindakan kelas bisa kemudian
diajukan ke sana ee diajukan ke
jurnal-jurnal dan seterusnya. Itu yang
pertama. Kemudian yang kedua, masalah
jurnal khusus ASN atau konsorsium itu
saya melihat tidak pernah ada di dalam
ee di dalam ee tradisi ilmu pengetahuan,
pengkhususan begitu semuanya bersifat
terbuka. Jadi siapapun ee ee akademisi,
ilmuwan yang memiliki tulisan atau
siapapun yang memiliki tulisan boleh
mengajukan. Jadi tidak ada pengkhususan
ini harus ASN dan sebagainya. tidak ada.
Karena ilmu pengetahuan itu selalu
prinsipnya adalah bersifat terbuka.
Makanya kemudian di setiap jurnal yang
penting kan nama, kemudian alamat,
email. Kadang emang ada nama lembaga
kalau memang sudah bekerja. Kalau tidak
bekerja ya enggak apa-apa. Itu kan nama
sama alamat email saja. Lalu yang ketiga
ee pihak ketiga ini kayaknya kurang etis
ya, Pak, Bu. ini di BRIN membayar
terbitan saja itu sudah tidak
diperkenankan. Apalagi kemudian menyewa
pihak ketiga untuk mengkonversi karya
tulis kita menjadi sebuah jurnal atau
tulisan-tulisan lain. Itu itu sebenarnya
tanggung jawab kita lah. Tanggung jawab
kita yang menulis bukan oleh orang lain.
Kecuali menerjemahkan. Ya, kalau
menerjemahkan masih diperkenankan. Jadi
misalnya saya penuh dengan keterbatasan
bahasa Inggris, kemudian saya punya
versi bahasa Indonesia, lalu saya minta
kepada Ibu Ria, "Bu Ria tolong
diterjemahkan ke dalam versi bahasa
Inggris." Itu diperkenankan. Tapi kalau
untuk mengkonversi menjadi sebuah jurnal
dan sebagainya itu tanda kutip itu sudah
menjadi bagian dari pelanggaran etika
menurut saya dan diakui di Brin juga itu
adalah sebagian dari pelanggaran etika
akademik. Begitu Pak Joni. Saya
kembalikan ke
Terima kasih Prof. Ali dan dengan segala
hormat kalau Prof. kali berkenan mau
live dari webinar dipersilakan. Kita
beri applause dulu teman-teman untuk
beliau.
Ngih.
Terima kasih Bapak Ibu semuanya
khususnya kepada ee Prof. Sarmini salam
kenal semoga selalu sehat. ee kepada
moderator ee Pak Joni terima kasih juga
atas ee panduan tadi. Ee mohon izin
untuk meninggalkan dari ruangan ini
karena ada pertemuan dengan Kepala
Bring. Terima kasih, sehat-sehat selalu.
Akhir kalam wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Waalaikumsalam. Salam kenal kembali
nggih Prof Ali. Nggih, Bu. kemarin di
lapangan kontek-kontekan nggih nggih
nggih. Mari mari
ngih Profini masih berkenan satu putaran
terakhir
ee 7 menit nggih, Pak karena saya juga
harus segera apa menguji.
Baik, siap
ee Prof. Saya rangkum saja pelan-pelan.
Ee ini tinggal empat pertanyaan terakhir
Prof. Sarmini yang pertama dari Bapak
Diono, Satpol PP Provinsi Jatim. Izin,
Prof. Barangkali ada kiat khusus untuk
menghindari transmisi keruutan berpikir
ke dalam tulisan. Karena sebagai penulis
pemula biasanya terbawa oleh suasana di
sekitar saat ingin menuangkan ide
gagasan ke dalam tulisan. Ini yang
pertama, Prof. dari Pak Diono Satpol PP
tentang upaya untuk menghindari
transmisi keruutan berpikir. Yang kedua,
Prof. untuk kita rangkum karena Prof
juga waktunya terbatas.
[tertawa]
Yang kedua untuk dari Pak Setyo Puji,
bagaimana agar karya kita bisa dimuat
dalam jurnal nasional? Bagaimana supaya
karya kita dimuat dalam jurnal nasional?
Yang kedua, Prof. Yang ketiga dari Bu
Nurul Handayani.
Apakah tulisan yang harus kita sampaikan
harus sesuai dengan jabatan fungsional
yang kita emban atau bisa di luar
japfung untuk mendapatkan angka kredit?
Ini dari Bu Nurul Handayani. Dan yang
terakhir dari Pak H. Nugraha, bagaimana
sistem penganggaran dalam membuat
tulisan? Oke, ini identik dengan yang
dibuat dalam jurnal eh dalam YouTube,
Prof. Jadi, empat penanya terakhir.
Monggo disilakan, Prof. Sarmini.
Nggih. Nggih. Baik, terima kasih, Pak
Joni. Pertanyaan pertama dari Pak Gion
ini sebenarnya bukan dari beliaunya
saja. Ee Bapak yang saya hormati ee
semua orang punya keruwetan dari
termasuk diri saya pribadi ya. Jadi
memang menulis
itu bukan pekerjaan yang mudah. ketika
kita memang dihadapkan dari berbagai
pekerjaan, kecuali kalau kita memang
tugasnya adalah sebagai peneliti dan
penulis, maka penulis itu menjadi ee
habit yang sudah ee sangat lancar.
Tetapi ketika kita dihadapkan tugas
administrasi, dihadapkan tugas di
lapangan dan seterusnya, maka menulis
itu menjadi satu problema tersendiri.
Maka semua itu bisa diselesaikan dengan
ini. Yang pertama ee kalau saya menyebut
reading, jadi membaca. Yang kedua
membaca lagi, yang ketiga adalah
membaca. Ketika kita memiliki kebiasaan
membaca itu menjadi bagian dari tradisi,
maka kita kemudian akan gampang
melakukan introspeksi. dari semua
dokumen yang saya baca kok tidak ada
nama saya ya yang dari bacaan ini. Dari
situ kemudian biasanya muncul muncul
muncul keinginan. Nah, keinginan itu
ingin saja tidak cukup. Jadi ketika kita
mau menulis, jadi kita memang
mengosongkan waktunya itu betul-betul
ya. Kalau saya misalkan di akhir minggu
ee hari Sabtu atau Minggu saya akan
menulis, maka 3 hari sebelumnya itu saya
akan posisi reading. Jadi membaca
collecting semua hal yang akan saya
tulis. kemudian baru bisa menginspirasi
baru mengalir. Nah, ketika kita mau
menulis sebagai pemula ee Bapak Ibu
mohon izin berkenan untuk membuat ee
kisi-kisi ya, rambu-rambu kira-kira apa
ya alinea satu, alinea kedua apa ya,
alineia ketiga apa ya, alinea keempat
apa ya, kisi-kisi itu terbangun
terbangun dari reading-reading
sebelumnya itu. Nah, sementara mengalir
saja begitu. Kenapa harus membuat
kisi-kisi? Kenapa harus membuat
kisi-kisi? Ketika Bapak, Ibu memiliki
kesibukan lain misalkan tiba-tiba Pak
Gono harus mengantarkan istrinya atau
menjemput balik lagi ke laptop itu gak
hilang gitu ya. Karena kadang-kadang
kalau kita tidak memiliki kisi-kisi di
depan laptop itu um kalimatnya begini
dengan demikian. Oleh karena itu
sehingga dia mula air gitu ya kalau
bahasa saya ya. Jadi muter-muter saja
maka perlu membuat kisi-kisi dan ketika
nanti sudah lancar kita semua bisa
memulai menulis di mana saja. Tapi yang
penting adalah reading reading and
reading. Kemudian kita latihan latihan
dan latihan gitu. Dan saya yakin kalau
semuanya itu dijalankan. Satu lagi butuh
komitmen ini ee Pak Joni tampaknya bagi
Bapak Ibu yang sudah berkeluarga ee
komitmen dengan pasangan ya. Karena
menulis itu perlu ekstra konsentrasi
sehingga juga perlu didukung oleh
pasangannya. Kenapa? Karena jangan
sampai idenya mood mau keluar tiba-tiba
begini ayo terno ning pasar yuk gitu ya.
Ayo antarkan saya ke pasar. Antarkan
saya begini. Hilang lagi idenya nanti
gitu. Jadi mohon kerja sama dengan
dengan ee apa pasangan masing-masing
orang-orang yang dicintai di rumah untuk
men-support tulisan ini. Kemudian
berikutnya ee dari Pak Setyo Puji ya.
Dari Pak Seto. Karya yang dibuat
Puji Prof.
Eh bisa diulang. Yang kedua, karya yang
dibuat
bagaimana agar karya kita bisa dimuat
dalam jurnal nasional, Prof.
Oke. Baik. Bagaimana agar karya kita
bisa dimuat di jurnal nasional? Bapak,
Ibu yang saya hormati, pertama kali
adalah yang penting kita memiliki karya.
Nah, ketika ee kita memiliki karya,
kalau kesendirian itu berat gitu ya.
Misalkan saya menulis sendirian kok
berat ya. Pertama enggak ada teman
berbagi beban maka monggo teman-teman ee
bergabung bisa berdua, bisa bertiga.
Tentu dengan teman-teman yang klik ya,
dengan yang cocok dengan kita. Nah,
ketika kita sudah memiliki karya dan
kita akan memberikan ee kira-kira
cita-citanya ke jurnal nasional yang
mana nasional itu ada terakreditasi,
yang tidak terakreditasi, maka kemudian
kita baca dulu karya-karya itu. Seperti
tadi saya sampaikan ya, kalau karya kita
ini ee apa? Sitasinya jelas. Kemudian
dari sitasi itu 5 tahun terakhirnya
jelas. Jadi semuanya adalah baru ee
mutakhir gitu ya. Lalu kemudian
mengikuti template yang jelas, temanya
yang jelas. Temanya sudah cocok dengan
ruang lingkup jurnal itu. Paling saya
yakin kita akan dimuat. Kalau tidak
apes-apesnya kita adalah kita menunggu
terbit berikutnya ngantri istilahnya.
Jadi Bapak Ibu yang saya hormati, ketika
jurnal kita dimuat itu ada dua
kemungkinan ya. mungkin betul bagus
gitu, memang sangat bagus tulisannya.
Tetapi yang kedua mungkin di dalam
jurnal itu butuh naskah gitu ya. Tetapi
tentu yang kedua faktor keberuntungan
ini tidak kita bahas dalam kesempatan
hari ini. Jadi kita menulis saja yang
bagus gitu. Nulis saja yang bagus. Ee
berikutnya dari Bu Nurul ini. Apakah
kita menulis harus sesuai dengan jabatan
fungsional? Pertanyaannya saya balik.
Apakah kita bisa menulis di luar jabatan
fungsional? ya atau sehari-hari kita
bekerja sesuai dengan tugas dan pokok
gitu. Jadi ee uraian tugas di dalam
Permen itu banyak sekali, maka muaranya
ya ke arah sana ee agar nanti kemudian
kita sesuai ketika kita pakai sebagai
angka kredit untuk kenaikan pangkat,
terutama ketika kita sebagai penulis
pertama. Tetapi kalau sebagai penulis
kedua, penulis ketiga itu kan
kadang-kadang kita diajak teman yang
memiliki jafung berbeda. Jadi misalkan
saya, saya sudah 4E, saya sebagai guru
besar 4E sudah selesai saya. Artinya
saya menulisnya kalau sebagai penulis
pertama saya harus e sesuai dengan
rumpun keilmuan saya. Tetapi sebagai
penulis anggota saya bisa nebeng dalam
arti ikut dengan penulis-penulis lain
yang rumpun keilmuannya masih sama gitu.
Karena kan ee saya tidak saya gunakan
untuk kenaikan pangkat. Jadi artinya
adalah sebagai penulis kedua, penulis
ketiga itu seyogianya sesuai dengan
rumpun. Tetapi ketika kita tidak cocok
dengan jafung, tapi kan ada latihan
untuk menulis. Barangkali teman kita
yang memiliki jafung itu ee apa namanya
bisa berbagi ee apa pembelajaran ya
terkait dengan materi-materi yang bisa
kita tulis gitu.
Eh, berikutnya yang dari Pak Hestu. Pak
Joni bisa diulang yang dari Pak Hestu
ya.
Iya. Saya bacakan Ibu bagaimana sistem
penganggaran dalam membuat tulisan.
Oke. Oke. Baik. Terkait dengan sisi
penganggaran, ketika itu untuk
penelitian itu sudah ada aturan mainnya,
penggunaannya.
Penggunaannya sudah ada aturan mainnya.
Misalkan untuk tahap ee prapenelitian
orang menyebut ada bahan, ada alat, ada
tahap pengumpulan data, ada tahap
analisis data, kemudian tahap publikasi.
Jadi komponennya sudah ada, tetapi
berapa besarannya ikut SPM? Misalkan
saya di dalam pengumpulan data, saya
menggunakan ee FGD, forum grup diskusasi
ee kita menggunakan FGD. Kemudian dalam
itu kita mengundang orang untuk
memberikan makan siang. Maka makan siang
itu berapa per kotak mengikuti SBM yang
ada. Demikian juga ketika kita
memberikan uang transport untuk
beliaunya yang rawuh di FGD mengikuti
aturan main yang ada. Demikian juga
ketika kita melakukan workshop, workshop
itu mengundang narasumber, maka kita
juga mengikuti ketentuan yang jadi
semuanya sudah ada di PMK terkait dengan
biaya-biaya penelitian ini. Tetapi
ketika kita melakukan publikasi, biaya
publikasi
ada. Kalau di perguruan tinggi, biaya
publikasi ditanggung bukan ditanggung
oleh perguruan tinggi, tetapi nanti
dihargai, diberikan reward sesuai dengan
kualitas jurnal. Nah, saya kurang paham
ketika di kantornya Bapak, Ibu.
Mudah-mudahan nanti ke depan karena ini
bagian dari ee apa namanya? angka kredit
yang panjenengan penuhi, maka lembaga
dalam arti ee instansi panjenengan
menganggarkan dari target kerjanya
terkait dengan biaya-biaya publikasi
menik. Nggih, terima kasih. Mungkin itu
Pak Doni yang bisa saya sampaikan.
Baik, Prof. berkenan juga menyampaikan
kata penutup ee berdua mewakili Prof.
Ali juga silakan Profini.
Nggih. Baik. Ee terima kasih. Yang
pertama Bapak Ibu yang saya hormati
memang untuk menulis itu bukan bagian
dari culture kita. Jadi budaya kita
tidak budaya tulis, tetapi budaya kita
adalah budaya lisan. Oleh karena itu ee
apa latihan latihan menulis yang
didahului dengan reading-reading menjadi
penting. Kemudian yang kedua ee Bapak
Ibu yang saya hormati, kita harus
memahami terkait dengan tugas pokok
kita. Karena dengan tugas dan pokok
sesuai dengan Permen itu kita akan
melakukan kreasi-kreasi dengan melakukan
penelitian
dan dari itu kita akan memunculkan
inovasi-inovasi baru. Nah, di dalam
Permenpan RB nomor 8 tahun 2021 maka
inovasi atau karya inovatif diberikan
ruang. Inovasi itu diberikan ruang untuk
penilaian SKP kita. Jadi ada nilai
terkait dengan itu. Jadi inovasi-inovasi
yang digunakan di lingkungan kerja
panjenengan berapa, di tingkat yang
lebih atas berapa, ketika digunakan di
pemerintah daerah berapa, ada nilainya.
Nah, jadi inovasi itu muncul karena dari
karya-karya inovatif ini. Lalu, Bapak
Ibu ini yang bagi pimpinan mohon
memberikan ruang inovasi seluas-luasnya
bagi teman-teman jabatan fungsional IDD
kreatifnya mohon diberikan kesempatan
kemudian tidak dimaknai menjadi bagian
tanda petik ee menjadi tidak baik.
Tetapi justru sebaliknya kita
mengakomodir semua karya inovatif
termasuk tadi memunculkan jurnal. Jadi
kita membentuk jurnal menjadi dimensi
penting untuk mewada, tetapi di dalam
jurnal itu sifatnya terbuka seperti yang
disampaikan oleh ee Prof. Ali tadi. Oleh
karena itu ee kita sama-sama mengucapkan
bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan
ee hari ini mampu memicu ya memicu
bagaimana kita kemudian menjadi untuk
menulis gitu. Untuk detailnya saya yakin
pimpinan panjenengan akan melakukan
inisiasi untuk pendampingan
tulisan-tulisan panjenengan agar sampai
kepada Mungkin itu yang bisa kami
sampaikan. Kita harus tetap semangat
menjalankan ee semua tugas ASN. Jangan
lupa membaca semua peraturan yang
berlaku terkait dengan itu.
Baik,
terima kasih. Mohon maaf apabila ada hal
yang kurang berkenan. Saya akhiri.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Kita applause dulu
teman-teman untuk semuanya.
Sebagai closing statement moderator,
izinkan saya menyampaikan tiga poin.
Yang pertama, webinar ASN Belajar seri
14 ini tidak mungkin terselenggara tanpa
leadership yang hebat dari Bapak Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Seyogyanya
beliau akan hadir tadi di pembukaan
dengan posisi sebagai keynote speaker.
Tapi ketidakmampuan saya sebagai
moderator untuk menangkap. Tetapi saya
yakin beliau dengan kebijakan, dengan
pikiran dan hati beliau yang sedang
mengikuti PKN 1 di Jakarta akan selalu
mengawal ASN belajar ini terutama di
seri ke-14. Jadi sekali lagi mohon
applause-nya untuk Bapak Aris Agung Pawe
di Jakarta. Applause untuk kita semua.
Yang kedua, terima kasih kepada dua
narasumber hebat kita, Prof. Ali Humaidi
dan Prof. Sarmini dan teman-teman yang
hadir juga secara virtual. Kalian luar
biasa. dan sharing caring serta
inspiring ini mudah-mudahan barokah
untuk Indonesia dan pejabat fungsional.
Dan yang terakhir izinkan saya menutup
bahwa sebenarnya harus ada fokus
sehingga kata seorang pakar dari sebelah
yang berbicara begini, hidup ini akan
berarti kalau kita punya tiga poin.
Satu, ke mana fokus hidup diarahkan
sebagai pejabat fungsional. Yang kedua,
bagaimana merespon peristiwa yang
terjadi. Dan yang ketiga, bagaimana
strategi kita meraih impian kita dengan
ucapan alhamdulillahiabbil alamin.
Barakallah untuk pejabat fungsional
Indonesia dan untuk Indonesia kita
tutup. Alhamdulillahi rabbil alamin.
Wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Om santi santi shanti. Om
namo buddhaya dan selamat siang. Sekali
lagi mohon applause yang meriah untuk
Indonesia.
Matur nuwun, Prof. Dan
sami-sami Bapak mohon izin nggih. Semoga
semuanya sehat selalu.
Mohon izin nggih.
[musik]
e
[musik]
e
[musik]
He.