Webinar 124 Sampah: Antara Pengetahuan, Kepedulian, Perilaku dan Budaya
QtqaeEsbhgU • 2025-09-04
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan Eco Edio ini memang dari grup-grup di alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh bisa dianggap menarik ya karena mereka pengetahuan mereka tentang yang pengin mereka ketahui itu meningkat gitu ya. Kemudian skill-skill yang dihasilkan dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa dilihat begitu ya, terasa gitu manfaatnya di kami, terutama untuk e para konsultan yang tenaga-tenaga ahli gitu. Sehingga saya memilih Eco Edu mengikuti pelatihannya juga dan itu terbukti benar gitu. Nah, saya lihat Instagram itu ada Eko Edu ya yang akan menyelenggarakan pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak baca terlebih dahulu ya terkait tentang informasi yang diselu. Nah, menurut saya itu menjadi hal yang membuat tertarik untuk ikut pelatihan di situ. Jadi, saya sering lihat di Instagram gitu bagaimana Eko Idu menyampaikan informasinya. Eko edu itu bagus karena pelatihan-patunya itu selalu tergini terus mengikuti zaman dan juga pelatihnya apa yang tapinya itu bagus-bagus dan terbaiklah ke depannya. [Musik] Iya. Ee yang pertama memang tentu saja ini meningkatkan dan maksimalkan skill-skill yang saya harapkan begitu ya. terun dalam penyusunan dokumen AMD e saya jadi bisa lebih produktif, lebih efektif juga ee punya update gitu ya, update-update, persoalan-persoalan dalam jurusan AMDA terkini dari ahlinya langsing di lapangan begitu yang pengalamannya tidak diragukan. Menurut saya pelatihan yang disediakan EID ini sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk aksesnya gitu. Jadi ada teknologi terbaru yang saya dapat itu di e-learning ya. Itu luar biasa ee pembelajarannya juga mudah sekali untuk dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga menambah ilmu pengetahuan yang banyak banget. [Musik] eh e-learning ini memang di memang sangat diperlukan sekali ya, terutama untuk kita yang dengan keterbatasan pengetahuan kemudian juga waktu mungkin ee itu memberikan kita kesempatan untuk kembali mengingat, kembali mendengarkan paparan-paparan yang mungkin kurang jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang sesering mungkin yang kita inginkan. Kita juga bisa review kembali sehingga belajar kita bisa lebih efektif dan efisien. itu membantu sekali ketika pada saat penyampaian materi ada yang ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi itu di sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus lihat video yang bisa diakses kapan aja dan gimana aja. R juta dengan informasi yang kami peroleh itu jauh dari kas padan sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau saya bilang terlalu murah itu jadi sepadanlah. Jadi menurut saya padan Bu karena memang e pelatihannya itu pun sangat membantu ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang ada di e sekitar lingkungan saya sendiri gitu. E saya kira sepat sesuailah dengan apa yang kita dapatkan. [Musik] EKP efektif, tepat, dan profesional, hemat, cermat, dan hebat, keren, profesional dan juga keginian. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menuju siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko ke-124. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Ekoedu akan mengangkat tema sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Untuk berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya yaitu kita akan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu semuanya untuk duduk tegak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di sini izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh Baik, yaitu ee di minggu atau di pekan depan pada tanggal 8 hingga 12 September 2025, kami akan mengadakan dua pelatihan sekaligus, yaitu yang pertama pelatihan dinamika sistem untuk kajian lingkungan pada gelombang 12 dan pelatihan pemodelan dispersi. udara, air koppoff, dan high split gelombang 19. Dan pada pekan selanjutnya yaitu tanggal 15 hingga 19 September 2025 di sini kami akan mengadakan pelatihan pengelolaan banjir dan sedimentasi sungai menggunakan hackres dan has gelombang 6. Dan apabila Bapak Ibu melakukan bayar investasi sebelum hamilin satu pelatihan, Bapak Ibu bisa mendapatkan diskon sebesar 10%. Oke. Baik. Dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami yaitu Riris dan Nisa melalui WhatsApp ataupun Bapak Ibu juga bisa mengunjungi sosial media kami yaitu ada Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter dan juga kami memiliki website resmi di www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun ketika Bapak Ibu tertarik langsung pada saat ini, Bapak Ibu langsung saja untuk ee klik di pendaftaran.edu.co.id. Dan selain pelatihan reguler kami yang dilaksanakan online, kami juga memiliki pelatihan inhouse training yang bisa disesuaikan dengan keinginan Bapak Ibu semuanya di instansi ataupun perusahaan. Jadi kami tunggu di pelatihan. Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya kita langsung saja masuk pada kegiatan utama kita yang di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku dan budaya. Dan di sini juga kami telah menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Dan baik, langsung saja saya perkenal perkenalkan narasumber kita di hari ini yaitu ada Ibu Najhah Aris, S.H., M.H. Beliau merupakan pengendalian dampak lingkungan ahli muda di Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku. Ya. Baik. Ee selamat siang kepada Ibu Najha. Mohon izin. Selamat siang, Bu Najah. Apakah suara saya terdengar? Mohon izin, Bu Najha, sepertinya suaranya masih tidak terdengar ya, Bu ya. Mungkin untuk dikoneksikan dulu dengan aplikasi Zoom-nya, Bu. Sudah terkonnect. Iya. Selamat siang, Mbak. Selamat siang, Bu Naca. Bagaimana, Bu kabarnya siang ini? Oh, iya. Selamat siang, Mbak Dini, ya. Siang, Bu. Najah. Suara saya terdengar, Bu? Iya, iya, Mbak. Jelas. Iya. Baik, Bu. Ee apa kabar, Bu, siang hari ini? Baik, Mbak. Alhamdulillah, ya. Alhamdulillah. Semoga kita semuanya selalu sehat, ya, Bu, ya. Tapi mungkin sebelum lanjut kepada pematerian di sini saya akan membacakan dulu beberapa teknis yaitu yang pertama untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1 seteng jam kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi SLU dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Dan untuk mengefektifkan waktu, saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu Nazhar dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Hai It Turun dulu di Halo, Mbak. Mbak Dini kedengaran, ya? Iya, terdengar, Bu. Iya, mohon maaf tadi. Iya. Asalamualaikum. Selamat pagi, Ibu, Bapak sekalian. Saya Najha Aris dari Kantor Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup ee Sulawesi dan Maluku. Nah, ini sebenarnya saya sebagai pemeran pengganti Mbak Dini. Harusnya kan yang diundang itu Pak Pak Kapus kami. Jadi beliau hari ini sementara ada kegiatan di Kota Bitung. Jadi beliau menugaskan kami untuk ee mengikuti apa namanya kegiatan webinar ini dan beliau menitipkan salam kepada Ibu Bapak sekalian peserta webinar kita hari ini. Jadi izin izin ya Mbak Dini saya share screen ya. Silakan, Bu. Oke. Jadi mohon izin Mbak Dini saya tutup ini ya videonya dulu. Iya, Bu. Silakan, Bu. Pakai pakai begini. Iya. Ee ya, hari ini kita akan berdiskusi terkait ee sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah, ini sampah sebenar ee latar belakang dari ee apa namanya diskusi kita ke hari ini adalah pertama sampah merupakan persoalan klasik namun ee belum tuntas. Nah, ee sampah menjadi persoalan klasik. Nah, sekarang sampah menjadi persoalan nasional. Ini Bapak Menteri Lingkungan Hidup Pak Faisal Hanif Faisal Nurofik sekarang memang fokus pada penanganan sampah dengan target Indonesia bersih ee bebas sampah tahun 202 100% melalui kebijakan penanganan di sumber di hulu. Kemudian ada pengolahan ee kemudian pemberdayaan masyarakat melalui program gerakan Indonesia bersih. Nah, program ini nanti menekankan pada kolaborasi berbagai pihak mulai dari masyarakat kemudian pelaku usaha hingga pemerintah daerah untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Nah, dengan kita melihat bahwa ee di Indonesia saat ini berdasarkan data dari sistem informasi pengelolaan sampah nasional tahun 2024 ee Indonesia menghasilkan kurang lebih 56,63 juta ton sampah per tahun. Tapi data ini mungkin masih di apa namanya? masih dibawa dari yang ee yang se yang senyatanya karena beberapa kabupaten kota tidak melakukan penginputan data di dalam ee SIPSN. Terakhir tahun 2024 hanya ada sekitar 300 lebih kabupaten kota yang menginput data. Sementara di Indonesia ada sekitar 514 kabupaten kota. Nah, dari data timbulan tadi hanya sekitar 11% sampah yang didaur pulang. Kemudian pengolahan sampah sebenarnya bukan hanya teknis. Nah, ini yang kita akan diskusikan hari ini bahwa itu terkait juga bagaimana pengetahuan masyarakat, bagaimana kepedulian ee bagaimana perilaku dan ee bagaimana pengaruh budaya. Nah, kemudian tentu saja volume sampah meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi. Nah, komposisi terbesar dari sampah yang kita hasilkan tadi yang sekitar 56,63 juta ton per tahun itu sisa makanan kurang lebih 40%. Nah, kemudian ada plastik sekitar 17%. Nah, tentu tantangan terbesar kita untuk mengatasi permasalahan sampah ini adalah bagaimana perilaku masyarakat di dalam memilah. Nah, memilah itu bagaimana dia mereka membedakan kemudian memisahkan dan juga bagaimana perilaku kita untuk mengurangi sampah. Nah, perilaku masyarakat ini bukan hanya masyarakat semua, tapi kita juga termasuk masyarakat. Jadi, ee kita termasuk di situ bagaimana kita nantinya harus harus saya katakan Mbak harus karena ini persoalan sampah sudah sangat ee apa namanya? Sudah sangat ee apa ya? Sangat memprihatinkan kalau saya bilang. Jadi sekarang kita sudah mengalami krisis sampah. Nah, bagaimana kita berperilaku di dalam yang pertama yang paling utama adalah di hulu di kita di sumber. Bagaimana kita bisa membedakan dan memisahkan sampah dan bagaimana kita bisa ee mengurangi sampah. Nah, kondisi existing pengelolaan sampah nasional berdasarkan data dari SIPSN 2023 ee 2024 tetapi ini data 2023 timbulan sampah nasional sebesar 56,63 juta ton. Nah, sampah yang terkelola sampah yang terkelola itu hanya sekitar 39,01% sekitar 22,9 juta ton. Nah, ini kembali lagi tadi datanya bahwa itu belum termasuk data seluruh kabupaten kota yang ada di Indonesia. Nah, sampah yang tidak terkelola itu sekitar 60,99% atau 34,54 juta ton. Nah, dari 60,99% itu sekitar 21,85% sampah itu ditimbun di TPA pendamping. Nah, TPO pendamping artinya sampah hanya dibuang begitu saja tanpa ada perlakuan, tanpa ada pengelolaan sama sekali. Kemudian 34,14% sampah itu masih terbuang ke lingkungan. Apakah itu dibakar, apakah dibuang begitu saja ataupun dibuang ke badan air. Nah, ini sampai yang terbuang ke lingkungan itu karena sebagian besar wilayah di kabupaten kota itu tidak mencakup area pelayanan dari Dinas Kebersihan ataupun Dinas Lingkungan Hidup. Jadi, tentu masyarakat karena tidak terlayani maka kemungkinan besar mereka hanya membuangnya tadi ataupun melakukan kebakaran. Nah, beberapa fasilitas pengolahan sampah yang sudah ada di Indonesia. Yang pertama itu ada namanya bank sampah induk, kemudian ada bank sampah unit. Nah, total ee data tahun 2023 jumlah bank sampah induk itu sekitar 299 unit. Kemudian juga ada bank sampah unit ee ee sebanyak 20.587. Nah, mungkin data ini akan berkurang ataupun bertambah karena ada beberapa bank sampah yang ada di beberapa wilayah di Indonesia itu ada yang mati suri, ada yang sepertinya hidup segan mati tak mau karena berbagai ee kendala. Ada kendala SDM, ada kendala ee apa namanya? Ada kendala ee anggaran dan sebagainya. Nah, jumlah nasabah dari total tadi bank sampah induk dan bank sampah unit itu ada sekitar 647. ee 1797 nasabah. Nah, sampah yang terkelola dari bank sampah induk dan bank sampah unit ada sekitar 2.116 ton per tahun. Nah, dengan total omset tadi ee 3 miliar 3.860 miliar per tahun. Nah, juga ada instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Nah, instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik itu berdasarkan Perpres nomor 35 tahun 2018. Nah, ini perpres ini sementara dilakukan peninjauan ulang. Nah, ee pel itu ada di Kota Surabaya dengan total sampai dikelola itu sekitar 1.000 ton per hari. Kemudian juga ada pel di kota Surakarta dengan mengolah sampah sekitar 545 ton per hari. Nah, ini ada 10 daerah lainnya juga sedang dalam proses pembangunan. Kemudian yang pertama itu ada di DKI Jakarta, kemudian di Bandung, Tangerang Selatan, Tangerang, Bekasi, Semarang, di ee Palembang, Denpasar, Manado, dan Makassar. Nah, ini mungkin masih sementara pembahasan baik pembahasan dokumen maupun pembahasan apa namanya bagaimana visibility untuk dilanjutkan pembangunannya. Nah, kemudian juga ada beberapa fasilitas pengolahan sampah menjadi review derive view. Jadi bahan pengganti untuk ee apa namanya? Bahan bakar di industri semen. Jadi bahan bakar bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari tadi pengolahan ee limbah badan itu melalui proses pemisahan, pencacahan, kemudian pengeringan. Nah, ini nanti akan diambil ee apa namanya? dilakukan untuk menurunkan kadar airnya. Nah, bahan bakar ini nanti akan dibuat ee apa namanya? Sebagai komponen sampah yang mudah terdiri dari komponen sampah yang mudah terbakar. Kemudian seperti plastik, kertas juga kain yang bisa dimanfaatkan nanti untuk menggantikan bahan bakar fosil di dalam industri. Nah, ini yang sebagian besar memanfaatkan RDF ini adalah eh industri semen itu pembakaran di kilen. Nah, eh fasilitas RDF yang sudah ada di Indonesia saat ini ada di Cilacap itu ee mengelola sampah 160 ton per hari. Kemudian juga ada di Bandargebang itu 2.000 ton per hari. Ini datanya bisa saja berkurang karena berbagai faktor juga. ini juga termasuk di RDF di Plan Badria di pangkep di kabupaten yang ada di wilayah kami itu awalnya 50 sampai 60 tahun per hari. Tapi karena ada berbagai kendala sampai ee per hari tidak sebesar itu. Ini mungkin yang menjadi apa namanya menjadi bahan ee untuk kita diskusikan kembali. Nah, ini kita sudah tahu bahwa tadi ee dari awal kita sampaikan bahwa kita akan berdiskusi hari ini bagaimana sampah itu ee melalui pengetahuan, kemudian kepedulian, kemudian perilaku hingga budaya. Nah, yang pertama kita akan bahas adalah mengenai pengetahuan tentang sampah. Pengetahuan tentang sampah, kita sudah tahu bahwa ada peraturan tentang pengelolaan sampah. Kemudian juga kita sudah tahu bahwa jenis sampah itu ada organik itu sisa-sisa makanan, sayuran, kemudian ada sampaan organik seperti plastik, kertas, karton, kaca, ee besi dan sebagainya. Nah, juga ada sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Nah, kemudian kita juga sudah tahu bahwa sampah itu berdampak ke lingkungan. pertama dampak ke pada kesehatan, kemudian dampak ke pencemaran air, kemudian dampak ke tanah dan udara. Nah, beberapa dampak terhadap pencemaran air misalnya sampah yang tidak terkelola dengan baik itu misalnya dibuang ke badan air, dibuang ke sungai, dibuang ke danau, dibuang ke laut. Nah, tentu akan menyebabkan pelepasan zas-zat berbahaya di perairan. Kemudian juga akan nanti menghalangi sinar matahari dan tentu menyebabkan kerusakan ekosistem air sehingga akan menimbulkan ee apa namanya? Akan menurunkan kualitas air dan menimbulkan masalah kesehatan sampai banjir. Nah, penyebab pencemaran air ee apa namanya? penyebab pencemaran air oleh sampah antara lain ada sampah anorganik seperti plastik yang tidak dapat terurai dengan baik di alam. Nah, ini akan terus bertumpuk di perairan karena tadi ada kita sudah bahas sebelumnya bahwa sampah yang tidak terkelola itu sebagian besar juga dibuang ke badan air. Nah, juga ada sampah organik. Nah, sampah organik ini yang paling banyak mulai dari limbah rumah tangga, sisa makanan, bahkan kotoran hewan yang jika dibuang ke air tentu akan membusuk dan menghabiskan oksigen yang dibutuhkan oleh organisme air. Nah, kemudian juga ada beberapa zat kimia. Nah, beberapa industri kan yang membuang langsung ee limbahnya ataupun sampahnya ke badan air ya yang tentu mengandung senyawa kimia yang berbahaya yang bisa juga menyebabkan pencemaran air dan juga tumpukan sampah nih. Sampah yang mengendap di sungai tentu bisa menyumbat aliran air hingga menyebabkan pendangkalan bahkan banjir di sekitar itu. Nah, juga ee akan menyebabkan pencemaran tanah maupun pencemaran udara. Nah, kita juga sudah tahu bahwa ada teknologi pengelolaan sampah mulai bagaimana kita mengurangi sampah, bagaimana kita memanfaatkan sampah, maupun ee bagaimana kita melakukan daur ulang sampah. Nah, tentu juga kita ee dengan membaca beapa literatur, melihat kehidupan sehari-hari, kita juga sebenarnya sudah memahami manfaat 3R itu. Namun ee pengetahuan tentu belum cukup, perlu transformasi ke tindakan nyata. Nah, ini yang sulit. Nah, tentu karena tantangannya sebagian masyarakat kita belum memahami pentingnya pengelolaan sampah, baik pengelolaan di sumber. Nah, ini yang apa namanya yang akan kita diskusikan sebenarnya. Bagaimana sih pengetahuan tentang sampah itu bisa mempengaruhi kepedulian kita, bagaimana bisa mempengaruhi ee perilaku kita sehari-hari dalam pengelolaan sampah. Nah, ini dasar hukum pengelolaan sampah di Indonesia sudah ada. Sejak tahun 2008 sudah ada e undang-undang tentang pengolahan sampah. Mulai dari kemudian peraturan turunannya ada PP81 tahun 2012, kemudian ada PP27 tahun 2020 tentang polan sampah spesifik, kemudian juga ada PRPR 97 tahun 2017 tentang kebijakan nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Nah, ini juga ada Perpres 83 eh tahun 2012 tentang pengelolaan sampah lau. Ada Perpres 35 tentang percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik. Kemudian ada Perpres 15 tentang percepatan pengendalian pencemaran kerusakan dan setar. Nah, ini di hulu sudah ada peraturan Menteri Lingkungan Hidup P75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen. Kemudian ada juga di masing-masing wilayah di provinsi maupun kabupaten kota sudah ada peraturan gubernur maupun peraturan bupati serta peraturan walikota tentang pembatasan timbulan sampah. Nah, di beberapa daerah juga e sudah ada peraturan bupati maupun peraturan walikota terkait pembatasan penggunaan sampah plastik sekali pakai. Nah, kemudian juga ada Permenel HK nomor 14 tahun 2021 tentang pengolahan sampah pada bank sampah. Juga ada SKB bersama ee Menteri dan Kapoldi tentang impor limbah non B3 dan sebagai bahan baku industri. Nah, juga sudah ada banyak sekali edaran gerakan pilah sampah dari rumah. Nah, ini juga di dihilir untuk peraturan-peraturan yang ee harus di menjadi rujukan oleh pemerintah daerah. Ini sebenarnya peraturan tentang pengolaan sampah sudah sangat banyak, sudah sangat kompleks, e komplit. Nah, tinggal bagaimana implementasinya di lapangan. Nah, ini beberapa faktor ee yang menjadi penyebab kurangnya pemahaman. Yang pertama tentu rendahnya kesadaran dan pengetahuan. Masyarakat umumnya kan belum mengetahui konsep dasar pengolahan sampah seperti pemilahan sampah organik, bagaimana memilah juga sampah anorganik, serta prinsip tadi eh 3 tadi redius, serius, dan recycle. Nah, kemudian yang kedua kebiasaan membuang sampah sembarangan. Nah, banyak masyarakat kita masih memiliki kebiasaan buruk membuang sampah langsung ke lingkungan. Dia melihat ada sungai. Nah, seperti juga ada di daerah ee saya pernah saya sering kami sering ke sana di daerah Maluku, Maluku Utara. Nah, di daerah-daerah lain juga sebenarnya berlaku seperti itu. Pada saat musim hujan, nah mereka berbondong-bondong tuh ke sungai karena dipikir ada aliran air ke laut pada saat hujan. Nah, sampah langsung dibuang ke situ sehingga otomatis daerah akan bersih seketika karena sampahnya tadi sudah dibawa ke ee ke laut melalui sungai tadi atau aliran air. Nah, ini yang harus juga menjadi perhatian kita bersama. Kemudian, nah, tentu kalau dibuang ee ke badan air tentu tadi akan menyebabkan pencemaran dan masalah kesehatan lainnya. Belum lagi kalau sampah yang dari dibuang di selokan kemudian mengalir ke kanal, mengalir ke sungai, mengalir ke laut tentu akan di apa namanya? Dimakan oleh ikan ee planton, ikan kecil, ikan besar. Kemudian nanti kita makan lagi. Nah, ini Indonesia sebenarnya sudah ter apa namanya? Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar ke ee kedua di dunia. Nah, ini aduh kalau mengingat ini jadi. Nah, yang ketiga adalah stigma negatif. Nah, masyarakat kita sebagian besar tidak mau melakukan kegiatan pengolahan sampah seperti pengomposan. Kemudian juga ada teknologi sekarang untuk pengolah sampah organik yaitu budidaya magot. Itu dianggap sebagai hal yang menjijikkan dan juga tidak menarik bagi sebagian masyarakat. Nah, kemudian yang keempat adalah kurangnya fasilitas dan infrastruktur. Nah, keterbatasan tempat sampah terpilah, kemudian fasilitas daur ulang, dan infrastruktur pengolahan sampah lainnya juga ee menghambat partisipasi masyarakat di dalam pengolahan sampah. Tapi beberapa daerah itu sebenarnya sudah banyak infrastruktur maupun fasilitas daur ulang yang dibangun oleh pemerintah. Nah, ini kembali lagi bagaimana kurangnya ee apa namanya pemahaman masyarakat, kurangnya pengetahuan SDM, maupun kurangnya dukungan dari pemerintah daerah sehingga beberapa fasilitas yang sudah dibangun itu ee tidak dapat beroperasi dengan optimal. Sebagai contoh, beberapa TPS3R itu sudah dibangun oleh Dinas PUPR. Saya enggak tahu apakah itu dibangun di daerah ataupun wilayah yang susah dijangkau atau seperti apa. Nah, yang terakhir juga ada keterbatasan edukasi dan sosialisasi. Nah, ini kurangnya sosialisasi dan pelatihan mengenai pengolahan sampah membuat masyarakat kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menerapkan pengelolaan sampah di sumber. Nah, yang kedua bagaimana tadi kita sudah punya pengetahuan. Nah, bagaimana dengan kepedulian kita? Nah, kepedulian masyarakat itu bervariasi. Ada yang peduli, ada yang abai. Nah, ini yang apa namanya? Ee mungkin kita bisa melihat lagi sebenarnya bagaimana pengetahuan kita itu bisa berkorelasi dengan tingkat kepedulian kita ee terhadap khususnya untuk pengolahan sampah. Nah, ini banyak dipengaruhi oleh pertama keluarga, kemudian ee dipengaruhi juga oleh tingkat pendidikan, dipengaruhi oleh komunitas, maupun dipengaruhi oleh fasilitas pemerintah. Nah, yang pertama dipengaruhi oleh keluarga. Nah, bagaimana anggota keluarga itu bisa mengajarkan maupun mencontohkan ee praktik pengolahan sampah yang baik sejak usia dini kepada anak-anak misalnya. Misal minimal dilakukan bagaimana cara memilah sampah dan bagaimana mengurangi penggunaan sampah plastik. Anak-anak kan bisa diajar misalnya dia menghasilkan sampah apakah bungkus snake, bungkus permen, itu dibuangnya di atau disimpannya di tempat yang khusus itu tidak dibuang di tempat sampah karena itu masih bisa dimanfaatkan. Kemudian bagaimana juga mengurangi penggunaan plastik. Mereka dari awal diajarkan untuk misalnya membawa tumblr atau botol minum sendiri yang bukan menjadi bukan ee apa namanya botol plastik yang setiap misalnya habis bisa beli lagi. Kemudian juga bagaimana kita bisa meningkatkan kesadaran ee untuk pengenalan masalah sampah sejak dini. Nah, yang kedua terkait dengan ee dipengaruhi juga kepedulian ini dipengaruhi oleh pendidikan. Nah, pengetahuan ee yang didapatkan melalui pendidikan formal maupun nonformal harusnya kan ee kan sudah mendapatkan pengetahuan tentang dampak negatif sampah, kemudian bagaimana pentingnya pengelolaan sampah yang benar termasuk misalnya bagaimana sih teknik pemilahan dan laur ulang itu sudah di dapatkan di pendidikan apa namanya formal maupun nonformal. Karena sekarang di Indonesia itu sudah dikembangkan semua namanya sekolah Adiwiata. Jadi ada sekolah Adiwiata kabupaten kota, ada sekolah Adiwiata tingkat provinsi, ada sekolah Adiwiata tingkat nasional, kemudian juga tidak ada sekolah Adiwiata mandiri yaitu pengenalan bagaimana pengelolaan sampah di tingkat pendidikan portal. Kemudian di komunitas juga sudah ee apa namanya ee kepedulian pengola terkait pengolahan sampah itu sudah dikembangkan mulai dari komunitas yang dapat ee mengorganisir kampanye maupun program edukasi untuk meningkatkan ee kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah. Nah, juga sudah banyak komunitas-komunitas yang berperan aktif di dalam program misalnya Jumat Bersih ataupun komunitas peduli lingkungan. Nah, ini beberapa komunitas yang mendorong perubahan perilaku secara ee apa namanya? Secara kolektif. Nah, bagaimana juga fasilitas pemerintah bisa mempengaruhi kepedulian kita terhadap pengolahan sampah. Nah, pemerintahan kan wajib menyediakan infrastruktur, kemudian wajib mengembangkan peraturan baik ee serta insentif maupun disisentif. Nah, kemudian pemerintah juga wajib untuk melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana pengolahan sampah. Nah, ini memang menjadi tugas dan tanggung jawab ee kami di mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, kemudian teman-teman di Dinas Lingkuan Hidup Provinsi maupun kabupaten kota. Nah, kemudian bagaimana kepedulian itu juga menentukan aksi nyata kita. Bagaimana kita membilas sampah, bagaimana kita mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Nah, tentu faktor pendorongnya adalah ee adanya kesadaran lingkungan. Kemudian tadi juga dari komunitas-komunitas itu yang bergabung dengan komunitas tentu juga akan berperilaku sama dengan apa yang dilakukan oleh komunitas. Nah, bagaimana juga kebijakan pemerintah tentu berpengaruh di dalam mendorong ee kepedulian. Misalnya pemerintah sudah menetapkan ee peraturan tentang pembatasan sampah plastik dan melakukan pengawasan. Nah, tanpa kepedulian tentu pengetahuan yang sudah kita miliki tidak akan terimplementasi. Nah, tadi yang sudah kita highlight bahwa program kepedulian sampah harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Nah, pengenalan ini menjadi kunci keberhasilan di dalam upaya kita dalam melakukan pengendalian dan pengolahan sampah. Nah, ini bisa kita ajarkan mulai melakukan pemilahan sampah. Pemilah pemilahan sampah mulai dari rumah. Sampah organik misalnya sisa makanan, kulit buah, ranting daun itu bisa kita jadikan kompos. Kemudian sisa kulit buah juga kita bisa jadikan ekoenzim. Kemudian rantingan daunan itu bisa menjadi makanan ternak. Termasuk sisa makanan juga bisa menjadi ee apa namanya? makanan ternak. Kemudian pengembangan budidaya eh magot black solder play. Nah, kemudian bagaimana sampahan organik ini? Sampah kertas, plastik, kaca, kaleng, besi, dan sebagainya itu kita bawa ke bank sampah. Nah, kemudian ada juga sampah spesifik. Jadi sampai mengandung bahan berbahaya dan beracun yang sering kita hasilkan di rumah di kantor itu ada baterai bekas, kemudian lampu TL, tinta printer, kemudian juga cairan dan perbersih maupun ada limbah medis di rumah sakit maupun puskesmas. Nah, sampah jenis ini tentu harus dipilah dan dikumpulkan di dalam satu wadah. Kalau misalnya baterai bekas ini sudah ada ee apa namanya? penanganan dan program dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyiapkan pemerintah daerah berkewajiban untuk menyiapkan namanya Dropbox. Jadi, sampah baterai bekas ini di apa? Disimpan di dropbox. Nah, kemudian termasuk juga limbah medis ini harus diserahkan kepada pihak ketiga yang memiliki izin. Jadi, sekarang ini di semua Puskesmas ee kami di kementerian maupun teman-teman di provinsi maupun kabupaten kota sudah sering melakukan ee pemantauan dan pengawasan ee terkait pengelolaan limbah medis di rumah sakit dan puskesmas. Jadi mereka diwajibkan untuk ee menyerahkan limbah medisnya itu kepada pihak ketiga yang berizin dan nanti selanjutnya akan diolah di tempat pemusnahan maupun pengelolaan limbah B3. Nah, kemudian yang selanjutnya adalah bagaimana perilaku. Nah, tadi kita sudah ada pengetahuan, kemudian sudah ada kepedulian. Nah, bagaimana itu bisa merubah perilaku kita. Nah, perilaku negatif seperti buang sampah sembarangan, kemudian ee konsumsi plastik yang berlebihan, kemudian tidak melakukan pemilahan sampah hingga membakar sampah. Nah, itu adalah beberapa perilaku negatif. Nah, kemudian perilaku positif misalnya membawa wadah sendiri, misalnya mau membeli makanan, mau ee apa namanya? Membawa makanan ke kantor, ke sekolah, itu membawa wadah sendiri ataupun juga berbelanja ke pasar atau swalaya itu bisa membawa wadah sendiri. Kemudian memilah sampah. Sampah yang sudah terlanjur dihasilkan itu masih bisa dipilah karena pertama masih bisa dimanfaatkan kembali, masih punya nilai jua ataupun masih di bisa didaur ulang. Misalnya sampah sisa makannya didaur ulang menjadi kompos dan sebagainya. Kemudian kita juga bisa mendukung bank sampah. Jadi sampah yang sudah dipilah tadi sampah anorganik sudah dipilah misalnya kertas, kaleng, ee karton, plastik itu bisa dibawa ke bank sampah. Nah, ini tidak semua yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik akan memiliki perilaku pengelolaan sampah yang baik. Nah, itu kita bisa diskusikan nanti kenapa bisa seperti itu. Nah, ini sudah ada perubahan paradigma pengolahan sampah mulai dari N of Pipe Solution kemudian dikembangkan menjadi 3R tadi. Nah, sekarang lagi sudah dikembangkan menjadi extended producer responsibility dan circular ekonomi. Nah, ini eh sebenarnya semua industri sudah wajib bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Kemudian juga ada sirkul ekonomi. Bagaimana tadi sampah yang kita hasilkan ee masih mempunyai nilai jual, artinya masih sebagai sumber ee sumber daya itu bisa dibawa ke bank sampah yang nanti akan dihitung atau dihargai dengan uang sesuai dengan harga yang berlaku terhadap sampah tersebut. Nah, inilah sircular ekonomi. Artinya sampah yang dihasilkan bisa dijual kembali, bisa didaur ulang dan akan menjadi barang baru yang bisa dimanfaatkan kembali. Nah, dengan adanya IPR dan ee sirkular ekonomi tentu akan mengurangi beban pencemar dari dari sampah. Kemudian juga adanya perilaku minim sampah. Kemudian mengurangi sampah di sumber, kemudian sampah dianggap sebagai sumber daya sehingga kita bisa melakukan efisiensi sumber daya dan kita juga bisa membatasi eksploitasi sumber daya. Nah, dengan menerapkan ini PR dan sirkular ekonomi kita harapkan bahwa kegiatan ee apa namanya pengolahan sampah di TPA bisa menjadi hierarki yang paling rendah mengingat dampaknya tadi terhadap lingkungan hidup maupun kesehatan manusia. Jadi ee kita lihat piramida ini 3R merupakan bagian utama dari hierarki pengolahan sampah. Nah, dari aspek ee lingkungan, kegiatan pencegahan dan pembatan sampah itu yang memiliki hierarki yang paling tinggi. Artinya sampah di sumber itu kita sudah kelola sehingga tidak ada lagi atau sedikit tinggal sampah residu yang akan kita bawa ke TPA. Nah, ini juga ada skenario Netheral Mission eh tahun 2000 pasca 2030 terkait subsektor sampah. ee yang pertama bagaimana kita mengurangi kebijakan mengurangi sampah yang masuk ke landfield atau sampai masuk ke TPA. Kemudian yang kedua ada pembatasan plastik sekali pakai. Jadi kantong plastik, kresek, kemudian sedotan plastik, alat makan dari plastik, kemudian juga yang terutama adalah sterofor. Itu ee sudah harus kita batasi karena tadi ee kesulitan dan ee apa namanya untuk mengurai itu memerlukan waktu yang lama. Kemudian kita menerapkan gaya hidup minim sampah. tadi nanti melalui cegah sampah plastik sekali pakai kita tidak berbelanja lagi, kita berbelanja lagi tanpa kemasan, kemudian menghabiskan makanan, kemudian kita pilah sampah dari rumah dan kita komposkan sisa makanan di rumah. Nah, diharapkan nanti recycling rate eh sampah sampah kertas, sampah plastik, sampah logam, karet, dan sampah tekstil itu capai 75 sampai 100%. Nah, juga ada teknologi pengolahan sampah dan melalui teknologi RDF tadi sebagai bahan baku pendamping, bahan bakar pendamping di toko firing dari Batara. Kemudian ada pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Kemudian ada melalui pengomposan maupun melalui budidaya magot atau BSN. Nah, kita juga bagaimana perilaku tadi juga akan mempengaruhi budaya. Nah, budaya konstruktif ini memicu peningkatan timbulan sampah. Nah, kita lihat sekarang di mana serba instan, kemudian serba online. Nah, orang-orang itu melakukan ee pembelian ee apa barang misalnya di online itu kan sudah di apa dikemas dalam plastik sehingga ini tentu juga akan meningkatkan timbulan sampah plastik. Nah, juga bagaimana ee apa namanya kegiatan modernisasi membuat wilayah bersih semakin menurun. Ini nanti juga kita bisa diskusikan bersama. Kemudian ee juga budaya gotongroyong yang kuat di dalam menjaga kebersihan lingkungan misalnya kerja bati, kemudian pengumpulan pemilahan, pengolahan sampah secara kolektif itu juga sudah ee apa namanya? Sudah sangat berkurang. Kemudian bagaimana pemerintah menerapkan jadwal konsisten untuk melakukan pengangkutan sampah. kemudian membangun kesadaran kolektif masyarakat hingga membangun kemitraan dan solidaritas. Nah, oleh karena itu budaya baru yang perlu kita bangun sekarang adalah malu buang sampah sembarangan. Kita harus bangga kalau kita sudah melakukan pemilahan, kita harus bangga kalau kita melakukan darur ulang, maupun kita harus bangga bahwa kita sudah melakukan konsumsi secara bijak. Nah, bagaimana transformasi budaya itu konsumtif? Kita sudah budaya konsumtif kita jadikan budaya yang produktif. Kemudian budaya yang membuang sampah sembarangan atau membuang sampah begitu saja tanpa dikelola kita jadikan ee sebagai budaya untuk melakukan pengelolaan dan memanfaatkan. Budaya ini diharapkan nanti bisa memupuk rasa tanggung jawab bersama, solidaritas, maupun kepedulian terhadap lingkungan yang pada akhirnya akan menciptakan lingkungan hidup yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi kita semua. Nah, bagaimana integrasi pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah, pengetahuan misalnya edukasi lingkungan. Bagaimana kita mengajarkan masyarakat tentang pentingnya pengolahan sampah, dampak negatif dari sampah, cara-cara efektif dalam mengurangi ee ee sampah menggunakan kembali maupun melakukan daur ulang sampah melalui 3R. Kemudian juga kita harus selalu melakukan sosialisasi program baik dari kegiatan komunitas peduli lingkungan melalui bank sampah itu untuk menyebarkan berbagai informasi dan pengetahuan. Kemudian ee bagaimana kepedulian itu kita bangun melalui motivasi internal. Jadi kita membentuk sendiri rasa tanggung jawab dan kepedulian kita terhadap lingkungan. Bisa kita tingkatkan melalui peningkatan nilai-nilai spiritual. Misalnya di ajaran Islam kita kita sudah diajarkan untuk menekankan kebersihan dan bagaimana kita bisa merawat tanaman. Sudah ada dalam berapa surah di dalam Al-Qur'an maupun hadis-hadis sahih. Nah, kemudian bagaimana peran komunitas? Jadi, bagaimana membangun komunitas atau grup yang peduli lingkungan untuk ee apa namanya? Memperkuat monipasi kolektif kita di dalam menjaga kebersihan dan melakukan pengolahan sampah. Nah, yang ketiga, bagaimana perilaku kita itu kita integrasikan di dalam pengolahan sampah. Yang pertama kita membentuk ee pembiasaan. Jadi, mari kita mendorong perilaku milah sampah mulai dari rumah, kemudian di sekolah, di tempat kerja kita juga melalui praktik langsung. Seperti kita melakukan komposting di rumah, sisa-sisa makanan bisa kita kompos ataupun kita bisa membuat ekoenzim. kemudian membuang sampah pada tempatnya atau tempat sampah yang terpilah. Jadi di rumah bisa kita siapkan minimal dua jenis tempat sampah, tempat sampah organik maupun anorganik. Anorganik ini pun mungkin lebih baik juga kita pisahkan sampah botol ee taruh wada sendiri, sampah plastik botol plastik taruh wada sendiri, kaleng taruh sendiri, kertas juga taruh ada sendiri. Demikian juga di tempat kerja. Sisa-sisa makanan bisa kita kumpulkan. Kemudian ee kalau saya pribadi misalnya saya dikasih nasi kotak. Nah, kotak itu saya bersihkan, nasinya saya taruh di piring. Kotak itu saya lipat lagi untuk nanti saya kumpulkan dan saya bawa ke bank sampah. Nah, kemudian bagaimana perilaku itu melalui partisipasi aktif. Misalnya kita mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pengolahan sampah. minimal masyarakat misalnya di sekitar kita, di lingkungan kita, tetangga-tetangga kita, majelis taklim ee itu bisa kita ajak untuk terlibat aktif di dalam pengolahan sampah. Kemudian kita bisa mengikuti kerja bakti. Kerja bakti juga nanti bagaimana pengolahan sampahnya. Misalnya sampah yang kita sudah kerja bakti, ada banyak sampah organik, kita bisa buat kompos. Kemudian sampah-sampah organik itu bisa kita kumpulkan. Apakah kita akan sedekahkan ke pemulu, apakah kita akan bawa ke bank sampah itu sehingga dan kemudian juga kita berpartisipasi di dalam program daur ulang. Nah, program daur ulang bagaimana sampah yang kita sudah pilah tadi dibawa ke bank sampah untuk selanjutnya nanti akan dibawa ke industri daur ulang. Nah, kemudian bagaimana budaya? Nah, ada norma sosial itu bagaimana membangun norma sosial yang positif terhadap pengolahan sampah. Jadi masyarakat bisa secara kolektif pada peraturan dan bertanggung jawab terhadap sampai yang dihasilkan. Nah, ini juga tidak terlepas dari peran pemerintah untuk melakukan penegakan aturan. Nah, kemudian juga bisa diintegrasikan dengan tradisi lokal. Jadi, masukkan praktik pengolahan sampah di dalam ee kebiasaan dan tradisi lokal. Misalnya ee ada kerja sama antara ee sekolah dan orang tua di dalam program peduli lingkungan. ada banyak jenis ee apa namanya kerjaasama-kerjaasama yang bisa kita praktikkan di dalam pengelolaan sampah. Ee juga bagaimana kita membangun ee budaya ekonomi sirkular. Jadi tadi sampah yang masih punya sumber daya bisa kita bawa ee ke bank sampah untuk di apa namanya? dilakukan dijual. Kemudian nanti bank sampah akan membawanya ke industri daur ulang sehingga itu ee sampah tadi akanur ulang sehingga mempunyai lagi nilai yang baru untuk barang baru. Nah, kemudian ini beberapa ee budaya yang bisa kita lakukan mulai dari rumah. Jadi, kita minim sampah dan pilah sampah dari sumber. Jadi, kita mulai dari hal kecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang. Nah, ini pengurangan sampah di rumah melalui kita cegah sampah, kita pilah sampah, dan kita olah sampah. Nah, di rumah kita terapkan gaya hidup minim sampah. Kalaupun kita sudah menghasilkan sampah, sampah anorganik tadi bisa kita bawa ke bank sampah untuk dijadikan daur didaur ulang. Kemudian sampah sisa makanan bisa kita lakukan pengomposan melalui komposter takakura misalnya melalui ee budede magot. kemudian kita berikan sebagai pakan ternak. Nah, bisa juga kita membuat ekoenzim. Nah, nanti kita lihat ekoensi seperti apa. Nah, bisa juga kita isi di dalam biopori. Nah, daerah-daerah yang sering tergenang pada saat musim hujan itu sangat bagus untuk membuat biopori. Nah, sampah yang tadi di daur ulang sampah plastik, kertas, kaleng, e kaca itu nanti bisa kita sedekahkan ke pemulungkah atau kita bawa ke TPS 3R atau kita bawa ke bank sampah. Nah, ini pilah sampah dari rumah. Jadi tadi sampah organik, sisa makanan ee kita bisa buat kompos, kemudian kulit buah dan sayur itu kita bisa buat ekoenzim. Nah, bisa juga kita sisa makanan itu diberikan untuk makanan ternak. Itu ada banyak cara untuk kita mengelola sampah di rumah tanpa harus dibuang ke tempat sampah. Nah, sampah anorganik tadi sampah, kertas, plastik, kaca, kaleng bisa kita bawa ke bank sampah untuk dibawa. Selanjutnya nanti akan dibawa ke industri daur ulang. Nah, ini tadi sampah spesifik. Nah, ini mengompos dari rumah ini kompos di mengompos dari rumah itu adalah kegiatan yang sangat mengasikkan bagi orang yang mempunyai hobi untuk itu. Nah, kita dengan mengompos kita sudah berpartisipasi di dalam target penurunan emisi GRK dari sektor limbah domestik. Nah, kemudian itu mengompos juga itu mudah bagi orang yang mempunyai kepedulian, sudah punya pengetahuan, punya kepedulian, punya perilaku untuk melakukan pengolahan sampah. Nah, ini juga bisa kita menabung di bank sampah untuk mendukung sirkular ekonomi. Nah, kita juga bisa melakukan pembatasan mencegah sampah kita di kantor. Jadi, misalnya penyediaan pada saat rapat ataupun ee ada kegiatan-kegiatan kantor tidak lagi menyadi ee menyiapkan botol plastik, tapi menyiapkan ee gelas, kemudian ada ee jar atau teko. Kemudian bisa juga kita menyiapkan gelas dan menyiapkan dispenser sehingga kita tidak lagi menggunakan ee apa namanya botol plastik, kita tidak lagi menggunakan sedotan plastik, kita tidak menggunakan lagi kemasan plastik, tapi kita membawa gelas atau tumbler yang bisa langsung diisi ulang. Nah, juga bisa kita ee sekarang sudah apa namanya? Sudah banyak berkembang penggunaan tas belanja. Jadi tas kain. Kemudian juga di kantor kita bisa menggunakan dua sisi kertas. Kalau misalnya kertas kita sudah pakai ngprint di halaman pertama, dibaliknya lagi bisa kita gunakan dan sebagainya. Nah, ini kita bisa mengembangkan gaya hidup minim sampah mulai di rumah. Jadi, bagaimana kita mencegah sampah mulai belanja tanpa kemasan. Nah, ini yang ketiga paling penting. Habiskan makanan. Karena seringki kita pada saat ee ada apa namanya? menghadiri kondangan ada atau ada acara itu seringki kita lapar mata. Jadi ngambil makanan banyak karena pengin makan ini, pengin makan itu. Tapi setelah diambil jadinya kenyang kenyang. Jadi tentu ee apa namanya? Makanan kita tidak kita habiskan. Nah, ini bagaimana kita mulai dari sekarang secara sadar kemudian sedikit mungkin kita menghasilkan sampah. Nah, ini kita mencegah sampah kurangi. Kita berpikir kembali kalau akan melakukan ee apa namanya? Pembelian barang ya. Tidak. Jadi kita kurangi dengan tidak menggunakan lagi wadah ee sekali pakai ataupun ee misalnya plastik sekali pakai. Nah, lebih bagus kita menggunakan kembali wadah-wadah yang bisa kita gunakan ulang. Nah, ini juga kita mulai belanja tanpa kemasan. Jadi kita bisa belanja di ee sekarang sudah banyak dikembangkan, sudah banyak ee apa namanya? BKS store menyediakan ee barang-barang yang bisa kita beli untuk dengan isi ulang ini. Habiskan sisa makanan. Nah, ini praktik-praktik. Jadi, saya berpendapat dan saya berprinsip bahwa saya tidak akan menyampaikan sesuatu yang tidak saya lakukan. Jadi di rumah saya sudah membuat ee kompos yang saya aplikasikan ke tanaman-tanaman yang ada di ee rumah. Ini gambar ini baru tadi pagi saya ambil. Ini kok sebelah kiri atas saya baru membuat lagi ekoenzim dan saya menyimpan pada saat sudah dipanen setelah 3 bulan saya taruh di botol-botol kecil. Jadi saya suka memberikan orang-orang yang perlu ekoenzim akan saya berikan secara gratis. Kalaupun misalnya saya ke kami ke menghadiri acara atau ada pembinaan itu saya bawa beberapa botol ekenzim dan nanti setelah memberikan apa namanya memberikan sosialisasi terkait ekenzim. Nah, botol-botol inilah saya bagikan ke ee orang-orang yang sudah kami fasilitasi. Nah, ini juga sampah plastik misalnya ee bekas ee kemasan snack, ee obat, permen, dan sebagainya itu tidak dibuang. Jadi bisa kita ajarkan anak-anak kita untuk misalnya melakukan ee kegiatan yang asyik ini ee kemasan-kemasan ini kita gunting-gunting kecil kemudian masukkan di dalam wadah botol. Nanti setelah botol ini penuh dengan kepadatan tertentu bisa kita apa namanya? Kita bisa ee jadikan sebagai ee apa namanya? tempat duduk ataupun meja. Nah, ini juga sampah-sampah yang ada di rumah kita bilah sampah kertas, kaleng, ee karton kita kumpulkan untuk kemudian kita bawa ke bank sampah. Nah, di kantor kami juga sudah ada bank sampah dengan ee nasabah semua pegawai-pegawai yang ada di karyawan yang ada di kantor kami. Nah, ini bagaimana strategi perubahannya. Jadi perlu edukasi yang berkelanjutan mulai di sekolah, kemudian di kampanye publik, kemudian ini yang paling penting sekarang adalah media sosial, kemudian juga penyediaan fasilitas seperti fasilitas TPS3R, kemudian ada bank sampah maupun dropin. Kemudian yang paling penting adalah penguatan regulasi dan penegakan hukum. meskipun kita sudah ee memberikan sosialisasi, sudah memberikan pendampingan, kalau tidak ada penguatan regulasi itu ee ya masyarakat kita memang seperti itu. Kemudian juga ada insentif bagi masyarakat maupun industri yang ramah lingkungan. Kemudian juga yang ee harus berperan adalah tokoh masyarakat dan semua komunitas-komunitas yang ber apa namanya? berkontribusi dalam program ee kepedulian terhadap lingkungan. Nah, ini tantangan kita yang paling pertama adalah rendahnya partisipasi masyarakat. Nah, kita lihat tadi dari awal bahwa sampah yang terkelola itu hanya sekitar ee di bawah 50%. Nah, itu apa? Karena rendahnya partisipasi masyarakat. Kemudian juga ada keterbatasan sarana dan prasarana. Kemudian lemahnya penegakan hukum dan perbedaan budaya serta tingkat pendidikan. Ada beberapa solusi dan strategi kita lakukan kampanye. Kemudian juga apa namanya pengembangan kurikulum sekolah dengan memasukkan ee kurikulum terkait pengelolaan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Nah, juga ada kolaborasi multipihak bahwa pemerintah tidak bisa sendiri untuk melakukan penanggulangan pengolahan sampah. tentu harus ada keterlibatan aktif dari swasta maupun masyarakat. Nah, juga penguatan regulasi tadi, sanksi, insentif, maupun ada aturan tentang pembatasan ee penggunaan plastik sekali pakai. Nah, juga perlu dikembangkan budaya ramah lingkungan tadi yaitu budaya, gaya hidup, minim sampah, serta ee penerapan teknologi dan inovasi untuk pengelolaan sampah misalnya melalui bank sampah, kemudian tadi waste to energi RDF, maupun pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot. Nah, kesimpulannya adalah bahwa ee sampah adalah persoalan multidimensi. Itu terkait dengan pengetahuan kita. Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa menjadi ee berimplementasi terhadap kepedulian kita dan juga lagi terimplementasi di dalam perilaku kita sehingga akan membentuk budaya untuk ee melakukan pengelolaan sampah. Nah, juga ee perubahan perilaku tadi dan budaya adalah kunci sehingga tentu dibutuhkan sinergi antara individu itu sendiri, masyarakat, kemudian komunitas, dan pemerintah. Nah, penutup ee ee bahwa sampah bukan hanya masalah teknis tapi juga masalah ee tadi perilaku dan budaya. Pengetahuan dan kepedulian tanpa perilaku nyata itu tidak cukup. Dibutuhkan perubahan budaya secara kolektif. demi lingkungan hidup yang bersih dan berkelanjutan. Nah, terima kasih ya Mbak Dini. Mungkin ee ini pemaparan ee kami. Nanti mungkin kita bisa kembangkan lagi pada saat diskusi nanti. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kepada Bu Najhah atas pemaparan materinya yang sangat informatif dan membuka wawasan kita. Dan kita juga sudah mendengarkan ya, Bapak dan Ibu semuanya penjelasan yang komprehensif tadi dimulai dengan dasar hukum pengelolaan sampah di Indonesia, kemudian bagaimana integrasi antara pengetahuan, perilaku kepedulian dan budaya dalam pengolahan sampah. Dan baik Bapak Ibu di sini kita akan lanjutkan pada sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slido. Mohon ditunggu Bapak Ibu, saya akan membuka terlebih dahulu. Di sini kami sudah merangkum terdapat 10 pertanyaan dari aplikasi Saidul. Mungkin kepada Bu Najhah bisa langsung saja dijawab satu persatu, Bu. Iya. Makasih, Mbak Dini. Jadi yang pertama, bagaimana peran budaya lokal dapat menjadi penguat atau malah menjadi penghambat di dalam pembentukan perilaku peduli sampah. Nah, ee budaya lokal sebenarnya ee pada dasarnya semua itu ee suka akan kebersihan gitu. Nah, ini sebenarnya menjadi faktor penguat kita. Kemudian bagaimana juga orang-orang yang budaya itu sebenarnya bisa kita bentuk dari tadi pengetahuan yang sudah kita miliki. Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa bertransformasi dalam kepedulian kita kemudian sampai perilaku kita sehingga nanti akan membentuk budaya sendiri. Budaya budaya yang untuk selalu hidup bersih kemudian mau melakukan pengolan sampar. Kemudian yang kedua, pendekatan terbaik di rumah tangga untuk merealisasikan pengetahuan terkait pengolahan sampah, terutama untuk ee reduce itu mengurangi. Kemudian reuse kan refuse-nya reuse. Jadi di mana sampah yang kita hasilkan atau barang-barang yang kita hasilkan yang sudah tidak terpakai itu bisa kita manfaatkan kembali. Misalnya seperti tadi saya ee sampaikan bahwa sampah di rumah itu kan misalnya ee ada sisa-sisa makanan, kemudian ee sisa sayur, sisa kulit buah itu kita bisa manfaatkan menjadi ekoenzim. Ekoenzim ini adalah cairan sejuta manfaat. Nah, saya sudah ee kami sering mempraktikkan itu saya dan oko enzim yang saya buat kan ini memang perlu e perlu ke kesabaran menunggu karena ekoenzim ini nanti 3 bulan baru baru bisa kita panen. Nah, ekoenzim ini di rumah saya gunakan untuk mengepel. Kemudian saya masukkan di mesin cuci untuk ee mencuci pakaian meskipun saya tetap masih memakai deterjen itu hasilnya baju menjadi bersih. Kemudian sampah yang apa ee lantai yang sudah kita pel menggunakan cairan ekoenzim itu ee jadi enak diinjak jadi keset. Kemudian pokoknya enaklah gitu. Kemudian cairankoenzim bisa kita gunakan untuk campuran shampo itu mengatasi ketombe bisa kita gunakan untuk toner di muka bisa kita ee itu saya sering juga gunakan toner ee dari ekoenzim itu kita campur air dengan perbandingan tertentu dengan ekenzim. Kemudian kita jadikan kita usapkan di wajah itu menghilangkan minyak dan mengobati jerawat. Ada banyak hal-hal yang bisa kita lakukan di rumah dari sampah yang kita hasilkan. sampai sisa makanan bikin kompos. Kompos yang sederhana saja. Siapkan wadah misalnya bot atau kaleng bekas atau e kaleng cat apa ee wadah cat bekas. Lubangi bawahnya kasih isi tanah. Kemudian taruh sampai sisa makanan dengan terlebih dahulu kita tiriskan. Jadi jangan berair masukkan di situ. Kemudian tutup lagi dengan tanah. Begitu seterusnya sampai penuh kita tutup. Simpan siram setiap ee berapa hari
Resume
Categories