Webinar 124 Sampah: Antara Pengetahuan, Kepedulian, Perilaku dan Budaya
QtqaeEsbhgU • 2025-09-04
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan
Eco Edio ini memang dari grup-grup di
alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut
pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh
bisa dianggap menarik ya karena mereka
pengetahuan mereka tentang yang pengin
mereka ketahui itu meningkat gitu ya.
Kemudian skill-skill yang dihasilkan
dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa
dilihat begitu ya, terasa gitu
manfaatnya di kami, terutama untuk e
para konsultan yang tenaga-tenaga ahli
gitu. Sehingga saya memilih Eco Edu
mengikuti pelatihannya juga dan itu
terbukti benar gitu.
Nah, saya lihat Instagram itu ada Eko
Edu ya yang akan menyelenggarakan
pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak
baca terlebih dahulu ya terkait tentang
informasi yang diselu.
Nah, menurut saya itu menjadi hal yang
membuat tertarik untuk ikut pelatihan di
situ. Jadi, saya sering lihat di
Instagram gitu bagaimana Eko Idu
menyampaikan informasinya. Eko edu itu
bagus karena pelatihan-patunya itu
selalu tergini terus mengikuti zaman dan
juga pelatihnya apa yang tapinya itu
bagus-bagus dan terbaiklah ke depannya.
[Musik]
Iya. Ee yang pertama memang tentu saja
ini meningkatkan dan maksimalkan
skill-skill yang saya harapkan begitu
ya. terun dalam penyusunan dokumen AMD e
saya jadi bisa lebih produktif, lebih
efektif juga ee punya update gitu ya,
update-update, persoalan-persoalan dalam
jurusan AMDA terkini dari ahlinya
langsing di lapangan begitu yang
pengalamannya tidak diragukan. Menurut
saya pelatihan yang disediakan EID ini
sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk
aksesnya gitu. Jadi ada teknologi
terbaru yang saya dapat itu di
e-learning ya. Itu luar biasa ee
pembelajarannya juga mudah sekali untuk
dipahami.
Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga
menambah ilmu pengetahuan yang banyak
banget.
[Musik]
eh e-learning ini memang di memang
sangat diperlukan sekali ya, terutama
untuk kita yang dengan keterbatasan
pengetahuan kemudian juga waktu mungkin
ee itu memberikan kita kesempatan untuk
kembali mengingat, kembali mendengarkan
paparan-paparan yang mungkin kurang
jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang
sesering mungkin yang kita inginkan.
Kita juga bisa review kembali sehingga
belajar kita bisa lebih efektif dan
efisien.
itu membantu sekali ketika pada saat
penyampaian materi ada yang ketinggalan
gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi
itu di
sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil
materi terus lihat video yang bisa
diakses kapan aja dan gimana aja.
R juta dengan informasi yang kami
peroleh itu jauh dari kas padan
sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau
saya bilang terlalu murah itu jadi
sepadanlah.
Jadi menurut saya padan Bu karena memang
e pelatihannya itu pun sangat membantu
ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan
yang ada di e sekitar lingkungan saya
sendiri gitu. E saya kira sepat
sesuailah dengan apa yang kita dapatkan.
[Musik]
EKP
efektif, tepat, dan profesional,
hemat, cermat, dan hebat,
keren, profesional dan juga keginian.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi menuju siang
Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian.
Selamat datang kembali di webinar Eko
ke-124.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semuanya yang sudah selalu setia
untuk mengikuti acara webinar ini. Hari
ini webinar Ekoedu akan mengangkat tema
sampah antara pengetahuan, kepedulian,
perilaku, dan budaya. Perkenalkan saya
Dini yang akan bertugas sebagai
moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu
semuanya, sebelum kita mulai webinar
ini, alangkah baiknya kita berdoa
terlebih dahulu menurut agama dan
kepercayaan masing-masing. Untuk itu
berdoa dipersilakan.
Untuk berdoa dicukupkan.
Untuk acara selanjutnya yaitu kita akan
menyanyikan lagu Indonesia Raya secara
bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak
Ibu semuanya untuk duduk tegak.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di
sini izinkan saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh
Baik, yaitu ee di minggu atau di pekan
depan
pada tanggal 8 hingga 12 September 2025,
kami akan mengadakan dua pelatihan
sekaligus, yaitu yang pertama pelatihan
dinamika sistem untuk kajian lingkungan
pada gelombang 12 dan pelatihan
pemodelan dispersi. udara, air koppoff,
dan high split gelombang 19.
Dan pada pekan selanjutnya yaitu tanggal
15 hingga 19 September 2025 di sini kami
akan mengadakan pelatihan pengelolaan
banjir dan sedimentasi sungai
menggunakan hackres dan has gelombang 6.
Dan apabila Bapak Ibu melakukan
bayar investasi
sebelum hamilin satu pelatihan, Bapak
Ibu bisa mendapatkan diskon sebesar 10%.
Oke. Baik. Dan untuk informasi lebih
lanjut dapat menghubungi admin kami
yaitu Riris dan Nisa melalui WhatsApp
ataupun Bapak Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yaitu ada Instagram,
YouTube channel, Facebook, Twitter dan
juga kami memiliki website resmi di
www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun
ketika Bapak Ibu tertarik langsung pada
saat ini, Bapak Ibu langsung saja untuk
ee klik di pendaftaran.edu.co.id.
Dan selain pelatihan reguler kami yang
dilaksanakan online, kami juga memiliki
pelatihan inhouse training yang bisa
disesuaikan dengan keinginan Bapak Ibu
semuanya di instansi ataupun perusahaan.
Jadi kami tunggu di pelatihan.
Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya kita
langsung saja masuk pada kegiatan utama
kita yang di mana webinar kali ini kita
akan berdiskusi mengenai sampah antara
pengetahuan, kepedulian, perilaku dan
budaya. Dan di sini juga kami telah
menghadirkan narasumber yang kompeten di
bidangnya untuk memberikan materi dan
wawasan yang bermanfaat ini. Dan baik,
langsung saja saya perkenal perkenalkan
narasumber kita di hari ini yaitu ada
Ibu Najhah Aris, S.H., M.H. Beliau
merupakan pengendalian dampak lingkungan
ahli muda di Pusat Pengendalian
Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku.
Ya. Baik. Ee selamat siang kepada Ibu
Najha.
Mohon izin. Selamat siang, Bu Najah.
Apakah suara saya terdengar?
Mohon izin, Bu Najha, sepertinya
suaranya masih tidak terdengar ya, Bu
ya.
Mungkin untuk dikoneksikan dulu dengan
aplikasi Zoom-nya, Bu.
Sudah terkonnect. Iya. Selamat siang,
Mbak.
Selamat siang, Bu Naca. Bagaimana, Bu
kabarnya siang ini?
Oh, iya. Selamat siang, Mbak Dini,
ya. Siang, Bu. Najah. Suara saya
terdengar, Bu?
Iya, iya, Mbak. Jelas.
Iya. Baik, Bu. Ee apa kabar, Bu,
siang hari ini?
Baik, Mbak. Alhamdulillah,
ya. Alhamdulillah. Semoga kita semuanya
selalu sehat, ya, Bu, ya. Tapi mungkin
sebelum lanjut kepada pematerian di sini
saya akan membacakan dulu beberapa
teknis yaitu yang pertama untuk
pemaparan akan dilaksanakan selama 1
seteng jam kemudian nanti dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab dengan
menggunakan aplikasi SLU dan dilanjutkan
lagi dengan tanya jawab secara langsung.
Dan untuk mengefektifkan waktu, saya
serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu
Nazhar dan kepada Bapak Ibu semuanya.
Selamat mengikuti acara webinar ini. Hai
It
Turun dulu di
Halo, Mbak. Mbak Dini kedengaran, ya?
Iya, terdengar, Bu.
Iya, mohon maaf tadi. Iya.
Asalamualaikum. Selamat pagi, Ibu, Bapak
sekalian.
Saya Najha Aris dari Kantor Pusat
Pengendalian Lingkungan Hidup ee
Sulawesi dan Maluku. Nah, ini sebenarnya
saya sebagai pemeran pengganti Mbak
Dini. Harusnya kan yang diundang itu Pak
Pak Kapus kami. Jadi beliau hari ini
sementara ada kegiatan di Kota Bitung.
Jadi beliau menugaskan kami untuk ee
mengikuti apa namanya kegiatan webinar
ini dan beliau menitipkan salam kepada
Ibu Bapak sekalian peserta webinar kita
hari ini.
Jadi izin izin ya Mbak Dini saya share
screen
ya. Silakan, Bu.
Oke.
Jadi mohon izin Mbak Dini saya tutup ini
ya videonya dulu.
Iya, Bu. Silakan, Bu.
Pakai
pakai begini. Iya. Ee
ya, hari ini kita akan berdiskusi
terkait ee sampah antara pengetahuan,
kepedulian, perilaku, dan budaya.
Nah, ini sampah sebenar ee latar
belakang dari ee apa namanya diskusi
kita ke hari ini adalah pertama sampah
merupakan persoalan klasik namun ee
belum tuntas. Nah, ee sampah menjadi
persoalan klasik. Nah, sekarang sampah
menjadi persoalan nasional. Ini Bapak
Menteri Lingkungan Hidup Pak Faisal
Hanif Faisal Nurofik sekarang memang
fokus pada penanganan sampah dengan
target Indonesia bersih ee bebas sampah
tahun 202 100% melalui kebijakan
penanganan di sumber di hulu. Kemudian
ada pengolahan ee kemudian pemberdayaan
masyarakat melalui program gerakan
Indonesia bersih. Nah, program ini nanti
menekankan pada kolaborasi berbagai
pihak mulai dari masyarakat kemudian
pelaku usaha hingga pemerintah daerah
untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang
berkelanjutan.
Nah, dengan kita melihat bahwa ee di
Indonesia saat ini berdasarkan data dari
sistem informasi pengelolaan sampah
nasional tahun 2024 ee Indonesia
menghasilkan kurang lebih 56,63
juta ton sampah per tahun. Tapi data ini
mungkin masih di apa namanya? masih
dibawa dari yang ee yang se yang
senyatanya karena beberapa kabupaten
kota tidak melakukan penginputan data di
dalam ee SIPSN. Terakhir tahun 2024
hanya ada sekitar 300 lebih kabupaten
kota yang menginput data. Sementara di
Indonesia ada sekitar 514 kabupaten
kota.
Nah, dari data timbulan tadi hanya
sekitar 11% sampah yang didaur pulang.
Kemudian pengolahan sampah sebenarnya
bukan hanya teknis. Nah, ini yang kita
akan diskusikan hari ini bahwa itu
terkait juga bagaimana pengetahuan
masyarakat, bagaimana kepedulian ee
bagaimana perilaku dan ee bagaimana
pengaruh budaya. Nah, kemudian tentu
saja volume sampah meningkat seiring
pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi.
Nah, komposisi terbesar dari sampah yang
kita hasilkan tadi yang sekitar 56,63
juta ton per tahun itu sisa makanan
kurang lebih 40%. Nah, kemudian ada
plastik sekitar 17%.
Nah, tentu tantangan terbesar kita untuk
mengatasi permasalahan sampah ini adalah
bagaimana perilaku masyarakat di dalam
memilah. Nah, memilah itu bagaimana dia
mereka membedakan kemudian memisahkan
dan juga bagaimana perilaku kita untuk
mengurangi sampah. Nah, perilaku
masyarakat ini bukan hanya masyarakat
semua, tapi kita juga termasuk
masyarakat. Jadi, ee kita termasuk di
situ bagaimana kita nantinya harus harus
saya katakan Mbak harus karena ini
persoalan sampah sudah sangat ee apa
namanya? Sudah sangat ee
apa ya? Sangat memprihatinkan kalau saya
bilang. Jadi sekarang kita sudah
mengalami krisis sampah. Nah, bagaimana
kita berperilaku di dalam yang pertama
yang paling utama adalah di hulu di kita
di sumber. Bagaimana kita bisa
membedakan dan memisahkan sampah dan
bagaimana kita bisa ee mengurangi
sampah.
Nah, kondisi existing pengelolaan sampah
nasional
berdasarkan data dari SIPSN 2023 ee 2024
tetapi ini data 2023 timbulan sampah
nasional sebesar 56,63 juta ton. Nah,
sampah yang terkelola
sampah yang terkelola itu hanya sekitar
39,01%
sekitar 22,9 juta ton. Nah, ini kembali
lagi tadi datanya bahwa itu belum
termasuk data seluruh kabupaten kota
yang ada di Indonesia. Nah, sampah yang
tidak terkelola itu sekitar 60,99%
atau 34,54
juta ton.
Nah, dari 60,99%
itu sekitar 21,85%
sampah itu ditimbun di TPA pendamping.
Nah, TPO pendamping artinya sampah hanya
dibuang begitu saja tanpa ada perlakuan,
tanpa ada pengelolaan sama sekali.
Kemudian 34,14%
sampah itu masih terbuang ke lingkungan.
Apakah itu dibakar, apakah dibuang
begitu saja ataupun dibuang ke badan
air. Nah, ini sampai yang terbuang ke
lingkungan itu karena sebagian besar
wilayah di kabupaten kota itu tidak
mencakup area pelayanan dari Dinas
Kebersihan ataupun Dinas Lingkungan
Hidup. Jadi, tentu masyarakat karena
tidak terlayani maka kemungkinan besar
mereka hanya membuangnya tadi ataupun
melakukan kebakaran.
Nah, beberapa fasilitas pengolahan
sampah yang sudah ada di Indonesia. Yang
pertama itu ada namanya bank sampah
induk, kemudian ada bank sampah unit.
Nah, total ee data tahun 2023 jumlah
bank sampah induk itu sekitar 299 unit.
Kemudian juga ada bank sampah unit ee ee
sebanyak 20.587.
Nah, mungkin data ini akan berkurang
ataupun bertambah karena ada beberapa
bank sampah yang ada di beberapa wilayah
di Indonesia itu ada yang mati suri, ada
yang sepertinya hidup segan mati tak mau
karena berbagai ee kendala. Ada kendala
SDM, ada kendala ee apa namanya? Ada
kendala ee anggaran dan sebagainya.
Nah, jumlah nasabah dari total tadi bank
sampah induk dan bank sampah unit itu
ada sekitar 647.
ee 1797
nasabah. Nah, sampah yang terkelola dari
bank sampah induk dan bank sampah unit
ada sekitar 2.116 ton per tahun. Nah,
dengan total omset tadi ee 3 miliar
3.860
miliar per tahun. Nah, juga ada
instalasi pengolahan sampah menjadi
energi listrik.
Nah, instalasi pengolahan sampah menjadi
energi listrik itu berdasarkan Perpres
nomor 35 tahun 2018. Nah, ini perpres
ini sementara dilakukan peninjauan
ulang. Nah, ee pel itu ada di Kota
Surabaya dengan total sampai dikelola
itu sekitar 1.000 ton per hari. Kemudian
juga ada pel di kota Surakarta dengan
mengolah sampah sekitar 545 ton per
hari. Nah, ini ada 10 daerah lainnya
juga sedang dalam proses pembangunan.
Kemudian yang pertama itu ada di DKI
Jakarta, kemudian di Bandung, Tangerang
Selatan, Tangerang, Bekasi, Semarang, di
ee Palembang, Denpasar, Manado, dan
Makassar. Nah, ini mungkin masih
sementara pembahasan baik pembahasan
dokumen maupun pembahasan apa namanya
bagaimana visibility untuk dilanjutkan
pembangunannya. Nah, kemudian juga ada
beberapa fasilitas pengolahan sampah
menjadi review derive view. Jadi bahan
pengganti untuk ee apa namanya? Bahan
bakar di industri semen.
Jadi bahan bakar bahan bakar alternatif
yang dihasilkan dari tadi pengolahan ee
limbah badan itu melalui proses
pemisahan, pencacahan, kemudian
pengeringan. Nah, ini nanti akan diambil
ee apa namanya? dilakukan untuk
menurunkan kadar airnya.
Nah, bahan bakar ini nanti akan dibuat
ee apa namanya? Sebagai komponen sampah
yang mudah terdiri dari komponen sampah
yang mudah terbakar. Kemudian seperti
plastik, kertas juga kain yang bisa
dimanfaatkan nanti untuk menggantikan
bahan bakar fosil di dalam industri.
Nah, ini yang sebagian besar
memanfaatkan RDF ini adalah eh industri
semen itu pembakaran di kilen.
Nah, eh fasilitas RDF yang sudah ada di
Indonesia saat ini ada di Cilacap itu ee
mengelola sampah 160 ton per hari.
Kemudian juga ada di Bandargebang itu
2.000 ton per hari. Ini datanya bisa
saja berkurang karena berbagai faktor
juga. ini juga termasuk di RDF di Plan
Badria di pangkep di kabupaten yang ada
di wilayah kami itu awalnya 50 sampai 60
tahun per hari. Tapi karena ada berbagai
kendala sampai ee per hari tidak sebesar
itu. Ini mungkin yang menjadi apa
namanya menjadi bahan ee untuk kita
diskusikan kembali.
Nah, ini kita sudah tahu bahwa tadi ee
dari awal kita sampaikan bahwa kita akan
berdiskusi hari ini bagaimana sampah itu
ee melalui pengetahuan, kemudian
kepedulian, kemudian perilaku hingga
budaya. Nah, yang pertama kita akan
bahas adalah mengenai pengetahuan
tentang sampah.
Pengetahuan tentang sampah, kita sudah
tahu bahwa ada peraturan tentang
pengelolaan sampah. Kemudian juga kita
sudah tahu bahwa jenis sampah itu ada
organik itu sisa-sisa makanan, sayuran,
kemudian ada sampaan organik seperti
plastik, kertas, karton, kaca, ee besi
dan sebagainya. Nah, juga ada sampah
yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun. Nah, kemudian kita juga sudah
tahu bahwa sampah itu berdampak ke
lingkungan. pertama dampak ke pada
kesehatan, kemudian dampak ke pencemaran
air,
kemudian dampak ke tanah dan udara. Nah,
beberapa
dampak terhadap pencemaran air misalnya
sampah yang tidak terkelola dengan baik
itu misalnya dibuang ke badan air,
dibuang ke sungai, dibuang ke danau,
dibuang ke laut. Nah, tentu akan
menyebabkan pelepasan zas-zat berbahaya
di perairan. Kemudian juga akan nanti
menghalangi sinar matahari dan tentu
menyebabkan kerusakan ekosistem air
sehingga akan menimbulkan ee apa
namanya? Akan menurunkan kualitas air
dan menimbulkan masalah kesehatan sampai
banjir.
Nah, penyebab pencemaran air ee apa
namanya? penyebab pencemaran air oleh
sampah antara lain ada sampah anorganik
seperti plastik yang tidak dapat terurai
dengan baik di alam. Nah, ini akan terus
bertumpuk di perairan karena tadi ada
kita sudah bahas sebelumnya bahwa sampah
yang tidak terkelola itu sebagian besar
juga dibuang ke badan air. Nah, juga ada
sampah organik. Nah, sampah organik ini
yang paling banyak mulai dari limbah
rumah tangga, sisa makanan, bahkan
kotoran hewan yang jika dibuang ke air
tentu akan membusuk dan menghabiskan
oksigen yang dibutuhkan oleh organisme
air. Nah, kemudian juga ada beberapa zat
kimia. Nah, beberapa industri kan yang
membuang langsung ee limbahnya ataupun
sampahnya ke badan air ya yang tentu
mengandung senyawa kimia yang berbahaya
yang bisa juga menyebabkan pencemaran
air dan juga tumpukan sampah nih. Sampah
yang mengendap di sungai tentu bisa
menyumbat aliran air hingga menyebabkan
pendangkalan bahkan banjir di sekitar
itu.
Nah, juga ee akan menyebabkan pencemaran
tanah maupun pencemaran udara. Nah, kita
juga sudah tahu bahwa ada teknologi
pengelolaan sampah mulai bagaimana kita
mengurangi sampah, bagaimana kita
memanfaatkan sampah, maupun ee bagaimana
kita melakukan daur ulang sampah. Nah,
tentu juga kita ee dengan membaca beapa
literatur, melihat kehidupan
sehari-hari, kita juga sebenarnya sudah
memahami manfaat 3R itu. Namun ee
pengetahuan tentu belum cukup, perlu
transformasi ke tindakan nyata. Nah, ini
yang sulit.
Nah, tentu karena tantangannya sebagian
masyarakat kita belum memahami
pentingnya pengelolaan sampah, baik
pengelolaan di sumber. Nah, ini yang apa
namanya yang akan kita diskusikan
sebenarnya. Bagaimana sih pengetahuan
tentang sampah itu bisa mempengaruhi
kepedulian kita, bagaimana bisa
mempengaruhi ee perilaku kita
sehari-hari dalam pengelolaan sampah.
Nah, ini dasar hukum pengelolaan sampah
di Indonesia sudah ada. Sejak tahun 2008
sudah ada e undang-undang tentang
pengolahan sampah. Mulai dari kemudian
peraturan turunannya ada PP81 tahun
2012, kemudian ada PP27 tahun 2020
tentang polan sampah spesifik, kemudian
juga ada PRPR 97 tahun 2017 tentang
kebijakan nasional pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis sampah
rumah tangga. Nah, ini juga ada Perpres
83 eh tahun 2012 tentang pengelolaan
sampah lau. Ada Perpres 35 tentang
percepatan pembangunan instalasi
pengolah sampah menjadi energi listrik.
Kemudian ada Perpres 15 tentang
percepatan pengendalian pencemaran
kerusakan dan setar. Nah, ini di hulu
sudah ada peraturan Menteri Lingkungan
Hidup P75 tahun 2019 tentang peta jalan
pengurangan sampah oleh produsen.
Kemudian ada juga di masing-masing
wilayah di provinsi maupun kabupaten
kota sudah ada peraturan gubernur maupun
peraturan bupati serta peraturan
walikota tentang pembatasan timbulan
sampah. Nah, di beberapa daerah juga e
sudah ada peraturan bupati maupun
peraturan walikota terkait pembatasan
penggunaan sampah plastik sekali pakai.
Nah, kemudian juga ada Permenel HK nomor
14 tahun 2021 tentang pengolahan sampah
pada bank sampah. Juga ada SKB bersama
ee Menteri dan Kapoldi tentang impor
limbah non B3 dan sebagai bahan baku
industri. Nah, juga sudah ada banyak
sekali edaran gerakan pilah sampah dari
rumah.
Nah, ini juga di dihilir untuk
peraturan-peraturan yang ee harus di
menjadi rujukan oleh pemerintah daerah.
Ini sebenarnya peraturan tentang
pengolaan sampah sudah sangat banyak,
sudah sangat kompleks, e komplit. Nah,
tinggal bagaimana implementasinya di
lapangan.
Nah, ini beberapa faktor ee yang menjadi
penyebab kurangnya pemahaman. Yang
pertama tentu rendahnya kesadaran dan
pengetahuan. Masyarakat umumnya kan
belum mengetahui konsep dasar pengolahan
sampah seperti pemilahan sampah organik,
bagaimana memilah juga sampah anorganik,
serta prinsip tadi eh 3 tadi redius,
serius, dan recycle. Nah, kemudian yang
kedua kebiasaan membuang sampah
sembarangan. Nah, banyak masyarakat kita
masih memiliki kebiasaan buruk membuang
sampah langsung ke lingkungan. Dia
melihat ada sungai. Nah, seperti juga
ada di daerah ee saya pernah saya sering
kami sering ke sana di daerah Maluku,
Maluku Utara. Nah, di daerah-daerah lain
juga sebenarnya berlaku seperti itu.
Pada saat musim hujan, nah mereka
berbondong-bondong tuh ke sungai karena
dipikir ada aliran air ke laut pada saat
hujan. Nah, sampah langsung dibuang ke
situ sehingga otomatis daerah akan
bersih seketika karena sampahnya tadi
sudah dibawa ke ee ke laut melalui
sungai tadi atau aliran air. Nah, ini
yang harus juga menjadi perhatian kita
bersama.
Kemudian, nah, tentu kalau dibuang ee ke
badan air tentu tadi akan menyebabkan
pencemaran dan masalah kesehatan
lainnya. Belum lagi kalau sampah yang
dari dibuang di selokan kemudian
mengalir ke kanal, mengalir ke sungai,
mengalir ke laut tentu akan di apa
namanya? Dimakan oleh ikan ee planton,
ikan kecil, ikan besar. Kemudian nanti
kita makan lagi. Nah, ini Indonesia
sebenarnya sudah ter apa namanya?
Indonesia adalah penghasil sampah
plastik terbesar ke ee kedua di dunia.
Nah, ini aduh kalau mengingat ini jadi.
Nah, yang ketiga adalah stigma negatif.
Nah, masyarakat kita sebagian besar
tidak mau melakukan kegiatan pengolahan
sampah seperti pengomposan. Kemudian
juga ada teknologi sekarang untuk
pengolah sampah organik yaitu budidaya
magot. Itu dianggap sebagai hal yang
menjijikkan dan juga tidak menarik bagi
sebagian masyarakat.
Nah, kemudian yang keempat adalah
kurangnya fasilitas dan infrastruktur.
Nah, keterbatasan tempat sampah
terpilah, kemudian fasilitas daur ulang,
dan infrastruktur pengolahan sampah
lainnya juga ee menghambat partisipasi
masyarakat di dalam pengolahan sampah.
Tapi beberapa daerah itu sebenarnya
sudah banyak infrastruktur maupun
fasilitas daur ulang yang dibangun oleh
pemerintah. Nah, ini kembali lagi
bagaimana kurangnya ee apa namanya
pemahaman masyarakat, kurangnya
pengetahuan SDM, maupun kurangnya
dukungan dari pemerintah daerah sehingga
beberapa fasilitas yang sudah dibangun
itu ee tidak dapat beroperasi dengan
optimal. Sebagai contoh, beberapa TPS3R
itu sudah dibangun oleh Dinas PUPR. Saya
enggak tahu apakah itu dibangun di
daerah ataupun wilayah yang susah
dijangkau atau seperti apa. Nah, yang
terakhir juga ada keterbatasan edukasi
dan sosialisasi. Nah, ini kurangnya
sosialisasi dan pelatihan mengenai
pengolahan sampah membuat masyarakat
kita tidak memiliki pengetahuan yang
cukup untuk menerapkan pengelolaan
sampah di sumber.
Nah, yang kedua bagaimana tadi kita
sudah punya pengetahuan. Nah, bagaimana
dengan kepedulian kita?
Nah, kepedulian masyarakat itu
bervariasi. Ada yang peduli, ada yang
abai. Nah, ini yang apa namanya? Ee
mungkin kita bisa melihat lagi
sebenarnya bagaimana pengetahuan kita
itu bisa berkorelasi dengan tingkat
kepedulian kita ee terhadap khususnya
untuk pengolahan sampah. Nah, ini banyak
dipengaruhi oleh pertama keluarga,
kemudian ee dipengaruhi juga oleh
tingkat pendidikan, dipengaruhi oleh
komunitas, maupun dipengaruhi oleh
fasilitas pemerintah.
Nah, yang pertama dipengaruhi oleh
keluarga. Nah, bagaimana anggota
keluarga itu bisa mengajarkan maupun
mencontohkan ee praktik pengolahan
sampah yang baik sejak usia dini kepada
anak-anak misalnya. Misal minimal
dilakukan bagaimana cara memilah sampah
dan bagaimana mengurangi penggunaan
sampah plastik. Anak-anak kan bisa
diajar misalnya dia menghasilkan sampah
apakah bungkus snake, bungkus permen,
itu dibuangnya di atau disimpannya di
tempat yang khusus itu tidak dibuang di
tempat sampah karena itu masih bisa
dimanfaatkan.
Kemudian bagaimana juga mengurangi
penggunaan plastik. Mereka dari awal
diajarkan untuk misalnya membawa tumblr
atau botol minum sendiri yang bukan
menjadi bukan ee apa namanya botol
plastik yang setiap misalnya habis bisa
beli lagi.
Kemudian juga bagaimana kita bisa
meningkatkan kesadaran ee untuk
pengenalan masalah sampah sejak dini.
Nah, yang kedua terkait dengan ee
dipengaruhi juga kepedulian ini
dipengaruhi oleh pendidikan. Nah,
pengetahuan ee yang didapatkan melalui
pendidikan formal maupun nonformal
harusnya kan ee kan sudah mendapatkan
pengetahuan tentang dampak negatif
sampah, kemudian bagaimana pentingnya
pengelolaan sampah yang benar termasuk
misalnya bagaimana sih teknik pemilahan
dan laur ulang itu sudah di dapatkan di
pendidikan apa namanya formal maupun
nonformal. Karena sekarang di Indonesia
itu sudah dikembangkan semua namanya
sekolah Adiwiata. Jadi ada sekolah
Adiwiata kabupaten kota, ada sekolah
Adiwiata tingkat provinsi, ada sekolah
Adiwiata tingkat nasional, kemudian juga
tidak ada sekolah Adiwiata mandiri yaitu
pengenalan bagaimana pengelolaan sampah
di tingkat pendidikan portal.
Kemudian di komunitas juga sudah ee apa
namanya ee kepedulian pengola terkait
pengolahan sampah itu sudah dikembangkan
mulai dari komunitas yang dapat ee
mengorganisir kampanye maupun program
edukasi untuk meningkatkan ee kesadaran
masyarakat tentang pengelolaan sampah.
Nah, juga sudah banyak
komunitas-komunitas yang berperan aktif
di dalam program misalnya Jumat Bersih
ataupun komunitas peduli lingkungan.
Nah, ini beberapa komunitas yang
mendorong perubahan perilaku secara ee
apa namanya? Secara kolektif.
Nah, bagaimana juga fasilitas pemerintah
bisa mempengaruhi kepedulian kita
terhadap pengolahan sampah. Nah,
pemerintahan kan wajib menyediakan
infrastruktur, kemudian wajib
mengembangkan peraturan baik ee serta
insentif maupun disisentif. Nah,
kemudian pemerintah juga wajib untuk
melakukan edukasi kepada masyarakat
bagaimana pengolahan sampah.
Nah, ini memang menjadi tugas dan
tanggung jawab ee kami di mulai dari
Kementerian Lingkungan Hidup, kemudian
teman-teman di Dinas Lingkuan Hidup
Provinsi maupun kabupaten kota.
Nah, kemudian bagaimana kepedulian itu
juga menentukan aksi nyata kita.
Bagaimana kita membilas sampah,
bagaimana kita mengurangi penggunaan
plastik sekali pakai. Nah, tentu faktor
pendorongnya adalah ee adanya kesadaran
lingkungan. Kemudian tadi juga dari
komunitas-komunitas itu yang bergabung
dengan komunitas tentu juga akan
berperilaku sama dengan apa yang
dilakukan oleh komunitas. Nah, bagaimana
juga kebijakan pemerintah tentu
berpengaruh di dalam mendorong ee
kepedulian. Misalnya pemerintah sudah
menetapkan ee peraturan tentang
pembatasan sampah plastik dan melakukan
pengawasan.
Nah, tanpa kepedulian tentu pengetahuan
yang sudah kita miliki tidak akan
terimplementasi.
Nah, tadi yang sudah kita highlight
bahwa program kepedulian sampah harus
dikenalkan sejak dini kepada anak-anak.
Nah, pengenalan ini menjadi kunci
keberhasilan di dalam upaya kita dalam
melakukan pengendalian dan pengolahan
sampah.
Nah, ini bisa kita ajarkan mulai
melakukan pemilahan sampah. Pemilah
pemilahan sampah mulai dari rumah.
Sampah organik misalnya sisa makanan,
kulit buah, ranting daun itu bisa kita
jadikan kompos. Kemudian sisa kulit buah
juga kita bisa jadikan ekoenzim.
Kemudian rantingan daunan itu bisa
menjadi makanan ternak. Termasuk sisa
makanan juga bisa menjadi ee apa
namanya? makanan ternak. Kemudian
pengembangan budidaya eh magot black
solder play. Nah, kemudian bagaimana
sampahan organik ini? Sampah kertas,
plastik, kaca, kaleng, besi, dan
sebagainya itu kita bawa ke bank sampah.
Nah, kemudian ada juga sampah spesifik.
Jadi sampai mengandung bahan berbahaya
dan beracun yang sering kita hasilkan di
rumah di kantor itu ada baterai bekas,
kemudian lampu TL, tinta printer,
kemudian juga cairan dan perbersih
maupun ada limbah medis di rumah sakit
maupun puskesmas. Nah, sampah jenis ini
tentu harus dipilah dan dikumpulkan di
dalam satu wadah. Kalau misalnya baterai
bekas ini sudah ada ee apa namanya?
penanganan dan program dikembangkan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup untuk
menyiapkan pemerintah daerah
berkewajiban untuk menyiapkan namanya
Dropbox. Jadi, sampah baterai bekas ini
di apa? Disimpan di dropbox. Nah,
kemudian termasuk juga limbah medis ini
harus diserahkan kepada pihak ketiga
yang memiliki izin.
Jadi, sekarang ini di semua Puskesmas ee
kami di kementerian maupun teman-teman
di provinsi maupun kabupaten kota sudah
sering melakukan ee pemantauan dan
pengawasan ee terkait pengelolaan limbah
medis di rumah sakit dan puskesmas. Jadi
mereka diwajibkan untuk ee menyerahkan
limbah medisnya itu kepada pihak ketiga
yang berizin dan nanti selanjutnya akan
diolah di tempat pemusnahan maupun
pengelolaan limbah B3.
Nah, kemudian yang
selanjutnya adalah bagaimana perilaku.
Nah, tadi kita sudah ada pengetahuan,
kemudian sudah ada kepedulian. Nah,
bagaimana itu bisa merubah perilaku
kita. Nah, perilaku negatif seperti
buang sampah sembarangan, kemudian ee
konsumsi plastik yang berlebihan,
kemudian tidak melakukan pemilahan
sampah hingga membakar sampah. Nah, itu
adalah beberapa perilaku negatif. Nah,
kemudian perilaku positif misalnya
membawa wadah sendiri, misalnya mau
membeli makanan, mau ee apa namanya?
Membawa makanan ke kantor, ke sekolah,
itu membawa wadah sendiri ataupun juga
berbelanja ke pasar atau swalaya itu
bisa membawa wadah sendiri. Kemudian
memilah sampah. Sampah yang sudah
terlanjur dihasilkan itu masih bisa
dipilah karena pertama masih bisa
dimanfaatkan kembali, masih punya nilai
jua ataupun masih di bisa didaur ulang.
Misalnya sampah sisa makannya didaur
ulang menjadi kompos dan sebagainya.
Kemudian
kita juga bisa mendukung bank sampah.
Jadi sampah yang sudah dipilah tadi
sampah anorganik sudah dipilah misalnya
kertas, kaleng, ee karton, plastik itu
bisa dibawa ke bank sampah.
Nah, ini tidak semua yang memiliki
tingkat pengetahuan yang baik akan
memiliki perilaku pengelolaan sampah
yang baik. Nah, itu kita bisa diskusikan
nanti kenapa bisa seperti itu.
Nah, ini sudah ada perubahan paradigma
pengolahan sampah mulai dari N of Pipe
Solution kemudian dikembangkan menjadi
3R tadi. Nah, sekarang lagi sudah
dikembangkan menjadi extended producer
responsibility dan circular ekonomi.
Nah, ini eh sebenarnya semua industri
sudah wajib bertanggung jawab terhadap
sampah yang mereka hasilkan. Kemudian
juga ada sirkul ekonomi. Bagaimana tadi
sampah yang kita hasilkan ee masih
mempunyai nilai jual, artinya masih
sebagai sumber ee sumber daya itu bisa
dibawa ke bank sampah yang nanti akan
dihitung atau dihargai dengan uang
sesuai dengan harga yang berlaku
terhadap sampah tersebut. Nah, inilah
sircular ekonomi. Artinya sampah yang
dihasilkan bisa dijual kembali, bisa
didaur ulang dan akan menjadi barang
baru yang bisa dimanfaatkan kembali.
Nah, dengan adanya IPR dan ee sirkular
ekonomi tentu akan mengurangi beban
pencemar dari dari sampah. Kemudian juga
adanya perilaku minim sampah. Kemudian
mengurangi sampah di sumber, kemudian
sampah dianggap sebagai sumber daya
sehingga kita bisa melakukan efisiensi
sumber daya dan kita juga bisa membatasi
eksploitasi sumber daya.
Nah, dengan menerapkan ini PR dan
sirkular ekonomi kita harapkan bahwa
kegiatan ee apa namanya pengolahan
sampah di TPA bisa menjadi hierarki yang
paling rendah mengingat dampaknya tadi
terhadap lingkungan hidup maupun
kesehatan manusia. Jadi ee kita lihat
piramida ini 3R merupakan bagian utama
dari hierarki pengolahan sampah.
Nah, dari aspek ee lingkungan, kegiatan
pencegahan dan pembatan sampah itu yang
memiliki hierarki yang paling tinggi.
Artinya sampah di sumber itu kita sudah
kelola sehingga tidak ada lagi atau
sedikit tinggal sampah residu yang akan
kita bawa ke TPA. Nah, ini juga ada
skenario Netheral Mission
eh tahun 2000 pasca 2030 terkait
subsektor sampah.
ee yang pertama bagaimana kita
mengurangi kebijakan mengurangi sampah
yang masuk ke landfield atau sampai
masuk ke TPA. Kemudian yang kedua ada
pembatasan plastik sekali pakai. Jadi
kantong plastik, kresek, kemudian
sedotan plastik, alat makan dari
plastik, kemudian juga yang terutama
adalah sterofor. Itu ee sudah harus kita
batasi karena tadi ee kesulitan dan ee
apa namanya untuk mengurai itu
memerlukan waktu yang lama. Kemudian
kita menerapkan gaya hidup minim sampah.
tadi nanti melalui cegah sampah plastik
sekali pakai kita tidak berbelanja lagi,
kita berbelanja lagi tanpa kemasan,
kemudian menghabiskan makanan, kemudian
kita pilah sampah dari rumah dan kita
komposkan sisa makanan di rumah.
Nah, diharapkan nanti recycling rate eh
sampah sampah kertas, sampah plastik,
sampah logam, karet, dan sampah tekstil
itu capai 75 sampai 100%.
Nah, juga ada teknologi pengolahan
sampah dan melalui teknologi RDF tadi
sebagai bahan baku pendamping, bahan
bakar pendamping di toko firing dari
Batara. Kemudian ada pengolahan sampah
menjadi energi listrik berbasis
teknologi ramah lingkungan. Kemudian ada
melalui pengomposan maupun melalui
budidaya magot atau BSN.
Nah, kita juga bagaimana perilaku tadi
juga akan mempengaruhi budaya. Nah,
budaya konstruktif ini memicu
peningkatan timbulan sampah. Nah, kita
lihat sekarang di mana serba instan,
kemudian serba online. Nah, orang-orang
itu melakukan ee pembelian ee apa barang
misalnya di online itu kan sudah di apa
dikemas dalam plastik sehingga ini tentu
juga akan meningkatkan timbulan sampah
plastik. Nah, juga bagaimana ee apa
namanya kegiatan modernisasi membuat
wilayah bersih semakin menurun. Ini
nanti juga kita bisa diskusikan bersama.
Kemudian ee juga budaya gotongroyong
yang kuat di dalam menjaga kebersihan
lingkungan misalnya kerja bati, kemudian
pengumpulan pemilahan, pengolahan sampah
secara kolektif itu juga sudah ee apa
namanya? Sudah sangat berkurang.
Kemudian bagaimana pemerintah menerapkan
jadwal konsisten untuk melakukan
pengangkutan sampah. kemudian membangun
kesadaran kolektif masyarakat hingga
membangun kemitraan dan solidaritas.
Nah, oleh karena itu budaya baru yang
perlu kita bangun sekarang adalah malu
buang sampah sembarangan. Kita harus
bangga kalau kita sudah melakukan
pemilahan, kita harus bangga kalau kita
melakukan darur ulang, maupun kita harus
bangga bahwa kita sudah melakukan
konsumsi secara bijak. Nah, bagaimana
transformasi budaya itu konsumtif? Kita
sudah budaya konsumtif kita jadikan
budaya yang produktif. Kemudian budaya
yang membuang sampah sembarangan atau
membuang sampah begitu saja tanpa
dikelola kita jadikan ee sebagai budaya
untuk melakukan pengelolaan dan
memanfaatkan.
Budaya ini diharapkan nanti bisa memupuk
rasa tanggung jawab bersama,
solidaritas, maupun kepedulian terhadap
lingkungan yang pada akhirnya akan
menciptakan lingkungan hidup yang lebih
bersih, sehat, dan nyaman bagi kita
semua.
Nah, bagaimana integrasi pengetahuan,
kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah,
pengetahuan misalnya edukasi lingkungan.
Bagaimana kita mengajarkan masyarakat
tentang pentingnya pengolahan sampah,
dampak negatif dari sampah, cara-cara
efektif dalam mengurangi ee ee sampah
menggunakan kembali maupun melakukan
daur ulang sampah melalui 3R. Kemudian
juga kita harus selalu melakukan
sosialisasi program baik dari kegiatan
komunitas peduli lingkungan melalui bank
sampah itu untuk menyebarkan berbagai
informasi dan pengetahuan.
Kemudian ee bagaimana kepedulian itu
kita bangun melalui motivasi internal.
Jadi kita membentuk sendiri rasa
tanggung jawab dan kepedulian kita
terhadap lingkungan. Bisa kita
tingkatkan melalui peningkatan
nilai-nilai spiritual. Misalnya di
ajaran Islam kita kita sudah diajarkan
untuk menekankan kebersihan dan
bagaimana kita bisa merawat tanaman.
Sudah ada dalam berapa surah di dalam
Al-Qur'an maupun hadis-hadis sahih. Nah,
kemudian bagaimana peran komunitas?
Jadi, bagaimana membangun komunitas atau
grup yang peduli lingkungan untuk ee apa
namanya? Memperkuat monipasi kolektif
kita di dalam menjaga kebersihan dan
melakukan pengolahan sampah.
Nah, yang ketiga, bagaimana perilaku
kita itu kita integrasikan di dalam
pengolahan sampah. Yang pertama kita
membentuk ee pembiasaan. Jadi, mari kita
mendorong perilaku milah sampah mulai
dari rumah, kemudian di sekolah, di
tempat kerja kita juga melalui praktik
langsung. Seperti kita melakukan
komposting di rumah, sisa-sisa makanan
bisa kita kompos ataupun kita bisa
membuat ekoenzim. kemudian membuang
sampah pada tempatnya atau tempat sampah
yang terpilah. Jadi di rumah bisa kita
siapkan minimal dua jenis tempat sampah,
tempat sampah organik maupun anorganik.
Anorganik ini pun mungkin lebih baik
juga kita pisahkan sampah botol ee taruh
wada sendiri, sampah plastik botol
plastik taruh wada sendiri, kaleng taruh
sendiri, kertas juga taruh ada sendiri.
Demikian juga di tempat kerja.
Sisa-sisa makanan bisa kita kumpulkan.
Kemudian ee kalau saya pribadi misalnya
saya dikasih nasi kotak. Nah, kotak itu
saya bersihkan, nasinya saya taruh di
piring. Kotak itu saya lipat lagi untuk
nanti saya kumpulkan dan saya bawa ke
bank sampah.
Nah, kemudian bagaimana perilaku itu
melalui partisipasi aktif. Misalnya kita
mengajak masyarakat untuk aktif
melakukan pengolahan sampah. minimal
masyarakat misalnya di sekitar kita, di
lingkungan kita, tetangga-tetangga kita,
majelis taklim ee itu bisa kita ajak
untuk terlibat aktif di dalam pengolahan
sampah. Kemudian kita bisa mengikuti
kerja bakti. Kerja bakti juga nanti
bagaimana pengolahan sampahnya. Misalnya
sampah yang kita sudah kerja bakti, ada
banyak sampah organik, kita bisa buat
kompos. Kemudian sampah-sampah organik
itu bisa kita kumpulkan. Apakah kita
akan sedekahkan ke pemulu, apakah kita
akan bawa ke bank sampah itu sehingga
dan kemudian juga kita berpartisipasi di
dalam program daur ulang. Nah, program
daur ulang bagaimana sampah yang kita
sudah pilah tadi dibawa ke bank sampah
untuk selanjutnya nanti akan dibawa ke
industri daur ulang.
Nah, kemudian bagaimana budaya?
Nah, ada norma sosial itu bagaimana
membangun norma sosial yang positif
terhadap pengolahan sampah. Jadi
masyarakat bisa secara kolektif pada
peraturan dan bertanggung jawab terhadap
sampai yang dihasilkan.
Nah, ini juga tidak terlepas dari peran
pemerintah untuk melakukan penegakan
aturan.
Nah, kemudian juga bisa diintegrasikan
dengan tradisi lokal. Jadi, masukkan
praktik pengolahan sampah di dalam ee
kebiasaan dan tradisi lokal. Misalnya ee
ada kerja sama antara ee sekolah dan
orang tua di dalam program peduli
lingkungan. ada banyak jenis ee apa
namanya kerjaasama-kerjaasama yang bisa
kita praktikkan di dalam pengelolaan
sampah. Ee juga bagaimana kita membangun
ee budaya ekonomi sirkular. Jadi tadi
sampah yang masih punya sumber daya bisa
kita bawa ee ke bank sampah untuk di apa
namanya? dilakukan dijual. Kemudian
nanti bank sampah akan membawanya ke
industri daur ulang sehingga itu ee
sampah tadi akanur ulang sehingga
mempunyai lagi nilai yang baru untuk
barang baru.
Nah, kemudian ini beberapa ee budaya
yang bisa kita lakukan mulai dari rumah.
Jadi, kita minim sampah dan pilah sampah
dari sumber. Jadi, kita mulai dari hal
kecil, mulai dari diri kita sendiri dan
mulai dari sekarang.
Nah, ini pengurangan sampah di rumah
melalui kita cegah sampah, kita pilah
sampah, dan kita olah sampah. Nah, di
rumah kita terapkan gaya hidup minim
sampah. Kalaupun kita sudah menghasilkan
sampah, sampah anorganik tadi bisa kita
bawa ke bank sampah untuk dijadikan daur
didaur ulang. Kemudian sampah sisa
makanan bisa kita lakukan pengomposan
melalui komposter takakura misalnya
melalui ee budede magot. kemudian kita
berikan sebagai pakan ternak. Nah, bisa
juga kita membuat ekoenzim. Nah, nanti
kita lihat ekoensi seperti apa. Nah,
bisa juga kita isi di dalam biopori.
Nah, daerah-daerah yang sering tergenang
pada saat musim hujan itu sangat bagus
untuk membuat biopori.
Nah, sampah yang tadi di daur ulang
sampah plastik, kertas, kaleng, e kaca
itu nanti bisa kita sedekahkan ke
pemulungkah atau kita bawa ke TPS 3R
atau kita bawa ke bank sampah.
Nah, ini pilah sampah dari rumah. Jadi
tadi sampah organik, sisa makanan ee
kita bisa buat kompos, kemudian kulit
buah dan sayur itu kita bisa buat
ekoenzim. Nah, bisa juga kita sisa
makanan itu diberikan untuk makanan
ternak. Itu ada banyak cara untuk kita
mengelola sampah di rumah tanpa harus
dibuang ke tempat sampah. Nah, sampah
anorganik tadi sampah, kertas, plastik,
kaca, kaleng bisa kita bawa ke bank
sampah untuk dibawa. Selanjutnya nanti
akan dibawa ke industri daur ulang.
Nah, ini tadi sampah spesifik.
Nah, ini mengompos dari rumah ini kompos
di mengompos dari rumah itu adalah
kegiatan yang sangat mengasikkan bagi
orang yang mempunyai hobi untuk itu.
Nah, kita dengan mengompos kita sudah
berpartisipasi di dalam target penurunan
emisi GRK dari sektor limbah domestik.
Nah, kemudian itu mengompos juga itu
mudah bagi orang yang mempunyai
kepedulian, sudah punya pengetahuan,
punya kepedulian, punya perilaku untuk
melakukan pengolahan sampah.
Nah, ini juga bisa kita menabung di bank
sampah untuk mendukung sirkular ekonomi.
Nah, kita juga bisa melakukan pembatasan
mencegah sampah kita di kantor. Jadi,
misalnya penyediaan pada saat rapat
ataupun ee ada kegiatan-kegiatan kantor
tidak lagi menyadi ee menyiapkan botol
plastik, tapi menyiapkan ee gelas,
kemudian ada ee jar atau teko. Kemudian
bisa juga kita menyiapkan gelas dan
menyiapkan dispenser
sehingga kita tidak lagi menggunakan ee
apa namanya botol plastik, kita tidak
lagi menggunakan sedotan plastik, kita
tidak menggunakan lagi kemasan plastik,
tapi kita membawa gelas atau tumbler
yang bisa langsung diisi ulang. Nah,
juga bisa kita ee sekarang sudah apa
namanya? Sudah banyak berkembang
penggunaan tas belanja. Jadi tas kain.
Kemudian juga di kantor kita bisa
menggunakan dua sisi kertas. Kalau
misalnya kertas kita sudah pakai ngprint
di halaman pertama, dibaliknya lagi bisa
kita gunakan
dan sebagainya.
Nah, ini kita bisa mengembangkan gaya
hidup minim sampah mulai di rumah. Jadi,
bagaimana kita mencegah sampah mulai
belanja tanpa kemasan. Nah, ini yang
ketiga paling penting. Habiskan makanan.
Karena seringki kita pada saat ee ada
apa namanya? menghadiri kondangan ada
atau ada acara itu seringki kita lapar
mata. Jadi ngambil makanan banyak karena
pengin makan ini, pengin makan itu. Tapi
setelah diambil jadinya kenyang kenyang.
Jadi tentu ee apa namanya? Makanan kita
tidak kita habiskan. Nah, ini bagaimana
kita mulai dari sekarang secara sadar
kemudian sedikit mungkin kita
menghasilkan sampah.
Nah, ini kita mencegah sampah kurangi.
Kita berpikir kembali kalau akan
melakukan ee apa namanya? Pembelian
barang ya. Tidak. Jadi kita kurangi
dengan tidak menggunakan lagi wadah ee
sekali pakai ataupun ee misalnya plastik
sekali pakai. Nah, lebih bagus kita
menggunakan kembali wadah-wadah yang
bisa kita gunakan ulang.
Nah, ini juga kita mulai belanja tanpa
kemasan. Jadi kita bisa belanja di ee
sekarang sudah banyak dikembangkan,
sudah banyak ee apa namanya? BKS store
menyediakan ee barang-barang yang bisa
kita beli untuk dengan isi ulang
ini. Habiskan sisa makanan. Nah, ini
praktik-praktik. Jadi, saya berpendapat
dan saya berprinsip bahwa saya tidak
akan menyampaikan sesuatu yang tidak
saya lakukan. Jadi di rumah saya sudah
membuat ee kompos yang saya aplikasikan
ke tanaman-tanaman yang ada di ee rumah.
Ini gambar ini baru tadi pagi saya
ambil. Ini kok sebelah kiri atas saya
baru membuat lagi ekoenzim dan saya
menyimpan pada saat sudah dipanen
setelah 3 bulan saya taruh di
botol-botol kecil. Jadi saya suka
memberikan orang-orang yang perlu
ekoenzim akan saya berikan secara
gratis. Kalaupun misalnya saya ke kami
ke menghadiri acara atau ada pembinaan
itu saya bawa beberapa botol ekenzim dan
nanti setelah memberikan apa namanya
memberikan sosialisasi terkait ekenzim.
Nah, botol-botol inilah saya bagikan ke
ee orang-orang yang sudah kami
fasilitasi.
Nah, ini juga sampah plastik misalnya ee
bekas ee kemasan snack, ee obat, permen,
dan sebagainya itu tidak dibuang. Jadi
bisa kita ajarkan anak-anak kita untuk
misalnya melakukan ee kegiatan yang
asyik ini ee kemasan-kemasan ini kita
gunting-gunting kecil kemudian masukkan
di dalam wadah botol. Nanti setelah
botol ini penuh dengan kepadatan
tertentu bisa kita apa namanya? Kita
bisa ee jadikan sebagai ee apa namanya?
tempat duduk ataupun meja.
Nah, ini juga sampah-sampah yang ada di
rumah kita bilah sampah kertas, kaleng,
ee karton kita kumpulkan untuk kemudian
kita bawa ke bank sampah.
Nah, di kantor kami juga sudah ada bank
sampah dengan ee nasabah semua
pegawai-pegawai yang ada di karyawan
yang ada di kantor kami.
Nah, ini bagaimana strategi
perubahannya.
Jadi perlu edukasi yang berkelanjutan
mulai di sekolah, kemudian di kampanye
publik, kemudian ini yang paling penting
sekarang adalah media sosial, kemudian
juga penyediaan fasilitas
seperti fasilitas TPS3R, kemudian ada
bank sampah maupun dropin. Kemudian yang
paling penting adalah penguatan regulasi
dan penegakan hukum. meskipun kita sudah
ee memberikan sosialisasi, sudah
memberikan pendampingan, kalau tidak ada
penguatan regulasi itu ee ya masyarakat
kita memang seperti itu.
Kemudian juga ada insentif bagi
masyarakat maupun industri yang ramah
lingkungan. Kemudian juga yang ee harus
berperan adalah tokoh masyarakat dan
semua komunitas-komunitas yang ber apa
namanya? berkontribusi
dalam program ee kepedulian terhadap
lingkungan. Nah, ini tantangan kita yang
paling pertama adalah rendahnya
partisipasi masyarakat. Nah, kita lihat
tadi dari awal bahwa sampah yang
terkelola itu hanya sekitar ee di bawah
50%. Nah, itu apa? Karena rendahnya
partisipasi masyarakat. Kemudian juga
ada keterbatasan sarana dan prasarana.
Kemudian lemahnya penegakan hukum dan
perbedaan budaya serta tingkat
pendidikan.
Ada beberapa solusi dan strategi kita
lakukan kampanye. Kemudian juga apa
namanya pengembangan kurikulum sekolah
dengan memasukkan ee kurikulum terkait
pengelolaan lingkungan khususnya
pengelolaan sampah. Nah, juga ada
kolaborasi multipihak bahwa pemerintah
tidak bisa sendiri untuk melakukan
penanggulangan pengolahan sampah. tentu
harus ada keterlibatan aktif dari swasta
maupun masyarakat. Nah, juga penguatan
regulasi tadi, sanksi, insentif, maupun
ada aturan tentang pembatasan ee
penggunaan plastik sekali pakai. Nah,
juga perlu dikembangkan budaya ramah
lingkungan tadi yaitu budaya, gaya
hidup, minim sampah, serta ee penerapan
teknologi dan inovasi untuk pengelolaan
sampah misalnya melalui bank sampah,
kemudian tadi waste to energi RDF,
maupun pengelolaan sampah organik
melalui budidaya maggot.
Nah, kesimpulannya adalah bahwa ee
sampah adalah persoalan multidimensi.
Itu terkait dengan pengetahuan kita.
Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa
menjadi ee berimplementasi terhadap
kepedulian kita dan juga lagi
terimplementasi di dalam perilaku kita
sehingga akan membentuk budaya untuk ee
melakukan pengelolaan sampah. Nah, juga
ee perubahan perilaku tadi dan budaya
adalah kunci sehingga tentu dibutuhkan
sinergi antara individu itu sendiri,
masyarakat, kemudian komunitas, dan
pemerintah.
Nah, penutup ee ee bahwa sampah bukan
hanya masalah teknis tapi juga masalah
ee tadi perilaku dan budaya. Pengetahuan
dan kepedulian tanpa perilaku nyata itu
tidak cukup. Dibutuhkan perubahan budaya
secara kolektif. demi lingkungan hidup
yang bersih dan berkelanjutan.
Nah, terima kasih ya Mbak Dini. Mungkin
ee ini pemaparan ee kami. Nanti mungkin
kita bisa kembangkan lagi pada saat
diskusi nanti. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih kepada Bu
Najhah atas pemaparan materinya yang
sangat informatif dan membuka wawasan
kita. Dan kita juga sudah mendengarkan
ya, Bapak dan Ibu semuanya penjelasan
yang komprehensif tadi dimulai dengan
dasar hukum pengelolaan sampah di
Indonesia, kemudian bagaimana integrasi
antara pengetahuan, perilaku kepedulian
dan budaya dalam pengolahan sampah. Dan
baik Bapak Ibu di sini kita akan
lanjutkan pada sesi tanya jawab
menggunakan aplikasi Slido.
Mohon ditunggu Bapak Ibu, saya akan
membuka terlebih dahulu.
Di sini kami sudah merangkum terdapat 10
pertanyaan dari aplikasi Saidul. Mungkin
kepada Bu Najhah bisa langsung saja
dijawab satu persatu, Bu.
Iya.
Makasih, Mbak Dini.
Jadi yang pertama, bagaimana peran
budaya lokal dapat menjadi penguat atau
malah menjadi penghambat di dalam
pembentukan perilaku peduli sampah.
Nah, ee budaya lokal sebenarnya ee pada
dasarnya semua itu ee
suka akan kebersihan gitu. Nah, ini
sebenarnya menjadi faktor penguat kita.
Kemudian
bagaimana juga orang-orang yang budaya
itu sebenarnya bisa kita bentuk dari
tadi pengetahuan yang sudah kita miliki.
Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa
bertransformasi dalam kepedulian kita
kemudian sampai perilaku kita sehingga
nanti akan membentuk budaya sendiri.
Budaya budaya yang untuk selalu hidup
bersih kemudian mau melakukan pengolan
sampar.
Kemudian yang kedua, pendekatan terbaik
di rumah tangga untuk merealisasikan
pengetahuan terkait pengolahan sampah,
terutama untuk ee reduce itu mengurangi.
Kemudian reuse kan refuse-nya reuse.
Jadi di mana sampah yang kita hasilkan
atau barang-barang yang kita hasilkan
yang sudah tidak terpakai itu bisa kita
manfaatkan kembali. Misalnya seperti
tadi saya ee sampaikan bahwa sampah di
rumah itu kan misalnya ee ada sisa-sisa
makanan, kemudian ee sisa sayur, sisa
kulit buah itu kita bisa manfaatkan
menjadi ekoenzim. Ekoenzim ini adalah
cairan sejuta manfaat. Nah, saya sudah
ee kami sering mempraktikkan itu saya
dan oko enzim yang saya buat kan ini
memang perlu e perlu ke kesabaran
menunggu karena ekoenzim ini nanti 3
bulan baru baru bisa kita panen. Nah,
ekoenzim ini di rumah saya gunakan untuk
mengepel. Kemudian saya masukkan di
mesin cuci untuk ee mencuci pakaian
meskipun saya tetap masih memakai
deterjen itu hasilnya baju menjadi
bersih. Kemudian sampah yang apa ee
lantai yang sudah kita pel menggunakan
cairan ekoenzim itu
ee jadi enak diinjak jadi keset.
Kemudian pokoknya enaklah gitu. Kemudian
cairankoenzim bisa kita gunakan untuk
campuran shampo itu mengatasi ketombe
bisa kita gunakan untuk toner di muka
bisa kita ee itu saya sering juga
gunakan toner ee dari ekoenzim itu kita
campur air dengan perbandingan tertentu
dengan ekenzim. Kemudian kita jadikan
kita usapkan di wajah itu menghilangkan
minyak dan mengobati jerawat.
Ada banyak hal-hal yang bisa kita
lakukan di rumah dari sampah yang kita
hasilkan. sampai sisa makanan bikin
kompos. Kompos yang sederhana saja.
Siapkan wadah misalnya bot atau kaleng
bekas atau e kaleng cat apa ee wadah cat
bekas. Lubangi bawahnya kasih isi tanah.
Kemudian taruh sampai sisa makanan
dengan terlebih dahulu kita tiriskan.
Jadi jangan berair masukkan di situ.
Kemudian tutup lagi dengan tanah. Begitu
seterusnya sampai penuh kita tutup.
Simpan siram setiap ee berapa hari
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:09:12 UTC
Categories
Manage