Transcript
QtqaeEsbhgU • Webinar 124 Sampah: Antara Pengetahuan, Kepedulian, Perilaku dan Budaya
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0158_QtqaeEsbhgU.txt
Kind: captions
Language: id
Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan
Eco Edio ini memang dari grup-grup di
alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut
pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh
bisa dianggap menarik ya karena mereka
pengetahuan mereka tentang yang pengin
mereka ketahui itu meningkat gitu ya.
Kemudian skill-skill yang dihasilkan
dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa
dilihat begitu ya, terasa gitu
manfaatnya di kami, terutama untuk e
para konsultan yang tenaga-tenaga ahli
gitu. Sehingga saya memilih Eco Edu
mengikuti pelatihannya juga dan itu
terbukti benar gitu.
Nah, saya lihat Instagram itu ada Eko
Edu ya yang akan menyelenggarakan
pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak
baca terlebih dahulu ya terkait tentang
informasi yang diselu.
Nah, menurut saya itu menjadi hal yang
membuat tertarik untuk ikut pelatihan di
situ. Jadi, saya sering lihat di
Instagram gitu bagaimana Eko Idu
menyampaikan informasinya. Eko edu itu
bagus karena pelatihan-patunya itu
selalu tergini terus mengikuti zaman dan
juga pelatihnya apa yang tapinya itu
bagus-bagus dan terbaiklah ke depannya.
[Musik]
Iya. Ee yang pertama memang tentu saja
ini meningkatkan dan maksimalkan
skill-skill yang saya harapkan begitu
ya. terun dalam penyusunan dokumen AMD e
saya jadi bisa lebih produktif, lebih
efektif juga ee punya update gitu ya,
update-update, persoalan-persoalan dalam
jurusan AMDA terkini dari ahlinya
langsing di lapangan begitu yang
pengalamannya tidak diragukan. Menurut
saya pelatihan yang disediakan EID ini
sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk
aksesnya gitu. Jadi ada teknologi
terbaru yang saya dapat itu di
e-learning ya. Itu luar biasa ee
pembelajarannya juga mudah sekali untuk
dipahami.
Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga
menambah ilmu pengetahuan yang banyak
banget.
[Musik]
eh e-learning ini memang di memang
sangat diperlukan sekali ya, terutama
untuk kita yang dengan keterbatasan
pengetahuan kemudian juga waktu mungkin
ee itu memberikan kita kesempatan untuk
kembali mengingat, kembali mendengarkan
paparan-paparan yang mungkin kurang
jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang
sesering mungkin yang kita inginkan.
Kita juga bisa review kembali sehingga
belajar kita bisa lebih efektif dan
efisien.
itu membantu sekali ketika pada saat
penyampaian materi ada yang ketinggalan
gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi
itu di
sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil
materi terus lihat video yang bisa
diakses kapan aja dan gimana aja.
R juta dengan informasi yang kami
peroleh itu jauh dari kas padan
sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau
saya bilang terlalu murah itu jadi
sepadanlah.
Jadi menurut saya padan Bu karena memang
e pelatihannya itu pun sangat membantu
ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan
yang ada di e sekitar lingkungan saya
sendiri gitu. E saya kira sepat
sesuailah dengan apa yang kita dapatkan.
[Musik]
EKP
efektif, tepat, dan profesional,
hemat, cermat, dan hebat,
keren, profesional dan juga keginian.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi menuju siang
Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian.
Selamat datang kembali di webinar Eko
ke-124.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semuanya yang sudah selalu setia
untuk mengikuti acara webinar ini. Hari
ini webinar Ekoedu akan mengangkat tema
sampah antara pengetahuan, kepedulian,
perilaku, dan budaya. Perkenalkan saya
Dini yang akan bertugas sebagai
moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu
semuanya, sebelum kita mulai webinar
ini, alangkah baiknya kita berdoa
terlebih dahulu menurut agama dan
kepercayaan masing-masing. Untuk itu
berdoa dipersilakan.
Untuk berdoa dicukupkan.
Untuk acara selanjutnya yaitu kita akan
menyanyikan lagu Indonesia Raya secara
bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak
Ibu semuanya untuk duduk tegak.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di
sini izinkan saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh
Baik, yaitu ee di minggu atau di pekan
depan
pada tanggal 8 hingga 12 September 2025,
kami akan mengadakan dua pelatihan
sekaligus, yaitu yang pertama pelatihan
dinamika sistem untuk kajian lingkungan
pada gelombang 12 dan pelatihan
pemodelan dispersi. udara, air koppoff,
dan high split gelombang 19.
Dan pada pekan selanjutnya yaitu tanggal
15 hingga 19 September 2025 di sini kami
akan mengadakan pelatihan pengelolaan
banjir dan sedimentasi sungai
menggunakan hackres dan has gelombang 6.
Dan apabila Bapak Ibu melakukan
bayar investasi
sebelum hamilin satu pelatihan, Bapak
Ibu bisa mendapatkan diskon sebesar 10%.
Oke. Baik. Dan untuk informasi lebih
lanjut dapat menghubungi admin kami
yaitu Riris dan Nisa melalui WhatsApp
ataupun Bapak Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yaitu ada Instagram,
YouTube channel, Facebook, Twitter dan
juga kami memiliki website resmi di
www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun
ketika Bapak Ibu tertarik langsung pada
saat ini, Bapak Ibu langsung saja untuk
ee klik di pendaftaran.edu.co.id.
Dan selain pelatihan reguler kami yang
dilaksanakan online, kami juga memiliki
pelatihan inhouse training yang bisa
disesuaikan dengan keinginan Bapak Ibu
semuanya di instansi ataupun perusahaan.
Jadi kami tunggu di pelatihan.
Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya kita
langsung saja masuk pada kegiatan utama
kita yang di mana webinar kali ini kita
akan berdiskusi mengenai sampah antara
pengetahuan, kepedulian, perilaku dan
budaya. Dan di sini juga kami telah
menghadirkan narasumber yang kompeten di
bidangnya untuk memberikan materi dan
wawasan yang bermanfaat ini. Dan baik,
langsung saja saya perkenal perkenalkan
narasumber kita di hari ini yaitu ada
Ibu Najhah Aris, S.H., M.H. Beliau
merupakan pengendalian dampak lingkungan
ahli muda di Pusat Pengendalian
Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku.
Ya. Baik. Ee selamat siang kepada Ibu
Najha.
Mohon izin. Selamat siang, Bu Najah.
Apakah suara saya terdengar?
Mohon izin, Bu Najha, sepertinya
suaranya masih tidak terdengar ya, Bu
ya.
Mungkin untuk dikoneksikan dulu dengan
aplikasi Zoom-nya, Bu.
Sudah terkonnect. Iya. Selamat siang,
Mbak.
Selamat siang, Bu Naca. Bagaimana, Bu
kabarnya siang ini?
Oh, iya. Selamat siang, Mbak Dini,
ya. Siang, Bu. Najah. Suara saya
terdengar, Bu?
Iya, iya, Mbak. Jelas.
Iya. Baik, Bu. Ee apa kabar, Bu,
siang hari ini?
Baik, Mbak. Alhamdulillah,
ya. Alhamdulillah. Semoga kita semuanya
selalu sehat, ya, Bu, ya. Tapi mungkin
sebelum lanjut kepada pematerian di sini
saya akan membacakan dulu beberapa
teknis yaitu yang pertama untuk
pemaparan akan dilaksanakan selama 1
seteng jam kemudian nanti dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab dengan
menggunakan aplikasi SLU dan dilanjutkan
lagi dengan tanya jawab secara langsung.
Dan untuk mengefektifkan waktu, saya
serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu
Nazhar dan kepada Bapak Ibu semuanya.
Selamat mengikuti acara webinar ini. Hai
It
Turun dulu di
Halo, Mbak. Mbak Dini kedengaran, ya?
Iya, terdengar, Bu.
Iya, mohon maaf tadi. Iya.
Asalamualaikum. Selamat pagi, Ibu, Bapak
sekalian.
Saya Najha Aris dari Kantor Pusat
Pengendalian Lingkungan Hidup ee
Sulawesi dan Maluku. Nah, ini sebenarnya
saya sebagai pemeran pengganti Mbak
Dini. Harusnya kan yang diundang itu Pak
Pak Kapus kami. Jadi beliau hari ini
sementara ada kegiatan di Kota Bitung.
Jadi beliau menugaskan kami untuk ee
mengikuti apa namanya kegiatan webinar
ini dan beliau menitipkan salam kepada
Ibu Bapak sekalian peserta webinar kita
hari ini.
Jadi izin izin ya Mbak Dini saya share
screen
ya. Silakan, Bu.
Oke.
Jadi mohon izin Mbak Dini saya tutup ini
ya videonya dulu.
Iya, Bu. Silakan, Bu.
Pakai
pakai begini. Iya. Ee
ya, hari ini kita akan berdiskusi
terkait ee sampah antara pengetahuan,
kepedulian, perilaku, dan budaya.
Nah, ini sampah sebenar ee latar
belakang dari ee apa namanya diskusi
kita ke hari ini adalah pertama sampah
merupakan persoalan klasik namun ee
belum tuntas. Nah, ee sampah menjadi
persoalan klasik. Nah, sekarang sampah
menjadi persoalan nasional. Ini Bapak
Menteri Lingkungan Hidup Pak Faisal
Hanif Faisal Nurofik sekarang memang
fokus pada penanganan sampah dengan
target Indonesia bersih ee bebas sampah
tahun 202 100% melalui kebijakan
penanganan di sumber di hulu. Kemudian
ada pengolahan ee kemudian pemberdayaan
masyarakat melalui program gerakan
Indonesia bersih. Nah, program ini nanti
menekankan pada kolaborasi berbagai
pihak mulai dari masyarakat kemudian
pelaku usaha hingga pemerintah daerah
untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang
berkelanjutan.
Nah, dengan kita melihat bahwa ee di
Indonesia saat ini berdasarkan data dari
sistem informasi pengelolaan sampah
nasional tahun 2024 ee Indonesia
menghasilkan kurang lebih 56,63
juta ton sampah per tahun. Tapi data ini
mungkin masih di apa namanya? masih
dibawa dari yang ee yang se yang
senyatanya karena beberapa kabupaten
kota tidak melakukan penginputan data di
dalam ee SIPSN. Terakhir tahun 2024
hanya ada sekitar 300 lebih kabupaten
kota yang menginput data. Sementara di
Indonesia ada sekitar 514 kabupaten
kota.
Nah, dari data timbulan tadi hanya
sekitar 11% sampah yang didaur pulang.
Kemudian pengolahan sampah sebenarnya
bukan hanya teknis. Nah, ini yang kita
akan diskusikan hari ini bahwa itu
terkait juga bagaimana pengetahuan
masyarakat, bagaimana kepedulian ee
bagaimana perilaku dan ee bagaimana
pengaruh budaya. Nah, kemudian tentu
saja volume sampah meningkat seiring
pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi.
Nah, komposisi terbesar dari sampah yang
kita hasilkan tadi yang sekitar 56,63
juta ton per tahun itu sisa makanan
kurang lebih 40%. Nah, kemudian ada
plastik sekitar 17%.
Nah, tentu tantangan terbesar kita untuk
mengatasi permasalahan sampah ini adalah
bagaimana perilaku masyarakat di dalam
memilah. Nah, memilah itu bagaimana dia
mereka membedakan kemudian memisahkan
dan juga bagaimana perilaku kita untuk
mengurangi sampah. Nah, perilaku
masyarakat ini bukan hanya masyarakat
semua, tapi kita juga termasuk
masyarakat. Jadi, ee kita termasuk di
situ bagaimana kita nantinya harus harus
saya katakan Mbak harus karena ini
persoalan sampah sudah sangat ee apa
namanya? Sudah sangat ee
apa ya? Sangat memprihatinkan kalau saya
bilang. Jadi sekarang kita sudah
mengalami krisis sampah. Nah, bagaimana
kita berperilaku di dalam yang pertama
yang paling utama adalah di hulu di kita
di sumber. Bagaimana kita bisa
membedakan dan memisahkan sampah dan
bagaimana kita bisa ee mengurangi
sampah.
Nah, kondisi existing pengelolaan sampah
nasional
berdasarkan data dari SIPSN 2023 ee 2024
tetapi ini data 2023 timbulan sampah
nasional sebesar 56,63 juta ton. Nah,
sampah yang terkelola
sampah yang terkelola itu hanya sekitar
39,01%
sekitar 22,9 juta ton. Nah, ini kembali
lagi tadi datanya bahwa itu belum
termasuk data seluruh kabupaten kota
yang ada di Indonesia. Nah, sampah yang
tidak terkelola itu sekitar 60,99%
atau 34,54
juta ton.
Nah, dari 60,99%
itu sekitar 21,85%
sampah itu ditimbun di TPA pendamping.
Nah, TPO pendamping artinya sampah hanya
dibuang begitu saja tanpa ada perlakuan,
tanpa ada pengelolaan sama sekali.
Kemudian 34,14%
sampah itu masih terbuang ke lingkungan.
Apakah itu dibakar, apakah dibuang
begitu saja ataupun dibuang ke badan
air. Nah, ini sampai yang terbuang ke
lingkungan itu karena sebagian besar
wilayah di kabupaten kota itu tidak
mencakup area pelayanan dari Dinas
Kebersihan ataupun Dinas Lingkungan
Hidup. Jadi, tentu masyarakat karena
tidak terlayani maka kemungkinan besar
mereka hanya membuangnya tadi ataupun
melakukan kebakaran.
Nah, beberapa fasilitas pengolahan
sampah yang sudah ada di Indonesia. Yang
pertama itu ada namanya bank sampah
induk, kemudian ada bank sampah unit.
Nah, total ee data tahun 2023 jumlah
bank sampah induk itu sekitar 299 unit.
Kemudian juga ada bank sampah unit ee ee
sebanyak 20.587.
Nah, mungkin data ini akan berkurang
ataupun bertambah karena ada beberapa
bank sampah yang ada di beberapa wilayah
di Indonesia itu ada yang mati suri, ada
yang sepertinya hidup segan mati tak mau
karena berbagai ee kendala. Ada kendala
SDM, ada kendala ee apa namanya? Ada
kendala ee anggaran dan sebagainya.
Nah, jumlah nasabah dari total tadi bank
sampah induk dan bank sampah unit itu
ada sekitar 647.
ee 1797
nasabah. Nah, sampah yang terkelola dari
bank sampah induk dan bank sampah unit
ada sekitar 2.116 ton per tahun. Nah,
dengan total omset tadi ee 3 miliar
3.860
miliar per tahun. Nah, juga ada
instalasi pengolahan sampah menjadi
energi listrik.
Nah, instalasi pengolahan sampah menjadi
energi listrik itu berdasarkan Perpres
nomor 35 tahun 2018. Nah, ini perpres
ini sementara dilakukan peninjauan
ulang. Nah, ee pel itu ada di Kota
Surabaya dengan total sampai dikelola
itu sekitar 1.000 ton per hari. Kemudian
juga ada pel di kota Surakarta dengan
mengolah sampah sekitar 545 ton per
hari. Nah, ini ada 10 daerah lainnya
juga sedang dalam proses pembangunan.
Kemudian yang pertama itu ada di DKI
Jakarta, kemudian di Bandung, Tangerang
Selatan, Tangerang, Bekasi, Semarang, di
ee Palembang, Denpasar, Manado, dan
Makassar. Nah, ini mungkin masih
sementara pembahasan baik pembahasan
dokumen maupun pembahasan apa namanya
bagaimana visibility untuk dilanjutkan
pembangunannya. Nah, kemudian juga ada
beberapa fasilitas pengolahan sampah
menjadi review derive view. Jadi bahan
pengganti untuk ee apa namanya? Bahan
bakar di industri semen.
Jadi bahan bakar bahan bakar alternatif
yang dihasilkan dari tadi pengolahan ee
limbah badan itu melalui proses
pemisahan, pencacahan, kemudian
pengeringan. Nah, ini nanti akan diambil
ee apa namanya? dilakukan untuk
menurunkan kadar airnya.
Nah, bahan bakar ini nanti akan dibuat
ee apa namanya? Sebagai komponen sampah
yang mudah terdiri dari komponen sampah
yang mudah terbakar. Kemudian seperti
plastik, kertas juga kain yang bisa
dimanfaatkan nanti untuk menggantikan
bahan bakar fosil di dalam industri.
Nah, ini yang sebagian besar
memanfaatkan RDF ini adalah eh industri
semen itu pembakaran di kilen.
Nah, eh fasilitas RDF yang sudah ada di
Indonesia saat ini ada di Cilacap itu ee
mengelola sampah 160 ton per hari.
Kemudian juga ada di Bandargebang itu
2.000 ton per hari. Ini datanya bisa
saja berkurang karena berbagai faktor
juga. ini juga termasuk di RDF di Plan
Badria di pangkep di kabupaten yang ada
di wilayah kami itu awalnya 50 sampai 60
tahun per hari. Tapi karena ada berbagai
kendala sampai ee per hari tidak sebesar
itu. Ini mungkin yang menjadi apa
namanya menjadi bahan ee untuk kita
diskusikan kembali.
Nah, ini kita sudah tahu bahwa tadi ee
dari awal kita sampaikan bahwa kita akan
berdiskusi hari ini bagaimana sampah itu
ee melalui pengetahuan, kemudian
kepedulian, kemudian perilaku hingga
budaya. Nah, yang pertama kita akan
bahas adalah mengenai pengetahuan
tentang sampah.
Pengetahuan tentang sampah, kita sudah
tahu bahwa ada peraturan tentang
pengelolaan sampah. Kemudian juga kita
sudah tahu bahwa jenis sampah itu ada
organik itu sisa-sisa makanan, sayuran,
kemudian ada sampaan organik seperti
plastik, kertas, karton, kaca, ee besi
dan sebagainya. Nah, juga ada sampah
yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun. Nah, kemudian kita juga sudah
tahu bahwa sampah itu berdampak ke
lingkungan. pertama dampak ke pada
kesehatan, kemudian dampak ke pencemaran
air,
kemudian dampak ke tanah dan udara. Nah,
beberapa
dampak terhadap pencemaran air misalnya
sampah yang tidak terkelola dengan baik
itu misalnya dibuang ke badan air,
dibuang ke sungai, dibuang ke danau,
dibuang ke laut. Nah, tentu akan
menyebabkan pelepasan zas-zat berbahaya
di perairan. Kemudian juga akan nanti
menghalangi sinar matahari dan tentu
menyebabkan kerusakan ekosistem air
sehingga akan menimbulkan ee apa
namanya? Akan menurunkan kualitas air
dan menimbulkan masalah kesehatan sampai
banjir.
Nah, penyebab pencemaran air ee apa
namanya? penyebab pencemaran air oleh
sampah antara lain ada sampah anorganik
seperti plastik yang tidak dapat terurai
dengan baik di alam. Nah, ini akan terus
bertumpuk di perairan karena tadi ada
kita sudah bahas sebelumnya bahwa sampah
yang tidak terkelola itu sebagian besar
juga dibuang ke badan air. Nah, juga ada
sampah organik. Nah, sampah organik ini
yang paling banyak mulai dari limbah
rumah tangga, sisa makanan, bahkan
kotoran hewan yang jika dibuang ke air
tentu akan membusuk dan menghabiskan
oksigen yang dibutuhkan oleh organisme
air. Nah, kemudian juga ada beberapa zat
kimia. Nah, beberapa industri kan yang
membuang langsung ee limbahnya ataupun
sampahnya ke badan air ya yang tentu
mengandung senyawa kimia yang berbahaya
yang bisa juga menyebabkan pencemaran
air dan juga tumpukan sampah nih. Sampah
yang mengendap di sungai tentu bisa
menyumbat aliran air hingga menyebabkan
pendangkalan bahkan banjir di sekitar
itu.
Nah, juga ee akan menyebabkan pencemaran
tanah maupun pencemaran udara. Nah, kita
juga sudah tahu bahwa ada teknologi
pengelolaan sampah mulai bagaimana kita
mengurangi sampah, bagaimana kita
memanfaatkan sampah, maupun ee bagaimana
kita melakukan daur ulang sampah. Nah,
tentu juga kita ee dengan membaca beapa
literatur, melihat kehidupan
sehari-hari, kita juga sebenarnya sudah
memahami manfaat 3R itu. Namun ee
pengetahuan tentu belum cukup, perlu
transformasi ke tindakan nyata. Nah, ini
yang sulit.
Nah, tentu karena tantangannya sebagian
masyarakat kita belum memahami
pentingnya pengelolaan sampah, baik
pengelolaan di sumber. Nah, ini yang apa
namanya yang akan kita diskusikan
sebenarnya. Bagaimana sih pengetahuan
tentang sampah itu bisa mempengaruhi
kepedulian kita, bagaimana bisa
mempengaruhi ee perilaku kita
sehari-hari dalam pengelolaan sampah.
Nah, ini dasar hukum pengelolaan sampah
di Indonesia sudah ada. Sejak tahun 2008
sudah ada e undang-undang tentang
pengolahan sampah. Mulai dari kemudian
peraturan turunannya ada PP81 tahun
2012, kemudian ada PP27 tahun 2020
tentang polan sampah spesifik, kemudian
juga ada PRPR 97 tahun 2017 tentang
kebijakan nasional pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis sampah
rumah tangga. Nah, ini juga ada Perpres
83 eh tahun 2012 tentang pengelolaan
sampah lau. Ada Perpres 35 tentang
percepatan pembangunan instalasi
pengolah sampah menjadi energi listrik.
Kemudian ada Perpres 15 tentang
percepatan pengendalian pencemaran
kerusakan dan setar. Nah, ini di hulu
sudah ada peraturan Menteri Lingkungan
Hidup P75 tahun 2019 tentang peta jalan
pengurangan sampah oleh produsen.
Kemudian ada juga di masing-masing
wilayah di provinsi maupun kabupaten
kota sudah ada peraturan gubernur maupun
peraturan bupati serta peraturan
walikota tentang pembatasan timbulan
sampah. Nah, di beberapa daerah juga e
sudah ada peraturan bupati maupun
peraturan walikota terkait pembatasan
penggunaan sampah plastik sekali pakai.
Nah, kemudian juga ada Permenel HK nomor
14 tahun 2021 tentang pengolahan sampah
pada bank sampah. Juga ada SKB bersama
ee Menteri dan Kapoldi tentang impor
limbah non B3 dan sebagai bahan baku
industri. Nah, juga sudah ada banyak
sekali edaran gerakan pilah sampah dari
rumah.
Nah, ini juga di dihilir untuk
peraturan-peraturan yang ee harus di
menjadi rujukan oleh pemerintah daerah.
Ini sebenarnya peraturan tentang
pengolaan sampah sudah sangat banyak,
sudah sangat kompleks, e komplit. Nah,
tinggal bagaimana implementasinya di
lapangan.
Nah, ini beberapa faktor ee yang menjadi
penyebab kurangnya pemahaman. Yang
pertama tentu rendahnya kesadaran dan
pengetahuan. Masyarakat umumnya kan
belum mengetahui konsep dasar pengolahan
sampah seperti pemilahan sampah organik,
bagaimana memilah juga sampah anorganik,
serta prinsip tadi eh 3 tadi redius,
serius, dan recycle. Nah, kemudian yang
kedua kebiasaan membuang sampah
sembarangan. Nah, banyak masyarakat kita
masih memiliki kebiasaan buruk membuang
sampah langsung ke lingkungan. Dia
melihat ada sungai. Nah, seperti juga
ada di daerah ee saya pernah saya sering
kami sering ke sana di daerah Maluku,
Maluku Utara. Nah, di daerah-daerah lain
juga sebenarnya berlaku seperti itu.
Pada saat musim hujan, nah mereka
berbondong-bondong tuh ke sungai karena
dipikir ada aliran air ke laut pada saat
hujan. Nah, sampah langsung dibuang ke
situ sehingga otomatis daerah akan
bersih seketika karena sampahnya tadi
sudah dibawa ke ee ke laut melalui
sungai tadi atau aliran air. Nah, ini
yang harus juga menjadi perhatian kita
bersama.
Kemudian, nah, tentu kalau dibuang ee ke
badan air tentu tadi akan menyebabkan
pencemaran dan masalah kesehatan
lainnya. Belum lagi kalau sampah yang
dari dibuang di selokan kemudian
mengalir ke kanal, mengalir ke sungai,
mengalir ke laut tentu akan di apa
namanya? Dimakan oleh ikan ee planton,
ikan kecil, ikan besar. Kemudian nanti
kita makan lagi. Nah, ini Indonesia
sebenarnya sudah ter apa namanya?
Indonesia adalah penghasil sampah
plastik terbesar ke ee kedua di dunia.
Nah, ini aduh kalau mengingat ini jadi.
Nah, yang ketiga adalah stigma negatif.
Nah, masyarakat kita sebagian besar
tidak mau melakukan kegiatan pengolahan
sampah seperti pengomposan. Kemudian
juga ada teknologi sekarang untuk
pengolah sampah organik yaitu budidaya
magot. Itu dianggap sebagai hal yang
menjijikkan dan juga tidak menarik bagi
sebagian masyarakat.
Nah, kemudian yang keempat adalah
kurangnya fasilitas dan infrastruktur.
Nah, keterbatasan tempat sampah
terpilah, kemudian fasilitas daur ulang,
dan infrastruktur pengolahan sampah
lainnya juga ee menghambat partisipasi
masyarakat di dalam pengolahan sampah.
Tapi beberapa daerah itu sebenarnya
sudah banyak infrastruktur maupun
fasilitas daur ulang yang dibangun oleh
pemerintah. Nah, ini kembali lagi
bagaimana kurangnya ee apa namanya
pemahaman masyarakat, kurangnya
pengetahuan SDM, maupun kurangnya
dukungan dari pemerintah daerah sehingga
beberapa fasilitas yang sudah dibangun
itu ee tidak dapat beroperasi dengan
optimal. Sebagai contoh, beberapa TPS3R
itu sudah dibangun oleh Dinas PUPR. Saya
enggak tahu apakah itu dibangun di
daerah ataupun wilayah yang susah
dijangkau atau seperti apa. Nah, yang
terakhir juga ada keterbatasan edukasi
dan sosialisasi. Nah, ini kurangnya
sosialisasi dan pelatihan mengenai
pengolahan sampah membuat masyarakat
kita tidak memiliki pengetahuan yang
cukup untuk menerapkan pengelolaan
sampah di sumber.
Nah, yang kedua bagaimana tadi kita
sudah punya pengetahuan. Nah, bagaimana
dengan kepedulian kita?
Nah, kepedulian masyarakat itu
bervariasi. Ada yang peduli, ada yang
abai. Nah, ini yang apa namanya? Ee
mungkin kita bisa melihat lagi
sebenarnya bagaimana pengetahuan kita
itu bisa berkorelasi dengan tingkat
kepedulian kita ee terhadap khususnya
untuk pengolahan sampah. Nah, ini banyak
dipengaruhi oleh pertama keluarga,
kemudian ee dipengaruhi juga oleh
tingkat pendidikan, dipengaruhi oleh
komunitas, maupun dipengaruhi oleh
fasilitas pemerintah.
Nah, yang pertama dipengaruhi oleh
keluarga. Nah, bagaimana anggota
keluarga itu bisa mengajarkan maupun
mencontohkan ee praktik pengolahan
sampah yang baik sejak usia dini kepada
anak-anak misalnya. Misal minimal
dilakukan bagaimana cara memilah sampah
dan bagaimana mengurangi penggunaan
sampah plastik. Anak-anak kan bisa
diajar misalnya dia menghasilkan sampah
apakah bungkus snake, bungkus permen,
itu dibuangnya di atau disimpannya di
tempat yang khusus itu tidak dibuang di
tempat sampah karena itu masih bisa
dimanfaatkan.
Kemudian bagaimana juga mengurangi
penggunaan plastik. Mereka dari awal
diajarkan untuk misalnya membawa tumblr
atau botol minum sendiri yang bukan
menjadi bukan ee apa namanya botol
plastik yang setiap misalnya habis bisa
beli lagi.
Kemudian juga bagaimana kita bisa
meningkatkan kesadaran ee untuk
pengenalan masalah sampah sejak dini.
Nah, yang kedua terkait dengan ee
dipengaruhi juga kepedulian ini
dipengaruhi oleh pendidikan. Nah,
pengetahuan ee yang didapatkan melalui
pendidikan formal maupun nonformal
harusnya kan ee kan sudah mendapatkan
pengetahuan tentang dampak negatif
sampah, kemudian bagaimana pentingnya
pengelolaan sampah yang benar termasuk
misalnya bagaimana sih teknik pemilahan
dan laur ulang itu sudah di dapatkan di
pendidikan apa namanya formal maupun
nonformal. Karena sekarang di Indonesia
itu sudah dikembangkan semua namanya
sekolah Adiwiata. Jadi ada sekolah
Adiwiata kabupaten kota, ada sekolah
Adiwiata tingkat provinsi, ada sekolah
Adiwiata tingkat nasional, kemudian juga
tidak ada sekolah Adiwiata mandiri yaitu
pengenalan bagaimana pengelolaan sampah
di tingkat pendidikan portal.
Kemudian di komunitas juga sudah ee apa
namanya ee kepedulian pengola terkait
pengolahan sampah itu sudah dikembangkan
mulai dari komunitas yang dapat ee
mengorganisir kampanye maupun program
edukasi untuk meningkatkan ee kesadaran
masyarakat tentang pengelolaan sampah.
Nah, juga sudah banyak
komunitas-komunitas yang berperan aktif
di dalam program misalnya Jumat Bersih
ataupun komunitas peduli lingkungan.
Nah, ini beberapa komunitas yang
mendorong perubahan perilaku secara ee
apa namanya? Secara kolektif.
Nah, bagaimana juga fasilitas pemerintah
bisa mempengaruhi kepedulian kita
terhadap pengolahan sampah. Nah,
pemerintahan kan wajib menyediakan
infrastruktur, kemudian wajib
mengembangkan peraturan baik ee serta
insentif maupun disisentif. Nah,
kemudian pemerintah juga wajib untuk
melakukan edukasi kepada masyarakat
bagaimana pengolahan sampah.
Nah, ini memang menjadi tugas dan
tanggung jawab ee kami di mulai dari
Kementerian Lingkungan Hidup, kemudian
teman-teman di Dinas Lingkuan Hidup
Provinsi maupun kabupaten kota.
Nah, kemudian bagaimana kepedulian itu
juga menentukan aksi nyata kita.
Bagaimana kita membilas sampah,
bagaimana kita mengurangi penggunaan
plastik sekali pakai. Nah, tentu faktor
pendorongnya adalah ee adanya kesadaran
lingkungan. Kemudian tadi juga dari
komunitas-komunitas itu yang bergabung
dengan komunitas tentu juga akan
berperilaku sama dengan apa yang
dilakukan oleh komunitas. Nah, bagaimana
juga kebijakan pemerintah tentu
berpengaruh di dalam mendorong ee
kepedulian. Misalnya pemerintah sudah
menetapkan ee peraturan tentang
pembatasan sampah plastik dan melakukan
pengawasan.
Nah, tanpa kepedulian tentu pengetahuan
yang sudah kita miliki tidak akan
terimplementasi.
Nah, tadi yang sudah kita highlight
bahwa program kepedulian sampah harus
dikenalkan sejak dini kepada anak-anak.
Nah, pengenalan ini menjadi kunci
keberhasilan di dalam upaya kita dalam
melakukan pengendalian dan pengolahan
sampah.
Nah, ini bisa kita ajarkan mulai
melakukan pemilahan sampah. Pemilah
pemilahan sampah mulai dari rumah.
Sampah organik misalnya sisa makanan,
kulit buah, ranting daun itu bisa kita
jadikan kompos. Kemudian sisa kulit buah
juga kita bisa jadikan ekoenzim.
Kemudian rantingan daunan itu bisa
menjadi makanan ternak. Termasuk sisa
makanan juga bisa menjadi ee apa
namanya? makanan ternak. Kemudian
pengembangan budidaya eh magot black
solder play. Nah, kemudian bagaimana
sampahan organik ini? Sampah kertas,
plastik, kaca, kaleng, besi, dan
sebagainya itu kita bawa ke bank sampah.
Nah, kemudian ada juga sampah spesifik.
Jadi sampai mengandung bahan berbahaya
dan beracun yang sering kita hasilkan di
rumah di kantor itu ada baterai bekas,
kemudian lampu TL, tinta printer,
kemudian juga cairan dan perbersih
maupun ada limbah medis di rumah sakit
maupun puskesmas. Nah, sampah jenis ini
tentu harus dipilah dan dikumpulkan di
dalam satu wadah. Kalau misalnya baterai
bekas ini sudah ada ee apa namanya?
penanganan dan program dikembangkan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup untuk
menyiapkan pemerintah daerah
berkewajiban untuk menyiapkan namanya
Dropbox. Jadi, sampah baterai bekas ini
di apa? Disimpan di dropbox. Nah,
kemudian termasuk juga limbah medis ini
harus diserahkan kepada pihak ketiga
yang memiliki izin.
Jadi, sekarang ini di semua Puskesmas ee
kami di kementerian maupun teman-teman
di provinsi maupun kabupaten kota sudah
sering melakukan ee pemantauan dan
pengawasan ee terkait pengelolaan limbah
medis di rumah sakit dan puskesmas. Jadi
mereka diwajibkan untuk ee menyerahkan
limbah medisnya itu kepada pihak ketiga
yang berizin dan nanti selanjutnya akan
diolah di tempat pemusnahan maupun
pengelolaan limbah B3.
Nah, kemudian yang
selanjutnya adalah bagaimana perilaku.
Nah, tadi kita sudah ada pengetahuan,
kemudian sudah ada kepedulian. Nah,
bagaimana itu bisa merubah perilaku
kita. Nah, perilaku negatif seperti
buang sampah sembarangan, kemudian ee
konsumsi plastik yang berlebihan,
kemudian tidak melakukan pemilahan
sampah hingga membakar sampah. Nah, itu
adalah beberapa perilaku negatif. Nah,
kemudian perilaku positif misalnya
membawa wadah sendiri, misalnya mau
membeli makanan, mau ee apa namanya?
Membawa makanan ke kantor, ke sekolah,
itu membawa wadah sendiri ataupun juga
berbelanja ke pasar atau swalaya itu
bisa membawa wadah sendiri. Kemudian
memilah sampah. Sampah yang sudah
terlanjur dihasilkan itu masih bisa
dipilah karena pertama masih bisa
dimanfaatkan kembali, masih punya nilai
jua ataupun masih di bisa didaur ulang.
Misalnya sampah sisa makannya didaur
ulang menjadi kompos dan sebagainya.
Kemudian
kita juga bisa mendukung bank sampah.
Jadi sampah yang sudah dipilah tadi
sampah anorganik sudah dipilah misalnya
kertas, kaleng, ee karton, plastik itu
bisa dibawa ke bank sampah.
Nah, ini tidak semua yang memiliki
tingkat pengetahuan yang baik akan
memiliki perilaku pengelolaan sampah
yang baik. Nah, itu kita bisa diskusikan
nanti kenapa bisa seperti itu.
Nah, ini sudah ada perubahan paradigma
pengolahan sampah mulai dari N of Pipe
Solution kemudian dikembangkan menjadi
3R tadi. Nah, sekarang lagi sudah
dikembangkan menjadi extended producer
responsibility dan circular ekonomi.
Nah, ini eh sebenarnya semua industri
sudah wajib bertanggung jawab terhadap
sampah yang mereka hasilkan. Kemudian
juga ada sirkul ekonomi. Bagaimana tadi
sampah yang kita hasilkan ee masih
mempunyai nilai jual, artinya masih
sebagai sumber ee sumber daya itu bisa
dibawa ke bank sampah yang nanti akan
dihitung atau dihargai dengan uang
sesuai dengan harga yang berlaku
terhadap sampah tersebut. Nah, inilah
sircular ekonomi. Artinya sampah yang
dihasilkan bisa dijual kembali, bisa
didaur ulang dan akan menjadi barang
baru yang bisa dimanfaatkan kembali.
Nah, dengan adanya IPR dan ee sirkular
ekonomi tentu akan mengurangi beban
pencemar dari dari sampah. Kemudian juga
adanya perilaku minim sampah. Kemudian
mengurangi sampah di sumber, kemudian
sampah dianggap sebagai sumber daya
sehingga kita bisa melakukan efisiensi
sumber daya dan kita juga bisa membatasi
eksploitasi sumber daya.
Nah, dengan menerapkan ini PR dan
sirkular ekonomi kita harapkan bahwa
kegiatan ee apa namanya pengolahan
sampah di TPA bisa menjadi hierarki yang
paling rendah mengingat dampaknya tadi
terhadap lingkungan hidup maupun
kesehatan manusia. Jadi ee kita lihat
piramida ini 3R merupakan bagian utama
dari hierarki pengolahan sampah.
Nah, dari aspek ee lingkungan, kegiatan
pencegahan dan pembatan sampah itu yang
memiliki hierarki yang paling tinggi.
Artinya sampah di sumber itu kita sudah
kelola sehingga tidak ada lagi atau
sedikit tinggal sampah residu yang akan
kita bawa ke TPA. Nah, ini juga ada
skenario Netheral Mission
eh tahun 2000 pasca 2030 terkait
subsektor sampah.
ee yang pertama bagaimana kita
mengurangi kebijakan mengurangi sampah
yang masuk ke landfield atau sampai
masuk ke TPA. Kemudian yang kedua ada
pembatasan plastik sekali pakai. Jadi
kantong plastik, kresek, kemudian
sedotan plastik, alat makan dari
plastik, kemudian juga yang terutama
adalah sterofor. Itu ee sudah harus kita
batasi karena tadi ee kesulitan dan ee
apa namanya untuk mengurai itu
memerlukan waktu yang lama. Kemudian
kita menerapkan gaya hidup minim sampah.
tadi nanti melalui cegah sampah plastik
sekali pakai kita tidak berbelanja lagi,
kita berbelanja lagi tanpa kemasan,
kemudian menghabiskan makanan, kemudian
kita pilah sampah dari rumah dan kita
komposkan sisa makanan di rumah.
Nah, diharapkan nanti recycling rate eh
sampah sampah kertas, sampah plastik,
sampah logam, karet, dan sampah tekstil
itu capai 75 sampai 100%.
Nah, juga ada teknologi pengolahan
sampah dan melalui teknologi RDF tadi
sebagai bahan baku pendamping, bahan
bakar pendamping di toko firing dari
Batara. Kemudian ada pengolahan sampah
menjadi energi listrik berbasis
teknologi ramah lingkungan. Kemudian ada
melalui pengomposan maupun melalui
budidaya magot atau BSN.
Nah, kita juga bagaimana perilaku tadi
juga akan mempengaruhi budaya. Nah,
budaya konstruktif ini memicu
peningkatan timbulan sampah. Nah, kita
lihat sekarang di mana serba instan,
kemudian serba online. Nah, orang-orang
itu melakukan ee pembelian ee apa barang
misalnya di online itu kan sudah di apa
dikemas dalam plastik sehingga ini tentu
juga akan meningkatkan timbulan sampah
plastik. Nah, juga bagaimana ee apa
namanya kegiatan modernisasi membuat
wilayah bersih semakin menurun. Ini
nanti juga kita bisa diskusikan bersama.
Kemudian ee juga budaya gotongroyong
yang kuat di dalam menjaga kebersihan
lingkungan misalnya kerja bati, kemudian
pengumpulan pemilahan, pengolahan sampah
secara kolektif itu juga sudah ee apa
namanya? Sudah sangat berkurang.
Kemudian bagaimana pemerintah menerapkan
jadwal konsisten untuk melakukan
pengangkutan sampah. kemudian membangun
kesadaran kolektif masyarakat hingga
membangun kemitraan dan solidaritas.
Nah, oleh karena itu budaya baru yang
perlu kita bangun sekarang adalah malu
buang sampah sembarangan. Kita harus
bangga kalau kita sudah melakukan
pemilahan, kita harus bangga kalau kita
melakukan darur ulang, maupun kita harus
bangga bahwa kita sudah melakukan
konsumsi secara bijak. Nah, bagaimana
transformasi budaya itu konsumtif? Kita
sudah budaya konsumtif kita jadikan
budaya yang produktif. Kemudian budaya
yang membuang sampah sembarangan atau
membuang sampah begitu saja tanpa
dikelola kita jadikan ee sebagai budaya
untuk melakukan pengelolaan dan
memanfaatkan.
Budaya ini diharapkan nanti bisa memupuk
rasa tanggung jawab bersama,
solidaritas, maupun kepedulian terhadap
lingkungan yang pada akhirnya akan
menciptakan lingkungan hidup yang lebih
bersih, sehat, dan nyaman bagi kita
semua.
Nah, bagaimana integrasi pengetahuan,
kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah,
pengetahuan misalnya edukasi lingkungan.
Bagaimana kita mengajarkan masyarakat
tentang pentingnya pengolahan sampah,
dampak negatif dari sampah, cara-cara
efektif dalam mengurangi ee ee sampah
menggunakan kembali maupun melakukan
daur ulang sampah melalui 3R. Kemudian
juga kita harus selalu melakukan
sosialisasi program baik dari kegiatan
komunitas peduli lingkungan melalui bank
sampah itu untuk menyebarkan berbagai
informasi dan pengetahuan.
Kemudian ee bagaimana kepedulian itu
kita bangun melalui motivasi internal.
Jadi kita membentuk sendiri rasa
tanggung jawab dan kepedulian kita
terhadap lingkungan. Bisa kita
tingkatkan melalui peningkatan
nilai-nilai spiritual. Misalnya di
ajaran Islam kita kita sudah diajarkan
untuk menekankan kebersihan dan
bagaimana kita bisa merawat tanaman.
Sudah ada dalam berapa surah di dalam
Al-Qur'an maupun hadis-hadis sahih. Nah,
kemudian bagaimana peran komunitas?
Jadi, bagaimana membangun komunitas atau
grup yang peduli lingkungan untuk ee apa
namanya? Memperkuat monipasi kolektif
kita di dalam menjaga kebersihan dan
melakukan pengolahan sampah.
Nah, yang ketiga, bagaimana perilaku
kita itu kita integrasikan di dalam
pengolahan sampah. Yang pertama kita
membentuk ee pembiasaan. Jadi, mari kita
mendorong perilaku milah sampah mulai
dari rumah, kemudian di sekolah, di
tempat kerja kita juga melalui praktik
langsung. Seperti kita melakukan
komposting di rumah, sisa-sisa makanan
bisa kita kompos ataupun kita bisa
membuat ekoenzim. kemudian membuang
sampah pada tempatnya atau tempat sampah
yang terpilah. Jadi di rumah bisa kita
siapkan minimal dua jenis tempat sampah,
tempat sampah organik maupun anorganik.
Anorganik ini pun mungkin lebih baik
juga kita pisahkan sampah botol ee taruh
wada sendiri, sampah plastik botol
plastik taruh wada sendiri, kaleng taruh
sendiri, kertas juga taruh ada sendiri.
Demikian juga di tempat kerja.
Sisa-sisa makanan bisa kita kumpulkan.
Kemudian ee kalau saya pribadi misalnya
saya dikasih nasi kotak. Nah, kotak itu
saya bersihkan, nasinya saya taruh di
piring. Kotak itu saya lipat lagi untuk
nanti saya kumpulkan dan saya bawa ke
bank sampah.
Nah, kemudian bagaimana perilaku itu
melalui partisipasi aktif. Misalnya kita
mengajak masyarakat untuk aktif
melakukan pengolahan sampah. minimal
masyarakat misalnya di sekitar kita, di
lingkungan kita, tetangga-tetangga kita,
majelis taklim ee itu bisa kita ajak
untuk terlibat aktif di dalam pengolahan
sampah. Kemudian kita bisa mengikuti
kerja bakti. Kerja bakti juga nanti
bagaimana pengolahan sampahnya. Misalnya
sampah yang kita sudah kerja bakti, ada
banyak sampah organik, kita bisa buat
kompos. Kemudian sampah-sampah organik
itu bisa kita kumpulkan. Apakah kita
akan sedekahkan ke pemulu, apakah kita
akan bawa ke bank sampah itu sehingga
dan kemudian juga kita berpartisipasi di
dalam program daur ulang. Nah, program
daur ulang bagaimana sampah yang kita
sudah pilah tadi dibawa ke bank sampah
untuk selanjutnya nanti akan dibawa ke
industri daur ulang.
Nah, kemudian bagaimana budaya?
Nah, ada norma sosial itu bagaimana
membangun norma sosial yang positif
terhadap pengolahan sampah. Jadi
masyarakat bisa secara kolektif pada
peraturan dan bertanggung jawab terhadap
sampai yang dihasilkan.
Nah, ini juga tidak terlepas dari peran
pemerintah untuk melakukan penegakan
aturan.
Nah, kemudian juga bisa diintegrasikan
dengan tradisi lokal. Jadi, masukkan
praktik pengolahan sampah di dalam ee
kebiasaan dan tradisi lokal. Misalnya ee
ada kerja sama antara ee sekolah dan
orang tua di dalam program peduli
lingkungan. ada banyak jenis ee apa
namanya kerjaasama-kerjaasama yang bisa
kita praktikkan di dalam pengelolaan
sampah. Ee juga bagaimana kita membangun
ee budaya ekonomi sirkular. Jadi tadi
sampah yang masih punya sumber daya bisa
kita bawa ee ke bank sampah untuk di apa
namanya? dilakukan dijual. Kemudian
nanti bank sampah akan membawanya ke
industri daur ulang sehingga itu ee
sampah tadi akanur ulang sehingga
mempunyai lagi nilai yang baru untuk
barang baru.
Nah, kemudian ini beberapa ee budaya
yang bisa kita lakukan mulai dari rumah.
Jadi, kita minim sampah dan pilah sampah
dari sumber. Jadi, kita mulai dari hal
kecil, mulai dari diri kita sendiri dan
mulai dari sekarang.
Nah, ini pengurangan sampah di rumah
melalui kita cegah sampah, kita pilah
sampah, dan kita olah sampah. Nah, di
rumah kita terapkan gaya hidup minim
sampah. Kalaupun kita sudah menghasilkan
sampah, sampah anorganik tadi bisa kita
bawa ke bank sampah untuk dijadikan daur
didaur ulang. Kemudian sampah sisa
makanan bisa kita lakukan pengomposan
melalui komposter takakura misalnya
melalui ee budede magot. kemudian kita
berikan sebagai pakan ternak. Nah, bisa
juga kita membuat ekoenzim. Nah, nanti
kita lihat ekoensi seperti apa. Nah,
bisa juga kita isi di dalam biopori.
Nah, daerah-daerah yang sering tergenang
pada saat musim hujan itu sangat bagus
untuk membuat biopori.
Nah, sampah yang tadi di daur ulang
sampah plastik, kertas, kaleng, e kaca
itu nanti bisa kita sedekahkan ke
pemulungkah atau kita bawa ke TPS 3R
atau kita bawa ke bank sampah.
Nah, ini pilah sampah dari rumah. Jadi
tadi sampah organik, sisa makanan ee
kita bisa buat kompos, kemudian kulit
buah dan sayur itu kita bisa buat
ekoenzim. Nah, bisa juga kita sisa
makanan itu diberikan untuk makanan
ternak. Itu ada banyak cara untuk kita
mengelola sampah di rumah tanpa harus
dibuang ke tempat sampah. Nah, sampah
anorganik tadi sampah, kertas, plastik,
kaca, kaleng bisa kita bawa ke bank
sampah untuk dibawa. Selanjutnya nanti
akan dibawa ke industri daur ulang.
Nah, ini tadi sampah spesifik.
Nah, ini mengompos dari rumah ini kompos
di mengompos dari rumah itu adalah
kegiatan yang sangat mengasikkan bagi
orang yang mempunyai hobi untuk itu.
Nah, kita dengan mengompos kita sudah
berpartisipasi di dalam target penurunan
emisi GRK dari sektor limbah domestik.
Nah, kemudian itu mengompos juga itu
mudah bagi orang yang mempunyai
kepedulian, sudah punya pengetahuan,
punya kepedulian, punya perilaku untuk
melakukan pengolahan sampah.
Nah, ini juga bisa kita menabung di bank
sampah untuk mendukung sirkular ekonomi.
Nah, kita juga bisa melakukan pembatasan
mencegah sampah kita di kantor. Jadi,
misalnya penyediaan pada saat rapat
ataupun ee ada kegiatan-kegiatan kantor
tidak lagi menyadi ee menyiapkan botol
plastik, tapi menyiapkan ee gelas,
kemudian ada ee jar atau teko. Kemudian
bisa juga kita menyiapkan gelas dan
menyiapkan dispenser
sehingga kita tidak lagi menggunakan ee
apa namanya botol plastik, kita tidak
lagi menggunakan sedotan plastik, kita
tidak menggunakan lagi kemasan plastik,
tapi kita membawa gelas atau tumbler
yang bisa langsung diisi ulang. Nah,
juga bisa kita ee sekarang sudah apa
namanya? Sudah banyak berkembang
penggunaan tas belanja. Jadi tas kain.
Kemudian juga di kantor kita bisa
menggunakan dua sisi kertas. Kalau
misalnya kertas kita sudah pakai ngprint
di halaman pertama, dibaliknya lagi bisa
kita gunakan
dan sebagainya.
Nah, ini kita bisa mengembangkan gaya
hidup minim sampah mulai di rumah. Jadi,
bagaimana kita mencegah sampah mulai
belanja tanpa kemasan. Nah, ini yang
ketiga paling penting. Habiskan makanan.
Karena seringki kita pada saat ee ada
apa namanya? menghadiri kondangan ada
atau ada acara itu seringki kita lapar
mata. Jadi ngambil makanan banyak karena
pengin makan ini, pengin makan itu. Tapi
setelah diambil jadinya kenyang kenyang.
Jadi tentu ee apa namanya? Makanan kita
tidak kita habiskan. Nah, ini bagaimana
kita mulai dari sekarang secara sadar
kemudian sedikit mungkin kita
menghasilkan sampah.
Nah, ini kita mencegah sampah kurangi.
Kita berpikir kembali kalau akan
melakukan ee apa namanya? Pembelian
barang ya. Tidak. Jadi kita kurangi
dengan tidak menggunakan lagi wadah ee
sekali pakai ataupun ee misalnya plastik
sekali pakai. Nah, lebih bagus kita
menggunakan kembali wadah-wadah yang
bisa kita gunakan ulang.
Nah, ini juga kita mulai belanja tanpa
kemasan. Jadi kita bisa belanja di ee
sekarang sudah banyak dikembangkan,
sudah banyak ee apa namanya? BKS store
menyediakan ee barang-barang yang bisa
kita beli untuk dengan isi ulang
ini. Habiskan sisa makanan. Nah, ini
praktik-praktik. Jadi, saya berpendapat
dan saya berprinsip bahwa saya tidak
akan menyampaikan sesuatu yang tidak
saya lakukan. Jadi di rumah saya sudah
membuat ee kompos yang saya aplikasikan
ke tanaman-tanaman yang ada di ee rumah.
Ini gambar ini baru tadi pagi saya
ambil. Ini kok sebelah kiri atas saya
baru membuat lagi ekoenzim dan saya
menyimpan pada saat sudah dipanen
setelah 3 bulan saya taruh di
botol-botol kecil. Jadi saya suka
memberikan orang-orang yang perlu
ekoenzim akan saya berikan secara
gratis. Kalaupun misalnya saya ke kami
ke menghadiri acara atau ada pembinaan
itu saya bawa beberapa botol ekenzim dan
nanti setelah memberikan apa namanya
memberikan sosialisasi terkait ekenzim.
Nah, botol-botol inilah saya bagikan ke
ee orang-orang yang sudah kami
fasilitasi.
Nah, ini juga sampah plastik misalnya ee
bekas ee kemasan snack, ee obat, permen,
dan sebagainya itu tidak dibuang. Jadi
bisa kita ajarkan anak-anak kita untuk
misalnya melakukan ee kegiatan yang
asyik ini ee kemasan-kemasan ini kita
gunting-gunting kecil kemudian masukkan
di dalam wadah botol. Nanti setelah
botol ini penuh dengan kepadatan
tertentu bisa kita apa namanya? Kita
bisa ee jadikan sebagai ee apa namanya?
tempat duduk ataupun meja.
Nah, ini juga sampah-sampah yang ada di
rumah kita bilah sampah kertas, kaleng,
ee karton kita kumpulkan untuk kemudian
kita bawa ke bank sampah.
Nah, di kantor kami juga sudah ada bank
sampah dengan ee nasabah semua
pegawai-pegawai yang ada di karyawan
yang ada di kantor kami.
Nah, ini bagaimana strategi
perubahannya.
Jadi perlu edukasi yang berkelanjutan
mulai di sekolah, kemudian di kampanye
publik, kemudian ini yang paling penting
sekarang adalah media sosial, kemudian
juga penyediaan fasilitas
seperti fasilitas TPS3R, kemudian ada
bank sampah maupun dropin. Kemudian yang
paling penting adalah penguatan regulasi
dan penegakan hukum. meskipun kita sudah
ee memberikan sosialisasi, sudah
memberikan pendampingan, kalau tidak ada
penguatan regulasi itu ee ya masyarakat
kita memang seperti itu.
Kemudian juga ada insentif bagi
masyarakat maupun industri yang ramah
lingkungan. Kemudian juga yang ee harus
berperan adalah tokoh masyarakat dan
semua komunitas-komunitas yang ber apa
namanya? berkontribusi
dalam program ee kepedulian terhadap
lingkungan. Nah, ini tantangan kita yang
paling pertama adalah rendahnya
partisipasi masyarakat. Nah, kita lihat
tadi dari awal bahwa sampah yang
terkelola itu hanya sekitar ee di bawah
50%. Nah, itu apa? Karena rendahnya
partisipasi masyarakat. Kemudian juga
ada keterbatasan sarana dan prasarana.
Kemudian lemahnya penegakan hukum dan
perbedaan budaya serta tingkat
pendidikan.
Ada beberapa solusi dan strategi kita
lakukan kampanye. Kemudian juga apa
namanya pengembangan kurikulum sekolah
dengan memasukkan ee kurikulum terkait
pengelolaan lingkungan khususnya
pengelolaan sampah. Nah, juga ada
kolaborasi multipihak bahwa pemerintah
tidak bisa sendiri untuk melakukan
penanggulangan pengolahan sampah. tentu
harus ada keterlibatan aktif dari swasta
maupun masyarakat. Nah, juga penguatan
regulasi tadi, sanksi, insentif, maupun
ada aturan tentang pembatasan ee
penggunaan plastik sekali pakai. Nah,
juga perlu dikembangkan budaya ramah
lingkungan tadi yaitu budaya, gaya
hidup, minim sampah, serta ee penerapan
teknologi dan inovasi untuk pengelolaan
sampah misalnya melalui bank sampah,
kemudian tadi waste to energi RDF,
maupun pengelolaan sampah organik
melalui budidaya maggot.
Nah, kesimpulannya adalah bahwa ee
sampah adalah persoalan multidimensi.
Itu terkait dengan pengetahuan kita.
Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa
menjadi ee berimplementasi terhadap
kepedulian kita dan juga lagi
terimplementasi di dalam perilaku kita
sehingga akan membentuk budaya untuk ee
melakukan pengelolaan sampah. Nah, juga
ee perubahan perilaku tadi dan budaya
adalah kunci sehingga tentu dibutuhkan
sinergi antara individu itu sendiri,
masyarakat, kemudian komunitas, dan
pemerintah.
Nah, penutup ee ee bahwa sampah bukan
hanya masalah teknis tapi juga masalah
ee tadi perilaku dan budaya. Pengetahuan
dan kepedulian tanpa perilaku nyata itu
tidak cukup. Dibutuhkan perubahan budaya
secara kolektif. demi lingkungan hidup
yang bersih dan berkelanjutan.
Nah, terima kasih ya Mbak Dini. Mungkin
ee ini pemaparan ee kami. Nanti mungkin
kita bisa kembangkan lagi pada saat
diskusi nanti. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih kepada Bu
Najhah atas pemaparan materinya yang
sangat informatif dan membuka wawasan
kita. Dan kita juga sudah mendengarkan
ya, Bapak dan Ibu semuanya penjelasan
yang komprehensif tadi dimulai dengan
dasar hukum pengelolaan sampah di
Indonesia, kemudian bagaimana integrasi
antara pengetahuan, perilaku kepedulian
dan budaya dalam pengolahan sampah. Dan
baik Bapak Ibu di sini kita akan
lanjutkan pada sesi tanya jawab
menggunakan aplikasi Slido.
Mohon ditunggu Bapak Ibu, saya akan
membuka terlebih dahulu.
Di sini kami sudah merangkum terdapat 10
pertanyaan dari aplikasi Saidul. Mungkin
kepada Bu Najhah bisa langsung saja
dijawab satu persatu, Bu.
Iya.
Makasih, Mbak Dini.
Jadi yang pertama, bagaimana peran
budaya lokal dapat menjadi penguat atau
malah menjadi penghambat di dalam
pembentukan perilaku peduli sampah.
Nah, ee budaya lokal sebenarnya ee pada
dasarnya semua itu ee
suka akan kebersihan gitu. Nah, ini
sebenarnya menjadi faktor penguat kita.
Kemudian
bagaimana juga orang-orang yang budaya
itu sebenarnya bisa kita bentuk dari
tadi pengetahuan yang sudah kita miliki.
Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa
bertransformasi dalam kepedulian kita
kemudian sampai perilaku kita sehingga
nanti akan membentuk budaya sendiri.
Budaya budaya yang untuk selalu hidup
bersih kemudian mau melakukan pengolan
sampar.
Kemudian yang kedua, pendekatan terbaik
di rumah tangga untuk merealisasikan
pengetahuan terkait pengolahan sampah,
terutama untuk ee reduce itu mengurangi.
Kemudian reuse kan refuse-nya reuse.
Jadi di mana sampah yang kita hasilkan
atau barang-barang yang kita hasilkan
yang sudah tidak terpakai itu bisa kita
manfaatkan kembali. Misalnya seperti
tadi saya ee sampaikan bahwa sampah di
rumah itu kan misalnya ee ada sisa-sisa
makanan, kemudian ee sisa sayur, sisa
kulit buah itu kita bisa manfaatkan
menjadi ekoenzim. Ekoenzim ini adalah
cairan sejuta manfaat. Nah, saya sudah
ee kami sering mempraktikkan itu saya
dan oko enzim yang saya buat kan ini
memang perlu e perlu ke kesabaran
menunggu karena ekoenzim ini nanti 3
bulan baru baru bisa kita panen. Nah,
ekoenzim ini di rumah saya gunakan untuk
mengepel. Kemudian saya masukkan di
mesin cuci untuk ee mencuci pakaian
meskipun saya tetap masih memakai
deterjen itu hasilnya baju menjadi
bersih. Kemudian sampah yang apa ee
lantai yang sudah kita pel menggunakan
cairan ekoenzim itu
ee jadi enak diinjak jadi keset.
Kemudian pokoknya enaklah gitu. Kemudian
cairankoenzim bisa kita gunakan untuk
campuran shampo itu mengatasi ketombe
bisa kita gunakan untuk toner di muka
bisa kita ee itu saya sering juga
gunakan toner ee dari ekoenzim itu kita
campur air dengan perbandingan tertentu
dengan ekenzim. Kemudian kita jadikan
kita usapkan di wajah itu menghilangkan
minyak dan mengobati jerawat.
Ada banyak hal-hal yang bisa kita
lakukan di rumah dari sampah yang kita
hasilkan. sampai sisa makanan bikin
kompos. Kompos yang sederhana saja.
Siapkan wadah misalnya bot atau kaleng
bekas atau e kaleng cat apa ee wadah cat
bekas. Lubangi bawahnya kasih isi tanah.
Kemudian taruh sampai sisa makanan
dengan terlebih dahulu kita tiriskan.
Jadi jangan berair masukkan di situ.
Kemudian tutup lagi dengan tanah. Begitu
seterusnya sampai penuh kita tutup.
Simpan siram setiap ee berapa hari
dengan air beras juga ee yang kita
hasilkan di rumah.
simpan berapa lama itu akan menjadi
kompos dan siap untuk kita jadikan lagi
media tanam seperti itu. Kemudian ee
sampah-sampah plastik yang masih bisa
dijual, bisa dimanfaatkan kembali itu ee
simpan pilah kemudian bawa ke bank
sampah. Itu kan bisa menjadi uang atau
mau kita sedekahkan ke pemulung juga
boleh. Itu jadi kita harapkan bahwa
sampah hanya sampah residu. Residu itu
seperti apa? Misalnya ada sterofor.
Teropom itu kan belum belum banyak
teknologi yang bisa melakukan apa
namanya pengolahan serofor yang kita
kumpulkan dari rumah itu bisa di di apa
namanya dibuang nanti dibawa ke bank
sampah apa ke TPA termasuk bekas tisu
bekas popok bekas hanya itu sampah
residu yang bisa kita buang untuk
selanjutnya dibawa ke TPH ataupun
mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi
oleh mungkin ada teknologi lain nantinya
bisa manfaatkan misalnya popok tadi
kemudian
jadi sampai sisa makan makanan tidak
kita buang lagi karena sisa makanan ini
yang paling berpotensi untuk
menghasilkan gas metan yang penyebab
salah satu ee emisi GRK yang menyebabkan
perubahan ee iklim
seperti itu. Nah, kemudian bagaimana
cara mewujudkan pulau Zeroes yang
berkelanjutan di kepulauan dan kearifan
lokal, inovasi dan kolaborasi.
Nah, di pulau yang menjadi kendala
memang ee pertama misalnya mereka sudah
mengumpulkan sampah plastik, sampah
anorganik, sampah plastik, sampah
kaleng, sampah ee kertas dan sebagainya.
Nah, itu ee ada beberapa pulau juga yang
ee punya ee apa namanya? Bank sampah.
Jadi bisa kita bawa ke bank sampah.
Kemudian nanti dengan jumlah tertentu
itu kita bisa bekerja sama dengan
pengepul atau bank sampah induk yang
akan menjemput nanti ke pulau. Kemudian
itu sampah organik. Kalau sampah organik
seperti tadi bisa kita buat kompos. Jadi
bisa di kompos itu kita bisa manfaatkan
lagi. Kemudian ee apa namanya? Ee di
pulau juga kan banyak yang melakukan
budidaya ikan ikan ikan air tawar. Nah,
itu tadi ee ekoenzim bisa kita
manfaatkan untuk ee apa namanya? Kita ee
siramkan atau campurkan di kolam ikan
itu akan membuat ikan menjadi apa
namanya ee menjadi sehat, air juga
menjadi jernih.
Nah, kemudian ee bagaimana inovasi,
kemudian kolaborasi. Nah, memang itu
memang kolaborasi yang paling penting
kita lakukan karena meskipun masyarakat
sudah melakukan upaya-upaya untuk
melakukan pengolahan sampah, kalau tidak
ada kolaborasi, tidak ada dukungan dari
beberapa pihak, tentu mereka juga tidak
akan bisa menyelesaikan itu. Nah,
seperti tadi bahwa mereka apabila sudah
ee pertama dulu kita bentuk bank sampah
unit di sana sehing dan nanti bank
sampah induk yang akan melakukan
pembinaan hingga ee melakukan ee apa
namanya sampah-sampah yang sudah mereka
kumpulkan nanti akan diambil oleh bank
sampah induk.
Kemudian ee sampah di daerah kami selama
ini menumpuk di TPS atau TPA. alat apa
yang bisa dipakai agar tidak terjadi
penumpukan sampah di TPS di TPA yang
ramah lingkungan. Nah, sekarang sudah
dikembangkan ee apa namanya beberapa
daerah itu pengelolaan sampahnya sebelum
dibawa ke TPA mereka membawanya dulu ke
TPS3R. Jadi TPS3R itu di situ dilakukan
ee pemilahan kemudian sampai masih bisa
dimanfaatkan ee akan dikumpulkan dipilah
dan nanti apakah dibawa ke bank sampah
apakah di akan dijual ke pengepul.
Kemudian di TPS3R juga ada namanya
pengomposan. Jadi sampah organik itu
akan dibuat kompos. Nah, yang paling
penting sebenarnya untuk memaksimalkan
ee apa namanya? memaksimalkan ee
fasilitas TPS3R itu adalah adanya
pemilihan dari sumber.
Pemilihan dari sumber ya tadi pemilihan
di rumah. Jadi misalnya kita tidak
sempat melakukan pengolahan sampah
sendiri di rumah tapi minimal dipilah
sampah organik itu dikumpulkan sendiri
dibawa ke TPS3R yang melakukan ee
pengomposan. Kemudian sampah organik
juga dipilah sendiri untuk dibawa ke
TPS3R yang akan melakukan apa namanya ee
pemilahan dan ee membawanya ke industri
daur ulang seperti itu. Jadi tidak semua
sampah itu akan dibawa ke TPA karena ee
apalagi nanti 2030 sudah akan dilakukan
moratorium TPA, tidak ada lagi
pembangunan TPA. Nah, TPA yang sekarang
saja sudah sebagian besar sudah over
capacity. Jadi inilah ee pemerintah
sekarang sudah ee mengembangkan, sudah
berusaha mengembangkan dan memfasilitasi
ee beberapa teknologi inovasi untuk
pengolahan sampah. Tadi saya sampaikan
ada teknologi RDF
itu mengolah sampah ee untuk menjadi
bahan baku pendamping atau kfiring eh
batu bara. Jadi menjadi bahan bakar
untuk industri semen. Kemudian juga ee
ada namanya tip ee apa namanya? waste to
energy. Jadi, pengolahan sampah untuk ee
nanti akan dihasilkan menjadi energi
listrik.
Nah, seperti itu. Jadi yang pertama tadi
agar tidak terjadi penumpukan sampah di
TPS ya memang harus diolah di sumber,
harus dikelola di sumber dan itu kita
tidak bisa menyatakan bahwa pemerintah
bertanggung jawab untuk itu. Tidak.
Karena kita punya tugas atau tanggung
jawab untuk mengolah sampah kita sendiri
di sumber. Jadi semua orang apakah
masyarakat itu kan bukan hanya
masyarakat pada umumnya tapi kita semua
adalah masyarakat kita mau dari kita
pegawai kita seorang ee karyawan, dosen
segala kita adalah masyarakat. Jadi
semua harus melakukan pengolahan sampah
di rumah di sampah yang dihasilkan harus
dikelola sebelum dibawa ke TPS hingga ke
TPA. sehingga diharapkan nanti dengan
pengelolaan sampah di sumber diharapkan
bahwa sampah ke TPA sudah ee berkurang
karena memang sekarang aturan dari
Undang-Undang Nomor 18 bahwa sampah yang
dibawa ke TPA itu sebenarnya hanya
residu, tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Nah, bagaimana peluang ekonomi dari
pengolahan sampah yang setiap tahun itu
tadi yang tahun 2023 sebesar 56,63 juta
ton. Nah, ini tadi yang saya katakan
bahwa sampah itu kalau dikelola di
sumber ini sampah kan sekarang kita
jangan ber seperti tadi NO5 sekarang
adalah sampah ee sudah ber apa namanya
paradigma itu sirkular ekonomi artinya
sampah itu kita anggap masih mempunyai
nilai jual masih sebagai sumber daya.
Jadi sampah yang ini 56,63 juta ton.
Kalau itu dikelola di sumber, kemudian
dikelola di fasilitas MRF, dikelola di
bank sampah, dikelola di TPS3R, dikelola
di TPST, maka peluang ekonomi itu sangat
banyak. Karena sekarang beberapa
industri ee kami contohkan industri daur
ulang yang ada di Kota Makassar. Kami
pernah mengunjungi beberapa industri
daur ulang. Mereka mengatakan, "Bu,
kapasitas ee kapasitas produksi kami itu
sebenarnya 10 tahun per hari, tapi
paling tinggi kami dapatkan bahan baku
itu hanya 5 tahun. Itu pun hanya sekali
sekali dalam beberapa bulan. Nah, ini
kan peluang besar. Peluang besar bahwa
masih ada sekitar 8 5 sampai 8 ton
kebutuhan industri setiap hari yang
berasal dari sampah yang tidak kita
kelola hanya dibuang ke TPS, hanya
dibuang ke TPA." itu sebenarnya masih
punya nilai jual. Yang penting kita mau
melakukan kita semua harus berkolaborasi
baik masyarakat, pemerintah, dunia usaha
semua harus berkolaborasi. Pemerintah
tadi menyiapkan fasilitas untuk ee
pemilihan sampah maupun daur ulang.
Kemudian masyarakat mengolah sampahnya
dari rumah. Kemudian swasta juga harus
berkontribusi untuk membantu. Minimal
misalnya industri-industri jasa,
industri manufaktur itu mengelola
sampahnya sendiri.
Kemudian kalaupun dia tidak mengolah
sampahnya, tetapi minimal bisa
memberikan bantuan untuk fasilitas
pengolahan sampah, bisa memberikan
bantuan untuk melakukan sosialisasi,
edukasi, pendampingan, dan sebagainya.
Sehingga
sampai yang 56 juta ton per tahun ini
kita bisa maksimalkan pengolan, kita
bisa optimalkan pemanfaatannya sehingga
semua tidak dibuang ke TPA. Nah, seperti
itu. Nah, memang sih ee kita gampang aja
berbicara bahwa sampah itu bisa dik,
tapi kembali lagi tadi kita perlu
pengetahuan, kita perlu kepedulian, kita
perlu merubah perilaku sehingga nanti
akan menjadi budaya. Sehingga diharapkan
nanti dengan menerapkan implementasi
keempatnya ini kita harapkan bahwa
sampah yang terbuang ke TPA atau sampah
yang kita hasilkan sebesar 56,63
juta ton gitu, itu bisa kita ee apa
namanya? kita bisa konversikan menjadi
berapa miliar rupir?
Nah, pertanyaan lagi, pembangunan unit
bank sampah di daerah sering mendapatkan
penolakan masyarakat setempat. Bagaimana
solusi menghadapi respon masyarakat?
Iya. Seperti ini. Jadi pembangunan ee
unit sampah di daerah memang karena
mungkin masyarakat belum tahu apa sih
yang akan dilakukan itu. Mereka kan
tahunya bahwa sampah itu ba, sampah itu
nanti akan menimbulkan hal-hal yang kita
tidak inginkan, akan menimbulkan
pencemaran. Mungkin mereka tidak tahu
bahwa misalnya di TPS 3R misalnya
pengolan sampah itu, tetapi dengan
syarat bahwa pengolan sampah ini
dilakukan dengan benar. Misalnya di
TPS3R masyarakat membawa sampah organik
anorganik. Sampah anorganik kan seperti
tadi kertas, kaleng, plastik, kaca dan
sebagainya itu ditempatkan di tempat
tertentu. Kemudian sampah organik yang
dibawa yang tidak sempat diolah di
sumber di rumah itu dibawa ke TPS3R
untuk misalnya dibuat kompos. Nah,
kompos itu kalau memang sampah yang ee
apa namanya? Sampah yang di bawah,
sampah organik di bawah itu langsung
dibuat kompos, ditutup dengan tanah,
ditutup dengan terpan, itu tidak akan
menimbulkan bau. Apalagi kalau misalnya
di tempat TPS3R itu ada kegiatan namanya
pembuatan ekoenzim. Ekoenzim ini bisa
kita manfaatkan sebagai pembersih eh
udara. Nah, sekarang banyak TPA TPPA
yang kami lihat di daerah ini ee sedikit
lucu bahwa pada saat akan dilakukan
pemantauan,
apakah itu pemantauan terkait ee
bagaimana kinerja mereka untuk melakukan
pengolahan sampah terkait program
Madipura, mereka itu menyemprotkan
cairan ekoenzim di TPA sehingga pada
saat kita masuk TPA-nya itu sudah tidak
bau karena tadi disemprotkan ekenzim.
Nah, bisa juga kita berlakukan di unit
ee pengolahan sampah yang ada di apa
namanya satu wilayah, apakah di
perumahan atau di itu bisa kita ee apa
namanya? Kita bisa aplikasikan.
Nah, terkait juga ee pembangunan
pengolahan sampah untuk menghasilkan
energi listrik tadi, pengolan sampah
untuk ee apa namanya?
Resel. Nah, ini juga di beber di
beberapa kota banyak menghadapi respon
masyarakat yang kontra karena mereka
tidak tahu bahwa di industri pengolahan
sampah untuk menghasilkan energi listrik
itu ya mungkin memang pada saat sampah
itu diangkut menggunakan truk yang
terbuka dan tidak terawat itu tentu akan
menimbulkan bau. Tentu ceceran lindi
juga akan ada di mana-mana. Nah, ceran
lindi inilah yang akan berbau. Nah,
tentu ee yang harus kita beri masukan ke
pemerintah adalah pada saat akan
membangun ee industri pengolahan sampah
untuk menghasilkan energi listrik yang
ramah lingkungan adalah bahwa truk yang
mengangkut sampah yang akan dibawa ke ee
industri itu haruslah ee pengangkutan
atau truk yang tertutup. Kemudian ee
truk itu terawat. Artinya tidak ada
bocoran di mana-mana sehingga ceceran
lindi dari sampah yang diangkut itu
tidak akan ee ee apa namanya? Tidak akan
terjadi.
Nah, seperti itu mungkin karena memang
masyarakat belum tahu bagaimana si ee
proses pengolahan pengelolaannya,
bagaimana manajemen pengangkutan sampah
itu sehingga mereka ee memberikan respon
yang ee menolak. Nah, untuk itu juga
kita menjadi kewajiban kita bersama baik
pemerintah maupun komunitas itu harus
memberikan edukasi yang banyak ke
masyarakat. Karena
mengubah mindset masyarakat itu untuk
mau melakukan pengolahan sampah itu
tidak semudah kita membalikkan telapak
tangan. Perlu sosialisasi terus-menerus,
perlu edukasi terus-menerus, perlu
pendampingan.
Perlu pendampingan. Nah, ini karena
banyak juga ee pemerintah, pemerintah
daerah, provinsi maupun ya kami mungkin
juga di ee di pusat bahwa kami hanya ya
karena tadi keterbatasan SDM,
keterbatasan anggara
bahwa kami hanya memberikan sosialisasi
edukasi itu hanya sekali dua kali sudah
itu tidak lagi. Sementara mengerubah
pola pikir, merubah mindset masyarakat,
merubah perilaku itu seperti tadi saya
katakan tidak bisa hanya sekali dua
kali, harus terus-menerus sampai mereka
mau melakukan itu hingga menjadi ee
merubah perilaku mereka sehingga menjadi
budaya mereka untuk senantiasa melakukan
ee melakukan hidup bersih sehingga
sampahnya dikelola seperti itu. Jadi
untuk mengembangkan kegiatan pengolahan
sampah yang ee apa namanya yang ee di
masyarakat supaya tidak terjadi respon
yang ee kontra ataupun negatif yangang
perlu seperti itu. Ada kolaborasi, ada
ee ada banyak ee pembinaan, edukasi,
pendampingan seperti itu. Sehingga
masyarakat menjadi sadar, kemudian
masyarakat juga paham bahwa ee ini
menjadi tanggung jawab pemerintah untuk
melakukan itu. Nah, masyarakat tentu
harus wajib mendukung apa yang akan
dilakukan oleh pemerintah sepanjang itu
akan bermanfaat bagi semua. Tapi tadi
dengan beberapa persyaratan bahwa tadi
seperti contoh kecil bahwa ee
pengangkutan sampah itu harus tertutup
dan tidak menimbulkan ceceran lindih.
Karena ceceran lindih ini sebenarnya
yang menimbulkan baut. Kalau ee sampah
itu diangkut langsung lewat begitu sa
lama kemudian kan baunya sudah akan
hilang. Tapi apabila ada ceceran lind
dari sampah itu, nah itu yang akan
berbau
sekian lama seperti itu. Apakah sosialis
seperti ini sudah sering dipaparkan
kepada dinas-das terkait dan biar tidak
kompeten karena kunci dari pengelolaan
sampah adalah fasilitas. I, Pak. Jadi
ini sudah sering
boleh saya berhenti dulu ada asan di
kantor kami.
Iya, silakan Bu Naj.
H
Ya. Baik, Mbak Dini kita lanjut.
Silakan.
Iya. Terkait pertanyaan apakah
sosialisasi seperti ini sudah sering
dipaparkan kepada dinas-dinas terkait
dan pihak-pihak kompeten? Karena kunci
dari pengolan sampah adalah fasilitas.
Ya, jadi ee ini kan kita misalnya di
kementerian kita memberikan fasilitasi,
kita memberikan pembinaan kepada
pemerintah daerah, kepada sektor-sektor
lain, kepada masyarakat. Demikian juga
di level provinsi mereka memberikan
pembinaan kepada kabupaten kota,
memberikan pembinaan kepada komunitas
masyarakat yang ada di wilayah provinsi
hingga ke kabupaten kota juga seperti
itu. Mereka melakukan pembinaan,
memberikan apa dampingan, edukasi dan
ini kondisi yang ee ee apa namanya?
Kondisi yang seharusnya. Tapi meskipun
kita ee apa namanya? kami di kementerian
misalnya selalu memberikan ee edukasi
kepada beberapa dinas, beberapa
pemerintah daerah. Nah, kembali lagi
seperti tadi kalau mereka punya
pengetahuan yang tinggi untuk punya
punya pengetahuan untuk menyerap
beberapa ee ilmu yang kami sampaikan,
kemudian mereka punya kepedulian tentu
akan diimplementasikan di instansinya
masing-masing. Mereka akan mengembangkan
inovasi, mereka mengembangkan ide-ide
yang sesuai dilaksanakan di daerahnya
masing-masing. Tapi kan tidak seperti
itu. masing-masing orang beda, beda
pengetahuan, beda pendidikan, beda, beda
cara berpikir. Tapi kita berharap bahwa
kami di kementerian juga, kami di Pusdal
juga ee akan terus melakukan ee
sosialisasi, pendampingan, pembinaan
terus-menerus kepada pemda maupun kepada
masyarakat.
Nah, ini kembali lagi saya katakan tadi
bahwa kenapa kita memberi tema bahwa
sampah itu antara pengetahuan,
kepedulian, kemudian diimplementasikan
dalam perilaku hingga menjadi budaya.
Nah, itu tadi kembali lagi meskipun kita
sering berikan ya kita berdoa saja bahwa
apa yang kita sampaikan itu akan
ditindaklanjuti, akan diterapkan, akan
diimplementasikan. Karena kalau kita
berharap bahwa semua orang berpikiran
seperti itu, tentu pengolahan sampah
juga akan ee apa namanya? Akan mendapat
ee akan terlaksana dengan baik. Jadi
seperti itu, Pak. Kami tidak berhenti.
Kami misalnya di Pusdal kami kan ada
berapa kabupaten kota yang ee berada di
wilayah kami. Nah, kami sering melakukan
pendampingan, kami sering melakukan
pembinaan teknis. Nah, seperti itu
terkait kembali lagi bahwa mereka apakah
bisa mengimplementasikan itu? mereka
mungkin tidak bisa mengimplementasikan
atau belum mengimplementasikan karena
tadi ada keterbatasan keterbatasan dari
SDM, keterbatasan pengetahuan,
keterbatasan anggaran.
Nah, ee ee kami khususnya sering
menyampaikan ke pemda bahwa semua
kegiatan yang akan kita lakukan karena
kan mereka punya kewenangan besar,
mereka ujung tombak di pemerintah daerah
itu bahwa mereka harusnya bisa memilah,
bisa melihat ee kegiatan-kegiatan mana
yang paling ee apa namanya? Paling
penting, paling urgen untuk mereka
lakukan. Dan semua kegiatan itu terutama
pengolahan sampah memang tidak harus
tidak harus perlu anggaran besar. Dari
awal saja kita bisa melakukan
sosialisasi dulu ke beberapa masyarakat,
ke beberapa komunitas. Sosialisasi dulu.
Sosialisasi ini dan edukasi sampai
pendampingan itu tidak membutuhkan
anggaran besar, tapi butuh kemauan,
butuh ee apa namanya? butuh ide-ide yang
bagus, butuh inovasi untuk itu. Jangan
semua anggaran itu, anggaran yang besar
itu kan mereka pada umumnya apa namanya?
Merencanakan anggaran yang besar itu ke
TPA. Sementara di TPA itu apa? Tempat
pemrosesan akhir. Sampahnya dibuang di
situ. Potensinya banyak untuk mencemari
tanah, mencemari air, mencemari udara.
Kenapa kita menghabiskan anggaran yang
besar bawa ke TPA? Mending anggaran
besar itu sebagian seperempat saja kita
lakukan di hulu.
kita lakukan sosialisasi, edukasi, tapi
yang paling penting adalah pendampingan.
Karena meskipun kita sosialisasi,
edukasi terus-menerus, kalau tidak ada
pendampingan ke masyarakat, tentu itu
akan kembali lagi seperti kita tidak
pernah melakukan apa-apa. Karena
tadi bahwa merubah mindset, merubah
perilaku, merubah ee ee apa namanya?
Cara pandang masyarakat itu harus
terus-menerus. Nah, kita dampingi sampai
mereka bisa ee berbuat, bisa mereka bisa
berhasil untuk melakukan pengolahan
sampah. Kemudian bisa keberhasilan ini
kita bisa replikasikan lagi di tempat
lain dengan cara-cara seperti tadi. Jadi
anggaran yang besar yang dialokasikan ke
TPA itu ee bagi saya itu saya kurang
setuju karena hanya di TPA itu kan kita
membuang sampah terus harus diratakan,
dipadatkan, ditutup dengan tanah. Begitu
seterusnya sampai sampah itu bertumpuk
sampai 50 m. Kalau tidak ada pengelolaan
misalnya tidak ada pengelolaan lindya,
tidak ada kelolaan gas metannya, itu
tentu akan memberikan dampak negatif
lagi. Ada pencemaran tanah, pencemaran
air, pencemaran udara, kemudian TPA itu
ada kemungkinan bisa meledak seperti
kejadian di ee apa namanya beberapa
tahun lalu. Nah, seperti itu, Pak. Jadi
memang ee pengelolaan lingkungan itu
menjadi tanggung jawab kita semua. Jadi
jangan hanya saya bilang juga ke daerah
bahwa itu bukan hanya menjadi tanggung
jawab pemerintah daerah dalam hal ini
Dinas Lingkungan Hidup, tapi menjadi
tanggung jawab semua masyarakat yang ada
di situ. Baik dari bupati, mulai dari
Wakil Bupati, kepala dinas sampai
masyarakat yang ada di wilayah itu.
Kemudian bagaimana cara menyelesaikan
rendahnya partisipasi masyarakat,
keterbatasan sarra, lamanya penegakan
aturan dan perbedaan budaya dan
pendidikan. Nah, ini aja, Pak. Berputar
terus. Jadi, bagaimana menyelesaikan
rendahnya pasti partisipasi masyarakat?
Ya, itu tadi harus ada sering apa
namanya harus ada sering sosialisasi,
pendekatan kepada masyarakat. Kemudian
ada edukasi, ada pendampingan bahwa
masyarakat itu kita harus sentuh dulu
hatinya. Sentuh hatinya bahwa hidup
bersih itu adalah sesuatu yang indah.
Hidup bersih itu sesuai dengan norma ee
ee norma ee apa namanya? agama kita
sesuai norma yang kita anut bahwa bersih
itu banyak manfaatnya untuk kesehatan
dan sebagainya. Nah, itu dulu yang kita
sentuh. Kemudian kita lakukan
sosialisasi, kita lakukan edukasi, kita
lakukan pendampingan bahwa mereka
harusnya mengelola sampahnya itu seperti
apa. Mulai dari pemilahan, bagaimana
sampah yang dipilah tadi itu masih
mempunyai nilai jual, masih mempunyai
sebagai sumber daya, itu dibawa ke mana?
Sampah organik itu mau diapakan, apa
manfaatnya sehingga kita harus mengolah
sampah organik? Itu yang harus kita
sampaikan ke masyarakat. Kemudian kalau
mereka sudah melakukan itu, mereka sudah
merasa bahwa setiap hari mereka bisa
mengolah sampahnya, lingkungan menjadi
bersih, lingkungan menjadi indah, sampah
hasil pengumposan diolah tadi bisa
dimanfaatkan lagi menjadi media tanam.
Kemudian media tanam itu bisa
menyuburkan tanaman, menyuburkan ee
bukan hanya tanaman bunga, tapi ee
tanaman obat-obatan, sayur-sayuran dan
sebagainya. Tentu itu kalau kita dekati
dengan pendekatan itu mereka akan merasa
bahwa saya banyak mendapat manfaat dari
sini kalau saya melakukan pengolahan
sampah seperti dulu yang kecil-kecil
saya dalam skop wilayah yang kecil dulu
kita apa namanya kita ee dampingi
kemudian nanti kita bisa replikasi lagi
di tempat lain seperti itu. Dan kembali
lagi bahwa edukasi sosialisasi itu harus
terus-menerus enggak boleh terputus
enggak boleh hanya spot-spot seperti
itu.
Nah, kemudian keterbatasan sarana
prasarana. Nah, ini tadi memang perlu
kolaborasi ee antara pemerintah dan
swasta untuk sarana prasarana ini.
Karena di beberapa daerah juga tentu
mereka punya keterbatasan anggaran.
Apalagi pengelolaan lingkungan Dinas
Lingkungan Hidup itu di beberapa daerah
belum menjadi ee dinas yang ee favorit.
Favorit tanda kutip bahwa ee mereka itu
di Dinas Lingkungan Hidup masih
anggarannya masih kecil.
Nah, ini kemudian sarana prasarana juga
harus ee kita melibatkan swasta. Swasta
itu kan kalau mereka melalui program CSR
mereka bisa diminta bantuan untuk
berpartisipasi. Mereka tidak hanya
menarik keuntungan dari masyarakat.
Mereka tidak hanya bisa bisa
berinvestasi di suatu wilayah. Tapi
mereka juga bisa berpartisipasi
bagaimana bisa menciptakan lingkungan
hidup yang baik di wilayahnya. Kemudian
lemahnya penegakan aturan. Nah, ini yang
paling penting juga bahwa pemerintah
daerah memang ee iya sudah menerbitkan
aturan misalnya untuk pembatasan sampah
ee apa namanya pembatasan plastik sekali
pakai di swalayan, di pasar, di
pertokoan dan sebagainya, tapi itu tidak
disertai dengan pengawasan.
Ini menjadi tugas lagi teman-teman di
daerah bahwa kita kan sudah punya sumber
daya, kita punya sudah punya pejabat
pengawas lingkungankuan hidup, kita
sudah punya pejabat pengendali
lingkungan, pengendali dampak
lingkungan, kita sudah punya pejabat
penyuluh. Nah, itu semua harus
dimaksimalkan, harus diberdayakan
sehingga ee dan aturan-aturan juga harus
ditegakkan. artinya bahwa ee aturan yang
terkait tadi misalnya pelarangan atau
pembatasan sampah plastik di soalaian ya
lakukanlah pengawasan, lakukanlah
pemantauan ke soal-soalai misalnya
apakah mereka betul sudah menerapkan
itu. Karena kalau tidak dilakukan dari
semua sisi maka tentu apa yang kita
rencanakan, apa yang kita ee ee apa
namanya harapkan hasilnya itu tidak akan
terjadi. Nah, kemudian juga perbedaan
budaya dan tingkat pendidikan. Seperti
saya katakan tadi bahwa meskipun
seseorang itu punya pengetahuan yang
tinggi, kalau dia tidak punya kepedulian
maka nonsens tidak akan terjadi pengolan
sampai baik. meskipun dia sudah punya ee
kepedulian tapi dia tidak punya
pengetahuan juga mungkin tidak akan bisa
melakukan itu. Nah, seperti itu. Jadi
kita mulai dulu dari adanya pengetahuan
dengan sosialisasi, edukasi sehingga ee
pada akhirnya nanti akan merubah
menciptakan kepedulian, merubah perilaku
hingga akan menjadi budaya.
Nah, kemudian apakah pemerintah daerah
pernah melakukan manajemen sampah sampai
kepada level RTR RW di rumahan atau
pemukiman? Siapa kolah sampah, pembagian
sampahnya dan seterusnya? Itu sudah ini
sudah beberapa tahun belakangan ini
melalui Kementerian Linguan Hidup juga
kita sudah mengembangkan namanya bank
sampah. kita sudah ee mengelola ee apa
namanya membangun TPS3R yang dikelola
oleh komunitas ee komunitas masyarakat
ataupun dikelola oleh pemda itu sudah
ada sampai kemudian pengelolaan sampah
juga di satu di beberapa kabupaten kota
itu sudah diserahkan kecamatan.
Kecamatan nanti akan bekerja sama dengan
lurah RT dan RW terkait pengelolaan
sampah. itu sudah seharus itu yang
seharusnya. Tapi memang meskipun sudah
dibagi dengan manajemen seperti ini itu
masih saja banyak ee ee apa namanya
tidak banyak melibatkan lurah maupun
RTRW mereka. Nah, ini seperti contoh ada
satu kota di ee provinsi itu di Sulawesi
Selatan, walikotanya itu sudah sangat
konsern untuk melakukan pengolahan
sampah. Jadi
sudah di apa namanya? sudah di sudah
disamp mereka membentuk namanya
motivator. Motivator itu ada di tiap
kecamatan. Jadi motivator ini bertugas
untuk melakukan ee pendataan, pemetaan
sampai pendampingan, pengolahan sampah
kepada masyarakat. Nah, ini nanti akan
melibatkan RT RW. RT itu harus minimal
di wilayah ee di wilayahnya itu harus
membantu membangun kesadaran masyarakat,
membantu pelibatan masyarakatnya untuk
melakukan pengolahan sampah.
seperti itu memang sudah dilakukan oleh
pemerintah. Namun ya seperti lagi
kembali lagi tadi yang di da mungkin
yang tidak peduli apakah dia sibuk,
apakah dia memang tidak tahu apa dia
tidak punya minat di situ. Kemudian ada
juga RW juga seperti itu, lurah juga
seperti itu. Mereka tidak punya ee
minat, mereka tidak punya kepedulian
terhadap pengelolaan ee sampah di
wilayahnya itu. Jadi memang peran semua
pemerintah ee ee apa namanya ada perlu
komitmen dari ee pimpinan daerah bupati
walikota untuk bagaimana memberdayakan
semua aparat yang ada di bawah mulai
dari kepala dinas, camat, lurah, RT, dan
RW
itu. Sehingga diharapkan bahwa nanti
pengelolaan sampah ini bisa terlaksana
dengan baik sampai ke tingkat RT.
Nah, mengapa sampai saat ini pemiluhan
sampai di Indonesia hanya sebatas
himbauan dan tidak menjadi aturan dengan
sanksi yang tegas? Ya, ini memang ee
pemilahan itu kan diharapkan bahwa ini
kan sudah undang-undang semua sudah
mengamanatkan bahwa semua orang yang
menghasilkan sampah wajib mengelola
sampahnya. Nah, ini kan kita masyarakat
mungkin undang sebenarnya undang-undang
itu ada kita dianggap semua mengetahui
apakah kita pernah membaca atau tidak.
Tapi kita dianggap untuk sudah
mengetahui bahwa aturannya seperti itu.
Nah,
kembali lagi itu menjadi kewajiban kita
semua sebagai pribadi bahwa kita
masing-masing menghasilkan sampah. Kita
menghasilkan sampah juga di rumah, kita
menghasilkan sampah di kantor. Itu yang
harus semua harus di apa namanya? Harus
ee dikelola oleh masing-masing. Itu
seharusnya. Dan pemerintah saat ini
sudah ber ee sangat-sangat sering sejak
beberapa tahun lalu hingga sekarang. Pak
Menteri konsernya kepada pengolahan
sampah saat ini sudah waduh kami pun ee
apa namanya fokus sekarang semua
kementerian sampai ke tingkat di ee apa
di pusdal semua kita fokus untuk
penanganan sampah. bagaimana kita
membantu daerah mulai dari kita
memetakan apa sih permasalahannya ee
permasalahan di daerah, apa sih
kendala-kendala mereka, bagaimana mereka
melakukan pengolahan sampahnya sampai
kinerja pengolahan sampahnya seperti apa
itu kami pantau dan kami ee setelah itu
kami laporkan kami ee kami olah datanya
dan kami laporkan ke pusat dan pusat
nanti akan memberikan lagi ee apa
namanya penyampaian kepada daerah untuk
melakukan pengolahan sampahnya hingga
meningkatkan kan kinerja pengolan
sampahnya. Nah, seperti itu. Jadi, bukan
hanya sebatas himbauan itu semua sudah
di sudah dilakukan, tapi kembali lagi
bahwa himbauan itu memang tidak harus
terus-menerus dilakukan
dan ee nah ini yang paling penting
adalah penegakan aturan dengan sanksi
yang tegas. Mungkin beberapa daerah juga
sudah melakukan itu, sudah menegakkan
aturan, sudah memberikan sanksi yang
tegas sehingga ee ada pengaruhnya kepada
ee pengelolaan sampah di daerahnya. Nah,
ini mungkin kita harapkan juga bahwa
semua daerah seperti itu. Bahwa sudah
dilakukan sosialisasi, sudah dilakukan
edukasi, sudah dilakukan pendampingan,
sudah diterbitkan aturan atau kebijakan.
Nah, kemudian kita harapkan bahwa aturan
dan kebijakan itu harus ditegakkan
sehingga dengan ee adanya itu maka ee
pengetahuan yang sudah ada, kemudian
kepedulian juga sudah ada, kemudian
bagaimana aturan-aturan juga itu bisa
ditegakkan sehingga akan merubah
perilaku.
Nah, dengan perubahan perilaku kita
harapkan bahwa budaya untuk bersih,
budaya untuk melakukan pengolahan
sampah, budaya untuk menciptakan
lingkungan hidup yang bersih dan sehat
itu bisa kita ciptakan.
Mungkin itu, Mbak Dini. Mohon maaf ya
kalau terlalu panjang,
ya. Baik, Bu. Ee terima kasih atas
jawaban-jawabannya dan pertanyaannya
tadi ee apa sungguh menarik semua ya,
Bu.
Dan mungkin ee untuk sekarang kita
lanjutkan pada sesi tanya jawab secara
langsung ya. Dipersilakan kepada peserta
Zoom yang ada di dalam ruangan Zoom ini
ee bisa langsung saja menggunakan fitur
raise hand untuk bertanya. Dan mungkin
untuk pertama ini saya akan batasi dulu
dua penanya. Apabila masih ada kelebihan
waktu nanti diberikan lagi kesempatan.
Dan kebetulan di sini sudah ada Ibu Yani
yang melakukan raise hand
ya. Dipersilakan kepada Bu Yani.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ee domisili di ee Banten wilayah
Serpong, tapi sekarang saya sedang di
Cirebon.
Iya.
Oke. Ee terima kasih. Eh siapa? Edu. Eko
Edu. Dan Ibu narasumber.
Ee saya penggiat bank sampah ee langsung
to the point. Saya penggiat bank sampah
di daerah ee Bintaro. Ee
ini ada masalah gitu ya. Saya sudah
hampir 4 tahun bank sampah saya dan di
dalam perjalanannya ee banyak sekali
turun naik gitu ya. Yang pertama adalah
tadi Ibu narasumber mengatakan bahwa
kalimat wajib ya warga wajib katanya
untuk memilih sampah. Apa yang
mewajibkan? Satu. Bagaimana wajib?
Kalimat wajib ini artinya orang tahu
kalau wajib kan kudu ya bahasanya tuh ke
wudu
harus gitu ya. Tapi kan mana ya saya
satu kluster aja itu berapa ratus orang
kakak cuma berapa itu cuman mungkin 150
tapi pada saat penimbangan adalah cuman
gitu 80. Nah ini wajibnya seperti apa
nih Bu ya? Terus juga touch touch-nya
pemerintah dalam hari ini mungkin kalau
yang ke pelaksana itu adalah pemerintah
daerah ya ee turun ya dari DLH terus ke
kecamatan, ke kelurahan begitu ya. Itu
ee mana gitu ya. Saya melihat itu tidak
ada di tempat saya. Mungkin ini kasus
gitu ee tapi perlu didengar gitu ya ee
mungkin kurang kurang orang yang turun,
kurang biaya yang untuk turun gitu. Jadi
kemasyarakatannya kurang nih gitu. Baik
dengan orangnya fasilitatornya dan
prasarananya gitu. Nah ini kontrol dari
daerah dari DLH ya dan KLH itu mana
gitu. Terus yang ketiga,
bank sampah itu kan menggantungkan
hidupnya kepada pengepul.
Karena pengepul ini yang menjual sampah
kita dan mereka yang ee akan
melanjutkannya ya. Ee kumpulan kalau
kita hitungan kilo, mereka hitungan ton.
Nah, di sini ekonomi sirkuler belum
belum belum belum ekonomi sirkuler. Nah,
di sinilah e nyawa nyebang sampah dijual
kan ya? Dijual. Nah, ini harga bagaimana
ini si KLH atau DLH ee melakukan
pengawal atau pengawasan atau bagaimana
ya apa bahasanya itu harga dari sampah
ya. Harga dari sampah. Ada sampah yang
harganya 500 300 perak per kilo.
Segunung apa itu ya? Nah, ini kan
sebenarnya saya tidak bicara masalah
uang, tetapi ini uang menjadi suatu daya
tarik dari masyarakat, dari warga untuk
ee kekuatan ekonomi keluarga gitu ya.
Kalau KWT itu kekuatan apa? Ekonomi
ketahanan pangan.
Kalau bank sampah itu ketahanan ekonomi
keluarga. Dari situ dia dapat uang
tambahan dalam kondisi sekarang masa
masa-masa sulit. Tapi kembali lagi kalau
harganya cuman segitu, please dong
pemerintah tolong bantu terkait dengan
harga. Saya sudah ngomong sama KLH yang
datang orang administrasi ke tempat bank
sampah saya kagak ngerti, enggak
ditanggepin, enggak tahu. Nah, yang
kayak-kayak gini nih tolong dong ya
pemerintah kalau memang mau turun serius
jangan orang TU suruh datang ke ke saya
yah. Iya. Manggut-manggut aja gitu ya.
sampai saya udah bikinin. Oke, pasti
yang datang begini nih. Saya kasih
lembaran ini permasalahan saya enggak
ada feedback. Nah, evaluasi itu penting,
Ibu. Kita Indonesia tuh enggak pernah
nih evaluasinya
tuh mutus aja ditaruh di apa? Sudah
dapat nih. Saya dapat sudah berhenti SPJ
dapat sudah selesai.
Nah, ini akhirnya kan enggak dapat nih.
Maaf-maaf saya bilang pemerintah daerah
enggak semua yaak enggak semua ini kayak
tukang pos doang. Cari survei di apa di
lapangan sudah selesai nikasih sudah
selesai. Kayak gitu tadi saya bilang.
Nah, kembali lagi ke masalah sampah.
Harga sampah tolong dibantu kami. Masa
harga ada 500 perak Bu di jalanan udah
kagak ada harga 500 perak Bu. Tapi oke
saya sampai bilang enggak apa-apa.
Intinya kita bukan duit, tapi
menyelamatkan itu sampah-sampah warga
tidak ke TPA. Ini intinya saya bilang
ya, bank sampah itu jangan konotasinya
duit aja, tapi menyelamatkan sampah
tidak masuk ke TPA. Sulitnya Bu minta
ampun ya. Jadi saya selama 4 tahun itu
begitu terus. Tapi intinya tadi satu ya.
Ya, tolong dong tolong banget pemerintah
itu dijaga harga. Kalau harganya bagus
kan ya Bapak, Ibu sekalian banyak tuh
orang mau ke sampah tuh nyetorin gitu
ya. Ini satu side-nya daripada ee
daripada ee kita mau memilah. Jadi ada
kewajiban tadi itu adalah triggernya
kita. Oke. Oke. Sana ya. Ee itu aja Bu.
Jadi mana nih pemerintah sampai tadi ada
tulisan juga ya, mana nih pemerintah
daerah sampai ke masyarakat. Sama
pertanyaannya. Terima kasih, mohon maaf
lahir batin. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Ya, makasih Bu Yani. Jadi yang pertama
dulu Bu, saya sangat menghargai, sangat
menghargai sekali ee komunitas ibu-ibu
yang mau melakukan pengolan sampah di
bank sampah. Nah, itu yang ee saya
apresiasi betul Bu. Kami sudah sering
melakukan ee pertemuan juga kami sering
ee apa namanya mendatangi beberapa bank
sampah dan keluhannya memang sama
seperti itu, Bu. Jadi, ada juga bank
sampah yang misalnya harga di bank
sampah induk lebih rendah dibanding
harga di pengepul. Jadi, saya bilang
enggak enggak wajib ke bank sampah
induk. Yang penting ada pencatatan
misalnya di bank sampah berapa sampean
dikelola. Nah, kalau harga di pengepul
lebih bagus, bawa aja ke pengepul enggak
apa-apa itu. Ataupun di ee pihak lain
yang harganya lebih bagus bawa aja ke
situ. Tapi sesuai dengan Bu Yani katakan
tadi bahwa di bank sampah itu sebenarnya
bukan hanya sekedar kita menjadikan
sampah itu menjadi uang, tapi menjadi
daya tarik juga supaya masyarakat mau
mau melakukan e pemilihan sampah, mau
membawa sampahnya ke bank sampah. Nah,
itu Bu dan memang jadi permasalahan dan
sebenarnya itu sudah di apa namanya ee
di apa namanya di pusat juga sudah
menjadi perhatian bahwa memang
harga-harga ee di bank sampah itu harga
ee sampah yang akan dijual ke bank
sampah induk maupun pengepul itu ada
fluktuasi memang Bu. Jadi harga sampah
itu mengikuti harga pasaran. Jadi kadang
naik kadang juga turun.
itu juga yang harus ee kita pahami.
Kemudian di di yang paling penting
adalah bagaimana pengelola bank sampah
itu bisa menc bisa mempunyai inovasi
atau bisa mempunyai daide kreatif
lainnya. Jadi bukan hanya menggantungkan
hidupnya dari apa bukan hanya menerima
sampah-sampah ee organik seperti itu,
tapi bisa juga menerima minyak jelantah
misalnya itu harganya juga lebih bagus.
Bisa juga e bank sampah berinovasi
misalnya bekerja sama dengan pihak
swasta. Karena swasta Bu yang penting
kita bisa membuat proposal yang bisa
menguatkan pihak swasta untuk memberikan
ee bantuannya CSR. Jadi bisa kita
bekerja sama bermitra dengan ee swasta.
misalnya bank-bank yang ada di sekitar
itu ada beberapa perusahaan misalnya
kita minta ee bantuan dukungan sarana
prasarana ataupun minimal ada bantuan
bahwa ini bisa menjadi ee meneruskan
roda dari bank sampah seperti itu. Nah,
kalau memang Bu di beberapa daerah itu
ada beberapa memang dinas lingkungan
hidup atau kita anggaplah pemda pemda
yang kurang perhatian kepada
pengembangan bank sampah
seperti itu. ini sudah di disampaikan
oleh Pak Menteri bahwa semua pemerintah
daerah wajib wajib lagi nih Bu. Wajib
untuk member berikan perhatian yang
lebih kepada pengolah SAMP. kita harus
menghargai individu-individu ataupun
komunitas-komunitas yang mau melakukan
pengolahan sampah
seperti itu. Kemudian terkait tadi
evaluasi memang betul Bu semua harus
dievaluasi bukan hanya ee kami di
kementerian di provinsi di daerah
pelaksana bank sampah semua kegiatan
yang kita lakukan harus kita evaluasi
apa yang menjadi kendala selama ini. Apa
yang sudah kita lakukan? Apa yang
sebaiknya atau seharusnya kita lakukan
lagi? apa yang seharusnya kita perbaiki
lagi itu yang harus kita evaluasi
sehingga kita tidak terjebak dengan
hal-hal rutinitas bahwa ee sampah itu
hanya dibawa ke bank sampah harganya
hanya segini sudah tapi kita harus
mengevaluasi lagi evaluasinya seperti
apa misalnya di bank sampah
kegiatan-kegiatan apa yang masih bisa
kita kembangkan untuk bisa menarik
masyarakat untuk membawa sampahnya ke
bank sampah
mungkin itu Bu ee mohon maaf kalau
kurang apa namanya
Nah terkait lagi dari tadi di apa
namanya orang KLH hanya orang TU ya itu
kami sadari juga Bu memang Bapak Menteri
sekarang kan mewajibkan semua ee semua
ee di di apa namanya semua di KLH harus
turun untuk melakukan pembinaan
pengolahan sampah. Jadi semua
kedeputian, semua direktorat semua
berfokus untuk melakukan pengolan
sampah. Jadi mohon maaf Bu kalau
misalnya ada satu dua orang yang mungkin
belum paham terkait itu dan tentu akan
dilakukan juga evaluasi dan perbaikan ke
di kementerian.
Nah, mungkin Iya mungkin seperti itu, Bu
ya. Jadi ee sangat mengapresiasi Bu dan
tadi terkait dengan kata wajib bahwa kan
semua di peraturan Bu di Undang-Undang
Nomor 18 bahwa siapapun yang ee orang
yang menghasilkan sampah wajib untuk
melakukan pengolahan sampahnya. Hanyakan
itu lagi masyarakat mungkin belum paham,
belum tahu perlu sosialisasi bahwa kita
harus melakukan pengolahan terhadap yang
kita hasilkan. Minimal kita memilah,
memilah itu kemudian nanti diserahkan
apakah ke kita serahkan ke pemulung atau
kita sedekahkan atau kita bawa ke bank
sampah itu terserah. Tapi minimal bahwa
sampah itu kita kelola kita minimal kita
lakukan pemilahan di rumah itu dibawa ke
fasilitas pengelolaan sampah.
Mungkin itu Bu Yani. Saya mohon maaf
kalau kurang ee ya berikan kepuasan
sambut. Tapi sekali lagi saya sangat
kami sangat mengapresiasi para pegiat
bank sampah terutama ibu-ibu yang mau
melakukan ee apa mau meluangkan waktunya
untuk mengurus ee apa namanya bank
sampah. Sekali lagi terima kasih Bu Yani
atas ini kepeduliannya.
Ya, baik, terima kasih Bu Yani atas
diskusinya yang sangat menarik ini dan
kita lanjutkan kepada Bapak Ikaabul
dipersilakan untuk menyampaikan
pertanyaannya
ya. Selamat siang Bapak-bapak, Ibu-ibu.
Terima kasih ya ee pada ee yang
memberikan presentasi ee Ibu Najuah tadi
saya ee secara umum persinnya bagus ya.
Nah, begini yang saya ingin ee garis
bawahi bahwa
saya menarik tuh e apa yang dikatakan
oleh Bu Yani ya. Apalagi Bu Yani itu e
kasusnya di Jakarta Bintaro ya, urban
setting gitu ya. Itu memang susah ya di
ee di persoalan di urban ini. Ee di
samping masalah tanah ya untuk bikin
bank sampah itu susah ee ketersediaan
lahan gitu ya. Ini juga sangat sulit.
Saya kebetulan tinggalnya juga enggak
jauh dari Bintaruf gitu ya. Nah, itu
pengelolaan sama. Kemudian masalah apa
ee masalah tadi yang menarik masalah ee
harga
harga barang pengumpul karena harga
pengumpul tadi kaitannya dengan survival
dari para pengumpul itu yang sebagai
ujung tombak dari pengelolaan sampah.
Nah, saya hanya mengamati secara umum
ya, bahwa untuk pengelolaan limbah ini
tidak hanya masalah sampah ya, tapi juga
sanitasi itu juga menjadi suatu
kelemahan di hampir di semua pemerintah
daerah ya. Bahkan ee di tempat saya di
Tangerang Selatan ya itu ee
yang disebutnya
pengolahan sanitasi itu sebenarnya sec
kelembagaan sudah ada seperti sanitarian
tapi fungsinya tuh tidak maksimal ya
kayak di tempat saya sanitarian itu
kerjanya hanya ngurus jentik-jenetik
nyamuk gitu ya. Pas saya tanya itu
tentang sampah mau diapain enggak
ngerti. Sudah gitu apakah Anda memahami
enggak mengas meng meng masalah ee rayu
recycle sampah? Enggak ngerti. Jadi
persoalan-persoalan yang pertama yang
saya ingin adalah manajemen di
pemerintahan daerahnya. Karena
undang-undang sendiri itu sebenarnya
memang sudah dilegaskan pada pemerintah
daerah. Sehingga akhirnya itu tergantung
politikal pemerintah daerah maunya
gimana ya. Jadi apakah kita setiap
persoalan itu harus diviralkan kan
enggak jadi bingung saya untungnya sudah
ada ada medsos ya. Jadi ada persoalan
bisa viral. Kalau dulu sama sekali
enggak ada gitu ya. Nah, sekarang jadi
ee yang yang saya seb lagi ee masalah
infrastruktur itu tidak hanya sampah
tapi juga air limbah itu ya terutama
yang berbasis masyarakat adalah politnya
itu sendiri yang saya lihat lemah ya.
Jadi pemerintah daerah ini ee selama ini
saya perhatikan saya sudah juga
berkunjung ke beberapa daerah yang lain
ya. Politikal dari pemerintah daerah itu
masih berorientasi proyek gitu ya.
apa yang bikin TPA hajar dulu dia tidak
memberikan supply chain itu apa gitu ya.
Jadi, makanya tadi Ibu yang presentator
mengatakan enggak setuju ya langsung
apa-apa tuh bikin TPA TPA. Tapi
kadang-kadang pengambilan keputusan di
PEMDA sendiri masih berorientasi project
gitu ya. Gua dapat dari proyek itu
sekian dapat dari berapa persen dari itu
pemerintah daerah pimpinannya masih
berorderasi mindsetnya begitu. gitu. Itu
yang persoalannya tidak hanya di tempat
ibu, tidak hanya di Jak saya di beberapa
daerah saya ee saya sering ke daerah ya
sama gitu ya masih sama di air limbah
sanitasi juga kita bikin ya IPLT.
IPLT itu instansi pengolahan tinja ya di
Ambon di Lombok. Saya lihat IPLT itu
dibangun oleh pemerintah pusat. Apa yang
mau disedot? Enggak ada, Bu. tangki
septik ee limbah di tangki septik aja ya
apa yang mau disebut enggak ada
tangki septiknya itu enggak ada yang
benar satuun akhirnya apa IPLT-nya itu
pada mangkrak Bu-bangunan itu
tahun RPJMN tahun 2 tahun yang lalu itu
tercatat di dukungan dari 274 IPLT ya
instalasi pengolahan limbah tinja ya
yang dibangun oleh pemerintah pusat yang
jalan cuma 10 Bu bayangin karena gitu
jadi cara berpikirem pemerintahnya
tidaknya pemaka, pusat juga masih
berpikir project oriented, ngabisin duit
tapi tidak tepat sasaran.
Ya, saya itu capek terus terang ya. Saya
terusang saya bidangnya ini sebenarnya
saya orang teknik lingkungan itu capek
saya ngurusin apa ya sampah limbah dari
dulu kok ini masalah klasik ya enggak
pernah ada solusinya gitu itu aja ya.
Jadi ada politik infrastruktur yang
harus dibangun ya di dalam mindset
pemerintah daerahnya itu. Yang kedua
yang saya ingin bahwa sampai sekarang ee
aturan-aturan agama mengajarkan begini
gitu ya.
ada ya peraturan ada tapi bagi saya hal
yang paling penting untuk melakukan
suatu perubahan ya dalam pengelolaan
infrastruktur dari tingkat keluarga,
masyarakat, pemerintah adalah adal pesan
moral dan etika ya bagaimana agar suatu
infrastruktur itu berkelanjutan
kan tidak ada sampai sekarang ya semua
ambil prov semua bas oriented
pendampingan dari konsultan atau donor
misal teknik e misalnya itu hanya
pendampingan pada saat project. Pernah
enggak dipikirkan pendampingan atau
perubahan perilaku setelah projek
selesai gitu ya? Sustainability-nya
bagaimana? Itu tidak ada. Yang tadi saya
dikatakan oleh Bu Yani evaluasinya
enggak ada tuh monitoring dan
evaluasinya enggak ada itu ya. Jadi saya
ingin
ee agar suatu itu berkelanjutan
dimanfaatkan tidak hanya project
oriented 5 tahun sudah hancur sistemnya
ya kita capek Bu ngabisin duit untuk
infrastruktur itu dan enggak pernah ada
hasilnya gitu ya. Itu peran moral dan
dari
ee apa ya ee pemuka agama, tokoh
masyarakat dan
ee petinggi agama ya tokoh-tokoh agama.
Tokoh atau agama juga harus memberikan
contoh yang baik dalam ee perubahan
perilaku ini gitu ya. Jadi jangan sampai
misalnya
ee perubahan perilaku itu memang
melibatkan masyarakat atau agama tapi
pada saat hanya proek setelah itu enggak
pernah ada gaungnya lagi gitu ya. Enggak
ada ya. Jadi saya berharap di masjid
juga ee diberi contoh dong pengelolaan
sampah tuh yang benar enggak? Masjidnya
berantakan enggak ada tempat sampah gitu
ya. Saya saya kadang saya suka sedih
juga ya. Padahal tokoh agamanya tuh
kadang-kadang ceramahnya kita harus
bikin kebersihan jargon dengan kenyataan
aja di dalam sistem yang kecil aja tidak
apa tidak terealisasi di situ ya. Itu
karena gini pesan moral yang paling
manjur menurut pendapat saya adalah dari
tokoh agama
ya. Karena tokoh agama itu agama akan
berubah menjadi budaya, budaya akan
menjadi apa ee perilaku masyarakat gitu
dan itu harus berjalan terus-menerus.
Jadi agama di ustaz gitu di masjid
jangan apa berhentilah dan tokoh-tokoh
pendeta di gereja juga jangan berhenti
ya untuk itu aja Bu karena sudah azan
nih engak makasih ya maaf siap makasih
Pak Ekaabul. Iya, saya juga, Pak, setuju
dengan beberapa pendapat Bapak tadi
bahwa ya memang kita melihat kondisi
sekarang bahwa kejadian di pemda
pemerintah daerah seperti itu. Tapi ya
mau gimana lagi tapi tentu akan ada
banyak evaluasi dari pemerintah pusat
itu. Saya yakin itu. Kemudian ya yang
paling bisa kita lakukan ya berdoa aja
Pak semoga para pemimpin kita punya
komitmen yang baik, para pelaksananya
juga di daerah juga mempunyai komitmen
yang baik, punya tujuan yang baik, punya
langkah-langkah yang baik sehingga kita
semua bisa terhindar dari hal-hal
seperti yang tadi Pak Ekabul sampaikan.
Nah, terkait juga politik infrastruktur
memang seharusnya seperti itu, Pak.
bahwa infrastruktur yang akan dibangun
itu ya tentu akan dimanfaatkan, akan di
apa namanya? dilaksanakan dengan
cara-cara yang baik juga.
Tapi ya kembali lagi tadi kalau orang
yang ada di situ memang tidak punya
itikat yang baik, tidak punya ee visi
yang baik, tidak punya komitmen ya akan
seperti itu.
Tapi ya mau gimana lagi kita berharap
aja pemerintah pusat punya apa namanya
punya tapi kita yakinlah bahwa
pemerintah sekarang memang sudah ada
upaya untuk melakukan perbaikan step by
step.
Nah, terkait juga pesan moral tadi, Pak.
Ya, memang kembali lagi ke apa namanya
misalnya ee pemuka agama sudah
menyampaikan itu, tapi dia sendiri tidak
mempraktikkan itu. Nah, kita tidak ee ya
kita hanya bisa menilai tapi ya tanggung
jawabnya juga nanti sendiri bahwa dia
menyampaikan itu tapi dia tidak
mengimplementasikan pada dirinya
sendiri. Yang penting kita mulai dari ee
diri kita semua masing-masing. Apa yang
kita sudah tahu, apa yang kita sudah
semoga yang kita tahu itu bisa
membangkitkan kepedulian kita, bisa
merubah perilaku kita sehingga bisa
menumbuhkan budaya yang baik yang sudah
kita lakukan danel
apa namanya mengimplementasikannya di
tempat lain. Itu sih, Pak. Dan saya
memang sangat setuju tadi dengan apa-apa
yang Bapak sampaikan karena kondisi
sekarang memang seperti itu. Ada banyak
kejadian tapi ya kembali lagi kita
berharaplah semoga ee semua para
pelaksana para pelaksana itu di daerah
di pusat pun mudah-mudahan mereka
tergerak hatinya punya niat yang baik
untuk melakukan apa yang menjadi
tanggung jawabnya. Itu aja sih, Pak. dan
kita harapkan kita mulai dari diri kita
sendiri juga semua bahwa kita harus
berniat, harus ee ber apa namanya? Harus
bisa bermanfaat untuk orang lain itu,
Pak. Terima kasih sekali lagi, Pak
IGabul atas ee apa namanya atas
masukannya
ya. Mungkin ada lagi, Mbak Dini.
Mungkin kita beri kesempatan satu
pertanyaan lagi.
Silakan kepada Ibu Hazriani untuk
menyampaikan pertanyaannya.
Baik, terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam kenal Bapak Ibu
semua. Saya Ibu Hazriani dari Kabupaten
Natuna.
Jadi, Natuna ini mungkin sebagian besar
ada juga yang sudah tahu dan belum ya,
Ibu di ujung utara NKRI.
Jadi, kebetulan saya menyimak dari dua
pertanyaan, Bu. Kedengaran ya, Bu,
suaranya
kedengaran, Bu?
Iya. Baik. Jadi, kebetulan saya menyimak
juga dari dua pertanyaan yang sudah
disampaikan oleh Ibu dari Bintaro dari
Bapak Pak Ikab ya. Jadi saya memang
sependapat juga saya tidak ada
pertanyaan lain ya Bu. Cuman saya
sependapat ee sependapat dengan beliau
berdua. Jadi kalau dibilang jenuh atau
udah gimana ya udah mua atau bosan itu
mungkin karena pekerjaan kita memang
untuk mengedukasi orang. Jadi ee saya
juga berusaha Bu ya ee berusaha ee
berbuat untuk lingkungan itu aja. Jadi
kita mulai memang yang Ibu sampaikan
tadi memang ee kita ajaklah sendiri.
Jadi mengedukasi orang itu sudah saya
lakukan, Bu. Kebetulan saya fungsional
pengendali dampak lingkungan juga di DLH
ya, Bu. Heeh. Jadi kalau misalnya itu
memang tugas kita sudah kita lakukan. Ee
tadi masalahnya ee cuman ee dibilang
kalau menyalahin pemerintah ya kita
jeruk makan jeruk ya Bu kalau
menyalahkan pemerintah. Kita juga di DLH
nih kita juga berupaya sebenarnya cuman
ee saya cuma sedikit ee permintaanlah ya
untuk ee mungkin yang bisa saya
sampaikan pada kesempatan ini mungkin
penegakan ya penegakan hukumnya Bu itu
yang terpenting. Jadi kita ini kalau
tidak ada sanksi atau tidak ada hukum
kita itu enggak mau, Bu. Enggak mau
berbuat gitu ya. Ya udahlah ada yang
ngurus misalnya gitu ya. Di masyarakat
juga gitu yang Ibu sampaikan bahwa
setiap ya undang-undang juga sudah
mengatakan bahwa setiap orang wajib
mengelola sampah di rumahnya
masing-masing. Itu sudah kita sampaikan
Bu. Artinya kita bukan tidak
mensosialisasikan itu sudah kita
sampaikan ke sekolah, ke masyarakat ya.
ee setiap kita ke masyarakat kita
sampaikan ah hanya ini ee setelah
masyarakat ee tahu ya tahu ya ee mereka
ya cuek-cuek aja karena enggak ada
ininya bagi mereka ya enggak ada
manfaatnya duitnya juga enggak ada,
dapat untungnya juga enggak kan gitu Bu.
Sanksinya juga enggak ada jadi enggak
ada apa-apanya gitu. Jadi masyarakat ya
sudah ee udah ee buang ajaalah di tempat
sampah gitu. Nah, itu yang ee
disampaikan juga oleh ee Ibu tadi ya di
bank sampah
saya. Saya kenapa saya enggak ke bank
sampah? Bank sampah itu kalau tidak
mindsetnya duit, Bu, orang enggak mau
bekerja. Jadi kalau enggak ada duit di
situ, ya manalah kita mau makan dari ee
ee duitnya enggak ada misalnya gitu kan.
Memang harus ada uangnya. Nah, jadi
mindset kita dari awal itu memang
sebenarnya ee cuman untuk mengelola
supaya tidak betul yang Ibu sampaikan
tadi ee Ibu dari Bintaro lupa namanya
cuman ee mengamankan aja ya membantu
pemerintah supaya TPA itu tidak penuh
aja sebenarnya gitu. Jadi sosial Bu
kalau saya ya melihat ya sosial aja itu
jadi duitnya tuh memang bonus tapi
masyarakat kita kalau enggak ada duit
enggak mau sosialnya Bu. Nah gitu ya.
Jadi kelemahannya itu pula gitu ya. Itu
jadi yang untuk dari Bapak ya. Kalau
untuk terkait tokoh agama saya juga
sudah ee maksudnya di ICHMI, di IPHI ya
kita juga sudah ee menyampaikan Ibu ya
saya sudah berusaha juga ee memberikan
pemahaman kadang-kadang tulisan-tulisan
saya share juga gitu ya. Ee cuman ya
saya enggak tahu ya salahnya di mana
betul yang Bapak sampaikan tadi. Tahu
sebenarnya cuma tidak peduli gitu ya.
Heeh. Lalu ee Ibu juga sampaikan ee kita
berdoa saja ya mudah-mudahan ada
hidayah. Jadi saya juga seperti itu Bu.
Saya juga seperti itu. Jadi akhirnya
sebenarnya saya bukan tidak
mensosialisasikan bahwa sampah itu harus
kita kelola, harus kita pilah. Saya Bu
terus terang aja tuna, saya mungkin
paling konsen di sampah basah ya, sampah
organik. Jadi saya udah akhirnya saya ee
mengedukasi orang, orang tidak mau ikut
ya saya sudah jalan kan gitu Bu. Jadi
saya sudah punya ee bisa mengedukasi
orang di rumah saya. Jadi saya kerja
kenapa saya tidak di kantor? Karena
kantor tidak memfasilitasi. Artinya kan
gitu, Bu. Jadi fasility yang dibuat
pemerintah yang disampaikan oleh Bapak
itu cuman memang sekedar proyek
pengelolaan sampah itu kalau tidak ada
duit, tidak diproyekkan, tidak jalan,
Bu. Jadi kalau misalnya ada duitnya di
situ, orang mungkin banyak ngelola
sampah, Bu. Misalnya dari rumah sekian
kilo sampah basah dibeli oleh
pemerintah, dikelola di bank sampah atau
dikelola di TPS 3R itu mungkin banyak
orang ngantar sampahnya, Bu. Nah, jadi
gitu. Jadi saya melihat sekarang ini ee
saya sendiri, Bu yang ngelola, Bu. Jadi
di rumah saya kebetulan halaman saya ada
sedikit saya buat saya bikin ekoenzim di
situ. Saya juga ngompos pakai komposter.
Saya juga pelihara magot. Jadi edukasi
itu pribadi, Bu, gitu. Pribadi dan atas
nama kebetulan saya juga orang DLH. Ya
udah ee tidak bisa dipisahkan antara DLH
dan pribadi saya kan seperti itu, Bu.
Artinya saya mengedukasi orang atas nama
DLH juga, atas nama pribadi juga, tapi
saya tidak bisa membawa ini ke kantor.
Kan gitu, Bu. Artinya praktik-praktik
ini kan kita ke masyarakat. Heeh. Nah,
jadi kalau misalnya ee tadi yang
disampaikan Bapak perubahan perilaku itu
saya lebih ee senang juga perubahan
perilaku itu atas dasar ee ada tindakan
hukumnya Bu. Ada maksudnya ada sanksi
hukumnya gitu kan ee yang dibuat oleh
pemerintah daerah. Mungkin itu yang
belum Bu ee komitmen kepala daerah untuk
sampah. Tapi kan kita enggak di tempat
lain ada tempat yang memang komitmen
pemerintah daerah memang untuk
pengelolaan sampah. Buktinya berjalan
juga kan Bu. Jadi karena ada sanksi, ada
edukasi, komitmen pemerintah,
kontinuitasnya.
Cuman kita nih sekedar aja Bu, kegiatan
jalan sudah selesai, enggak ada lagi
evaluasi seperti yang Ibu sampaikan itu.
Betul. Saya setuju, Bu. Jadi kegiatan
itu sudah selesai, kegiatan sudah. Lalu
adapun kegiatan proyek gitu kan, tidak
berkesinambungan atau berkelanjutan.
Terima kasih Bu. Itu aja dari saya. Ee
mudah-mudahan ya punya banyak teman di
sini saling berbagi. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Jadi terima kasih Bu Hasriani. Ee kita
harus bersyukur bahwa masih banyak
ibu-ibu seperti Bu Hasriani yang punya
konsern, punya komitmen juga. Jadi bukan
hanya komitmen pimpinan ya, Bu. Ada
komitmen kita juga sebagai
sebagai ee apa namanya? Sebagai ee
pegawai DLH, kemudian juga sebagai tadi
fungsional dari dampak lingkungan dan
sebagai individu.
Kita punya komitmen untuk kita punya
punya apa namanya? ee punya visi yang
sama untuk melaksanakan tugas. Kemudian
terkhusus untuk pengelolaan sampah, kita
juga punya ee punya apa namanya? Punya
visi, punya niat, dan implementasi sudah
ada. Nah, itu saya juga sering ee kami
juga sering menyampaikan bahwa yang
paling utama sebenarnya kita ini yang
orang lingkungan hidup. kita dulu harus
melaksanakan itu sebelum kita
menyampaikan kepada lain. Kita harus
menjadi contoh
bahwa kita di lingkungan hidup bahwa
kita
standap kutip kita memerintahkan, kita
menyampaikan, kita mengajak untuk
melakukan pengolahan sampah. Kalau tapi
kalau kita sendiri tidak melakukan kan
itu sama aja bohong. Enggak mungkin.
Saya yakin 100% bahwa itu tidak akan
berhasil karena kita tidak punya kita
tidak menjadi contoh. Jadi percuma kita
menyampaikan, oh iya lakukan pengolan
sampah buatenzim olah sampah organik,
olah sampah anorganik. Kalau kita tidak
sendiri tidak melakukan itu, enggak
mungkin akan diikuti oleh orang lain.
Karena
ya saya yakin, saya percaya bahwa yang
di atas itu tahu juga bahwa ngapain lu
sampaikan ee sesuatu yang kau tidak
lakukan. kan itu sama dengan
menyampaikan ee kebohongan itu. Jadi,
mari kita sama-sama sebagai tadi mulai
dari diri kita sendiri dulu, mulai dari
sekarang mari kita sama-sama melakukan
pengolahan sampah. Mari kita sama-sama
minimal melakukan pemilahan dulu di
rumah dan minimal kita mengurangi sampah
yang dibawa ke TPA dari rumah kita
sendiri dulu. I terima kasih Bu Asriani
atas beberapa masukannya dan
ya sama-sama Bu nanti boleh minta nomor
kontaknya Bu ya. Di mana ya?
nanti di ini Bu.
Heeh. berbagi ya. Ee maksudnya Bu kita
di beberapa daerah saya juga bukan saya
memang kalau terkait sampah ee
ada webinar di mana saja saya ikuti Bu.
Jadi saya memang ee sangat sangat
konsern walaupun dianggap ah itu
pekerjaan percuma ya, tapi saya merasa
itu tidak ada yang sia-sia. Iya.
Jadi suatu saat nanti walaupun sekarang
orang tidak melihat tapi suatu saat ya
Allah akan memberikan petunjuk.
Mudah-mudahan ada hidayah ya Bu.
Jadi
niat kita baik yang penting ya Bapak Ibu
kita yang bergerak di bidang pengolan
sampah dan semua teman-teman di
lingkungan hidup yakinlah bahwa meskipun
ee jangan semua kita berorientasi uang
apapun yang kita lakukan kita di
lingkungan hidup itu kan kita
memperbaiki kita kita mengedukasi untuk
hal-hal baik. Maka jangan hanya uang
yang kita harap, tapi tentu pahala itu
yang kan hanya itu yang kita cari. Hanya
itu kita
Iya, Bu. Jadi, kita cari di dunia.
Iya, Bu. Betul. Jadi, saya sangat setuju
mudah-mudahan ee semua yang hadir di
room ini juga punya pemikiran yang sama.
Mari kita melakukan hal-hal baik dari
diri kita sendiri. Mari kita lakukan
hal-hal baik dari sekarang, dari
lingkungan kita sendiri dulu.
Ya, mungkin
I terima kasih. Terima kasih kembali Ibu
Hasriani
ya. Makasih Mbak Deni.
Iya. Baik Bapak Ibu ee untuk sekarang
ini waktu sudah menunjukkan 12 lebih.
Jadi untuk sesi tanya jawab kita
cukupkan dan mohon maaf kepada Bapak Ibu
yang mungkin belum dapat mendapatkan
kesempatan untuk bertanya pada sesi kali
ini. Dan untuk menutup acara webinar ini
kepada Bu Najhamen-nya.
Ee iya. Baik, makasih Mbak Di. Jadi ee
karena kita membahas terkait sampah,
bagaimana pengetahuan kita, bagaimana
kepedulian kita yang akan merubah
perilaku dan sehingga menghasilkan
budaya yang baik. Nah, untuk mengolah
sampah secara efektif memang kita harus
mengintegrasikan semua itu. Bagaimana
pengetahuan yang sudah kita miliki,
bagaimana pengetahuan kita tentang
pengelolaan sampah, kemudian itu ee
terkait pentingnya misalnya pemilahan,
bagaimana pentingnya pengolahan yang
tepat. Nah, itu didukung oleh kepedulian
perilaku kita yang ee positif ee
perilaku kita yang aktif untuk selalu
menanamkan budaya bersih dan bertanggung
jawab. Nah, itu kemudian ee mengapa
pengetahuan perilaku Buddha itu penting
ya. Karena pengetahuan kita pahami bahwa
sampah itu memberikan dampak buruk.
Kemudian ee bagaimana kepedulian ee
perilaku kita bahwa pengetahuan saja
tidak cukup. Kita perlu bertindak yang
nyata. Kemudian bagaimana ee budaya itu
dari tindakan yang nyata tadi kita
menjadikan itu sebagai budaya untuk
melakukan pengelolaan sampah khususnya
kemudian melakukan pengelolaan
lingkungan sehingga kita bisa
menciptakan lingkungan yang bertanggung
jawab dan bersih secara berkelanjutan.
Mungkin itu aja Mbak Dini. Terima kasih
ya. Baik terima kasih Bu Naj. Mungkin
sebelum meninggal ibu meninggalkan
ruangan Zoom di sini kita akan melakukan
dokumentasi terlebih dahulu kepada Bapak
Ibu yang bisa mengaktifkan kameranya
dipersilakan untuk mengaktifkan
kameranya.
Kita akan melakukan foto bareng terlebih
dahulu Bapak Ibu semuanya mungkin saya
akan langsungkan saja. Saya di sini akan
melakukan perhitungan mundur dimulai
dari angka 3.
Baik Bapak Ibu. 3 2 1
yaah sekali lagi. 3 2 1.
Oke. Baik Bapak Ibu untuk dokumentasi
sudah dicukupkan. Saya ucapkan sekali
lagi kepada Ibu Naah atas pemateriannya
yang sangat bermanfaat ini dan semoga di
lain waktu kita dapat ee bertemu kembali
dan mungkin kepada Bu Najha apabila
ingin meninggalkan ruangan Zoom sudah
dipersilakan. Iya. Baik, terima kasih
Ibu Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ya, waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik Bapak Ibu semuanya, berakhir sudah
acara webinar di hari ini dan bagi Bapak
Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikat,
Bapak Ibu dapat mengisi link presensi
kehadiran yang tertera di layar ini. Dan
ketika Bapak Ibu mengisi presensinya
dipastikan nama dan email sudah diketik
dengan benar karena hal ini juga akan
mempengaruhi pengiriman e-sertifikat.
Dan untuk itu saya akhiri kegiatan
webinar hari ini. Mohon maaf apabila
saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi
taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
siang dan selamat melanjutkan aktivitas
lainnya. Terima kasih.