Transcript
QtqaeEsbhgU • Webinar 124 Sampah: Antara Pengetahuan, Kepedulian, Perilaku dan Budaya
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0158_QtqaeEsbhgU.txt
Kind: captions Language: id Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan Eco Edio ini memang dari grup-grup di alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh bisa dianggap menarik ya karena mereka pengetahuan mereka tentang yang pengin mereka ketahui itu meningkat gitu ya. Kemudian skill-skill yang dihasilkan dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa dilihat begitu ya, terasa gitu manfaatnya di kami, terutama untuk e para konsultan yang tenaga-tenaga ahli gitu. Sehingga saya memilih Eco Edu mengikuti pelatihannya juga dan itu terbukti benar gitu. Nah, saya lihat Instagram itu ada Eko Edu ya yang akan menyelenggarakan pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak baca terlebih dahulu ya terkait tentang informasi yang diselu. Nah, menurut saya itu menjadi hal yang membuat tertarik untuk ikut pelatihan di situ. Jadi, saya sering lihat di Instagram gitu bagaimana Eko Idu menyampaikan informasinya. Eko edu itu bagus karena pelatihan-patunya itu selalu tergini terus mengikuti zaman dan juga pelatihnya apa yang tapinya itu bagus-bagus dan terbaiklah ke depannya. [Musik] Iya. Ee yang pertama memang tentu saja ini meningkatkan dan maksimalkan skill-skill yang saya harapkan begitu ya. terun dalam penyusunan dokumen AMD e saya jadi bisa lebih produktif, lebih efektif juga ee punya update gitu ya, update-update, persoalan-persoalan dalam jurusan AMDA terkini dari ahlinya langsing di lapangan begitu yang pengalamannya tidak diragukan. Menurut saya pelatihan yang disediakan EID ini sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk aksesnya gitu. Jadi ada teknologi terbaru yang saya dapat itu di e-learning ya. Itu luar biasa ee pembelajarannya juga mudah sekali untuk dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga menambah ilmu pengetahuan yang banyak banget. [Musik] eh e-learning ini memang di memang sangat diperlukan sekali ya, terutama untuk kita yang dengan keterbatasan pengetahuan kemudian juga waktu mungkin ee itu memberikan kita kesempatan untuk kembali mengingat, kembali mendengarkan paparan-paparan yang mungkin kurang jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang sesering mungkin yang kita inginkan. Kita juga bisa review kembali sehingga belajar kita bisa lebih efektif dan efisien. itu membantu sekali ketika pada saat penyampaian materi ada yang ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi itu di sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus lihat video yang bisa diakses kapan aja dan gimana aja. R juta dengan informasi yang kami peroleh itu jauh dari kas padan sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau saya bilang terlalu murah itu jadi sepadanlah. Jadi menurut saya padan Bu karena memang e pelatihannya itu pun sangat membantu ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang ada di e sekitar lingkungan saya sendiri gitu. E saya kira sepat sesuailah dengan apa yang kita dapatkan. [Musik] EKP efektif, tepat, dan profesional, hemat, cermat, dan hebat, keren, profesional dan juga keginian. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menuju siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko ke-124. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Ekoedu akan mengangkat tema sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Untuk berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya yaitu kita akan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu semuanya untuk duduk tegak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di sini izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh Baik, yaitu ee di minggu atau di pekan depan pada tanggal 8 hingga 12 September 2025, kami akan mengadakan dua pelatihan sekaligus, yaitu yang pertama pelatihan dinamika sistem untuk kajian lingkungan pada gelombang 12 dan pelatihan pemodelan dispersi. udara, air koppoff, dan high split gelombang 19. Dan pada pekan selanjutnya yaitu tanggal 15 hingga 19 September 2025 di sini kami akan mengadakan pelatihan pengelolaan banjir dan sedimentasi sungai menggunakan hackres dan has gelombang 6. Dan apabila Bapak Ibu melakukan bayar investasi sebelum hamilin satu pelatihan, Bapak Ibu bisa mendapatkan diskon sebesar 10%. Oke. Baik. Dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami yaitu Riris dan Nisa melalui WhatsApp ataupun Bapak Ibu juga bisa mengunjungi sosial media kami yaitu ada Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter dan juga kami memiliki website resmi di www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun ketika Bapak Ibu tertarik langsung pada saat ini, Bapak Ibu langsung saja untuk ee klik di pendaftaran.edu.co.id. Dan selain pelatihan reguler kami yang dilaksanakan online, kami juga memiliki pelatihan inhouse training yang bisa disesuaikan dengan keinginan Bapak Ibu semuanya di instansi ataupun perusahaan. Jadi kami tunggu di pelatihan. Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya kita langsung saja masuk pada kegiatan utama kita yang di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku dan budaya. Dan di sini juga kami telah menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Dan baik, langsung saja saya perkenal perkenalkan narasumber kita di hari ini yaitu ada Ibu Najhah Aris, S.H., M.H. Beliau merupakan pengendalian dampak lingkungan ahli muda di Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku. Ya. Baik. Ee selamat siang kepada Ibu Najha. Mohon izin. Selamat siang, Bu Najah. Apakah suara saya terdengar? Mohon izin, Bu Najha, sepertinya suaranya masih tidak terdengar ya, Bu ya. Mungkin untuk dikoneksikan dulu dengan aplikasi Zoom-nya, Bu. Sudah terkonnect. Iya. Selamat siang, Mbak. Selamat siang, Bu Naca. Bagaimana, Bu kabarnya siang ini? Oh, iya. Selamat siang, Mbak Dini, ya. Siang, Bu. Najah. Suara saya terdengar, Bu? Iya, iya, Mbak. Jelas. Iya. Baik, Bu. Ee apa kabar, Bu, siang hari ini? Baik, Mbak. Alhamdulillah, ya. Alhamdulillah. Semoga kita semuanya selalu sehat, ya, Bu, ya. Tapi mungkin sebelum lanjut kepada pematerian di sini saya akan membacakan dulu beberapa teknis yaitu yang pertama untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1 seteng jam kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi SLU dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Dan untuk mengefektifkan waktu, saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu Nazhar dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Hai It Turun dulu di Halo, Mbak. Mbak Dini kedengaran, ya? Iya, terdengar, Bu. Iya, mohon maaf tadi. Iya. Asalamualaikum. Selamat pagi, Ibu, Bapak sekalian. Saya Najha Aris dari Kantor Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup ee Sulawesi dan Maluku. Nah, ini sebenarnya saya sebagai pemeran pengganti Mbak Dini. Harusnya kan yang diundang itu Pak Pak Kapus kami. Jadi beliau hari ini sementara ada kegiatan di Kota Bitung. Jadi beliau menugaskan kami untuk ee mengikuti apa namanya kegiatan webinar ini dan beliau menitipkan salam kepada Ibu Bapak sekalian peserta webinar kita hari ini. Jadi izin izin ya Mbak Dini saya share screen ya. Silakan, Bu. Oke. Jadi mohon izin Mbak Dini saya tutup ini ya videonya dulu. Iya, Bu. Silakan, Bu. Pakai pakai begini. Iya. Ee ya, hari ini kita akan berdiskusi terkait ee sampah antara pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah, ini sampah sebenar ee latar belakang dari ee apa namanya diskusi kita ke hari ini adalah pertama sampah merupakan persoalan klasik namun ee belum tuntas. Nah, ee sampah menjadi persoalan klasik. Nah, sekarang sampah menjadi persoalan nasional. Ini Bapak Menteri Lingkungan Hidup Pak Faisal Hanif Faisal Nurofik sekarang memang fokus pada penanganan sampah dengan target Indonesia bersih ee bebas sampah tahun 202 100% melalui kebijakan penanganan di sumber di hulu. Kemudian ada pengolahan ee kemudian pemberdayaan masyarakat melalui program gerakan Indonesia bersih. Nah, program ini nanti menekankan pada kolaborasi berbagai pihak mulai dari masyarakat kemudian pelaku usaha hingga pemerintah daerah untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Nah, dengan kita melihat bahwa ee di Indonesia saat ini berdasarkan data dari sistem informasi pengelolaan sampah nasional tahun 2024 ee Indonesia menghasilkan kurang lebih 56,63 juta ton sampah per tahun. Tapi data ini mungkin masih di apa namanya? masih dibawa dari yang ee yang se yang senyatanya karena beberapa kabupaten kota tidak melakukan penginputan data di dalam ee SIPSN. Terakhir tahun 2024 hanya ada sekitar 300 lebih kabupaten kota yang menginput data. Sementara di Indonesia ada sekitar 514 kabupaten kota. Nah, dari data timbulan tadi hanya sekitar 11% sampah yang didaur pulang. Kemudian pengolahan sampah sebenarnya bukan hanya teknis. Nah, ini yang kita akan diskusikan hari ini bahwa itu terkait juga bagaimana pengetahuan masyarakat, bagaimana kepedulian ee bagaimana perilaku dan ee bagaimana pengaruh budaya. Nah, kemudian tentu saja volume sampah meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi. Nah, komposisi terbesar dari sampah yang kita hasilkan tadi yang sekitar 56,63 juta ton per tahun itu sisa makanan kurang lebih 40%. Nah, kemudian ada plastik sekitar 17%. Nah, tentu tantangan terbesar kita untuk mengatasi permasalahan sampah ini adalah bagaimana perilaku masyarakat di dalam memilah. Nah, memilah itu bagaimana dia mereka membedakan kemudian memisahkan dan juga bagaimana perilaku kita untuk mengurangi sampah. Nah, perilaku masyarakat ini bukan hanya masyarakat semua, tapi kita juga termasuk masyarakat. Jadi, ee kita termasuk di situ bagaimana kita nantinya harus harus saya katakan Mbak harus karena ini persoalan sampah sudah sangat ee apa namanya? Sudah sangat ee apa ya? Sangat memprihatinkan kalau saya bilang. Jadi sekarang kita sudah mengalami krisis sampah. Nah, bagaimana kita berperilaku di dalam yang pertama yang paling utama adalah di hulu di kita di sumber. Bagaimana kita bisa membedakan dan memisahkan sampah dan bagaimana kita bisa ee mengurangi sampah. Nah, kondisi existing pengelolaan sampah nasional berdasarkan data dari SIPSN 2023 ee 2024 tetapi ini data 2023 timbulan sampah nasional sebesar 56,63 juta ton. Nah, sampah yang terkelola sampah yang terkelola itu hanya sekitar 39,01% sekitar 22,9 juta ton. Nah, ini kembali lagi tadi datanya bahwa itu belum termasuk data seluruh kabupaten kota yang ada di Indonesia. Nah, sampah yang tidak terkelola itu sekitar 60,99% atau 34,54 juta ton. Nah, dari 60,99% itu sekitar 21,85% sampah itu ditimbun di TPA pendamping. Nah, TPO pendamping artinya sampah hanya dibuang begitu saja tanpa ada perlakuan, tanpa ada pengelolaan sama sekali. Kemudian 34,14% sampah itu masih terbuang ke lingkungan. Apakah itu dibakar, apakah dibuang begitu saja ataupun dibuang ke badan air. Nah, ini sampai yang terbuang ke lingkungan itu karena sebagian besar wilayah di kabupaten kota itu tidak mencakup area pelayanan dari Dinas Kebersihan ataupun Dinas Lingkungan Hidup. Jadi, tentu masyarakat karena tidak terlayani maka kemungkinan besar mereka hanya membuangnya tadi ataupun melakukan kebakaran. Nah, beberapa fasilitas pengolahan sampah yang sudah ada di Indonesia. Yang pertama itu ada namanya bank sampah induk, kemudian ada bank sampah unit. Nah, total ee data tahun 2023 jumlah bank sampah induk itu sekitar 299 unit. Kemudian juga ada bank sampah unit ee ee sebanyak 20.587. Nah, mungkin data ini akan berkurang ataupun bertambah karena ada beberapa bank sampah yang ada di beberapa wilayah di Indonesia itu ada yang mati suri, ada yang sepertinya hidup segan mati tak mau karena berbagai ee kendala. Ada kendala SDM, ada kendala ee apa namanya? Ada kendala ee anggaran dan sebagainya. Nah, jumlah nasabah dari total tadi bank sampah induk dan bank sampah unit itu ada sekitar 647. ee 1797 nasabah. Nah, sampah yang terkelola dari bank sampah induk dan bank sampah unit ada sekitar 2.116 ton per tahun. Nah, dengan total omset tadi ee 3 miliar 3.860 miliar per tahun. Nah, juga ada instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Nah, instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik itu berdasarkan Perpres nomor 35 tahun 2018. Nah, ini perpres ini sementara dilakukan peninjauan ulang. Nah, ee pel itu ada di Kota Surabaya dengan total sampai dikelola itu sekitar 1.000 ton per hari. Kemudian juga ada pel di kota Surakarta dengan mengolah sampah sekitar 545 ton per hari. Nah, ini ada 10 daerah lainnya juga sedang dalam proses pembangunan. Kemudian yang pertama itu ada di DKI Jakarta, kemudian di Bandung, Tangerang Selatan, Tangerang, Bekasi, Semarang, di ee Palembang, Denpasar, Manado, dan Makassar. Nah, ini mungkin masih sementara pembahasan baik pembahasan dokumen maupun pembahasan apa namanya bagaimana visibility untuk dilanjutkan pembangunannya. Nah, kemudian juga ada beberapa fasilitas pengolahan sampah menjadi review derive view. Jadi bahan pengganti untuk ee apa namanya? Bahan bakar di industri semen. Jadi bahan bakar bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari tadi pengolahan ee limbah badan itu melalui proses pemisahan, pencacahan, kemudian pengeringan. Nah, ini nanti akan diambil ee apa namanya? dilakukan untuk menurunkan kadar airnya. Nah, bahan bakar ini nanti akan dibuat ee apa namanya? Sebagai komponen sampah yang mudah terdiri dari komponen sampah yang mudah terbakar. Kemudian seperti plastik, kertas juga kain yang bisa dimanfaatkan nanti untuk menggantikan bahan bakar fosil di dalam industri. Nah, ini yang sebagian besar memanfaatkan RDF ini adalah eh industri semen itu pembakaran di kilen. Nah, eh fasilitas RDF yang sudah ada di Indonesia saat ini ada di Cilacap itu ee mengelola sampah 160 ton per hari. Kemudian juga ada di Bandargebang itu 2.000 ton per hari. Ini datanya bisa saja berkurang karena berbagai faktor juga. ini juga termasuk di RDF di Plan Badria di pangkep di kabupaten yang ada di wilayah kami itu awalnya 50 sampai 60 tahun per hari. Tapi karena ada berbagai kendala sampai ee per hari tidak sebesar itu. Ini mungkin yang menjadi apa namanya menjadi bahan ee untuk kita diskusikan kembali. Nah, ini kita sudah tahu bahwa tadi ee dari awal kita sampaikan bahwa kita akan berdiskusi hari ini bagaimana sampah itu ee melalui pengetahuan, kemudian kepedulian, kemudian perilaku hingga budaya. Nah, yang pertama kita akan bahas adalah mengenai pengetahuan tentang sampah. Pengetahuan tentang sampah, kita sudah tahu bahwa ada peraturan tentang pengelolaan sampah. Kemudian juga kita sudah tahu bahwa jenis sampah itu ada organik itu sisa-sisa makanan, sayuran, kemudian ada sampaan organik seperti plastik, kertas, karton, kaca, ee besi dan sebagainya. Nah, juga ada sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Nah, kemudian kita juga sudah tahu bahwa sampah itu berdampak ke lingkungan. pertama dampak ke pada kesehatan, kemudian dampak ke pencemaran air, kemudian dampak ke tanah dan udara. Nah, beberapa dampak terhadap pencemaran air misalnya sampah yang tidak terkelola dengan baik itu misalnya dibuang ke badan air, dibuang ke sungai, dibuang ke danau, dibuang ke laut. Nah, tentu akan menyebabkan pelepasan zas-zat berbahaya di perairan. Kemudian juga akan nanti menghalangi sinar matahari dan tentu menyebabkan kerusakan ekosistem air sehingga akan menimbulkan ee apa namanya? Akan menurunkan kualitas air dan menimbulkan masalah kesehatan sampai banjir. Nah, penyebab pencemaran air ee apa namanya? penyebab pencemaran air oleh sampah antara lain ada sampah anorganik seperti plastik yang tidak dapat terurai dengan baik di alam. Nah, ini akan terus bertumpuk di perairan karena tadi ada kita sudah bahas sebelumnya bahwa sampah yang tidak terkelola itu sebagian besar juga dibuang ke badan air. Nah, juga ada sampah organik. Nah, sampah organik ini yang paling banyak mulai dari limbah rumah tangga, sisa makanan, bahkan kotoran hewan yang jika dibuang ke air tentu akan membusuk dan menghabiskan oksigen yang dibutuhkan oleh organisme air. Nah, kemudian juga ada beberapa zat kimia. Nah, beberapa industri kan yang membuang langsung ee limbahnya ataupun sampahnya ke badan air ya yang tentu mengandung senyawa kimia yang berbahaya yang bisa juga menyebabkan pencemaran air dan juga tumpukan sampah nih. Sampah yang mengendap di sungai tentu bisa menyumbat aliran air hingga menyebabkan pendangkalan bahkan banjir di sekitar itu. Nah, juga ee akan menyebabkan pencemaran tanah maupun pencemaran udara. Nah, kita juga sudah tahu bahwa ada teknologi pengelolaan sampah mulai bagaimana kita mengurangi sampah, bagaimana kita memanfaatkan sampah, maupun ee bagaimana kita melakukan daur ulang sampah. Nah, tentu juga kita ee dengan membaca beapa literatur, melihat kehidupan sehari-hari, kita juga sebenarnya sudah memahami manfaat 3R itu. Namun ee pengetahuan tentu belum cukup, perlu transformasi ke tindakan nyata. Nah, ini yang sulit. Nah, tentu karena tantangannya sebagian masyarakat kita belum memahami pentingnya pengelolaan sampah, baik pengelolaan di sumber. Nah, ini yang apa namanya yang akan kita diskusikan sebenarnya. Bagaimana sih pengetahuan tentang sampah itu bisa mempengaruhi kepedulian kita, bagaimana bisa mempengaruhi ee perilaku kita sehari-hari dalam pengelolaan sampah. Nah, ini dasar hukum pengelolaan sampah di Indonesia sudah ada. Sejak tahun 2008 sudah ada e undang-undang tentang pengolahan sampah. Mulai dari kemudian peraturan turunannya ada PP81 tahun 2012, kemudian ada PP27 tahun 2020 tentang polan sampah spesifik, kemudian juga ada PRPR 97 tahun 2017 tentang kebijakan nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Nah, ini juga ada Perpres 83 eh tahun 2012 tentang pengelolaan sampah lau. Ada Perpres 35 tentang percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik. Kemudian ada Perpres 15 tentang percepatan pengendalian pencemaran kerusakan dan setar. Nah, ini di hulu sudah ada peraturan Menteri Lingkungan Hidup P75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen. Kemudian ada juga di masing-masing wilayah di provinsi maupun kabupaten kota sudah ada peraturan gubernur maupun peraturan bupati serta peraturan walikota tentang pembatasan timbulan sampah. Nah, di beberapa daerah juga e sudah ada peraturan bupati maupun peraturan walikota terkait pembatasan penggunaan sampah plastik sekali pakai. Nah, kemudian juga ada Permenel HK nomor 14 tahun 2021 tentang pengolahan sampah pada bank sampah. Juga ada SKB bersama ee Menteri dan Kapoldi tentang impor limbah non B3 dan sebagai bahan baku industri. Nah, juga sudah ada banyak sekali edaran gerakan pilah sampah dari rumah. Nah, ini juga di dihilir untuk peraturan-peraturan yang ee harus di menjadi rujukan oleh pemerintah daerah. Ini sebenarnya peraturan tentang pengolaan sampah sudah sangat banyak, sudah sangat kompleks, e komplit. Nah, tinggal bagaimana implementasinya di lapangan. Nah, ini beberapa faktor ee yang menjadi penyebab kurangnya pemahaman. Yang pertama tentu rendahnya kesadaran dan pengetahuan. Masyarakat umumnya kan belum mengetahui konsep dasar pengolahan sampah seperti pemilahan sampah organik, bagaimana memilah juga sampah anorganik, serta prinsip tadi eh 3 tadi redius, serius, dan recycle. Nah, kemudian yang kedua kebiasaan membuang sampah sembarangan. Nah, banyak masyarakat kita masih memiliki kebiasaan buruk membuang sampah langsung ke lingkungan. Dia melihat ada sungai. Nah, seperti juga ada di daerah ee saya pernah saya sering kami sering ke sana di daerah Maluku, Maluku Utara. Nah, di daerah-daerah lain juga sebenarnya berlaku seperti itu. Pada saat musim hujan, nah mereka berbondong-bondong tuh ke sungai karena dipikir ada aliran air ke laut pada saat hujan. Nah, sampah langsung dibuang ke situ sehingga otomatis daerah akan bersih seketika karena sampahnya tadi sudah dibawa ke ee ke laut melalui sungai tadi atau aliran air. Nah, ini yang harus juga menjadi perhatian kita bersama. Kemudian, nah, tentu kalau dibuang ee ke badan air tentu tadi akan menyebabkan pencemaran dan masalah kesehatan lainnya. Belum lagi kalau sampah yang dari dibuang di selokan kemudian mengalir ke kanal, mengalir ke sungai, mengalir ke laut tentu akan di apa namanya? Dimakan oleh ikan ee planton, ikan kecil, ikan besar. Kemudian nanti kita makan lagi. Nah, ini Indonesia sebenarnya sudah ter apa namanya? Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar ke ee kedua di dunia. Nah, ini aduh kalau mengingat ini jadi. Nah, yang ketiga adalah stigma negatif. Nah, masyarakat kita sebagian besar tidak mau melakukan kegiatan pengolahan sampah seperti pengomposan. Kemudian juga ada teknologi sekarang untuk pengolah sampah organik yaitu budidaya magot. Itu dianggap sebagai hal yang menjijikkan dan juga tidak menarik bagi sebagian masyarakat. Nah, kemudian yang keempat adalah kurangnya fasilitas dan infrastruktur. Nah, keterbatasan tempat sampah terpilah, kemudian fasilitas daur ulang, dan infrastruktur pengolahan sampah lainnya juga ee menghambat partisipasi masyarakat di dalam pengolahan sampah. Tapi beberapa daerah itu sebenarnya sudah banyak infrastruktur maupun fasilitas daur ulang yang dibangun oleh pemerintah. Nah, ini kembali lagi bagaimana kurangnya ee apa namanya pemahaman masyarakat, kurangnya pengetahuan SDM, maupun kurangnya dukungan dari pemerintah daerah sehingga beberapa fasilitas yang sudah dibangun itu ee tidak dapat beroperasi dengan optimal. Sebagai contoh, beberapa TPS3R itu sudah dibangun oleh Dinas PUPR. Saya enggak tahu apakah itu dibangun di daerah ataupun wilayah yang susah dijangkau atau seperti apa. Nah, yang terakhir juga ada keterbatasan edukasi dan sosialisasi. Nah, ini kurangnya sosialisasi dan pelatihan mengenai pengolahan sampah membuat masyarakat kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menerapkan pengelolaan sampah di sumber. Nah, yang kedua bagaimana tadi kita sudah punya pengetahuan. Nah, bagaimana dengan kepedulian kita? Nah, kepedulian masyarakat itu bervariasi. Ada yang peduli, ada yang abai. Nah, ini yang apa namanya? Ee mungkin kita bisa melihat lagi sebenarnya bagaimana pengetahuan kita itu bisa berkorelasi dengan tingkat kepedulian kita ee terhadap khususnya untuk pengolahan sampah. Nah, ini banyak dipengaruhi oleh pertama keluarga, kemudian ee dipengaruhi juga oleh tingkat pendidikan, dipengaruhi oleh komunitas, maupun dipengaruhi oleh fasilitas pemerintah. Nah, yang pertama dipengaruhi oleh keluarga. Nah, bagaimana anggota keluarga itu bisa mengajarkan maupun mencontohkan ee praktik pengolahan sampah yang baik sejak usia dini kepada anak-anak misalnya. Misal minimal dilakukan bagaimana cara memilah sampah dan bagaimana mengurangi penggunaan sampah plastik. Anak-anak kan bisa diajar misalnya dia menghasilkan sampah apakah bungkus snake, bungkus permen, itu dibuangnya di atau disimpannya di tempat yang khusus itu tidak dibuang di tempat sampah karena itu masih bisa dimanfaatkan. Kemudian bagaimana juga mengurangi penggunaan plastik. Mereka dari awal diajarkan untuk misalnya membawa tumblr atau botol minum sendiri yang bukan menjadi bukan ee apa namanya botol plastik yang setiap misalnya habis bisa beli lagi. Kemudian juga bagaimana kita bisa meningkatkan kesadaran ee untuk pengenalan masalah sampah sejak dini. Nah, yang kedua terkait dengan ee dipengaruhi juga kepedulian ini dipengaruhi oleh pendidikan. Nah, pengetahuan ee yang didapatkan melalui pendidikan formal maupun nonformal harusnya kan ee kan sudah mendapatkan pengetahuan tentang dampak negatif sampah, kemudian bagaimana pentingnya pengelolaan sampah yang benar termasuk misalnya bagaimana sih teknik pemilahan dan laur ulang itu sudah di dapatkan di pendidikan apa namanya formal maupun nonformal. Karena sekarang di Indonesia itu sudah dikembangkan semua namanya sekolah Adiwiata. Jadi ada sekolah Adiwiata kabupaten kota, ada sekolah Adiwiata tingkat provinsi, ada sekolah Adiwiata tingkat nasional, kemudian juga tidak ada sekolah Adiwiata mandiri yaitu pengenalan bagaimana pengelolaan sampah di tingkat pendidikan portal. Kemudian di komunitas juga sudah ee apa namanya ee kepedulian pengola terkait pengolahan sampah itu sudah dikembangkan mulai dari komunitas yang dapat ee mengorganisir kampanye maupun program edukasi untuk meningkatkan ee kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah. Nah, juga sudah banyak komunitas-komunitas yang berperan aktif di dalam program misalnya Jumat Bersih ataupun komunitas peduli lingkungan. Nah, ini beberapa komunitas yang mendorong perubahan perilaku secara ee apa namanya? Secara kolektif. Nah, bagaimana juga fasilitas pemerintah bisa mempengaruhi kepedulian kita terhadap pengolahan sampah. Nah, pemerintahan kan wajib menyediakan infrastruktur, kemudian wajib mengembangkan peraturan baik ee serta insentif maupun disisentif. Nah, kemudian pemerintah juga wajib untuk melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana pengolahan sampah. Nah, ini memang menjadi tugas dan tanggung jawab ee kami di mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, kemudian teman-teman di Dinas Lingkuan Hidup Provinsi maupun kabupaten kota. Nah, kemudian bagaimana kepedulian itu juga menentukan aksi nyata kita. Bagaimana kita membilas sampah, bagaimana kita mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Nah, tentu faktor pendorongnya adalah ee adanya kesadaran lingkungan. Kemudian tadi juga dari komunitas-komunitas itu yang bergabung dengan komunitas tentu juga akan berperilaku sama dengan apa yang dilakukan oleh komunitas. Nah, bagaimana juga kebijakan pemerintah tentu berpengaruh di dalam mendorong ee kepedulian. Misalnya pemerintah sudah menetapkan ee peraturan tentang pembatasan sampah plastik dan melakukan pengawasan. Nah, tanpa kepedulian tentu pengetahuan yang sudah kita miliki tidak akan terimplementasi. Nah, tadi yang sudah kita highlight bahwa program kepedulian sampah harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Nah, pengenalan ini menjadi kunci keberhasilan di dalam upaya kita dalam melakukan pengendalian dan pengolahan sampah. Nah, ini bisa kita ajarkan mulai melakukan pemilahan sampah. Pemilah pemilahan sampah mulai dari rumah. Sampah organik misalnya sisa makanan, kulit buah, ranting daun itu bisa kita jadikan kompos. Kemudian sisa kulit buah juga kita bisa jadikan ekoenzim. Kemudian rantingan daunan itu bisa menjadi makanan ternak. Termasuk sisa makanan juga bisa menjadi ee apa namanya? makanan ternak. Kemudian pengembangan budidaya eh magot black solder play. Nah, kemudian bagaimana sampahan organik ini? Sampah kertas, plastik, kaca, kaleng, besi, dan sebagainya itu kita bawa ke bank sampah. Nah, kemudian ada juga sampah spesifik. Jadi sampai mengandung bahan berbahaya dan beracun yang sering kita hasilkan di rumah di kantor itu ada baterai bekas, kemudian lampu TL, tinta printer, kemudian juga cairan dan perbersih maupun ada limbah medis di rumah sakit maupun puskesmas. Nah, sampah jenis ini tentu harus dipilah dan dikumpulkan di dalam satu wadah. Kalau misalnya baterai bekas ini sudah ada ee apa namanya? penanganan dan program dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyiapkan pemerintah daerah berkewajiban untuk menyiapkan namanya Dropbox. Jadi, sampah baterai bekas ini di apa? Disimpan di dropbox. Nah, kemudian termasuk juga limbah medis ini harus diserahkan kepada pihak ketiga yang memiliki izin. Jadi, sekarang ini di semua Puskesmas ee kami di kementerian maupun teman-teman di provinsi maupun kabupaten kota sudah sering melakukan ee pemantauan dan pengawasan ee terkait pengelolaan limbah medis di rumah sakit dan puskesmas. Jadi mereka diwajibkan untuk ee menyerahkan limbah medisnya itu kepada pihak ketiga yang berizin dan nanti selanjutnya akan diolah di tempat pemusnahan maupun pengelolaan limbah B3. Nah, kemudian yang selanjutnya adalah bagaimana perilaku. Nah, tadi kita sudah ada pengetahuan, kemudian sudah ada kepedulian. Nah, bagaimana itu bisa merubah perilaku kita. Nah, perilaku negatif seperti buang sampah sembarangan, kemudian ee konsumsi plastik yang berlebihan, kemudian tidak melakukan pemilahan sampah hingga membakar sampah. Nah, itu adalah beberapa perilaku negatif. Nah, kemudian perilaku positif misalnya membawa wadah sendiri, misalnya mau membeli makanan, mau ee apa namanya? Membawa makanan ke kantor, ke sekolah, itu membawa wadah sendiri ataupun juga berbelanja ke pasar atau swalaya itu bisa membawa wadah sendiri. Kemudian memilah sampah. Sampah yang sudah terlanjur dihasilkan itu masih bisa dipilah karena pertama masih bisa dimanfaatkan kembali, masih punya nilai jua ataupun masih di bisa didaur ulang. Misalnya sampah sisa makannya didaur ulang menjadi kompos dan sebagainya. Kemudian kita juga bisa mendukung bank sampah. Jadi sampah yang sudah dipilah tadi sampah anorganik sudah dipilah misalnya kertas, kaleng, ee karton, plastik itu bisa dibawa ke bank sampah. Nah, ini tidak semua yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik akan memiliki perilaku pengelolaan sampah yang baik. Nah, itu kita bisa diskusikan nanti kenapa bisa seperti itu. Nah, ini sudah ada perubahan paradigma pengolahan sampah mulai dari N of Pipe Solution kemudian dikembangkan menjadi 3R tadi. Nah, sekarang lagi sudah dikembangkan menjadi extended producer responsibility dan circular ekonomi. Nah, ini eh sebenarnya semua industri sudah wajib bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Kemudian juga ada sirkul ekonomi. Bagaimana tadi sampah yang kita hasilkan ee masih mempunyai nilai jual, artinya masih sebagai sumber ee sumber daya itu bisa dibawa ke bank sampah yang nanti akan dihitung atau dihargai dengan uang sesuai dengan harga yang berlaku terhadap sampah tersebut. Nah, inilah sircular ekonomi. Artinya sampah yang dihasilkan bisa dijual kembali, bisa didaur ulang dan akan menjadi barang baru yang bisa dimanfaatkan kembali. Nah, dengan adanya IPR dan ee sirkular ekonomi tentu akan mengurangi beban pencemar dari dari sampah. Kemudian juga adanya perilaku minim sampah. Kemudian mengurangi sampah di sumber, kemudian sampah dianggap sebagai sumber daya sehingga kita bisa melakukan efisiensi sumber daya dan kita juga bisa membatasi eksploitasi sumber daya. Nah, dengan menerapkan ini PR dan sirkular ekonomi kita harapkan bahwa kegiatan ee apa namanya pengolahan sampah di TPA bisa menjadi hierarki yang paling rendah mengingat dampaknya tadi terhadap lingkungan hidup maupun kesehatan manusia. Jadi ee kita lihat piramida ini 3R merupakan bagian utama dari hierarki pengolahan sampah. Nah, dari aspek ee lingkungan, kegiatan pencegahan dan pembatan sampah itu yang memiliki hierarki yang paling tinggi. Artinya sampah di sumber itu kita sudah kelola sehingga tidak ada lagi atau sedikit tinggal sampah residu yang akan kita bawa ke TPA. Nah, ini juga ada skenario Netheral Mission eh tahun 2000 pasca 2030 terkait subsektor sampah. ee yang pertama bagaimana kita mengurangi kebijakan mengurangi sampah yang masuk ke landfield atau sampai masuk ke TPA. Kemudian yang kedua ada pembatasan plastik sekali pakai. Jadi kantong plastik, kresek, kemudian sedotan plastik, alat makan dari plastik, kemudian juga yang terutama adalah sterofor. Itu ee sudah harus kita batasi karena tadi ee kesulitan dan ee apa namanya untuk mengurai itu memerlukan waktu yang lama. Kemudian kita menerapkan gaya hidup minim sampah. tadi nanti melalui cegah sampah plastik sekali pakai kita tidak berbelanja lagi, kita berbelanja lagi tanpa kemasan, kemudian menghabiskan makanan, kemudian kita pilah sampah dari rumah dan kita komposkan sisa makanan di rumah. Nah, diharapkan nanti recycling rate eh sampah sampah kertas, sampah plastik, sampah logam, karet, dan sampah tekstil itu capai 75 sampai 100%. Nah, juga ada teknologi pengolahan sampah dan melalui teknologi RDF tadi sebagai bahan baku pendamping, bahan bakar pendamping di toko firing dari Batara. Kemudian ada pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Kemudian ada melalui pengomposan maupun melalui budidaya magot atau BSN. Nah, kita juga bagaimana perilaku tadi juga akan mempengaruhi budaya. Nah, budaya konstruktif ini memicu peningkatan timbulan sampah. Nah, kita lihat sekarang di mana serba instan, kemudian serba online. Nah, orang-orang itu melakukan ee pembelian ee apa barang misalnya di online itu kan sudah di apa dikemas dalam plastik sehingga ini tentu juga akan meningkatkan timbulan sampah plastik. Nah, juga bagaimana ee apa namanya kegiatan modernisasi membuat wilayah bersih semakin menurun. Ini nanti juga kita bisa diskusikan bersama. Kemudian ee juga budaya gotongroyong yang kuat di dalam menjaga kebersihan lingkungan misalnya kerja bati, kemudian pengumpulan pemilahan, pengolahan sampah secara kolektif itu juga sudah ee apa namanya? Sudah sangat berkurang. Kemudian bagaimana pemerintah menerapkan jadwal konsisten untuk melakukan pengangkutan sampah. kemudian membangun kesadaran kolektif masyarakat hingga membangun kemitraan dan solidaritas. Nah, oleh karena itu budaya baru yang perlu kita bangun sekarang adalah malu buang sampah sembarangan. Kita harus bangga kalau kita sudah melakukan pemilahan, kita harus bangga kalau kita melakukan darur ulang, maupun kita harus bangga bahwa kita sudah melakukan konsumsi secara bijak. Nah, bagaimana transformasi budaya itu konsumtif? Kita sudah budaya konsumtif kita jadikan budaya yang produktif. Kemudian budaya yang membuang sampah sembarangan atau membuang sampah begitu saja tanpa dikelola kita jadikan ee sebagai budaya untuk melakukan pengelolaan dan memanfaatkan. Budaya ini diharapkan nanti bisa memupuk rasa tanggung jawab bersama, solidaritas, maupun kepedulian terhadap lingkungan yang pada akhirnya akan menciptakan lingkungan hidup yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi kita semua. Nah, bagaimana integrasi pengetahuan, kepedulian, perilaku, dan budaya. Nah, pengetahuan misalnya edukasi lingkungan. Bagaimana kita mengajarkan masyarakat tentang pentingnya pengolahan sampah, dampak negatif dari sampah, cara-cara efektif dalam mengurangi ee ee sampah menggunakan kembali maupun melakukan daur ulang sampah melalui 3R. Kemudian juga kita harus selalu melakukan sosialisasi program baik dari kegiatan komunitas peduli lingkungan melalui bank sampah itu untuk menyebarkan berbagai informasi dan pengetahuan. Kemudian ee bagaimana kepedulian itu kita bangun melalui motivasi internal. Jadi kita membentuk sendiri rasa tanggung jawab dan kepedulian kita terhadap lingkungan. Bisa kita tingkatkan melalui peningkatan nilai-nilai spiritual. Misalnya di ajaran Islam kita kita sudah diajarkan untuk menekankan kebersihan dan bagaimana kita bisa merawat tanaman. Sudah ada dalam berapa surah di dalam Al-Qur'an maupun hadis-hadis sahih. Nah, kemudian bagaimana peran komunitas? Jadi, bagaimana membangun komunitas atau grup yang peduli lingkungan untuk ee apa namanya? Memperkuat monipasi kolektif kita di dalam menjaga kebersihan dan melakukan pengolahan sampah. Nah, yang ketiga, bagaimana perilaku kita itu kita integrasikan di dalam pengolahan sampah. Yang pertama kita membentuk ee pembiasaan. Jadi, mari kita mendorong perilaku milah sampah mulai dari rumah, kemudian di sekolah, di tempat kerja kita juga melalui praktik langsung. Seperti kita melakukan komposting di rumah, sisa-sisa makanan bisa kita kompos ataupun kita bisa membuat ekoenzim. kemudian membuang sampah pada tempatnya atau tempat sampah yang terpilah. Jadi di rumah bisa kita siapkan minimal dua jenis tempat sampah, tempat sampah organik maupun anorganik. Anorganik ini pun mungkin lebih baik juga kita pisahkan sampah botol ee taruh wada sendiri, sampah plastik botol plastik taruh wada sendiri, kaleng taruh sendiri, kertas juga taruh ada sendiri. Demikian juga di tempat kerja. Sisa-sisa makanan bisa kita kumpulkan. Kemudian ee kalau saya pribadi misalnya saya dikasih nasi kotak. Nah, kotak itu saya bersihkan, nasinya saya taruh di piring. Kotak itu saya lipat lagi untuk nanti saya kumpulkan dan saya bawa ke bank sampah. Nah, kemudian bagaimana perilaku itu melalui partisipasi aktif. Misalnya kita mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pengolahan sampah. minimal masyarakat misalnya di sekitar kita, di lingkungan kita, tetangga-tetangga kita, majelis taklim ee itu bisa kita ajak untuk terlibat aktif di dalam pengolahan sampah. Kemudian kita bisa mengikuti kerja bakti. Kerja bakti juga nanti bagaimana pengolahan sampahnya. Misalnya sampah yang kita sudah kerja bakti, ada banyak sampah organik, kita bisa buat kompos. Kemudian sampah-sampah organik itu bisa kita kumpulkan. Apakah kita akan sedekahkan ke pemulu, apakah kita akan bawa ke bank sampah itu sehingga dan kemudian juga kita berpartisipasi di dalam program daur ulang. Nah, program daur ulang bagaimana sampah yang kita sudah pilah tadi dibawa ke bank sampah untuk selanjutnya nanti akan dibawa ke industri daur ulang. Nah, kemudian bagaimana budaya? Nah, ada norma sosial itu bagaimana membangun norma sosial yang positif terhadap pengolahan sampah. Jadi masyarakat bisa secara kolektif pada peraturan dan bertanggung jawab terhadap sampai yang dihasilkan. Nah, ini juga tidak terlepas dari peran pemerintah untuk melakukan penegakan aturan. Nah, kemudian juga bisa diintegrasikan dengan tradisi lokal. Jadi, masukkan praktik pengolahan sampah di dalam ee kebiasaan dan tradisi lokal. Misalnya ee ada kerja sama antara ee sekolah dan orang tua di dalam program peduli lingkungan. ada banyak jenis ee apa namanya kerjaasama-kerjaasama yang bisa kita praktikkan di dalam pengelolaan sampah. Ee juga bagaimana kita membangun ee budaya ekonomi sirkular. Jadi tadi sampah yang masih punya sumber daya bisa kita bawa ee ke bank sampah untuk di apa namanya? dilakukan dijual. Kemudian nanti bank sampah akan membawanya ke industri daur ulang sehingga itu ee sampah tadi akanur ulang sehingga mempunyai lagi nilai yang baru untuk barang baru. Nah, kemudian ini beberapa ee budaya yang bisa kita lakukan mulai dari rumah. Jadi, kita minim sampah dan pilah sampah dari sumber. Jadi, kita mulai dari hal kecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang. Nah, ini pengurangan sampah di rumah melalui kita cegah sampah, kita pilah sampah, dan kita olah sampah. Nah, di rumah kita terapkan gaya hidup minim sampah. Kalaupun kita sudah menghasilkan sampah, sampah anorganik tadi bisa kita bawa ke bank sampah untuk dijadikan daur didaur ulang. Kemudian sampah sisa makanan bisa kita lakukan pengomposan melalui komposter takakura misalnya melalui ee budede magot. kemudian kita berikan sebagai pakan ternak. Nah, bisa juga kita membuat ekoenzim. Nah, nanti kita lihat ekoensi seperti apa. Nah, bisa juga kita isi di dalam biopori. Nah, daerah-daerah yang sering tergenang pada saat musim hujan itu sangat bagus untuk membuat biopori. Nah, sampah yang tadi di daur ulang sampah plastik, kertas, kaleng, e kaca itu nanti bisa kita sedekahkan ke pemulungkah atau kita bawa ke TPS 3R atau kita bawa ke bank sampah. Nah, ini pilah sampah dari rumah. Jadi tadi sampah organik, sisa makanan ee kita bisa buat kompos, kemudian kulit buah dan sayur itu kita bisa buat ekoenzim. Nah, bisa juga kita sisa makanan itu diberikan untuk makanan ternak. Itu ada banyak cara untuk kita mengelola sampah di rumah tanpa harus dibuang ke tempat sampah. Nah, sampah anorganik tadi sampah, kertas, plastik, kaca, kaleng bisa kita bawa ke bank sampah untuk dibawa. Selanjutnya nanti akan dibawa ke industri daur ulang. Nah, ini tadi sampah spesifik. Nah, ini mengompos dari rumah ini kompos di mengompos dari rumah itu adalah kegiatan yang sangat mengasikkan bagi orang yang mempunyai hobi untuk itu. Nah, kita dengan mengompos kita sudah berpartisipasi di dalam target penurunan emisi GRK dari sektor limbah domestik. Nah, kemudian itu mengompos juga itu mudah bagi orang yang mempunyai kepedulian, sudah punya pengetahuan, punya kepedulian, punya perilaku untuk melakukan pengolahan sampah. Nah, ini juga bisa kita menabung di bank sampah untuk mendukung sirkular ekonomi. Nah, kita juga bisa melakukan pembatasan mencegah sampah kita di kantor. Jadi, misalnya penyediaan pada saat rapat ataupun ee ada kegiatan-kegiatan kantor tidak lagi menyadi ee menyiapkan botol plastik, tapi menyiapkan ee gelas, kemudian ada ee jar atau teko. Kemudian bisa juga kita menyiapkan gelas dan menyiapkan dispenser sehingga kita tidak lagi menggunakan ee apa namanya botol plastik, kita tidak lagi menggunakan sedotan plastik, kita tidak menggunakan lagi kemasan plastik, tapi kita membawa gelas atau tumbler yang bisa langsung diisi ulang. Nah, juga bisa kita ee sekarang sudah apa namanya? Sudah banyak berkembang penggunaan tas belanja. Jadi tas kain. Kemudian juga di kantor kita bisa menggunakan dua sisi kertas. Kalau misalnya kertas kita sudah pakai ngprint di halaman pertama, dibaliknya lagi bisa kita gunakan dan sebagainya. Nah, ini kita bisa mengembangkan gaya hidup minim sampah mulai di rumah. Jadi, bagaimana kita mencegah sampah mulai belanja tanpa kemasan. Nah, ini yang ketiga paling penting. Habiskan makanan. Karena seringki kita pada saat ee ada apa namanya? menghadiri kondangan ada atau ada acara itu seringki kita lapar mata. Jadi ngambil makanan banyak karena pengin makan ini, pengin makan itu. Tapi setelah diambil jadinya kenyang kenyang. Jadi tentu ee apa namanya? Makanan kita tidak kita habiskan. Nah, ini bagaimana kita mulai dari sekarang secara sadar kemudian sedikit mungkin kita menghasilkan sampah. Nah, ini kita mencegah sampah kurangi. Kita berpikir kembali kalau akan melakukan ee apa namanya? Pembelian barang ya. Tidak. Jadi kita kurangi dengan tidak menggunakan lagi wadah ee sekali pakai ataupun ee misalnya plastik sekali pakai. Nah, lebih bagus kita menggunakan kembali wadah-wadah yang bisa kita gunakan ulang. Nah, ini juga kita mulai belanja tanpa kemasan. Jadi kita bisa belanja di ee sekarang sudah banyak dikembangkan, sudah banyak ee apa namanya? BKS store menyediakan ee barang-barang yang bisa kita beli untuk dengan isi ulang ini. Habiskan sisa makanan. Nah, ini praktik-praktik. Jadi, saya berpendapat dan saya berprinsip bahwa saya tidak akan menyampaikan sesuatu yang tidak saya lakukan. Jadi di rumah saya sudah membuat ee kompos yang saya aplikasikan ke tanaman-tanaman yang ada di ee rumah. Ini gambar ini baru tadi pagi saya ambil. Ini kok sebelah kiri atas saya baru membuat lagi ekoenzim dan saya menyimpan pada saat sudah dipanen setelah 3 bulan saya taruh di botol-botol kecil. Jadi saya suka memberikan orang-orang yang perlu ekoenzim akan saya berikan secara gratis. Kalaupun misalnya saya ke kami ke menghadiri acara atau ada pembinaan itu saya bawa beberapa botol ekenzim dan nanti setelah memberikan apa namanya memberikan sosialisasi terkait ekenzim. Nah, botol-botol inilah saya bagikan ke ee orang-orang yang sudah kami fasilitasi. Nah, ini juga sampah plastik misalnya ee bekas ee kemasan snack, ee obat, permen, dan sebagainya itu tidak dibuang. Jadi bisa kita ajarkan anak-anak kita untuk misalnya melakukan ee kegiatan yang asyik ini ee kemasan-kemasan ini kita gunting-gunting kecil kemudian masukkan di dalam wadah botol. Nanti setelah botol ini penuh dengan kepadatan tertentu bisa kita apa namanya? Kita bisa ee jadikan sebagai ee apa namanya? tempat duduk ataupun meja. Nah, ini juga sampah-sampah yang ada di rumah kita bilah sampah kertas, kaleng, ee karton kita kumpulkan untuk kemudian kita bawa ke bank sampah. Nah, di kantor kami juga sudah ada bank sampah dengan ee nasabah semua pegawai-pegawai yang ada di karyawan yang ada di kantor kami. Nah, ini bagaimana strategi perubahannya. Jadi perlu edukasi yang berkelanjutan mulai di sekolah, kemudian di kampanye publik, kemudian ini yang paling penting sekarang adalah media sosial, kemudian juga penyediaan fasilitas seperti fasilitas TPS3R, kemudian ada bank sampah maupun dropin. Kemudian yang paling penting adalah penguatan regulasi dan penegakan hukum. meskipun kita sudah ee memberikan sosialisasi, sudah memberikan pendampingan, kalau tidak ada penguatan regulasi itu ee ya masyarakat kita memang seperti itu. Kemudian juga ada insentif bagi masyarakat maupun industri yang ramah lingkungan. Kemudian juga yang ee harus berperan adalah tokoh masyarakat dan semua komunitas-komunitas yang ber apa namanya? berkontribusi dalam program ee kepedulian terhadap lingkungan. Nah, ini tantangan kita yang paling pertama adalah rendahnya partisipasi masyarakat. Nah, kita lihat tadi dari awal bahwa sampah yang terkelola itu hanya sekitar ee di bawah 50%. Nah, itu apa? Karena rendahnya partisipasi masyarakat. Kemudian juga ada keterbatasan sarana dan prasarana. Kemudian lemahnya penegakan hukum dan perbedaan budaya serta tingkat pendidikan. Ada beberapa solusi dan strategi kita lakukan kampanye. Kemudian juga apa namanya pengembangan kurikulum sekolah dengan memasukkan ee kurikulum terkait pengelolaan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Nah, juga ada kolaborasi multipihak bahwa pemerintah tidak bisa sendiri untuk melakukan penanggulangan pengolahan sampah. tentu harus ada keterlibatan aktif dari swasta maupun masyarakat. Nah, juga penguatan regulasi tadi, sanksi, insentif, maupun ada aturan tentang pembatasan ee penggunaan plastik sekali pakai. Nah, juga perlu dikembangkan budaya ramah lingkungan tadi yaitu budaya, gaya hidup, minim sampah, serta ee penerapan teknologi dan inovasi untuk pengelolaan sampah misalnya melalui bank sampah, kemudian tadi waste to energi RDF, maupun pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot. Nah, kesimpulannya adalah bahwa ee sampah adalah persoalan multidimensi. Itu terkait dengan pengetahuan kita. Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa menjadi ee berimplementasi terhadap kepedulian kita dan juga lagi terimplementasi di dalam perilaku kita sehingga akan membentuk budaya untuk ee melakukan pengelolaan sampah. Nah, juga ee perubahan perilaku tadi dan budaya adalah kunci sehingga tentu dibutuhkan sinergi antara individu itu sendiri, masyarakat, kemudian komunitas, dan pemerintah. Nah, penutup ee ee bahwa sampah bukan hanya masalah teknis tapi juga masalah ee tadi perilaku dan budaya. Pengetahuan dan kepedulian tanpa perilaku nyata itu tidak cukup. Dibutuhkan perubahan budaya secara kolektif. demi lingkungan hidup yang bersih dan berkelanjutan. Nah, terima kasih ya Mbak Dini. Mungkin ee ini pemaparan ee kami. Nanti mungkin kita bisa kembangkan lagi pada saat diskusi nanti. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kepada Bu Najhah atas pemaparan materinya yang sangat informatif dan membuka wawasan kita. Dan kita juga sudah mendengarkan ya, Bapak dan Ibu semuanya penjelasan yang komprehensif tadi dimulai dengan dasar hukum pengelolaan sampah di Indonesia, kemudian bagaimana integrasi antara pengetahuan, perilaku kepedulian dan budaya dalam pengolahan sampah. Dan baik Bapak Ibu di sini kita akan lanjutkan pada sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slido. Mohon ditunggu Bapak Ibu, saya akan membuka terlebih dahulu. Di sini kami sudah merangkum terdapat 10 pertanyaan dari aplikasi Saidul. Mungkin kepada Bu Najhah bisa langsung saja dijawab satu persatu, Bu. Iya. Makasih, Mbak Dini. Jadi yang pertama, bagaimana peran budaya lokal dapat menjadi penguat atau malah menjadi penghambat di dalam pembentukan perilaku peduli sampah. Nah, ee budaya lokal sebenarnya ee pada dasarnya semua itu ee suka akan kebersihan gitu. Nah, ini sebenarnya menjadi faktor penguat kita. Kemudian bagaimana juga orang-orang yang budaya itu sebenarnya bisa kita bentuk dari tadi pengetahuan yang sudah kita miliki. Kemudian bagaimana pengetahuan itu bisa bertransformasi dalam kepedulian kita kemudian sampai perilaku kita sehingga nanti akan membentuk budaya sendiri. Budaya budaya yang untuk selalu hidup bersih kemudian mau melakukan pengolan sampar. Kemudian yang kedua, pendekatan terbaik di rumah tangga untuk merealisasikan pengetahuan terkait pengolahan sampah, terutama untuk ee reduce itu mengurangi. Kemudian reuse kan refuse-nya reuse. Jadi di mana sampah yang kita hasilkan atau barang-barang yang kita hasilkan yang sudah tidak terpakai itu bisa kita manfaatkan kembali. Misalnya seperti tadi saya ee sampaikan bahwa sampah di rumah itu kan misalnya ee ada sisa-sisa makanan, kemudian ee sisa sayur, sisa kulit buah itu kita bisa manfaatkan menjadi ekoenzim. Ekoenzim ini adalah cairan sejuta manfaat. Nah, saya sudah ee kami sering mempraktikkan itu saya dan oko enzim yang saya buat kan ini memang perlu e perlu ke kesabaran menunggu karena ekoenzim ini nanti 3 bulan baru baru bisa kita panen. Nah, ekoenzim ini di rumah saya gunakan untuk mengepel. Kemudian saya masukkan di mesin cuci untuk ee mencuci pakaian meskipun saya tetap masih memakai deterjen itu hasilnya baju menjadi bersih. Kemudian sampah yang apa ee lantai yang sudah kita pel menggunakan cairan ekoenzim itu ee jadi enak diinjak jadi keset. Kemudian pokoknya enaklah gitu. Kemudian cairankoenzim bisa kita gunakan untuk campuran shampo itu mengatasi ketombe bisa kita gunakan untuk toner di muka bisa kita ee itu saya sering juga gunakan toner ee dari ekoenzim itu kita campur air dengan perbandingan tertentu dengan ekenzim. Kemudian kita jadikan kita usapkan di wajah itu menghilangkan minyak dan mengobati jerawat. Ada banyak hal-hal yang bisa kita lakukan di rumah dari sampah yang kita hasilkan. sampai sisa makanan bikin kompos. Kompos yang sederhana saja. Siapkan wadah misalnya bot atau kaleng bekas atau e kaleng cat apa ee wadah cat bekas. Lubangi bawahnya kasih isi tanah. Kemudian taruh sampai sisa makanan dengan terlebih dahulu kita tiriskan. Jadi jangan berair masukkan di situ. Kemudian tutup lagi dengan tanah. Begitu seterusnya sampai penuh kita tutup. Simpan siram setiap ee berapa hari dengan air beras juga ee yang kita hasilkan di rumah. simpan berapa lama itu akan menjadi kompos dan siap untuk kita jadikan lagi media tanam seperti itu. Kemudian ee sampah-sampah plastik yang masih bisa dijual, bisa dimanfaatkan kembali itu ee simpan pilah kemudian bawa ke bank sampah. Itu kan bisa menjadi uang atau mau kita sedekahkan ke pemulung juga boleh. Itu jadi kita harapkan bahwa sampah hanya sampah residu. Residu itu seperti apa? Misalnya ada sterofor. Teropom itu kan belum belum banyak teknologi yang bisa melakukan apa namanya pengolahan serofor yang kita kumpulkan dari rumah itu bisa di di apa namanya dibuang nanti dibawa ke bank sampah apa ke TPA termasuk bekas tisu bekas popok bekas hanya itu sampah residu yang bisa kita buang untuk selanjutnya dibawa ke TPH ataupun mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi oleh mungkin ada teknologi lain nantinya bisa manfaatkan misalnya popok tadi kemudian jadi sampai sisa makan makanan tidak kita buang lagi karena sisa makanan ini yang paling berpotensi untuk menghasilkan gas metan yang penyebab salah satu ee emisi GRK yang menyebabkan perubahan ee iklim seperti itu. Nah, kemudian bagaimana cara mewujudkan pulau Zeroes yang berkelanjutan di kepulauan dan kearifan lokal, inovasi dan kolaborasi. Nah, di pulau yang menjadi kendala memang ee pertama misalnya mereka sudah mengumpulkan sampah plastik, sampah anorganik, sampah plastik, sampah kaleng, sampah ee kertas dan sebagainya. Nah, itu ee ada beberapa pulau juga yang ee punya ee apa namanya? Bank sampah. Jadi bisa kita bawa ke bank sampah. Kemudian nanti dengan jumlah tertentu itu kita bisa bekerja sama dengan pengepul atau bank sampah induk yang akan menjemput nanti ke pulau. Kemudian itu sampah organik. Kalau sampah organik seperti tadi bisa kita buat kompos. Jadi bisa di kompos itu kita bisa manfaatkan lagi. Kemudian ee apa namanya? Ee di pulau juga kan banyak yang melakukan budidaya ikan ikan ikan air tawar. Nah, itu tadi ee ekoenzim bisa kita manfaatkan untuk ee apa namanya? Kita ee siramkan atau campurkan di kolam ikan itu akan membuat ikan menjadi apa namanya ee menjadi sehat, air juga menjadi jernih. Nah, kemudian ee bagaimana inovasi, kemudian kolaborasi. Nah, memang itu memang kolaborasi yang paling penting kita lakukan karena meskipun masyarakat sudah melakukan upaya-upaya untuk melakukan pengolahan sampah, kalau tidak ada kolaborasi, tidak ada dukungan dari beberapa pihak, tentu mereka juga tidak akan bisa menyelesaikan itu. Nah, seperti tadi bahwa mereka apabila sudah ee pertama dulu kita bentuk bank sampah unit di sana sehing dan nanti bank sampah induk yang akan melakukan pembinaan hingga ee melakukan ee apa namanya sampah-sampah yang sudah mereka kumpulkan nanti akan diambil oleh bank sampah induk. Kemudian ee sampah di daerah kami selama ini menumpuk di TPS atau TPA. alat apa yang bisa dipakai agar tidak terjadi penumpukan sampah di TPS di TPA yang ramah lingkungan. Nah, sekarang sudah dikembangkan ee apa namanya beberapa daerah itu pengelolaan sampahnya sebelum dibawa ke TPA mereka membawanya dulu ke TPS3R. Jadi TPS3R itu di situ dilakukan ee pemilahan kemudian sampai masih bisa dimanfaatkan ee akan dikumpulkan dipilah dan nanti apakah dibawa ke bank sampah apakah di akan dijual ke pengepul. Kemudian di TPS3R juga ada namanya pengomposan. Jadi sampah organik itu akan dibuat kompos. Nah, yang paling penting sebenarnya untuk memaksimalkan ee apa namanya? memaksimalkan ee fasilitas TPS3R itu adalah adanya pemilihan dari sumber. Pemilihan dari sumber ya tadi pemilihan di rumah. Jadi misalnya kita tidak sempat melakukan pengolahan sampah sendiri di rumah tapi minimal dipilah sampah organik itu dikumpulkan sendiri dibawa ke TPS3R yang melakukan ee pengomposan. Kemudian sampah organik juga dipilah sendiri untuk dibawa ke TPS3R yang akan melakukan apa namanya ee pemilahan dan ee membawanya ke industri daur ulang seperti itu. Jadi tidak semua sampah itu akan dibawa ke TPA karena ee apalagi nanti 2030 sudah akan dilakukan moratorium TPA, tidak ada lagi pembangunan TPA. Nah, TPA yang sekarang saja sudah sebagian besar sudah over capacity. Jadi inilah ee pemerintah sekarang sudah ee mengembangkan, sudah berusaha mengembangkan dan memfasilitasi ee beberapa teknologi inovasi untuk pengolahan sampah. Tadi saya sampaikan ada teknologi RDF itu mengolah sampah ee untuk menjadi bahan baku pendamping atau kfiring eh batu bara. Jadi menjadi bahan bakar untuk industri semen. Kemudian juga ee ada namanya tip ee apa namanya? waste to energy. Jadi, pengolahan sampah untuk ee nanti akan dihasilkan menjadi energi listrik. Nah, seperti itu. Jadi yang pertama tadi agar tidak terjadi penumpukan sampah di TPS ya memang harus diolah di sumber, harus dikelola di sumber dan itu kita tidak bisa menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk itu. Tidak. Karena kita punya tugas atau tanggung jawab untuk mengolah sampah kita sendiri di sumber. Jadi semua orang apakah masyarakat itu kan bukan hanya masyarakat pada umumnya tapi kita semua adalah masyarakat kita mau dari kita pegawai kita seorang ee karyawan, dosen segala kita adalah masyarakat. Jadi semua harus melakukan pengolahan sampah di rumah di sampah yang dihasilkan harus dikelola sebelum dibawa ke TPS hingga ke TPA. sehingga diharapkan nanti dengan pengelolaan sampah di sumber diharapkan bahwa sampah ke TPA sudah ee berkurang karena memang sekarang aturan dari Undang-Undang Nomor 18 bahwa sampah yang dibawa ke TPA itu sebenarnya hanya residu, tidak bisa dimanfaatkan lagi. Nah, bagaimana peluang ekonomi dari pengolahan sampah yang setiap tahun itu tadi yang tahun 2023 sebesar 56,63 juta ton. Nah, ini tadi yang saya katakan bahwa sampah itu kalau dikelola di sumber ini sampah kan sekarang kita jangan ber seperti tadi NO5 sekarang adalah sampah ee sudah ber apa namanya paradigma itu sirkular ekonomi artinya sampah itu kita anggap masih mempunyai nilai jual masih sebagai sumber daya. Jadi sampah yang ini 56,63 juta ton. Kalau itu dikelola di sumber, kemudian dikelola di fasilitas MRF, dikelola di bank sampah, dikelola di TPS3R, dikelola di TPST, maka peluang ekonomi itu sangat banyak. Karena sekarang beberapa industri ee kami contohkan industri daur ulang yang ada di Kota Makassar. Kami pernah mengunjungi beberapa industri daur ulang. Mereka mengatakan, "Bu, kapasitas ee kapasitas produksi kami itu sebenarnya 10 tahun per hari, tapi paling tinggi kami dapatkan bahan baku itu hanya 5 tahun. Itu pun hanya sekali sekali dalam beberapa bulan. Nah, ini kan peluang besar. Peluang besar bahwa masih ada sekitar 8 5 sampai 8 ton kebutuhan industri setiap hari yang berasal dari sampah yang tidak kita kelola hanya dibuang ke TPS, hanya dibuang ke TPA." itu sebenarnya masih punya nilai jual. Yang penting kita mau melakukan kita semua harus berkolaborasi baik masyarakat, pemerintah, dunia usaha semua harus berkolaborasi. Pemerintah tadi menyiapkan fasilitas untuk ee pemilihan sampah maupun daur ulang. Kemudian masyarakat mengolah sampahnya dari rumah. Kemudian swasta juga harus berkontribusi untuk membantu. Minimal misalnya industri-industri jasa, industri manufaktur itu mengelola sampahnya sendiri. Kemudian kalaupun dia tidak mengolah sampahnya, tetapi minimal bisa memberikan bantuan untuk fasilitas pengolahan sampah, bisa memberikan bantuan untuk melakukan sosialisasi, edukasi, pendampingan, dan sebagainya. Sehingga sampai yang 56 juta ton per tahun ini kita bisa maksimalkan pengolan, kita bisa optimalkan pemanfaatannya sehingga semua tidak dibuang ke TPA. Nah, seperti itu. Nah, memang sih ee kita gampang aja berbicara bahwa sampah itu bisa dik, tapi kembali lagi tadi kita perlu pengetahuan, kita perlu kepedulian, kita perlu merubah perilaku sehingga nanti akan menjadi budaya. Sehingga diharapkan nanti dengan menerapkan implementasi keempatnya ini kita harapkan bahwa sampah yang terbuang ke TPA atau sampah yang kita hasilkan sebesar 56,63 juta ton gitu, itu bisa kita ee apa namanya? kita bisa konversikan menjadi berapa miliar rupir? Nah, pertanyaan lagi, pembangunan unit bank sampah di daerah sering mendapatkan penolakan masyarakat setempat. Bagaimana solusi menghadapi respon masyarakat? Iya. Seperti ini. Jadi pembangunan ee unit sampah di daerah memang karena mungkin masyarakat belum tahu apa sih yang akan dilakukan itu. Mereka kan tahunya bahwa sampah itu ba, sampah itu nanti akan menimbulkan hal-hal yang kita tidak inginkan, akan menimbulkan pencemaran. Mungkin mereka tidak tahu bahwa misalnya di TPS 3R misalnya pengolan sampah itu, tetapi dengan syarat bahwa pengolan sampah ini dilakukan dengan benar. Misalnya di TPS3R masyarakat membawa sampah organik anorganik. Sampah anorganik kan seperti tadi kertas, kaleng, plastik, kaca dan sebagainya itu ditempatkan di tempat tertentu. Kemudian sampah organik yang dibawa yang tidak sempat diolah di sumber di rumah itu dibawa ke TPS3R untuk misalnya dibuat kompos. Nah, kompos itu kalau memang sampah yang ee apa namanya? Sampah yang di bawah, sampah organik di bawah itu langsung dibuat kompos, ditutup dengan tanah, ditutup dengan terpan, itu tidak akan menimbulkan bau. Apalagi kalau misalnya di tempat TPS3R itu ada kegiatan namanya pembuatan ekoenzim. Ekoenzim ini bisa kita manfaatkan sebagai pembersih eh udara. Nah, sekarang banyak TPA TPPA yang kami lihat di daerah ini ee sedikit lucu bahwa pada saat akan dilakukan pemantauan, apakah itu pemantauan terkait ee bagaimana kinerja mereka untuk melakukan pengolahan sampah terkait program Madipura, mereka itu menyemprotkan cairan ekoenzim di TPA sehingga pada saat kita masuk TPA-nya itu sudah tidak bau karena tadi disemprotkan ekenzim. Nah, bisa juga kita berlakukan di unit ee pengolahan sampah yang ada di apa namanya satu wilayah, apakah di perumahan atau di itu bisa kita ee apa namanya? Kita bisa aplikasikan. Nah, terkait juga ee pembangunan pengolahan sampah untuk menghasilkan energi listrik tadi, pengolan sampah untuk ee apa namanya? Resel. Nah, ini juga di beber di beberapa kota banyak menghadapi respon masyarakat yang kontra karena mereka tidak tahu bahwa di industri pengolahan sampah untuk menghasilkan energi listrik itu ya mungkin memang pada saat sampah itu diangkut menggunakan truk yang terbuka dan tidak terawat itu tentu akan menimbulkan bau. Tentu ceceran lindi juga akan ada di mana-mana. Nah, ceran lindi inilah yang akan berbau. Nah, tentu ee yang harus kita beri masukan ke pemerintah adalah pada saat akan membangun ee industri pengolahan sampah untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan adalah bahwa truk yang mengangkut sampah yang akan dibawa ke ee industri itu haruslah ee pengangkutan atau truk yang tertutup. Kemudian ee truk itu terawat. Artinya tidak ada bocoran di mana-mana sehingga ceceran lindi dari sampah yang diangkut itu tidak akan ee ee apa namanya? Tidak akan terjadi. Nah, seperti itu mungkin karena memang masyarakat belum tahu bagaimana si ee proses pengolahan pengelolaannya, bagaimana manajemen pengangkutan sampah itu sehingga mereka ee memberikan respon yang ee menolak. Nah, untuk itu juga kita menjadi kewajiban kita bersama baik pemerintah maupun komunitas itu harus memberikan edukasi yang banyak ke masyarakat. Karena mengubah mindset masyarakat itu untuk mau melakukan pengolahan sampah itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Perlu sosialisasi terus-menerus, perlu edukasi terus-menerus, perlu pendampingan. Perlu pendampingan. Nah, ini karena banyak juga ee pemerintah, pemerintah daerah, provinsi maupun ya kami mungkin juga di ee di pusat bahwa kami hanya ya karena tadi keterbatasan SDM, keterbatasan anggara bahwa kami hanya memberikan sosialisasi edukasi itu hanya sekali dua kali sudah itu tidak lagi. Sementara mengerubah pola pikir, merubah mindset masyarakat, merubah perilaku itu seperti tadi saya katakan tidak bisa hanya sekali dua kali, harus terus-menerus sampai mereka mau melakukan itu hingga menjadi ee merubah perilaku mereka sehingga menjadi budaya mereka untuk senantiasa melakukan ee melakukan hidup bersih sehingga sampahnya dikelola seperti itu. Jadi untuk mengembangkan kegiatan pengolahan sampah yang ee apa namanya yang ee di masyarakat supaya tidak terjadi respon yang ee kontra ataupun negatif yangang perlu seperti itu. Ada kolaborasi, ada ee ada banyak ee pembinaan, edukasi, pendampingan seperti itu. Sehingga masyarakat menjadi sadar, kemudian masyarakat juga paham bahwa ee ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melakukan itu. Nah, masyarakat tentu harus wajib mendukung apa yang akan dilakukan oleh pemerintah sepanjang itu akan bermanfaat bagi semua. Tapi tadi dengan beberapa persyaratan bahwa tadi seperti contoh kecil bahwa ee pengangkutan sampah itu harus tertutup dan tidak menimbulkan ceceran lindih. Karena ceceran lindih ini sebenarnya yang menimbulkan baut. Kalau ee sampah itu diangkut langsung lewat begitu sa lama kemudian kan baunya sudah akan hilang. Tapi apabila ada ceceran lind dari sampah itu, nah itu yang akan berbau sekian lama seperti itu. Apakah sosialis seperti ini sudah sering dipaparkan kepada dinas-das terkait dan biar tidak kompeten karena kunci dari pengelolaan sampah adalah fasilitas. I, Pak. Jadi ini sudah sering boleh saya berhenti dulu ada asan di kantor kami. Iya, silakan Bu Naj. H Ya. Baik, Mbak Dini kita lanjut. Silakan. Iya. Terkait pertanyaan apakah sosialisasi seperti ini sudah sering dipaparkan kepada dinas-dinas terkait dan pihak-pihak kompeten? Karena kunci dari pengolan sampah adalah fasilitas. Ya, jadi ee ini kan kita misalnya di kementerian kita memberikan fasilitasi, kita memberikan pembinaan kepada pemerintah daerah, kepada sektor-sektor lain, kepada masyarakat. Demikian juga di level provinsi mereka memberikan pembinaan kepada kabupaten kota, memberikan pembinaan kepada komunitas masyarakat yang ada di wilayah provinsi hingga ke kabupaten kota juga seperti itu. Mereka melakukan pembinaan, memberikan apa dampingan, edukasi dan ini kondisi yang ee ee apa namanya? Kondisi yang seharusnya. Tapi meskipun kita ee apa namanya? kami di kementerian misalnya selalu memberikan ee edukasi kepada beberapa dinas, beberapa pemerintah daerah. Nah, kembali lagi seperti tadi kalau mereka punya pengetahuan yang tinggi untuk punya punya pengetahuan untuk menyerap beberapa ee ilmu yang kami sampaikan, kemudian mereka punya kepedulian tentu akan diimplementasikan di instansinya masing-masing. Mereka akan mengembangkan inovasi, mereka mengembangkan ide-ide yang sesuai dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Tapi kan tidak seperti itu. masing-masing orang beda, beda pengetahuan, beda pendidikan, beda, beda cara berpikir. Tapi kita berharap bahwa kami di kementerian juga, kami di Pusdal juga ee akan terus melakukan ee sosialisasi, pendampingan, pembinaan terus-menerus kepada pemda maupun kepada masyarakat. Nah, ini kembali lagi saya katakan tadi bahwa kenapa kita memberi tema bahwa sampah itu antara pengetahuan, kepedulian, kemudian diimplementasikan dalam perilaku hingga menjadi budaya. Nah, itu tadi kembali lagi meskipun kita sering berikan ya kita berdoa saja bahwa apa yang kita sampaikan itu akan ditindaklanjuti, akan diterapkan, akan diimplementasikan. Karena kalau kita berharap bahwa semua orang berpikiran seperti itu, tentu pengolahan sampah juga akan ee apa namanya? Akan mendapat ee akan terlaksana dengan baik. Jadi seperti itu, Pak. Kami tidak berhenti. Kami misalnya di Pusdal kami kan ada berapa kabupaten kota yang ee berada di wilayah kami. Nah, kami sering melakukan pendampingan, kami sering melakukan pembinaan teknis. Nah, seperti itu terkait kembali lagi bahwa mereka apakah bisa mengimplementasikan itu? mereka mungkin tidak bisa mengimplementasikan atau belum mengimplementasikan karena tadi ada keterbatasan keterbatasan dari SDM, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan anggaran. Nah, ee ee kami khususnya sering menyampaikan ke pemda bahwa semua kegiatan yang akan kita lakukan karena kan mereka punya kewenangan besar, mereka ujung tombak di pemerintah daerah itu bahwa mereka harusnya bisa memilah, bisa melihat ee kegiatan-kegiatan mana yang paling ee apa namanya? Paling penting, paling urgen untuk mereka lakukan. Dan semua kegiatan itu terutama pengolahan sampah memang tidak harus tidak harus perlu anggaran besar. Dari awal saja kita bisa melakukan sosialisasi dulu ke beberapa masyarakat, ke beberapa komunitas. Sosialisasi dulu. Sosialisasi ini dan edukasi sampai pendampingan itu tidak membutuhkan anggaran besar, tapi butuh kemauan, butuh ee apa namanya? butuh ide-ide yang bagus, butuh inovasi untuk itu. Jangan semua anggaran itu, anggaran yang besar itu kan mereka pada umumnya apa namanya? Merencanakan anggaran yang besar itu ke TPA. Sementara di TPA itu apa? Tempat pemrosesan akhir. Sampahnya dibuang di situ. Potensinya banyak untuk mencemari tanah, mencemari air, mencemari udara. Kenapa kita menghabiskan anggaran yang besar bawa ke TPA? Mending anggaran besar itu sebagian seperempat saja kita lakukan di hulu. kita lakukan sosialisasi, edukasi, tapi yang paling penting adalah pendampingan. Karena meskipun kita sosialisasi, edukasi terus-menerus, kalau tidak ada pendampingan ke masyarakat, tentu itu akan kembali lagi seperti kita tidak pernah melakukan apa-apa. Karena tadi bahwa merubah mindset, merubah perilaku, merubah ee ee apa namanya? Cara pandang masyarakat itu harus terus-menerus. Nah, kita dampingi sampai mereka bisa ee berbuat, bisa mereka bisa berhasil untuk melakukan pengolahan sampah. Kemudian bisa keberhasilan ini kita bisa replikasikan lagi di tempat lain dengan cara-cara seperti tadi. Jadi anggaran yang besar yang dialokasikan ke TPA itu ee bagi saya itu saya kurang setuju karena hanya di TPA itu kan kita membuang sampah terus harus diratakan, dipadatkan, ditutup dengan tanah. Begitu seterusnya sampai sampah itu bertumpuk sampai 50 m. Kalau tidak ada pengelolaan misalnya tidak ada pengelolaan lindya, tidak ada kelolaan gas metannya, itu tentu akan memberikan dampak negatif lagi. Ada pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, kemudian TPA itu ada kemungkinan bisa meledak seperti kejadian di ee apa namanya beberapa tahun lalu. Nah, seperti itu, Pak. Jadi memang ee pengelolaan lingkungan itu menjadi tanggung jawab kita semua. Jadi jangan hanya saya bilang juga ke daerah bahwa itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, tapi menjadi tanggung jawab semua masyarakat yang ada di situ. Baik dari bupati, mulai dari Wakil Bupati, kepala dinas sampai masyarakat yang ada di wilayah itu. Kemudian bagaimana cara menyelesaikan rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan sarra, lamanya penegakan aturan dan perbedaan budaya dan pendidikan. Nah, ini aja, Pak. Berputar terus. Jadi, bagaimana menyelesaikan rendahnya pasti partisipasi masyarakat? Ya, itu tadi harus ada sering apa namanya harus ada sering sosialisasi, pendekatan kepada masyarakat. Kemudian ada edukasi, ada pendampingan bahwa masyarakat itu kita harus sentuh dulu hatinya. Sentuh hatinya bahwa hidup bersih itu adalah sesuatu yang indah. Hidup bersih itu sesuai dengan norma ee ee norma ee apa namanya? agama kita sesuai norma yang kita anut bahwa bersih itu banyak manfaatnya untuk kesehatan dan sebagainya. Nah, itu dulu yang kita sentuh. Kemudian kita lakukan sosialisasi, kita lakukan edukasi, kita lakukan pendampingan bahwa mereka harusnya mengelola sampahnya itu seperti apa. Mulai dari pemilahan, bagaimana sampah yang dipilah tadi itu masih mempunyai nilai jual, masih mempunyai sebagai sumber daya, itu dibawa ke mana? Sampah organik itu mau diapakan, apa manfaatnya sehingga kita harus mengolah sampah organik? Itu yang harus kita sampaikan ke masyarakat. Kemudian kalau mereka sudah melakukan itu, mereka sudah merasa bahwa setiap hari mereka bisa mengolah sampahnya, lingkungan menjadi bersih, lingkungan menjadi indah, sampah hasil pengumposan diolah tadi bisa dimanfaatkan lagi menjadi media tanam. Kemudian media tanam itu bisa menyuburkan tanaman, menyuburkan ee bukan hanya tanaman bunga, tapi ee tanaman obat-obatan, sayur-sayuran dan sebagainya. Tentu itu kalau kita dekati dengan pendekatan itu mereka akan merasa bahwa saya banyak mendapat manfaat dari sini kalau saya melakukan pengolahan sampah seperti dulu yang kecil-kecil saya dalam skop wilayah yang kecil dulu kita apa namanya kita ee dampingi kemudian nanti kita bisa replikasi lagi di tempat lain seperti itu. Dan kembali lagi bahwa edukasi sosialisasi itu harus terus-menerus enggak boleh terputus enggak boleh hanya spot-spot seperti itu. Nah, kemudian keterbatasan sarana prasarana. Nah, ini tadi memang perlu kolaborasi ee antara pemerintah dan swasta untuk sarana prasarana ini. Karena di beberapa daerah juga tentu mereka punya keterbatasan anggaran. Apalagi pengelolaan lingkungan Dinas Lingkungan Hidup itu di beberapa daerah belum menjadi ee dinas yang ee favorit. Favorit tanda kutip bahwa ee mereka itu di Dinas Lingkungan Hidup masih anggarannya masih kecil. Nah, ini kemudian sarana prasarana juga harus ee kita melibatkan swasta. Swasta itu kan kalau mereka melalui program CSR mereka bisa diminta bantuan untuk berpartisipasi. Mereka tidak hanya menarik keuntungan dari masyarakat. Mereka tidak hanya bisa bisa berinvestasi di suatu wilayah. Tapi mereka juga bisa berpartisipasi bagaimana bisa menciptakan lingkungan hidup yang baik di wilayahnya. Kemudian lemahnya penegakan aturan. Nah, ini yang paling penting juga bahwa pemerintah daerah memang ee iya sudah menerbitkan aturan misalnya untuk pembatasan sampah ee apa namanya pembatasan plastik sekali pakai di swalayan, di pasar, di pertokoan dan sebagainya, tapi itu tidak disertai dengan pengawasan. Ini menjadi tugas lagi teman-teman di daerah bahwa kita kan sudah punya sumber daya, kita punya sudah punya pejabat pengawas lingkungankuan hidup, kita sudah punya pejabat pengendali lingkungan, pengendali dampak lingkungan, kita sudah punya pejabat penyuluh. Nah, itu semua harus dimaksimalkan, harus diberdayakan sehingga ee dan aturan-aturan juga harus ditegakkan. artinya bahwa ee aturan yang terkait tadi misalnya pelarangan atau pembatasan sampah plastik di soalaian ya lakukanlah pengawasan, lakukanlah pemantauan ke soal-soalai misalnya apakah mereka betul sudah menerapkan itu. Karena kalau tidak dilakukan dari semua sisi maka tentu apa yang kita rencanakan, apa yang kita ee ee apa namanya harapkan hasilnya itu tidak akan terjadi. Nah, kemudian juga perbedaan budaya dan tingkat pendidikan. Seperti saya katakan tadi bahwa meskipun seseorang itu punya pengetahuan yang tinggi, kalau dia tidak punya kepedulian maka nonsens tidak akan terjadi pengolan sampai baik. meskipun dia sudah punya ee kepedulian tapi dia tidak punya pengetahuan juga mungkin tidak akan bisa melakukan itu. Nah, seperti itu. Jadi kita mulai dulu dari adanya pengetahuan dengan sosialisasi, edukasi sehingga ee pada akhirnya nanti akan merubah menciptakan kepedulian, merubah perilaku hingga akan menjadi budaya. Nah, kemudian apakah pemerintah daerah pernah melakukan manajemen sampah sampai kepada level RTR RW di rumahan atau pemukiman? Siapa kolah sampah, pembagian sampahnya dan seterusnya? Itu sudah ini sudah beberapa tahun belakangan ini melalui Kementerian Linguan Hidup juga kita sudah mengembangkan namanya bank sampah. kita sudah ee mengelola ee apa namanya membangun TPS3R yang dikelola oleh komunitas ee komunitas masyarakat ataupun dikelola oleh pemda itu sudah ada sampai kemudian pengelolaan sampah juga di satu di beberapa kabupaten kota itu sudah diserahkan kecamatan. Kecamatan nanti akan bekerja sama dengan lurah RT dan RW terkait pengelolaan sampah. itu sudah seharus itu yang seharusnya. Tapi memang meskipun sudah dibagi dengan manajemen seperti ini itu masih saja banyak ee ee apa namanya tidak banyak melibatkan lurah maupun RTRW mereka. Nah, ini seperti contoh ada satu kota di ee provinsi itu di Sulawesi Selatan, walikotanya itu sudah sangat konsern untuk melakukan pengolahan sampah. Jadi sudah di apa namanya? sudah di sudah disamp mereka membentuk namanya motivator. Motivator itu ada di tiap kecamatan. Jadi motivator ini bertugas untuk melakukan ee pendataan, pemetaan sampai pendampingan, pengolahan sampah kepada masyarakat. Nah, ini nanti akan melibatkan RT RW. RT itu harus minimal di wilayah ee di wilayahnya itu harus membantu membangun kesadaran masyarakat, membantu pelibatan masyarakatnya untuk melakukan pengolahan sampah. seperti itu memang sudah dilakukan oleh pemerintah. Namun ya seperti lagi kembali lagi tadi yang di da mungkin yang tidak peduli apakah dia sibuk, apakah dia memang tidak tahu apa dia tidak punya minat di situ. Kemudian ada juga RW juga seperti itu, lurah juga seperti itu. Mereka tidak punya ee minat, mereka tidak punya kepedulian terhadap pengelolaan ee sampah di wilayahnya itu. Jadi memang peran semua pemerintah ee ee apa namanya ada perlu komitmen dari ee pimpinan daerah bupati walikota untuk bagaimana memberdayakan semua aparat yang ada di bawah mulai dari kepala dinas, camat, lurah, RT, dan RW itu. Sehingga diharapkan bahwa nanti pengelolaan sampah ini bisa terlaksana dengan baik sampai ke tingkat RT. Nah, mengapa sampai saat ini pemiluhan sampai di Indonesia hanya sebatas himbauan dan tidak menjadi aturan dengan sanksi yang tegas? Ya, ini memang ee pemilahan itu kan diharapkan bahwa ini kan sudah undang-undang semua sudah mengamanatkan bahwa semua orang yang menghasilkan sampah wajib mengelola sampahnya. Nah, ini kan kita masyarakat mungkin undang sebenarnya undang-undang itu ada kita dianggap semua mengetahui apakah kita pernah membaca atau tidak. Tapi kita dianggap untuk sudah mengetahui bahwa aturannya seperti itu. Nah, kembali lagi itu menjadi kewajiban kita semua sebagai pribadi bahwa kita masing-masing menghasilkan sampah. Kita menghasilkan sampah juga di rumah, kita menghasilkan sampah di kantor. Itu yang harus semua harus di apa namanya? Harus ee dikelola oleh masing-masing. Itu seharusnya. Dan pemerintah saat ini sudah ber ee sangat-sangat sering sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang. Pak Menteri konsernya kepada pengolahan sampah saat ini sudah waduh kami pun ee apa namanya fokus sekarang semua kementerian sampai ke tingkat di ee apa di pusdal semua kita fokus untuk penanganan sampah. bagaimana kita membantu daerah mulai dari kita memetakan apa sih permasalahannya ee permasalahan di daerah, apa sih kendala-kendala mereka, bagaimana mereka melakukan pengolahan sampahnya sampai kinerja pengolahan sampahnya seperti apa itu kami pantau dan kami ee setelah itu kami laporkan kami ee kami olah datanya dan kami laporkan ke pusat dan pusat nanti akan memberikan lagi ee apa namanya penyampaian kepada daerah untuk melakukan pengolahan sampahnya hingga meningkatkan kan kinerja pengolan sampahnya. Nah, seperti itu. Jadi, bukan hanya sebatas himbauan itu semua sudah di sudah dilakukan, tapi kembali lagi bahwa himbauan itu memang tidak harus terus-menerus dilakukan dan ee nah ini yang paling penting adalah penegakan aturan dengan sanksi yang tegas. Mungkin beberapa daerah juga sudah melakukan itu, sudah menegakkan aturan, sudah memberikan sanksi yang tegas sehingga ee ada pengaruhnya kepada ee pengelolaan sampah di daerahnya. Nah, ini mungkin kita harapkan juga bahwa semua daerah seperti itu. Bahwa sudah dilakukan sosialisasi, sudah dilakukan edukasi, sudah dilakukan pendampingan, sudah diterbitkan aturan atau kebijakan. Nah, kemudian kita harapkan bahwa aturan dan kebijakan itu harus ditegakkan sehingga dengan ee adanya itu maka ee pengetahuan yang sudah ada, kemudian kepedulian juga sudah ada, kemudian bagaimana aturan-aturan juga itu bisa ditegakkan sehingga akan merubah perilaku. Nah, dengan perubahan perilaku kita harapkan bahwa budaya untuk bersih, budaya untuk melakukan pengolahan sampah, budaya untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan sehat itu bisa kita ciptakan. Mungkin itu, Mbak Dini. Mohon maaf ya kalau terlalu panjang, ya. Baik, Bu. Ee terima kasih atas jawaban-jawabannya dan pertanyaannya tadi ee apa sungguh menarik semua ya, Bu. Dan mungkin ee untuk sekarang kita lanjutkan pada sesi tanya jawab secara langsung ya. Dipersilakan kepada peserta Zoom yang ada di dalam ruangan Zoom ini ee bisa langsung saja menggunakan fitur raise hand untuk bertanya. Dan mungkin untuk pertama ini saya akan batasi dulu dua penanya. Apabila masih ada kelebihan waktu nanti diberikan lagi kesempatan. Dan kebetulan di sini sudah ada Ibu Yani yang melakukan raise hand ya. Dipersilakan kepada Bu Yani. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee domisili di ee Banten wilayah Serpong, tapi sekarang saya sedang di Cirebon. Iya. Oke. Ee terima kasih. Eh siapa? Edu. Eko Edu. Dan Ibu narasumber. Ee saya penggiat bank sampah ee langsung to the point. Saya penggiat bank sampah di daerah ee Bintaro. Ee ini ada masalah gitu ya. Saya sudah hampir 4 tahun bank sampah saya dan di dalam perjalanannya ee banyak sekali turun naik gitu ya. Yang pertama adalah tadi Ibu narasumber mengatakan bahwa kalimat wajib ya warga wajib katanya untuk memilih sampah. Apa yang mewajibkan? Satu. Bagaimana wajib? Kalimat wajib ini artinya orang tahu kalau wajib kan kudu ya bahasanya tuh ke wudu harus gitu ya. Tapi kan mana ya saya satu kluster aja itu berapa ratus orang kakak cuma berapa itu cuman mungkin 150 tapi pada saat penimbangan adalah cuman gitu 80. Nah ini wajibnya seperti apa nih Bu ya? Terus juga touch touch-nya pemerintah dalam hari ini mungkin kalau yang ke pelaksana itu adalah pemerintah daerah ya ee turun ya dari DLH terus ke kecamatan, ke kelurahan begitu ya. Itu ee mana gitu ya. Saya melihat itu tidak ada di tempat saya. Mungkin ini kasus gitu ee tapi perlu didengar gitu ya ee mungkin kurang kurang orang yang turun, kurang biaya yang untuk turun gitu. Jadi kemasyarakatannya kurang nih gitu. Baik dengan orangnya fasilitatornya dan prasarananya gitu. Nah ini kontrol dari daerah dari DLH ya dan KLH itu mana gitu. Terus yang ketiga, bank sampah itu kan menggantungkan hidupnya kepada pengepul. Karena pengepul ini yang menjual sampah kita dan mereka yang ee akan melanjutkannya ya. Ee kumpulan kalau kita hitungan kilo, mereka hitungan ton. Nah, di sini ekonomi sirkuler belum belum belum belum ekonomi sirkuler. Nah, di sinilah e nyawa nyebang sampah dijual kan ya? Dijual. Nah, ini harga bagaimana ini si KLH atau DLH ee melakukan pengawal atau pengawasan atau bagaimana ya apa bahasanya itu harga dari sampah ya. Harga dari sampah. Ada sampah yang harganya 500 300 perak per kilo. Segunung apa itu ya? Nah, ini kan sebenarnya saya tidak bicara masalah uang, tetapi ini uang menjadi suatu daya tarik dari masyarakat, dari warga untuk ee kekuatan ekonomi keluarga gitu ya. Kalau KWT itu kekuatan apa? Ekonomi ketahanan pangan. Kalau bank sampah itu ketahanan ekonomi keluarga. Dari situ dia dapat uang tambahan dalam kondisi sekarang masa masa-masa sulit. Tapi kembali lagi kalau harganya cuman segitu, please dong pemerintah tolong bantu terkait dengan harga. Saya sudah ngomong sama KLH yang datang orang administrasi ke tempat bank sampah saya kagak ngerti, enggak ditanggepin, enggak tahu. Nah, yang kayak-kayak gini nih tolong dong ya pemerintah kalau memang mau turun serius jangan orang TU suruh datang ke ke saya yah. Iya. Manggut-manggut aja gitu ya. sampai saya udah bikinin. Oke, pasti yang datang begini nih. Saya kasih lembaran ini permasalahan saya enggak ada feedback. Nah, evaluasi itu penting, Ibu. Kita Indonesia tuh enggak pernah nih evaluasinya tuh mutus aja ditaruh di apa? Sudah dapat nih. Saya dapat sudah berhenti SPJ dapat sudah selesai. Nah, ini akhirnya kan enggak dapat nih. Maaf-maaf saya bilang pemerintah daerah enggak semua yaak enggak semua ini kayak tukang pos doang. Cari survei di apa di lapangan sudah selesai nikasih sudah selesai. Kayak gitu tadi saya bilang. Nah, kembali lagi ke masalah sampah. Harga sampah tolong dibantu kami. Masa harga ada 500 perak Bu di jalanan udah kagak ada harga 500 perak Bu. Tapi oke saya sampai bilang enggak apa-apa. Intinya kita bukan duit, tapi menyelamatkan itu sampah-sampah warga tidak ke TPA. Ini intinya saya bilang ya, bank sampah itu jangan konotasinya duit aja, tapi menyelamatkan sampah tidak masuk ke TPA. Sulitnya Bu minta ampun ya. Jadi saya selama 4 tahun itu begitu terus. Tapi intinya tadi satu ya. Ya, tolong dong tolong banget pemerintah itu dijaga harga. Kalau harganya bagus kan ya Bapak, Ibu sekalian banyak tuh orang mau ke sampah tuh nyetorin gitu ya. Ini satu side-nya daripada ee daripada ee kita mau memilah. Jadi ada kewajiban tadi itu adalah triggernya kita. Oke. Oke. Sana ya. Ee itu aja Bu. Jadi mana nih pemerintah sampai tadi ada tulisan juga ya, mana nih pemerintah daerah sampai ke masyarakat. Sama pertanyaannya. Terima kasih, mohon maaf lahir batin. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, makasih Bu Yani. Jadi yang pertama dulu Bu, saya sangat menghargai, sangat menghargai sekali ee komunitas ibu-ibu yang mau melakukan pengolan sampah di bank sampah. Nah, itu yang ee saya apresiasi betul Bu. Kami sudah sering melakukan ee pertemuan juga kami sering ee apa namanya mendatangi beberapa bank sampah dan keluhannya memang sama seperti itu, Bu. Jadi, ada juga bank sampah yang misalnya harga di bank sampah induk lebih rendah dibanding harga di pengepul. Jadi, saya bilang enggak enggak wajib ke bank sampah induk. Yang penting ada pencatatan misalnya di bank sampah berapa sampean dikelola. Nah, kalau harga di pengepul lebih bagus, bawa aja ke pengepul enggak apa-apa itu. Ataupun di ee pihak lain yang harganya lebih bagus bawa aja ke situ. Tapi sesuai dengan Bu Yani katakan tadi bahwa di bank sampah itu sebenarnya bukan hanya sekedar kita menjadikan sampah itu menjadi uang, tapi menjadi daya tarik juga supaya masyarakat mau mau melakukan e pemilihan sampah, mau membawa sampahnya ke bank sampah. Nah, itu Bu dan memang jadi permasalahan dan sebenarnya itu sudah di apa namanya ee di apa namanya di pusat juga sudah menjadi perhatian bahwa memang harga-harga ee di bank sampah itu harga ee sampah yang akan dijual ke bank sampah induk maupun pengepul itu ada fluktuasi memang Bu. Jadi harga sampah itu mengikuti harga pasaran. Jadi kadang naik kadang juga turun. itu juga yang harus ee kita pahami. Kemudian di di yang paling penting adalah bagaimana pengelola bank sampah itu bisa menc bisa mempunyai inovasi atau bisa mempunyai daide kreatif lainnya. Jadi bukan hanya menggantungkan hidupnya dari apa bukan hanya menerima sampah-sampah ee organik seperti itu, tapi bisa juga menerima minyak jelantah misalnya itu harganya juga lebih bagus. Bisa juga e bank sampah berinovasi misalnya bekerja sama dengan pihak swasta. Karena swasta Bu yang penting kita bisa membuat proposal yang bisa menguatkan pihak swasta untuk memberikan ee bantuannya CSR. Jadi bisa kita bekerja sama bermitra dengan ee swasta. misalnya bank-bank yang ada di sekitar itu ada beberapa perusahaan misalnya kita minta ee bantuan dukungan sarana prasarana ataupun minimal ada bantuan bahwa ini bisa menjadi ee meneruskan roda dari bank sampah seperti itu. Nah, kalau memang Bu di beberapa daerah itu ada beberapa memang dinas lingkungan hidup atau kita anggaplah pemda pemda yang kurang perhatian kepada pengembangan bank sampah seperti itu. ini sudah di disampaikan oleh Pak Menteri bahwa semua pemerintah daerah wajib wajib lagi nih Bu. Wajib untuk member berikan perhatian yang lebih kepada pengolah SAMP. kita harus menghargai individu-individu ataupun komunitas-komunitas yang mau melakukan pengolahan sampah seperti itu. Kemudian terkait tadi evaluasi memang betul Bu semua harus dievaluasi bukan hanya ee kami di kementerian di provinsi di daerah pelaksana bank sampah semua kegiatan yang kita lakukan harus kita evaluasi apa yang menjadi kendala selama ini. Apa yang sudah kita lakukan? Apa yang sebaiknya atau seharusnya kita lakukan lagi? apa yang seharusnya kita perbaiki lagi itu yang harus kita evaluasi sehingga kita tidak terjebak dengan hal-hal rutinitas bahwa ee sampah itu hanya dibawa ke bank sampah harganya hanya segini sudah tapi kita harus mengevaluasi lagi evaluasinya seperti apa misalnya di bank sampah kegiatan-kegiatan apa yang masih bisa kita kembangkan untuk bisa menarik masyarakat untuk membawa sampahnya ke bank sampah mungkin itu Bu ee mohon maaf kalau kurang apa namanya Nah terkait lagi dari tadi di apa namanya orang KLH hanya orang TU ya itu kami sadari juga Bu memang Bapak Menteri sekarang kan mewajibkan semua ee semua ee di di apa namanya semua di KLH harus turun untuk melakukan pembinaan pengolahan sampah. Jadi semua kedeputian, semua direktorat semua berfokus untuk melakukan pengolan sampah. Jadi mohon maaf Bu kalau misalnya ada satu dua orang yang mungkin belum paham terkait itu dan tentu akan dilakukan juga evaluasi dan perbaikan ke di kementerian. Nah, mungkin Iya mungkin seperti itu, Bu ya. Jadi ee sangat mengapresiasi Bu dan tadi terkait dengan kata wajib bahwa kan semua di peraturan Bu di Undang-Undang Nomor 18 bahwa siapapun yang ee orang yang menghasilkan sampah wajib untuk melakukan pengolahan sampahnya. Hanyakan itu lagi masyarakat mungkin belum paham, belum tahu perlu sosialisasi bahwa kita harus melakukan pengolahan terhadap yang kita hasilkan. Minimal kita memilah, memilah itu kemudian nanti diserahkan apakah ke kita serahkan ke pemulung atau kita sedekahkan atau kita bawa ke bank sampah itu terserah. Tapi minimal bahwa sampah itu kita kelola kita minimal kita lakukan pemilahan di rumah itu dibawa ke fasilitas pengelolaan sampah. Mungkin itu Bu Yani. Saya mohon maaf kalau kurang ee ya berikan kepuasan sambut. Tapi sekali lagi saya sangat kami sangat mengapresiasi para pegiat bank sampah terutama ibu-ibu yang mau melakukan ee apa mau meluangkan waktunya untuk mengurus ee apa namanya bank sampah. Sekali lagi terima kasih Bu Yani atas ini kepeduliannya. Ya, baik, terima kasih Bu Yani atas diskusinya yang sangat menarik ini dan kita lanjutkan kepada Bapak Ikaabul dipersilakan untuk menyampaikan pertanyaannya ya. Selamat siang Bapak-bapak, Ibu-ibu. Terima kasih ya ee pada ee yang memberikan presentasi ee Ibu Najuah tadi saya ee secara umum persinnya bagus ya. Nah, begini yang saya ingin ee garis bawahi bahwa saya menarik tuh e apa yang dikatakan oleh Bu Yani ya. Apalagi Bu Yani itu e kasusnya di Jakarta Bintaro ya, urban setting gitu ya. Itu memang susah ya di ee di persoalan di urban ini. Ee di samping masalah tanah ya untuk bikin bank sampah itu susah ee ketersediaan lahan gitu ya. Ini juga sangat sulit. Saya kebetulan tinggalnya juga enggak jauh dari Bintaruf gitu ya. Nah, itu pengelolaan sama. Kemudian masalah apa ee masalah tadi yang menarik masalah ee harga harga barang pengumpul karena harga pengumpul tadi kaitannya dengan survival dari para pengumpul itu yang sebagai ujung tombak dari pengelolaan sampah. Nah, saya hanya mengamati secara umum ya, bahwa untuk pengelolaan limbah ini tidak hanya masalah sampah ya, tapi juga sanitasi itu juga menjadi suatu kelemahan di hampir di semua pemerintah daerah ya. Bahkan ee di tempat saya di Tangerang Selatan ya itu ee yang disebutnya pengolahan sanitasi itu sebenarnya sec kelembagaan sudah ada seperti sanitarian tapi fungsinya tuh tidak maksimal ya kayak di tempat saya sanitarian itu kerjanya hanya ngurus jentik-jenetik nyamuk gitu ya. Pas saya tanya itu tentang sampah mau diapain enggak ngerti. Sudah gitu apakah Anda memahami enggak mengas meng meng masalah ee rayu recycle sampah? Enggak ngerti. Jadi persoalan-persoalan yang pertama yang saya ingin adalah manajemen di pemerintahan daerahnya. Karena undang-undang sendiri itu sebenarnya memang sudah dilegaskan pada pemerintah daerah. Sehingga akhirnya itu tergantung politikal pemerintah daerah maunya gimana ya. Jadi apakah kita setiap persoalan itu harus diviralkan kan enggak jadi bingung saya untungnya sudah ada ada medsos ya. Jadi ada persoalan bisa viral. Kalau dulu sama sekali enggak ada gitu ya. Nah, sekarang jadi ee yang yang saya seb lagi ee masalah infrastruktur itu tidak hanya sampah tapi juga air limbah itu ya terutama yang berbasis masyarakat adalah politnya itu sendiri yang saya lihat lemah ya. Jadi pemerintah daerah ini ee selama ini saya perhatikan saya sudah juga berkunjung ke beberapa daerah yang lain ya. Politikal dari pemerintah daerah itu masih berorientasi proyek gitu ya. apa yang bikin TPA hajar dulu dia tidak memberikan supply chain itu apa gitu ya. Jadi, makanya tadi Ibu yang presentator mengatakan enggak setuju ya langsung apa-apa tuh bikin TPA TPA. Tapi kadang-kadang pengambilan keputusan di PEMDA sendiri masih berorientasi project gitu ya. Gua dapat dari proyek itu sekian dapat dari berapa persen dari itu pemerintah daerah pimpinannya masih berorderasi mindsetnya begitu. gitu. Itu yang persoalannya tidak hanya di tempat ibu, tidak hanya di Jak saya di beberapa daerah saya ee saya sering ke daerah ya sama gitu ya masih sama di air limbah sanitasi juga kita bikin ya IPLT. IPLT itu instansi pengolahan tinja ya di Ambon di Lombok. Saya lihat IPLT itu dibangun oleh pemerintah pusat. Apa yang mau disedot? Enggak ada, Bu. tangki septik ee limbah di tangki septik aja ya apa yang mau disebut enggak ada tangki septiknya itu enggak ada yang benar satuun akhirnya apa IPLT-nya itu pada mangkrak Bu-bangunan itu tahun RPJMN tahun 2 tahun yang lalu itu tercatat di dukungan dari 274 IPLT ya instalasi pengolahan limbah tinja ya yang dibangun oleh pemerintah pusat yang jalan cuma 10 Bu bayangin karena gitu jadi cara berpikirem pemerintahnya tidaknya pemaka, pusat juga masih berpikir project oriented, ngabisin duit tapi tidak tepat sasaran. Ya, saya itu capek terus terang ya. Saya terusang saya bidangnya ini sebenarnya saya orang teknik lingkungan itu capek saya ngurusin apa ya sampah limbah dari dulu kok ini masalah klasik ya enggak pernah ada solusinya gitu itu aja ya. Jadi ada politik infrastruktur yang harus dibangun ya di dalam mindset pemerintah daerahnya itu. Yang kedua yang saya ingin bahwa sampai sekarang ee aturan-aturan agama mengajarkan begini gitu ya. ada ya peraturan ada tapi bagi saya hal yang paling penting untuk melakukan suatu perubahan ya dalam pengelolaan infrastruktur dari tingkat keluarga, masyarakat, pemerintah adalah adal pesan moral dan etika ya bagaimana agar suatu infrastruktur itu berkelanjutan kan tidak ada sampai sekarang ya semua ambil prov semua bas oriented pendampingan dari konsultan atau donor misal teknik e misalnya itu hanya pendampingan pada saat project. Pernah enggak dipikirkan pendampingan atau perubahan perilaku setelah projek selesai gitu ya? Sustainability-nya bagaimana? Itu tidak ada. Yang tadi saya dikatakan oleh Bu Yani evaluasinya enggak ada tuh monitoring dan evaluasinya enggak ada itu ya. Jadi saya ingin ee agar suatu itu berkelanjutan dimanfaatkan tidak hanya project oriented 5 tahun sudah hancur sistemnya ya kita capek Bu ngabisin duit untuk infrastruktur itu dan enggak pernah ada hasilnya gitu ya. Itu peran moral dan dari ee apa ya ee pemuka agama, tokoh masyarakat dan ee petinggi agama ya tokoh-tokoh agama. Tokoh atau agama juga harus memberikan contoh yang baik dalam ee perubahan perilaku ini gitu ya. Jadi jangan sampai misalnya ee perubahan perilaku itu memang melibatkan masyarakat atau agama tapi pada saat hanya proek setelah itu enggak pernah ada gaungnya lagi gitu ya. Enggak ada ya. Jadi saya berharap di masjid juga ee diberi contoh dong pengelolaan sampah tuh yang benar enggak? Masjidnya berantakan enggak ada tempat sampah gitu ya. Saya saya kadang saya suka sedih juga ya. Padahal tokoh agamanya tuh kadang-kadang ceramahnya kita harus bikin kebersihan jargon dengan kenyataan aja di dalam sistem yang kecil aja tidak apa tidak terealisasi di situ ya. Itu karena gini pesan moral yang paling manjur menurut pendapat saya adalah dari tokoh agama ya. Karena tokoh agama itu agama akan berubah menjadi budaya, budaya akan menjadi apa ee perilaku masyarakat gitu dan itu harus berjalan terus-menerus. Jadi agama di ustaz gitu di masjid jangan apa berhentilah dan tokoh-tokoh pendeta di gereja juga jangan berhenti ya untuk itu aja Bu karena sudah azan nih engak makasih ya maaf siap makasih Pak Ekaabul. Iya, saya juga, Pak, setuju dengan beberapa pendapat Bapak tadi bahwa ya memang kita melihat kondisi sekarang bahwa kejadian di pemda pemerintah daerah seperti itu. Tapi ya mau gimana lagi tapi tentu akan ada banyak evaluasi dari pemerintah pusat itu. Saya yakin itu. Kemudian ya yang paling bisa kita lakukan ya berdoa aja Pak semoga para pemimpin kita punya komitmen yang baik, para pelaksananya juga di daerah juga mempunyai komitmen yang baik, punya tujuan yang baik, punya langkah-langkah yang baik sehingga kita semua bisa terhindar dari hal-hal seperti yang tadi Pak Ekabul sampaikan. Nah, terkait juga politik infrastruktur memang seharusnya seperti itu, Pak. bahwa infrastruktur yang akan dibangun itu ya tentu akan dimanfaatkan, akan di apa namanya? dilaksanakan dengan cara-cara yang baik juga. Tapi ya kembali lagi tadi kalau orang yang ada di situ memang tidak punya itikat yang baik, tidak punya ee visi yang baik, tidak punya komitmen ya akan seperti itu. Tapi ya mau gimana lagi kita berharap aja pemerintah pusat punya apa namanya punya tapi kita yakinlah bahwa pemerintah sekarang memang sudah ada upaya untuk melakukan perbaikan step by step. Nah, terkait juga pesan moral tadi, Pak. Ya, memang kembali lagi ke apa namanya misalnya ee pemuka agama sudah menyampaikan itu, tapi dia sendiri tidak mempraktikkan itu. Nah, kita tidak ee ya kita hanya bisa menilai tapi ya tanggung jawabnya juga nanti sendiri bahwa dia menyampaikan itu tapi dia tidak mengimplementasikan pada dirinya sendiri. Yang penting kita mulai dari ee diri kita semua masing-masing. Apa yang kita sudah tahu, apa yang kita sudah semoga yang kita tahu itu bisa membangkitkan kepedulian kita, bisa merubah perilaku kita sehingga bisa menumbuhkan budaya yang baik yang sudah kita lakukan danel apa namanya mengimplementasikannya di tempat lain. Itu sih, Pak. Dan saya memang sangat setuju tadi dengan apa-apa yang Bapak sampaikan karena kondisi sekarang memang seperti itu. Ada banyak kejadian tapi ya kembali lagi kita berharaplah semoga ee semua para pelaksana para pelaksana itu di daerah di pusat pun mudah-mudahan mereka tergerak hatinya punya niat yang baik untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Itu aja sih, Pak. dan kita harapkan kita mulai dari diri kita sendiri juga semua bahwa kita harus berniat, harus ee ber apa namanya? Harus bisa bermanfaat untuk orang lain itu, Pak. Terima kasih sekali lagi, Pak IGabul atas ee apa namanya atas masukannya ya. Mungkin ada lagi, Mbak Dini. Mungkin kita beri kesempatan satu pertanyaan lagi. Silakan kepada Ibu Hazriani untuk menyampaikan pertanyaannya. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam kenal Bapak Ibu semua. Saya Ibu Hazriani dari Kabupaten Natuna. Jadi, Natuna ini mungkin sebagian besar ada juga yang sudah tahu dan belum ya, Ibu di ujung utara NKRI. Jadi, kebetulan saya menyimak dari dua pertanyaan, Bu. Kedengaran ya, Bu, suaranya kedengaran, Bu? Iya. Baik. Jadi, kebetulan saya menyimak juga dari dua pertanyaan yang sudah disampaikan oleh Ibu dari Bintaro dari Bapak Pak Ikab ya. Jadi saya memang sependapat juga saya tidak ada pertanyaan lain ya Bu. Cuman saya sependapat ee sependapat dengan beliau berdua. Jadi kalau dibilang jenuh atau udah gimana ya udah mua atau bosan itu mungkin karena pekerjaan kita memang untuk mengedukasi orang. Jadi ee saya juga berusaha Bu ya ee berusaha ee berbuat untuk lingkungan itu aja. Jadi kita mulai memang yang Ibu sampaikan tadi memang ee kita ajaklah sendiri. Jadi mengedukasi orang itu sudah saya lakukan, Bu. Kebetulan saya fungsional pengendali dampak lingkungan juga di DLH ya, Bu. Heeh. Jadi kalau misalnya itu memang tugas kita sudah kita lakukan. Ee tadi masalahnya ee cuman ee dibilang kalau menyalahin pemerintah ya kita jeruk makan jeruk ya Bu kalau menyalahkan pemerintah. Kita juga di DLH nih kita juga berupaya sebenarnya cuman ee saya cuma sedikit ee permintaanlah ya untuk ee mungkin yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini mungkin penegakan ya penegakan hukumnya Bu itu yang terpenting. Jadi kita ini kalau tidak ada sanksi atau tidak ada hukum kita itu enggak mau, Bu. Enggak mau berbuat gitu ya. Ya udahlah ada yang ngurus misalnya gitu ya. Di masyarakat juga gitu yang Ibu sampaikan bahwa setiap ya undang-undang juga sudah mengatakan bahwa setiap orang wajib mengelola sampah di rumahnya masing-masing. Itu sudah kita sampaikan Bu. Artinya kita bukan tidak mensosialisasikan itu sudah kita sampaikan ke sekolah, ke masyarakat ya. ee setiap kita ke masyarakat kita sampaikan ah hanya ini ee setelah masyarakat ee tahu ya tahu ya ee mereka ya cuek-cuek aja karena enggak ada ininya bagi mereka ya enggak ada manfaatnya duitnya juga enggak ada, dapat untungnya juga enggak kan gitu Bu. Sanksinya juga enggak ada jadi enggak ada apa-apanya gitu. Jadi masyarakat ya sudah ee udah ee buang ajaalah di tempat sampah gitu. Nah, itu yang ee disampaikan juga oleh ee Ibu tadi ya di bank sampah saya. Saya kenapa saya enggak ke bank sampah? Bank sampah itu kalau tidak mindsetnya duit, Bu, orang enggak mau bekerja. Jadi kalau enggak ada duit di situ, ya manalah kita mau makan dari ee ee duitnya enggak ada misalnya gitu kan. Memang harus ada uangnya. Nah, jadi mindset kita dari awal itu memang sebenarnya ee cuman untuk mengelola supaya tidak betul yang Ibu sampaikan tadi ee Ibu dari Bintaro lupa namanya cuman ee mengamankan aja ya membantu pemerintah supaya TPA itu tidak penuh aja sebenarnya gitu. Jadi sosial Bu kalau saya ya melihat ya sosial aja itu jadi duitnya tuh memang bonus tapi masyarakat kita kalau enggak ada duit enggak mau sosialnya Bu. Nah gitu ya. Jadi kelemahannya itu pula gitu ya. Itu jadi yang untuk dari Bapak ya. Kalau untuk terkait tokoh agama saya juga sudah ee maksudnya di ICHMI, di IPHI ya kita juga sudah ee menyampaikan Ibu ya saya sudah berusaha juga ee memberikan pemahaman kadang-kadang tulisan-tulisan saya share juga gitu ya. Ee cuman ya saya enggak tahu ya salahnya di mana betul yang Bapak sampaikan tadi. Tahu sebenarnya cuma tidak peduli gitu ya. Heeh. Lalu ee Ibu juga sampaikan ee kita berdoa saja ya mudah-mudahan ada hidayah. Jadi saya juga seperti itu Bu. Saya juga seperti itu. Jadi akhirnya sebenarnya saya bukan tidak mensosialisasikan bahwa sampah itu harus kita kelola, harus kita pilah. Saya Bu terus terang aja tuna, saya mungkin paling konsen di sampah basah ya, sampah organik. Jadi saya udah akhirnya saya ee mengedukasi orang, orang tidak mau ikut ya saya sudah jalan kan gitu Bu. Jadi saya sudah punya ee bisa mengedukasi orang di rumah saya. Jadi saya kerja kenapa saya tidak di kantor? Karena kantor tidak memfasilitasi. Artinya kan gitu, Bu. Jadi fasility yang dibuat pemerintah yang disampaikan oleh Bapak itu cuman memang sekedar proyek pengelolaan sampah itu kalau tidak ada duit, tidak diproyekkan, tidak jalan, Bu. Jadi kalau misalnya ada duitnya di situ, orang mungkin banyak ngelola sampah, Bu. Misalnya dari rumah sekian kilo sampah basah dibeli oleh pemerintah, dikelola di bank sampah atau dikelola di TPS 3R itu mungkin banyak orang ngantar sampahnya, Bu. Nah, jadi gitu. Jadi saya melihat sekarang ini ee saya sendiri, Bu yang ngelola, Bu. Jadi di rumah saya kebetulan halaman saya ada sedikit saya buat saya bikin ekoenzim di situ. Saya juga ngompos pakai komposter. Saya juga pelihara magot. Jadi edukasi itu pribadi, Bu, gitu. Pribadi dan atas nama kebetulan saya juga orang DLH. Ya udah ee tidak bisa dipisahkan antara DLH dan pribadi saya kan seperti itu, Bu. Artinya saya mengedukasi orang atas nama DLH juga, atas nama pribadi juga, tapi saya tidak bisa membawa ini ke kantor. Kan gitu, Bu. Artinya praktik-praktik ini kan kita ke masyarakat. Heeh. Nah, jadi kalau misalnya ee tadi yang disampaikan Bapak perubahan perilaku itu saya lebih ee senang juga perubahan perilaku itu atas dasar ee ada tindakan hukumnya Bu. Ada maksudnya ada sanksi hukumnya gitu kan ee yang dibuat oleh pemerintah daerah. Mungkin itu yang belum Bu ee komitmen kepala daerah untuk sampah. Tapi kan kita enggak di tempat lain ada tempat yang memang komitmen pemerintah daerah memang untuk pengelolaan sampah. Buktinya berjalan juga kan Bu. Jadi karena ada sanksi, ada edukasi, komitmen pemerintah, kontinuitasnya. Cuman kita nih sekedar aja Bu, kegiatan jalan sudah selesai, enggak ada lagi evaluasi seperti yang Ibu sampaikan itu. Betul. Saya setuju, Bu. Jadi kegiatan itu sudah selesai, kegiatan sudah. Lalu adapun kegiatan proyek gitu kan, tidak berkesinambungan atau berkelanjutan. Terima kasih Bu. Itu aja dari saya. Ee mudah-mudahan ya punya banyak teman di sini saling berbagi. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jadi terima kasih Bu Hasriani. Ee kita harus bersyukur bahwa masih banyak ibu-ibu seperti Bu Hasriani yang punya konsern, punya komitmen juga. Jadi bukan hanya komitmen pimpinan ya, Bu. Ada komitmen kita juga sebagai sebagai ee apa namanya? Sebagai ee pegawai DLH, kemudian juga sebagai tadi fungsional dari dampak lingkungan dan sebagai individu. Kita punya komitmen untuk kita punya punya apa namanya? ee punya visi yang sama untuk melaksanakan tugas. Kemudian terkhusus untuk pengelolaan sampah, kita juga punya ee punya apa namanya? Punya visi, punya niat, dan implementasi sudah ada. Nah, itu saya juga sering ee kami juga sering menyampaikan bahwa yang paling utama sebenarnya kita ini yang orang lingkungan hidup. kita dulu harus melaksanakan itu sebelum kita menyampaikan kepada lain. Kita harus menjadi contoh bahwa kita di lingkungan hidup bahwa kita standap kutip kita memerintahkan, kita menyampaikan, kita mengajak untuk melakukan pengolahan sampah. Kalau tapi kalau kita sendiri tidak melakukan kan itu sama aja bohong. Enggak mungkin. Saya yakin 100% bahwa itu tidak akan berhasil karena kita tidak punya kita tidak menjadi contoh. Jadi percuma kita menyampaikan, oh iya lakukan pengolan sampah buatenzim olah sampah organik, olah sampah anorganik. Kalau kita tidak sendiri tidak melakukan itu, enggak mungkin akan diikuti oleh orang lain. Karena ya saya yakin, saya percaya bahwa yang di atas itu tahu juga bahwa ngapain lu sampaikan ee sesuatu yang kau tidak lakukan. kan itu sama dengan menyampaikan ee kebohongan itu. Jadi, mari kita sama-sama sebagai tadi mulai dari diri kita sendiri dulu, mulai dari sekarang mari kita sama-sama melakukan pengolahan sampah. Mari kita sama-sama minimal melakukan pemilahan dulu di rumah dan minimal kita mengurangi sampah yang dibawa ke TPA dari rumah kita sendiri dulu. I terima kasih Bu Asriani atas beberapa masukannya dan ya sama-sama Bu nanti boleh minta nomor kontaknya Bu ya. Di mana ya? nanti di ini Bu. Heeh. berbagi ya. Ee maksudnya Bu kita di beberapa daerah saya juga bukan saya memang kalau terkait sampah ee ada webinar di mana saja saya ikuti Bu. Jadi saya memang ee sangat sangat konsern walaupun dianggap ah itu pekerjaan percuma ya, tapi saya merasa itu tidak ada yang sia-sia. Iya. Jadi suatu saat nanti walaupun sekarang orang tidak melihat tapi suatu saat ya Allah akan memberikan petunjuk. Mudah-mudahan ada hidayah ya Bu. Jadi niat kita baik yang penting ya Bapak Ibu kita yang bergerak di bidang pengolan sampah dan semua teman-teman di lingkungan hidup yakinlah bahwa meskipun ee jangan semua kita berorientasi uang apapun yang kita lakukan kita di lingkungan hidup itu kan kita memperbaiki kita kita mengedukasi untuk hal-hal baik. Maka jangan hanya uang yang kita harap, tapi tentu pahala itu yang kan hanya itu yang kita cari. Hanya itu kita Iya, Bu. Jadi, kita cari di dunia. Iya, Bu. Betul. Jadi, saya sangat setuju mudah-mudahan ee semua yang hadir di room ini juga punya pemikiran yang sama. Mari kita melakukan hal-hal baik dari diri kita sendiri. Mari kita lakukan hal-hal baik dari sekarang, dari lingkungan kita sendiri dulu. Ya, mungkin I terima kasih. Terima kasih kembali Ibu Hasriani ya. Makasih Mbak Deni. Iya. Baik Bapak Ibu ee untuk sekarang ini waktu sudah menunjukkan 12 lebih. Jadi untuk sesi tanya jawab kita cukupkan dan mohon maaf kepada Bapak Ibu yang mungkin belum dapat mendapatkan kesempatan untuk bertanya pada sesi kali ini. Dan untuk menutup acara webinar ini kepada Bu Najhamen-nya. Ee iya. Baik, makasih Mbak Di. Jadi ee karena kita membahas terkait sampah, bagaimana pengetahuan kita, bagaimana kepedulian kita yang akan merubah perilaku dan sehingga menghasilkan budaya yang baik. Nah, untuk mengolah sampah secara efektif memang kita harus mengintegrasikan semua itu. Bagaimana pengetahuan yang sudah kita miliki, bagaimana pengetahuan kita tentang pengelolaan sampah, kemudian itu ee terkait pentingnya misalnya pemilahan, bagaimana pentingnya pengolahan yang tepat. Nah, itu didukung oleh kepedulian perilaku kita yang ee positif ee perilaku kita yang aktif untuk selalu menanamkan budaya bersih dan bertanggung jawab. Nah, itu kemudian ee mengapa pengetahuan perilaku Buddha itu penting ya. Karena pengetahuan kita pahami bahwa sampah itu memberikan dampak buruk. Kemudian ee bagaimana kepedulian ee perilaku kita bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Kita perlu bertindak yang nyata. Kemudian bagaimana ee budaya itu dari tindakan yang nyata tadi kita menjadikan itu sebagai budaya untuk melakukan pengelolaan sampah khususnya kemudian melakukan pengelolaan lingkungan sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang bertanggung jawab dan bersih secara berkelanjutan. Mungkin itu aja Mbak Dini. Terima kasih ya. Baik terima kasih Bu Naj. Mungkin sebelum meninggal ibu meninggalkan ruangan Zoom di sini kita akan melakukan dokumentasi terlebih dahulu kepada Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan untuk mengaktifkan kameranya. Kita akan melakukan foto bareng terlebih dahulu Bapak Ibu semuanya mungkin saya akan langsungkan saja. Saya di sini akan melakukan perhitungan mundur dimulai dari angka 3. Baik Bapak Ibu. 3 2 1 yaah sekali lagi. 3 2 1. Oke. Baik Bapak Ibu untuk dokumentasi sudah dicukupkan. Saya ucapkan sekali lagi kepada Ibu Naah atas pemateriannya yang sangat bermanfaat ini dan semoga di lain waktu kita dapat ee bertemu kembali dan mungkin kepada Bu Najha apabila ingin meninggalkan ruangan Zoom sudah dipersilakan. Iya. Baik, terima kasih Ibu Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik Bapak Ibu semuanya, berakhir sudah acara webinar di hari ini dan bagi Bapak Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikat, Bapak Ibu dapat mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak Ibu mengisi presensinya dipastikan nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini juga akan mempengaruhi pengiriman e-sertifikat. Dan untuk itu saya akhiri kegiatan webinar hari ini. Mohon maaf apabila saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat melanjutkan aktivitas lainnya. Terima kasih.