Disuntik Pemerintah 60T, kenapa 51% BCA Dilepas Hanya Rp. 5,6T?
uyqFZ9oX1j0 • 2025-08-25
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bagi Anda yang tidak mengalami krisis moneter tahun '98 memang sulit untuk membayangkan kondisi saat itu. Namun krisis moneter 98 itu adalah ibarat bom nuklir. Gara-gara pakto 88 terjadilah bubble ekonomi yang dimanfaatkan para grup konglomerat untuk menghisap habis-habisan BLBI. Sahabat Akela yang saya kasihi, video kali ini adalah lanjutan dari video tentang fakta sejarah bagaimana konsorsium faralon jarum memenangkan tender atas 51% saham BCA di tahun 2002. Dalam video kali ini saya akan kembali melanjutkan video tersebut juga sekaligus sharing cara valuasi perusahaan paling sederhana dan itu adalah menghitung book value atau nilai buku suatu perusahaan. Namun sebelum mulai, saya mau ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena dalam 2 hari saja video kita tentang BLBI BCA Konsorsium Faralon Jarum ini ditonton lebih dari 300.000 ribu kali dan ada ribuan orang bergabung jadi sahabat Akela di channel ini. Itu semua bukan karena saya, tapi karena Anda semua yang share, like, komen, dan bantu viralkan video tersebut. Bagi Anda yang share video tersebut di WhatsApp, Telegram, bahkan grup keluarga, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Bagi Anda semua yang sabar nonton sampai habis, doa saya adalah semoga hidup Anda penuh berkat dan rezeki melimpah dari Tuhan. Berkat jasa sahabat Akela semua, channel ini bisa terus bersuara dengan data dan fakta, bukan narasi kosong dari teori konspirasi. Saya juga mau ucapkan terima kasih untuk para haters. Komentar panas kalian justru bikin algoritma YouTube ini semakin mendorong video ini. Jadi silakan dilanjutkan tanpa kalian sadari kalian sudah membantu saya. Buat para haters, saya juga doakan sehat selalu dan penuh berkat sehingga suatu hari nanti terbuka hatinya untuk melihat kebenaran berdasarkan data dan fakta. Yang terakhir saya diinfo oleh partner saya Bapak Hendra Martono alias Suheng, pencipta TIMO quantitative trading system yang kami pakai di Akela. Bahwa ada yang reupload video ini ke TikTok dan tanpa seizin kami, tanpa modifikasi diakui sebagai video miliknya. Sejujurnya saya kurang suka model begitu. Tapi saya memilih untuk tetap berdoa memohonkan berkat bagi orang yang sudah tega melakukannya. Semoga ke depan yang bersangkutan bisa mendapatkan rezeki dengan cara yang lebih baik, bukan dengan cara membajak karya orang lain juga. Semoga yang nonton di sana akhirnya bisa menemukan sumber aslinya channel Akela Trading System ini. Channel ini lahir dengan satu misi, yakni membawa terang. Sejak awal Akela konsisten berjuang melawan hoax, melawan teori konspirasi dan menghadirkan kebenaran lewat data dan fakta. Jadi terima kasih untuk semua dukungan, kritik bahkan hater yang masuk. Semua itu membuat Akela semakin kuat. Jangan lupa kita baru mulai. Masih banyak data yang akan kita bongkar bersama. Oke, sekarang yuk kita mulai. Dalam video yang lalu saya berusaha meluruskan narasi propaganda yang viral sehubungan dengan valuasi Bank BCA pada saat ditenderkan BPPN di tahun 2002. Saya sudah jelaskan dalam video tersebut bahwa menghitung aset BCA di tahun 2002 senilai R triliun adalah error yang cukup fatal karena melanggar prinsip akuntansi penting. Yakni aset yang sama yakni obligasi recap pemerintah itu dihitung dua kali alias double counting. Sudah termasuk di dalam total aset kemudian ditambahkan lagi. Kemudian kupon obligasi recap itu juga tidak dibayarkan sekaligus di tahun 2002 sehingga tidak bisa dimasukkan langsung semua digabungkan dalam neraca tahun itu. Akan tetapi tetap saja banyak yang mempertanyakan bahwa jika pemerintah memberikan obligasi rekap kepada BCA senilai 60 triliun sehingga aset BCA menjadi 117,5 triliun, kemudian 51% sahamnya diambil alih konsorsium faralon jarum senilai 5,3 hingga 5,6 triliun. Maka jika dilihat seperti itu, harga jual BCA saat itu kan memang benar-benar teramat keterlaluan sangat terlalu murah. Akan tetapi ada satu kekeliruan fatal jika melihat valuasi suatu perusahaan hanya dengan melihat asetnya saja tanpa melihat kewajibannya. Dalam neraca aset itu hanya satu sisi saja. kita belum lihat sisi sebelahnya yakni kewajiban dan ekuitas. Supaya jelas khusus bagi sahabat Akela yang belum pernah baca laporan keuangan gak ngerti neraca maka saya buatkan ilustrasi sederhana ya. Sebelumnya saya perlu sampaikan bahwa semua nama tokoh tempat kejadian dalam cerita ilustrasi ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan nama atau karakter atau kejadian dengan nama, karakter atau kejadian yang ada di dunia nyata, maka itu hanyalah kebetulan semata dan tidak disengaja. Oke. Alkisah ada seorang anak SMP yang ingin belajar jadi pengusaha. Sebut saja namanya Dono. Dono ini ingin buka rombong es krim dan dia berjualan selepas pulang sekolah. Selama ini dia sudah rajin menabung dan terkumpul uang Rp1 juta yang dia gunakan sebagai modal. Kita sebut uang ini adalah ekuitas atau modal. Kita tempatkan modal atau ekuitas ini pada kolom sebelah kanan. Kemudian guna membuat rombong dan membeli mesin es krim, Dono meminjam uang sebesar Rp2 juta dari mamanya. Kita sebut ini sebagai kewajiban karena bisnis es krim Dono ini wajib mengembalikan pinjaman ke mamanya Dono. Dono kemudian membuat rombong dan investasi pada alat pembuat es krim totalnya Rp1.750.000. Kita sebut ini sebagai aset tidak bergerak. Dan Dono juga beli susu, gula, coklat, keju, stroberi, dan lain-lain senilai Rp1 juta. Namun sesudah sebulan, stok ini berkurang menjadi hanya Rp750.000. Kita sebut ini inventory atau stok bahan baku. Dari penjualan es krimnya, Dono berhasil memperoleh uang tunai sebesar Rp500.000. Kita sebut ini kas. Perhatikan kas, aset tidak bergerak, dan sisa stok bahan baku atau inventory ini kita tempatkan pada sisi aset. Sesudah jalan sebulan karena ada banyak PR dan les, Dono kemudian ingin menjual bisnisnya ini ke temannya yakni Budi. Pertanyaannya, berapakah Budi harus membayar bisnis es krimnya si Dono ini? Jika dia bayar Rp3 juta, yakni senilai total aset, maka bagaimana jika kelak mamanya Dono tiba-tiba datang dan nagih utangnya ke Budi bayar R2 juta. Karena bingung, Budi kemudian minta tolong ke Pak Guru dan oleh Pak Guru dijelaskan bahwa nilai bisnis es krim dono adalah total asetnya dikurangi total kewajibannya. Karena total aset ada Rp3 juta dan total kewajiban adalah Rp2 juta, maka nilai bisnis es krim dono ini adalah Rp1 juta. Nah, Sahabat Akela yang saya kasihi, dari ilustrasi di atas kita sekarang paham bahwa nilai suatu perusahaan tidak bisa hanya lihat total asetnya saja. Namun total aset itu haruslah dikurangi dengan total kewajibannya dan selisihnya dikenal dengan sebutan nilai buku atau book value. Ini logikanya mirip kayak ada orang beli rumah harga Rp1 miliar tapi masih ada KPR Rp800 juta. Maka masa ketika mau jual rumah tersebut yang bersangkutan itu minta dibayar R1 miliar. Nah, terus yang lunasin KPR-nya siapa dong? Nah, berbekal dari prinsip tersebut, mari kita buka lagi neraca konsolidasi BCA di tahun 2002. Sekarang kita bahas yang detail, ya. Perhatikan ada kas senilai 3,5 triliun, 3,5 triliun. Giro pada Bank Indonesia 5,04 triliun. Giro pada bank-bank lain pihak ketiga R2 miliar. Kemudian penempatan pada bank-bank lain pihak ketiga 7,6 triliun dan obligasi pemerintah 47,7 triliun. Kemudian ditambahkan aset-aset lainnya, total aset menjadi 117,3 triliun. Pada kolom kewajiban dan ekuitas, ada kewajiban pada pihak ketiga, yakni nasabah-nasabah BCA senilai 103,7 triliun dan total kewajiban adalah 105,8 triliun. Kemudian pada ekuitas ada 11,5 triliun sehingga total kewajiban dan ekuitas adalah 117,3 triliun balance dengan total asetnya. Supaya jelas saya buatkan tabel sederhana yang mengacu pada angka-angka tersebut di atas. Kas giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, dan penempatan pada bank lain saya kelompokkan jadi satu. kita sebut sebagai kas dan setara kas. Totalnya 16,43 triliun. Kemudian ada obligasi reka pemerintah 47,7 triliun. Kemudian aset-aset lainnya saya global aja jadi satu menjadi 53,17 triliun sehingga total aset adalah 117,3 triliun. Pada kolom kewajiban simpanan dari nasabah ada 103,7 triliun dan kewajiban lainnya sehingga total kewajiban menjadi 105,8 triliun. Kemudian jumlah ekuitas adalah 11,5 triliun sehingga kalau ditotal kewajiban dan ekuitas menjadi 117,3 triliun. Sekarang coba lihat, jika obligasi rekap pemerintah ini kita hapus, maka total aset BCA hanya R9,6 triliun. Sementara dana tabungan dan deposito nasabah ada 103,7 triliun. yang artinya ketika nasabah menarik dananya, BCA tidak akan sanggup membayar seluruh nasabahnya. Kendati pun sudah menjual seluruh asetnya. Kondisi ini disebut insolven atau insolvabilitas alias bangkrut. Ada beberapa komentar yang kemudian menyebutkan bahwa semua bank di zaman sekarang pun jika dius bank tidak akan bisa membayar seluruh tabungan nasabah karena sistemnya fractional reserve banking dan loan to deposit ratio atau LDR di mana BI membatasi LDR maksimal sebesar 80%. Artinya maksimal dana yang bisa disalurkan untuk kredit hanya 80% dari total tabungan nasabah. Sehingga jika ada lebih dari 20% nasabah yang ras pada saat yang bersamaan menarik dana dari bank tersebut, maka bank akan kalah keliring. Tidak tersedia likuiditas yang cukup untuk memenuhi penarikan dana seluruh nasabah itu. Ini adalah permasalahan yang sangat berbeda. Yang disebutkan di sini adalah masalah likuiditas. Sementara yang saya jelaskan tadi itu adalah masalah solvabilitas. Jika hanya masalah likuiditas itu normal. Bank akan dengan sangat mudah meminjam dana kas dari bank lain atau bank sentral alias BI guna membayar nasabahnya. Namun jika masalahnya solvabilitas lah orang total asetnya saja kalau dijual tidak bisa mencukupi permintaan dana nasabahnya. Mau cari pinjaman kas dari mana? Itu namanya perusahaan bangkrut. Anda tanya ke semua dosen akuntansi atau gak usah dosen de semua orang yang ngerti akuntansi silakan tanya. Apabila ada perusahaan yang total asetnya tidak bisa meng-cover kewajibannya, apakah ada pihak lain yang mau kasih pinjaman ke perusahaan itu? Jawabnya 100% ditolak karena insolven alias bangkrut. Sampai tahap ini di tahun 2002 buat BCA 2002 bukan sekarang. pilihannya adalah A biarkan saja bangkrut emang gue pikirin atau B karena too big to fail maka BCA harus diselamatkan dan pemerintah Gus Dur memutuskan untuk mengambil langkah penyelamatan atas bank BCA yang saat itu sudah BTO dan menjadi milik BPPN. Di sinilah nampak kebesaran hati Gus Dur. Carut Marut perbankan ini adalah PR raksasa atau bahasa jawanya ketiban sampur yang berawal dari masa Orde Baru. Jauh sebelumnya. Gus Dur tidak ingin ekonomi negara menjadi semakin terpuruk. Namun di lain pihak beliau juga paham betul bahwa pemerintah tidak akan sanggup langsung menutup kekurangan dana nasabah BCA yang terjadi akibat kredit macet 52 triliun di Salim Grup dan grup-grup lainnya. Karena itu diputuskanlah obligasi rekap pemerintah senilai R30 triliun di mana yang 60 triliunnya khusus untuk BCA. Berarti sesudah ditambal oleh obligasi reka pemerintah maka BCA jadi sehat dong. Benar banget BCA tidak lagi insolven. Terus kenapa kok dijual senilai 5,5 triliun? Padahal obligasi yang diberikan pemerintah saja 60 triliun. Nah, ingat enggak di awal saya kasih ilustrasi bisnis es krimnya si Dono yang dijual ke Budi? Kata Pak Guru, untuk menghitung nilai suatu perusahaan haruslah menggunakan nilai buku alias book value. Ayo sekarang hitung nilai aset BCA itu 117,3 triliun dikurangi kewajibannya Rp15,8 triliun, maka nilai buku atau book value BCA di tahun 2002 adalah Rp,5 triliun. Berhubung total aset adalah total kewajiban ditambah ekuitas, maka jika kita masukkan ke rumus nilai buku, maka kita dapatkan nilai buku atau book value ini sebenarnya sama dengan jumlah ekuitas. Dan coba lihat ekuitas BCA di tahun 2002 adalah Rp,5 triliun. Jadi klop ya. Nah, sekarang berhubung nilai buku BCA adalah 11,5 triliun, maka 51%-nya adalah 5,87 triliun. Berhubung kondisi makro yang sangat buruk saat itu, BPPN kemudian menetapkan PBV atau price to book value ratio sebesar 0,9 hingga 0,95 sebagai floor value atau nilai terendah untuk memulai tender. Sehingga jika 5,87 triliun itu dikalikan rasio PBV 0,95 ketemulah angka R5,6 triliun. Dalam video sebelumnya saya sudah jelaskan bahwa awalnya ada tujuh peminat, yakni peminat awal atau early interested parties itu termasuk HSBC, kemudian ada Bank of America, kemudian Astra International, kemudian Standard Chartered Bank. DBS Bank, Temasc Holdings dan Faralon Capital yang kemudian gandeng grup jarum membentuk Farindo. Namun pada saat tender hanya tersisa empat kandidat saja, yakni standard chartered bank dari Inggris, DBS Bank Singapura, Temasake Holding Singapura lewat anak usahanya dan konsorsium Faralon Capital Amerika dengan jarum Group lewat vehicle bernama Farindo Investment Limited. Oh, ada satu lagi. Rata-rata price to book value bank di Indonesia saat itu berada di kisaran 0,69. Data ini saya ambil dari dokumen Global Equity Research berjudul Indonesian Banks Accidental Stars. Di mana analisnya melakukan upgrade atas valuasi bank-bank di Indonesia dari underweight jadi neutral. Sehingga dengan PBV 0,95 BCA itu valuasinya sudah termasuk bank dengan valuasi tertinggi dibandingkan bank-bank lainnya di Indonesia saat itu. Ironisnya, Global Equity Reports ini diterbitkan oleh Lemon Brothers di mana di tahun 2002 LEN masih merupakan salah satu raksasa perbankan global. Namun siapa yang bisa menyangka 6 tahun kemudian nasib London Brothers itu berakhir tragis? bank tersebut yang akhirnya insolven alias bangkrut akibat krisis subprime mortgage. Namun ini masalah lain lagi, cerita beda lagi. Oke, kemudian ada komentar mengenai Pak Kik Kian yang mati-matian menentang divestasi BCA yang terburu-buru. Saya setuju dengan Pak K. Namun saat itu divestasi ini adalah permintaan dari AMF karena pemerintah RI kesulitan dana guna membiayai APBN. Bagi Anda yang tidak mengalami krisis moneter tahun '98 memang sulit untuk membayangkan kondisi saat itu. Namun krisis moneter 98 itu adalah ibarat bom nuklir. Gara-gara pakto 88 terjadilah bubble ekonomi yang dimanfaatkan para grup konglomerat untuk menghisap habis-habisan BLBI. Indonesia saat itu masih bergantung pada IMF, World Bank, ADB, CGI atau Consultative Group on Indonesia untuk pinjaman baru agar APBN-nya bisa jalan. Anda paham ya? APBN ini hanya bisa jalan dengan bantuan ya. Kalau enggak ada bantuan dia enggak bisa jalan. sehingga sangat tergantung pada bantuan ini semua akibat musibah krisis moneter 98 yang berawal dari pakto 88 tadi. Salah satu syarat IMF adalah pemerintah harus segera melakukan privatisasi BUMN dan divestasi bank recap supaya ada pemasukan kas tunai untuk APBN buat budget financing. Saat BPPN menjual 51% saham BCA ke Farindo, kurang lebih nilai R5,6 triliun, hasil penjualan masuk ke kas negara melalui BPPN. Uang ini langsung dipakai untuk mendanai defisit APBN dan pembayaran bunga utang. Jadi divestasi bank termasuk BCA, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Lipo pada dasarnya adalah strategi fiskal darurat guna menguangkan aset agar APBN-nya tidak jebol. Kigangi menilai bahwa pemerintah seharusnya tidak menjual terburu-buru hanya demi nutup APBN. Namun Pak Kui sendiri paham bahwa pemerintah itu perlu cash untuk nutup defisit di mana IMF menekankan bahwa hasil privatisasi dan divestasi itu jadi sumber penerimaan negara. Oh, by the way ini baru bicara BCA. Cerita ini hanyalah sebagian kecil dari dampak krisis moneter tahun 98. Sesudah bertugas selama 5 tahun pada tanggal 27 Februari 2004, Presiden Megawati lewat Kepres nomor 15 tahun 2004 memutuskan untuk membubarkan BPPN. Dari konglomerat penerima BLBI ada 58 grup besar. BPPN menerima penyerahan aset melalui skema MSA MRNI dengan nilai buku sekitar Rp131 triliun. Nah, dari aset Rp131 triliun itu setelah dijual dan dikelola nilai ri yang bisa masuk ke kas negara itu hanya kurang lebih 18 sampai 20 triliun. Artinya lebih dari 110 triliun aset sitaan nilainya itu menguap angin. Banyak konglomerat akhirnya dapat SKL atau surat keterangan lunas walaupun pembayaran real jauh di bawah kewajiban awal. Pada tahun 2006, BPK mencatat total kerugian negara dari BLBI dan atau BPPN itu mencapai kisaran Rp650 triliun. By the way, lantas bagaimana dengan saham BBCA sekarang ini? Anda ingin tahu analisa fundamental dan analisa teknikal BBCA dari tim analis Akela? Ketik di kolom komentar ya. Nah, Sahabat Akela, Anda ingin konsultasi sehubungan dengan trading maupun investasi di Bursa Efek Indonesia, bursa saham Amerika, Forex, Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto, ikuti Akela live streaming di channel ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30 WIB di mana Akela akan hadir guna menjawab seluruh pertanyaan Anda. Semoga bermanfaat semuanya. Sukses selalu dan sampai jumpa.
Resume
Categories