Transcript
uyqFZ9oX1j0 • Disuntik Pemerintah 60T, kenapa 51% BCA Dilepas Hanya Rp. 5,6T?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0283_uyqFZ9oX1j0.txt
Kind: captions
Language: id
Bagi Anda yang tidak mengalami krisis
moneter tahun '98 memang sulit untuk
membayangkan kondisi saat itu. Namun
krisis moneter 98 itu adalah ibarat bom
nuklir.
Gara-gara pakto 88 terjadilah bubble
ekonomi yang dimanfaatkan para grup
konglomerat untuk menghisap
habis-habisan BLBI.
Sahabat Akela yang saya kasihi, video
kali ini adalah lanjutan dari video
tentang fakta sejarah bagaimana
konsorsium faralon jarum memenangkan
tender atas 51% saham BCA di tahun 2002.
Dalam video kali ini saya akan kembali
melanjutkan video tersebut juga
sekaligus sharing cara valuasi
perusahaan paling sederhana dan itu
adalah menghitung book value atau nilai
buku suatu perusahaan.
Namun sebelum mulai, saya mau ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya
karena dalam 2 hari saja video kita
tentang BLBI BCA Konsorsium Faralon
Jarum ini ditonton lebih dari 300.000
ribu kali dan ada ribuan orang bergabung
jadi sahabat Akela di channel ini. Itu
semua bukan karena saya, tapi karena
Anda semua yang share, like, komen, dan
bantu viralkan video tersebut. Bagi Anda
yang share video tersebut di WhatsApp,
Telegram, bahkan grup keluarga, saya
ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.
Bagi Anda semua yang sabar nonton sampai
habis, doa saya adalah semoga hidup Anda
penuh berkat dan rezeki melimpah dari
Tuhan. Berkat jasa sahabat Akela semua,
channel ini bisa terus bersuara dengan
data dan fakta, bukan narasi kosong dari
teori konspirasi.
Saya juga mau ucapkan terima kasih untuk
para haters. Komentar panas kalian
justru bikin algoritma YouTube ini
semakin mendorong video ini. Jadi
silakan dilanjutkan tanpa kalian sadari
kalian sudah membantu saya. Buat para
haters, saya juga doakan sehat selalu
dan penuh berkat sehingga suatu hari
nanti terbuka hatinya untuk melihat
kebenaran berdasarkan data dan fakta.
Yang terakhir saya diinfo oleh partner
saya Bapak Hendra Martono alias Suheng,
pencipta TIMO quantitative trading
system yang kami pakai di Akela. Bahwa
ada yang reupload video ini ke TikTok
dan tanpa seizin kami, tanpa modifikasi
diakui sebagai video miliknya.
Sejujurnya saya kurang suka model
begitu. Tapi saya memilih untuk tetap
berdoa memohonkan berkat bagi orang yang
sudah tega melakukannya. Semoga ke depan
yang bersangkutan bisa mendapatkan
rezeki dengan cara yang lebih baik,
bukan dengan cara membajak karya orang
lain juga. Semoga yang nonton di sana
akhirnya bisa menemukan sumber aslinya
channel Akela Trading System ini.
Channel ini lahir dengan satu misi,
yakni membawa terang.
Sejak awal Akela konsisten berjuang
melawan hoax, melawan teori konspirasi
dan menghadirkan kebenaran lewat data
dan fakta. Jadi terima kasih untuk semua
dukungan, kritik bahkan hater yang
masuk.
Semua itu membuat Akela semakin kuat.
Jangan lupa kita baru mulai. Masih
banyak data yang akan kita bongkar
bersama. Oke, sekarang yuk kita mulai.
Dalam video yang lalu saya berusaha
meluruskan narasi propaganda yang viral
sehubungan dengan valuasi Bank BCA pada
saat ditenderkan BPPN di tahun 2002.
Saya sudah jelaskan dalam video tersebut
bahwa menghitung aset BCA di tahun 2002
senilai R triliun adalah error yang
cukup fatal karena melanggar prinsip
akuntansi penting. Yakni aset yang sama
yakni obligasi recap pemerintah itu
dihitung dua kali alias double counting.
Sudah termasuk di dalam total aset
kemudian ditambahkan lagi. Kemudian
kupon obligasi recap itu juga tidak
dibayarkan sekaligus di tahun 2002
sehingga tidak bisa dimasukkan langsung
semua digabungkan dalam neraca tahun
itu. Akan tetapi tetap saja banyak yang
mempertanyakan bahwa jika pemerintah
memberikan obligasi rekap kepada BCA
senilai 60 triliun sehingga aset BCA
menjadi 117,5 triliun, kemudian 51%
sahamnya diambil alih konsorsium faralon
jarum senilai 5,3 hingga 5,6 triliun.
Maka jika dilihat seperti itu, harga
jual BCA saat itu kan memang benar-benar
teramat keterlaluan sangat terlalu
murah. Akan tetapi ada satu kekeliruan
fatal jika melihat valuasi suatu
perusahaan hanya dengan melihat asetnya
saja tanpa melihat kewajibannya.
Dalam neraca aset itu hanya satu sisi
saja. kita belum lihat sisi sebelahnya
yakni kewajiban dan ekuitas. Supaya
jelas khusus bagi sahabat Akela yang
belum pernah baca laporan keuangan gak
ngerti neraca maka saya buatkan
ilustrasi sederhana ya. Sebelumnya saya
perlu sampaikan bahwa semua nama tokoh
tempat kejadian dalam cerita ilustrasi
ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan
nama atau karakter atau kejadian dengan
nama, karakter atau kejadian yang ada di
dunia nyata, maka itu hanyalah kebetulan
semata dan tidak disengaja. Oke. Alkisah
ada seorang anak SMP yang ingin belajar
jadi pengusaha. Sebut saja namanya Dono.
Dono ini ingin buka rombong es krim dan
dia berjualan selepas pulang sekolah.
Selama ini dia sudah rajin menabung dan
terkumpul uang Rp1 juta yang dia gunakan
sebagai modal. Kita sebut uang ini
adalah ekuitas atau modal. Kita
tempatkan modal atau ekuitas ini pada
kolom sebelah kanan. Kemudian guna
membuat rombong dan membeli mesin es
krim, Dono meminjam uang sebesar Rp2
juta dari mamanya. Kita sebut ini
sebagai kewajiban karena bisnis es krim
Dono ini wajib mengembalikan pinjaman ke
mamanya Dono. Dono kemudian membuat
rombong dan investasi pada alat pembuat
es krim totalnya Rp1.750.000.
Kita sebut ini sebagai aset tidak
bergerak. Dan Dono juga beli susu, gula,
coklat, keju, stroberi, dan lain-lain
senilai Rp1 juta. Namun sesudah sebulan,
stok ini berkurang menjadi hanya
Rp750.000.
Kita sebut ini inventory atau stok bahan
baku. Dari penjualan es krimnya, Dono
berhasil memperoleh uang tunai sebesar
Rp500.000.
Kita sebut ini kas.
Perhatikan kas, aset tidak bergerak, dan
sisa stok bahan baku atau inventory ini
kita tempatkan pada sisi aset. Sesudah
jalan sebulan karena ada banyak PR dan
les, Dono kemudian ingin menjual
bisnisnya ini ke temannya yakni Budi.
Pertanyaannya, berapakah Budi harus
membayar bisnis es krimnya si Dono ini?
Jika dia bayar Rp3 juta, yakni senilai
total aset, maka bagaimana jika kelak
mamanya Dono tiba-tiba datang dan nagih
utangnya ke Budi bayar R2 juta.
Karena bingung, Budi kemudian minta
tolong ke Pak Guru dan oleh Pak Guru
dijelaskan bahwa nilai bisnis es krim
dono adalah total asetnya dikurangi
total kewajibannya. Karena total aset
ada Rp3 juta dan total kewajiban adalah
Rp2 juta, maka nilai bisnis es krim dono
ini adalah Rp1 juta. Nah, Sahabat Akela
yang saya kasihi, dari ilustrasi di atas
kita sekarang paham bahwa nilai suatu
perusahaan tidak bisa hanya lihat total
asetnya saja. Namun total aset itu
haruslah dikurangi dengan total
kewajibannya dan selisihnya dikenal
dengan sebutan nilai buku atau book
value. Ini logikanya mirip kayak ada
orang beli rumah harga Rp1 miliar tapi
masih ada KPR Rp800 juta. Maka masa
ketika mau jual rumah tersebut yang
bersangkutan itu minta dibayar R1
miliar. Nah, terus yang lunasin KPR-nya
siapa dong?
Nah, berbekal dari prinsip tersebut,
mari kita buka lagi neraca konsolidasi
BCA di tahun 2002.
Sekarang kita bahas yang detail, ya.
Perhatikan ada kas senilai 3,5 triliun,
3,5 triliun. Giro pada Bank Indonesia
5,04 triliun. Giro pada bank-bank lain
pihak ketiga R2 miliar. Kemudian
penempatan pada bank-bank lain pihak
ketiga 7,6 triliun dan obligasi
pemerintah 47,7 triliun. Kemudian
ditambahkan aset-aset lainnya, total
aset menjadi 117,3
triliun.
Pada kolom kewajiban dan ekuitas, ada
kewajiban pada pihak ketiga, yakni
nasabah-nasabah BCA senilai 103,7
triliun dan total kewajiban adalah 105,8
triliun. Kemudian pada ekuitas ada 11,5
triliun sehingga total kewajiban dan
ekuitas adalah 117,3 triliun balance
dengan total asetnya. Supaya jelas saya
buatkan tabel sederhana yang mengacu
pada angka-angka tersebut di atas. Kas
giro pada Bank Indonesia, giro pada bank
lain, dan penempatan pada bank lain saya
kelompokkan jadi satu. kita sebut
sebagai kas dan setara kas. Totalnya
16,43
triliun. Kemudian ada obligasi reka
pemerintah 47,7 triliun. Kemudian
aset-aset lainnya saya global aja jadi
satu menjadi 53,17 triliun sehingga
total aset adalah 117,3
triliun. Pada kolom kewajiban simpanan
dari nasabah ada 103,7 triliun dan
kewajiban lainnya sehingga total
kewajiban menjadi 105,8 triliun.
Kemudian jumlah ekuitas adalah 11,5
triliun sehingga kalau ditotal kewajiban
dan ekuitas menjadi 117,3
triliun. Sekarang coba lihat, jika
obligasi rekap pemerintah ini kita
hapus,
maka total aset BCA hanya R9,6
triliun.
Sementara dana tabungan dan deposito
nasabah ada 103,7
triliun. yang artinya ketika nasabah
menarik dananya, BCA tidak akan sanggup
membayar seluruh nasabahnya. Kendati pun
sudah menjual seluruh asetnya.
Kondisi ini disebut insolven atau
insolvabilitas
alias bangkrut. Ada beberapa komentar
yang kemudian menyebutkan bahwa semua
bank di zaman sekarang pun jika dius
bank tidak akan bisa membayar seluruh
tabungan nasabah karena sistemnya
fractional reserve banking dan loan to
deposit ratio atau LDR di mana BI
membatasi LDR maksimal sebesar 80%.
Artinya maksimal dana yang bisa
disalurkan untuk kredit hanya 80% dari
total tabungan nasabah. Sehingga jika
ada lebih dari 20% nasabah yang ras pada
saat yang bersamaan menarik dana dari
bank tersebut, maka bank akan kalah
keliring. Tidak tersedia likuiditas yang
cukup untuk memenuhi penarikan dana
seluruh nasabah itu. Ini adalah
permasalahan yang sangat berbeda. Yang
disebutkan di sini adalah masalah
likuiditas.
Sementara yang saya jelaskan tadi itu
adalah masalah solvabilitas.
Jika hanya masalah likuiditas itu
normal.
Bank akan dengan sangat mudah meminjam
dana kas dari bank lain atau bank
sentral alias BI guna membayar
nasabahnya.
Namun jika masalahnya solvabilitas
lah orang total asetnya saja kalau
dijual tidak bisa mencukupi permintaan
dana nasabahnya. Mau cari pinjaman kas
dari mana? Itu namanya perusahaan
bangkrut. Anda tanya ke semua dosen
akuntansi atau gak usah dosen de semua
orang yang ngerti akuntansi silakan
tanya. Apabila ada perusahaan yang total
asetnya tidak bisa meng-cover
kewajibannya,
apakah ada pihak lain yang mau kasih
pinjaman ke perusahaan itu? Jawabnya
100% ditolak
karena insolven alias bangkrut. Sampai
tahap ini di tahun 2002 buat BCA 2002
bukan sekarang. pilihannya adalah A
biarkan saja bangkrut emang gue pikirin
atau B karena too big to fail maka BCA
harus diselamatkan dan pemerintah Gus
Dur memutuskan untuk mengambil langkah
penyelamatan atas bank BCA yang saat itu
sudah BTO dan menjadi milik BPPN.
Di sinilah nampak kebesaran hati Gus
Dur. Carut Marut perbankan ini adalah PR
raksasa atau bahasa jawanya ketiban
sampur yang berawal dari masa Orde Baru.
Jauh sebelumnya. Gus Dur tidak ingin
ekonomi negara menjadi semakin terpuruk.
Namun di lain pihak beliau juga paham
betul bahwa pemerintah tidak akan
sanggup langsung menutup kekurangan dana
nasabah BCA yang terjadi akibat kredit
macet 52 triliun di Salim Grup dan
grup-grup lainnya.
Karena itu diputuskanlah obligasi rekap
pemerintah senilai R30 triliun di mana
yang 60 triliunnya khusus untuk BCA.
Berarti sesudah ditambal oleh obligasi
reka pemerintah maka BCA jadi sehat
dong. Benar banget BCA tidak lagi
insolven. Terus kenapa kok dijual
senilai 5,5 triliun? Padahal obligasi
yang diberikan pemerintah saja 60
triliun. Nah, ingat enggak di awal saya
kasih ilustrasi bisnis es krimnya si
Dono yang dijual ke Budi? Kata Pak Guru,
untuk menghitung nilai suatu perusahaan
haruslah menggunakan nilai buku alias
book value. Ayo sekarang hitung nilai
aset BCA itu 117,3
triliun dikurangi kewajibannya Rp15,8
triliun, maka nilai buku atau book value
BCA di tahun 2002 adalah Rp,5 triliun.
Berhubung total aset adalah total
kewajiban ditambah ekuitas, maka jika
kita masukkan ke rumus nilai buku, maka
kita dapatkan nilai buku atau book value
ini sebenarnya sama dengan jumlah
ekuitas. Dan coba lihat ekuitas BCA di
tahun 2002 adalah Rp,5 triliun. Jadi
klop ya. Nah, sekarang berhubung nilai
buku BCA adalah 11,5 triliun, maka
51%-nya
adalah 5,87 triliun. Berhubung kondisi
makro yang sangat buruk saat itu, BPPN
kemudian menetapkan PBV atau price to
book value ratio sebesar 0,9 hingga 0,95
sebagai floor value atau nilai terendah
untuk memulai tender. Sehingga jika 5,87
triliun itu dikalikan rasio PBV 0,95
ketemulah angka R5,6 triliun.
Dalam video sebelumnya saya sudah
jelaskan bahwa awalnya ada tujuh
peminat, yakni peminat awal atau early
interested parties itu termasuk HSBC,
kemudian ada Bank of America, kemudian
Astra International, kemudian Standard
Chartered Bank. DBS Bank, Temasc
Holdings dan Faralon Capital yang
kemudian gandeng grup jarum membentuk
Farindo. Namun pada saat tender hanya
tersisa empat kandidat saja, yakni
standard chartered bank dari Inggris,
DBS Bank Singapura, Temasake Holding
Singapura lewat anak usahanya dan
konsorsium Faralon Capital Amerika
dengan jarum Group lewat vehicle bernama
Farindo Investment Limited.
Oh, ada satu lagi. Rata-rata price to
book value bank di Indonesia saat itu
berada di kisaran 0,69.
Data ini saya ambil dari dokumen Global
Equity Research berjudul Indonesian
Banks Accidental Stars. Di mana
analisnya melakukan upgrade atas valuasi
bank-bank di Indonesia dari underweight
jadi neutral. Sehingga dengan PBV 0,95
BCA itu valuasinya sudah termasuk bank
dengan valuasi tertinggi dibandingkan
bank-bank lainnya di Indonesia saat itu.
Ironisnya, Global Equity Reports ini
diterbitkan oleh Lemon Brothers di mana
di tahun 2002 LEN masih merupakan salah
satu raksasa perbankan global. Namun
siapa yang bisa menyangka 6 tahun
kemudian nasib London Brothers itu
berakhir tragis? bank tersebut yang
akhirnya insolven alias bangkrut akibat
krisis subprime mortgage. Namun ini
masalah lain lagi, cerita beda lagi.
Oke, kemudian ada komentar mengenai Pak
Kik Kian yang mati-matian menentang
divestasi BCA yang terburu-buru. Saya
setuju dengan Pak K. Namun saat itu
divestasi ini adalah permintaan dari AMF
karena pemerintah RI kesulitan dana guna
membiayai APBN.
Bagi Anda yang tidak mengalami krisis
moneter tahun '98 memang sulit untuk
membayangkan kondisi saat itu. Namun
krisis moneter 98 itu adalah ibarat bom
nuklir.
Gara-gara pakto 88 terjadilah bubble
ekonomi yang dimanfaatkan para grup
konglomerat untuk menghisap
habis-habisan BLBI.
Indonesia saat itu masih bergantung pada
IMF, World Bank, ADB, CGI atau
Consultative Group on Indonesia untuk
pinjaman baru agar APBN-nya bisa jalan.
Anda paham ya? APBN ini hanya bisa jalan
dengan bantuan ya. Kalau enggak ada
bantuan dia enggak bisa jalan. sehingga
sangat tergantung pada bantuan ini semua
akibat musibah krisis moneter 98 yang
berawal dari pakto 88 tadi. Salah satu
syarat IMF adalah pemerintah harus
segera melakukan privatisasi BUMN dan
divestasi bank recap supaya ada
pemasukan kas tunai untuk APBN buat
budget financing.
Saat BPPN menjual 51% saham BCA ke
Farindo, kurang lebih nilai R5,6
triliun, hasil penjualan masuk ke kas
negara melalui BPPN. Uang ini langsung
dipakai untuk mendanai defisit APBN dan
pembayaran bunga utang. Jadi divestasi
bank termasuk BCA, Bank Danamon, Bank
Niaga, Bank Lipo pada dasarnya adalah
strategi fiskal darurat guna menguangkan
aset agar APBN-nya tidak jebol. Kigangi
menilai bahwa pemerintah seharusnya
tidak menjual terburu-buru hanya demi
nutup APBN.
Namun Pak Kui sendiri paham bahwa
pemerintah itu perlu cash untuk nutup
defisit di mana IMF menekankan bahwa
hasil privatisasi dan divestasi itu jadi
sumber penerimaan negara. Oh, by the way
ini baru bicara BCA. Cerita ini hanyalah
sebagian kecil dari dampak krisis
moneter tahun 98. Sesudah bertugas
selama 5 tahun pada tanggal 27 Februari
2004, Presiden Megawati lewat Kepres
nomor 15 tahun 2004 memutuskan untuk
membubarkan BPPN.
Dari konglomerat penerima BLBI ada 58
grup besar. BPPN menerima penyerahan
aset melalui skema MSA MRNI
dengan nilai buku sekitar Rp131
triliun.
Nah, dari aset Rp131 triliun itu setelah
dijual dan dikelola nilai ri yang bisa
masuk ke kas negara itu hanya kurang
lebih 18 sampai 20 triliun. Artinya
lebih dari 110 triliun aset sitaan
nilainya itu menguap
angin. Banyak konglomerat akhirnya dapat
SKL atau surat keterangan lunas walaupun
pembayaran real jauh di bawah kewajiban
awal. Pada tahun 2006, BPK mencatat
total kerugian negara dari BLBI dan atau
BPPN itu mencapai kisaran Rp650
triliun.
By the way, lantas bagaimana dengan
saham BBCA sekarang ini? Anda ingin tahu
analisa fundamental dan analisa teknikal
BBCA dari tim analis Akela? Ketik di
kolom komentar ya. Nah, Sahabat Akela,
Anda ingin konsultasi sehubungan dengan
trading maupun investasi di Bursa Efek
Indonesia, bursa saham Amerika, Forex,
Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto,
ikuti Akela live streaming di channel
ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30
WIB di mana Akela akan hadir guna
menjawab seluruh pertanyaan Anda. Semoga
bermanfaat semuanya. Sukses selalu dan
sampai jumpa.