Transcript
JiSrTgwlRNc • Pebasket Nasional Pulang ke Desa, Tinggalkan Karier Demi Melanjutkan Bisnis Keluarga
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0594_JiSrTgwlRNc.txt
Kind: captions
Language: id
Jadi dulu tuh saya pernah tanya ke Ibu,
Mas, Bu, nyapa toh, Bu, kok karyawan tuh
ibu kasih gaji harian gitu loh, kenapa
enggak bulanan gitu?
E ibu cuma bilang itu
itu lebih ke bersosialnya apa ya
bersimpati ke karyawan gitu loh. Kamu
enggak lihat le kalau misal ibu kasih
harian itu nanti ibu-ibu, bapak-bapak
yang kerja itu kalau misal pulang itu
bisa kasih jajan ke anaknya, bisa beli
nasi goreng, bisa beli pecel gitu loh,
Mas. Tiap hari bisa gitu pegang uang
gitu loh, Mas. Jadi enggak perlu
karyawan itu nunggu bulanan gajian gitu
kan. Kebanyakan kalau nunggu gajian itu
kalau orang enggak punya uang kan pasti
ujung-ujungnya kan ngutang ya, Mas ya.
Kalau karyawan gitu. Kalau basket kan
sering tuh, Mas, dapat tawaran, ayo
kerja di sini tapi ikut basketnya. Ayo
kerja di Pertamina nanti ikut basketnya.
Kayak gitu. Itu sering Mas, saya dapat
tawaran seperti itu. Tapi saya tuh
enggak pernah mau ya, Mas, jadi
karyawan. Enggak tahu kenapa k disik
cilikanku. Pokoke aku cita-citane dadi
wong sugih. Mbuh sugih piye carane
pokoke ya dari usaha itu
[Musik]
dulu. Yang merintis pertama itu dari
kakek saya. Iya. Kek saya tahun 1960.
Iya. sebelum G30S sudah ada, sudah eksis
rambak ini menurut ceritanya sebelum
kemerdekaan sudah ada. Memang sudah ada
jarahnya diproduksi secara manual semua.
Untuk merendamnya kita dulu waktu
pertama kali belum ada Sanyo, kita
ngerendamnya di sungai itu. Terus untuk
menghilangkan kadar airnya kita itu
pakai tangan, pakai jasa orang. Sekarang
kita sudah modern sedikit. Saya waktu
mengambil keputusan itu tahun 1998.
Tapi sebelum itu saya sudah mulai
bantu-bantu orang tua itu mulai tahun
90. Habis lulus sekolah, saya lulus
sekolah 89 90 langsung kerja kerja bantu
orang tua. Saya bagian mencari bahan
baku di luar pulau sampai tahun '96 saya
putuskan untuk menekuni. Ini
kan dari ayah kan ada 10 bersaudara.
Jadi beberapa saudara adik kakaknya ayah
tuh ada yang bikin masing-masing produk
sendiri. Jadi udah diajarin dari kakek
nenek saya dulu gitu.
Dulu pas apa, Mas? Pas masih muda ya
juga pernah supir mikrolet ya? Ya.
Di Surabaya
sebelum anu
sebelum nekunin ini ya bujang ya. Ya.
Iya.
Keinginan saya itu kalau ikut orang tua
itu gak enak. Nanti kan saudaranya
banyak, nanti kita dikirain nimbrung
sama orang tua. Enak memang langsung
melanjutkan orang tua enak, tapi saya
lebih berpikir ke depan untuk usaha
sendiri supaya nanti ndak diganggu sama
saudara-saudara saya yang mungkin ada
yang dari 10 orang saudara saya kan gak
sama, Mas. Ada yang berontak, ada yang
anu dikira saya nanti anu lobak saya
usaha sendiri begitu. Jagani omongan
yang gak enak ya. Dulu waktu pertama itu
saya produksinya satu hari bisa satu
lembar aja. satu lembar kulit itu ya
saya produksi sendiri, saya ambil
sendiri di pasar, terus saya olah
sendiri waktu itu dengan modal ya
Rp35uta kira-kira tahun
7 untuk beli bahan bakunya, untuk beli
alat-alatnya gitu Rp35uta itu
jadi dulu itu bukan kayak gini, Mas,
rumahnya ini masih ini belum jadi. Jadi
prosesnya itu di belakang sini semuanya
kita jemurnya juga di depan-depan sini,
Mas. dulu
kadang di kuburan juga sebelah itu buat
jemur
jemur kulit-kulitnya gitu.
Sudah nikah saya langsung usaha ini
sebelum kan masih bantu bantu orang tua
saya bagian
belum
'97 saya nikah '96 itu mulai dari tahun
2000 itu berjalan sudah 4 tahun sekitar
4 tahun apa 5 tahun gitu sudah mulai
terasa hasilnya. Iya, krisis 98 itu iya
berdampak juga krisis moneter itu yang
berdampak itu bahan bakunya itu bahan
bakunya mahal sekali. Minyak, harga
minyak juga mahal waktu itu. Terus
penjualan juga omsetnya juga menurun
tapi tetap bisa produksi. Yakin, Pak.
Soalnya mulai dulu dari kakek saya
sampai ibu sampai saya itu kakek saya
jualan bawa sepeda keliling. Itu mulai
dari Tulungagung, Kediri, Kertosono
keliling bawa sepeda. Iya. itu bawa
kerupuk rambak itu penuh di belakang ada
apa andangnya itu pulang mesti habis
saya yakin itu pulang terus mesti bawa
uang yang saya yakin itu ya diteruskan
orang tua saya orang tua saya naik base
naik kereta nanti dari sana sudah
dijemput becak keliling mesti habis
pulang mesti bawa uang jadi akhirnya
saya yakin kalau saya ngawali bawa bok
sudah sewa bok
untuk keliling mulai dari Kediri
Kertosono sampai Surabaya saya itu
kelilingan sendiri
gak sih, Mas? Kalau saya tuh emang dari
kecil tuh sudah ndak pernah gengsi.
Kalau misal sekolah kan ibu suka nitip
rambak gitu toh, Le, bawaan ya opo bawa
ke kantin atau bawa ke mana gitu. Dari
SD, SMP, SMA itu saya sering bawa gitu.
Jadi kalau pas SMA kan di Surabaya, jadi
nanti pas saya pulang itu bawa rambak
setengah online gitu tak bawa ke sana.
Jadi pas sekolah itu istirahat itu saya
masuk-masuk ke kelas, "Ayo rambak,
rambak gitu. Siapa yang mau beli rambak
gitu?" Dulu pernah Mas ada yang ngatain
juga, "Eh, kasihan ya anu itu Kak
Andreas ya jualan rambak pasti buat uang
jajan gitu juga. Tapi aku wis enggak
pernah mikir sing aneh-aneh, Mas. Ya
wis, aku niate emang hidup dari rambak
kok mau gengsi gimana, Mas?" Saya di SMA
YPPI 1 di Surabaya. Gak tahu, Mas, ya.
Kok ndak pernah gengsi aku, Mas. dari SD
itu memang sudah diajarin ibu sama ayah
tuh memang seperti itu. Jadi sampai
kuliah pun nek misal kan saya kan kuliah
di Surabaya di Ubaya itu kalau pulang
itu bawa mobil tuh udah full rambak
sak mobil tuh wis full rambak Mas jadi
penumpang yang sebelah kiriku itu
sudahudah tak turunin semua jadi rambak
wis dilebokne kabeh ning mobil
sedeng
nanti baru dinyampai di kos baru
kontak-kontakan teman ini loh rambake
wis teko rambak wis teko ayo moro ning
koso n kos gitu mas dulu
mobil sak sedenge
sak sedenge wis pokoke diiseni pokoke
ya kalau memang mau punya tabungan ya
harus bekerja sebagai pedagang gitu.
Jadi saya kan dapat beasiswa
beasiswa
basket. Jadi ibu sama ayah ya cuma
biayainnya cuma ya uang jajan tuh kadang
kalau misalnya saya sudah bawa rambak
itu ya enggak dikasih gitu jadi sudah
bawa dari jualan makan dapat dari mes.
Sekolah juga dibiayain sama
basket. sekolahnya beasiswa
beasiswa semua
mulai SMA sampai perguruan tinggi
beasiswa semua
sampai sampai perguruan tinggi beasiswa
jadi anu paling enak ini Andreas sih
saya ndak mengeluarkan banyak uang
resepnya kita sama pelanggan itu
dianggap apa saudara gitu saudara sama
pelanggan itu bukan dianggap orang lain
sesama pelanggan itu kita anggap saudara
terus mutunya harus terjamin rasanya
kualitasnya juga pelayanannya nya gitu.
Karyawan kita harus kita perhatikan
betul. umpama kita ada pembeli, pembeli
1 kilo, 2 kilo, kita suruh monggo
ngicipi, nanti kita pulang dikasih
bonus. Entah itu rambak yang
kecil-kecil, entah itu dikasih bonus
satu bungkus, pelanggan sudah sudah
senang sekali, sudah menganggap kita itu
sebagai saudara, bukan anu orang lain
lagi. Jadi kita tetap awet tuh apa
pelanggan antara pelangan dengan anu
awet sekali. Kita gak pernah banyak,
Mas, penjual rambak-rambak semua kan
sini banyak. Tapi kalau sudah masuk di
sini wis sudah gak mau pindah, satu
rasanya juga kita pelayanannya harus
bagus.
Iya gak apa-apa
untung-utung promosi ya.
Promosi juga
mulut ke mulut kan cepanya. Kita harus
kan pembeliannya kalau banyak baru dianu
Mas. Kalau belinya sedikit kita yo suruh
ngicipi saja gitu. Minim ya 1 kilo.
1 kilo pasti dapat. Gak pernah saya
rinci, Mas. Sampai sekarang ya. Pokoke
punya uang belikan kulit nanti dirambak.
Belikan kulit lagi sampai rambaknya
numpuk. Nanti kalau ada beli aset, beli
anu masih bisa gitu aja. Jadi gak pernah
belum pernah dirinci nih. Gak tahu nanti
kalau Andreas melanjutkan dirinci saya
suruh merinci sampai detailnya. Tapi
ternyata ya masih ada sisanya berarti
kan untung kita sekarang minim sekali
masak ya 50 lembar yang kulit sapi nanti
kulit kerbo yo sekitar 400 kilo
tenaganya akan dibagi. Soalnya bagian
masak itu yang membutuhkan tenaga banyak
yang motong belum itu 2 hari sekali hari
se
Heeh kalau tiap harinya ya bisa 300 kilo
itu bisa 6 yang tiap hari itu yang
harian itu. Iya, asli kerbo. Kulit kerbo
itu itu kerbo dua. Kalau saya kerbo dua
sapi. Kalau kulit kerbo, kulit kerbo
kering.
Yang yang proses pengolahan kulit sapi.
Pengolahan kulit sapi sama kulit kerbu
kan sama. Itu namanya kerbu dua. Jadi
bahannya dari anu itu sapi fresh.
Rasanya juga hampir sama untuk yang
sapi. Yang sapi harus direndam pakai air
kapur. Kalau yang sapi kering,
garam. Sapi garan, sapi kering harus
itu. Itu nanti jatuhnya di kulit sapi.
Harganya di bawahnya kulit kerbo dua,
kerbo satu, kerbo dua, terus sapi. Itu
kulit sapi kalau besaran kita kan
banyak.
Banyak sekali. Kita nunggu seakali idola
aja itu bisa dipakai hampir 1 tahun.
Kita biasa dapat 40 ton. Oh 30 ke atas.
J kerbo kita dari Makassar ada dari NTT
ya. dari Makassar kota itu
prosesnya lebih sulit, Mas. Kalau yang
kerbau itu
bedanya kalau misalnya yang kerbau itu
ada mentenge barang ya.
Heeh.
Pengeringan berapa kali gitu, Mas. Kan
bulunya juga enggak bisa enggak bisa
dikerok gitu.
Bahannya memang lain, Mas.
Iya, bahannya lain. Tapi memang
teksturnya dari rasa beda banget banyak
sekali. Jadi produknya di keramba utama
ini
kerbo super
tiga macam 50 lembar itu sekitar 1 ton
lebih itu
jadinya kalau 1 ton ya sekitar 300 kilo
tergantung kulitnya kulitnya bagus
bagus terus Pak
2 hari sekali 200 kilo ada
[Musik]
saya ini baru pulang Mas sebenarnya kan
ayah ini kan jualannya kan pas offline
terus toh Mas jadi saya belajar apa
jualan di online-nya gitu take video
sendiri bikin konten-konten sendiri di
TikTok, di Instagram gitu, Mas. Jadi, ya
mulai dipasrahin sama ayah buat di
bagian online-annya dulu gitu buat
ngembangin usaha ini buat semua orang
tuh bisa ngenal gitu loh, Mas. Bisa
kenal sama Rambak Utama gitu. Dari
Tangerang saya dari BSD. Saya kan atlet
atlet profesional basket. Saya 5 tahun
di basket, saya 3 tahun di Tangerang.
Ini kontrak saya ini pas habis habis
gini minggu depan ini habis. Jadi pas
kemarin habis tunangan tuh ya tak
pepetin sekalian biar pulang ke sana
pamitan terus langsung pulang ke sini
itu loh Mas. Kub Tangerang Haus. Iya
benar. Kompetisi IBL itu kayak liga
satunya di bola gitu. Shooter ya shoter
beda poin cut yang sering bawa bola
gitu. Kalau saya kan bagiannya yang ke
pojok-pojok sing bagian nembak-nembak
tok gitu loh Mas.
Kayaknya saya ini sebenarnya anu Masion
saya di basket sama di bisnis itu
hampir-hampir sama. Jadi kalau misal
saya takutnya kalau terlalu lama pulang
ini ndelok bisnise berjalan terus itu
saya juga beh basket neh apa enggak yo
gitu loh Mas. Jadi pengin lanjut bisnis
terus gitu. Cuma sampai sekarang ini
saya masih mikir fifty-fifty gitu Mas
buat antara balik ke basket atau
lanjutin usahanya ayah buat ngembangin
bantu ngembangin gitu. Saya 26 tahun
sebenarnya masih panjang karirnya cuma
ya saya mikir kalau misal basket terus
gimana ya Mas ya untuk sanuk diguyu mek
ayah ngono loh Mas penghasilan wulanane
ngono ya cukuplah Mas kalau profesional
tapi kan dibanding dengan penghasilane
ayah sing bulanan kan yo wadoh toh mas
kok diguyu aku wis dong panggah bas ket
eng wis mulih rene lho tak ajari dodolan
rambak ngonojar saya passion hobi bisnis
juga dari dulu ya mas soalnya kan dari
SMA Sama juga belajar jualan-jualan
usus, jualan rambak gitu. Jadi saya
enggak mempermasalahkan itu. Mau saya
mau ninggalin basket sekarang pun juga
sebenarnya saya bisa gak ini gak eman
gak eman sama sekali. Dulu tuh
sebenarnya saya kan tukang olahraga lah
ibarat bukan pembasket tok gitu. Dulu
diajaki ya sepak bola juga gitu. Kecil
sudah saya ajari sepak bola.
Terus tiba-tiba pas SMP ii sering
dicengi konco-kanco l masapo kui
dibal-balan noo melu karate kene basket
kene gitu. Akhirnya memutuskan buat ke
basket. Eh, enggak tahunya pas ke
Surabaya main di Liga apa UNESA Cup itu
ada salah satu pelatih yang di CLS
namanya dulu CLS clubnya tapi CLSnya itu
kan sudah bubar pelatih saya itu
ngelihat saya main pas itu ada dua orang
teman saya yang diambil saya sama satu
lagi anak Mbago sini cuma yang lanjut ke
profesional cuma saya terus dibiayain
sekolah sama CLS sampai kuliahnya juga
dibiayain sama Ubaya setelah itu baru
saya main di Pasifik di Pasik Caesar itu
saya 2 tahun di Pasifik, habis gitu baru
saya pindah ke Tangerang. Lancar, Mas.
Puji Tuhan. Lancar. Kontrak setahun
nilainya ya, Mas ya sekitar 200 sekian
lah.
Usaha gak pernah dihitung ayahnya.
Pokoknya iso tukuleh diberikan anu lagi
diputar gitu.
Ini cukup nggih, Pak. Cukup
cukup Pak ya. Untuk biaya anak kuliah
biaya yang dua masih kuliah satu itu
sing penting ada gitu pas butuh ada
gitu. Memang gak pernah dirinci yo, Mas.
Betul. Tiap hari bayari karyawan. Ada
gajiannya harian. Kalau di sini
karyawannya
harian gak mingguan.
Ya. Jadi dulu tuh saya pernah tanya ke
Ibu toh, Mas, "Bu, nyapa toh, Bu, kok
karyawan tuh ibu kasih gaji harian gitu
loh, kenapa enggak bulanan gitu?"
E ibu cuma bilang itu
itu lebih ke bersosialnya apa ya
bersimpati ke karyawan gitu loh. Kamu
enggak lihat le kalau misal ibu kasih
harian itu nanti ibu-ibu, bapak-bapak
yang kerja itu kalau misal pulang itu
bisa kasih jajan ke anaknya, bisa beli
nasi goreng, bisa beli pecel gitu loh,
Mas.
Tiap hari bisa
tiap hari bisa istirahat gitu, pegang
uang gitu loh, Mas. Jadi enggak perlu
karyawan itu nunggu bulanan gajian gitu
kan. Kebanyakan kalau nunggu gaji itu
kalau orang enggak punya uang kan pasti
ujung-ujungnya kan ngutang ya Mas ya
kalau karyawan itu. Nah ini kalau di
kita kan sistem gajiannya tuh harian itu
setiap hari digaji gak? Nanti kalau pas
SD dibalikne ke ibu SD, SD SMP pas SMA
dipek kabeh
bablas duite. duite pas SMA sama kuliah
itu wis pokoknya bawa dari rumah wis tak
dol di Surabaya wis duite bablas manak s
anake dipek kabeh
satu ndak nyangoni dua ndak bayar kuliah
ituuk
syukur saya soalnyauk
satu anunya kan kalau adiknya ini kuliah
diubah sama ini kan mahal semesternya
[Musik]
kita ada outlet di stasiun saya punya
outlet sendiri terus ada kerja sama
sama-sama teman yang setahun juga itu
ada kita juga kirim di Kediri, Surabaya
juga ada tapi sebagian aja gak kayak
dulu saya putar diri sekarang dikirim
lewat travel gitu. Kita sudah pertama
sudah bisa nyekolahkan anak yang baru
lulus ini bisa beli kendaraan sendiri,
bisa beli aset tanah untuk gudang, aset
tanah untuk tabungan juga ada.
Mobil box dulu sewa.
Mobil bok dulu sewa, sekarang sudah
beli sendiri. beli sendiri gak dihitung
sama sekali. Kita situasi yang paling
berat COVID, Mas. Covid kemarin ya. Ya,
kemarin tuh gak berat ada kalau krisis
ya. Covid
yang COVID ini COVID ini selama hampir 2
tahun ya 3 tahun ini kita sudah pokoknya
bisa putar aja cukup soalnya gak ada
orang bepergian. Covid yang paling berat
itu
signifikan banget P.
Signifikan ya hampir ya hampir 70%nya
menurun.
Iya. Iya. Tapi masih bisa untuk muter
masih bisa untuk bayari karyawan masih
bisa cukup karyawan yang penting. Iya.
Nah, sing penting karyawannya bisa kerja
semua. Tapi tetap diganti sipsipan
daripada nanti gak kerja semua disipsip
gitu biar semua dapat
kerjaan
kerjaan semua. kita habis COVID 23
mulai ramai 2024 ya sudah mau 3 tahun
ini sudah mulai normal lagi ya waktu itu
ada pikiran begitu Masnya kan sudah
mulai usianya sudah mulai 26 belum ada
pacar belum laku gitu ya sekarang sudah
dapat orang Britar istrinya kerja di
sini ya saya suruh mikir sendiri mau
pulang apa mau lanjut terserah kalau mau
pulang kan lebih enak dekat sama
istrinya kalau lanjut di Jakarta lagi
Kan nanti jauh istrinya di sini Andreas
main basket di Jakarta. Pulangnya mesti
setahun dua kali ya.
Setahun dua kali itu pasti setahun dua
kali. Nanti kasihan istrinya gak tahu
nanti yang mengambil keputusan Andria
sendiri gak apa-apa. Saya juga gak
apa-apa tapi ambil yang dekat-dekat ini
aja. Surabaya apa
Jogja?
Jogja. Jogja lah Mas. Paling gak Jogja
kan ada klub Jogja apa Surabaya itu kan
bisa pulang 1 minggu sekali kan masih
bisa. Shopee aktif. Kalau yang jualannya
emang dari pertama bikin tuh kan Shopee
sama Tokopedia. Ini mulai ngerintis di
TikTok shop-nya, Mas. Jadi mulai
ngenalin ya videonya udah mulai lumayan
banyak cuma masih belum banyak yang beli
gitu loh, Mas. Jadi orang-orang masih
penasaran kayak kulit kerbu ini ternyata
bisa dijadikan rambak kayak gitu-gitu.
Banyak orang nanya kayak gitu, Mas.
konten biasanya saya pertama itu proses
pembuatannya
proses pemotongan, terus penggorengan
nanti packing kayak gitu-gitu, Mas. Jadi
proses-proses setiap hari aja saya
ngambil ke gudang, take video sendiri
gitu daily activity ya. Pas hari ini pas
lagi goreng, Ibu telepon tuh, "Yan, lagi
goreng ini ke gudang enggak?" "Oke, ke
gudang." Ke gudang ng-videoin
orang-orang goreng gitu, video-video
simpel gitu, Mas. Wah, banyak Mas sing
komen. Sing komen akeh koy Prindavan lah
koy ikilah. Tapi sebenarnya kalau
menurut saya Mas ya, dari sekian banyak
di sini itu salah satunya punya saya tuh
yang paling bersih, Mas gudangnya. Nanti
kalau Mas mau lihat sendiri langsung
bisa. Ini bukan settingan ya, Mas ya.
Bukan settingan harus karena masih
datang terus kita siap-siap enggak. Tapi
Mas ada SOP-nya kayak karyawannya yang
cowok harus pakai sepatu boot panjang,
harus pakai sarung tangan kayak gitu
memang ada. Jadi enggak sembarangan
kemproh-kemproh gitu, enggak. Ada, Mas.
Beberapa yang di TikTok yang kulitnya
sampai diidek-ideek ng alas kaki gitu
loh, Mas. Tanpa alas kaki juga ada. Itu
ada juga di TikTok. Jadi saya bikinnya
ya emang dari dulu ayah gitu ya. Ya,
ayah kan orangnya bersihan juga. Kalau
ayah ke kuda lihat karyawan-karyawan
yang kayak gitu pasti marah. Ayah
dimarahin kayak ngene iki diseret ngono
ae. Peh ayah iso bengok-bengok iku kayak
sing mentahan diseret ng gitu. Ayahnya
masih bengok-bengok mesti iya harus
bersih, Mas. Kalau enggak gitu makanan
susah, Mas. Kasihan orang-orangnya juga,
Mas, yang beli.
Cari apa? PRTnya juga susah PRT-nya.
Harus
SP-nya sesuai dengan dari dinas
harus keramik semua. I
karir basket.
Usaha, Mas. Usaha yang lebih jelas aja,
Mas. Uangnya, Mas. Itu kita udah masa
apa ya? Kita sudah dewasa ya, Mas ya.
Sama-sama ngertilah. Kita orang dewasa
pasti butuh uang, ya, Mas, ya, buat
nanti buat istri, buat anak ke depannya.
Kalau enggak mulai dari sekarang mau
sampai kapan lagi, Mas? Ya, meskipun ada
teman-teman yang basket yang sampai 30
tahun ke atas yang sukses juga ada
banyak. Saya enggak bilang kalau basket
kecil gajinya enggak. Cuma kan kalau
saya ngikutin passion di basket, hobi di
basket terus kan enggak enggak bisa Mas
ya buat-buat kehidupan sehari-hari
nantilah. Saya penginnya sih tek
cita-cita kayak nisik Mas ya. Cita-cita
kayak disik ditakoni ayah dis jadi
polisi disuruh jadi ini dokter lah. Saya
tuh gak pernah mau Mas. Nanti ditawarin
karyawan apa kalau basket kan sering tuh
Mas dapat tawaran, ayo kerja di sini
tapi ikut basketnya. Ayo kerja di
Pertamina nanti ikut basketnya kayak
gitu. Itu sering Mas saya dapat tawaran
seperti itu. Tapi saya tuh enggak pernah
mau ya Mas jadi karyawan. Enggak tahu
kenapa k disik cilikanku pokoke aku
cita-citane dadi wong sugih mbuh sugih
piye carane pokoke ya dari usaha itu
gitu loh Mas. Dari dulu cita-citanya
seperti itu. Beberapa kali ditawarin
I
yang di Jakarta ada teman yang nawarin
mau kerja enggak di Pertamina tapi ikut
basketnya gitu kayak gitu. Mas di bank
juga pernah Bank Jatim BCA banyak ya
karena basket itu bisa dapat privileg
seperti itu, Mas ya. Tapi saya enggak
tertarik Mas. Enggak tahu kenapa. Dulu
tuh pernah mikir sebuah mimpi buruk bagi
saya kalau misal bangun jam . pagi terus
pulang sore lagi itu kayak sekolah lagi
gitu loh Mas. Saya tuh ndak pernah
kepikiran punya kerjaan seperti itu. Gak
pernah. Saya penginnya kayak lebih
fleksibel. Saya bisa bangun kapan aja,
bisa selesai kerjanya kapan aja. Ya
meskipun di usaha itu ternyata kadang
sehari itu kita bisa 20 jam kerja gitu
loh. Enggak cuma 10 jam. Kayak karyawan
biasanya itu kan jam 08.00 jam .00 sore
pulang. Kalau di usaha itu sebenarnya
kan bisa sampai 15 jam bisa 20 jam kerja
belum berhenti gitu kan. Itu malah lebih
capek. Tapi enggak tahu kenapa saya
lebih suka gitu loh kalau di bisnis itu.
Makanya saya quick choice tadi bisa
memutuskan basket apa usaha. Usaha
langsung gitu.
Ya kita sama percaya sama orang aja yang
jaga toko. Toko yang di stasiun
ternyata ya masih saudara ternyata
uangnya disalahgunakan. Kan gak dicatat
toh Mas.
Pemasukan peng gak dirinci. Kita percaya
sama saudara saya, akhirnya uangnya
disalahgunakan, banyak yang dipakai
gitu. Akhirnya tetap disyukurilah lama
itu hampir
13 ya, Pak ya. 2013 tuh terakhir
terakhir ya.
Wih itu habisnya ratusan juta, Mas.
Karena kan pas itu juga saya pernah jaga
sendiri sama ibu pas hari raya gitu loh,
Mas. Hari raya kan saya bisa kira-kira
kalau misal satu hari dapatnya segini
padahal itu posisi ndak ada rambak loh
kita ndak punya rambak kerbo pas itu.
Nah pas dijaga orang itu malah oleh kok
sak mene ngono loh oleh kok sitik pas
dijogok padahal rambak kebo mentah itu
lek ngirim satu hari bisa dua karung
tiga karung ya. Nah, pas saya jaga sama
ibu itu saya kita ndak punya rambak
kerbau sama sekali. Sapi, kita paling
ngirim setengah karung ke toko hari itu
ya. Kita dapatnya justru malah lebih
banyak dari yang pas dijaga itu Mas.
Suka-dukanya itu.
Iya. Itu itu yang paling kalau saya
sebagai anak ngelihat orang tua yang pas
kesusahan ya pas itu Mas.
Malah kita malah membutuhkan dana dari
anu
dari bank.
Iya.
sebenarnya dicatat Mas di buku cuma
orangnya itu pintar banget buat ngatur
gitu loh. Jadi misal oleh opo dicatat
opo jadi setiap hari pulang ke sini
totalan itu ya sesuai sama uang yang
dikasihnya ke kita gitu sama saudara
itu.
Saya itu rencana kalau anak-anak yang
mau meneruskan monggo. Tapi harus ada
yang mau meneruskan. Soalnya kita mulai
babatnya kan sudah lama. Nanti kalau gak
ada yang meneruskan yo eman-eman usaha
ini yang sudah dirintis. Untuk merintis
ini juga kita butuh waktu untuk mendidik
anak itu mulai dari bahan baku carinya
di mana, proses pengolahannya gitu
sampai bahan jadinya sampai
pemasarannya. Kalau pemasaran relatif
bisa sudah bisa. Tapi kalau bahan
bakunya sampai prosesnya yang harus
diajari itu halal. Iya sudah. kemarin
baru
saya dapat sertifikat halal
sertifikat halal tahun 2 tahun yang lalu
ya 2 tahun yang lalu ya 2 tahun yang
lalu
2 tahun harus ada sertifikat halal kalau
rambak saya Pak Indro
saya Andreas
kami pemilik usaha kerupuk rambak super
sebagai ownernya alamat di Desa Sembung
RT4 RW3
Kecamatan Kota Tulungagung terima kasih
kasih
[Musik]