Rela Lepas Jabatan Manajer, Demi Waktu Bersama Keluarga & Rintis Usaha di Rumah
k2BwCML9gis • 2025-08-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Ya, karena memang ya namanya kerja kan ya mau sampai kapan kita kerja ikut orang terus. Karena kan kita kan juga punya masa depan, punya keluarga, punya anak seperti itu ya. Ya, saya terinspirasi dari banyak konsumen-konsumen itu sebenarnya. Jadi kan konsumen saya pada waktu itu kan memang kebanyakan kan orang-orang pengusaha yang beli mobil, yang di Surabaya itu yang trader itu kan rata-rata pengusaha semua. Untuk yang karyawan kan kok hampir enggak ada ya. Aku sudah berbisik aku enggak mau seperti itu. Ya memang kita terlihat hina kalau kita minjam orang. Tapi itu kan hanya hina di dunia, enggak di akhirat. Aku hanya bilang gitu aja. Yang penting enggak apa-apa kita ikhtiar saja pasti ada yang mau bantu. Yang penting kalau misalnya kita belum bayar, aku minta maaf ya aku belum bisa bayar sekarang. Bulan depan. Oh iya enggak apa-apa gitu. Alhamdulillah sampai ya orderan hari ini sudah enggak bisa kita layani hari ini. Harus 2 hari, 3 hari, bahkan sampai seminggu itu juga ada. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Muhammad Nur Yakin dan ini istri saya dengan nama Weni Kartika Dwi Utari. panggilannya saya Mas Yakinir saya panggilannya Mbak Weni. Usaha saat ini di bidang kuliner yaitu terlebih khusus di Dimsam. Dimsam kita lebih ke frozen food. Jadi kita fokusnya lebih ke B2B, bisnis to bisnis. Jadi kita enggak jual user itu enggak. Jadi makanya banyak beberapa mitra kami itu yang dari pengusaha-pengusaha juga pengusaha kafe, pengusaha resto bahkan sampai ke Bali juga. Alhamdulillah brandnya saya sesuai di baju pabrik dimsamza. Untuk lokasi usaha saya ada di Jalan Kenangaraya nomor 5A itu di Perumahan Perumnas Ngeronggo, Kota Kediri. Yang menamakan Mumtaza itu sebenarnya awalnya itu dari anak saya sekolah di tahfiz. Di tahfiz itu kan sering mumtaz ya kan. Terus kemudian kita lengkapi dengan mumtaza. Mumtaza kan artinya kesempurnaan. Kalau mumtas kan sempurna. Nah, ya berawal dari situ akhirnya nama itu muncul dengan yang kita bangun dengan brand pabrik dimsam Mumtaza Food seperti itu. Kita mulai kuliner. Sejak kuliner itu tahun 2022 itu pun belum di Dimsam. Pada waktu itu kita kulinernya itu masih di mulai dari roti Maryam terus kebab terus akhirnya di Dimsam. Ini kalau yang mari sama kebab and user kita punya beberapa outlet kalau untuk kebab dulu itu sekarang alhamdulillah sudah disuntik mati capek untuk waktunya pun ngatur waktunya untuk ke outlet satu ke outlet lainnya juga itu ngabisin waktu nikmati karena sudah enggak mampu lagi. Sudah ini untuk ke depannya itu kita sudah salah sistem gitu loh. Makanya di awalnya kita kan memanfaatkan COVID ya waktu itu. Nah, COVID kan semua online. Nah, kita keraskan di online. Kita enggak mikir nanti kalau sudah offline gimana nanti online-nya. Orang-orang kalau sudah offline pasti belanja keluar gitu toh. Saat COVID itu kita masih di zona aman online dan kita sempat besar dari situ. Setelah offline COVID sudah mulai meredah orang-orang sudah mulai banyak belanja offline banyak di offline. He. Nah, dari situ kita enggak memikirkan gimana nantinya kok setelah COVID banyak orang keluar gitu loh. Heeh. Ke depannya sejarah manajemen kita gitu. Siapa waktu itu? bantal hamil, perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui, kasur bayi seperti itu. Ada kolodi juga, ada pembalut juga. Ya memang treatmennya berubah-berubah, Mas karena tergantung pasar dan pasar kalau di marketplace itu kan ya memang semakin ke depan kok semakin turun harganya. Sehingga untuk profitnya sendiri kita sudah sangat tipis. kita menghidupi orang banyak sehingga sudah enggak mungkin lagi cari profit di situ lagi. Akhirnya sudah nikmati kita sudah berusaha sudah maksimal. Coba kita usaha gimana-gimana ada uang ada mana pinjam sana sini tetap enggak bisa ya hampir angka 100 Mas itu per bulan. Heeh. Ya. Muter terus Mas. Muter terus kan ya orangnya juga banyak. Cuman masalahnya kan ya itu tadi kan produk kita yang kita jual kan memang fokus di end user juga. Terus harga semakin ke depan kan juga harga bukan malah naik tapi yang lain kompetitor semakin turun harga sehingga kalau kita survive di harga tinggi pada waktu itu brand kita kan juga bukan brand yang kuat. Kita mau enggak mau kan coba ngikuti. Tapi semakin ngikuti, semakin ngikuti akhirnya turunah turun ya harga HPP kita itu harga jual di mereka di mereka kompetitor. Sehingga sudah enggak mungkin lagi kita coba lagi. Rasanya sudah maksimal saya sama istri itu dikonveksi. Awalnya kan saya memang marketing, Mas. Dulu saya marketing di saham di Surabaya, salah satu perusahaan besar di Surabaya. Nah, ketemunya saya sama istri tuh ya di situ sama-sama pegawai trader. Cuma saya lebih senior dulu. Saya pada waktu itu menawarkan loco gold. Jadi produk spesialis saya itu ada local gold, ada Hangsen. Tapi saya lebih spesialis di lok-nya dari perusahaan. Nah, karena kita dituntut harus cari investor dan orang-orang pastinya yang menengah ke atas lah. Karena minimal masuk itu harus R juta. Kalau di tempat-tempat yang lain kan ada yang mini ya, mulai dari ratusan ribu, jutaan, puluhan juta. Kalau di tempat kami pada waktu itu minimal harus R juta. Saya ngeblong itu hampir 3 bulan enggak ada investor sama sekali. Jadi kehidupan saya itu nompleng nompleng ke teman-teman ibarate jadi tangan kanannya lah ibarat seperti itu. Wis mau mau disuruh apa harus mau. Saya di trader itu hampir 4 tahun lama. Jadi setelah closing perdana itu hampir 3 bulan. Setelah itu dari situ mulai bangkit bangkit bangkit. posisi saya sudah mulai meningkat ke manajer karena accountnya saya kan sudah mulai banyak dan rata-rata konsumen saya kan memang kebanyakan orang-orang China semua dulu kan karena kita kan hidup kan 24 jam ya Mas pekerjaan saya itu kan pasarnya kan juga hampir 24 jam jadi cuman jeda 1 jam jadi aktivitas kerja saya itu sudah dimulai pagi jam .00 pagi. Kemudian itu sudah aktivitas di rumah sudah harus buka online, terus kemudian prepare, mandi, sarapan segala macam. Berangkat ke kantor sampai kantor jam 0.00 dan di Surabaya kan kotanya sangat-sangat macet ya, Mas. Jadi saya berangkatnya harus 0.30 kemudian pulang jam . Standar kantor. Tapi kan standarnya kami sebagai marketing kan loyalitas, Mas. Jadi bisa pulang sampai jam 11.00 malam, 12.00 malam, bisa jam .00 malam juga bisa pulang tergantung situasi dan kondisi. Terus nanti sampai pulang pun kita juga harus siap kalau konsumen telepon sewaktu-waktu harus diangkat gitu. Jadi pasti kan ee tanya pasarnya ini gimana terus saya harus ngapain dengan akun seperti ini belum nanti menghadapi keruwutan-keruwutan konsumen yang kondisinya hampir habis uangnya seperti itu ya. Waktu itu kita enggak ada untuk ngobrol itu enggak ada alasan keluarga. Karena setelah nikah buat apa uang banyak kalau batin itu kita enggak bagi ya kita kan namanya sudah keluarga kan juga harus ada waktu juga ada waktu juga juga kan saya di Jombang suami di Surabaya kalau ini gak sering protes ditinggalin kerja sangat sangat sering protes saya kan dari kecil sampai kerja enggak pernah sendiri ya di rumah selesai trader itu saya kerja di otomotif jadi di otomotif itu juga marketing itu 5 tahun dari situ akhirnya ya, perjalanan juga enggak mudah juga ya. Tapi alhamdulillahnya dari pengalaman saya jadi trader itu juga mendapatkan posisi manajer itu kan juga punya reward-rewet, harus punya prestasi dan itu pernah saya mencapai 5 bulan top broker dengan pendapatan terbanyak sekantor. Jadi timnya kan ada banyak, Mas. 100-an itu per daya bisa hampir kepala 60 per bulan ya per mon Rp0 juta itu gaji saya sendiri itu hampir 5 bulan karena kan namanya trader kan kita banyakan dari komisi toh Mas. Nah terus kemudian di otomotif pun juga seperti itu ya. Alhamdulillah saya jalan itu jualan lumayan sampai dapat reward ke Jepang kemarin itu dari perusahaan itu pun diambil 15 terbaik se-Indonesia. Saya mewakili Kediri, Jawa Timur cuma tiga yang berangkat pada waktu itu. Iya. Karena memang ya namanya kerja kan ya mau sampai kapan kita kerja ikut orang terus. Karena kan kita kan juga punya masa depan, punya keluarga, punya anak seperti itu ya. Saya terinspirasi dari banyak konsumen-konsumen itu sebenarnya. Jadi kan konsumen saya pada waktu itu kan memang kebanyakan kan orang-orang pengusaha yang beli mobil, yang di Surabaya itu yang trader itu kan rata-rata pengusaha semua. Untuk yang karyawan kan hampir enggak ada ya yang trader ya. Kalau yang mobil ya tapi enggak banyak ya. Berawal dari situ kok saya lihat kok enak ya jadi pengusaha. P nyoba pengusaha aja ya. Ya, akhirnya karena penjualan juga sudah mulai surut, sudah enggak seperti semangatnya awal-awal dulu, marketing juga sudah mulai banyak sehingga kan persaingan juga semakin menipis. Untuk mencapai target kan semakin menipis. Nah, akhirnya tahun 2018 ya saya memutuskan untuk resign itu. Awalnya itu kan ee saya dari saudara saudara kan bikin Maryam, bikin kebab itu memang ada orang turunan Arab kan bikin sendiri. Dia itu juga Maryam terenak se Surabaya itu. Akhirnya kamu coba jual aja gitu di Kediri. Akhirnya saya coba jual, tapi pangsa pasarnya gimana toh? Ada ada gitu. Ya udah akhirnya saya nyoba kebab. Terus akhirnya suami itu bilang, "Gimana, aku pengin kok jual kebab itu dari proses cara bikin. Kalau saya dulu kan sudah berbentuk kebab, frozen tinggal jual gitu loh. Kalau suami kan memang basicnya suka masak. Kalau saya sama sekali enggak suka masak." Nah, dari situ coba resia tadi di pasar Ramadan pangsa pasarnya banyak. Akhirnya kita buka outlet. Setelah itu sebenarnya ramai tetap banyak peminat sampai sekarang pun banyak. Cuman kita lebih fokus kebabnya itu untuk frozen dan untuk kayak acara-acara nikahan, wedding, catering kayak gitu kita kebabnya. L terus enggak sengaja suami tuh sempat kerja di salah satu resto. Nah, di situ dia ketemu sama kepala chef di resto. Nah, sebelumnya kan saya jualan dimstam, teman saya nitip kok banyak peminatnya, kok ramai banget tahu gitu. Akhirnya suami penasaran dibawalah sampelnya ke kepala. Kalau misalnya saya bikin sendiri gimana, Pak? Jenengan bisa bantu gini gini gini gini. Akhirnya dikasihlah resepnya dicoba sama suami dikulik kulikulik dari yang biasa sampai sekarang tetap ada perubahan terus. Coba dia pulang kerja jam 10.00 malam itu bikin saya sama suami bikin besok ada orderan besok pagi orderan besok pagi malam jam 10. Kita bikin sampai .30 malam karena pagi dia kan harus kerja siang kayak gitu. Capek rasanya ya. Terus akhirnya waktu itu memutuskan, "Cobalah aku nekad keluar kita ngerekrut admin satu, nanti kita gajinya kayak gimana kayak gitu. Dari gajiku kerja aja 4 bulan. 4 bulan kita masih belum ada orderan yang benar-benar membudak kayak gitu. Heeh. Enggak, enggak banyak. Jadi untuk gaji karyawan itu pas-pasan gitu loh, Masan. Belum, belum bisa gaji saya kerja. Iya, dari saya dia kerja untuk ngaji karyawan selama 4 bulan. Pada akhirnya ada satu konsumen langsung order besar. Kita kaget juga ya apa ini gini gitu. Akhirnya ya sampai sekarang ya itulah pembuka pembuka awalnya kita itu juga konsumen itu order juga langsung 100 lebih ya 100 pack lebih 150 pack lebih itu dengan kapasitas karyawan itu kita hanya cuman punya lima. Lima karyawan tuh plus saya sama suami. Jadi enggak ngerti gimana caranya 150 pack. Satu peknya 30 biji. Kita alat juga enggak punya alat vakum gini. Saya berangkat ke Surabaya sama suami nyari alat vakum muter karyawan saya itu sampai jam 11.00 semalam baru pulang sampai masyaallah mereka ini ya perjuangan mereka untuk membantu kita juga itu sebenarnya sampai sekarang terus saya update Mas resep itu karena kita punya standar standar apa namanya frozen food sendiri jadi ya dulu-dulu kalau kita bikin masih adonan 3 kil nah jadi dari 3 kilo itu kita coba maksimalkan saya adon 3 kilo tiga kali aja sudah lempoh sudah enggak mampu lag sebenarnya saya tetap berani lonceng Ing, Mas. Walaupun enggak enak. Iya, justru teman saya, temannya Nyonya itu dulu beli itu mau bilang enggak enak itu sungkan soalnya teman sendiri enggak enak itu toh sungkan. Karena memang pada waktu itu kondisinya memang enggak sebagus sekarang ini. Agak keras terus rasanya juga beda. Tapi tetap terus saya update ada masukan saya perbaiki perbaiki dari resep yang asli itu pun tetap saya evaluasi terus saya sesuaikan dengan kondisi pasar dan juga ciri khas sama kami gitu. Jadi kan setiap dimisang kan pasti punya ciri khas sendiri-sendiri seperti itu ya. Ada yang lebih manis, gurih, ada yang ada asinnya. Nah, kita punya standarnya sendiri lebih ke manis gurih. itu manis gurih trialnya ya hampir 6 bulan tetap PD lah jualan walaupun enggak enak dari masukan-masukan kurang ini kurang ini dari sini kita membangun PD memperbaiki terus sampai sekarang yang teman saya dulu bilangnya kok gini sekarang kok beda banget rasanya sekarang benar-benar sudah layaklah untuk dijual gitu loh soalnya kan standar kita frozen sama standar resto kita kan beda bedah jadi kalau standar resto itu kan ketika ketika dimakan kan harus enak di awal. Tapi kalau misalkan masakan itu enggak habis dibawa pulang, dimasak ulang atau direbus, pastikan rasa akan berubah. Ada yang keasinan, ada yang paksai berubah ya. Nah, kalau standarnya frozen itu yang dimakan sekarang sama yang dimakan 2 bulan, 4 bulan walaupun itu nanti dikukus lagi ya itu rasa tetap sama. Itu standarnya yang kita masih trial lagi ya. Ketemu kita benain lagi. Ketemu kita benain lagi seperti itu. Dan ini sudah 70% jadi kurang 30%. Yang awalnya kita cuman 200 pie 1 hari berangkat dari rumah ini ya itu sampai hampir 1.000 pie dan orangnya juga sudah banyak. Kita sudah enggak mampu lagi dikerja di tempat rumah saya ini. Akhirnya kita coba ngontrak di luar. Alhamdulillah kita bisa sampai 6.000 bis per hari ya. Itu dengan kurang lebih ada orang 20 orang. Berangkat dari lima orang. Berangkat dari 5 orang. Plus saya dan suami sekarang 20 orang. 22 kalau saya sama istri itu pun juga tadi sudah saya sampaikan sudah maksimal. Jadi kalau ada outeran sekarang itu kita sampai bukan nolak sampai kita mundurkan lagi jadwal hari lusa lusa terus hari selanjutnya selanjutnya selanjutnya seperti itu setiap hari kita kan jualan itu kan per pack satu pack kita ada tiga kelas ada yang mini ada yang sedang ada yang jumbo. Harga sama cuman beda isi aja itu ada ecer ada reseller ada agen. Kita bedakan tiga. Jadi kalau ecer itu kita ada konsumen beli satu sampai du pack. Kalau reseller minimal ambil tiga sudah dapat reseller, sudah ada potongan. Nanti kalau mau bisnis lagi itu kita ada paket agen minimal 50 pack. Nanti ada bonus plus-plnya. Per pack-nya kalau ecer ada mulai 57 sama 62. Itu tadi ada yang isi 52 pie, 30 pie, sama 24 pie. Paling laku ya di sedang 30 pie paling banyak. Sebenarnya jumbo itu juga hampir sama. ya karena konsumen kan punya market sendiri-sendiri dia lebih banyak di e jumbonya atau sedang itu banyak macam-macam. Kalau paket agen itu diangka 2,5, Mas ya. Pasti untuk agen harus deposit dulu, Mas. Karena kita juga enggak berani juga dia langsung order terus tiba-tiba batal. Ya, kita kan ya enggak mau resiko besar juga ya. Makanya finansial itu sangat-sangat terbantu itu ya dari agen karena dia harus kita tuntut untuk deposit duluan itu minimal 60% harus masuk dulu. Berawal dari situlah alhamdulillah kita bisa mulai meningkat bangkit. Alhamdulillah. Iya bisa memberikan manfaat lah Mas ya buat saya keluarga sama kru dan orang-orang lain ya pastinya yang di sini. Iya, karena kan marketnya kan semakin ke depan kan pasti semakin luas, Mas. Tingkat permintaan kan juga insyaallah juga semakin tinggi. Kita optimisnya kan di sana. Jadi kalau karyawan kita kan bisa dapat cuman kan hanya batas kemampuan diri sendiri individu. Tapi kalau bisnis ya bedanya di situ loh, Mas. Keberkahan bisnis sama karyawan kan di situ. Jadi kalau bisanya enggak hanya di kita tapi kita bisa memberikan banyak manfaat. Banyak itu ya lumayan. lumayan lah, Mas, gitu ya. Jelas online, Mas yang saya kenalkan itu tetap di online. Online itu 90% memang. Makanya tadi kan istri bilang gaji saya itu yang kerja itu saya sebagian itu saya bayar hampir-hampir semua ya, Bu ya. Hampir semua saya bayar buat admin gitu ya. 70% lah seperti itu. Saya bayar buat admin. Saya karena kerja saya enggak bisa fokus untuk fokus di online. Oh, sekarang masih kerja? Enggak. dulu ngawalinya dulu dari online itu kan akhirnya jalan jalan jalan jalan jalan terus sehingga ya sampai sekarang ini sudah Mas saya sudah resign kan setelah mengawali dimsam 4 bulan saya baru resign ya kita ngpost ke mar ya semua platform media mas ya marketplace Facebook ee terus kemudian IG ee TikTok ya seperti sama Google ya yang ringan-ringan dan yang memang enggak berbayar karena saya saya enggak ada budget untuk arah yang sifatnya berbayar Pada waktu itu saya budgetnya kan untuk menggaji karyawan saya pada waktu itu ya. Jadi gantikan posisi saya lah Mas untuk ngetik ngetik ngetik ngetik ngpost ngetik ngetik ngpos seperti itu ya. Dari situ kita fokusnya kan dengan kata kunci kan pabrik pusat supplier. Padahal berawal cuman 3 kilo adon sudah PD duluan sudah PD buka namanya pabrik. Nah dari situ kan orang kan penasaran, penasaran, penasaran ya. Orang kan pasti kan cari orang semakin ke sini kan penginnya kan enggak ribet tuh Mas jualan itu pasti kan dia difokuskan ke yang ahlinya tuh ya kita ya berposisi sebagai ahlinya dimsam ya kita buat produk yang enak dengan ciri khas kami mitra-mitra kami atau konsumen-konsumen kami tuh sudah enggak usah bingung-bingung bagaimana cara produksi ya terus bagaimana cara bikin yang enak dan segala macam ya kan ya itu semua kita siapkan Kan kalau iklan sampai detik ini belum, Mas. Cuman baru 3 bulanan ini kami tiap bulan rutin pakai slepot di angka maksimal R00.000 1 bulan. Kadarullah ya, Mas kemarin dia enggak sampai angka itu kan ada banyak ya, Mas Selbot itu kan kita kan enggak cuman satu selebot. Jadi ada jadwalnya yang bikin itu semua sudah admin kami yang bikin jadwal ya. Nah, nanti bulan ini siapa, bulan depan siapa, bulan lagi siapa? Itu ada jadwalnya. Gak pernah kan fasing sama sekali model bisnis? Belum pernah sama sekali. Penginnya ke sana cuman belum ke sana. Waktunya yang enggak ada, orangnya yang enggak ada. Saya pun juga belum bisa pada waktu itu. Iya. Penginnya bar brosur kayak sistem sales e mobil saya dulu. Kanvasing seperti itu kan sudah biasa ya. Mental kan sudah teruji ya, Mas ya. Jadi ya enggak ada masalah. Cuman karena saya belum bisa admin kita ngandalkan online aja, Mas. Alhamdulillah sampai ya itu tadi yang saya bilang orderan hari ini sudah enggak bisa kita layi. Hari ini harus 2 hari, 3 hari bahkan sampai seminggu itu juga ada. Makanya insyaallah ee kami mau nambah kapasitas lagi. Ini sudah memang kita planinkan memang bulan ini. Jadi kapasitas kita dari 6.000 kita tingkatkan ke Rp10.000. Lebih ke akuntansi? Ngecek akuntansi. Ngcek akuntansi saja. Soalnya kan saya juga untuk usaha ini kan saya penginnya itu lebih fokus ke anak-anak. Dulu waktu masih produksi di rumah ini saya pasti bantu anak-anak saya terbengkalai sampai akhirnya saudarullah tempatnya enggak cukup ya. Lebih banyak orang lagi pindah sana. Saya sangat fokus ke anak-anak. Saya pengin setelah saya resign kerja kan memang enggak boleh kerja. Nah tujuannya dia kan biar bisa fokus ke anak dan keluarga. Nah, kalau sekarang saya tetap bantu dari pagi sampai malam anak-anak enggak kepegang percuma noh, lebih baik saya kerja di luar gitu kan. Dari situ untuk sekarang ini saya lebih ke akuntan ngecek terus orderan-orderan kalau untuk bantu ngeracik bumbu bantu lebih ke ini saya kan enggak paham ya sebagian saya bantu suami untuk belanja belanja bahan-bahan yang intinya itu juga saya semua suami pastinya saya lebih kontrol ke semuanya ya karena kan ini kan usahanya kan yang mendirikan kan saya sama istri tapi kan lebih banyak kan di saya yang tahu semua dari mulai nol sampai ABC ya itu kan saya semua. Jadi ketika anak-anak itu ada masalah ya, ada problem enggak bisa menangani, saya yang bisa ngasih solusi. Jadi tahu karena memang saya terjun. Jadi, jadi dari mulai produksi bagian adon ya ada masalah saya ada bisa ngasih solusi. Kemudian dari cetak ada masalah saya terjun bisa ngasih solusi dari depan ya untuk penjualan ada problem konsumen dan segala macam. berangkat dari pengalaman marketing, saya hadir untuk bisa bantu ngasih edukasi solusi dari desain kurang pas dan segala macam saya juga bisa hadir untuk membantu ngasih masukan-masukan karena saya juga desain juga seperti itu. Jadi dari nol sampai penjualan itu semuanya saya harus tahu ya. Seorang owner harus tahu kalau menurut saya. Kalau enggak tahu nanti kalau ada misalkan ada oknum karyawan gimana-gimana kan repot ya nantinya seperti itu. Iya harus ngontrol semuanya Mas seperti itu. Yang jelas pertama tadi ya produk itu kan kita harus punya ciri khas. Ciri khasnya kami seperti ini ya. Kita konsisten dengan seperti ini. Terserah konsumen nanti suka atau enggak suka itu pilihan mereka. Karena memang ada juga ee konsumen yang enggak suka dengan tipical kami itu ada. itu akhirnya ngambil dengan mereka yang suka mungkin lebih ke gurihnya aja atau mungkin ada yang lebih keasin aja. Itu kan juga ada toh, Mas. Jadi pada waktu itu memang saya juga sempat bimbang eh ada konsumen maunya seperti ini rasanya ada yang maunya lebih ke sini, ada yang mau seperti ini. Terus gimana ya ini saya bingung apa mau tak atasi semua kan bisa ya bikin lebih ke manis juga bisa, bikin lebih ke gurih juga bisa, bikin lebih ke asin juga bisa. Cuman kan akhirnya kita enggak punya ciri khas ya. Akhirnya kita konsisten dulu ciri khas kami seperti ini ya udah terserah konsumen mau atau enggak itu pilihan mereka. Terus yang kemudian yang kedua itu adalah update terus. Jadi dimsam itu kan produknya kan enggak hanya Xiaomi, enggak hanya Gioza, Goyong dan segala macam itu banyak macamnya. Jadi terus update terus nanti kalau di DMsam ini sudah e variannya sudah katakan sudah semuanya ya ini insyaallah sudah 80% Mas tinggal 20% aja lengkap. Kalau sudah semuanya ekspansinya naik lagi Mas kita ke bisa jualan di kulitnya bisa jualan di katsu frozenfrozen itu juga ada, bisa jualan di mie frozen itu juga ada banyak Mas. Mau enggak mau ya memang harus kita konsisten, Mas. Enggak mungkin kita ngerubah resep juga. Kita juga lihat juga nanti. Itu kan nanti kan kondisional ya. Seberapa jauh harga bahan pokok itu naik. Kita kan juga punya batasannya toh, Mas. Kalau memang jauhnya memang benar-benar melampaui dari HPP ke profit ya pasti akan kita edukasi ke konsumen. Tinggal kita juga harus lihat juga memang naiknya karena si kon yang enggak lama atau memang ternyata naiknya bahan pokok itu memang seterusnya lama lah. Itu kan lihat nanti ke depan kondisional. Yang jelas kalau ada kenaikan itu biasanya memang lebih di bahan pokok utama diam kan ayam. Mas, sudah wajar naiknya, batasannya maksimal seberapa, minimal seberapa itu kita sudah wajar sampai naik lebih dari kapasitas bottom atas kok belum belum nyampai profit margin ya sebenarnya konsep kita kan lebih ke B2B ya beda sama dulu kita end user ya user kan bisa sampai 50 ke 100% kalau B2B ya pasti di bawah 50% karena yang kita tonjolkan adalah quantity itu ya sudah wajarlah kalau konsepnya B2B lebih e profit pasti ngambilnya enggak banyak. Nah, seperti itu. Keluarga itu nomor satu ya penting. Karena saya dulu juga dibesarkan dari keluarga yang kedua orang tua saya kerja. Ibaratnya saya itu tinggal sama pengasuh saat saya sakit penginlah ditemenin gitu kan. Enggak enggak ada sosok itu enggak ada gitu. Sampai dulu itu saya pernah kedua orang tua saya itu ada di kelat seminar itu selama 1 minggu itu saya kayak enggak ngerasa nyari. Tapi kalau pengasuh saya izin 1 hari itu saya langsung sakit panas karena sudah terbiasa ya sama itu. Nah, dari situ tuh suami bilang setelah nikah enggak usah kerja. Itu rasanya bertentanganlah. Saya sudah terbiasa kerja, sudah terbiasa pegang uang sendiri, nanti kayak gimana gitu? Enggak apa-apa, saya cukupin insyaallah. Tapi kan tetap pengin ada uang sendiri gitu loh, enggak mau ngerepotin gitu. Itu masih pertarungan di hati. Tapi setelah punya anak, oh kayak gini ya. Ternyata kalau dipegang sendiri sama dipegang pengas itu sangat amat beda. dan kasihnya mereka ke saya meskipun saya masih tetap sama orang tua itu ya sayang gini cuman kan bedah mungkin dulu bisa dicukupi dengan limpahan rezeki itu tadi ya dari kerja sedangkan saya kan harus nunggu kasih suami gini tapi kasihnya anak ke saya dan saya itu rasanya kalau anak saya diajak siapa gitu kok enggak pulang-pulang kayak gitu loh rasanya jadi enggak enggak semata semua itu dari uang lah kalau saya kasih sayang yang selalu saya ada buat mereka itu sangat penting. Makanya sampai suami tuh kayak memutuskan untuk resign itu juga enggak ada waktu. Waktu dulu masih di otomotif itu kan hari Minggu Ahad juga kerja tanggal merah itu kan pasti masuk justru ramai-ramainya di situ. Saya sama anak saya itu sampai kalau jaga pameran gitu saya diajak ya ini waktu saya untuk dekat sama anak sampai akhirnya lahiran anak kedua suami memutuskan untuk resign resign dan dari situ dia tahu perkembangan anak repotnya saya mengasuh anak sendiri ternyata itu enakan kerja di luar setelah kerja selesai saya dapat gaji. saya masih bisa dandan cantik, kumpul dengan teman-teman. Iya kan? Pulang itu mungkin masih bisalah belikan anak yang saya mau. Cuman setelah itu saya mikir lagi kalau saya lebih capek di rumah tapi saya puas gitu loh. Anak bisa terurus mengatakan bismillah alfatihah itu dari saya sendiri. Seperti itu ya berkahnya di situ sih sampai saya akhirnya memutuskan anak-anak saya saya sekolahkan di sekolah tahfiz dan alhamdulillah berhasil. Sekarang anak saya nomor satu sudah hampir 12 juz hafal. Itu sudah dari umur 5 tahun saya masukkan sekolah tahfiz usia 11 tahun. Yang nomor satu nomor dua 8 tahun nomor 3 5 tahun. Harapan kita juga mereka memulai semuanya itu dari orang tua dan dari guru atau dari siapapun. Itulah impian saya dan suami. Ya, dari situ saya akhirnya sadar, "Oh, ini maksudnya suami saya enggak boleh kerja gitu." Dan dari pribadi saya sendiri juga merasa, "Iya ya, aku dulu enggak ngalamin kayak gini. Aku enggak merasakan didampingi orang tua itu sama sekali enggak ada." Sampai saya nikah pun kan ayah saya masih kerja, terus ibu saya sebelum saya nikah sudah enggak ada. Nah, itu jadi dari situ saya juga enggak pernah merasakan yang kumpulnya keluarga itu satu hari full itu enggak ada dulu itu. Jadi rasanya kayak sekarang itu alah cuman lihat TV di depan ngumpul berlima kayak gitu rasanya kayak inilah yang saya cari selama ini. Ternyata setelah saya berkeluarga bukan nominal yang besar gitu yang saya cari value itu saya dapat memang ketika menjalankan bisnis dimsam ini, Mas. Jadi pada waktu itu ketika saya ditanya istri ee yah kamu kerja itu buat apa? Usaha itu buat apa? Saya selalu bilang, "Saya cari uang dari bisnis. Usaha ini ya buat bisnis. Artinya saya dapat usaha ee dapat uang dari bisnis, saya kembalikan lagi ke bisnis, saya tingkatkan lagi kualitasnya, SDM-nya, terus kemudian ee perangkat-perangkat yang perlu di ee maksimalkan, hire orang lagi seperti itu. Jadi value saya dulu itu ternyata salah karena saya kerja cari uang itu bukan untuk membangun bisnis, tapi yang paling penting saya kerja dapat uang adalah untuk keluarga. Nah, karena keluarga harus diikut sertakan. Sebenarnya simpel ya, sebenarnya saya kerja bangun bisnis ya, uang dapat bisnis kita tingkatkan lagi. Kan harapannya kan semakin meningkat otomatis omset semakin besar ya. pendapat kan juga pasti semakin besar. Otomatis hikmahnya juga saya bisa mengasih rezeki ke keluarga kan juga lebih besar lagi. Intinya seperti itu. Ternyata bukan itu. Justru dari value saya yang saya mindset yang berpikir lama itu membuat keluarga saya itu terlantar karena uang itu terlalu saya banyak keluarkan ke bisnis lagi. Sehingga untuk ke keluarga itu ya enggak banyak masih kuranglah, kurang layaklah intinya seperti itu ya. berangkatnya dari situ, Mas. Pertama, terus yang kedua itu ternyata kita berbisnis itu memang ee harus untuk berbagi, harus untuk membahagiakan orang. Pertama kan keluarga dulu yang bahagia. Yang kedua adalah orang lain. Orang lain juga bisa dari orang tua, bisa dari lingkungan, bisa dari orang yang membutuhkan. Yang itu setiap hari kita alhamdulillah istikamah untuk bisa membahagiakan orang lain. Dengan cara apa? Dengan cara bersedekah. Dan memang kita enggak patok nilai, Mas. Ketika kita pengin yang jelas konsisten itu ada, Mas. Sedekah yang konsisten itu ada. Dan itu saya dapat ketika saya awal-awal bangun dimsam itu. Saya kan ya pernah dalam kondisi minus ya, Mas. Bahkan bukan nol lagi ya, minus ya. Bangun itu juga awal-awal kan uang kan juga belum bisa kita nikmati ya. Masih ya bisa makan aja alhamdulillah. Terus kemudian karena banyak tanggungan tunggakan dari SPP sekolah bahkan berbulan-bulan saya enggak bisa bayar. Terus kemudian dari listrik ya PDM ini itu kan juga belum bisa bayar ya kan. Yang bayar kan masih orang lain seperti itu bukan keluarga saya. Terus akhirnya berbulan-bulan juga Mas saya enggak bisa bayar. Intinya kita bisa makan aja alhamdulillah. Maksudnya seperti itulah. Jadi pernah di titik itu. Iya kita bisa makan bahkan satu bungkus itu untuk kita untuk berlima. Awal-awal ketika kita mulai ke dia memutuskan resign resign itu memulai usaha. Kita kan enggak ada suntikan dana kita enggak ada tabungan. Kita itu juga enggak mau enggak berani enggak hanya enggak berani tapi benar-benar enggak mau untuk ee pinjam modal di bank. kita benar-benar menghindari itu karena kan kita juga sudah tahu itu kan ada riba di sana. Sampai saya ajarin anak-anak belum waktunya bulan puasa kok sudah puasa gitu ya. Nanti waktu puasa biar enggak kaget saya itu ya. Alhamdulillah anak-anak juga enggak ada rasa dari dulu kita ada. Kalau saya kan memang dari keluarga yang ada ya. Jadi waktu diajak benar-benar terjun bebas. Terjun bebas itu ya saya terima gitu loh ya. Sudah kalau saya mau saya cerita orang tua dibantu cuma saya enggak mau. Ya udah ini ini jalan hidup saya, ini pilihan saya. Insyaallah suami saya bisa bangkit. Gitu aja sih. Jadi ya saya bertahan kaget juga awalnya ya enggak pernah merasakan seperti ini. Tapi ya alhamdulillah saya bisalah ya. Akhirnya yang tadi value yang kedua itu mulai bisa beristikamah berbagi itu berawal dari listrik. Jadikan karena berbulan-bulan saya yang belum bisa bayar. Yang bayari ada tetangga kampung, Mas. Tetangga kampung gitu ya. Karena memang banyak orang yang nitip ke sana. Kita kan bukan pulsa ya, Mas. Masih manual ya. Jadi banyak yang nitip ke sana sampai beberapa bulan ya. Itu kita saya enggak bisa bayar sampai di WA gimana ini ngene gini. Sehingga wah saya surat sama istri gimana didatangi aja ngomong. Intinya kalau saya itu prinsipnya kalau belum bisa bayar ngomong. Yang dipegang kan kata-kataan kita itu saya suruh kalau dia enggak aku pasti bisa pasti bisa enggak ngomong dulu. Orang pasti tahu kondisi kita seperti apa. Yang penting ada kata-kata ada omongan. Entah kita ngerubah akot kalau belum bisa bulan ini ya bulan depan. Gimana nanti usahanya yang penting kita ikhtiar. Hasilnya kembali kita serahkan sama Allah kan ya. Pasti ada jalanlah kalau kita mau ikhtiar. Enggak hanya diam saja yang penting ngomong. ngomong dulu gitu loh ya. Memang kita mungkin kalau hutang ke teman, saudara itu pasti dispelekan, dijadikan omongan sampai ada saudara saya tuh enggak ada yang bisa bantu kamu kecuali bank. Ada yang bilang seperti itu sampai saya mak dek gitu sampai enggak aku enggak aku sudah berbisik aku enggak mau seperti itu. Ya memang kita terlihat hina kalau kita minjam orang. Tapi itu kan hanya hina di dunia enggak di akhirat. Aku hanya bilang gitu aja. Yang penting enggak apa-apa kita ikhtiar saja pasti ada yang mau bantu. Entah itu dari keluarga, entah itu dari teman, pasti ada alhamdulillah ada yang membantu gitu loh. Yang penting kalau misalnya kita belum bayar, aku minta maaf ya, aku belum bisa bayar sekarang bulan depan. Oh iya, enggak apa-apa gitu. Sama halnya sekarang banyak banget yang datang ke kita minjam uang. Enggak apa-apa kita selagi ada enggak apa-apa. Yang penting kalau kamu belum bisa bayar, bilang kita rubah ACOD-nya berapa bulan lagi atau ini. Yang penting saya enggak mengharap. Sampai saya juga nantinya kita enggak enggak ada pemikiran kok belum bayar ya. Enggak mengharap-harap gitu loh. Kalau kamu bilang ya enggak apa-apa kita juga pernah ada di posisimu gitu loh. Saya prinsipnya seperti itu. He yang tadi itu Mas kan lanjut ya. Saya kan mau enggak mau kan akhirnya datangin yang bayar listrik saya rumah ini. Nah, dari situ value saya dapat lagi. Justru dari orang yang bayar listrik itu akhirnya dia bercerita, "Mas, piye sampean?" "Oh ya, Pak ini ya, Pak. Insyaallah secepatnya nggih." "Io yo lek iso ndang cepat, Mas." Soalnya ya dibutuhne karena nominalnya juga lumayan besar, Mas, sampai jutaan. Terus akhirnya inspirasinya dibuka sama beliau. Mas, dulu itu aku sebenarnya ya enggak nyangka juga, Mas, punya seperti ini. Rumahnya memang besar, bagus. Enggak nyangka. Saya enggak pernah nyangka bisa punya seperti ini. Dan itu juga saya tuh awalnya itu sepele loh, Mas. Dikasih tahu orang, Lilah, awakmu pengin benar-benar sukses, benar-benar sukses, istikomaho, mari subuh ojo lali sedekah. Berap pun nominalnya, jangan sampai lupa. Dan itu istikamah, ajak. Alhamdulillah. Setelah dari situ saya sampaikan ke istri, akhirnya kita berkomitmen. Sebenarnya simpel ya, artinya dulu kan kita sudah pernah dapat ilmu seperti itu, tapi kadang-kadang kan hidayah, gerakan hati ya kan untuk kita benar-benar istikamah kan bisa dari orang-orang lain seperti itu ya. Berawal dari situ kita mulai Mas pada subuh ee kita fokus istikamah. Yang itu kan yang rutin ya. Yang enggak rutin itu kita ada ee sembako. Tapi tiap minggunya rutin. Rutin tiap minggu bukan rutin tiap hari. Ada sembako, ada air. Ada mungkin ketika kita di jalan kita sudah siapkan uang di dompet, di tas itu saya insyaallah selalu siapkan uang untuk bisa ngasih sewaktu-waktu ketika di jalan ketemu ya sama orang yang kita lihat kok enggak mampu dan segala macam langsung kita kasih. Makanya sedekah itu kita enggak ada batasannya. Karena yang kita kasih itu enggak seberapa sama yang sudah Allah kasih kepada kita sampai detik ini. Jadi kalau kita membahagiakan orang lain, Allah pasti akan membahagiakan keluarga kita. Jadi dengan cara kita membahagiakan orang lain, enggak harus punya nilai yang banyak. Justru ujian itu datang itu dari keterbatasan. Keterbatasan itu kita masih mau enggak berbagi. Kalau kita masih mau berbagi, ya insyaallah Allah juga pasti akan membahagiakan kita. Cuman harus sabar dan ikhlas. Ikhlas untuk apa yang kita beri. Sabar untuk kita melewati proses-proses yang Allah tunjukkan buat jalan kita. Ya, seberat apapun yang kita terima, yang kita lalui, tetap bersama, berlima, genggam tangan. Ya, itu yang utama. Saya Muhammad Yakin dan di sebelah saya ada istri saya yang tercinta Wen Kartika Itari owner dari pabrik DMs Mumtaza Food yang berlokasi di Jalan Kenangaraya nomor 5A Perumnasonggo, Kota Kediri. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories