Transcript
k2BwCML9gis • Rela Lepas Jabatan Manajer, Demi Waktu Bersama Keluarga & Rintis Usaha di Rumah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0587_k2BwCML9gis.txt
Kind: captions
Language: id
Ya, karena memang ya namanya kerja kan
ya mau sampai kapan kita kerja ikut
orang terus. Karena kan kita kan juga
punya masa depan, punya keluarga, punya
anak seperti itu ya. Ya, saya
terinspirasi dari banyak
konsumen-konsumen itu sebenarnya. Jadi
kan konsumen saya pada waktu itu kan
memang kebanyakan kan orang-orang
pengusaha yang beli mobil, yang di
Surabaya itu yang trader itu kan
rata-rata pengusaha semua. Untuk yang
karyawan kan kok hampir enggak ada ya.
Aku sudah berbisik aku enggak mau
seperti itu. Ya memang kita terlihat
hina kalau kita minjam orang. Tapi itu
kan hanya hina di dunia, enggak di
akhirat. Aku hanya bilang gitu aja. Yang
penting enggak apa-apa kita ikhtiar saja
pasti ada yang mau bantu. Yang penting
kalau misalnya kita belum bayar, aku
minta maaf ya aku belum bisa bayar
sekarang. Bulan depan. Oh iya enggak
apa-apa gitu.
Alhamdulillah sampai ya orderan hari ini
sudah enggak bisa kita layani hari ini.
Harus 2 hari, 3 hari, bahkan sampai
seminggu itu juga ada.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya Muhammad Nur
Yakin dan ini istri saya dengan nama
Weni Kartika Dwi Utari. panggilannya
saya Mas Yakinir saya panggilannya Mbak
Weni. Usaha saat ini di bidang kuliner
yaitu terlebih khusus di Dimsam. Dimsam
kita lebih ke frozen food. Jadi kita
fokusnya lebih ke B2B, bisnis to bisnis.
Jadi kita enggak jual user itu enggak.
Jadi makanya banyak beberapa mitra kami
itu yang dari pengusaha-pengusaha juga
pengusaha kafe, pengusaha resto bahkan
sampai ke Bali juga. Alhamdulillah
brandnya saya sesuai di baju pabrik
dimsamza. Untuk lokasi usaha saya ada di
Jalan Kenangaraya nomor 5A itu di
Perumahan Perumnas Ngeronggo, Kota
Kediri. Yang menamakan Mumtaza itu
sebenarnya awalnya itu dari anak saya
sekolah di tahfiz. Di tahfiz itu kan
sering mumtaz ya kan. Terus kemudian
kita lengkapi dengan mumtaza. Mumtaza
kan artinya kesempurnaan. Kalau mumtas
kan sempurna. Nah, ya berawal dari situ
akhirnya nama itu muncul dengan yang
kita bangun dengan brand pabrik dimsam
Mumtaza Food seperti itu. Kita mulai
kuliner. Sejak kuliner itu tahun 2022
itu pun belum di Dimsam. Pada waktu itu
kita kulinernya itu masih di mulai dari
roti Maryam terus kebab terus akhirnya
di Dimsam. Ini kalau yang mari sama
kebab and user
kita punya beberapa outlet kalau untuk
kebab dulu itu sekarang
alhamdulillah sudah disuntik mati
capek untuk waktunya pun ngatur waktunya
untuk ke outlet satu ke outlet lainnya
juga itu ngabisin waktu
nikmati karena sudah enggak mampu lagi.
Sudah ini untuk ke depannya itu kita
sudah salah sistem gitu loh. Makanya di
awalnya kita kan memanfaatkan COVID ya
waktu itu. Nah, COVID kan semua online.
Nah, kita keraskan di online. Kita
enggak mikir nanti kalau sudah offline
gimana nanti online-nya. Orang-orang
kalau sudah offline pasti belanja keluar
gitu toh. Saat COVID itu kita masih di
zona aman online dan kita sempat besar
dari situ. Setelah offline COVID sudah
mulai meredah orang-orang sudah
mulai banyak belanja offline
banyak di offline. He.
Nah, dari situ kita enggak memikirkan
gimana nantinya kok setelah COVID banyak
orang keluar gitu loh. Heeh. Ke depannya
sejarah manajemen kita gitu. Siapa waktu
itu? bantal hamil, perlengkapan ibu
hamil, ibu menyusui, kasur bayi seperti
itu.
Ada kolodi juga, ada pembalut juga. Ya
memang treatmennya berubah-berubah, Mas
karena tergantung pasar
dan pasar kalau di marketplace itu kan
ya memang semakin ke depan kok semakin
turun harganya. Sehingga untuk profitnya
sendiri kita sudah sangat tipis. kita
menghidupi orang banyak sehingga sudah
enggak mungkin lagi cari profit di situ
lagi. Akhirnya sudah nikmati kita sudah
berusaha sudah maksimal. Coba kita usaha
gimana-gimana ada uang ada mana pinjam
sana sini tetap enggak bisa
ya hampir angka 100 Mas itu per bulan.
Heeh. Ya. Muter terus Mas.
Muter terus kan ya orangnya juga banyak.
Cuman masalahnya kan ya itu tadi kan
produk kita yang kita jual kan memang
fokus di end user juga. Terus harga
semakin ke depan kan juga harga bukan
malah naik tapi yang lain kompetitor
semakin turun harga sehingga kalau kita
survive di harga tinggi pada waktu itu
brand kita kan juga bukan brand yang
kuat. Kita mau enggak mau kan coba
ngikuti. Tapi semakin ngikuti, semakin
ngikuti akhirnya turunah
turun ya harga HPP kita itu harga jual
di mereka
di mereka kompetitor. Sehingga sudah
enggak mungkin lagi kita coba lagi.
Rasanya sudah maksimal saya sama istri
itu dikonveksi. Awalnya kan saya memang
marketing, Mas. Dulu saya marketing di
saham di Surabaya, salah satu perusahaan
besar di Surabaya. Nah, ketemunya saya
sama istri tuh ya di situ sama-sama
pegawai trader. Cuma saya lebih senior
dulu. Saya pada waktu itu menawarkan
loco gold. Jadi produk spesialis saya
itu ada local gold, ada Hangsen. Tapi
saya lebih spesialis di lok-nya dari
perusahaan. Nah, karena kita dituntut
harus cari investor dan orang-orang
pastinya yang menengah ke atas lah.
Karena minimal masuk itu harus R juta.
Kalau di tempat-tempat yang lain kan ada
yang mini ya, mulai dari ratusan ribu,
jutaan, puluhan juta. Kalau di tempat
kami pada waktu itu minimal harus R
juta. Saya ngeblong itu hampir 3 bulan
enggak ada investor sama sekali. Jadi
kehidupan saya itu nompleng nompleng ke
teman-teman ibarate jadi tangan kanannya
lah ibarat seperti itu. Wis mau mau
disuruh apa harus mau. Saya di trader
itu hampir 4 tahun lama. Jadi setelah
closing perdana itu hampir 3 bulan.
Setelah itu dari situ mulai bangkit
bangkit bangkit. posisi saya sudah mulai
meningkat ke manajer karena accountnya
saya kan sudah mulai banyak dan
rata-rata konsumen saya kan memang
kebanyakan orang-orang China semua
dulu kan karena kita kan hidup kan 24
jam ya Mas pekerjaan saya itu kan
pasarnya kan juga hampir 24 jam jadi
cuman jeda 1 jam jadi aktivitas kerja
saya itu sudah dimulai pagi jam .00
pagi. Kemudian itu sudah aktivitas di
rumah sudah harus buka online, terus
kemudian prepare, mandi, sarapan segala
macam. Berangkat ke kantor sampai kantor
jam 0.00 dan di Surabaya kan kotanya
sangat-sangat macet ya, Mas. Jadi saya
berangkatnya harus 0.30 kemudian pulang
jam . Standar kantor. Tapi kan
standarnya kami sebagai marketing kan
loyalitas, Mas. Jadi bisa pulang sampai
jam 11.00 malam, 12.00 malam, bisa jam
.00 malam juga bisa pulang tergantung
situasi dan kondisi. Terus nanti sampai
pulang pun kita juga harus siap kalau
konsumen telepon sewaktu-waktu harus
diangkat gitu. Jadi pasti kan ee tanya
pasarnya ini gimana terus saya harus
ngapain dengan akun seperti ini belum
nanti menghadapi keruwutan-keruwutan
konsumen yang kondisinya hampir habis
uangnya seperti itu ya. Waktu itu kita
enggak ada untuk ngobrol itu enggak ada
alasan keluarga. Karena setelah nikah
buat apa uang banyak kalau batin itu
kita enggak bagi ya kita kan namanya
sudah keluarga kan juga harus ada waktu
juga ada waktu juga
juga kan saya di Jombang
suami di Surabaya
kalau ini gak sering protes ditinggalin
kerja
sangat
sangat sering protes
saya kan dari kecil sampai kerja enggak
pernah sendiri ya di rumah
selesai trader itu saya kerja di
otomotif jadi di otomotif itu juga
marketing itu 5 tahun dari situ akhirnya
ya, perjalanan juga enggak mudah juga
ya. Tapi alhamdulillahnya dari
pengalaman saya jadi trader itu juga
mendapatkan posisi manajer itu kan juga
punya reward-rewet, harus punya prestasi
dan itu pernah saya mencapai 5 bulan top
broker dengan pendapatan terbanyak
sekantor. Jadi timnya kan ada banyak,
Mas. 100-an itu per daya bisa hampir
kepala 60 per bulan ya per mon Rp0 juta
itu gaji saya sendiri itu hampir 5 bulan
karena kan namanya trader kan kita
banyakan dari komisi toh Mas. Nah terus
kemudian di otomotif pun juga seperti
itu ya. Alhamdulillah saya jalan itu
jualan lumayan sampai dapat reward ke
Jepang kemarin itu dari perusahaan itu
pun diambil 15 terbaik se-Indonesia.
Saya mewakili Kediri, Jawa Timur cuma
tiga yang berangkat pada waktu itu. Iya.
Karena memang ya namanya kerja kan ya
mau sampai kapan kita kerja ikut orang
terus. Karena kan kita kan juga punya
masa depan, punya keluarga, punya anak
seperti itu ya. Saya terinspirasi dari
banyak konsumen-konsumen itu sebenarnya.
Jadi kan konsumen saya pada waktu itu
kan memang kebanyakan kan orang-orang
pengusaha yang beli mobil, yang di
Surabaya itu yang trader itu kan
rata-rata pengusaha semua. Untuk yang
karyawan kan hampir enggak ada ya yang
trader ya. Kalau yang mobil ya tapi
enggak banyak ya. Berawal dari situ kok
saya lihat kok enak ya jadi pengusaha. P
nyoba pengusaha aja ya. Ya, akhirnya
karena penjualan juga sudah mulai surut,
sudah enggak seperti semangatnya
awal-awal dulu, marketing juga sudah
mulai banyak sehingga kan persaingan
juga semakin menipis. Untuk mencapai
target kan semakin menipis. Nah,
akhirnya tahun 2018 ya saya memutuskan
untuk resign itu.
Awalnya itu kan ee saya dari saudara
saudara kan bikin Maryam, bikin kebab
itu memang ada orang turunan Arab kan
bikin sendiri. Dia itu juga Maryam
terenak se Surabaya itu. Akhirnya kamu
coba jual aja gitu di Kediri. Akhirnya
saya coba jual, tapi pangsa pasarnya
gimana toh? Ada ada gitu. Ya udah
akhirnya saya nyoba kebab. Terus
akhirnya suami itu bilang, "Gimana, aku
pengin kok jual kebab itu dari proses
cara bikin. Kalau saya dulu kan sudah
berbentuk kebab, frozen tinggal jual
gitu loh. Kalau suami kan memang
basicnya suka masak. Kalau saya sama
sekali enggak suka masak." Nah, dari
situ coba resia tadi di pasar Ramadan
pangsa pasarnya banyak. Akhirnya kita
buka outlet. Setelah itu sebenarnya
ramai tetap banyak peminat sampai
sekarang pun banyak. Cuman kita lebih
fokus kebabnya itu untuk frozen dan
untuk kayak acara-acara nikahan,
wedding, catering kayak gitu kita
kebabnya. L terus enggak sengaja suami
tuh sempat kerja di salah satu resto.
Nah, di situ dia ketemu sama kepala chef
di resto. Nah, sebelumnya kan saya
jualan dimstam, teman saya nitip kok
banyak peminatnya, kok ramai banget tahu
gitu. Akhirnya suami penasaran dibawalah
sampelnya ke kepala. Kalau misalnya saya
bikin sendiri gimana, Pak? Jenengan bisa
bantu gini gini gini gini. Akhirnya
dikasihlah resepnya dicoba sama suami
dikulik kulikulik dari yang biasa sampai
sekarang tetap ada perubahan terus. Coba
dia pulang kerja jam 10.00 malam itu
bikin saya sama suami bikin besok ada
orderan besok pagi orderan besok pagi
malam jam 10. Kita bikin sampai .30
malam karena pagi dia kan harus kerja
siang kayak gitu. Capek rasanya ya.
Terus akhirnya waktu itu memutuskan,
"Cobalah aku nekad keluar kita ngerekrut
admin satu, nanti kita gajinya kayak
gimana kayak gitu. Dari gajiku kerja aja
4 bulan.
4 bulan kita masih belum ada orderan
yang benar-benar membudak kayak gitu.
Heeh. Enggak, enggak banyak. Jadi untuk
gaji karyawan itu pas-pasan gitu loh,
Masan. Belum, belum bisa gaji saya
kerja.
Iya, dari saya dia kerja untuk ngaji
karyawan selama 4 bulan. Pada akhirnya
ada satu konsumen langsung order besar.
Kita kaget juga ya apa ini gini gitu.
Akhirnya ya sampai sekarang ya itulah
pembuka pembuka awalnya kita itu juga
konsumen itu order juga langsung 100
lebih ya 100 pack lebih
150 pack lebih itu dengan kapasitas
karyawan itu kita hanya cuman punya
lima. Lima karyawan tuh plus saya sama
suami. Jadi enggak ngerti gimana caranya
150 pack. Satu peknya 30 biji. Kita alat
juga enggak punya alat vakum gini. Saya
berangkat ke Surabaya sama suami nyari
alat vakum muter karyawan saya itu
sampai jam 11.00 semalam
baru pulang sampai masyaallah mereka ini
ya perjuangan mereka untuk membantu kita
juga itu
sebenarnya sampai sekarang terus saya
update Mas resep itu karena kita punya
standar standar apa namanya frozen food
sendiri jadi ya dulu-dulu kalau kita
bikin masih adonan 3 kil nah jadi dari 3
kilo itu kita coba maksimalkan saya adon
3 kilo tiga kali aja sudah lempoh sudah
enggak mampu lag sebenarnya saya tetap
berani lonceng Ing, Mas. Walaupun enggak
enak. Iya, justru teman saya, temannya
Nyonya itu dulu beli itu mau bilang
enggak enak itu sungkan
soalnya teman sendiri enggak enak itu
toh sungkan. Karena memang pada waktu
itu kondisinya memang enggak sebagus
sekarang ini. Agak keras terus rasanya
juga beda. Tapi tetap terus saya update
ada masukan saya perbaiki perbaiki dari
resep yang asli itu pun tetap saya
evaluasi terus saya sesuaikan dengan
kondisi pasar dan juga ciri khas sama
kami gitu. Jadi kan setiap dimisang kan
pasti punya ciri khas sendiri-sendiri
seperti itu ya. Ada yang lebih manis,
gurih, ada yang ada asinnya. Nah, kita
punya standarnya sendiri lebih ke manis
gurih.
itu manis gurih trialnya ya hampir 6
bulan tetap PD lah jualan walaupun
enggak enak dari masukan-masukan kurang
ini kurang ini dari sini kita membangun
PD
memperbaiki terus sampai sekarang yang
teman saya dulu bilangnya kok gini
sekarang kok beda banget rasanya
sekarang benar-benar sudah layaklah
untuk dijual gitu loh soalnya kan
standar kita frozen sama standar resto
kita kan beda
bedah jadi kalau standar resto itu kan
ketika ketika dimakan kan harus enak di
awal. Tapi kalau misalkan masakan itu
enggak habis dibawa pulang, dimasak
ulang atau direbus, pastikan rasa akan
berubah. Ada yang keasinan, ada yang
paksai berubah ya. Nah, kalau standarnya
frozen itu yang dimakan sekarang sama
yang dimakan 2 bulan, 4 bulan walaupun
itu nanti dikukus lagi ya itu rasa tetap
sama. Itu standarnya yang kita masih
trial lagi ya. Ketemu kita benain lagi.
Ketemu kita benain lagi seperti itu. Dan
ini sudah 70% jadi kurang 30%.
Yang awalnya kita cuman 200 pie 1 hari
berangkat dari rumah ini ya itu sampai
hampir 1.000 pie dan orangnya juga sudah
banyak. Kita sudah enggak mampu lagi
dikerja di tempat rumah saya ini.
Akhirnya kita coba ngontrak di luar.
Alhamdulillah kita bisa sampai 6.000 bis
per hari ya. Itu dengan kurang lebih ada
orang 20 orang.
Berangkat dari lima orang.
Berangkat dari 5 orang.
Plus saya dan suami sekarang 20 orang.
22 kalau saya sama istri itu pun juga
tadi sudah saya sampaikan sudah
maksimal. Jadi kalau ada outeran
sekarang itu kita sampai bukan nolak
sampai kita mundurkan lagi jadwal hari
lusa lusa terus hari selanjutnya
selanjutnya selanjutnya seperti itu
setiap hari kita kan jualan itu kan per
pack satu pack kita ada tiga kelas ada
yang mini ada yang sedang ada yang
jumbo. Harga sama cuman beda isi aja itu
ada ecer ada reseller ada agen. Kita
bedakan tiga. Jadi kalau ecer itu kita
ada konsumen beli satu sampai du pack.
Kalau reseller minimal ambil tiga sudah
dapat reseller, sudah ada potongan.
Nanti kalau mau bisnis lagi itu kita ada
paket agen minimal 50 pack. Nanti ada
bonus plus-plnya. Per pack-nya kalau
ecer ada mulai 57 sama 62. Itu tadi ada
yang isi 52 pie, 30 pie, sama 24 pie.
Paling laku ya di sedang 30 pie paling
banyak. Sebenarnya jumbo itu juga hampir
sama. ya karena konsumen kan punya
market sendiri-sendiri dia lebih banyak
di e jumbonya atau sedang itu banyak
macam-macam. Kalau paket agen itu
diangka 2,5, Mas ya. Pasti untuk agen
harus deposit dulu, Mas. Karena kita
juga enggak berani juga dia langsung
order terus tiba-tiba batal. Ya, kita
kan ya enggak mau resiko besar juga ya.
Makanya finansial itu sangat-sangat
terbantu itu ya dari agen karena dia
harus kita tuntut untuk deposit duluan
itu minimal 60% harus masuk dulu.
Berawal dari situlah alhamdulillah kita
bisa mulai meningkat bangkit.
Alhamdulillah. Iya bisa memberikan
manfaat lah Mas
ya buat saya keluarga sama kru dan
orang-orang lain ya pastinya yang di
sini.
Iya, karena kan marketnya kan semakin ke
depan kan pasti semakin luas, Mas.
Tingkat permintaan kan juga insyaallah
juga semakin tinggi. Kita optimisnya kan
di sana. Jadi kalau karyawan kita kan
bisa dapat cuman kan hanya batas
kemampuan diri sendiri individu. Tapi
kalau bisnis ya bedanya di situ loh,
Mas. Keberkahan bisnis sama karyawan kan
di situ. Jadi kalau bisanya enggak hanya
di kita tapi kita bisa memberikan banyak
manfaat. Banyak itu
ya lumayan.
lumayan lah, Mas, gitu ya. Jelas online,
Mas yang saya kenalkan itu tetap di
online. Online itu 90% memang. Makanya
tadi kan istri bilang gaji saya itu yang
kerja itu saya sebagian itu saya bayar
hampir-hampir semua ya, Bu ya.
Hampir semua saya bayar buat admin gitu
ya. 70% lah seperti itu. Saya bayar buat
admin. Saya karena kerja saya enggak
bisa fokus untuk fokus di online.
Oh, sekarang masih kerja?
Enggak. dulu ngawalinya dulu dari online
itu kan akhirnya jalan jalan jalan jalan
jalan terus sehingga ya sampai sekarang
ini sudah Mas saya sudah resign kan
setelah mengawali dimsam 4 bulan saya
baru resign ya kita ngpost ke mar ya
semua platform media mas ya marketplace
Facebook ee terus kemudian IG ee TikTok
ya seperti sama Google ya yang
ringan-ringan dan yang memang enggak
berbayar karena saya saya enggak ada
budget untuk arah yang sifatnya berbayar
Pada waktu itu saya budgetnya kan untuk
menggaji karyawan saya pada waktu itu
ya. Jadi gantikan posisi saya lah Mas
untuk ngetik ngetik ngetik ngetik ngpost
ngetik ngetik ngpos seperti itu ya. Dari
situ kita fokusnya kan dengan kata kunci
kan pabrik pusat supplier. Padahal
berawal cuman 3 kilo adon sudah PD
duluan sudah PD buka namanya pabrik. Nah
dari situ kan orang kan penasaran,
penasaran, penasaran ya. Orang kan pasti
kan cari orang semakin ke sini kan
penginnya kan enggak ribet tuh Mas
jualan itu pasti kan dia difokuskan ke
yang ahlinya tuh ya kita ya berposisi
sebagai ahlinya dimsam ya kita buat
produk yang enak dengan ciri khas kami
mitra-mitra kami atau konsumen-konsumen
kami tuh sudah enggak usah
bingung-bingung bagaimana cara produksi
ya terus bagaimana cara bikin yang enak
dan segala macam ya kan ya itu semua
kita siapkan Kan
kalau iklan sampai detik ini belum, Mas.
Cuman baru 3 bulanan ini kami tiap bulan
rutin pakai slepot di angka maksimal
R00.000
1 bulan.
Kadarullah ya, Mas kemarin dia enggak
sampai angka itu kan ada banyak ya, Mas
Selbot itu kan kita kan enggak cuman
satu selebot. Jadi ada jadwalnya yang
bikin itu semua sudah admin kami yang
bikin jadwal ya. Nah, nanti bulan ini
siapa, bulan depan siapa, bulan lagi
siapa? Itu ada jadwalnya.
Gak pernah kan fasing sama sekali model
bisnis?
Belum pernah sama sekali.
Penginnya ke sana cuman belum ke sana.
Waktunya yang enggak ada, orangnya yang
enggak ada. Saya pun juga belum bisa
pada waktu itu.
Iya.
Penginnya bar brosur kayak sistem sales
e mobil saya dulu. Kanvasing seperti itu
kan sudah biasa ya. Mental kan sudah
teruji ya, Mas ya. Jadi ya enggak ada
masalah. Cuman karena saya belum bisa
admin kita ngandalkan online aja, Mas.
Alhamdulillah sampai ya itu tadi yang
saya bilang orderan hari ini sudah
enggak bisa kita layi. Hari ini harus 2
hari, 3 hari bahkan sampai seminggu itu
juga ada. Makanya insyaallah ee kami mau
nambah kapasitas lagi. Ini sudah memang
kita planinkan memang bulan ini. Jadi
kapasitas kita dari 6.000 kita
tingkatkan ke Rp10.000.
Lebih ke akuntansi?
Ngecek akuntansi.
Ngcek akuntansi saja. Soalnya kan saya
juga untuk usaha ini kan saya penginnya
itu lebih fokus ke anak-anak. Dulu waktu
masih produksi di rumah ini saya pasti
bantu anak-anak saya terbengkalai sampai
akhirnya saudarullah tempatnya enggak
cukup ya. Lebih banyak orang lagi pindah
sana. Saya sangat fokus ke anak-anak.
Saya pengin setelah saya resign kerja
kan memang enggak boleh kerja. Nah
tujuannya dia kan biar bisa fokus ke
anak dan keluarga. Nah, kalau sekarang
saya tetap bantu dari pagi sampai malam
anak-anak enggak kepegang percuma noh,
lebih baik saya kerja di luar gitu kan.
Dari situ untuk sekarang ini saya lebih
ke akuntan ngecek terus orderan-orderan
kalau untuk bantu ngeracik bumbu bantu
lebih ke ini saya kan enggak paham ya
sebagian saya bantu suami untuk belanja
belanja bahan-bahan yang intinya itu
juga saya semua suami
pastinya saya lebih kontrol ke semuanya
ya karena kan ini kan usahanya kan yang
mendirikan kan saya sama istri tapi kan
lebih banyak kan di saya yang tahu semua
dari mulai nol sampai ABC ya itu kan
saya semua. Jadi ketika anak-anak itu
ada masalah ya, ada problem enggak bisa
menangani, saya yang bisa ngasih solusi.
Jadi tahu karena memang saya terjun.
Jadi, jadi dari mulai produksi bagian
adon ya ada masalah saya ada bisa ngasih
solusi. Kemudian dari cetak ada masalah
saya terjun bisa ngasih solusi dari
depan ya untuk penjualan ada problem
konsumen dan segala macam. berangkat
dari pengalaman marketing, saya hadir
untuk bisa bantu ngasih edukasi solusi
dari desain kurang pas dan segala macam
saya juga bisa hadir untuk membantu
ngasih masukan-masukan karena saya juga
desain juga seperti itu. Jadi dari nol
sampai penjualan itu semuanya saya harus
tahu ya. Seorang owner harus tahu kalau
menurut saya.
Kalau enggak tahu nanti kalau ada
misalkan ada oknum karyawan
gimana-gimana kan repot ya nantinya
seperti itu. Iya harus ngontrol semuanya
Mas seperti itu. Yang jelas pertama tadi
ya produk itu kan kita harus punya ciri
khas. Ciri khasnya kami seperti ini ya.
Kita konsisten dengan seperti ini.
Terserah konsumen nanti suka atau enggak
suka itu pilihan mereka. Karena memang
ada juga ee konsumen yang enggak suka
dengan tipical kami itu ada. itu
akhirnya ngambil dengan mereka yang suka
mungkin lebih ke gurihnya aja atau
mungkin ada yang lebih keasin aja. Itu
kan juga ada toh, Mas. Jadi pada waktu
itu memang saya juga sempat bimbang eh
ada konsumen maunya seperti ini rasanya
ada yang maunya lebih ke sini, ada yang
mau seperti ini. Terus gimana ya ini
saya bingung apa mau tak atasi semua kan
bisa ya bikin lebih ke manis juga bisa,
bikin lebih ke gurih juga bisa, bikin
lebih ke asin juga bisa. Cuman kan
akhirnya kita enggak punya ciri khas ya.
Akhirnya kita konsisten dulu ciri khas
kami seperti ini ya udah terserah
konsumen mau atau enggak itu pilihan
mereka. Terus yang kemudian yang kedua
itu adalah update terus. Jadi dimsam itu
kan produknya kan enggak hanya Xiaomi,
enggak hanya Gioza, Goyong dan segala
macam itu banyak macamnya. Jadi terus
update terus nanti kalau di DMsam ini
sudah e variannya sudah katakan sudah
semuanya ya ini insyaallah sudah 80% Mas
tinggal 20% aja lengkap. Kalau sudah
semuanya ekspansinya naik lagi Mas kita
ke bisa jualan di kulitnya bisa jualan
di katsu frozenfrozen itu juga ada, bisa
jualan di mie frozen itu juga ada banyak
Mas.
Mau enggak mau ya memang harus kita
konsisten, Mas. Enggak mungkin kita
ngerubah resep juga. Kita juga lihat
juga nanti. Itu kan nanti kan
kondisional ya. Seberapa jauh harga
bahan pokok itu naik. Kita kan juga
punya batasannya toh, Mas. Kalau memang
jauhnya memang benar-benar melampaui
dari HPP ke profit ya pasti akan kita
edukasi ke konsumen. Tinggal kita juga
harus lihat juga memang naiknya karena
si kon yang enggak lama atau memang
ternyata naiknya bahan pokok itu memang
seterusnya lama lah. Itu kan lihat nanti
ke depan kondisional. Yang jelas kalau
ada kenaikan itu biasanya memang lebih
di bahan pokok utama diam kan ayam. Mas,
sudah wajar naiknya, batasannya maksimal
seberapa, minimal seberapa itu kita
sudah wajar sampai naik lebih dari
kapasitas bottom atas kok belum belum
nyampai profit margin ya sebenarnya
konsep kita kan lebih ke B2B ya beda
sama dulu kita end user ya user kan bisa
sampai 50 ke 100% kalau B2B ya pasti di
bawah 50% karena yang kita tonjolkan
adalah quantity itu ya sudah wajarlah
kalau konsepnya B2B lebih e profit pasti
ngambilnya enggak banyak. Nah, seperti
itu.
Keluarga itu nomor satu ya penting.
Karena saya dulu juga dibesarkan dari
keluarga yang kedua orang tua saya
kerja. Ibaratnya saya itu tinggal sama
pengasuh saat saya sakit penginlah
ditemenin gitu kan. Enggak enggak ada
sosok itu enggak ada gitu. Sampai dulu
itu saya pernah kedua orang tua saya itu
ada di kelat seminar itu selama 1 minggu
itu saya kayak enggak ngerasa nyari.
Tapi kalau pengasuh saya izin 1 hari itu
saya langsung sakit panas karena sudah
terbiasa ya sama itu. Nah, dari situ tuh
suami bilang setelah nikah enggak usah
kerja. Itu rasanya bertentanganlah. Saya
sudah terbiasa kerja, sudah terbiasa
pegang uang sendiri, nanti kayak gimana
gitu? Enggak apa-apa, saya cukupin
insyaallah. Tapi kan tetap pengin ada
uang sendiri gitu loh, enggak mau
ngerepotin gitu. Itu masih pertarungan
di hati. Tapi setelah punya anak, oh
kayak gini ya. Ternyata kalau dipegang
sendiri sama dipegang pengas itu sangat
amat beda. dan kasihnya mereka ke saya
meskipun saya masih tetap sama orang tua
itu ya sayang gini cuman kan bedah
mungkin dulu bisa dicukupi dengan
limpahan rezeki itu tadi ya dari kerja
sedangkan saya kan harus nunggu kasih
suami gini tapi kasihnya anak ke saya
dan saya itu rasanya kalau anak saya
diajak siapa gitu kok enggak
pulang-pulang kayak gitu loh rasanya
jadi enggak enggak semata semua itu dari
uang lah kalau saya kasih sayang yang
selalu saya ada buat mereka itu sangat
penting. Makanya sampai suami tuh kayak
memutuskan untuk resign itu juga enggak
ada waktu. Waktu dulu masih di otomotif
itu kan hari Minggu
Ahad juga kerja
tanggal merah itu kan pasti masuk justru
ramai-ramainya di situ. Saya sama anak
saya itu sampai kalau jaga pameran gitu
saya diajak ya ini waktu saya untuk
dekat sama anak sampai akhirnya lahiran
anak kedua suami memutuskan untuk resign
resign
dan dari situ dia tahu perkembangan anak
repotnya saya mengasuh anak sendiri
ternyata itu enakan kerja di luar
setelah kerja selesai saya dapat gaji.
saya masih bisa dandan cantik, kumpul
dengan teman-teman. Iya kan? Pulang itu
mungkin masih bisalah belikan anak yang
saya mau. Cuman setelah itu saya mikir
lagi kalau saya lebih capek di rumah
tapi saya puas gitu loh. Anak bisa
terurus mengatakan bismillah alfatihah
itu dari saya sendiri. Seperti itu ya
berkahnya di situ sih sampai saya
akhirnya memutuskan anak-anak saya saya
sekolahkan di sekolah tahfiz dan
alhamdulillah
berhasil. Sekarang anak saya nomor satu
sudah hampir 12 juz hafal. Itu sudah
dari umur 5 tahun saya masukkan sekolah
tahfiz usia 11 tahun. Yang nomor satu
nomor dua 8 tahun nomor 3 5 tahun.
Harapan kita juga mereka memulai
semuanya itu dari orang tua dan dari
guru atau dari siapapun. Itulah impian
saya dan suami. Ya, dari situ saya
akhirnya sadar, "Oh, ini maksudnya suami
saya enggak boleh kerja gitu." Dan dari
pribadi saya sendiri juga merasa, "Iya
ya, aku dulu enggak ngalamin kayak gini.
Aku enggak merasakan didampingi orang
tua itu sama sekali enggak ada." Sampai
saya nikah pun kan ayah saya masih
kerja, terus ibu saya sebelum saya nikah
sudah enggak ada. Nah, itu jadi dari
situ saya juga enggak pernah merasakan
yang kumpulnya keluarga itu satu hari
full itu enggak ada dulu itu. Jadi
rasanya kayak sekarang itu alah cuman
lihat TV di depan ngumpul berlima kayak
gitu rasanya kayak inilah yang saya cari
selama ini. Ternyata setelah saya
berkeluarga bukan nominal yang besar
gitu yang saya cari
value itu saya dapat memang ketika
menjalankan bisnis dimsam ini, Mas. Jadi
pada waktu itu ketika saya ditanya istri
ee yah kamu kerja itu buat apa? Usaha
itu buat apa? Saya selalu bilang, "Saya
cari uang dari bisnis. Usaha ini ya buat
bisnis.
Artinya saya dapat usaha ee dapat uang
dari bisnis, saya kembalikan lagi ke
bisnis, saya tingkatkan lagi
kualitasnya, SDM-nya, terus kemudian ee
perangkat-perangkat yang perlu di ee
maksimalkan, hire orang lagi seperti
itu. Jadi value saya dulu itu ternyata
salah karena saya kerja cari uang itu
bukan untuk membangun bisnis, tapi yang
paling penting saya kerja dapat uang
adalah untuk keluarga. Nah, karena
keluarga harus diikut sertakan.
Sebenarnya simpel ya, sebenarnya saya
kerja bangun bisnis ya, uang dapat
bisnis kita tingkatkan lagi. Kan
harapannya kan semakin meningkat
otomatis omset semakin besar ya.
pendapat kan juga pasti semakin besar.
Otomatis hikmahnya juga saya bisa
mengasih rezeki ke keluarga kan juga
lebih besar lagi. Intinya seperti itu.
Ternyata bukan itu. Justru dari value
saya yang saya mindset yang berpikir
lama itu membuat keluarga saya itu
terlantar karena uang itu terlalu saya
banyak keluarkan ke bisnis lagi.
Sehingga untuk ke keluarga itu ya enggak
banyak masih kuranglah, kurang layaklah
intinya seperti itu ya. berangkatnya
dari situ, Mas. Pertama, terus yang
kedua itu ternyata kita berbisnis itu
memang ee harus untuk berbagi, harus
untuk membahagiakan orang. Pertama kan
keluarga dulu yang bahagia. Yang kedua
adalah orang lain. Orang lain juga bisa
dari orang tua, bisa dari lingkungan,
bisa dari orang yang membutuhkan. Yang
itu setiap hari kita alhamdulillah
istikamah untuk bisa membahagiakan orang
lain.
Dengan cara apa?
Dengan cara bersedekah. Dan memang kita
enggak patok nilai, Mas. Ketika kita
pengin yang jelas konsisten itu ada,
Mas. Sedekah yang konsisten itu ada. Dan
itu saya dapat ketika saya awal-awal
bangun dimsam itu. Saya kan ya pernah
dalam kondisi minus ya, Mas. Bahkan
bukan nol lagi ya, minus ya. Bangun itu
juga awal-awal kan uang kan juga belum
bisa kita nikmati ya. Masih ya bisa
makan aja alhamdulillah. Terus kemudian
karena banyak tanggungan tunggakan dari
SPP sekolah bahkan berbulan-bulan saya
enggak bisa bayar. Terus kemudian dari
listrik ya PDM ini itu kan juga belum
bisa bayar ya kan. Yang bayar kan masih
orang lain seperti itu bukan keluarga
saya. Terus akhirnya berbulan-bulan juga
Mas saya enggak bisa bayar. Intinya kita
bisa makan aja alhamdulillah. Maksudnya
seperti itulah. Jadi
pernah di titik itu.
Iya kita bisa makan bahkan satu bungkus
itu untuk kita untuk berlima. Awal-awal
ketika kita mulai ke
dia memutuskan resign
resign itu
memulai usaha. Kita kan enggak ada
suntikan dana kita enggak ada tabungan.
Kita itu juga enggak mau enggak berani
enggak hanya enggak berani tapi
benar-benar enggak mau untuk ee pinjam
modal di bank. kita benar-benar
menghindari itu
karena kan kita juga sudah tahu itu kan
ada riba di sana.
Sampai saya ajarin anak-anak belum
waktunya bulan puasa kok sudah puasa
gitu ya. Nanti waktu puasa biar enggak
kaget saya itu ya. Alhamdulillah
anak-anak juga enggak ada rasa dari dulu
kita ada. Kalau saya kan memang dari
keluarga yang ada ya. Jadi waktu diajak
benar-benar
terjun bebas.
Terjun bebas itu ya saya terima gitu loh
ya. Sudah kalau saya mau saya cerita
orang tua dibantu cuma saya enggak mau.
Ya udah ini ini jalan hidup saya, ini
pilihan saya. Insyaallah suami saya bisa
bangkit. Gitu aja sih. Jadi ya saya
bertahan kaget juga awalnya ya enggak
pernah merasakan seperti ini. Tapi ya
alhamdulillah saya bisalah
ya. Akhirnya yang tadi value yang kedua
itu mulai bisa beristikamah berbagi itu
berawal dari listrik. Jadikan karena
berbulan-bulan saya yang belum bisa
bayar. Yang bayari ada tetangga kampung,
Mas. Tetangga kampung gitu ya. Karena
memang banyak orang yang nitip ke sana.
Kita kan bukan pulsa ya, Mas. Masih
manual ya. Jadi banyak yang nitip ke
sana sampai beberapa bulan ya. Itu kita
saya enggak bisa bayar sampai di WA
gimana ini ngene gini. Sehingga wah saya
surat sama istri gimana didatangi aja
ngomong. Intinya kalau saya itu
prinsipnya kalau belum bisa bayar
ngomong. Yang dipegang kan kata-kataan
kita itu saya suruh kalau dia enggak aku
pasti bisa pasti bisa enggak ngomong
dulu. Orang pasti tahu kondisi kita
seperti apa. Yang penting ada kata-kata
ada omongan. Entah kita ngerubah akot
kalau belum bisa bulan ini ya bulan
depan. Gimana nanti usahanya yang
penting kita ikhtiar. Hasilnya kembali
kita serahkan sama Allah kan ya. Pasti
ada jalanlah kalau kita mau ikhtiar.
Enggak hanya diam saja yang penting
ngomong. ngomong dulu gitu loh ya.
Memang kita mungkin kalau hutang ke
teman, saudara itu pasti dispelekan,
dijadikan omongan sampai ada saudara
saya tuh enggak ada yang bisa bantu kamu
kecuali bank. Ada yang bilang seperti
itu sampai saya mak dek gitu sampai
enggak aku enggak aku sudah berbisik aku
enggak mau seperti itu. Ya memang kita
terlihat hina kalau kita minjam orang.
Tapi itu kan hanya hina di dunia enggak
di akhirat. Aku hanya bilang gitu aja.
Yang penting enggak apa-apa kita ikhtiar
saja pasti ada yang mau bantu. Entah itu
dari keluarga, entah itu dari teman,
pasti ada alhamdulillah ada yang
membantu gitu loh. Yang penting kalau
misalnya kita belum bayar, aku minta
maaf ya, aku belum bisa bayar sekarang
bulan depan. Oh iya, enggak apa-apa
gitu. Sama halnya sekarang banyak banget
yang datang ke kita minjam uang. Enggak
apa-apa kita selagi ada enggak apa-apa.
Yang penting kalau kamu belum bisa
bayar, bilang kita rubah ACOD-nya berapa
bulan lagi atau ini. Yang penting saya
enggak mengharap. Sampai saya juga
nantinya kita enggak enggak ada
pemikiran kok belum bayar ya. Enggak
mengharap-harap gitu loh. Kalau kamu
bilang ya enggak apa-apa kita juga
pernah ada di posisimu gitu loh. Saya
prinsipnya seperti itu.
He yang tadi itu Mas kan lanjut ya. Saya
kan mau enggak mau kan akhirnya datangin
yang bayar listrik saya rumah ini. Nah,
dari situ value saya dapat lagi. Justru
dari orang yang bayar listrik itu
akhirnya dia bercerita, "Mas, piye
sampean?" "Oh ya, Pak ini ya, Pak.
Insyaallah secepatnya nggih." "Io yo lek
iso ndang cepat, Mas." Soalnya ya
dibutuhne karena nominalnya juga lumayan
besar, Mas, sampai jutaan. Terus
akhirnya inspirasinya dibuka sama
beliau. Mas, dulu itu aku sebenarnya ya
enggak nyangka juga, Mas, punya seperti
ini. Rumahnya memang besar, bagus.
Enggak nyangka. Saya enggak pernah
nyangka bisa punya seperti ini. Dan itu
juga saya tuh awalnya itu sepele loh,
Mas. Dikasih tahu orang, Lilah, awakmu
pengin benar-benar sukses, benar-benar
sukses, istikomaho, mari subuh ojo lali
sedekah. Berap pun nominalnya, jangan
sampai lupa. Dan itu istikamah, ajak.
Alhamdulillah. Setelah dari situ saya
sampaikan ke istri, akhirnya kita
berkomitmen. Sebenarnya simpel ya,
artinya dulu kan kita sudah pernah dapat
ilmu seperti itu, tapi kadang-kadang kan
hidayah, gerakan hati ya kan untuk kita
benar-benar istikamah kan bisa dari
orang-orang lain seperti itu ya. Berawal
dari situ kita mulai Mas pada subuh ee
kita fokus istikamah. Yang itu kan yang
rutin ya. Yang enggak rutin itu kita ada
ee sembako. Tapi tiap minggunya rutin.
Rutin tiap minggu bukan rutin tiap hari.
Ada sembako, ada air. Ada mungkin ketika
kita di jalan kita sudah siapkan uang di
dompet, di tas itu saya insyaallah
selalu siapkan uang untuk bisa ngasih
sewaktu-waktu ketika di jalan ketemu ya
sama orang yang kita lihat kok enggak
mampu dan segala macam langsung kita
kasih. Makanya sedekah itu kita enggak
ada batasannya. Karena yang kita kasih
itu enggak seberapa sama yang sudah
Allah kasih kepada kita sampai detik
ini. Jadi kalau kita membahagiakan
orang lain, Allah pasti akan
membahagiakan keluarga kita. Jadi dengan
cara kita membahagiakan orang lain,
enggak harus punya nilai yang banyak.
Justru ujian itu datang itu dari
keterbatasan. Keterbatasan itu kita
masih mau enggak berbagi. Kalau kita
masih mau berbagi, ya insyaallah Allah
juga pasti akan membahagiakan kita.
Cuman harus sabar dan ikhlas. Ikhlas
untuk apa yang kita beri. Sabar untuk
kita melewati proses-proses yang Allah
tunjukkan buat jalan kita.
Ya, seberat apapun yang kita terima,
yang kita lalui, tetap bersama, berlima,
genggam tangan. Ya, itu yang utama. Saya
Muhammad Yakin dan di sebelah saya ada
istri saya yang tercinta Wen Kartika
Itari owner dari pabrik DMs Mumtaza Food
yang berlokasi di Jalan Kenangaraya
nomor 5A Perumnasonggo, Kota Kediri.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.