Ubah Tanah Tak Terpakai Penuh Ular Jadi Kebun Swasembada Pangan Keluarga!
bQxEiDHkT80 • 2025-07-21
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Bagaimana ayam itu bisa merubah saya?
Jadi, Pak Tri milih desain kandang ayam
yang bagus, yang estetis gitu ya,
yang beda lah.
E, yang beda kayaknya belum ada di
Instagram tuh belum ada gitu loh.
Makanya pas kandang ayam ini muncul itu
tuh langsung viral terus gitu kalau
posting tentang kanda ayam. Nah, terus
Pak Tri bikin apa ini? Di kebun ada
wedmat ya. Biar kalau Bu Tik ke kebun
enggak becek gitu kalau hujan.
Cara presentasi pengeluaran untuk makan
setelah punya kebun berkurang berapa
persen?
Berkurang banget ya.
Paling ke warung tuh cuman beli bawang
merah, bawang putih, garam, minyak.
Heeh. Sama pengin ngesop ya tinggal
wortel gitu aja.
selebihnya kalau makan ya udah dari sini
Mas 50%
ya lebih
lebih bisa 80 ya soalnya kan kebutuhan
utama itu telur ya karena ada anak-anak
lat telur sehari kita bisa menghasilkan
15 butir dan itu sudah surplus begitu
jadi insyaallah sudah 80% lah
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan saya Bu Uti dan
hari ini ditemanin suami saya Pak Tri.
Kegiatan kami lebih banyak di kebun ya,
Pak Tri ya.
Engih.
Kami tinggal di Berbah, Sleman,
Yogyakarta. kebun ini awal mulanya itu
karena kita ingin memberikan makanan
yang sehat untuk anak-anak kita, untuk
keluarga kita.
Kebetulan saya kuliah Jagawarnet, istri
itu dulu di Palembang waktu itu mau ke
Saudi.
Masih kuliah juga.
Masih kuliah. Tapi ada rencana ke luar
negeri kan karena basicnya kan perawat.
Saya kuliah di psikologi. Nah, saya jaga
warnet. Ketemunya di
MLRC itulah MLC ya.
Chattingan itu.
Kalau saya tuh dari dulu kan MAN
penginnya itu dapat suami orang
Jawa-Jawa Mas ya. Jadi saya kalau
chatting tuh cari room-nya Semarang,
Solo,
Jogja gitu. Nah, ketemulah sama Pak Tri
tukaran Yahoo Messenger
ya. Itu kita enggak pernah ketemu, Mas.
ketemu pertama itu kita saya langsung
lamaran. Saya belum pernah ketemu
sebelumnya sama sekali.
Langsung bawa orang tua
langsung Bapak saya ajak ke Sumatera
langsung lamaran gitu kan. Habis itu
lamaran ini kan waktu vacation 1 bulan
ya.
Habis itu dia ke Madinah lagi. Pulang
dari sana saya enggak ketemu langsung
nikahan. Jadi ketemu dua kali.
Dua kali lamaran dan nikahan.
Nikah.
Terus ke Jogja
kemarin enggak diambil to? Belum
[Musik]
ada boh?
Ada.
Ini pun berawal dari kita merespon tanah
yang enggak produktif di depan rumah
kami. Jadi kita sudah tinggal ya
setahunan ya setahun. Terus kita lihat
di sekitar sini itu kan tanahnya kayak
ini Mas semak belukar banyak ular banyak
biawak gitu kan.
Terus saya tanya tetangga boleh enggak
disewa? Awalnya ya cuman pengin ngresiki
biar rapi.
Waktu itu kan karena anak-anak masih
kecil kan. Kebetulan kan anak lima masih
kecil-kecil suka main sepeda sini. Nah,
kita kan ada kekhawatiran soalnya pernah
lihat ulau di sini.
Lihat itu terus tak bersihin terus tak
buat kolam ini tak kasih gazebo terus
masih ada space kosong itu tak buat
ngingo
ayam.
Ayam. Saya nyoba miara ayam waktu itu
memang kita pilih yang kampung petelur
ya Mi ya.
Heeh. Nah, dari sana ternyata nelur
nelur nelur dan pada saat yang bersamaan
wilayah sini pulone pindah rene karena
ini kan ada dua bagian ya. Yang kolam
sebelah sini tak sewa duluan habis itu
sini nambah lah. Pas nambah ini waktu
awal mula itu pengin piara domba karena
waktu itu kan lagek marak ya farm fam
farm farm gitu kita dapat paparan di
YouTube itu asik nih kayaknya. Dan
kebetulan teman itu sudah jalan usaha
itu. Terus ayo anu mbok aku diajari
bareng-bareng yo. Yo enggak apa-apa yo.
Ya udah waktu yoi gitu terus piye yus
nanti 5050 gitu ya. Ah saya langsung y
tak gawe kandang. Pas saya buat kandang
ternyata enggak sesuai planningnya kan
bareng-bareng terus kayaknya enak
dewe-dewe sih aku ngono.
Cuman waktu itu karena kandangnya sudah
jadi modale wis entek nggo K kandang
toh, Mas tak rubah konsepnya. Kayaknya
yang sudah punya manfaat itu ayam
berarti kita nambah ayam aja. Istri kan
langsung anu aja nambah ayam aja. Ya
udah pas kita proses nambah ayam saya
coba ngolah lahannya. Jadi perjalanannya
natural aja seperti itu. Dan
qadarullahnya waktu itu karena istri
mungkin kayak enggak ada pergerakan ya
kami eh saya. Karena kalau nanam itu kan
kita buat media tanam itu kan prosesnya
lama. Waktu itu habis tak cangkulin
kayak enggak ada pergerakan. Padahal itu
kan memang prosesnya ya didiamin dulu
gitu loh.
Cuman istri kan tersanut toh Mas. Wah
ini enggak ada pergerakan. Waktu itu
mungkin doanya istri ya pas di kandang
itu ng-shoot depan ini sit gitu.
caption-nya bismillah mempersiapkan
lahan untuk swasta pangan keluarga
dan itu viral ternyata lah ketika viral
itu kan kita mah bingung kan loh pengin
ayah penginpengin orang-orang pada komen
itu toh pengin juga mbak belas
padahal itu baru bedengan-bedengan
bedengan kita belum ada
baru ada kandang ayam bedengan-bedengan
kandang ayam y
kan lucu juga maksudnya loh kok viral ya
gitu loh apa ini memang lehmu gawe
capsion itu benar-benar tulus
Iya, Bu. Tangga yang punya harapan gitu
loh.
Enggak mikir aneh-aneh, tiba-tiba ngetik
aja gitu
ternyata. Terus dari situ kita merenung
berdua ya, oh berarti memang kita harus
belajar terkait dengan pertanian. Karena
orang menganggap bahwa kita sudah punya
pengalaman sudah melakukan banyak hal
terkait dengan berkebun dan bercernak.
[Musik]
Karena qadarullahnya itu waktu viral
yang di akunnya Bu Ot terkait dengan
suasada pangan itu waktu itu. Terus kita
coba belajar kalau misalnya mau suas
sembada pangan itu apa sih yang harus
disiapkan? Apa aja sih yang dibutuhkan?
Nah, waktu itu saya langsung belajar,
Mas. Belajar dari YouTube terkait dengan
bercocok tanam, terus membuat integrated
farming seperti apa.
Integrated farming untuk skala rumahan
ya.
Heeh. Untuk rumah tangga karena memang
tujuannya untuk kebutuhan pangan
keluarga.
Sebenarnya kita berbagi peran ya di
kebun ini, Pak Tri yang lebih banyak ke
sistem tanam, nanam, pupuk segala macam.
Kalau saya enggak tahu menahu sebenarnya
saya lebih ke mendokumentasikan apa yang
Pak Tri lakukan di kebun. Jadi saya yang
memvideokan, mengedit, membuat narasi
biar orang itu tertarik untuk menonton
dan mencontoh apa yang kami lakukan
gitu.
Apanya kan kita cuman dari YouTube.
Ketika dari YouTube itu kan cuma
gambaran ya, gambaran secara visual dari
YouTube. Coba tak implementasikan di
lahan saya. Nah, hanya saja waktu itu
yang dibutuhkan pertama kan memang pupuk
kan, pupuk organik lah. Waktu itu saya
cari-cari di Jogja ada enggak sih yang
memproduksi gitu ya. Dan kebetulan saya
itu mau dikenalin sama yang mau mitra
saya di farm ini yang mau domba itu loh.
Ayo Mas kenalan sama Pak Johan dan
qadarullahnya itu ternyata beliau itu
temannya om saya. Wah, k Johan anu
kancaku gitu. Ya sudah semakin akrab
semakin kita sering ke sana belajar dari
sana benar-benar kita diajarin gitu loh.
Terkait pertama memang
secara mindsetnya filosofinya harus kena
dulu. Jadi kalau bertani atau berternak
itu kan konsepnya adalah budidaya.
Budidaya itu terkait dengan nyawa. Entah
itu tumbuhan entah itu hewan, itu kan
bernyawa. Ketika bernyawa itu yang harus
main pertama adalah hatinya. Hati.
Makanya wong Jawa naliati ngulir budi
itu adalah filosofi utama yang memang
harus dimiliki.
Jadi kalau orang Jawa nek mau nandur
kudu seneng atine kudu ditali sik gitu
loh mas. Kudu seneng sikik kowe nek
seneng baru nanti ngulir budi. Karena
kek wis senang kita itu akan peka
terhadap apa yang kita budidayakan.
Sehingga apapun yang kita budidayakan
kalau wis peka ii wis ngerti iki kurang
opo iki saate
ngerabuk itu kita akan peka gitu loh
dari sana nek wis berhasil ya tok ulir
budine arep tok kepiyek kebaikan dari
hasilmu berbudidaya dari proses itu
nanti kalau orang dulu kan yang
dipopulerkan sama beliau itu kan terkait
dengan lumbung mata raman kalau Jogja
kan ada gerakan itu nandur opo sing
dipang mangan opo sing ditandur
Itu kan secara teknis kan bisa kita
oncei to Mas. Artinya nek nandur opo
sing dipangan berarti kita harus petakan
kebutuhan keluarga itu berapa banyak
terus apa aja. Karena jangan sampai awak
dewe nandur sesuatu kita enggak suka,
keluarga kita enggak suka. Nek misalnya
enggak senang ditandur misalnya dia
tumbuh berbuah atau ngawah kan mau
bajer. Kecuali dijual ya. Tapi kan untuk
konsumsi pribadi dulu kan. Berarti nek
wis mangan opo sing ditandur ya sudah
nanti habis itu baru ngingu iwak iwen.
Iwak itu ikan, iwen itu unggas. Habis
itu baru nginguo rojoyo. Rojokoyo itu
hewan berkaki empat. Karena orang Jawa
kan ada unen-unen ben iso koy rajo
nginguo rojo koyo. Karena pendapatan
dari Rojo koyo kita pihara hewan berkaki
empat itu jauh lebih gede kan sehingga
nek itu berhasil ya wis iso k rojo tuku
opo pengin opo wis ono gitu loh dari
sana sebetulnya kalau kita mau cermati
ketika sampai kita piara Rojokoyo itu
proses integrated farming itu akan
terbentuk karena dia domba dari kami itu
memang menghasilkan kotoran kohe intil
gitu loh intilnya bisa kita
fermentasikan buat pupuk lah. Terus
nanti pupuknya buat nandur. Akhir dari
tanduran misalnya kita nandur jagung
manis kayak kemarin, akhirnya kan wis
rampung nanti hasil akhirnya bisa buat
makan domba. Makanya kan kalau
prinsipnya integrator farming di Jawa
itu kan akhir dari peternakan adalah
awal dari pertanian kan muter itu Mas
lah dari sana sebenarnya belajar sama
beliau itu dari mbah-mbah kita dulu
orang Jawa itu sudah diajarkan terkait
dengan keberlanjutan itu tuh
[Musik]
Kalau kita menanam apa yang kita makan
tadi ya, jadi yang kita suka, yang kita
tanam untuk sayur-mayur ya, kangkung,
bayam, kacang panjang, pare, cipir,
sawi, gambas, keningkir, daun Daun ubi
banyak ya ternyata.
Sama kalau ini ada ayam ada 60-an ya,
Mbak Adri ya.
Kalau ayam sekarang yang produktif ya
20. Terus kalau yang di tootal ya 60-an
ya.
20. Heeh.
Insyaallah kalau untuk suas sembada
pangan keluarga itu kita sudah 80% ya.
Tapi ya tetap ya kita juga masih jajar.
Masih jajar. Iya ya. Kalau misalnya pas
lagek lagek bosan atau pas memang
waktunya enggak bisa masak ya. Tapi
misalnya mau dari sini ya tetap bisa.
Ada yang selalu ada yang bisa dimasak di
kebun.
Sebetulnya ngitungnya ya kalau ayam itu
kan jumlah keluarga plus satu untuk
betinanya. Jadi misalnya sehari nelure
ming telu itu sing bapakne ngalah.
Cuman kalau kita sudah surplus ya karena
banyak. Kemudian kemarin kan coba kita
simulasi ya, kita punya lahan 4 * 6 itu
misalnya kita buat kandang aja yang 1 m*
2 m untuk ayam. Terus nanti dari sana
dikasih kandang magot ya, Mi. Kan kita
juga ada kandang magot. Kandang magot.
Kandang magot cuma ukuran 60 cent * 1 m.
Berarti kan masih ada space tuh.
Selebihnya itu kita bisa kasih
komposter. Kemudian kita bisa
nanam-nanam kayak yang di belakang ini
pakai pobag.
Pakai pobag.
Kita juga bisa piara lele dalam ember
itu loh. Itu kalau tak hitung-hitung ya
dengan luasan 4* 6 itu sudah bisa.
Misalnya kita sayuran itu cukup lima
polibag misalnya.
Kalau cuman empat orang empat orang itu
cukup ya Mi ya.
Wong kita aja bad dengan ada 1 2 3 4 5
itu sudah surplus kalau untuk sayuran
kan. Yang penting itu kan kalau keluarga
itu kan kalau di tempat saya ya telur
protein. Jelas. Jadi nanti siklusnya kan
gini kita untuk protein dari telur
kemudian nanti dari ikan
lah. Kenapa ada kandang magot? Itu untuk
mengurai limbah dapur kita. 2 bulanan
itu kita sudah masalah sampah itu sudah
selesai di rumah. Zero wing tinggal
kresek
plastik-plastik itu.
Itu yang kita belum telaten nyuci.
cucinya
yang lainnya kayak botol juga kita sudah
siapkan tempat botol sendiri nanti
sebulan sekali pemuda sekitar ambil
nanti dia dijual kan punya nilai
ekonomis juga kalau untuk sayuran sudah
full gitu loh. Jadi kalau orang misalnya
mau menduplikasikan untuk suas sembada
pangan keluarga itu ukuran 4 * 6 sudah
bisa ya Mi. Ya wong kemarin teman juga
buat kandang cuman 1,6 m * 1 m itu kasih
4 ayam itu tiap hari sudah nelur
tiga-tiga. Itu sudah senang banget Mas
dan mungkin followernya Bu itu sudah
banyak yang membuat kandang terus
laporan ngetag ke akun kami.
Alhamdulillah Bu Uti sudah nelur, senang
banget gitu loh. Jadi ya harusnya bisa
ya
bisa kalau mau itu pasti bisa.
Dan kalau misalnya kita melihat stigma
berkebun, beternak itu kan kuno, kotor,
bau kan gitu. Padahal jenengan di sini
enggak bau kan kandangnya
enggak bau. Biar enggak bau tuh
diapakan. Jadi ada dua kalau secara
sistem kandang bisa seperti yang kandang
kompos itu. Jadi dia memang bisa
mengurai bakteri yang bikin bau itu.
Plus nanti untuk minumannya kita pakai
probiotik yang memang dia bisa membantu
proses pencernaan angsa atau ayam itu.
Jadi memang enggak bau. Jadi kalau orang
berstigma bau ya ini kita buktikan
enggak bau. Terus misalnya stigmanya
ngingu ayam enggak keren. David Beckam
ngingu ayam sekarang gitu loh. Terus
kita mau alasan apa itu kan anu toh
seger
karakternya ini ini Elba ini ini
ini genetik
senang banget
iki kemarin sing
sebenarnya saya dulu juga enggak suka
sama ayam
Pak Tri dulu bilang kita pelihara ayam
aja gitu saya bilang enggak maulah kan
kotor bau gitu toh tapi Pak Tri pengin
membuktikan bagaimana ayam itu bisa
merubah saya.
Jadi, Pak Tri milih desain kandang ayam
yang bagus, yang estetis gitu ya,
yang beda lah.
Yang beda kayaknya belum ada di
Instagram tuh belum ada gitu loh.
Makanya pas kandang ayam ini muncul itu
langsung viral terus gitu kalau posting
tentang kanda ayam. Nah, terus Pak Tri
bikin apa ini? Di kebun ada WM ya, biar
kalau Bu Tiik ke kebun enggak becek gitu
kalau hujan. Terus dibikin
bedengan-bedengan yang rapi gitu ya. Itu
salah satu yang Pak Tri lakukan supaya
Bu Uti itu mau ke kebun dan mencintai
kebun dan pada akhirnya dulu yang sering
makanin ayam sidinya saya.
Jadi kan dan sebetulnya kita tarik dari
nali hati. Hati kan kudu ditali ben
senang lah. Stigma orang ketika berkebun
enggak bikin enggak senang kan yang itu
tadi. Makanya itu harus kita petakan
benih solusinya. Misalnya berkebun itu
becek, berarti nek becek tinggal naik
jalan yang biar enggak becek kan gitu
loh.
Iya.
Misalnya
kandangnya bau,
kandangnya bau. Ah, kita ada lah itu
belajar teknologinya juga enggak bikin
enggak bau juga ada gitu loh. Terus
alasannya kan enggak ada misalnya
hatinya kan kudu senang gitu loh. Udah
dikasih solusinya terus sejuk juga enak
gitu loh. Ya, sekarang alhamdulillah
pada betah ya. sama sebetulnya kita
membuat ini salah satunya kan buat ruang
belajar anak-anak
belajar buat anak-anak kalau
alhamdulillah ya
anak-anak lapar gitu ya pas di sana
enggak ada telur ambil telur dulu gitu
iya itu kan proses yang sebetulnya saya
alami sama Bu Uti waktu kita masih kecil
kecil dulu
sehingga kita akan sangat bisa
menghargai sebuah makanan itu prosesnya
dari mana. Apalagi kan ini organik ya,
jadi kayak kita merasa berdampingan gitu
Mas ya. Sama sama tanah gitu ya. Ya
senang kita tuh ke kebun megang tanah,
megang daun itu kan kayak grounding ya
sebenarnya ya dan itu bisa kita lakukan
di rumah kayak gitu. kami kan ada usaha,
artinya kita enggak tiap saat di kebun
kebun.
Dan memang sudah kami setting bahwa
gimana sih kebun ini ketika orang pengin
itu mereka juga bisa dengan berbagai
macam e background kegiatan mereka.
Makanya waktu kita buat kebun ini
kemudian saya secara SOP-nya itu sudah
saya tahu alurnya seperti apa. Saya
ngerekrut satu orang untuk ngelola dan
itu waktunya hanya pagi jam 0.00 sampai
jam .00 pagi
sama sore 1 jam.
Jadi ketika ini sudah berjalan ya
maksudnya berjalan secara hariannya
seperti apa tak buatkan SOP ya sudah
nanti tinggal kekut orang. Jadi kita
juga misalnya kayak kemarin anak-anak
liburan kita camping 2 3 hari ya masih
aman.
[Musik]
Soalnya kayak saya kemarin coba
hitung-hitung ya, Mas ya. Jadi misalnya
kita kebutuhan rumah tangga bulanan itu
berapa ya? misalnya R,5 juta misalnya
ya, misalnya uangku nggo belonjo sama
uang itu buat e gaji karyawan itu
sakjane sing ditokke podo mas. Hanya
saja kita dapat pertama makanan yang
kita yakin proses dia hidup seperti apa.
Wong kita kan ngerti dewe makani pitik
kita sing makani pakane opo nandur kita
pakai alami popok yang organik artinya
kita dapat panenan atau telur yang jauh
lebih sehat.
Kita tahu asal-usulnya.
Kemudian ee kita sedikit banyak bisa
membuka lapangan kerja. Artinya kita
sama-sama ngeluarkan uang tuh, tapi kita
impactnya kan jadi banyak. Kita dapat
makanan sehat, dapat ya membuka lapangan
pekerjaan, kemudian kita sampah bisa
kita dapat solusi,
menyelesaikan di rumah
terus orang tamu ke sini kita tambah
saudara. Padahal yang kita keluarkan
sama gitu loh sebelum kita punya kebun
gitu loh.
Dengan berkebun juga Pak Tri lebih
sering di rumah, Mas.
Pak Tri ini kan strovert ya. Kalau
ketemu orang tuh kayak ngecas lah. Saya
introvert kalau ketemu orang baterainya
habis gitu. Jadi di sini ee Pak Tri
sering di rumah karena sering orang
datang gitu.
Ini luasan berapa, Mas?
Yang untuk sini itu 600. Kalau tambah
yang kolamnya itu 400 total ya 1.000-an.
untuk ngelola 1000 m ini dengan banyak
varian sayur dan hewan iniwan
satu orang tadi
2 jam pagi 1 jam sore itu artinya kan ee
semua orang bisa melakukan itu ya jadi
setelah subuh dia ngerjain sama setelah
pulang kerja mungkin ya bisa
apalagi kalau cuman untuk empat orang
lagi kan
orang keluarga itu paling ya 4 m* 6 m
itu sudah cukup artinya secara Waktu
mengerjakan enggak harus sebanyak kita
paling setengah jam esok, setengah jam
sore gitu loh. Bar subuh kan ya wis to
sambil gerak-gerak.
Cara presentasi pengeluaran untuk makan
setelah punya kebun berkurang berapa
persen?
Berkurang banget ya.
Paling ke warung tuh cuman beli bawang
merah, bawang putih, garam, minyak.
Heeh. Sama pengin ngesop ya tinggal
wortel gitu aja. Selebihnya kalau makan
ya udah dari sini, Mas. berapa? 50%
sampai
ya lebih
bisa 80 ya. Soalnya kan kebutuhan utama
itu telur ya. Karena ada anak-anak lat
telur sehari kita bisa menghasilkan 15
butir dan itu sudah surplus begitu. Jadi
insyaallah sudah 80% lah. Mas jadi kata
guru kami yang Pak Johan itu ya misal
tanamanmu itu dimakan hama itu tidak
lebih dari 20% ya diikhlaskan saja. Itu
sudah menjadi jatahnya kayak gitu kan.
Engih. Karena ya juga makhluknya Tuhan
gitu ya
kan. Enggak mungkin sia-sia toh mesti
ada nilai kemanfaatannya. Jadi nek
ngerti-ngerti dewe diserang ngomong
terus
iya enggak ya saja. Heeh.
Enggak gitu.
Nah itu salah satu ini ya Bi. Kita
berkebun tuh jadi lebih menyikapi hidup
tuh jadi berubah gitu loh. Mas
ya termasuk hewan-hewan. Heeh. Kayak
jadi lebih legow gitulah. Iya. Kalau
gitu apa yang berubah pola hidup dan
perspektif Mas Tri dan Mbak Tuti di
sebelum berkebun dan berkeb
lebih legowo.
Lebih legowo.
Sabar. Sabar leh Mas.
Sabar. Heeh. Sabar itu lebih dulu tuh
saya yang enggak sabaran.
Ah
penginnya satset gitu.
Iya.
Tapi Pak Tri penginnya slow. Jadi cara
Pak Tri, salah satu caranya mendidik
saya itu lewat kayak gini kayak gini,
Mas. Menanam. Ternyata itu mengajarkan
kesabaran buat saya.
Dan kita alhamdulillah juga secara fisik
kita sudah 6 bulan itu satu keluarga itu
enggak pernah sakit, Mas.
I saya enggak tahu persisnya. Yang jelas
mungkin dari makannya kan berubah tuh
kita full sekarang banyakan full dari
kebun
organik.
Organik terus 90% saya sudah bisa bangun
subuh. Jadi biasanya habis subuhan saya
ke kebun terus nanti kalau anak-anak
sudah siap gitu sudah mau berangkat
sekolah saya dipanggil anak ke sini ayo
anu bi berangkat sekolah saya ngantar
sekolah dan itu merubah banyak hal
iya jadi merubah semuanya
gemuk-gemukk
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
yang paling gemuk-gemuk
Ya, kita bukan slow living, kita
mensyukuri apa yang ada di sekitar kita.
Dan prinsip kami kan merubah dari
sekitar rumah dengan apa ya ini dengan
suasana bandap pangan ini karena itu kan
masalah pokok manusia itu kan mangan.
Kalau wong biyen kan ngomong ben
pikirane orang gampang ngalih weteng ojo
nganti ngelih itu dalam itu. Sehingga
apa? Masalah makan itu ojo ngant ganggu
pikiran ben ganggu pikiran ki opo yo wis
harus kamu sediakan di sekitar rumah ben
istri itu nek pengin masak wis gek nang
kebon r usah mikir pak sesok mangan opo
endi duite kalau kita sudah punya kebun
itu tinggal ke kebun istri itu sudah
enggak mikir gitu loh makane ben
pikirane ora gampang ngalih weteng ojo
ngelih gimana kita ciptakan supaya
enggak ngelih itu ya kita harusnya bisa
kita akomodir di lingkungan terkecil
kita di keluarga
dengan luasan 4* 6 tanamannya apa saja
terus hewannya apa saja sehingga dapat
dikatakan akan menjadi sumber pangan
simulasinya gini saya kebutuhan protein
itu dari ayam petelur bisa pakai kampung
petelur kan banyak jenisnya ada elb ada
sentul maron segala macam banyak atau
wet leh lehor itu ada itu kita
membutuhkan 1 m * 2 m.
Kemudian nanti rumah magot itu 1/2 m * 1
m nanti naik ke atas gitu nanti ada
sekat-sekatnya. Kemudian untuk sayuran
tinggal pakai pobag aja dengan luasan
itu tuh. Nah, paling mudah itu nanam
kangkung. Kangkung itu wis rasah mikir
Mas. Asal punya media tanam yang subur
kasih benihnya pasti tumbuhnya. Kemudian
bayam ya kan mudah tinggal sebar. Urip
kasih pobag aja semua. Sen
Senin makan bayam, Selasa makan
kangkung, Kang,
Rabu, kacang panjang,
kacang panjang,
Kamis paris.
Iya, Paris,
Jumat sawi,
Sabtu Minggu jajan.
Terus kalau pengin nambah lagi ada
space-nya misalnya ya pakai lele ember
itu.
Nanti kan di sistem aquaponik kan dalam
atasnya bisa dikasih kangkung itu sudah
cukup. Ya, paling beras kan yang masih
beli. Kalau kami sebenarnya kalau minta
mau hitung-hitungan kan kita tinggal
jual kangkung empat until ya. Kalau kami
kan adol sak until R000 Mas. Jadi dapat
Rp20.000 kan. Rp20.000
ditukar beras kan udah dapatlah itu
sekilo seteng gitu kan. Ya sesimpel itu
sih dulu. Kalau ayam saran kami ya sing
ngarep wis cepak ngendok
belinya yang siap bertelur jadi enggak
lama menunggunya biar enggak putus asa
karena kalau enggak langsung dapat
hasilnya itu kan apalagi istri kan itu
kan penginnya ya cepat ya paling
beli-beli usia 5 bulanan ya bulan
kalau untuk proses bercocok tanam itu
kalau misalnya kayak kangkung kan cuman
hari sudah panen. Nah, untuk komplitan
itu kita merasakan sudah muter panennya
itu setelah 3 bulanan ya. 3 4 bulan lah.
4 bulan itu sudah variasinya sudah
jalan.
[Musik]
itu kembali lagi saya dapat ilmu dari
guru kami. Jadi kalau orang Jawa itu kan
cecikal bebakal tertinggal. Ketika mau
melakukan proses apapun itu harus ingat
itu. Karena pada endingnya apa yang kita
kerjakan itu kan harus mempunyai nilai
untuk tertinggal. tertinggal itu bisa
buat memang generasi setelah kita atau
memang itu buat kepentingan kita untuk
dapat jariah. Kalau kalau bahasanya Bu
Uti
dan kebetulan kemarin juga Bu Uti baca
buku tah sebelum kita punya kebun ini
pernah baca buku.
Iya. Jadi bukunya itu judulnya menyambut
usia 40 tahun itu ya. Jadi salah satu
hal yang harus dilakukan ketika usia mau
menuju ke sana itu kalau bisa tuh kita
menulis sebuah buku supaya apa? Yaitu
supaya bisa menjadi tertinggal untuk
kita. Tapi kalau kita mau menulis buku
nulis apa gitu kan saya Pak Tri diskusif
begitu
karena kita orang-orang digital ya jodoh
aja lewat digital ya. Akhirnya kita ya
sudahlah kita ini berkreasinya di sosial
media bagi kami terus
berarti ya ora kudu nulis buku karena
kita sebum buku itu kan adalah media
menyampaikan ilmu atau menyampaikan
sesuatu yang bermanfaat gitu toh. Kalau
di eranya sekarang dan kebetulan kita di
sosial media agak viral gitu, terus kita
putuskan, "Oh, berarti memang ini
sebagai bentuk tulisan gitu loh. Video
di real Instagramnya Bu Otik itu sebagai
buku gitu loh, sehingga bisa jadi ee apa
ya? jariah minimal buat keluarga kami,
anak-anak kami bahwa wah ini ee proses
ee kita berkebun atau umi dulu sama Abi
itu kritisnya seperti apa.
Terus ee kenapa orang mau datang-datang
ke sini belajar itu kan kayak bisa buat
pelajaran buat anak-anak kamu.
Mulailah dari yang ada dan yang bisa.
Mulailah menanam walau cuma satu pot aja
ya. Karena dengan menanam itu akan
merubah segalanya lah. Merubah pola
pikir kita, merubah bagaimana cara kita
memandang dunia ini juga ikut berubah.
Kita mau save our gitu ya, kita apa?
Jaga dunia ini ya. Ya, salah satunya
bisa dimulai dari lingkup keluarga dulu
ya. Contohnya aja sampah ya, Mas ya.
Sampah itu kalau setiap keluarga sudah
menyelesaikannya di rumah itu kan
selesai sebenarnya permasalahan sampah.
Jadi untuk berubah kita bisa mulai dari
rumah.
[Musik]
Baiklah, saya Bu Uti dan ini suami saya
Pak Tri mengucapkan terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
sakit
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:31:13 UTC
Categories
Manage