Transcript
bQxEiDHkT80 • Ubah Tanah Tak Terpakai Penuh Ular Jadi Kebun Swasembada Pangan Keluarga!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0563_bQxEiDHkT80.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Bagaimana ayam itu bisa merubah saya? Jadi, Pak Tri milih desain kandang ayam yang bagus, yang estetis gitu ya, yang beda lah. E, yang beda kayaknya belum ada di Instagram tuh belum ada gitu loh. Makanya pas kandang ayam ini muncul itu tuh langsung viral terus gitu kalau posting tentang kanda ayam. Nah, terus Pak Tri bikin apa ini? Di kebun ada wedmat ya. Biar kalau Bu Tik ke kebun enggak becek gitu kalau hujan. Cara presentasi pengeluaran untuk makan setelah punya kebun berkurang berapa persen? Berkurang banget ya. Paling ke warung tuh cuman beli bawang merah, bawang putih, garam, minyak. Heeh. Sama pengin ngesop ya tinggal wortel gitu aja. selebihnya kalau makan ya udah dari sini Mas 50% ya lebih lebih bisa 80 ya soalnya kan kebutuhan utama itu telur ya karena ada anak-anak lat telur sehari kita bisa menghasilkan 15 butir dan itu sudah surplus begitu jadi insyaallah sudah 80% lah [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya Bu Uti dan hari ini ditemanin suami saya Pak Tri. Kegiatan kami lebih banyak di kebun ya, Pak Tri ya. Engih. Kami tinggal di Berbah, Sleman, Yogyakarta. kebun ini awal mulanya itu karena kita ingin memberikan makanan yang sehat untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita. Kebetulan saya kuliah Jagawarnet, istri itu dulu di Palembang waktu itu mau ke Saudi. Masih kuliah juga. Masih kuliah. Tapi ada rencana ke luar negeri kan karena basicnya kan perawat. Saya kuliah di psikologi. Nah, saya jaga warnet. Ketemunya di MLRC itulah MLC ya. Chattingan itu. Kalau saya tuh dari dulu kan MAN penginnya itu dapat suami orang Jawa-Jawa Mas ya. Jadi saya kalau chatting tuh cari room-nya Semarang, Solo, Jogja gitu. Nah, ketemulah sama Pak Tri tukaran Yahoo Messenger ya. Itu kita enggak pernah ketemu, Mas. ketemu pertama itu kita saya langsung lamaran. Saya belum pernah ketemu sebelumnya sama sekali. Langsung bawa orang tua langsung Bapak saya ajak ke Sumatera langsung lamaran gitu kan. Habis itu lamaran ini kan waktu vacation 1 bulan ya. Habis itu dia ke Madinah lagi. Pulang dari sana saya enggak ketemu langsung nikahan. Jadi ketemu dua kali. Dua kali lamaran dan nikahan. Nikah. Terus ke Jogja kemarin enggak diambil to? Belum [Musik] ada boh? Ada. Ini pun berawal dari kita merespon tanah yang enggak produktif di depan rumah kami. Jadi kita sudah tinggal ya setahunan ya setahun. Terus kita lihat di sekitar sini itu kan tanahnya kayak ini Mas semak belukar banyak ular banyak biawak gitu kan. Terus saya tanya tetangga boleh enggak disewa? Awalnya ya cuman pengin ngresiki biar rapi. Waktu itu kan karena anak-anak masih kecil kan. Kebetulan kan anak lima masih kecil-kecil suka main sepeda sini. Nah, kita kan ada kekhawatiran soalnya pernah lihat ulau di sini. Lihat itu terus tak bersihin terus tak buat kolam ini tak kasih gazebo terus masih ada space kosong itu tak buat ngingo ayam. Ayam. Saya nyoba miara ayam waktu itu memang kita pilih yang kampung petelur ya Mi ya. Heeh. Nah, dari sana ternyata nelur nelur nelur dan pada saat yang bersamaan wilayah sini pulone pindah rene karena ini kan ada dua bagian ya. Yang kolam sebelah sini tak sewa duluan habis itu sini nambah lah. Pas nambah ini waktu awal mula itu pengin piara domba karena waktu itu kan lagek marak ya farm fam farm farm gitu kita dapat paparan di YouTube itu asik nih kayaknya. Dan kebetulan teman itu sudah jalan usaha itu. Terus ayo anu mbok aku diajari bareng-bareng yo. Yo enggak apa-apa yo. Ya udah waktu yoi gitu terus piye yus nanti 5050 gitu ya. Ah saya langsung y tak gawe kandang. Pas saya buat kandang ternyata enggak sesuai planningnya kan bareng-bareng terus kayaknya enak dewe-dewe sih aku ngono. Cuman waktu itu karena kandangnya sudah jadi modale wis entek nggo K kandang toh, Mas tak rubah konsepnya. Kayaknya yang sudah punya manfaat itu ayam berarti kita nambah ayam aja. Istri kan langsung anu aja nambah ayam aja. Ya udah pas kita proses nambah ayam saya coba ngolah lahannya. Jadi perjalanannya natural aja seperti itu. Dan qadarullahnya waktu itu karena istri mungkin kayak enggak ada pergerakan ya kami eh saya. Karena kalau nanam itu kan kita buat media tanam itu kan prosesnya lama. Waktu itu habis tak cangkulin kayak enggak ada pergerakan. Padahal itu kan memang prosesnya ya didiamin dulu gitu loh. Cuman istri kan tersanut toh Mas. Wah ini enggak ada pergerakan. Waktu itu mungkin doanya istri ya pas di kandang itu ng-shoot depan ini sit gitu. caption-nya bismillah mempersiapkan lahan untuk swasta pangan keluarga dan itu viral ternyata lah ketika viral itu kan kita mah bingung kan loh pengin ayah penginpengin orang-orang pada komen itu toh pengin juga mbak belas padahal itu baru bedengan-bedengan bedengan kita belum ada baru ada kandang ayam bedengan-bedengan kandang ayam y kan lucu juga maksudnya loh kok viral ya gitu loh apa ini memang lehmu gawe capsion itu benar-benar tulus Iya, Bu. Tangga yang punya harapan gitu loh. Enggak mikir aneh-aneh, tiba-tiba ngetik aja gitu ternyata. Terus dari situ kita merenung berdua ya, oh berarti memang kita harus belajar terkait dengan pertanian. Karena orang menganggap bahwa kita sudah punya pengalaman sudah melakukan banyak hal terkait dengan berkebun dan bercernak. [Musik] Karena qadarullahnya itu waktu viral yang di akunnya Bu Ot terkait dengan suasada pangan itu waktu itu. Terus kita coba belajar kalau misalnya mau suas sembada pangan itu apa sih yang harus disiapkan? Apa aja sih yang dibutuhkan? Nah, waktu itu saya langsung belajar, Mas. Belajar dari YouTube terkait dengan bercocok tanam, terus membuat integrated farming seperti apa. Integrated farming untuk skala rumahan ya. Heeh. Untuk rumah tangga karena memang tujuannya untuk kebutuhan pangan keluarga. Sebenarnya kita berbagi peran ya di kebun ini, Pak Tri yang lebih banyak ke sistem tanam, nanam, pupuk segala macam. Kalau saya enggak tahu menahu sebenarnya saya lebih ke mendokumentasikan apa yang Pak Tri lakukan di kebun. Jadi saya yang memvideokan, mengedit, membuat narasi biar orang itu tertarik untuk menonton dan mencontoh apa yang kami lakukan gitu. Apanya kan kita cuman dari YouTube. Ketika dari YouTube itu kan cuma gambaran ya, gambaran secara visual dari YouTube. Coba tak implementasikan di lahan saya. Nah, hanya saja waktu itu yang dibutuhkan pertama kan memang pupuk kan, pupuk organik lah. Waktu itu saya cari-cari di Jogja ada enggak sih yang memproduksi gitu ya. Dan kebetulan saya itu mau dikenalin sama yang mau mitra saya di farm ini yang mau domba itu loh. Ayo Mas kenalan sama Pak Johan dan qadarullahnya itu ternyata beliau itu temannya om saya. Wah, k Johan anu kancaku gitu. Ya sudah semakin akrab semakin kita sering ke sana belajar dari sana benar-benar kita diajarin gitu loh. Terkait pertama memang secara mindsetnya filosofinya harus kena dulu. Jadi kalau bertani atau berternak itu kan konsepnya adalah budidaya. Budidaya itu terkait dengan nyawa. Entah itu tumbuhan entah itu hewan, itu kan bernyawa. Ketika bernyawa itu yang harus main pertama adalah hatinya. Hati. Makanya wong Jawa naliati ngulir budi itu adalah filosofi utama yang memang harus dimiliki. Jadi kalau orang Jawa nek mau nandur kudu seneng atine kudu ditali sik gitu loh mas. Kudu seneng sikik kowe nek seneng baru nanti ngulir budi. Karena kek wis senang kita itu akan peka terhadap apa yang kita budidayakan. Sehingga apapun yang kita budidayakan kalau wis peka ii wis ngerti iki kurang opo iki saate ngerabuk itu kita akan peka gitu loh dari sana nek wis berhasil ya tok ulir budine arep tok kepiyek kebaikan dari hasilmu berbudidaya dari proses itu nanti kalau orang dulu kan yang dipopulerkan sama beliau itu kan terkait dengan lumbung mata raman kalau Jogja kan ada gerakan itu nandur opo sing dipang mangan opo sing ditandur Itu kan secara teknis kan bisa kita oncei to Mas. Artinya nek nandur opo sing dipangan berarti kita harus petakan kebutuhan keluarga itu berapa banyak terus apa aja. Karena jangan sampai awak dewe nandur sesuatu kita enggak suka, keluarga kita enggak suka. Nek misalnya enggak senang ditandur misalnya dia tumbuh berbuah atau ngawah kan mau bajer. Kecuali dijual ya. Tapi kan untuk konsumsi pribadi dulu kan. Berarti nek wis mangan opo sing ditandur ya sudah nanti habis itu baru ngingu iwak iwen. Iwak itu ikan, iwen itu unggas. Habis itu baru nginguo rojoyo. Rojokoyo itu hewan berkaki empat. Karena orang Jawa kan ada unen-unen ben iso koy rajo nginguo rojo koyo. Karena pendapatan dari Rojo koyo kita pihara hewan berkaki empat itu jauh lebih gede kan sehingga nek itu berhasil ya wis iso k rojo tuku opo pengin opo wis ono gitu loh dari sana sebetulnya kalau kita mau cermati ketika sampai kita piara Rojokoyo itu proses integrated farming itu akan terbentuk karena dia domba dari kami itu memang menghasilkan kotoran kohe intil gitu loh intilnya bisa kita fermentasikan buat pupuk lah. Terus nanti pupuknya buat nandur. Akhir dari tanduran misalnya kita nandur jagung manis kayak kemarin, akhirnya kan wis rampung nanti hasil akhirnya bisa buat makan domba. Makanya kan kalau prinsipnya integrator farming di Jawa itu kan akhir dari peternakan adalah awal dari pertanian kan muter itu Mas lah dari sana sebenarnya belajar sama beliau itu dari mbah-mbah kita dulu orang Jawa itu sudah diajarkan terkait dengan keberlanjutan itu tuh [Musik] Kalau kita menanam apa yang kita makan tadi ya, jadi yang kita suka, yang kita tanam untuk sayur-mayur ya, kangkung, bayam, kacang panjang, pare, cipir, sawi, gambas, keningkir, daun Daun ubi banyak ya ternyata. Sama kalau ini ada ayam ada 60-an ya, Mbak Adri ya. Kalau ayam sekarang yang produktif ya 20. Terus kalau yang di tootal ya 60-an ya. 20. Heeh. Insyaallah kalau untuk suas sembada pangan keluarga itu kita sudah 80% ya. Tapi ya tetap ya kita juga masih jajar. Masih jajar. Iya ya. Kalau misalnya pas lagek lagek bosan atau pas memang waktunya enggak bisa masak ya. Tapi misalnya mau dari sini ya tetap bisa. Ada yang selalu ada yang bisa dimasak di kebun. Sebetulnya ngitungnya ya kalau ayam itu kan jumlah keluarga plus satu untuk betinanya. Jadi misalnya sehari nelure ming telu itu sing bapakne ngalah. Cuman kalau kita sudah surplus ya karena banyak. Kemudian kemarin kan coba kita simulasi ya, kita punya lahan 4 * 6 itu misalnya kita buat kandang aja yang 1 m* 2 m untuk ayam. Terus nanti dari sana dikasih kandang magot ya, Mi. Kan kita juga ada kandang magot. Kandang magot. Kandang magot cuma ukuran 60 cent * 1 m. Berarti kan masih ada space tuh. Selebihnya itu kita bisa kasih komposter. Kemudian kita bisa nanam-nanam kayak yang di belakang ini pakai pobag. Pakai pobag. Kita juga bisa piara lele dalam ember itu loh. Itu kalau tak hitung-hitung ya dengan luasan 4* 6 itu sudah bisa. Misalnya kita sayuran itu cukup lima polibag misalnya. Kalau cuman empat orang empat orang itu cukup ya Mi ya. Wong kita aja bad dengan ada 1 2 3 4 5 itu sudah surplus kalau untuk sayuran kan. Yang penting itu kan kalau keluarga itu kan kalau di tempat saya ya telur protein. Jelas. Jadi nanti siklusnya kan gini kita untuk protein dari telur kemudian nanti dari ikan lah. Kenapa ada kandang magot? Itu untuk mengurai limbah dapur kita. 2 bulanan itu kita sudah masalah sampah itu sudah selesai di rumah. Zero wing tinggal kresek plastik-plastik itu. Itu yang kita belum telaten nyuci. cucinya yang lainnya kayak botol juga kita sudah siapkan tempat botol sendiri nanti sebulan sekali pemuda sekitar ambil nanti dia dijual kan punya nilai ekonomis juga kalau untuk sayuran sudah full gitu loh. Jadi kalau orang misalnya mau menduplikasikan untuk suas sembada pangan keluarga itu ukuran 4 * 6 sudah bisa ya Mi. Ya wong kemarin teman juga buat kandang cuman 1,6 m * 1 m itu kasih 4 ayam itu tiap hari sudah nelur tiga-tiga. Itu sudah senang banget Mas dan mungkin followernya Bu itu sudah banyak yang membuat kandang terus laporan ngetag ke akun kami. Alhamdulillah Bu Uti sudah nelur, senang banget gitu loh. Jadi ya harusnya bisa ya bisa kalau mau itu pasti bisa. Dan kalau misalnya kita melihat stigma berkebun, beternak itu kan kuno, kotor, bau kan gitu. Padahal jenengan di sini enggak bau kan kandangnya enggak bau. Biar enggak bau tuh diapakan. Jadi ada dua kalau secara sistem kandang bisa seperti yang kandang kompos itu. Jadi dia memang bisa mengurai bakteri yang bikin bau itu. Plus nanti untuk minumannya kita pakai probiotik yang memang dia bisa membantu proses pencernaan angsa atau ayam itu. Jadi memang enggak bau. Jadi kalau orang berstigma bau ya ini kita buktikan enggak bau. Terus misalnya stigmanya ngingu ayam enggak keren. David Beckam ngingu ayam sekarang gitu loh. Terus kita mau alasan apa itu kan anu toh seger karakternya ini ini Elba ini ini ini genetik senang banget iki kemarin sing sebenarnya saya dulu juga enggak suka sama ayam Pak Tri dulu bilang kita pelihara ayam aja gitu saya bilang enggak maulah kan kotor bau gitu toh tapi Pak Tri pengin membuktikan bagaimana ayam itu bisa merubah saya. Jadi, Pak Tri milih desain kandang ayam yang bagus, yang estetis gitu ya, yang beda lah. Yang beda kayaknya belum ada di Instagram tuh belum ada gitu loh. Makanya pas kandang ayam ini muncul itu langsung viral terus gitu kalau posting tentang kanda ayam. Nah, terus Pak Tri bikin apa ini? Di kebun ada WM ya, biar kalau Bu Tiik ke kebun enggak becek gitu kalau hujan. Terus dibikin bedengan-bedengan yang rapi gitu ya. Itu salah satu yang Pak Tri lakukan supaya Bu Uti itu mau ke kebun dan mencintai kebun dan pada akhirnya dulu yang sering makanin ayam sidinya saya. Jadi kan dan sebetulnya kita tarik dari nali hati. Hati kan kudu ditali ben senang lah. Stigma orang ketika berkebun enggak bikin enggak senang kan yang itu tadi. Makanya itu harus kita petakan benih solusinya. Misalnya berkebun itu becek, berarti nek becek tinggal naik jalan yang biar enggak becek kan gitu loh. Iya. Misalnya kandangnya bau, kandangnya bau. Ah, kita ada lah itu belajar teknologinya juga enggak bikin enggak bau juga ada gitu loh. Terus alasannya kan enggak ada misalnya hatinya kan kudu senang gitu loh. Udah dikasih solusinya terus sejuk juga enak gitu loh. Ya, sekarang alhamdulillah pada betah ya. sama sebetulnya kita membuat ini salah satunya kan buat ruang belajar anak-anak belajar buat anak-anak kalau alhamdulillah ya anak-anak lapar gitu ya pas di sana enggak ada telur ambil telur dulu gitu iya itu kan proses yang sebetulnya saya alami sama Bu Uti waktu kita masih kecil kecil dulu sehingga kita akan sangat bisa menghargai sebuah makanan itu prosesnya dari mana. Apalagi kan ini organik ya, jadi kayak kita merasa berdampingan gitu Mas ya. Sama sama tanah gitu ya. Ya senang kita tuh ke kebun megang tanah, megang daun itu kan kayak grounding ya sebenarnya ya dan itu bisa kita lakukan di rumah kayak gitu. kami kan ada usaha, artinya kita enggak tiap saat di kebun kebun. Dan memang sudah kami setting bahwa gimana sih kebun ini ketika orang pengin itu mereka juga bisa dengan berbagai macam e background kegiatan mereka. Makanya waktu kita buat kebun ini kemudian saya secara SOP-nya itu sudah saya tahu alurnya seperti apa. Saya ngerekrut satu orang untuk ngelola dan itu waktunya hanya pagi jam 0.00 sampai jam .00 pagi sama sore 1 jam. Jadi ketika ini sudah berjalan ya maksudnya berjalan secara hariannya seperti apa tak buatkan SOP ya sudah nanti tinggal kekut orang. Jadi kita juga misalnya kayak kemarin anak-anak liburan kita camping 2 3 hari ya masih aman. [Musik] Soalnya kayak saya kemarin coba hitung-hitung ya, Mas ya. Jadi misalnya kita kebutuhan rumah tangga bulanan itu berapa ya? misalnya R,5 juta misalnya ya, misalnya uangku nggo belonjo sama uang itu buat e gaji karyawan itu sakjane sing ditokke podo mas. Hanya saja kita dapat pertama makanan yang kita yakin proses dia hidup seperti apa. Wong kita kan ngerti dewe makani pitik kita sing makani pakane opo nandur kita pakai alami popok yang organik artinya kita dapat panenan atau telur yang jauh lebih sehat. Kita tahu asal-usulnya. Kemudian ee kita sedikit banyak bisa membuka lapangan kerja. Artinya kita sama-sama ngeluarkan uang tuh, tapi kita impactnya kan jadi banyak. Kita dapat makanan sehat, dapat ya membuka lapangan pekerjaan, kemudian kita sampah bisa kita dapat solusi, menyelesaikan di rumah terus orang tamu ke sini kita tambah saudara. Padahal yang kita keluarkan sama gitu loh sebelum kita punya kebun gitu loh. Dengan berkebun juga Pak Tri lebih sering di rumah, Mas. Pak Tri ini kan strovert ya. Kalau ketemu orang tuh kayak ngecas lah. Saya introvert kalau ketemu orang baterainya habis gitu. Jadi di sini ee Pak Tri sering di rumah karena sering orang datang gitu. Ini luasan berapa, Mas? Yang untuk sini itu 600. Kalau tambah yang kolamnya itu 400 total ya 1.000-an. untuk ngelola 1000 m ini dengan banyak varian sayur dan hewan iniwan satu orang tadi 2 jam pagi 1 jam sore itu artinya kan ee semua orang bisa melakukan itu ya jadi setelah subuh dia ngerjain sama setelah pulang kerja mungkin ya bisa apalagi kalau cuman untuk empat orang lagi kan orang keluarga itu paling ya 4 m* 6 m itu sudah cukup artinya secara Waktu mengerjakan enggak harus sebanyak kita paling setengah jam esok, setengah jam sore gitu loh. Bar subuh kan ya wis to sambil gerak-gerak. Cara presentasi pengeluaran untuk makan setelah punya kebun berkurang berapa persen? Berkurang banget ya. Paling ke warung tuh cuman beli bawang merah, bawang putih, garam, minyak. Heeh. Sama pengin ngesop ya tinggal wortel gitu aja. Selebihnya kalau makan ya udah dari sini, Mas. berapa? 50% sampai ya lebih bisa 80 ya. Soalnya kan kebutuhan utama itu telur ya. Karena ada anak-anak lat telur sehari kita bisa menghasilkan 15 butir dan itu sudah surplus begitu. Jadi insyaallah sudah 80% lah. Mas jadi kata guru kami yang Pak Johan itu ya misal tanamanmu itu dimakan hama itu tidak lebih dari 20% ya diikhlaskan saja. Itu sudah menjadi jatahnya kayak gitu kan. Engih. Karena ya juga makhluknya Tuhan gitu ya kan. Enggak mungkin sia-sia toh mesti ada nilai kemanfaatannya. Jadi nek ngerti-ngerti dewe diserang ngomong terus iya enggak ya saja. Heeh. Enggak gitu. Nah itu salah satu ini ya Bi. Kita berkebun tuh jadi lebih menyikapi hidup tuh jadi berubah gitu loh. Mas ya termasuk hewan-hewan. Heeh. Kayak jadi lebih legow gitulah. Iya. Kalau gitu apa yang berubah pola hidup dan perspektif Mas Tri dan Mbak Tuti di sebelum berkebun dan berkeb lebih legowo. Lebih legowo. Sabar. Sabar leh Mas. Sabar. Heeh. Sabar itu lebih dulu tuh saya yang enggak sabaran. Ah penginnya satset gitu. Iya. Tapi Pak Tri penginnya slow. Jadi cara Pak Tri, salah satu caranya mendidik saya itu lewat kayak gini kayak gini, Mas. Menanam. Ternyata itu mengajarkan kesabaran buat saya. Dan kita alhamdulillah juga secara fisik kita sudah 6 bulan itu satu keluarga itu enggak pernah sakit, Mas. I saya enggak tahu persisnya. Yang jelas mungkin dari makannya kan berubah tuh kita full sekarang banyakan full dari kebun organik. Organik terus 90% saya sudah bisa bangun subuh. Jadi biasanya habis subuhan saya ke kebun terus nanti kalau anak-anak sudah siap gitu sudah mau berangkat sekolah saya dipanggil anak ke sini ayo anu bi berangkat sekolah saya ngantar sekolah dan itu merubah banyak hal iya jadi merubah semuanya gemuk-gemukk [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] yang paling gemuk-gemuk Ya, kita bukan slow living, kita mensyukuri apa yang ada di sekitar kita. Dan prinsip kami kan merubah dari sekitar rumah dengan apa ya ini dengan suasana bandap pangan ini karena itu kan masalah pokok manusia itu kan mangan. Kalau wong biyen kan ngomong ben pikirane orang gampang ngalih weteng ojo nganti ngelih itu dalam itu. Sehingga apa? Masalah makan itu ojo ngant ganggu pikiran ben ganggu pikiran ki opo yo wis harus kamu sediakan di sekitar rumah ben istri itu nek pengin masak wis gek nang kebon r usah mikir pak sesok mangan opo endi duite kalau kita sudah punya kebun itu tinggal ke kebun istri itu sudah enggak mikir gitu loh makane ben pikirane ora gampang ngalih weteng ojo ngelih gimana kita ciptakan supaya enggak ngelih itu ya kita harusnya bisa kita akomodir di lingkungan terkecil kita di keluarga dengan luasan 4* 6 tanamannya apa saja terus hewannya apa saja sehingga dapat dikatakan akan menjadi sumber pangan simulasinya gini saya kebutuhan protein itu dari ayam petelur bisa pakai kampung petelur kan banyak jenisnya ada elb ada sentul maron segala macam banyak atau wet leh lehor itu ada itu kita membutuhkan 1 m * 2 m. Kemudian nanti rumah magot itu 1/2 m * 1 m nanti naik ke atas gitu nanti ada sekat-sekatnya. Kemudian untuk sayuran tinggal pakai pobag aja dengan luasan itu tuh. Nah, paling mudah itu nanam kangkung. Kangkung itu wis rasah mikir Mas. Asal punya media tanam yang subur kasih benihnya pasti tumbuhnya. Kemudian bayam ya kan mudah tinggal sebar. Urip kasih pobag aja semua. Sen Senin makan bayam, Selasa makan kangkung, Kang, Rabu, kacang panjang, kacang panjang, Kamis paris. Iya, Paris, Jumat sawi, Sabtu Minggu jajan. Terus kalau pengin nambah lagi ada space-nya misalnya ya pakai lele ember itu. Nanti kan di sistem aquaponik kan dalam atasnya bisa dikasih kangkung itu sudah cukup. Ya, paling beras kan yang masih beli. Kalau kami sebenarnya kalau minta mau hitung-hitungan kan kita tinggal jual kangkung empat until ya. Kalau kami kan adol sak until R000 Mas. Jadi dapat Rp20.000 kan. Rp20.000 ditukar beras kan udah dapatlah itu sekilo seteng gitu kan. Ya sesimpel itu sih dulu. Kalau ayam saran kami ya sing ngarep wis cepak ngendok belinya yang siap bertelur jadi enggak lama menunggunya biar enggak putus asa karena kalau enggak langsung dapat hasilnya itu kan apalagi istri kan itu kan penginnya ya cepat ya paling beli-beli usia 5 bulanan ya bulan kalau untuk proses bercocok tanam itu kalau misalnya kayak kangkung kan cuman hari sudah panen. Nah, untuk komplitan itu kita merasakan sudah muter panennya itu setelah 3 bulanan ya. 3 4 bulan lah. 4 bulan itu sudah variasinya sudah jalan. [Musik] itu kembali lagi saya dapat ilmu dari guru kami. Jadi kalau orang Jawa itu kan cecikal bebakal tertinggal. Ketika mau melakukan proses apapun itu harus ingat itu. Karena pada endingnya apa yang kita kerjakan itu kan harus mempunyai nilai untuk tertinggal. tertinggal itu bisa buat memang generasi setelah kita atau memang itu buat kepentingan kita untuk dapat jariah. Kalau kalau bahasanya Bu Uti dan kebetulan kemarin juga Bu Uti baca buku tah sebelum kita punya kebun ini pernah baca buku. Iya. Jadi bukunya itu judulnya menyambut usia 40 tahun itu ya. Jadi salah satu hal yang harus dilakukan ketika usia mau menuju ke sana itu kalau bisa tuh kita menulis sebuah buku supaya apa? Yaitu supaya bisa menjadi tertinggal untuk kita. Tapi kalau kita mau menulis buku nulis apa gitu kan saya Pak Tri diskusif begitu karena kita orang-orang digital ya jodoh aja lewat digital ya. Akhirnya kita ya sudahlah kita ini berkreasinya di sosial media bagi kami terus berarti ya ora kudu nulis buku karena kita sebum buku itu kan adalah media menyampaikan ilmu atau menyampaikan sesuatu yang bermanfaat gitu toh. Kalau di eranya sekarang dan kebetulan kita di sosial media agak viral gitu, terus kita putuskan, "Oh, berarti memang ini sebagai bentuk tulisan gitu loh. Video di real Instagramnya Bu Otik itu sebagai buku gitu loh, sehingga bisa jadi ee apa ya? jariah minimal buat keluarga kami, anak-anak kami bahwa wah ini ee proses ee kita berkebun atau umi dulu sama Abi itu kritisnya seperti apa. Terus ee kenapa orang mau datang-datang ke sini belajar itu kan kayak bisa buat pelajaran buat anak-anak kamu. Mulailah dari yang ada dan yang bisa. Mulailah menanam walau cuma satu pot aja ya. Karena dengan menanam itu akan merubah segalanya lah. Merubah pola pikir kita, merubah bagaimana cara kita memandang dunia ini juga ikut berubah. Kita mau save our gitu ya, kita apa? Jaga dunia ini ya. Ya, salah satunya bisa dimulai dari lingkup keluarga dulu ya. Contohnya aja sampah ya, Mas ya. Sampah itu kalau setiap keluarga sudah menyelesaikannya di rumah itu kan selesai sebenarnya permasalahan sampah. Jadi untuk berubah kita bisa mulai dari rumah. [Musik] Baiklah, saya Bu Uti dan ini suami saya Pak Tri mengucapkan terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] sakit