Transcript
1Gqqco8lDnM • Cuma Modal HP Pinjaman, Zulfa Lanang Punya 8 Juta Subscriber Dari Konten Mainan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0549_1Gqqco8lDnM.txt
Kind: captions
Language: id
konten-konten anak-anak sekarang tuh wah
pada ngawur-ngawur gitu. Semuanya cari
uang di sini. Gila enggak mementingkan
dampaknya gitu loh, Mas. Oke. Banyak
sekarang konten AI yang kemarin ramai
tungtung sahur tapi ceritanya tentang
ngeri-ngeri Mas. Pembunuhan inilah
perampokan terus ini ini. Wah anak-anak
sekarang kan lebih tanda kutip lebih
toxic. Tim itu Mas yang sama-sama
disepakati itu kita ke depannya mau jadi
bapak loh. He betul betul. Masa gini
nanti anak-anak kita gimana gitu. He
enggak apaapa loh pakai Supra gitu loh.
Tetap ada teman tetap aku malah lebih
gengsi aku pakai Supra tapi standar
sosialnya kita sama enggak jauh temannya
itu enggak jauh sama yang motornya
keren-keren gitu loh Mas. SMA full pakai
Supra kuliah pun dikasih motor enggak
mau Supra sampai lulus. Sampai sekarang
saya belum beli motor lagi. Ee uang
masuk itu tak anggap kayak bukan uangku
gitu Mas. Oh gitu. Iya. Malah justru
gini Mas. Kalau belum ada uangnya kita
kan ada rasa pengin. Heeh. Tapi belum
begitu uangnya masuk sudah enggak pengin
Mas. kebutuhan kan mungkin maksimal
ngekos di Jember itu e R3 juta lah itu
paling boros waktu itu. Tapi uang masuk
udah 9 R 10 juta gitu tiap bulan. Nah
itu kayak udah ngerasa jenuh gitu, Mas.
Jenuh. Jenuhnya apa? Kita kan
kebutuhannya R juta nih aman. Masuk
misal tu ketika naik itu baru senang
Mas. Jadi di tujuh masuk itu sudah
enggak ngerasa dapat uang. Oh ya itu
kayak tapi pas turun Mas panik ternyata.
He. Apa jangan-jangan yang di tingkat 1
M, 10 M, 1T itu apa kayak gini juga
rasanya gitu. Kita cuma hidup berpatokan
nominal tuh mungkin ke depannya di
nominal berapa pun kayaknya mungkin
kayak gini deh.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
kedatangannya Mas Zulfa. Ngih. Terima
kasih juga sudah diizinkan main ke sini,
Teman-teman. Zulfa ini adalah seorang
YouTuber senior berarti ya, Mas ya.
Lebih senior dari pecah dari pecah telur
ya berarti ya. Sepertinya barengan.
Sepertinya barengan ya. Mirip-mirip ya.
Sepertinya barengan barengan. Startnya
di 2021. Betul. Tapi subscribernya kok
bisa R juta, Mas? Waduh. Kita mungkin
karena marketnya berbeda aja. Iya
ya. Nanti kita akan belajar bareng. Ini
adalah seorang YouTuber yang luar biasa,
masih muda, subscribernya Rp8 juta.
Rumahnya Ngawi ya, Mas ya. Gigih, Mas.
Asli Ngawi. Ngawi. Waktu dulu sering
komunikasi masih di Jember ya? Masih
kuliah di Jember. Oh. Jurusan apa
kuliah? Jurusan pertanian, Mas.
Pertanian. Iya, pertanian. Kok agak
enggak begitunya?
Jurusan pertanian. Iya, betul. Pertanian
pertanian. Tapi sekarang ee bergelutnya
di dunia peremerconan. Iya. Dan juga
layang-layang. Kontennya jadi gimana?
Lebih tepatnya ke permainan tradisional.
Oh, gitu ya. Iya. Oh, berarti apa? Ada
apa aja permainan tradisional ini? Nah,
nanti ke depannya kita mau ke arah situ.
Hm. Jadi, sementara yang emang yang
fokusnya di layang-layang sama mercon
aja. Oke. Tapi next akan ada arah untuk
ke semua permainan tradisional gitu. Ee
permulaan menjadi seorang YouTuber dulu
awalnya itu kenalnya di waktu SMA sih,
Mas. Kenalnya di 2017 dulu tapi
kontennya masih cover-cover lagu kayak
gitu. Jadi ya sekedar kenal, ngupload
kayak gitu. Tapi udah monet. Tapi karena
itu barengan dan enggak ada uangnya toh,
Mas, kalau cover lagu tuh. Oh, enggak
ada uangnya ya? Iya. Wong kita kan
enggak dikenal, view-nya juga enggak
ramai. Meskipun sudah monet tapi enggak
ada adsennya. Kan ada Mas bagi hasil
atau apa begitu loh kalau enggak salah.
Iya, tapi kan RPM-nya juga kecil. Iya,
kecil jadi ya kurang jalanlah. Kecil.
Oke, oke, oke. Ya, jadi setelah itu
mencoba untuk bikin channel sendiri
gitu. Dulu channelnya teman berdua,
sekarang bikin channel sendiri waktu
lulus SMA 2019. Berarti 2019 bikin tapi
ya masih enggak tahu mau bikin apa.
Heeh. Heeh. Jadi ya semua dicobain tapi
masih apa ya masih struggle belum ada
yang nonton. H berarti di channel itu,
di channel Zulfa Lanang itu. Iya.
Sebenarnya itu channel yang spam itu,
Mas. Channel fungsinya buat nontonin
channel yang cover. Oh. ya karena dulu
kan enggak tahu ya, jadi masih belum
tahu cara mainnya gitu. Jadi setelah
ujian kita coba belajar tonton-tonton
tutorial di YouTube gitu tapi belum naik
juga terus kepotong masuk kuliah.
Tapi ya
momennya itu masuk corona sih Mas gitu.
Jadi mulai kuliah online kita pulang ke
rumah ke Ngawi dan kuliah dari pagi
sampai sore ngadap laptop itu kan bukan
saya gitu loh Mas. Saya orangnya ya,
saya orangnya yang lapangan. Orang
lapangan gitu. Pertanian juga kan banyak
praktiknya jadi lebih suka di situ. He.
He. Tapi karena kuliah online ya kita di
rumah nge-zoom-ngezoom kan capek. Jadi
coba kita merintis lagi bikin
konten-konten lagi. Waktu itu masih
random dan alat yang digunakan juga
masih ya masih seadanya Mas yang dipunya
waktu itu Vivo Y55s. W sampai eling ya.
Ya, tipenya itu masih ingat ituul sampai
sekarang masih ada. Betul. Sayang sekali
itu enggak ada, Mas. Dipinjam
karyawannya Bapak dan HP-nya enggak
enggak balik gitu. Waduh. Ini tolong ya
karyawannya Bapak dikembalikan karena HP
itu sangat amat punya sejarah. Sangat
betul tuh. Terus pinjam HP-nya adik juga
karena satu keluarga yang paling bagus
kan HP-nya adik. Oh. Ya. Waktu itu Oppo
berapa gitu loh. Nah, pakai itu. H itu
berapa tahun ya? Berarti dari 2019
sampai 2021. Hm. Jadi sebelum itu
kontennya I kontennya random. Hampir
semua jenis konten yang naik pada waktu
itu dicobain. Tapi fokusnya di YouTube.
Heeh. Heeh. Jadi belum rambah ke TikTok,
Instagram. Enggak. Fokusnya di YouTube
panjang. Heeh. Heeh. Gitu. Terus kok
ketemu menjurus ke permainan tradisional
ini seperti apa? Ya itu karena semua
dicobain ya, Mas. semua dicobain dan ya
kebetulan saya dulu permainannya di
rumah juga kayak gitu waktu kecil. Jadi
iseng waktu itu puasa 2021 bikin konten
meriam spirtus itu, Mas. Hm. Mercon
meriam spirtus. Betul. Bikin konten itu
belum ramai juga tapi setelah lebaran
baru ada satu video yang naik. Hm. Nah,
dari satu video itu terus baru te tap
tap naik semua. Ketika ada satu yang
naik itu, Mas Zulfa bikin konten serupa.
Iya. Mirip-mirip. Oh, kata kuncinya juga
mirip. Terus juga baru sadarnya itu di
satu ngonten itu waktu naik
sebelum-sebelumnya kan tetap belajar
evaluasi tapi enggak ada yang ngeh gitu
loh, Mas. He. Enggak ada yang ngeh. Ini
harusnya gimana kok enggak ada yang
nonton gitu. Karena selama 2 tahun itu
subscribe cuma 100 biji, Mas.
100 orang. 100 biji ya. Itu pun orang
yang kita suruh subscribe mungkin ya.
Tetangga. Oh, enggak juga. Saya senyap,
Mas. Saya kan malu. Oh, gitu.
Berarti murni orang lain ya? Enggak
tahu. Wis pokok kita upload-upload aja
enggak pernah nge-share, enggak pernah
bikin status karena ya malu. Heeh. He.
Sebelumnya kan cover lagu mungkin ada
beberapa teman yang tahu tapi kayak
enggak berhasil. Jadi agak wah kita
harus senyap aja ini ya. Nanti aja kalau
sudah jadi baru baru tahu sendiri
mereka. Iya. Betul gitu. Nah, Mas apa
yang menjagamu kayak kan lama yo dari
dulu dari sebelum Zulfa Lanang kan
cover-cover lagu. Terus Zulfalan pun
dari 19 juga sampai tahun 2021 kan lama
prosesnya. Apa yang menjaga kayak
konsisten tetap ada gitu, tetap semangat
di sektor ini gitu kan. Kan harusnya
segitu tahun kan wis patah itu loh
semangatnya wis patah. Opo sing
membuatmu kok uh aku panggah neng kene
ngono. Waktu itu saya enjoy aja sih Mas.
Mengalir aja. Jadi saya enggak pernah
ekspektasi apapun dan enggak tahu ya
Mas. pokok suka aja gitu loh. Jadi kalau
mungkin waktu itu teman-teman itu
hiburannya nontonnya di YouTube mungkin
stand up terus musik, hiburan-hiburan
konten hiburan kayak gitu tapi aku lebih
terhibur nonton tutorial, Mas. Nah. Nah,
itu enggak tahu. Jadi belajarnya bukan
belajar yang oh dicatat ini algoritma
begini gini gini. Enggak. Enggak belajar
teori enggak pokok dengerin santai
tidur, dengerin santai tidur. Jadi
enggak yang kayak belajar banget gitu
loh, Mas. I karena memang enggak menaruh
ekspektasi apapun. Tapi waktu itu memang
ekspektasinya mau menghasilkan uang atau
hanya sekedar untuk melampiaskan
kesenangan? Ke kesenangan aja sih, Mas.
Ke kesenangan. Tapi tahu kan ada
uangnya. Tapi ya kayak beberapa tahun
enggak ada hasil ya udahlah kita coba
konten-konten aja kayak gitu. Oh. Jadi
ya bisa dibilang ya kita ngalir aja
enggak ada ekspektasi apapun. Pokok
senang sih Mas kuncinya kayaknya. Karena
kalau enggak senang kayaknya sudah
patah. Iya. segitu tahun loh, Mas.
Enggak senang terus enggak ada hasil
effort terus kan walaupun
ngonten-ngonten seadanya kan butuh
tenaga, butuh pemikiran kan. Betul
sekali dan alatnya juga masih yang
sangat sederhana, terbatas bisa
dibilangkan kayak gitu. Gajian pertama
dari YouTube. Gajian pertama bulan Juni
2021. Oh. I itu gajian pertama.
Banyak nominalnya. Nominalnya berapa ya?
Ya, bisa dibilang UMR Ngawi lah waktu
itu. Wah, itu sudah senang pol itu, Mas.
Senang pol itu, Mas. Langsung beli HP
meskipun belum cair. Ya, pinjam dulu
orang tua. Ini ketok moto arep metu duit
ini. Betul. Pinjam orang tua. Pinjam
orang tua beli HP juga belinya masih
mampunya kan Oppo karena masih UMR kan
Mas Rp2 juta berapa itu beli Oppo lagi
karena sebelumnya pakai HP-nya adik kan
sudah nyaman. Heeh. He he. Kita beli
lagi yang Oppo dulu. Terus habis itu
ngonten mercon itu kan selesai tuh
Ramadan, Mas. Masuk Juni sepi merconnya.
Sepi. Wah, bingung ini gimana ini. Terus
coba ke layang-layang juga. Sebenarnya
alasannya sama, Mas, kayak oh dulu aku
suka layang-layang gitu. Jadi base ke
suka aja. He gitu. Main layang-layang.
Nah, waktu ituupload layangnya beberapa
enggak ada yang naik juga, Mas. Ternyata
emang harus dicari apa ya celahnya. kita
enggak bisa asal main. Mungkin orang
awam lihatnya kayak, "Wah, gampang
ngonten bermain layang-layang, banyak
yang nonton." He. Awalnya juga pusing,
Mas. Jadi kayak ini kan tempatnya daerah
Ngawi. Ee pengrajin layang-layang itu
jarang dan saya kan channel-nya masih
kecil jadi kuliah online juga jadi belum
ke Jember. Kalau di Jember kan
layang-layang sudah besar-besar,
bagus-bagus. Jadi kalau persaingan
konten kalau layangan yang bagus tuh
pasti sudahud kalah. Sudah. Heeh. He.
Layan besar juga kalah. Kita enggak bisa
bikin layan besar, bahannya juga enggak
bisa. Aku pun basicnya sebenarnya enggak
enggak bisa-bisa banget gitu loh, Mas.
Bikin layangan. Pokok bisa bikin terbang
gitu aja. Jadi kita cari celahnya. Waktu
itu yang aku analisis itu waktu ini
layangan itu sebenarnya ditunggu-tunggu
itu apanya toh gitu. Ternyata yang
ditunggu-tunggu itu waktu terbangnya,
Mas. Oh, gitu. Jadi ketika sudah terbang
di atas mungkin 1 menit, maksimal 2
menit lah itu sudah dikip. Hm. Gitu.
proses mumbule iku ya. Iya, proses
mumbulnya aja kan. Jadi PR-nya gimana
caranya proses mumbulnya itu
diulang-ulang dalam satu video. Oh,
gitu. Itu rumusan pertama. Jadi solusi
yang pertama jang berarti kita harus ada
minimal dua atau tiga layangan di satu
video meskipun tuh layangannya jelek ya
gitu. Atau enggak kalau cuma punya satu
layangan. Nah, kita bikinnya dari ini,
Mas. ee proses-proses bikin awal. He.
Nah, jadi itu konsepnya setting perdana.
Jadi layangan itu ketika diterbangkan
enggak semuanya bisa langsung terbang.
Oh, iya. Tapi yang di-upload kebanyakan
kreator waktu itu, itu semua yang sudah
bisa terbang. Jadi keren-kerenan
gitu-gitu mereka lupa konten di
prosesnya. Oke, gitu. Ada yang tutorial,
tapi kan saya enggak jago, Mas, bikin
tutorial. Jadi, bukan ranah saya. Jadi,
saya ambil tengah-tengahnya. Ada
tutorial, ada yang keren-kerenan, saya
ambil yang prosesnya. Heeh. He. Jadi
saya bikin layangan dari proses ya cuma
cuplik-cuplikan kayak gitu. Nah, nanti
waktu menerbangkan kita bikin ee setting
perdana kayak gitu. Itu kan semua orang
tahu. Enggak mungkin e jaranglah yang
bisa langsung terbang. H. Jadi terbangan
pertama gagal. Nah, itu satu kali
terbang berarti berarti nanti coba lagi
kita perbaiki setting lagi. Enggak
terbang lagi, enggak terbang lagi gitu.
Jadi kemiringan, kurang bandul gitu.
Betul.
Jadi awalnya itu dikenal channel
layangan, tapi enggak pernah ada yang
terbang, Mas. Sampai akhir video pun ya
enggak tahu kita gitu. Ada yang
benar-benar emang ini kok gimana toh
enggak bisa terbang gitu. Kan emang saya
juga pemula Mas di lay-lay yang jadi
base senang aja gitu. Nah, justru dari
situ kan retensinya ditontonnya lebih
tinggi ya berarti. Nah, dari situ mulai
ramai dan ternyata yang disukai penonton
itu keseruannya. Hm. Bukan cuma adu
gengsi layangan yang bagus dan ini,
enggak. Ternyata emang keseruan
kontennya. Nah, dari situ baru paham. H
gitu. Proses menemukan itu gimana
maksudnya? Kayak oh ternyata proses
layangan yang paling diati adalah waktu
naiknya. Heeh. Proses yang paling
dinikmati juga keseruannya. Jadi proses
menemukan sesuatu yang diminati itu dari
apanya, Mas? Sampan biasanya saya waktu
itu ya riset itu, Mas. Hampir semua
konten layangan yang mungkin view-nya
lumayan ya. He terus saya tontoni
mungkin 3 hari 3 malam ya Mas
3 hari 3 malam ditontoni semua kayak ini
apane toh yang bikin ramai itu kita kan
penasaran tuh Mas sama-sama ngonten
layangan sama kok ada yang ramai ada
yang enggak ada yang mungkin device-nya
bagus ada yang enggak ada yang ini. Tapi
itu kan ee alat cuma fasilitas. Nah aku
penasaran apa toh yang bikin ramai itu.
Kita coba terus nanti dirangkum
dianalisa. Tapi saya kan base-nya enggak
orang yang nulis ya Mas. Jadi semua
disimpan di sini. Wis sok pikir dewe
ngono ya. diamati gitu capek besok lagi
gitu sempat enggak tidur juga sih sampai
ngono yo sampai enggak turu ya penasaran
soalnya Mas kan kita kalau penasarannya
tinggi itu kayak ya udah lupa. Iya iya
ngulik ya. Iya betul kok bisa gitu loh.
Tapi akhir setelah itu bisa tinggi
view-nya. Habis itu bisa tinggi Mas.
Jadi lahang-lang itu yang ngangkat
mercon mungkin awal-awal aja sampai
10.000 subscribernya. Nah setelah
layang-layang tuh bisa sampai R0.000-an.
Oh, karena layang-layang durasinya agak
panjang. Kalau Ramadan kan cuma 1 bulan
dan waktu itu saya kan kelewat ramainya
setelah lebaran. Kalau layang-layang
bisa sampai 3 4 bulan. Hm. Gitu. Terus
habis itu katakanlah kan tadi 1 bulan
mercon Ramadan. Katanglah 4 bulan
kemudian setelahnya layang-layang.
Layang-layang kan masih banyak bulan
yang lain. Itu diisi apa? Itu mercon kan
sampai bulan Juni tuh, Mas.
Layang-layang mulai Juli. Juli, Agustus,
September,
Oktober mungkin. He. Nah, Oktober ini
sudah beralih ke mercon lagi. Oh,
persiapan untuk mercon gitu. Iya,
persiapan juga karena kan momennya cuma
1 bulan nih, Mas. Kalau kita ngonten
cuma 1 bulan ya kurang maksimal hasilnya
gitu. Jadi, jadi persiapan sebelum H-
berapa gitu sudah mulai. Iya, kita sudah
ngupload-ngupload. Jadi, nanti
harapannya panennya di bulan Ramadan
tapi kita produksinya mungkin 3 bulan
sebelumnya. Berarti yang 2021 sekarang
2025 4 tahun ya, Mas. 4 tahun konten
seperti itu tetap diminati ya, Mas ya. 4
tahun. Alhamdulillah masih ada Mas.
Mungkin kalau menurutku bisa dibilang
konten yang evergreen malah malahan ya.
Iya kan? Itu selama di offline ya Mas,
selama di offline tuh ada peminatnya.
Anak-anak masih main terus musim masih
berganti. Apalagi kalau Ramadan tuh kan
kayak semua orang, semua anak-anak lah.
Karena marketnya anak-anak ya. Jadi
semua anak-anak itu kayaknya fokusnya ke
mercon kalau Ramadan. Iya, kayak mancing
apa yang lain mungkin udah agak Iya agak
di karena kan momen 1 bulan sekali nih.
Nah, saya masuknya di situ. Jadi yang
optimis tuh mercon. Kalau layang-layang
tuh masih ada pengaruh dari musim. Hm.
Jadi anginnya gimana, musim ini, tahun
ini. Jadi tiap tahun tuh lain-lain
berbeda keramaiannya, minatnya
masyarakat juga beda. Ada juga waktu
musim la-layan ada yang hobi mancing.
Nah, itu terpecah lagi tuh. Karena
ternyata Mas selama beberapa tahun ini
tuh dunia online sama offline tuh
nyambung, Mas. Heeh. Heeh. Karena butuh
kata relate tadi. Iya. Iya, iya. Gitu.
Berarti kalau yang yang merchan sudah
pasti optimis winning gitu ya? Iya.
Optimis. Alhamdulillah juga langsung
ibaratnya kalau positioning sudah di
atas gitu, Mas. Untuk market anak-anak
ya. Heeh. Gitu. Percaya sih, Mas. Tadi
aku kan anu
apa salat sama Mas Zulfa di masjid bocil
langsung nyaut. I katanya tadi Mas
Danang. Mas Danang salah. Salah. Tapi
minimal harus hafal wajahnya itu hafal.
Habis itu tapi tahu Mas Zulfalan artinya
marketnya menyebar di mana-mana ya Mas
ya. Betul. Ya, selama ini ya pengalaman
ke main beberapa kota itu biasanya pasti
ketemu yang kayak gitu. Entah dia
penasaran kayak oh ini mirip apa iya
enggak kia gitu-gitu cuma lihat aja.
Tapi kan gelagatnya kayak kayak kenal
gitu. Iya iya gitu. Saya yang selalu
main Mas Zulfa terus yang selalu main
jadi aktor di video itu ya yang selalu
main ya dari awal karena saya kan bangun
channel tuh sendiri toh Mas sendiri
mungkin kameramen dibantu teman bar tapi
enggak enggak yang ada tim gitu loh Mas
sendiri sampai 2024 September baru
bangun tim baru bikin tim karena dulu
kesalahan saya gini Mas kayak saya tuh
pengin nunjukkan kalau sendiri itu bisa
gitu dulu egonya kan masih tinggi ya Mas
tinggi kayak mungkin dengar kreator lain
yang mungkin mirip-mirip sama terus dia
ngetim tuh kayak ah ngetim gitu
bahasanya gitu bahasanya karena belum
tahu ah remeh aku bisa sendiri nih gitu
dulu ternyata mentok Mas ya mentok jadi
sudah mentok sudah maksimal ya
peluangnya banyak ya Mas tapi kan
badannya cuma satu iya iya jadi kalau
mau e ke sana ke sana wah udah capek
masa dari mikir ngedit semu ngupload
semua sendiri properti wah ternyata ya
ada mentoknya gitu. Kita kalau mau
berkembang lagi ternyata butuh butuh
tim. Iya, butuh yang lain. Sebelum kita
ngulik timnya Mas Zulfa, Mas, kalau
pendapatannya seorang YouTuber kayak Mas
Zulfa gitu ya. Waduh, pendapatan
aman enggak ini sampai ini? Gimana ini?
Gimana? Gimana
pendapatannya dari segi apa ini, Mas?
Gimana maksudnya pendapatan? Dari misal
dari AdSen gitu. Adsen dulu? Heeh. Dari
AdSen ini apa? Langsung nominal apa
gimana? Ini boleh kalau enggak apa-apa.
Agak riskan kayak Mas. Agak risken. Tapi
lumayan ya, Mas ya. Alhamdulillah
lumayan, Mas. Ya, selama kan patokannya
mungkin orang yang awam lihatnya oh
subscribernya tinggi juta kan. Heeh.
Betul. Tapi bukan itu kan yang dinilai
yang uangnya. Betul. Viewer meskipun
subscribernya tinggi tapi kalau
viewers-nya sekarang kecil ya
pendapatannya menyesuaikan turun juga.
Jadi fluktuatif jawabannya Mas.
Fluktuatif ya. Kadang naik kadang turun
ya. Tergantung
kitanya aja. produktif apa enggak, terus
ramai apa enggak kontennya gitu. Bisa
sampai 3 digit. Ee pernah. Hm. Tapi
pernah average-nya enggak sampai ya? Ee
kalau rata-ratanya enggak sampai, Mas.
Enggak sampai. Tapi pernah gitu. Iya.
Mirip-miri pecah telur lah berarti ya.
Weh. Oke, nanti kita belajar juga ini.
Waduh, aku sih belajar kok. Suhu ini
suhu. Nah, kalau endos kayak gitu apa
ada, Mas? Endor yang masuk. Aduh, kalau
ini masih pertanyaan sampai sekarang,
Mas. Di market anak-anak itu endorse
wah. Enggak tahu ya apakah saya yang
kurang belajar atau saya kurang fokus di
situ. Jadi endorse tuh wah jarang banget
Mas. Jarang ya Mas ya. Jarang banget.
Adapun ya mungkin lebih di TikTok sih,
Mas. Tapi pun juga jarang. He he gitu.
Nah saya masih bertanya-tanya tuh entah
nanti kita belajar ke pecah telur juga
bisa. Kalau pecah telur karena marketnya
bukan anak-anak kan. Nah apakah itu?
Tapi ada juga kayak ee produk-produk
anak-anak itu sebenarnya banyak toh,
Mas? Heeh. He. Nah, itu saya juga
penasaran. Hm. Nah, ini celahnya gimana
gitu. Masih proses belajar juga. Berarti
selain Adsen apa lagi pendapatannya?
Selain AdSen kita coba di ini, Mas.
Penjualan merchandis. Hm. Kayak kaos,
gelang, stiker. Terus layang-layang juga
pernah jualan. Ada juga pernah jualan
baju koko anak gitu. Tapi ternyata itu
ada tantangan tersendiri, Mas. Apa itu?
Ee kan kita audiensnya marketnya
anak-anak, tapi kalau kita jualan itu
daya belinya di orang tua, Mas. Oh, iya.
Yang menentukan beli enggaknya kan? Iya.
Jadi ada challenge kedua ini. Nah, ini
lagi proses memecahkan yang itu. Gimana
toh caranya orang tuanya itu
gampang gitu loh. Heeh. Ma, minta ini.
Oh, Mas Zulfa nih. Itu loh. Nah, itu loh
yang dicari tuh. Iya, iya iya. Harus
penat terasi ke market orang-orang tua
berarti ya. Betul. Nah. Nah. Kalau di
platform lain, Mas enggak? Di TikTok ada
sih, Mas. Di TikTok tuh affiliate, tapi
itu masih sendiri. Sekarang lagi booming
lah nih. Affiliate. Affiliate kayak gini
ya. Mas maksudnya sendiri Mas Zulfa
sendiri atau ya bukan tim maksudnya
bukan tim karena masih ya dikerjakan
sendiri gitu bukan masuk ke tim. Heeh.
He he. Itu jadi masih sendiri ya. Itu
alhamdulillah kadang malah dari AdSen
lebih besaran affiliate-nya. Oh gitu ya.
Malah gitu ya. Iya. Berapa bulan ini ya?
Hmm. Affilate-nya random atau spesifik?
Kalau saya, saya kan fokusnya di
YouTube, Mas. He. Kalau mau random tuh
butuh riset yang cukup melelahkan kalau
di affiliate. Karena kan affiliate itu
tergantung traffic produk juga katanya.
Jadi harus riset cari produk yang viral
gitu. Saya enggak enggak terlalu bisa
konsen di situ. Jadi saya sudah dapat
satu produk parfum. He. Dan ya udah
kenal juga sama ee sellernya. Jadi ya
udah fokus itu aja selama masih masih
bisa ada I gitu. sempat coba-coba tapi
yang lain tapi ya enggak karena enggak
fokus jadi enggak enggak naik juga.
Fokus di konten atau live juga
affiliate-nya? Ee baru 2 bulan ini
mungkin ada yang live tapi orang lain.
Oh kalau freelance ya saya full konten
konten. H itu lebih gede daripada AdSen
berarti ya. Ya kadang-kadang lebih
besaran affiliate padahal ya kadang
ngonten seminggu sekali tapi buat
di-upload beberapa hari gitu. Oh berarti
banyak ya. Alhamdulillah aku belajar
lek. Waduh
sama-sama belajar ya.
Mantap. Berarti pendapatan dari
affiliate, dari AdSen apalagi? Iya, dari
kaos. Oh, kaos dar Merchandes tadi ya.
Mercedes tadi Merchandis kencang juga
ya? Ee itu bulan puasa itu kayak ya udah
kita bikin konten ya udah setiap konten
kita masukin promosi gitu aja. Jadi
setiap bikin konten pakai kaos dan nanti
ada call to action-nya lah bahasanya
kayak ya ini kaosnya bisa dibeli di sini
kayak gitu. Nah, itu yang enggak nyangka
juga waktu puasa ini terakhir 2025 itu
Adsen sama kaos tuh mirip-mirip. Oh,
berarti tinggi ya, Mas ya? Iya. Nah, itu
enggak tahu ya. Ya, tiba-tiba jadi ke
depannya mau fokus juga ke situ ini.
Tapi habis lebaran enggak digarap lagi
kaosnya? Ee masih sih, Mas. Tapi karena
habis lebaran kita kemarin sempat off
mungkin 1 seteng bulan ya waktu itu ee
ini kendalanya bukan liburan sih, Mas.
Waktu itu kan saya sakit kena DB. Oh ya.
Karena nah ini kelemahannya kalau
channel yang muncul satu orang ya, Mas.
Iya. Saya sakit ada kena DB pemuliannya
itu lama kan kayak masih pusing, masih
ini linu-linu. Jadi ngonten apalagi
ngonten mikir aja enggak enggak bisa ya.
Enggak bisa jadi ya 1 seteng bulan
hampir enggak upload konten itu enggak
ada konten sama sekali segitu. Engak ada
sama sekali. Tapi ya alhamdulillah kayak
ee konten-konten enaknya di YouTube kan
yang bulan-bulan kemarin naik kan masih
dapat gitu.
Tapi ketika kamu balik lagi ke YouTube,
kalau setelah 1 bulan setengah enggak
upload masih bagus view-nya? View-nya
masih aman sih, Mas. Tapi itu kembali
lagi ke relate tadi loh, Mas. H. Jadi
kemarin nih hasil riset kemarin tuh kita
kan puasa merconan ramai tuh video
panjang mungkin minimal Rp150.000 ada
yang R2 juta, ada yang R1 juta. Itu
banyak waktu puasa konten yang sama.
Nah, kemarin waktu puasa Idul Adha kita
bikin lagi dua konten. Itu kan ada puasa
2 hari tuh. Nah, kita targetnya itu kita
bikin dua konten yang menurutku
kualitasnya malah lebih bagus daripada
video-video konten yang puasa kemarin.
He. Ternyata yang nonton cuma Rp2.000,
Mas. Hm. Lah, kenapa kok dikit? Mungkin
audiensnya sudah enggak relate. Hm.
Kayak udah enggak banyak anak-anak yang
main mercon setiap hari. Jadi, kayak ya
enggak tahu sebenarnya apa yang terjadi
di algoritma. Maksudnya subscriber R
juta, Mas. Iya. Kemarin traffic bagus
pas puasa. Apa karena saya off 2 bulan
itu apa karena apa itu wah mas view-nya.
Tapi kalau kita upload layang-layang
kemarin, wah langsung naik.
Karena mungkin ya masih wah karena aku
kayak sok tahu ya saring-saring aja sama
konten kreator kan. Siap. Karena market
yang dolanan yang mainan mercon waktu
Idul Adha enggak sebanyak yang Idul
Fitri kan, Mas? Nah, betul gitu. Jadi
jumlah orang ketertarikan audiensnya
sudah berbeda. Iya. berarti ya kembali
mungkin ke relate tadi mereka karena
enggak main sehari-hari jadi kurang
tertarik mungkin. He. Jadi kita tetap
harus ternyata harus mengikuti musim.
Iya. Relate ya harus sesuai musim.
Betul. Kalau Mas Zulfa sendiri berarti
sudah menganggap atau menjadikan konten
kreator ini sebagai sebuah kegiatan atau
usaha yang akan diteruskan sampai nanti
ya Mas ya berarti ya. Iya. Sekarang
sudah full time content creator dari
desa ya. Sudah sama Mas. Kita juga dari
desa Tulungagung.
Heeh. Sama berarti ya. He kita Pak Dew
anu ya Mas gimana buat perkumpulan? Weh
siap itu. Semangat saya Mas. Perkumpulan
buat perkumpulan anu Mas konten kreator
desa boleh. Menarik enggak? Menarik.
Jadi nanti kalau teman-teman mau silakan
komen mau nanti kita bikin. Siap.
Kayaknya banyak juga Mas yang butuh Mas
yang butuh banyak juga sebenarnya
pelakunya itu sebenarnya banyak Mas.
Tapi karena mencar dan kurang komunikasi
dan belum ada yang meraketkan gitu loh,
Mas. Belum ada yang mengawali atau bikin
apa gitu. Jadi ya sebatas kenal kalau
enggak lihat-lihat gitu-gitu. He. Jadi
ya menarik ya, Mas ya. Mungkin biar
orang-orang desa seperti kita lebih
terperdaya. Betul.
Kenapa kembali ke desa? Karena ya
tujuannya nanti ya untuk desanya juga
sih, Mas. Iya. Nah, sekarang malah
menurutku anu, Mas, eranya era di desa
itu menguntungkan. Oke. Orang tinggal di
desa itu menguntungkan karena apa? Jadi
kan hari ini kalau kita lihat kan
persaingan semakin banyak. Betul. Di
desa sama di kota lebih survive-nya itu
masih tinggi di desa. Iya. Iya kan?
Ibarat kita bikin tim OMR-nya rendah.
Oke. Gaya hidup kita juga rendah
dibanding dengan di kota. Jadi ibarat
tahan-tahanan ketahanan ketahanan orang
desa itu lebih tinggi daripada orang
kota. Oke. Oke. Dan peluangnya sama.
Nah, itu tadi loh, Mas. Peluangnya sama.
tinggal mau apa enggak itu loh, Mas.
Jadi sekarang tuh agak apa ya khawatir
bukan khawatir keresahan itu kayak gini
ee teman-teman seumuran kan banyak yang
merantau nih. He. Tapi kalau ditanya
sebenarnya mereka merantau tujuannya
apa? Kan tujuannya untuk orang rumah kan
sebenarnya sama bertahan hidup. He. Jadi
ada pertanyaan kalau misal pulang di
rumah atau merantau dengan penghasilan
sama mereka pilih di rumah pasti Mas. He
gitu. Jadi kita coba bikin itulah
penginnya sih ke arah situ supaya
apalagi seperti kalau sudah Mas Zulfa
ini mungkin sama yang yang lungo tadi
yang apa merantau tadi sama
penghasilannya Mas Zulfa lebih gedean
Mas Zulfa sekarang. Alhamdulillah. Amin.
Mas
Iya iya iya iya. Jadi ya pengin ngajak
teman-teman yang merantau gitu tapi kan
kalau kita ngajak aja kan enggak bisa.
Kita harus punya sesuatulah minimal
untuk membantu mereka karena butuh
bertahan hidup kan.
Usia berapa sih, Mas? 24 saya, Mas. Oh,
masih baru ya? Masih baru. Masih muda.
Sor sori. Masih muda maksudnya, Mas.
Sudah belum berkeluarga kan? Belum. Oh,
belum. Masih single. Masih single. Siap.
Iya. Nah, Mas kalau ke depan Mas dalam
waktu singkat mungkin apa yang akan Mas
Zulfa lakukan untuk menunjang konten
atau apa? Terobosannya apa lagi ini?
Oke, kalau sekarang lebih fokus ke
timnya dulu sih, Mas. Karena tim kemarin
terbentuk dan itu sudah dekat dengan
Ramadan. He. Jadi kita fokusnya ngejar
Ramadannya, enggak sempat mikir tim ini
bagiannya apa, ini apa. Jadi
kelemahannya sekarang tuh masih di
internal. Jadi kayak semuanya tuh masih
pusat satu orang, Mas. H masain sendiri
semua. Iya. Jadi statusnya tim itu masih
membantu gitu-gitu. Dan saya kan enggak
ada pengalaman bekerja sama orang ya,
Mas. He. Belum pernah bekerja. Terus di
organisasi SMA kuliah kayak gitu belum
pernah jadi ketua ibaratnya pemimpin
kayak itu enggak pernah. He. Nah,
sekarang saya harus berhadapan dengan
situasi yang kayak gini. Mau enggak mau
saya kan leadernya. He. Terus saya juga
harus tahu posisi mereka ikut saya itu
kayak gimana ini. Jadi, masih banyak
banget yang perlu dipelajari dari saya
pribadi dan juga dari tim kita masih
ibaratnya kalau bisa dibilang kalau tim
tuh masih ya urut-urut ke sana,
urut-turut sana belum ada ya jobd yang
jelas pembagian. Kemarin sudah mulai
tertata tapi kita masih belajar-belajar
lagi gitu, Mas. Mantap. Ini tadi timnya
juga ikut di belakang ya. Jadi sambil
kita omongin mereka ya Mas ya. Betul.
Iya. Jadi biar mereka ada referensi gitu
loh Mas diajak itu. Nah maksudnya dulu
waktu mengangkat tim itu atau merekrut
tim itu apa basicnya atau dasar
pengambilan oh ini untuk tim ini untuk
tim ini itu apa? Dulu kebutuhan aja sih
Mas kayak oh aku sekarang pengin ngetim
apa waktu yang paling banyak menyita
kayak gitu. Jadi editor kita cari editor
dulu terus waktu itu properti masa mau
ngen aku harus bikin sendiri gitu-gitu
itu kan bisa di di diwakilkan orang iya
kita bikin properti kayak gitu terus
kalau kameraman kan pasti kalau dulu
masih pakai tripod Mas sering ya jadi
kayak ditinggal gitu kita lari-lari gitu
ya iya betul kita kalau main mercon kan
di diam kalau layang-layang saya yang
jadi kameramennya malahan gitu yang main
siapa berarti orang lain ee kalau di
rumah bocil-bocil tak suruh nerbangin.
Tapi kalau keluar event-event ya tinggal
saya dokumentasi event baru nanti diedit
sendiri. He. Terus diupload. Jadi
fokusnya ke tim sih, Mas. Jadi itu kan
enggak ada dasar untuk merekrut sana
nanti ke depannya gimana kan belum ada.
Nah, sekarang kita coba bareng-bareng.
Heeh. Mantap. Jadi memang kalau tim di
kreatif itu agak anu sih, Mas ya, apa
berbeda-beda tiap-tiap perusahaan apa
tiap-tiap kreator itu berbeda-beda.
Betul, Mas. menyesuaikan dengan
kebutuhan juga. Enggak yang bisa yang
dipasti gini-gini gitu. Kayak sempat
belajar teori, oh bikin tim gini-gini.
Oh, ternyata emang harus penyesuaian.
Enggak bisa. Meskipun sama-sama
contonent kreatornya di sana sudah ada
tim kita belajar pulang ya enggak bisa
langsung diplug and play gitu dicopy
paste. Jadi harus diadjust juga dengan
kebutuhan kita. Kalau ini timu ini
berangkat dari teman-temanmu atau orang
luar? Teman-teman semua kayaknya hampir
semua. Satu yang lewat rekrutmen. Oh
cuma satu. Karena kita enggak dapat
editor, enggak dapat-dapat ya kita open
recruitment. Ternyata cuma beda dusun
apa beda desa. Oh, satu kecamatan. Jadi
dekat semua. Heeh. He he. Paling jauh 5
menit mungkin dari rumah. 5 menit. Iya.
Itu dekat, Mas. Heeh. Berarti anu ya,
Mas ya, berbeda sekali dengan saya ya.
Oh, gitu ya. Kalau saya tidak ada orang
terdekat. Jadi Heeh. Jauh-jauh dan murni
orang lain. Jadi rekrutmen semua. Oh,
karena biasanya kan saya belum punya apa
ya, belum punya keberanian rekrut orang
karena saya enggak tahu kayak orang ini
datang ke sini kerja itu harus saya
apain. Maksudnya menjamunya ininya kan
saya belum profesional, Mas. Kalau saya
ngerekrut orang-orang yang mungkin
memang benar-benar niat kerja dan dia
sudah tahu profesional, mungkin dapat
leader kayak saya juga malas, Mas. Kayak
ya kan enggak tahu mau ngapain gitu loh,
Mas. Enggak jugal lah. Masa malas kayak
Oh, mungkin dia kan tahu profesional.
Oh, leader itu harusnya gini gini gini
lah. Kan saya belum tahu, Mas. Saya kan
masih belajar. Jadi saya rekrut
teman-teman sekitar yang saya ajak ee
ini kalau di sini kita bareng-bareng
kalau cuma cari duit ya ini mungkin
masih standar enggak bisa. Tapi kalau
mau belajar pengin tumbuh bareng makanya
saya cari yang mungkin masih seumuran
lah. Mas ee lebih enak juga ya. Dan masa
depannya masih panjang juga. Betul.
Betul. Karena emangnya penginnya
bareng-bareng gitu loh, Mas. Enggak yang
sendiri gitu. Cuma challenge-nya karena
channel-nya sudah besar ya kita gap-nya
itu loh Mas. Timnya kan baru tunggu nih
tapi channelnya sudah besar kan kayak
kejar-kejaran gitu Mas. I kayak gitu.
Itu bahasa organisanya tergopoh-gopoh.
Nah itu dia.
Oke. Enam orang ya berarti enam orang
sama host Life dua orang berarti
delapan. Apa tadi yang dua orang? Host
left. Oh host live yang affiliate.
Betul. Aku malah penasaran sebenarnya
Mas Zulfa ini itu dulu dari keluarga
seperti apa. Oh, background-nya gitu ya.
Background-nya itu dulu keluarganya
mungkin cukup ya, Mas. Karena Bapak
kerjanya di pasar tradisional jualan
pakaian. Oh, ya. Jualan pakaian ya
sandang pangan gitu loh, Mas. Eh, kok
sandang pangan? Sandangan. Sandangan. I
sandang baju semua. Kain juga ada.
Pulaknya dari Solo. Kalau ibunya
penjahit. Oh, penjahit di rumah. Tapi
penjahitnya bukan dijual di pasar. hasil
jahitannya. Tapi ada yang datang itu
loh, Mas. Penjahit-penjahit rumahan.
Berarti antara Bapak dan Ibu tadi bukan
di bidang yang sama. Maksudnya bidang
yang sama yang jahit ibu, yang jual
Bapak bukan ya? Bukan, bukan. Jadi
beda-beda kayak gitu. Jadi Ibu menjahit
pakaian untuk orang lain, Bapak
mengambil pakaian dari Solo. Betul. Dari
Solo kayak gitu. Jadi kalau finansial ya
alhamdulillah cukup kayak gitu. Tapi
karena e mungkin didikan orang tua ya,
Mas. Jadi dulu itu kayak semuanya
dipresin
gitu. Mungkin karena aku lihat basicnya
orang tahu juga hemat-hemat gitu loh,
Mas. Iya. Iya. Iya. Mungkin kalau bisa
saya bilang Bapak itu mungkin terlalu
hemat mungkin karena maksudnya penjual
baju ya Mas. Bajunya ropek loh. Enggak
diganti, Mas. Tetap dipakai kadang gitu.
Cobek dikit terus kadang ada ini disuruh
jahit ibunya. Enggak yang orang yang
mudah beli gitu loh, Mas. Ee jadi
benar-benar ditekan kayak gitu. dulu
awal ee SMP kan kita dikasih motor,
dibeliin motor lah buat sekolah gitu.
Jadi enggak dibilangin mau beli motor
minta apa gitu, enggak. Tiba-tiba udah
datang aja Supra, Mas. Supra ya? Supra
12 25. Nah, tapi kan sebagai anak muda
waktu dulu ya, Mas. Waktu itu kan
minimal kalau dianggap keren itu kan
Jupiter waktu dulu. Iya. Kalau paling
keren kan Satria Fu.
Tapi kita dikasih Supra gitu. Jadi kayak
wah ini Supra buat orang-orang ngarit
kayak gitu kan bahasanya. Minimal bat
lah minimal tapi ya sudah dikasihnya
disuruh pakai gitu. Jadi mementingkan
fungsi. Oke. Itu masih sempat ada
penolakan tuh waktu SMP kayak ah enggak
maulah ngc aja gitu enggak mau pakai.
Tapi akhir-akhir karena sudah kelas 3
ada les ya pakai iya pakai. Tapi setelah
lulus SMP. Nah waktu itu baru ngertinya
di situ. Apa itu? Oh, ternyata kayak
enggak apa-apa loh pakai Supra gitu loh.
Tetap ada teman tetap ya kayak ya hidup
normal aja enggak harus yang ngikutin
yang lain. Motornya dipreteli, di ini
beli segala macam, enggak. Jadi dipres
kayak gitu. Nah, Supranya itu sampai
sekarang masih Mas. Jadi SMP, SMA itu
sudah ketagihan Supra kayak ee gengsinya
itu sudah enggak ada, Mas. Kayak aku
malah lebih gengsi aku pakai Supra, tapi
standar sosialnya kita sama. Enggak jauh
temannya itu. Enggak jauh sama yang
motornya keren-keren gitu loh, Mas.
Berarti kan bukan motornya, tapi
orangnya. Nah, saya malah lebih
semangatnya di situ. Jadi, SMA full
pakai Supra, kuliah pun dikasih motor
enggak mau Supra sampai lulus. Sampai
sekarang saya belum beli motor lagi.
Masih pakai Supra. Tapi beli mobil lah
ya. Amin.
Soalnya pakai ke sini kan pakai mobil.
Iya. Itu mobilnya Bapak. Iya. Jadi masih
kayak gitu. Uang saku bareng juga pun
dipres juga sih, Mas. Oke. Oke.
Sebenarnya dikasih, tapi kan saya enggak
berani minta. Dikasihin kalau kurang
minta, tapi saya enggak berani minta
gitu. Jadi mungkin didikan dari situ
jadi sampai sekarang masih kebawa gitu.
Berapa bersaudara sampean? Dua, Mas. Hm.
Sama adik? Sama adik. Iya. Iya. Gitu.
Berarti memang dari keluarga ya
biasa-biasa aja begitu ya. Iya. Justru
dari situ malah mungkin jadi kayak
sekarang gitu loh, Mas. Enggak yang kuat
begitu ya anunya mentalnya kuat. Iya.
Eng enggak yang kalau pegang uang tuh
enggak langsung keluar gitu loh, Mas.
Ibaratnya karena kan ee waktu itu gaji
UMR gitu terus naik naik naik gitu kan
kayak mungkin ee beberapa temanku kalau
dapat uang banyak kan keluarnya cepat
gitu Mas. Iya. Iya. Gitu. Jadi wah
alhamdulillah masih aman enggak yang
langsung beli-beli apa gitu. Pengelolaan
keuanganmu berarti gimana? Ee sekarang
atau dulu nih Mas? Dulu dan sekarang. Oh
iya. Kalau dulu itu ee uang masuk itu
tak anggap kayak bukan uangku gitu, Mas.
Oh, gitu. Iya. Malah justru gini, Mas.
Kalau belum ada uangnya kita kan ada
rasa pengin. Heeh. Tapi belum begitu
uangnya masuk sudah enggak pengin, Mas.
Gitu ya. Iya. Enggak tahu ya kenapa
senang aja gitu loh. Uang masuknya sudah
senang. Jadi rasa keinginannya sudah
sudah hilang tergantikan dengan uang
masuk itu. Terganti uang yang masuk itu
gitu. Terus uangnya di ditaruh di ATM
atau di rekening gitu aja? I di ATM
karena belum paham apa-apa kan, Mas.
ditaruh di situ gitu. Jadi masih senang
aja gitu gitu. Dan ada di titik kayak
gini, Mas. Kebutuhan kan mungkin
maksimal ngekos di Jember itu ee Rp3
juta lah. Itu paling boros waktu itu.
Tapi uang masuk sudah R10 juta gitu tiap
bulan. Nah, itu kayak sudah ngerasa
jenuh gitu, Mas. Hm. Jenuh? Jenuhnya apa
ya? Kayak ee kita kan kebutuhannya R
juta nih, aman. masuk misal tu ee stabil
tuh. Nah, ketika naik itu baru senang,
Mas. Jadi di tuju masuk itu sudah enggak
ngerasa dapat uang. Oh, itu kayak ini ya
wis kadang malah lupa tanggal ini ya.
Karena kan enggak butuh kayak
seolah-olah enggak butuh gitu. He masih
ada yang kemarin. Iya, masih ada juga.
Jadi enggak enggak ada tanggal gajin,
enggak apa enggak tahu pokok masuk-masuk
jadi flat gitu. Nah, begitu naik baru
senang. He. Baru muncul senangnya. Weh,
naik kayak gini. Tapi pas turun Mas
panik ternyata. Kenapa ya itu? Nah, aku
bertanya-tanya itu. Kenapa ya kok gini
iniominal segini loh. Apa jangan-jangan
yang di tingkat 1 M, 10 M, 1T itu apa?
Kayak gini juga rasanya gitu. Iya. Iya.
Nah, dari situ saya bertanya-tanya, "Oh,
ternyata kalau dari nominal kita cuma
hidup berpatokan nominal tuh mungkin ke
depannya di nominal berapa pun kayaknya
mungkin kayak gini deh. Oke, gitu. Itu
pemahaman saya ya pribadinya. Iya, bagus
itu, Mas. Aku sangat menarik pemahaman
baru itu. Kayak gitu. Iya. Lanjutkan,
Mas. Heeh. Jadi dari situ, wah ternyata
enggak bisa loh cari nominal sampai
berapap pun sampai kerja mati-matian
pun. Kalau patokannya cuma nominal ya
kayak hampa gitu loh, Mas ya. Kayak tadi
stabil hampa, naik senang, kalau turun
panik. Betul. Iya. Jadi ya enggak maulah
aku kayak gini. Jadi aku cari kesenangan
yang lain gitu. Ternyata ketemunya di
kayak, "Oh, ternyata aku orangnya pengin
bermanfaat gitu loh, Mas." Hm. Pengin ya
enggak hanya sekedar uang. Uang tetap
penting ya, Mas. Tetap penting kita
mengejar ya. Tetap pentinglah. Heeh.
Semua orang juga mengakui itu penting.
Tapi kalau dari saya lebih utama ke
manfaat gitu loh, Mas. Jadi kalau misal
nih kan kan tadi flat. Heeh. Kalau naik
senang, kalau turun kan panik. Supaya
turunnya ini enggak panik, minimal waktu
turun kita sudah ngerasa wah sudah
bermanfaat ini, sudah berguna, sudah
ini. Jadi ya tetap senang aja. Sama ini
Mas kita ngasih 1.000 sama kita ngasih
1.000 itu kalau saya pribadi ya
senangnya sama, Mas. Heeh. Nah, itu yang
oh ternyata enggak butuh yang jadi saat
kita down itu kita ngasih 1000 kita
senang ngasih Rp100.000 kita juga senang
gitu. Jadi enggak berpatokan di nominal.
Nah, sekarang kalau keuangannya di situ
pegangannya. Berarti oke berarti
di-hifting ke manfaat ya biar betul ke
ketergantungan kita kepada nominal itu
berkurang gitu ya. Iya gitu. Enggak yang
wah ambisius tapi lupa apa ya enggak.
Manfaat apa sing kemudian bisa kok
deskripsikan di minum dulu, Mas? Oke.
Oke. Siap.
Tak forsir pertanyaan terus ya.
Oke.
Nah, kan manfaat nih, Mas. Jadi saya ee
amazing pemahaman tentang
keuangan tadi yang kemudian kita
berpatokan pada nominal itu juga saya
rasakan. Oh, gitu. Iya. Dan aku cukup
Oh, ya betul juga ya. Dan ee misal kayak
gini, kita berpatokan angka sekian.
Ketika dapat angka sekian, ya memang
rasanya sudah enggak ada karena kita
sudah biasa dapat sekian. Heeh. Tapi
kalau turun w wah kayak panik. Apalagi
kita seorang entrepreneur ya, pengusaha
apalagi seorang konten kreator. Enggak
pasti. Iya. Bahkan sempat dulu aku kayak
di masa-masa yang turunnya itu sangat
terus-menerus, Mas. Oh, turun. Jadi
turun turun turun turun turun. Kita
apakah ini akhir dari channel ini ya
gitu ya. Apakah ini apakah kita harus
berganti ke yang lain ya gitu. Oke.
Padahal mungkin secara apa ya secara
dompet atau secara kita kehidupan juga
masih biasa. Betul. masih bisa hidup
gitu loh. Cuma betul future-nya itu
sudah wah pikiran juga kacau. Iya kacau
itu jadi overthinking berarti. Betul.
Nah tapi kayaknya bagus juga itu di
shifting ke manfaat dan saya juga
melakukan itu. Oh iya. Jadi misal kayak
kita sudah
bikin
video kan effort ya Mas ya. Betul.
Seharian dua hari itu bikin satu video
ternyata view-nya sedikit enggak ngover
kan untuk operasional ini kan. Betul
operasional waktu juga kan waktu juga.
Terus tapi kadang-kadang ada yang komen
gitu kan, "Alhamdulillah ini video yang
saya cari bermanfaat dengan keadaanku
atau aku sudah nyari beberapa video
tentang ini kok enggak ada tapi
ketemunya di sini." Nah, kayak itu kan
sudah kayak wis terbayar gitu, Mas.
Betul. Yo sebenarnya juga nelongso tapi
ketika enek sing ngono kuwi malih rada
ketambahanan minimal ada semangat
lagiah. Semangat lagi gitu. Soalnya kan
sebenarnya sudah aman ya tadi sudahudah
aman karena sebenarnya enggak yang kita
khawatirkan future kan. Betul ya. Kalau
untuk hari-hari mungkin berapa bulan ke
depan kan sudah aman. Masih aman ya
kayak gitu. Terus jadi kalau berhubungan
dengan manfaat tadi pertanyaan manfaat
manfaat yang nyata atau yang sekarang
mau diambil gitu ya Mas. Nih kalau ee
secara pribadi ini ada dua kan Mas
pribadi sama akun nih. Kan kita kalau
follower sudah segitu kan kayak minimal
oh ternyata omongannya itu didengar
kayak gitu-gitu loh Mas. Betul. Betul.
Jadi kita kalau pribadi itu lebih itu
tadi kenapa kok ke desa gitu? Karena
kalau ke kota mungkin nilai manfaatku
enggak mungkin sebesar kalau aku pulang
ke desa gitu. Jadi mau ngapain di kota
gitu? Mungkin networking semua, akses
dan lain mungkin lebih cepat dan lebih
cepat besar ya. Tapi nilai manfaatnya
itu kalau mungkin aku ngerasa bakal
lebih manfaat ketika di desa. Hm. Gitu.
Sekarang mungkin belum ya, Mas. Karena
kita masih fokus ke sendiri dulu.
next-nya mau penginnya itu ya minimal
lingkungan lah. Lingkungan nanti mungkin
bisa melebar-melebar kayak gitu. Itu
kalau yang pribadi. Heeh. He gitu. Terus
yang untuk channel mungkin lebih ke ini
sih sekarang Mas ee ada keresahan juga
kayak weh konten-konten anak-anak
sekarang tuh wah pada ngawur-ngaur gitu.
Aku lihat wah semuanya cari uang di
sini. H gila enggak mementingkan
dampaknya gitu loh Mas. Oke. Banyak
sekarang konten AI Heeh. yang kemarin
ramai tungtung saur tapi ceritanya
tentang wah ngeri-ngeri Mas pembunuhan
inilah perampokan terus ini ini. Wah
kayak wah enggak bagus nih kayak
dampaknya Mas kalau dampaknya bahaya
gitu ya. Iya kalau nominal gitu apalagi
anak-anak tuh Mas. Anak-anak kan masih
panjang. Iya pikirannya juga kan masih
iya masih labil masih gampang di
pengaruhi juga dimasuki juga dan weh
kalau tontonnya kayak gini nanti gimana
gitu. Dan sekarang kan sudah beberapa
kejadian juga kan. Anak-anak sekarang
kan lebih tanda kutip, lebih toksik. He
bicaraannya lebih ini ada beberapa yang
baik juga ketemu juga ada unggah-ungguh
baik tapi banyak gitu loh, Mas. H. Jadi
sekarang penginnya lebih ke konten
anak-anak tetap karena emang marketnya
di anak-anak tapi kita coba pengin yang
lebih positif gitu. Heeh. Heeh. Meskipun
ya kelihatan cuma bermain gitu, tapi
kita ada sisi-sisi positif yang kita
coba gaungkan di sini. Entah sesimpel
makasih, minta tolong, terus sopan
santun kayak gitu. penginnya ke arah
situ sekarang dan kita coba mengangkat
permainan tradisional. Jadi itu jadi
combo yang mungkin kita coba agar
berdepan ya. Tapi ya tantangannya Heeh.
banyak juga. Apakah diterima ya kita
coba juga. Iya. Itu sebuah challenge
yang besar, Mas. Karena betul ee apa ya?
Karena yang biasanya yang asik-asyik
yang kayak gitu kan mudah diterima. Tapi
misimu itu gede gitu ya. pengin
mengembalikan mainan tradisional dan
mengedukasi anak-anak, menanamkan
karakter yang baik. Betul. Luar biasa.
Betul. Gitu, Mas. Karena ya kita yang
tim itu, Mas yang sama-sama disepakati
itu kita ke depannya mau jadi Bapak loh.
He betul. Betul. Masa sekarang anak-anak
dibuat kayak gini, nanti anak-anak kita
gimana gitu. Itu minimal kita coba
menanamkan kebaikan lah, Mas. Tapi view
apa grafik kan tetap dikejar. Tapi
dengan kita coba shifting ke agak yang
lebih positif kita tipis-tipis gitu sih,
Mas. Heeh. He gitu. Mantap, Mas. Keren.
Ternyata Mas Zulfat berpikirnya sangat
panjang gitu ya.
Keren. Keren. Kalau anu Mas ya minum
dulu.
Kemarin kayak sempat juga berkolaborasi
dengan Mas Deni Caknan ya. Wah itu 2023.
Oh 2023 ya. 2023 apa 2024 ya? Aduh,
enggak lupa aku, Mas. Puasa pokok waktu
itu. Oh, ya. Waktu itu dikontak sama
teman juga. Teman yang dekat sama Mas
Deni. Oh, teman. Jadi, ayo main video
klip butuh tel ini. Karena kebetulan
tema musiknya itu Ramadan. Oh. Dan ada
scene ngabuburit kayak gitu loh. He.
Jadi mungkin ee yang temanku enggak tahu
gimana, aku enggak tahu proses
kreatifnya. Mungkin aku cocok gitu loh.
Mungkin. Nah, waktu itu diajak itu
sebenarnya kabol kayak Deni Caknan fat
youtuber Ngawi gitu, Mas. Dan kita dari
Ngawi. Mas Deni itu coba mewadai itu.
Heeh. Mas Deni Ngawi juga kan? Ngawi
juga. Cuma Mas Deni kota saya di desa.
Desa I. Kayak di Ngawi itu juga apa?
Adakah perkumpulan YouTuber begitu? Ada
sih, Mas. Ada grupnya juga ada yang main
anak-anak juga ada sih, Mas. Konten
anak-anak juga banyak yang dapat gold
silver juga udah banyak sebenarnya. Tapi
mainnya short. Kalau saya kan video
panjang juga. He. Kalau video panjang
dikonten anak-anak di Ngawi dua. Hm.
Saya sama Mas Yoga Gembul itu termasuk
guru saya lah. Oh. Tinggi juga
subscribernya. Subscribernya 2 jutaan.
H. Itu dua channel 2 juta semua
kayaknya. Hm. Siap gitu. Mantap. Kalau
Iya minum dulu, Mas. Kalau short juga
anu ramai juga, Mas secara income? Ee
secara income juga bagus sih, Mas.
I kalau short tu menurut kalau yang saya
lakukan ya, Mas, saya kan fokusnya
rata-rata ke kayak kualitas gitu loh,
Mas. Bukan yang upload banyak gitu loh.
Upload mungkin sehari satu atau enggak
seminggu berapa gitu. Tapi yang menurut
saya itu wah ini harus ramai nih. Hm.
Gitu. Jadi waktu short tuh meledak saya
di 2023 sih, Mas. Hm. Nah, itu gara-gara
itu juga R juta itu mungkin kemaikan
dari short. Dari short ya? Iya. Ada satu
video short saya itu yang subscribe-nya
sampai 2 juta, Mas. Satu video aja. Satu
video. Oh. Oh, video itu ditonton berapa
juta? Berapa ya? Mungkin eh berapa? Lupa
aku. 80 apa berapa? R juta. Sekitar
segitulah. Main layang-layang mercon
waktu itu. Iya. Layang-layang juga ada
tapi enggak sampai yang R jutaan.
Mungkin R juta itu ada mungkin. Memang
naiknya subber itu dari short, Mas. Hm.
Jadi, I adanya short tuh mungkin kayak
wah subber besar, subnya besar gitu.
Tapi emang itu jalurnya lewat short. Hm.
Gitu. Tapi saya kan main satu channel
main dua jalur short main panjangnya
juga main gitu kan ada juga yang
berpikiran atau paradigma yang
mengatakan kalau short akan menggantikan
apa bukan menggantikan ya kalau yang
video panjang aktif kemudian kalau short
juga aktif akan kayak disaingi gitu loh
apa heeh kayak ya pasti kalah salah satu
gitu ya kalah kalah salah satu benar
enggak seperti itu itu aku dulu sempat
kepikiran juga kayak gitu jadi dulu
saatku enggak jarang upload ya berapa
paling masih lima atau 10 tak biarin aku
fokus video panjang ternyata dari lima
itu meledak Mas. Hm. View-nya naik terus
kencang. Ya udahlah kita upload short
gitu. Nah, puncaknya di 2023 itu aku
upload dua-duanya. Bahkan video panjang
itu seminggu sekali, Mas. He. Tapi tiap
hari itu upload short. Hm. Tapi
video-video panjangnya itu ramai juga,
Mas. Sampai jutaan 500, Rp300.000 gitu.
Mungkin karena musim juga waktu itu,
musim layangan meledak di tahun 2023
itu. H. He. Jadi dapatnya banyak dari
situ dan itu jalan dua-duanya. Shortnya
jalan, panjangnya jalan. Dan
kelebihannya Mas, short itu bisa
marketing video panjang gitu loh. Ya,
kayak nanti pengin kalau yang pengin
panjang lihat yang panjang gitu ya.
Betul. Jadi kita bikin cuplikan tapi
bukan yang marketing banget. Kita tetap
kayak ini harus seru, ini harus ramai
tapi kayak ada call to action aja lah
kayak ee ini full-nya nanti di sini ya.
Bukan yang di setengah-setengah nanti
di-cut full-nya di sini. Enggak. Itu
penonton mungkin kecewa ya kalau itu
yang saya rasakan. Hm. malah enggak
maksimal gitu. Tetap satu video saja
harus menghibur, harus ini, harus
puaslah penonton. Setelah puas nanti
dikasih aja kalau full-nya di sini gitu.
Entah mereka nonton apa enggak ya. Kita
kan sudah dapat dari short nih. Iya,
betul. View-nya, pendapatannya juga
sudah dapat. Jadi itu bisa combo.
Apalagi sekarang ada affiliate juga di
YouTube, Mas. Iya, di Shopee kan. Nah,
betul. Itu kan short-nya juga bisa
affiliate juga. Nah, affiliate-nya itu
kaosnya produknya sendiri ya. Jadi, kita
coba muter-muter di situ aja. Heeh.
Kerenkeren. Oke, Mas. Ini sudah hampir
sejam juga. I closing statement dari Mas
Zulfa. Waduh, apa nih? Closing
statement.
Terakhir, terakhir mungkin untuk
pesan-pesan teman-teman yang masih muda
ya, Mas, gitu. Jadi ee coba yang masih
belum menemukan dirinya itu ada di mana
coba dicari dulu. H selesaikan dulu
dengan diri sendiri.
saya sudah menemukan, oh diri saya
cocoknya di sini dan ternyata jalannya
meskipun banyak tantangan itu kita masih
kuat gitu, Mas. Tapi ada kayak sedikit
eh kenapa enggak dari dulu gitu carinya?
Kenapa enggak dari dulu nemunya? Misal
dari SMP, dari ini, itu kan kita bakal
lebih gede lagi tuh. Heeh. Nah, tapi ini
bukan yang telat ya, karena mungkin yang
seumuran itu masih masih panjang
perjalanannya ya, Mas. He. Nah, itu
mungkin bisa dicari jati dirinya
sebenarnya di mana, sukanya di mana,
gitu. Kalau sukanya bekerja, ya bekerja
sungguh-sungguh gitu. Dan jangan lupa
belajar setiap hari. Baik gitu. Terima
kasih. Perlu tentang uang tapi tetap
belajar nanti uang mengikuti. Oke,
mantap sekali Mas Zulfa. Terima kasih
sudah hadir. Sampai jug ee terima kasih
juga teman-teman sampai jumpa di next
episode bersama narasumber yang lain.
Iya, terima kasih Mas. Ngih. Makasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.
Terima kasih,
Ah
[Musik]