Mantan Kepala Bank BUMN Wujudkan Desa Mandiri Pangan Lewat Pekarangan Rumah
-ATfmdPxDk0 • 2025-06-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Sebenarnya pertanian itu konsepnya sederhana. Iya. Jadi tidak ada yang sulit, semua bisa menanam. Jadi ilmu pertanian itu sebenarnya sederhana. Enggak ada yang sulit di situ. Saya belajar dari YouTube, baca literatur dan ternyata semuanya itu mudah. Dari tanaman yang hampir sakaratul maut tadi di periode pertama saya nanam itu, saya laba sudah R juta lebih di situ. Itu tempat itu pertama kali saya nanam. Ketahanan pangan tuh indikatornya dua, tersedia dan mudah diakses. Indikator dua itu aja dulu. Jadi dinamakan bisa ketahanan pangan, setiap orang tuh bisa mempunyai bahannya dan bisa mengaksesnya dengan mudah. Contoh misalkan kita ada nih sawi tapi lokasinya misalkan ada di Jombang kan enggak bisa diakses. Nah, itu kan butuh biaya ekstra untuk mendatangkan. Lah kalau kita punya sendiri di halaman selain tersedia ngaksesnya kan mudah, enggak usah beli lebih hemat. Iya. Terberdayakan. Jadi memang untuk kita menunjukkan bahwa kita itu mampu untuk berdiri untuk suasembada pangan dimulai dari pekarangan kita sendiri. Gak muluk-muluk kita harus punya greenhouse hidroponik. Gak dari pekar sendiri aja kita sudah mampu untuk itu. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Brisma Pratama Sukma dari Kalida Tulungagung. Profesi saya adalah petani. Kalau saat ini lebih cocoknya pada entrepreneur pengusaha. Jadi salah satu lini usaha kita adalah pertanian. Dari kita punya tiga lini usaha utama sebenarnya di sini. Yang pertama ada tours and travel. Lokasinya ada di Surabaya, tapi yang kedua adalah pengolahan makanan, frozen food maupun pengolahan hasil pertanian. Yang ketiga adalah pertanian sendiri. Paling senang ada di pertaniannya. Satu, lihat tanaman yang hijau itu ayam. di pertanian itu konsepnya kita itu benar-benar berusaha tawakal di situ. Namanya tawakal kita sudah menanam, memberikan pupuk, memberikan perawatan, tapi kan hasilnya kita gak tahu. Hasilnya benar-benar kita berserah pada Allah semuanya. Nah, di situlah kepasrahan itulah benar-benar membuat hati itu malah menjadi enjoy banget. Kalau secara konsep yang travel itu terpisah, jadi manajemennya terpisah. Tapi kalau yang antara pertanian dan pengolahan itu satu kesatuan sebenarnya. Jadi satu manajemen untuk yang travel itu kita punya manajemen sendiri di mana memang di-handling oleh teman-teman yang di Surabaya. Mungkin sesekali kita tengoklah ke sana enggak setiap hari. Tapi kalau untuk yang pertanian dan pengolahan ini memang ada satu integrasi di situ antara kita nanam, kita pasarkan, mau pengolahan dalam satu lini usaha meskipun menggunakan bendera yang berbeda. Yang pertanian kita ada Lala Farm namanya, yang kemudian yang pengolahan itu Lala Kitchen. Sedangkan yang travel namanya Panda Tours and Travel. Sebenarnya kita menggunakan saat ini kita konsep pertanian berkesinambungan. Jadi antara hulu dan healer kita pegang semua ya. sebut kemaru ya. Hulu dan hilir kita pegang semua. Jadi antara mulai dari pembenihan, kemudian penanaman, kemudian panen sampai dengan pemasaran dan pengolahan dalam satu lini semua. Termasuk hasil limbahnya pun dalam kendali kita. Jadi misalkan ada limbah jamur bisa kita gunakan untuk produksi pupuk kandang atau kompos. Kemudian limbah dari peternakan kita domba kita gunakan sebagai pembuatan pupuk kandang. Jadi tidak ada yang tersisa ibaratnya. mungkin tersisa hanya plastiknya saja. Kalau untuk detailnya yang saya bawa untuk diaplikasikan di seluruh daerah sini adalah metode plasma inti usaha. Jadi namanya plasma inti itu ada inti dan ada plasma. Intinya yaitu kami sendiri di sini yaitu sebagai induk dari operasinya. Jadi inti di sini bertugas untuk menyediakan pembenihan sampai dengan ke pemasarannya. Sedangkan plasmanya siapa? adalah warga-warga yang ada di sekitar sini, baik dari RT sini maupun RT yang lain. Di situ dari warga situ dari plasma itu tugas inti adalah memberikan edukasi. Jadi ngasih memberikan benih, edukasi perawatan sampai menerima hasil panennya. Namanya konsepnya plasma inti usaha seperti itu. Sebenarnya kita adopsi itu dari pertanian sawit sebetulnya atau pertanian yang maju pada perusahaan misalkan kacang dua kelinci atau tembakau. Tapi kita sederhanakan di sini. Jadi di sini kita dengan asasnya tetap keluarga masih ada seperti itu. Sekalian dengan ini kita juga mengenalkan bahwa ada dakwahnya juga bahwa Islam itu adalah solusi. Jadi kejadiannya itu kita mulai dari tahun 2024 kemarin. Di tahun 2024 kemarin itu kan terjadi deflasi ya. Jadi seluruh produk pertanian itu harganya jatuh. Di waktu-waktu itu tuh petani sedang mengalami ibaratnya e kesulitan yang luar biasa. Jadi harga cabe bahkan harga cabe di waktu itu masih tinggal Rp2.000. Saya masih ingat Rp2.000. Harga sayur-mayur itu hanya sekitar Rp.000. Ada yang tomat tuh Rp500, bawang merah di bawah Rp10.000. Dan hampir semua itu mengalami istilahnya ibarat orang Jawa itu menangislah, nangis dengan kondisi seperti itu. Nah, di situlah saya tuh ngobrol dengan beberapa ustaz yang ada di Masjid Alfath waktu itu. Bagaimana seperti ini? Itu ya. Akhirnya kita muncullah ide di mana kita bisa membantu para petani-petani yang ada di sini untuk lebih berdaya. Salah satunya adalah dengan cara kita memberikan bantuan benih. Yang pertama, yang kedua kita mengajari cara merawat tanaman, edukasi dengan pelatihan-pelatihan. Yang ketiga, kita bantu pemasarannya agar tidak tergantung pada tengkulak. Saat itu kan memang tengkulak benar-benar mengambil kendali atas para petani kan di waktu 2024 kemarin itu. Jadi mereka bisa menentukan harga sesuka hatinya. Misalkan beli cabe di saya Rp2.000 misalkan di sana kan sudah Rp10.000 dijual lagi kan. Nah bayangkan kenapa enggak kita potong rantai di situ sehingga produk-produk petani yang ada itu bisa kita handle, kita jual dengan harga yang layak agar kemakmurannya itu dapat. Itu konsepnya seperti itu ya. kita turun di situ dari rasa bahwa sesama muslim itu harus membantu. Makanya kita bilang Islam itu harus ada solusi di situ. Yaitu bentuk aksi nyatanya di situ. Kalau Lala Faram itu berdiri tahun 2022. Malah yang lebih dulu adalah Lala Kitchen-nya. Lala Kitchen itu paling berdiri sudah tahun 2020 dari COVID. Kalau panda tours-nya dari 2018. Sebenarnya kita punya basic yaitu hobi. Sebenarnya hobi menanam itu adalah basic. Kemudian banyak lahan-lahan punya kami sendiri yang masih belum terkelola dengan baik, masih tidaknya lahan kosong ya, akhirnya kita manfaatkan. Ternyata kok hasilnya cukup lumayan dengan tanaman-tanaman yang menurut saya tidak muluk-muluk. bukan tanaman-tanaman yang rumit seperti bawang merah yang memang harus perawatan ekstra atau melon yang memang harus biaya mahal, tapi tanaman-tanaman yang hortikultura yang mudah seperti contoh gambas, pare, kemudian mentimun, tomat lah. Ternyata dari situ ee malah bisa nyupot Lala Kitchen-nya. Contoh Lala Kitchen perlu tomat untuk pembuatan bahan baku sambal bisa beli di kita sendiri. Iya kan? Kemudian pare pengin buat keripik pare, kita sudah punya bahannya sendiri. hulu healernya kita pegang semua gitu loh. Sebenarnya waktu itu ketika ada ide seperti itu kita itu juga memberikan stimulus juga dalam bentuk media tanam. Jadi kita enggak hanya tanda kutip nyuruh-nyuruh aja. Jadi harus ada kita kasih juga media tanam. Kita hadirkan media tanam. Nah di situlah kita mulai ngajarin oh media tanam itu membuatnya seperti ini yang benar. komposisinya antara pupuk kandang tanah campurannya seperti ini. Dan di waktu itu yang kita ajak adalah yang mau dulu. Jadi tidak memaksa. Yang mau dulu kita ajak. Ternyata ketika dikasih benih banyak yang mau. Dan saya tekankan di situ bahwa ini sedang pemerintah sedang lagi gencar-gencarnya suasembada pangan. Mari kita buktikan bahwa suasana badahapangan itu bisa kita mulai dari pekarangan kita sendiri. Jadi edukasi seperti itu dengan tanaman yang enggak muluk-muluk juga sederhana aja yaitu sawi, bayam, kangkung yang sederhana aja yang cepat panen. Nah, ketika sudah panen yang mau-mau kita ajak dulu kan udah panen ternyata ketika dipanen hasilnya selain bisa dimakan sendiri juga bisa dijual kan. Nah, ketika jual kan mereka bingung loh ini mau jual ke mana nih? Nah, kita terimalah di situ. Kita berikan harga yang layak yang mungkin istilahnya bersainglah dan kita bisa masarkan keluar dengan jaringan yang lebih luas. Nah, di situlah akhirnya berbondong-bondonglah mereka untuk ikut. Dari yang semula hanya 1 RT sekarang meluas ke 10 RT disuruh tanpa disuruh. Malah mereka menawarkan diri, "Saya mau ikut. Harus tahu hasilnya dulu. Harus tahu hasilnya dulu." Betul. Jadi learning by doing itu seperti itu. Jadi kita sudah mencontohkan dengan hasil ada buktinya baru mereka berbondong-bondong ikut. meskipun yang di gang sini mayoritas memang istilahnya contohnya dari gang sini semua orangnya kompak diajak mau rukun ketika gang sini sudah jadi warga sekitar sini sudah jadi ternyata daerah-daerah lain kok meri istilah jawone ni meri engin ya udah kita akomodir juga jadi kita sudah punya lima mitra toko sayur selain itu juga kita jualkan secara online langsung kepada konsumen akhir. Dari lima mitra yang kita punya itu sebenarnya stok se punya itu malah kurang. Jadi per hari misalkan sawi kita butuh 50 kilo. Dari warga yang ada masih belum mampu untuk menuhi itu. Paling terkumul cuma 20 30 kilo. Jadi pasti habis setiap harinya. Pasti habis setiap harinya. Malah cenderung malah kurang. Kalau untuk paling sederhana sawi kita bisa mampu 60 sampai 70 kilo bisa kita tampung. Sawi aja ya. Yang lain yang lain bebas mau jual apa aja. Tomat pun 1 kuintal pun kita bisa jual. Ya, kalau untuk tomat 1 kintal mungkin enggak hanya dari rumah aja, tapi juga dari ladang, dari lahan yang ada di sini. Lahan-lahan kosong sudah ditanami. Iya. Terberdayakan. Jadi memang untuk kita menunjukkan bahwa kita itu mampu untuk berdiri untuk suasembada pangan dimulai dari pekarangan kita sendiri. Gak muluk-muluk kita harus punya greenhouse, harus punya ibaratnya hidroponik. Gak dari pengarang sendiri aja kita sudah mampu untuk itu. Jadi indikatornya tersedianya yang pertama kita bahas dulu ketahanan pangan. Ketahanan pangan tuh indikatornya dua, tersedia dan mudah diakses. Indikatornya dua itu aja dulu. Jadi dinamakan bisa ketahanan pangan. Setiap orang itu bisa mempunyai bahannya dan bisa mengaksesnya dengan mudah. Contoh misalkan kita ada nih sawi tapi lokasinya misalkan ada di Jombang kan enggak bisa diakses. Nah, itu kan butuh biaya ekstra untuk mendatangkan. Nah, kalau kita punya sendiri di halaman, selain tersedia aksesnya kan mudah, enggak usah beli, lebih hemat. Seperti itu konsepnya ketahanan pangan. Ada dua indikator aja, tersedia dan bisa diakses dengan mudah. Kalau saat ini untuk warga itu sayur, hortikultura dari mole sayur dan jamur tiram. Jamur tiram kategorinya juga hortikultura sebenarnya. Kalau untuk protein ada juga kita ada peternakan domba domba pedaging. Cuma jumlahnya masih baru berdiri setahun yang lalu masih belum terlalu banyak. kita habis ini akan merambah ke arah buah dulu. Jadi kita kenalkan pada namanya labu dan kita usahakan ke arah alpokat. Jadi buahnya kita bawa dulu. Kalau untuk protein seperti protein hewani sebenarnya hampir setiap rumah di sini sudah mempunyai peliharaan masing-masing. Jadi ya selain ayam juga pasti ada minimal kambing atau sapi. Cuma di sini nak kita turun edukasinya bagaimana cara menjadikan ini baik kambing maupun sapi lebih mempunyai nilai lebih. Contoh, kita kasih pelatihan pembuatan pakan yang bagus. Kemarin kita datangkan Dinas Peternakan untuk ngasih tahu bagaimana cara membuat pakan dengan yang bagus dengan kadar protein yang tinggi sehingga hewan cepat gemuk. Itu ada tanpa pakan pabrikan namanya silase itu kita bisa buatkan. Nah, kemudian bagaimana mengolah limbah dari kambing itu tadi atau ee dijadikan pupuk kandang di mana saat ini tanaman sayur yang kita miliki ini salah satu biaya terbesar adalah dari pupuk kandang sebenarnya di mana kita masih harus beli yang awal-awal kemarin per karungnya Rp35.000. Bayangkan kalau butuh banyak kan juga lumayan. Tapi kalau kita bisa buat sendiri dan sudah mulai ini sudah mulai buat sendiri kita kan enggak perlu beli lagi. Apalagi bahan sudah melimpah di sini. Titik puasnya saya itu ketika warga di sini itu senang, bahagia. Jadi, bagaimana menularkan energi positif yang ada di kamu bisa merata kepada semua warga. Sehingga dari yang semula gak ada apa-apa menjadi berdaya semua dan warga senang. Itu sudah membuat saya cukup senang. Eh, respon warga sangat-sangat antusias sekali. Jadi, sekarang itu hampir setiap rumah sudah ada tanamannya. Enggak hampir setiap rumah, semua rumah sudah ada tanamannya. Bahkan ketika kita hanya bisa ngasih sedikit bantuan untuk beli mereka beli sendiri-sendiri. Jadi sudah mulai arahnya ke ekosistem bisnis sudah sekarang, bukan hanya untuk keperluan pribadi. Jadi sudah mengarah ke situ. Tinggal kita mengarahkan saja satu edukasi aja bagaimana perawatan sampai kita berikan kepastian pasarnya saja. Sekarang kalau untuk paling di setiap rumah ya itu saya punya datanya itu Rp800.000. dalam 1 bulan dengan jumlah sayur yang kecil. Jadi kalau kita kan ngukurnya gini, kita bukan perkebunan di sini, ini hanya memanfaatkan pekarangan yang kosong. Jadi indikatornya bukan uangnya harus banyak. Dengan jumlah segitu aja kita bisa menambah pendapatan. Bukan pendapatan utama tapi lumayan bisa membuat warga-warga sini untuk bisa untuk beli tambahan beli bumbu, tambahan beli lauk tanpa harus repot-repot. Ada beberapa orang yang 500 sampai 500. Ada memang bagi yang aktif-aktif dan sudah ada hampir 90 KK yang aktif di sini dari plasma usahanya. Dan kita sekarang sedang menginisiasi membuat sub ininti yang baru karena sudah meluasnya ini sehingga inti utamanya harus ada subinti yang support. Latar belakangnya adalah kami itu punya cita-cita yaitu membentuk suatu kampung agro yang menjadi agrowisata dan agroedukasi. Cita-cita itu sudah tertanam tuh sudah lama, tapi masih istilahnya piye yo carane? Tahun 2021 kurang lebih itu jenengan belum belum resign berarti ee menjelang resign itu menjelang resign itu jadi sudah mikir kayaknya bagus ya kalau kita punya ee seperti itu. Terus kemudian diperkuat waktu itu saya lagi jalan-jalan ke Magelang di sekitar Borobudur itu ada konsep wisata seperti ini sebenarnya. Jadi cuma keliling, ada sayur, ada kandang jamur juga sama. Cuma perbedaannya di sana sudah ada kulinernya yang cukup yang mewadai itu. Nah, kok ya ramai jadi semacam desa wisata padahal konsepnya sederhana. Nah, itu sedang kita mulai wujudkan di sini. Sebenarnya cita-citanya seperti itu. Jadi background-nya yaitu cita-cita ingin mempunyai kok kelihatannya kok bagus. Cuma momentumnya itu ketika akhir tahun kemarin di mana presiden kita yang baru itu kan lagi gencer-gencernya suasana pangan. Ya udahlah kita manfaatkan momen itu. Mumpung ada program juga pekarangan pangan ya sudah kita manfaatkan untuk launching juga cita-cita kita. Jadi mewujudkan Kampung Agro. Sebenarnya pertanian itu konsepnya sederhana. Iya. Jadi tidak ada yang sulit. Semua bisa menanam. Waktu itu ceritanya ketika saya mulai terjun ke pertanian juga gak tahu gak tahu apa-apa. Belas betul-betul nul seperti orang awam memang enggak gak tahu ilmunya. Nah, waktu itu saya menggandeng seekan, ayo kita bantu olaholahlah lahan. Tapi pada praktiknya ternyata maaf ya ini tengah agak dikadali lah. Lah di situlah muncul keinginan saya harus bisa, saya harus belajar. Jadi diminta saya pengin menanam cabe, dikasih benih cabe yang kurang bagus. Setelah hasilnya ibaratnya sudah agak kembang kempis karena enggak hampir mati ditinggal. Nah, ketika kondisi sakarat lu mau tanaman tadi, ya udah saya harus belajar. Nah, belajar pun juga tidak melul mulus. tanya A, tanya B. Ternyata banyak juga orang-orang itu yang sudah punya ilmu ditanyain enggak mau ngasih ilmunya. Misalkan ditanyain, "Pupuknya cabe apa ya?" gitu ya. Jawabnya gini, "Pupuknya ya biasa aja." Biasa itu piye karepe? Piye? Kan biasa itu piye? Apa maksudnya? Kan misalkan pupuk merek A, merek B, merek Cutkan aja gak mau obatnya. Ini apa? Ini loh obatnya tapi mereknya sudah di dilepas. Aku biasanya cuma pakai ini campurannya enggak mau ngasih tahu. Nah, di situlah saya mulai tertantang. Apa sih susahnya sebenarnya ini? Wong nyatanya banyak yang bisa. Ya udahlah dari situ saya belajar. Nah, ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Jadi ilmu pertanian itu sebenarnya sederhana, enggak ada yang sulit di situ. Saya belajar dari YouTube, baca literatur dan ternyata semuanya itu mudah. Dari tanaman yang hampir sakaratul maut tadi di periode pertama saya nanam itu saya laba sudah R15 juta lebih di situ. Iya dari pertanian satu tempat R juta hampir 16 juta itu pertama kali saya nanam 1/4 hektar cabai padahal waktu itu ditinggal. Tapi ya qadarullah ya, Mas. Qadarullah di mana ketika sudah power of kepepet i kekuatan orang kepepet itu sudah menggerakkan seluruh jiwa dan raga untuk akhirnya lah itulah mulai belajar mulai belajar bagaimana metode tanam, metode popok, metode penyemprotan dan sekarang saya sudah bisa menciptakan istilahnya pola dan metode sendiri dalam setiap perawatan tanaman. Dari situ juga akhirnya, oh berarti banyak juga masyarakat yang sebenarnya enggak teredukasi bagaimana cara nanam yang benar, cara nyemprot yang benar, cara membuat media tanam yang benar. Dengan banyaknya juga orang-orang yang enggak mau ngasih ilmunya, di situlah saya tertantang. Saya harus ngasih ilmunya ini. Cuma-cuma saya gak mau ilmu itu hanya sekedar hanya dipendem sendiri. Gak barokah. Ya udah, makanya setiap tanam saya pasti tulis mulai semai kapan, mulai dipupuk apa, mereknya apa, perlakuannya seperti apa, pupuk dasarnya apa, boleh semua nyontoh gak ada yang saya tutupin di sini. Jadi setiap warga boleh, setiap orang boleh bertanya ya itulah istilahnya titik kebangkitannya di situ. Gu kadang gitu padat kok piye resign itu tahun berapa, Ustaz? setelah Bapak wafat. Heeh. Bapak wafat jadi demi ibu di profesional diperbankan. Jadi saya kepala cabang dulu di salah satu BUMN. Iya. Satu kita setiap hari diuber target kan pasti. Kedua, standby 24 jam. Yang ketiga, ya namanya banyak tuntutan waktu dengan keluarga sangat minim. Jadi setiap hari itu seperti berlomba, berpacu. Di mana waktu itu saya ketemu istri setiap hari itu hanya 2 jam sehari. berangkat pagi, pulang malam, belum kalau weekend acara. Belum kalau weekend ada acara itu kita pasti enggak ketemu lagi kan. Jadi hampir enggak pernah ketemu istri komunikasinya jadinya kan berkurang. Sampai tiba pada suatu saat saya lagi dines, lagi pulang-pulang kantor jam 0.00 waktu itu saya masih ingat betul 7.00 malam. Pulang lagi pulang itu menuju ke rumah dinas waktu itu lewat masjid kok ada bapak-bapak sama ibu tua itu berangkat ke masjid bareng mau isyaan itu menusuk di ulu hati mak tek sampai merinding mosok aku gini terus sampai kapan gini terus gitu berangkat lah terus diperkuat lag dulu saya kan pernah di bagian kredit juga yaitu ketika lagi survei lagi ke lokasi ada juga lihat Bapak Ibu itu sore lagi ngobrol sama istrinya minum teh bareng itu juga waduh kena lagi nih gitu loh. Akhirnya wadah ini kapan ya ngobrol ke istri lah. Kira-kira kalau seperti ini terus gimana? Kira-kira waktu itu usia saya di 30 tahun lah. Sudah saya kepala cabang usia 27. Semua tercapai dalam waktu yang cepat sekali. Dan saya enggak pernah di kota kecil, kepala cabang kota besar, Surabaya, Jakarta. Tibalah ya itu titik baliknya kan pasti ada ya. Di balik gegap gempita itu pasti ada jiwa yang kosong ternyata. Akhirnya ya itulah mulai di usia 30 sedangkan usia pensiun e 56. Berarti kan masih ada sekitar 26 tahun lagi. Kira-kira kita 26 tahun bertahan seperti ini bisa enggak ya gitu loh kalau hidup seperti ini terus dengan rutinitas yang luar biasa yang aduh ibarat kaki kepala di kepala kepala di kaki setiap hari seperti itu mau sampai kapan dan istri pun juga waktu itu juga mendukung sekali di mana masa kita hidup seperti ini terus masa kita gak pernah punya waktu bagaimana kalau kita memulai usaha nyicil punya usaha lah akhirnya berdirilah yang pertama panda to travel itu bentuk istilah nya jaga-jaga kita ketika nanti kalau suatu saat kita saya harus resign sudah kita persiapkan jalan jalan jalan jalan tibalah bapak gak ada bapak wafat di waktu itu ibu tinggal sendirilah di sini kan tinggal sendiri sama adik saja nah ibu itu menghendaki karena anak lanangnya enggak pernah mulih jauh terus sudahlah di sini nemenin ibu toh juga masih ada lahan masih ada istilahnya ya ibarat untuk cari makan di sini masih bisa lahan luas terus kemudian bisa usaha apa ya itulah dikuatkan niat ya sudah ini waktunya ternyata okelah di awal keluar wah itu juga tantangannya luar biasa tantangannya di mana kita memulai hidup yang baru dengan ilmu yang minim tanda kutip malah karena waktu kita habis untuk di dalam mengerjakan yang di sana gak ada waktu untuk upgrade diri gak ada waktu untuk membaca literatur tentang yang lain nol putol ya sebelumnya memang sudah ada travel maupun Lala Kitchen yang dikendalikan oleh istri di waktu itu. itu masih ya namanya juga mulai masih belum terlalu berjalan dengan mulus. Nah, ya itulah tapi dengan banyaknya tantangan itu malah kita semakin kuat sih sebenarnya. Jadi kita mulai itu dulu sama istri itu ya datang ke toko-toko nawarkan produk. Terus kemudian lahan itu ketika awal mulai saya juga masih melakukan sendiri juga mupuk sendiri, gendong tangki sendiri. Itu masih saya alami di awal-awal dulu ya. Memang ketika kita berserah itu Allah pasti kasih jalan lah ya. Ternyata dengan banyakin istilahnya lah ke masjidnya dikuatin ya ternyata Allah tuh masih jalan perlahan-lahan dibukain awal mulanya pasti itu manusiawi pastilah tapi ya pikirku juga ngapain harus malu lama-lama toh juga halal dan ternyata waktu itu diperkuat oleh saya bertemu dengan dua ustaz yaitu Ustaz Mardi dan Ustaz Mufid dari Masjid Alfattah dikasih tahu bahwa oh pertanian itu adalah salah satu ibaratnya lini utama usaha dalam Islam Islam selain dagang. Jadi jangan malu, tetap berserah dan uh banyak dinasihatilah lah. Akhirnya timbul juga kepercayaan diri. Oh ya udah ya. Ternyata Allah ngasih rezekinya lewat situ. Ternyata setelah risen ada kesenjangan secara perekonomian. Setahun pertama iya ketika Babet mulai kelihatan hasilnya di tahun 2023 akhir. Pertanian travel hampir bersamaan dan itu relate ketika kita sudah tidak terlalu mengejar dunianya. Jadi ketika kita waktu awal-awal menggebu-gebu, mengejar, ibaratnya ketika awal mula itu masih ada konsep saya ingin kaya, saya ingin seperti dulu lagi. Masih ada ya egonya masih ada tapi lupa pada yang punya kita tuh siapa ya Allah. Kan kita lupa pada situ. Masih menggebunya, masih egonya masih ada. Malah di situlah jalannya itu agak tersumbat. Sulit sekali pertemuan dengan ustaz-ustaz itulah yang merubah. Jadi ya kepasrahannya dikuatkan. Jadi sudahlah gak usah dipikir itu. Dikuatin ibadahnya, dikuatin tahajudnya, dikuatin sedekahnya, akhirnya ya perlahan-lahan kok ya datang sendiri malah malah datang sendiri. Ketika kita sudah enggak udahlah kita rbisrohli sadri lapangkanlah dadaku. Itulah yang penting dan lancarkanlah urusan. Ketika kita sudah lapang, ternyata semua lancar. Ternyata yang menghambat kita itu ininya belum lapang. Masih ada ego yang tersisa. Dulu saya itu adalah bos. Dulu itu saya adalah manajer. Itu yang membuat malah terhambat. Tapi kita sudah legowo bahwa kita itu cuma manusia biasa. Enggak beda semua dengan semua orang. Enggak juga lebih mulia dari semua orang juga mungkin masih belepotan dosa. Ya itulah ketika Allah malah membukakan jalannya di situ. Saya masih ingat betul Ustaz Mardi waktu itu megang dada saya gini. Lapangkanlah dadamu dulu. Jadi kita lihat background istri dulu ya. Istri itu dibesarkan di lingkungan Tionghoa. Jadi istri itu ada keturunan Tionghoanya. Jadi mentalitasnya adalah mentalitas pekerja keras. mentalitasnya dagang dan mentalitasnya tidak punya gengsi. Jadi, sudah DNA-nya seperti itu. Dia itu enggak akan tanda kutip, gak akan juga terlalu mempermasalahkan. Malah lebih suka jika kita itu punya usaha sendiri daripada ikut orang. Kalau kita ikut orang, kita kan adalah karyawan toh. Kalau usaha sendiri menurut dia meskipun kecil kita direkturnya. Memang di situ istri dari awal tidak ada tidak terlalu banyak ada masalah. Memang basicnya sudah satu pekerja keras. Kedua, tidak punya gengsi juga dibesarkan di lingkungan yang berdagang sehingga adaptasinya tidak terlalu susah dan dia support saya 100% terkait ini. Malah sekarang kok balik lagi agak sulit ketemu juga saya di ladang, dia ngurusin yang di sana jadi ketemu juga sudah malam-malam juga. Tapi nak gak seekstrem yang dulu lah. Kalau untuk pekarangan sifatnya hanya supporting saja, jangan dijadikan sebagai pendapatan utama. Jadi yang saya tahu jika ingin mendapatkan paling tidak per bulan Rp500.000 itu paling tidak warga bisa menanam sawi paling tidak sebulan dua kali dengan jumlah polib sekitar 300-an itu bisa dan sudah banyak yang membuktikan enggak enggak gak perlu istilahnya mana buktinya sudah ada. Heeh. Itu bisa jadi namanya pobag kita menggunakan sistem namanya verticulture verticulture. Jadi pertanian yang vertikal menggunakan rak. Jadi lahan yang sempit pun bisa dimanfaatkan atau menggunakan bekas-bekas limbah dari galon, air mineral itu bisa digunakan. Jadi kalau untuk balik ke situ jangan jadikan yang pekarangan yang sempit itu menjadi pemasukan utama. Tapi ini adalah support untuk membantu mengakses dan mempermudah kita mendapatkan bahan bahan pangan. Bagaimana untuk jika misalkan kondisinya anggap aja paling ekstrem aja negara sedang keos. Apa yang perlu kita tanam yang di rumah? Satu tanaman pangan yang mudah apa? singkong atau ubi. Bagaimana caranya? Yang paling mudah adalah dengan menanam ubi jalar menggunakan karung bekas. Diisi tanah ditanamin itu sudah tumbuh. Ada contoh. Bisa juga menanam labu madu. Labu madu itu cukup mudah ditanam. Nilai gizinya tinggi, karbohidratnya tinggi, seratnya tinggi, nilai ekonominya tinggi, per kilonya Rp40.000. Tuh, kedua. Yang penting jangan itu ya, Mas. Jangan nanam tanaman pangan tuh yang paling mudah ya singkok. Singkong dan ubi. Jangan jagung tanam polibag. Jangan. Jagung itu kalau ditanam di pobek itu nutrisinya kurang pasti. Yang kedua, penyerbukannya tidak bisa maksimal. Nah, itu akhirnya hanya buang-buang waktu saja. Kalau di situ. Bahan baku utamanya tanah, pupuk kandang, abu sekam, kapur, kapur pertanian, dolomit istilahnya. Iya. Dengan perbandingannya antara tanah dan pupuk kandang itu 4 banding 1. Empat karung tanah, satu karung pupuk kandang. Itu versi hematnya. Kalau agak lebih dikuatkan lagi, 1 banding 2 juga bisa. Nah, itu komponen utamanya itu kapur itu digunakan untuk menetralisir keasaman tanah. Jadi, sebelum dilakukan pembuatan media tanam, tanah yang akan diaduk itu kita taburi kapur dulu. Terus diaduk agar pH-nya netral dulu. Kemudian baru dikasih pupuk kandang, dikasih abu sekam. Abu sekam pun itu dikit. Abu sekam itu juga berfungsi untuk satu, menjaga kelembaban tanah. Yang kedua, pH-nya biar stabil. Maaf ya. Itu fungsinya seperti itu. Dimasukkan ke pobag kan bisa langsung ditanamin. Jika dikasih pupuk kimia mungkin harus nunggu. Tapi kalau dengan seperti itu bisa langsung ditanami. Kalau penggunaan biasanya yang tidak bisa langsung ditanam itu pada lahan terbuka. Yang biasa mau nanam cabe, mau nanam tomat atau nanam tanaman yang memang hortikultur yang memang untuk luasan yang luas yang biasa digunakan untuk budidaya dalam skala yang besar itu kan harus dikasih pupuk dasar. Lah ketika diberikan pupuk dasar itulah perlu waktu sekitar 1 mingguan agar bisa ditanamin agar pupuknya terurai dulu. Tapi kalau menggunakan bahan yang organik itu bisa langsung ditanamin. Mau tips lagi yang tanah yang paling bagus yang mana? Ambil tanah di bawah pohon bambu. Tanah di bawah pohon bambu itu pH-nya netral. Terus banyak mikroba-mikroba yang bisa support kesuburan tanah. Sebenarnya kalau saya itu poinnya sederhana, yaitu di mana kita itu bisa mencari teman yang tepat. Awal mulanya seperti itu, ceritanya seperti itu. Saya juga awal mulai juga bingung menemukan seperti itu. Bagaimana itu juga bingung tapi ternyata Allah mempertemukan saya dengan Masjid Alfatah waktu itu. Dipertemukan dengan itu di mana kondisi saya sedang kosong. Kosong kosong iman kosong segala macamlah. dipertemukan pertama dengan Ustaz Mardi dan Ustaz Mufid waktu itu yang ngenalkan saya Pak Trimo waktu itu yang kenalkan di situlah saya itu dibekali dikasih banyak nasihat terkait tentang hidup tazkiatun nufus lah jadi penyucian ya memang saya akui dulu kehidupan saya juga tidak baik-baik saja sudah tahu kerjanya diperbank kehidupan juga kehidupan yang cukup bedalah dengan kehidupan yang seperti ini pastinya lah di situlah ternyata ketika saya bertemu dua ustaz itu tadi banyak nasihat-nasihat yang masuk saya jadi mikir ternyata Ternyata Islam itu enggak sekaku yang saya bayangkan. Ternyata di Islam itu oh salah satu Nabi pernah bilang bahwa menanam itu adalah sedekah. Oh berarti semakin banyak menanam bisa dinikmati sedekah kita semakin banyak dong. Nah itulah satu. Kemudian bagaimana sosial masyarakat awal mula juga pasti ada penolakan. Penolakan itu paham apa ini, paham apa itu. Tapi kita tetap hadir dalam bentuk solusi. Satu ketika sedang sulit. Ibaratnya waktu itu kondisi ekonomi lagi lemah, kita kasih bantuan sembakau ke warga yang gak mampu. Kita bagi-bagi sayur ke lansia. Dengan kita datang sebagai solusi, itulah sebenarnya masyarakat itu akan sangat merekam ke kita. Kuncinya satu, di waktu itu kita enggak usah bicara dalil, kita hanya bicara masalah solusi. Ketika solusi masuk ya pasti otomatis mereka akan ngikut, gitu loh. Menemukannya gitu. Kalau ditanya bagaimana sih kesinambungannya? yaitu perlu apa ya suatu perjalanan spiritual dulu. Jadi agak sulit dijelaskan bagaimana kok bisa menemukan bendang merah karena itu adalah perjalanan spiritual yang gadok-nggadokne satu dengan yang lain ternyata kok dapat gitu loh. Saat ini sudah 90 KK kurang lebih dan kemudian sudah menjelang ke 10 RT. 10 RT ya satu dusun. Di sini kita dibantu juga dengan teman-teman dari Taruna Tani dan juga dibantu juga dari pemerintah desa setempat itu pastikan berperan aktif di situ. Cuma secara konsep yang kita gunakan konsepnya itu konsepnya adalah pekarangan pangan. Pekarangan. pekarangan pangan saat ini paling banyak ditanam adalah sawi daging atau istilahnya pakc yang sering dilupakan itu adalah satu kerukunan yang sering di malah hal yang paling basic tapi sering dilupakan ego. Jadi sebelum kita menuju suasana pangan kita masing-masing warga tuh harus menurunkan ego masing-masing. Harus mau bergerak bersama. Harus mau ee tanda kutip patuh dalam konsep bersama. lah ketika sudah itu jadi rukun guyub semua berjalan enak ya bukan teknis tapi yang penting adalah SDM-nya dulu kita kondisikan adalah SDM-nya dulu teknis itu hal yang paling terakhir menurut saya teknis itu mudah dipelajari barang nyata, metode itu banyak dan bisa diaplikasikan. Tapi kalau warga itu kan barang yang istilahnya beda ya, sosiologi itu handling-nya pasti beda ya. Variabelnya kan banyak ya. Jadi ketika itu sudah bisa kita handle itu akan berjalan baik. Yang sering dilupakan adalah kita sama-sama tidak pernah maurunkan ego. Jadi merasa paling waduh ini paling benar gak gak bisa seperti itu. Meskipun yang di inti pun juga masih dalam proses belajar juga banyak kekurangan, banyak yang jadi diskusi itu masih adalah hal yang wajib tetapan seperti istri adalah di inti juga. Inti juga. Inti juga. He. Kalau jenis sarunya yang pertama adalah satu pare. Pare, kemudian pakcoy, sawi biasa, kembang kol, kobis, tomat. Ada enam tanaman utama. Eh, tujuh plus jamur tiram. Kalau di plasma semuanya sama, tinggal plug and play aja. Iya. Cuma kita di sini adalah lebih fokusnya di plasma itu kita edukasi yang ditanam itu based on market. Jadi, edukasi sing payu opo? Kalau misalkan menanam sesuka hati khawatirnya nak bisa dipasarkan. Contoh kejadian ada warga yang namanya juga nyoba, kita enggak bisa ngelarang kan itu dicoba dengan eh mereka inisiatif nanam namanya sawi pagoda. Boleh-boleh aja, sah-sah saja nanam kok. Tapi kan jualnya susah. Sawi hias kok itu dimakan bisa tapi kan gak lazim. Tapi kalau untuk ee sawi pakco jelas kebutuhan banyak. Selada kebutuhan jelas banyak. Sawi apa namanya? Pare jelas ada. Tapi kalau makanya kita edukasi yang ditanam adalah base on market yang laku ini loh yang harganya stabil ini yang harganya naik turun ini seperti tomat cabe itu kan harganya naik turun jadi jangan tanam terlalu banyak kecuali kalau memang budidaya dalam jumlah waktu yang besar monggo. Tapi kalau ingin yang hasil cepat tanamlah sawi. Harga stabil panen cepat segera menghasilkan uang. itu yang kita edukasi seperti itu. Itu ketika momen awal mula merintis usaha ini. Itu memang momen paling berat. sempat nangis dulu itu. Jadi, di mana saya sedang memulai jamur tiram dimulai dari 200 backlok mulai belajar nanam gambas, mulai nanam ini tapi ketika itu ketika sudah mau panen apa dijual susah banget. Dibawa ke sana enggak mau, dibawa ke sini enggak mau, dibawa ke sana masih belum. Ya itulah momen paling berat di mana dari yang penghasilan segini tiba-tiba kan terjun sret gitu. Nah, itulah moman berat bukan memualafkan istri ya ya itu pasti ada ada beratnya pastilah. Jadi benar istri dulu adalah Nasrani. Tapi di waktu itu memang secara keluarga besar sebenarnya berbeda-beda agama sudah tapi mayoritas adalah Buddha. Jadi papa mama Nasrani, Kakak ipar Nasrani, kemudian tapi saudara-saudara mama itu adalah Buddha. rata-rata setahun sebelum menikah itu masih Nasrani. Dulu dia adalah aktivis gereja. Aktivis gereja. Jadi yang menjadi istilahnya kalau di sini ketua remas lah. Tapi di waktu itu kita tinggal di Surabaya kan waktu itu di Surabaya. Seringkiali setiap weekend saya ajak ke Masjid Agung, saya ajak ke situ. Kebetulan ada momen di mana di situ lagi ada akad nikah. Saya ngobrol terus kita nanti kalau enggak gitu nikahnya terus piye? Gimana? mikir kemudian dia, "Iya di dunia kerja tapi beda kantorlah. Cuma kantor kita berdekatan waktu itu. Apa namanya? Ya udah kita kenalkan lewat situ." Ternyata dia kok ya mikir juga ya mikir. Jadi di tengah kebingungannya dia itu dia sempat tanda kutip tidak beragama sekian bulan. Dia enggak ke gereja karena ragu juga mau ke masuk muslim belum tahu caranya dan gimana. Akhirnya ya udahlah tiba-tiba dia kok minta buku panduan salat yang warna ungu itu loh buku legendaris panduan salat yang mungkin di waktu kecil kita pasti punya toh itu. Tak belikan belajarlah belajar tak biarin aja belajar. Akhirnya waktu itu kita dibantu, akhirnya dia mualaf dibantu oleh Masjid Alfalah Surabaya Darmo. Alfalah Darmo. Termasuk di situ ada namanya mualaf center. Diajari dari akidah, akhlak, ibadah, semua belajar di situ. Nah, sayangnya di Tulungagungku masih belum ada ya seperti itu mualaf center itu. Padahal penting banget loh itu agar teman-teman yang mualaf itu ada yang membimbing. Dulu kalau mungkin ya kalau istri itu enggak ada mualaf center ya juga bisa balik lagi karena enggak ada yang ngopeni. Sedangkan kayak saya pribadi ilmu agama juga masih belum terlalu banyak. Bagaimana dia kan banyak pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab juga pasti. Contoh gini kok ya iseng waktu itu juga tak ajaklah ke Ampel Surabaya lihat orang ziarah kan emang Islam seperti ini ngapain kok berdoa di samping makam terus jawabku piye? Kan bingung juga loh kalau dijawab dari sisi maaf saudara-saudara kita NU kan mudah namanya ini kan mudahan tapi kalau jawabnya kan Nasrani pakai dalil apa kan gak ada nah akhirnya dijawablah di Alfalah itu semuanya ya beratnya mungkin ya ketika apa ya istilahnya ya cara dia meyakinkan ke Islamnya itu loh yang mungkin ada agak effort sederhana satu makanlah yang kita tanam tanamlah yang kita makan itu aja itu moto kita sebenarnya jadi makanlah dari pekarangan kita sendiri jadi kampanye kita saat ini adalah makan dari pekarangan kita sendiri. Jadi apa yang kita makan itu yang kita tanam. Yang kita tanam itu yang kita makan. Dan itu menjadi tagline kami di mana-mana. Sebenarnya kampanye kita paling kuat adalah makanlah yang kita tanam, tanamlah yang kita makan. Saya Prisma Pratama Sukma, founder dari Lala Farm dan Gangswa Sembada dari Dusun Nganggrek, Desa Kalidawir, Kecamatan Kalidawir. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories