Transcript
-ATfmdPxDk0 • Mantan Kepala Bank BUMN Wujudkan Desa Mandiri Pangan Lewat Pekarangan Rumah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0547_-ATfmdPxDk0.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Sebenarnya pertanian itu konsepnya
sederhana. Iya. Jadi tidak ada yang
sulit, semua bisa menanam. Jadi ilmu
pertanian itu sebenarnya sederhana.
Enggak ada yang sulit di situ. Saya
belajar dari YouTube, baca literatur dan
ternyata semuanya itu mudah. Dari
tanaman yang hampir sakaratul maut tadi
di periode pertama saya nanam itu, saya
laba sudah R juta lebih di situ. Itu
tempat itu pertama kali saya nanam.
Ketahanan pangan tuh indikatornya dua,
tersedia dan mudah diakses. Indikator
dua itu aja dulu. Jadi dinamakan bisa
ketahanan pangan, setiap orang tuh bisa
mempunyai bahannya dan bisa mengaksesnya
dengan mudah. Contoh misalkan kita ada
nih sawi tapi lokasinya misalkan ada di
Jombang kan enggak bisa diakses. Nah,
itu kan butuh biaya ekstra untuk
mendatangkan. Lah kalau kita punya
sendiri di halaman selain tersedia
ngaksesnya kan mudah, enggak usah beli
lebih hemat. Iya. Terberdayakan. Jadi
memang untuk kita menunjukkan bahwa kita
itu mampu untuk berdiri untuk suasembada
pangan dimulai dari pekarangan kita
sendiri. Gak muluk-muluk kita harus
punya greenhouse hidroponik. Gak dari
pekar sendiri aja kita sudah mampu untuk
itu.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya
Brisma Pratama Sukma dari Kalida
Tulungagung. Profesi saya adalah petani.
Kalau saat ini lebih cocoknya pada
entrepreneur pengusaha. Jadi salah satu
lini usaha kita adalah pertanian. Dari
kita punya tiga lini usaha utama
sebenarnya di sini. Yang pertama ada
tours and travel. Lokasinya ada di
Surabaya, tapi yang kedua adalah
pengolahan makanan, frozen food maupun
pengolahan hasil pertanian. Yang ketiga
adalah pertanian sendiri. Paling senang
ada di pertaniannya. Satu, lihat tanaman
yang hijau itu ayam. di pertanian itu
konsepnya kita itu benar-benar berusaha
tawakal di situ. Namanya tawakal kita
sudah menanam, memberikan pupuk,
memberikan perawatan, tapi kan hasilnya
kita gak tahu. Hasilnya benar-benar kita
berserah pada Allah semuanya. Nah, di
situlah kepasrahan itulah benar-benar
membuat hati itu malah menjadi enjoy
banget. Kalau secara konsep yang travel
itu terpisah, jadi manajemennya
terpisah. Tapi kalau yang antara
pertanian dan pengolahan itu satu
kesatuan sebenarnya. Jadi satu manajemen
untuk yang travel itu kita punya
manajemen sendiri di mana memang
di-handling oleh teman-teman yang di
Surabaya. Mungkin sesekali kita
tengoklah ke sana enggak setiap hari.
Tapi kalau untuk yang pertanian dan
pengolahan ini memang ada satu integrasi
di situ antara kita nanam, kita
pasarkan, mau pengolahan dalam satu lini
usaha meskipun menggunakan bendera yang
berbeda. Yang pertanian kita ada Lala
Farm namanya, yang kemudian yang
pengolahan itu Lala Kitchen. Sedangkan
yang travel namanya Panda Tours and
Travel. Sebenarnya kita menggunakan saat
ini kita konsep pertanian
berkesinambungan. Jadi antara hulu dan
healer kita pegang semua ya.
sebut kemaru ya. Hulu dan hilir kita
pegang semua. Jadi antara mulai dari
pembenihan, kemudian penanaman, kemudian
panen sampai dengan pemasaran dan
pengolahan dalam satu lini semua.
Termasuk hasil limbahnya pun dalam
kendali kita. Jadi misalkan ada limbah
jamur bisa kita gunakan untuk produksi
pupuk kandang atau kompos. Kemudian
limbah dari peternakan kita domba kita
gunakan sebagai pembuatan pupuk kandang.
Jadi tidak ada yang tersisa ibaratnya.
mungkin tersisa hanya plastiknya saja.
Kalau untuk detailnya yang saya bawa
untuk diaplikasikan di seluruh daerah
sini adalah metode plasma inti usaha.
Jadi namanya plasma inti itu ada inti
dan ada plasma. Intinya yaitu kami
sendiri di sini yaitu sebagai induk dari
operasinya. Jadi inti di sini bertugas
untuk menyediakan pembenihan sampai
dengan ke pemasarannya. Sedangkan
plasmanya siapa? adalah warga-warga yang
ada di sekitar sini, baik dari RT sini
maupun RT yang lain. Di situ dari warga
situ dari plasma itu tugas inti adalah
memberikan edukasi. Jadi ngasih
memberikan benih, edukasi perawatan
sampai menerima hasil panennya. Namanya
konsepnya plasma inti usaha seperti itu.
Sebenarnya kita adopsi itu dari
pertanian sawit sebetulnya atau
pertanian yang maju pada perusahaan
misalkan kacang dua kelinci atau
tembakau. Tapi kita sederhanakan di
sini. Jadi di sini kita dengan asasnya
tetap keluarga masih ada seperti itu.
Sekalian dengan ini kita juga
mengenalkan bahwa ada dakwahnya juga
bahwa Islam itu adalah solusi. Jadi
kejadiannya itu kita mulai dari tahun
2024 kemarin. Di tahun 2024 kemarin itu
kan terjadi deflasi ya. Jadi seluruh
produk pertanian itu harganya jatuh. Di
waktu-waktu itu tuh petani sedang
mengalami ibaratnya e kesulitan yang
luar biasa. Jadi harga cabe bahkan harga
cabe di waktu itu masih tinggal Rp2.000.
Saya masih ingat Rp2.000. Harga
sayur-mayur itu hanya sekitar Rp.000.
Ada yang tomat tuh Rp500, bawang merah
di bawah Rp10.000. Dan hampir semua itu
mengalami istilahnya ibarat orang Jawa
itu menangislah, nangis dengan kondisi
seperti itu. Nah, di situlah saya tuh
ngobrol dengan beberapa ustaz yang ada
di Masjid Alfath waktu itu. Bagaimana
seperti ini? Itu ya. Akhirnya kita
muncullah ide di mana kita bisa membantu
para petani-petani yang ada di sini
untuk lebih berdaya. Salah satunya
adalah dengan cara kita memberikan
bantuan benih. Yang pertama, yang kedua
kita mengajari cara merawat tanaman,
edukasi dengan pelatihan-pelatihan. Yang
ketiga, kita bantu pemasarannya agar
tidak tergantung pada tengkulak. Saat
itu kan memang tengkulak benar-benar
mengambil kendali atas para petani kan
di waktu 2024 kemarin itu. Jadi mereka
bisa menentukan harga sesuka hatinya.
Misalkan beli cabe di saya Rp2.000
misalkan di sana kan sudah Rp10.000
dijual lagi kan. Nah bayangkan kenapa
enggak kita potong rantai di situ
sehingga produk-produk petani yang ada
itu bisa kita handle, kita jual dengan
harga yang layak agar kemakmurannya itu
dapat. Itu konsepnya seperti itu ya.
kita turun di situ dari rasa bahwa
sesama muslim itu harus membantu.
Makanya kita bilang Islam itu harus ada
solusi di situ. Yaitu bentuk aksi
nyatanya di situ. Kalau Lala Faram itu
berdiri tahun 2022. Malah yang lebih
dulu adalah Lala Kitchen-nya. Lala
Kitchen itu paling berdiri sudah tahun
2020 dari COVID. Kalau panda tours-nya
dari 2018. Sebenarnya kita punya basic
yaitu hobi. Sebenarnya hobi menanam itu
adalah basic. Kemudian banyak
lahan-lahan punya kami sendiri yang
masih belum terkelola dengan baik, masih
tidaknya lahan kosong ya, akhirnya kita
manfaatkan. Ternyata kok hasilnya cukup
lumayan dengan tanaman-tanaman yang
menurut saya tidak muluk-muluk. bukan
tanaman-tanaman yang rumit seperti
bawang merah yang memang harus perawatan
ekstra atau melon yang memang harus
biaya mahal, tapi tanaman-tanaman yang
hortikultura yang mudah seperti contoh
gambas, pare, kemudian mentimun, tomat
lah. Ternyata dari situ ee malah bisa
nyupot Lala Kitchen-nya. Contoh Lala
Kitchen perlu tomat untuk pembuatan
bahan baku sambal bisa beli di kita
sendiri. Iya kan? Kemudian pare pengin
buat keripik pare, kita sudah punya
bahannya sendiri. hulu healernya kita
pegang semua gitu loh.
Sebenarnya waktu itu ketika ada ide
seperti itu kita itu juga memberikan
stimulus juga dalam bentuk media tanam.
Jadi kita enggak hanya tanda kutip
nyuruh-nyuruh aja. Jadi harus ada kita
kasih juga media tanam. Kita hadirkan
media tanam. Nah di situlah kita mulai
ngajarin oh media tanam itu membuatnya
seperti ini yang benar. komposisinya
antara pupuk kandang tanah campurannya
seperti ini. Dan di waktu itu yang kita
ajak adalah yang mau dulu. Jadi tidak
memaksa. Yang mau dulu kita ajak.
Ternyata ketika dikasih benih banyak
yang mau. Dan saya tekankan di situ
bahwa ini sedang pemerintah sedang lagi
gencar-gencarnya suasembada pangan. Mari
kita buktikan bahwa suasana badahapangan
itu bisa kita mulai dari pekarangan kita
sendiri. Jadi edukasi seperti itu dengan
tanaman yang enggak muluk-muluk juga
sederhana aja yaitu sawi, bayam,
kangkung yang sederhana aja yang cepat
panen. Nah, ketika sudah panen yang
mau-mau kita ajak dulu kan udah panen
ternyata ketika dipanen hasilnya selain
bisa dimakan sendiri juga bisa dijual
kan. Nah, ketika jual kan mereka bingung
loh ini mau jual ke mana nih? Nah, kita
terimalah di situ. Kita berikan harga
yang layak yang mungkin istilahnya
bersainglah dan kita bisa masarkan
keluar dengan jaringan yang lebih luas.
Nah, di situlah akhirnya
berbondong-bondonglah mereka untuk ikut.
Dari yang semula hanya 1 RT sekarang
meluas ke 10 RT disuruh tanpa disuruh.
Malah mereka menawarkan diri, "Saya mau
ikut. Harus tahu hasilnya dulu. Harus
tahu hasilnya dulu." Betul. Jadi
learning by doing itu seperti itu. Jadi
kita sudah mencontohkan dengan hasil ada
buktinya baru mereka berbondong-bondong
ikut. meskipun yang di gang sini
mayoritas memang istilahnya contohnya
dari gang sini semua orangnya kompak
diajak mau rukun ketika gang sini sudah
jadi warga sekitar sini sudah jadi
ternyata daerah-daerah lain kok meri
istilah jawone ni meri engin ya udah
kita akomodir juga jadi kita sudah punya
lima mitra toko sayur selain itu juga
kita jualkan secara online langsung
kepada konsumen akhir. Dari lima mitra
yang kita punya itu sebenarnya stok se
punya itu malah kurang. Jadi per hari
misalkan sawi kita butuh 50 kilo. Dari
warga yang ada masih belum mampu untuk
menuhi itu. Paling terkumul cuma 20 30
kilo. Jadi pasti habis setiap harinya.
Pasti habis setiap harinya. Malah
cenderung malah kurang. Kalau untuk
paling sederhana sawi kita bisa mampu 60
sampai 70 kilo bisa kita tampung. Sawi
aja ya. Yang lain yang lain bebas mau
jual apa aja. Tomat pun 1 kuintal pun
kita bisa jual. Ya, kalau untuk tomat 1
kintal mungkin enggak hanya dari rumah
aja, tapi juga dari ladang, dari lahan
yang ada di sini. Lahan-lahan kosong
sudah ditanami. Iya. Terberdayakan. Jadi
memang untuk kita menunjukkan bahwa kita
itu mampu untuk berdiri untuk suasembada
pangan dimulai dari pekarangan kita
sendiri. Gak muluk-muluk kita harus
punya greenhouse, harus punya ibaratnya
hidroponik. Gak dari pengarang sendiri
aja kita sudah mampu untuk itu. Jadi
indikatornya tersedianya yang pertama
kita bahas dulu ketahanan pangan.
Ketahanan pangan tuh indikatornya dua,
tersedia dan mudah diakses. Indikatornya
dua itu aja dulu. Jadi dinamakan bisa
ketahanan pangan. Setiap orang itu bisa
mempunyai bahannya dan bisa mengaksesnya
dengan mudah. Contoh misalkan kita ada
nih sawi tapi lokasinya misalkan ada di
Jombang kan enggak bisa diakses. Nah,
itu kan butuh biaya ekstra untuk
mendatangkan. Nah, kalau kita punya
sendiri di halaman, selain tersedia
aksesnya kan mudah, enggak usah beli,
lebih hemat. Seperti itu konsepnya
ketahanan pangan. Ada dua indikator aja,
tersedia dan bisa diakses dengan mudah.
Kalau saat ini untuk warga itu sayur,
hortikultura dari mole sayur dan jamur
tiram. Jamur tiram kategorinya juga
hortikultura sebenarnya. Kalau untuk
protein ada juga kita ada peternakan
domba domba pedaging. Cuma jumlahnya
masih baru berdiri setahun yang lalu
masih belum terlalu banyak. kita habis
ini akan merambah ke arah buah dulu.
Jadi kita kenalkan pada namanya labu dan
kita usahakan ke arah alpokat. Jadi
buahnya kita bawa dulu. Kalau untuk
protein seperti protein hewani
sebenarnya hampir setiap rumah di sini
sudah mempunyai peliharaan
masing-masing. Jadi ya selain ayam juga
pasti ada minimal kambing atau sapi.
Cuma di sini nak kita turun edukasinya
bagaimana cara menjadikan ini baik
kambing maupun sapi lebih mempunyai
nilai lebih. Contoh, kita kasih
pelatihan pembuatan pakan yang bagus.
Kemarin kita datangkan Dinas Peternakan
untuk ngasih tahu bagaimana cara membuat
pakan dengan yang bagus dengan kadar
protein yang tinggi sehingga hewan cepat
gemuk. Itu ada tanpa pakan pabrikan
namanya silase itu kita bisa buatkan.
Nah, kemudian bagaimana mengolah limbah
dari kambing itu tadi atau ee dijadikan
pupuk kandang di mana saat ini tanaman
sayur yang kita miliki ini salah satu
biaya terbesar adalah dari pupuk kandang
sebenarnya di mana kita masih harus beli
yang awal-awal kemarin per karungnya
Rp35.000. Bayangkan kalau butuh banyak
kan juga lumayan. Tapi kalau kita bisa
buat sendiri dan sudah mulai ini sudah
mulai buat sendiri kita kan enggak perlu
beli lagi. Apalagi bahan sudah melimpah
di sini.
Titik puasnya saya itu ketika warga di
sini itu senang, bahagia. Jadi,
bagaimana menularkan energi positif yang
ada di kamu bisa merata kepada semua
warga. Sehingga dari yang semula gak ada
apa-apa menjadi berdaya semua dan warga
senang. Itu sudah membuat saya cukup
senang. Eh, respon warga sangat-sangat
antusias sekali. Jadi, sekarang itu
hampir setiap rumah sudah ada
tanamannya. Enggak hampir setiap rumah,
semua rumah sudah ada tanamannya. Bahkan
ketika kita hanya bisa ngasih sedikit
bantuan untuk beli mereka beli
sendiri-sendiri. Jadi sudah mulai
arahnya ke ekosistem bisnis sudah
sekarang, bukan hanya untuk keperluan
pribadi. Jadi sudah mengarah ke situ.
Tinggal kita mengarahkan saja satu
edukasi aja bagaimana perawatan sampai
kita berikan kepastian pasarnya saja.
Sekarang kalau untuk paling di setiap
rumah ya itu saya punya datanya itu
Rp800.000. dalam 1 bulan dengan jumlah
sayur yang kecil. Jadi kalau kita kan
ngukurnya gini, kita bukan perkebunan di
sini, ini hanya memanfaatkan pekarangan
yang kosong. Jadi indikatornya bukan
uangnya harus banyak. Dengan jumlah
segitu aja kita bisa menambah
pendapatan. Bukan pendapatan utama tapi
lumayan bisa membuat warga-warga sini
untuk bisa untuk beli tambahan beli
bumbu, tambahan beli lauk tanpa harus
repot-repot. Ada beberapa orang yang 500
sampai 500. Ada memang bagi yang
aktif-aktif dan sudah ada hampir 90 KK
yang aktif di sini dari plasma usahanya.
Dan kita sekarang sedang menginisiasi
membuat sub ininti yang baru karena
sudah meluasnya ini sehingga inti
utamanya harus ada subinti yang support.
Latar belakangnya adalah kami itu punya
cita-cita yaitu membentuk suatu kampung
agro yang menjadi agrowisata dan
agroedukasi. Cita-cita itu sudah
tertanam tuh sudah lama, tapi masih
istilahnya piye yo carane? Tahun 2021
kurang lebih itu jenengan belum belum
resign berarti ee menjelang resign itu
menjelang resign itu jadi sudah mikir
kayaknya bagus ya kalau kita punya ee
seperti itu. Terus kemudian diperkuat
waktu itu saya lagi jalan-jalan ke
Magelang di sekitar Borobudur itu ada
konsep wisata seperti ini sebenarnya.
Jadi cuma keliling, ada sayur, ada
kandang jamur juga sama. Cuma
perbedaannya di sana sudah ada
kulinernya yang cukup yang mewadai itu.
Nah, kok ya ramai jadi semacam desa
wisata padahal konsepnya sederhana. Nah,
itu sedang kita mulai wujudkan di sini.
Sebenarnya cita-citanya seperti itu.
Jadi background-nya yaitu cita-cita
ingin mempunyai kok kelihatannya kok
bagus. Cuma momentumnya itu ketika akhir
tahun kemarin di mana presiden kita yang
baru itu kan lagi gencer-gencernya
suasana pangan. Ya udahlah kita
manfaatkan momen itu. Mumpung ada
program juga pekarangan pangan ya sudah
kita manfaatkan untuk launching juga
cita-cita kita. Jadi mewujudkan Kampung
Agro. Sebenarnya pertanian itu konsepnya
sederhana. Iya. Jadi tidak ada yang
sulit. Semua bisa menanam. Waktu itu
ceritanya ketika saya mulai terjun ke
pertanian juga gak tahu gak tahu
apa-apa. Belas betul-betul nul seperti
orang awam memang enggak gak tahu
ilmunya. Nah, waktu itu saya menggandeng
seekan, ayo kita bantu olaholahlah
lahan. Tapi pada praktiknya ternyata
maaf ya ini tengah agak dikadali lah.
Lah di situlah muncul keinginan saya
harus bisa, saya harus belajar. Jadi
diminta saya pengin menanam cabe,
dikasih benih cabe yang kurang bagus.
Setelah hasilnya ibaratnya sudah agak
kembang kempis karena enggak hampir mati
ditinggal. Nah, ketika kondisi sakarat
lu mau tanaman tadi, ya udah saya harus
belajar. Nah, belajar pun juga tidak
melul mulus. tanya A, tanya B. Ternyata
banyak juga orang-orang itu yang sudah
punya ilmu ditanyain enggak mau ngasih
ilmunya. Misalkan ditanyain, "Pupuknya
cabe apa ya?" gitu ya. Jawabnya gini,
"Pupuknya ya biasa aja." Biasa itu piye
karepe? Piye? Kan biasa itu piye? Apa
maksudnya? Kan misalkan pupuk merek A,
merek B, merek Cutkan aja gak mau
obatnya. Ini apa? Ini loh obatnya tapi
mereknya sudah di dilepas. Aku biasanya
cuma pakai ini campurannya enggak mau
ngasih tahu. Nah, di situlah saya mulai
tertantang. Apa sih susahnya sebenarnya
ini? Wong nyatanya banyak yang bisa. Ya
udahlah dari situ saya belajar. Nah,
ternyata tidak sesulit yang saya
bayangkan. Jadi ilmu pertanian itu
sebenarnya sederhana, enggak ada yang
sulit di situ. Saya belajar dari
YouTube, baca literatur dan ternyata
semuanya itu mudah. Dari tanaman yang
hampir sakaratul maut tadi di periode
pertama saya nanam itu saya laba sudah
R15 juta lebih di situ. Iya dari
pertanian satu tempat R juta hampir 16
juta itu pertama kali saya nanam 1/4
hektar cabai padahal waktu itu
ditinggal. Tapi ya qadarullah ya, Mas.
Qadarullah di mana ketika sudah power of
kepepet i kekuatan orang kepepet itu
sudah menggerakkan seluruh jiwa dan raga
untuk akhirnya lah itulah mulai belajar
mulai belajar bagaimana metode tanam,
metode popok, metode penyemprotan dan
sekarang saya sudah bisa menciptakan
istilahnya pola dan metode sendiri dalam
setiap perawatan tanaman. Dari situ juga
akhirnya, oh berarti banyak juga
masyarakat yang sebenarnya enggak
teredukasi bagaimana cara nanam yang
benar, cara nyemprot yang benar, cara
membuat media tanam yang benar. Dengan
banyaknya juga orang-orang yang enggak
mau ngasih ilmunya, di situlah saya
tertantang. Saya harus ngasih ilmunya
ini. Cuma-cuma saya gak mau ilmu itu
hanya sekedar hanya dipendem sendiri.
Gak barokah. Ya udah, makanya setiap
tanam saya pasti tulis mulai semai
kapan, mulai dipupuk apa, mereknya apa,
perlakuannya seperti apa, pupuk dasarnya
apa, boleh semua nyontoh gak ada yang
saya tutupin di sini. Jadi setiap warga
boleh, setiap orang boleh bertanya ya
itulah istilahnya titik kebangkitannya
di situ. Gu kadang gitu padat kok piye
resign itu tahun berapa, Ustaz?
setelah Bapak wafat. Heeh. Bapak wafat
jadi demi ibu di profesional
diperbankan. Jadi saya kepala cabang
dulu di salah satu BUMN. Iya. Satu kita
setiap hari diuber target kan pasti.
Kedua, standby 24 jam. Yang ketiga, ya
namanya banyak tuntutan waktu dengan
keluarga sangat minim. Jadi setiap hari
itu seperti berlomba, berpacu. Di mana
waktu itu saya ketemu istri setiap hari
itu hanya 2 jam sehari. berangkat pagi,
pulang malam, belum kalau weekend acara.
Belum kalau weekend ada acara itu kita
pasti enggak ketemu lagi kan. Jadi
hampir enggak pernah ketemu istri
komunikasinya jadinya kan berkurang.
Sampai tiba pada suatu saat saya lagi
dines, lagi pulang-pulang kantor jam
0.00 waktu itu saya masih ingat betul
7.00 malam. Pulang lagi pulang itu
menuju ke rumah dinas waktu itu lewat
masjid kok ada bapak-bapak sama ibu tua
itu berangkat ke masjid bareng mau
isyaan itu menusuk di ulu hati mak tek
sampai merinding
mosok aku gini terus sampai kapan gini
terus gitu berangkat lah terus diperkuat
lag dulu saya kan pernah di bagian
kredit juga yaitu ketika lagi survei
lagi ke lokasi ada juga lihat Bapak Ibu
itu sore lagi ngobrol sama istrinya
minum teh bareng itu juga waduh kena
lagi nih gitu loh. Akhirnya wadah ini
kapan ya ngobrol ke istri lah. Kira-kira
kalau seperti ini terus gimana?
Kira-kira waktu itu usia saya di 30
tahun lah. Sudah saya kepala cabang usia
27. Semua tercapai dalam waktu yang
cepat sekali. Dan saya enggak pernah di
kota kecil, kepala cabang kota besar,
Surabaya, Jakarta. Tibalah ya itu titik
baliknya kan pasti ada ya. Di balik
gegap gempita itu pasti ada jiwa yang
kosong ternyata.
Akhirnya ya itulah mulai di usia 30
sedangkan usia pensiun e 56. Berarti kan
masih ada sekitar 26 tahun lagi.
Kira-kira kita 26 tahun bertahan seperti
ini bisa enggak ya gitu loh kalau hidup
seperti ini terus dengan rutinitas yang
luar biasa yang aduh ibarat kaki kepala
di kepala kepala di kaki setiap hari
seperti itu mau sampai kapan dan istri
pun juga waktu itu juga mendukung sekali
di mana masa kita hidup seperti ini
terus masa kita gak pernah punya waktu
bagaimana kalau kita memulai usaha
nyicil punya usaha lah akhirnya
berdirilah yang pertama panda to travel
itu bentuk istilah nya jaga-jaga kita
ketika nanti kalau suatu saat kita saya
harus resign sudah kita persiapkan jalan
jalan jalan jalan tibalah bapak gak ada
bapak wafat di waktu itu ibu tinggal
sendirilah di sini kan tinggal sendiri
sama adik saja nah ibu itu menghendaki
karena anak lanangnya enggak pernah
mulih jauh terus sudahlah di sini
nemenin ibu toh juga masih ada lahan
masih ada istilahnya ya ibarat untuk
cari makan di sini masih bisa lahan luas
terus kemudian bisa usaha apa ya itulah
dikuatkan niat ya sudah ini waktunya
ternyata okelah di awal keluar wah itu
juga tantangannya luar biasa
tantangannya di mana kita memulai hidup
yang baru dengan ilmu yang minim tanda
kutip malah karena waktu kita habis
untuk di dalam mengerjakan yang di sana
gak ada waktu untuk upgrade diri gak ada
waktu untuk membaca literatur tentang
yang lain nol putol ya sebelumnya memang
sudah ada travel maupun Lala Kitchen
yang dikendalikan oleh istri di waktu
itu. itu masih ya namanya juga mulai
masih belum terlalu berjalan dengan
mulus. Nah, ya itulah tapi dengan
banyaknya tantangan itu malah kita
semakin kuat sih sebenarnya. Jadi kita
mulai itu dulu sama istri itu ya datang
ke toko-toko nawarkan produk. Terus
kemudian lahan itu ketika awal mulai
saya juga masih melakukan sendiri juga
mupuk sendiri, gendong tangki sendiri.
Itu masih saya alami di awal-awal dulu
ya. Memang ketika kita berserah itu
Allah pasti kasih jalan lah ya. Ternyata
dengan banyakin istilahnya lah ke
masjidnya dikuatin ya ternyata Allah tuh
masih jalan perlahan-lahan dibukain awal
mulanya pasti
itu manusiawi pastilah tapi ya pikirku
juga ngapain harus malu lama-lama toh
juga halal dan ternyata waktu itu
diperkuat oleh saya bertemu dengan dua
ustaz yaitu Ustaz Mardi dan Ustaz Mufid
dari Masjid Alfattah dikasih tahu bahwa
oh pertanian itu adalah salah satu
ibaratnya lini utama usaha dalam Islam
Islam selain dagang. Jadi jangan malu,
tetap berserah dan uh banyak
dinasihatilah lah. Akhirnya timbul juga
kepercayaan diri. Oh ya udah ya.
Ternyata Allah ngasih rezekinya lewat
situ. Ternyata
setelah risen ada kesenjangan secara
perekonomian. Setahun pertama iya ketika
Babet mulai kelihatan hasilnya di tahun
2023 akhir. Pertanian travel hampir
bersamaan dan itu relate ketika kita
sudah tidak terlalu mengejar dunianya.
Jadi ketika kita waktu awal-awal
menggebu-gebu, mengejar, ibaratnya
ketika awal mula itu masih ada konsep
saya ingin kaya, saya ingin seperti dulu
lagi. Masih ada ya egonya masih ada tapi
lupa pada yang punya kita tuh siapa ya
Allah. Kan kita lupa pada situ. Masih
menggebunya, masih egonya masih ada.
Malah di situlah jalannya itu agak
tersumbat. Sulit sekali pertemuan dengan
ustaz-ustaz itulah yang merubah. Jadi ya
kepasrahannya dikuatkan. Jadi sudahlah
gak usah dipikir itu. Dikuatin
ibadahnya, dikuatin tahajudnya, dikuatin
sedekahnya, akhirnya ya perlahan-lahan
kok ya datang sendiri malah malah datang
sendiri. Ketika kita sudah enggak
udahlah kita rbisrohli sadri
lapangkanlah dadaku. Itulah yang penting
dan lancarkanlah urusan. Ketika kita
sudah lapang, ternyata semua lancar.
Ternyata yang menghambat kita itu ininya
belum lapang. Masih ada ego yang
tersisa. Dulu saya itu adalah bos. Dulu
itu saya adalah manajer. Itu yang
membuat malah terhambat. Tapi kita sudah
legowo bahwa kita itu cuma manusia
biasa. Enggak beda semua dengan semua
orang. Enggak juga lebih mulia dari
semua orang juga mungkin masih belepotan
dosa. Ya itulah ketika Allah malah
membukakan jalannya di situ. Saya masih
ingat betul Ustaz Mardi waktu itu megang
dada saya gini. Lapangkanlah dadamu
dulu. Jadi kita lihat background istri
dulu ya. Istri itu dibesarkan di
lingkungan Tionghoa. Jadi istri itu ada
keturunan Tionghoanya. Jadi
mentalitasnya adalah mentalitas pekerja
keras. mentalitasnya dagang dan
mentalitasnya tidak punya gengsi. Jadi,
sudah DNA-nya seperti itu. Dia itu
enggak akan tanda kutip, gak akan juga
terlalu mempermasalahkan. Malah lebih
suka jika kita itu punya usaha sendiri
daripada ikut orang. Kalau kita ikut
orang, kita kan adalah karyawan toh.
Kalau usaha sendiri menurut dia meskipun
kecil kita direkturnya. Memang di situ
istri dari awal tidak ada tidak terlalu
banyak ada masalah. Memang basicnya
sudah satu pekerja keras. Kedua, tidak
punya gengsi juga dibesarkan di
lingkungan yang berdagang sehingga
adaptasinya tidak terlalu susah dan dia
support saya 100% terkait ini. Malah
sekarang kok balik lagi agak sulit
ketemu juga saya di ladang, dia ngurusin
yang di sana jadi ketemu juga sudah
malam-malam juga. Tapi nak gak seekstrem
yang dulu lah. Kalau untuk pekarangan
sifatnya hanya supporting saja, jangan
dijadikan sebagai pendapatan utama. Jadi
yang saya tahu jika ingin mendapatkan
paling tidak per bulan Rp500.000
itu paling tidak warga bisa menanam sawi
paling tidak sebulan dua kali dengan
jumlah polib sekitar 300-an itu bisa dan
sudah banyak yang membuktikan enggak
enggak gak perlu istilahnya mana
buktinya sudah ada. Heeh. Itu bisa jadi
namanya pobag kita menggunakan sistem
namanya verticulture verticulture. Jadi
pertanian yang vertikal menggunakan rak.
Jadi lahan yang sempit pun bisa
dimanfaatkan atau menggunakan
bekas-bekas limbah dari galon, air
mineral itu bisa digunakan. Jadi kalau
untuk balik ke situ jangan jadikan yang
pekarangan yang sempit itu menjadi
pemasukan utama. Tapi ini adalah support
untuk membantu mengakses dan mempermudah
kita mendapatkan bahan bahan pangan.
Bagaimana untuk jika misalkan kondisinya
anggap aja paling ekstrem aja negara
sedang keos. Apa yang perlu kita tanam
yang di rumah? Satu tanaman pangan yang
mudah apa? singkong atau ubi. Bagaimana
caranya? Yang paling mudah adalah dengan
menanam ubi jalar menggunakan karung
bekas. Diisi tanah ditanamin itu sudah
tumbuh. Ada contoh. Bisa juga menanam
labu madu. Labu madu itu cukup mudah
ditanam. Nilai gizinya tinggi,
karbohidratnya tinggi, seratnya tinggi,
nilai ekonominya tinggi, per kilonya
Rp40.000. Tuh, kedua. Yang penting
jangan itu ya, Mas. Jangan nanam tanaman
pangan tuh yang paling mudah ya singkok.
Singkong dan ubi. Jangan jagung tanam
polibag. Jangan. Jagung itu kalau
ditanam di pobek itu nutrisinya kurang
pasti. Yang kedua, penyerbukannya tidak
bisa maksimal. Nah, itu akhirnya hanya
buang-buang waktu saja. Kalau di situ.
Bahan baku utamanya tanah, pupuk
kandang, abu sekam, kapur, kapur
pertanian, dolomit istilahnya. Iya.
Dengan perbandingannya antara tanah dan
pupuk kandang itu 4 banding 1. Empat
karung tanah, satu karung pupuk kandang.
Itu versi hematnya. Kalau agak lebih
dikuatkan lagi, 1 banding 2 juga bisa.
Nah, itu komponen utamanya itu kapur itu
digunakan untuk menetralisir keasaman
tanah. Jadi, sebelum dilakukan pembuatan
media tanam, tanah yang akan diaduk itu
kita taburi kapur dulu. Terus diaduk
agar pH-nya netral dulu. Kemudian baru
dikasih pupuk kandang, dikasih abu
sekam. Abu sekam pun itu dikit. Abu
sekam itu juga berfungsi untuk satu,
menjaga kelembaban tanah. Yang kedua,
pH-nya biar stabil. Maaf ya. Itu
fungsinya seperti itu. Dimasukkan ke
pobag kan bisa langsung ditanamin. Jika
dikasih pupuk kimia mungkin harus
nunggu. Tapi kalau dengan seperti itu
bisa langsung ditanami. Kalau penggunaan
biasanya yang tidak bisa langsung
ditanam itu pada lahan terbuka. Yang
biasa mau nanam cabe, mau nanam tomat
atau nanam tanaman yang memang
hortikultur yang memang untuk luasan
yang luas yang biasa digunakan untuk
budidaya dalam skala yang besar itu kan
harus dikasih pupuk dasar. Lah ketika
diberikan pupuk dasar itulah perlu waktu
sekitar 1 mingguan agar bisa ditanamin
agar pupuknya terurai dulu. Tapi kalau
menggunakan bahan yang organik itu bisa
langsung ditanamin. Mau tips lagi yang
tanah yang paling bagus yang mana? Ambil
tanah di bawah pohon bambu. Tanah di
bawah pohon bambu itu pH-nya netral.
Terus banyak mikroba-mikroba yang bisa
support kesuburan tanah.
Sebenarnya kalau saya itu poinnya
sederhana, yaitu di mana kita itu bisa
mencari teman yang tepat. Awal mulanya
seperti itu, ceritanya seperti itu. Saya
juga awal mulai juga bingung menemukan
seperti itu. Bagaimana itu juga bingung
tapi ternyata Allah mempertemukan saya
dengan Masjid Alfatah waktu itu.
Dipertemukan dengan itu di mana kondisi
saya sedang kosong. Kosong kosong iman
kosong segala macamlah. dipertemukan
pertama dengan Ustaz Mardi dan Ustaz
Mufid waktu itu yang ngenalkan saya Pak
Trimo waktu itu yang kenalkan di situlah
saya itu dibekali dikasih banyak nasihat
terkait tentang hidup tazkiatun nufus
lah jadi penyucian ya memang saya akui
dulu kehidupan saya juga tidak baik-baik
saja sudah tahu kerjanya diperbank
kehidupan juga kehidupan yang cukup
bedalah dengan kehidupan yang seperti
ini pastinya lah di situlah ternyata
ketika saya bertemu dua ustaz itu tadi
banyak nasihat-nasihat yang masuk saya
jadi mikir ternyata Ternyata Islam itu
enggak sekaku yang saya bayangkan.
Ternyata di Islam itu oh salah satu Nabi
pernah bilang bahwa menanam itu adalah
sedekah. Oh berarti semakin banyak
menanam bisa dinikmati sedekah kita
semakin banyak dong. Nah itulah satu.
Kemudian bagaimana sosial masyarakat
awal mula juga pasti ada penolakan.
Penolakan itu paham apa ini, paham apa
itu. Tapi kita tetap hadir dalam bentuk
solusi. Satu ketika sedang sulit.
Ibaratnya waktu itu kondisi ekonomi lagi
lemah, kita kasih bantuan sembakau ke
warga yang gak mampu. Kita bagi-bagi
sayur ke lansia. Dengan kita datang
sebagai solusi, itulah sebenarnya
masyarakat itu akan sangat merekam ke
kita. Kuncinya satu, di waktu itu kita
enggak usah bicara dalil, kita hanya
bicara masalah solusi. Ketika solusi
masuk ya pasti otomatis mereka akan
ngikut, gitu loh. Menemukannya gitu.
Kalau ditanya bagaimana sih
kesinambungannya? yaitu perlu apa ya
suatu perjalanan spiritual dulu. Jadi
agak sulit dijelaskan bagaimana kok bisa
menemukan bendang merah karena itu
adalah perjalanan spiritual yang
gadok-nggadokne satu dengan yang lain
ternyata kok dapat gitu loh. Saat ini
sudah 90 KK kurang lebih dan kemudian
sudah menjelang ke 10 RT. 10 RT ya satu
dusun. Di sini kita dibantu juga dengan
teman-teman dari Taruna Tani dan juga
dibantu juga dari pemerintah desa
setempat itu pastikan berperan aktif di
situ. Cuma secara konsep yang kita
gunakan konsepnya itu konsepnya adalah
pekarangan pangan. Pekarangan.
pekarangan pangan saat ini paling banyak
ditanam adalah sawi daging atau
istilahnya pakc yang sering dilupakan
itu adalah satu kerukunan yang sering di
malah hal yang paling basic tapi sering
dilupakan ego. Jadi sebelum kita menuju
suasana pangan kita masing-masing warga
tuh harus menurunkan ego masing-masing.
Harus mau bergerak bersama. Harus mau ee
tanda kutip patuh dalam konsep bersama.
lah ketika sudah itu jadi rukun guyub
semua berjalan enak ya bukan teknis tapi
yang penting adalah SDM-nya dulu kita
kondisikan adalah SDM-nya dulu teknis
itu hal yang paling terakhir menurut
saya teknis itu mudah dipelajari barang
nyata, metode itu banyak dan bisa
diaplikasikan. Tapi kalau warga itu kan
barang yang istilahnya beda ya,
sosiologi itu handling-nya pasti beda
ya. Variabelnya kan banyak ya. Jadi
ketika itu sudah bisa kita handle itu
akan berjalan baik. Yang sering
dilupakan adalah kita sama-sama tidak
pernah maurunkan ego. Jadi merasa paling
waduh ini paling benar gak gak bisa
seperti itu. Meskipun yang di inti pun
juga masih dalam proses belajar juga
banyak kekurangan, banyak yang jadi
diskusi itu masih adalah hal yang wajib
tetapan seperti istri adalah di inti
juga. Inti juga. Inti juga. He. Kalau
jenis sarunya yang pertama adalah satu
pare. Pare, kemudian pakcoy, sawi biasa,
kembang kol, kobis, tomat. Ada enam
tanaman utama. Eh, tujuh plus jamur
tiram. Kalau di plasma semuanya sama,
tinggal plug and play aja. Iya. Cuma
kita di sini adalah lebih fokusnya di
plasma itu kita edukasi yang ditanam itu
based on market. Jadi, edukasi sing payu
opo? Kalau misalkan menanam sesuka hati
khawatirnya nak bisa dipasarkan. Contoh
kejadian ada warga yang namanya juga
nyoba, kita enggak bisa ngelarang kan
itu dicoba dengan eh mereka inisiatif
nanam namanya sawi pagoda. Boleh-boleh
aja, sah-sah saja nanam kok. Tapi kan
jualnya susah. Sawi hias kok itu dimakan
bisa tapi kan gak lazim. Tapi kalau
untuk ee sawi pakco jelas kebutuhan
banyak. Selada kebutuhan jelas banyak.
Sawi apa namanya? Pare jelas ada. Tapi
kalau makanya kita edukasi yang ditanam
adalah base on market yang laku ini loh
yang harganya stabil ini yang harganya
naik turun ini seperti tomat cabe itu
kan harganya naik turun jadi jangan
tanam terlalu banyak kecuali kalau
memang budidaya dalam jumlah waktu yang
besar monggo. Tapi kalau ingin yang
hasil cepat tanamlah sawi. Harga stabil
panen cepat segera menghasilkan uang.
itu yang kita edukasi seperti itu.
Itu ketika momen awal mula merintis
usaha ini. Itu memang momen paling
berat. sempat nangis dulu itu. Jadi, di
mana saya sedang memulai jamur tiram
dimulai dari 200
backlok mulai belajar nanam gambas,
mulai nanam ini tapi ketika itu ketika
sudah mau panen apa dijual susah banget.
Dibawa ke sana enggak mau, dibawa ke
sini enggak mau, dibawa ke sana masih
belum. Ya itulah momen paling berat di
mana dari yang penghasilan segini
tiba-tiba kan terjun sret gitu. Nah,
itulah moman berat bukan memualafkan
istri ya
ya itu
pasti ada ada beratnya pastilah. Jadi
benar istri dulu adalah Nasrani. Tapi di
waktu itu memang secara keluarga besar
sebenarnya berbeda-beda agama sudah tapi
mayoritas adalah Buddha. Jadi papa mama
Nasrani, Kakak ipar Nasrani, kemudian
tapi saudara-saudara mama itu adalah
Buddha. rata-rata setahun sebelum
menikah itu masih Nasrani. Dulu dia
adalah aktivis gereja.
Aktivis gereja. Jadi yang menjadi
istilahnya kalau di sini ketua remas
lah. Tapi di waktu itu kita tinggal di
Surabaya kan waktu itu di Surabaya.
Seringkiali setiap weekend saya ajak ke
Masjid Agung, saya ajak ke situ.
Kebetulan ada momen di mana di situ lagi
ada akad nikah. Saya ngobrol terus kita
nanti kalau enggak gitu nikahnya terus
piye? Gimana? mikir kemudian dia, "Iya
di dunia kerja tapi beda kantorlah. Cuma
kantor kita berdekatan waktu itu. Apa
namanya? Ya udah kita kenalkan lewat
situ." Ternyata dia kok ya mikir juga ya
mikir. Jadi di tengah kebingungannya dia
itu dia sempat tanda kutip tidak
beragama sekian bulan. Dia enggak ke
gereja karena ragu juga mau ke masuk
muslim belum tahu caranya dan gimana.
Akhirnya ya udahlah tiba-tiba dia kok
minta buku panduan salat yang warna ungu
itu loh buku legendaris panduan salat
yang mungkin di waktu kecil kita pasti
punya toh itu. Tak belikan belajarlah
belajar tak biarin aja belajar. Akhirnya
waktu itu kita dibantu, akhirnya dia
mualaf dibantu oleh Masjid Alfalah
Surabaya Darmo. Alfalah Darmo. Termasuk
di situ ada namanya mualaf center.
Diajari dari akidah, akhlak, ibadah,
semua belajar di situ. Nah, sayangnya di
Tulungagungku masih belum ada ya seperti
itu mualaf center itu. Padahal penting
banget loh itu agar teman-teman yang
mualaf itu ada yang membimbing. Dulu
kalau mungkin ya kalau istri itu enggak
ada mualaf center ya juga bisa balik
lagi karena enggak ada yang ngopeni.
Sedangkan kayak saya pribadi ilmu agama
juga masih belum terlalu banyak.
Bagaimana dia kan banyak
pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab
juga pasti. Contoh gini kok ya iseng
waktu itu juga tak ajaklah ke Ampel
Surabaya lihat orang ziarah kan emang
Islam seperti ini ngapain kok berdoa di
samping makam terus jawabku piye? Kan
bingung juga loh kalau dijawab dari sisi
maaf saudara-saudara kita NU kan mudah
namanya ini kan mudahan tapi kalau
jawabnya kan Nasrani pakai dalil apa kan
gak ada nah akhirnya dijawablah di
Alfalah itu semuanya ya beratnya mungkin
ya ketika apa ya istilahnya ya cara dia
meyakinkan ke Islamnya itu loh yang
mungkin ada agak effort sederhana satu
makanlah yang kita tanam tanamlah yang
kita makan itu aja itu moto kita
sebenarnya jadi makanlah dari pekarangan
kita sendiri jadi kampanye kita saat ini
adalah makan dari pekarangan kita
sendiri. Jadi apa yang kita makan itu
yang kita tanam. Yang kita tanam itu
yang kita makan. Dan itu menjadi tagline
kami di mana-mana. Sebenarnya kampanye
kita paling kuat adalah makanlah yang
kita tanam, tanamlah yang kita makan.
Saya Prisma Pratama Sukma, founder dari
Lala Farm dan Gangswa Sembada dari Dusun
Nganggrek, Desa Kalidawir, Kecamatan
Kalidawir. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.