Transcript
2tihbAlUPDo • Wanita Tangguh! Hadapi Berbagai Ujian, Kini Sukses Berbisnis Modal 20 Ribu!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0527_2tihbAlUPDo.txt
Kind: captions
Language: id
Waktu itu cuma pegang uang Rp20.000
belum menikah. Motor ndak punya habis
kejual. Semua aset yang aku punya waktu
bekerja itu aku jual buat beli obat.
Habis habis total, Mas. Uang cuma
tinggal pegang Rp20.000 aja.
[Musik]
Itu saya nikah usia 2223.
Bahkan dulu sama dokter pernah di itu
Mas dendeni lah katanya ndak kalau
hormonnya terus tinggi bisa ndak punya
ndak bisa punya anak gitu. Iya ya itu
galau Mas gimana nanti bilang sama calon
suami. Jadi selama ini tuh saya kerja
sambil survive penyakit saya.
[Musik]
Pertama kali saya jualan itu tahun 2017.
Waktu itu masih online. Pada waktu itu
kan dunia peronline-an masih belum
seramai sekarang ya dengan jualan durian
Mas pertama. Dulu modal pertama cuma
Rp20.000. Kan sebelumnya itu saya ya
kerja ikut orang tapi karena sakit
bertiroid itu 2 tahun di rumah nganggur
jadi gak punya uang apalagi ee
background orang tua dulu juga bukan
orang yang mampu ya. Ibu seorang
penjahit, ayah juga kadang nganggur,
kadang juga jadi kulit bangunan. Waktu
itu cuma pegang uang Rp20.000 belum
menikah. Motor ndak punya. Habis kejual
semua aset yang aku punya waktu bekerja
itu aku jual buat beli obat. Habis habis
total, Mas. Uang cuma tinggal pegang
Rp2.000 aja. Itu itu pun dikasih sama
anu pacar aku yang sekarang jadi suami.
Terus aku nekat kredit montor. Saya buat
kulak durian ke sana. Saya buat beli
durian yang dimakan musang itu loh, Mas.
Kalau di sana kan dikatakan durian BS.
Durian yang tidak layak jual. Harganya
satu butir itu besar kecil sama
Rp2.500 dapatnya berarti
Rp20.008. Nah, itu saya jual saya bawa
ke sini saya jual saya onlinek-an satu
Rp10.000. Bu lari selaku kan kesukaannya
orang hamil ya, Mas. Dapatlah untung
Rp80.000. Nah, mulai dari sana saya bawa
ke sana lagi. Saya kulakkan
Rp50.000. Yang Rp30.000 saya buat beli
mika sama plastik. Saya kupas, Mas. Biar
dapat untungnya lebih banyak lagi. Saya
onlinek kan ternyata peminatnya banyak.
Saya jual satu mika Rp10.000-an itu
dapat uang
Rp200.000. Dari dari uang Rp20.000
dapatnya Rp200.000. Nah, habis musim
durian itu kan saya bingung mau jalan
apa. Akhirnya ke Pasar Ngemplak. Saya
lihat gresiran di sana. Saya ambil, saya
belanja pertama itu buah duku. Duku
waktu itu harganya satu karung. Itu yang
kecil ya, Mas. Yang cakra itu yang
kecil-kecil itu 1 kilonya Rp8.000. Saya
bawa pulang, saya foto, saya onlinek-an.
Saya jual 12. Untungnya kan R.000 per
kilo. Saya cuma bawa pertama itu bawa 10
kilo. Ternyata peminatnya banyak, Mas.
10 kilo habis dalam 2 jam langsung saya
antar, Mas. Orang beli kan langsung 2
kilo, 2 kilo gitu kurang langsung ke
sana lagi. Nah, mulai dari sana
alhamdulillah lancar. Tapi lama-lama itu
kalau ngantar sendiri kan apalagi kalau
musim hujan gitu kan ya capek ya Mas.
Capek. Akhirnya saya inisiatif buka kios
di pinggir jalan dengan modal awal
Rp800.000. Sewa sewa 1 bulan cuma
Rp15.000 Mas 1 bulannya itu
alhamdulillah lancar di sana lancar
omsetnya semakin tambah pelanggan banyak
modal awal 165. Terus buat kulak
dagangan sekitar 500-an 600-an. Iya.
Kalau tempatnya itu kan bekas warung,
Mas. Jadi saya ndak begitu renovasi. Yus
opo enek lah, Mas. Pertama kepadanya
dulu saya jual di sana alhamdulillah
satu dua orang beli. Terus mendekati
lebaran itu kan lebaran kurang 2 minggu
itu kan rame-rama buah ya, Mas. bingung
lagi modalnya dari mana ini. Soalnya
pembeli itu semakin banyak, permintaan
semakin banyak, yang pesan barang
semakin banyak, bingung lagi. Akhirnya
ke pasar, alhamdulillah di pasar percaya
orang, percaya sama penjual di sana.
Ditawari, "Permintaanmu semakin banyak,
gimana kalau bawa dagangan saya dulu,
kamu jualan, nanti kalau habis baru
dibayar." Tuh, saya juga takut, Mas.
Soalnya kan pertama toh itu pertamane
bawa uang orang harus tanggung jawab kan
harus jujur. Nah itu akhirnya ya antara
dilema apa enggak ya diambil
aja. Oke tak ambil tak dasarne. Ternyata
alhamdulillah lancar ya. Pertama itu
duku terus coba jeruk coba ke semek.
Mulai itu bingung ya itu bingung kurang
puasa kurang 2 hari bingung.
Akhirnya ke pasar dapat kepercayaan bawa
buah impor. Buah impor bawa satu becak,
Mas. Langsung. Nah, aku ya bingung, Mas.
Ini satu becak uangnya itu kan ada R5
juta lebih ya. Bingung. Wah, lek gak
habis gimana ini? Apalagi tahun berapa
itu, Mbak? Tahun
2017. Sempat pernah jualan sate bebek.
Nah, itu kan masih punya modal, belum
sakit. Masih punya modal. Ya sudah sakit
cuma masih punya modal, Mas. Waktu itu
saya mulai kerja usia 16 tahun. Saya
lulusan SMP. Enggak ada biaya, Mas.
Iya. Sa itu sudah dibilangin sama orang
tua, "Enggak, Mas. Tetap bayar, Mas."
Iya, tetap bayar. Waktu itu SPP-nya dan
lain-lain. Ibu saya sudah bilang gak
bisa ngelanjutin ke SMA. Padahal saya
cita-citanya saya malah penginnya jadi
dokter waktu itu. Tapi ya gak apa-apa.
Wis emang latar belakang keluarga kan.
Apalagi dulu saya sekolah tiap hari itu
enggak pernah dikasih uang saku. Paling
seminggu sekali 1000.000 gitu. Bahkan
kelas 3 SMP itu saking gak punyanya
orang tua ya itu sepeda rusak. Bapak
sepedanya buat ee kerja kuli. Akhirnya
saya berangkat pulang sekolah itu jalan
kaki dari Perempatan Geledek ke SMP 5.
Sampai sana itu telat. Sakit itu di usia
berapa, Mbak? Di usia 17 tahun. Tahun
2016. Jalannya saya kurus, badannya
kurus tinggal 35 kilo berkeringat,
sesak, terus mata jadi sedikit menyonjol
sama ini leher. Iya. Hipertiroid. Itu
penyakit model gimana sih, itu? Dia
menyerang
metabolisme. Kelebihan. Kalau aku, Mas.
Kelebihan metabolisme. Kalau saya dulu
kalau kata dokter itu penyebabnya dari
mungkin dari faktor stres, dari faktor
pengaruh makanan bisa atau mungkin
keturunan. Tuh kalau saya kan memang
kerjanya kan capek toh, Mas. Di grosiran
itu kan angkat-angkat angkat-angkat ya.
Walaupun baju kan kalau untuk kelas
perempuan gak kuat ya. Mungkin itu
faktornya. Kalau saya paling cuma itu
bangun pagi, olahraga tiap
pagi, terus minum, konsumsi obat-obatan,
rempah-rempah tradisional sama rutin ke
rumah sakit. Saya baru diagnosa normal
itu tahun kemarin, Mas. 2024. Iya, belum
lama. Jadi dari 20171 itu sampai 2024
baru normal hormon saya sampai hari ini
masih alhamdulillah masih normal. Jadi
selama ini tuh saya kerja sambil survive
penyakit saya sebenarnya mengganggu kata
dokter ya. Kalau hormonnya lagi tinggi
itu malah gak boleh program hamil. Tapi
dulu pertama hamil itu malah hormonku
lagi tinggi-tingginya. Jadi saya dua
kali hamil itu waktu muda itu hamil muda
ya usia kandungan trimester pertama itu
hiperemesis masuk keluar masuk keluar
rumah sakit selama 4 bulan itu ya. Iya
kurang lebih 7 tahun obat tiap hari itu
gak boleh bolong. Saya nikah usia
2223 2018 ya Desember. Bahkan dulu sama
dokter pernah di itu Mas dendeni lah
katanya ndak kalau hormonnya terus
tinggi bisa ndak punya ndak bisa punya
anak. Oh gitu. Iya ya. Itu galau Mas.
Gimana nanti bilang sama calon suami
alah gak apa-apalah biar nanti aja kalau
sudah menikah baru saya bilang gitu.
Alhamdulillahnya 1 bulan setelah menikah
saya hamil malahan. Iya hamil anak
pertama itu. Tapi ya itu minusnya
hiperemesis 3 bulan. keluar masuk rumah
sakit. Tiap 1 minggu di rumah sakit
pulang 1 hari terus besoknya masuk lagi
gitu sampai 3 bulan ya. Saya sangat
bersyukur kalau itu benar-benar
bersyukur dapat suami yang baik,
setia terus menemani suami. Tahu tahu
tahu dari mulai sakit. Soalnya kan saya
pacaran itu dari SMP sama suami itu dari
SMP sampai menikah sekarang ini. Jadi
senang susahnya saya beliau lebih tahu
ya semangat begitu aja. Iya bariki habis
ini bakal dapat yang lebih besar. Iya
semangat gitu ya. Sudah semangat berdua
gitu. Pegangan tangan gitu semangat gitu
ya. itu Mas ngantar ngantar jemput kalau
menurut aku ya ngantar jemput tiap
kontrol ke rumah sakit. Nah itu
ditemenin terus tiap hari dia ke rumah
aku support ngajak jalan-jalan. Kan
waktu sakit dulu kan berat badan aku
cuma 35 kilo. Romantis, Mas. setia
juga. Makanya aku
[Musik]
pilih waktu pertama kontrak di Beleduk
itu ya itu tahun-tahun pertama itu
berkembang pesat, Mas. Berkembang pesat
sampai aku tambah 1 tahun. Dalam waktu 3
bulan aku tambah lagi 2 tahun. Itu
berkembang pesat. Cuma modalnya kan dari
titipan itu tadi dipercaya sama orang
suruh menjualkan dagangannya. Nah, pas
awal COVID anjlok Mas. Biasa omset di
sana 1 hari R juta, R juta bahkan sampai
R juta ya saya dibawa kan itu kita tiap
hari itu satu becak. Satu becak itu bisa
dua tiga kali datangnya. Buah impor,
buah lokal. Belum. Kalau dulu masih
buah, belum sayur. Terus paling dititipi
jajan sama orang-orang. Kalau mau
lebaran tuh jajan snack itu dititipkan.
Alhamdulillah itu lancar juga. Itu bisa
sampai Rp2 juta Omset sehari di sana.
Ramai, Mas. Kadang orang beli grosir
juga kan dijual lagi. Nah, pertama awal
COVID masuk karantina kan, Mas? Itu
karantina semua orang kan gak berani
keluar. Saya sudah mencoba online
kembali online lagi. Pertama aku online
itu bisa ramai itu kan Grab masih belum
masuk toh, Mas. 2017 masuk Tulungagung
2018 awal kalau gak salah. Jadi waktu
COVID pertama itu aku kembali online
lagi, Mas. saya onlinek-an lagi. Cuma
orang itu ndak begitu berani menerima
tamu kan, gak begitu berani order
macam-macam kan. Keuangan masih gak
stabil kan, kacau parah itu. Nah, tetap
saja pemasukan menipis. Akhirnya buah
kan kalau banyak kan tiap hari gak
begitu laku kan busuk ya Mas. Nah,
busuknya parah itu Mas. Parah. Bingung.
Mulai bingung itu. Mulai bingung.
Uangnya kan pemberian dari orang, dari
kepercayaan orang. Bingung.
Akhirnya sampai 1 tahun masa karantina
itu total kerugian saya kurang lebih
sampai 6070 juta ada. Wah, itu aku
hilang 1 tahun Mas. Ndak ngabarin
orang-orang pasar itu. Saya hilang itu.
Wis kalap masih mumet di rumah kembali
lagi itu penyakitnya. Berat saya 35 kilo
lagi tuh. Nah, itu antenar dapat cobaan
hamil melahirkan ke pekerjaan colet
terus penyakit kambuh. Wis di rumah itu
yang jualan suami. Suami jualan jagung
keliling, jagung rebus keliling. Nah,
itu mangkalnya kalau sore di daerah
Kesian sana. Jadi kalau saya jualan
buah, suami nyambinya jualan jagung. itu
dari SMA dia beliau beliau jualan dari
SMA kelas 2 kalau enggak kelas 3. Saya
di rumah aja Mas itu terus bingung kan
akhirnya ambil itu sampai ambil hutangan
di bank titil itu loh datanglah semua ke
rumah kan di cases tutup kan Mas gak
berani aku ngatasin orang wis pusing
aku. Nah, itu datang ke sini sampai
mertua tahu, semua orang tetangga tahu.
Akhirnya dibantu mertua sebagian kurang
lebih R3 juta apa R juta gitu. Masih
sisa banyak loh, Mas. Itu masih sisa
banyak. Aset-aset yang di kios itu
seperti kulkas dan lain-lain itu aku
jual. Timbangan itu aku jual semua buat
nyawur hutang. Motor suami juga kejual.
kejual lagi. Kalau motor saya
alhamdulillah gak tak pertahankan buat
online soalnya yang bisa saya kan
bisanya itu motor suami kan Vixion dulu
itu kejual tabungan habis masih sisa kan
utang masih sisa banyak bingung. Nah
alhamdulillahnya waktu itu saya
terdaftar jadi peserta PKH Mas karena
punya anak kecil. 1 bulannya saya dapat
dari PKH kurang lebih Rp800.000 tapi
saya cuma ngomong sama suami dapatnya
300. yang 500 buat nyicil hutang di
pasar. Saya cicil terus kembali online
lagi, Mas. Waktu itu coba waktu corona
itu yang laris kan susu susu segar asli
itu kan yang ada beberapa brand sampai
kosong itu. Nah, itu aku ambil
kesempatan di situ. Saya jualan susu
segar sama jahe. Jahe sama degan itu kan
yang lagi. Kalau susunya saya ambil
langsung ke Sendang. asli dari ee
Koperasi Sendang sana. Jahenya jahenya
alhamdulillah ada penyetor lah yang
nawarin langsung dari petani ya ada sama
ee degannya juga gitu.
Titik baliknya ya waktu itu mulai
perlahan jualan susu itu ramai Mas. Itu
1 hari bisa habis 400 botol yang 1,5
liter itu loh. Tapi minusnya dalam waktu
4 jam harus sudah sampai rumah semua.
Karena susu kan ketahanannya cuma
beberapa jam kan di luar ruangan. Nah
nanti sama edukasi ke pembeli. Bu ini
nanti kalau sudah sampai tolong
dimasukkan kulkas ya. Gitu. sama jangan
langsung diminum. Soalnya kan susu kalau
dari peternak itu walaupun di koperasi
itu kan katanya steril kan masih steril
mesin kan Mas belum matang kan.
Ngertinya pembeli itu steril mesin itu
sudah bisa diminum jadi harus edukasi
dulu. Alhamdulillah 400 botol sebagian
bisa buat nyicil hutang dikit-dikit.
Lunas Mas. Lunas di pasar juga gitu.
sampai aku nangis ke pasar. Saya bilang,
"Napuntene, Bu, 1 tahun hilang duite
kalap." Kul ngoten, Mas. Wis sampai
nangis di sana. Tapi ngih alhamdulillah
mengerti semua sana pedagang. Soalnya
kan ya memang pas waktu itu kan pas
pandemi ya semua usaha banyak yang
berantakan. Itu saya cicil lunas.
Alhamdulillah. Nah, terus habis itu
masih belum berani jualan buah, Mas.
Saya saya sampai lihat pedagang buah di
pinggir jalan itu saya trauma, Mas.
Tutup mata saya trauma nangis. Saya dulu
pernah jalan kayak gini loh ramainya Mas
tuh bilang sama suami saya sekarang
gini, "Gak apa-apa, Dek." kata suami
saya, "Nanti kalau rezekinya pasti akan
kembali kan gitu kata suami saya." Oh
iya. Nah, terus itu di saya ambil
kesempatan lagi di selatan saya kan
dibangun dibuka wisata wisata. Itu loh,
Mas. Kayak menara dulu loh. Menara apa?
Bambu itu jegong Pak namanya. Nah, di
sana saya dapat tempat satu jualan di
sana. Itu modelnya itu pertama itu bukan
modal dari suami juga bukan modal dari
saya, Mas. Tapi pemberian orang. Jadi
waktu itu kan benero hutang udah lunas
kan tabungan kosong toh, Mas. Paling
cuma dapat pendapatan dari suami jualan
jagung itu 50 sampai 100. Itu buat beli
susu sama kebutuhan kan habis. Saya
bingung. BPJS juga gitu, Mas. Saya sakit
selama 1 tahun itu selama corona itu
saya ndak berani periksa soalnya
BPJS-nya mati. makanya sampai kurus
kering berat 35 itu. Nah, terus saking
bingungnya ya kan aku pengin sembuh,
pengin sembuh terus bantu suami lagi.
Akhirnya saya kan gabung di grup yang
namanya Pitatosca. Grup khusus untuk
orang yang sakit seperti saya. Tiroid
ada grupnya sendiri di Facebook ada di
WA juga ada. Nanti kalau WA itu biasanya
per daerah Jawa Timur, Jawa Tengah
sendiri. Nah, itu saya gabung di sana.
Saya sambatlah sama ee peserta grup.
Saking saya wis izin keri lah dipikir
keri sing penting sambat disik. Saya
sambat saya bilang sama beliau-beliau,
"Mungkin ada yang mau bantu bayarkan
BPJS saya buat berobat." Alhamdulillah
ada yang bantu, Mas. Namanya masih
sampai sekarang masih saya ingat Mbak
Rina, rumahnya Sidoarjo beliau. Nah, itu
saya ditransfer R,5 juta. Alhamdulillah
nangis tuh, Mas. Siang-siang saya sudah
bingung bingung naik motor. Ya Allah iki
piye BPJS mati duit duwe bingung nangis.
Kurang lebih R800 kalau gak R00.000 ya.
Tapi kalau I tapi kalau nak pegang uang
kan ya uang segitu kan banyak toh Mas.
Saya itu sudah bingung akhirnya
alhamdulillah dapat transferan.
Nangislah saya dapat transferan langsung
saya bawa ke Indomaret saya bayarkan.
Sisanya sisanya itu saya buat ambil
kalung. Nah, kalung pemberian dari
mertua itu kan sampai saya masukkan
pegadaian diam-diam gak berani bicara,
gak berani ngomong saya buat bayar
hutang itu yang di pasar itu semua. Nah,
saya masukkan akhirnya saya tebus. Saya
tebus lagi. Nah, terus itu saya ambil
saya sama buat nebus kalung Rp300.000
masih sisa kan? Masih sisa beberapa buat
modal di sana jualan dijekdong itu
jualan dawet hitam. Es dawet hitam kan
di Tulungagung belum ada. Nah, saya
inisiatiflah jualan itu. Alhamdulillah
ramai ramai cuma sampai gak sampai
setahun Mas di sana wisatanya tutup.
Tutup lagi bingung lagi. Nah, dari situ
saya mulai memutuskan berani jualan buah
[Musik]
lagi. Dari situ yang ku ambil pertama
itu apokat, Mas. Musim apokat. Aku
cari-cari petani langsung ke sana ke
tanggung gunung sama suami saya diantar
cari-cari petani di sana. Alhamdulillah
dapat saya onlinek-an lagi di Facebook.
Alhamdulillah ramai. Itu online-an yang
kedua sistemnya itu nak orang pesan saya
antar gitu nak ya. Orang pesan tetap
saya antar tapi saya bawa lebihan. Jadi
misal saya dari Tanggung Gunung bawa 100
kilo ya ke sini. Terus pesanan saya cuma
40 kilo. Lebihannya itu saya timbangi
sekalian. Jadi saya itu anu sekaligus
ngantar pesanan. Plus kalau di tempat di
gang itu pas ada ibu-ibu yang joggr
tawarkan juga gitu tiap hari
alhamdulillah bisa habis gitu. Tahun
berapa, Mbak? Kurang lebih mulai jualan
online lagi 2020.
2020? Iya. Mulai susu, mulai apocat itu
2020. Buahnya mulai memberanikan diri
du. Iya.
2002anan lah. Sudah berani ya. Walaupun
ada sedikit-sedikit wis ndak pengin gede
koy biyen neh gitu, Mas. Tapi ya namanya
jiwa muda ya, Mas. Tetaplah penasaran
yaitu jalan apokat alhamdulillah laris.
Sehari bisa sampai 100 kilo, 200 kilo.
Pelanggan-pelanggan itu balik lagi, Mas,
nyari aku. Ternyata alhamdulillahnya di
WA dapat WA dari postingan Facebook kan.
Mbak aku dulu langgananmu yang digeleduk
gitu. pesan ini alhamdulillahnya baiknya
langgananku ya itu Mas tetap dikejar
aku. Bukan malah aku yang nyari mereka
alhamdulillah mereka malah datang
sendiri. Nah itu terus saya jualan
apokat. Alhamdulillah laris jualan sawo.
Nah karena anak-anak ya anak-anak kecil
kan gak bisa seperti muda dulu. Akhirnya
saya putuskan buka di rumah. Iya. Itu
pertama itu ragu Mas. Mosok toh jualan
di rumah arepe anu enek wong moro apa
meneh masuk gang kan yo aduh jauh dari
kota. Ya udah, saya prinsipnya gini yang
kali ini. Kalau memang ini rezeki saya
di buah, ini memang jodoh saya, gak usah
saya harus cari tempat di pinggir jalan
seperti dulu, orang pasti datang ke sini
nyari saya gitu. Saya prinsipnya
alhamdulillahnya langganannya nyari
beneran, Mas. Datang ke sini semua nyari
loh, Mbak sekarang jualan di sini toh
gitu. Nah, itu terus do datang ke sini.
Alhamdulillah ya. Alhamdulillah itu
dapat pelanggan yang baik semua, setia
semua. Keberuntungan saya itu Mas
termasukan. Nah itu terus saya buka
bikin grup reseller. Nah saya buka bikin
grup reseller. Dagangan saya saya
posting di bisa dijual lagi. Saya ambil
laba lebih sedikit separuh harga dari
ecer. Jadi saya bedakan untuk reseller
itu alhamdulillah banyak yang mau gabung
banyak resellernya sampai sekarang
omsetnya juga naik alhamdulillah sampai
sekarang. Kalau sekarang ada tiga outlet
yang satu di Pinka gapuro yang selatan.
Yang satu PINKA Utara timur jalan. Yang
satu di Plosok Kandang sama pusatnya
sini. Untuk sekarang alhamdulillah
omsetnya untuk sini ya. Kalau untuk sini
kalau paling sepi itu sekitar R juta
sampai 10 itu paling sepi ya paling
sehari. Kalau pas ramai pas ada buah
yang promo-promo itu bisa sampai 20 30
itu bisa profitnya kurang lebih R1 juta
sampai R2 juta bahkan bisa lebih, Mas.
10 sampai 40% bisa kok Mas tergantung
itu buahnya ya. Ya, kalau buah itu kan
tiap tahun itu pasti ada masa
lenggangnya ya, Mas. Masa lenggangnya.
Nah, sementara sayur itu kan gak tiap
hari pasti orang cari. Apalagi saya
inisiatifnya gini, apalagi kalau orang
jualan buah plus sayur. Pastilah orang
kan sekalian belanja. Nah, itu saya
mulai bisnis sayur itu tahun 2024
kemarin. Tapi belum anu, Mas. Belum
seintensif. sekarang masih kadang jualan
kadang gak gitu sayurnya kadang ada
kadang gak gitu. Nah, mulai telaten itu
saya jualan sayur masih 1 bulanan ini
ya. Alhamdulillah bagus saya yang kali
ini alhamdulillah bagus berkembang saya
telateni
itu ya. Kalau saya itu prinsipnya dagang
gini, Mas. Laba sedikit tapi cepat
habis. I karena buah itu kan buah kalau
sayur itu malah lebih cepat rusak, Mas.
1 hari itu harus habis. Kalau gak habis
dipromo atau
dibuang agar pelanggan itu tetap puas,
ya. Karena kan saya maunya itu dagangan
saya harus tetap terlihat fresh tiap
hari. Jadi kalau misal ada yang anu
langsung saya buang. Kalau sayur, kalau
buah itu ketahanannya 2 sampai 3 hari.
Ada yang 1 minggu. Kalau buah impor kan
1 minggu. Cuma kalau saya ndak telaten,
Mas. Buah saya laku lama-lama itu gak
telaten. Jadi kalau 1 hari 2 hari belum
begitu keluar banyak langsung saya
obral. Saya obral nanti kalau yang rusak
itu saya kupasi, saya irisi, saya buang
yang rusak itu saya jual sendiri gitu.
Yang gak layak saya saya buang. Kalau
buah gitu, Mas penanganannya tergantung
dapatnya. Kadang itu kena prank. Jadi
kalau buah itu kan belanjanya itu
berdasarkan kepercayaan ya, Mas. Buah
dan sayur. Gak bisa kita telepon terus
langsung datang sesuai dengan keinginan
kita. Kadang itu barang datang itu gak
sesuai keinginan. Jadi kalau aku tuh
lebih senang itu langsung ke sana,
langsung ke petani, langsung ke lokasi,
ke lahan atau langsung ke pasar cek
gitu, Mas. Kalau gak gitu nanti
persentasinya rusak itu bisa sampai 50%
bahkan bisa lebih. Iya. Pernah, Mas.
Enggak lah, Mas. Itu udah ya wis batine
itu kan pakai promo gak ada, Mas. Udah
doa sama yang di atas. Nah, mungkin
kalau aku itu nabungnya gini, Mas. Biar
ndak rugi banget ya. Saya sendirikan
misal kayak gaji karyawan tiap hari
berapa? Nah, misal karyawan saya 10 gitu
ya. Nanti per karyawan itu gajinya
berapa? Saya kalikan 10 itu nanti saya
sisihkan sendiri, Mas, uangnya. Terus
nanti uang-uang modal sama uang untuk
saya sendiri untuk keperluan pribadi
juga saya sisihkan. Jadi saya ada
bukunya itu kecil-kecil sendiri gitu.
Nak ndak ndak pendapan segini langsung
saya tabung semua terus nanti saya ambil
itu ndak saya anu kasihkan buku-buku
sendiri kecil gitu dompet-dompet kecil
gitu. Jadi nanti saya bukanya tiap bulan
profitnya berapa. Karena kan kadang
kalau pas dapat buah yang jelek gitu kan
ambil modal lagi kan gitu minusnya buah
itu gitu. Nanti kalau pas datangnya
ternyata gak sesuai apalagi ee harga
buah kan enggak stabil. Misal hari ini
dapat harga Rp10.000 ternyata besok
harganya turun Rp8.000. Nah itu kan udah
mati kutu dulu kan sebelum main.
Akhirnya kan harus ikut harga terbaru.
Kalau seperti itu kan otomatis kan rugi
ya Mas. Nah, itu baru tak ambilkan dari
uang modal itu. Tapi saya jualan yang
kali ini saya usahakan nak jangan sampai
hutang, Mas. Paling ada hutang cuma sama
beberapa pembeli nak sama beberapa
penjual gak seperti dulu Mas. Kalau dulu
kan semua penjual yang mau ngajak kerja
sama mau nitipkan dagangan, oke saya
ambil. Kalau sekarang gak, cuma ada
beberapa saja paling satu dua orang.
Selebihnya itu langsung eh sendiri dari
modal sendiri. Iya, dalam bentuk dalam
bentuk uang. Iya. Saya sebisa mungkin
menghindari riba sampai sekarang gak ada
utang sama sekali gak? Kalau utang riba
gak ada, Mas. Paling dalam bentuk barang
aja. Cuma satu dua orang saja, Mas yang
benar-benar bisa saya andilkan, gitu
loh. Kalau banyak-banyak mumet nanti.
Menghindari riba itu. Saya belajar dari
dulu kan pernah utang riba sama bank
titil itu malah semakin terjerat. Nah,
itu saya hindari sekarang. Nah, kalau
limbah sayur itu yang masih bisa
diolah buat pakan ternak. Kalau yang
udah parah-parah dibuang. Baru dibuang.
Iya. Sama. Sama buat pakan ternak.
Paling kalau saya kan mertua ada
beberapa kambing di belakang. Jadi ya
itu bat itu banyak, Mas. 20 varian
lebih. Lebih. Iya. Paling ya 30 40 20 30
Oh ya buah apa? Salak. Salak. Iya salak
1 hari itu busuknya sudah banyak Mas.
Kan kalau musim itu saya bisa datangkan
1 2 ton bahkan sampai 5 ton ya kalau pas
musim pas murah gitu. Nah itu sehari
harus habis. Kalau gak gitu besok
rusaknya bisa satu kental sampai 2
kentol per hari itu rusak.
Iya apalagi kalau musim hujan lebih
banyak lagi nanti rusaknya.
Salah itu lebih rentan. Kalau yang masa
masa segarnya lama itu apokat. Cuma
kalau apokat kan kalau udah matang harus
cepat habis. Kalau gak gitu rusak nanti
alhamdulillah. Karena kan itu tadi saya
[Musik]
onlinek-an biasanya orang-orang yang itu
Mas ee lagi sakit kena DB itu biasanya
kan kalau orang-orang sakit itu kan
bingung ya Mas cari tempatnya. Nah
sementara saya kan tiap hari saya
onlinekan saya tawarkan di platform ya.
Alhamdulillah itu dapatnya pembeli dari
sana. Jadi semua buah yang saya online
onlinekan itu buah yang ready. Prinsip
saya itu gini, harus ada barang dulu
baru diposting. Jadi kan saya kan online
dan offline ya, Mas. Kalau cuma online
mungkin sama preorder bisa, tapi kalau
ada offline-nya kadang habis diposting
itu orang langsung datang, Mas. Nah,
kalau barangnya ndak ada akhirnya kan
mengecewakan. Wis ndak balik, Mas. Gitu
tibakno ndak enek akhirnya ndak ndak
jadi ke sini lagi. Jadi saya ambil ke
senengannya pembeli itu dari sana.
Barang harus ada dulu baru diposting.
Kalau sekarang Facebook, Instagram,
TikTok, WhatsApp. Saya bikin konten,
Mas. Tiap hari ya. Jualan buah nge-live
gitu ya. Live TikTok tiap hari sebisa
mungkin pasenggangnya gitu. Kalau konten
buah itu paling sehabis buah datang ya,
sehabis saya belanja, saya bikin video,
saya upload langsung tanpa
edit-edit. Saya ndak ndak telatan, Mas,
ngedit-ngedit. Jadi, habis dibuat video
langsung saya posting gitu. Nanti paling
saya foto baru diposting di WA gitu.
Saya reviewkan buahnya. J gitu aja ya.
Sesederhana itu ya. Iya. Sesederhana itu
gak ngedit-ngedit dipakaiin apa gak
enggak telat Mas. Soalnya kan buah kan
kalau saya dagangan saya itu ya kadang
sehari bisa datang tiga klotter dua
kloter gitu. Jadi nanti kalau nunggu
ngedit gak nang-endang laku Mas.
Akhirnya ya itu pakai jurus lama aja
habis di-review langsung posting gitu.
Sudah luar kota Blitar ada beberapa
Trenggal ada Kediri juga ada. Kadang itu
pelanggan-pelanggan dari luar kota itu
datangnya kalau postingan saya viral di
TikTok, di Facebook itu kan penasaran
ya, Mas. Akhirnya datang ke sini
alhamdulillah ada yang beberapa sampai
langganan gitu. Ada beberapa juga kan
kadang saya kalau datangkan buah pas
murah gitu kan saya groser juga. Ada
beberapa pedagang juga yang langganan ke
sini untuk sekarang. Kalau kirim ya tiap
hari kirim ecer, Mas. Saya kalau untuk
grosir, untuk penjual yang mau pulakan
di saya itu tak suruh langsung ke sini
biar tahu dulu barangnya, biar dilihat
dulu. Nanti kalau senang, kalau marem
baru dibeli. Saya prinsipnya gitu, Ndak.
Jadi ndak mau pesan berapa saya sisihkan
gitu. Ndak disisihkan kalau orangnya
sudah benar-benar sing wis kulino rene
lah,
Mas. Rasa syukurnya lebih besar ya.
Alhamdulillahnya saya
bisa ee merubah keuangan keluarga,
terutama orang tua saya yang dulunya
buat makan saja harus pinjam-pinjam dulu
ke tetangga uangnya sampai bingung mau
ngembalikan. Alhamdulillah sekarang ee
bisa
tercukupi gitu, Mas. Alhamdulillahnya.
Terus ya alhamdulillah anak-anak saya
bisa terbeli barang-barang apa yang dulu
saya ndak bisa beli
gitu. Kalau aku cita-citanya pengin
mengumhkan orang tuaku, orang tua dan
mertua semuanya karena mereka adalah
semangat hidupku, Mas. Ya, umrah, haji
harus itu. Saya sebelum
punya segalanya harus mereka harus
senang dulu kalau princip saya, Mas.
orang tua, keluarga itu harus senang
dulu sebelum saya gitu. Kalau prinik
saya itu maremne wong tuek disik lah,
Mas. Jadi saya kalau punya misal dapat
rezeki banyak itu yang saya senangkan
dulu orang tua, mertua, mertua, ibu,
bapak saya ajak jalan-jalan saya belikan
misal pengin apa gitu saya tanyakan
pengin jalan-jalan ke mana gitu. Orang
itu apa toh, Mas mintanya? Paling juga
bisa kumpul sama anak-anaknya aja toh,
jalan-jalan bareng gitu. Paling gak
minta apa-apa. Harus konsisten,
tekadnya, harus kuat, harus ulet, gak
boleh gampang menyerah. Betul ya. Semua
ada masanya. Harus percayalah sama yang
di atas, percaya sama
Tuhan. Perbanyak doa aja. Oh, pernah,
Mas. Pernah. Dulu kios kiosku yang di
ngeledek itu sampai disebari bunga kan
pas pertigaan toh Mas. Tusuk sate pernah
disebari pas rameai-ramainya sebari
bunga tusuk sate sampah pernah Mas.
Sampah satu pikep paling kalau
dikumpulkan itu pernah malam-malam
disebari gitu. Tapi saya kan prinsipnya
gini kalau misal ada orang yang gak
senang itu jangan minta ke sesama
dukun. Mintanya sama yang kuasa. Iya
kan? tetap harus berdoa, perbanyak
ikhtiarnya, perbanyak tahajudnya,
wirannya gitu. Perbanyak sembahyangnya
lah nggih. Tiap malam itu bangun wiritan
gitu, wiran salat gitu. Kalau saya, Mas,
nanti kalau ada beberapa rezeki lebih ya
bersedekah gitu. Kalau saya prinsipnya
cuma gitu, Mas. Gak ada yang lebih. Gak
mau cari-cari yang lain-lain yang
aneh-aneh. Saya Nimas owner dari Berkah
Rejo Mulyo yang beralamat di Dusun
Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Welangu,
Kabupaten
Tulungagung. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Yeah.