Dulu Tidur Beralaskan Kardus, Kini Punya Bisnis Kopi Bernilai Miliaran
2AC86WCxP9k • 2025-05-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Jadi kalau di finance saya 12 tahun, di
terminal Arjosari Malang itu saya 18
tahun. Ngapain, Pak? Jari nyemir sepatu,
jual koran, dan jaga toilet. Jaga
toilet. Oh, seriusan? Serius. Dan itu
saya sudah pacaran sama mantan pacar
saya ini. Kok mau, Bu? Nah, itu
Heeh. Pak di jadi terminal gitu ya.
Jadi, betul. Jadi tidur beralaskan
kardus, kardus, kumpul sama teman-teman
ya tukang cuci, tukang copet, waria, PSK
di terminal itu. Simpul-simpul di mana
petani kopi kan saya tahu itu saya
hubungi. Akhirnya 1 hari dari 20 kilo
itu saya berkembang menjadi 2 ton 1
hari. Akhirnya bisa menjadi satu truk 1
hari. Nah, itu terus berjalan dan itu
perputarannya satu hari kita bisa
keuntungannya dari R juta bisa sampai R
juta per hari. Hari hari.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Kembali lagi di segmen
Guayeng. Eh, sahabat pecah telur, kita
kedatangan tamu yang jauh dari
Bondowoso, couple planner ini, Pak Dani
dan Bu, selamat datang. Berarti sebutnya
apa, Pak Dani jenengan ya? Pengusaha
kopi atau petani kopi? Lebih tepatnya?
Petani kopi. Oh, lebih ke petani kopi
ya? Petani kopi. Bukan pengusaha kopi.
Ke depannya insyaallah.
Oh. Oh, padahal sudah ada produk kopinya
loh ya. Ini masih petani kopi. Iya. Iya.
Petani kopi. Petani kopi. Kalau Bu?
Kalau saya pendidik. Pendidik. Iya.
Kabel pan juga tapi ya dikopi ya. Iya.
Heeh. Dan yang kita bahas ini tentang
bagaimana perjuangan bisa memiliki kopi
10 hektar, Pak. Ya, kurang lebih. Wah,
masyaallah. Kalau background-nya dulu
apa memang sarjana pertanian atau
seperti apa, Pak? Kok
kemudian terdampar di dunia kopi
terdampar terdampar?
Saya sarjana investasi keuangan.
Investasi keuangan. Sarjana administrasi
keuangan. Administrasi keuangan. Oke.
Oke. Istri juga sama. Cuma habis lulus
2003 saya ngajak istri untuk ngambil
akta mengajar. Iya. Ee untuk bisa ngajar
di sekolah. Karena kita bukan sarjana
pendidik. Untuk
bisa ngajar di institusi sekolah harus
punya
sertifikat pengajar. Hm. Itu nambah 1
tahun di UM. Nah, UM Malang ya. UM
Malang. Jadi istri yang kecantol jadi
guru sekarang. PNS guru. Alhamdulillah.
Saya
agak nyelenai sedikit ke pertanian. H.
Setelah 12 tahun hampir saya di finance.
Oh, dulu di finance. Dulu finance.
Oke. Apa dulu, Pak, finance-nya, Pak?
Setelah lulus itu saya di Adik Motor
dulu. Finance yang khusus membiayai
motor Cina. Hm. Terus kita sempat
sebentar di Busan Autfinance. Terus
terakhir kita di Adira Mobil. Terakhir
saya ngantor di Adira Mobil Gajah Mada
Jember. Oke. Memutuskan di kopi itu
karena apa dulu? Kok kan jauh banget ya
dari finance ke pertanian. Iya.
Pendidikannya sih masih nyambung ya.
Kalau pendidikannya kan masih nyambung
sama kerjaan awalnya. Habis itu kok
keekopi? Belajar wirausaha itu semenjak
saya kuliah. Oke. Jadi kalau di finance
saya 12 tahun. Di terminal Arjosari
Malang itu saya 18 tahun. Ngapain, Pak?
Jari nyemir sepatu, jual koran, dan jaga
toilet. Jaga toilet. Oh, seriusan?
Serius. Dan itu saya sudah pacaran sama
mantan pacar saya ini. Kok mau, Bu? Nah,
itu. Heeh. Pak di terminal gitu ya. Jadi
betul. Jadi tidur beralaskan kardus
kardus kumpul sama teman-teman ya tukang
cuci, tukang copet, waria, PSK di
terminal itu. Cuma saya tidak merokok,
saya tidak juga minum dan itu dihormati
sama teman-teman. Hm. Jadi saya itu
kalau ada teman-teman mabuk, saya yang
bagian ngerumati. Ngumati. Oh iya ya.
Nah, termasuk kalau ada teman-teman
bermasalah sampai di penjara, saya
tukang kirim ke penjara.
Oh, gitu. Jadi, jadi saya nikah 2005,
saya baru keluar di terminaljosari itu
2018. Jadi, saya punya satu orang
malaikat selain ibunda saya itu namanya
Pak Wurianto sama Bu Urianto. Beliau
adalah wakil Bupati Malang waktu itu
yang mendidik saya untuk mempunyai
mental seperti sekarang. Jadi saya
dikuliahin, saya dimasukkan
lembaga-lembaga kursus, saya dikasih
kerjaan. Salah satu kerjaannya jaga
toilet itu. Oke.
Tapi yang namanya integritas, kejujuran
itu nomor satu. Jadi biarpun saya anak
terminal, setiap selesai semester saya
harus setor kartu KHS. Kalau ada nilai
jelek habis kita. Hmm. Nah, kalau ini
Pak, saya itu identiknya sama orang
terminal, anak yang hidup di jalanan.
Itu kan memang yang stigmanya yang tadi
itu yang yang minum yang negatif. Tapi
kalau Pak Dani kok bisa enggak malah
katut gitu, Pak. Bahkan malah yang
ngerumati teman-teman itu yang bisa jaga
Pak Dani sekuat itu waktu itu apa, Pak?
Ee saya punya seorang ibu dan seorang
punya nenek itu seorang pejuang. Kakek
saya seorang pejuang gitu. Giih. Kakek
saya seorang pejuang dan nenek saya cuma
pesan satu, lek kowe pengin mulya uripmu
indarono mau liimo ya toh. Iya. Apa aja
maimo itu madon kayak gitu mabuk iku
indar rono. Apa aja tadi Pak kalau
madad? Mad itu apa ya Pak? Madad itu wis
pokoknya perbuatan jelek lah ya. Mabuk.
Mabuk. Minum madon ya. Madon itu
perempuan permain perempuan terus main
judi macam-macam satunya saya lupa itu
harus dihindari. Oh. Nah, itu yang saya
pegang.
Terus saya menjaga nama keluarga di desa
itu. Kakek saya punya nama yang disegani
paling enggak punya nama baik. Terus
saya saya ditinggal ayah saya umur 18 18
bulan.
Tapi saya mempunyai cerita dengar ayah
saya ini punya cerita baik. Nah, ini
yang ingin saya jaga. Biarpun beliau
sudah wafat duluan, tapi saya ingin
membang membangakan ayah saya.
lewat anak-anaknya gitu. Hm. Terdampar
di terminal itu karena apa, Pak? Ya,
karena saya diajak disekolahkan dan
dimasukkan lembaga-lembaga kursus oleh
Pak Wabub itu. Dan Pak Wabub itu punya
usaha MCK di hampir semua terminal di
Hm. Malang. Malang. Dan itu rata-rata
kami disekolahkan semua. Kenalnya dari
mana dulu? Kebetulan Bu Wuryanto itu
sepupu ibunda saya. Oh, ada saudara.
Iya, ada ikatan saudara. Tapi sudah
bukan hanya saudara, bagi saya bagi saya
ada beliau adalah malaikat hidup yang
merubah hidup saya. Saya masih pengin
penasaran tentang kisah terminal ini ya,
Pak, ya. He. Kok bisa waktu itu enggak
minder, Pak? Ee ketemu Ibu Iya. Terus
tetap kuliah. Padahal misalnya itu
dianggap ee pasti juga enggak lepas dari
diremehin orang. Heeh. Itu yang bikin
Pak Dani enggak minder posisi itu tuh
apa, Pak? Perjalanan enggak ngerti juga.
Yang penting saya gak malu. Enjoy aja,
enjoy. Karena saya di terminal waktu itu
kalau hanya untuk makan dan biaya kuliah
itu saya lebih-lebih saya lebih-lebih
nyemir sepatu itu kalau nyari uang
Rp50.000 1 hari bisa gitu. Jaga parkir
bisa. Apalagi yang saya cari gitu. Semua
ada orang-orang baik di sekitar saya
gitu. Jadi saya tahu benar efek orang
minum seperti apa, efek orang nyedot
ganja seperti apa. Saya tahu benar gitu.
Karena saya kumpul sama anak-anak itu
tiap hari. Tetapi dari semua yang ada di
terminal itu tidak semuanya itu jelek.
Ada anak-anak yang masih punya orientasi
pemikiran untuk lebih maju ke depannya.
Hm. Jadi saya masih punya teman yang
sekarang kerja di Freeport, alumni
terminal.
Saya punya teman yang sekarang juga jadi
salah satu manajer Bank BUMN itu alumni
terminal. Oh, gitu. Oh, manajer ya?
Analis kalah, Pak. Analis. Analis kalah.
Ini analis, Pak. Staf itu jauh.
Mohon maaf ya. Saya zaman kalah sama
alumni terminal, Pak. Tapi yang banyak
sekarang adalah banyak yang jadi
wirausahawan, ada yang jadi sopir,
bahkan masih tetap ada di terminal.
Masih ada. Tapi sekarang terminalnya kan
kondisi sepi dengan setelah COVID
dihantam COVID terus dihantam era
digitalisasi
banyak Gojek Gokar ini kan terminal lek
tahun di bawah tuan 2000 terminal Josari
itu kan 24 jam. Heeh. Heeh. Heeh. Jadi
mentalnya malah kebentuk dari situ ya.
Jadi kalau yang anak kuliah itu bawanya
tas dipek yang kecil-kecil saya bawa
apa, Bun? Tas karier. Tas karier isinya
apa, Bun? Yang dustter, sandal. itu
jualannya itu. Iya. Habis kuliah saya
buka lapak di depannya UNU Malang, terus
di depannya UMM ya eh UM Malang di depan
Brawijaya. Bahkan kita punya komunitas
kalau misalnya fakultas-fakultas itu ada
pameran kita ikut pameran 3 hari. Nah
itu jadi kita punya link itu kita
belanja ke Tanah Abang, kita belanja
sepatu ke Cipadoyut. Nah, mental-mental
seperti itu yang ingin kita tawarkan ke
anak didik terutama anak didik istri
saya. maksudnya kan ya anak terminal ibu
gitu. Ibu juga anak terminal juga atau
bukanak ya aja kok iya benar apa gitu
nyambungnya di mana gitu loh. Ee kalau
saya lihatnya Pak Dani itu kan di kampus
gitu. Oh teman kuliah? Iya, teman kuliah
kita sama-sama saingan kalau masalah
pelajaran apa iya pokoknya wis
ee kalau kita ujian siapa yang keluar
dulu terus kadang kan ngasih jawaban ke
teman-teman kayak gitu mungkin kok ada
apa ya cowok pintar gitu ya
walaupun anak apa terminal pintar Pak ya
jadi anak terminal yang sedikit
akademisnya lebih maju dari yang lain
Jadi dulu kalau kita ujian itu, Mas,
ujian semester itu kita kan punya grup
geng hijau itu ada sekitar 20 anakan.
Jadi saya di grup itu di grup itu tidak
boleh ada saling menyakiti, tidak ada
oleh semon-semonan. Pacaran aja enggak
boleh kalau kita mamanya keluar ke mana
gitu. Enggak boleh maksudnya. Heeh.
Enggak boleh pas. Oh, kok enak ngeterna
awakmu tok itu.
Jadi kalau waktu boleh pacaran di luar
itu tapi waktu kumpul saya sama istri
ini milik bersama dalam artian gak boleh
kon oh mojok dewe gak bolehak boleh.
Jadi kita gitu. Iya iya. Jadi rival
malah awalnya rival ya bisa dibilang
kalau enggak berani enggak berani itu
berdebat sama tim kita kalau kalau
urusan pelajaran.
Jadi dari situ terus ke finance. Nah,
terjun ke kopinya gimana tuh, Pak? Iya,
kalau terjun ke kopi itu dimulai sejak
belajar
2 11. Saya sudah dari hasil tabungan
kita jadi karyawan finance, kita sewa
sawah gitu, kita tanami tembakau, kita
tanami padi ya, kita coba nanam cabe
juga gitu. Nah, situ kan berproses. Nah,
saya belum keluar itu. Jadi, keluarga
kami itu punya
kegiatan start jam maksimal jam .30
sudah bangun semua. Karena ibundanya
beliau ini sampai sekarang jam . pasti
bangun sampai subuh. Kita coba membuka
usaha besi tua. Eah, di finance itu kan
kita berkumpul dan ber interaksi dengan
hampir semua pelaku usaha. baik di
sektor pertanian, perdagangan, ya,
wirausaha itu yang
yang kredit-kredit mobil. Nah, kita
bertanya itu ya apa cash flow-nya,
perputarannya ya apaan. Kebetulan saya
senang riset gitu loh, HPP-nya
berapaan. Di 2011 kita tanam tembakau
itu kita dapat keuntungan bisa beli satu
sawah, satu petak lahan sawah. Nah, dari
situ kok enak gitu. Terus habis gitu
2013 saya ditawari kebun kopi. Nah,
kebetulan kita di Finan kan kita sering
saya sudah megang head collection Adira
itu dari enam kabupaten dari Lumajang
sampai Banyuwangi itu head
collection-nya saya. Nah, di situ tak
lihat kopi ini enak banget gitu loh.
Beli sekian dijual sekian. Apalagi kalau
kita punya sampai diseduh gitu.
Untungnya berlipat-lipat banget. Saya
praktikin. Saya praktikin. Akhirnya saya
memutuskan untuk waktu itu pinjamlah
pinjam uang bank juga untuk beli itu dan
gak disapa 3 bulan sama istri. Hm. Nah,
pinjam yang nota B ini kan istri
dengarnya kalau kebun kopi satu banyak
malingnya. Iya. Terus saya enggak ada
background pertanian kok moro-moro tuku
kebun kopi sing kebun kopinya rusak
lagi. Iya. Iya. Nah, tapi saya punya ini
punya potensi ini akhirnya belinya waktu
itu Rp65 juta su tanah sertifikat tapi
kan masih murah karena tanahnya miring
kan itu saya perbaiki sama biaya
perbaikan kurang lebih hampir R jutaan
saya biayai. April saya beli 2013
Juni. Juni. Juni. 2 bulan setelah kita
beli itu kita dapat sekitar 4 sampai 5
ton kalau gak salah. Waktu itu masih
R5.000 dulu masih harga Rp5.000.
Masih harga R5.000 waktu itu per kilo.
Kilo. Murah banget ya. Murah banget.
Nah, terus kita coba kita proses dan
saya mulai belajar bagaimana sih
memproses kopi yang bagus. Kita baca,
saya kebetulan saya senang baca orang,
kita baca literasi sambil
kita silaturahmi seperti ini. Saya di
Bondowoso itu sampai cari siapa sih
tukang proses kopi yang bagus di
Bondowoso di Jemur itu tak
silaturahmi. Nah, berawal dari situ saya
kenal gudang saya kirim 20 kilo waktu
itu. Akhirnya kok ditafar lagi, "Bapak
bisa
enggak kirim lebih dari ini? Karena
proses Bapak bagus." bisa. Tapi saya
terkendala modal. Heeh. Ya, kalau modal
akan saya pinjami sama gudang. Tapi
tolong buatkan kopi yang kayak begini.
H. Nah, dari Link Adira yang dari enam
kabupaten itu akhirnya saya kan banyak
ketemu mulai Lumajang, Probolinggo ya,
Banyuwangi, Jember itu mulai
simpul-simpul di mana petani kopi kan
saya tahu itu saya hubungi. Akhirnya 1
hari dari 20 kilo itu saya berkembang
menjadi 2 ton 1 hari. Akhirnya bisa
menjadi satu truk 1 hari. Ah, itu terus
berjalan dan itu perputarannya 1 hari
kita bisa keuntungannya dari R juta bisa
sampai R juta per hari. Hari hari itu
dari proses kopi aja berarti dari
proses. Karena kalau 1 hari itu kita
bisa didatangi 5 sampai 10 ton biji kopi
dari petani petani yang tadi dikumpulkan
yang kita ngirim sama dari luar daerah
itu yang sudah semi jadi. Oh, semi jadi
itu kalau kita ngambil untungan Rp1.000
aja per tahun tonnya.
kan cash flow-nya ngeri banget. Nah,
dari situlah saya bisa nambah tabungan,
saya bisa nambah perluasan kebun. Nah,
saya bisa berbagi sedikit ke
murid-muridnya yang katanya yang katanya
istri saya ini agak nakal tapi saya ini
juga anak terminal sampean kan. Tapi
enggak semua anak yang nakal itu tidak
potensi gitu. Karena untuk sukses orang
enggak harus pintar bahasa Inggris.
untuk sukses orang gak perlu pintar
bahasa Mandarin gitu, tapi adalah
passion-nya dia di mana dulu kita ikuti
gitu loh. Ada namanya Mas Bahrul,
sekarang boleh dilihat di IG-nya itu
Setiakawan Entertainment itu kita modali
R juta itu. Iya. Sekarang asetnya hampir
R miliar. Itu di Bondowoso juga apa
maksudnya? Murid. Murid yang itu mungkin
3 tahun paling bawa buku satu biji
selama 3 tahun muridnya Bu ya. Jadi dia
itu kalau pelajaran saya bilang nol.
Nolnya bukan kecil tapi besar. Nolnya
besar nolnya besar. Tapi saya lihat anak
ini punya potensi kalau disuruh guru itu
cepat sigap tangkap noh. Terus waktu itu
dia punya pemikiran untuk punya
usaha rental tenda tenda penganten gak
punya uang. Akhirnya ngomong ke istri,
"Barulu loh kok wani-wanine nyilih kate-
nyilih duit kate anu aku wani lek sampai
enggak wani aku sing nyili." Oh, awalnya
pinjam ke ibu. Iya. Iya. Kan gini, ini
ada ee tenda dua lokal mintanya R7 juta,
Bun. Loh, iya dah. Yang penting kamu
yang jalanin. Kalau saya yang suruh
jalanin, saya enggak mau. Ini aja sudah
penuh saya gitu. Kalau kamu mau, ya
sudah kamu jalanin aja. Saya gitu.
Akhirnya bapaknya berani. Nah, tak saya
ajari setiap bulan perkembangannya kita
lihat terus
dia ngasih ini untungnya saya ambil tapi
saya kembalikan. Tak kembalikan beli
bahan baku lagi kembangin e sampai
berjalan berjalan-jalan. Sekarang bukan
hanya tenda, tapi sekarang sudah sound
system ya, lighting, dekorasi gitu.
Bahkan wilayah kerjanya bukan hanya di
Bondowoso lagi, sudah merambah
Mojokerto, Madura, Banyuwangi. Bahkan
event-event besar sekelas konser-konser
artis dari luar Bondowoso bisa dihandle
sama dia. Hm. Padahal tadi ceritanya
enggak cuma nol kecil, tapi nolnya besar
ya. Tapi kalau dengan prosesnya sampai
sekarang perkembangannya yang bagus
banget ini kan sebenarnya dia pintar ya,
Pak, Bu. Iya. Heeh. Yang kalau menurut
Ibu yang menonjol waktu zaman sekolah
itu beliau bagian apanya, Bu? Padahal
nilainya gitu. Tapi kalau nilainya sih
enggak ada ya yang menonjol dia mungkin
kalau ke guru tuh apa? Tawadu ya. Heeh.
Gitu. Jadi ee kan k ee pada apa itu kita
ada pameran ya di Malang. Saya coba kan
saya itu bawa HP pokoknya kamu bisa jual
saya gitu nanti kamu dapat Ve. Ternyata
dia belajar. Kadang kan anak-anak itu
belajar dari oh itu loh kayak Bunda itu
loh kalau jualan kayak gini coba se ayo
gitu seperti itu. Berarti bisa dibilang
mungkin masalah minat mungkin waktu pas
pelajaran. Betul. Jadi minat terus
mental untuk siap gagal gitu. Mental
untuk mau berkomunikasi dengan semua
orang gitu. bagaimana dia menempatkan
posisi bertemu dengan siapa dia
berkomunikasi itu kan harus beda. Saya
ketemu kan jenengan kan posisinya harus
beda. Nah, jenengan akan beda kalau saya
ketemu sama petani-petani saya. Saya
bisa makan tanpa cuci tangan gitu. Saya
bisa makan hanya dengan lauk ikan asin.
Nah, saya bisa makan bahkan tanpa bawaan
nasi. Jadi misalnya enggak bawa kita
hanya bakar pisang kita makan itu bisa.
Nah, ini tempat cara-cara seperti ini
yang akan kita terus tularkan ke
anak-anak muda Indonesia. Bahwasanya
Indonesia ini kaya banget gitu. Untuk
maju tidak harus menjadi seorang
karyawan, untuk maju tidak harus menjadi
seorang
pegawai. Berwirausaha dan jangan dimulai
dari yang mewah, dimulai dari yang
sederhana. Itu yang harus terus kita
tekankan. Iya, betul. He. Saya juga
sering dengar ee dari teman Pak Dani.
Jadi bahwasanya Pak Dani ini suka nolong
orang katanya.
Ada juga yang yang awalnya mabuk-mabukan
ya, Mas ya, kalau enggak salah. Taburan.
Tawuran. Mabuk-mabukan. Sekarang juga
jadi pengusaha sukses. Iya. Gini,
kalau harimau aja yang disebut Raja
Rimba itu punya
hati. Manusia yang sudah tercipta
menjadi seorang pemenang. Benar. Lewat
sel sperma ayahanda kita
yang masuk sel telur ibunda kita.
Saya yakin sekeras-kerasnya hati manusia
itu bisa ditaklukkan dan bisa diarahkan
ke hal-hal yang benar. Tadi saya ngomong
sama Pak Kades yang sekarang ikut ke
sini ya. Jadi intinya di mana kita
berkumpul di situlah aura yang akan
muncul. Tetapi kalau kita kumpul dengan
orang-orang yang beraura
negatif negatif ya diri kita yang akan
menjadi penentunya bagaimana diri kita
memfilter untuk memilah dan memilih mana
aura positif yang harus kita ambil dan
bagaimana kita mengalahkan aura negatif
dari orang-orang itu. 18 tahun saya di
terminal lolos dari minuman keras, lolos
dari narkoba, lolos dari rokok. Rokok
pun tidak. Rokok itu saya setelah saya
ngopi dan ini baru 2 3 tahun terakhir
pasti terminal malah enggak gak ndak
ndak minum nak ngopi-ngopi aja nak jadi
saya waktu kuliah kalau ada teman ngopi
kopi itu disembunyikan malah karena apa
saya minum kopi kayak minum air putih oh
iya iya jadi disembunyikan ya jadi kalau
peminum kopi itu kan dikit dikit sambil
ngerokokan jadi saya itu kuliah gak
ngerokok gak ngopi gitu karena saya hobi
sepak bola waktu it kalau tipsnya Pak
Dani menghadapi ee orang-orang yang
punya pengalaman atau sekarang hidupnya
malah lagi negatif gitu untuk
mengubahnya itu yang dilakukan pertama
apa, Pak? Pendekatan persuasib.
Pendekatan persuasif. Sebenarnya mereka
tuh pendekatannya melalui apa dulu, Pak?
Kalau Pak dan yang didekati contohnya
seperti apa dulu? Kayak yang tadi atau
contoh yang tawuran yang akhirnya bisa
bangkit, yang senang yang hidupnya
relatif. Saya contoh saya ajak
teman-teman itu kalau dulu biasanya itu
kan ada beberapa pengemis, ada beberapa
tukang ngamen. Iya.
Itu kan kadang rata-rata ada anak cewek.
He. Saya sampai hafal loh namanya Wati
dulu ya, Bun. Heeh. Wati itu satu
keluarga ngamis. Satu keluarga. satu
keluarga itu adiknya dia itu. Tapi saya
ngasih motivasi
ke deloken lah iku awakmu luwih
beruntung timbang beliaunya itu. Nah.
Hm. Bahkan saya pernah mukulin bapaknya
Wati itu karena Wati waktu itu gak dapat
setoran. Dia dipukuli sama ayah di
terminal. Akhirnya kok waktu itu tak
pegang. Loh sakit Mas. Kenapa no? He
sakit kenapa kamu? Sakit gak? Sakit tak
lihat loh. Sakitmu kenapa no? Coba buka
karena kan masih kecil dia. Iya pakai
apa? Gitar kecruk gitu. Gitar yang kecil
kan. Heeh. Heeh. Ken. Kenapa ini kamu
dipukul-pukul? Siapa? Bapak. Iya.
Kenapa? Setoranku kurang. Woh. Habis itu
tak kumpulin anak-anak cari bapaknya.
Hari ini kita sidang. Habis itu bapaknya
bola pimpong hampir seanu kepalanya.
Jadi saya ngumpulin anak-anak itu. Jadi
kita harus lebih bersyukur dari wati
gitu loh. Gitu loh. Jadi kalau kamu
boleh minum tapi tolong kurang ya.
Karena di terminal 18 tahun ada sekitar
orang teman cara juga meninggal sakau.
Dan kan bahkan terakhir kemarin saya
punya di HP saya masih ada grup arter
arek terminal. Are terminal itu masih
ada. Karena bagi kami persahabatan kami,
persaudaraan kami dunia akhirat. Sudah.
Wih. Dunia akhirat. Jadi setiap ada yang
sakit ada kita tetap saling komunikasi.
Kalau ada yang gak mampu ya kita saling
kalau yang mampu kita kirim support
support baik secara material maupun
moril kan. Heeh. Heeh. Jadi jadi
bersyukur gitu Pak. Bersyukur.
Bersyukur. Bersyukur yang ditanamkan
kepada teman-teman itu bersyukur.
Bersyukur syukur. Saya selalu bilang
juga ke keluarga saya, istri saya,
jangan
pernah menolak apa yang ada di depan
kita. Ya, ini memang hari ini kita bisa
makan hanya ya. Ini harus kita syukuri.
Saya isi saya kan gini, kalau kita ada
sate gitunya, wah ini ano kerupuk tambah
enak. Saya selalu ya iniwis.
Nah, jadi saya gitu hindari itu gitu.
Hindari itu hindari itu tak itu. Jadi he
syukuri apa dulu yang ada di depan kita.
Karena takutnya
takutnya yang di atas marah kan gitunya.
He heeh. Heeh. Termasuk apa yang saya
dapat sekarang ini di luar nalar saya
sebagai seorang anak terminal.
sebagai anak yang gak punya ayah dari
bayi itu kan terus sekarang bisa punya
usaha kenal beberapa menteri kenal
anggota dewan gitu loh kenal bupati
bahkan saya juga kemarin harusnya
tanggal 678 saya diajak misi dagang Ibu
Gubernur ke Kalimantan Timur tapi saya
tolak karena saya waktu pembersihan di
kebun belum selesai
gitu. Jadi intinya ke depan kualiti
kualitas bukan hanya tentang produk tapi
kualitas diri kita gitu. Kalau kita
ngomong jujur enggak usah jujur ke orang
tapi kita harus lebih jujur ke diri
sendiri dulu. Heeh. He he he. Kalau
menurut Pak Dani menilai diri sendiri
ini faktor apa sih, Pak, yang sebagai
pengungkitnya Pak Dani sehingga berada
di posisi ini? do
doa orang-orang baik di sekitar saya
gitu ya. Semakin kita sering berbuat
baik, insyaallah doa-doa orang baik itu
akan selalu menyertai kita.
Jadi malah bukan karena usaha, bukan ini
malah kalau menurut Pak Dani adalah
faktor orang-orang baik yang selalu
mendoakan Pak Dani. Betul. Betul. Ee itu
itu juga yang melatar belakangi namanya
doa kopi, Pak. Oh iya ya. Ini ini
produknya Pak Dani, Teman-teman namanya
doa kopi ya. Doa kopi. Doa doa kopi itu
sesungguhnya itu gabungan dari dua nama
kita. Oh, gitu. Dani dan Ofrida. Oh,
iya. Bu O dan Pak Dani. Iya. Terus anak
saya itu inisialnya A semua.
Cuma kita yakin apa yang kita raih ini
berdasarkan dari bukan hanya doa dari
saya dan keluarga, tapi do ada doa-doa
anak yatim yang setidaknya itu saya
ambilkan 20% dari penghasilan saya dari
bertani kopi. Kita enggak ngambil 2,5%
dari penjualannya, tapi 20% 20% Pak
20%-nya itu kita sisihkan.
Jadi di kebetulan di desa kami sekarang
anak yatim satu desa
itu setiap bulan kita doa bareng dan
kita berbagi. Kita gak pakai kata
santunan karena kata santunan
seakan-akan mengecilkan, merendahkan
banget beliau-beliaunya. Bagi saya kan
yang butuh barokah kita. Jadi kita pakai
nama berbagi kasih sayang dengan
adik-adik yatim. Nah, tapi sekarang saya
mundur dari itu karena apa? Donaturnya
sudah banyak. sudah
banyak diaruar itu yang tidak terjam
oleh donatur yang
terutama kita juga sekarang lagi fokus
di teman-teman yang kalau karena saya
muslim saya lebih dekat ke teman-teman
Hufad teman-teman yang penghafal
Al-Qur'an yang jadi guru ngaji di
ler-lereng gunung yang tidak terpantau
oleh negara gitu.
Padahal guru-guru ini secara ikhlas
mendidik
anak-anak desa untuk bisa mengaji dengan
benar dan betul. Jadi ini luar biasanya.
Jadi monggo kalau mau belajar kopi. Tapi
saya bukan ahli. Saya hanya sekedar
tahu. Masyaallah. Dan itu dari nol yang
bukan kecil. Nolnya besar.
Jadi jangan
ragu untuk maju untuk sesuatu yang benar
gitu. Nah, ini kalau lihat dari di sini,
Pak ya, ini kan ada kayak sebutannya apa
ya? Ini ada banyak stempel, ada indikasi
geografis, kopi arabikah ya. Ini ini Pak
ini, Pak. Nah, saya izin. Jadi, ini nah
kebetulan mudah-mudahan teman-teman
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual
hadir dan melihat podcast ini. Karena
saya juga salah satu binaan dari
Kementerian Hukum dan ini adalah logo
indikasi yang merah ini. Ini adalah logo
indikasi produk Indonesia. Jadi kalau
panjenengan ke luar negeri ada logo ini,
ini menandakan produk ini berasal dari
Indonesia. Oh, indikasi geografis.
Yang kedua ini adalah logo indikasi
geografis Kopi Arabika Hang Argopo. Jadi
ini kopi dari Kabupaten Bondowoso dari
lereng Gunung Argopo. Ini yang kalau
yang ini yang ngeluarin siapa, Pak? Yang
ini yang menteri juga Direktorat
Jenderal Kekayaan yang keluar. Jadi ini
sudah bersertifikat dan tidak bisa diaku
oleh oke kabupaten lain. Iya. H. Jadi di
Bondowoso itu adalah dua salah satu
penghasil kopi utama di Indonesia dan
sudah mempunyai dua sertifikat indikasi
geografis. Ijen Raung punya sendiri yang
logonya beda sama ini. Kebetulan kebun
saya ada di lereng Argopuro. Oh gitu.
Jadi ada sini yang ini yang mungkin
pernah dengar nama Bondowosa Republik
kopi ini dulu dicetus
oleh waktu bupatinya Kiai Amin Said Usni
beliau jadi presiden
republik Kopi Bondowoso. Nah, kalau ini
adalah izin Geop ini. ini UNESCO ya yang
dikeluarkan sertifikasi yang dikeluarkan
oleh UNESCO bahwasanya Bondowoso dan
Banyuwangi adalah salah satu destinasi
yang wajib dikunjungi oleh wisatawan
dunia karena di sana ada dua di antara
satu keajaban dunia. Jadi ada Blue Fire.
Blue Fire itu yang set saya tahu saya
mungkin saya perlu dikritik kalau atau
diingat salah satu di Islandia satunya
di Indonesia yang ada di Bondowoso. Oh
keren ya Bondowoso iya indah banget.
Terus Bondowoso megalitikum kan kalau
Bondowoso itu banyak peninggalan
megalitikum. Oke. Banyak
peninggalan-peninggalan megalitikum.
Berarti jauh sebelum kita ada zaman
prasejarah, Bondowoso sudah ditempati
peradaban. Heeh. Sebelum kita Bondowoso
ini kan punya keistimewaan tersendiri
ya, Pak. Sampai ada yang Argopuro sama
indikasi geografisnya. Iya. Inj. Jadi,
Bondowo. Jadi saya itu ada di grup
masyarakat Indikasi Geografis Indonesia.
Oke. Kalau Aceh ada Gayo. Gayo. Indikasi
geografis Gayo.
Kalau di Medan ada banyak juga ada
Mandailing ya. Terus di Bali ada
apa ndah? Bali. Kalau Bali Kintamani
Kintamani. Terus di NTD ada Kopi Bajafa.
Terus itu MPIG-MPG yang harus
dilindungi. Makanya rasanya kopi kopi di
Indonesia itu berbeda-beda dan mempunyai
cirik sendiri-sendiri. Dan ini di
sertifikatnya ada indikasi kaping note.
Kaping kaping skor dan ada bukan kaping
skor ada
narasi tesnya. Jadi kopi yang Argopuro
itu kalau Argopuro itu kapingnya spisi
ya. Jadi bau rempah terus karamelnya
tebal. Ah, itu salah satu yang Argopura
yang anu saya pasti jenengan langsung
merem itu. Ini kopi apa, Pak? Ya, kalau
yang ini itu Arabika wine proses hiang
Argopo. Wah, ini prosesnya jenengan.
Iya. Wah, siap. Bisa wis kita icipi ini
ya. Iya. Sambil diceritain, Pak. Tadi
yang wine proses itu gimana, Pak? Pokok
saya juga baru dengar itu tadi ada
kopi yang dari Bondowoso dan wine
Proses. Nah, salah satunya saya buat itu
adalah bagaimana saya mengajak
teman-teman yang non sewu yang notam ini
senang minum-minuman keras saya arahkan
ke kopi. Iya. Jadi aromanya ini
mendekati bau-bau alkohol memang tapi
non alkohol halal Pak ya? Halal ada ada
aman ada sertifikasi halal halal. Kita
icipin ya. Bismillahirrahmanirrahim. Gak
ini enggak ada alkoholnya memang ini
hanya fermentasi biasa. Heeh.
Ya memang merem ini, Pak. Jadi itu
minumnya harus harus
satu sloki di ditahan dulu di mulut.
Bentar ini tak tahan habis habis ditahan
ngapain, Pak? Ditelan. Oh ditelan ya.
Bukan membayangkan. Jadi hasilnya
diseruput. Nyeruput minum kopi yang
benar harusnya diseruput.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hm.
Hmm.
ini dominannya lebih karena
fermentasinya atau jenis kopinya, Pak?
Fermentasi dan jenis kopi. Dua-duanya.
Jadi, after-nya panjang banget itu.
Jenengan
podcast kita selesai masih ada. Masih
ada gak akan hilang itu rasa kopinya.
Terakhir-terakhir dark coklat yang
ketinggalan. Jadi yang terakhir-terakhir
rasa coklat hitam. Heeh. Heeh. Heeh.
Awalnya agak kecut tapi terakhirnya tapi
enggak pahit. I kalau kopi-kopi yang
biasanya sayaat ya itu pahit pahit tok
gitu loh ya. Ini ada coklat dan ini
setiap pameran di Jakarta produk ini
menjadi bestseller kami dan itu di
Shopee kita jual Rp15.000
per 200 gr. Siap siap siap. Jadi kalau K
jadi nilai kopinya itu 300% dari harga
kopi biasa. Oh itu carinya di Shopee
berarti doa kopi. Doa kopi nanti nanti
saya cantumin linknya berarti
teman-teman. Nanti saya cantumin linknya
di sini ya. Nanti beli di sini ya. Beli
di pecah telur gak apa-apa biar kita
dapat affiliate ya. Beli di kalau
dipecah kan bisa affiliate Shopee Pak.
Nanti produknya saya cantum-cantumin.
Teman-teman harus beli itu. Iya.
Bisa jadi partner. Oh siap. Siap. Bisa
partner. Dan boleh maklun.
Siap dengar senang hati. Boleh maklun.
Dengar senang hati gak apa-apa. Jadi dan
itu saya pastikan untuknya lumayan
banget. Lumayan banget. Nanti biar
studio kita makin bagus, Pak. Iya.
Karena kan penghasilannya bukan hanya
dari YouTube, tapi juga dari produk
UMKM-nya yang diundang. Sama-sama
menguntungkan. Ngih. Nggih, nggih. Oh,
gitu. Dan ini termasuk inovasi dong,
Pak, ya, tentang fermentasi kopi itu.
Saya baru dengar aja sih. Jadi sekarang
dengan masuk inovasi kemarin saya di apa
ya?
lomba ya lomba kan menaikkan nilai
ekonomis ekonomis kopi yang biasanya
dijual 1 kilonya itu 80 terus kami jual
400 eh R00.000 dan itu alhamdulillah
juara satu Jawa Timur saya juara satu se
Jawa Timur. Boleh tahu enggak Bu
inspirasinya kok kepikiran bikin gini
tuh waktu itu dari mana gitu? Ee iya,
support dari Pak Dani juga. Heeh. Ee
karena apa yang digeluti kan selama ini
kan sudah kopi gitu. Wis kan di GCC itu
ada
yang ee kategori kewirausahaan. Ya sudah
saya ngangkat untuk yang kewirausahaan
gitu. Oh gitu ya. Itu ee masuk inovasi
itu. Iya kan termasuk saya baru dengar
ini sih kalau tentang ada fermentasi
kopinya. Jadi ditambahi juga mnya kopi
ini sekarang kan jadi budaya sudah jadi
budaya gaya hidup jadi ya bagaimana
membuat rasa kopi yang berbeda dari yang
lain kalau kita pengin is dan kita
pengin repeat order repeat buying yang
banyak kita harus punya produk yang
berbeda
gitu kopi-kopi yang saya proses ini
tidak ada yang di luar kebun saya ini
semua dari kebun sendiri
Kecuali kalau yang kayak asalan, natural
asalan itu saya beli untuk untuk yang
untuk komersal grade. Karena kita
kulaan, kita kirim ke gudang itu kita
beli dari luar. Tapi kalau yang kita
buat untuk kita pack caging seperti ini,
itu betul-betul dari produk kebun
sendiri sehingga betul-betul kita rawat.
Saya ke kebun tiap hari juga memberi
salam, Mas. Jadi saya kalau seminggu ke
kebun itu kangen. Hm. He pulang saya
juga memberi salam ke ke kopi-kopi saya
ke meskipun enggak ada orang gama saya
kan termasuk tumbuhan hidup juga gitu.
Jangankan tumbuhan batu aja itu
sesungguhnya bagi saya bernyawa gitu.
Nah takutnya kan kalau saya enggak beri
salam saya lewat ke sandung kan gitu
gitu. Jadi saya yakin.
Jadi saya kalau gak pulang dari kebun
saya cuma wa ayah gak pulang
wa. Oh gitu. Tujuannya apa? Siapa tahu
saya mati mendadak kan itu. Jadi Oh iya
karena di hutan Mas. Oh yang masti
enggak pulang ke rumah dari hutan saya
enggak pulang biar enggak kepikiran kan
gitu. I jadi mudah-mudahanlah dari
wasilah kopi ini memberi manfaat. Amin.
Terus yang kita perjuangkan adalah
bagaimana kita terus mempropagandakan
bagaimana petani-petani kopi ini lebih
manfaat.
petani-petani kopi lebih manfaat
karena masih banyak petani kopi kita
yang petik sembarangan. Tidak menjaga
kualitas tapi masih memikirkan
kuantitas. Kuantitas. Kuantitas. Karena
dalam 1 ton biji kopi kalau enggak
dipetik merah itu petani kelilingan
kurang lebih Rp5 juta per ton. Kalau
enggak petik merah. Kalau gak petik
merah. Karena kopi merah itu kalau dalam
1 kilo itu kurang lebih 600 biji, Mas.
Hm. Kalau petik hijau itu 800 biji
lebih. Oke. Lebih banyak ya? Lebih
banyak. Dari
segi berat kalah, dari segi harga kalah.
Kopi hijau kan gak laku dijual di
kopi-kopi spesial. Iya. Nah, paling
lakunya kopi commercial gate yang
harganya Rp70.000 lah sampai Rp80.000.
Tapi kalau yang spesialti dalam 1 kilo
kan sudah di angka Rp100.000 lebih. Iya.
Nah, kalau misalnya dalam 1 ton petani
kopi itu petik hijau, dia kehilangan 2
kintal. H iya per tonnya. Nah, kalau
sekarang harga ceri kopi merah itu
R.000 gitu kan kalau dijual ceri dia
sudah rugi Rp3 juta. Iya. Nah, Rp3 juta
bisa untuk beli pupuk 1 ton.
itu kenapa kok orang petik hijau, Pak?
Apa waktunya gitu ya? Nah, ini tugas dan
peran pemerintah harus hadir. Saya
penginnya itu. Jadi, bagaimana peran
pemerintah membuat peraturan daerah yang
lebih jelas, yang lebih tegas untuk
melarang petik hijau. Bukan untuk me
menghakimi si petani, tapi bagaimana
menilai memberikan nilai tambah yang
lebih gitu loh. Terus bagaimana juga
memberikan ee punishment ke
pedagang-pedagang dan ee gudang-gudang
yang membeli kopi hijau gitu yang belum
tua gitu. Nun sewu, apukat aja di petik
hijau kan belum tua enggak enak.
Melahirkan aja kan harus 9 bulan. Kopi
ini juga gitu. Kalau belum merah dipetik
itu rasanya bukan kopi tapi rasa jagung.
Oh, karena kalau di bahasa barista itu
kalau di roasting itu ada namanya
quicker. Quicker itu kopi yang kalau
dirasa itu rasa jagung banget. Jadi
prematur itu. Prematur. Jadi itu masih
belum cukup umum. Bayangin kalau satu
Indonesia
ada Bondowoso aja ada sekitar 80.000
hektar h kebun kopi ya. 1 hektar itu
bisa menghasilkan rata-rata 4 sampai 8
ton ceri gitu. Kalau separuh aja dipetik
hijau gitu, berapa miliar h kerugian
petani gitu. Nah, inilah tugas
pemerintah hadir gitu. Nah,
sekarang Menteri Pertanian kita akan
keren ini. Saya sering ngikuti
YouTube-nya beliau juga keren banget.
Iya betul, betul. Iya, Pak Amran ini.
Pak Amran kapan-kapan kita undang ke
sini ya.
Saya tunggu ya undangan di pecah telur
ini, Pak.
tolong buatlah aturan untuk petik hijau
itu bisa berkurang ah lek bisa
ditiadakan dengan cara apa? Yaitu
pengawasan yang
lebih betul-betul lebih bagus gitu loh.
Kita kalah bagaimana dengan Thailand?
Kita kalah bagaimana dengan Vietnam.
Vietnam dulu belajarnya kopi ke
Indonesia Mas. Iya. Sekarang nyelip
Indonesia gitu loh. Nah untuk
teman-teman petani kopi bukan saya iri
ke panjenengan. untuk petik hijau gak.
Tapi saya ini sedih gitu karena
panjenengan setiap 1 ton akan hilang 3
sampai 5 juta yang mana 35 juta itu bisa
dimanfaatkan untuk kepentingan biaya
kebun. Heeh. Gitu. Bisa pupuk, bisa
pembeli pembenian apa obat-obatan
semprot bisa membayar tenaga kerja kan
itu. Jadi apapun kalau dilakukan dengan
baik insyaallah semuanya akan
menghasilkan lebih baik.
Siap, Pak. Suka duka petani kopi, Pak.
Apa suka dukanya, Pak? Dulu saya jadi
pegawai, berangkat pagi pulang malam,
apalagi kalau akhir bulan. He. Bisa anak
bisa enggak pulang pulang atau anak
berangkat tidur, pulang anak juga sudah
tidur. Tapi kalau di jadi petani ini
kumpul dengan keluarga lebih banyak.
Lebih banyak. H. Ya. Terus yang kedua
saya lebih mensyukuri hidup bahwasanya
Oh.
Allah ini ngasih rezeki
itu ternyata dari banyak arah gitu. Ah,
dukanya ya kalau hujan ya kehujanan.
Nah, ini kemarin nih tangan saya, tangan
saya sampai meletus. Itu kenapa ini
proning? Kita kita sambil meroning buang
tunas-tunas muda yang enggak anu pakai
gunting proning itu saking terlalu
semangatnya. Karena kopi kan sekarang
lebat. Iya, lebat. Tapi ya
alhamdulillah. Iya. I ini syukur yang
saya sampai sekarang mudah-mudahan nular
ke semua petani kopi gitu. Amin. Karena
intinya bertani kalau kita tekuni itu
luar biasa. Karena kan sekarang selain
kopi kita juga kembangkan durian.
Durian. Kita ngembangin enam jenis
durian. Terus kita juga juga di Bossa
Pak ya. Jadi di tengah-tengah kebun kopi
kita kasih durian. Terus kita juga
ngembang 11 variitas alpukat. H. Dan itu
luar biasa. Heeh. Jadi luar biasa banget
untuk petani
kopi. Rahasia anu, Pak. Biar jenengan
kan juga petani tapi bisa grut-nya luar
biasa gitu, eksponensial gitu ya. Dari
lahan pun tadi awal beli Heeh. sampai
sekarang bisa mengelola 3 eh 10 hektar
ya. Itu apa ee kuncinya, Pak? Satu, dari
awal kita buat produk berkualitas.
Setelah kita punya barang
berkualitas ee kita kan nanti bisa
daftarin untuk mendapatkan satu kita
punya sertifikat uji cita rasa itu bisa
didapatkan dari pusat penelitian Kopi
dan kakau Indonesia. Kebetulan kan dekat
di Jember. Jadi orang Indonesia mau
belajar kopi sesungguhnya ke Jember
karena di Jember ada pusat penelitian
kopi dan kakau Indonesia.
Nah, itu bisa jadi kopi ini dinilai
bagus itu ada sertifikat uji cita rasa
kaping skor kalau nilainya 85 ke atas
itu kategorinya sudah spesialti. H. Nah,
yang kedua kita bisa minta sertifikat
uji timbal. Kalau ke Asia Timur itu
sangat dibutuhkan sertifikat uji timbal.
Kita juga sudah punya itu ke Badan
Sertifikasi Nasional. Heeh. Heeh. itu
dengan data-data seperti itu kalau kita
pameran mau ikut pameran kita bisa lihat
di channel Instagram atau di website-nya
kementerian-kementerian baik pementerian
perdagangan, Kementerian Pertanian,
Kementerian UMKM kan setiap ada
pameran-pameran nasional beliau itu
pasti ngadain kurasi. Oh. Oh. Nah,
termasuk kemarin BI ngadain kurasi di
TIG di BI Jember itu ada kurasi di
Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.
Begitu kita lolos kurasi, kita akan
difasilitasi pameran-pameran itu. Baik
bisnis matching diketemukan dengan
bayar-bayar luar negeri gitu. Terus kita
difasilitasi untuk pameran-peran level
nasional yang di situ kita akan
berinteraksi dengan pelaku-pelaku usaha
lokal maupun dunia gitu.
Jadi dari awalnya itu kita harus
sering-sering berinteraksi lewat dunia
maya juga. Jadi lewat website gitu ya.
Kenapa saya semangat ke pecah telur?
Salah satunya subscribernya kan juga
lumayan. Nah, mudah-mudahan ini juga
membuka hati para petani untuk
lebih bagus, untuk lebih menjaga
kualitas agar petani kita, petani
Indonesia pada umumnya itu bukan hanya
berjaya di daerahnya, tapi kita juga
harus bisa berjaya ke dunia. Siap. Eeah,
kita harus bisa ekspor buah-buah
Indonesia ke luar. Jangan hanya kita
impor. He. Nah, kita juga harus bangga
dengan
buah-buah nasional. Tapi kita juga tidak
harus kalah dengan buah-buah dari luar
kan dari luar. Siap. Berarti tadi kalau
saya resume kuncinya produknya harus
berkualitas. Terbukti juga nanti ada
akan ada beberapa ee
sertifikat-sertifikat penunjang untuk
kualitas itu. Berjejaring juga. Iya. Eh,
habis itu apaagi, Pak?
berjejaring. Setelah setelah berjejaring
maksudnya selain berjejaring, Mas dari
kalau untuk bisa memiliki lahan sampai
hektaran itu gimana? Ya awalnya
berinteraksi dengan dengan ini
berjejaring itu berjejaring terus kita
kelola terus kan ada teman-teman itu
yang aku pengin duwe kebun tapi aku ora
iso ngerumat ya sudah beli kebun kita
yang rawat
kita yang ngerawat gitu. Nah, nanti dari
hasil kebun itu teman-teman yang pegawai
kan bisa membandingkan hasil kebunnya
dengan gajinya dia dari pegawai. Lek ada
sebagian sudah yang berhenti karena apa?
merasa dari hasil keburnya aja sudah
cukup kok aku sesu pengin kay kowe
ini jangan dijadikan pilihan tapi
istihar disik ojo kesusu leren gitu
awakmu ojo ngahno enake hasile kebun
tapi reko reko doyo reko apa bagaimana
kita berikhtiar di kebun itu yang harus
harus kamu dalami dulu kon gelem enggak
kudanan kon gelem enggak kedingin kon
gelem enggak kepanas kon gelem enggak
kepreset ee Iara yang namanya jatuh
sudah enggak kehitung kalau naik sepeda.
Iya. Iya. Jalannya kan enggak enggak
mulus ya. Offro jalan gunung ya. Betul
betul. Jadi dari interaksi kolaborasi
kolaborasi. Betul. Kolaborasi. Kalau 10
ton itu eh 10 ton 10 hektar itu panennya
berapa banyak berarti Pak?
Kopi itu rata-rata dalam 1 hektar kalur
busta itu ada 12.00 pohon.
Kalau dimaksimalkan minimal itu bisa 1
kilo per pohon. 1 per pohon. Biji kopi
kering. Jadi kalau 1 ton itu ada sekitar
1,2 ton. Kalau 1 hektar 1 hektar tinggal
ngalikan. Kalau harganya Rp80.000 dibuat
Rp80.000 berarti yang du yang 30% untuk
biaya kan tinggal sekitar 900 kilo
dikalikan Rp80.000. He he. Nah, kan
sudah lumayan. Kuncinya lagi satu itu ee
jadilah petani atau pekebun yang beda
dari yang lain. Oh, beda, Bu. Iya, kan
beda. Kalau pekebun yang lain ee dia
dari panen langsung dijual gelondong
sudah selesai. Oke, kita mulai dari
petik dari petik ee petik gelondong ya
ceri sampai diproses sendiri sampai kita
nyeduk apa sampai yang siap ready to
drink itu kan beda i beda dari petani
yang lain sambil terus
berinovasi membuat
eksperimental-eksperimental untuk
membuat cita rasa kopi yang berbeda. H
seperti yang diceritakan tadi sekarang
kan banyak lagi bukannya nyawen ada
mustu proses. Iya.
Ada laptop basilus proses ya, ada
natural aerob. Wah, macam-macam
macam-macam sekarang mesin kopi. Bahkan
sekarang sudah ada infus. Jadi kopi rasa
stroberi, kopi rasa vanila. Iya. Tapi
kan itu ada tambahan ini tambahan. Kalau
kita enggak ada tambahan sama sekali.
Tapi itu adalah bagaimana teman-teman
untuk menarik kopinya bisa dibeli
berinovasi. Nah, berinovasi itu. Jadi,
jangan ragu untuk itu. Kalau sekarang,
Pak, putaran kopinya berapa sekarang?
Kalau tadi kan sampai yang truk-trekan
dan sebagainya tadi ya disampaikan
tiutan beberapa tahun yang lalu. Kalau
sekarang, Pak. Kemarin lek sekarang saya
karena lahan sudah agak luas, saya lebih
konsen di di kebun. Oh, fokus kebun
sendiri. fokus enggak ngambil-ambil yang
kayak tadi ya. Karena saya ingin juga
memberikan contoh
ke beberapa petani itu bahwasanya dengan
fokus di kebun aja insyaallah sudah
cukup gitu loh. Karena kalau
kita dua-duanya difokuskan dulu saya
sampai nimbang di Bali, saya nimbang di
Sulawesi. Yang punya sendiri keteteran.
yang punya sendiri keteteranitu. Karena
kan di rumah
dengan bertambah mahalnya harga kopi,
sekarang teman-teman yang dulu jadi
pekerja rata-rata punya kebun kopi.
Heeh. Heeh.
Jadi rata-rata nyari pekerja sulit
sekarang untuk di perkebunan kopi.
Karena rata-rata yang dulunya pekerja
itu sudah punya kebun sendiri-sendiri.
Betul. Karena hutan kan masih luas. Oh
iya. I ya. I itu kan diizinkan kan
asalkan ada izin dari KPH Perhutani itu
boleh karena ada sharing hasilnya ke
perutani. Kalau untuk lahan Bapak
berarti ada berapa yang ngerjakan? Kita
sekarang ini untuk 10 hektar kita hanya
empat orang. Sangat efisien ya? Sangat
banget. Tapi ya yang kerja juga yang
yang punya juga kerja. Empat orang
termasuk yang punya.
Jadi kalau kita manajemen
bagus dieefisienkan seefisien mungkin.
Iya. Iya. Makanya profitnya bisa
berkali-kali lipat.
Iya. I mantap. Tadi juga dibilang bahwa
ee ada apa salah satu kunci suksesnya
Pak Dani itu karena orang tua katanya,
Pak. Iya. Itu gimana? Saya belum dapat
itu tadi.
Jadi ridanya Allah itu kan ridanya orang
tua. Jadi setiap tadi saya ke sini, saya
mampir ke rumah, saya hanya ingin
sungkem ibu, saya ingin cium ibu. Pulang
ke Bowoso. Nanti saya pulang. Apa yang
ayah lakukan? Biasa, Bu, aku saya minta
dilingkahi orang Jawa kan itu. H saya
minta mesti minta didoain terus
dilangkahi. Saya pas di berbaring di
depan pintu. Iya. dilangkai. Saya minta
di langkahi sambil didoain. Doain anake
sampean sehat. H rezekine lancar
barokah. Sudah itu. H. Jadi itu jadi
patuh ke orang tua, patuh ke guru itu
salah satu. Jangan pernah berbuat tidak
baik. Jangankan ke orang, ke diri
sendiri aja. Kita menyakiti diri sendiri
aja kan gak boleh. Apalagi menyakiti
orang lain. Mungkin itu. Orang tuanya
Malang ya? Orang tua saya Malang.
tinggal di Malang di Kecamatan Gonalgi.
Oh, agak jauh berarti ya dari jenengan
Bondowoso. Bondowoso. Kalau Bu O mana?
Bondowoso. Saya asli Bondowoso.
Bondowoso. Asli Bondowoso. Tapi Pak Dani
senang banget kalau di Bondowoso.
Senang. Senang karena ada ibu. Oh, ada
mungkin kalau ibu di Malang ya di senang
di Malang apa enggak macet kalau di
Bondoso. Oh, gitu ya. Saya senang sunyi.
Oh, saya senang sunyi keningan. Jadi
saya kalau lagi punya rezeki itu bukan
ke tempat-tempat keramaian, tapi saya
malah cari tempat sepi gitu, terus
merenung gitu
melihat. Apalagi kalau pas di gunung itu
lereng kopi kita itu kan ada di
ketinggian 1300. Yang paling tinggi itu
kita lihat rumah kita, anak kita, harta
kita kan gak kelihatan. Hm. H. Sedangkan
lukisan Allah itu dari awan yang setiap
hari, setiap detik berubah itu kan
memberikan lukisan-lukisan yang cukup
indah bagi saya. Jadi tidak ada sesuatu
yang pantas kita sombongkan kita sebagai
manusia gitu. Jadi ya itu saya bilang ke
istri satu wis hindari penyakit hati
gitu. H gitu dari sekarang termasuk kita
di keluarga jangan saling mencaci. Saya
menghindari pertengkaran. Saya nikah
2005 sampai sekarang 2 25 25. Nah, itu
20 tahun. 20 tahun. Pacarannya 2000.
Pacaran 2000. Dan saya paling
menghindari pertengkaran. Jadi kalau
istri lagi marah mending saya pergi.
Nah, kalau sudah redap baru baru balik
ngobrol lagi baru di WA kok enggak
pulang gitu. Baru pulang.
Jadi itu ya termasuk juga itu Pak
berarti ya kebiasaannya Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam kan suka
menepi kan dulu kan dari Makkah ke Gua
Hira kan menepi kan ya betul keluar
sejenak dari kebisingan kebisingan kalau
bahasanya apa itu uzlah atau apa ya
kalau enggak salah ya kurang paham
berarti jenengan uzlah Pak gitu menepi
gitu ya menepi he tadi juga dikatakan
bahwa inspiratornya Bu Oh inspirator
dalam hal apa ini berarti Ya, jadi istri
saya ya salah satunya kan yang saya
nilai ini kan mahasiswi aneh bagi saya
mahasis
kalau yang lain itu kan senang yang
berlente gitu berlen terus anak-anak
yang gedongan pakaian rapi. Mau pacaran
Mek saya seorang anak terminal kan nilai
lebih gitu bagi saya. Iya. Iya. Aneh
memang Mbak. Iya
aneh. Dan saya ngelamar itu sendirian.
Oh ke orang tuanya. Kenapa? Karena aku
ditolak.
Kalau saya ngelamar sendirian. Ditolak
kan orang tua saya gak malu.
Sendirian saya ngelamar istri saya ini.
Berarti sudah ada persiapan nanti
ditolak. Berarti ada persiapan ditolak,
Pak, ya? Oh iya sangat. Karena saya saya
bilang sekarang tinggal di mana? Di
terminal. Oh gitu. Saya ngomong apa
adanya kam saya tinggal di terminal.
Setiap hari saya kumpul sama anak-anak
terminal gitu. Dan kebetulan ayahandanya
beliau ini sopir bis. Oh. Sama-sama
orang terminal berarti tapi enggak di
Arjosari. Jadi di terminal lain
Bandungsari. Jadi tahu toh ya opo arek
terminal iku kan gitu. Nah ketimbang
orang tua saya malu saya ngelamar
dewekan ternyata kok dikasih izin baru
orang tua saya se.
Iya. Oke. Terima kasih sudah mampir ke
sini. Masih ada pertanyaan Mas Surya?
Masih. Mungkin nanti enak malah kalau
kebondowo. Oh, siap ditunggu. Iya. Itu
saya nunggu itu aja yang kebun duriannya
sudah berbuat baru baru. Seminggu
kemarin panen terakhir. Aduh itu nanti
ada panen lagi. Kapan ini? Nanti kita ke
sana.
Maret sampai Mei bulan tahun depan.
Siap. Siap. Cocok itu. Pas gu ya. Ide
bagus Mas Agung. Iya,
soalnya kemarin sampai kehabisan banyak
yang antri yang pesan. Iya. Iya. Kita
sudah di pohon sudah kita masukkan IG,
masukkan media sosial. Sudah ngelis itu
durian apa kita ada montong bawor yang
sudah buah. Hm. Tapi insyaallah ke depan
kita ada duri hitam, ada musangking. Ya,
itu yang lagi agak naik dar sekarang
duri hitam ya kayaknya ya. Banyak
dikontenin. Terima kasih Pak Dani sudah
mampir teman-teman. Ini adalah
inspirator pertanian kita. Heeh. Jadi ee
petani itu keren gitu ya. Yang ser
banget Pak ya banget. Petani itu keren
banget banget banget. Sampai jumpa di
next. Kita akan menghadirkan petani
keren yang lain. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Wabarakatuh. Alhamdulillah.
[Tepuk tangan]
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:51 UTC
Categories
Manage