Transcript
2AC86WCxP9k • Dulu Tidur Beralaskan Kardus, Kini Punya Bisnis Kopi Bernilai Miliaran
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0523_2AC86WCxP9k.txt
Kind: captions Language: id Jadi kalau di finance saya 12 tahun, di terminal Arjosari Malang itu saya 18 tahun. Ngapain, Pak? Jari nyemir sepatu, jual koran, dan jaga toilet. Jaga toilet. Oh, seriusan? Serius. Dan itu saya sudah pacaran sama mantan pacar saya ini. Kok mau, Bu? Nah, itu Heeh. Pak di jadi terminal gitu ya. Jadi, betul. Jadi tidur beralaskan kardus, kardus, kumpul sama teman-teman ya tukang cuci, tukang copet, waria, PSK di terminal itu. Simpul-simpul di mana petani kopi kan saya tahu itu saya hubungi. Akhirnya 1 hari dari 20 kilo itu saya berkembang menjadi 2 ton 1 hari. Akhirnya bisa menjadi satu truk 1 hari. Nah, itu terus berjalan dan itu perputarannya satu hari kita bisa keuntungannya dari R juta bisa sampai R juta per hari. Hari hari. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali lagi di segmen Guayeng. Eh, sahabat pecah telur, kita kedatangan tamu yang jauh dari Bondowoso, couple planner ini, Pak Dani dan Bu, selamat datang. Berarti sebutnya apa, Pak Dani jenengan ya? Pengusaha kopi atau petani kopi? Lebih tepatnya? Petani kopi. Oh, lebih ke petani kopi ya? Petani kopi. Bukan pengusaha kopi. Ke depannya insyaallah. Oh. Oh, padahal sudah ada produk kopinya loh ya. Ini masih petani kopi. Iya. Iya. Petani kopi. Petani kopi. Kalau Bu? Kalau saya pendidik. Pendidik. Iya. Kabel pan juga tapi ya dikopi ya. Iya. Heeh. Dan yang kita bahas ini tentang bagaimana perjuangan bisa memiliki kopi 10 hektar, Pak. Ya, kurang lebih. Wah, masyaallah. Kalau background-nya dulu apa memang sarjana pertanian atau seperti apa, Pak? Kok kemudian terdampar di dunia kopi terdampar terdampar? Saya sarjana investasi keuangan. Investasi keuangan. Sarjana administrasi keuangan. Administrasi keuangan. Oke. Oke. Istri juga sama. Cuma habis lulus 2003 saya ngajak istri untuk ngambil akta mengajar. Iya. Ee untuk bisa ngajar di sekolah. Karena kita bukan sarjana pendidik. Untuk bisa ngajar di institusi sekolah harus punya sertifikat pengajar. Hm. Itu nambah 1 tahun di UM. Nah, UM Malang ya. UM Malang. Jadi istri yang kecantol jadi guru sekarang. PNS guru. Alhamdulillah. Saya agak nyelenai sedikit ke pertanian. H. Setelah 12 tahun hampir saya di finance. Oh, dulu di finance. Dulu finance. Oke. Apa dulu, Pak, finance-nya, Pak? Setelah lulus itu saya di Adik Motor dulu. Finance yang khusus membiayai motor Cina. Hm. Terus kita sempat sebentar di Busan Autfinance. Terus terakhir kita di Adira Mobil. Terakhir saya ngantor di Adira Mobil Gajah Mada Jember. Oke. Memutuskan di kopi itu karena apa dulu? Kok kan jauh banget ya dari finance ke pertanian. Iya. Pendidikannya sih masih nyambung ya. Kalau pendidikannya kan masih nyambung sama kerjaan awalnya. Habis itu kok keekopi? Belajar wirausaha itu semenjak saya kuliah. Oke. Jadi kalau di finance saya 12 tahun. Di terminal Arjosari Malang itu saya 18 tahun. Ngapain, Pak? Jari nyemir sepatu, jual koran, dan jaga toilet. Jaga toilet. Oh, seriusan? Serius. Dan itu saya sudah pacaran sama mantan pacar saya ini. Kok mau, Bu? Nah, itu. Heeh. Pak di terminal gitu ya. Jadi betul. Jadi tidur beralaskan kardus kardus kumpul sama teman-teman ya tukang cuci, tukang copet, waria, PSK di terminal itu. Cuma saya tidak merokok, saya tidak juga minum dan itu dihormati sama teman-teman. Hm. Jadi saya itu kalau ada teman-teman mabuk, saya yang bagian ngerumati. Ngumati. Oh iya ya. Nah, termasuk kalau ada teman-teman bermasalah sampai di penjara, saya tukang kirim ke penjara. Oh, gitu. Jadi, jadi saya nikah 2005, saya baru keluar di terminaljosari itu 2018. Jadi, saya punya satu orang malaikat selain ibunda saya itu namanya Pak Wurianto sama Bu Urianto. Beliau adalah wakil Bupati Malang waktu itu yang mendidik saya untuk mempunyai mental seperti sekarang. Jadi saya dikuliahin, saya dimasukkan lembaga-lembaga kursus, saya dikasih kerjaan. Salah satu kerjaannya jaga toilet itu. Oke. Tapi yang namanya integritas, kejujuran itu nomor satu. Jadi biarpun saya anak terminal, setiap selesai semester saya harus setor kartu KHS. Kalau ada nilai jelek habis kita. Hmm. Nah, kalau ini Pak, saya itu identiknya sama orang terminal, anak yang hidup di jalanan. Itu kan memang yang stigmanya yang tadi itu yang yang minum yang negatif. Tapi kalau Pak Dani kok bisa enggak malah katut gitu, Pak. Bahkan malah yang ngerumati teman-teman itu yang bisa jaga Pak Dani sekuat itu waktu itu apa, Pak? Ee saya punya seorang ibu dan seorang punya nenek itu seorang pejuang. Kakek saya seorang pejuang gitu. Giih. Kakek saya seorang pejuang dan nenek saya cuma pesan satu, lek kowe pengin mulya uripmu indarono mau liimo ya toh. Iya. Apa aja maimo itu madon kayak gitu mabuk iku indar rono. Apa aja tadi Pak kalau madad? Mad itu apa ya Pak? Madad itu wis pokoknya perbuatan jelek lah ya. Mabuk. Mabuk. Minum madon ya. Madon itu perempuan permain perempuan terus main judi macam-macam satunya saya lupa itu harus dihindari. Oh. Nah, itu yang saya pegang. Terus saya menjaga nama keluarga di desa itu. Kakek saya punya nama yang disegani paling enggak punya nama baik. Terus saya saya ditinggal ayah saya umur 18 18 bulan. Tapi saya mempunyai cerita dengar ayah saya ini punya cerita baik. Nah, ini yang ingin saya jaga. Biarpun beliau sudah wafat duluan, tapi saya ingin membang membangakan ayah saya. lewat anak-anaknya gitu. Hm. Terdampar di terminal itu karena apa, Pak? Ya, karena saya diajak disekolahkan dan dimasukkan lembaga-lembaga kursus oleh Pak Wabub itu. Dan Pak Wabub itu punya usaha MCK di hampir semua terminal di Hm. Malang. Malang. Dan itu rata-rata kami disekolahkan semua. Kenalnya dari mana dulu? Kebetulan Bu Wuryanto itu sepupu ibunda saya. Oh, ada saudara. Iya, ada ikatan saudara. Tapi sudah bukan hanya saudara, bagi saya bagi saya ada beliau adalah malaikat hidup yang merubah hidup saya. Saya masih pengin penasaran tentang kisah terminal ini ya, Pak, ya. He. Kok bisa waktu itu enggak minder, Pak? Ee ketemu Ibu Iya. Terus tetap kuliah. Padahal misalnya itu dianggap ee pasti juga enggak lepas dari diremehin orang. Heeh. Itu yang bikin Pak Dani enggak minder posisi itu tuh apa, Pak? Perjalanan enggak ngerti juga. Yang penting saya gak malu. Enjoy aja, enjoy. Karena saya di terminal waktu itu kalau hanya untuk makan dan biaya kuliah itu saya lebih-lebih saya lebih-lebih nyemir sepatu itu kalau nyari uang Rp50.000 1 hari bisa gitu. Jaga parkir bisa. Apalagi yang saya cari gitu. Semua ada orang-orang baik di sekitar saya gitu. Jadi saya tahu benar efek orang minum seperti apa, efek orang nyedot ganja seperti apa. Saya tahu benar gitu. Karena saya kumpul sama anak-anak itu tiap hari. Tetapi dari semua yang ada di terminal itu tidak semuanya itu jelek. Ada anak-anak yang masih punya orientasi pemikiran untuk lebih maju ke depannya. Hm. Jadi saya masih punya teman yang sekarang kerja di Freeport, alumni terminal. Saya punya teman yang sekarang juga jadi salah satu manajer Bank BUMN itu alumni terminal. Oh, gitu. Oh, manajer ya? Analis kalah, Pak. Analis. Analis kalah. Ini analis, Pak. Staf itu jauh. Mohon maaf ya. Saya zaman kalah sama alumni terminal, Pak. Tapi yang banyak sekarang adalah banyak yang jadi wirausahawan, ada yang jadi sopir, bahkan masih tetap ada di terminal. Masih ada. Tapi sekarang terminalnya kan kondisi sepi dengan setelah COVID dihantam COVID terus dihantam era digitalisasi banyak Gojek Gokar ini kan terminal lek tahun di bawah tuan 2000 terminal Josari itu kan 24 jam. Heeh. Heeh. Heeh. Jadi mentalnya malah kebentuk dari situ ya. Jadi kalau yang anak kuliah itu bawanya tas dipek yang kecil-kecil saya bawa apa, Bun? Tas karier. Tas karier isinya apa, Bun? Yang dustter, sandal. itu jualannya itu. Iya. Habis kuliah saya buka lapak di depannya UNU Malang, terus di depannya UMM ya eh UM Malang di depan Brawijaya. Bahkan kita punya komunitas kalau misalnya fakultas-fakultas itu ada pameran kita ikut pameran 3 hari. Nah itu jadi kita punya link itu kita belanja ke Tanah Abang, kita belanja sepatu ke Cipadoyut. Nah, mental-mental seperti itu yang ingin kita tawarkan ke anak didik terutama anak didik istri saya. maksudnya kan ya anak terminal ibu gitu. Ibu juga anak terminal juga atau bukanak ya aja kok iya benar apa gitu nyambungnya di mana gitu loh. Ee kalau saya lihatnya Pak Dani itu kan di kampus gitu. Oh teman kuliah? Iya, teman kuliah kita sama-sama saingan kalau masalah pelajaran apa iya pokoknya wis ee kalau kita ujian siapa yang keluar dulu terus kadang kan ngasih jawaban ke teman-teman kayak gitu mungkin kok ada apa ya cowok pintar gitu ya walaupun anak apa terminal pintar Pak ya jadi anak terminal yang sedikit akademisnya lebih maju dari yang lain Jadi dulu kalau kita ujian itu, Mas, ujian semester itu kita kan punya grup geng hijau itu ada sekitar 20 anakan. Jadi saya di grup itu di grup itu tidak boleh ada saling menyakiti, tidak ada oleh semon-semonan. Pacaran aja enggak boleh kalau kita mamanya keluar ke mana gitu. Enggak boleh maksudnya. Heeh. Enggak boleh pas. Oh, kok enak ngeterna awakmu tok itu. Jadi kalau waktu boleh pacaran di luar itu tapi waktu kumpul saya sama istri ini milik bersama dalam artian gak boleh kon oh mojok dewe gak bolehak boleh. Jadi kita gitu. Iya iya. Jadi rival malah awalnya rival ya bisa dibilang kalau enggak berani enggak berani itu berdebat sama tim kita kalau kalau urusan pelajaran. Jadi dari situ terus ke finance. Nah, terjun ke kopinya gimana tuh, Pak? Iya, kalau terjun ke kopi itu dimulai sejak belajar 2 11. Saya sudah dari hasil tabungan kita jadi karyawan finance, kita sewa sawah gitu, kita tanami tembakau, kita tanami padi ya, kita coba nanam cabe juga gitu. Nah, situ kan berproses. Nah, saya belum keluar itu. Jadi, keluarga kami itu punya kegiatan start jam maksimal jam .30 sudah bangun semua. Karena ibundanya beliau ini sampai sekarang jam . pasti bangun sampai subuh. Kita coba membuka usaha besi tua. Eah, di finance itu kan kita berkumpul dan ber interaksi dengan hampir semua pelaku usaha. baik di sektor pertanian, perdagangan, ya, wirausaha itu yang yang kredit-kredit mobil. Nah, kita bertanya itu ya apa cash flow-nya, perputarannya ya apaan. Kebetulan saya senang riset gitu loh, HPP-nya berapaan. Di 2011 kita tanam tembakau itu kita dapat keuntungan bisa beli satu sawah, satu petak lahan sawah. Nah, dari situ kok enak gitu. Terus habis gitu 2013 saya ditawari kebun kopi. Nah, kebetulan kita di Finan kan kita sering saya sudah megang head collection Adira itu dari enam kabupaten dari Lumajang sampai Banyuwangi itu head collection-nya saya. Nah, di situ tak lihat kopi ini enak banget gitu loh. Beli sekian dijual sekian. Apalagi kalau kita punya sampai diseduh gitu. Untungnya berlipat-lipat banget. Saya praktikin. Saya praktikin. Akhirnya saya memutuskan untuk waktu itu pinjamlah pinjam uang bank juga untuk beli itu dan gak disapa 3 bulan sama istri. Hm. Nah, pinjam yang nota B ini kan istri dengarnya kalau kebun kopi satu banyak malingnya. Iya. Terus saya enggak ada background pertanian kok moro-moro tuku kebun kopi sing kebun kopinya rusak lagi. Iya. Iya. Nah, tapi saya punya ini punya potensi ini akhirnya belinya waktu itu Rp65 juta su tanah sertifikat tapi kan masih murah karena tanahnya miring kan itu saya perbaiki sama biaya perbaikan kurang lebih hampir R jutaan saya biayai. April saya beli 2013 Juni. Juni. Juni. 2 bulan setelah kita beli itu kita dapat sekitar 4 sampai 5 ton kalau gak salah. Waktu itu masih R5.000 dulu masih harga Rp5.000. Masih harga R5.000 waktu itu per kilo. Kilo. Murah banget ya. Murah banget. Nah, terus kita coba kita proses dan saya mulai belajar bagaimana sih memproses kopi yang bagus. Kita baca, saya kebetulan saya senang baca orang, kita baca literasi sambil kita silaturahmi seperti ini. Saya di Bondowoso itu sampai cari siapa sih tukang proses kopi yang bagus di Bondowoso di Jemur itu tak silaturahmi. Nah, berawal dari situ saya kenal gudang saya kirim 20 kilo waktu itu. Akhirnya kok ditafar lagi, "Bapak bisa enggak kirim lebih dari ini? Karena proses Bapak bagus." bisa. Tapi saya terkendala modal. Heeh. Ya, kalau modal akan saya pinjami sama gudang. Tapi tolong buatkan kopi yang kayak begini. H. Nah, dari Link Adira yang dari enam kabupaten itu akhirnya saya kan banyak ketemu mulai Lumajang, Probolinggo ya, Banyuwangi, Jember itu mulai simpul-simpul di mana petani kopi kan saya tahu itu saya hubungi. Akhirnya 1 hari dari 20 kilo itu saya berkembang menjadi 2 ton 1 hari. Akhirnya bisa menjadi satu truk 1 hari. Ah, itu terus berjalan dan itu perputarannya 1 hari kita bisa keuntungannya dari R juta bisa sampai R juta per hari. Hari hari itu dari proses kopi aja berarti dari proses. Karena kalau 1 hari itu kita bisa didatangi 5 sampai 10 ton biji kopi dari petani petani yang tadi dikumpulkan yang kita ngirim sama dari luar daerah itu yang sudah semi jadi. Oh, semi jadi itu kalau kita ngambil untungan Rp1.000 aja per tahun tonnya. kan cash flow-nya ngeri banget. Nah, dari situlah saya bisa nambah tabungan, saya bisa nambah perluasan kebun. Nah, saya bisa berbagi sedikit ke murid-muridnya yang katanya yang katanya istri saya ini agak nakal tapi saya ini juga anak terminal sampean kan. Tapi enggak semua anak yang nakal itu tidak potensi gitu. Karena untuk sukses orang enggak harus pintar bahasa Inggris. untuk sukses orang gak perlu pintar bahasa Mandarin gitu, tapi adalah passion-nya dia di mana dulu kita ikuti gitu loh. Ada namanya Mas Bahrul, sekarang boleh dilihat di IG-nya itu Setiakawan Entertainment itu kita modali R juta itu. Iya. Sekarang asetnya hampir R miliar. Itu di Bondowoso juga apa maksudnya? Murid. Murid yang itu mungkin 3 tahun paling bawa buku satu biji selama 3 tahun muridnya Bu ya. Jadi dia itu kalau pelajaran saya bilang nol. Nolnya bukan kecil tapi besar. Nolnya besar nolnya besar. Tapi saya lihat anak ini punya potensi kalau disuruh guru itu cepat sigap tangkap noh. Terus waktu itu dia punya pemikiran untuk punya usaha rental tenda tenda penganten gak punya uang. Akhirnya ngomong ke istri, "Barulu loh kok wani-wanine nyilih kate- nyilih duit kate anu aku wani lek sampai enggak wani aku sing nyili." Oh, awalnya pinjam ke ibu. Iya. Iya. Kan gini, ini ada ee tenda dua lokal mintanya R7 juta, Bun. Loh, iya dah. Yang penting kamu yang jalanin. Kalau saya yang suruh jalanin, saya enggak mau. Ini aja sudah penuh saya gitu. Kalau kamu mau, ya sudah kamu jalanin aja. Saya gitu. Akhirnya bapaknya berani. Nah, tak saya ajari setiap bulan perkembangannya kita lihat terus dia ngasih ini untungnya saya ambil tapi saya kembalikan. Tak kembalikan beli bahan baku lagi kembangin e sampai berjalan berjalan-jalan. Sekarang bukan hanya tenda, tapi sekarang sudah sound system ya, lighting, dekorasi gitu. Bahkan wilayah kerjanya bukan hanya di Bondowoso lagi, sudah merambah Mojokerto, Madura, Banyuwangi. Bahkan event-event besar sekelas konser-konser artis dari luar Bondowoso bisa dihandle sama dia. Hm. Padahal tadi ceritanya enggak cuma nol kecil, tapi nolnya besar ya. Tapi kalau dengan prosesnya sampai sekarang perkembangannya yang bagus banget ini kan sebenarnya dia pintar ya, Pak, Bu. Iya. Heeh. Yang kalau menurut Ibu yang menonjol waktu zaman sekolah itu beliau bagian apanya, Bu? Padahal nilainya gitu. Tapi kalau nilainya sih enggak ada ya yang menonjol dia mungkin kalau ke guru tuh apa? Tawadu ya. Heeh. Gitu. Jadi ee kan k ee pada apa itu kita ada pameran ya di Malang. Saya coba kan saya itu bawa HP pokoknya kamu bisa jual saya gitu nanti kamu dapat Ve. Ternyata dia belajar. Kadang kan anak-anak itu belajar dari oh itu loh kayak Bunda itu loh kalau jualan kayak gini coba se ayo gitu seperti itu. Berarti bisa dibilang mungkin masalah minat mungkin waktu pas pelajaran. Betul. Jadi minat terus mental untuk siap gagal gitu. Mental untuk mau berkomunikasi dengan semua orang gitu. bagaimana dia menempatkan posisi bertemu dengan siapa dia berkomunikasi itu kan harus beda. Saya ketemu kan jenengan kan posisinya harus beda. Nah, jenengan akan beda kalau saya ketemu sama petani-petani saya. Saya bisa makan tanpa cuci tangan gitu. Saya bisa makan hanya dengan lauk ikan asin. Nah, saya bisa makan bahkan tanpa bawaan nasi. Jadi misalnya enggak bawa kita hanya bakar pisang kita makan itu bisa. Nah, ini tempat cara-cara seperti ini yang akan kita terus tularkan ke anak-anak muda Indonesia. Bahwasanya Indonesia ini kaya banget gitu. Untuk maju tidak harus menjadi seorang karyawan, untuk maju tidak harus menjadi seorang pegawai. Berwirausaha dan jangan dimulai dari yang mewah, dimulai dari yang sederhana. Itu yang harus terus kita tekankan. Iya, betul. He. Saya juga sering dengar ee dari teman Pak Dani. Jadi bahwasanya Pak Dani ini suka nolong orang katanya. Ada juga yang yang awalnya mabuk-mabukan ya, Mas ya, kalau enggak salah. Taburan. Tawuran. Mabuk-mabukan. Sekarang juga jadi pengusaha sukses. Iya. Gini, kalau harimau aja yang disebut Raja Rimba itu punya hati. Manusia yang sudah tercipta menjadi seorang pemenang. Benar. Lewat sel sperma ayahanda kita yang masuk sel telur ibunda kita. Saya yakin sekeras-kerasnya hati manusia itu bisa ditaklukkan dan bisa diarahkan ke hal-hal yang benar. Tadi saya ngomong sama Pak Kades yang sekarang ikut ke sini ya. Jadi intinya di mana kita berkumpul di situlah aura yang akan muncul. Tetapi kalau kita kumpul dengan orang-orang yang beraura negatif negatif ya diri kita yang akan menjadi penentunya bagaimana diri kita memfilter untuk memilah dan memilih mana aura positif yang harus kita ambil dan bagaimana kita mengalahkan aura negatif dari orang-orang itu. 18 tahun saya di terminal lolos dari minuman keras, lolos dari narkoba, lolos dari rokok. Rokok pun tidak. Rokok itu saya setelah saya ngopi dan ini baru 2 3 tahun terakhir pasti terminal malah enggak gak ndak ndak minum nak ngopi-ngopi aja nak jadi saya waktu kuliah kalau ada teman ngopi kopi itu disembunyikan malah karena apa saya minum kopi kayak minum air putih oh iya iya jadi disembunyikan ya jadi kalau peminum kopi itu kan dikit dikit sambil ngerokokan jadi saya itu kuliah gak ngerokok gak ngopi gitu karena saya hobi sepak bola waktu it kalau tipsnya Pak Dani menghadapi ee orang-orang yang punya pengalaman atau sekarang hidupnya malah lagi negatif gitu untuk mengubahnya itu yang dilakukan pertama apa, Pak? Pendekatan persuasib. Pendekatan persuasif. Sebenarnya mereka tuh pendekatannya melalui apa dulu, Pak? Kalau Pak dan yang didekati contohnya seperti apa dulu? Kayak yang tadi atau contoh yang tawuran yang akhirnya bisa bangkit, yang senang yang hidupnya relatif. Saya contoh saya ajak teman-teman itu kalau dulu biasanya itu kan ada beberapa pengemis, ada beberapa tukang ngamen. Iya. Itu kan kadang rata-rata ada anak cewek. He. Saya sampai hafal loh namanya Wati dulu ya, Bun. Heeh. Wati itu satu keluarga ngamis. Satu keluarga. satu keluarga itu adiknya dia itu. Tapi saya ngasih motivasi ke deloken lah iku awakmu luwih beruntung timbang beliaunya itu. Nah. Hm. Bahkan saya pernah mukulin bapaknya Wati itu karena Wati waktu itu gak dapat setoran. Dia dipukuli sama ayah di terminal. Akhirnya kok waktu itu tak pegang. Loh sakit Mas. Kenapa no? He sakit kenapa kamu? Sakit gak? Sakit tak lihat loh. Sakitmu kenapa no? Coba buka karena kan masih kecil dia. Iya pakai apa? Gitar kecruk gitu. Gitar yang kecil kan. Heeh. Heeh. Ken. Kenapa ini kamu dipukul-pukul? Siapa? Bapak. Iya. Kenapa? Setoranku kurang. Woh. Habis itu tak kumpulin anak-anak cari bapaknya. Hari ini kita sidang. Habis itu bapaknya bola pimpong hampir seanu kepalanya. Jadi saya ngumpulin anak-anak itu. Jadi kita harus lebih bersyukur dari wati gitu loh. Gitu loh. Jadi kalau kamu boleh minum tapi tolong kurang ya. Karena di terminal 18 tahun ada sekitar orang teman cara juga meninggal sakau. Dan kan bahkan terakhir kemarin saya punya di HP saya masih ada grup arter arek terminal. Are terminal itu masih ada. Karena bagi kami persahabatan kami, persaudaraan kami dunia akhirat. Sudah. Wih. Dunia akhirat. Jadi setiap ada yang sakit ada kita tetap saling komunikasi. Kalau ada yang gak mampu ya kita saling kalau yang mampu kita kirim support support baik secara material maupun moril kan. Heeh. Heeh. Jadi jadi bersyukur gitu Pak. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur yang ditanamkan kepada teman-teman itu bersyukur. Bersyukur syukur. Saya selalu bilang juga ke keluarga saya, istri saya, jangan pernah menolak apa yang ada di depan kita. Ya, ini memang hari ini kita bisa makan hanya ya. Ini harus kita syukuri. Saya isi saya kan gini, kalau kita ada sate gitunya, wah ini ano kerupuk tambah enak. Saya selalu ya iniwis. Nah, jadi saya gitu hindari itu gitu. Hindari itu hindari itu tak itu. Jadi he syukuri apa dulu yang ada di depan kita. Karena takutnya takutnya yang di atas marah kan gitunya. He heeh. Heeh. Termasuk apa yang saya dapat sekarang ini di luar nalar saya sebagai seorang anak terminal. sebagai anak yang gak punya ayah dari bayi itu kan terus sekarang bisa punya usaha kenal beberapa menteri kenal anggota dewan gitu loh kenal bupati bahkan saya juga kemarin harusnya tanggal 678 saya diajak misi dagang Ibu Gubernur ke Kalimantan Timur tapi saya tolak karena saya waktu pembersihan di kebun belum selesai gitu. Jadi intinya ke depan kualiti kualitas bukan hanya tentang produk tapi kualitas diri kita gitu. Kalau kita ngomong jujur enggak usah jujur ke orang tapi kita harus lebih jujur ke diri sendiri dulu. Heeh. He he he. Kalau menurut Pak Dani menilai diri sendiri ini faktor apa sih, Pak, yang sebagai pengungkitnya Pak Dani sehingga berada di posisi ini? do doa orang-orang baik di sekitar saya gitu ya. Semakin kita sering berbuat baik, insyaallah doa-doa orang baik itu akan selalu menyertai kita. Jadi malah bukan karena usaha, bukan ini malah kalau menurut Pak Dani adalah faktor orang-orang baik yang selalu mendoakan Pak Dani. Betul. Betul. Ee itu itu juga yang melatar belakangi namanya doa kopi, Pak. Oh iya ya. Ini ini produknya Pak Dani, Teman-teman namanya doa kopi ya. Doa kopi. Doa doa kopi itu sesungguhnya itu gabungan dari dua nama kita. Oh, gitu. Dani dan Ofrida. Oh, iya. Bu O dan Pak Dani. Iya. Terus anak saya itu inisialnya A semua. Cuma kita yakin apa yang kita raih ini berdasarkan dari bukan hanya doa dari saya dan keluarga, tapi do ada doa-doa anak yatim yang setidaknya itu saya ambilkan 20% dari penghasilan saya dari bertani kopi. Kita enggak ngambil 2,5% dari penjualannya, tapi 20% 20% Pak 20%-nya itu kita sisihkan. Jadi di kebetulan di desa kami sekarang anak yatim satu desa itu setiap bulan kita doa bareng dan kita berbagi. Kita gak pakai kata santunan karena kata santunan seakan-akan mengecilkan, merendahkan banget beliau-beliaunya. Bagi saya kan yang butuh barokah kita. Jadi kita pakai nama berbagi kasih sayang dengan adik-adik yatim. Nah, tapi sekarang saya mundur dari itu karena apa? Donaturnya sudah banyak. sudah banyak diaruar itu yang tidak terjam oleh donatur yang terutama kita juga sekarang lagi fokus di teman-teman yang kalau karena saya muslim saya lebih dekat ke teman-teman Hufad teman-teman yang penghafal Al-Qur'an yang jadi guru ngaji di ler-lereng gunung yang tidak terpantau oleh negara gitu. Padahal guru-guru ini secara ikhlas mendidik anak-anak desa untuk bisa mengaji dengan benar dan betul. Jadi ini luar biasanya. Jadi monggo kalau mau belajar kopi. Tapi saya bukan ahli. Saya hanya sekedar tahu. Masyaallah. Dan itu dari nol yang bukan kecil. Nolnya besar. Jadi jangan ragu untuk maju untuk sesuatu yang benar gitu. Nah, ini kalau lihat dari di sini, Pak ya, ini kan ada kayak sebutannya apa ya? Ini ada banyak stempel, ada indikasi geografis, kopi arabikah ya. Ini ini Pak ini, Pak. Nah, saya izin. Jadi, ini nah kebetulan mudah-mudahan teman-teman Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual hadir dan melihat podcast ini. Karena saya juga salah satu binaan dari Kementerian Hukum dan ini adalah logo indikasi yang merah ini. Ini adalah logo indikasi produk Indonesia. Jadi kalau panjenengan ke luar negeri ada logo ini, ini menandakan produk ini berasal dari Indonesia. Oh, indikasi geografis. Yang kedua ini adalah logo indikasi geografis Kopi Arabika Hang Argopo. Jadi ini kopi dari Kabupaten Bondowoso dari lereng Gunung Argopo. Ini yang kalau yang ini yang ngeluarin siapa, Pak? Yang ini yang menteri juga Direktorat Jenderal Kekayaan yang keluar. Jadi ini sudah bersertifikat dan tidak bisa diaku oleh oke kabupaten lain. Iya. H. Jadi di Bondowoso itu adalah dua salah satu penghasil kopi utama di Indonesia dan sudah mempunyai dua sertifikat indikasi geografis. Ijen Raung punya sendiri yang logonya beda sama ini. Kebetulan kebun saya ada di lereng Argopuro. Oh gitu. Jadi ada sini yang ini yang mungkin pernah dengar nama Bondowosa Republik kopi ini dulu dicetus oleh waktu bupatinya Kiai Amin Said Usni beliau jadi presiden republik Kopi Bondowoso. Nah, kalau ini adalah izin Geop ini. ini UNESCO ya yang dikeluarkan sertifikasi yang dikeluarkan oleh UNESCO bahwasanya Bondowoso dan Banyuwangi adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi oleh wisatawan dunia karena di sana ada dua di antara satu keajaban dunia. Jadi ada Blue Fire. Blue Fire itu yang set saya tahu saya mungkin saya perlu dikritik kalau atau diingat salah satu di Islandia satunya di Indonesia yang ada di Bondowoso. Oh keren ya Bondowoso iya indah banget. Terus Bondowoso megalitikum kan kalau Bondowoso itu banyak peninggalan megalitikum. Oke. Banyak peninggalan-peninggalan megalitikum. Berarti jauh sebelum kita ada zaman prasejarah, Bondowoso sudah ditempati peradaban. Heeh. Sebelum kita Bondowoso ini kan punya keistimewaan tersendiri ya, Pak. Sampai ada yang Argopuro sama indikasi geografisnya. Iya. Inj. Jadi, Bondowo. Jadi saya itu ada di grup masyarakat Indikasi Geografis Indonesia. Oke. Kalau Aceh ada Gayo. Gayo. Indikasi geografis Gayo. Kalau di Medan ada banyak juga ada Mandailing ya. Terus di Bali ada apa ndah? Bali. Kalau Bali Kintamani Kintamani. Terus di NTD ada Kopi Bajafa. Terus itu MPIG-MPG yang harus dilindungi. Makanya rasanya kopi kopi di Indonesia itu berbeda-beda dan mempunyai cirik sendiri-sendiri. Dan ini di sertifikatnya ada indikasi kaping note. Kaping kaping skor dan ada bukan kaping skor ada narasi tesnya. Jadi kopi yang Argopuro itu kalau Argopuro itu kapingnya spisi ya. Jadi bau rempah terus karamelnya tebal. Ah, itu salah satu yang Argopura yang anu saya pasti jenengan langsung merem itu. Ini kopi apa, Pak? Ya, kalau yang ini itu Arabika wine proses hiang Argopo. Wah, ini prosesnya jenengan. Iya. Wah, siap. Bisa wis kita icipi ini ya. Iya. Sambil diceritain, Pak. Tadi yang wine proses itu gimana, Pak? Pokok saya juga baru dengar itu tadi ada kopi yang dari Bondowoso dan wine Proses. Nah, salah satunya saya buat itu adalah bagaimana saya mengajak teman-teman yang non sewu yang notam ini senang minum-minuman keras saya arahkan ke kopi. Iya. Jadi aromanya ini mendekati bau-bau alkohol memang tapi non alkohol halal Pak ya? Halal ada ada aman ada sertifikasi halal halal. Kita icipin ya. Bismillahirrahmanirrahim. Gak ini enggak ada alkoholnya memang ini hanya fermentasi biasa. Heeh. Ya memang merem ini, Pak. Jadi itu minumnya harus harus satu sloki di ditahan dulu di mulut. Bentar ini tak tahan habis habis ditahan ngapain, Pak? Ditelan. Oh ditelan ya. Bukan membayangkan. Jadi hasilnya diseruput. Nyeruput minum kopi yang benar harusnya diseruput. Bismillahirrahmanirrahim. Hm. Hmm. ini dominannya lebih karena fermentasinya atau jenis kopinya, Pak? Fermentasi dan jenis kopi. Dua-duanya. Jadi, after-nya panjang banget itu. Jenengan podcast kita selesai masih ada. Masih ada gak akan hilang itu rasa kopinya. Terakhir-terakhir dark coklat yang ketinggalan. Jadi yang terakhir-terakhir rasa coklat hitam. Heeh. Heeh. Heeh. Awalnya agak kecut tapi terakhirnya tapi enggak pahit. I kalau kopi-kopi yang biasanya sayaat ya itu pahit pahit tok gitu loh ya. Ini ada coklat dan ini setiap pameran di Jakarta produk ini menjadi bestseller kami dan itu di Shopee kita jual Rp15.000 per 200 gr. Siap siap siap. Jadi kalau K jadi nilai kopinya itu 300% dari harga kopi biasa. Oh itu carinya di Shopee berarti doa kopi. Doa kopi nanti nanti saya cantumin linknya berarti teman-teman. Nanti saya cantumin linknya di sini ya. Nanti beli di sini ya. Beli di pecah telur gak apa-apa biar kita dapat affiliate ya. Beli di kalau dipecah kan bisa affiliate Shopee Pak. Nanti produknya saya cantum-cantumin. Teman-teman harus beli itu. Iya. Bisa jadi partner. Oh siap. Siap. Bisa partner. Dan boleh maklun. Siap dengar senang hati. Boleh maklun. Dengar senang hati gak apa-apa. Jadi dan itu saya pastikan untuknya lumayan banget. Lumayan banget. Nanti biar studio kita makin bagus, Pak. Iya. Karena kan penghasilannya bukan hanya dari YouTube, tapi juga dari produk UMKM-nya yang diundang. Sama-sama menguntungkan. Ngih. Nggih, nggih. Oh, gitu. Dan ini termasuk inovasi dong, Pak, ya, tentang fermentasi kopi itu. Saya baru dengar aja sih. Jadi sekarang dengan masuk inovasi kemarin saya di apa ya? lomba ya lomba kan menaikkan nilai ekonomis ekonomis kopi yang biasanya dijual 1 kilonya itu 80 terus kami jual 400 eh R00.000 dan itu alhamdulillah juara satu Jawa Timur saya juara satu se Jawa Timur. Boleh tahu enggak Bu inspirasinya kok kepikiran bikin gini tuh waktu itu dari mana gitu? Ee iya, support dari Pak Dani juga. Heeh. Ee karena apa yang digeluti kan selama ini kan sudah kopi gitu. Wis kan di GCC itu ada yang ee kategori kewirausahaan. Ya sudah saya ngangkat untuk yang kewirausahaan gitu. Oh gitu ya. Itu ee masuk inovasi itu. Iya kan termasuk saya baru dengar ini sih kalau tentang ada fermentasi kopinya. Jadi ditambahi juga mnya kopi ini sekarang kan jadi budaya sudah jadi budaya gaya hidup jadi ya bagaimana membuat rasa kopi yang berbeda dari yang lain kalau kita pengin is dan kita pengin repeat order repeat buying yang banyak kita harus punya produk yang berbeda gitu kopi-kopi yang saya proses ini tidak ada yang di luar kebun saya ini semua dari kebun sendiri Kecuali kalau yang kayak asalan, natural asalan itu saya beli untuk untuk yang untuk komersal grade. Karena kita kulaan, kita kirim ke gudang itu kita beli dari luar. Tapi kalau yang kita buat untuk kita pack caging seperti ini, itu betul-betul dari produk kebun sendiri sehingga betul-betul kita rawat. Saya ke kebun tiap hari juga memberi salam, Mas. Jadi saya kalau seminggu ke kebun itu kangen. Hm. He pulang saya juga memberi salam ke ke kopi-kopi saya ke meskipun enggak ada orang gama saya kan termasuk tumbuhan hidup juga gitu. Jangankan tumbuhan batu aja itu sesungguhnya bagi saya bernyawa gitu. Nah takutnya kan kalau saya enggak beri salam saya lewat ke sandung kan gitu gitu. Jadi saya yakin. Jadi saya kalau gak pulang dari kebun saya cuma wa ayah gak pulang wa. Oh gitu. Tujuannya apa? Siapa tahu saya mati mendadak kan itu. Jadi Oh iya karena di hutan Mas. Oh yang masti enggak pulang ke rumah dari hutan saya enggak pulang biar enggak kepikiran kan gitu. I jadi mudah-mudahanlah dari wasilah kopi ini memberi manfaat. Amin. Terus yang kita perjuangkan adalah bagaimana kita terus mempropagandakan bagaimana petani-petani kopi ini lebih manfaat. petani-petani kopi lebih manfaat karena masih banyak petani kopi kita yang petik sembarangan. Tidak menjaga kualitas tapi masih memikirkan kuantitas. Kuantitas. Kuantitas. Karena dalam 1 ton biji kopi kalau enggak dipetik merah itu petani kelilingan kurang lebih Rp5 juta per ton. Kalau enggak petik merah. Kalau gak petik merah. Karena kopi merah itu kalau dalam 1 kilo itu kurang lebih 600 biji, Mas. Hm. Kalau petik hijau itu 800 biji lebih. Oke. Lebih banyak ya? Lebih banyak. Dari segi berat kalah, dari segi harga kalah. Kopi hijau kan gak laku dijual di kopi-kopi spesial. Iya. Nah, paling lakunya kopi commercial gate yang harganya Rp70.000 lah sampai Rp80.000. Tapi kalau yang spesialti dalam 1 kilo kan sudah di angka Rp100.000 lebih. Iya. Nah, kalau misalnya dalam 1 ton petani kopi itu petik hijau, dia kehilangan 2 kintal. H iya per tonnya. Nah, kalau sekarang harga ceri kopi merah itu R.000 gitu kan kalau dijual ceri dia sudah rugi Rp3 juta. Iya. Nah, Rp3 juta bisa untuk beli pupuk 1 ton. itu kenapa kok orang petik hijau, Pak? Apa waktunya gitu ya? Nah, ini tugas dan peran pemerintah harus hadir. Saya penginnya itu. Jadi, bagaimana peran pemerintah membuat peraturan daerah yang lebih jelas, yang lebih tegas untuk melarang petik hijau. Bukan untuk me menghakimi si petani, tapi bagaimana menilai memberikan nilai tambah yang lebih gitu loh. Terus bagaimana juga memberikan ee punishment ke pedagang-pedagang dan ee gudang-gudang yang membeli kopi hijau gitu yang belum tua gitu. Nun sewu, apukat aja di petik hijau kan belum tua enggak enak. Melahirkan aja kan harus 9 bulan. Kopi ini juga gitu. Kalau belum merah dipetik itu rasanya bukan kopi tapi rasa jagung. Oh, karena kalau di bahasa barista itu kalau di roasting itu ada namanya quicker. Quicker itu kopi yang kalau dirasa itu rasa jagung banget. Jadi prematur itu. Prematur. Jadi itu masih belum cukup umum. Bayangin kalau satu Indonesia ada Bondowoso aja ada sekitar 80.000 hektar h kebun kopi ya. 1 hektar itu bisa menghasilkan rata-rata 4 sampai 8 ton ceri gitu. Kalau separuh aja dipetik hijau gitu, berapa miliar h kerugian petani gitu. Nah, inilah tugas pemerintah hadir gitu. Nah, sekarang Menteri Pertanian kita akan keren ini. Saya sering ngikuti YouTube-nya beliau juga keren banget. Iya betul, betul. Iya, Pak Amran ini. Pak Amran kapan-kapan kita undang ke sini ya. Saya tunggu ya undangan di pecah telur ini, Pak. tolong buatlah aturan untuk petik hijau itu bisa berkurang ah lek bisa ditiadakan dengan cara apa? Yaitu pengawasan yang lebih betul-betul lebih bagus gitu loh. Kita kalah bagaimana dengan Thailand? Kita kalah bagaimana dengan Vietnam. Vietnam dulu belajarnya kopi ke Indonesia Mas. Iya. Sekarang nyelip Indonesia gitu loh. Nah untuk teman-teman petani kopi bukan saya iri ke panjenengan. untuk petik hijau gak. Tapi saya ini sedih gitu karena panjenengan setiap 1 ton akan hilang 3 sampai 5 juta yang mana 35 juta itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan biaya kebun. Heeh. Gitu. Bisa pupuk, bisa pembeli pembenian apa obat-obatan semprot bisa membayar tenaga kerja kan itu. Jadi apapun kalau dilakukan dengan baik insyaallah semuanya akan menghasilkan lebih baik. Siap, Pak. Suka duka petani kopi, Pak. Apa suka dukanya, Pak? Dulu saya jadi pegawai, berangkat pagi pulang malam, apalagi kalau akhir bulan. He. Bisa anak bisa enggak pulang pulang atau anak berangkat tidur, pulang anak juga sudah tidur. Tapi kalau di jadi petani ini kumpul dengan keluarga lebih banyak. Lebih banyak. H. Ya. Terus yang kedua saya lebih mensyukuri hidup bahwasanya Oh. Allah ini ngasih rezeki itu ternyata dari banyak arah gitu. Ah, dukanya ya kalau hujan ya kehujanan. Nah, ini kemarin nih tangan saya, tangan saya sampai meletus. Itu kenapa ini proning? Kita kita sambil meroning buang tunas-tunas muda yang enggak anu pakai gunting proning itu saking terlalu semangatnya. Karena kopi kan sekarang lebat. Iya, lebat. Tapi ya alhamdulillah. Iya. I ini syukur yang saya sampai sekarang mudah-mudahan nular ke semua petani kopi gitu. Amin. Karena intinya bertani kalau kita tekuni itu luar biasa. Karena kan sekarang selain kopi kita juga kembangkan durian. Durian. Kita ngembangin enam jenis durian. Terus kita juga juga di Bossa Pak ya. Jadi di tengah-tengah kebun kopi kita kasih durian. Terus kita juga ngembang 11 variitas alpukat. H. Dan itu luar biasa. Heeh. Jadi luar biasa banget untuk petani kopi. Rahasia anu, Pak. Biar jenengan kan juga petani tapi bisa grut-nya luar biasa gitu, eksponensial gitu ya. Dari lahan pun tadi awal beli Heeh. sampai sekarang bisa mengelola 3 eh 10 hektar ya. Itu apa ee kuncinya, Pak? Satu, dari awal kita buat produk berkualitas. Setelah kita punya barang berkualitas ee kita kan nanti bisa daftarin untuk mendapatkan satu kita punya sertifikat uji cita rasa itu bisa didapatkan dari pusat penelitian Kopi dan kakau Indonesia. Kebetulan kan dekat di Jember. Jadi orang Indonesia mau belajar kopi sesungguhnya ke Jember karena di Jember ada pusat penelitian kopi dan kakau Indonesia. Nah, itu bisa jadi kopi ini dinilai bagus itu ada sertifikat uji cita rasa kaping skor kalau nilainya 85 ke atas itu kategorinya sudah spesialti. H. Nah, yang kedua kita bisa minta sertifikat uji timbal. Kalau ke Asia Timur itu sangat dibutuhkan sertifikat uji timbal. Kita juga sudah punya itu ke Badan Sertifikasi Nasional. Heeh. Heeh. itu dengan data-data seperti itu kalau kita pameran mau ikut pameran kita bisa lihat di channel Instagram atau di website-nya kementerian-kementerian baik pementerian perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian UMKM kan setiap ada pameran-pameran nasional beliau itu pasti ngadain kurasi. Oh. Oh. Nah, termasuk kemarin BI ngadain kurasi di TIG di BI Jember itu ada kurasi di Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Begitu kita lolos kurasi, kita akan difasilitasi pameran-pameran itu. Baik bisnis matching diketemukan dengan bayar-bayar luar negeri gitu. Terus kita difasilitasi untuk pameran-peran level nasional yang di situ kita akan berinteraksi dengan pelaku-pelaku usaha lokal maupun dunia gitu. Jadi dari awalnya itu kita harus sering-sering berinteraksi lewat dunia maya juga. Jadi lewat website gitu ya. Kenapa saya semangat ke pecah telur? Salah satunya subscribernya kan juga lumayan. Nah, mudah-mudahan ini juga membuka hati para petani untuk lebih bagus, untuk lebih menjaga kualitas agar petani kita, petani Indonesia pada umumnya itu bukan hanya berjaya di daerahnya, tapi kita juga harus bisa berjaya ke dunia. Siap. Eeah, kita harus bisa ekspor buah-buah Indonesia ke luar. Jangan hanya kita impor. He. Nah, kita juga harus bangga dengan buah-buah nasional. Tapi kita juga tidak harus kalah dengan buah-buah dari luar kan dari luar. Siap. Berarti tadi kalau saya resume kuncinya produknya harus berkualitas. Terbukti juga nanti ada akan ada beberapa ee sertifikat-sertifikat penunjang untuk kualitas itu. Berjejaring juga. Iya. Eh, habis itu apaagi, Pak? berjejaring. Setelah setelah berjejaring maksudnya selain berjejaring, Mas dari kalau untuk bisa memiliki lahan sampai hektaran itu gimana? Ya awalnya berinteraksi dengan dengan ini berjejaring itu berjejaring terus kita kelola terus kan ada teman-teman itu yang aku pengin duwe kebun tapi aku ora iso ngerumat ya sudah beli kebun kita yang rawat kita yang ngerawat gitu. Nah, nanti dari hasil kebun itu teman-teman yang pegawai kan bisa membandingkan hasil kebunnya dengan gajinya dia dari pegawai. Lek ada sebagian sudah yang berhenti karena apa? merasa dari hasil keburnya aja sudah cukup kok aku sesu pengin kay kowe ini jangan dijadikan pilihan tapi istihar disik ojo kesusu leren gitu awakmu ojo ngahno enake hasile kebun tapi reko reko doyo reko apa bagaimana kita berikhtiar di kebun itu yang harus harus kamu dalami dulu kon gelem enggak kudanan kon gelem enggak kedingin kon gelem enggak kepanas kon gelem enggak kepreset ee Iara yang namanya jatuh sudah enggak kehitung kalau naik sepeda. Iya. Iya. Jalannya kan enggak enggak mulus ya. Offro jalan gunung ya. Betul betul. Jadi dari interaksi kolaborasi kolaborasi. Betul. Kolaborasi. Kalau 10 ton itu eh 10 ton 10 hektar itu panennya berapa banyak berarti Pak? Kopi itu rata-rata dalam 1 hektar kalur busta itu ada 12.00 pohon. Kalau dimaksimalkan minimal itu bisa 1 kilo per pohon. 1 per pohon. Biji kopi kering. Jadi kalau 1 ton itu ada sekitar 1,2 ton. Kalau 1 hektar 1 hektar tinggal ngalikan. Kalau harganya Rp80.000 dibuat Rp80.000 berarti yang du yang 30% untuk biaya kan tinggal sekitar 900 kilo dikalikan Rp80.000. He he. Nah, kan sudah lumayan. Kuncinya lagi satu itu ee jadilah petani atau pekebun yang beda dari yang lain. Oh, beda, Bu. Iya, kan beda. Kalau pekebun yang lain ee dia dari panen langsung dijual gelondong sudah selesai. Oke, kita mulai dari petik dari petik ee petik gelondong ya ceri sampai diproses sendiri sampai kita nyeduk apa sampai yang siap ready to drink itu kan beda i beda dari petani yang lain sambil terus berinovasi membuat eksperimental-eksperimental untuk membuat cita rasa kopi yang berbeda. H seperti yang diceritakan tadi sekarang kan banyak lagi bukannya nyawen ada mustu proses. Iya. Ada laptop basilus proses ya, ada natural aerob. Wah, macam-macam macam-macam sekarang mesin kopi. Bahkan sekarang sudah ada infus. Jadi kopi rasa stroberi, kopi rasa vanila. Iya. Tapi kan itu ada tambahan ini tambahan. Kalau kita enggak ada tambahan sama sekali. Tapi itu adalah bagaimana teman-teman untuk menarik kopinya bisa dibeli berinovasi. Nah, berinovasi itu. Jadi, jangan ragu untuk itu. Kalau sekarang, Pak, putaran kopinya berapa sekarang? Kalau tadi kan sampai yang truk-trekan dan sebagainya tadi ya disampaikan tiutan beberapa tahun yang lalu. Kalau sekarang, Pak. Kemarin lek sekarang saya karena lahan sudah agak luas, saya lebih konsen di di kebun. Oh, fokus kebun sendiri. fokus enggak ngambil-ambil yang kayak tadi ya. Karena saya ingin juga memberikan contoh ke beberapa petani itu bahwasanya dengan fokus di kebun aja insyaallah sudah cukup gitu loh. Karena kalau kita dua-duanya difokuskan dulu saya sampai nimbang di Bali, saya nimbang di Sulawesi. Yang punya sendiri keteteran. yang punya sendiri keteteranitu. Karena kan di rumah dengan bertambah mahalnya harga kopi, sekarang teman-teman yang dulu jadi pekerja rata-rata punya kebun kopi. Heeh. Heeh. Jadi rata-rata nyari pekerja sulit sekarang untuk di perkebunan kopi. Karena rata-rata yang dulunya pekerja itu sudah punya kebun sendiri-sendiri. Betul. Karena hutan kan masih luas. Oh iya. I ya. I itu kan diizinkan kan asalkan ada izin dari KPH Perhutani itu boleh karena ada sharing hasilnya ke perutani. Kalau untuk lahan Bapak berarti ada berapa yang ngerjakan? Kita sekarang ini untuk 10 hektar kita hanya empat orang. Sangat efisien ya? Sangat banget. Tapi ya yang kerja juga yang yang punya juga kerja. Empat orang termasuk yang punya. Jadi kalau kita manajemen bagus dieefisienkan seefisien mungkin. Iya. Iya. Makanya profitnya bisa berkali-kali lipat. Iya. I mantap. Tadi juga dibilang bahwa ee ada apa salah satu kunci suksesnya Pak Dani itu karena orang tua katanya, Pak. Iya. Itu gimana? Saya belum dapat itu tadi. Jadi ridanya Allah itu kan ridanya orang tua. Jadi setiap tadi saya ke sini, saya mampir ke rumah, saya hanya ingin sungkem ibu, saya ingin cium ibu. Pulang ke Bowoso. Nanti saya pulang. Apa yang ayah lakukan? Biasa, Bu, aku saya minta dilingkahi orang Jawa kan itu. H saya minta mesti minta didoain terus dilangkahi. Saya pas di berbaring di depan pintu. Iya. dilangkai. Saya minta di langkahi sambil didoain. Doain anake sampean sehat. H rezekine lancar barokah. Sudah itu. H. Jadi itu jadi patuh ke orang tua, patuh ke guru itu salah satu. Jangan pernah berbuat tidak baik. Jangankan ke orang, ke diri sendiri aja. Kita menyakiti diri sendiri aja kan gak boleh. Apalagi menyakiti orang lain. Mungkin itu. Orang tuanya Malang ya? Orang tua saya Malang. tinggal di Malang di Kecamatan Gonalgi. Oh, agak jauh berarti ya dari jenengan Bondowoso. Bondowoso. Kalau Bu O mana? Bondowoso. Saya asli Bondowoso. Bondowoso. Asli Bondowoso. Tapi Pak Dani senang banget kalau di Bondowoso. Senang. Senang karena ada ibu. Oh, ada mungkin kalau ibu di Malang ya di senang di Malang apa enggak macet kalau di Bondoso. Oh, gitu ya. Saya senang sunyi. Oh, saya senang sunyi keningan. Jadi saya kalau lagi punya rezeki itu bukan ke tempat-tempat keramaian, tapi saya malah cari tempat sepi gitu, terus merenung gitu melihat. Apalagi kalau pas di gunung itu lereng kopi kita itu kan ada di ketinggian 1300. Yang paling tinggi itu kita lihat rumah kita, anak kita, harta kita kan gak kelihatan. Hm. H. Sedangkan lukisan Allah itu dari awan yang setiap hari, setiap detik berubah itu kan memberikan lukisan-lukisan yang cukup indah bagi saya. Jadi tidak ada sesuatu yang pantas kita sombongkan kita sebagai manusia gitu. Jadi ya itu saya bilang ke istri satu wis hindari penyakit hati gitu. H gitu dari sekarang termasuk kita di keluarga jangan saling mencaci. Saya menghindari pertengkaran. Saya nikah 2005 sampai sekarang 2 25 25. Nah, itu 20 tahun. 20 tahun. Pacarannya 2000. Pacaran 2000. Dan saya paling menghindari pertengkaran. Jadi kalau istri lagi marah mending saya pergi. Nah, kalau sudah redap baru baru balik ngobrol lagi baru di WA kok enggak pulang gitu. Baru pulang. Jadi itu ya termasuk juga itu Pak berarti ya kebiasaannya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kan suka menepi kan dulu kan dari Makkah ke Gua Hira kan menepi kan ya betul keluar sejenak dari kebisingan kebisingan kalau bahasanya apa itu uzlah atau apa ya kalau enggak salah ya kurang paham berarti jenengan uzlah Pak gitu menepi gitu ya menepi he tadi juga dikatakan bahwa inspiratornya Bu Oh inspirator dalam hal apa ini berarti Ya, jadi istri saya ya salah satunya kan yang saya nilai ini kan mahasiswi aneh bagi saya mahasis kalau yang lain itu kan senang yang berlente gitu berlen terus anak-anak yang gedongan pakaian rapi. Mau pacaran Mek saya seorang anak terminal kan nilai lebih gitu bagi saya. Iya. Iya. Aneh memang Mbak. Iya aneh. Dan saya ngelamar itu sendirian. Oh ke orang tuanya. Kenapa? Karena aku ditolak. Kalau saya ngelamar sendirian. Ditolak kan orang tua saya gak malu. Sendirian saya ngelamar istri saya ini. Berarti sudah ada persiapan nanti ditolak. Berarti ada persiapan ditolak, Pak, ya? Oh iya sangat. Karena saya saya bilang sekarang tinggal di mana? Di terminal. Oh gitu. Saya ngomong apa adanya kam saya tinggal di terminal. Setiap hari saya kumpul sama anak-anak terminal gitu. Dan kebetulan ayahandanya beliau ini sopir bis. Oh. Sama-sama orang terminal berarti tapi enggak di Arjosari. Jadi di terminal lain Bandungsari. Jadi tahu toh ya opo arek terminal iku kan gitu. Nah ketimbang orang tua saya malu saya ngelamar dewekan ternyata kok dikasih izin baru orang tua saya se. Iya. Oke. Terima kasih sudah mampir ke sini. Masih ada pertanyaan Mas Surya? Masih. Mungkin nanti enak malah kalau kebondowo. Oh, siap ditunggu. Iya. Itu saya nunggu itu aja yang kebun duriannya sudah berbuat baru baru. Seminggu kemarin panen terakhir. Aduh itu nanti ada panen lagi. Kapan ini? Nanti kita ke sana. Maret sampai Mei bulan tahun depan. Siap. Siap. Cocok itu. Pas gu ya. Ide bagus Mas Agung. Iya, soalnya kemarin sampai kehabisan banyak yang antri yang pesan. Iya. Iya. Kita sudah di pohon sudah kita masukkan IG, masukkan media sosial. Sudah ngelis itu durian apa kita ada montong bawor yang sudah buah. Hm. Tapi insyaallah ke depan kita ada duri hitam, ada musangking. Ya, itu yang lagi agak naik dar sekarang duri hitam ya kayaknya ya. Banyak dikontenin. Terima kasih Pak Dani sudah mampir teman-teman. Ini adalah inspirator pertanian kita. Heeh. Jadi ee petani itu keren gitu ya. Yang ser banget Pak ya banget. Petani itu keren banget banget banget. Sampai jumpa di next. Kita akan menghadirkan petani keren yang lain. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wabarakatuh. Alhamdulillah. [Tepuk tangan] Yeah.