BANGKIT dari KEBANGKRUTAN dan kegagalan jadi AYAH dengan "KESADARAN"!
CKHyHy_XgdA • 2025-05-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kita kedatangan tamu dari Malang yaitu Mas Aris. Ini guru saya Mas Sur ya. Oh gitu. Saya ikut workshop beliau waktu itu break time Mas. Saya jadinya bisa beristirahat karena ikut break time. Oh iya break time itu di tengah-tengah kencang itu harus ada break time-nya. Nah ini Mas Aris ini kan banyak ini Mas yang digelutin jenengan kalau bagi yang untuk belum tahu ee disebut apa sih Mas? Jenengan senang disebut sebagai konsultan customer experience karena memang kami menjalankan profesi sebagai konsultan gitu ya. Jadi punya sebuah perusahaan konsultan customer experience namanya dan alhamdulillah kami mendampingi banyak perusahaan puluhan perusahaan di Indonesia untuk bagaimana sih mereka membangun culture perusahaan sampai kemudian output dan outcome-nya itu bisa memberikan customer experience yang baik kepada customer. Dan siapapun perusahaan semakin banyak dia itu melayani customernya yang berhasil memenangkan hati customernya ya perusahaannya akan kemudian bisa memenangkan persaingan. Eh konsultan customer experience. I saya agak agak juga tidak familiar juga ya Mas di Indonesia ya Mas. Mungkin jenengan yang pertama kali ya kayaknya gitu ya. Nah itu apa apa maksudnya goal-nya seperti apa bagi teman-teman kita pengusaha customer experience itu sebenarnya sesuatu yang alamiah gitu ya. Jadi kalau orang bicara strategi marketing itu akan mengalami apa namanya kayak pertumbuhan metodologi macam-macam. Tapi sebenarnya yang paling basic itu adalah bahwa customer itu pengin menang banyak. customer itu pengin dibahagiakan. Itu kan strategi marketing yang paling basic dari sejak zaman purba mungkin ya kalau sudah ada perdagangan di zaman dulu gitu ya sampai nanti mungkin sampai akhir zaman menjelang hari kiamat. Kalau bahasa orang Madura kiamat kurang sehari tetap jualan. Tetap jualan dia. Artinya customer itu suka dengan pembeli yang baik. Customer suka enggak ditipu sama pedagang gitu ya. Mulai dari bisnis yang skala kecil, mulai dari kita jualan kaki lima pun sebenarnya adalah customer experience gitu. Mulai dari kita belanja ke Lijau umumnya ya itu kayak tukang sayur itu kalau tukang sayurnya itu apa ya humble akrab menyenangkan, kalau orang Jawa bilang suka aw-aw gitu ya suka suka ngasih-ngasih bonus kan customer senang dan kemudian akhirnya jadi jadi langganan gitu sampai kemudian kalau kita bicara perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, seperti Zapos, seperti Southwest Irelands, Hailow dan apa Mart dan sebagainya itu adalah perusahaan-perusahaan yang memang ee fokus membangun customer experience. Jadi sebenarnya kita mengembalikan marketing itu ke bentuk yang alaminya gitu. Bentuk customer itu happy mendapatkan produk dari sebuah perusahaan repeat dan juga merekomendasikan. Itu kan bentuk yang paling alami dari proses marketing itu sendiri. Yang penting bikin customer happy, maka dia akan senang mungkin bisa cerita ke banyak orang dan belanja lagi kan gitu. Konsepnya gitu berarti ya Mas ya. Ya, sesederhana itu. Cuman enggak sederhana ketika bisnis itu mulai berkembang, karyawan mulai banyak, cabang mulai mulai banyak gitu ya. Kita handle salah satu perusahaan, ada rumah sakit yang 500 karyawan. Kalau kita ngomong ke tim gitu ya, oh ya nanti teman-teman bikin pelayan yang bagus, senyum kepada keluarga pasien atau ke pasien gitu. Tapi bagaimana membuat 500 orang itu bisa melakukan hal yang seperti itu kan sesuatu yang enggak jadi enggak sederhana gitu. Oke. Nah, ketika bisnis masih sendiri personal gitu, Bwinnya jualan sendiri ya bisa. Tapi ketika sudah dieliver ke tim ini kan menjadi challenging yang berbeda. Bukan lagi karakter personality dari ownernya, tapi lebih ke culture dari perusahaan. Contoh ya, Mas. Sini jenengan tadi bilang katakanlah pada rumah sakit dengan 500 karyawan. Nah, itu gimana caranya bikin mereka tersenyum bareng mereka senyumnya tulus ketika ada komplain dari atau menghadapi pasien begitu? Gimana, Mas? Iya, saya ada sedikit filosofi atau metafora lah ya dari salah satu gurunya istri saya yang suka memelihara ikan. Kebetulan istri saya suka memelihara ikan di akuarium gitu. Gurunya itu sempat ngomong kayak gini, memelihara ikan itu bukan dengan cara memelihara ikannya langsung, tapi dengan cara memelihara airnya. Ketika air itu dipelihara, pH-nya dipelihara, suhunya dipelihara, ekosistem dan lingkuan dipelihara, maka kemudian ekosistem itu yang merawat ikannya, air itu yang kemudian merawat ikannya, gitu ya. sama bisnis masih kita sendiri yang handle ya itu enggak perlu culture macam-macam karena kita sendiri yang ngelakuin itu tergantung person dan karakter dari buwer gitu ya. Tapi ketika karya sudah banyak maka kita harus menciptakan sebuah ekosistem, sebuah lingkungan yang itu kemudian merawat timnya gitu. Saya pakai filosofi dari Disney kalau enggak salah ya, delight customer by putting employees first gitu. Jadi men-delight membahagiakan customer itu justru dimulai dari employees-nya dulu. Kalau employennya itu enggak bahagia, mengut atau mereka enggak nyaman karena banyak lingkungan toksik di situ, enggak mungkin mereka kemudian bisa eh men-deliver value ke customer gitu. Kenapa? Kalau kita kemarin belajar ada sikit tentang const leadership, terus belajar tentang membangun culture perusahaan ya karena itu dulu yang harus dimulai itu pondasinya baru kemudian kita bicara skill-skill bagaimana tim melayani pasiennya atau melayani customernya gitu. Jadi kalau biasanya kami di sentrik itu ada empat pendekatan. Jadi kita membangun pertama soulset, membangun jiwa karena mindset aja enggak cukup termasuk jiwa ya Mas ya. Jiwa contoh nih saya tahu kalau melayani customer itu nanti customer bakal balik lagi merekomendasikan mensetnya tahu. He. Tapi kadang ketika melayaninya karena enggak punya soulnya ya akhirnya ya enggak bisa ya BB aja gitu. Hm. Jadi dari soulset kita bangun, kemudian dari mindsetnya juga kita bangun, dari skill setnya kita bangun, dan dari terakhir dari tool set-nya, kecerdasan sistemnya ya. Kami mengembangkan teknologi namanya OKR Plus sehingga apa namanya semua aktivitas dari tim itu bisa diracking real time dan bagaimana mendorong tim itu untuk punya inisiatif dan produktivitas yang lebih gitu. Ibaratnya bagaimana tim itu bisa sprint, bisa lari. Kebanyakan dari kita itu kan jalannya itu lari terus, habis itu kayak burn out gitu. Betul. Betul. Kayak kebanyakan load beban gitu ya, burn out jadinya. I atau yang justru lari maraton larinya pelan pelan pelan pelan asal kelakon gitu ya. Ee nyampai. Tapi kalau kita pengin beyond pengin menjadi bagian dari 5% populasi dunia artinya ekstraordinary gitu yang yang transcendence gitu ya. Kita harus sprint tapi kemudian dibaringi dengan break. Jadi sprint break, sprint break, sprint break kayak Formula 1 gitu kan. Kencang habis itu langsung masuk pitop dalam. Kencang lagi masuk pitop. Nah, itu semua harus dimonitoring dan kita ngembangkan teknologi untuk itu gitu. Teknologi untuk ee monitoring, teknologi untuk bagaimana menumbuhkan inisiatif-inisiatif dari tim dan empat hal tadi itu souls, sets, mindset, skill set, dan toolsnya itu adalah sebuah keseluruhan gitu ya, sebuah paket gitu ya. I yang kemudian membentuk experience yang baik tadi itu. Yes, betul. Outputnya customer experience. Heeh. Tadi sih masalah mindset sama tools itu relatif familiar gitu ya. Kalau soul, jiwa itu rasanya masih yang kepikiran sama saya abstrak itu bangun soulsit itu ee ya bangunnya itu gimana, soul itu gimana, untuk bisa membangkitkan itu gimana, Mas Aris? Iya. Bicara tentang konsep agama itu kita bergerak dari ritual ke spiritual itu soulset. dari ritual ke spiritual. Contoh namanya kalau kita Oh, I kalau kita salat takbir Allahu Akbar ritual kan itu ritual. Tapi kalau kita meyakini bahwa Allah yang maha besar, kita enggak kita enggak boleh sombong, itu baru spiritual gitu. Itu kalau dalam konteks memaknai ritual itu jadinyalah spiritual gitu ya. Spiritual itu membangun perusahaan itu drivennya itu value. Untuk bisa membangun soulset tadi itu juga harus ada ritual-ritualnya. Ini bukan litural bidah atau syirik kayaknya. Ini temannya itu yang lagi viral apa ya? Siapa namanya? Walid. Walid. Oh, walid. Iya. I ya. Ya. Jadi membangun ritual di company, di perusahaan ya sehingga melakukan internalisasi internalasi value tadi itu sehingga kemudian bisa dipahami dan yang paling penting itu sebenarnya adalah pendekatan neuroscience gitu ya. Neocortex, ada Mamal Brain, ada Lizard Brain gitu yang yang membuat karakter tim kita itu enggak baik. Itu kan sebenarnya karena masalah pribadi yang terjadi di masa lalu gitu ya, karena mungkin di keluarganya, inerel, macam-macam gitu. Nah, bagaimana kemudian kita mengaktifkan human print seseorang eh power-nya itu keluar gitu. Lat-nya itu keluar atau bahasanya conscious leadership-nya itu keluar. Karena ketika itu keluar mereka akan kemudian punya makna hidup yang berbeda. H berarti dengan membangun kesadaran ya Mas ya. Kesadaran kesadaran biar dia itu bukan hanya ritual kalau bahasa agama bahasa salatnya itu jadi menjadi spiritual maknanya paham dia dan akhirnya ya mendalami dan berdampak pada kehidupan dia gitu ya. Insentrik itu mengerjakan itu tadi itu ya Mas ya. Kerjaan itu. Ngerjain itu ya. Berarti dampingi perusahaan-perusahaan Mas. Iya. kami ada pendampingan biasanya 1 tahun gitu ya dari mulai setting dari awal sampai kemudian tool set sampai pengungkuran-pengungkurannya gitu kan semuanya harus harus ada pertumbuhan-pertumbuhan kan yang harus diukur gitu. Perusahaan apa aja biasanya yang ditangani? Kami banyak banget ya mulai dari perusahaan-perusahaan seperti di kesehatan ya kayak rumah sakit klinik itu beberapa ada klinik estetik ada klinik mata, ada klinik umum gitu. atau juga di dunia riliner juga ada dan kebetulan memang di digital kita juga ada gitu ketika kita bicara tentang CRM gitu ya. Jadi bangun customer relationship dengan customer kan enggak sekedar broadcast upselling cross selling kan seperti itu ya. Nah itu kita juga dampingi beberapa perusahaan semacam kayak skincare yang gitu-gitu gitu. Terus ada juga yang model pembinaan reseller distributor macam-macam. Jadi ee kompleks banget yang kita tangani. Cuman kalau boleh dibilang persentase terbanyaknya memang di di bidang kesehatan. Oh. Oh, kesehatan malah yang paling banyak akhir-akhir ini. Iya. Yang paling banyak di klinik, rumah sakit. Ya memang kalau kita bicara customer experience kan yang nampak kan yang face to face dengan klien atau dengan pasien gitu kan Mas ya. Kayak lebih terasa begitu ya. Iya. Hotel gitu kan hotel hospital itah bahasanya ya. I memang kalau online nanti jatuhnya ke CRM itu ya, bagaimana mengelola database biar makin dekat dengan customer, biar makin loyal gitu-gitu ya, Mas. Betul. Betul. He kalau dari pengalamannya Mas Aris, kesalahan paling umum itu apa sih, Mas, di customer experience? Eh, menjadikan customer sebagai objek bukan sebagai subjek. Bedanya gimana itu? Ya, menjadikan customer sebagai objek itu, ini kalau yang eksternal ya, ke customer ya. menjadikan customer sebagai objek itu ya customer itu kayak hanya jadi sapi perah gitu loh yang yang harus dieksploitasi gitu ya bukan yang justru diberikan value. Oke. Kalau perusahaan customer centris itu adalah ee perusahaan yang kemudian justru berfokus sama customer, memahami problem customer, berempati kepada customer, dan kemungkinan besar untuk memenangkan hati customer itu lebih besar karena lebih ke customer ee sentris seperti itu. Oke. Jadi itu yang kesalahan paling umum kalau ke yang eksternal ya, ke customer. Kalau yang ke internal karena kan ini dua-duanya ee saling bersinggungan antara employee experience sama customer experience gitu ya. Sederhananya menjadikan tim sebagai resource bukan sebagai source, bukan sebagai sumber mata air harus kan jadi kayak sumber itu kayak kayak batu bara itu kan. Iya. Iya. Habis terbakar nanti mereka. Iya. Tapi kalau kita menjadikan tim sebagai source, justru potensi, knowledge, pengetahuan yang mereka miliki itu kemudian akan diserahkan ke perusahaan. Perbedaan yang lebih teknisnya resource dan source itu tadi teknis kalau di teknis mungkin kita pendekannya pakai OKR ya, pakai objektif riset dibandingkan dengan KPI. Kalau KPI kan orang sudah diatur standarnya ya gini gini gini. Ini ini bukan masalah ee mana yang benar, mana yang enggak ya. Tapi saya bicara tentang relevansi dengan perkembangan ee psikologi manusia saat ini dan seterusnya gitu. Jadi dengan OKR atau objektif carisal. Jadi objektif eh kalau enggak salah John Dur ya enggak salah yang di Google itu dari puluhan mungkin saya lupa baca e 20 atau 30 karyawan Google sampai sekarang ratusan ribu gitu. Itu mulai dari OKR. Jadi, OKR itu memberikan ruang ya, memberikan ruang bagi tim untuk kemudian memberikan inisiatif-inisiatif gitu. Tapi objektif dan kirisatnya sudah kita kunci gitu. Kiset itu artinya ukuran keberhasilannya gitu. Dampak impactnya. Umpamanya omset dari sekian ke sekian, dapat pelanggan baru dari sekian ke sekian gitu. Itunya sudah dikunci. Iya, dikunci. Tapi kemudian activity-nya itu kita kasihkan kesempatan bagi tim untuk ee mereka punya inisiatif. beberapa perusahaan itu ngeluh kepada saya, "Mas Haris, ini tim itu kok enggak punya inisiatif gitu. Mereka itu kalau enggak diopera-opera enggak enggak gerak-gerak, Mas." Itu umum banget sih. Umum biasanya bisnis owner yang di kena ee yang dihadapi kayak gitu. Akhirnya cuma disuruh ini ngerjain itu, tapi enggak ada inisiatif, enggak proaktif gitu ya. Ya, masalahnya sekali inisiatif dibantain. Oh. Enggak dikasih ruang untuk inisiatif gitu. Jadi kadang kita itu menyalahkan objek yang lain padahal sebenarnya yang salah itu diri kita sendiri. Oke. Iya. Iya. He. Bumi yang menyalahkan terjadinya gerhana bulan gitu. Padahal sebenarnya karena bayangan bumi itu sendiri gitu, posisi buminya sendiri gitu. Nah, sama ada leader yang ngomong lah kalau leadernya itu narsis, leadernya itu toxic controller, suka ngatur, detektor, terus kemudian ngomong timnya, "Kau enggak punya inisiatif?" Lah sekali mereka punya inisiatif dibantahin, diinstruksi, enggak dikasih ruang. Nah, itu yang kadang ee ketika kita mendampingi perusahaan-perusahaan itu ya hal-hal seperti itu yang menjadi konsern kita dan itu harus dimulai dari bisnis ownernya gitu. Kalau dalam dunia saya itu biasanya gini, Mas Haris, ini orang kreatif tapi kok enggak kreatif ya. Ini rekrut tim kreatif tapi enggak kreatif kan mirip tadi. Jadi ee timnya enggak inisiatif dan sebagainya. Kalau di bidang kita kan bidangnya kan kreatif. Jadi rekrut tim kreatif tapi orangnya enggak kreatif. Enggak punya inisiatif. bingung ini gimana e A ya udah A enggak ada enggak ada improvisasi A+ atau A-kan bagaimana baiknya kan gitu yang kita harapkan kan seperti itu ya tim kreatif itu kan gitu. Iya Mas Agung kan kita sebenarnya sudah ngasih ruang tapi dia kok enggak proaktif. Kalau yang kayak gitu gimana Mas? Ya gini ada orang yang mengatakan seperti ini. Kalau kalian punya masalah di rumah jangan dibawa ke kantor ya. Masalahnya kepalanya di bawah. Iya sih enggak mungkinak ditinggal tinggal gitu ya. harus selesai dengan diri sendiri gitu. Jadi kalau kemarin kayak yang di break time itu kan kita ada pendekatan perspektif power force ya yang David Hawkin itu. Jadi karena memang mereka masih force, energinya masih lemah gitu. Nah, seorang pemimpin entah itu base owner, CEO dan seterusnya itu enggak punya power yang bisa menggerakkan, yang bisa menentramkan, yang bisa kemudian membuat tim itu lebih perform ya kan energinya tadi energi yang negatif ya. Karena kan kita pernah kan, Mas, ketemu sama orang yang kalau ada dia itu kita semangat kerja gitu. Ada juga yang malas karena dia itu tongkrongan jadi enggak asik. Ada dia itu padahal dia enggak ngapa-ngapain. Enggak ngapa-ngapain itu. I sebenarnya kalau yang materi backtime itu kan materi pendampingan owner sebenarnya Mas. Jadi kalau kami di insentifik di perusahaan itu kita mendampingi sampai tiga layer ownernya didampingi kebetulan memang Owan sama saya gitu terus ada yang si levelnya yang manajerial biasanya ada Masana dan tim sampai kan frontlinernya sampai orang-orang yang di bawah kayak satpam atau waiters atau kasir itu kita ada tim sendiri yang mendampingi gitu. Nah, ketika bunya itu yang bermasalah, value-nya atau kesadarannya masih belum tumbuh gitu, energinya masih lemah, aku punya 200 karyawan, tapi kenapa ya mereka sulit diatur ya? Saya biasanya sampean pengin jawaban yang menyenangkan atau jawaban yang sebenarnya. Iya. Karena sampean belum punya energi untuk bisa mengatur 200 orang itu. Kalau sampean nonton One Piece, Anda belum punya haki raja gitu. Wah, ini belum punya haki ya nakama. Ini nakamanya keluar. Jenengan kan bangun insentrik ini kan tahun 2002 berapa? 2020 3 tahun ini ya? Berarti 2022 ya? Iya betul. Kok ada ketemu di situ? Ketemu di customer experience itu apa anunya pemantiknya? Awalnya saya memulai bisnis ee di bidang konsultan edukasi. Mulai belajar tahun 2019 ya. Termasuk orang yang lambat belajar sebenarnya baru baru sadar baru tahu ada istilah coaching, mentoring, training itu 2019 gitu. sebelumnya kan ya tadi saya pernah bangkrut lama hampir 10 tahun jadi bakul buah jadi kurir buah setelah belajar itu kemudian saya menemukan tentang flywhel marketing waktu itu ya dan kemudian Hubspot yang yang menolorkan metodologi itu baru keluar tahun 2018 dan kebetulan di Indonesia masih belum ada yang ngembangin terus saya pelajari dan saya kembangin awalnya ya sendiri gitu Mas Agung dulu kalau enggak salah saya jadi gurul marketing jadi enggak punya tim gitu dulu sempat bikin tim gagal gitu. Terus kemudian ya alhamdulillah dipertemukan sama Allah dengan partner saya Mas Yana ya Mas Yana Sandi. Jadi kebetulan beliau 13 tahun tiis calton tahu betul dan kita dipertemukan dengan cara yang sangat ajaib gitu ya sangat magic lah bahasanya gitu ya. Beliauah yang ngisi puzzle kita tahunya dulu gitu tahunya cuman ee skill mindset tapi ternyata permasalahan utamanya di culture ketika implementasi ke perusahaan. Nah, dari pengalaman beliau dari Skalon itu jadi tahu, oh gini toh cara bangun culture gitu dan kemudian kita jadikan framework ya customer exper yang desain itu di Inentric sampai saat ini ya terus berkembang gitu ya sampai sekarang punya toolset, punya teknologinya gitu. Jadi ee tahun ketiga ini insyaallah kami lebih lengkap, lebih powerful, lebih proper gitu ya. Mantap gitu ya. Lebih mantap. Memang kalau sudah jodoh tak akan ke mana Mas ketemu di waktu yang indah gitu. Iya ya itu bagian dari big magic saya sih Mas itu evaluasi. Kenapa sih dulu bisnis kok bermasalah terus bangkrut sampai 10 tahun gitu ya? Bangkrut 10 tahun 10 tahun teman-teman 3 4 tahun bangkit saya kok lama banget ibarat murai itu tak mohon maaf ini agak nak enggak naik kelasnya lama Mas iya bangkr 10 tahun Mas ya dulu di bisnis batubara Mas saya trading dan mining juga nambang juga walaupun skala kecil ya di Samarenda Samarinda. Asli sana ya dulu ya? Eh enggak saya Malang juga aslinya Malang. Malang lulus kuliah ke Samarenda. Oh, waktu itu saya mengalami titik mulai menemukan titik kesadaran. Kenapa sih kok saya bermasalah? Jadi saya enggak akan menyalahkan teman-teman saya dulu yang memungsuhi saya atau mungkin bermasalah muamalah dengan saya. Karena memang saya bermasalah. Sekitar tahun 2021 itu mulai mulai bertemu dengan teman, baca buku tentang kesadaran. Ada sebuah keadaan yang waktu itu anak saya, Mas. Jadi waktu anak saya masih di pondok di Boyolali gitu ya, saya kan samarenda. Waktu saya ngantar anak saya masih di SMP kelas 2, dia ngomong kayak gini, "Pak, aku kok kayak enggak punya orang tua ya? Bapak sibuk, Ibu juga sibuk." Kebetulan istri saya waktu itu kan ngurusin bisnis buah ya waktu itu ya. Iya. Yang buah itu di watermelon dulu kita berdua ngomong itu untuk memperjuangkan anak padahal sebenarnya anak enggak mendapatkan itu gitu. Nah, omongan anak saya itu kemudian membuat saya kayak di kampleng gitu loh, Mas. Selama ini sosok ya anak yang kita anggap itu suatu yang paling berharga ternyata malah dia enggak mendapatkan apa-apa. justru malah merasa kayak dibuang di pondok itu, enggak mendapatkan interaksi dari orang tua. Saya langsung pulang ke Samarenda langsung membuat keputusan mendadak. Wis kita pindah aja kita balik Malang gitu. Saya kerja istri biar punya waktu untuk anak-anak. Nah, ee saya punya perspektif yang berbeda mungkin Mas enggak tahu ini e enggak tahu populer atau enggak gitu ya. Jadi mungkin di bisnis saya sebagai seorang coach, sebagai seorang konsultan tuh kan maunya kita yang menonjol gitu ya. Jadi biasanyaangitu sosok dewanya lah yang kemudian menjadikan tim tadi itu ya oh ya kan timku kon harus support aku. Iya. I saya mematahkan semua ego itu di sentrik. Jadi saya melihat tim itu ee sebagai source. Saya rugi dong kalau jadikan mereka sebagai resource padahal mereka punya potensi, mereka punya knowledge, mereka punya pengetahuan, pemahaman yang itu harus jadikan sebagai mata air gitu untuk mengisi di tim gitu. Yang saya sukai itu justru adalah bagaimana menumbuhkan tim dan itu adalah outcome output yang saya kejar. bagaimana tim bertumbuh. Ada Mas Wahyu yang kemudian spesialis di CRM, ada Mas Ronald yang spesialis di di servis, Mas Jeffre di sales. Bagaimana ee ketika saya ngarap insentifik ini ya bintangnya adalah mereka gitu, bukan bukan saya. Mas, tumbuhnya itu di sesuai dengan visi perusahaan atau bisa tumbuh terserah gitu ke manapun gitu. Gimana itu, Mas? Iya. Jadi ee kita punya visi ya, punya kesamaan visi, kesamaan value gitu. Visi kami adalah membuat dunia itu lebih baik ketika kita bisa membuat banyak perusahaan itu yang memberikan ee kebaikan di setiap transaksinya gitu, Mas. Itu itu yang kita kejar dan prinsip saya ketika saya mungkin sama kayak di karena saya suka One Piece ya kayak Kosim Lakama gitu. Jadi saya tanya kepada tim saya yang gabung, "Apa sih mimpimu?" Karena itu adalah pekerja utama seorang CEO untuk men-support timnya, mewujudkan mimpinya gitu. Jadi kita punya sebuah mimpi bersama. Kalau pesan di hadis itu ya ketika menciptakan transaksi yang penuh dengan keridaan gitu, keridauan gitu itu gol kita. Mudah-mudahan Allah memudahkan gitu ya. Ya, penginnya itu menjadi perusahaan global gitu. Harapannya sih betul-betul nanti akan berdampak seorang bis owner itu bisa memberikan kebaikan kepada timnya dan timnya itu bisa memberikan kebaikan kepada customernya. Runot itu Mas ya. Betul. Enggih. Enggih. Yang tadi dikatakan bangkrut 10 tahun gitu loh. Menarik itu. Iya. bangkrut 10 tahun itu 10 tahun bangkitnya atau 10 tahun itu rugi terus atau gimana, Mas? 10 tahun itu artinya bahwa aset yang dimiliki lebih sedikit daripada beban yang ditanggung itu sih, Mas. Oke. Jadi memang kondisinya minus selama 10 tahun itu karena kesombongan aja sih gitu. Karena kesombongan, Mas. Karena kesombongan. Iya. Enggak sadar kalau ternyata dulu sangat selfie, sangat egois gitu. Dulu mungkin saya termasukkannya cepat banget, Mas. Jadi habis kuliah itu saya main-main ke Kalimantan, kebetulan orang tua saya di sana pas main kok ketemu bisnis bisnis ee limbah kayu waktu itu. Serbuk kayu saya kirim via kontainer ke Surabaya dan ya cepat. Jadi waktu saya usia 28 tahun itu sudah punya del mobil, Mas. E di waktu itu gitu ya di I karena kirim serbuk kayu kontainer ke Surabaya tadi. Oh plus plus batuanya juga. Oke. Plus batu bara juga. Plus trading batu bara. saya nyupport ke ee perusahaan-perusahaan di Kalimantan juga termasuk ngirim ke ke Jawa gitu, ke Surabaya pakai kontainer gitu. Pasti bisnya sudah skala besar gitu ya waktu itu. Iya gitu. Kemudian ketika Allah berkehendak gitu ya semuanya itu kayak dibuat habis gitu Mas dalam waktu yang sekejap 2010 ee saya ngomong tentang riba gitu ya tentang ya emang riba semuanya gitu ya. Utang wis hati kemrungsung gitu loh Mas. Iya iya iya. maunya ini ngembang ini. Dan kalau invest di kayak di batu bara itu kan kalau enggak kayak beli barang kan kalau habis gali-gali barang mandek kan ya selesai gitu. Jadi ee tambang diop warga, banjirin warga terus jalan holding diop ormas wis terus ditipu buyer wis pokoknya enggak tahu 2010 itu tiba-tiba semuanya gon gitu ya hilang gitu ya e semuanya mandek cedak jadi enggak bertahap langsung ambruk gitu ya. Iya langsung ambruk. Ee sebenarnya kalau tapi enggak boleh lauk kaca ya, enggak boleh seandainya ya. Kalau waktu ma jebret itu kemudian saya jualin semua aset saya itu oke, Mas. Karena kan argonya kan muter terus argo bank gitu. Nah, tapi saya pengin nunggu momentum sebulan ditunggu enggak datang momentum 5 bulan, 6 bulan Argo iya jalan jalan terus setahun ambles enggak kawan-kawan banyak dan seterusnya dan saya berusaha untuk bangkit lagi jualan jamu, jualan macam-macamlah jualan ya mulai bangkit ketika jualan buah mulai aja sih 2016 itu bikin watermelon itu mulai bangkit tapi betul-betul bangkit ya 2020 gitu ketika saya evaluasi apa tipsnya bisa bangkit bukan karena mungkin kayak orang kayak kerja keras karena menemukan kesadaran aja. Walah ternyata selama ini aku egois toh, aku selfis toh gitu. Proses menemukan kesadaran itu dengan apa, Mas Aris jenengan? Iya, salah satunya tadi ya, kejadiannya seperti anak saya ceritakan tadi ketika anak saya Iya. Karena kalau bisi jatuh kan kayak bola bekel, Mas. Kalau keluarga bola keluarga bola kaca kan jatuh pecah gitu pecah. Iya. Iya. Nah, itu sekitar 202 itu mulai dipertemukan dengan orang-orang hebat ya, yang justru malah enggak terkenal. Orang-orang yang punya energi power yang tinggi sekali, yang punya wisdom, punya kebencanaan, tapi malah bukan dari orang-orang yang yang dikenal masyarakat. Guru-guru kehidupan saya gitu. Saya punya seorang guru, beliau pimpinan pondok pesantren di Lamongan, punya 2000 santri gitu. He. Tapi kalau beliau keluar tuh udah enggak kayak kiai itu, Mas. Kayak wong jadi sederhana banget. Sederhana banget. H. Ya. Terus ketemu teman juga ya dulu di bisnis saya kan dulu pokoknya e harus gas gas gas gas gitu kan, Mas. Gitu. Saya saya rekor saya yang belum dipecahkan sama saya enggak pengin memecahkan juga rekor itu ya itu keliling 25 hari 19 Mas. dari kedua hari kedua masuk rumah sakit ngisi di sini malamnya jalan pindah kota ngisi lagi jalan kita loka terus ternyata saya kurang break tadi itu saya kurang istirahat ngegas terus burn out gitu akhirnya dengan bantuan dari guru-guru tadi itu akhirnya disadarkan dengan banyaknya literasi-literasi buku-buku yang saya baca akhirnya di disadarkan gitu salatnya kalau boleh saya sebut ya bukunya keep going-nya Aing Cleon itu powerful banget. Bagaimana supaya kita keep going? Ternyata ya justru kita harus berhenti, berhenti dulu gitu. Masuk pitstop dulu, ngisi bensin dulu, makan sarapan dulu gitu. Jadi iya iya iya. Perubahan mindset terbesarnya apa, Mas dari sebelum itu terus akhirnya menemukan kesadaran itu sebelumnya gimana, setelah itu apa yang dilakukan? Iya, yang penting sadar bahwa ternyata dulu sangat egois, sangat self oriented gitu ya. Sangat enggak mau kalah. Dulu saya menyebalkan sekali, Mas. Bahkan sekarang kalau saya melihat video-video saya 4 tahun yang lalu gitu ya, lama itu itu muak Mas. Oh, gitu ya. Tapi saya berterima kasih sama diriku yang berjuang dulu. Cuma sekarang kalau diperlihatkan itu kayak aduh kok kayak gitu saya dulu ya menjuengkelkan dulu contoh simpel ya kalau ada materi itu Mas seminar workshop gitu saya selalu mendengar apa sih kesalahan dari pembicara pas sesi bertanya Mas itu yang saya tanyakan Mas semenyebalkan itu. Jadi untuk ngetes atau menjatuhkan bahkan yang kira-kira enggak bisa gitu ya. Oke. Ee enggak mau mendengar mungkin dengan dengan keluarga, istri atau ibu dulu sering konflik sama ibu terus meremehkan orang lain, enggak mau mendengar, selalu merasa superior. Padahal sebenarnya bisnisnya juga hancur, tapi bisanya hancur tapi egonya yang enggak hancur. Jadi nalar sama ego itu tinggian ego gitu loh, Mas. He heeh. Heeh. Dulu gitu ya belum turun-turun itu ego. Iya. Kalau sekarang ya kadang-kadang kalau sekarang maksudnya dulu belum turun-turun gitu loh. Masih tinggi dulu selalu tinggi nalarnya selalu sehingga ketika ada apa-apa yang kena egonya dulu bukan nalarnya gitu. Nah sekarang mudah-mudahan mudah-mudahan nalarnya mulai naik egonya mulai turun. Tapi ya kadang-kadang ya naik juga masonya. Iya. Saya itu ada kenalan kayak gitu Mas Aris. Jadi dia itu kalau ngomongin ngasih tahu orang lain bijak banget. Iya. Tapi sebenarnya hidupnya sendiri itu berantakan. Tapi kalau dikasih tahu enggak mau. Karena sebenarnya dia tahu teorinya tapi tinggal enggak mau ngaplikasiin. Saran dari Mas Aris nih ngadapin orang yang kayak gitu atau Mas Aris yang dulu kan gitu. Iya. Heeh. Kok bisa akhirnya runtuh itu karena nasihat apa sih, Mas? Beretemu orang-orang dengan energi yang power. Berarti harus ada yang lebih hebat dari dia. Harus hebat dalam artian bukan hebat secara materi ya, tapi secara energi di luar konteks agama ya. Kalau kita lihat Mahatma Gandhi gitu. Iya. itu sekali ngomong aja itu seluruh orang orangor India mau memboikot seluruh produk Inggris dan kemudian membuat perseman orang Inggris memerdekakan India gitu. Artinya orang-orang yang punya energy power, orang-orang yang guru kehidupan lah. Kalau orang bilang alhamdulillahnya itu memang Allah awalnya menemukan itu dengan guru-guru itu. Dan kemudian yang kalau saat ini itu saya jadikan framework sih, Mas. Framework backtime itu dengan beberapa peserta atau mungkin pengalaman saya mendampingi para base owner. Mereka enggak sadar kalau ternyata masalahnya di mereka sendiri. masalahnya adalah ego mereka sendiri gitu. Nah, kemudian ketika kita mau mendengar mereka dulu, terus kemudian memahami dan menyentuh sisi-sisi terdalam dalam kehidupannya, bantu mereka menemukan meaning, menemukan makna dalam kehidupannya gitu. Ee sesimpel gini, Mas. Kalau saya tanya Mas Surya mungkin, "Mas, apa sih keinginan Mas Surya dalam hidup ini?" gitu. Saya yakin Mas Surya enggak akan kesulitan menjawabnya. Eh, aku pengin ini, pengin ini, pengin ini. Tapi kalau saya tanya, "Mas, apa sih yang Allah inginkan atas hidup Anda?" Nah, itu ya tugas kita apa? Iya. Peran yang Allah inginkan kita hidup di dunia itu seperti apa sih? Itu kan agak agak bingung jawabnya gitu. Nah, sebenarnya ketika orang menemukan meaning tadi itu, Mas. Menemukan peran-peran tadi itu ya kesadarannya mulai muncul gitu. Muncul. Berarti framework-nya tadi apa aja, Mas? Siapa tahu nanti kalau ketemu orang kayak gitu atau saya sendiri ketika terpapar, ego lagi tinggi itu kan juga bisa jadi mitigasi ya, jadi barrier gitu nanti. Oh aku mesti ingat-ingat ini frame brok-nya seperti apa itu contoh kayaknya harus ikut break time deuitu enggak boleh dipel dikit-dikit nih. Ini frameb-nya Juni Mas. Oh besok Juni. Juni. Iya Juni di Malang berarti ya. Ini alumni pertama loh pertama atau I atau yang ikut di mana situ beda tapi ya yang di founder beda ya? Iya sama juga. Sama sama juga ya. Hm. Ya, tapi simpel sederhana sih ketika human brain kita, Mas itu bisa mengendalikan mamal dan lizard brain kita, mengendalikan pikiran bawa sadar kita yang dulu mengalami luka-luka memar ibaratnya karena perjalan kehidupan kita. I mungkin marah dengan seseorang pengin membuktikan dendam positif apa enggak ada dendam yang positif semua dendam itu negatif gitu ya. Yang orang Jawa bilang kemrungsungnya itu itu kan semua dari pikiran bawa sadar gitu. Nah, bagaimana kita mengaktivasi otak di atas atau neocortis atau human brain kita sehingga menjadi lebih aktif. Jadi, ibarat ee kata itu kayak neurotransmitternya semakin aktif. Nah, itu nanti ada metodologinya bagaimana kita terkoneksi dengan alam, bagaimana kita tadi mulai menggiring dimensi ee ritual menjadi spiritual itu. Nah, proses-proses itu mulai apa ya? Kayak olahraga. Iya. istilahnya mulai melakukan namanya ee guru saya mengajakkan namanya Farmasi Mastery. Bagaimana cara kita memproduksi hormon-hormon positif untuk tubuh kita, bagaimana ee kita itu ee menghasilkan seretonin dan seterusnya gitu ya. Human brain tadi itu semakin aktif. Akhirnya kemudian tadi e kedudukannya berubah dari ego yang Heeh. di apa? di atasnya nalar berubah menjadi nalar di atasnya ego. Bisa lebih sadar dulu baru kemudian reaktif. gitu. Kalau kita kan bacanya reaktif dulu baru sadar gitu. Baru sadar telat akhirnya nyeselat. Nyesal gitu. Kalau pas gini supaya nanti kita enggak dikontrol sama ee itu simpelnya itu biasanya ketika ada masalah ya apapun juga ee masalah-masalah yang sulit atau apa gitu. Ee saya biasa pendekatannya pertama ada dua kita punya dua benteng. Yang benteng pertama adalah perspektif. Perspektif. Benteng kedua adalah meaning. Meaning makna ya. Iya. Bukan reaktif ya. Jadi ketika kita dapat kabar apa gitu wah kompetitor buka cabang dekat dengan cabang kita reaktif kan? I panas itu reaktif. Itu reaktif ya. Maka setiap reaktif harus segera disadari wah ini reaktifku gitu. Maka harus dikirim ke perspektif dulu benteng pertama kemudian dikirim ke ke mana? Ke meaningnya gitu. Perspektif itu contohnya itu sebenarnya diajarkan sama orang Jawa Mas. Ramanya ada orang kecelakaan gitu ya terus kemudian motornya rusak tapi orangnya selamat. Jatuh selamat gitu ya. Ya Allah untung wongnya selamat pas kan enggak untung kanya kecelakaan. Nah itu perspektif. Jadi eh saya pernah baca salah satu perkataan orang Persia dulu ya zaman dulu mengatakan I curse the fact that I have no sus until I show the man who have no fit gitu. Aku mengutuk atau aku marah dengan keadaanku enggak punya sepatu sampai kemudian aku melihat orang enggak punya kaki gitu. Oh akhirnya dia bersyukur. Akhirnya ya itu perspektif awal sampai kemudian kenapa sih aku enggak punya sepatu kan gitu. Nah, itu pertama perspektif dulu gitu atau kalau dalam acara Islam kan apa ya kalau engak salahum ya lihatlah yang di bawah kamu jangan melihat yang di di atas gitu itu ketika perspektif gitu tapi kemudian ketika setelah perspektif ditarik ke meaning Mas dan meaning itu yang kemudian membuatnya menjadi semakin dalam gitu tadi contoh tadi ya ketika dapat musibah kita melihat yang yang bawah daripada yang atas tapi kemudian digar ke mining kalaupun kita pengin sukses Sekay apun, sukses apun, maka bukan karena melihat yang di atas, tapi tetap karena melihat yang ke bawah. Artinya aku pengin punya hopeful untuk apa? Untuk membuat orang menjadi lebih baik. E berkontribusi untuk rahmatan lil alamin, untuk tumbuh-tumbuhan, untuk hewan-hewan, untuk sesama manusia. Jadi ketika sukses pun motivasinya adalah ketika melihat di kontribusi yang ke bawah. Iya. Itu itu orang sudah ketemu meaning gitu. Nah, sebenarnya banyak permasalahan-permasalahan hidup kita itu karena kita gagal membaca meaning dari kejadian yang ada gitu. Memang susah ya membaca meaning itu ya agak butuh kepekaan yang tinggi dan mungkin iya perlu iqra ya iqra gitu kita membaca gitu ee enggak semuanya bisa ya. Saya kemarin ketika mendampingi pengalaman mendampingi beberapa bis owner yang kami dampingi perusahaannya gitu ya, ee dia berpikir bahwa timnya itu adalah resource untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dia. Aku bangun tim merekrut orang untuk mewujudkan mimpi-mimpimiku. Nah, sekarang diganti mininya, Mas. Dia bangun perusahaan menjadi jauh lebih besar karena dia ingin mewujudkan mimpi-mimpi dari timnya itu. Timnya tadi itu. Kalau saya nyebut nama pasti jenengan tahu siapa beliau. Beliau adalah Mas Surya. Oh, bukan ya. Jangan disebut di sini. Enggak enak. ya sabar kita ya sabar kita sabar kita di break kemarin. Oh gitu ya. Jadi ketika ketemu meaningnya energinya bakal peda banget. Oh gitu ya. Meingnya Mas ketika bangun pecah telur gitu ya. Kalau miningnya cuma untuk dapat uang sama meaningnya untuk memang peran pecah telur, perannya Mas Agung dan tim untuk menginspirasi banyak orang. Berapa juta orang yang kemudian terinspirasi dari konten-konten kita dan kita memang menjalani peran itu dalam hidup kita gitu, Mas. Betul. Dan kita melihat pemahaman bukan dari kebanyakan society berpikir gitu, tapi keberhasilan tadi kita melalui standar yang pedalam mini yang kita miliki sendiri itu kita bakal beda energinya. Ya kadang walaupun on on ya e in out ya Mas kadang-kadang in kadang-kadang out. Dulu itu kadang-kadang gini Mas Aris e maksudnya kadang-kadang kalau kita tahu view-nya dikit itu kan agak ngerusul nelongso. Tapi ada satu komen yang waktu itu membuat tamparan yang mungkin relate dengan meaning tadi ya. Entah dia disengaj menyenangkan hati saya, tapi kok enggak kenal saya kok menyenangkan hati saya. Saya tuh bolak-balik cari video loh yang sesuai dengan permasalahan saya dan susah dan tadi saya barusan mungkin salat apa dan buka ini dan ketemu dengan yang saya cari. Wah ternyata video ini sesuai yang dia cari dan belum ketemu yang lain. Walaupun view-nya sedikit saya kira kok sudah terbeli gitu loh. Pivot saya itu sudah kayak dibayar lunas gitu walaupun secara operasional mungkin kayak kurang dan sebagainya itu untuk jadi oh gitu ya. Ada kepuasan. Ada kepuasan. Jadi bukan semata-mata untuk cari uang ya. lebih dari itu gitu. Dikuatkan juga di brick time waktu itu ya. Ini kok dari tadi nyemput brick time ini apa itu gitu. Ini salah satu eventnya Mas Haris yang dalam waktu dekat diadakan kapan Mas Haris? Ini batch keempat ya tiap-tiap 2 bulan gitu ya. Alhamdulillah selalu selalu full seat dan bahkan nolak peserta gitu ya. Kemarin di PES 3 juga 28 29 Juni enggak salah di Malang di Ponjokuso bersama Ibu Mulyani dia siap. Oh Dia Begri. Iya, powerful banget beliau ya. Tempatnya juga di train centernya beliau ya. Iya. Di itu lereng gunung atau apa ya? Iya di Poncokusumo. Di lereng bukit dan kalau pagi itu ada kabut-kabutnya suasananya dingin banget. Dekat dengan lenggah Lembah Bromo. Lembah Bromo sungainya luar biasa. Hutan pinesnya luar biasa. Kalau teman-teman pas waktu longgar ikutlah bagus itu. Sebenarnya sudah kebayang break tapi secara konkretnya break time itu sebenarnya apa sih? ya kita ngambil jeda sejenak untuk kemudian menjadi lebih jernih dalam menemukan meaning tadi itu sih Mas dan di kelas itu nanti ee akan dapat apa aja selain materi juga akan mendapatkan experience jadi praktik-praktik Brit itu seperti apa. Jadi enggak cuman dapat meaning tapi bagaimana kita bisa punya ritual baru untuk ngisi energi kita gitu. Oke. Karena e energi ini lebih besar ee pengaruhnya daripada intelektual. Energi lebih besar ya. Kita punya mobil Tesla mamanya baterainya habis ya apa gunanya habis. Oh iya sih gitu. Banyak orang berpikir produktivitas itu adalah tentang bagaimana aktivitas segala aktivitas yang menghabiskan energi dan kita enggak berpikir bahwa ngisi energinya itu sendiri itu sesuatu yang sangat powerful. Dan sebenarnya dalam konteks agama Islam kita ya kita diajarkan untuk itu dengan salat itu break. Menjaga jarak dari objek itu juga break. Berarti siapa sih yang kira-kira membutuhkan ee break time ini? Sesuai semua orang ya. Semua orang. Kalau saya yang waktu itu langsung berpengaruh di saya ya yang saya terapkan ya. Jadi kadang-kadang kalau kita nyusun gol Mas di tim itu dari income-nya atau bahasanya di break time itu outcome-nya. Out. He. Kadang-kadang outcome itu faktornya banyak sekali tidak murni dari ee input kita dan sebagainya. Nah, akhirnya setelah dari itu saya berhenti di output, Mas. Output. Betul. He ya. Saya tidak lagi berpikir tentang outcome, tapi outputnya apa begitu. Iya. Outcome itu kan magic ya. Ya, magic banyak hal yang faktornya banyak sekali gitu. Dan kita kalau di situ stres, Mas. Betul ya. Akhirnya saya itu kan rana Allah dan malaikat ikhtiar kita ya enggak ada hasil tidak tidak ada kaitannya juga sama kita. Iya. Ee banyak kopel gitu Mas suami istri yang ikut best 2 itu hampir 70% suami istri gitu. E kalau yang best 3 ini kebanyakan para bisnis owner tim juga sama timnya gitu ya. Dan alhamdulillah ketika mereka pulang dari situ mulai mulai sadar jadi mamanya manajer. Selama ini mungkin oh aku melihat timku itu yo anu sebagai apalah gitu. Tapi sekarang melihat timnya itu sebagai amanah yang Allah telah titipkan kepada dia untuk dia ee apa ya? Dia tumbuh, dia menjalankan peran keimamannya gitu. Itu akan bakal beda banget. Dan nanti outputnya ya customer experience, outcome-nya ya nikmat rezeki dan seterusnya gitu. Tapi secara pelatihannya aja sudah enak, Mas. Soalnya di tempatnya enak, makanannya juga enak. Nah, itu terutama makanannya makanannya bumul ada sop break time anget-anget di masa dingin. W enak ya. Iya. sesuai temanya tadi break gitu ya, break time memang benar-benar break gitu Masak ya kayak kita kayak wisata gitu loh. Iya. 1 hari materi ee 1 hari activity 1 hari setengah ya Mas ya 2 hari ya 2 hari 1 hari tapi kan sampai malam kan hitungnya 2 hari du hari i ini kan ini sengaja untuk podcastnya pecah ini pecah kan di Tulung Agung ini dibikin diitar biar orang-orang Malang dekat ke sini salah satunya Mas Aris kayaknya setelah ini salah satu pemateri Breikt harus wajib diundang ke sini de oh iya iya menarik terima kasih ee teman-teman sudah nyimak sampai akhir juga Masis terima kasih sampai jumpa Jumpa di next episode bersama pecah telur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Dan kita sambut selanjutnya Mas P Muji. [Tertawa] [Musik]
Resume
Categories