Modal Usaha Ludes, Jual Semua Aset Demi Punya Anak! 10 Tahun Menikah Tapi..
5xTG9TA3o64 • 2025-05-01
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ee setelah semua sumber daya materi kami
ee kami alihkan ke apotek untuk modal
usaha, ee saya dengan istri memutuskan
untuk program bayi tabung. Karena ee
kami sudah 10 tahun menikah, segala
macam program yang kami jalankan itu ee
tidak berhasil. Di tahun ke-10 puncaknya
adalah saya dengan istri sempat
bertengkar hebat kalau boleh cerita ya.
Bolak-balik Safa Marwah itu tujuh kali
untuk merayu Allah gitu kan. sampai
akhirnya kita sama-sama sama-sama tahu
bahwa sumber air itu muncul di bawah
kakinya Nabi Ismail. Nah, ini yang juga
kemudian menjadi pegangan saya sampai
hari ini bahwa untuk kita mendapatkan
rezeki di satu titik, kita enggak harus
fokus ke situ kok. Justru bukannya
enggak harus ya, justru harus di luar
itu fokusnya. Jadi ada tujuh mantra
supaya uang kita tetap betah di dalam
dompet. Nah, itu mantra ini ya. Ada
tujuh mantra, tapi mantranya syariah ya.
[Musik]
kita kedatangan pengusaha dari militar
yaitu Mas Arif. Kalau dibilang pengusaha
itu pengusaha apa begitu. Sekarang lebih
ee nyaman dikenal sebagai pengusaha
memang karena memang aktivity-nya
sekarang sudah 100% di wirausaha. Kalau
dulu masih separuh-separuh, Mas. Dulu
bekerja juga, wirausaha juga. Jadi kalau
orang menyebutnya apa ya ee sampingan
atau dua kaki atau apalah gitu. Sekarang
100% di dunia usaha jadi sudah nyaman
dengan berangkat dari profesionalis
berarti ya. Kalau di bidang yang
menghasilkan uang iya secara kita kerja
dibayar ya. Tapi kalau berjualan
berdagang itu sudah dari e kuliah saya
sudah berjualan gitu. Jadi sebenarnya
sebelum bekerja sebagai profesional
sudah wirausaha duluan sebenarnya kalau
bisa dibilang begitu. Iya. Di mana
perusahaan apa? Saya bekerja di
perusahaan produsen vaksin. Vaksin
khusus untuk ternak, untuk ayam ya,
vaksin Avian influenza. Jadi background
saya dokter hewan secara pendidikan.
Kemudian lulus itu langsung bekerja di
perusahaan tersebut. Ee karena areanya
satu Indonesia, kebetulan saya
mendapatkan ee penempatan di Indonesia
Timur, klien terbanyak di Kota Blitar.
Jadi, akhirnya dipindahlah ke Kota
Blitar. Sejak tahun 2012 saya di Blitar.
2012 akhir sejak itu menetap di Blitar.
Nah, ini kok dokter hewan buka apotek
manusia gitu. Itu kenapa, Mas, kok
tiba-tiba apotek gitu loh, Mas? Ini
kalau saya tarik mundur ketika saya
pertama kali mengenal yang namanya
kewirausahaan atau entrepreneurship ya
itu sejak saya kuliah semester 1.
Kebetulan saya kuliah di IPB Institut
Pertanian Bogor. Ee semester 1 itu sudah
gabung di BEM KM itu BEMnya kampus
karena ada BEM fakultas, ada BEMnya
kampus. Sejak kecil, sejak SD itu saya
memang senang berorganisasi, Mas. Jadi
SD berorganisasi, SMP berorganisasi, SMA
berorganisasi, maka kuliah pun lanjut
organisasinya gitu. Heeh. Bahkan bisa
dibilang lebih senang kegiatan
organisasinya daripada belajar di dalam
kelasnya, gitu. Oke. Nah, dari BMKM itu
kemudian ada kegiatan atau program
Leadership and Entrepreneurship School.
Ini mungkin teman-teman seangkatan saya
kalau sempat melihat ini pasti ingat
juga begitu ya. Nah, dari situlah saya
diperkenalkan dengan yang namanya dunia
kewirausahaan sampai benar-benar
kemudian eh saya pengin nih punya usaha
sendiri sejak termotivasi dari kegiatan
itu. Akhirnya yang saya ee mulai pertama
kali pada saat tahun pertama kuliah itu
adalah karena saya orang Pekalongan.
Saya tahu di sekeliling tempat tinggal
saya di Pekalongan banyak produsen
batik. Akhirnya saya jualan batik di
Bogor. Setiap kali ada libur panjang,
saya pulang kembali ke Bogor pasti
membawa karung-karung batik. Minimal
satu karung lah penuh. Jadi enggak cuma
tas atau koper aja, tapi bawa karung
yang isinya batiwatik dan alhamdulillah
laku, Mas. Saat kuliah itu ya, saat
kuliah itu saya mengambil kesimpulan
orang Pekalongan kalau merantau enggak
jualan batik itu rugi karena di
kota-kota besar terutama itu harga
batiknya tinggi. Jadi alhamdulillah
berjalan jualan batik bahkan sampai ada
beberapa teman dan junior yang kemudian
membantu menjadi reseller dan kemudian
juga ibu kos saya juga bantu jualin ya.
Ibu Kos saya lumayan penyumbang omset
terbesar ya kan ibu-ibu hajah gitu ya
kooperatif ya beliau sering arisan
sering pengajian pesenannya selalu
banyak jadi itu pertama kalinya
menseriusi di situ. Sudah tahu ada
hasilnya akhirnya ya sudah senang aja
gitu kan jualan. Kemudian ee semakin
berjalannya waktu semakin menekuni apa
itu kewirausahaan. Sering ikut
seminar-seminarnya di kampus begitu kan
ikut komunitasnya juga sampai kemudian
di ee tahun keempat. Jadi saya tahun
pertama, kita kan kuliah 4 tahun ya,
tahun pertama itu di BMKM, tahun ke,
tahun ketiga saya kembali ke fakultas,
aktif diorganisasi di fakultas. Kemudian
tahun keempat kembali ke BMKM lagi itu
kita bikin program lagi. Jadi ketika
tahun keempat kembali ke BEM kampus itu
yang dulu tahun pertama saya jadi
peserta, tahun keempat saya jadi
penyelenggara. Kita membuat yang namanya
entrepreneurship development unit
tentang kewirausahaan lagi. Jadi
digembeleng lagi tentang kewirausahaan.
Sering ikut bazar-baar di kampus. Awal
mulanya dari situ. Bahkan satu atau 2
tahun sebelum lulus saya sempat punya
toko batik di Bogor. Oke. Berarti bahkan
cukup pesat ya berarti ya. Sampai Iya.
Bahkan sampai kayaknya ini lulus kuliah
enggak usah kerja deh. Tak teruskan aja
tokonya gitu. Heeh. Tapi ngemani orang
tua wes nyekolah tinggi-tinggi gitu ya
sudah dapat gelar dokter hewan, masa sih
gelarnya enggak dipakai gitu kan. Mau
menikah juga ini calon mertua
memandangnya seperti apa gitu kan.
Akhirnya ya okelah saya terima
kesepakatan untuk saya bekerja
menggunakan gelar saya gitu. Padahal
kalau dari segi hasil sudah lumayan ya
Mas waktu itu untuk ukuran saya pada
saat itu lumayan. Kalau itu diseriusi
mungkin bisa lebih besar lagi. Ya kan di
Kota Gede kan di Bogor kan. Iya kan
sering dapat aliran seragam segala macam
itu kan yang bikin ee besar. Heeh. Heeh.
Ya sudah akhirnya ee memutuskan untuk
bekerja tapi waktu dengan target pribadi
oke aku kerja tapi enggak usah
lama-lamalah kerjanya 2 tahun cukup
gitu. Eh, itu tadi beneran ditinggal
berarti ya? Ditutup ya? Tutup akhirnya
tokonya. Wih, sayang ya, Mas ya. Tapi
emang belum belum lama sih umurnya.
Mungkin baru setahun lah, baru setahun
buka ya. Akhirnya tutup. Terpaksa tutup.
Oke, tutup. Ee kita tarik
barang-barangnya ya sudah ditinggal
karena memang enggak enggak enggak
enggak stay lagi di sana kan. Dapat
pekerjaan yang saya melamar di
perusahaan yang dia holding company-nya
di Bogor berharap ditempatkan di Bogor.
Saya pikir kerjanya bakal di Bogor. Jadi
bisa nyambi tokonya. Betul. Nah, kan
gitu kan. ternyata kelempar ke Jawa
Timur yang tadi di Blitar itu. Di Blitar
itu. Oh. Dan yang bikin saya waktu itu
menerima adalah ini saya ingat nih ini
mungkin bisa jadi e pegangan juga
direktur saya waktu itu ketika saya
interview dan saya menunjukkan mungkin
beliau melihat saya ada keberatan untuk
ditempatkan di Jawa Timur begitu ya.
Beliau menyampaikan seperti ini. Sampai
sekarang saya masih ingat ee Mas Arif
bumi Allah itu luas jadi enggak boleh
milih-milih tempat tinggal di mana.
Oh ya benar juga ya. Iya. Ini juga di
militer ini juga bumi Allah, Mas. Bumi
Allah enggak boleh. Enggak mau tinggal
sana enggak boleh. Tapi kalau memang
dilihat dari demografis jauh banget,
Mas. Bogor itu di kalau di Jawa kan
termasuk ujung barat lah ya. Iya. Blitar
ini termasuk juga kategorinya ya
walaupun gak ujung-ujung timur banget
ya. Sudah Jawa Timur yang agak ke timur
gitu loh. Iya. Dan enggak pernah tahu
kan sebelumnya Blitar itu seperti apa
gitu. Hanya karena memang ee waktu itu
customernya kebanyakan di Blitar-Bitar
kan ee penghasil telur terbesar kan.
banyak di sini, Mas. Jadi ee
ditempatkannya di Blitar dengan cover
area se Jawa Timur. Karena memang waktu
itu ee orang lapangannya baru dua, satu
cover area barat, satu cover area timur
gitu. Tapi tidak ee bukan pekerjaan yang
bagi saya sih bukan pekerjaan yang berat
ya. Karena posisinya kan waktu sebagai
ee kami menyebutnya sebagai apa namanya?
Saya e lupa ee kami men-support
distributor ya, sebutlah customer
service lah. Heeh. Atau technical
service gitu. A kayak princiel gitu, Bu.
Ah, princiipal. Betul. Kata-kata yang
tadi hilang itu principal. Heeh. Di
setiap kota itu sudah ada cabang-cabang
distributornya, sudah ada sales-nya.
Nah, tugas kami cuma mendampingi sales
itu. Betul. Kayak representatif dari
pabrik untuk mendampingi ee distributor
atau termasuk kemudian ya kita ada
target untuk mencari customer baru tapi
hanya sebatas memperkenalkan ini loh
keunggulan produknya. Oke, kalau untuk
har silakan ke seperti itu. Jadi ee
waktu itu pertama 2 tahun saja. Ternyata
setelah 2 tahun terlewati dan posisi
juga sudah menikah, tabungan juga sudah
dihabiskan untuk beli rumah. 1 tahun
pertama menikah saya sudah beli rumah
sama istri habis tabungan. W lumayan
loh, Mas. Heeh. Itu hasil kerja bisa
beli rumah 1 tahun. Iya. tabungan selama
mulai jualan sejak kuliah itu. Oke.
Hasil kerja dua orang kita kumpulkan ya
sudah jadilah beli rumah di Blitar itu
tadi. Oke. Habis-habisan itu jadi nekat
ya Mas ya. Nekat karena memang orang tua
juga beli rumah itu kalau ditunda-tunda
kan orang tua nasihatnya selalu begitu
kan. Harganya akan semakin tinggi gitu
kan. WS paksakan aja gitu ya sudah
akhirnya kita paksakan ngambil rumah di
Blitar itu. Jadi enggak make sense kalau
2 tahun itu saya resign karena memang
belum mampu. Oh jadi okelah akhirnya
diundur tahun depan. diundur lagi tahun
depan kok belum mampu juga masih belum
bisa melepaskan fasilitas perusahaan ya
kan kita kan waktu itu difasilitasi
mobil oke mobil sak bahan bakarnya ya
kan enaklah pokoknya termasuk juga
dipakai untuk kebutuhan yang tidak
perusahaan berarti ya waktu di rumah
gitu dipakai iya jadi kan itu fasilitas
yang melekat pada jabatan kan oh i jadi
ketika kita ada keperluan belanja juga
otomatis dipakai juga perluan pribadi ya
dipakai juga gitu memang dibolehkan ya
kayak dibolehkan dibolehkan kalau
perusahaan kan yang penting targetnya
nya masuk ya kan yang penting targetnya
masuk dan kalau klaim-klaiman yang
penting klaim-klaimannya jelas gitu kan
ya kita bisa mengatur terlalu
mengada-ngada ini bensin tagihan R juta
loh ini kok R juta menit betul yang
penting masih masuk akal begitu kan iya
iya iya e bilnya jelas sampai saya
merasa siap untuk resign itu di tahun
kelima itu tadi tahun 2017 tabungan
sudah ngumpul lagi sudah kebayang ee mau
usaha apik juga semakin besar jadi
batiknya masih lanjut tuh oh masih
lanjut heeh ketika dulu di kampus itu
kebanyakan offline dengan ya kita jualan
di area kampus. Kemudian
tahun-tahun
2016-27 ketika jualan online juga mulai
ramai itu kami juga gencar Mas jualan
online-nya record reseller online gitu
kan. Alhamdulillah tambah besar sampai
dia mati dalam tanda kutip ketika COVID.
Enggak ada orang hajatan otomatis enggak
ada pesanan seragam blas hilang gitu
2019 kan. Tapi ketika itu tutup pun
enggak ada pemasukan dari batik lagi.
2019 kan penerbitannya sudah buka. Oke,
Mas. Saya mau ee tanya yang tadi ketika
Mas Arif menyatakan siap gitu ya,
berarti kan apa aja? Ini juga banyak
dialami juga ee bagi teman-teman saya
dan juga penonton pecah telur yang
mereka sebenarnya ingin awalnya memiliki
usaha sampingan atau bahkan berpindah
dari profesional ke pebisnis masih
bingung apa yang harus disiapkan ee
indikasinya. atau mungkin orang-orang
yang biasa pakai tanda tandanya apa
begitu. Kalau Mas Sarif waktu itu
seperti apa? Waktu itu ee apa tolak ukur
saya adalah saya sudah bisa mendapatkan
penghasilan dua kali lipat dari gaji.
Berarti sudah usaha ee side hassle dulu,
kerjaan kerjaan sampingan dulu gitu ya.
Hel. Iya. Dan itu kemudian diproyeksi
kayak ini kalau diseriusin bisa lebih
besar lagi. Ee yang dua kali gaji itu
yang berarti yang batik berarti ya? Iya
yang batik.
Itu sih jadi mantapnya karena itu yang
kedua ya karena memang dari awal kan
sudah lama pengin mandiri, pengin
mandiri, pengin mandiri kan ini sudah
enggak bisa ditunda lagi. Mindsetnya
memang pengin bisnisangetnya adalah
pengin mandiri gitu, pengin bisnis gitu
pengin 100% di bisnis gitu. Berarti
kayak kerja itu dalam rangka ngumpulin
modal, Mas ya. Bisa dibilang begitu
karena memang dari kecil didikan orang
tua adalah harus saving. Dulu ketika
sekolah uang sakunya bulanan, Mas. Uang
saku bulanan. Bulanan. Jarang-jarang loh
ini. Biasanya kan harian ya. Harian.
Iya. Jadi sama orang tua saya sama
almarhum Bapak gitu dikasihnya bulanan
habis enggak habis wis pokoknya segitu
akhirnya memaksa untuk ya pintar-pintar
ngatur gitu. Kalau habis sebelum habis
bulan enggak akan dikasih lagi. Oke.
Jadi situlah kemudian terbiasa untuk
menabung ya. Menabung itu kan artinya
satu menyisihkan uang. Yang kedua, kita
menahan diri kan ketika teman mungkin
beli apa atau nongkrong di mana itu yang
kemudian membuat tabungan itu lumayan
banyak dan bisa dibilang saya selalu
menyampaikan ke teman-teman atau ke
karyawan untuk ee menabung karena
tabungan itu menyelamatkan gitu karena
itu yang saya alami. Oke, sebentar saya
membawa senabung. Saya tanya tadi yang
masalah gaji bulanan tadi. Nah, misal
ini Mas ya. Misal karena kan anak kecil
lah ya, anak kecil itu sehabis itu di
tanggal 15 atau di sudah habis itu
gimana? Nangis gitu ya. Alhamdulillah
enggak pernah. Enggak pernah habis.
Enggak pernah habis. Karena setiap bulan
pasti disisakan. Sisanya itu buat bulan
depan masih bisa. Iya. Oh, iya. Jadi,
alhamdulillah itu yang satu yang saya
syukuri selama hidup adalah kebiasaan
menabung itu tadi. Menabung sampai
sekarang masih. Jadi, kenapa kemudian
bisa beli rumah gitu kan ya? Karena ada
tabungan gitu. Iya kan di usia 1 tahun
menikah sudah beli rumah itu juga
jarang-jarang. Karena ada tabungan belum
tambahan penghasilan dari bekerja itu
tadi. Mas, mekanisme menabungnya Mas
Arif itu seperti apa? Kalau dulu belum
tahu ilmunya, jadi ee ya sudah pokoknya
kita menahan diri untuk enggak
macam-macam, enggak beli apa-apa ada
sisa itu yang ditabungkan gitu kan. Ee
sekarang-sekarang setelah tahu ilmunya,
oh ternyata minimal 10% harus
ditabungkan. Dipotong dulu berarti
dipotong dulu. Jadi dulu saya sampai
punya rekening sendiri untuk ini
tabungan gitu, enggak boleh diambil. Hm.
He. Jadi, rekening itu ee enggak enggak
enggak cukup satu gitu sampai seperti
itu. Sampai ke bawa ketika punya usaha
sendiri penerbitan itu ya dari ee batik
juga sama kita punya penghasilan ini
sekian persen harus ditabungkan minimal
10% lah. Dirupakan uang, Mas. Dirupakan
uang dalam rekening waktu itu dirupakan
uang dalam rekening belum mengenal yang
namanya emas. Heeh. Kan ada juga yang
emas ataupun yang lain. Iya. Saya baru
tahu menabung emas itu tahun 2018 atau
2019. Tapi sekarang menabungnya emas.
sampai sekarang mendapung emas ya kan ee
menahan apa menilai kan nilainya bahkan
kalau sekarang naiknya tinggi dari harga
awal dulu saya ingat 900 kalau enggak
salah ya kan per gram sekarang sudah R
juta kan iya hampir R juta sekarang Heeh
he itu juga sekarang setelah tahu oh
lumayan nabung emas dan menyelamatkan
juga ketika ada kebutuhan mau renovasi
rumah dan termasuk untuk modal bikin
apotek itu tadi oh iya dijual ee
sebagian besar emasnya berarti SOP diri
berarti apa ya ketentuan ambil tabungan
nah itu tabungan itu boleh diambil untuk
apa aja? Nah, ini menarik. Saya punya ee
jadi ada ketentuan gitu ya, ada
ketentuan yang insyaallah sudah tertanam
dalam diri, jadi sudah otomatically
dilakukan ketika kita mau mengeluarkan
uang. Jadi ada tujuh mantra supaya uang
kita tetap betah di dalam dompet. Nah,
itu dua mantra ini ya. Ada tujuh mantra
tapi mantranya syariah ya bukan ya. Oke.
Oke. Jadi yang pertama adalah ketika
kita ingin membeli sesuatu, tanyakan
kepada diri kita apakah itu sebuah
keinginan atau kebutuhan? Itu satu wajib
itu. Ini keinginan atau kebutuhan?
Kayaknya butuh sih, gitu kan. Oke,
kebutuhan kan. Berikan pertanyaan nomor
dua, bisa enggak pembeliannya ditunda
besok? Enggak harus beli sekarang kan,
besok aja gitu. Nah, ketika ketemu besok
pas mau beli tanyain lagi bisa enggak
ditunda minggu depan. Ketemu minggu
depan tanyain lagi bisa enggak ditunda
bulan depan. seterusnya sampai 1 tahun
kelima wis saya wis sebulan ini aku
nahankan kudu tak belah harus saya beli
itu. Tapi ternyata masih ada pertanyaan
kelima bisa enggak ditunda tahun depan
pembeliannya? Heeh. He ya kan? Nah
kemudian yang keenam sudah nunda setahun
sudah ada uangnya untuk beli masih ada
pertanyaan keenam. Ada enggak merek lain
atau produk lain yang fungsinya sama
tapi lebih murah gitu? Kalaupun ada.
Kemudian kita punya pertanyaan ketujuh,
Mas Pamungkas. Bisa enggak kita
mendapatkan barang itu dengan cara
gratis?
Iya loh. Oh gitu. Gimana caranya berarti
kalau gratis? Dan itu memang agak sulit.
Yang ketujuh agak sulit ya. Kalau 1
sampai 6 masih okelah kita nunda setahun
kita nyari yang lebih murah masih oke
gitu. Yang nomor tuuh emang enggak semua
orang bisa. Iya. Engak semua orang bisa.
Tapi kita pernah mendengar cerita dan
ini real ya bukan saya sih ya. Kalau
saya levelnya masih saya pernah dapat
buku gratis karena jadi reseller buku
itu. Oh saya kayak semacam-macam itu ya.
Ya, semacam itu. Jadi ee kalau case-nya
saya yang sudah saya ee alami, saya jadi
reseller buku pengin buku itu, ya sudah
saya daftar reseller, daftarnya gratis,
harus menjual sekian supaya dapat komisi
sekian yang mana komisinya itu bisa
dibuat untuk membeli buku itu gitu kan.
Masih ada kelebihan komisi lagi kalau
jualannya lebih kan. Iya. Iya. Nah, ada
kan orang-orang yang dia bisa dapat
rumah di sebuah perumahan karena deal
sama developernya. Dulu saya juga
dikasih tahu, pernah dikasih tahu
seperti itu. Datang ke developernya
bilang, "Pak, saya pengin punya rumah di
sini saya bisa enggak dapat gratis
gitu."
Kepala, "Pak, Pak developer, saya harus
ngejualin berapa unit supaya saya dapat
satu gratis di sini. Kalau dia beruntung
kan ada aja kan." Iya. Tunda, tunda,
tunda. Sampai memang benar-benar ya
harus sekarang belinya gitu. Dan itu
mendarah daging akhirnya gitu. memang
kelihatannya e agak ngenes juga sih.
Saya baru beli sesuatu kalau emang sudah
rusak gitu ya, sudah benar-benar enggak
bisa dipakai. Kan tadi filter pertama
ini kebutuhan atau keinginan gitu.
Mungkin kalau kebutuhan yang cas-nya
harus mendesak segera. Yes. Betul. Kalau
yang keinginan harus ada tujuh level
tadi, tujuh mantra gitu ya. Iya. Even
itu kebutuhan harus ada. Oh, ada
kebutuhan ya. Iya. Iya. Meskipun itu
kebutuhan kebutuhan pun harus dipakai
tujuh mantra ya. Iya. Dan itu ke bawah
sampai sekarang. Itu yang kemudian
mungkin karena itu tujuh mantra supaya
uang kita betah di dalam dompet ya. di
dalam tabungan. Jadi itulah cara saya
menumpuk tabungan. Berarti jarang beli
barang dong, Mas ya? Jarang.
Alhamdulillah jarang. Dan bukan tipikal
orang yang kalau cowok mungkin ya hobi
gitu ya ee hobi mungkin mainan, hobi
mungkin motor gitu kan variasi segala
macam. Enggak saya PlayStation enggak.
Siap. Siap. Kok kepikiran apotek? Nah
itu. Nah ini menarik juga nih. Eh gimana
itu Mas? Jadi saya sama istri waktu itu
berdiskusi ee tentang usaha saya
khususnya saya itu sudah punya usaha
penerbitan dan konveksi itu. Tapi karena
itu 80 bahkan sampai 100% dijalankan
secara online, jadi customer kami itu
sebagian besar atau bahkan bisa dibilang
semuanya itu di luar Blitar. Jadi kami
mempertanyakan kok kita hidup di sini
tapi enggak punya manfaat ke masyarakat
sekitar. Oke. Ya kan bisnis itu kan kita
memberikan manfaat kan. Tapi yang
menerima manfaat kok justru orang-orang
jauh nggi ke luar pulau, ngirim jaz ke
luar pulau ya kan yang orang sendiri
terlepas dari memang e bukan segmen
marketnya ya. Even yang batik pun
semuanya online kan keluar semua. Orang
di sekitar enggak ada yang tahu. Sampai
saya paksakan buka showroom di rumah
batik itu pun enggak jalan karena
mungkin orang enggak enak karena di
rumah kan. Heeh. Heeh. ee dasar
pemikirannya adalah supaya memberikan
kebermanfaatan ke masyarakat sekitar.
Awalnya bukan apotek, Mas. Karena bagi
saya waktu itu saya berpikirnya usaha
itu semua sama aja. Intinya kan jualan
gitu kan ya. Kita punya basic itu gitu
kan. Saya senang jualan, selebihnya ilmu
manajerial kan gitu kan. Jadi bagi saya
bisnis itu apapun sama aja lah gitu kan.
Awalnya yang mau kami jajaki adalah
minimarket. Ee kami sudah ketemu dengan
seseorang yang berkecimpung di dunia itu
sudah menyampaikan keinginan kami untuk
buka minimarket. kemudian disampaikan
kemudian kami ee pulang dan kami pikir
lagi kok kayaknya enggak masuk ya karena
posisi minimarket yang kami terima
informasinya pada saat itu, itu profit
bulanannya tidak jauh berbeda atau
bahkan kadang-kadang masih lebih besar
profitnya penerbitan. Sementara kalau
kita punya min market itu pasti
effortnya besar banget. Produknya
banyak, harus datang ke store ya kan
banyak yang harus dikontrol berbanding
terbalik dengan penerbitan yang 100%
online cuma bekerja di balik laptop aja
ya kan. Tapi penghasilannya minimarket
pada saat itu yang kami terima
informasinya dengan modal yang kami
punya kan ada
ada tipe-tipenya ya naik modalmu sekian
proyeksi profitnya sekian gitu. Kalau
kamu punya modal yang lebih besar, ya
proyeksi profitnya bisa lebih besar
lagi. Nah, di proyeksi kami yang waktu
itu mungkin paling kecil ya, ternyata
profitnya cuma sekian. Boleh digambarkan
modal berapa, profitnya berapa, Mas?
Waktu itu kami starting di 200 atau R300
juta. Pokoknya level yang paling rendah
lah. 200 sampai Rp300 juta ya. Untuk
minimarket dapat profitnya kalau gak
salah R juta per bulan. Per bulan.
Proyeksi profit R juta per bulan. 2% lah
ya dari modal. Iya. Penerbitan saya
masih lebih besar pada saat itu. Hm.
Jadi akhirnya kami berpikir ulang, kami
tunda. Kemudian kenapa apotek? Ya sudah
daripada bikin usaha malah tambah
pusing, kita bikin apotek saja yang itu
masih relate sama istri yang seorang
dokter. Dan istri pun kan punya
cita-cita untuk buka praktik mandiri kan
pada saat itu. Kalau cuma praktik
mandiri saya bilang eman gitu karena
praktik mandiri bukan bisnis ya kan.
Jadi yang relate itu berarti istri ya.
Kalau masnya tadi ke dokter hewan. Istri
dokter istri dokter apa itu? Eh,
sekarang beliau spesialis penyakit
dalam. Eh, praktik mandirinya di apotek
kami. Selebihnya beliau ada dua
praktikan di rumah sakit. Oke. Satu di
Rumah Sakit Umum Aminah, yang satunya
lagi di Rumah Sakit ee Ibu Anak
Tanjungsari. Kan SIP dokter bisa tiga
kan. Iya. Iya. Iya. Ya. Jadi pada waktu
itu ya sudah daripada cuma buka praktik
mandiri which is itu bukan bisnis enggak
bisa dikembangkan kita buka apotek
sekalian aja. Karena saya masih punya
kacamata bisnis itu sama aja kok. Jadi
saya punya optimisme, Mas. Waktu itu
enggak masalah saya enggak punya
background apotek bukan apoteker gitu
kan. Selama regulasinya boleh, enggak
masalah kita cari apotekernya gitu. Nah,
ini juga yang menjadi pegangan saya
bahwa tapi belakangan saya baru tahu
istilahnya adalah resources alokator.
Guru kita nih, kita kan punya guru yang
sama nih, Kot Fahmi itu kan salah satu
ciri leaders seorang leader atau seorang
entrepreneur adalah dia seorang
resources allocator kan. Dia bisa
mengalokasikan sumber daya yang dia
punya ya kan. Jadi ya tugas kita
melisting kan kita itu sebagai personal
punya sumber daya apa. Selain
intelektualitas pribadi, katakanlah di
sekitar kita ada siapa dan kemudian kita
perlu orang yang seperti apa gitu kan.
Kalau cas-nya apotek berarti kita butuh
apoteker, ya kan? Oke. Kita butuh
orang-orang yang ee bisa men-support itu
tenaga pelayanannya. Ya sudah nyari
orang yang tepat kita sharing vision
gitu kan kita training alhamdulillah
sampai sekarang gitu. Kayak dokter ee
penyakit dalam tadi ya. penyakit dalam
itu enggak enggak bisa tanpa apoteker
enggak boleh buka apotek ya, Mas. Bisa
harusnya bisa kan? Bisa praktik mandiri,
bisa orang datang ke entah di rumah atau
buka ruko sendiri gitu kan di pinggir
jalan dia terima pasien dia ngasih
resep. Resepnya kan lari ke apotek. Iya
ya kan apoteknya sendiri gitu apoteknya.
Kalau enggak punya apotek ya otomatis ke
apotek orang toh. Apotek orang ya. Iya.
Tapi menurut kalau saya tadi lihat dari
background yang kemudian terkumpul
puzzel-nya itu bisa apotek menjadi
bisnis yang cerdas Mas. Bisa
mengumpulkan beberapa elemen yang sudah
ada. Ee kalau boleh dibilang bisnis
apotek itu cuannya gede enggak, Mas?
Ini juga satu fenomena yang belakangan
saya baru tahu. Iya. Jadi ketika buka
apotek itu saya hanya modal optimis
dengan kacamata. Bisnis apapun sama aja.
Saya sudah punya ilmunya ya kan sudah
bisnis lama gitu kan. Tak ngertilah
katakan ya ada sombong-sombong yang
dikit mungkin ya. Tapi itu mungkin bukan
insyaallah bukan sombonglah itu
optimisme gitu ya. Jadi ee insyaallah
sama aja. Belakangan saya baru tahu
setelah 1 tahun beroperasi saya
bersyukur di apotek kami apotek RVK
Medika itu ada dua praktik dokter.
Selain istri saya spesialis penyakit
dalam, di tempat kami ada psikiater.
Saya melihat data hari ini, ini kalau
dua dokter ini enggak ada apotek itu
apalagi di Kota Blitar ya. He. Kita
enggak bicara di kabupaten, katakanlah
di desa, di daerah ya, di kota Blitar
aja enggak bisa hidup, Mas. Oh, gitu ya.
Enggak bisa hidup. Operasionalnya besar.
Oh, jadi memang hari ini apotek itu
harus ada praktik dokternya. Berat ya?
Berat. bisa dibilang eh data kami
52% itu kontribusinya dari praktik
dokter. Oke. Eh, ada buku yang judulnya
eh Lak Facttor eh karangan Richard
Westman eh seorang profesor psikologi
dari UK ya kan. Beliau meneliti puluhan
mungkin ribuan atau ratusan mungkin ya
orang sukses meneliti apa sih faktor
yang membuat mereka selalu beruntung ya
kan. Ternyata Mosle menjawab bahwa
mereka punya rasa optimis gitu. Jadi
ketika saya baru mengetahui tentang lak
faktor itu, oh jangan-jangan ini karena
saya optimis. Optimis itu kan kita
bersangka baik kan sama Gusti Allah kan.
Betul. Betul. Allah kan kemudian akan
sesuai dengan persangkaan hambanya. He
he. Kita memandang sesuatu dengan
kacamata positif, sangka baik sama Gusti
Allah. Akhirnya semesta mendatangkan
mendatangkan tim yang kompeten yang luar
biasa sampai hari ini, yang saya
banggakan. Termasuk kemudian
mendatangkan psikiater yang tidak kami
duga-duga. Ketika bertemu dengan beliau,
kami baru tahu bahwa ternyata beliau ini
dr. Fatimah, SpKJ, spesialis kedokteran
jua itu satu-satunya psikiater di
Blitaraya. Oh, iya toh. Iya. Oh, beliau
juga sudah senior. Jadi, jadi istimewa.
Luar biasa beruntungnya kami begitu
bekerja sama dengan beliau gitu ya.
Sudah pada akhirnya hanya
kalimat-kalimat syukur gitu yang
diucapkan gitu. Iya, betul. Betul.
Berarti boleh di walaupun tidak
sepenuhnya faktornya ini aja boleh
dibilang yang membawa keberuntungan itu
salah satunya adalah optimis gitu ya.
Iya. Jadi saya rasa itu pertama kaliah
ketika kita mau memulai sesuatu ya, kita
harus optimis bahwa itu harus berhasil
gitu. Iya kan? Ee ada yang bilang juga
optimis itu 70% keberhasilan ya. Kalau
enggak optimis berarti kan enggak jalan
berarti dia ya. Iya. Ngapain? Enggak
enggak optimis kok jalan. Bakar uang ya
kan sudah ngeluarin modal renovasi
segala macam. Iya. Tapi saya harus maju.
Saya ee dengar juga agak struggle di
awal-awal Mas ya di itunya di apoteknya
itu, Mas. Iya. pasti ee yang karena
harus alokasi dana ke tempat yang lain
begitu ya. Pendirian apotek juga lumayan
struggle ya karena kami mendapatkan
tempat yang ya rumah tua renovasinya
besar, mengurus perizinannya juga agak
sulit ternyata apotek itu sulit sulit ya
apoteknya izinnya sulit. Iya. Jadi sewa
tempat pertama itu kan 2 tahun ya 1
tahun terpaksa kosong karena kita
menyiapkan untuk renovasi dan menyiapkan
berkas-berkas perizinan. Baru 1 tahun
yang kedua baru kepakai. Itu pun bukan
di awal tahun tapi di pertengahan tahun.
Tapi karena memang sudah mengalokasikan
modal ke sana, ya sudah otomatis mau
enggak mau itu harus dikeluarkan.
Termasuk saya mendapatkan tim itu bulan
Desember, sementara apotek baru
operasional bulan Juni karena masalah
perizinan. Jadi tim itu ada 6 bulan ya,
Mas? Heeh. Sekitar berapa? Desember
sampai Juni. Desember sampai Mei lah.
Katakan 5 56 5 6 bulan ya. En betul
sudah hire orang, sudah digaji dan kita
juga enggak mungkin bilang ini karena
potnya belum operasional. Jadi kamu
mulainya nanti ya bulan kalau sudah buka
gitu ya bulan 5 atau bulan 6 atau ini
karena apoteknya belum operasional jadi
gajimu separuh dulu ya. Enggak bisa Mas
gaji full semua gitu. Tapi karena emang
sudah mengalokasikan modal kesan ya mau
enggak mau. Tapi saya tidak pernah
menyesali seperti itu. Saya selalu
insyaallah melihat suatu dari kacamata
yang positif ya. Jadi memang yang kami
lakukan 5 bulan pertama itu ketika
apotek belum operasional ya mereka
ditatar, mereka dira kan enggak cuman
teknis kan tapi juga noneknis. Jadi ya
sudah teman-teman pokoknya berangkat ke
kantor kantor penerbitan pada saat itu
yang di rumah saya berangkat jam sekian.
Agendanya apa? Belajar kayak kamu kuliah
aja kayak kamu sekolah gitu. Heeh. Saya
nyari-nyari materi untuk mentraining
mereka gitu. Oke. Oke. Jadi transfer
knowledge ya. Ya mungkin buahnya baru
kerasa sekarang begitu kan karena mereka
5 bulan di training. Usia berapa
sekarang anunya apoteknya? berarti
hampir 2 tahun per Juni kami
menghitungnya mulai dari 5 Juni 2023 itu
mulai operasional hari pertama jadi Juni
besok ee genap 2 tahun termasuk usaha
yang hari ini bisa dibilang iya daripada
yang lain lumayan agak tebal gitu ya
secara Iya dan ini yang kemudian bisa
diproyeksi untuk diale up karena kalau
penerbitan kalau konveksi itu 100%
bergantung sama saya oke hari ini dua
ini saya tempatkan sebagai bisnis hobi
saja, sebagai supporting ke komunitas
kedokteran hewan dan peternakan saja,
bukan sebagai bisnis yang menghidupi
saya. He. Sekarang kalau ngomongin
penghidupan, nafkah apotek ini. Makanya
fokusnya sekarang banyak di apotek.
Jadi, jadi yang ibarat kita itu jadi
tulang punggung utamanya gitu ya. Oke.
Tadi juga menarik ee apotek bisa disale
up, yang lain tidak scale up. Saya jadi
penasaran kriteria usaha yang bisa diale
up itu seperti apa, Mas?
Sependek pengetahuan saya, yang jelas
itu usaha harus bisa disistasi, bisa
berjalan tanpa kehadiran ownernya. Nah,
tugas owner ini membuat bagaimana supaya
usahanya bisa berjalan tanpa kehadiran
owner gitu. Kuncinya adalah di
manusianya kan. Saya selalu berpegangan
bahwa ketika kita mengharapkan sebuah
sistem yang hebat, maka kita harus
menciptakan orang yang hebat, tim-tim
yang hebat gitu kan. Kita ketika kita
menginginkan sebuah organisasi yang
hebat, maka orang-orangnya juga harus
hebat juga. Makanya pendidikan dan
pelatihan itu menjadi backbond. He. Jadi
saya enggak menyesali 6 atau 5 bulan
melatih teman-teman itu dan itu menjadi
ee istilahnya apa ya? Kunci bertumbuh
bagi kami bahwa ketika mau bertumbuh
maka harus belajar, orang-orangnya harus
bertumbuh. Nah, karena 5 bulan awal itu
mereka ditatar kemudian apotek baru buka
bulan pertama kalau enggak salah sebulan
pertama atau bulan kedua masuk bulan
kedua itu sudah saya tinggal, Mas. Saya
tinggal apa? Saya tinggal bolak-balik
Surabaya. Oke. Untuk apa? Untuk program
hamil. Ee ini juga mungkin nyambung ke
pertanyaan yang tadi ya jenengan tadi.
Jadi
ee tidak lama setelah apotek itu buka,
setelah semua sumber daya materi kami ee
kami alihkan ke apotek untuk modal usaha
ee saya dengan istri memutuskan untuk
program bayi tabung karena ee kami sudah
10 tahun menikah ya. Kami menikah tahun
2013. Sudah berbagai macam program hamil
dijalani sejak menikah. Heeh. He bukan
orang yang atau bukan pasangan yang long
distance juga bukan rutin berhubungan,
tapi karena memang ada e masalah
kesehatan aja begitu ya mungkin ya
masalah hormonal. Akhirnya segala macam
program yang kami jalankan itu ee tidak
berhasil. Di tahun ke-10 puncaknya
adalah
ee saya dengan istri sempat bertengkar
hebat. Kalau boleh cerita ya sudah
sampai di titik depresi mungkin istri
saya perkara keturunan ini sampai
akhirnya kemudian saya mencari informasi
dan alhamdulillah dari teman ketemu yang
sudah berhasil melakukan program bayi
tabung dan ketika mendapatkan informasi
bayi tabung pertama kali tentu agak
defense juga karena yang pertama ini
biayanya besar enggak murah Mas bayi
tabung jadi sampai berapa boleh tahu Mas
awalnya saya diinfokan bisa sampai 100
dan Rp150 juta biaya yang cukup besar.
Apalagi waktu itu sumber daya kami sudah
habis ke apotek. Baru terkuras kan baru
terkuras di apotek ya kan. Satu defense
karena materinya, yang kedua defense
karena kita harus bolak-balik Surabaya
loh dan itu enggak dekat gitu ya. Sudah
menyerah dengan keadaan harus dijalani.
Hm. Aset yang ada apa dicari dikumpulkan
nyukup enggak segitu? Yang bisa dijual
dijual. H struggle yang berikutnya di
situ. Sepakat kita merelakan diri,
merelakan harta yang kita punya untuk
melaksanakan program bayi tabung itu.
Kita bolak-balik ke Surabaya kadang
sebulan sekali. Kalau sudah mulai
dekat-dekat ee program itu bisa sebulan
dua kali atau bahkan pernah juga
seminggu sekali. Ada juga kalau enggak
salah yang opsi menginap di sana ya, Mas
kalau enggak salah. Betul. Otomatis
biaya yang dikeluarkan enggak cuman
biaya program kan. Oh iya. biaya
perjalanannya, biaya menginap di sana,
ya kan enggak mungkin ee dokternya
praktik sore, saya enggak suka
perjalanan malam, sudah capek juga pasti
nginep kalau selesai kontrol kan
embrionya ditransfer juga harus stay di
sana seminggu. Jadi cukup menguras
tenaga, pikiran segala macam gitu. Kalau
untuk proses anunya, Mas, bayi tabeng
itu sebenarnya seperti apa sih, Mas,
mekanismenya bagi bisa dijelaskan dengan
untuk orang awam seperti kita? Yang saya
tahu aja ya. Ini ahlinya orang medis nih
harusnya nih. Oke. Bayi tabung itu
antara sperma sama ovumnya dipertemukan
di luar di cawan kan di dalam
laboratorium. Heeh. Bukan di dalam
tabung bukan. Kenapa disebut bayi
tabung? Karena dia dipertemukannya di
cawan tabung begitu di laboratorium.
Kalau dari pihak suami dicari sperma
yang paling oke, yang paling perform
begitu ya. Kalau dari pihak perempuannya
ya diperbaiki masalahnya apa. Kalau di
istri saya kebetulan salah satunya
adalah masalah hormonal yang
menstruasinya enggak ee rutin ya kan.
Jadi diperbaiki dulu. I supaya rutin
kemudian supaya
bisa menghasilkan ovum yang besar ya
kan. Ketika sudah bisa mendapatkan ovum
yang besar, sel telur yang besar itu
kemudian ada prosedur yang namanya ovum
pick up. Jadi prosedur mengambil sel
telur dari tubuh ee si perempuannya.
Heeh. He. Jadi, spermannya sudah
diambil, telurnya diambil, kemudian
dipertemukan di di tabung itu di tabung
tadi di cawan di dalam laboratorium.
Nah, setelah dipertemukan ketika itu
berhasil katakanlah apa ya ee berhasil
jadi pembuahan, barulah kemudian si
pembuahan atau yang disebut dengan
embrio itu ditanam di rahim ibunya. Oke.
Jadi, itulah yang kemudian disebut
sebagai embrio transfer. Heeh. Ya kan?
Ee waktu itu kami mendapatkan empat
embrio. Berarti empat sperma yang bagus.
Dapat. Iya. Dapat empat embrio. Itu
hasil pembuahannya dapat empat. Dapat
empat ya. Heeh. Yang harusnya kalau
mungkin rahimnya kuat itu empat-empatnya
bisa ditanam tuh. Karena ada juga ee
orang-orang yang ee ditanam
empat-empatnya berarti dapat empat bayi.
Iya. Dapat empat bayi. Ada yang ditanam
tiga jadi tiga bayi gitu kan. Tapi waktu
itu dokter kami dari empat itu kan
dilihat ya perkembangannya seperti apa.
Ternyata yang bertahan cuma tiga. Yang
satu tidak bertahan di dalam lab itu dia
tidak bertahan. Akhirnya dari tiga yang
bertahan itu alih-alih ditanam semua di
rahim istri hanya dua yang ditanam. Yang
satu sampai sekarang masih di lab. Oh
masih disimpan. Sampai sekarang masih
disimpan. Masih hidup berarti dia masih
hidup. Jadi sewaktu-waktu kita mau
program lagi masih bisa pakai embrio.
Itu masih tabang tabungan satu embrio.
Iya. Jadi kita nyekolahin embrio
istilahnya. Kalau orang-orang nyolahin
anak tapi dia enggak enggak gede. Enggak
gede di sana kan tetap kecil kan? Tetap
sel. Iya. Oke. Tapi kan ada biaya setiap
bulannya ada biaya perawatan. Oh. Jadi
nyekolahin embrio istilahnya orang-orang
nyekelin anak kita nyekolahin embrio.
Jadi dua yang ditanam Mas. Dua yang
ditanam itu qadarullah yang berkembang
di dalam perut cuma satu. Oh. Jadi yang
tadinya diprediksi bisa jadi anak kembar
ternyata yang satu enggak kuat. akhirnya
cuma satu yang berkembang sampai
sekarang alhamdulillah sudah berumur 1
tahun setengah gitu. Hm. Jadi mungkin
kalau ditanya episode terberat tadi
ketika kami memutuskan untuk bayi tabung
karena sumber dayanya semua sudah
dialokasikan ke apotek ternyata harus
mencari tambang di mana lagi nih untuk
bisa membiayai program bayi tabung ini.
Tapi sampai jual-jual atau enggak atau
cukup dari tabungan aja? Satu tabungan
yang kedua jual aset. Oh jual mobil. Oh
iya iya i ee jual emas dan beberapa
adalah perhiasan kalau enggak salah
nyaya gitu ya. Yang paling berat
dilepaskan mobil itu sih mobil pertama
kan soalnya. Heeh. He he. Sebegitu
berartinya ya Mas ya seorang anak ya Mas
ya. Iya. Akhirnya ya hari ini tetap kami
bersyukur sih karena worth it gitu kan
ya namanya ya okelah dulu mobil bisa
dipeluk bisa dicium setirnya gitu kan.
Tapi sekarang anak lebih dari itu. Oke.
No regret lah enggak nyesal sama sekali.
Siap. Siap. Anak bagi Mas Arif itu apa
arti seorang anak?
Ee hadiah terindah sih bagi kami ya dari
Gusti Allah ya. He ee yang sudah lama
dinanti-nantikan gitu kan. Jadi ee satu
hal bahwa menyadari lagi-lagi ya apa
yang kita rencanakan tidak selalu ee
sesuai dengan apa yang dibutuhkan
menurut kacamata Gusti Allah. Begitu ya.
Salah satu yang saya impikan sebenarnya
ketika menikah di usia 25 tahun. Saya
kan menikah usia 25 tahun. Salah satu
yang saya bayangkan pada saat menikah
itu ketika punya anak ya kan anaknya
sudah agak besar, kita enggak beda jauh
umurnya nih. Bisa kayak friend aja kan
sama anak bisa bro-broan gitu kan. Kan
teman-teman begitu kan. Iya. Ee harusnya
hari ini kalau 1 tahun atau 2 tahun
menikah itu sudah dikaruniai anak.
Mungkin anak sekarang sudah 10 atau 11
tahun. Enggak terlalu beda jauhlah umur
ya. Sekarang saya 36 37 kan ketika kita
semakin bertambah usia ya kan masih
kuatlah kita kan. Heeh. Heeh. Lagi-lagi
kita punya rencana, punya bayangan
seperti itu. Ternyata memang ee ya
mungkin pada saat itu menurut Gusti
Allah emang belum siap aja gitu. He he.
Ini bisa menjadi ee pelajaran juga ee
pada akhirnya harus ketemu dokter yang
memang dia spesialisasinya di situ gitu.
Heeh. meskipun sama-sama katakanlah
objin ya, tapi kan kalau yang bayi
tabung ini dia khusus Mas, dia sekolah
lagi kan untuk bisa tahu ilmu itu dan
dia memang pekerjaannya spesial di situ.
Jadi memang harus khusus gitu bukan yang
biasa-biasa aja. Kalau emang bisa
melangkah ke sana ee ada rezekinya,
kalau sudah umur ya kami juga disarankan
untuk langsung bayi tabung. Karena waktu
datang pertama kali ke dokter itu
usianya sudah 35 atau 36 tahun saya
lupa. Jadi sudah tidak mungkin lagi
untuk inseminasi buat e insem ya itu
sudah enggak mungkin kan sebenarnya ee
kalau tahapannya sebelum ke bayi tabung
itu kita bisa nyoba insem dulu. Oke.
Inseminasi ee sperma itu kan. Tapi kata
dokter karena sudah usia segitu mending
langsung bayi tabung aja. Secara kondisi
ekonomi kan baru merintis usaha yang
tadi ya yang apotek tadi kan. Iya.
Secara keuangan kan mungkin juga
terkuras. Secara ee apa fokus juga lagi
fokus banget di usahanya yang apa apotek
itu. Ada enggak waktu itu kayak wah aku
tak pending dulu nih 1 tahun atau 2
tahun lagi untuk bayi tabungnya? Kok
enggak melakukan opsi itu, Mas? ee
karena sudah sampai di titik kritis
kalau boleh dibilang yang tadi saya
cerit kami sempat bertengkar sama e
istri saya sempat bertengkar tentang ini
gitu kan enggak ada jalan lain dan harus
disegerakan gitu. He. Kalau ditunda lagi
dari istri sudah mendesak sih enggak
bisa ditunda lagi. Enggak ada alasan
gitu. Even waktu itu ada pilihan umrah
dulu gitu kan misalnya ada pilihan umrah
dulu. Karena beberapa pasangan kan juga
melakukan cerita itu kan. Umrah berdoa
kemudian pulang alhamdulillah gitu kan.
Heeh. Tapi pada cas-nya kami dengan
pertimbangan kami pada saat itu rasanya
yang paling masuk di akal kami pada saat
itu adalah langsung program B langsung
program untuk yang kayak ini gak bisa di
kayak gak pakai gak bisa pakai tujuh
mantra tadi berarti ya. Iya
harus ditunda dulu sebulan 10 tahun loh.
Iya kan kalau di mantra itu paling
sampai setahun kan. Oh iya iya ini lebih
dari itu ya berarti. Atau di mantra yang
ketujuh bisa enggak didapat secara
gratis? Ah itu gimana tuh? Saya sempat
mau ngangkat anak tuh. Oh gitu ya. kita
kami dua kali sempat mau ngangkat anak
tapi qadarullah ya belum jodohnya juga
sama ngangkat anak itu berarti kayak ee
gimana konsepnya itu, Mas? Ee ya di
kepercayaan keluarga kan coba deh
ngangkat anak siapa tahu ee bisa mancing
ya kan. Oh iya. Iya kan kayak gitu
biasanya. Biasanya kan gitu kan. Ya
sudah karena menuruti orang tua akhirnya
sempat ada tiga kali malah ada tiga dua
lah dua yang hampir ya hampir jadi dua
keluarga yang kami approach gitu kan.
Yang satu ee sudah usia 2 tahun kalau
enggak salah. Ee ini yang pertama kali
kami approach yang kami dekati yang
kemudian sudah hampir bulat mau dibawa
ke Blitar ternyata digondeli sama
neneknya gitu. Jadi ini anak ditinggal
meninggal kedua orang tuanya kecelakaan.
Umur masih 2 tahun. Punya kakak sudah
11an tahun kalau enggak salah. Ee dari
keluarga tidak mampu. Tinggal sama
neneknya. Nah, hampir kami bawa ke
Blitar sudah beberapa kali ke
keluarganya. Awalnya neneknya ee sepakat
tapi belakangan ketika hampir di bawa
mungkin baru kerasa gitu ya. Ngemani ee
akhirnya tidak jadi gitu karena kata
neneknya wajahnya mirip seperti anak
perempuannya yang meninggal itu tadi.
Iya. Iya. Oke, akhirnya yang kedua
kalinya kami mencoba approach ke satu
keluarga lagi yang masih di lingkungan
eh rumah orang tua di sana. Ee keluarga
tidak mampu, ee posisi masih di dalam
kandungan. Kami support ee beberapa
kebutuhan kehamilannya pada saat itu.
Tapi qadarullah ketika lahir ada satu
lain hal yang kemudian menjadikan itu
tidak berlanjut. Ya, setelah anaknya
lahir tidak berkenan untuk kemudian
diangkat anak. Tapi sampai hari ini pun
ee kami masih berhubungan baik, masih
kemarin lebaran juga masih ketemu
anaknya sudah e gede ya masih ee balita
sih ya 2 tahun 2 tahunan lah kalau
enggak salah umurnya. Jadi qadarullah
niatan-niatan itu tindak lanjuti. Kan
enggak sekedar niat doang ya sudah ada
tindak lanjutnya approach kita biayai
segala macam ya Allah gantikan dengan
rezeki. Ternyata bisa punya anak sendiri
kok. Masyaallah alhamdulillah. Jadi
ee nah ini mungkin bisa jadi highlight
ya Mas ya. Jadi saya percaya yang
namanya kita tuh belajar dari sainnya
Bunda Hajar yang diceritakan ketika
beliau ditinggalkan di tanah tandus
gurun pasir dengan anaknya Ismail.
Kemudian Ismailnya menangis karena
kehausan ya kan. Kemudian Bunda Hajar
lari untuk mencari sumber air yang
beberapa riwayat menyatakan bahwa
sebenarnya Bunda Hajar itu tahu kok di
situ enggak ada sumber air. Tapi dia
paksakan untuk lari keliling bolak-balik
Safa Marwah itu tujuh kali untuk merayu
Allah gitu kan. sampai akhirnya kita
sama-sama sama-sama tahu bahwa sumber
air itu muncul di bawah kakinya Nabi
Ismail, di luar rute larinya Hajar gitu
kan. Nah, ini yang juga kemudian menjadi
pegangan saya sampai hari ini bahwa
untuk kita mendapatkan rezeki di satu
titik, kita enggak harus fokus ke situ
kok. Justru bukannya enggak harus ya,
justru harus di luar itu fokusnya,
kerjaannya harus di luar itu gitu.
Makanya saya tipikal yang kayak sekarang
punya apotek begitu ya. Saya enggak
setiap hari harus ke situ kok gitu kan.
Saya masih aktif kok di organisasi, di
komunitas. Saya masih melakukan ee
kegiatan sukarela saya di komunitas,
ngurusin orang-orang, which is itu sudah
saya lakukan dari zaman kuliah.
Nge-develop orang, membuat orang itu
ngerti satu dua hal karena kita
menyelenggarakan pelatihan,
menyelenggarakan seminar gitu kan.
Niatan baik itu yang kita lakukan di A,
di B, di C rezekinya ternyata di sini
kok enggak jauh-jauh gitu. Allah kasih
juga kok. itu ini banget sih sampai
sekarang masih jadi pegangan juga bahwa
kita enggak harus fokus di satu tempat
kok untuk mendapatkan rezeki dari situ.
Dalam konteks suami istri misalnya, saya
sekarang menikmati ketika istri minta
diantar dan saya menganggap itu bagian
dari sai saya. Oke. Heeh. Ee ayo antar
ada pasien di Tanjungsari gitu kan. Ayo
antar ada pasien di Aminah. Even di
apotek sendiri. Ayo nanti malam ada
pasien di apotek gitu kan. He he he. Ayo
anter atau sekarang ayo ke mana gitu.
Kalau konteksnya ee suami istri, saya
sekarang lebih ke bagaimana melayani
istri dengan baik gitu ya. Sebagaimana
seorang suami yang baik karena itu salah
satu yang kemudian akan mendatangkan
rezeki menurut saya gitu. Enggak harus
kok ya okelah kita membuat strategi
segala macam untuk bisnis kita gitu ya.
Kita ee mengevaluasi mengevaluasi bisnis
kita segala macam. Iya itu harus
dilakukan tapi enggak harus 100% di
situ. Hal-hal non teknis di luar itu
juga yang itu mendatangkan kebaikan itu
harus dilakukan juga. berbagi entah itu
tenaga kalau emang bisa berbaginya
tenaga, kalau bisa berbagi pengetahuan
di komunitas seperti ini misalnya kalau
emang ada manfaat yang bisa diambil ya
kita mendedikasikan diri untuk
ngelayanin orang lah istilahnya dan
pemahaman itu juga teman-teman kami di
komunitas juga terutama di pengurus ya
itu yang juga ditanamkan insyaallah
rezekinya katakanlah misalnya ee
bisnismu lagi stagnan nih ya kan ya
sudah jangan kemudian justru e pusing
dengan stagnasi itu datang ke komunitas
apa yang bisa dilakukan ketemu ngobrol
atau ada kegiatan apa yang bisa dibantu.
Heeh. Heeh. Kalau kita sudah mentok di
bisnis kita, mau ditungguin sampai
benjut pun kepala ini tetap akan mentok,
Mas. Enggak akan ketemu solusi.
Solusinya keluar dari bisnis, ketemu
orang, melakukan hal yang berbeda,
melakukan kebaikan-kebaikan di luar
sana, Allah yang akan memperbaiki bisnis
ini. Siap. Siap. Itu yang kami percaya,
Mas. Kayak Mas Arif juga sekarang aktif
di komunitas TDA ya, di Blitar ya. Iya.
Itu salah satu jalan ninjaku supaya
bisnis ini jalan ninjanya ya. Ya, dari
dulu kan sudah senang dengan organisasi
ya, senang dengan ee ngelayanin orang.
Jadi, ya itu yang tadi saya percaya,
Mas. Toh sama aja kok buktinya ketika ya
sekarang ee bisalah dibandingin orang
yang aktif di komunitas dengan yang
fokus 100% di bisnisnya. Insyaallah sama
kok rezekinya. Atau mungkin ketika saya
vakum dari ee organisasi katakanlah
omsetnya enggak nambah kok.
dari perjalanannya Mas Arif, value yang
mungkin Mas Arif pakai atau yang Mas
Arif jaga dan mungkin akan terus dijaga
gitu ya, itu value apa sih, Mas? Saya
tidak tahu ini disebut eh value atau
bukan. Kalau disebut value saya bisa
bilang e integritas, saya bisa menjaga
integritas, kejujuran segala macam itu.
Itu value wajib kita sebagai seorang
wirausaha ya. Kepercayaan itu penting
kan orang itu ee bekerja sama dengan
kita, mau membeli apa yang kita tawarkan
karena kan melihat kita siapa kan.
Mostly seperti itu. Apalagi di level
UMKM itu sudah saya kira sudah jadi
pengetahuan umum sekali kemudian
integritas kita tercoreng rusaklah ya.
Uang bisa dicari tapi ketika nama baik
rusak susah memperbaikinya. Jadi itu ee
saya rasa sudah menjadi e pengetahuan
umum. Tapi barangkali ini bisa menjadi
sesuatu yang bisa dipegang sama
teman-teman juga. Saya sampai di titik
ini salah satu yang saya syukuri adalah
ketika dulu saya belajar kewirausahaan
tahun keempat ketika saya kuliah. Di
tahun keempat saya kuliah itu Mas, saya
ketemu komunitas waktu itu saya belum
kenal TDA. Saya ketemu komunitas yang
namanya pengusaha tanpa riba. Kami
menyebutnya gurundah Coach Samsul
Arifin. Dan alhamdulillah saya termasuk
orang yang beruntung karena bisa
beberapa kali event dengan beliau, bisa
beberapa kali dimentor sama beliau yang
rutin waktu itu sama muridnya beliau
kan. Kalau di strukturalnya katakanlah
ee beliau ini ee levelnya sudah grand
master ya, grand master itu. Jadi hanya
bisa kalau di level saya yang mentornya
kecil ini hanya ketemu sekali dua kali
sudah bersyukur ya. Nah, yang rutin
ketemu sebulan sekali adalah sama
masternya, sama muridnya beliau yang
kami mentoring setiap bulan. Dari situ
saya bersyukur banyak belajar tentang
fikih muamalah. Dan salah satu yang
menjadi pegangan saya sampai hari ini
adalah jangan sampai kita terjebak dalam
hutang riba. Ya, namanya juga kemudian
komunitas pengusaha tanpa riba kan. Jadi
waktu itu yang benar-benar digaungkan
adalah riba, riba, riba. Dari situ
pertama kali saya pertama kali mengenal
tentang riba dan pertama kali kemudian
riba itu dibuat mendarah daging menjadi
pengetahuan bawah sadar yang pada
awalnya ketika saya mungkin semester
atau tahun-tahun awal tahun pertama,
tahun kedua, tahun ketiga punya
cita-cita, oh nanti kalau punya usaha,
punya toko di pinggir jalan bisa minjam
modal dari bank. Ketika saya keliling di
Bogor waktu itu saya melihat ada
toko-toko dengan label mitra bank anu
gitu ya. Itu saya sempat punya nanti
saya harus bisa. kayak gitu gitu ya. Ada
labelnya itu mitra bank ya. Jenengan
pasti tahulah ada mitra bank ini. Nah,
sejak saat itu oh ternyata enggak boleh.
Jadi itu yang benar-benar saya jaga
sampai hari ini jangan sampai
bersentuhan dengan itu. Yang itu
kemudian mungkin membuat cerita hidup
saya tidak menarik ya. Kalau orang-orang
mungkin di interview di podcast menarik
karena oh dulu saya jatuh karena riba ya
kan dihantem sama Gusti Allah sekarang
saya sukses. Itu kan jadi ada ceritanya.
Tapi itu saya syukuri dan saya juga
nauzubillah enggak mau. Moga-moga enggak
enggak terjadi ya. Ee semoga saya
berharap jangan sampai mendapatkan ujian
yang luar biasa hebat. Nauzubillah saya
tidak sanggup menanggungnya meskipun
janji Allah kita tidak akan mendapatkan
ujian yang melebihi batas kemampuan kita
ya. Tapi jangan sampailah hanya untuk
sekedar mendapatkan posisi sukses itu
ya. dari cerita pengusaha-pengusaha
hebat kan kebanyakan begitu ya to. Tapi
kalau bisa sih sukses aja tapi jangan
mengalami episode itu kan sudah tahu
ilmunya gitu kan. Tinggal bagaimana kita
menjaga supaya tidak mengalami episode
buruk gitu, tidak mengalami ujian yang
kita tidak sanggup menanggungnya dan ya
sudah kita hidup sesuai dengan kemampuan
mencapai apa ya
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:42 UTC
Categories
Manage