Transcript
5xTG9TA3o64 • Modal Usaha Ludes, Jual Semua Aset Demi Punya Anak! 10 Tahun Menikah Tapi..
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0508_5xTG9TA3o64.txt
Kind: captions Language: id Ee setelah semua sumber daya materi kami ee kami alihkan ke apotek untuk modal usaha, ee saya dengan istri memutuskan untuk program bayi tabung. Karena ee kami sudah 10 tahun menikah, segala macam program yang kami jalankan itu ee tidak berhasil. Di tahun ke-10 puncaknya adalah saya dengan istri sempat bertengkar hebat kalau boleh cerita ya. Bolak-balik Safa Marwah itu tujuh kali untuk merayu Allah gitu kan. sampai akhirnya kita sama-sama sama-sama tahu bahwa sumber air itu muncul di bawah kakinya Nabi Ismail. Nah, ini yang juga kemudian menjadi pegangan saya sampai hari ini bahwa untuk kita mendapatkan rezeki di satu titik, kita enggak harus fokus ke situ kok. Justru bukannya enggak harus ya, justru harus di luar itu fokusnya. Jadi ada tujuh mantra supaya uang kita tetap betah di dalam dompet. Nah, itu mantra ini ya. Ada tujuh mantra, tapi mantranya syariah ya. [Musik] kita kedatangan pengusaha dari militar yaitu Mas Arif. Kalau dibilang pengusaha itu pengusaha apa begitu. Sekarang lebih ee nyaman dikenal sebagai pengusaha memang karena memang aktivity-nya sekarang sudah 100% di wirausaha. Kalau dulu masih separuh-separuh, Mas. Dulu bekerja juga, wirausaha juga. Jadi kalau orang menyebutnya apa ya ee sampingan atau dua kaki atau apalah gitu. Sekarang 100% di dunia usaha jadi sudah nyaman dengan berangkat dari profesionalis berarti ya. Kalau di bidang yang menghasilkan uang iya secara kita kerja dibayar ya. Tapi kalau berjualan berdagang itu sudah dari e kuliah saya sudah berjualan gitu. Jadi sebenarnya sebelum bekerja sebagai profesional sudah wirausaha duluan sebenarnya kalau bisa dibilang begitu. Iya. Di mana perusahaan apa? Saya bekerja di perusahaan produsen vaksin. Vaksin khusus untuk ternak, untuk ayam ya, vaksin Avian influenza. Jadi background saya dokter hewan secara pendidikan. Kemudian lulus itu langsung bekerja di perusahaan tersebut. Ee karena areanya satu Indonesia, kebetulan saya mendapatkan ee penempatan di Indonesia Timur, klien terbanyak di Kota Blitar. Jadi, akhirnya dipindahlah ke Kota Blitar. Sejak tahun 2012 saya di Blitar. 2012 akhir sejak itu menetap di Blitar. Nah, ini kok dokter hewan buka apotek manusia gitu. Itu kenapa, Mas, kok tiba-tiba apotek gitu loh, Mas? Ini kalau saya tarik mundur ketika saya pertama kali mengenal yang namanya kewirausahaan atau entrepreneurship ya itu sejak saya kuliah semester 1. Kebetulan saya kuliah di IPB Institut Pertanian Bogor. Ee semester 1 itu sudah gabung di BEM KM itu BEMnya kampus karena ada BEM fakultas, ada BEMnya kampus. Sejak kecil, sejak SD itu saya memang senang berorganisasi, Mas. Jadi SD berorganisasi, SMP berorganisasi, SMA berorganisasi, maka kuliah pun lanjut organisasinya gitu. Heeh. Bahkan bisa dibilang lebih senang kegiatan organisasinya daripada belajar di dalam kelasnya, gitu. Oke. Nah, dari BMKM itu kemudian ada kegiatan atau program Leadership and Entrepreneurship School. Ini mungkin teman-teman seangkatan saya kalau sempat melihat ini pasti ingat juga begitu ya. Nah, dari situlah saya diperkenalkan dengan yang namanya dunia kewirausahaan sampai benar-benar kemudian eh saya pengin nih punya usaha sendiri sejak termotivasi dari kegiatan itu. Akhirnya yang saya ee mulai pertama kali pada saat tahun pertama kuliah itu adalah karena saya orang Pekalongan. Saya tahu di sekeliling tempat tinggal saya di Pekalongan banyak produsen batik. Akhirnya saya jualan batik di Bogor. Setiap kali ada libur panjang, saya pulang kembali ke Bogor pasti membawa karung-karung batik. Minimal satu karung lah penuh. Jadi enggak cuma tas atau koper aja, tapi bawa karung yang isinya batiwatik dan alhamdulillah laku, Mas. Saat kuliah itu ya, saat kuliah itu saya mengambil kesimpulan orang Pekalongan kalau merantau enggak jualan batik itu rugi karena di kota-kota besar terutama itu harga batiknya tinggi. Jadi alhamdulillah berjalan jualan batik bahkan sampai ada beberapa teman dan junior yang kemudian membantu menjadi reseller dan kemudian juga ibu kos saya juga bantu jualin ya. Ibu Kos saya lumayan penyumbang omset terbesar ya kan ibu-ibu hajah gitu ya kooperatif ya beliau sering arisan sering pengajian pesenannya selalu banyak jadi itu pertama kalinya menseriusi di situ. Sudah tahu ada hasilnya akhirnya ya sudah senang aja gitu kan jualan. Kemudian ee semakin berjalannya waktu semakin menekuni apa itu kewirausahaan. Sering ikut seminar-seminarnya di kampus begitu kan ikut komunitasnya juga sampai kemudian di ee tahun keempat. Jadi saya tahun pertama, kita kan kuliah 4 tahun ya, tahun pertama itu di BMKM, tahun ke, tahun ketiga saya kembali ke fakultas, aktif diorganisasi di fakultas. Kemudian tahun keempat kembali ke BMKM lagi itu kita bikin program lagi. Jadi ketika tahun keempat kembali ke BEM kampus itu yang dulu tahun pertama saya jadi peserta, tahun keempat saya jadi penyelenggara. Kita membuat yang namanya entrepreneurship development unit tentang kewirausahaan lagi. Jadi digembeleng lagi tentang kewirausahaan. Sering ikut bazar-baar di kampus. Awal mulanya dari situ. Bahkan satu atau 2 tahun sebelum lulus saya sempat punya toko batik di Bogor. Oke. Berarti bahkan cukup pesat ya berarti ya. Sampai Iya. Bahkan sampai kayaknya ini lulus kuliah enggak usah kerja deh. Tak teruskan aja tokonya gitu. Heeh. Tapi ngemani orang tua wes nyekolah tinggi-tinggi gitu ya sudah dapat gelar dokter hewan, masa sih gelarnya enggak dipakai gitu kan. Mau menikah juga ini calon mertua memandangnya seperti apa gitu kan. Akhirnya ya okelah saya terima kesepakatan untuk saya bekerja menggunakan gelar saya gitu. Padahal kalau dari segi hasil sudah lumayan ya Mas waktu itu untuk ukuran saya pada saat itu lumayan. Kalau itu diseriusi mungkin bisa lebih besar lagi. Ya kan di Kota Gede kan di Bogor kan. Iya kan sering dapat aliran seragam segala macam itu kan yang bikin ee besar. Heeh. Heeh. Ya sudah akhirnya ee memutuskan untuk bekerja tapi waktu dengan target pribadi oke aku kerja tapi enggak usah lama-lamalah kerjanya 2 tahun cukup gitu. Eh, itu tadi beneran ditinggal berarti ya? Ditutup ya? Tutup akhirnya tokonya. Wih, sayang ya, Mas ya. Tapi emang belum belum lama sih umurnya. Mungkin baru setahun lah, baru setahun buka ya. Akhirnya tutup. Terpaksa tutup. Oke, tutup. Ee kita tarik barang-barangnya ya sudah ditinggal karena memang enggak enggak enggak enggak stay lagi di sana kan. Dapat pekerjaan yang saya melamar di perusahaan yang dia holding company-nya di Bogor berharap ditempatkan di Bogor. Saya pikir kerjanya bakal di Bogor. Jadi bisa nyambi tokonya. Betul. Nah, kan gitu kan. ternyata kelempar ke Jawa Timur yang tadi di Blitar itu. Di Blitar itu. Oh. Dan yang bikin saya waktu itu menerima adalah ini saya ingat nih ini mungkin bisa jadi e pegangan juga direktur saya waktu itu ketika saya interview dan saya menunjukkan mungkin beliau melihat saya ada keberatan untuk ditempatkan di Jawa Timur begitu ya. Beliau menyampaikan seperti ini. Sampai sekarang saya masih ingat ee Mas Arif bumi Allah itu luas jadi enggak boleh milih-milih tempat tinggal di mana. Oh ya benar juga ya. Iya. Ini juga di militer ini juga bumi Allah, Mas. Bumi Allah enggak boleh. Enggak mau tinggal sana enggak boleh. Tapi kalau memang dilihat dari demografis jauh banget, Mas. Bogor itu di kalau di Jawa kan termasuk ujung barat lah ya. Iya. Blitar ini termasuk juga kategorinya ya walaupun gak ujung-ujung timur banget ya. Sudah Jawa Timur yang agak ke timur gitu loh. Iya. Dan enggak pernah tahu kan sebelumnya Blitar itu seperti apa gitu. Hanya karena memang ee waktu itu customernya kebanyakan di Blitar-Bitar kan ee penghasil telur terbesar kan. banyak di sini, Mas. Jadi ee ditempatkannya di Blitar dengan cover area se Jawa Timur. Karena memang waktu itu ee orang lapangannya baru dua, satu cover area barat, satu cover area timur gitu. Tapi tidak ee bukan pekerjaan yang bagi saya sih bukan pekerjaan yang berat ya. Karena posisinya kan waktu sebagai ee kami menyebutnya sebagai apa namanya? Saya e lupa ee kami men-support distributor ya, sebutlah customer service lah. Heeh. Atau technical service gitu. A kayak princiel gitu, Bu. Ah, princiipal. Betul. Kata-kata yang tadi hilang itu principal. Heeh. Di setiap kota itu sudah ada cabang-cabang distributornya, sudah ada sales-nya. Nah, tugas kami cuma mendampingi sales itu. Betul. Kayak representatif dari pabrik untuk mendampingi ee distributor atau termasuk kemudian ya kita ada target untuk mencari customer baru tapi hanya sebatas memperkenalkan ini loh keunggulan produknya. Oke, kalau untuk har silakan ke seperti itu. Jadi ee waktu itu pertama 2 tahun saja. Ternyata setelah 2 tahun terlewati dan posisi juga sudah menikah, tabungan juga sudah dihabiskan untuk beli rumah. 1 tahun pertama menikah saya sudah beli rumah sama istri habis tabungan. W lumayan loh, Mas. Heeh. Itu hasil kerja bisa beli rumah 1 tahun. Iya. tabungan selama mulai jualan sejak kuliah itu. Oke. Hasil kerja dua orang kita kumpulkan ya sudah jadilah beli rumah di Blitar itu tadi. Oke. Habis-habisan itu jadi nekat ya Mas ya. Nekat karena memang orang tua juga beli rumah itu kalau ditunda-tunda kan orang tua nasihatnya selalu begitu kan. Harganya akan semakin tinggi gitu kan. WS paksakan aja gitu ya sudah akhirnya kita paksakan ngambil rumah di Blitar itu. Jadi enggak make sense kalau 2 tahun itu saya resign karena memang belum mampu. Oh jadi okelah akhirnya diundur tahun depan. diundur lagi tahun depan kok belum mampu juga masih belum bisa melepaskan fasilitas perusahaan ya kan kita kan waktu itu difasilitasi mobil oke mobil sak bahan bakarnya ya kan enaklah pokoknya termasuk juga dipakai untuk kebutuhan yang tidak perusahaan berarti ya waktu di rumah gitu dipakai iya jadi kan itu fasilitas yang melekat pada jabatan kan oh i jadi ketika kita ada keperluan belanja juga otomatis dipakai juga perluan pribadi ya dipakai juga gitu memang dibolehkan ya kayak dibolehkan dibolehkan kalau perusahaan kan yang penting targetnya nya masuk ya kan yang penting targetnya masuk dan kalau klaim-klaiman yang penting klaim-klaimannya jelas gitu kan ya kita bisa mengatur terlalu mengada-ngada ini bensin tagihan R juta loh ini kok R juta menit betul yang penting masih masuk akal begitu kan iya iya iya e bilnya jelas sampai saya merasa siap untuk resign itu di tahun kelima itu tadi tahun 2017 tabungan sudah ngumpul lagi sudah kebayang ee mau usaha apik juga semakin besar jadi batiknya masih lanjut tuh oh masih lanjut heeh ketika dulu di kampus itu kebanyakan offline dengan ya kita jualan di area kampus. Kemudian tahun-tahun 2016-27 ketika jualan online juga mulai ramai itu kami juga gencar Mas jualan online-nya record reseller online gitu kan. Alhamdulillah tambah besar sampai dia mati dalam tanda kutip ketika COVID. Enggak ada orang hajatan otomatis enggak ada pesanan seragam blas hilang gitu 2019 kan. Tapi ketika itu tutup pun enggak ada pemasukan dari batik lagi. 2019 kan penerbitannya sudah buka. Oke, Mas. Saya mau ee tanya yang tadi ketika Mas Arif menyatakan siap gitu ya, berarti kan apa aja? Ini juga banyak dialami juga ee bagi teman-teman saya dan juga penonton pecah telur yang mereka sebenarnya ingin awalnya memiliki usaha sampingan atau bahkan berpindah dari profesional ke pebisnis masih bingung apa yang harus disiapkan ee indikasinya. atau mungkin orang-orang yang biasa pakai tanda tandanya apa begitu. Kalau Mas Sarif waktu itu seperti apa? Waktu itu ee apa tolak ukur saya adalah saya sudah bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat dari gaji. Berarti sudah usaha ee side hassle dulu, kerjaan kerjaan sampingan dulu gitu ya. Hel. Iya. Dan itu kemudian diproyeksi kayak ini kalau diseriusin bisa lebih besar lagi. Ee yang dua kali gaji itu yang berarti yang batik berarti ya? Iya yang batik. Itu sih jadi mantapnya karena itu yang kedua ya karena memang dari awal kan sudah lama pengin mandiri, pengin mandiri, pengin mandiri kan ini sudah enggak bisa ditunda lagi. Mindsetnya memang pengin bisnisangetnya adalah pengin mandiri gitu, pengin bisnis gitu pengin 100% di bisnis gitu. Berarti kayak kerja itu dalam rangka ngumpulin modal, Mas ya. Bisa dibilang begitu karena memang dari kecil didikan orang tua adalah harus saving. Dulu ketika sekolah uang sakunya bulanan, Mas. Uang saku bulanan. Bulanan. Jarang-jarang loh ini. Biasanya kan harian ya. Harian. Iya. Jadi sama orang tua saya sama almarhum Bapak gitu dikasihnya bulanan habis enggak habis wis pokoknya segitu akhirnya memaksa untuk ya pintar-pintar ngatur gitu. Kalau habis sebelum habis bulan enggak akan dikasih lagi. Oke. Jadi situlah kemudian terbiasa untuk menabung ya. Menabung itu kan artinya satu menyisihkan uang. Yang kedua, kita menahan diri kan ketika teman mungkin beli apa atau nongkrong di mana itu yang kemudian membuat tabungan itu lumayan banyak dan bisa dibilang saya selalu menyampaikan ke teman-teman atau ke karyawan untuk ee menabung karena tabungan itu menyelamatkan gitu karena itu yang saya alami. Oke, sebentar saya membawa senabung. Saya tanya tadi yang masalah gaji bulanan tadi. Nah, misal ini Mas ya. Misal karena kan anak kecil lah ya, anak kecil itu sehabis itu di tanggal 15 atau di sudah habis itu gimana? Nangis gitu ya. Alhamdulillah enggak pernah. Enggak pernah habis. Enggak pernah habis. Karena setiap bulan pasti disisakan. Sisanya itu buat bulan depan masih bisa. Iya. Oh, iya. Jadi, alhamdulillah itu yang satu yang saya syukuri selama hidup adalah kebiasaan menabung itu tadi. Menabung sampai sekarang masih. Jadi, kenapa kemudian bisa beli rumah gitu kan ya? Karena ada tabungan gitu. Iya kan di usia 1 tahun menikah sudah beli rumah itu juga jarang-jarang. Karena ada tabungan belum tambahan penghasilan dari bekerja itu tadi. Mas, mekanisme menabungnya Mas Arif itu seperti apa? Kalau dulu belum tahu ilmunya, jadi ee ya sudah pokoknya kita menahan diri untuk enggak macam-macam, enggak beli apa-apa ada sisa itu yang ditabungkan gitu kan. Ee sekarang-sekarang setelah tahu ilmunya, oh ternyata minimal 10% harus ditabungkan. Dipotong dulu berarti dipotong dulu. Jadi dulu saya sampai punya rekening sendiri untuk ini tabungan gitu, enggak boleh diambil. Hm. He. Jadi, rekening itu ee enggak enggak enggak cukup satu gitu sampai seperti itu. Sampai ke bawa ketika punya usaha sendiri penerbitan itu ya dari ee batik juga sama kita punya penghasilan ini sekian persen harus ditabungkan minimal 10% lah. Dirupakan uang, Mas. Dirupakan uang dalam rekening waktu itu dirupakan uang dalam rekening belum mengenal yang namanya emas. Heeh. Kan ada juga yang emas ataupun yang lain. Iya. Saya baru tahu menabung emas itu tahun 2018 atau 2019. Tapi sekarang menabungnya emas. sampai sekarang mendapung emas ya kan ee menahan apa menilai kan nilainya bahkan kalau sekarang naiknya tinggi dari harga awal dulu saya ingat 900 kalau enggak salah ya kan per gram sekarang sudah R juta kan iya hampir R juta sekarang Heeh he itu juga sekarang setelah tahu oh lumayan nabung emas dan menyelamatkan juga ketika ada kebutuhan mau renovasi rumah dan termasuk untuk modal bikin apotek itu tadi oh iya dijual ee sebagian besar emasnya berarti SOP diri berarti apa ya ketentuan ambil tabungan nah itu tabungan itu boleh diambil untuk apa aja? Nah, ini menarik. Saya punya ee jadi ada ketentuan gitu ya, ada ketentuan yang insyaallah sudah tertanam dalam diri, jadi sudah otomatically dilakukan ketika kita mau mengeluarkan uang. Jadi ada tujuh mantra supaya uang kita tetap betah di dalam dompet. Nah, itu dua mantra ini ya. Ada tujuh mantra tapi mantranya syariah ya bukan ya. Oke. Oke. Jadi yang pertama adalah ketika kita ingin membeli sesuatu, tanyakan kepada diri kita apakah itu sebuah keinginan atau kebutuhan? Itu satu wajib itu. Ini keinginan atau kebutuhan? Kayaknya butuh sih, gitu kan. Oke, kebutuhan kan. Berikan pertanyaan nomor dua, bisa enggak pembeliannya ditunda besok? Enggak harus beli sekarang kan, besok aja gitu. Nah, ketika ketemu besok pas mau beli tanyain lagi bisa enggak ditunda minggu depan. Ketemu minggu depan tanyain lagi bisa enggak ditunda bulan depan. seterusnya sampai 1 tahun kelima wis saya wis sebulan ini aku nahankan kudu tak belah harus saya beli itu. Tapi ternyata masih ada pertanyaan kelima bisa enggak ditunda tahun depan pembeliannya? Heeh. He ya kan? Nah kemudian yang keenam sudah nunda setahun sudah ada uangnya untuk beli masih ada pertanyaan keenam. Ada enggak merek lain atau produk lain yang fungsinya sama tapi lebih murah gitu? Kalaupun ada. Kemudian kita punya pertanyaan ketujuh, Mas Pamungkas. Bisa enggak kita mendapatkan barang itu dengan cara gratis? Iya loh. Oh gitu. Gimana caranya berarti kalau gratis? Dan itu memang agak sulit. Yang ketujuh agak sulit ya. Kalau 1 sampai 6 masih okelah kita nunda setahun kita nyari yang lebih murah masih oke gitu. Yang nomor tuuh emang enggak semua orang bisa. Iya. Engak semua orang bisa. Tapi kita pernah mendengar cerita dan ini real ya bukan saya sih ya. Kalau saya levelnya masih saya pernah dapat buku gratis karena jadi reseller buku itu. Oh saya kayak semacam-macam itu ya. Ya, semacam itu. Jadi ee kalau case-nya saya yang sudah saya ee alami, saya jadi reseller buku pengin buku itu, ya sudah saya daftar reseller, daftarnya gratis, harus menjual sekian supaya dapat komisi sekian yang mana komisinya itu bisa dibuat untuk membeli buku itu gitu kan. Masih ada kelebihan komisi lagi kalau jualannya lebih kan. Iya. Iya. Nah, ada kan orang-orang yang dia bisa dapat rumah di sebuah perumahan karena deal sama developernya. Dulu saya juga dikasih tahu, pernah dikasih tahu seperti itu. Datang ke developernya bilang, "Pak, saya pengin punya rumah di sini saya bisa enggak dapat gratis gitu." Kepala, "Pak, Pak developer, saya harus ngejualin berapa unit supaya saya dapat satu gratis di sini. Kalau dia beruntung kan ada aja kan." Iya. Tunda, tunda, tunda. Sampai memang benar-benar ya harus sekarang belinya gitu. Dan itu mendarah daging akhirnya gitu. memang kelihatannya e agak ngenes juga sih. Saya baru beli sesuatu kalau emang sudah rusak gitu ya, sudah benar-benar enggak bisa dipakai. Kan tadi filter pertama ini kebutuhan atau keinginan gitu. Mungkin kalau kebutuhan yang cas-nya harus mendesak segera. Yes. Betul. Kalau yang keinginan harus ada tujuh level tadi, tujuh mantra gitu ya. Iya. Even itu kebutuhan harus ada. Oh, ada kebutuhan ya. Iya. Iya. Meskipun itu kebutuhan kebutuhan pun harus dipakai tujuh mantra ya. Iya. Dan itu ke bawah sampai sekarang. Itu yang kemudian mungkin karena itu tujuh mantra supaya uang kita betah di dalam dompet ya. di dalam tabungan. Jadi itulah cara saya menumpuk tabungan. Berarti jarang beli barang dong, Mas ya? Jarang. Alhamdulillah jarang. Dan bukan tipikal orang yang kalau cowok mungkin ya hobi gitu ya ee hobi mungkin mainan, hobi mungkin motor gitu kan variasi segala macam. Enggak saya PlayStation enggak. Siap. Siap. Kok kepikiran apotek? Nah itu. Nah ini menarik juga nih. Eh gimana itu Mas? Jadi saya sama istri waktu itu berdiskusi ee tentang usaha saya khususnya saya itu sudah punya usaha penerbitan dan konveksi itu. Tapi karena itu 80 bahkan sampai 100% dijalankan secara online, jadi customer kami itu sebagian besar atau bahkan bisa dibilang semuanya itu di luar Blitar. Jadi kami mempertanyakan kok kita hidup di sini tapi enggak punya manfaat ke masyarakat sekitar. Oke. Ya kan bisnis itu kan kita memberikan manfaat kan. Tapi yang menerima manfaat kok justru orang-orang jauh nggi ke luar pulau, ngirim jaz ke luar pulau ya kan yang orang sendiri terlepas dari memang e bukan segmen marketnya ya. Even yang batik pun semuanya online kan keluar semua. Orang di sekitar enggak ada yang tahu. Sampai saya paksakan buka showroom di rumah batik itu pun enggak jalan karena mungkin orang enggak enak karena di rumah kan. Heeh. Heeh. ee dasar pemikirannya adalah supaya memberikan kebermanfaatan ke masyarakat sekitar. Awalnya bukan apotek, Mas. Karena bagi saya waktu itu saya berpikirnya usaha itu semua sama aja. Intinya kan jualan gitu kan ya. Kita punya basic itu gitu kan. Saya senang jualan, selebihnya ilmu manajerial kan gitu kan. Jadi bagi saya bisnis itu apapun sama aja lah gitu kan. Awalnya yang mau kami jajaki adalah minimarket. Ee kami sudah ketemu dengan seseorang yang berkecimpung di dunia itu sudah menyampaikan keinginan kami untuk buka minimarket. kemudian disampaikan kemudian kami ee pulang dan kami pikir lagi kok kayaknya enggak masuk ya karena posisi minimarket yang kami terima informasinya pada saat itu, itu profit bulanannya tidak jauh berbeda atau bahkan kadang-kadang masih lebih besar profitnya penerbitan. Sementara kalau kita punya min market itu pasti effortnya besar banget. Produknya banyak, harus datang ke store ya kan banyak yang harus dikontrol berbanding terbalik dengan penerbitan yang 100% online cuma bekerja di balik laptop aja ya kan. Tapi penghasilannya minimarket pada saat itu yang kami terima informasinya dengan modal yang kami punya kan ada ada tipe-tipenya ya naik modalmu sekian proyeksi profitnya sekian gitu. Kalau kamu punya modal yang lebih besar, ya proyeksi profitnya bisa lebih besar lagi. Nah, di proyeksi kami yang waktu itu mungkin paling kecil ya, ternyata profitnya cuma sekian. Boleh digambarkan modal berapa, profitnya berapa, Mas? Waktu itu kami starting di 200 atau R300 juta. Pokoknya level yang paling rendah lah. 200 sampai Rp300 juta ya. Untuk minimarket dapat profitnya kalau gak salah R juta per bulan. Per bulan. Proyeksi profit R juta per bulan. 2% lah ya dari modal. Iya. Penerbitan saya masih lebih besar pada saat itu. Hm. Jadi akhirnya kami berpikir ulang, kami tunda. Kemudian kenapa apotek? Ya sudah daripada bikin usaha malah tambah pusing, kita bikin apotek saja yang itu masih relate sama istri yang seorang dokter. Dan istri pun kan punya cita-cita untuk buka praktik mandiri kan pada saat itu. Kalau cuma praktik mandiri saya bilang eman gitu karena praktik mandiri bukan bisnis ya kan. Jadi yang relate itu berarti istri ya. Kalau masnya tadi ke dokter hewan. Istri dokter istri dokter apa itu? Eh, sekarang beliau spesialis penyakit dalam. Eh, praktik mandirinya di apotek kami. Selebihnya beliau ada dua praktikan di rumah sakit. Oke. Satu di Rumah Sakit Umum Aminah, yang satunya lagi di Rumah Sakit ee Ibu Anak Tanjungsari. Kan SIP dokter bisa tiga kan. Iya. Iya. Iya. Ya. Jadi pada waktu itu ya sudah daripada cuma buka praktik mandiri which is itu bukan bisnis enggak bisa dikembangkan kita buka apotek sekalian aja. Karena saya masih punya kacamata bisnis itu sama aja kok. Jadi saya punya optimisme, Mas. Waktu itu enggak masalah saya enggak punya background apotek bukan apoteker gitu kan. Selama regulasinya boleh, enggak masalah kita cari apotekernya gitu. Nah, ini juga yang menjadi pegangan saya bahwa tapi belakangan saya baru tahu istilahnya adalah resources alokator. Guru kita nih, kita kan punya guru yang sama nih, Kot Fahmi itu kan salah satu ciri leaders seorang leader atau seorang entrepreneur adalah dia seorang resources allocator kan. Dia bisa mengalokasikan sumber daya yang dia punya ya kan. Jadi ya tugas kita melisting kan kita itu sebagai personal punya sumber daya apa. Selain intelektualitas pribadi, katakanlah di sekitar kita ada siapa dan kemudian kita perlu orang yang seperti apa gitu kan. Kalau cas-nya apotek berarti kita butuh apoteker, ya kan? Oke. Kita butuh orang-orang yang ee bisa men-support itu tenaga pelayanannya. Ya sudah nyari orang yang tepat kita sharing vision gitu kan kita training alhamdulillah sampai sekarang gitu. Kayak dokter ee penyakit dalam tadi ya. penyakit dalam itu enggak enggak bisa tanpa apoteker enggak boleh buka apotek ya, Mas. Bisa harusnya bisa kan? Bisa praktik mandiri, bisa orang datang ke entah di rumah atau buka ruko sendiri gitu kan di pinggir jalan dia terima pasien dia ngasih resep. Resepnya kan lari ke apotek. Iya ya kan apoteknya sendiri gitu apoteknya. Kalau enggak punya apotek ya otomatis ke apotek orang toh. Apotek orang ya. Iya. Tapi menurut kalau saya tadi lihat dari background yang kemudian terkumpul puzzel-nya itu bisa apotek menjadi bisnis yang cerdas Mas. Bisa mengumpulkan beberapa elemen yang sudah ada. Ee kalau boleh dibilang bisnis apotek itu cuannya gede enggak, Mas? Ini juga satu fenomena yang belakangan saya baru tahu. Iya. Jadi ketika buka apotek itu saya hanya modal optimis dengan kacamata. Bisnis apapun sama aja. Saya sudah punya ilmunya ya kan sudah bisnis lama gitu kan. Tak ngertilah katakan ya ada sombong-sombong yang dikit mungkin ya. Tapi itu mungkin bukan insyaallah bukan sombonglah itu optimisme gitu ya. Jadi ee insyaallah sama aja. Belakangan saya baru tahu setelah 1 tahun beroperasi saya bersyukur di apotek kami apotek RVK Medika itu ada dua praktik dokter. Selain istri saya spesialis penyakit dalam, di tempat kami ada psikiater. Saya melihat data hari ini, ini kalau dua dokter ini enggak ada apotek itu apalagi di Kota Blitar ya. He. Kita enggak bicara di kabupaten, katakanlah di desa, di daerah ya, di kota Blitar aja enggak bisa hidup, Mas. Oh, gitu ya. Enggak bisa hidup. Operasionalnya besar. Oh, jadi memang hari ini apotek itu harus ada praktik dokternya. Berat ya? Berat. bisa dibilang eh data kami 52% itu kontribusinya dari praktik dokter. Oke. Eh, ada buku yang judulnya eh Lak Facttor eh karangan Richard Westman eh seorang profesor psikologi dari UK ya kan. Beliau meneliti puluhan mungkin ribuan atau ratusan mungkin ya orang sukses meneliti apa sih faktor yang membuat mereka selalu beruntung ya kan. Ternyata Mosle menjawab bahwa mereka punya rasa optimis gitu. Jadi ketika saya baru mengetahui tentang lak faktor itu, oh jangan-jangan ini karena saya optimis. Optimis itu kan kita bersangka baik kan sama Gusti Allah kan. Betul. Betul. Allah kan kemudian akan sesuai dengan persangkaan hambanya. He he. Kita memandang sesuatu dengan kacamata positif, sangka baik sama Gusti Allah. Akhirnya semesta mendatangkan mendatangkan tim yang kompeten yang luar biasa sampai hari ini, yang saya banggakan. Termasuk kemudian mendatangkan psikiater yang tidak kami duga-duga. Ketika bertemu dengan beliau, kami baru tahu bahwa ternyata beliau ini dr. Fatimah, SpKJ, spesialis kedokteran jua itu satu-satunya psikiater di Blitaraya. Oh, iya toh. Iya. Oh, beliau juga sudah senior. Jadi, jadi istimewa. Luar biasa beruntungnya kami begitu bekerja sama dengan beliau gitu ya. Sudah pada akhirnya hanya kalimat-kalimat syukur gitu yang diucapkan gitu. Iya, betul. Betul. Berarti boleh di walaupun tidak sepenuhnya faktornya ini aja boleh dibilang yang membawa keberuntungan itu salah satunya adalah optimis gitu ya. Iya. Jadi saya rasa itu pertama kaliah ketika kita mau memulai sesuatu ya, kita harus optimis bahwa itu harus berhasil gitu. Iya kan? Ee ada yang bilang juga optimis itu 70% keberhasilan ya. Kalau enggak optimis berarti kan enggak jalan berarti dia ya. Iya. Ngapain? Enggak enggak optimis kok jalan. Bakar uang ya kan sudah ngeluarin modal renovasi segala macam. Iya. Tapi saya harus maju. Saya ee dengar juga agak struggle di awal-awal Mas ya di itunya di apoteknya itu, Mas. Iya. pasti ee yang karena harus alokasi dana ke tempat yang lain begitu ya. Pendirian apotek juga lumayan struggle ya karena kami mendapatkan tempat yang ya rumah tua renovasinya besar, mengurus perizinannya juga agak sulit ternyata apotek itu sulit sulit ya apoteknya izinnya sulit. Iya. Jadi sewa tempat pertama itu kan 2 tahun ya 1 tahun terpaksa kosong karena kita menyiapkan untuk renovasi dan menyiapkan berkas-berkas perizinan. Baru 1 tahun yang kedua baru kepakai. Itu pun bukan di awal tahun tapi di pertengahan tahun. Tapi karena memang sudah mengalokasikan modal ke sana, ya sudah otomatis mau enggak mau itu harus dikeluarkan. Termasuk saya mendapatkan tim itu bulan Desember, sementara apotek baru operasional bulan Juni karena masalah perizinan. Jadi tim itu ada 6 bulan ya, Mas? Heeh. Sekitar berapa? Desember sampai Juni. Desember sampai Mei lah. Katakan 5 56 5 6 bulan ya. En betul sudah hire orang, sudah digaji dan kita juga enggak mungkin bilang ini karena potnya belum operasional. Jadi kamu mulainya nanti ya bulan kalau sudah buka gitu ya bulan 5 atau bulan 6 atau ini karena apoteknya belum operasional jadi gajimu separuh dulu ya. Enggak bisa Mas gaji full semua gitu. Tapi karena emang sudah mengalokasikan modal kesan ya mau enggak mau. Tapi saya tidak pernah menyesali seperti itu. Saya selalu insyaallah melihat suatu dari kacamata yang positif ya. Jadi memang yang kami lakukan 5 bulan pertama itu ketika apotek belum operasional ya mereka ditatar, mereka dira kan enggak cuman teknis kan tapi juga noneknis. Jadi ya sudah teman-teman pokoknya berangkat ke kantor kantor penerbitan pada saat itu yang di rumah saya berangkat jam sekian. Agendanya apa? Belajar kayak kamu kuliah aja kayak kamu sekolah gitu. Heeh. Saya nyari-nyari materi untuk mentraining mereka gitu. Oke. Oke. Jadi transfer knowledge ya. Ya mungkin buahnya baru kerasa sekarang begitu kan karena mereka 5 bulan di training. Usia berapa sekarang anunya apoteknya? berarti hampir 2 tahun per Juni kami menghitungnya mulai dari 5 Juni 2023 itu mulai operasional hari pertama jadi Juni besok ee genap 2 tahun termasuk usaha yang hari ini bisa dibilang iya daripada yang lain lumayan agak tebal gitu ya secara Iya dan ini yang kemudian bisa diproyeksi untuk diale up karena kalau penerbitan kalau konveksi itu 100% bergantung sama saya oke hari ini dua ini saya tempatkan sebagai bisnis hobi saja, sebagai supporting ke komunitas kedokteran hewan dan peternakan saja, bukan sebagai bisnis yang menghidupi saya. He. Sekarang kalau ngomongin penghidupan, nafkah apotek ini. Makanya fokusnya sekarang banyak di apotek. Jadi, jadi yang ibarat kita itu jadi tulang punggung utamanya gitu ya. Oke. Tadi juga menarik ee apotek bisa disale up, yang lain tidak scale up. Saya jadi penasaran kriteria usaha yang bisa diale up itu seperti apa, Mas? Sependek pengetahuan saya, yang jelas itu usaha harus bisa disistasi, bisa berjalan tanpa kehadiran ownernya. Nah, tugas owner ini membuat bagaimana supaya usahanya bisa berjalan tanpa kehadiran owner gitu. Kuncinya adalah di manusianya kan. Saya selalu berpegangan bahwa ketika kita mengharapkan sebuah sistem yang hebat, maka kita harus menciptakan orang yang hebat, tim-tim yang hebat gitu kan. Kita ketika kita menginginkan sebuah organisasi yang hebat, maka orang-orangnya juga harus hebat juga. Makanya pendidikan dan pelatihan itu menjadi backbond. He. Jadi saya enggak menyesali 6 atau 5 bulan melatih teman-teman itu dan itu menjadi ee istilahnya apa ya? Kunci bertumbuh bagi kami bahwa ketika mau bertumbuh maka harus belajar, orang-orangnya harus bertumbuh. Nah, karena 5 bulan awal itu mereka ditatar kemudian apotek baru buka bulan pertama kalau enggak salah sebulan pertama atau bulan kedua masuk bulan kedua itu sudah saya tinggal, Mas. Saya tinggal apa? Saya tinggal bolak-balik Surabaya. Oke. Untuk apa? Untuk program hamil. Ee ini juga mungkin nyambung ke pertanyaan yang tadi ya jenengan tadi. Jadi ee tidak lama setelah apotek itu buka, setelah semua sumber daya materi kami ee kami alihkan ke apotek untuk modal usaha ee saya dengan istri memutuskan untuk program bayi tabung karena ee kami sudah 10 tahun menikah ya. Kami menikah tahun 2013. Sudah berbagai macam program hamil dijalani sejak menikah. Heeh. He bukan orang yang atau bukan pasangan yang long distance juga bukan rutin berhubungan, tapi karena memang ada e masalah kesehatan aja begitu ya mungkin ya masalah hormonal. Akhirnya segala macam program yang kami jalankan itu ee tidak berhasil. Di tahun ke-10 puncaknya adalah ee saya dengan istri sempat bertengkar hebat. Kalau boleh cerita ya sudah sampai di titik depresi mungkin istri saya perkara keturunan ini sampai akhirnya kemudian saya mencari informasi dan alhamdulillah dari teman ketemu yang sudah berhasil melakukan program bayi tabung dan ketika mendapatkan informasi bayi tabung pertama kali tentu agak defense juga karena yang pertama ini biayanya besar enggak murah Mas bayi tabung jadi sampai berapa boleh tahu Mas awalnya saya diinfokan bisa sampai 100 dan Rp150 juta biaya yang cukup besar. Apalagi waktu itu sumber daya kami sudah habis ke apotek. Baru terkuras kan baru terkuras di apotek ya kan. Satu defense karena materinya, yang kedua defense karena kita harus bolak-balik Surabaya loh dan itu enggak dekat gitu ya. Sudah menyerah dengan keadaan harus dijalani. Hm. Aset yang ada apa dicari dikumpulkan nyukup enggak segitu? Yang bisa dijual dijual. H struggle yang berikutnya di situ. Sepakat kita merelakan diri, merelakan harta yang kita punya untuk melaksanakan program bayi tabung itu. Kita bolak-balik ke Surabaya kadang sebulan sekali. Kalau sudah mulai dekat-dekat ee program itu bisa sebulan dua kali atau bahkan pernah juga seminggu sekali. Ada juga kalau enggak salah yang opsi menginap di sana ya, Mas kalau enggak salah. Betul. Otomatis biaya yang dikeluarkan enggak cuman biaya program kan. Oh iya. biaya perjalanannya, biaya menginap di sana, ya kan enggak mungkin ee dokternya praktik sore, saya enggak suka perjalanan malam, sudah capek juga pasti nginep kalau selesai kontrol kan embrionya ditransfer juga harus stay di sana seminggu. Jadi cukup menguras tenaga, pikiran segala macam gitu. Kalau untuk proses anunya, Mas, bayi tabeng itu sebenarnya seperti apa sih, Mas, mekanismenya bagi bisa dijelaskan dengan untuk orang awam seperti kita? Yang saya tahu aja ya. Ini ahlinya orang medis nih harusnya nih. Oke. Bayi tabung itu antara sperma sama ovumnya dipertemukan di luar di cawan kan di dalam laboratorium. Heeh. Bukan di dalam tabung bukan. Kenapa disebut bayi tabung? Karena dia dipertemukannya di cawan tabung begitu di laboratorium. Kalau dari pihak suami dicari sperma yang paling oke, yang paling perform begitu ya. Kalau dari pihak perempuannya ya diperbaiki masalahnya apa. Kalau di istri saya kebetulan salah satunya adalah masalah hormonal yang menstruasinya enggak ee rutin ya kan. Jadi diperbaiki dulu. I supaya rutin kemudian supaya bisa menghasilkan ovum yang besar ya kan. Ketika sudah bisa mendapatkan ovum yang besar, sel telur yang besar itu kemudian ada prosedur yang namanya ovum pick up. Jadi prosedur mengambil sel telur dari tubuh ee si perempuannya. Heeh. He. Jadi, spermannya sudah diambil, telurnya diambil, kemudian dipertemukan di di tabung itu di tabung tadi di cawan di dalam laboratorium. Nah, setelah dipertemukan ketika itu berhasil katakanlah apa ya ee berhasil jadi pembuahan, barulah kemudian si pembuahan atau yang disebut dengan embrio itu ditanam di rahim ibunya. Oke. Jadi, itulah yang kemudian disebut sebagai embrio transfer. Heeh. Ya kan? Ee waktu itu kami mendapatkan empat embrio. Berarti empat sperma yang bagus. Dapat. Iya. Dapat empat embrio. Itu hasil pembuahannya dapat empat. Dapat empat ya. Heeh. Yang harusnya kalau mungkin rahimnya kuat itu empat-empatnya bisa ditanam tuh. Karena ada juga ee orang-orang yang ee ditanam empat-empatnya berarti dapat empat bayi. Iya. Dapat empat bayi. Ada yang ditanam tiga jadi tiga bayi gitu kan. Tapi waktu itu dokter kami dari empat itu kan dilihat ya perkembangannya seperti apa. Ternyata yang bertahan cuma tiga. Yang satu tidak bertahan di dalam lab itu dia tidak bertahan. Akhirnya dari tiga yang bertahan itu alih-alih ditanam semua di rahim istri hanya dua yang ditanam. Yang satu sampai sekarang masih di lab. Oh masih disimpan. Sampai sekarang masih disimpan. Masih hidup berarti dia masih hidup. Jadi sewaktu-waktu kita mau program lagi masih bisa pakai embrio. Itu masih tabang tabungan satu embrio. Iya. Jadi kita nyekolahin embrio istilahnya. Kalau orang-orang nyolahin anak tapi dia enggak enggak gede. Enggak gede di sana kan tetap kecil kan? Tetap sel. Iya. Oke. Tapi kan ada biaya setiap bulannya ada biaya perawatan. Oh. Jadi nyekolahin embrio istilahnya orang-orang nyekelin anak kita nyekolahin embrio. Jadi dua yang ditanam Mas. Dua yang ditanam itu qadarullah yang berkembang di dalam perut cuma satu. Oh. Jadi yang tadinya diprediksi bisa jadi anak kembar ternyata yang satu enggak kuat. akhirnya cuma satu yang berkembang sampai sekarang alhamdulillah sudah berumur 1 tahun setengah gitu. Hm. Jadi mungkin kalau ditanya episode terberat tadi ketika kami memutuskan untuk bayi tabung karena sumber dayanya semua sudah dialokasikan ke apotek ternyata harus mencari tambang di mana lagi nih untuk bisa membiayai program bayi tabung ini. Tapi sampai jual-jual atau enggak atau cukup dari tabungan aja? Satu tabungan yang kedua jual aset. Oh jual mobil. Oh iya iya i ee jual emas dan beberapa adalah perhiasan kalau enggak salah nyaya gitu ya. Yang paling berat dilepaskan mobil itu sih mobil pertama kan soalnya. Heeh. He he. Sebegitu berartinya ya Mas ya seorang anak ya Mas ya. Iya. Akhirnya ya hari ini tetap kami bersyukur sih karena worth it gitu kan ya namanya ya okelah dulu mobil bisa dipeluk bisa dicium setirnya gitu kan. Tapi sekarang anak lebih dari itu. Oke. No regret lah enggak nyesal sama sekali. Siap. Siap. Anak bagi Mas Arif itu apa arti seorang anak? Ee hadiah terindah sih bagi kami ya dari Gusti Allah ya. He ee yang sudah lama dinanti-nantikan gitu kan. Jadi ee satu hal bahwa menyadari lagi-lagi ya apa yang kita rencanakan tidak selalu ee sesuai dengan apa yang dibutuhkan menurut kacamata Gusti Allah. Begitu ya. Salah satu yang saya impikan sebenarnya ketika menikah di usia 25 tahun. Saya kan menikah usia 25 tahun. Salah satu yang saya bayangkan pada saat menikah itu ketika punya anak ya kan anaknya sudah agak besar, kita enggak beda jauh umurnya nih. Bisa kayak friend aja kan sama anak bisa bro-broan gitu kan. Kan teman-teman begitu kan. Iya. Ee harusnya hari ini kalau 1 tahun atau 2 tahun menikah itu sudah dikaruniai anak. Mungkin anak sekarang sudah 10 atau 11 tahun. Enggak terlalu beda jauhlah umur ya. Sekarang saya 36 37 kan ketika kita semakin bertambah usia ya kan masih kuatlah kita kan. Heeh. Heeh. Lagi-lagi kita punya rencana, punya bayangan seperti itu. Ternyata memang ee ya mungkin pada saat itu menurut Gusti Allah emang belum siap aja gitu. He he. Ini bisa menjadi ee pelajaran juga ee pada akhirnya harus ketemu dokter yang memang dia spesialisasinya di situ gitu. Heeh. meskipun sama-sama katakanlah objin ya, tapi kan kalau yang bayi tabung ini dia khusus Mas, dia sekolah lagi kan untuk bisa tahu ilmu itu dan dia memang pekerjaannya spesial di situ. Jadi memang harus khusus gitu bukan yang biasa-biasa aja. Kalau emang bisa melangkah ke sana ee ada rezekinya, kalau sudah umur ya kami juga disarankan untuk langsung bayi tabung. Karena waktu datang pertama kali ke dokter itu usianya sudah 35 atau 36 tahun saya lupa. Jadi sudah tidak mungkin lagi untuk inseminasi buat e insem ya itu sudah enggak mungkin kan sebenarnya ee kalau tahapannya sebelum ke bayi tabung itu kita bisa nyoba insem dulu. Oke. Inseminasi ee sperma itu kan. Tapi kata dokter karena sudah usia segitu mending langsung bayi tabung aja. Secara kondisi ekonomi kan baru merintis usaha yang tadi ya yang apotek tadi kan. Iya. Secara keuangan kan mungkin juga terkuras. Secara ee apa fokus juga lagi fokus banget di usahanya yang apa apotek itu. Ada enggak waktu itu kayak wah aku tak pending dulu nih 1 tahun atau 2 tahun lagi untuk bayi tabungnya? Kok enggak melakukan opsi itu, Mas? ee karena sudah sampai di titik kritis kalau boleh dibilang yang tadi saya cerit kami sempat bertengkar sama e istri saya sempat bertengkar tentang ini gitu kan enggak ada jalan lain dan harus disegerakan gitu. He. Kalau ditunda lagi dari istri sudah mendesak sih enggak bisa ditunda lagi. Enggak ada alasan gitu. Even waktu itu ada pilihan umrah dulu gitu kan misalnya ada pilihan umrah dulu. Karena beberapa pasangan kan juga melakukan cerita itu kan. Umrah berdoa kemudian pulang alhamdulillah gitu kan. Heeh. Tapi pada cas-nya kami dengan pertimbangan kami pada saat itu rasanya yang paling masuk di akal kami pada saat itu adalah langsung program B langsung program untuk yang kayak ini gak bisa di kayak gak pakai gak bisa pakai tujuh mantra tadi berarti ya. Iya harus ditunda dulu sebulan 10 tahun loh. Iya kan kalau di mantra itu paling sampai setahun kan. Oh iya iya ini lebih dari itu ya berarti. Atau di mantra yang ketujuh bisa enggak didapat secara gratis? Ah itu gimana tuh? Saya sempat mau ngangkat anak tuh. Oh gitu ya. kita kami dua kali sempat mau ngangkat anak tapi qadarullah ya belum jodohnya juga sama ngangkat anak itu berarti kayak ee gimana konsepnya itu, Mas? Ee ya di kepercayaan keluarga kan coba deh ngangkat anak siapa tahu ee bisa mancing ya kan. Oh iya. Iya kan kayak gitu biasanya. Biasanya kan gitu kan. Ya sudah karena menuruti orang tua akhirnya sempat ada tiga kali malah ada tiga dua lah dua yang hampir ya hampir jadi dua keluarga yang kami approach gitu kan. Yang satu ee sudah usia 2 tahun kalau enggak salah. Ee ini yang pertama kali kami approach yang kami dekati yang kemudian sudah hampir bulat mau dibawa ke Blitar ternyata digondeli sama neneknya gitu. Jadi ini anak ditinggal meninggal kedua orang tuanya kecelakaan. Umur masih 2 tahun. Punya kakak sudah 11an tahun kalau enggak salah. Ee dari keluarga tidak mampu. Tinggal sama neneknya. Nah, hampir kami bawa ke Blitar sudah beberapa kali ke keluarganya. Awalnya neneknya ee sepakat tapi belakangan ketika hampir di bawa mungkin baru kerasa gitu ya. Ngemani ee akhirnya tidak jadi gitu karena kata neneknya wajahnya mirip seperti anak perempuannya yang meninggal itu tadi. Iya. Iya. Oke, akhirnya yang kedua kalinya kami mencoba approach ke satu keluarga lagi yang masih di lingkungan eh rumah orang tua di sana. Ee keluarga tidak mampu, ee posisi masih di dalam kandungan. Kami support ee beberapa kebutuhan kehamilannya pada saat itu. Tapi qadarullah ketika lahir ada satu lain hal yang kemudian menjadikan itu tidak berlanjut. Ya, setelah anaknya lahir tidak berkenan untuk kemudian diangkat anak. Tapi sampai hari ini pun ee kami masih berhubungan baik, masih kemarin lebaran juga masih ketemu anaknya sudah e gede ya masih ee balita sih ya 2 tahun 2 tahunan lah kalau enggak salah umurnya. Jadi qadarullah niatan-niatan itu tindak lanjuti. Kan enggak sekedar niat doang ya sudah ada tindak lanjutnya approach kita biayai segala macam ya Allah gantikan dengan rezeki. Ternyata bisa punya anak sendiri kok. Masyaallah alhamdulillah. Jadi ee nah ini mungkin bisa jadi highlight ya Mas ya. Jadi saya percaya yang namanya kita tuh belajar dari sainnya Bunda Hajar yang diceritakan ketika beliau ditinggalkan di tanah tandus gurun pasir dengan anaknya Ismail. Kemudian Ismailnya menangis karena kehausan ya kan. Kemudian Bunda Hajar lari untuk mencari sumber air yang beberapa riwayat menyatakan bahwa sebenarnya Bunda Hajar itu tahu kok di situ enggak ada sumber air. Tapi dia paksakan untuk lari keliling bolak-balik Safa Marwah itu tujuh kali untuk merayu Allah gitu kan. sampai akhirnya kita sama-sama sama-sama tahu bahwa sumber air itu muncul di bawah kakinya Nabi Ismail, di luar rute larinya Hajar gitu kan. Nah, ini yang juga kemudian menjadi pegangan saya sampai hari ini bahwa untuk kita mendapatkan rezeki di satu titik, kita enggak harus fokus ke situ kok. Justru bukannya enggak harus ya, justru harus di luar itu fokusnya, kerjaannya harus di luar itu gitu. Makanya saya tipikal yang kayak sekarang punya apotek begitu ya. Saya enggak setiap hari harus ke situ kok gitu kan. Saya masih aktif kok di organisasi, di komunitas. Saya masih melakukan ee kegiatan sukarela saya di komunitas, ngurusin orang-orang, which is itu sudah saya lakukan dari zaman kuliah. Nge-develop orang, membuat orang itu ngerti satu dua hal karena kita menyelenggarakan pelatihan, menyelenggarakan seminar gitu kan. Niatan baik itu yang kita lakukan di A, di B, di C rezekinya ternyata di sini kok enggak jauh-jauh gitu. Allah kasih juga kok. itu ini banget sih sampai sekarang masih jadi pegangan juga bahwa kita enggak harus fokus di satu tempat kok untuk mendapatkan rezeki dari situ. Dalam konteks suami istri misalnya, saya sekarang menikmati ketika istri minta diantar dan saya menganggap itu bagian dari sai saya. Oke. Heeh. Ee ayo antar ada pasien di Tanjungsari gitu kan. Ayo antar ada pasien di Aminah. Even di apotek sendiri. Ayo nanti malam ada pasien di apotek gitu kan. He he he. Ayo anter atau sekarang ayo ke mana gitu. Kalau konteksnya ee suami istri, saya sekarang lebih ke bagaimana melayani istri dengan baik gitu ya. Sebagaimana seorang suami yang baik karena itu salah satu yang kemudian akan mendatangkan rezeki menurut saya gitu. Enggak harus kok ya okelah kita membuat strategi segala macam untuk bisnis kita gitu ya. Kita ee mengevaluasi mengevaluasi bisnis kita segala macam. Iya itu harus dilakukan tapi enggak harus 100% di situ. Hal-hal non teknis di luar itu juga yang itu mendatangkan kebaikan itu harus dilakukan juga. berbagi entah itu tenaga kalau emang bisa berbaginya tenaga, kalau bisa berbagi pengetahuan di komunitas seperti ini misalnya kalau emang ada manfaat yang bisa diambil ya kita mendedikasikan diri untuk ngelayanin orang lah istilahnya dan pemahaman itu juga teman-teman kami di komunitas juga terutama di pengurus ya itu yang juga ditanamkan insyaallah rezekinya katakanlah misalnya ee bisnismu lagi stagnan nih ya kan ya sudah jangan kemudian justru e pusing dengan stagnasi itu datang ke komunitas apa yang bisa dilakukan ketemu ngobrol atau ada kegiatan apa yang bisa dibantu. Heeh. Heeh. Kalau kita sudah mentok di bisnis kita, mau ditungguin sampai benjut pun kepala ini tetap akan mentok, Mas. Enggak akan ketemu solusi. Solusinya keluar dari bisnis, ketemu orang, melakukan hal yang berbeda, melakukan kebaikan-kebaikan di luar sana, Allah yang akan memperbaiki bisnis ini. Siap. Siap. Itu yang kami percaya, Mas. Kayak Mas Arif juga sekarang aktif di komunitas TDA ya, di Blitar ya. Iya. Itu salah satu jalan ninjaku supaya bisnis ini jalan ninjanya ya. Ya, dari dulu kan sudah senang dengan organisasi ya, senang dengan ee ngelayanin orang. Jadi, ya itu yang tadi saya percaya, Mas. Toh sama aja kok buktinya ketika ya sekarang ee bisalah dibandingin orang yang aktif di komunitas dengan yang fokus 100% di bisnisnya. Insyaallah sama kok rezekinya. Atau mungkin ketika saya vakum dari ee organisasi katakanlah omsetnya enggak nambah kok. dari perjalanannya Mas Arif, value yang mungkin Mas Arif pakai atau yang Mas Arif jaga dan mungkin akan terus dijaga gitu ya, itu value apa sih, Mas? Saya tidak tahu ini disebut eh value atau bukan. Kalau disebut value saya bisa bilang e integritas, saya bisa menjaga integritas, kejujuran segala macam itu. Itu value wajib kita sebagai seorang wirausaha ya. Kepercayaan itu penting kan orang itu ee bekerja sama dengan kita, mau membeli apa yang kita tawarkan karena kan melihat kita siapa kan. Mostly seperti itu. Apalagi di level UMKM itu sudah saya kira sudah jadi pengetahuan umum sekali kemudian integritas kita tercoreng rusaklah ya. Uang bisa dicari tapi ketika nama baik rusak susah memperbaikinya. Jadi itu ee saya rasa sudah menjadi e pengetahuan umum. Tapi barangkali ini bisa menjadi sesuatu yang bisa dipegang sama teman-teman juga. Saya sampai di titik ini salah satu yang saya syukuri adalah ketika dulu saya belajar kewirausahaan tahun keempat ketika saya kuliah. Di tahun keempat saya kuliah itu Mas, saya ketemu komunitas waktu itu saya belum kenal TDA. Saya ketemu komunitas yang namanya pengusaha tanpa riba. Kami menyebutnya gurundah Coach Samsul Arifin. Dan alhamdulillah saya termasuk orang yang beruntung karena bisa beberapa kali event dengan beliau, bisa beberapa kali dimentor sama beliau yang rutin waktu itu sama muridnya beliau kan. Kalau di strukturalnya katakanlah ee beliau ini ee levelnya sudah grand master ya, grand master itu. Jadi hanya bisa kalau di level saya yang mentornya kecil ini hanya ketemu sekali dua kali sudah bersyukur ya. Nah, yang rutin ketemu sebulan sekali adalah sama masternya, sama muridnya beliau yang kami mentoring setiap bulan. Dari situ saya bersyukur banyak belajar tentang fikih muamalah. Dan salah satu yang menjadi pegangan saya sampai hari ini adalah jangan sampai kita terjebak dalam hutang riba. Ya, namanya juga kemudian komunitas pengusaha tanpa riba kan. Jadi waktu itu yang benar-benar digaungkan adalah riba, riba, riba. Dari situ pertama kali saya pertama kali mengenal tentang riba dan pertama kali kemudian riba itu dibuat mendarah daging menjadi pengetahuan bawah sadar yang pada awalnya ketika saya mungkin semester atau tahun-tahun awal tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga punya cita-cita, oh nanti kalau punya usaha, punya toko di pinggir jalan bisa minjam modal dari bank. Ketika saya keliling di Bogor waktu itu saya melihat ada toko-toko dengan label mitra bank anu gitu ya. Itu saya sempat punya nanti saya harus bisa. kayak gitu gitu ya. Ada labelnya itu mitra bank ya. Jenengan pasti tahulah ada mitra bank ini. Nah, sejak saat itu oh ternyata enggak boleh. Jadi itu yang benar-benar saya jaga sampai hari ini jangan sampai bersentuhan dengan itu. Yang itu kemudian mungkin membuat cerita hidup saya tidak menarik ya. Kalau orang-orang mungkin di interview di podcast menarik karena oh dulu saya jatuh karena riba ya kan dihantem sama Gusti Allah sekarang saya sukses. Itu kan jadi ada ceritanya. Tapi itu saya syukuri dan saya juga nauzubillah enggak mau. Moga-moga enggak enggak terjadi ya. Ee semoga saya berharap jangan sampai mendapatkan ujian yang luar biasa hebat. Nauzubillah saya tidak sanggup menanggungnya meskipun janji Allah kita tidak akan mendapatkan ujian yang melebihi batas kemampuan kita ya. Tapi jangan sampailah hanya untuk sekedar mendapatkan posisi sukses itu ya. dari cerita pengusaha-pengusaha hebat kan kebanyakan begitu ya to. Tapi kalau bisa sih sukses aja tapi jangan mengalami episode itu kan sudah tahu ilmunya gitu kan. Tinggal bagaimana kita menjaga supaya tidak mengalami episode buruk gitu, tidak mengalami ujian yang kita tidak sanggup menanggungnya dan ya sudah kita hidup sesuai dengan kemampuan mencapai apa yang kita cita-citakan, apa yang kita fisikkan dengan kemampuan kita hari ini gitu. Mampunya baru satu cabang ya sudah kita bertahan dengan satu cabang ini dulu aja. Saya enggak buru-buru kok untuk ayo kapan cabang kedua, cabang ketiga. Masa apotek cuma satu cabang gitu kan. Apotek itu harusnya scale up nanti dulu. Kecuali ada yang mau invest silakan. Ada yang mau invest pun saya mungkin masih mikir dua kali gitu. Iya. Karena kan harus ee visinya sama, visinya sama, harus benar dulu kan beliaunya harus paham muamalahnya seperti apa, untung ruginya bagaimana gitu kan. Yang menawarkan sudah ada Mas sebenarnya. Siap. Terima kasih, Mas, sudah hadir di podcastnya Pecah Telur. Nanti teman-teman ee kalau mau ngobrol lebih dalam, lebih lanjut dengan Mas Arif bisa datang di komunitas TDA. Iya, silakan. Eurus ya, Mas. Insyaallah ee kami di TDA ada rebuan setiap hari Rabu ee 2 minggu sekali silakan datang atau kalau mau mencari saya hampir setiap hari setiap hari saya di Apotek sekarang. Oh, di apotek setiap hari. Iya. Karena kalau bisnis yang satunya kan online kan. Online bisa di mana aja kan. di rumah ada anak, ada UTNya gitu kan. Enggak enak kalau kerja di rumah. Nggih, nggih, nggih. Jadi saya sekarang setiap hari, hampir setiap hari di apotek. Monggo kalau mau ngobrol ee bisa ke apotek di Jalan Bali nomor 112, Kota Blitar. Tadi namanya apa, Mas? Apotek Rika Medika. Oke, nanti saya tuliskan di deskripsi juga. Siap. Terima kasih ee sudah nyimak sampai akhir. Ee saya tutup. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Oke. [Musik]