Sandwich Generation: Anak Pertama Diwarisi Hutang 1 Miliar, Bangkit dg 20.000 Bebek/Bulan!
P6H70vb1_BE • 2025-04-25
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id yang ngurusi ternak tiga orang. Populasi sekarang 2000 ekor lebih untuk hari ini per minggu itu bisa sampai keluar 2.000 lebih, Mas per minggu. Kalau 1 bulan insyaallah bisa Rp10.000. Itu masih belum nelur semua, Mas. Kita kan indukan gak satu umur. Ada yang sudah bertelur, ada yang baru masuk itu belum bertelur. Ada yang sudah bertelur tapi masih dikit. Kalau insyaallah tahun ini kalau bisa bertelur semua bisa Rp20.000 harusnya produksinya per bulan. Betul. Kalau orang-orang mungkin mulainya dari nol ya. Kalau saya mungkin malah dari minus mulainya. Jadi saya keluar kuliah lulus itu ada hutanghutang bisnis itu lumayan Mas sampai miliar semiliar hampir semiliar saya itu pernah apa ya membeli hah bapak tak omel-meli masok enggak dibayar-bayar tanggungan N [Musik] [Tepuk tangan] a bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ahmad Siddiq, bisa dipanggil adik kalau di sekitaran sini. Usia 33 tahun, pekerjaan wirausaha peternakan jenis bebek Ibrida. lokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung. Bebek hibrida itu heb kayak persilangan, Mas. Jadi dia itu gabungan antara bebek yang gampang bertelur dan hasilnya itu jadi bebek pedaging. Jadi intinya diharapkan bebeknya itu gampang bertelur, tapi hasilnya untuk daging yang lebih besar kayak semacam ayam potong itu Mas. Tapi kan kalau bebek asli yang besar itu bertelurnya susah gak kayak hibrid. Bedanya itu makanya dia ada kayak kombinasi-kombinasi gabungan. Kalau bebek asli petelur kan warnanya hijau biru gitu. Kalau hibrida itu dia agak puyeh dominan putih. Makanya ada yang putih, ada yang hijau. Bentuknya tubuhnya agak besar tapi ndak kayak angsa. Kalau angsa kan besar lehernya panjang. Kalau itu lehernya ndak seberapa panjang tapi besar badannya. Mulai usaha saya masuk ke peternakan itu habis lulus kuliah 2015. Saya kuliah kebetulan di manajemen Universitas Erlangga. Jadi 2015 itu saya lulus, saya langsung pulang. Biasanya kan habis lulus nyari kerja. Itu udah saya setting saya di rumah aja. Karena pas di kuliah itu pernah magang di kantor itu kayak ngerasa ah di rumah aja kayaknya enak. Kayak hidup itu terlalu cepat. Enak di desa masih yang kayak pelan nyantai gitu tenang. Tapi saya dari kecil tuh sudah dididik sama almarhum Bapak itu sudah di-setting. Saya nanti kalau bisa jadi peternak penerus Bapak. Jadi dari kecil sudah diajak ke mana-mana. Dari Jombang, Mojokerto, Kediri, Cirebon, Bali itu diajak keliling sahanya Bapak. Kalau Bapak dulu kan peternak juga cuman dia peternak petelur. Asli petelur. He. Kalau warisan itu saya artikan gini, saya benar ini usaha warisan, tapi yang diwariskan itu ilmunya. Kalau bebeknya saya mulai itu sudah enggak ada. Kalau orang-orang mungkin mulainya dari nol ya. Kalau saya mungkin malah dari minus mulainya. Jadi 2009 tuh Bapak sakit. Sakit lumayan parah. Jadi manajemen kandang, manajemen usaha itu udah lumayan kacau. Kemudian keadaan keuangan bisnis juga lumayan parah. Bahasa kekinian itu saya jadi sandwich generation. Tapi ya gak masalah. Sakitnya stroke. Jadi 2009 stroke sampai 2021. Tapi itu sembuh sebenarnya dari segi fisik Bapak sembuh cuman ya itu dari pikirannya sudah beda sudah enggak fresh enggak samalah kayak yang orang normal pikirannya sudah beda. Sudah enggak kuat mikirin bisnis lah. Kebetulan pas Bapak sakit itu saya waktu itu kuliah jadi ya enggak bisa ngurusi pekerjaan usaha keluarga. Jadi saya keluar kuliah lulus itu ada hutang hutang bisnis itu lumayan Mas sampai miliar semiliar hampir semiliar. Kalau saya mau nerusin usaha Bapak, pertama saya harus renovasi kandang. Kemudian ya itu ada tanggungan juga. Terus adik masih sekolah, masih kuliah itu ya saya kan anak pertama jadi ya tanggung jawablah anak pertama siapa lagi kalau bukan anak yang pertama. Tapi 2015 itu saya lulus alhamdulillah ada saudara yang dalam arti ekonominya lagi naik. Terus juga di bidang peternakan yaitu ayam tuh. Dari situ saya mengajukan diri akhirnya ya ada pertama nyopir kernet. Terus habis itu kok ini kan gak stabil dalam arti masih kurang lah kalau saya mikirnya. Terus saya menawarkan diri, "Pak, ini ada kandang saya di rumah terus pripun lek jenengan yang ngisi saya yang makani." Nah, itu awal mula saya terjun di peternakan bebek itu situ. Jadi, Pak Lik ngasih saya bebek terus saya yang makan, saya yang jadi tenaga kerjanya. Dari kandangnya juga saya. Dari situ mulai terkumpul modal semua dijual. Jadi waktu Bapak meninggal 2020-an itu kena Corona kemarin itu dari usaha ada aset-aset kita jual dari mobil, motor itu semua kita jual. Soalnya gini, saya gak mau Bapak itu punya hutang. Saya prioritaskan hutangnya Bapak dulu baru nanti kemudian bisnis berkembang. Alhamdulillahnya ya malah ada rezeki yang tidak disangka-sangka. 2015 saya sampai 2020 ikut Pak Le. Kemudian karena saya kan sering ketemu tuh sama bos besar yang ngambil daging dari situ dia tuh ngelihat saya nilai saya karakter saya dia karena Mas kayaknya sampean wis iso ngopeni dewe akhirnya ditawari saya ditawari bebek indukan [Musik] sendiri itu. Dia itu kan punya mitra peternak banyak. Dia itu kayak piro-piro nompo hasil panen saya kayak gitu. Panenan yang anakan bebek tadi. Dari situ sudah kayak gak nyangka bakalan bisa mandiri kayak gini. Itu saya tanpa modal, Mas. Dia ngasih bebek cuma-cuma nanti dibayar waktu hasil panennya gitu. Akhirnya alhamdulillah dari mulai pertama itu 100-an kalau enggak salah sudah besar, sudah siap bertelur. Alhamdulillahnya lancar lancar lancar jalan. Kemudian Mas ditambahi lagi nggih Pak, wis manut nambah-nambah terus. Kemudian itu Mas ada titik balik kan sudah diwanti-wanti sebenarnya sama ibu gak usah ambil perbankan lah. Kok saya inginnya ya itu pengin cepat-cepat. Heeh. Akhirnya ngambil juga perbankan lalah itu malah yang bikin saya agak koleksi itu pernah itu suatu titik 2023 kali usaha penetasan itu usaha kontinue Mas. Jadi kalau ada permintaan misal ya tiap minggu 2.000 ekor kemudian saya nambah indukan itu bisa produksinya nambahnya berkali-kali lipat. Sedangkan pasar itu daya serapnya kan kita enggak tahu karena saya udah kayak gambling. Alah beli indukan aja nanti gampanglah yang penting untungnya tambah banyak gitu. Ternyata daya serapnya enggak sebanyak yang saya pikirkan. Makanya waktu daya tetasnya itu 1500-an per minggu. Sebenarnya waktu pas ekonomi lagi naik-naiknya banyak dia lancar terserap. Waktu ekonomi lagi surut peternak itu kalau murah kan dia enggak mau ngopeni. Akhirnya yang ditetaskan itu kan di dalam masih banyak Mas. Saya besarkan sendiri malah bikin rugi. Waktu itu saya lihat laporan keuangan saya itu per bulan minus R5 juta. Itu 6 bulan kalau gak salah. Akhirnya saya ke mana-mana Mas larinya ke pinjol juga tapi yang resmi bukan yang ilegal. Akhirnya ya wis buat pelajaran kita tutup semua perbankan yang mengandung riba [Musik] lah. Orang itu kalau belum nyoba sendiri ndak tahu, Mas. Karena ya gitu penginnya wah cepatcepat kayaknya ini enak pas lagi enak. Kalau hitungan manusia kan kayak gitu ternyata hitungan langit gak sama. Waktu udah parah-parahnya kemudian saya itu kan ikut komunitas juga komunitas ngaji lah. Terus akhirnya lumayan agak sadarlah yang sesuai syariah tuh kayak apa. Paling perasa itu lihat TikTok nyekroll itu isinya tentang itu Mas riba itu gini-gini riba itu gini-gini akhirnya malah iki koknya pertanda iki. Terus ngomong sama istri gimana maunya projject selanjutnya tu gimana langkah selanjutnya kayak gimana. Terus saya pikir gini, ya udah kita coba lunasi utang dulu aja. Dijual semua aset yang liquid dalam arti bisa diuangkan. Kita lunasi dulu yang dari kecil, kemudian yang besar-besar kita juga lunas. Akhirnya ya situ alhamdulillah 2023 kemarin kita sudah terbebas dari hutang riba. Insyaallah alhamdulillah Ibu itu support sekali. Wis kayak gini tuh saya yo ngerasa itu semua doa dari Ibu, Mas. Ada sih doa yang secara gak langsung itu malah bikin lancar. Ada a tiba-tiba ada orang datang, "Mas, mau ngambil DOD itu." Padahal dia bukan peternak, dia itu tukang katering malahan. Eh, kayak gitu, Pak. And [Musik] alhamdulillah. Kalau Bapak itu selalu mewanti-wanti Mas, poin pertama itu harus jujur. Makanya saya dikasih nama sidik itu biar dapat dipecah ya. Bapak itu selalu ingatkan pokoknya selalu jujur. Jujuran itu yang utama. Kalau di mana-mana Bapak itu salat Mas yangutamakan. Dalam keadaan apapun dia tuh harus niat salat. Keadaan repot kita berhenti sejenak salat dulu. Tapi ya itu warisan yang paling berarti itu ya ilmu dari Bapak. Kalau menurut saya ya mikirnya wah ini sih harusnya bukan tanggung jawab saya. Pertama sih mikirnya gitu kan. Tapi ya lama-kelamaan akhirnya udah dewasa, udah tahu ternyata keadaan itu memang berat. Kalau dulu kan saya belum nikah. Setelah nikah itu ternyata baru ngerasain ternyata tuh punya tanggung jawab, punya keluarga itu kayak gini berat. Ternyata saya itu pernah apa yang membeli? Hah bapaknya tak omel-meli masok enggak dibayar-bayar tanggungannya anak. Tapi ya itu akhirnya malah sadar ternyata emang tanggung jawabnya besar. perjuangan Bapak ternyata ya gak mudah untuk anak-anaknya, untuk keluarganya. Jadi, Bapak itu waktu giat-giatnya dia itu kerja keras keluar kota sampai pulang dini hari, terus salat subuh itu sampai kesiangan. Nah, setelah ada sakit itu kan kalau orang-orang mikirnya salat subuh sudah paling terakhir kesiangan itu. Alhamdulillahnya itu sebelum meninggal, setelah sakit tuh, Bapak itu orang yang pertama kali ke masjid, Mas. Alhamdulillahnya kayak gitu. Jadi ya saya bersyukur sih kalau ternyata sakitnya Bapak itu ada hikmahnya. Kalau untuk Bapak sendiri ya terima kasih banyak untuk ilmu. Bapak adalah mentor terbaik, sahabat terbaik, ayah terbaik yang bisa mewariskan ilmu dan mungkin harta macam-macamlah untuk keluarga dan anaknya. Ya, mungkin agak telat ya. Maaf sekarang saya mohon maaf kepada Bapak, semoga Bapak diterima di sisinya dan dimaafkan semua kesalahan dan dosa-dosanya. Mungkin untuk peternak-peternak di daerah Jawa Timur pasti ada yang kenal nama Bapak kalau urusan BBM. Ya, nama beliau almarhum Bapak Haji Asmuni sudah melalang buana itu kalau di daerah Jawa Timur. Insyaallah peternak senior tahu. Kalau dikatakan gak dipakai sih ijazahnya gak dipakai tapi ilmunya dipakai. Mas, pertama dari sisi akuntansi itu saya bersyukur sekali bisa masuk manajemen dan diajari akuntansi. Karena waktu dulu itu ya itu usaha saya belum ada pencatatan. Dari situ kita gak tahu budgeting kita seperti apa. Terus dari TRK record di story misalnya ya kalau sudah dicatat kan kita tahu ternyata bulan ke 10 111 itu bulan-bulan yang kita harus menurunkan produksi. Ternyata di situ ada pelemahan permintaan kayak gitu. Enaknya itu kita belajar akuntansi. Alhamdulillahnya di situ. Terus dari budgeting juga bisa kita akhirnya tahu, oh ternyata kas kita seperti ini. Kita bisa ambil indukan berapa ekor untuk ke depannya biar enggak terlalu parah. Kalau dulu kan belum saya sudah ngawur-ngawuran aja. Asal tabrak aja ada uang gas gas. Akhirnya ya itu kelabakan kelebihan produksi. Kalau saya tetap jadi peternak, Mas. Lebih nyantai, Mas. Kalau saya nyantainya ya itu paling kerja ya cuma 1 2 jam itu ya lebih banyak kayak di akuntansi perhitungan budgeting tekanan kayaknya di awal di 5 tahun pertama harus tahan 5 tahun sudah batas gitu. dari mulai peternak indukan peternak yang bertelur itu itu 5 tahun baru ngerasain ternyata sudah mulai hafal cara-cara bereluruhnya kayak gini terus channelnya kayak gini sudah tahu. Kemudian kita kan ada telur asin juga, Mas. Itu 1 tahun, 2 tahun itu juga hancur-hancuran. Makanya saya sudah tahan-tahankan 5 tahun pokoknya 5 tahun saya kasih jatah 5 tahun. Insyaallah pasti kalau ada sudah lewati fase 5 tahun kita insyaallah pasti lancar. Kalau ini sudah 10 tahun. Kalau saya kan sudah autopilot, Mas. maksudnya sudah ada pegawai di ternak sendiri kan saya paling tugasnya cuma mengawasi cuma lihat-lihat ini ada berapa butir produksi terus persentase tetas berapa, persentase telur berapa tinggal lihat data kan saya basnya data sekarang semua sudah saya kasih datur berapa saya tulis terus yang masuk ke penetasan saya tulis menetas berapa saya tulis persentasenya berapa itu. Jadi kita bisa enak lihat ada masalah itu kok ini cuma 63% tasnya itu kita lihat ternyata ada pakan itu yang gak sama kita track dari situ kan dapat dipelajari oh ternyata pakan bebek yang kayak gini itu gak cocok akhirnya kita cut tuh enaknya pakai data itu [Musik] Mas yang ngurusi ternak tiga orang populasi sekarang 2000 ekor lebih indukan kalau satu orang itu bisa meng-ghandle 1000 ekor. Dia itu cuma makan pagi itu 1 jam sama ngambil telur. Udah itu free. Habis itu nanti sore lagi. Paling ada jadwal tertentu itu nguras air, minum, terus bersihkan kandang. Tapi ya gak lama. Kalau penetasan sendiri kita kan sudah pakai yang otomatis. Jadi kalau pertama kita masukkan telur ke penetasan terus hari kelima kita sentering kita lihat cek itu yang fertil yang mana, yang nontil yang mana. Dari situ dipilah kemudian sudah nunggu ngetas. Cuma gitu aja. Kalau kata orang-orang dulu itu waktu penetasan joper itu masuk telur keluarnya uang, Mas. Saking mudahnya penetasan kalau ayam itu sampai 90%. Kalau kita produk utamanya sebenarnya kan anakan bebek DOD makanya semua kita tetaskan. Terus ada telur asin. Jadi telur yang tidak bisa masuk ke penetasan sama yang non fertil itu kita asenkan sama dari DOD kita pembesaran juga tapi kalau yang itu gak banyak kapasitasnya Mas. Jadi kita jualnya bebek pedaging untuk hari ini per minggu itu bisa sampai keluar 2.000 lebih, Mas, per minggu. Kalau 1 bulan insyaallah bisa Rp10.000. Itu masih belum nelur semua, Mas. Kita kan indukan gak satu umur. Ada yang sudah bertelur, ada yang baru masuk itu belum bertelur. Ada yang sudah bertelur tapi masih dikit. Kalau insyaallah tahun ini kalau bisa bertelur semua bisa Rp20.000 harusnya produksinya per bulan. DOD dari kita R8.000 sampai R9.000 per ekor. Emang yang paling besar di penetasan, Mas. Tapi kalau omset itu di bebek pedaging. Soalnya makannya banyak selama 40 hari full pakan tapi marginnya gak seberapa besar. Jadi bebek usia bertelur itu 4 sampai 6 bulan awalnya. Usia produktif itu 2 tahun biasanya, Mas. Berarti umur 2,5 tahun bebek itu di afkir biasanya kalau yang afkir itu kita jual ke warung makan. Warung makan itu dia itu punya spek tertentu. Ada yang restoran itu biasanya yang bebek pedaging tadi umur 40 45 hari. Yang afkir itu biasanya yang warung-warung Madura. Wong warung pinggir jalan itu biasanya kan besar soalnya besar tapi harganya gak seberapa mahal. Kalau itu hitungnya kan per ekor. Kalau telur asin kita per minggu produksinya bisa tergantung sesuai permintaan sama punya telur kita sendiri. Kalau punya kita sendiri sih antara 1.000 sampai 33.000 per minggunya. Kalau do jelas ada targetnya. Jadi kalau jelas marketnya itu saya produksi segini. Bos saya juga sudah saya planning, Pak. Nanti jumlah tetasnya segini loh, Pak. Beda sama kayak telur asin. Kalau telur asin itu kan kita punya dulu, terus kita jual terserah konsumennya ngambil berapa nya daya serapnya seberapa. Beda sama kayak DD. Makanya kalau ada peternak datang ke saya tuh saya tanya dulu, "Mas, punya kandang berapa besar, Mas?" Terus sudah siap pakan sama sudah siap yang ngambil bakul. Karena saya maunya kontinue, Mas. Enggak mau saya kayak dia beli cuma 500 del terus putus. Karena yang ditetaskan tetap terus kan, Mas. Continue. Makanya tadi kalau over produksi saya yang nanggung resikonya. Kalau dia punya mentor, dia punya senior paling enggak lah punya senior yang bisa ngarahin dia untuk ternak. Bebek itu paling gampang, Mas. Makanya apa aja dia mau. Enaknya kan gitu. Makanya saya tadi tanyakan ke yang mau ternak sudah siap pakan. Pakannya apa, Mas? Kayak gitu. Karena kalau dia full pabrik tipis marginnya emang tipis. Apalagi kalau dia punya pegawai terus kandangnya sewa itu gak nuntut, Mas. Tapi kalau dia punya alternatif misalnya yang sekarang lagi booming kayak sekarang kan kada kentaki, terus kemudian sosis, roti itu semua mau bebek limbah itu hitungannya. Malah ada kemarin tuh pernah lihat peternak saya itu dia limbah ati usus dari ayam-ayam itu kan banyak itu dideplok dicampur ke pakan dia tuh beli cuma per kilonya 1.000 Padahal full protein tuh hasilnya lumayan. Makanya kalau peternakan yang kayak gini itu malah saya pertahankan. Dia itu keadaan apapun tetap bakalan ngambil. dia bakalan continue meskipun harga panenan menurun dia tetap ngambil diod. Jadi alternatif itu persentasenya bisa sampai 30% lah. Tapi bisa kadang ada yang sampai 50% cuman kan takutnya orangnya enggak tahu. Kadang dia di losostne pakan alternatifnya bebeknya kan ada itu bau dia itu enggak mau. Harus ada campurannya yang pakan biasa. Makanya dari situ lebih cuan peternak kita semua itu kalau berdasarkan ada timbangan, disiplin, ada datanya, insyaallah kita bisa lebih profit, Mas. Kalau cuma as tak pakani ae, gak ditimbang jumlah bebeknya berapa, ndak diukur, syukur dipakani. Akhirnya cuma jadi kotoran, enggak jadi daging kalau ternak pedaging. Itu kalau saya itu lebih suka indukan yang dari betinanya itu gak seberapa besar, cuman saya kasih pejantan yang besar. Jadi nanti hasilnya itu lumayan besar dari bapaknya. Kalau induk A-nya saya penginnya tuh yang dia itu bertelurnya lebih banyak persentasenya. Karena kan tetap kita kan untungnya kan dari telur itu. Kalau fisik sih sebenarnya enggak masalah daripada yang jumbo. Lebih suka yang kecil karena yang jumbo itu dia pakannya lebih banyak. Telurnya itu ya sama aja kalau dihitung secara matematika pakannya lebih banyak tapi telurnya cuma satu. lebih menguntungkan yang makannya dikit tapi tetap bertelur. Selain itu untuk ditetaskan yang jenis besar itu agak susah, Mas persentasenya. Saya tuh pernah juga agak kesulitan dia tetes itu cuma 60%. Kalau sekarang punya saya kan 70 sampai 80% gitu. Dari situ kan sudah beda. Kalau saya selama ini sih alhamdulillah paling kematian wajarlah 1 du selama 1 bulan. Itu pun karena faktor usia mungkin juga sama cuaca mungkin ekstrem cuaca itu mempengaruh juga. Kalau pas badai terus cuaca diingin itu bebek kan harus punya nutrisi dipakan lebih daripada biasanya makan kita akali. Kalau lihat-lihat lebih dingin cuacanya kita tambahi pakannya kayak gitu kita tambahi vitamin. Terus sebulan sekali kita sempret kandang. Bebek itu dia punya habit dia kalau habis makan minum. dari habis minum dia tuh habitnya apa? Keluar kotoran. Dari situ kan biasanya banyak penyakit tu dari situ. Makanya saya setting di tempatnya minum itu ada kayak kolam kecil buat ngaliri. Jadi bebek bis mengeluarkan kotoran di situ. Saya tiap hari itu saya sirami itu kayak gitu. Terus sebulan sekali minimal dua kali lah disemprot kandang desinfektan sama M4 itu juga meminimalisir bau. Kalau awal masuk kita vaksin sudah suntek. Ya, mungkin cuma itu kalau spesialis treatmentnya. Yang lainnya sih standarstandar operasionalnya manajemen kandang. Dipakan pagi hari, terus dibersihkan minumannya, dipakan lagi sore hari, telur diambil di pagi hari. Mungkin itu. Saya tuh selalu bilang ke teman-teman yang masih muda, beternak itu masih menjanjikan. Kalau kita tahu ilmunya, kalau kita bisa mengukur resikonya, kalau bisa diminimalisir lah resikonya gitu, itu masih menguntungkan. Dan kalau dihitung-hitung masih cukup lumayan, Mas, menguntungkannya. Orang-orang sih kayaknya sekarang penginnya di kantor di AC enggak mau kena bau telek. [Musik] Kalau tantangannya itu lumayan banyak, Mas. Usaha saya kan unitnya sudah macam-macam. Kalau di unit bebeknya sendiri itu yang pertama emang pakan itu paling berpengaruh. Kalau ternak kan kuncinya cuma dua biasanya orang-orang walaupun semuanya kan penting. Yang pertama di pakan produksi, yang kedua pemasaran. Nah, karena pakan ini sudah 80% sendiri, Mas, dari omset loh. Terus untuk penetasan kita masalahnya kan kita mesinnya otomatis terus spesifikasi besar. Jadi, kalau ada rusak itu bisa kena semua. Jadi kapasitas 5.000 sampai 6.000 tadi kalau ada mesin rusak, rusak semua yang di dalam, Mas. Kayak gitu resikonya. Dari predator juga ada. Itu pernah Mas saya itu di satu hari dimasuki garangan yang anakan tadi itu 100 ekor lebih gak dimakan cuma di krauk-krauk kepalanya itu loh mati-mati semua berceceran. Kemudian untuk masalah penetasan kita pengawasannya agak ekstra Mas. Saya kasih tanda itu lampu indikator mesin itu keadaan gimana terus kemudian ada alarm. Kalau dia melebihi batas suhu tertentu, dia bakal nyala. Soalnya hubungannya rat sama suhu kalau penetasan itu. Terus untuk yang lainnya itu kalau pedaging misal umur 1 sampai 7 hari kita ada bok khusus yang terkunci rapat itu aman. Kalau dari predator insyaallah sudah gak bisa masuk. Kita awasi setiap hari lah kita cek pakannya kayak apa. Dari kesehatan bebek kan kelihatan Mas dari bentuknya dia rontok bulu terus stres dia suaranya itu ada ciri-cirinya tertentu. Kalau yang sehat itu bulunya tumbuh lebat kemudian bersih biasanya. Terus dari aktivitasnya yaitu lari-lari supaya orang bahagia. Kalau kita kan juga erat hubungannya untuk penetasan. Kalau orang hamil stres itu kan bahaya juga karena di kandungannya sama itu bebek juga jadinya kan keluarnya telurnya kecil kalau dia stres. Makanya gak bakal layak tetes itu kalau telurnya sudah kecil. Kalau telur asin Mas itu buahnya bagaimana? Marketingnya kayak apa? Dulu awal itu saya buka jualan di pinggir jalan. Jadi saya tiap hari bawa telur saya gelar di pinggir jalan. Saya kasih banner telur asin Rp2.000. Itu R2.000 cuma buat mancing sebenarnya yang kecil. Akhirnya dari situ mulai dapat pelanggan. Tapi yo tetap namanya usaha pertama ya gak langsung lancar, Mas. Jadi waktu dulu itu kayak nekad di awal bawa 300 itu ya habis. Kalau saya di 1 minggu saya tetapkan 1 minggu walaupun tahan bisa sampai 2 minggu. Jadi 1 minggu harus habis. Saya setting 1 minggu habis kan gak sampai habis tuh biasanya saya kasih ke panti kalau dulu tuh gitu tapi lebih banyak ke pantinya waktu awal-awal itu ke panti ke masjid bawa pulang yang paling cuma berapa ya R30.000 50 awal-awal itu kayak gitu tapi ya lama-kelamaan alhamdulillah lancar dapat pelanggan terus kita ganti metodenya dari yang saya jualan sendiri di pinggir jalan, saya nyari agen. Nyari agen tuh yang saya cari yang lokasinya strategis paling gak ada Indomaret di dekatnya Indomaret atau Alamart kayak gitu. Terus saya kasih tiap minggu sistem konsinya sih 500 sampai ya seadanya subnya itu terus-terusan setiap senin kita naruh sama ngambil naruh ngambil ya alhamdulillah sekarang malah nyettingnya bukan sisanya lagi. Itu dulu sempat dimarah Bu ngasih orang kok sisa akhirnya saya setting saya ganti. Jadi waktu habis ngukus itu kita sisihkan buat yang disumbangkan beda sudah kalau hari ini sekitar 1.00 sampai 2.000 per minggu itu kita ngambil dari luar juga kulaan gak nyukup Mas kan kita bukan asli bebek [Musik] petelur kalau dihitung-hitung Mas ya saya lihatnya dari orang tua. Saya enggak punya detalnya cuma lihat dari orang tua. Bebek petelur itu benar menguntungkan. Tapi kalau secara angka lebih menguntungkan tuh di penetasan, Mas. Kalau dihitung HP-nya anggap aja ya 2.000 per telur. Kalau di hibrida mungkin bisa 3.000 soalnya kan ada pejantan yang harus dihitung pakanya. Anggap aja 3.000. Setelah ditetaskan dengan persentase 70 sampai 80% itu anggap aja 3.000 jadi 8.000. Sudah berapa, Mas? Sekalian naiknya kelipatannya dengan resiko yang bisa diminimalisir. Kemudian beban dari penetasan kan cuma listrik, Mas. Dengan kapasitas Rp20.000 Saya habis listrik 1 bulan cuma Rp1 juta. Jadi ya itu kalau dihitung-hitung tetap menguntungkan penetasan tapi gak bisa digenjot full. Kenapa hibrida? Karena ya itu tadi Mas dia mudah bertelur daripada yang pekeng Mas. Pekeng itu susah Mas pertelurnya 50% itu sudah bagus. Terus kemudian dari sisi ekonomis dari pakan tadi juga lebih efisien. Pakannya sedikit telurnya banyak. Makanya saya pilih yang hibrid. Kalau untuk pemula itu lebih baik ke pedaging dulu karena kita bisa lihat, oh cara makan bebek itu kayak gimana. Kalau jumlahnya kita ambil yang minimal dulu. Saya selalu sarankan ke pemula itu ambil paling enggak 100 dulu kan. Yes. Upah belajarlah kalau ada rugi gak terlalu dalam. Karena kalau udah langsung get ambil 1500 itu nanti pakannya sudah enggak pakan bebek lagi Mas. BPKB surat tanah sudah kayak gitu. Iya. Makanya saya sarankan kalau pemula mulai dari yang kecil dulu sambil diamati model bebek itu kayak gimana, terus cara pakannya yang bagus kayak gimana, ikut-ikut komunitas, terus scale up ilmu skill itu wajib, gak usah terburu-buru, dinikmati aja prosesnya. Kalau bebek itu kan dia makan pagi anggapnya jam 0.00 bisa dipakan, pulang kerja sore jam .00 dipakan lagi. Sudah cuma gitu doang siklusnya kayak gitu. Kalau untuk misal bersihkan atau nata kandang mungkin ada istri di rumah atau saudara itu bisa ngendele. Gak terlalu besarlah kalau kerjaannya untuk bebek cuma ya modalnya yang lumayan. Kalau untuk pedaging itu saya ngitungnya per ekornya harus siap Rp30.000, Mas. dari netas sampai dia jual pedaging. Jadi kalau misal 100 harus siap dana Rp3 juta 40 sampai 45 hari itu Mas panen. Soalnya kalau sudah dari 45 hari BB itu cuma makan jadi kotoran gak jadi daging. Kecillah persentase yang dia jadikan daging itu dari pakan malah eman-eman. Makanya tadi harus punya penjual bakul yang siap ngambil. Jadi di model kayak rutinan tiap minggu 100, tiap minggu 100 itu bisa kalau sudah mulai ngertilah. siklusnya itu ya lumayan. Jadi kalau pengin pendapatannya tiap minggu kan bisa Mas di-setting kayak gitu. Kalau cuma momen-momen tertentu kan nanti ya malah uangnya tuh hilang buat belanja hidup takutnya malah malah gak kebeli lagi bebeknya. Kalau saya itu punya impian. Jadi semua kita kuasai dari hulu sampai ilir. Dari pakannya kita mungkin bikin sendiri. Kalau sekarang kan belum. Terus untuk dari hasil produksi dari mulai telur ke DOD. dari DOD ke pedaging. Dari pedaging mungkin kita bisa ke karkas atau frozen. Dari situ kemudian bisa lagi langsung ke n konsumen dalam arti kita buka warung atau apa. Rencananya sih kayak gitu cuman saya tetap kasih waktu per unit usaha itu 5 tahun. Jadi kalau sudah nanti telur 5 tahun saya nambah lagi unit usaha apa gitu. Insyaallah ya semoga aja bisa tercapai. Untuk jadi peternak itu emang kalau sebagian orang dipandang sebelah mata. Tapi kalau kita bekerja mendetail, kita teliti, kita disiplin, insyaallah bakal menguntungkan. Saya adik owner dari Adigatra Sentosa dari Desa Sukorejo, Kecamatan Karangrejo. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Resume
Categories