Transcript
P6H70vb1_BE • Sandwich Generation: Anak Pertama Diwarisi Hutang 1 Miliar, Bangkit dg 20.000 Bebek/Bulan!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0505_P6H70vb1_BE.txt
Kind: captions
Language: id
yang ngurusi ternak tiga orang. Populasi
sekarang 2000 ekor lebih untuk hari ini
per minggu itu bisa sampai keluar 2.000
lebih, Mas per minggu. Kalau 1 bulan
insyaallah bisa Rp10.000. Itu masih
belum nelur semua, Mas. Kita kan indukan
gak satu umur. Ada yang sudah bertelur,
ada yang baru masuk itu belum bertelur.
Ada yang sudah bertelur tapi masih
dikit. Kalau insyaallah tahun ini kalau
bisa bertelur semua bisa Rp20.000
harusnya produksinya per
bulan. Betul. Kalau orang-orang mungkin
mulainya dari nol ya. Kalau saya mungkin
malah dari minus mulainya. Jadi saya
keluar kuliah lulus itu ada hutanghutang
bisnis itu lumayan Mas sampai miliar
semiliar hampir semiliar saya itu pernah
apa ya membeli hah bapak tak omel-meli
masok enggak dibayar-bayar tanggungan N
[Musik]
[Tepuk tangan]
a bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ahmad
Siddiq, bisa dipanggil adik kalau di
sekitaran sini. Usia 33 tahun, pekerjaan
wirausaha peternakan jenis bebek Ibrida.
lokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan
Karangrejo, Kabupaten Tulungagung. Bebek
hibrida itu heb kayak persilangan, Mas.
Jadi dia itu gabungan antara bebek yang
gampang bertelur dan hasilnya itu jadi
bebek pedaging. Jadi intinya diharapkan
bebeknya itu gampang bertelur, tapi
hasilnya untuk daging yang lebih besar
kayak semacam ayam potong itu Mas. Tapi
kan kalau bebek asli yang besar itu
bertelurnya susah gak kayak hibrid.
Bedanya itu makanya dia ada kayak
kombinasi-kombinasi gabungan. Kalau
bebek asli petelur kan warnanya hijau
biru gitu. Kalau hibrida itu dia agak
puyeh dominan putih. Makanya ada yang
putih, ada yang hijau. Bentuknya
tubuhnya agak besar tapi ndak kayak
angsa. Kalau angsa kan besar lehernya
panjang. Kalau itu lehernya ndak
seberapa panjang tapi besar badannya.
Mulai usaha saya masuk ke peternakan itu
habis lulus kuliah 2015. Saya kuliah
kebetulan di manajemen Universitas
Erlangga. Jadi 2015 itu saya lulus, saya
langsung pulang. Biasanya kan habis
lulus nyari kerja. Itu udah saya setting
saya di rumah aja. Karena pas di kuliah
itu pernah magang di kantor itu kayak
ngerasa ah di rumah aja kayaknya enak.
Kayak hidup itu terlalu cepat. Enak di
desa masih yang kayak pelan nyantai gitu
tenang. Tapi saya dari kecil tuh sudah
dididik sama almarhum Bapak itu sudah
di-setting. Saya nanti kalau bisa jadi
peternak penerus Bapak. Jadi dari kecil
sudah diajak ke mana-mana. Dari Jombang,
Mojokerto, Kediri, Cirebon, Bali itu
diajak keliling sahanya Bapak. Kalau
Bapak dulu kan peternak juga cuman dia
peternak petelur. Asli petelur.
He. Kalau warisan itu saya artikan gini,
saya benar ini usaha warisan, tapi yang
diwariskan itu ilmunya. Kalau bebeknya
saya mulai itu sudah enggak ada. Kalau
orang-orang mungkin mulainya dari nol
ya. Kalau saya mungkin malah dari minus
mulainya. Jadi 2009 tuh Bapak sakit.
Sakit lumayan parah. Jadi manajemen
kandang, manajemen usaha itu udah
lumayan kacau. Kemudian keadaan keuangan
bisnis juga lumayan parah. Bahasa
kekinian itu saya jadi sandwich
generation. Tapi ya gak masalah.
Sakitnya stroke. Jadi 2009 stroke sampai
2021. Tapi itu sembuh sebenarnya dari
segi fisik Bapak sembuh cuman ya itu
dari pikirannya sudah beda sudah enggak
fresh enggak samalah kayak yang orang
normal pikirannya sudah beda. Sudah
enggak kuat mikirin bisnis lah.
Kebetulan pas Bapak sakit itu saya waktu
itu kuliah jadi ya enggak bisa ngurusi
pekerjaan usaha keluarga. Jadi saya
keluar kuliah lulus itu ada hutang
hutang bisnis itu lumayan Mas sampai
miliar semiliar hampir semiliar. Kalau
saya mau nerusin usaha Bapak, pertama
saya harus renovasi kandang. Kemudian ya
itu ada tanggungan juga. Terus adik
masih sekolah, masih kuliah itu ya saya
kan anak pertama jadi ya tanggung
jawablah anak pertama siapa lagi kalau
bukan anak yang pertama. Tapi 2015 itu
saya lulus alhamdulillah ada saudara
yang dalam arti ekonominya lagi naik.
Terus juga di bidang peternakan yaitu
ayam tuh. Dari situ saya mengajukan diri
akhirnya ya ada pertama nyopir kernet.
Terus habis itu kok ini kan gak stabil
dalam arti masih kurang lah kalau saya
mikirnya. Terus saya menawarkan diri,
"Pak, ini ada kandang saya di rumah
terus pripun lek jenengan yang ngisi
saya yang makani." Nah, itu awal mula
saya terjun di peternakan bebek itu
situ. Jadi, Pak Lik ngasih saya bebek
terus saya yang makan, saya yang jadi
tenaga kerjanya. Dari kandangnya juga
saya. Dari situ mulai terkumpul modal
semua dijual. Jadi waktu Bapak meninggal
2020-an itu kena Corona kemarin itu dari
usaha ada aset-aset kita jual dari
mobil, motor itu semua kita jual.
Soalnya gini, saya gak mau Bapak itu
punya hutang. Saya prioritaskan
hutangnya Bapak dulu baru nanti kemudian
bisnis berkembang. Alhamdulillahnya ya
malah ada rezeki yang tidak
disangka-sangka. 2015 saya sampai 2020
ikut Pak Le. Kemudian karena saya kan
sering ketemu tuh sama bos besar yang
ngambil daging dari situ dia tuh
ngelihat saya nilai saya karakter saya
dia karena Mas kayaknya sampean wis iso
ngopeni dewe akhirnya ditawari saya
ditawari bebek indukan
[Musik]
sendiri itu. Dia itu kan punya mitra
peternak banyak. Dia itu kayak piro-piro
nompo hasil panen saya kayak gitu.
Panenan yang anakan bebek tadi. Dari
situ sudah kayak gak nyangka bakalan
bisa mandiri kayak gini. Itu saya tanpa
modal, Mas. Dia ngasih bebek cuma-cuma
nanti dibayar waktu hasil panennya gitu.
Akhirnya alhamdulillah dari mulai
pertama itu 100-an kalau enggak salah
sudah besar, sudah siap bertelur.
Alhamdulillahnya lancar lancar lancar
jalan. Kemudian Mas ditambahi lagi nggih
Pak, wis manut nambah-nambah terus.
Kemudian itu Mas ada titik balik kan
sudah diwanti-wanti sebenarnya sama ibu
gak usah ambil perbankan lah. Kok saya
inginnya ya itu pengin cepat-cepat.
Heeh. Akhirnya ngambil juga perbankan
lalah itu malah yang bikin saya agak
koleksi itu pernah itu suatu titik 2023
kali usaha penetasan itu usaha kontinue
Mas. Jadi kalau ada permintaan misal ya
tiap minggu 2.000 ekor kemudian saya
nambah indukan itu bisa produksinya
nambahnya berkali-kali lipat. Sedangkan
pasar itu daya serapnya kan kita enggak
tahu karena saya udah kayak gambling.
Alah beli indukan aja nanti gampanglah
yang penting untungnya tambah banyak
gitu. Ternyata daya serapnya enggak
sebanyak yang saya pikirkan. Makanya
waktu daya tetasnya itu 1500-an per
minggu. Sebenarnya waktu pas ekonomi
lagi naik-naiknya banyak dia lancar
terserap. Waktu ekonomi lagi surut
peternak itu kalau murah kan dia enggak
mau ngopeni. Akhirnya yang ditetaskan
itu kan di dalam masih banyak Mas. Saya
besarkan sendiri malah bikin rugi. Waktu
itu saya lihat laporan keuangan saya itu
per bulan minus R5 juta. Itu 6 bulan
kalau gak salah. Akhirnya saya ke
mana-mana Mas larinya ke pinjol juga
tapi yang resmi bukan yang ilegal.
Akhirnya ya wis buat pelajaran kita
tutup semua perbankan yang mengandung
riba
[Musik]
lah. Orang itu kalau belum nyoba sendiri
ndak tahu, Mas. Karena ya gitu penginnya
wah cepatcepat kayaknya ini enak pas
lagi enak. Kalau hitungan manusia kan
kayak gitu ternyata hitungan langit gak
sama.
Waktu udah parah-parahnya kemudian saya
itu kan ikut komunitas juga komunitas
ngaji lah. Terus akhirnya lumayan agak
sadarlah yang sesuai syariah tuh kayak
apa. Paling perasa itu lihat TikTok
nyekroll itu isinya tentang itu Mas riba
itu gini-gini riba itu gini-gini
akhirnya malah iki koknya pertanda iki.
Terus ngomong sama istri gimana maunya
projject selanjutnya tu gimana langkah
selanjutnya kayak gimana. Terus saya
pikir gini, ya udah kita coba lunasi
utang dulu aja. Dijual semua aset yang
liquid dalam arti bisa diuangkan. Kita
lunasi dulu yang dari kecil, kemudian
yang besar-besar kita juga lunas.
Akhirnya ya situ alhamdulillah 2023
kemarin kita sudah terbebas dari hutang
riba. Insyaallah alhamdulillah Ibu itu
support sekali. Wis kayak gini tuh saya
yo ngerasa itu semua doa dari Ibu, Mas.
Ada sih doa yang secara gak langsung itu
malah bikin lancar. Ada a tiba-tiba ada
orang datang, "Mas, mau ngambil DOD
itu." Padahal dia bukan peternak, dia
itu tukang katering malahan. Eh, kayak
gitu, Pak. And
[Musik]
alhamdulillah. Kalau Bapak itu selalu
mewanti-wanti Mas, poin pertama itu
harus jujur. Makanya saya dikasih nama
sidik itu biar dapat dipecah ya. Bapak
itu selalu ingatkan pokoknya selalu
jujur. Jujuran itu yang utama. Kalau di
mana-mana Bapak itu salat Mas
yangutamakan. Dalam keadaan apapun dia
tuh harus niat salat. Keadaan repot kita
berhenti sejenak salat dulu. Tapi ya itu
warisan yang paling berarti itu ya ilmu
dari Bapak. Kalau menurut
saya ya mikirnya wah ini sih harusnya
bukan tanggung jawab saya. Pertama sih
mikirnya gitu kan. Tapi ya lama-kelamaan
akhirnya udah dewasa, udah tahu ternyata
keadaan itu memang berat. Kalau dulu kan
saya belum nikah. Setelah nikah itu
ternyata baru ngerasain ternyata tuh
punya tanggung jawab, punya keluarga itu
kayak gini berat. Ternyata saya itu
pernah apa yang membeli? Hah bapaknya
tak omel-meli masok enggak dibayar-bayar
tanggungannya
anak. Tapi ya itu akhirnya malah sadar
ternyata emang tanggung jawabnya besar.
perjuangan Bapak ternyata ya gak mudah
untuk anak-anaknya, untuk keluarganya.
Jadi, Bapak itu waktu giat-giatnya dia
itu kerja keras keluar kota sampai
pulang dini hari, terus salat subuh itu
sampai kesiangan. Nah, setelah ada sakit
itu kan kalau orang-orang mikirnya salat
subuh sudah paling terakhir kesiangan
itu. Alhamdulillahnya itu sebelum
meninggal, setelah sakit tuh, Bapak itu
orang yang pertama kali ke masjid, Mas.
Alhamdulillahnya kayak gitu. Jadi ya
saya bersyukur sih kalau ternyata
sakitnya Bapak itu ada hikmahnya. Kalau
untuk Bapak sendiri ya terima kasih
banyak untuk ilmu. Bapak adalah mentor
terbaik, sahabat terbaik, ayah terbaik
yang bisa mewariskan ilmu dan mungkin
harta macam-macamlah untuk keluarga dan
anaknya. Ya, mungkin agak telat ya. Maaf
sekarang saya mohon maaf kepada Bapak,
semoga Bapak diterima di sisinya dan
dimaafkan semua kesalahan dan
dosa-dosanya. Mungkin untuk
peternak-peternak di daerah Jawa Timur
pasti ada yang kenal nama Bapak kalau
urusan BBM. Ya, nama beliau almarhum
Bapak Haji Asmuni sudah melalang buana
itu kalau di daerah Jawa Timur.
Insyaallah peternak senior
tahu. Kalau dikatakan gak dipakai sih
ijazahnya gak dipakai tapi ilmunya
dipakai. Mas, pertama dari sisi
akuntansi itu saya bersyukur sekali bisa
masuk manajemen dan diajari akuntansi.
Karena waktu dulu itu ya itu usaha saya
belum ada pencatatan. Dari situ kita gak
tahu budgeting kita seperti apa. Terus
dari TRK record di story misalnya ya
kalau sudah dicatat kan kita tahu
ternyata bulan ke 10 111 itu bulan-bulan
yang kita harus menurunkan produksi.
Ternyata di situ ada pelemahan
permintaan kayak gitu. Enaknya itu kita
belajar akuntansi. Alhamdulillahnya di
situ. Terus dari budgeting juga bisa
kita akhirnya tahu, oh ternyata kas kita
seperti ini. Kita bisa ambil indukan
berapa ekor untuk ke depannya biar
enggak terlalu parah. Kalau dulu kan
belum saya sudah ngawur-ngawuran
aja. Asal tabrak aja ada uang gas gas.
Akhirnya ya itu kelabakan kelebihan
produksi. Kalau saya tetap jadi
peternak, Mas. Lebih nyantai, Mas. Kalau
saya nyantainya ya itu paling kerja ya
cuma 1 2 jam itu ya lebih banyak kayak
di akuntansi perhitungan budgeting
tekanan kayaknya di awal di 5 tahun
pertama harus tahan 5 tahun sudah batas
gitu. dari mulai peternak indukan
peternak yang bertelur itu itu 5 tahun
baru ngerasain ternyata sudah mulai
hafal cara-cara bereluruhnya kayak gini
terus channelnya kayak gini sudah tahu.
Kemudian kita kan ada telur asin juga,
Mas. Itu 1 tahun, 2 tahun itu juga
hancur-hancuran. Makanya saya sudah
tahan-tahankan 5 tahun pokoknya 5 tahun
saya kasih jatah 5 tahun. Insyaallah
pasti kalau ada sudah lewati fase 5
tahun kita insyaallah pasti lancar.
Kalau ini sudah 10 tahun. Kalau saya kan
sudah autopilot, Mas. maksudnya sudah
ada pegawai di ternak sendiri kan saya
paling tugasnya cuma mengawasi cuma
lihat-lihat ini ada berapa butir
produksi terus persentase tetas berapa,
persentase telur berapa tinggal lihat
data kan saya basnya data sekarang semua
sudah saya kasih datur berapa saya tulis
terus yang masuk ke penetasan saya tulis
menetas berapa saya tulis persentasenya
berapa itu. Jadi kita bisa enak lihat
ada masalah itu kok ini cuma 63% tasnya
itu kita lihat ternyata ada pakan itu
yang gak sama kita track dari situ kan
dapat dipelajari oh ternyata pakan bebek
yang kayak gini itu gak cocok akhirnya
kita cut tuh enaknya pakai data itu
[Musik]
Mas yang ngurusi ternak tiga orang
populasi sekarang 2000 ekor lebih
indukan kalau satu orang itu bisa
meng-ghandle 1000 ekor. Dia itu cuma
makan pagi itu 1 jam sama ngambil telur.
Udah itu free. Habis itu nanti sore
lagi. Paling ada jadwal tertentu itu
nguras air, minum, terus bersihkan
kandang. Tapi ya gak lama. Kalau
penetasan sendiri kita kan sudah pakai
yang otomatis. Jadi kalau pertama kita
masukkan telur ke penetasan terus hari
kelima kita sentering kita lihat cek itu
yang fertil yang mana, yang nontil yang
mana. Dari situ dipilah kemudian sudah
nunggu ngetas. Cuma gitu aja. Kalau kata
orang-orang dulu itu waktu penetasan
joper itu masuk telur keluarnya uang,
Mas. Saking mudahnya penetasan kalau
ayam itu sampai 90%. Kalau kita produk
utamanya sebenarnya kan anakan bebek DOD
makanya semua kita tetaskan. Terus ada
telur asin. Jadi telur yang tidak bisa
masuk ke penetasan sama yang non fertil
itu kita asenkan sama dari DOD kita
pembesaran juga tapi kalau yang itu gak
banyak kapasitasnya Mas. Jadi kita
jualnya bebek pedaging untuk hari ini
per minggu itu bisa sampai keluar 2.000
lebih, Mas, per minggu. Kalau 1 bulan
insyaallah bisa Rp10.000. Itu masih
belum nelur semua, Mas. Kita kan indukan
gak satu umur. Ada yang sudah bertelur,
ada yang baru masuk itu belum bertelur.
Ada yang sudah bertelur tapi masih
dikit. Kalau insyaallah tahun ini kalau
bisa bertelur semua bisa Rp20.000
harusnya produksinya per bulan.
DOD dari kita R8.000 sampai R9.000 per
ekor. Emang yang paling besar di
penetasan, Mas. Tapi kalau omset itu di
bebek pedaging. Soalnya makannya banyak
selama 40 hari full pakan tapi marginnya
gak seberapa besar. Jadi bebek usia
bertelur itu 4 sampai 6 bulan awalnya.
Usia produktif itu 2 tahun biasanya,
Mas. Berarti umur 2,5 tahun bebek itu di
afkir biasanya kalau yang afkir itu kita
jual ke warung makan. Warung makan itu
dia itu punya spek tertentu. Ada yang
restoran itu biasanya yang bebek
pedaging tadi umur 40 45 hari. Yang
afkir itu biasanya yang warung-warung
Madura. Wong warung pinggir jalan itu
biasanya kan besar soalnya besar tapi
harganya gak seberapa mahal. Kalau itu
hitungnya kan per ekor. Kalau telur asin
kita per minggu produksinya bisa
tergantung sesuai permintaan sama punya
telur kita sendiri. Kalau punya kita
sendiri sih antara 1.000 sampai 33.000
per minggunya. Kalau do jelas ada
targetnya. Jadi kalau jelas marketnya
itu saya produksi segini. Bos saya juga
sudah saya planning, Pak. Nanti jumlah
tetasnya segini loh, Pak. Beda sama
kayak telur asin. Kalau telur asin itu
kan kita punya dulu, terus kita jual
terserah konsumennya ngambil berapa nya
daya serapnya seberapa. Beda sama kayak
DD. Makanya kalau ada peternak datang ke
saya tuh saya tanya dulu, "Mas, punya
kandang berapa besar, Mas?" Terus sudah
siap pakan sama sudah siap yang ngambil
bakul. Karena saya maunya kontinue, Mas.
Enggak mau saya kayak dia beli cuma 500
del terus putus. Karena yang ditetaskan
tetap terus kan, Mas. Continue. Makanya
tadi kalau over produksi saya yang
nanggung resikonya. Kalau dia punya
mentor, dia punya senior paling enggak
lah punya senior yang bisa ngarahin dia
untuk ternak. Bebek itu paling gampang,
Mas. Makanya apa aja dia mau. Enaknya
kan gitu. Makanya saya tadi tanyakan ke
yang mau ternak sudah siap pakan.
Pakannya apa, Mas? Kayak gitu. Karena
kalau dia full pabrik tipis marginnya
emang tipis. Apalagi kalau dia punya
pegawai terus kandangnya sewa itu gak
nuntut, Mas. Tapi kalau dia punya
alternatif misalnya yang sekarang lagi
booming kayak sekarang kan kada kentaki,
terus kemudian sosis, roti itu semua mau
bebek limbah itu hitungannya. Malah ada
kemarin tuh pernah lihat peternak saya
itu dia limbah ati usus dari ayam-ayam
itu kan banyak itu dideplok dicampur ke
pakan dia tuh beli cuma per kilonya
1.000 Padahal full protein tuh hasilnya
lumayan. Makanya kalau peternakan yang
kayak gini itu malah saya pertahankan.
Dia itu keadaan apapun tetap bakalan
ngambil. dia bakalan continue meskipun
harga panenan menurun dia tetap ngambil
diod.
Jadi alternatif itu persentasenya bisa
sampai 30% lah. Tapi bisa kadang ada
yang sampai 50% cuman kan takutnya
orangnya enggak tahu. Kadang dia di
losostne pakan alternatifnya bebeknya
kan ada itu bau dia itu enggak mau.
Harus ada campurannya yang pakan biasa.
Makanya dari situ lebih cuan peternak
kita semua itu kalau berdasarkan ada
timbangan, disiplin, ada datanya,
insyaallah kita bisa lebih profit, Mas.
Kalau cuma as tak pakani ae, gak
ditimbang jumlah bebeknya berapa, ndak
diukur, syukur dipakani. Akhirnya cuma
jadi kotoran, enggak jadi daging kalau
ternak pedaging. Itu kalau saya itu
lebih suka indukan yang dari betinanya
itu gak seberapa besar, cuman saya kasih
pejantan yang besar. Jadi nanti hasilnya
itu lumayan besar dari bapaknya. Kalau
induk A-nya saya penginnya tuh yang dia
itu bertelurnya lebih banyak
persentasenya. Karena kan tetap kita kan
untungnya kan dari telur itu. Kalau
fisik sih sebenarnya enggak masalah
daripada yang jumbo. Lebih suka yang
kecil karena yang jumbo itu dia pakannya
lebih banyak. Telurnya itu ya sama aja
kalau dihitung secara matematika
pakannya lebih banyak tapi telurnya cuma
satu. lebih menguntungkan yang makannya
dikit tapi tetap bertelur. Selain itu
untuk ditetaskan yang jenis besar itu
agak susah, Mas persentasenya. Saya tuh
pernah juga agak kesulitan dia tetes itu
cuma 60%. Kalau sekarang punya saya kan
70 sampai 80% gitu. Dari situ kan sudah
beda. Kalau saya selama ini sih
alhamdulillah paling kematian wajarlah 1
du selama 1 bulan. Itu pun karena faktor
usia mungkin juga sama cuaca mungkin
ekstrem cuaca itu mempengaruh juga.
Kalau pas badai terus cuaca diingin itu
bebek kan harus punya nutrisi dipakan
lebih daripada biasanya makan kita
akali. Kalau lihat-lihat lebih dingin
cuacanya kita tambahi pakannya kayak
gitu kita tambahi vitamin. Terus sebulan
sekali kita sempret kandang. Bebek itu
dia punya habit dia kalau habis makan
minum. dari habis minum dia tuh habitnya
apa? Keluar kotoran. Dari situ kan
biasanya banyak penyakit tu dari situ.
Makanya saya setting di tempatnya minum
itu ada kayak kolam kecil buat ngaliri.
Jadi bebek bis mengeluarkan kotoran di
situ. Saya tiap hari itu saya sirami itu
kayak gitu. Terus sebulan sekali minimal
dua kali lah disemprot kandang
desinfektan sama M4 itu juga
meminimalisir bau. Kalau awal masuk kita
vaksin sudah suntek. Ya, mungkin cuma
itu kalau spesialis treatmentnya. Yang
lainnya sih standarstandar
operasionalnya manajemen kandang.
Dipakan pagi hari, terus dibersihkan
minumannya, dipakan lagi sore hari,
telur diambil di pagi hari. Mungkin itu.
Saya tuh selalu bilang ke teman-teman
yang masih muda, beternak itu masih
menjanjikan. Kalau kita tahu ilmunya,
kalau kita bisa mengukur resikonya,
kalau bisa diminimalisir lah resikonya
gitu, itu masih menguntungkan. Dan kalau
dihitung-hitung masih cukup lumayan,
Mas, menguntungkannya. Orang-orang sih
kayaknya sekarang penginnya di kantor di
AC enggak mau kena bau telek.
[Musik]
Kalau tantangannya itu lumayan banyak,
Mas. Usaha saya kan unitnya sudah
macam-macam. Kalau di unit bebeknya
sendiri itu yang pertama emang pakan itu
paling berpengaruh. Kalau ternak kan
kuncinya cuma dua biasanya orang-orang
walaupun semuanya kan penting. Yang
pertama di pakan produksi, yang kedua
pemasaran. Nah, karena pakan ini sudah
80% sendiri, Mas, dari omset loh. Terus
untuk
penetasan kita masalahnya kan kita
mesinnya otomatis terus spesifikasi
besar. Jadi, kalau ada rusak itu bisa
kena semua. Jadi kapasitas 5.000 sampai
6.000 tadi kalau ada mesin rusak, rusak
semua yang di dalam, Mas. Kayak gitu
resikonya. Dari predator juga ada. Itu
pernah Mas saya itu di satu hari
dimasuki garangan yang anakan tadi itu
100 ekor lebih gak dimakan cuma di
krauk-krauk kepalanya itu loh mati-mati
semua berceceran. Kemudian untuk masalah
penetasan kita pengawasannya agak ekstra
Mas. Saya kasih tanda itu lampu
indikator mesin itu keadaan gimana terus
kemudian ada alarm. Kalau dia melebihi
batas suhu tertentu, dia bakal nyala.
Soalnya hubungannya rat sama suhu kalau
penetasan itu. Terus untuk yang lainnya
itu kalau pedaging misal umur 1 sampai 7
hari kita ada bok khusus yang terkunci
rapat itu aman. Kalau dari predator
insyaallah sudah gak bisa masuk. Kita
awasi setiap hari lah kita cek pakannya
kayak apa. Dari kesehatan bebek kan
kelihatan Mas dari bentuknya dia rontok
bulu terus stres dia suaranya itu ada
ciri-cirinya tertentu. Kalau yang sehat
itu bulunya tumbuh lebat kemudian bersih
biasanya. Terus dari aktivitasnya yaitu
lari-lari supaya orang bahagia. Kalau
kita kan juga erat hubungannya untuk
penetasan. Kalau orang hamil stres itu
kan bahaya juga karena di kandungannya
sama itu bebek juga jadinya kan
keluarnya telurnya kecil kalau dia
stres. Makanya gak bakal layak tetes itu
kalau telurnya sudah kecil.
Kalau telur asin Mas itu buahnya
bagaimana? Marketingnya kayak apa? Dulu
awal itu saya buka jualan di pinggir
jalan. Jadi saya tiap hari bawa telur
saya gelar di pinggir jalan. Saya kasih
banner telur asin Rp2.000. Itu R2.000
cuma buat mancing sebenarnya yang kecil.
Akhirnya dari situ mulai dapat
pelanggan. Tapi yo tetap namanya usaha
pertama ya gak langsung lancar, Mas.
Jadi waktu dulu itu kayak nekad di awal
bawa 300 itu ya habis. Kalau saya di 1
minggu saya tetapkan 1 minggu walaupun
tahan bisa sampai 2 minggu. Jadi 1
minggu harus habis. Saya setting 1
minggu habis kan gak sampai habis tuh
biasanya saya kasih ke panti kalau dulu
tuh gitu tapi lebih banyak ke pantinya
waktu awal-awal itu ke panti ke masjid
bawa pulang yang paling cuma berapa ya
R30.000 50 awal-awal itu kayak gitu tapi
ya lama-kelamaan alhamdulillah lancar
dapat pelanggan terus kita ganti
metodenya dari yang saya jualan sendiri
di pinggir jalan, saya nyari agen. Nyari
agen tuh yang saya cari yang lokasinya
strategis paling gak ada Indomaret di
dekatnya Indomaret atau Alamart kayak
gitu. Terus saya kasih tiap minggu
sistem konsinya sih 500 sampai ya
seadanya subnya itu terus-terusan setiap
senin kita naruh sama ngambil naruh
ngambil ya alhamdulillah sekarang malah
nyettingnya bukan sisanya lagi. Itu dulu
sempat dimarah Bu ngasih orang kok sisa
akhirnya saya setting saya ganti. Jadi
waktu habis ngukus itu kita sisihkan
buat yang disumbangkan beda sudah kalau
hari ini sekitar 1.00 sampai 2.000 per
minggu itu kita ngambil dari luar juga
kulaan gak nyukup Mas kan kita bukan
asli bebek
[Musik]
petelur kalau dihitung-hitung Mas ya
saya lihatnya dari orang tua. Saya
enggak punya detalnya cuma lihat dari
orang tua. Bebek petelur itu benar
menguntungkan. Tapi kalau secara angka
lebih menguntungkan tuh di penetasan,
Mas. Kalau dihitung HP-nya anggap aja ya
2.000 per telur. Kalau di hibrida
mungkin bisa 3.000 soalnya kan ada
pejantan yang harus dihitung pakanya.
Anggap aja 3.000. Setelah ditetaskan
dengan persentase 70 sampai 80% itu
anggap aja 3.000 jadi 8.000. Sudah
berapa, Mas? Sekalian naiknya
kelipatannya dengan resiko yang bisa
diminimalisir. Kemudian beban dari
penetasan kan cuma listrik, Mas. Dengan
kapasitas Rp20.000 Saya habis listrik 1
bulan cuma Rp1 juta. Jadi ya itu kalau
dihitung-hitung tetap menguntungkan
penetasan tapi gak bisa digenjot full.
Kenapa hibrida? Karena ya itu tadi Mas
dia mudah bertelur daripada yang pekeng
Mas. Pekeng itu susah Mas pertelurnya
50% itu sudah bagus. Terus kemudian dari
sisi ekonomis dari pakan tadi juga lebih
efisien. Pakannya sedikit telurnya
banyak. Makanya saya pilih yang hibrid.
Kalau untuk pemula itu lebih baik ke
pedaging dulu karena kita bisa lihat, oh
cara makan bebek itu kayak gimana. Kalau
jumlahnya kita ambil yang minimal dulu.
Saya selalu sarankan ke pemula itu ambil
paling enggak 100 dulu kan. Yes. Upah
belajarlah kalau ada rugi gak terlalu
dalam. Karena kalau udah langsung get
ambil 1500 itu nanti pakannya sudah
enggak pakan bebek lagi Mas. BPKB surat
tanah sudah kayak gitu. Iya. Makanya
saya sarankan kalau pemula mulai dari
yang kecil dulu sambil diamati model
bebek itu kayak gimana, terus cara
pakannya yang bagus kayak gimana,
ikut-ikut komunitas, terus scale up ilmu
skill itu wajib, gak usah terburu-buru,
dinikmati aja
prosesnya. Kalau bebek itu kan dia makan
pagi anggapnya jam 0.00 bisa dipakan,
pulang kerja sore jam .00 dipakan lagi.
Sudah cuma gitu doang siklusnya kayak
gitu. Kalau untuk misal bersihkan atau
nata kandang mungkin ada istri di rumah
atau saudara itu bisa ngendele. Gak
terlalu besarlah kalau kerjaannya untuk
bebek cuma ya modalnya yang lumayan.
Kalau untuk pedaging itu saya ngitungnya
per ekornya harus siap Rp30.000, Mas.
dari netas sampai dia jual pedaging.
Jadi kalau misal 100 harus siap dana Rp3
juta 40 sampai 45 hari itu Mas panen.
Soalnya kalau sudah dari 45 hari BB itu
cuma makan jadi kotoran gak jadi daging.
Kecillah persentase yang dia jadikan
daging itu dari pakan malah eman-eman.
Makanya tadi harus punya penjual bakul
yang siap ngambil. Jadi di model kayak
rutinan tiap minggu 100, tiap minggu 100
itu bisa kalau sudah mulai ngertilah.
siklusnya itu ya lumayan. Jadi kalau
pengin pendapatannya tiap minggu kan
bisa Mas di-setting kayak gitu. Kalau
cuma momen-momen tertentu kan nanti ya
malah uangnya tuh hilang buat belanja
hidup takutnya malah malah gak kebeli
lagi bebeknya. Kalau saya itu punya
impian. Jadi semua kita kuasai dari hulu
sampai ilir. Dari pakannya kita mungkin
bikin sendiri. Kalau sekarang kan belum.
Terus untuk dari hasil produksi dari
mulai telur ke DOD. dari DOD ke
pedaging. Dari pedaging mungkin kita
bisa ke karkas atau frozen. Dari situ
kemudian bisa lagi langsung ke n
konsumen dalam arti kita buka warung
atau apa. Rencananya sih kayak gitu
cuman saya tetap kasih waktu per unit
usaha itu 5 tahun. Jadi kalau sudah
nanti telur 5 tahun saya nambah lagi
unit usaha apa gitu. Insyaallah ya
semoga aja bisa tercapai. Untuk jadi
peternak itu emang kalau sebagian orang
dipandang sebelah mata. Tapi kalau kita
bekerja mendetail, kita teliti, kita
disiplin, insyaallah bakal
menguntungkan. Saya adik owner dari
Adigatra Sentosa dari Desa Sukorejo,
Kecamatan Karangrejo. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.