Jualan Sambal 1 Jam 250 Porsi Habis, Omzet Bisa Buat Naik Haji Keluarga
THfPFHEJpm8 • 2025-04-21
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Kalau saya pas beratnya tuh di mental,
Mas. Kalau pas penjalan turun banget itu
pah mentalnya kena, Mas. Itu beneran.
Dan tapi selalu disemangatin sama Mas
Putra. Pasti naik lagi. Pasti naik lagi.
Wis ndak usah mikir sing negatif-negatif
gitu. Kan badai pasti berlalu ya, Mas.
[Musik]
Tujuan kita buat bisnis itu mau ke arah
mana? Mau jangka panjang atau jangka
pendek? Ini termasuk golongan red zone
atau blue zone. Cocok enggak sama market
yang bakal kita targetin?
[Musik]
Perkenalkan nama saya Ismail Putraana.
Saya berasal dari Blitar. Saya punya
usaha FNB yaitu warung sederhana lah.
Itu warung sego sambel. Sementara ini
ada tiga cabang yaitu di Tulungagung
satu, Mitar satu sama Kediri satu. Ini
tunangan saya namanya Mbak Narita Adil
Ganti. Ini berasal dari Tulungagung
tepatnya di Ngantru. ini yang menemani
saya mulai dari nol bangun bisnis ini.
Ketemu lewat Instagram waktu zaman COVID
itu loh, Mas. Kan sosmet kencang banget
itu. Heeh. Dan sekarang ya cocoknya di
media sosial buat bisnis juga. Setelah
corona itu bikin produk sambal kemasan.
Terus dulu kan sistem produknya kan PO
ya, Mas. Pas PO itu kan ya kebanyakan ya
rata-rata teman-teman, tetangga-tetangga
gitu. Dan di situ ya juga kurang dalam
marketing digitalnya kurang ya. pertama
itu 30 pie sampai 50 pie pernah terus
lambat laut cuma tinggal 5 pie du pie
gitu saya ini kan enggak prospek loh Mas
dalam segi tenaga dalam semuanya
akhirnya ya banting setir ke e bisnis
kuliner warung sederhana gitu ide awal
itu dari saya ya bareng-bareng sih
sebenarnya ini ee Mbak Dila ini membantu
saya buat tahu apa sih ee ke depannya
kayak gimana. Kalau dulu itu saya kan
juga sering kulineran ya, Mas. Sering
coba-coba kuliner di Malang, di Gresik,
di Solo itu saya lihat kebanyakan kok
yang paling kencang itu kuliner
tradisional ya. Entah itu bakso,
pedesan, sayur lodeh kayak gitu. Terus
ada juga sambal ya. Saya tertarik sama
sambal. Sebelumnya kan saya jualan
sambal botolan tepatnya di Tulungagung
itu kok belum ada ya model sambal
kemasan itu kan banyak toping-topingnya
ya, Mas. ada yang cumi, ayam suwir, sama
tongkol mungkin ya, tuna itu belum ada
yang dibikin warung. Akhirnya itu
produknya itu saya bikin warung dengan
varian yang banyak biar orang-orang pada
bingung. Kalau bingung kan ya pasti
mereka ya agak lama ya otaknya juga
terdoktrin searang enggak langsung ya
malih ya kepikiran teruslah kalau ingat
sambal ingat Mbok Delah.
[Musik]
Mbok Dela itu namanya Mbak Dila. Iya ya.
Plesetan. Plesetan lah. Saya kan soalnya
nganu tipikale enggak mau ribet, enggak
perlu yang kayak gimana-gimana soal nama
Wis yang ada aja Dilah Delah penak
panggilannya gitu. Terus ditambahin mbok
itu biar terkesan kayak tradisional
banget gitu. Mbok. Heeh. Kalau saya
bagian di produksinya misal kayak dari
jam 5.00 pagi itu saya sudah belanja ke
pasar ngestok ngestok barang terus bikin
sambal originalnya gitu. Itu dari saya
ya. Tiap hari ya bangun jam 5.00 pagi
Mas. Biasanya sehari itu dua kali PP Mas
buat ke pasar aja kan naik motor ya.
Kita masih tradisional sehari itu kalau
beras 50 kilo untuk dua warung. Terus
kalau cabe itu per hari 10 kilo lebih
bisa tergantung pas hari itu hari apa.
Kalau misal 1 minggu itu kan pasti agak
banyak itu bisa 10 kilo lebih per hari.
Terus kayak daging ayam, sapi, seafood
itu sehari itu banyak banget, Mas.
Sampai dua kali PP, tiga kali PP per
hari itu bisa 3 sampai empat per hari.
Paling banyak itu pernah lima pas waktu
cabe mahal gitu. Wah i parah. Yang saya
preparekan untuk bisnis ini apa, Mas?
Investasi ke otak, Mas. Sama ya ada uang
dulu itu R juta, Mas awal. Tapi yang
paling banyak itu invest di otak.
Sebelumnya saya juga gimana ya, Mas,
kayak treatment gimana kita ambil
market, kita menguasai leader market di
sebuah kota. Untuk saat ini saya fokus
di Tulungagung dulu supaya marketnya
bisa kita jadi leader market itu gimana?
Ya, sebelumnya ya saya menerapkan itu
bukan cari target market bukan Mas, tapi
target behavior marketnya itu. Dapat
ilmu itu dari mana? Dari YouTube, TikTok
sama artikel di website itu banyak, Mas.
Sebenarnya kalau mau baca tapi biasanya
teman-teman e UMKM itu jarang membaca
hal tersebut. Padahal itu penting
banget, Mas. Bukan cuma modal uang aja
itu kurang cukup, Mas. Untuk sekarang
SMK itu jualan teh tarik dulu saya
titipkan ke kantin-kantin itu dulu
handle dua sekolah Mas dulu MAN Kota
Blitar sama SMK Kademangan tapi itu cuma
bertahan 3 bulan setelah 3 bulan ada
corona jadi enggak bisa jalan sekolah
semua tutup akhirnya ya diam dulu saya
kalau usaha itu dari SMP pertama kali
online shop itu loh Mas dulu kan di
Tulungagung belum banyak yang bikin
online shop by Instagram dulu belum ada
kayak Shopee, TikTok belum ada. Baik,
Instagram terus jualan, jualan jualan.
Nah, untungnya itu dulu kan waktu zaman
kecil tuh enggak ngerti nabung ya, Mas.
Buat jajan terus gitu. Jadi kerja itu
buat jajan terus. Terus dulu juga pernah
buka kayak outlet di pasar malam, bazar
gitu juga pernah. Yang dijual kalau yang
di bazar itu kayak sosis bakar, makanan
snack-snack gitu loh, Mas. Kalau warung
sederhana itu saya melihat marketnya
dulu ya, Mas. Kalau Tulung Agung ini
cenderung penginnya yang biasa-biasa
aja. Kalau kesannya mewah dan perspektif
orang itu takut kemahalan. Wah, belum
mencoba itu sudah bilang, "Wah, ini
pasti mahal gitu." Makanya kita konsep
sederhana aja. Dan itu hasil riset saya
dari kulineran ke sampai Solo itu
rata-rata warung yang bisa susten lama
itu biasanya yang sederhana. Toh itu
juga modalnya kecil, Mas. Enggak perlu
banyak-banyak. Nah, saya memaksimalkan
modal kecil
[Musik]
itu. Kalau riset itu untuk Tulungagung
ya, Mas. Saya lihat kayak UMR dulu. UMR
rata-rata sini berapa sih? R juta. R
juta itu termasuknya itu rendah
dibanding kuota-kota besar lain. Jadi
kita menyesuaikan budgeting buat
nghargain tersebut gimana supaya itu
bisa murah dan porsinya banyak dan bisa
dinikmati warga Tulungagung. Selain itu
saya juga melihat riset perilaku ee atau
karakter orang Tulungagung juga. Warga
Tulungagung itu cenderung market FOMO,
Mas ya. Jadi saya membuat traffic di
awal pas momentum yang tepat. Di saat
itu momentumnya puasa. Puasa itu banyak
kerumunan. Di situ saya melihat wah ini
potensi ini. Terus akhirnya di situ saya
menjadi melek digital marketing. Saya
sempat pet promote juga di food vlogger
setempat. Dan saya juga buat akun
official di TikTok, Instagram, dan
Facebook juga buat ngebus supaya orang
banyak yang tahu kalau di sini ada loh
sego sambal dengan konsep baru dengan ee
model-model sambalnya itu terbaru
daripada yang lain. Enggak sama.
Sebenarnya ini juga beresiko, Mas.
Sambal. Sambal itu kan dalam segi bisnis
kan e red zone ya, Mas. Sudah banyak
kompetitornya. Terus di situ saya mikir,
ini gimana sih biar ada space dari
kompetitor sama saya itu ada space
supaya saya menjadi pembeda biar
menonjol gitu. Setelah itu saya ya
langsung mikir itu ada sambal botolan
yang dulu pernah saya buat ini e potensi
ini akhirnya saya masukin elemen
warung-warung itu sederhana lah. Jadi
orang pun di situ tinggal tunjuk mau
yang mana langsung kita ambilin. Jadi
enggak model buku menu, enggak. Kalau
yang lain kan buku menu. Jadi mereka
disediakan cuma visual menu aja,
tulisan. Terus saya sediakan visual yang
real kayak sambalnya saya jejerin semua.
Jadi mereka lihat visualnya itu, wah
sambalnya banyak terus model-modelnya
kayak gini. Langsung tunjuk sambal kita
buatin. Tujuan kita buat bisnis itu mau
ke arah mana? Mau jangka panjang atau
jangka pendek. Yang dua itu kita lihat
ini termasuk golongan red zone atau blue
zone. Yang ketiga, cocok enggak sama
market yang bakal kita targetin? Yang
keempat, konsep desain warung yang ya
kita samakan dengan model harus punya
kekasan untuk pembeda. Dulu kan buka
bisnis ini setelah 2 tahun kenalan. Jadi
dalam 2 tahun itu tak lihat-lihat kok
Mas Putra ini giat banget bekerja terus
pintar juga. Maksudnya pintar itu dari
segi bisnis dia itu bisa ada nilai
plusnya. Terus dia juga rajin kayak
scrolling-srolling artikel tentang
bisnis dan lain-lain. Mulai dari situ
saya juga jadi ikut e belajar tentang
bisnis sama Mas Putra. Nah, terus habis
waktunya itu habis aku KKN. Habis KKN
kan gak kerja sama sekali kan, Mas.
Terus sepakat sama Mas Putra, "Yuk bikin
usaha apa yang di Tulungagung belum ada
gitu." Jadinya ya tadi Mas Putra bagian
yang riset, saya bagian yang lihat-lihat
sekitar Tulungagung ada apa aja yang
belum ada. Terus oke kita putuskan bikin
usaha ini. Gitu. Dari situ awalnya yakin
kalau kita berdua bisa bikin usaha
ini. Kalau untuk bertahan itu kuliner
kayaknya agak susah ya, Mas. Itu
biasanya mentok-mentok itu 6 tahun, 10
tahun sudah agak penurunan review ya.
penurunan omset. Jadi kita harus belajar
ngembangin bisnis yang lain juga buat
backup semisal warung ini ada penurunan
penjualan gitu. Caranya gimana kita ee
bikin bisnis yang masih relevan dengan
FNB yang masih ada sangkut pautnya,
masih ada kaitannya. Di sini kan kita
menekankan di branding ya, Mas. Sekarang
kita bukan menjual produk, tapi menjual
historis, menjual suasana, menjual
atmosfer di dalam warung itu. Makanya
itu kan di model sederhana dan tempat
duduknya pun di trotoar, Mas. Sederhana
banget di trotoar. Kalau hujan pun pasti
kehujanan. Dulu sempat pas musim hujan
ini pernah makan di trotor kehujanan
basah sambal itu sampai banyak airnya.
Tapi di situ saya tidak memikirkan hal
negatifnya. Itu kan termasuk negatif ya,
Mas. problem itu. Tapi diu saya
memikirkan hal positifnya. Mereka punya
experience di saat mereka makan
tiba-tiba hujan. Di saat itu malah jadi
cerita. Secara enggak langsung dia itu
ee mendoktrin otaknya kalau ingat hujan
pasti ingat kita. Lajurnya ke itu kita
menjual historis, menjual suasana lah.
Itu yang saya tekankan market behavior.
Saya mendahulukan ee riset dulu. Pertama
riset terus lanjut ke marketing.
Marketingnya bagian dari riset ya. Jadi
kita push cek market sama desain website
kita supaya menarik konten video yang
menarik itu pelajari semua gimana kita
mengkamankan produk kita biar orang pada
tahu. Yang kedua itu cara kita selling.
Selling itu mempermudah orang membeli
transaksinya mudah itu gimana? Kita
pakai Grab, kita pakai jasa do. Kalau
ditulangkan zendo, itu masuknya ke
selling. Kalau untuk saat ini harganya
tuh mulai dari 11 sampai Rp15.000. Kalau
dulu itu all varian Rp9.000 sudah sama
nasi, lalapan keremes. Itu untung rugi.
Rugi awal buka. Iya, awal buka itu 2
sampai 3 bulan kita rugi terus, Mas.
Walaupun omset naik tapi dihitung-hitung
ternyata rugi. Los hari rugi berapa?
rugi 200 sampai 300 per hari. Nah, itu
gara-gara apa? Gara-gara manajemen
penjualan kita salah. Harganya itu semua
varian kan bahan bakunya kan beda-beda
ya, Mas, harganya. Nah, itu tak jual
sama semua Rp9.000 semua. Itu yang satu.
Yang kedua dulu itu boleh beli sambalnya
aja dan laba dari sambal aja itu sedikit
banget bisa dibilang pres. Nah, itu dari
situ kita udah rugi. Tapi positifnya
dari situ kita bisa promosi secara
tradisional dari oh di sana harganya
murah gitu, harganya murah, porsinya
banyak gitu. Jadi menimbulkan kerumunan
pada saat itu. Murah, murah terkenal
murah di situ. Waktu ketahuan itu rugi
kita berdua itu kena, Mas. Mentalnya
kena banget udah capek, rugi. Nah, terus
akhirnya kita diskusi bareng-bareng ini
apa yang menyebabkan rugi. Terus kita
cari tahu, kita cari tahu ternyata dari
harga dan dari manajemen tadi. Terus
kita berpikir gimana kalau dinaikkan
tapi dengan kualitas yang naik juga.
Dulu kan sambalnya cuma di wadah plastik
gitu toh, Mas. Nah, sekarang sudah di
kap di tempat kap gitu. Jadi, ee
kelihatannya kalau harga naik itu enggak
kelihatan mahal gitu caranya. Pada waktu
itu naik dulu Rp10.000 terus ditaruh di
cup gitu. Jadi, dari packaging juga
bagus, harganya juga naik. Tapi itu
untung pada saat itu.
Pada waktu cabe-cabe yang itu fluktuatif
banget. Sehari bisa ganti berapa kali
harga. Nah, itu caranya saya pas waktu
harga murah itu saya belinya agak banyak
terus diproses sekalian. Jadi kan matang
kan, Mas. Biasanya biasanya itu saya
taruh freezer pas adonannya setengah
matang. Nah, tapi itu nanti nak
mempengaruhi kualitas soalnya kan masih
setengah matang kalau mau dimasak lagi
itu enggak sampai gosong. Cara
miasatinnya gitu. Kalau pas waktu harga
cabe mahal, tapi kalau akhir-akhir ini
kan mahal terus. Mahal terus enggak ada
harganya murah. Nah, itu ya udah enggak
apa-apa beli aja cabe sesuai porsinya.
Jadi enggak nandu gitu loh, Mas. Sesuai
porsinya. Tapi nanti yang misal yang
dikurangin dari belanja toppingnya
biasanya 2 hari sekali jadi 1 hari
sekali aja lah ng besok jadi setiap hari
belanja gitu enggak nyetok enggak nyetok
i itu buat mempermainkan ee cash flow
cash flow kita biar stabil terus
nyasetnya kayak gitu kalau dulu itu 1
jam seteng
250 porsi habis 1 jam seteng iya i rekor
itu rekor cuma dua orang dulu sempat pas
itu kan saya pet promot Ya, sebelum buka
itu softing kita P promo. He. Terus saya
yo mikirnya gini, paling yo cuma berapa
orang sih yang makan. Terus sama tamu
undangan cuma ngundang orang 10 dulu. Ee
tiba-tiba pas buka loh grudukan Mas.
Waduh. Di situ saya keteteran enggak ada
istirahatnya sama sekali. Jadi
istirahatnya itu setelah itu habis. Kam
perputaran uangnya berapa, Mas? Kalau
itu ya cukuplah buat naik haji, Mas, ya.
Oh, iya. Heeh. Cukuplah buat naik haji
buat ee keluarga. Kak tak jualan aja.
Kalau yang buka dulu itu Mbok Dela. Mbok
Dela itu buat kita cek market apakah
sambal kita itu bisa diterima oleh
masyarakat. Setelah itu kok e banyak
yang suka akhirnya kita bikin outlet
lagi. Tapi kita bikinin buat ibu saya di
Mit. Tapi untuk manajemen masih e kita
berdua yang handle. He. Terus kita
setelah buka di litar terus kita buka
lagi di Kediri. itu buat mertua eh camer
ya buat calon mertua gitu di Kediri.
Dan setiap cabang itu itu beda nama Mas.
Kalau di sini Mbok Delah litar nyaksun
kalau di Kediri Mbok Darti. Mbok Delah
itu kita digaji Mas uang warung itu ada
kas warung. Nah nanti kita ambil gaji
itu cuma Rp1 juta per bulan. Kalau
ngambil uang warung terus dipakai buat
sehari-hari itu pasti enggak bakal
berkembang. Soalnya nanti warung itu
pasti membutuhkan kas untuk renov lah,
beli alat, beli ini itu gitu. Jadi kalau
uang warungnya dipakai buat sehari-hari
ya gak bisa berkembang. R juta ya
cukup-cukupin Mas. Kan saya kan masih
disatu sama orang tua ya kan Mas. Atau
saya juga kalau lapar pasti ke warung
Mas. Makan di warung juga.
[Musik]
Selain itu, kalau ee Mbok Dila ini sudah
enggak berjalan, kita juga ada varian
sambal kemasan, Mas, untuk memperluas
market, Mas. Kalau market kita cuma di
sini-sini aja kayaknya itu kurang
berkembang ya, Mas. Jadi, kita
memperluas market dengan adanya sambal
kemasan, kita desain kalengan. Jadi itu
awet sampai 7 hari lah kalau disuruh
uang. Kalau di kulkas bisa sampai
berbulan-bulan gitu. Soal capek yo, Mas.
Lek capeknya tergantung kita, Mas. Kalau
aku yang penting enjoy ya. Saya anggap
itu hal romantis lah. Kita mendalami itu
romantis. Kita tahu dari membeli di
pasar, kita produksi, kita jualan. Kalau
dulu saya kan PP, Mas. Dari Blitar ke
Tulungagung setiap hari, Mas. Itu e
perjalanan hampir 1 jam, Mas dari rumah
saya. Jadi itu eh saya rasa ada
experience baru buat saya. Ada
perjalanan, proses perjalanan, proses di
mana kita prepare di warung kayak gitu.
Kalau saya pas beratnya tuh di mental,
Mas. Kalau pas penjalan turun banget itu
pah mentalnya kena, Mas. Itu beneran.
Dan tapi selalu disemangatin sama Mas
Putra. Pasti naik lagi. Pasti naik lagi.
Wis ndak usah mikir sing negatif-negatif
gitu. Kan badai pasti berlalu ya, Mas.
Heeh. dari kacamatanya Mas Putra. Apa
yang menarik dari Mbak dia? Dia kayak
bekerja keras lah, Mas. Kalau cantik itu
ee relatif ya, Mas. Kalau menurut saya
ya biasa-biasa
aja. Memang, Mas. Dari dulu saya itu
enggak mandang soal wajah harus cantik,
harus gimana. Saya enggak pernah mandang
itu. Yang penting hatinya dulu itu bisa
menemani kita sampai tua. Kalau masa
cantik kan bisa toh pakai apa? Skinc itu
ya. Sekarang namanya skinc sama bedak.
Bedak apa itu? Tabur apa? Ak
tabur sudah cantik kayak gitu. Untuk
karyawan kita saat ini total 22 Mas. Itu
di Kediri, Tulungagung sama Mitar sama
dapur juga. Dan itu untuk dapur itu kan
karyawan inti ya, Mas. Kalau dapur itu.
Jadi kita itu cari teman ya, kita
bilangin teman. Teman dapur itu yang
sudah profesional. Ini semua itu
profesional semua Mas. Itu ee pengalaman
semua udah kisaran 20 tahun semua. Itu
semua X kateringan ya, Mas. Jadi untuk
kualitas barang pasti terjaga. Mas,
jenengan usia 24 tahun, 22 tahun,
sedangkan pegawai jenengan pengalaman
kerjanya di usia 20 tahun lebih. Artinya
kan usianya lebih dari 40 sampai 50-an.
Iya. Ikon, Mas. Nah, gitu. Kayak tadi
pagi saya kan ke sini ya biasa
sharing-sharing, ngobrol-ngobrol kayak
ala mak-mak gitu ya, Mas. Saya kan juga
sebelumnya suka bergol sama orang yang
lebih dewasa daripada saya. Jadi saya
tahu bagaimana sih cara ng-treat mak-mak
ini biar have fun, enjoy. Kalau saya
suruh itu biar sama-sama fan, enggak ada
kesenjangan umur gitu. Jadi semua saya
katakan ee ratalah tapi ada etika juga
yang paling saya pegang itu. Terus untuk
kalau saya suruh itu kan pasti saya ajak
guyonan dulu Mas buat mereka ya
setengahnya kayak ada hiburan. Terus
kalau hiburan dia senang. Kalau disuruh,
"Mbak, tolong jebukno kae ya pasti
mereka enjoy-enjoy aja. Saya pun enak,
mereka pun juga enak." Tapi juga ada
etikanya tadi intonasi yang bagus, yang
sopan gitu. Kalau saya itu mending tetap
sederhana aja, Mas. sederhana kayak
gini. soalnya sudah ada historis warung
sederhana yang sudah tertempel di
mereka-mereka dan itu juga saya
persiapkan dari awal buka itu sudah saya
persiapkan ee ada saya kasih elemen buat
market tersebut ee apa psikologisnya
kita kasih elemen itu kayak dalam
antrian Mas dulu kan ya kalau petan kan
pasti FOMO ya Mas penasaran di saat itu
kan banyak kerumunan Mas orang yang lalu
lang di jalan pasti ya juga penasaran
wah iki kok opo iki Kok ruame pasti
kayak gitu. Jadi menimbulkan bola salju
[Musik]
juga. Ininya gini, Mas. Enggak mau komit
di satu bisnis saja. Soalnya satu bisnis
itu beresiko kalau itu mati ya kita juga
ikut mati, Mas. Enggak ada backupan.
Saya penginnya ya ke depannya bisnis ada
backup backup kemungkinan ya tiga atau
empat lah. Tapi yang ada relevannya
semua dari awal kita buka warung terus
pret ke mana sambil kemasan. Sambil
kemasan terus ada digital marketing juga
bisa promosikan FNB kita, warung kita,
produk kita. Digital marketing nanti
juga ada lagilah. Sudah ada sudah ada
blueprint-nya juga yang sudah kita kasih
denah-denah mau ke mana. Untuk usaha
kita harus ada semangat. ada tekad dan
harus PD percaya diri. Tapi semua itu
sebenarnya salah. Harusnya kita juga
harus mengikuti perkembangan marketing
yang sudah ada hari ini. Terus cepat
perkembangannya dari e 1.0, 2.0, 3.0
sampai 4.0. Kita harus mengikuti itu
semua. Saya Ismail Putrawiana dan
sebelah saya Narita Adela Ganti sebagai
owner se sambel Mbok Dela. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
[Musik]
[Tepuk tangan]
Ora angel to.
Angel angele mung ko netizane garek
piye?
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:25 UTC
Categories
Manage