Transcript
THfPFHEJpm8 • Jualan Sambal 1 Jam 250 Porsi Habis, Omzet Bisa Buat Naik Haji Keluarga
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0503_THfPFHEJpm8.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Kalau saya pas beratnya tuh di mental, Mas. Kalau pas penjalan turun banget itu pah mentalnya kena, Mas. Itu beneran. Dan tapi selalu disemangatin sama Mas Putra. Pasti naik lagi. Pasti naik lagi. Wis ndak usah mikir sing negatif-negatif gitu. Kan badai pasti berlalu ya, Mas. [Musik] Tujuan kita buat bisnis itu mau ke arah mana? Mau jangka panjang atau jangka pendek? Ini termasuk golongan red zone atau blue zone. Cocok enggak sama market yang bakal kita targetin? [Musik] Perkenalkan nama saya Ismail Putraana. Saya berasal dari Blitar. Saya punya usaha FNB yaitu warung sederhana lah. Itu warung sego sambel. Sementara ini ada tiga cabang yaitu di Tulungagung satu, Mitar satu sama Kediri satu. Ini tunangan saya namanya Mbak Narita Adil Ganti. Ini berasal dari Tulungagung tepatnya di Ngantru. ini yang menemani saya mulai dari nol bangun bisnis ini. Ketemu lewat Instagram waktu zaman COVID itu loh, Mas. Kan sosmet kencang banget itu. Heeh. Dan sekarang ya cocoknya di media sosial buat bisnis juga. Setelah corona itu bikin produk sambal kemasan. Terus dulu kan sistem produknya kan PO ya, Mas. Pas PO itu kan ya kebanyakan ya rata-rata teman-teman, tetangga-tetangga gitu. Dan di situ ya juga kurang dalam marketing digitalnya kurang ya. pertama itu 30 pie sampai 50 pie pernah terus lambat laut cuma tinggal 5 pie du pie gitu saya ini kan enggak prospek loh Mas dalam segi tenaga dalam semuanya akhirnya ya banting setir ke e bisnis kuliner warung sederhana gitu ide awal itu dari saya ya bareng-bareng sih sebenarnya ini ee Mbak Dila ini membantu saya buat tahu apa sih ee ke depannya kayak gimana. Kalau dulu itu saya kan juga sering kulineran ya, Mas. Sering coba-coba kuliner di Malang, di Gresik, di Solo itu saya lihat kebanyakan kok yang paling kencang itu kuliner tradisional ya. Entah itu bakso, pedesan, sayur lodeh kayak gitu. Terus ada juga sambal ya. Saya tertarik sama sambal. Sebelumnya kan saya jualan sambal botolan tepatnya di Tulungagung itu kok belum ada ya model sambal kemasan itu kan banyak toping-topingnya ya, Mas. ada yang cumi, ayam suwir, sama tongkol mungkin ya, tuna itu belum ada yang dibikin warung. Akhirnya itu produknya itu saya bikin warung dengan varian yang banyak biar orang-orang pada bingung. Kalau bingung kan ya pasti mereka ya agak lama ya otaknya juga terdoktrin searang enggak langsung ya malih ya kepikiran teruslah kalau ingat sambal ingat Mbok Delah. [Musik] Mbok Dela itu namanya Mbak Dila. Iya ya. Plesetan. Plesetan lah. Saya kan soalnya nganu tipikale enggak mau ribet, enggak perlu yang kayak gimana-gimana soal nama Wis yang ada aja Dilah Delah penak panggilannya gitu. Terus ditambahin mbok itu biar terkesan kayak tradisional banget gitu. Mbok. Heeh. Kalau saya bagian di produksinya misal kayak dari jam 5.00 pagi itu saya sudah belanja ke pasar ngestok ngestok barang terus bikin sambal originalnya gitu. Itu dari saya ya. Tiap hari ya bangun jam 5.00 pagi Mas. Biasanya sehari itu dua kali PP Mas buat ke pasar aja kan naik motor ya. Kita masih tradisional sehari itu kalau beras 50 kilo untuk dua warung. Terus kalau cabe itu per hari 10 kilo lebih bisa tergantung pas hari itu hari apa. Kalau misal 1 minggu itu kan pasti agak banyak itu bisa 10 kilo lebih per hari. Terus kayak daging ayam, sapi, seafood itu sehari itu banyak banget, Mas. Sampai dua kali PP, tiga kali PP per hari itu bisa 3 sampai empat per hari. Paling banyak itu pernah lima pas waktu cabe mahal gitu. Wah i parah. Yang saya preparekan untuk bisnis ini apa, Mas? Investasi ke otak, Mas. Sama ya ada uang dulu itu R juta, Mas awal. Tapi yang paling banyak itu invest di otak. Sebelumnya saya juga gimana ya, Mas, kayak treatment gimana kita ambil market, kita menguasai leader market di sebuah kota. Untuk saat ini saya fokus di Tulungagung dulu supaya marketnya bisa kita jadi leader market itu gimana? Ya, sebelumnya ya saya menerapkan itu bukan cari target market bukan Mas, tapi target behavior marketnya itu. Dapat ilmu itu dari mana? Dari YouTube, TikTok sama artikel di website itu banyak, Mas. Sebenarnya kalau mau baca tapi biasanya teman-teman e UMKM itu jarang membaca hal tersebut. Padahal itu penting banget, Mas. Bukan cuma modal uang aja itu kurang cukup, Mas. Untuk sekarang SMK itu jualan teh tarik dulu saya titipkan ke kantin-kantin itu dulu handle dua sekolah Mas dulu MAN Kota Blitar sama SMK Kademangan tapi itu cuma bertahan 3 bulan setelah 3 bulan ada corona jadi enggak bisa jalan sekolah semua tutup akhirnya ya diam dulu saya kalau usaha itu dari SMP pertama kali online shop itu loh Mas dulu kan di Tulungagung belum banyak yang bikin online shop by Instagram dulu belum ada kayak Shopee, TikTok belum ada. Baik, Instagram terus jualan, jualan jualan. Nah, untungnya itu dulu kan waktu zaman kecil tuh enggak ngerti nabung ya, Mas. Buat jajan terus gitu. Jadi kerja itu buat jajan terus. Terus dulu juga pernah buka kayak outlet di pasar malam, bazar gitu juga pernah. Yang dijual kalau yang di bazar itu kayak sosis bakar, makanan snack-snack gitu loh, Mas. Kalau warung sederhana itu saya melihat marketnya dulu ya, Mas. Kalau Tulung Agung ini cenderung penginnya yang biasa-biasa aja. Kalau kesannya mewah dan perspektif orang itu takut kemahalan. Wah, belum mencoba itu sudah bilang, "Wah, ini pasti mahal gitu." Makanya kita konsep sederhana aja. Dan itu hasil riset saya dari kulineran ke sampai Solo itu rata-rata warung yang bisa susten lama itu biasanya yang sederhana. Toh itu juga modalnya kecil, Mas. Enggak perlu banyak-banyak. Nah, saya memaksimalkan modal kecil [Musik] itu. Kalau riset itu untuk Tulungagung ya, Mas. Saya lihat kayak UMR dulu. UMR rata-rata sini berapa sih? R juta. R juta itu termasuknya itu rendah dibanding kuota-kota besar lain. Jadi kita menyesuaikan budgeting buat nghargain tersebut gimana supaya itu bisa murah dan porsinya banyak dan bisa dinikmati warga Tulungagung. Selain itu saya juga melihat riset perilaku ee atau karakter orang Tulungagung juga. Warga Tulungagung itu cenderung market FOMO, Mas ya. Jadi saya membuat traffic di awal pas momentum yang tepat. Di saat itu momentumnya puasa. Puasa itu banyak kerumunan. Di situ saya melihat wah ini potensi ini. Terus akhirnya di situ saya menjadi melek digital marketing. Saya sempat pet promote juga di food vlogger setempat. Dan saya juga buat akun official di TikTok, Instagram, dan Facebook juga buat ngebus supaya orang banyak yang tahu kalau di sini ada loh sego sambal dengan konsep baru dengan ee model-model sambalnya itu terbaru daripada yang lain. Enggak sama. Sebenarnya ini juga beresiko, Mas. Sambal. Sambal itu kan dalam segi bisnis kan e red zone ya, Mas. Sudah banyak kompetitornya. Terus di situ saya mikir, ini gimana sih biar ada space dari kompetitor sama saya itu ada space supaya saya menjadi pembeda biar menonjol gitu. Setelah itu saya ya langsung mikir itu ada sambal botolan yang dulu pernah saya buat ini e potensi ini akhirnya saya masukin elemen warung-warung itu sederhana lah. Jadi orang pun di situ tinggal tunjuk mau yang mana langsung kita ambilin. Jadi enggak model buku menu, enggak. Kalau yang lain kan buku menu. Jadi mereka disediakan cuma visual menu aja, tulisan. Terus saya sediakan visual yang real kayak sambalnya saya jejerin semua. Jadi mereka lihat visualnya itu, wah sambalnya banyak terus model-modelnya kayak gini. Langsung tunjuk sambal kita buatin. Tujuan kita buat bisnis itu mau ke arah mana? Mau jangka panjang atau jangka pendek. Yang dua itu kita lihat ini termasuk golongan red zone atau blue zone. Yang ketiga, cocok enggak sama market yang bakal kita targetin? Yang keempat, konsep desain warung yang ya kita samakan dengan model harus punya kekasan untuk pembeda. Dulu kan buka bisnis ini setelah 2 tahun kenalan. Jadi dalam 2 tahun itu tak lihat-lihat kok Mas Putra ini giat banget bekerja terus pintar juga. Maksudnya pintar itu dari segi bisnis dia itu bisa ada nilai plusnya. Terus dia juga rajin kayak scrolling-srolling artikel tentang bisnis dan lain-lain. Mulai dari situ saya juga jadi ikut e belajar tentang bisnis sama Mas Putra. Nah, terus habis waktunya itu habis aku KKN. Habis KKN kan gak kerja sama sekali kan, Mas. Terus sepakat sama Mas Putra, "Yuk bikin usaha apa yang di Tulungagung belum ada gitu." Jadinya ya tadi Mas Putra bagian yang riset, saya bagian yang lihat-lihat sekitar Tulungagung ada apa aja yang belum ada. Terus oke kita putuskan bikin usaha ini. Gitu. Dari situ awalnya yakin kalau kita berdua bisa bikin usaha ini. Kalau untuk bertahan itu kuliner kayaknya agak susah ya, Mas. Itu biasanya mentok-mentok itu 6 tahun, 10 tahun sudah agak penurunan review ya. penurunan omset. Jadi kita harus belajar ngembangin bisnis yang lain juga buat backup semisal warung ini ada penurunan penjualan gitu. Caranya gimana kita ee bikin bisnis yang masih relevan dengan FNB yang masih ada sangkut pautnya, masih ada kaitannya. Di sini kan kita menekankan di branding ya, Mas. Sekarang kita bukan menjual produk, tapi menjual historis, menjual suasana, menjual atmosfer di dalam warung itu. Makanya itu kan di model sederhana dan tempat duduknya pun di trotoar, Mas. Sederhana banget di trotoar. Kalau hujan pun pasti kehujanan. Dulu sempat pas musim hujan ini pernah makan di trotor kehujanan basah sambal itu sampai banyak airnya. Tapi di situ saya tidak memikirkan hal negatifnya. Itu kan termasuk negatif ya, Mas. problem itu. Tapi diu saya memikirkan hal positifnya. Mereka punya experience di saat mereka makan tiba-tiba hujan. Di saat itu malah jadi cerita. Secara enggak langsung dia itu ee mendoktrin otaknya kalau ingat hujan pasti ingat kita. Lajurnya ke itu kita menjual historis, menjual suasana lah. Itu yang saya tekankan market behavior. Saya mendahulukan ee riset dulu. Pertama riset terus lanjut ke marketing. Marketingnya bagian dari riset ya. Jadi kita push cek market sama desain website kita supaya menarik konten video yang menarik itu pelajari semua gimana kita mengkamankan produk kita biar orang pada tahu. Yang kedua itu cara kita selling. Selling itu mempermudah orang membeli transaksinya mudah itu gimana? Kita pakai Grab, kita pakai jasa do. Kalau ditulangkan zendo, itu masuknya ke selling. Kalau untuk saat ini harganya tuh mulai dari 11 sampai Rp15.000. Kalau dulu itu all varian Rp9.000 sudah sama nasi, lalapan keremes. Itu untung rugi. Rugi awal buka. Iya, awal buka itu 2 sampai 3 bulan kita rugi terus, Mas. Walaupun omset naik tapi dihitung-hitung ternyata rugi. Los hari rugi berapa? rugi 200 sampai 300 per hari. Nah, itu gara-gara apa? Gara-gara manajemen penjualan kita salah. Harganya itu semua varian kan bahan bakunya kan beda-beda ya, Mas, harganya. Nah, itu tak jual sama semua Rp9.000 semua. Itu yang satu. Yang kedua dulu itu boleh beli sambalnya aja dan laba dari sambal aja itu sedikit banget bisa dibilang pres. Nah, itu dari situ kita udah rugi. Tapi positifnya dari situ kita bisa promosi secara tradisional dari oh di sana harganya murah gitu, harganya murah, porsinya banyak gitu. Jadi menimbulkan kerumunan pada saat itu. Murah, murah terkenal murah di situ. Waktu ketahuan itu rugi kita berdua itu kena, Mas. Mentalnya kena banget udah capek, rugi. Nah, terus akhirnya kita diskusi bareng-bareng ini apa yang menyebabkan rugi. Terus kita cari tahu, kita cari tahu ternyata dari harga dan dari manajemen tadi. Terus kita berpikir gimana kalau dinaikkan tapi dengan kualitas yang naik juga. Dulu kan sambalnya cuma di wadah plastik gitu toh, Mas. Nah, sekarang sudah di kap di tempat kap gitu. Jadi, ee kelihatannya kalau harga naik itu enggak kelihatan mahal gitu caranya. Pada waktu itu naik dulu Rp10.000 terus ditaruh di cup gitu. Jadi, dari packaging juga bagus, harganya juga naik. Tapi itu untung pada saat itu. Pada waktu cabe-cabe yang itu fluktuatif banget. Sehari bisa ganti berapa kali harga. Nah, itu caranya saya pas waktu harga murah itu saya belinya agak banyak terus diproses sekalian. Jadi kan matang kan, Mas. Biasanya biasanya itu saya taruh freezer pas adonannya setengah matang. Nah, tapi itu nanti nak mempengaruhi kualitas soalnya kan masih setengah matang kalau mau dimasak lagi itu enggak sampai gosong. Cara miasatinnya gitu. Kalau pas waktu harga cabe mahal, tapi kalau akhir-akhir ini kan mahal terus. Mahal terus enggak ada harganya murah. Nah, itu ya udah enggak apa-apa beli aja cabe sesuai porsinya. Jadi enggak nandu gitu loh, Mas. Sesuai porsinya. Tapi nanti yang misal yang dikurangin dari belanja toppingnya biasanya 2 hari sekali jadi 1 hari sekali aja lah ng besok jadi setiap hari belanja gitu enggak nyetok enggak nyetok i itu buat mempermainkan ee cash flow cash flow kita biar stabil terus nyasetnya kayak gitu kalau dulu itu 1 jam seteng 250 porsi habis 1 jam seteng iya i rekor itu rekor cuma dua orang dulu sempat pas itu kan saya pet promot Ya, sebelum buka itu softing kita P promo. He. Terus saya yo mikirnya gini, paling yo cuma berapa orang sih yang makan. Terus sama tamu undangan cuma ngundang orang 10 dulu. Ee tiba-tiba pas buka loh grudukan Mas. Waduh. Di situ saya keteteran enggak ada istirahatnya sama sekali. Jadi istirahatnya itu setelah itu habis. Kam perputaran uangnya berapa, Mas? Kalau itu ya cukuplah buat naik haji, Mas, ya. Oh, iya. Heeh. Cukuplah buat naik haji buat ee keluarga. Kak tak jualan aja. Kalau yang buka dulu itu Mbok Dela. Mbok Dela itu buat kita cek market apakah sambal kita itu bisa diterima oleh masyarakat. Setelah itu kok e banyak yang suka akhirnya kita bikin outlet lagi. Tapi kita bikinin buat ibu saya di Mit. Tapi untuk manajemen masih e kita berdua yang handle. He. Terus kita setelah buka di litar terus kita buka lagi di Kediri. itu buat mertua eh camer ya buat calon mertua gitu di Kediri. Dan setiap cabang itu itu beda nama Mas. Kalau di sini Mbok Delah litar nyaksun kalau di Kediri Mbok Darti. Mbok Delah itu kita digaji Mas uang warung itu ada kas warung. Nah nanti kita ambil gaji itu cuma Rp1 juta per bulan. Kalau ngambil uang warung terus dipakai buat sehari-hari itu pasti enggak bakal berkembang. Soalnya nanti warung itu pasti membutuhkan kas untuk renov lah, beli alat, beli ini itu gitu. Jadi kalau uang warungnya dipakai buat sehari-hari ya gak bisa berkembang. R juta ya cukup-cukupin Mas. Kan saya kan masih disatu sama orang tua ya kan Mas. Atau saya juga kalau lapar pasti ke warung Mas. Makan di warung juga. [Musik] Selain itu, kalau ee Mbok Dila ini sudah enggak berjalan, kita juga ada varian sambal kemasan, Mas, untuk memperluas market, Mas. Kalau market kita cuma di sini-sini aja kayaknya itu kurang berkembang ya, Mas. Jadi, kita memperluas market dengan adanya sambal kemasan, kita desain kalengan. Jadi itu awet sampai 7 hari lah kalau disuruh uang. Kalau di kulkas bisa sampai berbulan-bulan gitu. Soal capek yo, Mas. Lek capeknya tergantung kita, Mas. Kalau aku yang penting enjoy ya. Saya anggap itu hal romantis lah. Kita mendalami itu romantis. Kita tahu dari membeli di pasar, kita produksi, kita jualan. Kalau dulu saya kan PP, Mas. Dari Blitar ke Tulungagung setiap hari, Mas. Itu e perjalanan hampir 1 jam, Mas dari rumah saya. Jadi itu eh saya rasa ada experience baru buat saya. Ada perjalanan, proses perjalanan, proses di mana kita prepare di warung kayak gitu. Kalau saya pas beratnya tuh di mental, Mas. Kalau pas penjalan turun banget itu pah mentalnya kena, Mas. Itu beneran. Dan tapi selalu disemangatin sama Mas Putra. Pasti naik lagi. Pasti naik lagi. Wis ndak usah mikir sing negatif-negatif gitu. Kan badai pasti berlalu ya, Mas. Heeh. dari kacamatanya Mas Putra. Apa yang menarik dari Mbak dia? Dia kayak bekerja keras lah, Mas. Kalau cantik itu ee relatif ya, Mas. Kalau menurut saya ya biasa-biasa aja. Memang, Mas. Dari dulu saya itu enggak mandang soal wajah harus cantik, harus gimana. Saya enggak pernah mandang itu. Yang penting hatinya dulu itu bisa menemani kita sampai tua. Kalau masa cantik kan bisa toh pakai apa? Skinc itu ya. Sekarang namanya skinc sama bedak. Bedak apa itu? Tabur apa? Ak tabur sudah cantik kayak gitu. Untuk karyawan kita saat ini total 22 Mas. Itu di Kediri, Tulungagung sama Mitar sama dapur juga. Dan itu untuk dapur itu kan karyawan inti ya, Mas. Kalau dapur itu. Jadi kita itu cari teman ya, kita bilangin teman. Teman dapur itu yang sudah profesional. Ini semua itu profesional semua Mas. Itu ee pengalaman semua udah kisaran 20 tahun semua. Itu semua X kateringan ya, Mas. Jadi untuk kualitas barang pasti terjaga. Mas, jenengan usia 24 tahun, 22 tahun, sedangkan pegawai jenengan pengalaman kerjanya di usia 20 tahun lebih. Artinya kan usianya lebih dari 40 sampai 50-an. Iya. Ikon, Mas. Nah, gitu. Kayak tadi pagi saya kan ke sini ya biasa sharing-sharing, ngobrol-ngobrol kayak ala mak-mak gitu ya, Mas. Saya kan juga sebelumnya suka bergol sama orang yang lebih dewasa daripada saya. Jadi saya tahu bagaimana sih cara ng-treat mak-mak ini biar have fun, enjoy. Kalau saya suruh itu biar sama-sama fan, enggak ada kesenjangan umur gitu. Jadi semua saya katakan ee ratalah tapi ada etika juga yang paling saya pegang itu. Terus untuk kalau saya suruh itu kan pasti saya ajak guyonan dulu Mas buat mereka ya setengahnya kayak ada hiburan. Terus kalau hiburan dia senang. Kalau disuruh, "Mbak, tolong jebukno kae ya pasti mereka enjoy-enjoy aja. Saya pun enak, mereka pun juga enak." Tapi juga ada etikanya tadi intonasi yang bagus, yang sopan gitu. Kalau saya itu mending tetap sederhana aja, Mas. sederhana kayak gini. soalnya sudah ada historis warung sederhana yang sudah tertempel di mereka-mereka dan itu juga saya persiapkan dari awal buka itu sudah saya persiapkan ee ada saya kasih elemen buat market tersebut ee apa psikologisnya kita kasih elemen itu kayak dalam antrian Mas dulu kan ya kalau petan kan pasti FOMO ya Mas penasaran di saat itu kan banyak kerumunan Mas orang yang lalu lang di jalan pasti ya juga penasaran wah iki kok opo iki Kok ruame pasti kayak gitu. Jadi menimbulkan bola salju [Musik] juga. Ininya gini, Mas. Enggak mau komit di satu bisnis saja. Soalnya satu bisnis itu beresiko kalau itu mati ya kita juga ikut mati, Mas. Enggak ada backupan. Saya penginnya ya ke depannya bisnis ada backup backup kemungkinan ya tiga atau empat lah. Tapi yang ada relevannya semua dari awal kita buka warung terus pret ke mana sambil kemasan. Sambil kemasan terus ada digital marketing juga bisa promosikan FNB kita, warung kita, produk kita. Digital marketing nanti juga ada lagilah. Sudah ada sudah ada blueprint-nya juga yang sudah kita kasih denah-denah mau ke mana. Untuk usaha kita harus ada semangat. ada tekad dan harus PD percaya diri. Tapi semua itu sebenarnya salah. Harusnya kita juga harus mengikuti perkembangan marketing yang sudah ada hari ini. Terus cepat perkembangannya dari e 1.0, 2.0, 3.0 sampai 4.0. Kita harus mengikuti itu semua. Saya Ismail Putrawiana dan sebelah saya Narita Adela Ganti sebagai owner se sambel Mbok Dela. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. [Musik] [Tepuk tangan] Ora angel to. Angel angele mung ko netizane garek piye? [Musik]