Riyadush Shalihin 2.97: Bab Adab: Akhlak Yang Mulia
w-YHaFYaLsE • 2026-02-01
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu ala taufikihin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridwih allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan hadirin dan hadirat dirahmati Allah subhanahu wa taala kita masuk pada kitab yang baru itu kitabul adab tentang adab ini tentang akhlak yang mulia ya al-adab ada yang mengatakan katakan yaitu ee apa yang menyuruh kepada perbuatan yang baik dan untuk meninggalkan perbuatan yang buruk itu namanya adab. Ada yang mengatakan al-adab diambil dari makdubah. Makdubah dalam bahasa Arab yaitu hidangan. Karena seakan-akan semua orang diserukan untuk mendatangi hidangan tersebut. Yaitu maksudnya adab adalah perkara yang semua orang diseruh kepadanya. Kalau suaminya kasih hadiah misalnya emas 10 gram, maka dia pun menangis. Ya, kenapa? Waduh, banyak sekali Abi ya. Malu nerimanya ya. Tapi kalau enggak punya malu kok cuma segini katanya kurang. Harusnya 100 gram ya. Jadi kalau istri pemalu itu sebenarnya menyenangkan suami ya. Kalau suaminya pulang, istrinya belum harum, malu atau tidak? Malu kalau enggak punya malu, lagi bawa ketek pun dia peluk apa? Suami. Tapi kalau istri pemalu, maka itu menyenangkan apa? Suami. Jadi ini sekedar sampel aja contoh bahwasanya kalau orang memiliki rasa malu akan mengantarkan kepada banyak perangai yang baik dan meninggalkan perangai yang buruk. Karenanya malu itu adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam dalam Islam. Di antaranya dalam hadis Rasul sahu wasallam bersabda, "Inna mimmaasu minamubtilahi fasna ma." Di antara ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang masih didapati oleh manusia, jika kau tidak punya rasa malu, maka lakukan yang kau sukai. Ternyata seluruh nabi bersepakat membahas tentang pentingnya rasa rasa malu. Ya, sebagaimana kita tahu di antara perkara yang disepakati oleh para nabi seperti masalah tauhid, di antaranya akhlak yang mulia, di antara secara spesifik adalah rasa malu. Kata Rasul wasam, "Imma inimas min kalamilah." Sesungguhnya di antara perkara yang didapati oleh manusia dari ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu, kalau kau tidak punya malu, lakukan yang kau su sukai. Berarti para nabi perhatian tentang pembahasan rasa rasa malu ya. Ketika seluruh nabi membahas tentang rasa malu berarti rasa malu ini penting. Dan inilah kenapa Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di awal kitab tentang Kitabul Adab tentang rasa malu. Karena dia seperti ee generator yang bisa menjadikan orang berakhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Karena kalau orang punya rasa malu, dia mau melakukan yang enggak apa misalnya akhlak yang buruk, dia malu. Dan kalau dia tidak melakukan perkara yang baik, dia malu. Ya, maka ini penting menanamkan rasa malu ya. Seperti kalau bahasa kita pekeewuh ya. Selama sesuai dengan aturan. Selama sesuai dengan aturan. Karena ada pekewuh atau malu yang sebenarnya itu bukan dikatakan malu tapi penakut seperti malu untuk menegur saudara yang melakukan kesalahan sehingga dia itu bukan malu kata para ulama. Itu namanya pengecut ya. harusnya kok tegur ya. Malu bukan di seperti itu ya. Ya, seperti apa namanya ee hal-hal tadi ya. Ini bukan malu tapi ee pengecut ya. Oleh karenanya rasa malu ee mendatangkan kebaikan. Hadis pertama yang dibawakan oleh Imam Nair rahimahullah an ibni Umar radhiallahu anhuma dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu anhuma anna rasul sahu alai wasallam mar alulin minal ansar sesungguhnya rasul sahu alaih wasallam melewati ada seorang lelaki dari kaum ansar wahua yaitu akhu fil haya ansari ini kalau orang ansar seorang ansar namanya anshari kalau jamak namanya al-Anshar. Anshari ini dia menasihati saudaranya tentang malu itu dia bilang jangan malu. Enggak usah malu. Ngapain malu-malu? Ya kita kan sering gitu. Enggak usah malu, ayo, ayo. Enggak usah malu. Ambil aja, ambil aja. Enggak usah malu. Malu ngantri paling depan. Enggak, enggak usah malu. Ambil aja. Nanti kamu kehabisan makanan. Enggak usah malu. Seperti jadi dia nasihati saudaranya, "Jangan malu. Karena kalau kamu malu, banyak mungkin hal-hal yang tidak kau dapatkan. Jadi enggak usah malu, enggak usah malu." Dinasihati. Nabi lewat, Nabi lihat dia lagi nasihati saudaranya, gak usah malu. Maka Rasulullah tegur. Kata Rasulull sallahu alaihi wasallam, "Daku, biarin dia malu." Fainnal hayaa minal iman. Karena rasa malu bagian daripada i iman ya. Rasa malu dar bagian dari iman ya. Kenapa? Karena malu tadi generator yang mengantarkan seorang melakukan akhlak yang baik dan meninggalkan perkara-perkara yang tercela. Tapi kalau orang gak punya malu, dia lakukan apa yang dia kehendaki. Makanya Rasulullah dan para nabi berkata, "Idam tastahi fasna ma'ta." Kalau kau tidak punya malu, lakukan apa yang kau kehendaki. Ya, mau ini, mau anu ee gak punya adab ya. Kemudian ngambil apa namanya lapak orang lain misalnya nerobos apa saja dia enggak malu. Kenapa? Karena dia enggak punya malu sehingga dia melakukan hal-hal yang tercela. Tapi orang punya malu dia pasti gaklah malu, enggak enak enggak enggak benar seperti itu. Itu bukan bagian dari sopan santunnya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa taala mengkaitkan rasa malu dengan akal. Mengkaitkan adab dengan akal. Mengkaitkan adab dengan akal. dalam firmannya, "Ya, innalladzina yunaduna kami waroil hujurati aksaruhum la yaqilun." Kata Allah Subhanahu wa taala, "Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang memanggilmu dari luar rumah, kebanyakan mereka tidak berakal." Yaitu orang-orang Arab Badui. Ya, mereka ketika datang Rasulullah sudah masuk rumah. Mung Rasulullah keperluan dengan istrinya. Rasulull sahu alaihi wasallam mungkin ada istirahat. Maka orang Badui berkata, "Ya Muhammad ukhruj ilaina." Wahai Muhammad, keluar temui kamu. Temu keluar temui kami. Kami sudah nunggu nih. Jadi mereka panggil-panggil Nabi sementara Nabi sudah masuk rumah. Ini tidak beradab ya. Ya namanya Rasulullah tadi sudah lama ketemu dengan orang. Ada waktunya dia ketemu apa istrinya. Ada ketemu waktunya dia istirahat. Cuma mereka enggak mikir itu. Sehingga mereka kemudian tidak beradab. Panggil ya Muhammad. Ya Muhammad. Bukan lagi panggil ya Rasulullah, ya Nabiallah. Mereka panggil dengan nama langsung ya Muhammad. Ya Muhammad. Keluar Muhammad ketemui kami. Ya. Maka Allah turunkan ayat menegur mereka. Kata Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau di dari luar rumahmu aksaruhum la yaqilun." Kebanyakan mereka tidak berakal. Di sini Allah mengatakan, "Orang yang beradab biasanya orang berakal. Orang yang tidak beradab biasanya tidak berakal." Kenapa? Karena orang yang berakal, dia biasanya bisa lihat situasi, dia mengerti perasaan orang, dia mengerti kondisi sehingga akal dia jalan. Ini enggak enggak pantas seperti ini. Orang lagi istirahat nanti ajaalah tunggu dia keluar. Dia akal dia jalan. Dia membersihkan dia sebagai diri orang tersebut. Tapi kalau orang enggak berakal, akalnya pendek, dia enggak mikir jauh. Ya sudah saya datang mana suruh keluar sini. Ya enggak enggak punya akal. Maka Rasulullah Allah berfirman, aksaruhum la yaqilun. Kebanyakan mereka tidak berakal. Makanya seharusnya kalau orang semakin berpendidikan semakin dia semakin semakin semakin beradab harusnya ya. Kalau orang tidak berpendidikan, tidak pernah belajar, akalnya tidak jalan ya mungkin tidak beradab wajar. Tetapi kalau orang berpendidikan harusnya ber beradab. Oleh karenanya ee adab itu sangat penting ee dan di antara hal yang memotivasi seorang untuk beradab dengan adab yang baik adalah rasa rasa malu. Jadi kalau ada anak kita yang pemalu, biarin aja. Cuma kita arahkan. Ada misalnya dia malu untuk bertanya, kita bilang, "Enggak, ini malu yang tidak tepat. Ini namanya pengecut." Ya, ini kenapa kau malu? Ini hal baik, bukan hal yang untuk dipermalukan. Malu tuh kalau kau nyolong. Malu tuh kalau kau bicara enggak benar. Malu tuh kalau ini enggak perlu malu. Bukan ini kebaikan. Enggak usah malu. Ya, makanya ee Aisyah pernah berkata, "Nikmal nikmal nisa nisaul ansar lam lam yamnahunna al hayau anatafaqahna fiddin." Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum ansar. Kenapa? Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama. Tidak belajar agama. Makanya Ummu Sulaim datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian berkata, "Ya Rasulullah, innallaha la yastahyi minal haq." Sesungguhnya Allah tidak malu kalau tidak perlu malu untuk urusan kebenaran. Hal alal marati min guslin idza hiya idahtalamat. Apakah wanita harus mandi junub jika mimpi basah? Ini kan pertanyaan malu sebenarnya. Tapi karena ini terkait dengan agama, terkait dengan suatu yang kewajiban yang harus ditanyakan, maka dia tanya, dikasih mukadimah dulu. Ini perkara yang tidak perlu dimalukan ya Rasulullah. Saya pengin tanya suatu yang mungkin malu untuk disebutkan. Tapi ini karena terkait dengan kebenaran tidak perlu malu untuk mengucapkannya. Apakah wanita jika mimpi basah, jika mimpi berhubungan wajib mandi junub? Rasulullah jawab, "Naam roatil ma." Iya, wajib mandi junub jika dia melihat air atau dia basah. Adapun jika tidak hanya berhubung mimpi berhubungan tidak sampai ejakulasi atau keluar sesuatu, maka tidak wajib mandi mandi junub. Ya. Maka kalau anak kita punya rasa malu, maka kita harus harus senang. Kita pupuk rasa malu tersebut ya. Kemudian kita arahkan ini malu yang benar, ini malu yang tidak tidak benar. Karena kalau sampai dia minder, ah ini jadi pengecut. Bukan lagi malu, tapi pengecut. Ya, Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam sangat pemalu tapi bukan bukan orang minderan, bukan orang pengecut. Jadi beda antara malu dengan min mind minder ya. Tib Rasulullah sahu al wasallam bersabda dau biarin dia malu ya fainnal haya minal iman karena rasa malu adalah bagian dari iman kata seorang penyair qaleh bin Abdul Qaddus q maul wajhi qa hayauhu wiro fi wajhin fi wajhin q mauhu hayaaka fahfhu alika wa inama yadlu alimi Hayau. Ya, jika seorang wajahnya tidak ada kehormatan lagi ya, rai gedek, maka itu menunjukkan malunya sedikit. Pokoknya tahu rai gedek ya, muka tembok ya. Kalau kita malu, dia kok enggak punya malu kalau dia nekad begitu ke sana kemari minta-minta enggak? Terus terang hal yang yang harusnya tidak perlu disebutkan berarti qol hayauhu berarti sedikit rasa malunya dan tidak ada kebaikan pada wajah yang menunjukkan sedikitnya rasa malu. Tidak ada kehormatan. Rasa malumu jagalah. Ya, hendaknya kau jaga rasa malumu. Kenapa? Karena ee yang membuat orang melakukan kebaikan adalah rasa rasa malunya. Orang kalau punya rasa malu, dia akan melakukan ee kebaikan. Tib ee hadis berikutnya. Wan Imran bin Husain radhiallahu taala anhu qala qala Rasulullah sahu alaihi wasallam. Rasul sahu alaih wasallam bersabda, "Alhaya la yati illa bikhair." Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Ini rasau yang benar. Rasa malu yang benar. Bukan minder, bukan pengecut, bukan penakut. Rasa malu jika benar dia tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Ya wafi riwayat Muslim dalam riwayat Muslim alyahairunuhu rasa malu itu semuanya baik. Aqala atau Rasul sahu al wasallam bersabda, "Alhayau kulluhu khair." Rasa malu itu seluruhnya adalah ee kebaikan. Maka ini pujian dari Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang sifat rasa ee rasa malu ya. Hadis berikutnya an Abi Hurair radhiallahu taala anhu anna rasul sahu al wasallam q rasul sahu alaih wasallam bersabda al imanu bidun wasabuna bidun sybah iman itu 70 sekian cabang atau 60 sekian cabang fafdoluha qulu lailahaillallah yang paling terbaik dari cabang keimanan adalah perkataan lailahaillallah wa adnaha imatulq dan yang paling rendah dari cabang keimanan adalah menghilangkan gangguan dari jalan minal dan rasa malu adalah cabang dari keimanan. Kata Nawawi rahimahullahu taala, albid, albid maksudnya bikasril ba wajuzu fathuha, yaitu boleh albid, boleh dibaca albad, yaitu alimanu bidun wasabuun atau kita baca alimanu bad'un wasabuun. Ini boleh dua-duanya dibaca. Hua minsal ilal asr. Maknanya antara 3 sampai 10 ya. Wasah alqitah walla yaitu cabang wal imatah alizalah menghilangkan wal ma yzi semua yang mengganggu dihilangkan dari jalan ke hajarin seperti batu waukin seperti duri watinin seperti tanah yang pecek waramadin waqadarin wahwihi itu ya debu dan kotoran yang mengganggu jalan ya bab di sini Rasulullah menjelaskan tentang hakikat iman kata Nabi sallallahu alaihi wasallam aliman bit'un bidun tadi bahasa Arab maknanya nya 3 sampai 10 yaitu bidun dan 70 maksudnya 73 atau 74 atau 75 atau 76 atau 79 itu namanya bidha ya au bidun wasittun atau 60 60 sekian 63 64 sampai 69 di sini rasul sahu alaihi wasallam menjelaskan iman bukan satu kesatuan tapi dia bercabang-cabang sehingga sebagian ulama mengumpulkan apa yang dimaksud dengan 70 cabang ini. Karena Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam hanya menyebutkan dalam hadis ini tiga sampel aja. Cabang tersebut kata Nabi yang paling tinggi cabangnya lailahaillallah. Yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan dan rasa malu bagian dari iman. Berarti ada berapa cabang Rasulullah sebutkan? Tiga. Tib. Yang lainnya masih banyak, masih 60, masih 70 lagi. Maka para ulama mengumpulkan hadis-hadis yang Rasulullah mengatakan ini bagian dari iman, ini bagian dari iman. Mereka kumpulkan seperti athuru syatul iman. Bahwasanya bersuci adalah setengah dari keimanan. Maksudnya berwudu dan iman maksudnya adalah salat ya. Misal tafsirnya seperti ee apa namanya? Alhayau minal iman. Ini seperti itu. Kemudian Rasul sahu alaih wasam mengatakan hubbul ansari minal iman. Cinta kepada kaum ansar bagian daripada iman. Maka para ulama berusaha mengumpulkan seluruh hadis-hadis, dalil-dalil yang menunjukkan baik Al-Qur'an maupun sunah yang menunjukkan secara tegas amalan ini bagian dari iman. Seperti salat kata Allah, "Wallahu liud imanakum." Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Ternyata iman kalian maksudnya salat. Maksudnya adalah salat ya. Sebagaimana dalam sebab turunnya ayat tersebut. Sehingga akhirnya mereka kumpulkan di antaranya Alimi, salah salah seorang besar di mazhab Syafi'i menulis buku tentang ee alminhaj fi Syu'abil iman. Dia kumpulkan yang disebut dengan iman sekian banyak. Kemudian datang setelahnya Albaihaqi dicetak tiga jilid Albaihaqi rahimahullah. Kemudian buku judulnya buku judulnya Syuabul Iman, cabang-cabang keimanan. Dan bukunya kalau saya kalau saya tidak salah terakhir dicetak 20 jilid. Berapa? 20 jilid ya. Jadi cabang kesatu, cabang kedua dijelasin sama beliau. Cabang mungkin kalau dibuat pengajian bagus. Jadi cabang-cabang apa? Keimanan. Buat apa kita mengenal cabang-cabang ini? Agar iman kita semakin kuat. Karena iman tuh ibarat pohon. Ibarat pohon dia ada akarnya, ada batang cabang-cabangnya. Semakin cabang-cabang kita semakin banyak, berarti pohon kita, pohon iman kita semakin besar. ya semakin kokoh, semakin kuat, semakin akan banyak buahnya. Dan dengan iman itulah kita akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala. Maka seorang berusaha melakukan cabang-cabang keimanan dan setiap cabang juga pekerjaannya pun berlevel-level orang. Satu cabang tidak semua orang sederajat. Seperti di antara cabang keimanan salat. Apakah semua orang salat satu level? Tidak. Ya, tidak ya. Sama seperti rasa malu. Rasa malu juga bertingkat-tingkat ya. seperti lailahaillallah. Semua orang mungkin mengucapkan lailahaillallah, tapi lailahaillallahnya bertingkat-tingkat. Makanya Ibnu Qay mengatakan, setiap orang muslim pasti punya kartu lailahaillallah. Kartu amalan tertulis lailahaillallah. Tapi tidak semua kartunya menyelamatkan dia di neraka jahanam. Ada orang mengucapkan lailahallah tapi diazab di neraka jahanam. Meskipun tidak kafir tapi nanti akan dikeluarkan. Ada orang lailahallah sangat kuat sehingga dia tidak diazab di neraka jahanam karena tauhidnya sangat kuat. Maka kita berusaha mengenal cabang-cabang keimanan tersebut. Kemudian kita berusaha menjalankan setiap cabang dengan seoptimal mungkin. Karena setiap cabang itu orang mengerjakannya berlevel-level seperti salat. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, innajulairu minatihi wibahu illa nisfuhaul rubuaha khumus. Ada seorang salat namun tidak dicatat pahala salatnya kecuali hanya seperduanya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya. Beda-beda orang. Bisa jadi dua orang salat di saf yang pertama berdampingan. Pahala mereka perdua antara langit dan bumi. Ya, sedekah bisa jadi nomnya nominalnya sama, tapi hati ketika bersedekah berbeda antara satu dengan yang yang lainnya. Tetapi kalau kita mengenal cabang-cabang keimanan, kita punya punya saham dalam cabang ini, punya saham dalam cabang ini, mudah-mudahan pohon keimanan kita menjadi lebat, menjadi besar, sehingga kita bertemu dengan Allah dengan iman yang sangat ee luas. Ya, ini maksud Rasulullah sebutkan iman itu sekian cabang. Tapi Rasulullah tidak tegas. 73 tersebut atau 75 tersebut adalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 salat tidak tegas. K seb ulama mengatakan seperti Syekh Utsimin rahimahullah agar seorang ee berusaha mencari dan berusaha setiap ada lafal ini bagian dari iman dia kerjakan, ini bagian dari iman dia kerjakan sehingga dia termotivasi untuk menyempurnakan pohon keimanannya. Tib. Dan di antara cabang keimanan Rasulullah mengatakan alhaya minal iman. Rasa malu adalah bagian dari iman. Jadi ada cabang keimanan terkait dengan perkataan seperti lailahaillallah. Ada cabang keimanan ya. Lailahallah tentu dengan keyakinan. Keyakinan tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Ada cabang keimanan berupa menghilangkan gangguan dari jalan. Ini kelihatannya sepele bahkan Rasulullah mengatakan yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan. Ya itu k kata Imam Nawawi. Ada apa? Ada duri dia pindahkan, ada paku dia pindahkan, ada batu ya jangan sampai diinjak oleh orang lain ya. Ada beling dia pindahkan. Kelihatannya Rasulullah sebutin ini adalah cabang keimanan paling rendah. Tetapi ada orang yang melakukannya dengan kualitas yang tinggi. Ternyata Rasulullah kabarkan ada orang masuk surga gara-gara menghilangkan gangguan dari jalan. Ada orang masuk surga. Rasulah mengatakan ada seorang lelaki dia sedang berjalan. Tiba-tiba dia melihat Gusnus syajarah, yaitu ada cabang dahan yang menghalangi jalan. Maka dia mengat dia mengatakan, "La yudil mukminin." Jangan sampai dahan ini mengganggu orang-orang beriman yang sedang lewat. Maka dia pindahkan. Tetapi dengan sebab itu Allah ampuni dosa dosa-dosanya. Jadi meskipun Rasulullah mengatakan ini cabang yang paling rendah bukan berarti untuk kita remehkan. Lakukan saja. Kita enggak tahu amal mana yang menyebabkan kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi maksudnya satu cabang tuh beda-beda orang. Sekarang ada orang lihat batu di jalan ada yang bilang, "Hoba nanti siapa yang dia tunggu-tunggu siapa yang kesenggol." Nah, itu senang ketawa. Ada yang malah senang, ada yang taruh gangguan di jalan ya dia taruh kaleng dalamnya batu. Orang biasanya iseng tendang kaleng ternyata ada batunya. Mak aduh sakit dia ketawa sedang. Itu namanya naruh naruh gangguan di jalan. Ada yang lihat gangguan di jalan coba dia lihat dia sedih. Aduh nanti kena orang. Tapi dia enggak pergi menghilangkan. Dia cuma lihat aja. Aduh kasihan nih. I beda dengan orang yang turun kemudian apa? Menghilangkan. Beda. Yang turun menghilangkan berbagai macam juga niatnya. Maka setiap cabang itu berlevel-level manusia dalam menjalankannya. Di antaranya yang Rasulullah statementkan secara jelas, alhayyaun minal iman. Rasa malu bagian daripada iman. Maka seorang kalau punya dari sananya punya rasa malu dia bersyukur kepada Allah tinggal dia kembangkan. Yang tidak punya rasa malu atau kurang rasa malunya dia pupuk rasa malunya. Ah enggak enaklah malulah. Dia mulai mulai seperti itu. Masa gitulah ya. Masa kita minta-minta masa kita malulah gak usahlah ya. Seperti kita mulai pupuk rasa rasa malu karena dia adalah bagian daripada keimanan. Kemudian an Abi Said Alkhudri radhiallahu anhu qala kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam asyadda hayaan minal adra fi khidriha adalah rasul sahu al wasallam lebih malu lebih lebih malu daripada seorang wanita alazra itu wanita gadis ya fi khidriha dalam pingitannya faan yakruh arahu fi wajihi kalau rasul faaian yakruhuhu arnahu fi wajihi kalau rasul sahu al wasallam melihat suatu sahu al wasallam melihat suatu yang dia yang dia tidak suka rasulullah enggak tidak suka rasulullah enggak perlu perlu ngomong sudah kelihatan dari ngomong sudah kelihatan dari wajahnya wajahnya itu mungkin itu mungkin Kemudian an Abi Said Alkudri Ada rona merah menunjukkan Rasul Sallahu Alaih Wasallam tidak tidak suka. Q ulama annawai berkata berkata para ulama hakikatul haya. Adapun hakikat rasa malu khulu yabilqih. Rasa malu adalah akhlak yang memotivasi atau menggerakkan seorang untuk meninggalkan perkara yang buruk. Wamnu minqsir fi haqqiil haqq. dan membuat dia tercegah dari melakukan kurang dalam ee dalam menegakkan atau dalam menunaikan hak orang. Dia dia malu untuk kurang dalam menunaikan hak orang. Itu malu kalau sebagai seorang suami saya tidak tunaikan hak istri saya. Malulah istri saya sudah begini, istri juga gitu. Saya malulah kalau suami saya sudah baik, sudah kerja kemudian saya tidak layani. Saya malu tidak menunaikan hak ee suami. Orang tua malu masa anak tidak saya perhatikan. Ya, dia malu tidak menunaikan hak anak. Anak pun malu, orang tua saya tidak seperti itu namanya ee itu rasa malu. Mencegah seorang tidak bersikap berkurang-kurang dalam menunaikan hak orang lain. Warina an Abil qasim aljunaid qala alya ryatul alam ryatul alai aam waryatut taksir fayatawadu bainahumaatunyaan. Dan kata Aljunaid, rasa malu. Bagaimana bisa timbul rasa malu seorang ini terkait dengan Allah Subhanahu wa taala atau terkait dengan selain Allah, tapi paling pas terkait dengan Allah. Yaitu seorang melihat kenikmatan yang banyak yang Allah berikan kepadanya. Kemudian dia melihat kok dia tidak bersyukur dengan baik. Maka dari memperhatikan begitu banyak nikmat yang Allah berikan dan sikap dia dalam beribadah kepada Allah, maka timbullah suatu kondisi dalam dirinya yang disebut dengan ma malu. Yaitu malu tidak bersyukur kepada Allah. Malu tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, malu menggunakan nikmat Allah untuk maksiat. Oleh karenanya ketika Nabi Yusuf Alaih Salam digoda oleh Imratul Aziz yang konon namanya Zulaikha, makanya dia mengatakan, "Qala maallah, aku berlindung kepada Allah atas godaanmu, atas rayuanmu." Innahu ahsana matwaya. Sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku. Di sini ada dua tafsiran. Di antara tafsiran Rabb maksudnya Allah. Maksudnya bagaimana saya bermaksiat, bagaimana saya berzina, sementara Allah telah berbuat baik kepada kepada saya. Malu ya. malu ee membalas kebaikan Allah dengan pembangkangan. Ya, ini disebut dengan rasa malu kepada Allah subhanahu wa taala. Tib kita bahas di sini hadis tentang bahwasanya Rasul sahu alaihi wasallam kana asyadda hayaan minal adra fi khidriha. Ada wanita Rasulullah lebih malu daripada seorang wanita yang gadis yang sedang dipingit. Wanita gadis harusnya pemalu. Kenapa pemalu? Bukan dia tidak berinteraksi dengan laki-laki. Dia tidak tahu tentang laki-laki. Dia pemalu. Apalagi dia dalam pinggitannya. Apalagi dalam pingitannya. Ini menunjukkan sikap malu yang tinggi seorang wanita gadis dalam pengintan. Apalagi orang-orang Arab dahulu mereka punya rasa malu yang luar luar biasa ya. Sampai sebelum timbul metsos yang begitu banyak ya. Ee Suballah mengatakan rasa malu masih tersebar di negeri-negeri Arab ya. sampai mereka pakai kain seperti itu, pakai jilbab seperti itu. Bahkan kalau begitu lewat laki-laki mereka meminggir sampai terkadang baju mereka tertempel ke dinding-dinding. Dulu dinding lama terbuat dari tanah sampai ada baju mereka yang tergores-gores. Dulu sempat ada seperti itu ya. Rasa malu yang luar biasa ya. Sampai kawan saya cerita ya zaman dulu zaman masih zaman bahala ya. Dia bilang dulu kawan-kawan dulu zaman-zaman dulu kalau nikah sampai enggak pernah ngelihat wanita datang langsung nikahin aja karena malu mau lihat apa lihat perempuan malu perempuan juga malu lihat sama laki-lakinya jadi tahu-tahu nikah tahu-tahu nikah ya kadang-kadang seperti ada yang nazar ada yang tidak perlu nazar pokoknya dengar cerita gak perlu nazar langsung apa ni nikah tinggal dengar berita percaya nikah itu dulu sekarang belum nikah sudah dilihat tidak dilihat pun sudah ter terlihat. Jadi, ada perubahan-perubahan. Tapi maksudnya rasa malu, apalagi seorang gadis yang tidak pernah berinteraksi dengan ee lelaki. Dan rasa itulah seharusnya seorang wanita memiliki rasa rasa malu. Makanya Allah memuji wanita yang dinikahi oleh Nabi Musa Alaih Salam. Kata Allah, "Fajaathu ihdahuma tamsi alastihya." Maka datanglah dari dua wanita tersebut menemui Nabi Musa tamsi alasya. Maka dia berjalan dengan penuh rasa malu. Apa kata Umar bin Khattab radhiallahu anhu menafsirkan ayat ini? A qoilatan eh bitubiha ya. Ee maka dia pun memegang bajunya sambil menutup wajahnya. Sambil menutup apa? Wajahnya itu dia jalan tersipu malu di antaranya dengan sambil menutup wajahnya. Padahal di zaman itu, di zaman Bani Israil menutup wajah tidak disyariatkan atau tidak wajib. Tetapi wanita malu ketika dari jauh melihat Nabi Musa, maka dia berjalan dengan tersipu malu sambil menutup wajahnya. Ketika dia bertemu dengan Nabi Musa, dia berkata, "Qalat inna abi yaduka liyajizaka ajrqana." Sungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi upah atas bantuanmu mengambilkan air buat buat kami. Dia tidak datang ee kafauk Musa ee begini loh begini gak. Dia langsung bilang saya datang sini karena disuruh apa abi. Dia langsung sebutkan to the point dengan malu-malu dia berkata, "Inna abi yaduka." Ayahku mengundangmu untuk kasih upah sehingga tidak ayo ikut-ikut. Mau ke mana? Ayo, Guys, ikut aja. Gak ditanya-tanya apa ini? Ngapain gak? Maksudnya dia malu sehingga dia jelas ngomong, jelas. Kalau bukan ayahnya bisa datang, ayahnya akan datang. Tapi ayahnya tua sehingga dia harus datang. Ketika datang jalan dengan malu-malu dan dia langsung bilang Nabi Musa dengan tudin. Kemudian Nabi Musa Alaih Salam akhirnya pun juga pemalu. Nabi Musa juga pemalu. Allah menemukan wanita pemalu dengan lelaki pemalu. Makanya dalam hadis disebutkan dulu Bani Israil laki-laki mandi bareng gak apa-apa. Laki-laki mandi barang gak mengapa dan terlihat aurat di antara mereka tidak mengapa. Syariat zaman dulu beda dengan syariat zaman sekarang. Seperti syariat zaman dulu orang boleh sujud kepada orang lain dalam bentuk penghormatan, bukan peribadatan. Sekarang enggak boleh. Di antara syariat yang dulu boleh, sekarang enggak boleh. Syariat mandi barang lelaki sesama lelaki. Kemudian mandi barang mungkin terlihat aurat ini dulu tidak mengapa. Nabi Musa karena rasa malu dia mandi tempat lain. Jadi enggak gabung sama murid-muridnya. Akhirnya murid-muridnya kurang ajar itu Musa tidak gabung sama kita. Ada masalah di testisnya katanya. Ini murid-murid kurang ajar ya. Sampai akhirnya kenapa? Maksud saya intinya hadisnya dalam Sahih Bukhari tapi intinya Nabi Musa itu pemalu. Pemalu. Ternyata Allah d membuat dia menikah dengan seorang juga wanita sangat apa? Pemalu. Maka ketika wanita tersebut berjalan, Nabi Musa jalan di depan, tersebut di belakang. Ya. Kalau mau belok kanan, wanita tersebut lempar kerikil sebelah kanan. Nabi Musa belok kanan. Kalau belok kiri lempar kerikil kiri. Kalau lurus jangan l. Jadi tidak ada ngomong di tengah jalan. Enggak bilang sah. Sah kamu dari mana sih? Enggak ada. Enggak ada. Ini jalan rasa malu dan kita menjaga. Kalau ada wanita pemalu kita hormat. Tapi kalau wanita enggak punya malu, maka kita hormat. Wanita malu kita hormati. pemalu kita hargai pemalu ya. Oleh karenanya wanita asalnya pemalu. Sekarang rasa malu itu mulai hilang dari kalangan para wanita. Ya. Saya dulu pertama ke Madinah, saya masuk di pasar namanya pasar Albalad. Albalad tuh ya pasar rakyat. Dulu ada di daerah daerah sebelah Baki. Sekarang sudah enggak ada. Ya, itu tahu-tahu saya saya baru pertama saya mau beli sesuatu terus ada suara di belakang Muhammad. Muhammad maksudnya minggir Muhammad. Saya bingung Muhammad nih siapa maksudnya. Ternyata saya ternyata jadi caranya Oh. Oh. Eh, saya baru dia baru dia maju ya. Kalau eh eh enggak Muhammad MuMad lagiah. Eh, gantian. Jadi ee apa namanya? ee rasa malu perlu kita tanamkan pada anak-anak, terutama anak perempuan ya. Kalau anak kita mulai gede, kita bilang, "Malulah itu majelis laki-laki. Jangan malu-maluan laki perempuan sama perempuan kita tanamkan, eh malu-malu ketemu itu. Eh, malu-malu eh pakai baju yang rapi, malu." Jadi kita tanamkan mereka untuk rasa malu sejak kecil sehingga terpatri dalam diri mereka milik. Karena rasa malu ini akan membuat mereka baik nanti. Kalau jadi istri, jadi istri yang salehah, istri yang baik ya. Tapi kalau enggak punya malu repot ya. Enggak punya malu reot. Ya. Kemudian kata Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu, balfain khja wallah. Wanita ini yang menemui Nabi Musa yang penuh rasa malu. Laisat balfa. Salfa itu apa? Jari. Berani seperti lelaki. Kalau bicara dengan lelaki seperti bicara dengan perempuan yang lain. Jadi bicaranya eh kalau perempuan harusnya eh aduh e gitu harusnya ya. Malu-malu ya ini. Eha eh lagi ngobrol apa sih? Boleh nimbrung enggak? Pokoknya sama laki-laki seperti teman perempuan sendiri. Bahkan sekarang laki-laki lebih malu daripada perempuan. Ya laisat bis balfaid kharaja wallaja. Bukan wanita yang sering keluar rumah, masuk keluar rumah tanpa ada urgensi ya. Wanita yang suka keluar rumah enggak ya. Wanita ini tidak demikian. Dia keluar rumah karena ada urgen karena bapaknya enggak bisa pergi maka dia mewakili ee bapaknya. Mak ikhwan, kalau antum mau menikah, kalau sudah terlanjur ya sudahlah ya maksudnya yang jomblo kalau kalau mau menikah cari wanita yang pemalu ya dikenal pemalu ya. Kalau malu bagus ya insyaallah kalau antum nadar dia malu dia malu dia malu. Tapi kalau antum nadar dili juga nadar gini aduh mending antum mundur ya. Antum yang malu-malu. Wah masih pandangan pertama antum sudah kalah. Gimana kalau sudah menikah? Ya. Jadi carilah wanita pemalu. Di sini wanita digambarkan dengan sifat pemalu, apalagi wanita gadis yang dalam pingitannya. Kemudian ternyata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam lebih pemalu dari wanita seperti itu ya. Rasul sahu alaihi wasallam memiliki rasa malu yang sangat tinggi. Tapi bukan berarti Rasulull sallallahu alaihi wasallam pengecut. Gak. Rasulullah kalau ada kemungkaran dia ingkari, kalau ada kebaikan dia anjurkan. Ya, tapi dia sangat pemalu sehingga jauh dari hal-hal yang buruk ya. halnya hal-hal yang buruk dan sangat semangat melakukan hal-hal yang baik. Ya, makanya Rasul sahu alaihi wasallam salat sampai kaki bengkak-bengkak. Maka ditanya sama istrinya, "Kenapa Anda salat?" "Hatta tatawaram qodamak sampai kedua kaki Anda bengkak-bengkak?" Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Afala akunu abdan syakura." Kenapa aku tidak menjadi hamba yang pandai bersyukur? Yaitu malu kalau tidak ibadah kepada Allah. Nikmat begitu banyak terus malu tidak beribadah. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam salat malam dengan ee dengan apa? Dengan panjang. Ya Rasulullah ee sangat pemalu. Di antara sifat pemalu Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika meninggal punya hutang sama Yahudi. Punya hutang sama Yahudi sambil dia menggadai menggadaikan baju perangnya untuk membeli gandum untuk kebutuhan ee primer istri-istrinya ya. Bukan untuk beli macam-macam tapi untuk beli gandum. Sehingga para ulama membahas kenapa Nabi sampai punya hutang. Tentu itu hutang tidak tidak hutang yang tidak perlu memalukan karena ada gadainya, ada apa? Ada jaminannya. Janya jaminan itu lebih tinggi nilainya daripada utang yang dia ambil. Seandainya Rasulullah tidak bisa bayar, dia kasih gadai berupa apa? Baju perang bisa dijual. Kenapa Rasul sahu alaihi wasallam sampai berhutang? Padahal punya teman-teman sahabat-sahabat yang kaya-kaya. Ada Abu Bakar, ada Utsman, ada Umar, ada yang lain. Abdurrahman bin Auf kaya-kaya. Kata para ulama, Rasul Sallahu Alaih Wasallam, "Pekaiwuh malu kalau dia pinjam uang sama sahabat pasti enggak enggak boleh dikembalikan." Dia sudah ambil-ambil Rasulullah mus kesempatan nih. Maka dia tidak ingin merepotkan apa? Para sahabat sehingga dia berhutang supaya tidak merepotkan apa? Para para sahabat. Nah, ini rasa malu Nabi sallallahu alaihi wasallam. Di antara rasa malu Nabi sallallahu alaihi wasallam, Allah sebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 53 ya ee kata Allah Subhanahu wa taala ya ee tentang kisah sebab nuzulnya adalah tentang pernikahan Nabi dengan Zainab, Zainab binti Jahsyin. Ketika Nabi menikah dengan Zainab binti Jahsy Rasul sahu al wasam bikin walimah ada roti ada daging. Maka Rasulullah suruh Anas panggil orang-orang semua untuk makan. Datang-datang kata kata siapa lagi? Masih semua sudah dipanggil makan, makan, makan. Sudah makan selesai masih ada tiga orang duduk di situ. Gak pergi-pergi. Ini baru nikah ini enggak pergi. Kapan bisa mau berduaan sama istri? Jadi ngobrol terus Rasulullah akhirnya pergi ke rumah istri yang lain. Gimana Aisyah kabarnya? Sudah baik lagi. Masih lagi ngobrol situ. Rasul lagi masih lagi ngobrol situ. Akhirnya Allah turunkan ayat ya kata Allah Subhanahu wa taala ya. Yaina ambiakum. Allah berfirman, "Wahai orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya." Itu kalau masuk rumah tunggu dipanggil baru daang. Jangan eh ada walimah eh tunggu di rumah Nabi lagi dimasak ya. Mas jangan nanti tunggu panggilan dulu. Kalau belum dipanggil jangan datang sebelum waktu waktunya. Kenapa? Ada orang punya privasi ya datang. Oh lagi dipotong kambingnya. Tunggu sebentarnya sampai mana? Sampai mana? itu nanti kalau dipanggil baru daang. Kata Nabi, kata Allah Subhanahu wa taala, "Tapi kalau kalian diundang, maka masuklah dan bila kalian selesai makan keluarlah tanpa asing memperpanjang percakapan. Hal itu sungguhnya mengganggu Nabi dan lalu Nabi malu kepada kalian untuk menyuruh kalian keluar." Jadi, Nabi malu sampai Nabi mau enggak bilang, "Eh, kalian gimana ini? Ini malam pertama gimana kalian di sini-sini enggak pulang-pulang? Gimana mau jadi malam pertama?" Ini di ngobrol terus ngobrol. Nabi sudah pergi keluar balik masih ngobrol. Ya, sahabat namanya ada yang lalai, ada yang lupa. Kenapa? Karena Nabi pema pemalu. Kalau kita eh eh ini jam berapa ini? Kayak enggak pernah nikah aja. Kapan malam pertamanya nih? Kalau kalian di sini terus kita mungkin begitu. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam Nabi pemalu ya. Itu di antara yang menunjukkan bagaimana besarnya rasa malu Nabi sallallahu alaihi. Wasallam. Demikian juga di antara menunjukkan besarnya rasa malu Nabi sallallahu alaihi wasallam. Rasulull sahu alaihi wasallam kalau ada suatu yang dia tidak suka tidak langsung ngomong. Sahabat ng dia cuma kelihat perubahan wajahnya. Ini Nabi lagi marah. Dia ngomong enggak enak tapi cukup dengan wajahnya berubah rona wajahnya. Berarti Rasul sahu alaihi wasallam sedang sedang marah. Ada suatu yang dia tidak suka. Ini makruf dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Inilah ee apa namanya? Sifat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang memiliki rasa rasa malu yang yang besar. Maka seorang berusaha juga menerapkan dirinya rasa malu sehingga kalau dia merasa punya rasa malu akan mengantarkan dia pada perbuatan-perbuatan yang baik dan menjauhkan dia dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Ya, tapi kalau sudah tidak punya rasa malu, apapun dia lakukan. Nah, di antara yang merusak rasa malu sekarang, yang paling besar merusak rasa malu tontonan. tontonan. Rasa malu hilang, rasa cemburu hilang. Anak gadis kita kalau nonton misalnya film-film Korea ya rasa dia melihat suatu ciuman laki-laki jalanan jadi biasa. Ketika dia melihat pemandangan yang biasa akan termasuk akan berimbas pada hatinya. Enggak berimbas sehingga dia menjadi itu suatu yang biasa. Suatu yang biasa. Kalau kita nonton film orang kafir misalnya, laki-laki ketemu laki-laki cium istri orang, istri orang istri dia dicium laki orang, ya cipika apa cipiki. Kemudian ee dia akhirnya dibiasa. Jadi biasa kita enggak punya rasa malu bahkan tidak punya rasa cem cemburu. Jadi rasa malu kadang-kadang didik dididik anak-anak di pondok dididik dengan baik jadi hancur rasa malunya gara-gara tontonan yang sebentar. Dia diajarin di pondok selama bertahun-tahun. Kemudian dia keluar ketemu teman-temannya nonton yang tidak-tida, rasa malunya pun hilang. Ini sekarang musibah yang menimpa zaman kita, yaitu tontonan-tontonan yang begitu mudah diakses yang menghancurkan rasa malu yang kita bina, yang kita diik kepada anak kita. Maka ini perlu perjuangan lebih untuk mendidik anak-anak. Sejak kecil kita tanamkan rasa rasa malu sehingga meskipun taruhlah mereka melihat suatu tontonan tetap mereka bisa memiliki rasa malu yang yang kuat dan mudah-mudahan tidak berpengaruh pada diri diri mereka. Jika tidak kita biarkan sehingga mereka nonton sebebasnya maka rasa malu mereka akan hancur. Ketika rasa malu sudah mereka hancur ya sudah sama laki-laki gampang mau ini gampang mau anu gampang. Akhirnya membuka banyak pintu kemaksiatan. Akhirnya membuka banyak pintu perzinahan. Kenapa? Karena hilangnya rasa rasa malu ya, maka kita tanamkan dan ini eh malulah jangan gitu. Eh, kamu enggak malu kalau begitu. Kamu jalan gitu apa enggak malu? Ya jalan pergi apa nih misalnya ee ke masjid kemudian pakai celana di atas lutut kelihatan pahanya kemudian kan malu dilihatlihat orang. Malulah ya. Gu enggak malu cukuran rambut model begitu ya. Semua sini kayak rambut satu botak semua kanan kiri. Apa enggak malu kamu? Enggak malu rambut semua botak. Kemudian tinggal satu kayak ada oasnya di tengah padang pasir. Malu saya lihat. Saya lihat orang saya bingung. Saya ke luar negeri ke Australia lihat ada orang kok begini apa dia enggak malu orang Islam. Kemudian dia rambutnya botak kemudian tinggal satu secuil di sini di tengah-tengahnya ada pohon kelapa. Enggak malu anak-anak anak saudara anak-anak teman-teman kita. Kemudian ketika buka puasa dia enggak puasa. Laki-laki mungkin haid. Wallahualam. Enggak puasa. Dia enggak puasa. Belum waktunya dia berbuka, dia berbuka enggak puasa. Enggak kan harusnya malu. Tapi kalau sudah enggak punya malu, kalau kita kan malu. Kalau enggak enggak gitu, eh malu. Tapi ketika rasa malu hilang mau apain aja enggak enggak ada masalah. Ini makanya pentingnya rasa malu. Tanamkan sama anak laki-laki maupun apa perempuan. laki-laki terutama perempuan di zaman sekarang tanamkan rasa rasa malu. Wabillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Requeue
Categories