Transcript
w-YHaFYaLsE • Riyadush Shalihin 2.97: Bab Adab: Akhlak Yang Mulia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2683_w-YHaFYaLsE.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu
ala taufikihin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahu
wa asadu anna muhammadan abduhuasul
ridwih
allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa
ashabihi wa ikhwan hadirin dan hadirat
dirahmati Allah subhanahu wa taala kita
masuk pada kitab yang baru
itu kitabul adab tentang adab ini
tentang akhlak yang mulia ya al-adab ada
yang mengatakan katakan yaitu ee
apa yang menyuruh kepada
perbuatan yang baik dan untuk
meninggalkan perbuatan yang buruk itu
namanya adab. Ada yang mengatakan
al-adab diambil dari makdubah. Makdubah
dalam bahasa Arab yaitu hidangan. Karena
seakan-akan semua orang diserukan untuk
mendatangi hidangan tersebut. Yaitu
maksudnya adab adalah perkara yang semua
orang diseruh kepadanya.
Kalau suaminya kasih hadiah misalnya
emas 10 gram, maka dia pun menangis. Ya,
kenapa? Waduh, banyak sekali Abi ya.
Malu nerimanya ya. Tapi kalau enggak
punya malu kok cuma segini katanya
kurang. Harusnya 100 gram ya. Jadi kalau
istri pemalu itu sebenarnya
menyenangkan suami ya. Kalau suaminya
pulang, istrinya belum harum, malu atau
tidak?
Malu kalau enggak punya malu, lagi bawa
ketek pun dia peluk apa? Suami. Tapi
kalau istri pemalu, maka
itu menyenangkan apa? Suami. Jadi ini
sekedar sampel aja contoh bahwasanya
kalau orang memiliki rasa malu akan
mengantarkan kepada banyak perangai yang
baik dan meninggalkan perangai yang
buruk. Karenanya malu itu adalah perkara
yang sangat diperhatikan dalam dalam
Islam. Di antaranya dalam hadis Rasul
sahu wasallam bersabda,
"Inna mimmaasu minamubtilahi
fasna ma." Di antara ajaran-ajaran
nabi-nabi terdahulu yang masih didapati
oleh manusia, jika kau tidak punya rasa
malu, maka lakukan yang kau sukai.
Ternyata seluruh nabi bersepakat
membahas tentang pentingnya rasa rasa
malu. Ya, sebagaimana kita tahu di
antara perkara yang disepakati oleh para
nabi seperti masalah tauhid, di
antaranya akhlak yang mulia, di antara
secara spesifik adalah rasa malu. Kata
Rasul wasam, "Imma inimas
min kalamilah."
Sesungguhnya di antara perkara yang
didapati oleh manusia dari ajaran-ajaran
nabi-nabi terdahulu, kalau kau tidak
punya malu, lakukan yang kau su sukai.
Berarti para nabi perhatian tentang
pembahasan rasa rasa malu ya. Ketika
seluruh nabi membahas tentang rasa malu
berarti rasa malu ini penting. Dan
inilah kenapa Imam Nawawi rahimahullah
menyebutkan di awal kitab tentang
Kitabul Adab tentang rasa malu. Karena
dia seperti ee generator yang bisa
menjadikan orang berakhlak mulia dan
meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk.
Karena kalau orang punya rasa malu, dia
mau melakukan yang enggak apa misalnya
akhlak yang buruk, dia malu. Dan kalau
dia tidak melakukan perkara yang baik,
dia malu. Ya, maka ini penting
menanamkan rasa malu ya. Seperti kalau
bahasa kita pekeewuh ya. Selama sesuai
dengan aturan. Selama sesuai dengan
aturan. Karena ada pekewuh atau malu
yang sebenarnya itu bukan dikatakan malu
tapi penakut seperti malu untuk menegur
saudara yang melakukan kesalahan
sehingga dia itu bukan malu kata para
ulama. Itu namanya pengecut ya. harusnya
kok tegur ya. Malu bukan di seperti itu
ya. Ya, seperti apa namanya ee hal-hal
tadi ya. Ini bukan malu tapi ee pengecut
ya. Oleh karenanya rasa malu ee
mendatangkan kebaikan.
Hadis pertama yang dibawakan oleh Imam
Nair rahimahullah an ibni Umar
radhiallahu anhuma dari sahabat Ibnu
Umar radhiallahu anhuma anna rasul sahu
alai wasallam mar alulin minal ansar
sesungguhnya rasul sahu alaih wasallam
melewati ada seorang lelaki dari kaum
ansar wahua yaitu akhu fil haya ansari
ini kalau orang ansar seorang ansar
namanya anshari kalau jamak namanya
al-Anshar. Anshari ini dia menasihati
saudaranya tentang malu itu dia bilang
jangan malu. Enggak usah malu. Ngapain
malu-malu? Ya kita kan sering gitu.
Enggak usah malu, ayo, ayo. Enggak usah
malu. Ambil aja, ambil aja. Enggak usah
malu. Malu ngantri paling depan. Enggak,
enggak usah malu. Ambil aja. Nanti kamu
kehabisan makanan. Enggak usah malu.
Seperti jadi dia nasihati saudaranya,
"Jangan malu. Karena kalau kamu malu,
banyak mungkin hal-hal yang tidak kau
dapatkan. Jadi enggak usah malu, enggak
usah malu." Dinasihati. Nabi lewat, Nabi
lihat dia lagi nasihati saudaranya, gak
usah malu. Maka Rasulullah tegur. Kata
Rasulull sallahu alaihi wasallam, "Daku,
biarin dia malu." Fainnal hayaa minal
iman. Karena rasa malu bagian daripada i
iman ya. Rasa malu dar bagian dari iman
ya. Kenapa? Karena malu tadi generator
yang mengantarkan seorang melakukan
akhlak yang baik dan meninggalkan
perkara-perkara yang tercela. Tapi kalau
orang gak punya malu, dia lakukan apa
yang dia kehendaki. Makanya Rasulullah
dan para nabi berkata, "Idam tastahi
fasna ma'ta." Kalau kau tidak punya
malu, lakukan apa yang kau kehendaki.
Ya, mau ini, mau anu ee gak punya adab
ya. Kemudian ngambil apa namanya lapak
orang lain misalnya nerobos apa saja dia
enggak malu. Kenapa? Karena dia enggak
punya malu sehingga dia melakukan
hal-hal yang tercela. Tapi orang punya
malu dia pasti gaklah malu, enggak enak
enggak enggak benar seperti itu. Itu
bukan bagian dari sopan santunnya.
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa taala
mengkaitkan rasa malu dengan akal.
Mengkaitkan adab dengan akal.
Mengkaitkan adab dengan akal. dalam
firmannya, "Ya, innalladzina yunaduna
kami waroil hujurati aksaruhum la
yaqilun." Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Sesungguhnya kebanyakan orang-orang
yang memanggilmu dari luar rumah,
kebanyakan mereka tidak berakal." Yaitu
orang-orang Arab Badui. Ya, mereka
ketika datang Rasulullah sudah masuk
rumah. Mung Rasulullah keperluan dengan
istrinya. Rasulull sahu alaihi wasallam
mungkin ada istirahat. Maka orang Badui
berkata, "Ya Muhammad ukhruj ilaina."
Wahai Muhammad, keluar temui kamu. Temu
keluar temui kami. Kami sudah nunggu
nih. Jadi mereka panggil-panggil Nabi
sementara Nabi sudah masuk rumah. Ini
tidak beradab ya. Ya namanya Rasulullah
tadi sudah lama ketemu dengan orang. Ada
waktunya dia ketemu apa istrinya. Ada
ketemu waktunya dia istirahat. Cuma
mereka enggak mikir itu. Sehingga mereka
kemudian tidak beradab. Panggil ya
Muhammad. Ya Muhammad. Bukan lagi
panggil ya Rasulullah, ya Nabiallah.
Mereka panggil dengan nama langsung ya
Muhammad. Ya Muhammad. Keluar Muhammad
ketemui kami. Ya. Maka Allah turunkan
ayat menegur mereka. Kata Allah,
"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil
engkau di dari luar rumahmu aksaruhum la
yaqilun." Kebanyakan mereka tidak
berakal.
Di sini Allah mengatakan, "Orang yang
beradab biasanya orang berakal. Orang
yang tidak beradab biasanya tidak
berakal." Kenapa? Karena orang yang
berakal, dia biasanya bisa lihat
situasi, dia mengerti perasaan orang,
dia mengerti kondisi sehingga akal dia
jalan. Ini enggak enggak pantas seperti
ini. Orang lagi istirahat nanti ajaalah
tunggu dia keluar. Dia akal dia jalan.
Dia membersihkan dia sebagai diri orang
tersebut. Tapi kalau orang enggak
berakal, akalnya pendek, dia enggak
mikir jauh. Ya sudah saya datang mana
suruh keluar sini. Ya enggak enggak
punya akal. Maka Rasulullah Allah
berfirman, aksaruhum la yaqilun.
Kebanyakan mereka tidak berakal. Makanya
seharusnya kalau orang semakin
berpendidikan semakin dia semakin
semakin semakin beradab harusnya ya.
Kalau orang tidak berpendidikan, tidak
pernah belajar, akalnya tidak jalan ya
mungkin tidak beradab wajar. Tetapi
kalau orang berpendidikan harusnya ber
beradab. Oleh karenanya ee adab itu
sangat penting ee dan di antara hal yang
memotivasi seorang untuk beradab dengan
adab yang baik adalah rasa rasa malu.
Jadi kalau ada anak kita yang pemalu,
biarin aja. Cuma kita arahkan. Ada
misalnya dia malu untuk bertanya, kita
bilang, "Enggak, ini malu yang tidak
tepat. Ini namanya pengecut." Ya, ini
kenapa kau malu? Ini hal baik, bukan hal
yang untuk dipermalukan. Malu tuh kalau
kau nyolong. Malu tuh kalau kau bicara
enggak benar. Malu tuh kalau ini enggak
perlu malu. Bukan ini kebaikan. Enggak
usah malu. Ya, makanya ee Aisyah pernah
berkata, "Nikmal nikmal nisa nisaul
ansar lam lam yamnahunna al hayau
anatafaqahna fiddin." Sebaik-baik wanita
adalah wanita kaum ansar. Kenapa? Rasa
malu tidak menghalangi mereka untuk
belajar agama. Tidak belajar agama.
Makanya Ummu Sulaim datang kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam kemudian
berkata, "Ya Rasulullah, innallaha la
yastahyi minal haq." Sesungguhnya Allah
tidak malu kalau tidak perlu malu untuk
urusan kebenaran. Hal alal marati min
guslin idza hiya idahtalamat. Apakah
wanita harus mandi junub jika mimpi
basah? Ini kan pertanyaan malu
sebenarnya. Tapi karena ini terkait
dengan agama, terkait dengan suatu yang
kewajiban yang harus ditanyakan, maka
dia tanya, dikasih mukadimah dulu. Ini
perkara yang tidak perlu dimalukan ya
Rasulullah. Saya pengin tanya suatu yang
mungkin malu untuk disebutkan. Tapi ini
karena terkait dengan kebenaran tidak
perlu malu untuk mengucapkannya. Apakah
wanita jika mimpi basah, jika mimpi
berhubungan
wajib mandi junub? Rasulullah jawab,
"Naam roatil ma." Iya, wajib mandi junub
jika dia melihat air atau dia basah.
Adapun jika tidak hanya berhubung mimpi
berhubungan tidak sampai ejakulasi atau
keluar sesuatu, maka tidak wajib mandi
mandi junub. Ya. Maka kalau anak kita
punya rasa malu, maka kita harus harus
senang. Kita pupuk rasa malu tersebut
ya. Kemudian kita arahkan ini malu yang
benar, ini malu yang tidak tidak benar.
Karena kalau sampai dia minder, ah ini
jadi pengecut. Bukan lagi malu, tapi
pengecut. Ya, Rasulullah Sallahu Alaihi
Wasallam sangat pemalu tapi bukan bukan
orang minderan, bukan orang pengecut.
Jadi beda antara malu dengan min mind
minder ya.
Tib Rasulullah sahu al wasallam bersabda
dau biarin dia malu ya fainnal haya
minal iman karena rasa malu adalah
bagian dari iman
kata seorang penyair qaleh bin Abdul
Qaddus q maul wajhi qa hayauhu wiro fi
wajhin fi wajhin q mauhu hayaaka fahfhu
alika wa inama yadlu alimi
Hayau. Ya, jika seorang wajahnya tidak
ada kehormatan lagi ya, rai gedek, maka
itu menunjukkan malunya sedikit.
Pokoknya tahu rai gedek ya, muka tembok
ya. Kalau kita malu, dia kok enggak
punya malu kalau dia nekad begitu ke
sana kemari minta-minta enggak? Terus
terang hal yang yang harusnya tidak
perlu disebutkan berarti qol hayauhu
berarti sedikit rasa malunya dan tidak
ada kebaikan pada wajah yang menunjukkan
sedikitnya rasa malu. Tidak ada
kehormatan.
Rasa malumu jagalah. Ya, hendaknya kau
jaga rasa malumu. Kenapa? Karena ee yang
membuat orang melakukan kebaikan adalah
rasa rasa malunya. Orang kalau punya
rasa malu, dia akan melakukan ee
kebaikan.
Tib ee
hadis berikutnya. Wan Imran bin Husain
radhiallahu taala anhu qala qala
Rasulullah sahu alaihi wasallam. Rasul
sahu alaih wasallam bersabda, "Alhaya la
yati illa bikhair." Rasa malu tidak
mendatangkan kecuali kebaikan. Ini rasau
yang benar. Rasa malu yang benar. Bukan
minder, bukan pengecut, bukan penakut.
Rasa malu jika benar dia tidak
mendatangkan kecuali kebaikan. Ya wafi
riwayat Muslim dalam riwayat Muslim
alyahairunuhu
rasa malu itu semuanya baik. Aqala atau
Rasul sahu al wasallam bersabda,
"Alhayau kulluhu khair." Rasa malu itu
seluruhnya adalah ee kebaikan. Maka ini
pujian dari Nabi sallallahu alaihi
wasallam tentang sifat rasa ee rasa malu
ya.
Hadis berikutnya
an Abi Hurair radhiallahu taala anhu
anna rasul sahu al wasallam q rasul sahu
alaih wasallam bersabda al imanu bidun
wasabuna bidun sybah iman itu 70 sekian
cabang atau 60 sekian cabang fafdoluha
qulu lailahaillallah yang paling terbaik
dari cabang keimanan adalah perkataan
lailahaillallah wa adnaha imatulq dan
yang paling rendah dari cabang keimanan
adalah menghilangkan gangguan dari jalan
minal dan rasa malu adalah cabang dari
keimanan. Kata Nawawi rahimahullahu
taala, albid, albid maksudnya bikasril
ba wajuzu fathuha, yaitu boleh albid,
boleh dibaca albad, yaitu alimanu bidun
wasabuun atau kita baca alimanu bad'un
wasabuun. Ini boleh dua-duanya dibaca.
Hua minsal ilal asr. Maknanya antara 3
sampai 10 ya. Wasah alqitah walla yaitu
cabang wal imatah alizalah menghilangkan
wal ma yzi semua yang mengganggu
dihilangkan dari jalan ke hajarin
seperti batu waukin seperti duri watinin
seperti tanah yang pecek waramadin
waqadarin wahwihi itu ya debu dan
kotoran yang mengganggu jalan ya bab di
sini Rasulullah menjelaskan tentang
hakikat iman kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam
aliman bit'un bidun tadi bahasa Arab
maknanya nya 3 sampai 10 yaitu
bidun dan 70 maksudnya 73 atau 74 atau
75 atau 76 atau 79 itu namanya bidha ya
au bidun wasittun atau 60 60 sekian 63
64 sampai 69
di sini rasul sahu alaihi wasallam
menjelaskan iman bukan satu kesatuan
tapi dia bercabang-cabang
sehingga sebagian ulama mengumpulkan apa
yang dimaksud dengan 70 cabang ini.
Karena Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam
hanya menyebutkan dalam hadis ini tiga
sampel aja. Cabang tersebut kata Nabi
yang paling tinggi cabangnya
lailahaillallah. Yang paling rendah
menghilangkan gangguan dari jalan dan
rasa malu bagian dari iman. Berarti ada
berapa cabang Rasulullah sebutkan? Tiga.
Tib. Yang lainnya masih banyak, masih
60, masih 70 lagi. Maka para ulama
mengumpulkan hadis-hadis yang Rasulullah
mengatakan ini bagian dari iman, ini
bagian dari iman. Mereka kumpulkan
seperti athuru syatul iman. Bahwasanya
bersuci adalah setengah dari keimanan.
Maksudnya berwudu dan iman maksudnya
adalah salat ya. Misal tafsirnya seperti
ee apa namanya? Alhayau minal iman. Ini
seperti itu. Kemudian Rasul sahu alaih
wasam mengatakan hubbul ansari minal
iman. Cinta kepada kaum ansar bagian
daripada iman. Maka para ulama berusaha
mengumpulkan seluruh hadis-hadis,
dalil-dalil yang menunjukkan baik
Al-Qur'an maupun sunah yang menunjukkan
secara tegas amalan ini bagian dari
iman. Seperti salat kata Allah, "Wallahu
liud imanakum." Allah tidak akan
menyia-nyiakan iman kalian. Ternyata
iman kalian maksudnya salat. Maksudnya
adalah salat ya. Sebagaimana dalam sebab
turunnya ayat tersebut. Sehingga
akhirnya mereka kumpulkan di antaranya
Alimi, salah salah seorang besar di
mazhab Syafi'i menulis buku tentang ee
alminhaj fi Syu'abil iman. Dia kumpulkan
yang disebut dengan iman sekian banyak.
Kemudian datang setelahnya Albaihaqi
dicetak tiga jilid Albaihaqi
rahimahullah. Kemudian buku judulnya
buku judulnya Syuabul Iman,
cabang-cabang keimanan. Dan bukunya
kalau saya kalau saya tidak salah
terakhir dicetak 20 jilid. Berapa? 20
jilid ya. Jadi cabang kesatu, cabang
kedua dijelasin sama beliau. Cabang
mungkin kalau dibuat pengajian bagus.
Jadi cabang-cabang apa? Keimanan. Buat
apa kita mengenal cabang-cabang ini?
Agar iman kita semakin kuat. Karena iman
tuh ibarat pohon. Ibarat pohon dia ada
akarnya, ada batang cabang-cabangnya.
Semakin cabang-cabang kita semakin
banyak, berarti pohon kita, pohon iman
kita semakin besar. ya semakin kokoh,
semakin kuat, semakin akan banyak
buahnya. Dan dengan iman itulah kita
akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa
taala. Maka seorang berusaha melakukan
cabang-cabang keimanan dan setiap cabang
juga pekerjaannya pun berlevel-level
orang. Satu cabang tidak semua orang
sederajat. Seperti di antara cabang
keimanan salat. Apakah semua orang salat
satu level? Tidak. Ya, tidak ya. Sama
seperti rasa malu. Rasa malu juga
bertingkat-tingkat ya. seperti
lailahaillallah. Semua orang mungkin
mengucapkan lailahaillallah, tapi
lailahaillallahnya bertingkat-tingkat.
Makanya Ibnu Qay mengatakan, setiap
orang muslim pasti punya kartu
lailahaillallah. Kartu amalan tertulis
lailahaillallah. Tapi tidak semua
kartunya menyelamatkan dia di neraka
jahanam. Ada orang mengucapkan
lailahallah tapi diazab di neraka
jahanam. Meskipun tidak kafir tapi nanti
akan dikeluarkan. Ada orang lailahallah
sangat kuat sehingga dia tidak diazab di
neraka jahanam karena tauhidnya sangat
kuat. Maka kita berusaha mengenal
cabang-cabang keimanan tersebut.
Kemudian kita berusaha menjalankan
setiap cabang dengan seoptimal mungkin.
Karena setiap cabang itu orang
mengerjakannya berlevel-level seperti
salat. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, innajulairu minatihi wibahu
illa nisfuhaul
rubuaha khumus. Ada seorang salat namun
tidak dicatat pahala salatnya kecuali
hanya seperduanya, sepertiganya,
seperempatnya, seperlimanya. Beda-beda
orang. Bisa jadi dua orang salat di saf
yang pertama berdampingan. Pahala mereka
perdua antara langit dan bumi. Ya,
sedekah bisa jadi nomnya nominalnya
sama, tapi hati ketika bersedekah
berbeda antara satu dengan yang yang
lainnya. Tetapi kalau kita mengenal
cabang-cabang keimanan, kita punya punya
saham dalam cabang ini, punya saham
dalam cabang ini, mudah-mudahan pohon
keimanan kita menjadi lebat, menjadi
besar, sehingga kita bertemu dengan
Allah dengan iman yang sangat ee luas.
Ya,
ini maksud Rasulullah sebutkan iman itu
sekian cabang. Tapi Rasulullah tidak
tegas. 73 tersebut atau 75 tersebut
adalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 salat tidak
tegas. K seb ulama mengatakan seperti
Syekh Utsimin rahimahullah agar seorang
ee berusaha mencari dan berusaha setiap
ada lafal ini bagian dari iman dia
kerjakan, ini bagian dari iman dia
kerjakan sehingga dia termotivasi untuk
menyempurnakan pohon keimanannya. Tib.
Dan di antara cabang keimanan Rasulullah
mengatakan alhaya minal iman. Rasa malu
adalah bagian dari iman. Jadi ada cabang
keimanan terkait dengan perkataan
seperti lailahaillallah.
Ada cabang keimanan ya. Lailahallah
tentu dengan keyakinan. Keyakinan tidak
ada yang berhak disembah kecuali Allah.
Ada cabang keimanan berupa menghilangkan
gangguan dari jalan. Ini kelihatannya
sepele bahkan Rasulullah mengatakan yang
paling rendah menghilangkan gangguan
dari jalan. Ya itu k kata Imam Nawawi.
Ada apa? Ada duri dia pindahkan, ada
paku dia pindahkan, ada batu ya jangan
sampai diinjak oleh orang lain ya. Ada
beling dia pindahkan.
Kelihatannya Rasulullah sebutin ini
adalah cabang keimanan paling rendah.
Tetapi ada orang yang melakukannya
dengan kualitas yang tinggi. Ternyata
Rasulullah kabarkan ada orang masuk
surga gara-gara menghilangkan gangguan
dari jalan. Ada orang masuk surga.
Rasulah mengatakan ada seorang lelaki
dia sedang berjalan. Tiba-tiba dia
melihat Gusnus syajarah, yaitu ada
cabang dahan yang menghalangi jalan.
Maka dia mengat dia mengatakan, "La
yudil mukminin." Jangan sampai dahan ini
mengganggu orang-orang beriman yang
sedang lewat. Maka dia pindahkan. Tetapi
dengan sebab itu Allah ampuni dosa
dosa-dosanya. Jadi meskipun Rasulullah
mengatakan ini cabang yang paling rendah
bukan berarti untuk kita remehkan.
Lakukan saja. Kita enggak tahu amal mana
yang menyebabkan kita diampuni oleh
Allah Subhanahu wa taala.
Jadi maksudnya satu cabang tuh beda-beda
orang. Sekarang ada orang lihat batu di
jalan ada yang bilang, "Hoba nanti siapa
yang dia tunggu-tunggu siapa yang
kesenggol." Nah, itu senang ketawa. Ada
yang malah senang, ada yang taruh
gangguan di jalan ya dia taruh kaleng
dalamnya batu. Orang biasanya iseng
tendang kaleng ternyata ada batunya. Mak
aduh sakit dia ketawa sedang. Itu
namanya naruh naruh gangguan di jalan.
Ada yang lihat gangguan di jalan coba
dia lihat dia sedih. Aduh nanti kena
orang. Tapi dia enggak pergi
menghilangkan. Dia cuma lihat aja. Aduh
kasihan nih. I beda dengan orang yang
turun kemudian apa? Menghilangkan. Beda.
Yang turun menghilangkan berbagai macam
juga niatnya. Maka setiap cabang itu
berlevel-level manusia dalam
menjalankannya. Di antaranya yang
Rasulullah statementkan secara jelas,
alhayyaun
minal iman. Rasa malu bagian daripada
iman. Maka seorang
kalau punya dari sananya punya rasa malu
dia bersyukur kepada Allah tinggal dia
kembangkan. Yang tidak punya rasa malu
atau kurang rasa malunya dia pupuk rasa
malunya. Ah enggak enaklah malulah. Dia
mulai mulai seperti itu. Masa gitulah
ya. Masa kita minta-minta masa kita
malulah gak usahlah ya. Seperti kita
mulai pupuk rasa rasa malu karena dia
adalah bagian daripada keimanan.
Kemudian an Abi Said Alkhudri
radhiallahu anhu qala kana Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam asyadda
hayaan minal adra fi khidriha adalah
rasul sahu al wasallam lebih malu lebih
lebih malu daripada seorang wanita
alazra itu wanita gadis ya fi khidriha
dalam pingitannya
faan yakruh arahu fi wajihi kalau rasul
faaian yakruhuhu arnahu fi wajihi kalau
rasul sahu al wasallam melihat suatu
sahu al wasallam melihat suatu yang dia
yang dia tidak suka rasulullah enggak
tidak suka rasulullah enggak perlu
perlu ngomong sudah kelihatan dari
ngomong sudah kelihatan dari wajahnya
wajahnya itu mungkin
itu mungkin Kemudian an Abi Said Alkudri
Ada rona merah menunjukkan Rasul Sallahu
Alaih Wasallam tidak tidak suka. Q ulama
annawai berkata berkata para ulama
hakikatul haya. Adapun hakikat rasa malu
khulu yabilqih.
Rasa malu adalah akhlak yang memotivasi
atau menggerakkan seorang untuk
meninggalkan perkara yang buruk. Wamnu
minqsir fi haqqiil haqq. dan membuat dia
tercegah dari melakukan kurang dalam ee
dalam menegakkan atau dalam menunaikan
hak orang. Dia dia malu untuk
kurang dalam menunaikan hak orang. Itu
malu kalau sebagai seorang suami saya
tidak tunaikan hak istri saya. Malulah
istri saya sudah begini, istri juga
gitu. Saya malulah kalau suami saya
sudah baik, sudah kerja kemudian saya
tidak layani. Saya malu tidak menunaikan
hak ee suami. Orang tua malu masa anak
tidak saya perhatikan. Ya, dia malu
tidak menunaikan hak anak. Anak pun
malu, orang tua saya tidak seperti itu
namanya ee itu rasa malu. Mencegah
seorang tidak bersikap berkurang-kurang
dalam menunaikan hak orang lain. Warina
an Abil qasim aljunaid qala alya ryatul
alam ryatul alai aam waryatut taksir
fayatawadu bainahumaatunyaan.
Dan kata Aljunaid, rasa malu. Bagaimana
bisa timbul rasa malu seorang ini
terkait dengan Allah Subhanahu wa taala
atau terkait dengan selain Allah, tapi
paling pas terkait dengan Allah. Yaitu
seorang melihat kenikmatan yang banyak
yang Allah berikan kepadanya. Kemudian
dia melihat kok dia tidak bersyukur
dengan baik. Maka dari memperhatikan
begitu banyak nikmat yang Allah berikan
dan sikap dia dalam beribadah kepada
Allah, maka timbullah suatu kondisi
dalam dirinya yang disebut dengan ma
malu. Yaitu malu tidak bersyukur kepada
Allah. Malu tidak beribadah kepada Allah
Subhanahu wa taala. Ya, malu menggunakan
nikmat Allah untuk maksiat. Oleh
karenanya ketika Nabi Yusuf Alaih Salam
digoda oleh Imratul Aziz yang konon
namanya Zulaikha, makanya dia
mengatakan, "Qala maallah, aku
berlindung kepada Allah atas godaanmu,
atas rayuanmu." Innahu ahsana matwaya.
Sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik
kepadaku. Di sini ada dua tafsiran. Di
antara tafsiran Rabb maksudnya Allah.
Maksudnya bagaimana saya bermaksiat,
bagaimana saya berzina, sementara Allah
telah berbuat baik kepada kepada saya.
Malu ya. malu ee membalas kebaikan Allah
dengan pembangkangan. Ya, ini disebut
dengan rasa malu kepada Allah subhanahu
wa taala. Tib kita bahas di sini hadis
tentang bahwasanya Rasul sahu alaihi
wasallam kana asyadda hayaan minal adra
fi khidriha.
Ada wanita Rasulullah lebih malu
daripada seorang wanita yang gadis yang
sedang dipingit.
Wanita gadis harusnya pemalu.
Kenapa pemalu? Bukan dia tidak
berinteraksi dengan laki-laki. Dia tidak
tahu tentang laki-laki. Dia pemalu.
Apalagi dia dalam pinggitannya. Apalagi
dalam pingitannya. Ini menunjukkan sikap
malu yang tinggi seorang wanita gadis
dalam pengintan. Apalagi orang-orang
Arab dahulu mereka punya rasa malu yang
luar luar biasa ya. Sampai sebelum
timbul metsos yang begitu banyak ya. Ee
Suballah mengatakan rasa malu masih
tersebar di negeri-negeri Arab ya.
sampai mereka pakai kain seperti itu,
pakai jilbab seperti itu. Bahkan kalau
begitu lewat laki-laki mereka meminggir
sampai terkadang baju mereka tertempel
ke dinding-dinding. Dulu dinding lama
terbuat dari tanah sampai ada baju
mereka yang tergores-gores.
Dulu sempat ada seperti itu ya. Rasa
malu yang luar biasa ya. Sampai kawan
saya cerita ya zaman dulu zaman masih
zaman bahala ya. Dia bilang dulu
kawan-kawan dulu zaman-zaman dulu kalau
nikah sampai enggak pernah ngelihat
wanita datang langsung nikahin aja
karena malu mau lihat apa lihat
perempuan malu perempuan juga malu lihat
sama laki-lakinya jadi tahu-tahu nikah
tahu-tahu nikah ya kadang-kadang seperti
ada yang nazar ada yang tidak perlu
nazar pokoknya dengar cerita gak perlu
nazar langsung apa ni nikah tinggal
dengar berita percaya nikah itu dulu
sekarang
belum nikah sudah dilihat
tidak dilihat pun sudah ter terlihat.
Jadi, ada perubahan-perubahan. Tapi
maksudnya rasa malu, apalagi seorang
gadis yang tidak pernah berinteraksi
dengan ee lelaki. Dan rasa itulah
seharusnya seorang wanita memiliki rasa
rasa malu. Makanya Allah memuji wanita
yang dinikahi oleh Nabi Musa Alaih
Salam. Kata Allah, "Fajaathu ihdahuma
tamsi alastihya."
Maka datanglah dari dua wanita tersebut
menemui Nabi Musa tamsi alasya. Maka dia
berjalan dengan penuh rasa malu. Apa
kata Umar bin Khattab radhiallahu anhu
menafsirkan ayat ini? A qoilatan
eh bitubiha ya. Ee maka dia pun memegang
bajunya sambil menutup wajahnya. Sambil
menutup apa? Wajahnya itu dia jalan
tersipu malu di antaranya dengan sambil
menutup wajahnya. Padahal di zaman itu,
di zaman Bani Israil menutup wajah tidak
disyariatkan atau tidak wajib. Tetapi
wanita malu ketika dari jauh melihat
Nabi Musa, maka dia berjalan dengan
tersipu malu sambil menutup wajahnya.
Ketika dia bertemu dengan Nabi Musa, dia
berkata, "Qalat inna abi yaduka
liyajizaka ajrqana." Sungguhnya ayahku
mengundangmu untuk memberi upah atas
bantuanmu mengambilkan air buat buat
kami.
Dia tidak datang ee kafauk Musa
ee begini loh begini gak. Dia langsung
bilang saya datang sini karena disuruh
apa abi. Dia langsung sebutkan to the
point dengan malu-malu dia berkata,
"Inna abi yaduka." Ayahku mengundangmu
untuk kasih upah sehingga tidak ayo
ikut-ikut. Mau ke mana? Ayo, Guys, ikut
aja. Gak
ditanya-tanya apa ini? Ngapain gak?
Maksudnya dia malu sehingga dia jelas
ngomong, jelas. Kalau bukan ayahnya bisa
datang, ayahnya akan datang. Tapi
ayahnya tua sehingga dia harus datang.
Ketika datang jalan dengan malu-malu dan
dia langsung bilang Nabi Musa dengan
tudin. Kemudian Nabi Musa Alaih Salam
akhirnya pun juga pemalu. Nabi Musa juga
pemalu. Allah menemukan wanita pemalu
dengan lelaki pemalu. Makanya dalam
hadis disebutkan dulu Bani Israil
laki-laki mandi bareng gak apa-apa.
Laki-laki mandi barang gak mengapa dan
terlihat aurat di antara mereka tidak
mengapa. Syariat zaman dulu beda dengan
syariat zaman sekarang. Seperti syariat
zaman dulu orang boleh sujud kepada
orang lain dalam bentuk penghormatan,
bukan peribadatan. Sekarang enggak
boleh. Di antara syariat yang dulu
boleh, sekarang enggak boleh. Syariat
mandi barang lelaki sesama lelaki.
Kemudian mandi barang mungkin terlihat
aurat ini dulu tidak mengapa. Nabi Musa
karena rasa malu dia mandi tempat lain.
Jadi enggak gabung sama murid-muridnya.
Akhirnya murid-muridnya kurang ajar itu
Musa tidak gabung sama kita. Ada masalah
di testisnya katanya. Ini murid-murid
kurang ajar ya. Sampai akhirnya kenapa?
Maksud saya intinya hadisnya dalam Sahih
Bukhari tapi intinya Nabi Musa itu
pemalu. Pemalu. Ternyata Allah d membuat
dia menikah dengan seorang juga wanita
sangat apa? Pemalu. Maka ketika wanita
tersebut berjalan, Nabi Musa jalan di
depan, tersebut di belakang. Ya. Kalau
mau belok kanan, wanita tersebut lempar
kerikil sebelah kanan. Nabi Musa belok
kanan. Kalau belok kiri lempar kerikil
kiri. Kalau lurus jangan l. Jadi tidak
ada ngomong di tengah jalan.
Enggak bilang sah. Sah kamu dari mana
sih?
Enggak ada. Enggak ada. Ini jalan rasa
malu dan kita menjaga. Kalau ada wanita
pemalu kita hormat. Tapi kalau wanita
enggak punya malu, maka kita hormat.
Wanita malu kita hormati. pemalu kita
hargai pemalu ya. Oleh karenanya wanita
asalnya pemalu. Sekarang
rasa malu itu mulai hilang dari kalangan
para wanita. Ya.
Saya dulu pertama ke Madinah, saya masuk
di pasar namanya pasar Albalad. Albalad
tuh ya pasar rakyat. Dulu ada di daerah
daerah sebelah Baki. Sekarang sudah
enggak ada. Ya,
itu tahu-tahu saya saya baru pertama
saya mau beli sesuatu terus ada suara di
belakang Muhammad. Muhammad maksudnya
minggir Muhammad. Saya bingung Muhammad
nih siapa maksudnya. Ternyata saya
ternyata jadi caranya Oh. Oh. Eh, saya
baru dia baru dia maju ya.
Kalau eh eh
enggak Muhammad MuMad lagiah. Eh,
gantian.
Jadi ee apa namanya?
ee rasa malu perlu kita tanamkan pada
anak-anak, terutama anak perempuan ya.
Kalau anak kita mulai gede, kita bilang,
"Malulah itu majelis laki-laki. Jangan
malu-maluan laki perempuan sama
perempuan kita tanamkan, eh malu-malu
ketemu itu. Eh, malu-malu eh pakai baju
yang rapi, malu." Jadi kita tanamkan
mereka untuk rasa malu sejak kecil
sehingga terpatri dalam diri mereka
milik. Karena rasa malu ini akan membuat
mereka baik nanti. Kalau jadi istri,
jadi istri yang salehah, istri yang baik
ya. Tapi kalau enggak punya malu repot
ya. Enggak punya malu reot.
Ya. Kemudian kata Umar bin Khattab
radhiallahu taala anhu,
balfain khja wallah. Wanita ini yang
menemui Nabi Musa yang penuh rasa malu.
Laisat balfa. Salfa itu apa? Jari.
Berani seperti lelaki. Kalau bicara
dengan lelaki seperti bicara dengan
perempuan yang lain. Jadi bicaranya eh
kalau perempuan harusnya eh aduh e gitu
harusnya ya. Malu-malu ya ini. Eha eh
lagi ngobrol apa sih? Boleh nimbrung
enggak? Pokoknya sama laki-laki seperti
teman perempuan sendiri. Bahkan sekarang
laki-laki lebih malu daripada perempuan.
Ya laisat bis balfaid kharaja wallaja.
Bukan wanita yang sering keluar rumah,
masuk keluar rumah tanpa ada urgensi ya.
Wanita yang suka keluar rumah enggak ya.
Wanita ini tidak demikian. Dia keluar
rumah karena ada urgen karena bapaknya
enggak bisa pergi maka dia mewakili ee
bapaknya.
Mak ikhwan, kalau antum mau menikah,
kalau sudah terlanjur ya sudahlah ya
maksudnya yang jomblo kalau kalau mau
menikah cari wanita yang pemalu ya
dikenal pemalu ya. Kalau malu bagus ya
insyaallah kalau antum nadar dia malu
dia malu dia malu.
Tapi kalau antum nadar dili juga nadar
gini aduh
mending antum mundur ya. Antum yang
malu-malu. Wah masih pandangan pertama
antum sudah kalah. Gimana kalau sudah
menikah? Ya. Jadi carilah wanita pemalu.
Di sini wanita digambarkan dengan sifat
pemalu, apalagi wanita gadis yang dalam
pingitannya. Kemudian ternyata Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam lebih pemalu
dari wanita seperti itu ya. Rasul sahu
alaihi wasallam memiliki rasa malu yang
sangat tinggi. Tapi bukan berarti
Rasulull sallallahu alaihi wasallam
pengecut. Gak. Rasulullah kalau ada
kemungkaran dia ingkari, kalau ada
kebaikan dia anjurkan. Ya, tapi dia
sangat pemalu sehingga jauh dari hal-hal
yang buruk ya. halnya hal-hal yang buruk
dan sangat semangat melakukan hal-hal
yang baik. Ya, makanya Rasul sahu alaihi
wasallam salat sampai kaki
bengkak-bengkak. Maka ditanya sama
istrinya, "Kenapa Anda salat?" "Hatta
tatawaram qodamak sampai kedua kaki Anda
bengkak-bengkak?" Kata Rasul sahu alaihi
wasallam, "Afala akunu abdan syakura."
Kenapa aku tidak menjadi hamba yang
pandai bersyukur? Yaitu malu kalau tidak
ibadah kepada Allah. Nikmat begitu
banyak terus malu tidak beribadah.
Makanya Rasul sahu alaihi wasallam salat
malam dengan ee dengan apa? Dengan
panjang. Ya Rasulullah ee sangat pemalu.
Di antara sifat pemalu Nabi sallallahu
alaihi wasallam disebutkan bahwasanya
Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika
meninggal punya hutang sama Yahudi.
Punya hutang sama Yahudi sambil dia
menggadai menggadaikan baju perangnya
untuk membeli gandum untuk kebutuhan ee
primer istri-istrinya ya. Bukan untuk
beli macam-macam tapi untuk beli gandum.
Sehingga para ulama membahas kenapa Nabi
sampai punya hutang. Tentu itu hutang
tidak tidak hutang yang tidak perlu
memalukan karena ada gadainya, ada apa?
Ada jaminannya. Janya jaminan itu lebih
tinggi nilainya daripada utang yang dia
ambil. Seandainya Rasulullah tidak bisa
bayar, dia kasih gadai berupa apa? Baju
perang bisa dijual. Kenapa Rasul sahu
alaihi wasallam sampai berhutang?
Padahal punya teman-teman
sahabat-sahabat yang kaya-kaya. Ada Abu
Bakar, ada Utsman, ada Umar, ada yang
lain. Abdurrahman bin Auf kaya-kaya.
Kata para ulama, Rasul Sallahu Alaih
Wasallam, "Pekaiwuh malu kalau dia
pinjam uang sama sahabat pasti enggak
enggak boleh dikembalikan." Dia sudah
ambil-ambil Rasulullah mus kesempatan
nih. Maka dia tidak ingin merepotkan
apa? Para sahabat sehingga dia berhutang
supaya tidak merepotkan apa? Para para
sahabat. Nah, ini rasa malu Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Di antara
rasa malu Nabi sallallahu alaihi
wasallam, Allah sebutkan dalam surat
Al-Ahzab ayat 53
ya ee kata Allah Subhanahu wa taala ya
ee tentang kisah sebab nuzulnya adalah
tentang pernikahan Nabi dengan Zainab,
Zainab binti Jahsyin. Ketika Nabi
menikah dengan Zainab binti Jahsy Rasul
sahu al wasam bikin walimah ada roti ada
daging. Maka Rasulullah suruh Anas
panggil orang-orang semua untuk makan.
Datang-datang kata kata siapa lagi?
Masih semua sudah dipanggil makan,
makan, makan. Sudah makan selesai masih
ada tiga orang duduk di situ. Gak
pergi-pergi. Ini baru nikah ini enggak
pergi. Kapan bisa mau berduaan sama
istri? Jadi ngobrol terus Rasulullah
akhirnya pergi ke rumah istri yang lain.
Gimana Aisyah kabarnya? Sudah baik lagi.
Masih lagi ngobrol situ. Rasul lagi
masih lagi ngobrol situ. Akhirnya Allah
turunkan ayat ya kata Allah Subhanahu wa
taala ya.
Yaina ambiakum.
Allah berfirman, "Wahai orang yang
beriman, janganlah kamu memasuki
rumah-rumah Nabi kecuali kamu diizinkan
untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu
waktu masak makanannya." Itu kalau masuk
rumah tunggu dipanggil baru daang.
Jangan eh ada walimah eh tunggu di rumah
Nabi lagi dimasak ya. Mas jangan nanti
tunggu panggilan dulu. Kalau belum
dipanggil jangan datang sebelum waktu
waktunya. Kenapa? Ada orang punya
privasi ya datang. Oh lagi dipotong
kambingnya. Tunggu sebentarnya sampai
mana? Sampai mana? itu nanti kalau
dipanggil baru daang.
Kata Nabi, kata Allah Subhanahu wa
taala, "Tapi kalau kalian diundang, maka
masuklah dan bila kalian selesai makan
keluarlah tanpa asing memperpanjang
percakapan.
Hal itu sungguhnya mengganggu Nabi dan
lalu Nabi malu kepada kalian untuk
menyuruh kalian keluar." Jadi, Nabi malu
sampai Nabi mau enggak bilang, "Eh,
kalian gimana ini? Ini malam pertama
gimana kalian di sini-sini enggak
pulang-pulang? Gimana mau jadi malam
pertama?" Ini di ngobrol terus ngobrol.
Nabi sudah pergi keluar balik masih
ngobrol. Ya, sahabat namanya ada yang
lalai, ada yang lupa. Kenapa? Karena
Nabi pema pemalu.
Kalau kita eh eh
ini jam berapa ini?
Kayak enggak pernah nikah aja.
Kapan malam pertamanya nih? Kalau kalian
di sini terus
kita mungkin begitu. Tapi Nabi
sallallahu alaihi wasallam Nabi pemalu
ya. Itu di antara yang menunjukkan
bagaimana besarnya rasa malu Nabi
sallallahu alaihi. Wasallam. Demikian
juga di antara menunjukkan besarnya rasa
malu Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Rasulull sahu alaihi wasallam kalau ada
suatu yang dia tidak suka tidak langsung
ngomong. Sahabat ng dia cuma kelihat
perubahan wajahnya. Ini Nabi lagi marah.
Dia ngomong enggak enak tapi cukup
dengan wajahnya berubah rona wajahnya.
Berarti Rasul sahu alaihi wasallam
sedang sedang marah. Ada suatu yang dia
tidak suka. Ini makruf dari Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Ya. Inilah
ee apa namanya? Sifat Nabi sallallahu
alaihi wasallam yang memiliki rasa rasa
malu yang yang besar. Maka seorang
berusaha juga menerapkan dirinya rasa
malu sehingga kalau dia merasa punya
rasa malu akan mengantarkan dia pada
perbuatan-perbuatan yang baik dan
menjauhkan dia dari perbuatan-perbuatan
yang tercela. Ya, tapi kalau sudah tidak
punya rasa malu, apapun dia lakukan.
Nah,
di antara yang merusak rasa malu
sekarang, yang paling besar merusak rasa
malu tontonan. tontonan. Rasa malu
hilang, rasa cemburu hilang.
Anak gadis kita kalau nonton misalnya
film-film Korea ya rasa dia melihat
suatu ciuman laki-laki jalanan jadi
biasa. Ketika dia melihat pemandangan
yang biasa akan termasuk akan berimbas
pada hatinya. Enggak berimbas sehingga
dia menjadi itu suatu yang biasa. Suatu
yang biasa. Kalau kita nonton film orang
kafir misalnya, laki-laki ketemu
laki-laki cium istri orang, istri orang
istri dia dicium laki orang, ya cipika
apa cipiki. Kemudian ee dia akhirnya
dibiasa.
Jadi biasa kita enggak punya rasa malu
bahkan tidak punya rasa cem cemburu.
Jadi rasa malu kadang-kadang didik
dididik anak-anak di pondok dididik
dengan baik jadi hancur rasa malunya
gara-gara tontonan yang sebentar.
Dia diajarin di pondok selama
bertahun-tahun. Kemudian dia keluar
ketemu teman-temannya nonton yang
tidak-tida, rasa malunya pun hilang. Ini
sekarang musibah yang menimpa
zaman kita, yaitu tontonan-tontonan yang
begitu mudah diakses yang menghancurkan
rasa malu yang kita bina, yang kita diik
kepada anak kita. Maka ini perlu
perjuangan lebih untuk mendidik
anak-anak. Sejak kecil kita tanamkan
rasa rasa malu sehingga meskipun
taruhlah mereka melihat suatu tontonan
tetap mereka bisa memiliki rasa malu
yang yang kuat dan mudah-mudahan tidak
berpengaruh pada diri diri mereka. Jika
tidak kita biarkan sehingga mereka
nonton sebebasnya maka rasa malu mereka
akan hancur. Ketika rasa malu sudah
mereka hancur ya sudah sama laki-laki
gampang mau ini gampang mau anu gampang.
Akhirnya membuka banyak pintu
kemaksiatan. Akhirnya membuka banyak
pintu perzinahan. Kenapa? Karena
hilangnya rasa rasa malu ya, maka kita
tanamkan dan ini eh malulah jangan gitu.
Eh, kamu enggak malu kalau begitu. Kamu
jalan gitu apa enggak malu? Ya jalan
pergi apa nih misalnya ee ke masjid
kemudian pakai celana di atas lutut
kelihatan pahanya kemudian kan malu
dilihatlihat orang. Malulah ya. Gu
enggak malu cukuran rambut model begitu
ya. Semua sini kayak rambut satu botak
semua kanan kiri. Apa enggak malu kamu?
Enggak malu rambut semua botak. Kemudian
tinggal satu kayak ada oasnya di tengah
padang pasir. Malu saya lihat. Saya
lihat orang saya bingung. Saya ke luar
negeri ke Australia lihat ada orang kok
begini apa dia enggak malu orang Islam.
Kemudian dia rambutnya botak kemudian
tinggal satu secuil di sini di
tengah-tengahnya ada pohon kelapa.
Enggak
malu anak-anak anak saudara anak-anak
teman-teman kita. Kemudian ketika buka
puasa dia enggak puasa. Laki-laki
mungkin haid. Wallahualam.
Enggak puasa. Dia enggak puasa. Belum
waktunya dia berbuka, dia berbuka enggak
puasa. Enggak kan harusnya malu. Tapi
kalau sudah enggak punya malu, kalau
kita kan malu. Kalau enggak enggak gitu,
eh malu. Tapi ketika rasa malu hilang
mau apain aja enggak enggak ada masalah.
Ini makanya pentingnya rasa malu.
Tanamkan sama anak laki-laki maupun apa
perempuan. laki-laki terutama perempuan
di zaman sekarang tanamkan rasa rasa
malu. Wabillah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.