Tafsir Juz 23: Surat Az-Zumar #11 Ayat 53-61 - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
fJGQEzSgbzo • 2025-09-12
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla
ilahaillallah
wahdahu la syarika lahu takziman lisan
wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh dail ridwan. Allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwanih.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh
Allah subhanahu wa taala. Insyaallah
kita lanjutkan dari penjelasan ayat-ayat
dalam surah Az-Zumar dan kita sampai
pada ayat ke-53. Allah Subhanahu wa
taala berfirman, "Qul ya ibadi
asrofu
ala anfusihim laqahmatillah
inallaha yagfirudun jamian innahu
gfurahim." Katakanlah,
"Wahai hamba-hambaku yang melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri,
laqnat rahmatillah, janganlah kalian
putus asai rahmat Allah. Innallaha
yagfirun jam. Sesungguhnya Allah
mengampuni seluruh dosa. Innahu huwal
gfurur rahim. Sesungguhnya dialah Allah
yang maha pengampun lagi maha penyayang.
Ayat ini didatangkan oleh Allah
Subhanahu wa taala setelah ayat-ayat
sebelumnya. Kalau kita perhatikan ayat
sebelumnya, Allah membahas tentang
bagaimana nasib
orang-orang yang kafir ketika mereka di
neraka. Ya, ditampakkan azab kepada
mereka. Seandainya mereka
punya harta sepenuh bumi ini, mereka
akan berusaha
menebusnya, ya. Kemudian bagaimana
mereka disiksa oleh Allah Subhanahu wa
taala dan seterusnya. Maka pada ayat ini
ya
ee Allah Subhanahu wa taala menyebutkan
tentang harapan kepada mereka. Artinya
sejahat-jahat mereka, semusyrik-musyrik
mereka,
ya mereka masih mendapat kesempatan
untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa
taala. Masih ada kesempatan untuk
dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
Dan itulah di mana metode Al-Qur'an
menggabungkan antara targhib dan tarhib.
Targhib itu motivasi. Tarhib itu memberi
peringatan.
Ya, sebagaimana Allah berfirman, "Nabbi
ibadi anni analfururah rahim wazabiul
alim." Kabarkanlah kepada hamba-hambaku,
sesungguhnya aku adalah maha pengampun
lagi maha penyayang. Waabiul
alim. Namun meskipun aku maha pengampun,
maha penyayang, namun azabku adalah azab
yang sangat pedih.
Maka sebagaimana dalam juga dalam surat
Azzumar ini sebelum ayat ini Allah
sebutkan tentang bagaimana nasib
orang-orang yang meninggal dalam kondisi
musyrik, pembangkang, pelaku maksiat,
maka nasib mereka sangat mengenaskan di
akhirat kelak ya. Apa yang mereka
ejek-ejek selama ini ya akan ee balik
menghantam mereka. Tetapi setelah itu
Allah sebutkan bahwasanya
meskipun azab Allah sangat pedih di hari
kiamat kelak, tapi Allah maha pengampun
lagi maha penyayang. Jika kalian
bertobat kembali kepada Allah, kalian
akan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu
wa taala. Maka ayat ini surah Az-Zumar
ayat 53. Sebagian ulama menyatakan ini
adalah ayat yang paling arja ayatin fi
kitabillah. Yaitu ayat yang paling
memberi harapan
dalam Al-Qur'an. Ya, ada para ulama ada
khilaf tentang apa sih ayat yang paling
memberi harapan kepada manusia, terutama
kepada para pendosa ya. Di antaranya
yang berpendapat ayat yang paling
memberi harapan adalah ayat ini. Karena
di sini dalam ayat ini Allah menjelaskan
bagaimana kasih sayang dan luasnya
ampunan Allah dan luasnya kasih sayang
Allah. Bahkan kepada para pendosa jika
mereka mau kembali kepada Allah
subhanahu wa taala.
Allah buka ayatnya dengan berkata qul.
Qul itu perintah. Perintah kepada Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam. dan
juga mewakili Nabi Muhammad adalah para
ulama untuk menyampaikan hal ini.
Sehingga ini adalah nidaun ilahi, seruan
dari Allah Subhanahu wa taala agar
disampaikan kepada para pendosa
melalui Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam atau melalui para dai, para
ulama agar menyampaikan pada para
pendosa pernyataan berikut ini agar
mereka para pendosa tersebut tidak putus
asa dari rahmat Allah Subhanahu wa
taala. Qul katakanlah ya ibadi itu
sampaikanlah kepada mereka perkataan
Allah atau perkataanku
ya ibadialladina asrofu ala anfusihim.
Wahai hamba-hambaku
yang asrofu asrofu israf itu berlebihan
berlebihan
melewati batas terhadap diri mereka
yaitu maksiatnya berlebihan parah. La
taqnatu mir rahmatillah. Janganlah
kalian putus asa dari rahmat Allah.
Innallah yagfirudunuba jamian.
Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh
dosa. Innahu hual gfur rahim. Dan
sesungguhnya Allah maha pengampun lagi
maha penyayang. Di sini ada beberapa ee
isyarat yang menunjukkan bahwasanya
Allah begitu sayang kepada
hamba-hambanya bahkan kepada para
pendosa jika mereka kembali kepada
Allah. Yang tadi pertama Allah suruh
sampaikan hal ini. Qul ya katakanlah.
Yang kedua, Allah
meng ee
menyandarkan hamba-hamba tersebut kepada
dirinya. Ya ibadi, wahai hamba-hambaku.
Wahai hamba-hambaku.
Ya Allah tidak tidak menafikan
bahwasanya para pelaku dosa tersebut
adalah hamba-hambnya.
Padahal mereka membangkang, padahal
mereka musyrik, padahal mereka menentang
Allah subhanahu wa taala. Allah tetap
menyatakan kalian hamba-hambaku. Karena
kalian semua ciptaan siapa? Al Allah.
Kita kalau manusia aja kadang kita
marah, saya enggak usah orang lainlah,
sayalah. Saya kalau marah saya bilang
sama istri saya, "Tu anakmu itu."
Padahal anak kita berdua. Yaang
saya marah, "Itu anakmu tuh anakmu
kalau lagi baik." Ih, anak saya itu.
Nah, jadi orang-orang lagi para para
pelaku maksiat ya, mereka membangkang
perintah Allah. Mereka menentang
ayat-ayat Allah.
Bahkan ayat ini khususnya sebenarnya
ditujukan kepada orang-orang kafir
sebagaimana disebutkan oleh Thahir bin
Asyur. Asalnya ayat ini ditujukan kepada
orang kafir karena ayat-ayat sebelumnya
berbicara tentang orang-orang apa?
Kafir. Orang musyrikin.
Ya. Kalau kalian kafir, kalian melampaui
batas, tetap kalian adalah hamba-hamba
Allah Subhanahu wa taala. Kalian ciptaan
Allah Subhanahu wa taala. Dan ini
memberi semangat kepada mereka untuk
kembali kepada Allah. Karena mereka
masih disebut hamba-hambaku, hamba-hamba
Allah. Ya Allah mengatakan, "Katakanlah
kepada
itu, wahai hamba-hambaku
alladzina asrofu ala anfusihim yang di
mana mereka telah berbuat israf terhadap
diri mereka, yaitu dosanya bukan dosa 1
2 3 4 5 10 100. Dosanya terlalu banyak
berlebih-lebihan.
Berlebih-lebihan.
Dan ini ditujukan dengan kata ala
anfusihim yang mereka telah
berlebih-lebihan atas diri mereka
sendiri. Isyarat bahwasanya
ee semakin orang berbuat dosa
semakin mereka memberatkan diri mereka.
Makanya kalau kita terjemahkan secara
letterl
hamba-hambaku yang telah
berlebih-lebihan atas diri mereka
sendiri. Padahal maksiat yang mereka
lakukan mungkin terkait dengan orang
lain ya, terkait diri sendiri ya. Tapi
semua yang mereka lakukan tersebut gak
ada pengaruh bagi Allah Subhanahu wa
taala
ya.
Karena Allah Subhanahu wa taala
tidak berkurang kekuasaannya dengan
kemaksiatan kalian. Sebagaimana dalam
hadis qudsi Allah mengatakan, "Ya ibadi
anakumakumakum."
Wahai hamba-hambaku, seandainya kalian
sel dari awal sampai akhir, jin dan
manusia, seluruhnya hatinya hati yang
paling buruk semuanya berhati iblis,
semua hati berhati Firaun, semua berhati
Abu Jahal, tidak akan mengurangi
kekayaan Allah sama sekali.
Innakum lan tadblugu fataduruni
walan tabl nafi fatanfauni. Dalam hadis
qudsi juga Allah mengatakan, "Kalian
tidak bisa beri mudarat kepadaku
sehingga kalian beri mudarat kepadaku."
Enggak bisa. Allah kalau orang
bermaksiat tidak mengurangi kekuasaan
Allah Subhanahu wa taala, tapi hanyalah
mereka merugikan diri mereka sendiri.
Kata Allah, "In ahsantum ahsantum
lifusikum wain as'tum falaha." Kalau
kalian berbuat baik adalah untuk diri
kalian sendiri. Kalau kalian berbuat
maksiat ya kena kalian sendiri.
Tidak merugikan Allah sama sekali
sedikit pun.
Yang seperti hamba seperti kalian juga
banyak. Hamba Allah banyak hamba Allah
banyak kita maksiat. Hamba Allah masih
banyak yang taat. Seluruh manusia
maksiat malaikat
semuanya tidak ada yang bermaksiat
kepada Allah subhanahu wa taala. Seluruh
taruhlah seluruh malaikat, seluruh hamba
maksiat Allah tetap maha kaya. Tidak ada
masalah bagi Allah Subhanahu wa taala.
Makanya Allah bilang kalau seluruh
manusia, jin dan manusia semua seperti
Firaun tidak mengurangi kekayaan Allah
sama sekali. Makanya Allah mengatakan,
"Alladzina asrofu ala anfusihim." Yang
berbuat maksiat terhadap diri mereka
sendiri, melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri. Harusnya seorang
memperhatikan diri mereka, jangan
melampaui batas.
Ini kata Syekh Utim rahimahullah,
kewajiban riayatun nafs. Seorang harus
menjaga dirinya, memperhatikan dirinya.
Jangan melampaui batas terhadap dirinya.
Di antara bentuk melampaui batas adalah
bermaksiat karena akan merugikan dirinya
sendiri.
Ya, akan merugikan dirinya sendiri. Ya,
oleh karenanya setiap orang bermaksiat
dia merugikan dirinya sendiri. Sini
Allah mengatakan alladzina asrofu. Dan
asrofu dari israf maksudnya
berlebih-lebihan. Yaitu maksiat sangat
parah. Saya katakan tadi seb ulama
seperti bin Asir mengatakan ayat ini
asalnya turun buat orang-orang
musyrikin, orang kafir, tetapi include
di dalamnya juga termasuk para pelaku
maksiat dari kaum mukminin.
Ya, makanya Allah tidak mengatakan, "Ya
ayyuhalladzina amanu, ya ayyuhalladzina,
tapi ya ibadi agar umum." Wahai
hamba-hambaku.
Wahai hamba-hambaku.
Kemudian kata Allah, "La taqnatu
rahmatillah." Janganlah kalian putus asa
dari rahmat Allah Subhanahu wa taala.
Kalian yang musyrik, kalian yang kafir,
kalian yang melakukan dosa-dosa, maka
janganlah kalian putus asa dari rahmat
Allah. Ya, qunut yaitu putus asa.
Ada yang mengatakan qunut adalah
syiddatul yaas, yaitu puncak dari
keputusasaan. Putus asa
bertingkat-tingkat,
ya.
yang paling parah disebut dengan
al-qunut.
Karena begitu banyaknya dosa terkadang
buat orang putus putus asa. Ibnu
Taimiyah rahimahullah menyebutkan bentuk
putus asa terkait dengan dosa ada dua
model. Yang pertama karena dosa yang dia
lakukan sangat banyak sehingga dia
merasa gak mungkin Allah ampuni saya
karena terlalu apa? Banyak.
Terlalu banyak. Gimana Allah ampuni?
Yang kedua bisa jadi putus asa karena
dia mengatakan syarat terima tobat susah
sepertinya saya tidak bisa memenuhi
sehingga saya enggak enggak mau apa
enggak mau ber bertobat.
Contoh pertama kata Ibnu Taimiyah
seperti
fatwa yang disampaikan oleh ahli ibadah
kepada pembunuh 99 nyawa. Ketika ada
seorang sudah membunuh 99 nyawa dia
mencari a'hl. Dia mencari penduduk bumi
yang paling berilmu. Namun qadarallah
dia bertemu dengan orang yang paling
ahli ibadah, bukan ahli ilmu. Dan ahli
ibadah ilmunya kurang sehingga terkadang
berfatwa dengan perasaan. Sehingga
ketika dikatakan kepada ahli ibadah, dia
bertanya, "Saya sudah bunuh 99 nyawa.
Apakah saya masih bisa bertobat?" Maka
ahli ibadah mengatakan, "Enggak mungkin.
Bagaimana Allah menerima tobatmu kau
sudah membunuh 99 nyawa?" Artinya, bunuh
satu orang aja dosanya begitu besar,
apalagi 99 nyawa. Di sini ahli ibadah
berfatwa dengan perasaan.
Ya, sehingga dia menutup pintu tobat
bagi orang ini. Akhirnya orang ini
ngamuk di sekaligus saja kamu juga saya
bunuh jadi 100 orang.
Tapi ternyata dia masih penasaran. Dia
tahu ini bukan orang alim. Maka dia
pengin cari orang a alim untuk bertanya
lagi. Nah, ini di antara sebab orang
putus asa kadang-kadang tadi yaitu
ketika dia merasa dosanya sangat besar.
Mungkin dia sudah membunuh, mungkin dia
sudah durhaka, mungkin dia sudah berzina
sekian puluh zina, mungkin dia sudah
merampas orang, dia membunuh satu
keluarga, bunuh macam-macam sehingga dia
merasa kayaknya enggak bakalan saya
diterima tobatnya. Maka dia tidak mau
bertobat. Dia putus asa
dari rahmat Allah Subhanahu wa taala.
Yang kedua, dia bisa jadi putus asa
karena dia melihat syarat tobat itu
sangat berat. Ya, kita tahu di antara
secara tobat Allah menyebutkan yang
pertama al-iqla anidzam meninggalkan
dosa. Yang kedua
anadam menyesali perbuatan dosa
tersebut. Yang ketiga, alazm ala adamil
auda bertekad untuk tidak mengulangi.
Dia bilang ini tiga susah. Gimana saya
mau bertobat? Saya masih semangat
maksiat, masih senang bermaksiat. Kamu
bertobat? Ah, tobat gimana?
Saya masih
riba terus. Gimana saya mau tobat?
kayaknya enggak enggak dia enggak mau
bertobat karena dia merasa dia enggak
bakalan memenuhi persyaratan apa tobat
sehingga cuma Allah tidak akan terima
saya masih dia selalu jadi dia tidak
bertobat akhirnya ini putus asa dari
rahmat Allah Subhanahu wa taala
ya sehingga akhirnya hatinya menjauh
seharusnya kalau seorang merasa sulit
untuk bertobat dia berdoa kepada Allah
rbigfirli watbub alaiya innaka anta
tawabur rahim ya Allah ampunilah aku dan
tobat wat alaiya Ya, ada dua makna.
Watuba alai bisa maknanya, "Ya Allah,
kalau aku bertobat terimalah tobatku.
Kalau aku belum bertobat ilhamkanlah aku
untuk bertobat."
Dan meskipun seorang belum bisa
meninggalkan dosa, dia minta ampun
kepada Allah Subhanahu wa taala.
Dia mungkin sampai pada derajat
istigfar, "Ya Allah ampuni aku. Aku
belum bisa meninggalkan dosa ini." Tapi
dia masih berharap rahmat Allah
Subhanahu wa taala.
Maka bisa jadi seorang putus asa rahmat
dari dua sisi ini. Pertama, dosa yang
dilakukan terlalu besar sehingga dia
kayaknya gak bakalan diampuni. Mungkin
dia menyiksa orang, mungkin dia bunuh
orang, mungkin dia
kejam atau apa. Yang kedua, mungkin dia
melihat cara tobat terlalu susah
sehingga dia merasa enggak bisa.
Maka Allah mengatakan, "La taqnatu mir
rahmatillah." Jangan putus asa dari
rahmat Allah Subhanahu wa taala.
Jangan ya. apapun besar apapun dosanya
Allah akan ampuni. Makanya Allah meng
setelah itu innallaha yagfirudunuba
jamia. Sesungguhnya Allah itu mengampuni
seluruh dosa. Adzunub jamak dari dam.
Adzunub itu adalah dosa-dosa jamak dari
dambun. Dambun jamaknya dzunubun.
Dan kita tahu lafal jamak memberikan
faedah keumuman. Kalau kita artikan
seandainya ayat Allah cuma sampai
innallaha yagfirudunub, maka sudah bisa
dipahami sungguhnya Allah mengampuni
seluruh dosa-dosa. Karena azzunub sini
lafal umum mencakup seluruh dosa-dosa.
Apalagi Allah tambah dengan penekanan
takid jamian.
Yaitu kalau kita artikan suungguhnya
Allah mengampuni semua dosa seluruhnya.
Jadi penekanan agar tidak usah diragukan
dosa apapun, sebesar apapun, sebanyak
apapun
Allah akan mengampuni dosa-dosa tersebut
seluruhnya tanpa terkecuali.
Tanpa terkecuali. Maka Allah mengatakan
di akhirnya innahu sesungguhnya Allah
itu huwal gfurur rahim. Dialah maha
pengampun lagi maha penyayang. Hua di
sini damirul fasl
ada beberapa faedah.
Yang pertama di antara faedahnya adalah
untuk
penekanan yaitu innahu
hual gfurur rahim. Sesungguhnya
dialah Allah yang maha pengampun lagi
maha penyayang. Dan ada yang mengatakan
untuk faedah alhasr hanya Allahlah
sajalah yang bisa seperti ini yang bisa
mengampuni seluruh dosa dan bahkan
merahmati orang-orang yang pernah
berdosa kemudian kembali kepada Allah.
hanya Allah yang bisa seperti ini.
Maka ayat ini memberi ee
memberi harapan yang seluas-luasnya
kepada orang-orang yang terjemus dalam
dosa-dosa.
Tapi kalau ada yang berkata, "Ustadz,
bukankah dalam ayat yang lain dalam
surat Ghafir Allah mengatakan, waal
musrifina hum ashabunar."
Dan sesungguhnya orang-orang
berlebih-lebihan yaitu israf,
mereka penghuni neraka jahanam. Benar,
ada ayat seperti itu. Tapi kata para
ulama, kalau kita kompromikan dengan
ayat ini, di sini Allah mengatakan
orang-orang yang israf berlebih-lebihan
dalam bermaksiat mungkin diampuni atau
tidak mungkin. Tapi dalam ayat yang lain
Allah mengatakan, "Waal musrifina hum
ashabunar." Orang-orang melampi batas
mereka itulah penghuni neraka jahanam.
Maka ayat yang dalam surah ghafir, waal
musrifina hum ashabunar. Sesungguhnya
orang-orang yang melampaui batas mereka
adalah penghuni neraka jahanam. Dibawa
kepada dua kemungkinan. Pertama
maksudnya mereka kafir.
Israf maksudnya orang kafir sehingga
mereka tidak tidak akan diampuni. Yang
kedua atau mereka pelaku maksiat namun
mereka tidak berto bertobat. Mereka
tidak bertobat sehingga mereka bisa
masuk neraka jahanam. Adapun siapapun
yang melampaui batas dalam kemaksiatan
kemudian mereka bertobat maka akan
diampuni oleh Allah subhanahu wa taala.
Demikian juga dalam ayat yang lain Allah
mengatakan, "Innallaha la yagfiruus bih
wagfiruika lima yasya." Sesungguhnya
Allah tidak mengampuni dosa syirik dan
Allah mengampuni selain dosa syirik bagi
yang Allah kehendaki.
Dan kita akidah ahlusunah menyatakan
siapa yang meninggal dalam kondisi
syirik atau kafir tidak bakalan diampuni
dan akan kekal di neraka. Adapun yang
meninggal dalam kondisi melakukan dosa
besar selain syirik dan dia tidak
bertobat dan dia tidak bertobat maka
terserah Allah. Allah mau ampuni. Allah
mau azab terserah.
Allah mau ampuni
atau Allah azab dulu baru diampuni
terserah Allah subhanahu wa taala.
Adapun kalau syirik atau kufur tidak
bakalan diam diampuni. Tidak bakalan
diampuni. Maka ayat yang kita baca
innallaha la yagfir yusakabi. Allah
tidak mengampuni dosa syirik. yaitu bagi
orang yang meninggal dan tidak berto
bertobat. Adapun yang bertobat Allah
akan ampuni.
Dalam ayat ini Allah sebutkan demikian
juga ayat yang lain dalam surah alfurqan
kata Allah walladina la yaduna maallahai
ilahan ak wallah
bilhaq wnun wikaqahuqamba
waana waalanika
hasanat wallahu gurima
wahainnahuallah
kata Allah subhanahu wa taala di antara
ciri-ciri ibadurrahman
itu orang-orang yang tidak pernah
berbuat syirik, orang-orang yang tidak
pernah membunuh orang lain dan orang
tidak pernah berbuat ee zina. Walika
siapa yang melakukan ini, dia syirik,
dia bunuh orang, dia zina, yalquama, dia
akan mendapatkan dosanya di hari kiamat
kelakulabu
yaumalqiamah dan dia akan disiksa dengan
siksaan dilipat gandakan di neraka fi
muhana. Dan dia akan kekal dalam neraka.
Kekal karena dia syirik. kekal. Tapi
kata Allah, jadi dia sudah syirik, bunuh
orang, zina. Bagaimana? Di neraka kekal.
Namun kata Allah, "Illla man taba."
Kecuali yang ber tobat. Kecuali yang
bertobat.
Jadi kalau bertobat masih bisa kembali.
Ya,
makanya dalam sebagian riwayat ketika
ee
turun ayat ini
saya saya carikan, saya bacakan ayat
saya bacakan dari Ibnu Abbas. Sebab
nuzul ayat ini kata Ibnu Abbas
radhiallahu anhuma, ananasan min ahli
syirik kanu qod qotalu wa aksaru. Ada
sekelompok orang dari kaum musyrikin
dahulu di zaman mereka syirik dahulu
sebelumnya. Jadi ada orang musyrikin
mereka sangat biadab. Mereka telah
membunuh dan banyak membunuh orang lain.
Wazanau wa aksaru. Dan mereka berzina
dan banyak berzina. Bukan cuma bunuh
satu dua, sering membunuh. Banyak
membunuh dan bukan berzina satu dua
kali, sering berzina.
Faatau Muhammadan sallallahu alaihi
wasallam. Dan mereka pun datang kepada
Nabi. Faqalu mereka berkata, "Innalladzi
taquulu watu ilaihianun."
Yang kau serukan kepada kami untuk masuk
Islam sangat baik. La tukbiruna
anna lima amilna kafaratan.
Ya,
apakah ada kafarah terhadap dosa-dosa
yang kami lakukan? Yaitu kami sudah
banyak membunuh, sudah banyak berzina.
Maka turunlah dua ayat. Ayat yang
pertama dalam surat Al-Furqan tadi saya
sebutkan, orang yang syirik, membunuh,
berzina ini terkumpul pada mereka.
Mereka sudah syirik, sudah banyak
membunuh. Bukan bunuh sekali dua kali,
banyak membunuh dan banyak berzina. Maka
kekal di neraka kecuali siapa? kecuali
yang bertobat.
Kemudian turun ayat ini, qul ya
ibadiadzina asrofu. Katakanlah kepada
hamba-hambaku yang melampaui batas. Ya,
maka ini menunjukkan bahwasanya
dosa sebesar apapun akan di ampuni oleh
Allah subhanahu wa taala jika bertobat
kepada Allah subhanahu wa taala.
Tib. Eh,
di sini Allah mengatakan
la taqnatu rahmatillah. Jangan ter
rahmat Allah subhanahu wa taala. Dan
Allah mengatakan bahwasanya dirinya
alghfur. Al-ghfur diambil dari
migfar ya. Yang migfar sebagaimana
sering kita sampaikan adalah helm yang
dipakai prajurit dalam peperangan dan
fungsinya dua, menutup kepala dan
menghalangi hantaman pedang. atau tombak
atau panah agar tidak mengenai kepala.
Tidak semua menutup kepala disebut
mikfar. Kalau hanya fungsinya menutup,
tidak dikatakan mikfar. Seperti songkok,
seperti ee sorban, seperti gutrah, ya
itu tidak disebut mikfar. Mikfar itu
harus helm yang menutup melindungi.
Bukan sekalian menutup, tapi melindungi.
Sehingga ketika kita berdoa kepada
Allah, "Rabbighfirli, ya Allah ampunilah
aku. Ya Allah, berilah aku maghfirah."
Maknanya, "Ya Allah tutupilah
dosa-dosaku di dunia maupun di akhirat.
Dan hindarkanlah diriku dari dampak dosa
tersebut. Hindarkan diriku dari dampak
dosa tersebut. Seperti seorang prajurit
makai helm, dia ingin menutup kepalanya
dan dia ingin menghindarkan kepalanya
dari hantaman pedang atau hantaman anak
panah. Sehingga kalau kita mengatakan
rabbig gfirli maknanya bukan sekedar
mengampuni. Maknanya ya Allah
tutuplah aib-aibku di dunia maupun di
akhirat dan hindarkanlah aku dari dampak
maksiat di dunia maupun di akhirat.
Karena maksiat pasti ada dampaknya.
Masih ada dampaknya. Dan Allah terkait
dengan magfirah ada tiga nama dalam
Al-Qur'an. Ada gfir, gofiri dzambi
yaqilbi
syadidilq. Dalam surat Gafir ada algfur
ya. Alghfur ini paling banyak bergandeng
dengan arrahim. Alghfur arrahim.
Alghfur. Dan ada innaka kunta goffar.
Ada gffar ada gffar ada gfir ada gfur.
Sebenarnya membahas gfir yaitu makna
umum. Allah maha mengampuni, menutupi
aib dan menghindarkan dosa-dosa dari
dampaknya. Adapun gfur maknanya yaitu
sighah mubalaghah maknanya secara
spesifik Allah itu mengampuni dosa-dosa
sebanyak apapun secara kuantitas. Jika
seorang melakukan kuantitas dosa dengan
kuantitas yang tanpa batas, Allah bisa
mengam mengampuni.
Dan kalau gfar terkait dengan kualitas
yaitu seorang melakukan dosa separah
apapun. Allah bisa mengampuni dan itu
terkait dengan gffar. Terkait dengan
apa? Gffar. Sehingga tidak usah ragu
bahwasanya Allah bisa mengampuni
sebanyak apapun dosa kalian dan sebesar
apapun dosa kalian. Dalam hadis qudsi ya
lau anna eh dzunubuka ya.
Kalau seandainya dosa-dosamu sampai ke
langit ya
kemudian kau minta ampun kepadaku akan
aku ampuni.
Kalau seandainya dosa-dosamu sampai
setinggi langitagfartani
lantas kau minta ampun kepadaku. Gofartu
laka w ubali aku akan ampuniku. Aku
tidak peduli
dosa setinggi langit. Kalau kau minta
ampun kepadaku, aku ampunin. Aku tidak
peduli. Tidak peduli dengan masa lalumu.
Tidak peduli dengan parahnya
dosa-dosamu. Tidak peduli.
Dalam Allah juga berkata dalam hadis
qudsi, "Ya ibadi yaani
ardhi khaya
tummaqitani tushi
laitukabiha magfirah." Seandainya kau
datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi
ini, lantas kau meninggal dalam kondisi
tidak berbuat syirik, aku akan
mendatangi engkau dengan ampunan sebesar
bumi ini pula. J Allah maha pengampun
sebesar apa, sebesar apapun dosanya,
sebanyak apapun dosa-dosanya. Oleh
karenanya
disebutkan Abu Nawas berkata dalam
syairnya,
"Ya Rabbi
inumat dunubian falaq alimtu afwak." Ya
Rabbi, seandainya
ee dosa-dosaku sudah sangat banyak, ya
sudah banyak sekali, saya tahu ampunanmu
lebih luas daripada dosa-dosaku. Ya.
Kemudian dia berkata, "In kanana la
yarjuka illa muhsinun
fabiman yaludu waastajirul mujrimu."
Kalau hanya bisa berharap kepada engkau,
hanya orang baik. Terus yang pelaku dosa
berharap kepada siapa?
Berharap sama siapa?
Aduka bi
amani
wahamu.
Aku berdoa kepada engkau dengan
merendahkan diri mengangkat kedua
tanganku kepada engkau. Jika kau tolak
tanganku ini terus siapa yang mau
merahmati aku? Maaika wasilatun
wamiluika tumma muslimun. Aku tidak
punya amalan andalan untuk minta ampun
darimu.
Ya, kecuali harapan dan indahnya
ampunanmu kemudian aku pasrah dengan
keputusanmu. Oleh karenanya Allah
sebutkan dalam Al-Qur'an contoh-contoh
orang-orang yang dosanya sangat banyak
tapi Allah tawarkan ampunan. Contoh
siapa? Firaun. Firaun siapa lagi yang
lebih yang kurang bejat dari Firaun?
Yang lebih bejat dari Firaun siapa?
Tidak ada orang paling bejat seperti
apa? Firaun.
Dari sisi akidah, dari sisi amal dia
bunuh. Orang baru lahir dia bunuh.
Pokoknya kalau ada orang mau melahirkan
dia tongkrongi anak buahnya. Karena dulu
enggak ada USG.
Kalau laki-laki langsung sembelih. Kalau
laki-laki sembelih. Sadis atau tidak?
Sadis.
Yuqotiluna abnaahumyuna nisaahum.
Membunuh yang laki-laki biarin yang
perempuan. Kejam. Kejam. Bani Israel
diperbudak
lama diperbudak, disiksa, disuruh kerja
sana, kerja sini.
Kemudian di antara tafsiran wa firaunil
autadat, Firaun yang memiliki tali yaitu
kalau dia sudah nyiksa orang, dia tonton
kemudian dia tarik tali, tarik tambang,
dia taruh tambang di tangan kiri, tangan
kanan, kaki kiri, kaki kanan. Kemudian
ditarik sampai lepas
kejam Firaun. Sudah gitu dia bilang,
"Ana rabbukumul a'la." Aku adalah Tuhan
kalian yang paling tinggi.
Tetapi meskipun dia sekejam-kejam
seperti itu, Allah masih tawarin
ampunan. Makanya Allah suruh Nabi Musa
dan Harun untuk mendatangi Firaun suruh
dakwahi. Idhaba ila Firaun inahu.
Pergilah kalian berdoa kepada Firaun.
Sesungguhnya telah melampaui batas.
Sampaikanlah kepada dia dengan perkataan
yang lembut. Siapa tahu dia ingat dan
dia takut. Siapa tahu dia sadar.
Seandainya Firaun sadar, terima enggak
tobatnya? Terima. Cuma dia tidak mau
sadar
karena kesombongan. Karena kesom
kesombongan ini Firaun contoh
seburuk-buruk Firaun tidak ada orang
lebih buruk dar Firaun di di dunia ini.
Ya, Benyamin Tanyahu sama Firaun mana?
Kalau Benyaminahu bertobat
diterima tapi mana mau dia bertobat.
Artinya siapa yang lebih parah daripada
Firaun? Enggak ada. Itu pun kalau dia
bertobat akan diterima oleh Allah
Subhanahu wa taala. Bahkan Allah kirim
bukan satu orang. Allah kirim dua, Musa
dan Harun. Dan Allah pesanin kalau
bicara sama Firaun bicara yang halus
agar dia bertobat.
Contoh lagi siapa? Penyihir Firaun.
Mereka kerjaannya seumur hidup sebagai
penyihir, cari nafkah dengan melakukan
praktik sihir. Bahkan diundang oleh
Firaun, mereka datang untuk berduel
dengan Musa. Berduel dengan utusan
Tuhan, utusan Allah Subhanahu wa taala.
Ain lana lajron.
Apakah wahai Firaun kalau kami menang
lawan Musa kami dapat ganjaran?
Innakum laminal muqarabin. Bukan cuma
dapat ganjaran, bahkan kalian akan
menjadi pejabat-pejabat.
Yang penting ngalahkan siapa? Musa. Maka
mereka datang kemudian duel dengan Musa.
Ternyata Nabi Musa alaihi salam menang.
Hanya mereka masuk Islam. Kemudian
mereka dibunuh oleh Firaun dan mereka
Islam enggak sampai sehari.
Kalah duel, masuk Islam dibunuh masuk
surga.
Seluruh kesyirikan yang mereka lakukan
selama puluhan tahun dilupakan oleh
Allah Subhanahu wa taala. Itu tidak
dianggap lagi. Wala ubali kata aku tidak
peduli dengan masa lalu kalian. Yang
penting bertobat kepada Allah Subhanahu
wa taala. Seperti ashabul ukhdud.
Qutil ashabul ukhdud anaritil waquud
idhum alaiha quud wahum
syuhud. Celaka Ashabul Ukhdud itu para
penguasa yang menggali parit untuk
membakar kaum mukminin. Kemudian mereka
nongkrong nonton menyaksikan bagaimana
mereka menyiksa kaum mukminin. Mereka
bersenang-senang menyiksa kaum mukminin.
Enjoy melihat tontonan siksaan. Orang
ada seorang seperti hatinya sakit.
Senang melihat orang tersiksa, senang
melihat orang menderita. Dia bakar orang
dan dia ketawa-ketawa. Lihat mereka
dibakar. Ini orang kejam luar biasa
orang-orang ini. Tapi apa kalau mereka
bertobat masih diterima? Masih. Makanya
Allah berkata setelah itu, innalladina
fatanul mukminina wal mukminatiam
yatubu. Sesungguhnya orang-orang yang
membakar kaum mukminin dan kaum mukminat
kemudian mereka tidak bertobat.
Falahumabu jahanam walahumabul harq.
Maka mereka akan mendapatkan azab neraka
jahanam dan azab yang membakar. Di sini
kata Allah tumma lam yatubu. Kemudian
mereka tidak bertobat. Artinya kalau
mereka bertobat diterima enggak
diterima.
Sampai Hasan Al Basri mengatakan,
"Unzuru ila karamillah." Lihatlah
bagaimana baiknya Allah kepada mereka
ini. Ashabul ukhdud qatalu aulia Allah.
Mereka telah bunuh wali-wali Allah
dengan cara pembunuhan yang sadis. Bukan
cuma ditikam, dibakar hidup-hidup
dibakar. Mam, anak, suami, keluarga
dibakar. Satu melihat yang lainnya
dibakar. Sebelum satu dibakar, satunya
dulu dibakar sehingga saling melihat
mengerikan. Dan mereka ketawa-ketiwa
menyaksikan. Tapi kalau mereka bertobat
masih bisa diterima oleh Allah.
Sayangnya mereka tidak bertobat. Jadi
rahmat Allah sangat sangat luas. Ya,
makanya Allah mengatakan innallaha
yagfirudzunuba. Sesungguhnya Allah
mengampuni seluruh dosa tanpa terkecuali
sebesar apapun syirik, kufur ya semuanya
Allah akan ampuni. Kalau bertobat kepada
Allah Subhanahu wa taala.
itu Allah mengatakan innahu dialah Allah
huwal gfurur rahim yang hanya hanya
Allahlah dialah yang maha pengamun lagi
maha penyayang. Di sini Allah gandengkan
alghfur dengan arrahim. Arrahim maha
penyayang. Syekh Utsimin rahimahullah
mengambil faedah bahwasanya
jika seorang melakukan dosa kemudian dia
bertobat bisa jadi kedudukannya lebih
tinggi daripada sebelumnya.
Karena Allah mengatakan arrahim. Arrahim
yaitu menunjukkan ada suatu kebaikan
baru yang Allah berikan kepadanya.
Selain Allah ampuni, Allah berikan dia
keba kebaikan. Makanya Allah yang
diampuni. Orang yang diampuni oleh Allah
bukan cuma jadi nol, cuma bahkan dikasih
bonus. Ya, dikasih bonus di dunia maupun
di akhirat.
Bukan cuma nol. Kalau kita di dunia kan
ada orang salah sama kita, sudah maafin.
Sudah saya maafin enggak apa-apa. Sudah
jangan ulang lagi ya. Gak ada kita
bilang ini saya maafin ini mobil buat
kamu ada enggak begitu? Enggak ada.
Kalau paling nol aja mulai dari nol ya.
Iya nol. Jangan ulang ya. Ulang Mas. Gak
ada kita ampuni terus kita kasih mobil.
Tapi kalau Allah Subhanahu wa taala
ketika mengampuni. Bukan cuma
mengampuni. Allah kasih bonus dunia dan
akhirat. Dunia dan akhirat. Contoh dalam
dunia Allah mengatakan perkataan Nabi
Nuh kepada kaumnyaagfirbakum
innahuana garsamaikumukumwalinakum
janntinumhar.
Aku katakan kepada kalian bertobatlah,
beristigfarlah kepada Rabb kalian.
Sesungguhnya Allah maha pengampun. Kalau
kalian bertobatilikum
kita sekarang musim kemara Allah akan
turunkan hujan berkah yang deras. Bukan
dunia enggak dunia bukan cuma itu.
Bahkan Allah perbanyak harta kalian dan
Allah perbanyak anak-anak kalian.
Dan Allah akan tumbuhkan kebun-kebun
yang indah dan Allah akan bukakan
sungai-sungai bagi kalian. Syaratnya
bertobat. Berarti kalau mereka bertobat
bukan cuma nol, bahkan dapat bonus
duniawi.
Kemudian juga misalnya
dalam ayatnya Allah mengatakan ya
ya ayyuhalladzina
amanuallahianukumukirum.
Wahai orang yang beriman, bertobatlah
kepada tobat yang sesungguhnya nasuha.
Yaallahuum
Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian
belum titik masih. Kemudian kata Allah
akan masukkan dalam surga. Jadi bukan
cuma nol bahkan dimasukkan dalam surga.
Karena arrahim gfur rahim gfur terkait
dengan diambil dosa. Arrahim menunjukkan
ada suatu kebaikan baru yang Allah
berikan kepada orang yang ber bertobat.
Makanya Ibnu Qayim membahas ya tentang
bagaimana kondisi seorang
sebelum seandainya dia tidak berdosa.
Ada dua orang. Satu tidak berdosa. Yang
satu beramal saleh. Kemudian bermaksiat
kemudian bertobat. Si A dia tidak
berdosa. Terulah kita bicara waktu
misalnya setahun ada dua orang si A dan
si B. Si A selama setahun tidak berdosa.
Taruhlah dia tidak pernah berdosa. Rajin
ibadah-ibadah. Si B 3 bulan pertama
taat, kemudian 5 bulan maksiat.
Tinggal berapa bulan setahun? Empat
lagi. Kemudian 4 bulan dia bertobat.
3 bulan taat sama temannya. Si A
sama-sama start nih. Sama-sama start.
Ketika bulan ketiga si A masih terus
taat, si B bermsiat.
Bulan 3, bulan 4, bulan 5, bulan 6,
bulan 7, bulan 8 si A terus taat. Si B
masih tenggelam dalam maksiat sampai
bulan ke-8. Ketika bulan keemb si A
masih terus ber ketaatan si B baru balik
menuju ke taatan bulan ke9 10 11 12.
Nah, ketika di ujung mana yang lebih
mulia di sisi Allah si A atau si B?
Kenapa si B? Maksiat lebih mulia.
Gimana? Gimana?
Mana lebih mulia? Si A atau si B?
Enak kali si B.
Maka kata Ibnu Taimiyah atau Ibnu Qayyim
rahimahullah dalam madarij Salikin,
beliau berkata bahwasanya kondisi
seorang bertobat,
kondisi seorang setelah bertobat
dibandingkan dia sebelum berdosa. Jadi
dia berdosa, kondisi dia pada tahun
keesemb dibandingkan dengan pada tahun
kedua ya kan dia bertobat bulan berapa?
Tahun bulan ke berapa? Kesembilan dia
taat sampai bulan kedu kedua. Bulan
ketiga sampai bulan kelapan maksiat
terus. Maka ibnu Qayyim mengatakan ada
tiga kemungkinan.
Kemungkinan pertama mungkin sama saja
kondisinya
antara dia setelah bertobat dengan
ketika dia sebelum berdosa.
Kemungkinan kedua mungkin dia tambah
parah karena dia banyak melakukan dosa
sehingga imannya tidak seperti dulu,
tidak kembali seperti dulu. Karena
hatinya sudah terancur-hancur, sudah
rusak sehingga mau kembali lagi susah.
Kemudian ketiga mungkin lebih afdal
daripada sebelum dia ber sebelum dia
berdosa.
Dan ini kalau diumpamakan seperti orang
sakit. Ada orang sehat kemudian dia
sakit kemudian dia mengalami
penyembuhan. Bisa jadi setelah dia
sembuh dia lebih lemah daripada sebelum
dia sakit. Paham? Atau ketika dia sembuh
sama seperti dia belum sakit. Atau dia
sembuh dia lebih sehat daripada sebelum
apa? Sakit. Karena selama selama dia
penyembuhan dia melakukan pengobatan
yang baik. perbaiki fis sehingga lebih
sehat daripada sebelumnya. Orang
bermaksiat juga demikian
ya. Bisa jadi ya orang yang telah
bermaksiat kemudian dia bertobat lebih
baik darada sebelumnya. Makanya Nabi
Adam Alaihi Salam setelah bermaksiat
kemudian dia bertobat lebih afdal.
Alaihi wa kata Allah adamahu
Adam bermaksiat kepada Allah kemudian
dia menyimpang.
Setelah itu dia bertobat. Kata Allah,
alai. Kemudian Allah memilih dia.
Dijadikan sebagai seorang nabi dan dia
mendapat petunjuk. Dia istiqamah lebih
afdal daripada sebelum dia berma
bermaksiat.
Maka bisa jadi seorang tadinya ee dia
bermaksiat, dia baik, kemudian
bermaksiat, dia bertobat bisa lebih
baik. Di antaranya kenapa bisa lebih
baik? Karena ketika dia meskipun
waktunya habis untuk bermaksiat,
sementara si A jalan terus, tapi ketika
dia bertobat dia merasakan bagaimana
pedihnya maksiat dia. Dia benar-benar
merasa hina di hadapan Allah. Dia tidak
ujub lagi. Dia merasa dia ini bukan
siapa-siapa.
Dan itu mungkin tidak dirasakan oleh si
A. Paham? Si B merasakan itu karena dia
pernah terjatuh, pernah terjerumus. Si A
tetap baik, cuma dia tidak merasakan apa
yang dirasakan oleh si B.
Oleh karenanya Allah
mentakdirkan manusia berdosa untuk
bertobat. Yang yang yang menjadi masalah
kalau berdosa tidak bertobat itu
masalah. Makanya Allah dalam hadis qudsi
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
Allah berkata eh kata Nabi,
"Laamnibuahaballahu
bikum. Kalau kalian tidak berdosa Allah
akan sirnakan kalian
jaum yudnibun." Kemudian Allah datangkan
satu kaum yang mereka berdosa.
Fastagfirunallah. Kemudian mereka minta
ampun kepada Allah.
Dan Allah ampuni dosa-dosa mereka. Imam
saya Syekh Utsimin rahimahullah ketika
memperhatikan gfur rahim, dia mengatakan
gfur mengampuni masa lalu. Rahim bisa
jadi menjadikan orang setelah berdosa
kemudian bertobat lebih baik daripada
sebelumnya.
Dan ama dan ini mirip seperti firman
Allah Subhanahu wa taala wahuwal gfurul
wadud. Ya, dalam surat Alburuj kata
Allah, "Wahuwal gfur alwadud." Dialah
Allah yang maha pengampun lagi maha
mencintai. Alwadud maksudnya mencintai.
Karena seorang pendosa ketika dia
berdosa, dia bilang, "Apakah Allah masih
sayang kepadaku? Apakah Allah masih bisa
mencintaiku?" Jawabannya masih bisa.
Kalau kau kembali kepada Allah, maka
Allah akan mencin mencintaimu. Makanya
Allah gandengkan wahual gfurul wadud.
Dialah Allah yang maha pengampun lagi
maha mencintai. Artinya kalau kau
bertobat, Allah bisa cinta kepada engkau
lagi. Sebagaimana sebelumnya Allah
pernah mencintaimu, namun kau berma
bermaksiat.
Bahkan kau bisa jadi lebih baik daripada
sebelumnya.
Tayib.
Jadi seorang jangan pernah putus asa
kepada Allah Subhanahu wa taala kapan
dia bermaksiat. Jangan dia pernah tunda
tobat. Segera bertobat kepada Allah
subhanahu wa taala. Meskipun nanti
terjatuh lagi, jatuh lagi tobat lagi.
Jatuh lagi tobat tobat lagi, istigfar
lagi, tobat lagi. Kita lanjutkan ayat
berikutnya. Wa anibu ilabbikum wa aslimu
lahu. Kembalilah kepada rab kalian dan
islamlah kepada
Allah subhanahu wa taala. Ini makanya
Thair bin Asir mengatakan,
"Uaslimulahu." Ini isyarat bahwasanya
ayat ini turun kepada orang kafir, orang
musyrikin. Hendaknya kalian Islam.
Atau secara umum ada yang menafsirkan
ini terkait seluruh pelaku maksiat kafir
atau mukmin kata Allah wa anibu ilabikum
kembalilah kepada rab kalian itu dengan
amalan hati kalian wa aslimahu dan
tunduklah kepada Allah kepada Allah
dengan raga kalian
ya jadi hati dan raga kembalikanlah
kepada Allah subhanahu wa taala dan
firman Allah ila rabbikum kepada rab
kalian ya untuk menunjukkan kalian
semangat kenapa rabb maksudnya pencipta
kalian Kenapa kalian ragu? Yang ciptakan
kalian siapa? Allah. Yang kasih rezeki
sama kalian siapa? Allah. Yang
mengilhamkan kalian untuk bertobat juga
Allah. Jadi jangan ragu untuk kembali.
Itu pencipta kalian.
Kalau kita bilang kepada manusia,
"Kembalilah kepada ibumu." Orang
semangat ibunya kok bukan orang lain.
Tapi kalau bilang minta maaf sama bos
takut. Tapi kalau minta maaf sama ibu
berani enggak? Orang berani karena dia
tahu ibu sayang sama dia. Kalau sana
minta maaf sama bos. Takut digampar sama
bos. Tapi kalau sama ibu beda. Padahal
kasih sayang Allah kepada hambanya lebih
daripada ibu dari kepada anaknya. Maka
Allah mengatakan wa anibua ilabikum.
Kembalilah kepada rabmu. Rabbmu yang
telah menciptakan engkau, yang telah
membentuk engkau, yang berezek kepadamu,
yang mengatur dirimu. Kembalilah kepada
Rabb kalian. Wa aslimu lahu dan
tunduklah kepadanya. yaitu kembali
dengan
ee amalan hati dan amalan ee jawarih.
Dan ketika firman Allah ila rabbikum
kepada Rabb kalian dan juga lahu kepada
Allah menunjukkan tobat harus ikhlas.
Kita tobat itu untuk Allah. Tobat amal
saleh. Jadi tobat bukan untuk kita
pamerkan
ee bukan untuk kita riakkan.
Dan tobat karena Allah
bukan karena duniawi. Contoh seorang
saya berhentilah berhenti apa? Berhenti
merokok. Kenapa? Takut anu takut TBC.
Ini bukan tobat karena Allah tapi tobat
karena TBC.
Saya enggak berani korupsi. Takut saya
berhenti tobat dari Kap. Takut ditangkap
KPK. Itu bukan tobat namanya. Itu bukan
karena Allah tapi karena ka KPK.
Yang dimaksud tobat karena Allah. Kalau
bukan karena Allah enggak.
Kalau bukan karena Allah, maka gak
tobat ikhlas karena Allah Subhanahu wa
taala. Karena ada orang tobat karena
duniawi. Kenapa tobat? Daripada
diomongin orang. Teman-teman semua sudah
hijrah tinggal saya yang belum. Tiap
hari ditanya, "Udlah saya hijrah
sekalian lah." Berarti bukan karena
Allah, tapi karena enggak mau diomongin
sama orang lain. Nah, ini juga gak gak
benar. Tobat harus karena Allah. Wa
aslimu lahu kata Allah. Ingat minqobli
ayatiakumulabu tumma la tunsarun.
Sebelum datang kepada kalian azab dan
kalian tidak bisa ditolong lagi, azab
bisa datang tiba-tiba atau nanti hari
kiamat kelak
azab bisa datang. Kalau kalian sudah
mati, sudah enggak bisa bertobat,
silakan menunggu azab. Di sini Allah
mengatakan,
"Tumma la tunsarun." Kemudian kalian
tidak ditolong. Di sini ada tumma. Tumma
itu kata gandeng yang menemukan jedda.
Saya sering sampaikan kata gandeng ada
tiga. Ada wa, ada fa, ada tumma. Kalau
bahasa Indonesianya wa dan fa. Lalu
kalau tsumma kemudian wa sekedar
menggandengkan. Kalau fa menunjukkan
berkesinambungan tanpa ada jeda.
Datang Khalid lalu Muhammad. Berarti
Khalid datang setelah itu langsung
disusul oleh siapa? Muhammad tanpa ada
jad. Tapi kalau bilang tumma jaa Khalid,
tumma Muhammad maksudnya datang Khalid.
Kemudian beberapa lama lagi baru datang
Muhammad. Ketika Allah mengatakan
minqbakumulab
sebelum datang azab kepada kalian tumma
tunarun kemudian kalian tidak bisa
ditolong. Maksudnya apa? Karena ada jeda
di situ. Maksudnya ketika mereka diazab
mereka mencari para penolong. Siapa yang
bisa tolong saya? Ke teman-temannya.
Teman juga diazab
kepada orang saleh. Orang saleh enggak
bisa kasih syafaat.
Kepada saya minta tolong
pada iblis. Iblis juga lagi diazab. Pada
siapa?
kepada sembahan selain Allah gak ada
kalian. Maka orang ketika diazab dia
berusaha mencari apa? Penolong. Tapi
tidak ada penolong. Azab tetap tetap
mengenainya. Maka bertobatlah sebelum
engkau mati kemudian diazab.
Kemudian kata Allah Subhanahu wa taala,
"Wattabiu
ahsana ma unzila ilaikum." Dan ikutilah
apa yang Allah turunkan bagi kalian.
Seakan-akan ada pertanyaan ketika kita
baca ayat ke-54, Allah mengatakan
kembalilah kepada Rabb kalian dan
Islamlah, pasrahlah, tunduklah kepada
Rabb kalian sebelum datang azab menimpa
kalian, kemudian kalian tidak bisa
ditolong. Seakan-akan timbul pertanyaan,
bagaimana caranya kembali kepada Allah?
Kembali kepada Allah bagaimana caranya?
Bagaimana caranya aslimu lahu tunduk
kepada Allah? Bagaimana caranya? Caranya
ini ayat berikutnya. Wattabiu ahsana ma
unzila ilaikumbikum.
Ikutilah yang terbaik apa yang Allah
turunkan kepada kalian dari Rabb kalian.
Yaitu jalankan syariat. Jalankan apa?
Syariat.
Ahsana ma unzila ilaikum. Yang terbaik
dituntunkan bagi kalian menunjukkan
Al-Qur'an adalah ayat-ayat Allah yang
terbaik yang Allah turunkan kepada
manusia.
Lebih baik daripada Taurat, daripada
Injil, daripada Zabur, dari suhuf
Ibrahim, suhuf Musa. Semua kitab suci
yang terbaik adalah apa? Al-Qur'an.
Makanya Allah berfirman, "Inna hadal
qurana yahdi lillatihi aqwam."
Sesungguhnya Al-Qur'an itu memberi
petunjuk kepada yang terbaik. Kepada
yang terbaik. Makanya ketika Al-Qur'an
sudah turun, maka seluruh kitab-kitab
suci sebelumnya
tidak dipakai lagi. Sudah man mansuk,
tidak dipakai lagi. Al-Qur'an sudah
lengkap.
Makanya ketika Umar bin Khattab membaca
lembaran Taurat di hadapan Nabi, Nabi
marah. Kata Nabi, "Amutahawiquuna anta
ya Khattab, apakah kau masih bimbang
wahai Umar? Masih mau baca kitab Taurat
untuk mencari petunjuk?" Enggak boleh.
Kita kalau baca Injil Taurat untuk cari
petunjuk agama enggak boleh. Tapi kalau
untuk membandingkan, untuk mengkritisi,
untuk itu boleh. Tapi kalau saya pengin
dapat hidayah dari Taurat, Injil, enggak
boleh. Enggak boleh. Makanya Nabi marah.
Mutahwi anta ya Khattab. Apa kau ragu?
Bimbang wahai Umar. Kemudian kata Rasul,
"Lauana Musa hayan mau
kalau Musa alaihi salam masih hidup
tidak boleh bagi dia kecuali menjadi
pengikutku."
Makanya Nabi Isa Alaih Salam ketika
turun di akhir zaman,
Imam Mahdi sedang salat subuh, maka Imam
Mahdi suruh Nabi Isa jadi imam. Nabi Isa
enggak, dia jadi makmum aja. Dia
bermakmum kepada umat Muhammad
sallallahu alaihi wasallam dan dia
berhukum dengan hukum Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam.
Jadi kata Allah, "Wattabiu ahsana ma
unzila ilaikum." Ikutilah sebaik-baik
yang Allah turunkan kepada kalian.
Maksudnya Al-Qur Al-Qur'an. Dan ini
dalil bahwasanya Al-Qur'an sudah
lengkap, Islam sudah lengkap, tidak
butuh dari ajaran lain. Kalau urusan
agama tidak perlu yang lain, tidak perlu
filsafat, tidak perlu
yang lain. Enggak perlu enggak perlu
Yahudi, enggak perlu Nasrani, enggak
perlu Buddha, enggak perlu Hindu, enggak
perlu filsafat Yunani, enggak perlu.
Al-Qur'an sudah sempurna, generasi
sahabat sudah sempurna tanpa ada
pemikiran-pemikiran luar yang masuk yang
dompleng dalam agama mereka. Mereka
sempurna.
Ngapain kita cari-cari hidayah dari
selain? Enggak. Gak perlu. Kalau urusan
dunia silakan selama tidak melanggar
syariat.
Kata Allahumabuqatanumun
sebelum datang azab kepada kalian
sementara tiba-tiba bakta tiba-tiba
sementara kalian tidak sadar. Tidak
sadar. Ini ngeri. Kematian sering datang
tanpa sa sadar. lagi di puncak-puncak
kesenangan tiba-tiba mati
ahlulah
wahim
ahlulah
wahr
kata Allah subhanahu waallahirun
kata Allah subhanahu wa taala ya apakah
penduduk suatu negeri
merasa aman
akan datang kepada azab azab Allah
kepada mereka wahum naimun sementara
mereka dalam kondisi sedang tidur betapa
banyak azab tiba-tiba datang mereka
sedang tidur tiba-tiba datang kematian
bagi mereka
amina ahlul qurumunahan
wahun atau akan datang azab kepada
mereka di waktu duha sementara mereka
sedang main-main sedang senang-senang
azab datang kapan saja sedang tidur
datang azab sedang main-main datang azab
sedang lagi joget-joget, lagi konser,
tiba-tiba azab. Bisa enggak? Bisa. Bisa.
Bisa.
Dan terjadi lagi zina, mati bisa datang
kematian kepadanya.
Oleh karena sebelum datang kematian,
sebelum datang azab, bertobatlah karena
azab itu, siksaan itu bisa datang dengan
tiba tiba-tiba. Lihatlah kaum Nabi Luth
ketika sedang di puncak-puncak syahwat.
Ya,
ketika datang para malaikat kepada Nabi
Luth dalam menjelma menjelma dalam
bentuk manusia yang tampan-tampan.
Akhirnya istri Nabi Luth berkhianat. Dia
laporkan kepada kaumnya karena istri
Nabi Luth dari Akamsi.
Orang tempat
dia, dia lapor kaumnya ada tamu-tamu
ganteng. Maka mereka yuhraun, mereka
sudah bersyahwat, bergejolak karena
sudah lama mereka pengin cari pasangan
baru yang ganteng-ganteng. Artinya
mereka datang dengan penuh semangat
syahwat dan mereka rayu Nabi Luth, mana
tamunya kasih kami tamu-tamu itu sini.
Kata Allah, kata Nabi Luth, difi fala
tafdun itu tamu-tamuku. Jangan bikin
malu saya. Bagaimana saya mau serahkan
tamu-tamu saya
kata Allah wqaduhufihi
mereka rayu Luth untuk Alaih Salam untuk
menyerahkan tamu-tamu mereka di
puncak-puncak syahwat kata Allah fatasna
aunahum fuquabi wudur. Maka kami butakan
mata mereka di saat-saat mereka melihat
cowok-cowok tampan yang mereka pengin
gauli. Ternyata Allah tutup mata mereka.
Fatamah saya yang mengatakan, yaitu mata
mereka sudah enggak ada lagi, langsung
kulit nutup begini.
Jadi terkadang
azab itu atau siksaan itu datang di
puncak-puncak maksiat, di puncak-puncak
kesenangan. Itu banyak terjadi.
Makanya Allah mengatakan, "Wa antum la
tasy'urun." Sementara kalian tidak
sadar, tidak merasa tahu-tahu datang
azab. Waliadzubillah. Ya. Maka
bertobatlah. Bertobatlah
sebelum
hilang kesempatan. Bisa jadi mati
tiba-tiba, bisa jadi diazab tiba-tiba.
Kalaupun enggak tiba-tiba nanti di
neraka
akan datang azab.
Kata Allah
itu jangan sampai kau berkata nanti pada
hari kiamat kelak
penyesalan ya hasrata yaitu dari ya
hasrati sering ya diganti dengan alif ya
hasrata sehingga jiwa akan berkata
sungguh besar penyesalanku
hasrah sama dengan nadam tapi syiddatun
nadam yaitu penyesalan yang sangat
mendalam
Yaitu sungguh kerugian yang luar biasa
yang aku rasakan sekarang. Al faru fi
jambillah yaitu fi janibillah. Yang di
mana aku telah
lalai terkait dengan hak Allah.
Janibillah maksudnya hak haq hak. Wa
kuntu laminasakirin. Dan aku termasuk
orang-orang yang perolok-olok agama.
Dulu saya memperolok ayat Allah.
Meremehkan orang-orang bertakwa.
Memperolok orang-orang yang saleh.
Memperolok kerjanya. Memperolok
ayat-ayat Allah diolok-olok. Hadis-hadis
Nabi diolok-olok para orang-orang yang
menjalankan syariat dijek-ejek.
Kata Allah, "Bertobatlah sebelum nanti
kalian seperti itu."
Menyesal tapi penyesalan tiada tiada
guna dengan mengatakan, "Sungguh besar
kerugianku, penyesalanku."
Ya,
atas kelalaianku terkait dengan hak
Allah. Dan sungguh di dunia dulu saya
termasuk orang yang memperolok-olok.
atau alasan yang lain. Laallahani
minal muttaqin. Menyesal dia. Seandainya
dulu Allah beri aku petunjuk, tentu aku
termasuk orang yang bertakwa. Ya dia
tidak mau ikut. Allah suka seti, tapi
dia tidak mau ikut.
Ya, coba dulu saya ngaji, coba dulu saya
bertakwa, coba dulu saya masuk Islam.
Kalau orang kafir, tentu aku termasuk
orang yang bertakwa.
Kemudian dia menyampaikan lagi
atau jiwa tersebut ketika melihat azab
di hadapan matanya dia berkata,
minalin. Seandainya saya bisa
dikembalikan lagi ke dunia, aku termasuk
orang-orang yang ihsan. Itu derajat yang
tinggi. Karena martibuddin tingkatan
Islam itu tingkatan agama Islam kemudian
iman kemudian ihsan itu muslim mukmin,
hukum nuhsin. Dia bilang, "Ya Allah
kembalikan aku ke dunia. Saya bukan
bukan cari bukan jadi orang baik saja
jadi super baik jadi muhsin
kembalikan aku. Kembalikan aku. Tapi
percuma
mereka dikembalikan makan kembali lagi.
Kata Allah lauddu laadu limanuhu wa
innahum lakadibun. Kalau dikembalikan
lagi mereka akan kembali lagi
sebagaimana perbuatan mereka dan mereka
hanyalah berdosa. Tapi dia ingin bisa
kembali lagi. Tapi enggak enggak
mungkin. Makanya kata Allah,
"Bertobatlah sebelum kau merasakan
penyesalan-penyesalan ini." Allah
bantazhag
benar semua ini. Kau tidak bisa
beralasan lagi. Kenapa? Telah datang
ayat-ayatku ketika di dunia melalui para
rasul, melalui para nabi, melalui para
ulama, melalui para dai, melalui banyak
sarana media. Telah datang ayat-ayatku,
peringatan-peringatanku.
Fakadzabta biha dan kau dustakan itu
semua. Wastakbar dan kau sombong.
Kau dustakan karena kau sombong gak mau
kau taakan kebenarannya sombongta minal
kafirin. Termasuk orang-orang yang yang
kafir. Gak diterima alasan-alasan
tersebut.
Dan pada hari kiamat engkau akan melihat
bagaimana orang-orang yang mendustakan
Allah. Wajah mereka menjadi hitam.
Menjadi hitam. Seperti ada kegelapan di
wajah mereka.
Kenapa selama ini aljazais amal balasan
sesuai dengan perbuatan? Selama ini hati
mereka hitam menolak ayat-ayat Allah.
Maka pada hari kiamat Allah menjadikan
wajah mereka wajah yang hitam. Sementara
orang-orang beriman wujuh mereka
mustabsyirah, bersiri-siri.
Alaisa fi jahannama matwal lil
mutakabbirin. Dan bukankah di neraka di
neraka jahanam tempat bagi orang-orang
yang sombong? Jadi banyak orang menolak
ayat Allah karena sombong. Orang kafir
tidak mau karena sombong.
Kata Allah, "Waunajjillahulladzinaqau
bimafazatihim
la yamassuhumu w hum yahzanun." Dan
Allah menyelamatkan orang yang bertakwa
bimafazatihim dengan kemenangan mereka
yaitu dengan masuk surga. La yamuhum
mereka tidak ditimpa dengan azab sama
sekali. W hum yahzanun. Dan mereka tidak
bersedih sama sekali. Allah menjelaskan
bahwasanya neraka jahanam sangat pedih.
Hanya Allah, hanya orang bertakwa yang
akan diselamatkan oleh Allah Subhanahu
wa taala. Makanya mengatakan,
"Waajillahqau
Allah mengatakan dalam ayat dalam surat
Maryam, wainkum illahamaqina."
Setiap kalian pasti melewati neraka.
Mendatangi neraka. Maksudnya melewati
mendatangi neraka lewat di atas sirat.
Ya,
itu suatu keputusan Allah yang tidak
bisa dihindari. Kemudian kata Allah,
"Tumma nunajjilladzinaq." Kemudian kami
selamatkan orang bertakwa. Orang
bertakwa bisa melewati sirat. Walimina
fiha jitiya. Adapun orang-orang zalim
akan terjatuh dari sirat terjatuh ke
neraka jahanam. Jyelamatkan salat adalah
tak takwa.
Takwa menjalankan menjalankan ketaatan,
meninggalkan larang
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:20:20 UTC
Categories
Manage