Transcript
fJGQEzSgbzo • Tafsir Juz 23: Surat Az-Zumar #11 Ayat 53-61 - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2553_fJGQEzSgbzo.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu takziman lisan wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh dail ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih. Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Insyaallah kita lanjutkan dari penjelasan ayat-ayat dalam surah Az-Zumar dan kita sampai pada ayat ke-53. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Qul ya ibadi asrofu ala anfusihim laqahmatillah inallaha yagfirudun jamian innahu gfurahim." Katakanlah, "Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, laqnat rahmatillah, janganlah kalian putus asai rahmat Allah. Innallaha yagfirun jam. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Innahu huwal gfurur rahim. Sesungguhnya dialah Allah yang maha pengampun lagi maha penyayang. Ayat ini didatangkan oleh Allah Subhanahu wa taala setelah ayat-ayat sebelumnya. Kalau kita perhatikan ayat sebelumnya, Allah membahas tentang bagaimana nasib orang-orang yang kafir ketika mereka di neraka. Ya, ditampakkan azab kepada mereka. Seandainya mereka punya harta sepenuh bumi ini, mereka akan berusaha menebusnya, ya. Kemudian bagaimana mereka disiksa oleh Allah Subhanahu wa taala dan seterusnya. Maka pada ayat ini ya ee Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang harapan kepada mereka. Artinya sejahat-jahat mereka, semusyrik-musyrik mereka, ya mereka masih mendapat kesempatan untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala. Masih ada kesempatan untuk dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan itulah di mana metode Al-Qur'an menggabungkan antara targhib dan tarhib. Targhib itu motivasi. Tarhib itu memberi peringatan. Ya, sebagaimana Allah berfirman, "Nabbi ibadi anni analfururah rahim wazabiul alim." Kabarkanlah kepada hamba-hambaku, sesungguhnya aku adalah maha pengampun lagi maha penyayang. Waabiul alim. Namun meskipun aku maha pengampun, maha penyayang, namun azabku adalah azab yang sangat pedih. Maka sebagaimana dalam juga dalam surat Azzumar ini sebelum ayat ini Allah sebutkan tentang bagaimana nasib orang-orang yang meninggal dalam kondisi musyrik, pembangkang, pelaku maksiat, maka nasib mereka sangat mengenaskan di akhirat kelak ya. Apa yang mereka ejek-ejek selama ini ya akan ee balik menghantam mereka. Tetapi setelah itu Allah sebutkan bahwasanya meskipun azab Allah sangat pedih di hari kiamat kelak, tapi Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Jika kalian bertobat kembali kepada Allah, kalian akan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa taala. Maka ayat ini surah Az-Zumar ayat 53. Sebagian ulama menyatakan ini adalah ayat yang paling arja ayatin fi kitabillah. Yaitu ayat yang paling memberi harapan dalam Al-Qur'an. Ya, ada para ulama ada khilaf tentang apa sih ayat yang paling memberi harapan kepada manusia, terutama kepada para pendosa ya. Di antaranya yang berpendapat ayat yang paling memberi harapan adalah ayat ini. Karena di sini dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana kasih sayang dan luasnya ampunan Allah dan luasnya kasih sayang Allah. Bahkan kepada para pendosa jika mereka mau kembali kepada Allah subhanahu wa taala. Allah buka ayatnya dengan berkata qul. Qul itu perintah. Perintah kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. dan juga mewakili Nabi Muhammad adalah para ulama untuk menyampaikan hal ini. Sehingga ini adalah nidaun ilahi, seruan dari Allah Subhanahu wa taala agar disampaikan kepada para pendosa melalui Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atau melalui para dai, para ulama agar menyampaikan pada para pendosa pernyataan berikut ini agar mereka para pendosa tersebut tidak putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala. Qul katakanlah ya ibadi itu sampaikanlah kepada mereka perkataan Allah atau perkataanku ya ibadialladina asrofu ala anfusihim. Wahai hamba-hambaku yang asrofu asrofu israf itu berlebihan berlebihan melewati batas terhadap diri mereka yaitu maksiatnya berlebihan parah. La taqnatu mir rahmatillah. Janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Innallah yagfirudunuba jamian. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Innahu hual gfur rahim. Dan sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Di sini ada beberapa ee isyarat yang menunjukkan bahwasanya Allah begitu sayang kepada hamba-hambanya bahkan kepada para pendosa jika mereka kembali kepada Allah. Yang tadi pertama Allah suruh sampaikan hal ini. Qul ya katakanlah. Yang kedua, Allah meng ee menyandarkan hamba-hamba tersebut kepada dirinya. Ya ibadi, wahai hamba-hambaku. Wahai hamba-hambaku. Ya Allah tidak tidak menafikan bahwasanya para pelaku dosa tersebut adalah hamba-hambnya. Padahal mereka membangkang, padahal mereka musyrik, padahal mereka menentang Allah subhanahu wa taala. Allah tetap menyatakan kalian hamba-hambaku. Karena kalian semua ciptaan siapa? Al Allah. Kita kalau manusia aja kadang kita marah, saya enggak usah orang lainlah, sayalah. Saya kalau marah saya bilang sama istri saya, "Tu anakmu itu." Padahal anak kita berdua. Yaang saya marah, "Itu anakmu tuh anakmu kalau lagi baik." Ih, anak saya itu. Nah, jadi orang-orang lagi para para pelaku maksiat ya, mereka membangkang perintah Allah. Mereka menentang ayat-ayat Allah. Bahkan ayat ini khususnya sebenarnya ditujukan kepada orang-orang kafir sebagaimana disebutkan oleh Thahir bin Asyur. Asalnya ayat ini ditujukan kepada orang kafir karena ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang orang-orang apa? Kafir. Orang musyrikin. Ya. Kalau kalian kafir, kalian melampaui batas, tetap kalian adalah hamba-hamba Allah Subhanahu wa taala. Kalian ciptaan Allah Subhanahu wa taala. Dan ini memberi semangat kepada mereka untuk kembali kepada Allah. Karena mereka masih disebut hamba-hambaku, hamba-hamba Allah. Ya Allah mengatakan, "Katakanlah kepada itu, wahai hamba-hambaku alladzina asrofu ala anfusihim yang di mana mereka telah berbuat israf terhadap diri mereka, yaitu dosanya bukan dosa 1 2 3 4 5 10 100. Dosanya terlalu banyak berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan. Dan ini ditujukan dengan kata ala anfusihim yang mereka telah berlebih-lebihan atas diri mereka sendiri. Isyarat bahwasanya ee semakin orang berbuat dosa semakin mereka memberatkan diri mereka. Makanya kalau kita terjemahkan secara letterl hamba-hambaku yang telah berlebih-lebihan atas diri mereka sendiri. Padahal maksiat yang mereka lakukan mungkin terkait dengan orang lain ya, terkait diri sendiri ya. Tapi semua yang mereka lakukan tersebut gak ada pengaruh bagi Allah Subhanahu wa taala ya. Karena Allah Subhanahu wa taala tidak berkurang kekuasaannya dengan kemaksiatan kalian. Sebagaimana dalam hadis qudsi Allah mengatakan, "Ya ibadi anakumakumakum." Wahai hamba-hambaku, seandainya kalian sel dari awal sampai akhir, jin dan manusia, seluruhnya hatinya hati yang paling buruk semuanya berhati iblis, semua hati berhati Firaun, semua berhati Abu Jahal, tidak akan mengurangi kekayaan Allah sama sekali. Innakum lan tadblugu fataduruni walan tabl nafi fatanfauni. Dalam hadis qudsi juga Allah mengatakan, "Kalian tidak bisa beri mudarat kepadaku sehingga kalian beri mudarat kepadaku." Enggak bisa. Allah kalau orang bermaksiat tidak mengurangi kekuasaan Allah Subhanahu wa taala, tapi hanyalah mereka merugikan diri mereka sendiri. Kata Allah, "In ahsantum ahsantum lifusikum wain as'tum falaha." Kalau kalian berbuat baik adalah untuk diri kalian sendiri. Kalau kalian berbuat maksiat ya kena kalian sendiri. Tidak merugikan Allah sama sekali sedikit pun. Yang seperti hamba seperti kalian juga banyak. Hamba Allah banyak hamba Allah banyak kita maksiat. Hamba Allah masih banyak yang taat. Seluruh manusia maksiat malaikat semuanya tidak ada yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa taala. Seluruh taruhlah seluruh malaikat, seluruh hamba maksiat Allah tetap maha kaya. Tidak ada masalah bagi Allah Subhanahu wa taala. Makanya Allah bilang kalau seluruh manusia, jin dan manusia semua seperti Firaun tidak mengurangi kekayaan Allah sama sekali. Makanya Allah mengatakan, "Alladzina asrofu ala anfusihim." Yang berbuat maksiat terhadap diri mereka sendiri, melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Harusnya seorang memperhatikan diri mereka, jangan melampaui batas. Ini kata Syekh Utim rahimahullah, kewajiban riayatun nafs. Seorang harus menjaga dirinya, memperhatikan dirinya. Jangan melampaui batas terhadap dirinya. Di antara bentuk melampaui batas adalah bermaksiat karena akan merugikan dirinya sendiri. Ya, akan merugikan dirinya sendiri. Ya, oleh karenanya setiap orang bermaksiat dia merugikan dirinya sendiri. Sini Allah mengatakan alladzina asrofu. Dan asrofu dari israf maksudnya berlebih-lebihan. Yaitu maksiat sangat parah. Saya katakan tadi seb ulama seperti bin Asir mengatakan ayat ini asalnya turun buat orang-orang musyrikin, orang kafir, tetapi include di dalamnya juga termasuk para pelaku maksiat dari kaum mukminin. Ya, makanya Allah tidak mengatakan, "Ya ayyuhalladzina amanu, ya ayyuhalladzina, tapi ya ibadi agar umum." Wahai hamba-hambaku. Wahai hamba-hambaku. Kemudian kata Allah, "La taqnatu rahmatillah." Janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala. Kalian yang musyrik, kalian yang kafir, kalian yang melakukan dosa-dosa, maka janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Ya, qunut yaitu putus asa. Ada yang mengatakan qunut adalah syiddatul yaas, yaitu puncak dari keputusasaan. Putus asa bertingkat-tingkat, ya. yang paling parah disebut dengan al-qunut. Karena begitu banyaknya dosa terkadang buat orang putus putus asa. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bentuk putus asa terkait dengan dosa ada dua model. Yang pertama karena dosa yang dia lakukan sangat banyak sehingga dia merasa gak mungkin Allah ampuni saya karena terlalu apa? Banyak. Terlalu banyak. Gimana Allah ampuni? Yang kedua bisa jadi putus asa karena dia mengatakan syarat terima tobat susah sepertinya saya tidak bisa memenuhi sehingga saya enggak enggak mau apa enggak mau ber bertobat. Contoh pertama kata Ibnu Taimiyah seperti fatwa yang disampaikan oleh ahli ibadah kepada pembunuh 99 nyawa. Ketika ada seorang sudah membunuh 99 nyawa dia mencari a'hl. Dia mencari penduduk bumi yang paling berilmu. Namun qadarallah dia bertemu dengan orang yang paling ahli ibadah, bukan ahli ilmu. Dan ahli ibadah ilmunya kurang sehingga terkadang berfatwa dengan perasaan. Sehingga ketika dikatakan kepada ahli ibadah, dia bertanya, "Saya sudah bunuh 99 nyawa. Apakah saya masih bisa bertobat?" Maka ahli ibadah mengatakan, "Enggak mungkin. Bagaimana Allah menerima tobatmu kau sudah membunuh 99 nyawa?" Artinya, bunuh satu orang aja dosanya begitu besar, apalagi 99 nyawa. Di sini ahli ibadah berfatwa dengan perasaan. Ya, sehingga dia menutup pintu tobat bagi orang ini. Akhirnya orang ini ngamuk di sekaligus saja kamu juga saya bunuh jadi 100 orang. Tapi ternyata dia masih penasaran. Dia tahu ini bukan orang alim. Maka dia pengin cari orang a alim untuk bertanya lagi. Nah, ini di antara sebab orang putus asa kadang-kadang tadi yaitu ketika dia merasa dosanya sangat besar. Mungkin dia sudah membunuh, mungkin dia sudah durhaka, mungkin dia sudah berzina sekian puluh zina, mungkin dia sudah merampas orang, dia membunuh satu keluarga, bunuh macam-macam sehingga dia merasa kayaknya enggak bakalan saya diterima tobatnya. Maka dia tidak mau bertobat. Dia putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala. Yang kedua, dia bisa jadi putus asa karena dia melihat syarat tobat itu sangat berat. Ya, kita tahu di antara secara tobat Allah menyebutkan yang pertama al-iqla anidzam meninggalkan dosa. Yang kedua anadam menyesali perbuatan dosa tersebut. Yang ketiga, alazm ala adamil auda bertekad untuk tidak mengulangi. Dia bilang ini tiga susah. Gimana saya mau bertobat? Saya masih semangat maksiat, masih senang bermaksiat. Kamu bertobat? Ah, tobat gimana? Saya masih riba terus. Gimana saya mau tobat? kayaknya enggak enggak dia enggak mau bertobat karena dia merasa dia enggak bakalan memenuhi persyaratan apa tobat sehingga cuma Allah tidak akan terima saya masih dia selalu jadi dia tidak bertobat akhirnya ini putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala ya sehingga akhirnya hatinya menjauh seharusnya kalau seorang merasa sulit untuk bertobat dia berdoa kepada Allah rbigfirli watbub alaiya innaka anta tawabur rahim ya Allah ampunilah aku dan tobat wat alaiya Ya, ada dua makna. Watuba alai bisa maknanya, "Ya Allah, kalau aku bertobat terimalah tobatku. Kalau aku belum bertobat ilhamkanlah aku untuk bertobat." Dan meskipun seorang belum bisa meninggalkan dosa, dia minta ampun kepada Allah Subhanahu wa taala. Dia mungkin sampai pada derajat istigfar, "Ya Allah ampuni aku. Aku belum bisa meninggalkan dosa ini." Tapi dia masih berharap rahmat Allah Subhanahu wa taala. Maka bisa jadi seorang putus asa rahmat dari dua sisi ini. Pertama, dosa yang dilakukan terlalu besar sehingga dia kayaknya gak bakalan diampuni. Mungkin dia menyiksa orang, mungkin dia bunuh orang, mungkin dia kejam atau apa. Yang kedua, mungkin dia melihat cara tobat terlalu susah sehingga dia merasa enggak bisa. Maka Allah mengatakan, "La taqnatu mir rahmatillah." Jangan putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala. Jangan ya. apapun besar apapun dosanya Allah akan ampuni. Makanya Allah meng setelah itu innallaha yagfirudunuba jamia. Sesungguhnya Allah itu mengampuni seluruh dosa. Adzunub jamak dari dam. Adzunub itu adalah dosa-dosa jamak dari dambun. Dambun jamaknya dzunubun. Dan kita tahu lafal jamak memberikan faedah keumuman. Kalau kita artikan seandainya ayat Allah cuma sampai innallaha yagfirudunub, maka sudah bisa dipahami sungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa. Karena azzunub sini lafal umum mencakup seluruh dosa-dosa. Apalagi Allah tambah dengan penekanan takid jamian. Yaitu kalau kita artikan suungguhnya Allah mengampuni semua dosa seluruhnya. Jadi penekanan agar tidak usah diragukan dosa apapun, sebesar apapun, sebanyak apapun Allah akan mengampuni dosa-dosa tersebut seluruhnya tanpa terkecuali. Tanpa terkecuali. Maka Allah mengatakan di akhirnya innahu sesungguhnya Allah itu huwal gfurur rahim. Dialah maha pengampun lagi maha penyayang. Hua di sini damirul fasl ada beberapa faedah. Yang pertama di antara faedahnya adalah untuk penekanan yaitu innahu hual gfurur rahim. Sesungguhnya dialah Allah yang maha pengampun lagi maha penyayang. Dan ada yang mengatakan untuk faedah alhasr hanya Allahlah sajalah yang bisa seperti ini yang bisa mengampuni seluruh dosa dan bahkan merahmati orang-orang yang pernah berdosa kemudian kembali kepada Allah. hanya Allah yang bisa seperti ini. Maka ayat ini memberi ee memberi harapan yang seluas-luasnya kepada orang-orang yang terjemus dalam dosa-dosa. Tapi kalau ada yang berkata, "Ustadz, bukankah dalam ayat yang lain dalam surat Ghafir Allah mengatakan, waal musrifina hum ashabunar." Dan sesungguhnya orang-orang berlebih-lebihan yaitu israf, mereka penghuni neraka jahanam. Benar, ada ayat seperti itu. Tapi kata para ulama, kalau kita kompromikan dengan ayat ini, di sini Allah mengatakan orang-orang yang israf berlebih-lebihan dalam bermaksiat mungkin diampuni atau tidak mungkin. Tapi dalam ayat yang lain Allah mengatakan, "Waal musrifina hum ashabunar." Orang-orang melampi batas mereka itulah penghuni neraka jahanam. Maka ayat yang dalam surah ghafir, waal musrifina hum ashabunar. Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas mereka adalah penghuni neraka jahanam. Dibawa kepada dua kemungkinan. Pertama maksudnya mereka kafir. Israf maksudnya orang kafir sehingga mereka tidak tidak akan diampuni. Yang kedua atau mereka pelaku maksiat namun mereka tidak berto bertobat. Mereka tidak bertobat sehingga mereka bisa masuk neraka jahanam. Adapun siapapun yang melampaui batas dalam kemaksiatan kemudian mereka bertobat maka akan diampuni oleh Allah subhanahu wa taala. Demikian juga dalam ayat yang lain Allah mengatakan, "Innallaha la yagfiruus bih wagfiruika lima yasya." Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni selain dosa syirik bagi yang Allah kehendaki. Dan kita akidah ahlusunah menyatakan siapa yang meninggal dalam kondisi syirik atau kafir tidak bakalan diampuni dan akan kekal di neraka. Adapun yang meninggal dalam kondisi melakukan dosa besar selain syirik dan dia tidak bertobat dan dia tidak bertobat maka terserah Allah. Allah mau ampuni. Allah mau azab terserah. Allah mau ampuni atau Allah azab dulu baru diampuni terserah Allah subhanahu wa taala. Adapun kalau syirik atau kufur tidak bakalan diam diampuni. Tidak bakalan diampuni. Maka ayat yang kita baca innallaha la yagfir yusakabi. Allah tidak mengampuni dosa syirik. yaitu bagi orang yang meninggal dan tidak berto bertobat. Adapun yang bertobat Allah akan ampuni. Dalam ayat ini Allah sebutkan demikian juga ayat yang lain dalam surah alfurqan kata Allah walladina la yaduna maallahai ilahan ak wallah bilhaq wnun wikaqahuqamba waana waalanika hasanat wallahu gurima wahainnahuallah kata Allah subhanahu wa taala di antara ciri-ciri ibadurrahman itu orang-orang yang tidak pernah berbuat syirik, orang-orang yang tidak pernah membunuh orang lain dan orang tidak pernah berbuat ee zina. Walika siapa yang melakukan ini, dia syirik, dia bunuh orang, dia zina, yalquama, dia akan mendapatkan dosanya di hari kiamat kelakulabu yaumalqiamah dan dia akan disiksa dengan siksaan dilipat gandakan di neraka fi muhana. Dan dia akan kekal dalam neraka. Kekal karena dia syirik. kekal. Tapi kata Allah, jadi dia sudah syirik, bunuh orang, zina. Bagaimana? Di neraka kekal. Namun kata Allah, "Illla man taba." Kecuali yang ber tobat. Kecuali yang bertobat. Jadi kalau bertobat masih bisa kembali. Ya, makanya dalam sebagian riwayat ketika ee turun ayat ini saya saya carikan, saya bacakan ayat saya bacakan dari Ibnu Abbas. Sebab nuzul ayat ini kata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, ananasan min ahli syirik kanu qod qotalu wa aksaru. Ada sekelompok orang dari kaum musyrikin dahulu di zaman mereka syirik dahulu sebelumnya. Jadi ada orang musyrikin mereka sangat biadab. Mereka telah membunuh dan banyak membunuh orang lain. Wazanau wa aksaru. Dan mereka berzina dan banyak berzina. Bukan cuma bunuh satu dua, sering membunuh. Banyak membunuh dan bukan berzina satu dua kali, sering berzina. Faatau Muhammadan sallallahu alaihi wasallam. Dan mereka pun datang kepada Nabi. Faqalu mereka berkata, "Innalladzi taquulu watu ilaihianun." Yang kau serukan kepada kami untuk masuk Islam sangat baik. La tukbiruna anna lima amilna kafaratan. Ya, apakah ada kafarah terhadap dosa-dosa yang kami lakukan? Yaitu kami sudah banyak membunuh, sudah banyak berzina. Maka turunlah dua ayat. Ayat yang pertama dalam surat Al-Furqan tadi saya sebutkan, orang yang syirik, membunuh, berzina ini terkumpul pada mereka. Mereka sudah syirik, sudah banyak membunuh. Bukan bunuh sekali dua kali, banyak membunuh dan banyak berzina. Maka kekal di neraka kecuali siapa? kecuali yang bertobat. Kemudian turun ayat ini, qul ya ibadiadzina asrofu. Katakanlah kepada hamba-hambaku yang melampaui batas. Ya, maka ini menunjukkan bahwasanya dosa sebesar apapun akan di ampuni oleh Allah subhanahu wa taala jika bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Tib. Eh, di sini Allah mengatakan la taqnatu rahmatillah. Jangan ter rahmat Allah subhanahu wa taala. Dan Allah mengatakan bahwasanya dirinya alghfur. Al-ghfur diambil dari migfar ya. Yang migfar sebagaimana sering kita sampaikan adalah helm yang dipakai prajurit dalam peperangan dan fungsinya dua, menutup kepala dan menghalangi hantaman pedang. atau tombak atau panah agar tidak mengenai kepala. Tidak semua menutup kepala disebut mikfar. Kalau hanya fungsinya menutup, tidak dikatakan mikfar. Seperti songkok, seperti ee sorban, seperti gutrah, ya itu tidak disebut mikfar. Mikfar itu harus helm yang menutup melindungi. Bukan sekalian menutup, tapi melindungi. Sehingga ketika kita berdoa kepada Allah, "Rabbighfirli, ya Allah ampunilah aku. Ya Allah, berilah aku maghfirah." Maknanya, "Ya Allah tutupilah dosa-dosaku di dunia maupun di akhirat. Dan hindarkanlah diriku dari dampak dosa tersebut. Hindarkan diriku dari dampak dosa tersebut. Seperti seorang prajurit makai helm, dia ingin menutup kepalanya dan dia ingin menghindarkan kepalanya dari hantaman pedang atau hantaman anak panah. Sehingga kalau kita mengatakan rabbig gfirli maknanya bukan sekedar mengampuni. Maknanya ya Allah tutuplah aib-aibku di dunia maupun di akhirat dan hindarkanlah aku dari dampak maksiat di dunia maupun di akhirat. Karena maksiat pasti ada dampaknya. Masih ada dampaknya. Dan Allah terkait dengan magfirah ada tiga nama dalam Al-Qur'an. Ada gfir, gofiri dzambi yaqilbi syadidilq. Dalam surat Gafir ada algfur ya. Alghfur ini paling banyak bergandeng dengan arrahim. Alghfur arrahim. Alghfur. Dan ada innaka kunta goffar. Ada gffar ada gffar ada gfir ada gfur. Sebenarnya membahas gfir yaitu makna umum. Allah maha mengampuni, menutupi aib dan menghindarkan dosa-dosa dari dampaknya. Adapun gfur maknanya yaitu sighah mubalaghah maknanya secara spesifik Allah itu mengampuni dosa-dosa sebanyak apapun secara kuantitas. Jika seorang melakukan kuantitas dosa dengan kuantitas yang tanpa batas, Allah bisa mengam mengampuni. Dan kalau gfar terkait dengan kualitas yaitu seorang melakukan dosa separah apapun. Allah bisa mengampuni dan itu terkait dengan gffar. Terkait dengan apa? Gffar. Sehingga tidak usah ragu bahwasanya Allah bisa mengampuni sebanyak apapun dosa kalian dan sebesar apapun dosa kalian. Dalam hadis qudsi ya lau anna eh dzunubuka ya. Kalau seandainya dosa-dosamu sampai ke langit ya kemudian kau minta ampun kepadaku akan aku ampuni. Kalau seandainya dosa-dosamu sampai setinggi langitagfartani lantas kau minta ampun kepadaku. Gofartu laka w ubali aku akan ampuniku. Aku tidak peduli dosa setinggi langit. Kalau kau minta ampun kepadaku, aku ampunin. Aku tidak peduli. Tidak peduli dengan masa lalumu. Tidak peduli dengan parahnya dosa-dosamu. Tidak peduli. Dalam Allah juga berkata dalam hadis qudsi, "Ya ibadi yaani ardhi khaya tummaqitani tushi laitukabiha magfirah." Seandainya kau datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi ini, lantas kau meninggal dalam kondisi tidak berbuat syirik, aku akan mendatangi engkau dengan ampunan sebesar bumi ini pula. J Allah maha pengampun sebesar apa, sebesar apapun dosanya, sebanyak apapun dosa-dosanya. Oleh karenanya disebutkan Abu Nawas berkata dalam syairnya, "Ya Rabbi inumat dunubian falaq alimtu afwak." Ya Rabbi, seandainya ee dosa-dosaku sudah sangat banyak, ya sudah banyak sekali, saya tahu ampunanmu lebih luas daripada dosa-dosaku. Ya. Kemudian dia berkata, "In kanana la yarjuka illa muhsinun fabiman yaludu waastajirul mujrimu." Kalau hanya bisa berharap kepada engkau, hanya orang baik. Terus yang pelaku dosa berharap kepada siapa? Berharap sama siapa? Aduka bi amani wahamu. Aku berdoa kepada engkau dengan merendahkan diri mengangkat kedua tanganku kepada engkau. Jika kau tolak tanganku ini terus siapa yang mau merahmati aku? Maaika wasilatun wamiluika tumma muslimun. Aku tidak punya amalan andalan untuk minta ampun darimu. Ya, kecuali harapan dan indahnya ampunanmu kemudian aku pasrah dengan keputusanmu. Oleh karenanya Allah sebutkan dalam Al-Qur'an contoh-contoh orang-orang yang dosanya sangat banyak tapi Allah tawarkan ampunan. Contoh siapa? Firaun. Firaun siapa lagi yang lebih yang kurang bejat dari Firaun? Yang lebih bejat dari Firaun siapa? Tidak ada orang paling bejat seperti apa? Firaun. Dari sisi akidah, dari sisi amal dia bunuh. Orang baru lahir dia bunuh. Pokoknya kalau ada orang mau melahirkan dia tongkrongi anak buahnya. Karena dulu enggak ada USG. Kalau laki-laki langsung sembelih. Kalau laki-laki sembelih. Sadis atau tidak? Sadis. Yuqotiluna abnaahumyuna nisaahum. Membunuh yang laki-laki biarin yang perempuan. Kejam. Kejam. Bani Israel diperbudak lama diperbudak, disiksa, disuruh kerja sana, kerja sini. Kemudian di antara tafsiran wa firaunil autadat, Firaun yang memiliki tali yaitu kalau dia sudah nyiksa orang, dia tonton kemudian dia tarik tali, tarik tambang, dia taruh tambang di tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri, kaki kanan. Kemudian ditarik sampai lepas kejam Firaun. Sudah gitu dia bilang, "Ana rabbukumul a'la." Aku adalah Tuhan kalian yang paling tinggi. Tetapi meskipun dia sekejam-kejam seperti itu, Allah masih tawarin ampunan. Makanya Allah suruh Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun suruh dakwahi. Idhaba ila Firaun inahu. Pergilah kalian berdoa kepada Firaun. Sesungguhnya telah melampaui batas. Sampaikanlah kepada dia dengan perkataan yang lembut. Siapa tahu dia ingat dan dia takut. Siapa tahu dia sadar. Seandainya Firaun sadar, terima enggak tobatnya? Terima. Cuma dia tidak mau sadar karena kesombongan. Karena kesom kesombongan ini Firaun contoh seburuk-buruk Firaun tidak ada orang lebih buruk dar Firaun di di dunia ini. Ya, Benyamin Tanyahu sama Firaun mana? Kalau Benyaminahu bertobat diterima tapi mana mau dia bertobat. Artinya siapa yang lebih parah daripada Firaun? Enggak ada. Itu pun kalau dia bertobat akan diterima oleh Allah Subhanahu wa taala. Bahkan Allah kirim bukan satu orang. Allah kirim dua, Musa dan Harun. Dan Allah pesanin kalau bicara sama Firaun bicara yang halus agar dia bertobat. Contoh lagi siapa? Penyihir Firaun. Mereka kerjaannya seumur hidup sebagai penyihir, cari nafkah dengan melakukan praktik sihir. Bahkan diundang oleh Firaun, mereka datang untuk berduel dengan Musa. Berduel dengan utusan Tuhan, utusan Allah Subhanahu wa taala. Ain lana lajron. Apakah wahai Firaun kalau kami menang lawan Musa kami dapat ganjaran? Innakum laminal muqarabin. Bukan cuma dapat ganjaran, bahkan kalian akan menjadi pejabat-pejabat. Yang penting ngalahkan siapa? Musa. Maka mereka datang kemudian duel dengan Musa. Ternyata Nabi Musa alaihi salam menang. Hanya mereka masuk Islam. Kemudian mereka dibunuh oleh Firaun dan mereka Islam enggak sampai sehari. Kalah duel, masuk Islam dibunuh masuk surga. Seluruh kesyirikan yang mereka lakukan selama puluhan tahun dilupakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Itu tidak dianggap lagi. Wala ubali kata aku tidak peduli dengan masa lalu kalian. Yang penting bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala. Seperti ashabul ukhdud. Qutil ashabul ukhdud anaritil waquud idhum alaiha quud wahum syuhud. Celaka Ashabul Ukhdud itu para penguasa yang menggali parit untuk membakar kaum mukminin. Kemudian mereka nongkrong nonton menyaksikan bagaimana mereka menyiksa kaum mukminin. Mereka bersenang-senang menyiksa kaum mukminin. Enjoy melihat tontonan siksaan. Orang ada seorang seperti hatinya sakit. Senang melihat orang tersiksa, senang melihat orang menderita. Dia bakar orang dan dia ketawa-ketawa. Lihat mereka dibakar. Ini orang kejam luar biasa orang-orang ini. Tapi apa kalau mereka bertobat masih diterima? Masih. Makanya Allah berkata setelah itu, innalladina fatanul mukminina wal mukminatiam yatubu. Sesungguhnya orang-orang yang membakar kaum mukminin dan kaum mukminat kemudian mereka tidak bertobat. Falahumabu jahanam walahumabul harq. Maka mereka akan mendapatkan azab neraka jahanam dan azab yang membakar. Di sini kata Allah tumma lam yatubu. Kemudian mereka tidak bertobat. Artinya kalau mereka bertobat diterima enggak diterima. Sampai Hasan Al Basri mengatakan, "Unzuru ila karamillah." Lihatlah bagaimana baiknya Allah kepada mereka ini. Ashabul ukhdud qatalu aulia Allah. Mereka telah bunuh wali-wali Allah dengan cara pembunuhan yang sadis. Bukan cuma ditikam, dibakar hidup-hidup dibakar. Mam, anak, suami, keluarga dibakar. Satu melihat yang lainnya dibakar. Sebelum satu dibakar, satunya dulu dibakar sehingga saling melihat mengerikan. Dan mereka ketawa-ketiwa menyaksikan. Tapi kalau mereka bertobat masih bisa diterima oleh Allah. Sayangnya mereka tidak bertobat. Jadi rahmat Allah sangat sangat luas. Ya, makanya Allah mengatakan innallaha yagfirudzunuba. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa tanpa terkecuali sebesar apapun syirik, kufur ya semuanya Allah akan ampuni. Kalau bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala. itu Allah mengatakan innahu dialah Allah huwal gfurur rahim yang hanya hanya Allahlah dialah yang maha pengamun lagi maha penyayang. Di sini Allah gandengkan alghfur dengan arrahim. Arrahim maha penyayang. Syekh Utsimin rahimahullah mengambil faedah bahwasanya jika seorang melakukan dosa kemudian dia bertobat bisa jadi kedudukannya lebih tinggi daripada sebelumnya. Karena Allah mengatakan arrahim. Arrahim yaitu menunjukkan ada suatu kebaikan baru yang Allah berikan kepadanya. Selain Allah ampuni, Allah berikan dia keba kebaikan. Makanya Allah yang diampuni. Orang yang diampuni oleh Allah bukan cuma jadi nol, cuma bahkan dikasih bonus. Ya, dikasih bonus di dunia maupun di akhirat. Bukan cuma nol. Kalau kita di dunia kan ada orang salah sama kita, sudah maafin. Sudah saya maafin enggak apa-apa. Sudah jangan ulang lagi ya. Gak ada kita bilang ini saya maafin ini mobil buat kamu ada enggak begitu? Enggak ada. Kalau paling nol aja mulai dari nol ya. Iya nol. Jangan ulang ya. Ulang Mas. Gak ada kita ampuni terus kita kasih mobil. Tapi kalau Allah Subhanahu wa taala ketika mengampuni. Bukan cuma mengampuni. Allah kasih bonus dunia dan akhirat. Dunia dan akhirat. Contoh dalam dunia Allah mengatakan perkataan Nabi Nuh kepada kaumnyaagfirbakum innahuana garsamaikumukumwalinakum janntinumhar. Aku katakan kepada kalian bertobatlah, beristigfarlah kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Allah maha pengampun. Kalau kalian bertobatilikum kita sekarang musim kemara Allah akan turunkan hujan berkah yang deras. Bukan dunia enggak dunia bukan cuma itu. Bahkan Allah perbanyak harta kalian dan Allah perbanyak anak-anak kalian. Dan Allah akan tumbuhkan kebun-kebun yang indah dan Allah akan bukakan sungai-sungai bagi kalian. Syaratnya bertobat. Berarti kalau mereka bertobat bukan cuma nol, bahkan dapat bonus duniawi. Kemudian juga misalnya dalam ayatnya Allah mengatakan ya ya ayyuhalladzina amanuallahianukumukirum. Wahai orang yang beriman, bertobatlah kepada tobat yang sesungguhnya nasuha. Yaallahuum Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian belum titik masih. Kemudian kata Allah akan masukkan dalam surga. Jadi bukan cuma nol bahkan dimasukkan dalam surga. Karena arrahim gfur rahim gfur terkait dengan diambil dosa. Arrahim menunjukkan ada suatu kebaikan baru yang Allah berikan kepada orang yang ber bertobat. Makanya Ibnu Qayim membahas ya tentang bagaimana kondisi seorang sebelum seandainya dia tidak berdosa. Ada dua orang. Satu tidak berdosa. Yang satu beramal saleh. Kemudian bermaksiat kemudian bertobat. Si A dia tidak berdosa. Terulah kita bicara waktu misalnya setahun ada dua orang si A dan si B. Si A selama setahun tidak berdosa. Taruhlah dia tidak pernah berdosa. Rajin ibadah-ibadah. Si B 3 bulan pertama taat, kemudian 5 bulan maksiat. Tinggal berapa bulan setahun? Empat lagi. Kemudian 4 bulan dia bertobat. 3 bulan taat sama temannya. Si A sama-sama start nih. Sama-sama start. Ketika bulan ketiga si A masih terus taat, si B bermsiat. Bulan 3, bulan 4, bulan 5, bulan 6, bulan 7, bulan 8 si A terus taat. Si B masih tenggelam dalam maksiat sampai bulan ke-8. Ketika bulan keemb si A masih terus ber ketaatan si B baru balik menuju ke taatan bulan ke9 10 11 12. Nah, ketika di ujung mana yang lebih mulia di sisi Allah si A atau si B? Kenapa si B? Maksiat lebih mulia. Gimana? Gimana? Mana lebih mulia? Si A atau si B? Enak kali si B. Maka kata Ibnu Taimiyah atau Ibnu Qayyim rahimahullah dalam madarij Salikin, beliau berkata bahwasanya kondisi seorang bertobat, kondisi seorang setelah bertobat dibandingkan dia sebelum berdosa. Jadi dia berdosa, kondisi dia pada tahun keesemb dibandingkan dengan pada tahun kedua ya kan dia bertobat bulan berapa? Tahun bulan ke berapa? Kesembilan dia taat sampai bulan kedu kedua. Bulan ketiga sampai bulan kelapan maksiat terus. Maka ibnu Qayyim mengatakan ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama mungkin sama saja kondisinya antara dia setelah bertobat dengan ketika dia sebelum berdosa. Kemungkinan kedua mungkin dia tambah parah karena dia banyak melakukan dosa sehingga imannya tidak seperti dulu, tidak kembali seperti dulu. Karena hatinya sudah terancur-hancur, sudah rusak sehingga mau kembali lagi susah. Kemudian ketiga mungkin lebih afdal daripada sebelum dia ber sebelum dia berdosa. Dan ini kalau diumpamakan seperti orang sakit. Ada orang sehat kemudian dia sakit kemudian dia mengalami penyembuhan. Bisa jadi setelah dia sembuh dia lebih lemah daripada sebelum dia sakit. Paham? Atau ketika dia sembuh sama seperti dia belum sakit. Atau dia sembuh dia lebih sehat daripada sebelum apa? Sakit. Karena selama selama dia penyembuhan dia melakukan pengobatan yang baik. perbaiki fis sehingga lebih sehat daripada sebelumnya. Orang bermaksiat juga demikian ya. Bisa jadi ya orang yang telah bermaksiat kemudian dia bertobat lebih baik darada sebelumnya. Makanya Nabi Adam Alaihi Salam setelah bermaksiat kemudian dia bertobat lebih afdal. Alaihi wa kata Allah adamahu Adam bermaksiat kepada Allah kemudian dia menyimpang. Setelah itu dia bertobat. Kata Allah, alai. Kemudian Allah memilih dia. Dijadikan sebagai seorang nabi dan dia mendapat petunjuk. Dia istiqamah lebih afdal daripada sebelum dia berma bermaksiat. Maka bisa jadi seorang tadinya ee dia bermaksiat, dia baik, kemudian bermaksiat, dia bertobat bisa lebih baik. Di antaranya kenapa bisa lebih baik? Karena ketika dia meskipun waktunya habis untuk bermaksiat, sementara si A jalan terus, tapi ketika dia bertobat dia merasakan bagaimana pedihnya maksiat dia. Dia benar-benar merasa hina di hadapan Allah. Dia tidak ujub lagi. Dia merasa dia ini bukan siapa-siapa. Dan itu mungkin tidak dirasakan oleh si A. Paham? Si B merasakan itu karena dia pernah terjatuh, pernah terjerumus. Si A tetap baik, cuma dia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh si B. Oleh karenanya Allah mentakdirkan manusia berdosa untuk bertobat. Yang yang yang menjadi masalah kalau berdosa tidak bertobat itu masalah. Makanya Allah dalam hadis qudsi kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, Allah berkata eh kata Nabi, "Laamnibuahaballahu bikum. Kalau kalian tidak berdosa Allah akan sirnakan kalian jaum yudnibun." Kemudian Allah datangkan satu kaum yang mereka berdosa. Fastagfirunallah. Kemudian mereka minta ampun kepada Allah. Dan Allah ampuni dosa-dosa mereka. Imam saya Syekh Utsimin rahimahullah ketika memperhatikan gfur rahim, dia mengatakan gfur mengampuni masa lalu. Rahim bisa jadi menjadikan orang setelah berdosa kemudian bertobat lebih baik daripada sebelumnya. Dan ama dan ini mirip seperti firman Allah Subhanahu wa taala wahuwal gfurul wadud. Ya, dalam surat Alburuj kata Allah, "Wahuwal gfur alwadud." Dialah Allah yang maha pengampun lagi maha mencintai. Alwadud maksudnya mencintai. Karena seorang pendosa ketika dia berdosa, dia bilang, "Apakah Allah masih sayang kepadaku? Apakah Allah masih bisa mencintaiku?" Jawabannya masih bisa. Kalau kau kembali kepada Allah, maka Allah akan mencin mencintaimu. Makanya Allah gandengkan wahual gfurul wadud. Dialah Allah yang maha pengampun lagi maha mencintai. Artinya kalau kau bertobat, Allah bisa cinta kepada engkau lagi. Sebagaimana sebelumnya Allah pernah mencintaimu, namun kau berma bermaksiat. Bahkan kau bisa jadi lebih baik daripada sebelumnya. Tayib. Jadi seorang jangan pernah putus asa kepada Allah Subhanahu wa taala kapan dia bermaksiat. Jangan dia pernah tunda tobat. Segera bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Meskipun nanti terjatuh lagi, jatuh lagi tobat lagi. Jatuh lagi tobat tobat lagi, istigfar lagi, tobat lagi. Kita lanjutkan ayat berikutnya. Wa anibu ilabbikum wa aslimu lahu. Kembalilah kepada rab kalian dan islamlah kepada Allah subhanahu wa taala. Ini makanya Thair bin Asir mengatakan, "Uaslimulahu." Ini isyarat bahwasanya ayat ini turun kepada orang kafir, orang musyrikin. Hendaknya kalian Islam. Atau secara umum ada yang menafsirkan ini terkait seluruh pelaku maksiat kafir atau mukmin kata Allah wa anibu ilabikum kembalilah kepada rab kalian itu dengan amalan hati kalian wa aslimahu dan tunduklah kepada Allah kepada Allah dengan raga kalian ya jadi hati dan raga kembalikanlah kepada Allah subhanahu wa taala dan firman Allah ila rabbikum kepada rab kalian ya untuk menunjukkan kalian semangat kenapa rabb maksudnya pencipta kalian Kenapa kalian ragu? Yang ciptakan kalian siapa? Allah. Yang kasih rezeki sama kalian siapa? Allah. Yang mengilhamkan kalian untuk bertobat juga Allah. Jadi jangan ragu untuk kembali. Itu pencipta kalian. Kalau kita bilang kepada manusia, "Kembalilah kepada ibumu." Orang semangat ibunya kok bukan orang lain. Tapi kalau bilang minta maaf sama bos takut. Tapi kalau minta maaf sama ibu berani enggak? Orang berani karena dia tahu ibu sayang sama dia. Kalau sana minta maaf sama bos. Takut digampar sama bos. Tapi kalau sama ibu beda. Padahal kasih sayang Allah kepada hambanya lebih daripada ibu dari kepada anaknya. Maka Allah mengatakan wa anibua ilabikum. Kembalilah kepada rabmu. Rabbmu yang telah menciptakan engkau, yang telah membentuk engkau, yang berezek kepadamu, yang mengatur dirimu. Kembalilah kepada Rabb kalian. Wa aslimu lahu dan tunduklah kepadanya. yaitu kembali dengan ee amalan hati dan amalan ee jawarih. Dan ketika firman Allah ila rabbikum kepada Rabb kalian dan juga lahu kepada Allah menunjukkan tobat harus ikhlas. Kita tobat itu untuk Allah. Tobat amal saleh. Jadi tobat bukan untuk kita pamerkan ee bukan untuk kita riakkan. Dan tobat karena Allah bukan karena duniawi. Contoh seorang saya berhentilah berhenti apa? Berhenti merokok. Kenapa? Takut anu takut TBC. Ini bukan tobat karena Allah tapi tobat karena TBC. Saya enggak berani korupsi. Takut saya berhenti tobat dari Kap. Takut ditangkap KPK. Itu bukan tobat namanya. Itu bukan karena Allah tapi karena ka KPK. Yang dimaksud tobat karena Allah. Kalau bukan karena Allah enggak. Kalau bukan karena Allah, maka gak tobat ikhlas karena Allah Subhanahu wa taala. Karena ada orang tobat karena duniawi. Kenapa tobat? Daripada diomongin orang. Teman-teman semua sudah hijrah tinggal saya yang belum. Tiap hari ditanya, "Udlah saya hijrah sekalian lah." Berarti bukan karena Allah, tapi karena enggak mau diomongin sama orang lain. Nah, ini juga gak gak benar. Tobat harus karena Allah. Wa aslimu lahu kata Allah. Ingat minqobli ayatiakumulabu tumma la tunsarun. Sebelum datang kepada kalian azab dan kalian tidak bisa ditolong lagi, azab bisa datang tiba-tiba atau nanti hari kiamat kelak azab bisa datang. Kalau kalian sudah mati, sudah enggak bisa bertobat, silakan menunggu azab. Di sini Allah mengatakan, "Tumma la tunsarun." Kemudian kalian tidak ditolong. Di sini ada tumma. Tumma itu kata gandeng yang menemukan jedda. Saya sering sampaikan kata gandeng ada tiga. Ada wa, ada fa, ada tumma. Kalau bahasa Indonesianya wa dan fa. Lalu kalau tsumma kemudian wa sekedar menggandengkan. Kalau fa menunjukkan berkesinambungan tanpa ada jeda. Datang Khalid lalu Muhammad. Berarti Khalid datang setelah itu langsung disusul oleh siapa? Muhammad tanpa ada jad. Tapi kalau bilang tumma jaa Khalid, tumma Muhammad maksudnya datang Khalid. Kemudian beberapa lama lagi baru datang Muhammad. Ketika Allah mengatakan minqbakumulab sebelum datang azab kepada kalian tumma tunarun kemudian kalian tidak bisa ditolong. Maksudnya apa? Karena ada jeda di situ. Maksudnya ketika mereka diazab mereka mencari para penolong. Siapa yang bisa tolong saya? Ke teman-temannya. Teman juga diazab kepada orang saleh. Orang saleh enggak bisa kasih syafaat. Kepada saya minta tolong pada iblis. Iblis juga lagi diazab. Pada siapa? kepada sembahan selain Allah gak ada kalian. Maka orang ketika diazab dia berusaha mencari apa? Penolong. Tapi tidak ada penolong. Azab tetap tetap mengenainya. Maka bertobatlah sebelum engkau mati kemudian diazab. Kemudian kata Allah Subhanahu wa taala, "Wattabiu ahsana ma unzila ilaikum." Dan ikutilah apa yang Allah turunkan bagi kalian. Seakan-akan ada pertanyaan ketika kita baca ayat ke-54, Allah mengatakan kembalilah kepada Rabb kalian dan Islamlah, pasrahlah, tunduklah kepada Rabb kalian sebelum datang azab menimpa kalian, kemudian kalian tidak bisa ditolong. Seakan-akan timbul pertanyaan, bagaimana caranya kembali kepada Allah? Kembali kepada Allah bagaimana caranya? Bagaimana caranya aslimu lahu tunduk kepada Allah? Bagaimana caranya? Caranya ini ayat berikutnya. Wattabiu ahsana ma unzila ilaikumbikum. Ikutilah yang terbaik apa yang Allah turunkan kepada kalian dari Rabb kalian. Yaitu jalankan syariat. Jalankan apa? Syariat. Ahsana ma unzila ilaikum. Yang terbaik dituntunkan bagi kalian menunjukkan Al-Qur'an adalah ayat-ayat Allah yang terbaik yang Allah turunkan kepada manusia. Lebih baik daripada Taurat, daripada Injil, daripada Zabur, dari suhuf Ibrahim, suhuf Musa. Semua kitab suci yang terbaik adalah apa? Al-Qur'an. Makanya Allah berfirman, "Inna hadal qurana yahdi lillatihi aqwam." Sesungguhnya Al-Qur'an itu memberi petunjuk kepada yang terbaik. Kepada yang terbaik. Makanya ketika Al-Qur'an sudah turun, maka seluruh kitab-kitab suci sebelumnya tidak dipakai lagi. Sudah man mansuk, tidak dipakai lagi. Al-Qur'an sudah lengkap. Makanya ketika Umar bin Khattab membaca lembaran Taurat di hadapan Nabi, Nabi marah. Kata Nabi, "Amutahawiquuna anta ya Khattab, apakah kau masih bimbang wahai Umar? Masih mau baca kitab Taurat untuk mencari petunjuk?" Enggak boleh. Kita kalau baca Injil Taurat untuk cari petunjuk agama enggak boleh. Tapi kalau untuk membandingkan, untuk mengkritisi, untuk itu boleh. Tapi kalau saya pengin dapat hidayah dari Taurat, Injil, enggak boleh. Enggak boleh. Makanya Nabi marah. Mutahwi anta ya Khattab. Apa kau ragu? Bimbang wahai Umar. Kemudian kata Rasul, "Lauana Musa hayan mau kalau Musa alaihi salam masih hidup tidak boleh bagi dia kecuali menjadi pengikutku." Makanya Nabi Isa Alaih Salam ketika turun di akhir zaman, Imam Mahdi sedang salat subuh, maka Imam Mahdi suruh Nabi Isa jadi imam. Nabi Isa enggak, dia jadi makmum aja. Dia bermakmum kepada umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan dia berhukum dengan hukum Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi kata Allah, "Wattabiu ahsana ma unzila ilaikum." Ikutilah sebaik-baik yang Allah turunkan kepada kalian. Maksudnya Al-Qur Al-Qur'an. Dan ini dalil bahwasanya Al-Qur'an sudah lengkap, Islam sudah lengkap, tidak butuh dari ajaran lain. Kalau urusan agama tidak perlu yang lain, tidak perlu filsafat, tidak perlu yang lain. Enggak perlu enggak perlu Yahudi, enggak perlu Nasrani, enggak perlu Buddha, enggak perlu Hindu, enggak perlu filsafat Yunani, enggak perlu. Al-Qur'an sudah sempurna, generasi sahabat sudah sempurna tanpa ada pemikiran-pemikiran luar yang masuk yang dompleng dalam agama mereka. Mereka sempurna. Ngapain kita cari-cari hidayah dari selain? Enggak. Gak perlu. Kalau urusan dunia silakan selama tidak melanggar syariat. Kata Allahumabuqatanumun sebelum datang azab kepada kalian sementara tiba-tiba bakta tiba-tiba sementara kalian tidak sadar. Tidak sadar. Ini ngeri. Kematian sering datang tanpa sa sadar. lagi di puncak-puncak kesenangan tiba-tiba mati ahlulah wahim ahlulah wahr kata Allah subhanahu waallahirun kata Allah subhanahu wa taala ya apakah penduduk suatu negeri merasa aman akan datang kepada azab azab Allah kepada mereka wahum naimun sementara mereka dalam kondisi sedang tidur betapa banyak azab tiba-tiba datang mereka sedang tidur tiba-tiba datang kematian bagi mereka amina ahlul qurumunahan wahun atau akan datang azab kepada mereka di waktu duha sementara mereka sedang main-main sedang senang-senang azab datang kapan saja sedang tidur datang azab sedang main-main datang azab sedang lagi joget-joget, lagi konser, tiba-tiba azab. Bisa enggak? Bisa. Bisa. Bisa. Dan terjadi lagi zina, mati bisa datang kematian kepadanya. Oleh karena sebelum datang kematian, sebelum datang azab, bertobatlah karena azab itu, siksaan itu bisa datang dengan tiba tiba-tiba. Lihatlah kaum Nabi Luth ketika sedang di puncak-puncak syahwat. Ya, ketika datang para malaikat kepada Nabi Luth dalam menjelma menjelma dalam bentuk manusia yang tampan-tampan. Akhirnya istri Nabi Luth berkhianat. Dia laporkan kepada kaumnya karena istri Nabi Luth dari Akamsi. Orang tempat dia, dia lapor kaumnya ada tamu-tamu ganteng. Maka mereka yuhraun, mereka sudah bersyahwat, bergejolak karena sudah lama mereka pengin cari pasangan baru yang ganteng-ganteng. Artinya mereka datang dengan penuh semangat syahwat dan mereka rayu Nabi Luth, mana tamunya kasih kami tamu-tamu itu sini. Kata Allah, kata Nabi Luth, difi fala tafdun itu tamu-tamuku. Jangan bikin malu saya. Bagaimana saya mau serahkan tamu-tamu saya kata Allah wqaduhufihi mereka rayu Luth untuk Alaih Salam untuk menyerahkan tamu-tamu mereka di puncak-puncak syahwat kata Allah fatasna aunahum fuquabi wudur. Maka kami butakan mata mereka di saat-saat mereka melihat cowok-cowok tampan yang mereka pengin gauli. Ternyata Allah tutup mata mereka. Fatamah saya yang mengatakan, yaitu mata mereka sudah enggak ada lagi, langsung kulit nutup begini. Jadi terkadang azab itu atau siksaan itu datang di puncak-puncak maksiat, di puncak-puncak kesenangan. Itu banyak terjadi. Makanya Allah mengatakan, "Wa antum la tasy'urun." Sementara kalian tidak sadar, tidak merasa tahu-tahu datang azab. Waliadzubillah. Ya. Maka bertobatlah. Bertobatlah sebelum hilang kesempatan. Bisa jadi mati tiba-tiba, bisa jadi diazab tiba-tiba. Kalaupun enggak tiba-tiba nanti di neraka akan datang azab. Kata Allah itu jangan sampai kau berkata nanti pada hari kiamat kelak penyesalan ya hasrata yaitu dari ya hasrati sering ya diganti dengan alif ya hasrata sehingga jiwa akan berkata sungguh besar penyesalanku hasrah sama dengan nadam tapi syiddatun nadam yaitu penyesalan yang sangat mendalam Yaitu sungguh kerugian yang luar biasa yang aku rasakan sekarang. Al faru fi jambillah yaitu fi janibillah. Yang di mana aku telah lalai terkait dengan hak Allah. Janibillah maksudnya hak haq hak. Wa kuntu laminasakirin. Dan aku termasuk orang-orang yang perolok-olok agama. Dulu saya memperolok ayat Allah. Meremehkan orang-orang bertakwa. Memperolok orang-orang yang saleh. Memperolok kerjanya. Memperolok ayat-ayat Allah diolok-olok. Hadis-hadis Nabi diolok-olok para orang-orang yang menjalankan syariat dijek-ejek. Kata Allah, "Bertobatlah sebelum nanti kalian seperti itu." Menyesal tapi penyesalan tiada tiada guna dengan mengatakan, "Sungguh besar kerugianku, penyesalanku." Ya, atas kelalaianku terkait dengan hak Allah. Dan sungguh di dunia dulu saya termasuk orang yang memperolok-olok. atau alasan yang lain. Laallahani minal muttaqin. Menyesal dia. Seandainya dulu Allah beri aku petunjuk, tentu aku termasuk orang yang bertakwa. Ya dia tidak mau ikut. Allah suka seti, tapi dia tidak mau ikut. Ya, coba dulu saya ngaji, coba dulu saya bertakwa, coba dulu saya masuk Islam. Kalau orang kafir, tentu aku termasuk orang yang bertakwa. Kemudian dia menyampaikan lagi atau jiwa tersebut ketika melihat azab di hadapan matanya dia berkata, minalin. Seandainya saya bisa dikembalikan lagi ke dunia, aku termasuk orang-orang yang ihsan. Itu derajat yang tinggi. Karena martibuddin tingkatan Islam itu tingkatan agama Islam kemudian iman kemudian ihsan itu muslim mukmin, hukum nuhsin. Dia bilang, "Ya Allah kembalikan aku ke dunia. Saya bukan bukan cari bukan jadi orang baik saja jadi super baik jadi muhsin kembalikan aku. Kembalikan aku. Tapi percuma mereka dikembalikan makan kembali lagi. Kata Allah lauddu laadu limanuhu wa innahum lakadibun. Kalau dikembalikan lagi mereka akan kembali lagi sebagaimana perbuatan mereka dan mereka hanyalah berdosa. Tapi dia ingin bisa kembali lagi. Tapi enggak enggak mungkin. Makanya kata Allah, "Bertobatlah sebelum kau merasakan penyesalan-penyesalan ini." Allah bantazhag benar semua ini. Kau tidak bisa beralasan lagi. Kenapa? Telah datang ayat-ayatku ketika di dunia melalui para rasul, melalui para nabi, melalui para ulama, melalui para dai, melalui banyak sarana media. Telah datang ayat-ayatku, peringatan-peringatanku. Fakadzabta biha dan kau dustakan itu semua. Wastakbar dan kau sombong. Kau dustakan karena kau sombong gak mau kau taakan kebenarannya sombongta minal kafirin. Termasuk orang-orang yang yang kafir. Gak diterima alasan-alasan tersebut. Dan pada hari kiamat engkau akan melihat bagaimana orang-orang yang mendustakan Allah. Wajah mereka menjadi hitam. Menjadi hitam. Seperti ada kegelapan di wajah mereka. Kenapa selama ini aljazais amal balasan sesuai dengan perbuatan? Selama ini hati mereka hitam menolak ayat-ayat Allah. Maka pada hari kiamat Allah menjadikan wajah mereka wajah yang hitam. Sementara orang-orang beriman wujuh mereka mustabsyirah, bersiri-siri. Alaisa fi jahannama matwal lil mutakabbirin. Dan bukankah di neraka di neraka jahanam tempat bagi orang-orang yang sombong? Jadi banyak orang menolak ayat Allah karena sombong. Orang kafir tidak mau karena sombong. Kata Allah, "Waunajjillahulladzinaqau bimafazatihim la yamassuhumu w hum yahzanun." Dan Allah menyelamatkan orang yang bertakwa bimafazatihim dengan kemenangan mereka yaitu dengan masuk surga. La yamuhum mereka tidak ditimpa dengan azab sama sekali. W hum yahzanun. Dan mereka tidak bersedih sama sekali. Allah menjelaskan bahwasanya neraka jahanam sangat pedih. Hanya Allah, hanya orang bertakwa yang akan diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Makanya mengatakan, "Waajillahqau Allah mengatakan dalam ayat dalam surat Maryam, wainkum illahamaqina." Setiap kalian pasti melewati neraka. Mendatangi neraka. Maksudnya melewati mendatangi neraka lewat di atas sirat. Ya, itu suatu keputusan Allah yang tidak bisa dihindari. Kemudian kata Allah, "Tumma nunajjilladzinaq." Kemudian kami selamatkan orang bertakwa. Orang bertakwa bisa melewati sirat. Walimina fiha jitiya. Adapun orang-orang zalim akan terjatuh dari sirat terjatuh ke neraka jahanam. Jyelamatkan salat adalah tak takwa. Takwa menjalankan menjalankan ketaatan, meninggalkan larangan. Semakin banyak menjalan ketaatan larangan, maka semakin potensi untuk selamat semakin besar. Bimafazati maksudnya dengan masuk ke dalam surga. Allah selamatkan mereka dari neraka dan mereka masuk dalam surga. Ketika dalam surga la yamasuhum tidak ada suatu keburukan menimpa mereka sama sekali. Enggak ada. Walahum yahzarun. Mereka sama sekali tidak ber bersedih. Ya, makanya kata Allah, "La khaufun alaihim wum yahzanun." "Udhkul jannata la khaufun alaikum w antum tahzanun." Masuklah kalian ke dalam surga. Tidak perlu khawatir dan tidak perlu bersedih. Dunia ini yang bikin kita tidak bahagia. Khawatir atau se sedih. Sedih tentang masa lalu yang tidak bisa kembali lagi, tidak bisa kita perbaiki lagi. Sudah lewat. Yang kita teringat-ingat, kita sedih. Kekhawatiran. Khauf, kekhawatiran depan, masa depan. Nanti gimana? Nanti gimana? Itu yang buat hati menjadi gelisah. Dan itu sudah kehidupan dunia. Setiap orang pasti begitu. Kapan itu hilang semua? Ketika masuk surga. Tidak ada khawatir sama sekali, tidak ada sedih sama sama sekali. La khaufun udkulul jannata la khaufun alaikum wala antum tahzanun. Masuklah kalian surga. Tidak ada kekhawatiran sama sekali, tidak ada sedih sama sama sekali. Makanya Allah menyebut penghuni surga. Ketika mereka menginjakkan kaki di surga, mereka berkata, "Alhamdulillahilladzi adhaba analna rabbana lagofurun syakur." Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkan segala kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb kami maha membalas dengan penuh kebaikan dan maha pengampun. Di sini Allah mengatakan, "La yamasuhum walahum yahzanun." Mereka tidak ditimpa dengan keburukan sama sekali dan mereka tidak sedih sama sekali. Bagaimana sedih? Mereka dalam kenikmatan. Kata Allah, "Inna asbal jannatil yaum fiulin faqihun." "Sungguhnya penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan." Dalam kesibukan kita ini sibuk sok sibuk enggak tahu sibuk apa. Entah sibuk dunia enggak jelas, sibuk ngalor ngidul enggak jelas, atau sibuk maksiat atau sibuk apa. Sibuk zalim, sibuk di surga tidak ada kesibukan kecuali kesibukan keni kenikmatan. Makanya Allah mengatakan, "Innal abroro lafi naim." Sesungguhnya orang-orang yang baik tenggelam dalam kenikmatan. Tenggelam lafi itu dalam tenggelam dalam nikmat. Seluruh kanan kiri depan belakang ngidur wetan semua kenikmatan. Apa yang mereka lihat semuanya kenikmatan. Apa yang mereka sentuh semuanya kenikmatan. Apa yang mereka cium semuanya ken kenikmatan. Tidak ada, tidak ada. Semuanya kenikmatan. Dan mereka harus sibuk. Enggak ada yang enggak sibuk. Makanya penghuni surga tidak boleh tidur. Kalau tidur berarti berhenti off dari kesibukan. Rasulullah ditanya, "Ayamu ahlul jannah?" Apakah penghuni surga tidur? Kata Nabi, "Gak, gak." Annaumu akhul maut. Tidur itu temannya kematian, saudaranya kematian. Jadi kalau main sama bedari enggak ada ngantuk? Enggak ada. Mas, Mas, Masant enggak ada enggak boleh. Harus sibuk ini. Enggak. Mana enggak sibuk kalau ada penghuni surga tidur itu enggak benar. Karena dia lagi off berarti dia enggak sibuk. Harus sibuk semuanya harus apa? Sibuk dalam keni kenikmatan. Kalau sibuk nikmat ini mana mikir ketakutan. Enggak ada ketakutan yang dipikirkan. Enggak ada kekhawatiran, enggak ada kesidihan. Sibuk terus dengan nikmat. Apa yang mau dikhawatirkan? Apa yang mau dikhawatirkan? Apa yang mau perlu disediakan? Sementara dia tersibukkan dalam keni kenikmatan. Semoga Allah menjadikan kita semuanya penghuni surga. Mengampuni dosa-dosa kita. membalas kita dengan kebaikan-kebalasan yang terbaik. Amin ya rabbal alamin. Demikian saja kajian kita. Insyaallah kita lanjutkan pada kesempatan yang lain. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.