MOROCCO DEMO BROKE! IT ALL STARTED FROM 8 PREGNANT MOTHERS RISING UP AND MOVEMENT VIA DISCORD
2D64DjkXRv0 • 2025-10-08
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, hari ini kita bakal membahas sebuah negara yang sedang panas banget, sedang demo, sebuah gerakan yang membuat semua orang jadi kaget dan tidak menyangka, yaitu demo besar-besaran di Maroko. Nah, beberapa hari lalu kita sudah ngebahas ya tentang ee demo di negara kita, terus demo di Nepal yang benar-benar mengerikan dan disusul dengan demo-demo dari negara-negara lain lagi. Nah, sekarang tiba-tiba Maroko juga demo dan kabarnya demonya meniru demo dari Indonesia, Nepal, dan lain-lain. Dan yang ingin gua bahas terkait insiden yang terjadi di awal bulan ini di mana ini terjadi kecelakaan sosial ya yang disebabkan oleh longsoran kekecewaan publik yang sudah menumpuk lama dan meledak tepat di momen yang paling krusial karena menyangkut hak hidup dasar warga negara. Memang insiden kayak gini rawan terjadi di negara manapun ya, Geng. Mungkin menjadi salah satu resiko ketika hak-hak dasar warga negara diabaikan bertahun-tahun lamanya. Dan yang paling sensitif tentu aja tentang isu kesehatan dan pendidikan. yang kita tahu sendiri ya itu adalah pondasi buat kehidupan siapapun yang pengin punya masa depan yang layak. Intinya kalau ada sebuah negara yang pemerintahannya menyepelekan atau mengabaikan tentang fasilitas kesehatan dan pendidikan, udah pasti warganya bakal mengamuk total. Ya, enggak cuma soal pajak doang sih yang dibicarakan oleh warga, tapi masa depan mereka juga mereka pikirkan. Nah, itulah mengapa demo di Maroko ini bisa dikatakan termasuk ke dalam peristiwa yang berbahaya. Sebab kita gak pernah tahu kondisi emosi massa ketika itu dan kapan aja kemarahan besar itu bisa tersulut menjadi kerusuhan yang tidak bisa dikontrol lagi. Apalagi sekarang yang bergerak itu adalah Gen yang punya skill organisasi digital tinggi. Nah, oleh karena itu jika pemerintah gagal menyediakan layanan publik yang memadai untuk masyarakatnya, nah perlu difasilitasi dengan sebuah kepercayaan yang kuat dari rakyat yang terasa nyata. udah pakai janji-janji aja atau udah pakai ya nanti akan ada 19 lapangan pekerjaan. Nah, itu enggak cukup tuh. Itu enggak cukup ya. Karena itu belum tentu bisa menjamin rakyat bakal aman 100% apalagi tanpa menggunakan trust rakyat sama sekali. Ya kan? udah ngasih janji-janji aja rakyat masih belum percaya apalagi tanpa adanya janji. Dan di Maroko, tras ini sudah dijebol atau kepercayaan ini sudah dijebol total karena kasus bobroknya layanan kesehatan yang memakan korban jiwa. Bagaimana cerita selengkapnya dari kasus e demo besar-besaran di Maroko ini? Ini cukup seru untuk kita bahas. Langsung aja secara lengkap. Halo, geng. Welcome back to Kamar Jiri. [Musik] Geng, untuk pembahasan pertama kita akan bahas dulu kronologi demo di Maroko dan kerusuhan komunitas anonim serta mobilisasi digital. Jadi, Geng, demo besar-besaran di Maroko ini bukan cuma digelar secara mendadak atau tiba-tiba, tapi justru diprakarsai oleh sebuah komunitas anonim yang bernama Jenzy 212. Wah, kok bisa nih? Ini adalah kode yang bergaung kuat di kalangan anak muda digital yang ada di Maroko. Ini jujur aja ya, gua benar-benar merinding sebenarnya. Yang pertama nih, kalimat jenzian ini ya pertama kali ada di demo ya ketika demo Nepal. Terus dikabarkan demo Maroko ini katanya meniru demo Indonesia sama dengan Nepal juga katanya mereka itu meniru demo Indonesia. Terus ada tulisan 212 kayaknya pernah terjadi sebuah pergerakan demo besar-besaran di Indonesia yang juga pakai kode 212 nih. Ini kenapa bisa secara kebetulan banget nih ya, Geng? Ini aneh banget. Nah, terus Geng ini gerakannya benar-benar dilaksanakan oleh Jenzy. bukan politisi tua yang pura-pura muda atau serikat pekerja konvensional. Komunitas ini terbentuk dari platform Discord yang kita tahu sendiri biasanya cuma untuk ngobrolin game atau sharing meme-meme receh. Tapi di tangan Jenzi 212 ini, Discord dirubah fungsi menjadi alat mobilisasi politik yang super efektif dan diam-diam merangkul anak-anak muda yang lain yang sudah mulai frustasi karena tidak punya masa depan yang jelas di negara mereka sendiri. Dan mereka tidak pernah didengarkan suaranya oleh pemerintah karena dianggap bocil. Appetite cities for people among themselves and and about two hours before the actual eh protests. Nah, gila banget, Geng. Kekuatan digital tiba-tiba menjadi kekuatan fisik di jalanan yang membuktikan bahwa anonimitas bisa menjadi perisai yang kuat untuk bersuara. Maksudnya anonimitas itu adalah ketika kita ingin menyampaikan sesuatu, kalau bisa pakai topeng. Ketika kita ingin bersuara menyampaikan sebuah rasa sakit kita, kalau bisa wajah kita jangan kelihatan. Karena kenapa? Ketika kita bersuara tapi wajah kita terlihat, maka pemerintah yang kita protes atau yang kita kritik akan lebih mudah mencari tahu kita siapa, profiling keluarga kita dan kita akan diancam. Dan itulah yang menjadi nilai plus ketika para Jenzi menggunakan platform digital yaitu Discord untuk berkoordinasi satu sama lain karena foto profile mereka bisa tersembunyi, alamat email mereka bisa bikin apa aja ya kan. Akhirnya mereka berkumpul ke jalanan tanpa diketahui oleh pemerintah. Apalagi isinya ya di dalam pemerintahan saat ini di negara manapun itu diduduki oleh para boomer-boomer yang enggak paham dengan digital. Ya, jangankan di Maroko, di negara kita aja yang memimpin bagian-bagian tentang IT, komputerisasi ya, jaringan dan lain-lain. Pokoknya seputar digital emang dia paham, emang dia paham megang komputer, emang dia paham e nginstal ulang komputer deh. Minimal gua yakin beli pulsa aja masih nyuruh suirnya tuh. Udah gitu malah jadi pemimpin di bidang digital di negara ini yang yang dia sendiri aduh entahlah ya. Malas kita ngomongnya sama boomer-boomer. Yang penting kalau buat dia itu ngomong di depan mic pidato bla bla bla bla berapi-api tapi tindakan kosong menurut dia itu udah paling politik gitu kan. Yah, mengecewakan sekali kalau kita berbicara tentang pemerintah di negara manapun. Nah, terus geng fakta bahwa komunitas ini sudah ada 170.000 ribu anggota pada pertengahan September itu menunjukkan bahwa tingkat frustasi publik di Maroko sudah di level yang sangat tinggi. Angka ini dicapai sebelum demo pecah dan menjadi bukti bahwa Genzi 212 memang punya basis massa yang terorganisir dan siap bergerak. 170.000 orang berhasil dikumpulkan melalui Discord. Mereka berkumpul secara anonim di chat room dan sukses membuat pemerintah Maroko pusing tujuh keliling karena mereka tidak bisa mengidentifikasi siapa penggeraknya, siapa anggotanya, siapa pemimpin resmi dari gerakan ini sehingga strategi represif tradisional jadi enggak efektif. Kelompok di balik aksi ini adalah Genzi 212, komunitas daring yang terbentuk di platform Discord pada pertengahan September. Nama kelompok ini mengacu ke generasi yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Jadi, cara-cara yang kuno-kuno tuh enggak berguna. Jadi, ini menunjukkan kalau kekuatan online sekarang udah benar-benar menjadi real power di jalanan. Sebuah fenomena baru yang sulit banget dibaca oleh intelijen tradisional atau intelijen kuno dengan cara manual yang membuat gerakan ini menjadi sangat resilien. Terus aksi ini bukan cuma drama sehari du hari, Geng. kayak seolah-olah ada penggeraknya kayak 3 hari serang, 2 hari kemudian dimatiin lampu terus ditembak-tembakin gak ada. Demo ini sudah terjadi 7 hari berturut-turut sejak Sabtu, 27 September. Sebuah maraton kemarahan yang enggak pernah berhenti karena semangat dari para Jenzi 212 ini gampang banget menyebar di media sosial dan grup-grup chat mereka. Ini menunjukkan kalau kemarahan publik itu sudah beneran akut dan enggak main-main lagi dan mereka siap bertahan lama di jalanan. masa enggak peduli dengan e rasa capek atau panas. Yang penting suara mereka bisa didengar dan tuntutan mereka bisa dipenuhi. Karena mereka merasa ini adalah kesempatan terakhir untuk mengubah nasib mereka. Ya, dengan kata lain, mereka udah enggak punya pilihan lain selain ee ya udah kalau mati mati sekalian. Toh juga kalau gua diam-diam aja gua mati. Tapi kalau gua bersuara gua mati tapi setidaknya ada pergerakan dan ada usaha gitu. Dan yang paling menarik serta paling simbolis dari cerita ini adalah titik awalnya yang terjadi di depan rumah sakit. Sebuah detail yang luar biasa mencerminkan masalah sebenarnya di Maroko. Jadi demo awalnya digelar kecil-kecilan di sana tapi dengan cepat sekali meluas karena terhubung dengan isu kematian orang ibu hamil yang mana ini sangat sensitif. Jadi rumah sakit yang seharusnya memberi harapan malah menjadi simbol kegagalan negara. Dan begitu api kemarahan ini tersulut, masa pun mulai ramai-ramai berdatangan seperti air bah yang jebol, seperti tsunami. Ya, mungkin kalian kebayang itu di negara kita aja nih kalau misalkan kita sakit, kalau mau BPJS mesti ngurus surat pengantarlah, mesti ngurus bayar ini, bayar itu, daftar ini, daftar itu, orang keburu meninggoy. Di Maroko lebih parah, ibu hamil yang seharusnya bisa mendapatkan pertolongan pertama ternyata gagal ditolong dan di situlah masyarakatnya ngamuk luar biasa. Protes mereka meluas dengan cepat ke berbagai kota besar di seluruh negeri, Geng. Bukan cuma berhenti di satu tempat. Jadi, ini membuktikan bahwa massa sudah sangat jengah dengan masalah kesehatan dan pendidikan yang memicu demo ini. Bukan cuma masalah lokal, tapi juga masalah nasional yang dirasakan dan diderita oleh semua orang di seluruh penjuru Maroko. Dari kasbah terpencil ya atau tempat-tempat terpencil sampai dengan apartemen mewah di Casablanca. eskalasinya sangat mengkhawatirkan pemerintah karena tidak terpusat di satu kota aja dan membutuhkan respon yang terkoordinasi di tingkat nasional. Demo utamanya pecah di kota-kota besar yang paling penting di Maroko, yaitu di Rabat, Casablanca, Marrakees, Agadir, Tengier, terus ada Vest dan juga Magnes. Kalian bisa menyimpulkan sendiri kalau semua pusat power atau semua pusat ekonomi dan populasi di sana kena dampak dari demo ini yang secara langsung ini bakal mengancam stabilitas ekonomi negara mereka. Apalagi memang sedang rapuh. Ketika kota-kota sepenting ini rusuh, itu artinya pemerintah sudah kehilangan kendali atas narasi dan lapangan sekaligus. Dan turis-turis pun pasti langsung kabur semua dari daerah sana, terutama di Marrakees. Namun sayangnya, Geng, kerusuhan ini pecah setelah aparat kepolisian mulai bertindak represif terhadap para pendemo dengan cara yang sangat berlebihan dan berbahaya. Mereka benar-benar tidak proporsional. Padahal pendemo awalnya ingin berdemo secara damai, tapi karena ada perlawanan dari pihak kepolisian ee pihak keamanan, pihak aparat gitu yang benar-benar mencerminkan hal yang tidak apa ya tidak santai gitu. Akhirnya ya dilawanlah dengan cara yang keras juga oleh para pendemo. Di awalnya itu aparat melepaskan tembakan dan gas air mata ke kerumunan yang sedang berteriak-teriak protes. Sebuah tindakan yang langsung mengubah niat damai menjadi kekerasan atau pembalasan balik dari masa. Aksi Jenzi 212 yang damai ini pun terpaksa berubah menjadi aksi anarkis karena adanya pemicu dari pihak aparat yang bertindak berlebihan di lapangan. Dampak kekerasan ini benar-benar parah. Bukan cuma di tingkat material tapi juga korban jiwanya. Ada insiden tragis di mana tiga orang meninggal dunia ditembak karena ada laporan yang mengatakan mereka berusaha untuk merebut senjata milik polisi. Nah, ini menunjukkan kalau tensi di lapangan sudah sangat tinggi dan nyawa seperti tidak ada harganya lagi. Sebuah tragedi yang memperdalam ketidakpercayaan antara rakyat dan aparat secara sangat signifikan. Masa yang marah dan juga frustasi akhirnya melampiaskan kekecewaan mereka dengan cara yang merusak. karena udah enggak punya pilihan lain. Sebuah bentuk kemarahan yang dialamatkan ke simbol-simbol kekuasaan dan birokrasi yang mereka benci. Para demonstran membakar fasilitas umum di dekat pusat perbelanjaan sekitar dan merusak kantor pos tempat. Sebuah kerugian besar bagi masyarakat umum. Tapi ini adalah simbol protes terhadap pelayanan publik yang buruk. Ini adalah simbol perlawanan terhadap sistem yang dianggap gagal melayani mereka. Dan sayangnya disalurkan dengan cara yang destruktif. Di tempat-tempat tertentu kerusakan yang terjadi itu lebih parah dan spesifik banget, Geng. Bahkan di daerah CDB dekat Agadir, kantor balai komunal atau semacam kantor pemerintahan daerah gitu ya, bahkan sampai dibakar oleh massa sampai habis, sampai rata. Sebuah tindakan yang jelas menunjukkan betapa muaknya mereka terhadap birokrasi lokal yang dianggap korup atau tidak efektif. Nah, ini bukan lagi cuma merusak jalan, tapi sudah merusak simbol otonomi pemerintahan di daerah. Terus ya di daerah sale gua e kurang bisa bacanya nih apa Sell apa sale. Ini wilayah utara raat ya. Ada seorang jurnal AFP menyaksikan langsung sekelompok massa berhembakar dua mobil polisi dan satu cabang kantor bank. Dan ini bukan lagi demo biasa, ini anarki total yang dipicu oleh kemarahan ekonomi dan kebencian terhadap aparat. Bank dibakar karena melambangkan sistem ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sementara mobil polisi dibakar karena melambangkan tangan represif pemerintah yang mereka benci saat ini. Kerugiannya juga bikin pusing, Geng. Dan angka yang tercatat resmi hingga Rabu setelah demo minggu pertama. Di saat itu tercatat ada sebanyak 409 orang ditahan dan 263 aparat luka-luka di dalam bentrokan. Sebuah perbandingan yang menunjukkan bahwa konflik ini sangat intens dan melibatkan bentrokan fisik yang serius di banyak tempat. Angka 409 orang yang ditahan ini juga menunjukkan luasnya cakupan operasi penangkapan untuk meredam gerakan tersebut. Dan selain itu data kerusakan materi itu jelas banget. 142 kendaraan polisi dan 20 mobil pribadi itu dirusak. Serta 23 orang warga sipil mengalami luka-luka ya selain tiga korban yang tewas tadi. Angka 142 kendaraan polisi yang rusak itu jelas menunjukkan intensitas perlawanan massa yang sangat kuat dan terorganisir di beberapa lokasi utama. Secara total kurang lebih ada 80 fasilitas umum yang rusak mulai dari kantor pos, Balai Komunal, sampai fasilitas di pusat perbelanjaan. Ini adalah biaya sosial dan material yang sangat besar dan menunjukkan betapa seriusnya gejolak ini karena mengenai infrastruktur publik secara masif dan menyeluruh sehingga mengganggu layanan dasar lainnya. Tiga nyawa melayang ditembak dan puluhan lainnya terluka di pihak sipil. sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah protes sosial yang sebenarnya bisa dicegah jika pemerintah mau mendengarkan ya suara rakyatnya sejak awal. Nah, ini adalah tragedi kemanusiaan yang menjadi bekas hitam dalam sejarah politik Maroko modern. Luka-luka yang dialami oleh 263 aparat juga menunjukkan bahwa ini bukan hanya protes satu arah, tapi ini adalah bentrokan dua arah yang sangat keras dan brutal di lapangan yang mencerminkan tingkat kemarahan massa yang sudah mencapai titik didih dan siap melawan kembali semua aparat yang ada. Terus pasti kalian e penasaran nih, Geng, apa sih isi tuntutan di demo Maroko ini? Apakah sama dengan negara kita? Nah, sekarang kita akan bahas isi tuntutan di dalam demo Maroko yang berkenaan dengan reformasi fundamental kesehatan dan pendidikan. Oke, sekarang kita masuk ke dalam intinya yaitu tuntutan massa. Mereka enggak muter-muter di isu politik yang ribet tapi langsung fokus ke hal-hal yang mendasar banget. Ini keren banget nih. Reformasi layanan kesehatan dan pendidikan publik. Itu yang mereka harapkan. Ini menunjukkan bahwa masalah rakyat sebenarnya itu sederhana tapi vital banget dan selama ini diabaikan oleh pemerintah mereka. Para analis sudah lama bilang kalau protes ini merupakan respons atas kelalaian layanan publik selama bertahun-tahun dan menuntut reformasi mendesak di sektor pendidikan serta kesehatan. Kelalaian ini enggak bisa lagi ditutup-tutupi dengan retorika politik kosong karena dampaknya udah terasa langsung oleh rakyat biasa. Jadi mereka itu udah mulai nuntut yang kayak, "Ah, gua gak mau dengar apa kata politikus yang kayak misalkan tenang, tenang nanti ada 19 juta pekerjaan gini gini, ah udah enggak percaya lu bikin dulu 19 juta lapangan pekerjaannya baru lu ngomong." Kurang lebih begitulah ee apa ya rasa tidak percaya dari masyarakat Maroko terhadap para politikusnya. Yang jadi titik didih dan api paling besar di hati publik adalah kematian orang ibu hamil di sebuah rumah sakit umum yang terjadi di awal bulan ini. Seperti yang gua sebutkan sebelumnya, ini adalah sebuah tragedi yang memilukan yang membuat rakyat benar-benar marah besar. Delapan orang ibu ini, Geng, meninggal saat akan melahirkan di tempat yang seharusnya paling aman. Sebuah fakta yang sangat mencoreng citra pemerintahan yang mengklaim kalau negara mereka udah maju. Padahal ketika berobat ke rumah sakit aja, rumah sakit enggak bisa menyelamatkan orang ibu tadi. Ini memicu kemarahan yang meluas. Karena ini bukan soal satu rumah sakit yang jelek aja, tapi ini adalah simbol bobroknya sistem kesehatan yang enggak peduli sama nyawa masyarakatnya. Apalagi rakyat biasa yang enggak punya uang untuk ke rumah sakit swasta. Gimana enggak marah coba kalau mereka sendiri? Rakyatnya itu sudah tahu layanan kesehatan dasar aja enggak bisa dijamin di negeri sendiri. Sementara mereka bayar pajak untuk negara tersebut. Lalu, Geng, di sektor pendidikan apinya makin besar. Lagi-lagi gara-gara Rancangan Undang-Undang Nomor 59.24 tentang Pendidikan Tinggi yang baru diajukan ke parlemen. Sebuah langkah yang dianggap pro kapitalis dan tidak pro rakyat miskin. RUU ini menyulut kemarahan mahasiswa dan serikat guru karena mengancam masa depan pendidikan yang harus merata. Ya, seharusnya itu merata dan mengembalikan pendidikan itu ke era elit. Kenapa RUU ini sangat ditentang? Ya, karena beberapa pasal di dalam RUU tersebut dinilai membatasi kebebasan berorganisasi di kampus, terus membuka jalan bagi privatisasi pendidikan yang tinggi dan yang jelas-jelas menghilangkan fungsi kampus sebagai wadah kritik sosial dan membuat pendidikan menjadi barang dagangan. Jadi apa ya? Kayak pengin pintar harus bayar mahal. Nah, ini bahaya banget karena berpotensi menghalangi akses bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk bisa mengenyam pendidikan terutama di bangku kuliah. Sehingga ini memutus rantai mobilitas sosial mereka secara total. Bahkan mahasiswa kedokteran yang notabandnya adalah calon dokter pun ikut turun ke jalan karena mereka kesal banget dengan pemerintah mereka ini. Nah, mereka menuntut hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak agar mereka beneran bisa jadi dokter yang kompeten dan dapat merawat pasien di Maroko di masa depan dengan kualitas yang standar, kualitas yang baik. Ini adalah tuntutan yang sangat bermoral dan memiliki visi masa depan, Geng. Mereka kesal kok anak-anak yang bapak-bapaknya mampu bisa bayar itu yang bisa kuliah. Sementara mereka yang benar-benar pengin belajar, pengin pintar, malah enggak bisa kuliah karena ya biaya yang terlalu mahal. Tuntutan mereka jelas banget. Pendidikan gratis dan berkualitas, kurikulum yang relevan dengan dunia kerja biar enggak nganggur setelah lulus, serta fasilitas yang memadai di daerah tertinggal. Biar enggak ada gap kualitas antara kota besar dengan daerah pinggiran. Jadi, biar semuanya rata, sama-sama pintar. Dan ini bukan cuma soal dosen atau gedung ya, tapi ini soal keadilan pendidikan sebagai kunci untuk masa depan yang lebih baik. Nah, jadi dari sini kalian bisa membayangkan ya, Geng. Sebenarnya tujuannya sangat positif. Para Genzi-Genzi di sana sudah mulai melagalanya. Masa depan itu yang paling menjadi dasar atau pondasi sebuah negara. Makanya mereka demo. Jadi bukan cuma pengin asak lah ya. Mereka benar-benar pengin Maroko itu berubah. Oke, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan kritik prioritas anggaran dan pengangguran bagi kaum GenI. Nah, ini yang paling bikin panas dan paling gampang bikin kalian memahami kenapa rakyat Maroko tuh marah banget. Jadi mereka itu memprotes prioritas pemerintah yang lebih mengutamakan pengeluaran miliaran dolar untuk infrastruktur olahraga seperti persiapan Piala Dunia FIFA 2030 lah dan Piala Afrika 2026 lah. Coba kalian bayangin kalian lagi kesusahan nih rakyatnya. Rumah sakit bobrok itu mengancam nyawa kalian. Sekolah kalian mau dijual mahal tapi pemerintahnya malah sibuk bikin stadion mewah buat event bola. Dan ini kayak penghinaan terhadap penderitaan rakyat. di saat rakyat lagi lapar ya kan pemerintahnya sibuk makan es krim gitu. Yang mana ini semua penderitaan rakyat itu akibat kelalaian-layanan dasar. Mereka menuntut agar dana miliaran dolar itu bisa dialihkan untuk kebutuhan rakyat yang lebih mendesak seperti kesehatan dan pendidikan. Sebuah prioritas yang lebih manusiawi dan rasional. Dan mereka mengatakan untuk apa stadion megah kalau rakyatnya mati di pelayanan kesehatan yang enggak layak. Nah, ini masuk akal banget. Di tengah semua kebobrokan ini ada waktu ekonomi yang terus berdetak tinggi. Angka pengangguran di kalangan muda-mudi yang mana saat ini sudah mencapai 35,8%, Geng. Nah, 35,8% hampir setengah penduduk ini hampir satu dari tiga anak muda itu enggak punya pekerjaan di sana meskipun mereka lulusan kuliah atau sekolah tinggi dengan harapan yang besar. Ini adalah gabungan antara kegagalan sistem pendidikan atau yang bisa disebut dengan kurikulum yang kurang relevan dan kegagalan sistem ekonomi lapangan kerja yang minim sehingga menciptakan generasi yang tidak produktif serta frustasi. Jadi kuliah, kuliah, kuliah enggak tahu untuk apa. Kuliahnya juga enggak benar, lapangan pekerjaan setelah kuliah juga enggak ada. Nah, generasi muda yang frustasi karena enggak punya masa depan ini akhirnya muak. Mereka tuh mengubah tuntutan ekonomi jadi tuntutan politik yang sangat vokal dan membawa gerakan Jenzi 212 ini ke jalanan. Puncaknya, Demonstran juga menuntut pemancatan pemerintah karena dianggap gagal total di dalam menjalankan tugas mereka dan gagal melindungi hak konstitusional rakyat Maroko. Dan ini bukan lagi soal perbaikan kecil, tapi perubahan struktural di tingkat eksekutif. Jadi ibaratnya tuh kayak udah lu bubarin lah DPR-nya, udah bubarin pemerintahannya, ganti baru. Kayak gitulah kurang lebih. Dan mereka merasa bahwa kabinet yang sekarang tidak mampu lagi mengemban amanah rakyat dan perlu diganti sesegera mungkin untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sudah hilang total. Nah, tuntutan ini menunjukkan bahwa krisis ini sudah mencapai tingkat krisis legitimasi pemerintahan, geng. Slogan protes mereka di jalan itu banyak yang menggambarkan rasa frustasi ini, yaitu soal prioritas hidup yang terbalik, mengorbankan nyawa dan masa depan demi kesenangan sesaat. seperti ya menyambut kedatangan Piala Dunia. Sementara nyawa orang ya di rumah sakit banyak yang melayang. Nah, ini adalah kritik paling pedas yang dilayangkan oleh para jenzy kepada elit politik mereka. Nah, terus seperti biasa kalau ada demo itu artinya ditujukan kepada pemerintah. Pasti kita penasaran apa respon dari pemerintahnya. Apakah mereka punya hati? Apakah mereka punya empati dengan kalimat-kalimat atau tuntutan-tuntutan yang diutarakan oleh para rakyatnya ini? Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan tentang respon pemerintahnya. Jadi, Geng, setelah seminggu penuh jalanan panas dan berdarah-darah, pemerintah Maroko akhirnya buka suara. Sebuah respon yang tidak terlambat, tapi tetap harus dianalisis. Respon mereka ini penting untuk kita analisis karena ini menunjukkan bagaimana mereka ee ngerem atau menghentikan krisis yang sudah terlanjur parah ini dengan sangat hati-hati sekali melalui pendekatan verbal dan negosiasi. Nah, yang pertama sekali berbicara itu adalah Menteri Kesehatan dan Perlindungan Sosial Maroko yang bernama Amine Tahrawi. Ada sebuah langkah yang logis karena semuanya berawal dari krisis kesehatan dan tragedi delan ibu hamil yang meninggal. Tahrowi ini pada Rabu malam itu bilang bahwa pemerintah memahami tuntutan sosial yang diajukan oleh kaum muda dan warga negara. Sebuah pernyataan yang mengandung pengakuan atas kesalahan dan validitas tuntutan rakyat. Jadi dia udah ngaku pemerintah tuh ngaku mereka salah, mereka enggak menampik semua itu. Di saat itu ya Tarui ini secara spesifik menyoroti seruan untuk memperbaiki sektor kesehatan yang jelas merupakan upaya untuk memadamkan api pertama yang menyulut demo ini. Dan ini penting banget, Geng. Karena ini pengakuan resmi dari pemerintah bahwa tuntutan rakyat itu valid dan bukan sekedar ulah anarkis. Sebuah perubahan nada dari sikap represif awal. Pengakuan ini menunjukkan bahwa pemerintah mereka sadar bahwa mereka tidak bisa lagi berpura-pura buta dengan masalah rumah sakit yang jelas-jelas sudah memakan korban dan menjadi sorotan media internasional. Dan mereka berusaha mengambil inisiatif komunikasi setelah gagal melakukan kendali di lapangan. Terus selanjutnya, geng Perdana Menteri Maroko yang bernama Aziz Akan ya, dia ikut angkat bicara pada hari Kamis tanggal 2 bulan 10 yang mana dia memberikan respon yang lebih tinggi tingkatnya. PM Maroko ini atau Aziz Akan ini ya bilang kalau pemerintahannya siap untuk dialog dan berdiskusi di dalam lembaga dan ruang publik dengan ya semua masa yang menuntut. Nah, jadi inilah langkah klasiknya, Geng. menawarkan dialog untuk memindahkan keributan dari yang tadinya di jalanan ke meja perundingan yang lebih terkontrol secara politik dan formal. Jadi diajak ngobrol kepala dingin. Tujuannya jelas untuk mendinginkan suasana dan menunjukkan itikat baik untuk berunding dan membeli waktu untuk bisa menyusun strategi balasan atau solusi jangka panjang. Tawaran dialog ini secara implisit ya maksudnya masih gamblang untuk mengakui kekuatan dan legitimasi gerakan Jenzi 212 sebagai mitra bicara. Meskipun mereka itu anonim, namun pertanyaan besarnya tetap sama. Apakah dialog ini beneran ngurusin privatisasi dan miliaran dolar stadion atau cuma gimik politik aja untuk meredam demo sementara yang terbukti? Ya, demo Jenzi 212 ini sangat sulit ditebak gerakannya. Dan apakah ini juga gimik untuk menjaga citra negara di mata internasional karena udah keburu viral? Ya kan? Keberhasilan dialog ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mereka untuk menawarkan solusi yang konkret seperti pembatalan RUU pendidikan atau revisi anggaran olahraga. Bukan cuma berjanji-janji kosong yang tidak mengikat. Bisa-bisa ya demonya bakal lebih anarkis lagi. Hah. Gila ya di Maroko benar-benar pergerakannya gokil parah. Nah, sekarang kita bakal masuk nih, Geng, ke dalam pembahasan prospek dan tantangan masa depan antara harapan reformasi dan ancaman kekerasan yang terjadi di sebuah negara. Sekarang kita bahas. Jadi, pada akhirnya nih, Geng, ya. Cerita demo di Maroko ini adalah cerminan dari kegagalan sebuah negara dalam mengelola prioritas dan harapan generasi barunya. Jenzi 212 sudah berhasil melakukan bagian mereka untuk mengangkat isu kesehatan dan pendidikan yang terlupakan ke permukaan jalan dan juga media internasional secara sangat efektif. Mereka sudah memaksa pemerintah untuk mengakui bahwa memang ada masalah serius di pusat sistem mereka yang membutuhkan perhatian segera dan bukan ditunda-tunda lagi. Dan pemerintahnya mau enggak mau mengakui ini semua. Dan ini adalah sebuah kemenangan kecil bagi demokrasi dan kebebasan bersuara. meskipun harus dibayar dengan harga yang mahal yaitu darah dan nyawa. Dari sini kalian sendiri bisa melihat ya, Geng. Semua masalah di Maroko itu saling terkait. Kesehatan bobrok karena dana dialihkan ke olahraga. Pendidikan terancam karena privatisasi dan akibatnya pengangguran muda meledak sampai 35,8%. Dan ini adalah rantai bencana sosial yang tidak pernah terhindarkan lagi. Nah, itulah kenapa tuntutan pemecatan pemerintah jadi final banget bagi Genie 212. Karena mereka enggak percaya lagi bahwa kabinet yang sekarang punya kapasitas untuk menyelesaikan masalah yang sudah akut. Ini ini menunjukkan krisis kepercayaan di tingkat yang sangat mendasar. Nah, sekarang bolanya ada di tangan pemerintahnya, Geng. Ya, mereka harus bertindak cepat dan tepat. Janji dialog udah enggak cukup lagi tanpa aksi nyata yang cepat dan terukur seperti pembatalan RUU dan peningkatan anggaran kesehatan. Mereka harus serius memperbaiki sektor kesehatan dengan mengalokasikan dana sekarang juga. membatalkan RUU pendidikan yang kontroversial agar pendidikan tetap terjangkau dan membuat program nyata untuk mengatasi pengangguran muda di Maroko. Nah, cuma dengan langkah radikal ini ya kepercayaan bisa dipulihkan. Kalau enggak, gelombang jen berikutnya bakal lebih besar lagi dan lebih ngeri lagi, Geng. Karena mereka sudah tahu cara menggunakan Discord untuk menggerakkan negeri dan mereka sudah merasakan ee rasa kemenangan kecil di jalanan. Jadi kayak mereka tuh udah enggak takut lagi. Dan ini adalah momen krusial bagi Maroko untuk memilih jalan reformasi atau justru kekerasan yang berkepanjangan yang mengancam stabilitas regional. Dan kita cuma bisa menunggu ya dan melihat apakah pemerintah mereka bakal belajar dari tiga korban jiwa dan delapan ibu hamil yang meninggal itu. Karena ini benar-benar sebuah kemarahan rakyat mereka. Oke, geng. Itu dia pembahasan kita hari ini tentang demo di Maroko yang seram banget kabarnya. Mereka juga berkaca dari Indonesia dan Nepal dan beberapa negara lain yang sudah berdemo sebelumnya. Gimana menurut kalian tentang pembahasan ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories