Transcript
2D64DjkXRv0 • MOROCCO DEMO BROKE! IT ALL STARTED FROM 8 PREGNANT MOTHERS RISING UP AND MOVEMENT VIA DISCORD
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1558_2D64DjkXRv0.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini kita bakal membahas
sebuah negara yang sedang panas banget,
sedang demo, sebuah gerakan yang membuat
semua orang jadi kaget dan tidak
menyangka, yaitu demo besar-besaran di
Maroko. Nah, beberapa hari lalu kita
sudah ngebahas ya tentang ee demo di
negara kita, terus demo di Nepal yang
benar-benar mengerikan dan disusul
dengan demo-demo dari negara-negara lain
lagi. Nah, sekarang tiba-tiba Maroko
juga demo dan kabarnya demonya meniru
demo dari Indonesia, Nepal, dan
lain-lain. Dan yang ingin gua bahas
terkait insiden yang terjadi di awal
bulan ini di mana ini terjadi kecelakaan
sosial ya yang disebabkan oleh longsoran
kekecewaan publik yang sudah menumpuk
lama dan meledak tepat di momen yang
paling krusial karena menyangkut hak
hidup dasar warga negara. Memang insiden
kayak gini rawan terjadi di negara
manapun ya, Geng. Mungkin menjadi salah
satu resiko ketika hak-hak dasar warga
negara diabaikan bertahun-tahun lamanya.
Dan yang paling sensitif tentu aja
tentang isu kesehatan dan pendidikan.
yang kita tahu sendiri ya itu adalah
pondasi buat kehidupan siapapun yang
pengin punya masa depan yang layak.
Intinya kalau ada sebuah negara yang
pemerintahannya menyepelekan atau
mengabaikan tentang fasilitas kesehatan
dan pendidikan, udah pasti warganya
bakal mengamuk total. Ya, enggak cuma
soal pajak doang sih yang dibicarakan
oleh warga, tapi masa depan mereka juga
mereka pikirkan. Nah, itulah mengapa
demo di Maroko ini bisa dikatakan
termasuk ke dalam peristiwa yang
berbahaya. Sebab kita gak pernah tahu
kondisi emosi massa ketika itu dan kapan
aja kemarahan besar itu bisa tersulut
menjadi kerusuhan yang tidak bisa
dikontrol lagi. Apalagi sekarang yang
bergerak itu adalah Gen yang punya skill
organisasi digital tinggi. Nah, oleh
karena itu jika pemerintah gagal
menyediakan layanan publik yang memadai
untuk masyarakatnya, nah perlu
difasilitasi dengan sebuah kepercayaan
yang kuat dari rakyat yang terasa nyata.
udah pakai janji-janji aja atau udah
pakai ya nanti akan ada 19 lapangan
pekerjaan. Nah, itu enggak cukup tuh.
Itu enggak cukup ya. Karena itu belum
tentu bisa menjamin rakyat bakal aman
100% apalagi tanpa menggunakan trust
rakyat sama sekali. Ya kan? udah ngasih
janji-janji aja rakyat masih belum
percaya apalagi tanpa adanya janji. Dan
di Maroko, tras ini sudah dijebol atau
kepercayaan ini sudah dijebol total
karena kasus bobroknya layanan kesehatan
yang memakan korban jiwa. Bagaimana
cerita selengkapnya dari kasus e demo
besar-besaran di Maroko ini? Ini cukup
seru untuk kita bahas. Langsung aja
secara lengkap. Halo, geng. Welcome back
to Kamar Jiri.
[Musik]
Geng, untuk pembahasan pertama kita akan
bahas dulu kronologi demo di Maroko dan
kerusuhan komunitas anonim serta
mobilisasi digital.
Jadi, Geng, demo besar-besaran di Maroko
ini bukan cuma digelar secara mendadak
atau tiba-tiba, tapi justru diprakarsai
oleh sebuah komunitas anonim yang
bernama Jenzy 212. Wah, kok bisa nih?
Ini adalah kode yang bergaung kuat di
kalangan anak muda digital yang ada di
Maroko. Ini jujur aja ya, gua
benar-benar merinding sebenarnya. Yang
pertama nih, kalimat jenzian ini ya
pertama kali ada di demo ya ketika demo
Nepal. Terus dikabarkan demo Maroko ini
katanya meniru demo Indonesia sama
dengan Nepal juga katanya mereka itu
meniru demo Indonesia. Terus ada tulisan
212 kayaknya pernah terjadi sebuah
pergerakan demo besar-besaran di
Indonesia yang juga pakai kode 212 nih.
Ini kenapa bisa secara kebetulan banget
nih ya, Geng? Ini aneh banget. Nah,
terus Geng ini gerakannya benar-benar
dilaksanakan oleh Jenzy. bukan politisi
tua yang pura-pura muda atau serikat
pekerja konvensional. Komunitas ini
terbentuk dari platform Discord yang
kita tahu sendiri biasanya cuma untuk
ngobrolin game atau sharing meme-meme
receh. Tapi di tangan Jenzi 212 ini,
Discord dirubah fungsi menjadi alat
mobilisasi politik yang super efektif
dan diam-diam merangkul anak-anak muda
yang lain yang sudah mulai frustasi
karena tidak punya masa depan yang jelas
di negara mereka sendiri. Dan mereka
tidak pernah didengarkan suaranya oleh
pemerintah karena dianggap bocil.
Appetite cities for people
among themselves and and about two hours
before the actual eh protests.
Nah, gila banget, Geng. Kekuatan digital
tiba-tiba menjadi kekuatan fisik di
jalanan yang membuktikan bahwa
anonimitas bisa menjadi perisai yang
kuat untuk bersuara. Maksudnya
anonimitas itu adalah ketika kita ingin
menyampaikan sesuatu, kalau bisa pakai
topeng. Ketika kita ingin bersuara
menyampaikan sebuah rasa sakit kita,
kalau bisa wajah kita jangan kelihatan.
Karena kenapa? Ketika kita bersuara tapi
wajah kita terlihat, maka pemerintah
yang kita protes atau yang kita kritik
akan lebih mudah mencari tahu kita
siapa, profiling keluarga kita dan kita
akan diancam. Dan itulah yang menjadi
nilai plus ketika para Jenzi menggunakan
platform digital yaitu Discord untuk
berkoordinasi satu sama lain karena foto
profile mereka bisa tersembunyi, alamat
email mereka bisa bikin apa aja ya kan.
Akhirnya mereka berkumpul ke jalanan
tanpa diketahui oleh pemerintah. Apalagi
isinya ya di dalam pemerintahan saat ini
di negara manapun itu diduduki oleh para
boomer-boomer yang enggak paham dengan
digital. Ya, jangankan di Maroko, di
negara kita aja yang memimpin
bagian-bagian tentang IT, komputerisasi
ya, jaringan dan lain-lain. Pokoknya
seputar digital emang dia paham, emang
dia paham megang komputer, emang dia
paham e nginstal ulang komputer deh.
Minimal gua yakin beli pulsa aja masih
nyuruh suirnya tuh. Udah gitu malah jadi
pemimpin di bidang digital di negara ini
yang yang dia sendiri aduh entahlah ya.
Malas kita ngomongnya sama
boomer-boomer. Yang penting kalau buat
dia itu ngomong di depan mic pidato bla
bla bla bla berapi-api tapi tindakan
kosong menurut dia itu udah paling
politik gitu kan. Yah, mengecewakan
sekali kalau kita berbicara tentang
pemerintah di negara manapun. Nah, terus
geng fakta bahwa komunitas ini sudah ada
170.000 ribu anggota pada pertengahan
September itu menunjukkan bahwa tingkat
frustasi publik di Maroko sudah di level
yang sangat tinggi. Angka ini dicapai
sebelum demo pecah dan menjadi bukti
bahwa Genzi 212 memang punya basis massa
yang terorganisir dan siap bergerak.
170.000 orang berhasil dikumpulkan
melalui Discord. Mereka berkumpul secara
anonim di chat room dan sukses membuat
pemerintah Maroko pusing tujuh keliling
karena mereka tidak bisa
mengidentifikasi siapa penggeraknya,
siapa anggotanya, siapa pemimpin resmi
dari gerakan ini sehingga strategi
represif tradisional jadi enggak
efektif.
Kelompok di balik aksi ini adalah Genzi
212, komunitas daring yang terbentuk di
platform Discord pada pertengahan
September. Nama kelompok ini mengacu ke
generasi yang lahir antara akhir 1990-an
hingga awal 2010-an.
Jadi, cara-cara yang kuno-kuno tuh
enggak berguna. Jadi, ini menunjukkan
kalau kekuatan online sekarang udah
benar-benar menjadi real power di
jalanan. Sebuah fenomena baru yang sulit
banget dibaca oleh intelijen tradisional
atau intelijen kuno dengan cara manual
yang membuat gerakan ini menjadi sangat
resilien. Terus aksi ini bukan cuma
drama sehari du hari, Geng. kayak
seolah-olah ada penggeraknya kayak 3
hari serang, 2 hari kemudian dimatiin
lampu terus ditembak-tembakin gak ada.
Demo ini sudah terjadi 7 hari
berturut-turut sejak Sabtu, 27
September. Sebuah maraton kemarahan yang
enggak pernah berhenti karena semangat
dari para Jenzi 212 ini gampang banget
menyebar di media sosial dan grup-grup
chat mereka. Ini menunjukkan kalau
kemarahan publik itu sudah beneran akut
dan enggak main-main lagi dan mereka
siap bertahan lama di jalanan. masa
enggak peduli dengan e rasa capek atau
panas. Yang penting suara mereka bisa
didengar dan tuntutan mereka bisa
dipenuhi. Karena mereka merasa ini
adalah kesempatan terakhir untuk
mengubah nasib mereka. Ya, dengan kata
lain, mereka udah enggak punya pilihan
lain selain ee ya udah kalau mati mati
sekalian. Toh juga kalau gua diam-diam
aja gua mati. Tapi kalau gua bersuara
gua mati tapi setidaknya ada pergerakan
dan ada usaha gitu. Dan yang paling
menarik serta paling simbolis dari
cerita ini adalah titik awalnya yang
terjadi di depan rumah sakit. Sebuah
detail yang luar biasa mencerminkan
masalah sebenarnya di Maroko. Jadi demo
awalnya digelar kecil-kecilan di sana
tapi dengan cepat sekali meluas karena
terhubung dengan isu kematian orang ibu
hamil yang mana ini sangat sensitif.
Jadi rumah sakit yang seharusnya memberi
harapan malah menjadi simbol kegagalan
negara. Dan begitu api kemarahan ini
tersulut, masa pun mulai ramai-ramai
berdatangan seperti air bah yang jebol,
seperti tsunami. Ya, mungkin kalian
kebayang itu di negara kita aja nih
kalau misalkan kita sakit, kalau mau
BPJS mesti ngurus surat pengantarlah,
mesti ngurus bayar ini, bayar itu,
daftar ini, daftar itu, orang keburu
meninggoy. Di Maroko lebih parah, ibu
hamil yang seharusnya bisa mendapatkan
pertolongan pertama ternyata gagal
ditolong dan di situlah masyarakatnya
ngamuk luar biasa. Protes mereka meluas
dengan cepat ke berbagai kota besar di
seluruh negeri, Geng. Bukan cuma
berhenti di satu tempat. Jadi, ini
membuktikan bahwa massa sudah sangat
jengah dengan masalah kesehatan dan
pendidikan yang memicu demo ini. Bukan
cuma masalah lokal, tapi juga masalah
nasional yang dirasakan dan diderita
oleh semua orang di seluruh penjuru
Maroko. Dari kasbah terpencil ya atau
tempat-tempat terpencil sampai dengan
apartemen mewah di Casablanca.
eskalasinya sangat mengkhawatirkan
pemerintah karena tidak terpusat di satu
kota aja dan membutuhkan respon yang
terkoordinasi di tingkat nasional. Demo
utamanya pecah di kota-kota besar yang
paling penting di Maroko, yaitu di
Rabat, Casablanca, Marrakees, Agadir,
Tengier, terus ada Vest dan juga Magnes.
Kalian bisa menyimpulkan sendiri kalau
semua pusat power atau semua pusat
ekonomi dan populasi di sana kena dampak
dari demo ini yang secara langsung ini
bakal mengancam stabilitas ekonomi
negara mereka. Apalagi memang sedang
rapuh. Ketika kota-kota sepenting ini
rusuh, itu artinya pemerintah sudah
kehilangan kendali atas narasi dan
lapangan sekaligus. Dan turis-turis pun
pasti langsung kabur semua dari daerah
sana, terutama di Marrakees. Namun
sayangnya, Geng, kerusuhan ini pecah
setelah aparat kepolisian mulai
bertindak represif terhadap para pendemo
dengan cara yang sangat berlebihan dan
berbahaya. Mereka benar-benar tidak
proporsional. Padahal pendemo awalnya
ingin berdemo secara damai, tapi karena
ada perlawanan dari pihak kepolisian ee
pihak keamanan, pihak aparat gitu yang
benar-benar mencerminkan hal yang tidak
apa ya tidak santai gitu. Akhirnya ya
dilawanlah dengan cara yang keras juga
oleh para pendemo. Di awalnya itu aparat
melepaskan tembakan dan gas air mata ke
kerumunan yang sedang berteriak-teriak
protes. Sebuah tindakan yang langsung
mengubah niat damai menjadi kekerasan
atau pembalasan balik dari masa. Aksi
Jenzi 212 yang damai ini pun terpaksa
berubah menjadi aksi anarkis karena
adanya pemicu dari pihak aparat yang
bertindak berlebihan di lapangan. Dampak
kekerasan ini benar-benar parah. Bukan
cuma di tingkat material tapi juga
korban jiwanya. Ada insiden tragis di
mana tiga orang meninggal dunia ditembak
karena ada laporan yang mengatakan
mereka berusaha untuk merebut senjata
milik polisi. Nah, ini menunjukkan kalau
tensi di lapangan sudah sangat tinggi
dan nyawa seperti tidak ada harganya
lagi. Sebuah tragedi yang memperdalam
ketidakpercayaan antara rakyat dan
aparat secara sangat signifikan.
Masa yang marah dan juga frustasi
akhirnya melampiaskan kekecewaan mereka
dengan cara yang merusak. karena udah
enggak punya pilihan lain. Sebuah bentuk
kemarahan yang dialamatkan ke
simbol-simbol kekuasaan dan birokrasi
yang mereka benci. Para demonstran
membakar fasilitas umum di dekat pusat
perbelanjaan sekitar dan merusak kantor
pos tempat. Sebuah kerugian besar bagi
masyarakat umum. Tapi ini adalah simbol
protes terhadap pelayanan publik yang
buruk. Ini adalah simbol perlawanan
terhadap sistem yang dianggap gagal
melayani mereka. Dan sayangnya
disalurkan dengan cara yang destruktif.
Di tempat-tempat tertentu kerusakan yang
terjadi itu lebih parah dan spesifik
banget, Geng. Bahkan di daerah CDB dekat
Agadir, kantor balai komunal atau
semacam kantor pemerintahan daerah gitu
ya, bahkan sampai dibakar oleh massa
sampai habis, sampai rata. Sebuah
tindakan yang jelas menunjukkan betapa
muaknya mereka terhadap birokrasi lokal
yang dianggap korup atau tidak efektif.
Nah, ini bukan lagi cuma merusak jalan,
tapi sudah merusak simbol otonomi
pemerintahan di daerah. Terus ya di
daerah sale gua e kurang bisa bacanya
nih apa Sell apa sale. Ini wilayah utara
raat ya. Ada seorang jurnal AFP
menyaksikan langsung sekelompok massa
berhembakar dua mobil polisi dan satu
cabang kantor bank. Dan ini bukan lagi
demo biasa, ini anarki total yang dipicu
oleh kemarahan ekonomi dan kebencian
terhadap aparat. Bank dibakar karena
melambangkan sistem ekonomi yang tidak
berpihak pada rakyat kecil. Sementara
mobil polisi dibakar karena melambangkan
tangan represif pemerintah yang mereka
benci saat ini. Kerugiannya juga bikin
pusing, Geng. Dan angka yang tercatat
resmi hingga Rabu setelah demo minggu
pertama. Di saat itu tercatat ada
sebanyak 409 orang ditahan dan 263
aparat luka-luka di dalam bentrokan.
Sebuah perbandingan yang menunjukkan
bahwa konflik ini sangat intens dan
melibatkan bentrokan fisik yang serius
di banyak tempat. Angka 409 orang yang
ditahan ini juga menunjukkan luasnya
cakupan operasi penangkapan untuk
meredam gerakan tersebut. Dan selain itu
data kerusakan materi itu jelas banget.
142 kendaraan polisi dan 20 mobil
pribadi itu dirusak. Serta 23 orang
warga sipil mengalami luka-luka ya
selain tiga korban yang tewas tadi.
Angka 142 kendaraan polisi yang rusak
itu jelas menunjukkan intensitas
perlawanan massa yang sangat kuat dan
terorganisir di beberapa lokasi utama.
Secara total kurang lebih ada 80
fasilitas umum yang rusak mulai dari
kantor pos, Balai Komunal, sampai
fasilitas di pusat perbelanjaan. Ini
adalah biaya sosial dan material yang
sangat besar dan menunjukkan betapa
seriusnya gejolak ini karena mengenai
infrastruktur publik secara masif dan
menyeluruh sehingga mengganggu layanan
dasar lainnya. Tiga nyawa melayang
ditembak dan puluhan lainnya terluka di
pihak sipil. sebuah harga yang sangat
mahal untuk sebuah protes sosial yang
sebenarnya bisa dicegah jika pemerintah
mau mendengarkan ya suara rakyatnya
sejak awal. Nah, ini adalah tragedi
kemanusiaan yang menjadi bekas hitam
dalam sejarah politik Maroko modern.
Luka-luka yang dialami oleh 263 aparat
juga menunjukkan bahwa ini bukan hanya
protes satu arah, tapi ini adalah
bentrokan dua arah yang sangat keras dan
brutal di lapangan yang mencerminkan
tingkat kemarahan massa yang sudah
mencapai titik didih dan siap melawan
kembali semua aparat yang ada. Terus
pasti kalian e penasaran nih, Geng, apa
sih isi tuntutan di demo Maroko ini?
Apakah sama dengan negara kita? Nah,
sekarang kita akan bahas isi tuntutan di
dalam demo Maroko yang berkenaan dengan
reformasi fundamental kesehatan dan
pendidikan.
Oke, sekarang kita masuk ke dalam
intinya yaitu tuntutan massa. Mereka
enggak muter-muter di isu politik yang
ribet tapi langsung fokus ke hal-hal
yang mendasar banget. Ini keren banget
nih. Reformasi layanan kesehatan dan
pendidikan publik. Itu yang mereka
harapkan. Ini menunjukkan bahwa masalah
rakyat sebenarnya itu sederhana tapi
vital banget dan selama ini diabaikan
oleh pemerintah mereka. Para analis
sudah lama bilang kalau protes ini
merupakan respons atas kelalaian layanan
publik selama bertahun-tahun dan
menuntut reformasi mendesak di sektor
pendidikan serta kesehatan. Kelalaian
ini enggak bisa lagi ditutup-tutupi
dengan retorika politik kosong karena
dampaknya udah terasa langsung oleh
rakyat biasa. Jadi mereka itu udah mulai
nuntut yang kayak, "Ah, gua gak mau
dengar apa kata politikus yang kayak
misalkan tenang, tenang nanti ada 19
juta pekerjaan gini gini, ah udah enggak
percaya lu bikin dulu 19 juta lapangan
pekerjaannya baru lu ngomong." Kurang
lebih begitulah ee apa ya rasa tidak
percaya dari masyarakat Maroko terhadap
para politikusnya. Yang jadi titik didih
dan api paling besar di hati publik
adalah kematian orang ibu hamil di
sebuah rumah sakit umum yang terjadi di
awal bulan ini. Seperti yang gua
sebutkan sebelumnya, ini adalah sebuah
tragedi yang memilukan yang membuat
rakyat benar-benar marah besar. Delapan
orang ibu ini, Geng, meninggal saat akan
melahirkan di tempat yang seharusnya
paling aman. Sebuah fakta yang sangat
mencoreng citra pemerintahan yang
mengklaim kalau negara mereka udah maju.
Padahal ketika berobat ke rumah sakit
aja, rumah sakit enggak bisa
menyelamatkan orang ibu tadi. Ini memicu
kemarahan yang meluas. Karena ini bukan
soal satu rumah sakit yang jelek aja,
tapi ini adalah simbol bobroknya sistem
kesehatan yang enggak peduli sama nyawa
masyarakatnya. Apalagi rakyat biasa yang
enggak punya uang untuk ke rumah sakit
swasta. Gimana enggak marah coba kalau
mereka sendiri? Rakyatnya itu sudah tahu
layanan kesehatan dasar aja enggak bisa
dijamin di negeri sendiri. Sementara
mereka bayar pajak untuk negara
tersebut. Lalu, Geng, di sektor
pendidikan apinya makin besar. Lagi-lagi
gara-gara Rancangan Undang-Undang Nomor
59.24
tentang Pendidikan Tinggi yang baru
diajukan ke parlemen. Sebuah langkah
yang dianggap pro kapitalis dan tidak
pro rakyat miskin. RUU ini menyulut
kemarahan mahasiswa dan serikat guru
karena mengancam masa depan pendidikan
yang harus merata. Ya, seharusnya itu
merata dan mengembalikan pendidikan itu
ke era elit. Kenapa RUU ini sangat
ditentang? Ya, karena beberapa pasal di
dalam RUU tersebut dinilai membatasi
kebebasan berorganisasi di kampus, terus
membuka jalan bagi privatisasi
pendidikan yang tinggi dan yang
jelas-jelas menghilangkan fungsi kampus
sebagai wadah kritik sosial dan membuat
pendidikan menjadi barang dagangan. Jadi
apa ya? Kayak pengin pintar harus bayar
mahal. Nah, ini bahaya banget karena
berpotensi menghalangi akses bagi
masyarakat yang berpenghasilan rendah
untuk bisa mengenyam pendidikan terutama
di bangku kuliah. Sehingga ini memutus
rantai mobilitas sosial mereka secara
total. Bahkan mahasiswa kedokteran yang
notabandnya adalah calon dokter pun ikut
turun ke jalan karena mereka kesal
banget dengan pemerintah mereka ini.
Nah, mereka menuntut hak dasar mereka
untuk mendapatkan pendidikan yang layak
agar mereka beneran bisa jadi dokter
yang kompeten dan dapat merawat pasien
di Maroko di masa depan dengan kualitas
yang standar, kualitas yang baik. Ini
adalah tuntutan yang sangat bermoral dan
memiliki visi masa depan, Geng. Mereka
kesal kok anak-anak yang bapak-bapaknya
mampu bisa bayar itu yang bisa kuliah.
Sementara mereka yang benar-benar pengin
belajar, pengin pintar, malah enggak
bisa kuliah karena ya biaya yang terlalu
mahal. Tuntutan mereka jelas banget.
Pendidikan gratis dan berkualitas,
kurikulum yang relevan dengan dunia
kerja biar enggak nganggur setelah
lulus, serta fasilitas yang memadai di
daerah tertinggal. Biar enggak ada gap
kualitas antara kota besar dengan daerah
pinggiran. Jadi, biar semuanya rata,
sama-sama pintar. Dan ini bukan cuma
soal dosen atau gedung ya, tapi ini soal
keadilan pendidikan sebagai kunci untuk
masa depan yang lebih baik. Nah, jadi
dari sini kalian bisa membayangkan ya,
Geng. Sebenarnya tujuannya sangat
positif. Para Genzi-Genzi di sana sudah
mulai melagalanya.
Masa depan itu yang paling menjadi dasar
atau pondasi sebuah negara. Makanya
mereka demo. Jadi bukan cuma pengin asak
lah ya. Mereka benar-benar pengin Maroko
itu berubah.
Oke, sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan kritik prioritas anggaran dan
pengangguran bagi kaum GenI.
Nah, ini yang paling bikin panas dan
paling gampang bikin kalian memahami
kenapa rakyat Maroko tuh marah banget.
Jadi mereka itu memprotes prioritas
pemerintah yang lebih mengutamakan
pengeluaran miliaran dolar untuk
infrastruktur olahraga seperti persiapan
Piala Dunia FIFA 2030 lah dan Piala
Afrika 2026 lah. Coba kalian bayangin
kalian lagi kesusahan nih rakyatnya.
Rumah sakit bobrok itu mengancam nyawa
kalian. Sekolah kalian mau dijual mahal
tapi pemerintahnya malah sibuk bikin
stadion mewah buat event bola. Dan ini
kayak penghinaan terhadap penderitaan
rakyat. di saat rakyat lagi lapar ya kan
pemerintahnya sibuk makan es krim gitu.
Yang mana ini semua penderitaan rakyat
itu akibat kelalaian-layanan dasar.
Mereka menuntut agar dana miliaran dolar
itu bisa dialihkan untuk kebutuhan
rakyat yang lebih mendesak seperti
kesehatan dan pendidikan. Sebuah
prioritas yang lebih manusiawi dan
rasional. Dan mereka mengatakan untuk
apa stadion megah kalau rakyatnya mati
di pelayanan kesehatan yang enggak
layak. Nah, ini masuk akal banget. Di
tengah semua kebobrokan ini ada waktu
ekonomi yang terus berdetak tinggi.
Angka pengangguran di kalangan muda-mudi
yang mana saat ini sudah mencapai 35,8%,
Geng. Nah, 35,8%
hampir setengah penduduk ini hampir satu
dari tiga anak muda itu enggak punya
pekerjaan di sana meskipun mereka
lulusan kuliah atau sekolah tinggi
dengan harapan yang besar. Ini adalah
gabungan antara kegagalan sistem
pendidikan atau yang bisa disebut dengan
kurikulum yang kurang relevan dan
kegagalan sistem ekonomi lapangan kerja
yang minim sehingga menciptakan generasi
yang tidak produktif serta frustasi.
Jadi kuliah, kuliah, kuliah enggak tahu
untuk apa. Kuliahnya juga enggak benar,
lapangan pekerjaan setelah kuliah juga
enggak ada. Nah, generasi muda yang
frustasi karena enggak punya masa depan
ini akhirnya muak. Mereka tuh mengubah
tuntutan ekonomi jadi tuntutan politik
yang sangat vokal dan membawa gerakan
Jenzi 212 ini ke jalanan. Puncaknya,
Demonstran juga menuntut pemancatan
pemerintah karena dianggap gagal total
di dalam menjalankan tugas mereka dan
gagal melindungi hak konstitusional
rakyat Maroko. Dan ini bukan lagi soal
perbaikan kecil, tapi perubahan
struktural di tingkat eksekutif. Jadi
ibaratnya tuh kayak udah lu bubarin lah
DPR-nya, udah bubarin pemerintahannya,
ganti baru. Kayak gitulah kurang lebih.
Dan mereka merasa bahwa kabinet yang
sekarang tidak mampu lagi mengemban
amanah rakyat dan perlu diganti sesegera
mungkin untuk mengembalikan kepercayaan
publik yang sudah hilang total. Nah,
tuntutan ini menunjukkan bahwa krisis
ini sudah mencapai tingkat krisis
legitimasi pemerintahan, geng. Slogan
protes mereka di jalan itu banyak yang
menggambarkan rasa frustasi ini, yaitu
soal prioritas hidup yang terbalik,
mengorbankan nyawa dan masa depan demi
kesenangan sesaat. seperti ya menyambut
kedatangan Piala Dunia. Sementara nyawa
orang ya di rumah sakit banyak yang
melayang. Nah, ini adalah kritik paling
pedas yang dilayangkan oleh para jenzy
kepada elit politik mereka.
Nah, terus seperti biasa kalau ada demo
itu artinya ditujukan kepada pemerintah.
Pasti kita penasaran apa respon dari
pemerintahnya. Apakah mereka punya hati?
Apakah mereka punya empati dengan
kalimat-kalimat atau tuntutan-tuntutan
yang diutarakan oleh para rakyatnya ini?
Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan
tentang respon pemerintahnya.
Jadi, Geng, setelah seminggu penuh
jalanan panas dan berdarah-darah,
pemerintah Maroko akhirnya buka suara.
Sebuah respon yang tidak terlambat, tapi
tetap harus dianalisis. Respon mereka
ini penting untuk kita analisis karena
ini menunjukkan bagaimana mereka ee
ngerem atau menghentikan krisis yang
sudah terlanjur parah ini dengan sangat
hati-hati sekali melalui pendekatan
verbal dan negosiasi. Nah, yang pertama
sekali berbicara itu adalah Menteri
Kesehatan dan Perlindungan Sosial Maroko
yang bernama Amine Tahrawi. Ada sebuah
langkah yang logis karena semuanya
berawal dari krisis kesehatan dan
tragedi delan ibu hamil yang meninggal.
Tahrowi ini pada Rabu malam itu bilang
bahwa pemerintah memahami tuntutan
sosial yang diajukan oleh kaum muda dan
warga negara. Sebuah pernyataan yang
mengandung pengakuan atas kesalahan dan
validitas tuntutan rakyat. Jadi dia udah
ngaku pemerintah tuh ngaku mereka salah,
mereka enggak menampik semua itu. Di
saat itu ya Tarui ini secara spesifik
menyoroti seruan untuk memperbaiki
sektor kesehatan yang jelas merupakan
upaya untuk memadamkan api pertama yang
menyulut demo ini. Dan ini penting
banget, Geng. Karena ini pengakuan resmi
dari pemerintah bahwa tuntutan rakyat
itu valid dan bukan sekedar ulah
anarkis. Sebuah perubahan nada dari
sikap represif awal. Pengakuan ini
menunjukkan bahwa pemerintah mereka
sadar bahwa mereka tidak bisa lagi
berpura-pura buta dengan masalah rumah
sakit yang jelas-jelas sudah memakan
korban dan menjadi sorotan media
internasional. Dan mereka berusaha
mengambil inisiatif komunikasi setelah
gagal melakukan kendali di lapangan.
Terus selanjutnya, geng Perdana Menteri
Maroko yang bernama Aziz Akan ya, dia
ikut angkat bicara pada hari Kamis
tanggal 2 bulan 10 yang mana dia
memberikan respon yang lebih tinggi
tingkatnya. PM Maroko ini atau Aziz Akan
ini ya bilang kalau pemerintahannya siap
untuk dialog dan berdiskusi di dalam
lembaga dan ruang publik dengan ya semua
masa yang menuntut. Nah, jadi inilah
langkah klasiknya, Geng. menawarkan
dialog untuk memindahkan keributan dari
yang tadinya di jalanan ke meja
perundingan yang lebih terkontrol secara
politik dan formal. Jadi diajak ngobrol
kepala dingin. Tujuannya jelas untuk
mendinginkan suasana dan menunjukkan
itikat baik untuk berunding dan membeli
waktu untuk bisa menyusun strategi
balasan atau solusi jangka panjang.
Tawaran dialog ini secara implisit ya
maksudnya masih gamblang untuk mengakui
kekuatan dan legitimasi gerakan Jenzi
212 sebagai mitra bicara. Meskipun
mereka itu anonim, namun pertanyaan
besarnya tetap sama. Apakah dialog ini
beneran ngurusin privatisasi dan
miliaran dolar stadion atau cuma gimik
politik aja untuk meredam demo sementara
yang terbukti? Ya, demo Jenzi 212 ini
sangat sulit ditebak gerakannya. Dan
apakah ini juga gimik untuk menjaga
citra negara di mata internasional
karena udah keburu viral? Ya kan?
Keberhasilan dialog ini sangat
bergantung pada kemampuan pemerintah
mereka untuk menawarkan solusi yang
konkret seperti pembatalan RUU
pendidikan atau revisi anggaran
olahraga. Bukan cuma berjanji-janji
kosong yang tidak mengikat. Bisa-bisa ya
demonya bakal lebih anarkis lagi.
Hah. Gila ya di Maroko benar-benar
pergerakannya gokil parah. Nah, sekarang
kita bakal masuk nih, Geng, ke dalam
pembahasan prospek dan tantangan masa
depan antara harapan reformasi dan
ancaman kekerasan yang terjadi di sebuah
negara. Sekarang kita bahas.
Jadi, pada akhirnya nih, Geng, ya.
Cerita demo di Maroko ini adalah
cerminan dari kegagalan sebuah negara
dalam mengelola prioritas dan harapan
generasi barunya. Jenzi 212 sudah
berhasil melakukan bagian mereka untuk
mengangkat isu kesehatan dan pendidikan
yang terlupakan ke permukaan jalan dan
juga media internasional secara sangat
efektif. Mereka sudah memaksa pemerintah
untuk mengakui bahwa memang ada masalah
serius di pusat sistem mereka yang
membutuhkan perhatian segera dan bukan
ditunda-tunda lagi. Dan pemerintahnya
mau enggak mau mengakui ini semua. Dan
ini adalah sebuah kemenangan kecil bagi
demokrasi dan kebebasan bersuara.
meskipun harus dibayar dengan harga yang
mahal yaitu darah dan nyawa. Dari sini
kalian sendiri bisa melihat ya, Geng.
Semua masalah di Maroko itu saling
terkait. Kesehatan bobrok karena dana
dialihkan ke olahraga. Pendidikan
terancam karena privatisasi dan
akibatnya pengangguran muda meledak
sampai 35,8%.
Dan ini adalah rantai bencana sosial
yang tidak pernah terhindarkan lagi.
Nah, itulah kenapa tuntutan pemecatan
pemerintah jadi final banget bagi Genie
212. Karena mereka enggak percaya lagi
bahwa kabinet yang sekarang punya
kapasitas untuk menyelesaikan masalah
yang sudah akut. Ini ini menunjukkan
krisis kepercayaan di tingkat yang
sangat mendasar. Nah, sekarang bolanya
ada di tangan pemerintahnya, Geng. Ya,
mereka harus bertindak cepat dan tepat.
Janji dialog udah enggak cukup lagi
tanpa aksi nyata yang cepat dan terukur
seperti pembatalan RUU dan peningkatan
anggaran kesehatan. Mereka harus serius
memperbaiki sektor kesehatan dengan
mengalokasikan dana sekarang juga.
membatalkan RUU pendidikan yang
kontroversial agar pendidikan tetap
terjangkau dan membuat program nyata
untuk mengatasi pengangguran muda di
Maroko. Nah, cuma dengan langkah radikal
ini ya kepercayaan bisa dipulihkan.
Kalau enggak, gelombang jen berikutnya
bakal lebih besar lagi dan lebih ngeri
lagi, Geng. Karena mereka sudah tahu
cara menggunakan Discord untuk
menggerakkan negeri dan mereka sudah
merasakan ee rasa kemenangan kecil di
jalanan. Jadi kayak mereka tuh udah
enggak takut lagi. Dan ini adalah momen
krusial bagi Maroko untuk memilih jalan
reformasi atau justru kekerasan yang
berkepanjangan yang mengancam stabilitas
regional. Dan kita cuma bisa menunggu ya
dan melihat apakah pemerintah mereka
bakal belajar dari tiga korban jiwa dan
delapan ibu hamil yang meninggal itu.
Karena ini benar-benar sebuah kemarahan
rakyat mereka. Oke, geng. Itu dia
pembahasan kita hari ini tentang demo di
Maroko yang seram banget kabarnya.
Mereka juga berkaca dari Indonesia dan
Nepal dan beberapa negara lain yang
sudah berdemo sebelumnya. Gimana menurut
kalian tentang pembahasan ini? Coba
tinggalkan komentar di bawah.