Transcript
94qmTDv5JfQ • Islamic Boarding School Collapses, Dozens of Students Die While Prostrating! Was It Due to Poor C...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1554_94qmTDv5JfQ.txt
Kind: captions
Language: id
Oke, sebelum kita mulai video ini, gua
mau disclaimer dulu nih, Geng, kepada
kalian semua bahwa video ini dibuat
bukan dengan maksud untuk melanggar
aturan YouTube atau melanggar
pedoman-pedoman YouTube yang tidak
sesuai dengan batasan-batasan yang sudah
ditentukan. Tapi video ini dibuat untuk
edukasi bagi semua kalangan, semua umur
agar lebih berhati-hati lagi dalam
menjalani kehidupan supaya nyawa kalian
tetap aman. Semoga video ini bisa
menjadi pembelajaran,
Geng. Bayangin kalau kalian sedang
beribadah nih ya dengan khusyuk, namun
tiba-tiba terjadi sesuatu
yang mengerikan banget, yaitu sesuatu
yang menempatkan kalian di antara hidup
dan mati.
Mungkin buat mereka dengan ee kondisi
keimanan tinggi, jika meninggal di dalam
keadaan yang sedang beribadah menjadi
salah satu hal yang ya yang mereka
impikan atau mereka harapkan. Karena
udah pasti pahalanya besar. meninggal di
dalam keadaan yang suci, meninggal di
dalam keadaan yang sedang dekat dengan
Tuhan. Nah, ada sebuah kejadian yang
terjadi di salah satu pondok pesantren
yang ada di Sidoarjo. Jadi, atap dari
salah satu bangunan yang ada di sana
tiba-tiba ambruk dan mengenai ratusan
orang yang berada di dalam bangunan
tersebut yang mana mayoritas di antara
korbannya adalah para santri.
Kasus ini cukup ramai, viral, dan
beredar video di media sosial yang
memperlihatkan proses evakuasi dari para
santri yang terjebak di antara
reruntuhan tersebut. Dikatakan mereka
terjebak di sana selama puluhan jam. Ada
yang masih hidup, ada juga yang sudah
meninggal dunia atau wafat.
Cuma, Geng, netizen sangat geram sebab
pernyataan dari pihak pesantren yang
mengatakan bahwa apa yang terjadi ini
adalah takdir dari Allah Subhanahu wa
taala dan semua orang diminta untuk
bersabar atas apa yang terjadi.
Saya kira memang ini takdir dari Allah.
Jadi semuanya harus bisa bersabar dan
mudah-mudahan
ya. Sebenarnya dibilang salah sih enggak
salah ya. Lu meninggal ke selek jengkol
juga itu takdir dari Allah Subhanahu wa
taala. Semua kondisi apapun ketika kita
meninggal itu adalah takdir. Memang
benar. Tapi balik lagi meninggalnya itu
karena faktor apa? Kan ada tuh ya kan
sakit jantung, kecelakaan. Nah, kalau
ini kan salah satu kejadian akibat
kelalaian atau meremehkan sesuatu
sehingga menyebabkan nyawa orang lain
melayang. Apakah itu termasuk takdir?
Iya. Takdir. Takdir. Orang-orang yang
meninggal itu dia sudah ditakdirkan
bakal meninggal dengan jalan seperti
itu. Tapi di dunia nyatanya ada
pelakunya. Pelaku yang lalai dalam
menjaga keselamatan para santri. Nah,
makanya pernyataan dari pihak pesantren
ini seolah-olah seperti cuci tangan
dengan kondisi yang terjadi.
Nah, lalu di samping itu ada juga
fakta-fakta lain yang terungkap karena
kabarnya atap dari bangunan itu ya
bangunan yang roboh ini dicor oleh para
santri itu sendiri yang mana para santri
ini enggak punya basic konstruksi dan
juga bahkan bangunan ini dikatakan tidak
punya IMB. Benarkah seperti itu? Nah, di
video kali ini kita akan mengupas secara
lengkap tentang tragedi ini. Langsung
aja kita bahas. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jerry
[Musik]
Geng. Geng, untuk pembahasan yang
pertama kita akan membahas detik-detik
ambruknya atap bangunan di Sidoarjo ini.
Jadi, geng, insiden ini terjadi di
daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Tepatnya di
Pondok Pesantren Putra Alkozini yang
berlokasi di Buduran. Ada salah satu
bangunan di pondok pesantren itu yang
sedang dalam masa renovasi. Bangunan
tersebut merupakan asrama santri putra
dan rencananya bakal memiliki tiga
lantai yang mana lantai duanya itu
difungsikan sebagai musala. Dari
informasi lainnya disebutkan kalau yang
dijadikan sebagai tempat untuk salat itu
adalah lantai 1. Proses renovasinya itu
sudah berlangsung hampir 9 bulan
lamanya. Namun kalau dari informasi yang
gua dapatkan dari media bagian atap
lantai 3 dibuat bukan dari genteng tapi
justru dari corcoran semen. Nah, pada
hari Senin tanggal 29 September 2025
dari pagi hingga jam 12.00 siang, atap
di lantai 3 itu baru saja dicor. Dari
kesaksian salah satu santri yang bernama
Muhammad Rijalul Gaib, ada truk yang
datang untuk membawa bahan-bahan
material yang digunakan untuk ngecor
bagian atap. Namun Rijael ini mengaku
kalau pada saat itu struktur atau wadah
yang akan dicor langsung diisi full.
Soalnya biasanya struktur itu atau wadah
itu ya diisi sedikit demi sedikit
terlebih dahulu atau setengah untuk
memastikan ee yang sudah terisi ini
kering dulu baru diisi lagi agar
kekuatan atau kestabilannya itu ya tidak
rapuh. Nah, tapi pada saat itu malah
langsung diisi full. yang kemudian
beberapa saat sebelum insiden terjadi,
ada ratusan santri yang sedang berada di
lantai satu gedung tersebut yang mana
mereka ingin melaksanakan salat Asar di
saat itu. Pada saat itulah insiden
mengerikan yaitu atap roboh ini terjadi
bertepatan ketika ratusan santri yang
ingin atau sedang melaksanakan salat
Asar. Dari cerita rijalul, dia sempat
mendengar ada suara batu yang jatuh dan
semakin lama suaranya semakin kencang.
Saat peristiwa itu terjadi, Rijalul ini
langsung berlari keluar dari bangunan
untuk menyelamatkan diri. Cuma, geng,
sayangnya dia sempat tertimpa reruntuhan
atap yang mengenai bagian wajahnya dia.
Kebayang tuh ya sakitnya. Namun
untungnya dia berhasil selamat dengan
melewati celah untuk bisa keluar dari
reruntuhan tersebut. Dan ketika itu ada
orang yang ikut membantu dia keluar
dengan menunjukkan arah ke mana dia
harus keluar. Nah, itu cerita dari salah
satu santri. Selanjutnya ada cerita dari
santri lain yang bernama Sofa yang mana
dia bercerita ketika itu dia sedang
melaksanakan salat asar ketika bangunan
roboh. Jadi udah udah apa ya? Udah mulai
salat gitu. Menurut dia banyak santri
yang sempat menyelamatkan diri. Meskipun
begitu dia menduga masih banyak santri
yang terjebak di dalam leruntuhan yang
mana mereka ini tidak sempat lari atau
justru sedang salat dan tidak sadar.
Atau justru mungkin mereka udah sadar
ini ambruk tapi mereka terlalu khyuk.
Mereka enggak mau merusak salatnya.
Akhirnya tertimpa reruntuhan bangunan
tersebut. Terus di sisi lain ada
kesaksian dari santri yang bernama
Muhammad Ali Zainal Abidin. Dari cerita
Ali ini awalnya dikatakan para santri
ini melaksanakan salat berjamaah di
lantai dasar bangunan tersebut. Dia
dengan teman-temannya memulai rakaat
pertama dengan hikmat. Enggak ada
gangguan apapun. posisinya berada di SF
ke-17 dan ada di sebelah kanan dari Imam
Muhammad Ali Zainal Abidin ini kurang
mengetahui ada berapa santri yang ikut
salat ketika insiden terjadi. Karena di
saat itu teman-temannya yang lain ketika
salat Asar kebanyakan ada yang istirahat
atau bekerja. Nah, ketika melaksanakan
salat asar, Zainal ini sempat merasakan
adanya sejumlah kerikil yang mulai
berjatuhan ketika sudah memasuki rakaat
kedua. Dilanjutkan bangunannya tiba-tiba
bergoyang seperti gempa gitu, Geng. Cuma
dia masih berusaha untuk salat dengan
khusyuk. Zainal ini tidak mengingat apa
yang selanjutnya terjadi karena
tiba-tiba dia merasakan kepalanya pusing
luar biasa seperti terhantam oleh benda
yang sangat berat dan akhirnya dia sadar
kalau dia sudah terbaring di ranjang
rumah sakit. Jadi dia pingsan, pingsan
ketika kejadian itu terjadi. Nah, dia
langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum
Daerah RT Notopuro. Dan insiden ini
membuat baik dari pihak pondok pesantren
maupun perangkat daerah melakukan segala
daya upaya yang dimiliki untuk bisa
menyelamatkan para santri yang masih
terjebak di dalam reruntuhan bangunan.
Sekarang kita akan masuk ke dalam
pembahasan mengenai proses evakuasi dari
kejadian ini, Geng.
Jadi, Geng, meskipun ada beberapa santri
yang berhasil selamat dari reruntuhan
tersebut karena menyelamatkan diri dari
sana, tapi sedihnya ada masih banyak
santri yang terjebak di dalam. Di hari
Selasa tanggal 30 September tahun 2025,
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
atau BNPB merilis keterangan bahwa
terdapat 91 orang yang diduga tertimbun
reruntuhan dan jumlah itu diambil
berdasarkan data kehadiran santri di
Posco gabungan sampai Selasa malam. Di
saat itu, tim SAR dikerahkan dengan
kekuatan lebih dari 330 orang yang
berasal dari berbagai institusi.
Institusi yang terlibat itu adalah Badan
Nasional Pencarian dan Pertolongan atau
BNPP dan juga Basarnas. Terus ada BPBD
Jatim, BPBD Kabupaten Sidoarjo, dan BPBD
Kabupaten Kota sekitar seperti Surabaya,
Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Jombang,
dan juga Nganjuk.
yang untuk pembongkaran bisa untuk
mempersiapkan diri membongkar ee
reruntuhan gedung dengan teknik-teknik
tertentu agar korban yang masih ada di
bawah tidak ee ee menjadi lebih parah
lagi.
Lalu ada Taruna siaga bencana serta
personel TNI Polri. Alat berat berupa
tiga ekskacavator dan dua kren juga
sudah disiapkan. Pemerintah Kota
Surabaya juga menurunkan mobil heavy
duty rescue atau HDR. Tapi geng,
evakuasi ini gak bisa berjalan dengan
maksimal karena tim SAR terpadu khawatir
penggunaan alat berat bisa menimbulkan
getaran dan bisa memicu reruntuhan itu
ambruk, ambruk susulan gitu. Dan nanti
kalau misalkan ada beko yang ngerok
tanah, takutnya tuh malah kena badan
orang di dalam ada makin parah, makin
put. Jika terjadi ambruk susulan juga
hal tersebut bisa membahayakan korban
yang kemungkinan masih hidup sekaligus
timsar itu sendiri. Pembukaan akses
menuju korban dan evakuasi harus
dilakukan secara manual dan pelan-pelan.
Di saat itu, tim berkejar-kejaran dengan
waktu, namun dituntut secara tepat dan
berhati-hati di dalam evakuasi. Karena
kalau lama nanti takutnya yang masih
hidup enggak tertolong. Tapi kalau
misalkan buru-buru, takutnya malah
gegabah, malah meninggal karena adanya
ambruk susulan. Nah, di saat itu Kepala
Kantor SAR Surabaya yang bernama Pak
Nanang Sigit menjelaskan tim dibagi
menjadi unit kecil. anggota menggali
lubang kecil atau terowongan untuk
menjangkau suara atau tanda kehidupan
korban. Lewat lubang kecil inilah
anggota juga menyalurkan oksigen, air
minum, makanan, ataupun obat-obatan.
Komunikasi juga terus dilakukan antara
anggota dan korban yang masih hidup di
bawah reruntuhan yang mana si korban ini
ya masih bisa tertolonglah. Instruksi
dari Basarna selaku komando operasi SAR,
penggunaan alat berat baru bisa
dilakukan jika diyakini sudah tidak ada
lagi tanda-tanda korban yang selamat.
Jadi, udah tinggal jenazahnya aja. Nah,
sejak insiden terjadi di hari Senin,
pencarian dan pertolongan sampai
evakuasi korban sampai hari ketiga
berlangsung. Evakuasi semuanya
berlangsung secara manual. Nah, jika
Basarnas yang memimpin operasi SAR BNPB
dan jajaran BPBD itu fokus untuk
mempercepat penanganan darurat dan
penyiapan langkah teknis yang aman untuk
membersihkan runertuhan tersebut.
Kemudian Kementerian Sosial dan
Pemerintah Daerah membuka dapur umum
sekaligus memaksimalkan layanan
kesehatan ke rumah sakit terdekat. Di
pos gabungan Polri melalui Polda Jatim
itu membuka tiga stan disaster victim
identification atau DVI untuk proses
identifikasi dan verifikasi laporan
orang hilang serta korban yang selamat
serta yang sudah dievakuasi. Di pos
tersebut juga terpampang daftar
nama-nama santri untuk membantu orang
tua mereka dan keluarga mereka agar bisa
mengidentifikasi dan mendapatkan
informasi tentang kondisi mereka. Apakah
masih hidup, apakah dirawat di rumah
sakit atau justru sudah meninggal? Dari
catatan BPBD Jatim, data santri
terdampak masih bergerak dan memerlukan
verifikasi. Hal ini dikarenakan insiden
tersebut tidak hanya menimpa santri yang
berusia remaja aja, Geng, tapi juga
pekerja konstruksi yang jumlahnya belum
diketahui. Di hari Rabu tanggal 1
Oktober 2025 jam 11.00 malam, BNPB itu
sudah memperbaharui keterangan mereka
dengan mengatakan masih ada sekitar 59
orang yang terjebak di dalam reruntuhan.
Wah, sedih banget ya, Geng. 59 enggak
sedikit loh jumlahnya. Dan angka
tersebut didapatkan dari daftar absensi
yang dirilis oleh pihak pondok
pesantren, termasuk dari laporan
kehilangan dari pihak keluarga korban
yang artinya ya anak-anak mereka masih
belum diketahui kabarnya, kondisinya.
Masih hidupkah apa udah meninggal di
bawah sana.
Perubahan data bisa disebabkan karena
berbagai hal, Geng. Seperti nama-nama
yang sebenarnya selamat atau tidak
berada di tempat kejadian perkara saat
insiden terjadi mungkin mereka enggak
melaporkan diri. Contohnya misalkan
kayak ada santri yang selamat tapi
ternyata e dia lagi di luar di saat itu
atau dia langsung kabur dari sana. Dia
enggak melaporkan kalau dia selamat.
Nah, itu bisa jadi salah satu faktor apa
ya jumlah yang belum selamat dianggap
bertambah gitu. Ketika memasuki hari
ketiga evakuasi, timsar masih terus
berpacu dengan waktu mengingat terdapat
periode krusial atau yang disebut dengan
golden time di dalam mengevakuasi korban
dalam keadaan hidup yaitu 72 jam. Kalau
lewat dari jam itu ya udah pasti
orangnya meninggal. Entah karena
dehidrasi atau mungkin karena trauma di
badannya atau luka-luka di badannya yang
enggak kunjung diobati. Karena proses
evakuasi yang dikatakan cukup sulit,
maka Timsar mencoba untuk memberikan
berbagai suplai, mau itu makanan,
minuman, dan obat-obatan agar bisa
membuat korban bertahan lebih lama.
Jadi, dibuat lubang kecil untuk
menyalurkan itu semua.
Terus kemudian ada salah satu video yang
sedang ramai, Geng, di sosial media yang
memperlihatkan bagaimana proses evakuasi
yang dilakukan oleh Timsar di dalam
video ya. Anggota Timsar sedang
berkomunikasi dengan santri yang
terjebak. Diketahui ada yang namanya
Yusuf, usianya 16 tahun. Anggota Timsar
yang bernama Aziz itu bertanya kepada
Yusuf, apakah ada bagian tubuh dia yang
terluka? Terus Yusuf menjawab, "Enggak
ada yang terluka. Namun posisi dia masih
terjepit sehingga enggak bisa keluar
dari sana." Selain Yusuf, ada satu
santri lain yang bernama Haikal yang
juga terjebak di sana. Dia ditanya juga
oleh Aziz ini apa ada yang sakit dan dia
bilang semuanya sakit karena terhimpit.
Haikal.
Kamu yang sakit apa, Nak? Sakit.
Nah, di dalam video itu terlihat adanya
tangan yang tergeletak di bawah
reruntuhan. Pada awalnya saat netizen
mengira kalau itu adalah tangan e antara
Yusuf atau Haikal, namun ternyata itu
adalah tangan dari santri lain yang
katanya sudah meninggal. Dan yang bikin
merindingnya adalah posisi dari santri
yang sudah meninggal itu dia meninggal
dalam keadaan sedang sujud ketika
tertimpa reruntuhan. Jadi, dia lagi
salat.
Nah, terus sempat ada netizen yang
komen, katanya, "Kenapa malah diajak
ngobrol bukannya diselamatkan?" Nah,
jadi jawabannya itu, Geng, ya. Proses
evakuasi itu enggak mudah, Geng. Timsar
itu harus memastikan kalau kondisi dari
korban dan juga Timsar itu sendiri harus
aman. Dan Timsar sengaja mengajak
ngobrol korban itu berguna banget agar
memastikan bahwa korban dalam keadaan
sadar. Ya, jadi bukan dilakukan tanpa
alasan, diajak ngomong terus tuh supaya
dia sadar terus kalau misalkan dia
sempat pingsan hilang gitu. Terus ada
juga sebuah video ya yang memperlihatkan
tim evakuasi yang sedang mengevakuasi
seorang santri yang terjepit beton.
Namun karena terlalu lama terjepit
tangannya jadi sudah tidak berfungsi
lagi. Udah mati tangannya sehingga
tangannya itu harus diamputasi. Sedih
banget. Di hari Rabu itu, Geng, Basarnas
menyebutkan sudah mendeteksi keberadaan
korban di 15 titik. 15 titik ini terbagi
menjadi dua. Delapan berstatus hitam
sementara tujuh lainnya berstatus merah.
hitam. Artinya tidak ditemukan lagi
adanya tanda-tanda kehidupan seperti e
masih bernafas ataupun merespon atas
panggilan petugas atau berteriak rasa
sakit gitu. Nah, sementara yang merah
adalah korban yang masih bernafas dan
tidak dapat memberikan respon terhadap
suara. Ada delapan orang dalam status
hitam kondisinya enggak bisa dievakuasi
sebab berada di bawah kolom atau tiang
bangunan. Delapan orang ini berdampingan
dengan titik yang ditetapkan petugas
dengan posisi yang sedang sujud dan
tertindih. Sedih banget. Sementara
beberapa korban lain yang berstatus
merah berada di kolom yang berbeda.
Semuanya berada di bawah di lantai
dasar. Namun mereka terpisah dengan
terbagi di dua sisi patahan. Dari tujuh
orang yang masih bisa merespon, baru
satu yang bisa dijangkau oleh petugas.
Namun belum berhasil dievakuasi.
Meskipun begitu, masih ada kemungkinan
bahwa jumlah korban yang ada di bawah
reruntuhan tersebut lebih dari 15 orang.
Dan informasinya memang mereka
dinyatakan jumlahnya ya 59 orang. Namun
angka tersebut juga belum bisa
dipastikan. Cuma, geng ya, data yang
dirilis ini justru dipertanyakan oleh
keluarga korban. Ada salah satu sanak
keluarga dari korban asal Kabupaten
Bangkalan yang bernama Islamiah yang
menunggu kabar anggota keluarganya yang
terperangkap di antara reruntuhan
tersebut. Dia bertanya-tanya mengenai
data korban sebab sejauh ini belum ada
komunikasi dari pondok pesantren kepada
keluarga. Penjelasan dari pondok
mengenai data-data tersebut juga belum
ada. Dan oleh karena itu mereka meminta
agar pihak pondok pesantren dan
lembaga-lembaga agar bisa menyediakan
data secara transparan. BNPB melaporkan
tim gabungan masih melakukan pencarian
terhadap sejumlah orang yang dilaporkan
belum ditemukan. Diduga ya mereka masih
terjebak di bawah reruntuhan. Ada salah
satu santri yang belum diketahui
kondisinya. Namanya itu adalah Rehan
Jamil. Dia berasal dari Surabaya.
Walinya bernama Saifudin. Dia mengatakan
kondisi Rehan masih belum jelas.
Kabarnya masih terjebak dan masih dalam
proses pencarian. Dan dia berharap agar
anaknya ini berhasil dievakuasi dan
semoga bisa selamat. Dan sudah 108 orang
yang ditemukan, Geng. Para korban yang
mengalami luka-luka itu dilarikan untuk
dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSUD
Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta
Surya. Sementara itu, sudah ada lima
orang yang dinyatakan meninggal dunia.
Mereka bernama Maulana Alvian Ibrahim
berusia 13 tahun asal Kalianyar Kulon,
Surabaya. Selanjutnya ada Muhammad
Masyudul Haq berusia 14 tahun asal
Kaliendal, dukuh Pakis Surabaya.
Kemudian ada Muhammad Saleh berusia 22
tahun asal Bangka Belitung. Terus ada
Raffi Catur Okta Mulia Pamungkas berusia
17 tahun asal Putat Jaya Surabaya. Yang
terakhir ada Muhammad Agus Ubaidillah
berusia 14 tahun asal Kelurahan
Morokrembangan, Surabaya. Di dalam upaya
mengidentifikasi korban, ada dua cara
nih, Geng. Mulai dari identifikasi
terhadap para korban yang dilakukan
berdasarkan data sekunder medis visual
seperti barang-barang milik korban.
Selain itu, identifikasi juga dilakukan
dengan metode primer berupa sidik jari
dan gigi. Yang kabarnya nih, Geng ya,
Raffi Catur ini yang ditemukan meninggal
dunia dalam keadaan sujud. Cuma Geng ya,
saat ini golden time atau waktu krusial
untuk menyelamatkan korban sudah hampir
berakhir. Mungkin ketika video ini
tayang ya udah berakhir gitu. Nah,
Nanang selaku Kepala Kantor SAR Surabaya
sekaligus onsene commander ya atau
disingkat dengan OSC, dia menjelaskan
bahwa pihaknya saat ini sudah melakukan
asesmen yang lanjutan. untuk menentukan
langkah berikutnya. Dia juga belum bisa
memastikan mengenai langkah metode
evakuasi setelah golden time terlewati.
Basarnas bersama dengan petugas gabungan
saat ini sedang mencoba mencari solusi
terbaik untuk melakukan evakuasi. Dan
terkait perkembangan, apakah ada korban
di dalam runeruntuhan yang posisinya
sudah terdeteksi oleh petugas juga bakal
disampaikan nanti, Geng. Masalahnya nih,
Geng, ketika proses evakuasi sudah
memasuki hari ketiga, petugas dan warga
sekitar sudah mencium adanya bau anyir
di sekitar lokasi. Dari cerita salah
satu petugas Basarnas, bau Any memang ya
enggak tercium kalau dari luar bangunan,
apalagi dari luar gerbang. Tapi kalau di
depan bangunan yang roboh, baunya udah
lumayan tercium yang artinya ya berarti
sudah banyak yang meninggal. Apalagi
untuk orang-orang yang belum terbiasa
mencium bau jenazah pasti bakal langsung
notis. Namun ada keterangan dari
Laksamana pertama TNI yaitu Yudi Brahio
selaku direktur operasi Basarnas yang
mengatakan kalau bau tersebut memang
dirasakan tapi ya belum terlalu
menyengat katanya gitu. Tapi kan itu
yang ngomong Bapak TNI ya. Orang-orang
yang sudah terbiasa menghadapi situasi
kayak gini ya kan. Kalau orang-orang
yang enggak terbiasa dengan bau jenazah
kayaknya bakal ngeh banget kayak ini
aneh gitu baunya. Aduh ya sedih banget.
Innal lillahi wa inna ilaihi roajiun ya.
Al-Fatihah. Semoga para korban diberikan
tempat yang terbaik di sisi yang maha
kuasa. Amin ya rabbal alamin.
Pasca kejadian ini, banyak orang-orang
yang mempertanyakan terkait struktur
dari bangunan. Karena enggak ada bencana
apa-apa, enggak ada gempa, enggak ada
banjir, tapi kok tiba-tiba bangunannya
roboh. Kira-kira penyebabnya apa? Nah,
sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan mengenai fakta-fakta terkait
rubuhnya bangunan di Pondok Pesantren
Alkozini ini.
Jadi, geng, pasca insiden ini terjadi,
banyak yang mencurigai bahwa ada yang
tidak beres dari struktur bangunannya.
Muji Irmawan, pakar teknik sipil dari
ITS, menyebutkan area konstruksi yang
runtuh mencapai sekitar 1600 m². Menurut
dia, konstruksi di sana kemungkinan
besar runtuh akibat bangunan yang tidak
kokoh karena kolom balok antar lantainya
tidak sempurna. Apalagi di saat
dibangunnya lantai 3 sehingga membuat
bangunan jadi semakin tidak stabil. Dari
sini ada akumulasi dari beban bangunan
dan sambungannya tidak cukup untuk bisa
menerima beban-beban tersebut sehingga
berakhir ambruk. Kemudian Muji juga
bilang bangunan pondok pesantren sejak
awal direncanakan hanya ada satu lantai,
tapi karena penambahan jumlah santri
jadinya dipaksakan untuk bisa dibangun
hingga tiga lantai tanpa adanya
perencanaan teknis yang matang.
Penambahan tanpa adanya perhitungan
membuat beban bangunan menjadi meningkat
dengan drastis dari yang seharusnya
hanya sanggup menanggung 100% tapi
bertambah jadi 300% dan inilah yang
menyebabkan konstruksi tidak mampu
menahan tekanan. Lalu geng, ada salah
satu netizen yang bernama Ari Sulistio
di TikTok nih ya, dengan username Arvas
Garden yang mana dia mencoba melihat
bagaimana kondisi bangunan dari pondok
pesantren Alkozini ini dengan melihat
dari Google Street View. Dari gambar
yang ada di Google Street View, dia bisa
eh melihat salah satu bangunan. Tapi ini
bukan bangunan yang runtuh ya, Geng.
Tapi ini adalah bagian dari bangunan
pesantren tersebut. Nah, bangunan
tersebut dibangun eh dengan sangat aneh
dan mengerikan lah. Buat teman-teman
yang belajar konstruksi kayaknya paham.
Jadi, semakin lantainya ke atas,
bangunannya semakin maju ke arah jalan
alias kayak makin melayang gitu. Dan
bangunannya terdiri dari beberapa
lantai, lebih dari tiga lantai, mungkin
ada lima lantai. Namun, bangunan di
lantai dua yang menjorok ke depan itu
enggak ada pondasinya, enggak ada
tiangnya. Di lantai 3 bangunannya tambah
maju dan tetap tidak ada pilar yang
menyangga pondasi. Lantai 4 sampai
lantai 5 itu sejajar dengan lantai 4.
Cuma di lantai 4 yang ada penyangganya
dan terpasang di lantai 3. Kemudian di
bangunan sebelahnya ada pilar yang ada
di halaman untuk menyangga bangunan di
atasnya yang kemungkinan ini adalah
bangunan yang baru dibuat. Sementara di
bawahnya adalah bangunan lama yang
terdiri dari dua lantai. Ari ini menduga
bahwa pilar tersebut tidak menggunakan
paku bumi. Sebab pilar itu dipasang
sangat dekat dengan bangunan lama. Nah,
di bagian atasnya setiap lantai dipasang
pilar penyangga yang berukuran lebih
kecil dibandingkan pilar yang ada di
bawah. Dan pilar tersebut ya dipasang di
bagian balkon karena posisinya yang juga
lebih menjorok ke arah depan
dibandingkan bangunan dua lantai di
bawahnya. Ari menduga bahwa pilar yang
dipasang di area balkon dibangun
belakangan. Terus kalau kalian lihat
pilar antar lantai tersebut seperti
tidak berada di satu garis lurus. Dari
sini ya banyak yang mempertanyakan
gimana bisa dengan struktur bangunan
yang aneh tersebut yang enggak sesuai
itu ya bisa lolos perizinannya karena
bangunan tersebut tentunya enggak aman,
Geng, dan berpotensi ambruk kapan saja.
Dan pihak Pemda Sidoarjo pun
mempertanyakan terkait perizinan
pendirian bangunan yang ambruk di pondok
pesantren tersebut. Ya, Subandi selaku
Bupati Sidoarjo mengungkap pihak mereka
sudah menanyakan hal ini kepada pihak
pondok pesantren dan mengetahui bahwa
bangunan tersebut diduga tidak
mengantongi izin mendirikan bangunan
atau IMB. Karena Pak Subandi ini sudah
menanyakan perihal izin pembangunannya,
namun enggak ada satuun yang bisa
menjawab terkait izin tersebut. Beliau
juga menyebutkan konstruksi yang
dibangun di bangunan tersebut ya enggak
sesuai dengan standar sehingga roboh.
Dan menurut Pak Subandi semua
pembangunan tanpa IMB seharusnya tidak
boleh didirikan terlebih dahulu ya.
Soalnya pembangunan serta pengerjaan
konstruksi yang enggak sesuai standar
sangat berisiko. Dan berarti pada saat
pembangunan pihak pondok pesantren masih
belum punya IMB. Tapi entah kenapa
proses pembangunannya masih terus
dilanjutkan bahkan dikatakan sudah
berjalan selama 9 bulan. yang gak kalah
bikin netizen geram ya terkait
pernyataan dari pihak pesantren. Di saat
itu K. H. Abdus Salam Mujib selaku
pengurus Pondok Pesantren Alkozini itu
menyampaikan permohonan maaf kepada para
korban dari insiden ini termasuk kepada
keluarganya. Setelah tragedi ambruknya
bangunan, kegiatan di pondok pesantren
tersebut dihentikan karena saat ini
masih fokus dalam melakukan pencarian
dan evakuasi korban yang masih terjebak.
Namun yang bikin netizen benar-benar
kesal dan geram karena ya beliau ini
malah bilang kalau apa yang terjadi
adalah takdir Allah sehingga semuanya
harus bisa bersabar dan berharap akan
diberi ganti oleh Allah yang lebih baik.
Saya kira memang ini takdir dari Allah.
Jadi semuanya harus bisa bersabar dan
mudah-mudahan
netizen menganggap kalimat tersebut
kayak enggak pantas banget. Emangnya di
muka bumi ini bagi umat Islam apa sih
yang terjadi tanpa e keridaan Allah atau
tanpa ditakdirkan oleh Allah? Apa?
Bahkan semut ngegigit kaki kita aja atau
kuman masuk ke mulut kita aja itu sudah
takdir. Nah, tapi bukan itu jawaban yang
tepat. Semua ini terjadi ya karena
kelalaian pihak pondok pesantren. Dan
kita sebagai manusia ya di dalam agama
Islam atau mungkin di agama manaun ya
kita itu dituntut untuk berusaha
menghindari yang berbahaya, menghindari
kebatilan, menghindari hal-hal yang bisa
merenggut nyawa orang lain. Jangan pas
sudah terjadi bilangnya takdir dari
Allah Subhanahu wa taala. Ya enggak gitu
konsepnya, Bapak. Segala hal bisa
diantisipasi kalau punya isi kepala.
udah tahu bukan bidangnya, udah tahu
bukan ranahnya untuk konstruksi, kok
bisa ngide bangun pondok pesantren
sebegitu tinggi tanpa adanya ahli gitu.
Dan bagi netizen, pernyataan dari beliau
tersebut tadi dianggap sebagai cuci
tangan dari pihak pondok pesantren agar
tidak disalahkan atas kejadian ini.
Padahal kejadian ini murni 100%
kesalahan pihak pondok pesantren. Bahkan
kabarnya nih, Geng, ada hukuman yang
diberlakukan di sana yang sudah menjadi
tradisi. Diduga kalau hukuman ini
berkaitan dengan insiden bangunan yang
ambruk. Jadi, cerita ini didapat dari
salah satu santri ya yang menceritakan
soal kegiatan mereka di sana. Jadi dia
menyebutkan kalau mereka tidak mengikuti
kegiatan, mereka bisa mendapatkan
hukuman yang salah satunya adalah
membantu untuk ngecor bangunan tersebut.
Meskipun mereka enggak kekurangan tukang
untuk ngecor itu bangunan, tapi jika
para santri ini diberi hukuman, mereka
wajib untuk membantu para tukang untuk
ngecor. Tapi bukan berarti mereka ini
menggantikan tukang-tukang itu ya, Geng.
Melainkan mereka cuma bantu aja yang
enggak semuanya dilakukan sendiri oleh
santri. Nah, dari cerita ini banyak yang
diduga, jangan-jangan penyebab ambruknya
bangunan ini ya karena ada santri yang
sebenarnya gak paham gimana cara kerja
tukang, cara ngecor yang benar, ikut
membantu pengecoran sehingga
konstruksinya jadi tidak benar. Nah, ini
ilmu juga nih, Geng, bahwa ee semakin
banyak manpower atau semakin banyak
orang yang ngebantu pembangunan sebuah
bangunan itu enggak menjamin itu
bangunan bakal lebih baik atau lebih
cepat jadinya. Karena kalau misalkan
bukan ahlinya, mau 100 orang pun yang
ngebangun, ya itu bangunan tetap tidak
akan cepat jadi dan tidak akan kokoh.
Tapi kalau misalkan cukup 3 orang, 5
orang atau 10 orang tapi memang ahlinya
emang tukangnya yaitu bangunan cepat
jadi pasti bangunannya kokoh udah pasti.
Tapi kalau dicampur-campurin sama
hukuman santri, santrinya disuruh kerja
juga di sana ya bahaya. Nah, coba deh,
Geng. Menurut kalian tuh gimana? Benar
enggak nih yang terjadi seperti itu?
Nah, terus geng ada salah satu komentar
dari netizen yang menceritakan kalau
suaminya berada di lokasi kejadian
selama 2 hari. Suaminya ini bilang kalau
jumlah orang yang meninggal justru lebih
banyak dari yang diberitakan di media
sebenarnya. Nah, informasi tersebut
didapatkan oleh suaminya dari Dinas
Pekerjaan Umum atau PU. Kabarnya nih,
Geng ya. Informasi tersebut memang
sengaja ditutup-tutupi dari media agar
publik tidak ada yang tahu kalau
ternyata lebih banyak korban yang
sebenarnya meninggal dunia daripada yang
disebutkan di media. Terus, geng,
Menteri Agama ya, Pak Nasaruddin Umar
itu berjanji bakal memberikan perhatian
khusus agar pembangunan pondok pesantren
sesuai dengan standar dan aturan yang
berlaku dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya ya hal kayak gini lagi.
Jangan sampai lagi terjadi bangunan
roboh yang menimbulkan korban. Dan
beliau juga mengaku tidak tahu terkait
adanya isu yang menyebutkan banyak
santri yang dilibatkan dalam pengocoran
gedung. Dan hanya saja menurut beliau
cara-cara seperti itu juga dilakukan
oleh beberapa pondok pesantren lain.
Ternyata ya kalau misalkan ada santri
yang kena hukuman ya disuruh bekerja
atau apa gitu. Nah meskipun begitu
beliau menyampaikan bahwa pihaknya akan
mencoba membuat kondisi pembangunan
pondok pesantren agar sesuai dengan
standar dan aturan yang ada. Terkait
tanggung jawab dari pihak Kemenak atas
kasus robohnya bangunan pondok pesantren
Alkozini, beliau mengatakan pihaknya
akan menjadikan kasus ini sebagai
pembelajaran. Nah, tapi yang jadi
pertanyaan gua, apakah di dalam kasus
ini akhirnya diikhlaskan kayak gitu aja?
Apa kompensasi yang didapatkan oleh
keluarga korban, Geng? Dan siapa yang
patut disalahkan? Berarti ini enggak ada
tersangkanya, enggak ada pelakunya.
Padahal ini jelas-jelas kelalaian, ya
kan? Ada pihak yang seharusnya
bertanggung jawab, tapi di sini kayak ya
udah dimaafkan gitu aja. Gimana tuh
menurut kalian, Geng?
Sampai di sini dulu, Geng, pembahasan
kita mengenai ambruknya bangunan di
Pondok Pesantren Alkozini di Sidoarjo.
Proses evakuasi masih terus dilakukan
dan kita doakan semoga tidak ada korban
jiwa tambahan. Oke, kalian boleh
beropini di kolom komentar.