Demonstrations in various areas resulted in burning down buildings and causing casualties.
Jn8nGMRn4iY • 2025-09-02
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Oke, Geng. Kali ini kita bakal ngebahas
soal update mengenai demo di negara kita
Indonesia. Dari kemarin kita kan
membahas soal demo yang terjadi di
Jakarta, ya kan? Nah, namun kalian harus
tahu ternyata demo ini tidak terjadi di
Jakarta doang. Bahkan rusuh-rusuhnya
juga terjadi di luar Jakarta. Dan kali
ini gua bakal ngajak kalian untuk sebuah
topik ya yang gak cuma bikin panas di
jalanan tapi juga bikin kita sebagai
warga negara harus mikir ulang soal arah
moral dan keadilan sosial di negara ini.
Kenapa gua bilang ini penting ya? Karena
ini bukan cuma soal angka gaji DPR, tapi
juga soal bagaimana keputusan segelintir
elit politik bisa memicu gelombang
kemarahan publik dari Sabang sampai
Merauke. Ya, seperti yang kita tahu ya,
salah satu pemicu kenapa demonya
sehancur ini adalah
mulut anggota dewannya dan kelakuan
anggota dewannya. ada yang joget-joget,
ada yang ngatain tolol dan lain-lain.
Belakangan ini ya kita disuguhi oleh
berita soal rencana kenaikan gaji dan
tunjangan DPR dan sudah sempat kita
bahas kemarin. Nah, padahal kondisi
ekonomi negara kita ya bagi rakyat yang
lagi melarat sekarang, harga bahan pokok
naik, lapangan kerja semakin sempit, dan
subsidi semakin seret, ya keputusan ini
terasa kayak eh banget gitu ya. Enggak
banget gitu buat kita. Sakit banget
rasanya. Enggak heran ya, Geng, kenapa
demonya pecah banget di mana-mana. Mulai
dari buruh di Tangerang, Banten,
mahasiswa di Bekasi, komunitas sipil di
Medan, sampai warga masyarakat di Pati
yang turun ke jalan dengan satu suara,
yaitu batalkan kenaikan gaji DPR.
Aksi unjuk rasa menolak kenaikan
tujangan anggota DPR RI di depan gedung
DPRD Sumatera Utara berujung ricuh,
sejumlah mahasiswa terlibat saling
dorong dengan petugas.
Bahkan di media sosial, tagar #dr
juta dan hashag uang rakyat jadi
trending. Ini menunjukkan betapa
dalamnya rasa kecewa dan marahnya
masyarakat. Dan yang bikin kasus ini
makin kompleks adalah kenyataan bahwa
DPR yang seharusnya menjadi representasi
suara rakyat, tapi ketika mereka malah
sibuk menaikkan gaji sendiri di tengah
krisis, muncul pertanyaan besar.
Sebenarnya suara siapa yang mereka
wakili? Nah, apakah ini soal privilege
politik yang sudah kelewat batas atau
ada sistem yang memang memungkinkan
adanya ketimpangan terus terjadi? Di
video kali ini kita akan bahas demo-demo
besar yang terjadi di Indonesia akibat
kenaikan gaji DPR ini dan ketidakpuasan
yang terjadi di beberapa daerah. Enggak
cuma di Jakarta yang mana ini
pecah-pecah banget, Geng. Gua aja sampai
merinding ngelihatnya. Jangan sampailah
ya ada kejadian-kejadian yang aduh
terulang. Dan sebelumnya gua ingatkan
kepada teman-teman semua untuk
himbauan-himbauan yang berbau Sara rasis
jangan didengarkan. Karena beberapa hari
belakangan gua lihat udah mulai ada
himbauan-himbauan untuk menjarah
tokoh-tokoh e masyarakat Tionghoa. Itu
sebenarnya enggak boleh. Kenapa? Kalian
harus sadar. Semua ini bukan untuk
keuntungan pribadi. Jadi, kekacauan ini
bukan untuk ngejarah-jarah sesama
masyarakat. Itu sama aja kayak kalian
dengan si DPR-nya. Dan kalau misalkan
kalian memang menziarah rumahnya DPR, ya
itu urusan kalian. Tapi kalau masyarakat
biasa kalian ziarah juga hanya karena
dia berbeda ras dengan kalian, itu salah
banget. Karena akhirnya yang menang
siapa? Ya, di dalam kondisi ini kita
sudah bisa lihat ya, antara masyarakat
sekarang bentroknya sama polisi. Padahal
tujuan awalnya adalah memprotes DPR.
DPR-nya ke mana? Lagi liburan.
Nah, jangan sampai udah kalian bentrok
sama polisi, DPR-nya liburan, sekarang
kalian bentrok sesama masyarakat. Hanya
karena beda ras, hanya karena ada
himbauan ingin mengulang tragedi 98.
Ngapain emang 98 bagus? Enggak. Karena
gini, gua harus ingatin dulu 98 itu
enggak semua pribumi selamat loh, Geng.
Banyak pribumi yang juga akhirnya
meregang nyawa. Jadi kalau kalian
berpikir nanti di posisi itu kalian
adalah orang yang diuntungkan karena
berhasil menjarah Tionghoa, belum tentu.
Bisa jadi kalian di bagian atau di part
orang yang tewasnya gimana atau orang
tua kita yang menjadi korban ketika ee
isu SARA ini memuncak, meledak. Kita
okelah ngejarah barang, rasa puas tapi
orang tua kita kena door lah, kena
inilah, aduh segala macam. Nah, makanya
jangan deh sesama masyarakat enggak
usah. Tapi kalau misalkan kalian tetap
ingin menyuarakan e dengan cara kalian
terhadap tujuan utamanya yaitu DPR yaitu
urusan kalian. Oke, itu peringatan gua.
Oke, langsung aja nih kita bahas secara
lengkap eh demo-demo yang pecah di
berbagai daerah di Indonesia. Halo,
Geng. Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama
kita akan bahas dulu kejadian yang
terjadi di Medan.
Jadi geng, insiden pertama yang akan
kita bahas ini mengenai demo di tanggal
25 Agustus yang terjadi di Medan. Jadi,
pada saat itu massa sudah berkumpul di
depan gedung DPRD Sumatera Utara yang
dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari BEM
Universitas Sumatera Utara atau USU.
Nah, di dalam aksi tersebut mahasiswa
membawa bendera dan spanduk yang
berisikan tuntutan mereka. Pimpinan aksi
yang bernama Arya itu menyampaikan
sejumlah tuntutan ketika berada di atas
mobil komando dan tuntutan tersebut
terutama perihal kenaikan gaji dan
tunjangan tinggi yang didapatkan oleh
anggota DPR. Padahal masih banyak rakyat
yang merasakan kelaparan. Berada di
dalam jurang kemiskinan apalagi. Dan
hidup tidak layak. Banyak masyarakat
yang masih berjuang untuk menghidupi
keluarga mereka dan malah DPR yang
mendapatkan nikmatnya. Banyak mahasiswa
di saat itu belum bisa membayar uang
kuliah yang setiap tahunnya semakin
mahal. Tapi di sisi lainnya, DPR ini
justru memperkaya diri sendiri. Padahal
mereka disebut sebagai wakil rakyat.
Tapi sama sekali tidak menunjukkan
keberpihakannya kepada rakyat.
biaya operasional itu hanya naik 4%,
Pak.
Nah, lalu geng di aksi tersebut
mahasiswa tidak cuma membawa bendera dan
spanduk yang berisikan tuntutan, tapi
juga membawa kardus yang berisikan
tikus-tikus. Selain itu, di dalam kardus
yang mereka bawa juga ada beberapa
stiker partai politik yang diberi
tulisan tikus kantor. Nah, kemudian
mahasiswa juga membakar ban dan terjadi
insiden saling dorong dengan aparat
kepolisian yang dilanjutkan dengan aksi
pelemparan botol bekas ke arah aparat.
Masa yang sudah marah pada saat itu
berhasil merobohkan pagar utama gedung
DPRD yang membuat suasana tambah panas.
Dikabarkan juga ada seorang jurnalis
dari salah satu media yang dilaporkan
menjadi korban salah tangkap oleh
aparat. Bahkan sempat mendapatkan
perlakuan agresif di dalam kekacauan
itu.
Nah, jadi kalau di Jakarta keosnya itu
paling parah ya, paling parahnya di
tanggal 28. Nah, di Medan justru dari
tanggal 25 udah keos, Geng. Terus geng,
ada sesuatu yang menarik perhatian nih
geng yang gua temuin di mana saat demo
ini terjadi itu kan sempat ricu geng.
Nah di saat itu ada satu pagar besi yang
roboh dan malah dipretelin sama massa di
sana. Saat demo berlangsung panas di
depan kantor DPRD Sumut. Pagar besi
hitam sepanjang lebih dari 3 m tiba-tiba
roboh menghantam aspal. Bukannya panik
atau menjauh, orang-orang yang ada di
sana justru gercep langsung mendekat.
Mereka jongkok dan mulai membongkar
bagian-bagian pagar yang mana mereka
bongkarnya pakai tangan kosong, ada yang
pakai batu ya, buat diketok dan akhirnya
tuh besi lepas. Ya, di Medan jangan
main-main. Kalau ada besi sikat, Bray.
Pompa, Bray. Nah, yang bikin momen ini
jadi viral bukan cuma aksi yang
spontanitas itu, tapi juga makna di
baliknya. Di tengah tuntutan soal
keadilan dan pembubaran DPR, ada warga
net yang komen mengambil kembali. Wah,
ini definisi perampasan aset yang mana
material dari simbol kekuasaan ini kan
yang mana besi pagar itu tadinya jadi
pembatas antara rakyat dan wakilnya
berubah menjadi potongan logam yang bisa
dijual demi bertahan hidup. Nah, ini kan
maknanya adalah pagar itu dibuat pakai
pajak rakyat gitu loh, Geng. Netizen di
saat itu langsung bereaksi. Ada yang
mengungkapkan dengan konotasi yang
sarkas bilang sama aja kan itu baru
besi. Kalau duduk di tempat yang sama
pasti duit rakyat juga diambil katanya
gitu. Nah, ibaratnya tuh kalau posisinya
ditukar, si rakyat yang mengambil besi
tadi kalau jadi DPR ya mungkin bakal
ngejarah juga gitulah kata netizen. Dan
komentar-komentar ini nunjukin betapa
dalamnya rasa frustasi publik terhadap
sistem yang dianggap enggak berpihak dan
enggak adil di negara ini. Di mana para
pejabat-pejabat yang duduk di dalam
gedung DPR hidup bergelemangan harta.
Sementara rakyatnya saat ini sedang
kesusahan. Bahkan untuk mencari kerja
aja sulit karena sedikitnya lapangan
pekerjaan ya. Padahal dulu ya kita itu
dijanjikan akan ada sebanyak 19 juta
lapangan pekerjaan. Tapi justru saat ini
yang terjadi lebih banyak lapangan pedal
ya kan dibandingkan lapangan kerja
sampai ada memes-memes-nya gitu geng di
media sosial. Nah jadi itu yang terjadi
di Medan, Geng ya. Tuntutan
ketidakpuasan publik termasuk salah
satunya adalah tuntutan mereka tentang
kenaikan gaji DPR yang mencapai R00 juta
per bulan.
Nah, selanjutnya kita bakal bahas demo
yang lain lagi yang enggak kalah besar
yaitu di daerah Bandung.
Jadi, Geng, selanjutnya adalah demo di
Bandung di mana ini terjadi pada tanggal
29 Agustus 2025 di mana di saat itu ya
kota yang biasa dijuluki ee dengan kota
kembang ini berubah menjadi medan protes
ketika ribuan masa turun ke jalan
menuntut keadilan atas meninggalnya Afan
Kurniawan yang sempat kita bahas kemarin
yaitu pengemudi ojek online yang tewas
ya terlindas kendaraan taktis Brimop
saat demonstrasi di Jakarta. Dan aksi
solidaritas ini dimulai sejak pagi
melibatkan mahasiswa dari berbagai
kampus, komunitas pengemudi ojol,
pelajar, dan warga sipil yang terpanggil
oleh viralnya video insiden tersebut.
Titik konsentrasi massa berada di depan
gedung DPRD Jawa Barat dan Mapolda
Jabar. Di saat itu ya sedang terjadi
hujan deras yang mengguyur Bandung, tapi
masa tetap bertahan. Mereka meneriakkan
tuntutan dan membawa poster bertuliskan
keadilan untuk Avan dan reformasi polisi
sekarang. Nah, sekitar pukul 14.30 30
suasana mulai memanas dan lemparan batu,
botol, dan molotov mengarah ke gedung
DPRD. Namun situasi memanas setelah
upaya massa merengsek masuk dengan
merusak pagar besi gedung. Aparat
menembakkan gas air mata hingga massa
tercerai-berai ke sejumlah titik di
jalan di Ponegoro, Cilamaya, dan
Trunojoyo. Kericuhan semakin meluas.
Puncaknya saat itu unit rumah aset milik
MPR RI yang berada di persimpangan jalan
Diponegoro dan Cilamaya hangus terbakar
setelah dilempari batu dan dirusak massa
yang kebanyakan berbaju hitam di saat
itu. Masa yang merasa enggak puas ya
selanjutnya membakar ban serta sebuah
sepeda motor. Di saat itu ada video
dron, pagar dan pos pengamanan ikut
menjadi sasaran. Nah, terus juga ada
aksi perusakan mobil dinas dan beberapa
fasilitas umum lain yang tidak luput
dari amukan. Beruntungnya di saat itu
tidak ada korban jiwa di dalam kejadian
tersebut. Namun asap hitam pekat sempat
mengepul dari rumah peninggalan era
wakil gubernur Jawa Barat di masa
Gubernur Nuriana saat itu. Tiga tuntutan
utama disuarakan oleh massa, yaitu
pengusutan transparan kasus afan oleh
lembaga independen, sanksi tegas
terhadap oknum Brimop yang terlibat,
serta reformasi institusi kepolisian. Di
tengah tekanan publik, Kapolri Jenderal
Listio Sigit Prabowo menyampaikan
permintaan maaf dan memerintahkan Propam
untuk melakukan investigasi internal.
Dan di saat itu, Geng, elemen masyarakat
yang terdiri dari mahasiswa seperti dari
UNPAT, UIN Sunan Gunung Jati Bandung,
Universitas Muhammadiyah Bandung dengan
pengemudi ojol, pelajar, warga umum,
semuanya bergabung. Dan selain itu ada
yang mencuri perhatian banyak orang nih,
Geng. Yaitu munculnya Gubernur Jawa
Barat yaitu Pak Dedi Mulyadi. Jadi
sekitar pukul 19.50 50 malam tiba dia di
depan gedung DPR di Jawa Barat sambil
mengenakan pakaian sederhana dan tanpa
podium. Tidak ada barikade dan tidak ada
jarak. Dia benar-benar berdiri di tengah
kerumunan menyapa Demonstran yang sedang
marah, kecewa, dan lelah. Nah, kehadiran
dia di saat itu bukan tanpa resiko.
Lemparan benda dari arah massa sempat
kena ke dia. Namun, Pak Dedy ini
merespon dengan kalimat yang segera
viral dan dia tidak melihat itu sebagai
lemparan, melainkan sebagai belayan
kasih sayang, katanya. Nah, gas air mata
yang ditembakkan aparat tidak mengenal
jabatan. Pak Dedi terkena imbasnya,
matanya sampai merah dan berair. Pak
Dedi sempat dibawa ke rumah Dinas Sekda
Jabar untuk pemulihan. Namun, kehadiran
Pak Dedi ini sudah terlanjur membuka
mata masyarakat tentang seorang gubernur
yang ternyata tidak bersembunyi di balik
konferensi pers, tetapi justru hadir di
titik konflik. Nah, meski di saat itu
Pak Dedi tidak datang membawa solusi
instan, tapi dia seakan ya bilang kalau
pemerintah tidak sepenuhnya absen gitu.
Dia berdialog langsung dengan
Demonstran, menyampaikan empati terhadap
insiden penabrakan Ojol yaitu almarhum
Afan dan mengajak massa untuk tetap
tertib dalam menyampaikan aspirasi. Dan
dia juga mengingatkan bahwa tindakan
anarkis seperti pembakaran dan perusakan
fasilitas umum justru bakal merugikan
masyarakat dan mengabaikan nilai sejarah
gitu, Geng. Jadinya di saat itu ya
masyarakat sedikit redamlah dengan
kehadiran Pak Dedi Mulyadi. Ini
Pak
gimana, Pak? Lalu gimana?
Keluarnya apa? Bapak masih apa?
Keluarnya bubarkan.
Kelarnya apa, Pak?
Nah, jadi kurang lebih begitulah, Geng,
ya. Seramnya e demo di Bandung yang
sampai membakar sebuah rumah. Enggak
kalah ramai. Bahkan sampai salah satu
orang terkenal di sana, ya, Pak Dedi
Mulyadi sebagai gubernurnya juga ikut
turun bersama massa. Nah, selanjutnya
kita akan menuju ke sebuah demo yang
mengerikan banget. Ini ngeri banget.
Terjadi di Makassar ya, Sulawesi
Selatan.
Nah, demo di Makassar ini terjadi di
tanggal 29 Agustus 2025 yang mana ini eh
menjadi saksi dari salah satu
demonstrasi paling brutal dalam gejolak
demo Indonesia saat ini. Ya, kalau
kalian bandingkan dengan Jakarta
baru-baru ini ya memang yang baru-baru
ini tuh brutal banget ya yang kemarin
ya. Tapi yang mengawali kebrutalannya
itu adalah di Makassar ini yang mana
aksi solidaritas atas meninggalnya Avan
Kurniawan, pengemudi ojek online yang
meninggal dunia di dalam insiden dengan
kendaraan taktis Brimop di Jakarta ini
berubah menjadi ledakan kemarahan publik
yang menewaskan tiga orang dan
melumpuhkan pusat pemerintahan lokal.
Nah, jujur ya, Geng, eh gua enggak bisa
memastikan tiga orang apa empat orang
yang meninggal, tapi dari beberapa
informasi ada yang bilang tiga orang.
Nah, koreksi gua kalau salah dalam
menyampaikan informasi. Jadi, geng
kejadian di sana sejak pagi ribuan masa
dari berbagai elemen mulai dari
mahasiswa, pengemudi ojol, buruh sampai
warga sipil itu berkumpul di titik-titik
strategis mulai dari Jalan AP Petarani,
Urip Sumoharjo, dan perintis
kemerdekaan. Nah, mereka semua membawa
poster bertuliskan Avan adalah kita dan
copot Kapolri sekarang. Dan aksi ini
dimulai sebagai bentuk solidaritas
nasional menyusul viralnya video insiden
Jakarta yang menunjukkan kendaraan
taktis Brimop melindas Avan seorang ojek
online. Blokade jalan dilakukan secara
sistematis. Jalur Trans Sulawesi lumpuh
total. Demonstran menghentikan kendaraan
logistik dan membakar ban sebagai simbol
perlawanan. Lalu lintas antar provinsi
terhenti selama lebih dari 12 jam. Dan
tuntutan massa tidak hanya soal keadilan
bagi Avan. Mereka juga menuntut
pencopotan Kapolri Jenderal Listio Sigit
Prabowo dan juga meminta reformasi
institusi kepolisian dan pembentukan tim
independen untuk mengusut kasus
meninggalnya Avan serta perlindungan
hukum bagi pengemudi ojol dan pekerja
informal. Seruan ini digaungkan melalui
pengeras suara, media sosial dan juga
orasi di atas mobil komando. Dan
beberapa tokoh lokal turut hadir
termasuk aktivis HAM dan perwakilan
serikat pekerja.
Aku yang kemudian
terus, Geng. Menjelang pukul
30 malam waktu Indonesia bagian tengah,
situasi mulai tidak terkendali.
Sekelompok massa yang terpisah dari
barisan utama itu mulai melempari pos
polisi di persimpangan Peta Rani dan
Sultan Alaudin. Tidak lama kemudian, pos
tersebut dibakar, api menjalar cepat dan
aparat tidak terlihat di lokasi. Sekitar
pukul 1045,
massa bergerak ke gedung DPR di Makassar
dan terjadilah bentrokan kecil antara
demonstran dan petugas keamanan
internal. Masa berhasil mendobrak pagar
dan masuk ke halaman gedung. Beberapa
kendaraan dinas milik ASN dan pejabat
DPRD itu dibakar. Puncaknya terjadi pada
pukul 1115 malam ketika api mulai
melalap lantai bawah gedung DPRD. Di
mana di dalam gedung itu terdapat
sejumlah ASN yang masih bekerja termasuk
dengan staf fraksi dan seorang
fotografer internal.
Tiga orang ini akhirnya meninggal dunia
di dalam insiden pembakaran gedung
tersebut. Nah, mereka ini di antara lain
ada yang bernama Rizal Mahmud atau biasa
dipanggil Abay, umur 34 tahun yang
merupakan seorang fotografer DPRD.
Diketahui dia meninggal dunia akibat
terjebak di lantai 2 saat api membesar.
Selanjutnya ada Nur Hayati umur 29 tahun
dan merupakan staf fraksi salah satu
partai. Ditemukan meninggal di tangga
darurat dengan luka bakar yang berat.
Dan yang terakhir ada Ardiansyah, umur
41 tahun sebagai pegawai bagian umum.
Dia ini dilaporkan melompat dari lantai
4 dan meninggal dunia di rumah sakit
akibat cedera kepala itu mengalami luka
berat termasuk dua petugas pemadam
kebakaran yang terkena lemparan batu
saat mencoba masuk ke lokasi. Petugas
pemadam sempat ragu masuk karena situasi
mencekam. Nah, aparat kepolisian itu
enggak terlihat hingga dini hari di
sana. Baru sekitar pukul . Dini hari
Wita, ada pasukan TNI yang dikerakan
untuk mengamankan fasilitas vital dan
mengevakuasi korban. Di saat itu,
Walikota Makassar mengeluarkan
pernyataan darurat dan menutup seluruh
kantor pemerintahan selama 2 hari.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan
menyatakan dukacita dan membentuk tim
investigasi bersama Polda Sulawesi
Selatan. Gedung DPRD itu rusak berat dan
67 mobil diketahui rusak dan tidak dapat
digunakan lagi. Aktivitas pemerintahan
lumpuh. Sidang APBD ditunda dan
kepercayaan publik terhadap aparat
keamanan menurun drastis. Kejadian ini
benar-benar membuat gempar banyak orang
karena memakan korban. Orang-orang
enggak bersalah, enggak ada hubungannya
dengan DPR. Mereka cuma bekerja sebagai
ESN dan enggak ada hubungannya sama
polisi. Tapi justru mereka yang menjadi
korban di dalam tragedi ini. Nah, gimana
tuh, Geng, menurut kalian dengan tragedi
di Makassar ini?
Oke, sekarang kita akan beralih ke
tragedi di daerah lain, yaitu demo yang
terjadi di daerah Istimewa Yogyakarta.
Jadi, geng, pada hari Jumat malam, 29
Agustus 2025, Yogyakarta berubah menjadi
titik api kemarahan publik. Jadi, sebuah
aksi yang bertajuk Jogja memanggil itu
pecah di depan markas Polda DIY Sleman,
Yogyakarta. Nah, masa yang terdiri dari
para mahasiswa, pengemudi ojol, aktivis
sipil, dan warga sipil lainnya itu turun
ke jalan membawa satu suara yaitu
keadilan untuk Avan Kurniawan, driver
ojol yang tewas di lindas kendaraan
taktis Brimop saat demo di Jakarta.
Awalnya memang semuanya berjalan lancar,
Geng. Tapi sekitar pukul
malam, suasana meledak. Dua mobil
terbakar di depan gerbang Polda DIY
disertai empat kali suara ledakan yang
membuat masa panik. Dinding gerbang
dicoret dengan cat semprot merah
bertuliskan polisi pem eh. Oke. Polisi
menembakkan gas air mata berkali-kali ke
arah massa. Beberapa demonstran itu
mengalami sesak napas dan yang pingsan
juga ada dan sebagian harus dibantu
keluar dari kerumunan. Nah, di daerah
Ring Road Utara, sebuah mobil polisi
yang melintas sempat diamuk ngasa dan
kacanya sampai dipecahkan. Namun, Geng,
ini bukan sekedar aksi balas dendam. Ini
adalah ledakan kolektif dari rasa
frustasi yang udah lama dipendam oleh
masyarakat. masa menyuarakan enam
tuntutan utama yaitu mereka meminta
untuk mengusut tuntas kasusnya Afan,
kasus Kanjuruhan, kasus Gama,
selanjutnya ingin pencopotan Kapori
Listio Sigit Prabowo dan menolak
kenaikan pajak bumi dan bangunan atau
PBB dan menghentikan program makan
bergizi gratis atau MBG yang dianggap
sebagai pencitraan serta mereka menolak
militerisasi ruang sipil dan mereka
meminta untuk diturunkannya presiden dan
DPR serta sahkan RUU perampasan aset.
Sebelum aksi, para mahasiswa dari UGM,
ISI, UII, dan kampus lain itu sempat
konsolidasi di Cikdiro membahas strategi
dan narasi. Mereka sepakat ini bukan
sekedar solidaritas, tapi perlawanan
terhadap sistem yang dianggap gagal
melindungi rakyat kecil. Nah, lalu geng
sekitar jam 2238 malam di tengah kepulan
asap gas air mata dan suara ledakan yang
belum sepenuhnya reda, sebuah mobil
berplat AB10 HBX perlahan-lahan
menerobos kerumunan massa di depan
gerbang Polda DIY. Di dalamnya duduk
sosok yang tidak asing bagi warga Jogja,
yaitu Sri Sultan Hameng Kubowono 10 atau
X. Didampingi dua putrinya, Gusti
Kanjeng Ratu Condro Kirono dan juga
Gusti Kanjeng Ratu Hayu, serta sejumlah
pejabat pemda DIY. Masa yang semulanya
tegang dan terpecah oleh bentrokan
spontan membuka jalan karena ini adalah
orang yang dihormati dan disegani di
sana. Teriakan memberi jalan ya eh
teriakannya itu kata-kata gini. Ik sing
duwe Jogja teko atau artinya kurang
lebih ya beri jalan yang punya Jogja
datang. Nah, suara ini menggema di
sebuah seruan yang bukan sekedar
pengakuan atas status monarki tetapi
ekspresi harapan bahwa pemimpin mereka
hadir bukan untuk menonton, melainkan
untuk mendengar. Tanpa pengawalan
khusus, Sultan melangkah masuk ke dalam
Kapolda. Di sana dia bertemu langsung
dengan Kapolda DIY, Bupati Sleman, dan
pejabat keamanan lain. Sultan memantau
situasi lewat rekaman CCTV dan
menyaksikan sendiri bagaimana gas air
mata ditembakkan masa berhamburan dan
dua mobil terbakar di halaman markas.
Sebelum menemui peserta aksi, Sultan
lebih dahulu bertemu dengan Kapolda DIY
yaitu Irjen Paul Anggoro Sukartono. Nah,
beliau kemudian meminta delan pendemo
yang sempat diamankan aparat untuk
dibebaskan. Saat itu beliau bilang bahwa
beliau sudah berbicara dengan Bapak
Kapolda. Bersama beliau juga ada delan
orang yang diamankan semua sekaligus itu
adalah teman-teman mereka. Kata Sultan
Hameng Kubuwono 10 ini, dia berharap
pembebasan orang tersebut dapat membuka
ruang dialog berkelanjutan antara
pemerintah, kepolisian, dan masyarakat.
Dan dia juga menyatakan siap menjadi
penghubung aspirasi warga ke pemerintah
pusat. Nah, jadi di Jogja itu ada part
di mana tensinya tinggi banget, emosi
parah. Tapi ketika Sri Sultan Hameng
Kubuonya datang, mereka masyarakatnya
meredam karena yang berbicara adalah
orang yang mereka hormati dan mereka
hargai. Oke, selanjutnya kita akan
membahas yang terjadi di Banten nih,
Geng. Yaitu demo tentang DPR ini juga.
Jadi, geng, demo selanjutnya ini pecah
di daerah Serang Banten, tepatnya di
kawasan pusat pemerintahan Provinsi
Banten atau KP3B pada hari Kamis tanggal
28 Agustus 2025 yang mana di saat itu
ratusan buruh dari Tangerang Raya mulai
dari kota Tangerang, Kabupaten Tangerang
sampai Tangsel turun ke jalan. Mereka
enggak cuma datang buat orasi, tapi juga
buat ngasih tuntutan secara langsung ke
Gubernur Banten. Tuntutannya adalah
mereka meminta agar pemerintah menaikkan
upah minimum tahun 2026 sebesar 8,5%.
Menghapus sistem outsourcing, membentuk
Satgas PHK, serta mereka juga menuntut
reformasi pajak untuk buruh. Aksi ini
bukan bagian dari demo nasional di
Jakarta, tapi gerakan lokal orang-orang
yang ada di sekitar sana aja. yang mana
ini digalang oleh berbagai serikat
pekerja kayak FS PMI, SPN, dan FS CAP
SPSI dan juga aliansi buruh dari kawasan
industri Jawilan Cikande. Mereka mulai
kumpul dari pagi di sekretariat FS PMI
Jati Uwung lalu konvoi ke KP3B.
Sepanjang jalan mereka teriakan tolak
upah murah dan juga outsourcing sama
dengan perbudakan modern. Nah, itu
menggema lah sepanjang perjalanan
mereka. Spanduk mereka dikibarkan.
Poster tuntutan diangkat tinggi-tinggi
dan sebagian buruh bahkan bawa simbol
visual kayak rantai putus dan boneka
tikus kantor.
Terus, Geng, Ketua DPW FS PMI Banten
yang bernama Tukimin menyatakan bahwa
aksi ini adalah gerakan lokal untuk
mendesak Gubernur Banten agar
menandatangani surat rekomendasi
kenaikan upah pekerja tahun depan
sebesar 8,5%. Seruan aksi ini merupakan
bagian dari rangkaian tuntutan lebih
besar yang mencakup penghapusan
outsourcing, pembentukan Satgas PHK,
reformasi pajak atau PTKP, THR, dan juga
JHT, serta mendesak pengesahan RUU
Ketenagakerjaan, RUU perampasan aset,
dan revisi RUU Pemilu. Mereka
menyebutkan gerakan nasional ini sebagai
hostum atau hapus outsourcing, tolak
upah murah. Mereka juga membawa tuntutan
yang enggak main-main. Selain kenaikan
upah dan penghapusan outsourcing, guru
juga minta dibentuknya Satgas PHK untuk
mengawasi pemutusan kerja sepihak.
Reformasi pajak seperti PTKP dinaikkan
jadi 7,5 juta per bulan, dan selanjutnya
hapus pajak atas pesangon, THR, dan JHT.
Dan juga yang terakhir mereka juga minta
untuk pengesahan RUU ketenagakerjaan
yang nonomnibus lawu serta RUU
perampasan aset. Karena takut kondisi
semakin enggak kondusif, akhirnya Dinas
Pendidikan Banten sempat mengeluarkan
surat edaran larangan para pelajar untuk
ikut demo. Tapi tetap aja ada laporan
kalau pelajar sempat ditangkap karena
diduga ingin bergabung dalam aksi ini.
Ini membuktikan bahwa gerakan buruh
sudah mulai menyentuh lapisan masyarakat
yang lebih luas. Nah, tapi untungnya di
dalam demo ini enggak terjadi kerusuhan
yang gimana-gimana banget kayak di Medan
ataupun di Jakarta. Jadi, masih
tergolong tertib. Nah, itu dia, Geng.
Salah satu demo yang juga tuntutannya
jelas untuk mensejahterakan buruh.
Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali
ini mengenai beberapa demo yang
belakangan terjadi ya, yang masih banyak
banget daerah-daerah tersebut seperti
Surabaya, Manahan Solo, dan masih banyak
lagi. Eh, tapi enggak mungkin gua
ceritakan satu-satu. Gimana menurut
kalian, Geng, tentang kejadian ini di
negara kita? Coba tinggalkan komentar di
bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:10 UTC
Categories
Manage