Transcript
Jn8nGMRn4iY • Demonstrations in various areas resulted in burning down buildings and causing casualties.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1522_Jn8nGMRn4iY.txt
Kind: captions Language: id Oke, Geng. Kali ini kita bakal ngebahas soal update mengenai demo di negara kita Indonesia. Dari kemarin kita kan membahas soal demo yang terjadi di Jakarta, ya kan? Nah, namun kalian harus tahu ternyata demo ini tidak terjadi di Jakarta doang. Bahkan rusuh-rusuhnya juga terjadi di luar Jakarta. Dan kali ini gua bakal ngajak kalian untuk sebuah topik ya yang gak cuma bikin panas di jalanan tapi juga bikin kita sebagai warga negara harus mikir ulang soal arah moral dan keadilan sosial di negara ini. Kenapa gua bilang ini penting ya? Karena ini bukan cuma soal angka gaji DPR, tapi juga soal bagaimana keputusan segelintir elit politik bisa memicu gelombang kemarahan publik dari Sabang sampai Merauke. Ya, seperti yang kita tahu ya, salah satu pemicu kenapa demonya sehancur ini adalah mulut anggota dewannya dan kelakuan anggota dewannya. ada yang joget-joget, ada yang ngatain tolol dan lain-lain. Belakangan ini ya kita disuguhi oleh berita soal rencana kenaikan gaji dan tunjangan DPR dan sudah sempat kita bahas kemarin. Nah, padahal kondisi ekonomi negara kita ya bagi rakyat yang lagi melarat sekarang, harga bahan pokok naik, lapangan kerja semakin sempit, dan subsidi semakin seret, ya keputusan ini terasa kayak eh banget gitu ya. Enggak banget gitu buat kita. Sakit banget rasanya. Enggak heran ya, Geng, kenapa demonya pecah banget di mana-mana. Mulai dari buruh di Tangerang, Banten, mahasiswa di Bekasi, komunitas sipil di Medan, sampai warga masyarakat di Pati yang turun ke jalan dengan satu suara, yaitu batalkan kenaikan gaji DPR. Aksi unjuk rasa menolak kenaikan tujangan anggota DPR RI di depan gedung DPRD Sumatera Utara berujung ricuh, sejumlah mahasiswa terlibat saling dorong dengan petugas. Bahkan di media sosial, tagar #dr juta dan hashag uang rakyat jadi trending. Ini menunjukkan betapa dalamnya rasa kecewa dan marahnya masyarakat. Dan yang bikin kasus ini makin kompleks adalah kenyataan bahwa DPR yang seharusnya menjadi representasi suara rakyat, tapi ketika mereka malah sibuk menaikkan gaji sendiri di tengah krisis, muncul pertanyaan besar. Sebenarnya suara siapa yang mereka wakili? Nah, apakah ini soal privilege politik yang sudah kelewat batas atau ada sistem yang memang memungkinkan adanya ketimpangan terus terjadi? Di video kali ini kita akan bahas demo-demo besar yang terjadi di Indonesia akibat kenaikan gaji DPR ini dan ketidakpuasan yang terjadi di beberapa daerah. Enggak cuma di Jakarta yang mana ini pecah-pecah banget, Geng. Gua aja sampai merinding ngelihatnya. Jangan sampailah ya ada kejadian-kejadian yang aduh terulang. Dan sebelumnya gua ingatkan kepada teman-teman semua untuk himbauan-himbauan yang berbau Sara rasis jangan didengarkan. Karena beberapa hari belakangan gua lihat udah mulai ada himbauan-himbauan untuk menjarah tokoh-tokoh e masyarakat Tionghoa. Itu sebenarnya enggak boleh. Kenapa? Kalian harus sadar. Semua ini bukan untuk keuntungan pribadi. Jadi, kekacauan ini bukan untuk ngejarah-jarah sesama masyarakat. Itu sama aja kayak kalian dengan si DPR-nya. Dan kalau misalkan kalian memang menziarah rumahnya DPR, ya itu urusan kalian. Tapi kalau masyarakat biasa kalian ziarah juga hanya karena dia berbeda ras dengan kalian, itu salah banget. Karena akhirnya yang menang siapa? Ya, di dalam kondisi ini kita sudah bisa lihat ya, antara masyarakat sekarang bentroknya sama polisi. Padahal tujuan awalnya adalah memprotes DPR. DPR-nya ke mana? Lagi liburan. Nah, jangan sampai udah kalian bentrok sama polisi, DPR-nya liburan, sekarang kalian bentrok sesama masyarakat. Hanya karena beda ras, hanya karena ada himbauan ingin mengulang tragedi 98. Ngapain emang 98 bagus? Enggak. Karena gini, gua harus ingatin dulu 98 itu enggak semua pribumi selamat loh, Geng. Banyak pribumi yang juga akhirnya meregang nyawa. Jadi kalau kalian berpikir nanti di posisi itu kalian adalah orang yang diuntungkan karena berhasil menjarah Tionghoa, belum tentu. Bisa jadi kalian di bagian atau di part orang yang tewasnya gimana atau orang tua kita yang menjadi korban ketika ee isu SARA ini memuncak, meledak. Kita okelah ngejarah barang, rasa puas tapi orang tua kita kena door lah, kena inilah, aduh segala macam. Nah, makanya jangan deh sesama masyarakat enggak usah. Tapi kalau misalkan kalian tetap ingin menyuarakan e dengan cara kalian terhadap tujuan utamanya yaitu DPR yaitu urusan kalian. Oke, itu peringatan gua. Oke, langsung aja nih kita bahas secara lengkap eh demo-demo yang pecah di berbagai daerah di Indonesia. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama kita akan bahas dulu kejadian yang terjadi di Medan. Jadi geng, insiden pertama yang akan kita bahas ini mengenai demo di tanggal 25 Agustus yang terjadi di Medan. Jadi, pada saat itu massa sudah berkumpul di depan gedung DPRD Sumatera Utara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari BEM Universitas Sumatera Utara atau USU. Nah, di dalam aksi tersebut mahasiswa membawa bendera dan spanduk yang berisikan tuntutan mereka. Pimpinan aksi yang bernama Arya itu menyampaikan sejumlah tuntutan ketika berada di atas mobil komando dan tuntutan tersebut terutama perihal kenaikan gaji dan tunjangan tinggi yang didapatkan oleh anggota DPR. Padahal masih banyak rakyat yang merasakan kelaparan. Berada di dalam jurang kemiskinan apalagi. Dan hidup tidak layak. Banyak masyarakat yang masih berjuang untuk menghidupi keluarga mereka dan malah DPR yang mendapatkan nikmatnya. Banyak mahasiswa di saat itu belum bisa membayar uang kuliah yang setiap tahunnya semakin mahal. Tapi di sisi lainnya, DPR ini justru memperkaya diri sendiri. Padahal mereka disebut sebagai wakil rakyat. Tapi sama sekali tidak menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat. biaya operasional itu hanya naik 4%, Pak. Nah, lalu geng di aksi tersebut mahasiswa tidak cuma membawa bendera dan spanduk yang berisikan tuntutan, tapi juga membawa kardus yang berisikan tikus-tikus. Selain itu, di dalam kardus yang mereka bawa juga ada beberapa stiker partai politik yang diberi tulisan tikus kantor. Nah, kemudian mahasiswa juga membakar ban dan terjadi insiden saling dorong dengan aparat kepolisian yang dilanjutkan dengan aksi pelemparan botol bekas ke arah aparat. Masa yang sudah marah pada saat itu berhasil merobohkan pagar utama gedung DPRD yang membuat suasana tambah panas. Dikabarkan juga ada seorang jurnalis dari salah satu media yang dilaporkan menjadi korban salah tangkap oleh aparat. Bahkan sempat mendapatkan perlakuan agresif di dalam kekacauan itu. Nah, jadi kalau di Jakarta keosnya itu paling parah ya, paling parahnya di tanggal 28. Nah, di Medan justru dari tanggal 25 udah keos, Geng. Terus geng, ada sesuatu yang menarik perhatian nih geng yang gua temuin di mana saat demo ini terjadi itu kan sempat ricu geng. Nah di saat itu ada satu pagar besi yang roboh dan malah dipretelin sama massa di sana. Saat demo berlangsung panas di depan kantor DPRD Sumut. Pagar besi hitam sepanjang lebih dari 3 m tiba-tiba roboh menghantam aspal. Bukannya panik atau menjauh, orang-orang yang ada di sana justru gercep langsung mendekat. Mereka jongkok dan mulai membongkar bagian-bagian pagar yang mana mereka bongkarnya pakai tangan kosong, ada yang pakai batu ya, buat diketok dan akhirnya tuh besi lepas. Ya, di Medan jangan main-main. Kalau ada besi sikat, Bray. Pompa, Bray. Nah, yang bikin momen ini jadi viral bukan cuma aksi yang spontanitas itu, tapi juga makna di baliknya. Di tengah tuntutan soal keadilan dan pembubaran DPR, ada warga net yang komen mengambil kembali. Wah, ini definisi perampasan aset yang mana material dari simbol kekuasaan ini kan yang mana besi pagar itu tadinya jadi pembatas antara rakyat dan wakilnya berubah menjadi potongan logam yang bisa dijual demi bertahan hidup. Nah, ini kan maknanya adalah pagar itu dibuat pakai pajak rakyat gitu loh, Geng. Netizen di saat itu langsung bereaksi. Ada yang mengungkapkan dengan konotasi yang sarkas bilang sama aja kan itu baru besi. Kalau duduk di tempat yang sama pasti duit rakyat juga diambil katanya gitu. Nah, ibaratnya tuh kalau posisinya ditukar, si rakyat yang mengambil besi tadi kalau jadi DPR ya mungkin bakal ngejarah juga gitulah kata netizen. Dan komentar-komentar ini nunjukin betapa dalamnya rasa frustasi publik terhadap sistem yang dianggap enggak berpihak dan enggak adil di negara ini. Di mana para pejabat-pejabat yang duduk di dalam gedung DPR hidup bergelemangan harta. Sementara rakyatnya saat ini sedang kesusahan. Bahkan untuk mencari kerja aja sulit karena sedikitnya lapangan pekerjaan ya. Padahal dulu ya kita itu dijanjikan akan ada sebanyak 19 juta lapangan pekerjaan. Tapi justru saat ini yang terjadi lebih banyak lapangan pedal ya kan dibandingkan lapangan kerja sampai ada memes-memes-nya gitu geng di media sosial. Nah jadi itu yang terjadi di Medan, Geng ya. Tuntutan ketidakpuasan publik termasuk salah satunya adalah tuntutan mereka tentang kenaikan gaji DPR yang mencapai R00 juta per bulan. Nah, selanjutnya kita bakal bahas demo yang lain lagi yang enggak kalah besar yaitu di daerah Bandung. Jadi, Geng, selanjutnya adalah demo di Bandung di mana ini terjadi pada tanggal 29 Agustus 2025 di mana di saat itu ya kota yang biasa dijuluki ee dengan kota kembang ini berubah menjadi medan protes ketika ribuan masa turun ke jalan menuntut keadilan atas meninggalnya Afan Kurniawan yang sempat kita bahas kemarin yaitu pengemudi ojek online yang tewas ya terlindas kendaraan taktis Brimop saat demonstrasi di Jakarta. Dan aksi solidaritas ini dimulai sejak pagi melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus, komunitas pengemudi ojol, pelajar, dan warga sipil yang terpanggil oleh viralnya video insiden tersebut. Titik konsentrasi massa berada di depan gedung DPRD Jawa Barat dan Mapolda Jabar. Di saat itu ya sedang terjadi hujan deras yang mengguyur Bandung, tapi masa tetap bertahan. Mereka meneriakkan tuntutan dan membawa poster bertuliskan keadilan untuk Avan dan reformasi polisi sekarang. Nah, sekitar pukul 14.30 30 suasana mulai memanas dan lemparan batu, botol, dan molotov mengarah ke gedung DPRD. Namun situasi memanas setelah upaya massa merengsek masuk dengan merusak pagar besi gedung. Aparat menembakkan gas air mata hingga massa tercerai-berai ke sejumlah titik di jalan di Ponegoro, Cilamaya, dan Trunojoyo. Kericuhan semakin meluas. Puncaknya saat itu unit rumah aset milik MPR RI yang berada di persimpangan jalan Diponegoro dan Cilamaya hangus terbakar setelah dilempari batu dan dirusak massa yang kebanyakan berbaju hitam di saat itu. Masa yang merasa enggak puas ya selanjutnya membakar ban serta sebuah sepeda motor. Di saat itu ada video dron, pagar dan pos pengamanan ikut menjadi sasaran. Nah, terus juga ada aksi perusakan mobil dinas dan beberapa fasilitas umum lain yang tidak luput dari amukan. Beruntungnya di saat itu tidak ada korban jiwa di dalam kejadian tersebut. Namun asap hitam pekat sempat mengepul dari rumah peninggalan era wakil gubernur Jawa Barat di masa Gubernur Nuriana saat itu. Tiga tuntutan utama disuarakan oleh massa, yaitu pengusutan transparan kasus afan oleh lembaga independen, sanksi tegas terhadap oknum Brimop yang terlibat, serta reformasi institusi kepolisian. Di tengah tekanan publik, Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf dan memerintahkan Propam untuk melakukan investigasi internal. Dan di saat itu, Geng, elemen masyarakat yang terdiri dari mahasiswa seperti dari UNPAT, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Universitas Muhammadiyah Bandung dengan pengemudi ojol, pelajar, warga umum, semuanya bergabung. Dan selain itu ada yang mencuri perhatian banyak orang nih, Geng. Yaitu munculnya Gubernur Jawa Barat yaitu Pak Dedi Mulyadi. Jadi sekitar pukul 19.50 50 malam tiba dia di depan gedung DPR di Jawa Barat sambil mengenakan pakaian sederhana dan tanpa podium. Tidak ada barikade dan tidak ada jarak. Dia benar-benar berdiri di tengah kerumunan menyapa Demonstran yang sedang marah, kecewa, dan lelah. Nah, kehadiran dia di saat itu bukan tanpa resiko. Lemparan benda dari arah massa sempat kena ke dia. Namun, Pak Dedy ini merespon dengan kalimat yang segera viral dan dia tidak melihat itu sebagai lemparan, melainkan sebagai belayan kasih sayang, katanya. Nah, gas air mata yang ditembakkan aparat tidak mengenal jabatan. Pak Dedi terkena imbasnya, matanya sampai merah dan berair. Pak Dedi sempat dibawa ke rumah Dinas Sekda Jabar untuk pemulihan. Namun, kehadiran Pak Dedi ini sudah terlanjur membuka mata masyarakat tentang seorang gubernur yang ternyata tidak bersembunyi di balik konferensi pers, tetapi justru hadir di titik konflik. Nah, meski di saat itu Pak Dedi tidak datang membawa solusi instan, tapi dia seakan ya bilang kalau pemerintah tidak sepenuhnya absen gitu. Dia berdialog langsung dengan Demonstran, menyampaikan empati terhadap insiden penabrakan Ojol yaitu almarhum Afan dan mengajak massa untuk tetap tertib dalam menyampaikan aspirasi. Dan dia juga mengingatkan bahwa tindakan anarkis seperti pembakaran dan perusakan fasilitas umum justru bakal merugikan masyarakat dan mengabaikan nilai sejarah gitu, Geng. Jadinya di saat itu ya masyarakat sedikit redamlah dengan kehadiran Pak Dedi Mulyadi. Ini Pak gimana, Pak? Lalu gimana? Keluarnya apa? Bapak masih apa? Keluarnya bubarkan. Kelarnya apa, Pak? Nah, jadi kurang lebih begitulah, Geng, ya. Seramnya e demo di Bandung yang sampai membakar sebuah rumah. Enggak kalah ramai. Bahkan sampai salah satu orang terkenal di sana, ya, Pak Dedi Mulyadi sebagai gubernurnya juga ikut turun bersama massa. Nah, selanjutnya kita akan menuju ke sebuah demo yang mengerikan banget. Ini ngeri banget. Terjadi di Makassar ya, Sulawesi Selatan. Nah, demo di Makassar ini terjadi di tanggal 29 Agustus 2025 yang mana ini eh menjadi saksi dari salah satu demonstrasi paling brutal dalam gejolak demo Indonesia saat ini. Ya, kalau kalian bandingkan dengan Jakarta baru-baru ini ya memang yang baru-baru ini tuh brutal banget ya yang kemarin ya. Tapi yang mengawali kebrutalannya itu adalah di Makassar ini yang mana aksi solidaritas atas meninggalnya Avan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal dunia di dalam insiden dengan kendaraan taktis Brimop di Jakarta ini berubah menjadi ledakan kemarahan publik yang menewaskan tiga orang dan melumpuhkan pusat pemerintahan lokal. Nah, jujur ya, Geng, eh gua enggak bisa memastikan tiga orang apa empat orang yang meninggal, tapi dari beberapa informasi ada yang bilang tiga orang. Nah, koreksi gua kalau salah dalam menyampaikan informasi. Jadi, geng kejadian di sana sejak pagi ribuan masa dari berbagai elemen mulai dari mahasiswa, pengemudi ojol, buruh sampai warga sipil itu berkumpul di titik-titik strategis mulai dari Jalan AP Petarani, Urip Sumoharjo, dan perintis kemerdekaan. Nah, mereka semua membawa poster bertuliskan Avan adalah kita dan copot Kapolri sekarang. Dan aksi ini dimulai sebagai bentuk solidaritas nasional menyusul viralnya video insiden Jakarta yang menunjukkan kendaraan taktis Brimop melindas Avan seorang ojek online. Blokade jalan dilakukan secara sistematis. Jalur Trans Sulawesi lumpuh total. Demonstran menghentikan kendaraan logistik dan membakar ban sebagai simbol perlawanan. Lalu lintas antar provinsi terhenti selama lebih dari 12 jam. Dan tuntutan massa tidak hanya soal keadilan bagi Avan. Mereka juga menuntut pencopotan Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo dan juga meminta reformasi institusi kepolisian dan pembentukan tim independen untuk mengusut kasus meninggalnya Avan serta perlindungan hukum bagi pengemudi ojol dan pekerja informal. Seruan ini digaungkan melalui pengeras suara, media sosial dan juga orasi di atas mobil komando. Dan beberapa tokoh lokal turut hadir termasuk aktivis HAM dan perwakilan serikat pekerja. Aku yang kemudian terus, Geng. Menjelang pukul 30 malam waktu Indonesia bagian tengah, situasi mulai tidak terkendali. Sekelompok massa yang terpisah dari barisan utama itu mulai melempari pos polisi di persimpangan Peta Rani dan Sultan Alaudin. Tidak lama kemudian, pos tersebut dibakar, api menjalar cepat dan aparat tidak terlihat di lokasi. Sekitar pukul 1045, massa bergerak ke gedung DPR di Makassar dan terjadilah bentrokan kecil antara demonstran dan petugas keamanan internal. Masa berhasil mendobrak pagar dan masuk ke halaman gedung. Beberapa kendaraan dinas milik ASN dan pejabat DPRD itu dibakar. Puncaknya terjadi pada pukul 1115 malam ketika api mulai melalap lantai bawah gedung DPRD. Di mana di dalam gedung itu terdapat sejumlah ASN yang masih bekerja termasuk dengan staf fraksi dan seorang fotografer internal. Tiga orang ini akhirnya meninggal dunia di dalam insiden pembakaran gedung tersebut. Nah, mereka ini di antara lain ada yang bernama Rizal Mahmud atau biasa dipanggil Abay, umur 34 tahun yang merupakan seorang fotografer DPRD. Diketahui dia meninggal dunia akibat terjebak di lantai 2 saat api membesar. Selanjutnya ada Nur Hayati umur 29 tahun dan merupakan staf fraksi salah satu partai. Ditemukan meninggal di tangga darurat dengan luka bakar yang berat. Dan yang terakhir ada Ardiansyah, umur 41 tahun sebagai pegawai bagian umum. Dia ini dilaporkan melompat dari lantai 4 dan meninggal dunia di rumah sakit akibat cedera kepala itu mengalami luka berat termasuk dua petugas pemadam kebakaran yang terkena lemparan batu saat mencoba masuk ke lokasi. Petugas pemadam sempat ragu masuk karena situasi mencekam. Nah, aparat kepolisian itu enggak terlihat hingga dini hari di sana. Baru sekitar pukul . Dini hari Wita, ada pasukan TNI yang dikerakan untuk mengamankan fasilitas vital dan mengevakuasi korban. Di saat itu, Walikota Makassar mengeluarkan pernyataan darurat dan menutup seluruh kantor pemerintahan selama 2 hari. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan dukacita dan membentuk tim investigasi bersama Polda Sulawesi Selatan. Gedung DPRD itu rusak berat dan 67 mobil diketahui rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Aktivitas pemerintahan lumpuh. Sidang APBD ditunda dan kepercayaan publik terhadap aparat keamanan menurun drastis. Kejadian ini benar-benar membuat gempar banyak orang karena memakan korban. Orang-orang enggak bersalah, enggak ada hubungannya dengan DPR. Mereka cuma bekerja sebagai ESN dan enggak ada hubungannya sama polisi. Tapi justru mereka yang menjadi korban di dalam tragedi ini. Nah, gimana tuh, Geng, menurut kalian dengan tragedi di Makassar ini? Oke, sekarang kita akan beralih ke tragedi di daerah lain, yaitu demo yang terjadi di daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi, geng, pada hari Jumat malam, 29 Agustus 2025, Yogyakarta berubah menjadi titik api kemarahan publik. Jadi, sebuah aksi yang bertajuk Jogja memanggil itu pecah di depan markas Polda DIY Sleman, Yogyakarta. Nah, masa yang terdiri dari para mahasiswa, pengemudi ojol, aktivis sipil, dan warga sipil lainnya itu turun ke jalan membawa satu suara yaitu keadilan untuk Avan Kurniawan, driver ojol yang tewas di lindas kendaraan taktis Brimop saat demo di Jakarta. Awalnya memang semuanya berjalan lancar, Geng. Tapi sekitar pukul malam, suasana meledak. Dua mobil terbakar di depan gerbang Polda DIY disertai empat kali suara ledakan yang membuat masa panik. Dinding gerbang dicoret dengan cat semprot merah bertuliskan polisi pem eh. Oke. Polisi menembakkan gas air mata berkali-kali ke arah massa. Beberapa demonstran itu mengalami sesak napas dan yang pingsan juga ada dan sebagian harus dibantu keluar dari kerumunan. Nah, di daerah Ring Road Utara, sebuah mobil polisi yang melintas sempat diamuk ngasa dan kacanya sampai dipecahkan. Namun, Geng, ini bukan sekedar aksi balas dendam. Ini adalah ledakan kolektif dari rasa frustasi yang udah lama dipendam oleh masyarakat. masa menyuarakan enam tuntutan utama yaitu mereka meminta untuk mengusut tuntas kasusnya Afan, kasus Kanjuruhan, kasus Gama, selanjutnya ingin pencopotan Kapori Listio Sigit Prabowo dan menolak kenaikan pajak bumi dan bangunan atau PBB dan menghentikan program makan bergizi gratis atau MBG yang dianggap sebagai pencitraan serta mereka menolak militerisasi ruang sipil dan mereka meminta untuk diturunkannya presiden dan DPR serta sahkan RUU perampasan aset. Sebelum aksi, para mahasiswa dari UGM, ISI, UII, dan kampus lain itu sempat konsolidasi di Cikdiro membahas strategi dan narasi. Mereka sepakat ini bukan sekedar solidaritas, tapi perlawanan terhadap sistem yang dianggap gagal melindungi rakyat kecil. Nah, lalu geng sekitar jam 2238 malam di tengah kepulan asap gas air mata dan suara ledakan yang belum sepenuhnya reda, sebuah mobil berplat AB10 HBX perlahan-lahan menerobos kerumunan massa di depan gerbang Polda DIY. Di dalamnya duduk sosok yang tidak asing bagi warga Jogja, yaitu Sri Sultan Hameng Kubowono 10 atau X. Didampingi dua putrinya, Gusti Kanjeng Ratu Condro Kirono dan juga Gusti Kanjeng Ratu Hayu, serta sejumlah pejabat pemda DIY. Masa yang semulanya tegang dan terpecah oleh bentrokan spontan membuka jalan karena ini adalah orang yang dihormati dan disegani di sana. Teriakan memberi jalan ya eh teriakannya itu kata-kata gini. Ik sing duwe Jogja teko atau artinya kurang lebih ya beri jalan yang punya Jogja datang. Nah, suara ini menggema di sebuah seruan yang bukan sekedar pengakuan atas status monarki tetapi ekspresi harapan bahwa pemimpin mereka hadir bukan untuk menonton, melainkan untuk mendengar. Tanpa pengawalan khusus, Sultan melangkah masuk ke dalam Kapolda. Di sana dia bertemu langsung dengan Kapolda DIY, Bupati Sleman, dan pejabat keamanan lain. Sultan memantau situasi lewat rekaman CCTV dan menyaksikan sendiri bagaimana gas air mata ditembakkan masa berhamburan dan dua mobil terbakar di halaman markas. Sebelum menemui peserta aksi, Sultan lebih dahulu bertemu dengan Kapolda DIY yaitu Irjen Paul Anggoro Sukartono. Nah, beliau kemudian meminta delan pendemo yang sempat diamankan aparat untuk dibebaskan. Saat itu beliau bilang bahwa beliau sudah berbicara dengan Bapak Kapolda. Bersama beliau juga ada delan orang yang diamankan semua sekaligus itu adalah teman-teman mereka. Kata Sultan Hameng Kubuwono 10 ini, dia berharap pembebasan orang tersebut dapat membuka ruang dialog berkelanjutan antara pemerintah, kepolisian, dan masyarakat. Dan dia juga menyatakan siap menjadi penghubung aspirasi warga ke pemerintah pusat. Nah, jadi di Jogja itu ada part di mana tensinya tinggi banget, emosi parah. Tapi ketika Sri Sultan Hameng Kubuonya datang, mereka masyarakatnya meredam karena yang berbicara adalah orang yang mereka hormati dan mereka hargai. Oke, selanjutnya kita akan membahas yang terjadi di Banten nih, Geng. Yaitu demo tentang DPR ini juga. Jadi, geng, demo selanjutnya ini pecah di daerah Serang Banten, tepatnya di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten atau KP3B pada hari Kamis tanggal 28 Agustus 2025 yang mana di saat itu ratusan buruh dari Tangerang Raya mulai dari kota Tangerang, Kabupaten Tangerang sampai Tangsel turun ke jalan. Mereka enggak cuma datang buat orasi, tapi juga buat ngasih tuntutan secara langsung ke Gubernur Banten. Tuntutannya adalah mereka meminta agar pemerintah menaikkan upah minimum tahun 2026 sebesar 8,5%. Menghapus sistem outsourcing, membentuk Satgas PHK, serta mereka juga menuntut reformasi pajak untuk buruh. Aksi ini bukan bagian dari demo nasional di Jakarta, tapi gerakan lokal orang-orang yang ada di sekitar sana aja. yang mana ini digalang oleh berbagai serikat pekerja kayak FS PMI, SPN, dan FS CAP SPSI dan juga aliansi buruh dari kawasan industri Jawilan Cikande. Mereka mulai kumpul dari pagi di sekretariat FS PMI Jati Uwung lalu konvoi ke KP3B. Sepanjang jalan mereka teriakan tolak upah murah dan juga outsourcing sama dengan perbudakan modern. Nah, itu menggema lah sepanjang perjalanan mereka. Spanduk mereka dikibarkan. Poster tuntutan diangkat tinggi-tinggi dan sebagian buruh bahkan bawa simbol visual kayak rantai putus dan boneka tikus kantor. Terus, Geng, Ketua DPW FS PMI Banten yang bernama Tukimin menyatakan bahwa aksi ini adalah gerakan lokal untuk mendesak Gubernur Banten agar menandatangani surat rekomendasi kenaikan upah pekerja tahun depan sebesar 8,5%. Seruan aksi ini merupakan bagian dari rangkaian tuntutan lebih besar yang mencakup penghapusan outsourcing, pembentukan Satgas PHK, reformasi pajak atau PTKP, THR, dan juga JHT, serta mendesak pengesahan RUU Ketenagakerjaan, RUU perampasan aset, dan revisi RUU Pemilu. Mereka menyebutkan gerakan nasional ini sebagai hostum atau hapus outsourcing, tolak upah murah. Mereka juga membawa tuntutan yang enggak main-main. Selain kenaikan upah dan penghapusan outsourcing, guru juga minta dibentuknya Satgas PHK untuk mengawasi pemutusan kerja sepihak. Reformasi pajak seperti PTKP dinaikkan jadi 7,5 juta per bulan, dan selanjutnya hapus pajak atas pesangon, THR, dan JHT. Dan juga yang terakhir mereka juga minta untuk pengesahan RUU ketenagakerjaan yang nonomnibus lawu serta RUU perampasan aset. Karena takut kondisi semakin enggak kondusif, akhirnya Dinas Pendidikan Banten sempat mengeluarkan surat edaran larangan para pelajar untuk ikut demo. Tapi tetap aja ada laporan kalau pelajar sempat ditangkap karena diduga ingin bergabung dalam aksi ini. Ini membuktikan bahwa gerakan buruh sudah mulai menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas. Nah, tapi untungnya di dalam demo ini enggak terjadi kerusuhan yang gimana-gimana banget kayak di Medan ataupun di Jakarta. Jadi, masih tergolong tertib. Nah, itu dia, Geng. Salah satu demo yang juga tuntutannya jelas untuk mensejahterakan buruh. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai beberapa demo yang belakangan terjadi ya, yang masih banyak banget daerah-daerah tersebut seperti Surabaya, Manahan Solo, dan masih banyak lagi. Eh, tapi enggak mungkin gua ceritakan satu-satu. Gimana menurut kalian, Geng, tentang kejadian ini di negara kita? Coba tinggalkan komentar di bawah.