Transcript
w-o30lPBBpw • INDONESIAN SILAT FIGHTERS IN JAPAN EMBARRASS THE NATION? OTHER WORKERS ARE THREATENED OF BEING BL...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1497_w-o30lPBBpw.txt
Kind: captions
Language: id
Kali ini kita bakal membahas sebuah
topik yang enggak cuma bikin gempar di
Jepang, tapi juga bikin kita sebagai
orang Indonesia harus mikir ulang soal
dampak sikap beberapa individu terhadap
citra bangsa. Kenapa gua katakan seperti
itu dan kenapa gua anggap ini penting?
ya. Karena ini bukan soal satu dua orang
yang bikin tapi soal bagaimana perilaku
sebagian besar warga negara Indonesia
yang sedang bekerja di Jepang. Yang mana
ini bikin resah yang y ini bikin resah
buat warga lokal Jepang sendiri maupun
komunitas Indonesia yang ada di sana
yang enggak ikut-ikutan bikin resah.
Ibaratnya belakangan ini, Geng, banyak
kasus mencuat. Mulai dari perampokan
yang dilakukan oleh warga negara
Indonesia dan ada juga yang udah
overstay di sana alias tinggal di Jepang
secara ilegal. sampai ada kasus
penghilangan nyawa sesama WNI yang bikin
warga lokal Jepang dan pemerintah Jepang
jadi geleng-geleng kepala sesama dia aja
tuh saling habis-ngabisin. Nah, enggak
cukup sampai di situ. Ada juga video
viral soal komunitas silat Indonesia
yang memasang spanduk organisasi mereka
di jembatan publik Jepang yang mana
aksinya ini dianggap mengganggu
ketertiban dan merusak citra Indonesia.
Yang bikin kasus ini makin rumit, Geng.
Kenyataannya bahwa Jepang sendiri sedang
gencar-gencarnya membuka pintu bagi
tenaga kerja asing karena masalah
demografi mereka yang mana populasi
mereka menurun dan udah banyak orang tua
di sana sehingga tenaga kerja mereka
kurang. Indonesia menjadi salah satu
pengirim tenaga kerja terbesar dan itu
bikin kita punya posisi penting di mata
orang Jepang. Nah, tapi ketika
kasus-kasus kayak gini mencuat,
tiba-tiba sorotan berubah. Dari pekerja
keras dan bersahabat ya yang mereka
lihat terhadap orang Indonesia, sekarang
mereka malah melihat ini sebagai ancaman
sosial yang harus diwaspadai. Nah,
pertanyaannya sekarang, kenapa hal ini
bisa terjadi? Apakah karena tekanan
ekonomi, minimnya edukasi soal budaya
lokal, atau ada sistem yang longgar
sehingga pelaku bisa lolos begitu aja?
Dan yang enggak kalah penting, apa
reaksi pemerintah Jepang dan Indonesia
soal ini? Nah, di video kali ini kita
bakal membahas semua problem ini, Geng.
Lihat bagaimana media Jepang membingkai
pemberitaan soal ini dan juga ya warga
Jepang sikapnya kayak gimana. Langsung
aja kita mulai pembahasannya. Halo,
Geng. Welcome back to Kamar Jerry.
[Musik]
Geng. Oke, sebelumnya kita bahas dulu
nih, Geng. Kenapa banyak warga negara
Indonesia di Jepang sehingga kejadian
kayak gini bisa terjadi?
Geng, sebelum masuk ke dalam pembahasan
keresahan warga Jepang terhadap beberapa
warga Indonesia yang ada di negara
mereka, ada baiknya kita bahas dulu ya,
kenapa bisa ya banyak warga negara kita
di sana. Jadi menurut data yang gua
dapat dari salah satu website nih ya,
krisis kependudukan yang terjadi di
Jepang adalah penyebab tingginya angka
pekerja asing, salah satunya negara
kita. Jadi menurut The Japan Times,
penduduk Jepang itu termasuk yang
residen asing pada 1 Januari 2023 itu
sebanyak 125.416.87
orang. Nah, angka tersebut turun
sebanyak 511.000 orang dari tahun
sebelumnya yaitu tahun 2022. Yang mana
akhirnya karena jumlah penduduk mereka
terus menurun, terutama karena angka
kelahiran yang rendah dan populasi yang
sudah mulai menua. Bahkan menurut data
Kementerian Kesehatan Jepang, kelahiran
di Paruh pertama 2024 cuma ada 350.000
jiwa dan angka ini merupakan yang
terendah sejak 1969. Yang mana akibatnya
Jepang kekurangan tenaga kerja di
berbagai sektor dan di sinilah Indonesia
masuk sebagai mitra strategis untuk
Jepang. Warga negara Indonesia dianggap
punya etos kerja tinggi di saat itu,
disiplin, dan juga cepat beradaptasi
dengan budaya Jepang. Nah, itu anggapan
awalnya bagi orang-orang Jepang terhadap
orang kita. Bahkan nih, Geng, Gubernur
Prefektur Miagi, yaitu yang bernama
Yoshi Hiro Murai itu menyambut baik
dengan adanya fenomena baru ini. Hal ini
dikarenakan Jepang mengalami pengurangan
ee populasi, manusianya makin sedikit
sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja
terampil untuk pertumbuhan ekonomi. Nah,
mereka bilang ada orang asing sah-sah
aja. Oleh karena itu ya mereka sangat
berharap sebanyak mungkin orang
Indonesia yang datang tidak hanya
sebagai pekerja atau peserta magang,
tapi juga suatu saat mereka memilih
Jepang sebagai tempat tinggal untuk
selama-lamanya. Nah, untuk itu mereka
sangat berharap untuk ke depannya. Jadi
memang tidak akan dibatasi saat ini.
Nah, hal ini disampaikan oleh Yoshiro
saat ditemui oleh wartawan di dalam
acara penandatanganan perjanjian kerja
sama antara Prefektur Miagi dan PT OS
Selna Jaya untuk penempatan SDM atau
sumber daya manusia Indonesia di Menara
Astra Jakarta Pusat pada Kamis 27 Juli
tahun 2023. Lebih lanjut, Yoshi Hiro
Murai juga memuji bahwa dipilihnya
Indonesia sebagai salah satu negara
untuk penempatan tenaga kerja di Jepang
karena warga Indonesia dinilai sebagai
orang yang jujur, terus rajin, dan
menyukai budaya Jepang. Nah, setelah dia
memuji itu, dia sangat berharap orang
Indonesia yang datang juga sifatnya yang
baik-baik, jujur, dan rajin. Mereka
sangat senang sekali karena untuk
mewujudkan hal itu yang sangat penting
itu adalah kerja sama. Dan di dalam hal
ini mereka sangat menyambut baik
penandatanganan nota kerja sama baik
ini. Kurang lebih gitulah kata gubernur
dari prefektur Miagi yaitu Yoshi Hiro
Murai yang mendukung program ini. Geng.
Dilihat dari penjelasan tersebut, jumlah
tenaga kerja Indonesia yang bekerja di
Jepang itu terus meningkat. Bukan hanya
karena gaji tinggi, tetapi juga karena
Jepang membuka banyak kesempatan di
berbagai bidang untuk para pekerja
asing. Pemerintah Jepang pun membuka
pintu lewat program seperti SSW atau
specified skilled worker yang mana ini
program adalah program yang
diperuntukkan bagi pekerja yang memiliki
keterampilan khusus dan juga TITP
technical intern training program. TP
ini atau TP ini adalah pengembangan
pribadi yaitu setiap peserta pelatihan
itu mendapatkan kesempatan untuk
berinteraksi, belajar dan bekerja dengan
orang-orang dari berbagai negara serta
budaya ya di tempat kerja mereka. Dan
kedua program ini memungkinkan para WNI
bekerja secara legal di sektor seperti
pabrik, pertanian, perhotelan, dan
perawatan lansia. Nah, jadi ada tuh
kerjaannya yang buat maaf ya kayak e apa
ya? Semacam pembantu tapi di panti
sosial gitu kurang lebih kayak gitu,
Geng. Ada juga yang di rumah-rumah untuk
jaga nenek-nenek. Terus selain itu,
Geng, ada beberapa alasan lain yang
menjadi faktor pendorong banyaknya
pekerja Indonesia di Jepang. Yang kurang
lebih itu ya karena gaji yang lebih
tinggi dibandingkan di Indonesia. Dan
rata-rata gaji di sana itu ya bisa
mencapai Rp150.000 sampai dengan
R250.000 yen per bulan atau sekitar 16
sampai Rp27 juta. Nah, tapi ini juga
tergantung wilayah dan jenis pekerjaan
yang ditawarkan. Terus selanjutnya biaya
hidup yang terjangkau dengan catatan
sistem kerja yang teratur. Meskipun
biaya hidup di Jepang tinggi, tapi
pekerja asing biasanya mendapatkan
fasilitas seperti tempat tinggal yang
murah, subsidi makan, terus ada
transportasi dari perusahaan sehingga
pengeluaran mereka itu bisa dikendalikan
dan tabungan mereka tetap aman. Nah,
yang terakhir tuh sudah pasti kebutuhan
tenaga kerja di Jepang sangat besar.
Jadi kesempatan untuk dapat kerja tuh
lebih banyak gitu.
Nah, seperti yang dikatakan tadi ya,
Jepang itu sedang mengalami krisis
tenaga kerja karena populasi mereka yang
sudah menurun. Dan untuk itu pemerintah
Jepang membuka lowongan kerja yang
banyak banget untuk orang-orang asing,
terutama di bidang perhotelan, restoran,
pabrik, dan manufaktur, pertanian,
perikanan, konstruksi, terus perawat
lansia, bahkan sampai dengan di bidang
IT dan juga engineering. Bagi yang sudah
berpengalaman tuh banyak di sana. Kalau
kerjaan jadi YouTuber ada enggak ya?
Kalau ada mau dong. Nah, terus geng
gimana menurut kalian? Apa mulai kerasa
belum kesenjangan pekerja antara di Indo
dengan di Jepang? Mungkin dari sini juga
ya e bisa memotivasi kalian untuk
bekerja di Jepang dan semakin
meningkatlah gairah kalian untuk
merantau. Dan ini semua terbukti dari
hasil survei yang dilakukan oleh
perusahaan rekrutmen yang ada di Jepang
yaitu Minavi Global yang mengadakan
survei dengan responden sebesar 582
pelajar asing dan warga negara asing
yang ingin bekerja di Jepang. Dan
hasilnya sebanyak 91% responden itu
menyatakan keinginan mereka untuk
bekerja di Jepang bahkan setelah status
kependudukan mereka saat ini berakhir.
Nah, terus selanjutnya sebanyak 94,4%
warga Indonesia itu menyatakan keinginan
mereka untuk terus bekerja di Jepang.
Sesuai dengan table hasil survei di
atas, banyak orang-orang Indonesia yang
merasa puas dengan kehidupan mereka di
Jepang dan berniat untuk terus bekerja
di sana. Hal ini menunjukkan bahwa pasar
tenaga kerja Jepang itu menarik bagi
warga Indonesia. Dan di sisi lain ya,
warga Jepang bersiap untuk menerima
mereka dan mereka tuh sangat berharap
saling pengertian lah antara warga
Jepang dengan Indonesia yang semakin
mendalam saat ini sehingga menghasilkan
hubungan yang saling menguntungkan bagi
kedua negara. Nah, tapi sayangnya nih,
Geng ya, harapan mereka untuk bisa
bekerja sama dengan baik dengan
Indonesia ternyata akhir-akhir ini malah
mengecewakan. Ya, malah yang ada banyak
oknum-oknum WNI yang membuat resah,
onar, bahkan membuat masyarakat Jepang
tuh jadi risih. Mulai dari ada yang
overstay, ada yang terjebak hutang, ada
yang judul, bahkan ada yang sampai
menghilangkan nyawa. Karena ya gitulah
ulah dari oknum-oknum itu. Dan sekarang
kita bakal masuk ke dalam pembahasan
keresahan yang ditimbulkan oleh oknum
WNI di Jepang.
Jadi, Geng, kasus yang pertama ini
adalah e yang dilakukan oleh seorang WNI
yang bernama Yogi Ageng Prayogo. Usianya
itu 24 tahun yang awalnya dia datang ke
Jepang sebagai peserta magang di
perusahaan bahan bangunan di daerah
Kakegawa Prefektur Sizuka yang mana dia
malah berakhir di balik kurungan
penjara. Kenapa? Ya, karena dia ini
nekad melakukan percobaan penghilangan
nyawa terhadap pasangan lansia Jepang
demi bisa melunasi hutang judul. Kasus
ini sebenarnya pernah gua bahas di video
gua yang sebelumnya yang ini nih. Nah,
jadi gua bakal bahas singkat aja ya buat
reminder aja mungkin di antara kalian
ada yang belum tahu kasus ini dan
mungkin lupa gitu. Nah, jadi kejadiannya
itu pada Rabu tanggal 18 November 2024
sekitar jam 15 sore waktu Jepang. Yogi
ini datang ke rumah si korban yang
berada di daerah Kuniasu, kawasan yang
benar-benar sepi dan dikelilingi oleh
sawah. Dia menekan intercom di saat itu
dan intercomnya berbunyi. Nah, begitu
pintu dibuka oleh seorang wanita lansia
yang berusia 78 tahun, Yogi ini langsung
muncul dari samping dan memukul wajah
serta dada si lansia itu. Lalu dia juga
melakukan tindakan yang lain. Yang jelas
tuh kekerasan lah. Nah, di saat itu
putri dari lansia tersebut atau anak
dari korban ini baru pulang dan dia
langsung terlibat perkelahian dengan si
pelaku. Suami si korban ya usianya 81
tahun udah tua banget. Dia langsung
keluar dan ikut diserang. Dan meski
terluka parah, ternyata ya suaminya ini
berhasil mendorong si Yogi ini keluar
dari rumah. Tapi di saat itu Yogi ini
berhasil kabur. Nah, cuma dia
meninggalkan barang bukti berupa pisau,
sendal, dan masker di lokasi kejadian.
Setelah 10 hari penyelidikan, polisi
Jepang berhasil menangkap Yogi di asrama
tempat dia tinggal cuma 1,5 sampai 2 km
dari TKP lah, yang mana akhirnya dia
dikenakan pasal percobaan penghilangan
nyawa dan juga perampokan. Di dalam
pemeriksaan itu, Yogi mengaku melakukan
penyerangan, tapi dia membantah eh
berniat untuk menghabisi nyawa korban.
Dia bilang dia tuh cuma pengin ngerampok
aja gitu. Dan ketika dicek motifnya,
ternyata dia terjerat hutang akibat
judul. Dan KBRI Tokyo langsung turun
tangan dan memberikan pendampingan
hukum. Direktur perlindungan WNI
Kementerian Luar Negeri RI yang bernama
Pak Juda Nugraha itu menyatakan bahwa
Yogi ini sudah berada di Jepang selama 2
tahun dan tindakannya itu mencoreng nama
baik Indonesia di mata publik Jepang.
Nah, itu baru kasus yang pertama, Geng.
Bikin malu gara-gara nyila setitik rusak
susu sebelang. Dia yang makan nangka,
kita yang kena getahnya. Ya kan? Kacau
banget tuh. Oke, kita ke kasus yang
selanjutnya yang membuat masyarakat
Jepang dengan warga negara Indonesia di
sana. Jadi kasus yang satu ini sempat
viral dan kasus ini bikin banyak orang
Indonesia di Jepang merasa malu
sekaligus prihatin. Yaitu seorang WNI
yang baru sebulan tinggal di Jepang dan
kedapatan melakukan aksi pencurian di
sebuah sekolah. alasannya demi biaya
pengobatan orang tuanya yang sakit di
tanah air. Motifnya memang menyentuh
hati ya, sedih gitu. Tapi caranya dia
yang salah, Geng. Jadi, kejadian ini
mencuat setelah seorang YouTuber asal
Indonesia yang menetap di Jepang yang
bernama Dian Kusuma alias nama akunnya
tuh Neo Japan itu mendapatkan telepon
langsung dari pejabat Jepang. Di dalam
percakapan yang dia unggah di media
sosial, sang pejabat itu menyampaikan
dia sangat kecewa terhadap pelaku dan
menyayangkan bahwa tindakan satu orang
bisa berdampak buruk terhadap komunitas
Indonesia secara keseluruhan. Nah,
bahkan sekolah di mana tempat kejadian
itu berlangsung menolak menerima siswa
asal Indonesia di masa mendatang saking
mereka tuh tersinggung dan sakit
hatinya. Pejabat Jepang tersebut
menyebutkan bahwa pelaku adalah
pendatang baru dan belum genap 1 bulan
tinggal di Jepang. Dia nekad mencuri
uang di sekolah ya dengan alasan ingin
membantu biaya pengobatan orang tuanya
yang sedang sakit di kampung. Tapi di
Jepang tindakan seperti ini tidak bisa
ditoleransi. Apapun alasannya, negara
ini menjunjung tinggi hukum dan etika
sosial, Geng. Dan pelanggaran sekecil
apapun bisa berujung pada denda, proses
hukum, bahkan dideportasi, dipulangkan
tuh ke negara asal. Di saat itu Neo
Japan yang selama ini dikenal sebagai
influencer yang memperkenalkan budaya
Indonesia di Jepang itu mengaku malu dan
kecewa banget. Dia merasa seolah ya
mewakili seluruh warga negara Indonesia
di Jepang karena sering dihubungi
langsung oleh pejabat setempat setiap
kali ada masalah yang berhubungan dengan
WNI. Dan di dalam unggahannya dia, dia
menghimbau agar WNI yang tinggal di
Jepang menjaga nama baik bangsa,
menghormati budaya lokal, dan tidak
membawa kebiasaan buruk dari kampung
atau dari Indonesia ke negara orang.
Nih, gua setuju banget nih. Aduh, gua
rencana pengen jalan-jalan ke Jepang nih
gara-gara orang begini nih. Aduh, hancur
deh
gua. Public figure. Gua ditegur sama
orang Jepang. Bukan ditegur dimarahin
gua kan, tapi dia ngasih tahu kok
Indonesia begini ya? Kok siswanya
begini? Kan malu gua. Kan gua orang
Indonesia.
Come on lah teman-teman ini yang
baru-baru datang jangan ngeremehin
hal-hal seperti itu ya. Baru nyampai
Jepang jangan ngeremehin yang
begitu-gitu enggak usah gitu ya.
Masalahnya di tempat lain pasti orang
Jepang ngajar gua juga ngasih tahu gua
juga untuk ngasih tahu ke kalian. Dia
harus kuning si Mas.
Malu gua.
Oke. Huh.
Selanjutnya kita bakal e membahas nih ya
tentang penghilangan nyawa yang
dilakukan oleh WNI terhadap WNI lain.
Nah, ini menjadi salah satu keresahan
dari warga Jepang juga. Ini bisa kalian
bayangkan ya, Geng. Kalian tinggal di
negeri orang jauh dari keluarga, lagi
kerja keras demi masa depan. Tapi justru
di sana kalian harus menghadapi ancaman
dari sesama warga negara sendiri. Nah,
itulah yang terjadi di daerah Isesaki
Prefektur Gunma yang ada di Jepang pada
tanggal 3 November 2024. sebuah tragedi
yang bikin banyak orang Indonesia di
Jepang merasa was-was dan malu. Jadi
kejadiannya itu bermula ketika seorang
pria warga negara Indonesia berusia 37
tahun ditemukan meninggal dunia dengan
luka tusuk di sebuah apartemen di daerah
Kamisuacho, kota Isisaki, Prefektur
Gunma. Nah, diketahui pria tersebut
bernama Abdur Rahman. Jadi si
Abdurrahman ini merupakan seorang pria
Indonesia dengan alamat dan pekerjaan
yang tidak diketahui. Dia itu ditemukan
berlumuran cairan merah tiba dan pinsan
di halaman sebuah rumah pribadi yang ada
di daerah sana. Dia akhirnya dipastikan
meninggal dunia di rumah sakit tempat
dia akhirnya dibawa diberikan
pertolongan. Dan kepolisian prefektur
kemudian menyelidiki kasus ini sebagai
kasus penghilangan nyawa karena terdapat
beberapa luka di punggung dan juga
lengannya dia yang tampaknya disebabkan
karena ditikam menggunakan sajam.
Setelah diselidiki lagi, geng, polisi
juga menemukan seorang pria Indonesia
yang juga diketahui berumur 24 tahun
dengan alamat dan pekerjaan yang tidak
diketahui. Dia ditemukan pingsan dengan
luka di bahunya di sebuah pemakaman
sekitar 200 m di sebelah tenggara
apartemen. Jadi, selain itu ditemukan
juga dua pria yang merupakan warga
negara Indonesia lagi yang mengalami
luka serius di dalam sebuah kendaraan
penumpang yang terparkir itu sekitar 1
km di sebelah barat apartemen tersebut.
Dan kepolisian prefektur sedang
menyelidiki apakah ada hubungan di
antara mereka ini karena ditemukan dalam
kondisi yang mirip banget dan waktu yang
berdekatan. Nah, atau ini cuma sebuah
kebetulan? Dan setelah itu mereka
bertiga akhirnya langsung dilarikan ke
rumah sakit dan polisi Jepang langsung
bergerak cepat nih. Di dalam waktu
singkat, akhirnya ditangkaplah beberapa
pelaku dari kasus ini. Awalnya polisi
itu membekuk en orang WNI terlebih
dahulu di tanggal 14 Januari. Sehari
kemudian pada tanggal 15 Januari lima
orang lagi ditangkap dan semuanya
menjadi total tersangkanya itu sekitar
11 orang. Dan menurut hasil
penyelidikan, komplotan pelaku masuk ke
apartemen para korban yang terluka ini
dengan membawa pisau dapur dan juga
linggis. Dan diduga tujuan mereka adalah
untuk merampok uang dan barang-barang
berharga. Gila enggak tuh? Sesama WNI
aja saling ngerampok. Nah, tapi aksi
mereka ini berujung fatal karena
korban-korbannya tewas dan tiga lainnya
itu terluka. Dan yang bikin kasus ini
makin rumit adalah faktanya bahwa semua
pelaku dan korban merupakan orang-orang
Indonesia yang overstay alias tinggal di
Jepang melebihi izin resmi. Emang enggak
punya otak. Nah, terus geng salah satu
tersangka yang disebut di dalam media
itu bernama Luis Vigo Richard Roger
Matandatu. Umurnya 22 tahun. Dia diduga
sebagai pelaku yang menikam. Dan ada
juga Hendrawan umur 38 tahun. Dia ini
pengangguran tanpa alamat tetap yang
diduga ikut menyerang korban sambil
membawa senjata. Polisi Jepang
menetapkan dua dakwaan utama terhadap
para tersangka ini, yaitu pelanggaran
keimigrasian dan penghilangan nyawa.
Sementara Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia melalui Direktur
Perlindungan WNI yang bernama Juda
Nugraha menyatakan bahwa KBRI Tokyo
terus memantau proses hukum dan
memberikan pendampingan agar hak-hak
para tersangka ya tetap terpenuhi gitu.
Tetap dibantulah sama negara. Tapi
sementara itu, jenazah para korban yang
merupakan orang Indonesia juga akhirnya
dipulangkan ke Indonesia pada tanggal 11
Januari tahun 2025. Ada infonya nih,
Geng, bahwa para pelaku dan korban ini
sebenarnya saling mengenal ya ee apa ya
ya teman mungkin ya. Dan mereka ini
berasal dari komunitas yang sama.
Sama-sama datang ke Jepang dengan
harapan hidup lebih baik tapi justru
berakhir di dalam konflik yang
mengerikan. Motifnya lagi-lagi tekanan
ekonomi dan gaya hidup yang enggak
sehat, termasuk dugaan keterlibatan di
dalam judul. Nah, dari kasus ini
terlihat bahwa bukan cuma soal
kriminalitas, tapi juga soal gagalnya
solidaritas dan edukasi budaya. Ketika
ke kampung orang jadi enggak saling
bersaudara lagi, malah bersaing gitu.
Dan ketika komunitas diaspora enggak
punya ruang aman, enggak ada pembinaan,
dan hidup di dalam tekanan, potensi
konflik internal jadi makin besar dan
terjadilah penghilangan nyawa kayak
gini.
Oke, sekarang kita masuk ke kasus yang
lain. Ini ada juga nih tiga WNI yang
ditangkap oleh kepolisian Ibaraki atas
kasus perampokan di kota Hokota, Jepang.
Mereka merampok sebuah rumah warga lokal
dan mendorong korban hingga terluka
parah sebelum akhirnya kabur. Identitas
dari para pelaku ini namanya yang
pertama itu Bayu Rudiarto umur 34 tahun,
Nanda Arifianto umur 33 tahun, dan Jaka
Sandra umur 23 tahun. Mereka ini
diketahui ya overstay juga dan tinggal
ilegal di sebuah hotel. Penangkapan
mereka terjadi setelah 6 bulan
penyelidikan dan kasus ini memucu
kecaman dari publik dan pejabat
Indonesia juga. Nah, Komisi 9 DPR RI itu
menyebutkan kasus ini sebagai alarm
serius atas lemahnya pengawasan migran.
Menteri P2 MI itu menegaskan kalau eh
pelaku ini tidak terdaftar sebagai PMI
resmi dan menggaris bawahi perlunya
reformasi sistem pengiriman tenaga kerja
ke luar negeri biar enggak malu-maluin
gitu. Nah, untuk info yang satu ini
emang enggak lengkap ya, enggak panjang
gitu. Tapi singkat aja kalian bisa paham
ya bahwa pernah terjadi hal ini. Nah,
terus geng kita ke kasus yang terakhir.
Kasus yang terakhir ini adalah aksi yang
meresahkan yang dilakukan oleh WNI
dengan membentangkan bendera salah satu
organisasi silat yang ada di Indonesia.
Ini mohon maaf ya buat teman-teman
komunitas silat ini. E gua menyampaikan
ini tidak untuk menyamaaratakan semuanya
karena ini bisa dikatakan oknum gitu ya.
Okum yang berada di Jepang. Gua enggak
tahu yang di Indonesia itu ngapain aja
ya. Ngelakuin apa aja positif negatif
gua enggak tahu. Tapi yang jelas yang di
Jepang ini ini benar-benar bikin malu.
Jadi nama komunitasnya itu adalah PSHT
Persatuan Setia Hati Terate yang viral
karena membentangkan spanduk besar di
fasilitas umum. Bukan soal kriminal
berat seperti perampokan atau
penghilangan nyawa, tapi ini tetap
berdampak besar terhadap citra Indonesia
di mata warga Jepang dan komunitas
diaspora. Di dalam video yang beredar
luas di media sosial terlihat sekelompok
WNI mengenakan atribut PSHT, kaos hitam
dan sabuk putih berkumpul di pinggir
sungai dan membentangkan spanduk besar
di pagar jembatan umum di Tokyo. Mereka
tampak melakukan pemanasan, latihan
ringan, dan berfoto bareng-bareng. Buat
sebagian orang Indonesia, aksi ini
mungkin terlihat sebagai bentuk ekspresi
budaya atau kebanggaan komunitas. Nah,
tapi bagi warga Jepang yang sangat
menyunjung tinggi keteraturan dan etika
ruang publik, aksi tersebut dianggap
mengganggu ketertiban dan mencoreng nama
Indonesia. Ya, mengganggu ketertiban
umum. Kayak orang-orang di sana tuh
risih, enggak nyaman gitu. Ngapain sih
bentang-bentang spanduk? Di sana kan ada
aturannya, enggak kayak di negara kita
apa-apa tuh bisa ditempel-tempel aja
gitu. Video itu langsung viral dan
menuai komentar pedas dari netizen.
Banyak yang menyayangkan aksi tersebut
dan menunjukkan betapa risihnya
masyarakat terhadap aksi yang dinilai
memalukan ini. Bahkan media seperti ID
and Times sampai mengangkat memes-memes
sindiran terhadap PSHT. Seperti
membandingkan komunitas PSHT dengan
komunitas mie ayam hingga membandingkan
ee dengan budaya pacu jalur. Mereka juga
menyoroti bagaimana satu aksi bisa
merusak reputasi seluruh komunitas.
Menanggapi kehebohan ini, PSHT cabang
Jepang langsung mendatangi KBRI Tokyo
dan menyampaikan permohonan maaf. Mereka
mengklarifikasi bahwa video tersebut
direkam sekitar 3 tahun lalu dan
beberapa anggota yang terekam sudah
kembali ke Indonesia. Bahkan mereka juga
mengakui bahwa aksi tersebut tidak
melalui koordinasi dengan otoritas
setempat dan menyatakan komitmen untuk
berbenah. Jadi mereka menyesalah. Mereka
minta maaf. Dan langkah-langkah yang
mereka ambil antara lain tidak lagi
menggunakan atribut organisasi di ruang
publik tanpa izin, berkoordinasi dengan
kepolisian Jepang dalam setiap kegiatan,
serta menegur anggota yang melanggar
aturan internal. Gua enggak kebayang ya,
tiba-tiba mereka lagi kayak gitu ketemu
sama Yakuza gitu ya, dibacok-bocokin
kali. Dan dampak dari hal ini tidak
berhenti di situ, Geng. Banyak pekerja
migran Indonesia atau PMI di Jepang yang
merasa kena imbas. Mereka khawatir citra
pekerja Indonesia yang selama ini
dikenal disiplin dan ramah akan
terdistorsi hanya karena ulah segelintir
orang. Bahkan sempat muncul isu bahwa
Jepang akan menghentikan penerimaan
pekerja Indonesia mulai tahun 2026.
Namun isu ini langsung dibantah oleh
KBRI Tokyo yang menegaskan bahwa enggak
ada kebijakan resmi dari pemerintah
Jepang terkait larangan tersebut. Nah,
jadi itu mungkin ya cuma isuah isu yang
dibangun setelah kejadian ini.
Dan KBRI Tokyo juga menegaskan bahwa
mayoritas WNI di Jepang adalah pekerja
dan pelajar yang berkontribusi positif.
Mereka juga berupaya mengonsolidasikan
komunitas WNI di Jepang agar
mempromosikan Indonesia dengan sangat
baik. Mereka menghimbau agar seluruh WNI
menjaga etika, norma hukum, dan citra
bangsa di negeri orang. Di dalam siaran
persnya ya, KBRI menyebutkan bahwa
hubungan Indonesia dan Jepang tetap
harmonis dan perlu dijaga oleh semua
pihak. Nah, itu dia geng beberapa
kelakuan-kelakuan WNI di sana yang
membuat resah dan memalukan. Sekarang
kita akan masuk ke dalam pembahasan
bagaimana reaksi netizen dan media
tentang hal ini. Kita bahas.
Jadi kalau kita bicara soal dampak dari
reaksi komunitas eh silat tadi di
Jepang, enggak bisa lepas dari reaksi
publik dan media yang muncul setelah
video itu viral, Geng. Bukan cuma
komentar iseng di media sosial, tapi
juga muncul sentimen serius yang
menyentuh isu diplomatik, reputasi
nasional, bahkan masa depan pekerja
migran Indonesia yang ada di Jepang.
Begitu video membentangkan spanduk silat
tadi di jembatan Tokyo beredar, jagat
maya langsung meledak. Komentar netizen
Indonesia itu bermunculan dari yang
menyindir, mencibir sampai yang
terang-terangan menyatakan malu jadi
orang Indonesia. Dan tagar seperti
hashag malu jadi orang Indonesia dan
blacklist imigran itu sempat muncul di
berbagai unggahan dan menunjukkan betapa
kuatnya rasa kecewa publik terhadap aksi
yang dianggap tidak menghormati budaya
lokal. Dan beberapa komentar bahkan
ekstrem. Bahkan ada yang berharap agar
organisasi tersebut dibasmi oleh yakuza.
Tentu ini adalah bentuk frustasi yang
enggak bisa dibenarkan gitu ya. Tapi
mencerminkan keresahan mendalam bahwa
ulah segelintir oknum bisa merusak citra
seluruh bangsa. Dan di sisi lain muncul
juga video klarifikasi dari PSHT cabang
Jepang yang menunjukkan mereka berjoget
bersama warga lokal sebagai bukti bahwa
mereka diterima dengan baik. Tapi video
itu justru memicu perdebatan baru karena
warga Jepang yang terlihat di dalam
video itu hanya sedang melakukan senam
pagi rutin dan anggota PSHT ini dianggap
kayak nimbrung doang tanpa diundang.
Nah, banyak pihak yang menyoroti bahwa
aksi ini bukan hanya soal pelanggaran
etika tapi juga berpotensi mengganggu
hubungan bilateral. Nah, KBRI Tokyo
mengatakan ya, Indonesia dan Jepang
memiliki hubungan yang sangat baik dan
telah terjalin selama 67 tahun dan
menegaskan hubungan tersebut perlu
dijaga terus-menerus dan diperkuat oleh
semua pihak. Dan KBRI Tokyo juga
menyatakan bahwa mayoritas WNI di Jepang
adalah pekerja dan pelajar yang
berkontribusi positif. Tapi juga mereka
mengingatkan bahwa pengawasan terhadap
komunitas WNI bakal diperketat terutama
setelah meningkatnya keluhan dari warga
lokal. Nah, media seperti detik.com,
Kompas TV juga mencatat bahwa PSHT
cabang Jepang sudah menyampaikan
permohonan maaf dan berkomitmen untuk
berbenah. Nah, tapi ya kita enggak tahu
ya ke depannya gimana.
Namun, geng, meskipun klarifikasi sudah
dilakukan, kepercayaan publik belum
sepenuhnya pulih. Banyak yang menilai
bahwa permintaan maaf aja itu enggak
cukup kalau tidak dibarengi dengan
perubahan nyata di dalam cara komunitas
diaspora ini berinteraksi dengan budaya
lokal. Reaksi publik dan media ini
menunjukkan bahwa di era digital satu
video bisa berdampak global dan sebagai
warga negara kita punya tanggung jawab
untuk menjaga nama baik bangsa terutama
di negeri orang di mana setiap tindakan
bisa jadi sorotan.
Oke, itu dia geng pembahasan kita hari
ini mengenai beberapa oknum WNI yang
bikin resah di Jepang dan bikin malu
negara. Gimana geng menurut kalian? Coba
tinggalkan komentar di bawah.