Transcript
NqvayoZp9iE • INTIMIDASI IBADAH KRISTEN DI SUKABUMI ! TOLERANSI SEMAKIN BERKURANG ?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1474_NqvayoZp9iE.txt
Kind: captions
Language: id
Geng-geng, hari ini kita bakal membahas
kasus yang terjadi di dalam negeri yang
berhubungan dengan aktivitas keagamaan.
Jujur ya, pembahasan gue ini tidak
bermaksud untuk ya menyalahkan salah
satu pihak, menyudutkan salah satu
pihak, enggak sama sekali. Oke, di sini
murni gua cuma pengin menyampaikan
informasi dan semoga bisa menjadi
edukasi untuk kita semua. Nah, sebelum
kita mulai pembahasannya, mungkin kalian
sempat ngelihat video yang ini.
Sehubungan dengan adanya perusakan rumah
ibadah, diduga Gereja Kristen di
Sukabumi pada Jumat lalu. Maka saya
harap masyarakat agar tetap tenang dan
jangan melakukan hal-hal yang bisa
memancing terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan. Pasti kalian sempat ngelihat
video tersebut dan lagi ramai banget
dibahas oleh sesosok aktivis yang
menurut gua enggak berguna sebenarnya
ya. Eh, namanya Abu Janda. Tapi ya
udahlah karena kebetulan pembahasan ini
dia juga sempat angkat. Jadi di dalam
hal ini ya gua mengambil salah satu
contoh kasus yang kebetulan dia juga
angkat. Oke. Nah, di Indonesia geng
negara kita ini kan menjadi salah satu
negara yang multikultural ya. Banyak
suku, banyak bahasa, dan agama yang ada
di negara kita. Seharusnya dengan
kehidupan kita yang sudah beragam ini,
tingkat toleransi kita juga semakin
tinggi jika dibandingkan dengan
negara-negara yang homogen seperti Korea
Selatan ya, salah satu negara yang sudah
terkenal akan isu e rasismenya gitu ya,
akan isu saranya juga gitu. Tapi
sayangnya di negara kita masih ada
beberapa pihak atau oknum-oknum yang
tidak toleran atau intoleran terhadap
aktivitas suku atau agama lain, terutama
agama-agama minoritas. Salah satu
contohnya yang terjadi baru-baru ini di
Sukabumi ya ini lagi ramai banget. Ada
sekelompok warga yang menggerebek dan
melakukan perusakan terhadap sebuah
rumah singgah yang dipakai oleh pelajar
yang sedang mengadakan retreit. Videonya
ramai banget di sosial media. Bahkan di
video tersebut terlihat ada warga yang
menurunkan simbol salib dari bangunan
tersebut. Warga marah karena mereka
menduga kalau rumah yang mereka grebek
itu dijadikan sebagai gereja. Padahal
enggak ada izin sama sekali. Nah,
katanya kayak gitu. Tapi apakah benar
rumah tersebut dijadikan sebagai gereja
alias rumah ibadah kaum Nasrani? Nah,
nanti kita bakal jelaskan duduk
permasalahannya di video ini. Kejadian
penggerebekan dan pengerusakan kegiatan
keagamaan kayak gini bukan kali ini aja
terjadi, Geng. Karena sebelumnya di
tahun 2024 kejadian serupa juga pernah
terjadi di Tangsel, Tangerang Selatan.
di mana ketika itu ada sejumlah
mahasiswa Katolik dari Universitas
Pamulang sedang melakukan ibadah namun
malah dibubarkan oleh warga setempat.
Bahkan yang di Tangsel kasusnya itu
berbuntut panjang sampai ke
pengeroyokan.
Nah, kita bakal membahas dua kasus ini.
Apakah kasus seperti ini menunjukkan
bahwa Indonesia ternyata tidak setoleran
itu terhadap agama minoritas atau cuma
masalah miskomunikasi aja atau salah
paham aja? Dan di sini gua ingatkan ya,
bukan bermaksud ingin membuka luka lama
atau ingin mengungkit yang sudah
berlalu. Ya, salah satu contohnya yang
terjadi di Tangsel. Tapi ini merupakan
pembelajaran buat kita semua. Jadi, gua
angkat kasusnya di sini walaupun
kasusnya sudah selesai. Itu sebagai
informasi dan edukasi serta pembelajaran
untuk kita semua ke depannya. Oke,
sekarang kita masuk ke dalam pembahasan
selengkapnya. Halo, geng. Welcome back
to Kamar Jerry.
[Musik]
Kita masuk ke dalam pembahasan utama
dulu nih yang paling e viral saat ini
yaitu pembubaran retreat di Sukabumi.
Jadi, geng, kejadian ini terjadi pada
hari Jumat tanggal 27 Juni 2025 di
sebuah villa yang terletak di Kampung
Tangkil RT4 RW 1 Desa Tangkil, Kecamatan
Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Berdasarkan informasi yang gua dapatkan
dari berbagai media di berita, pada jam
15 siang, ada sebanyak 200 warga yang
berbondong-bondong datang ke villa
tersebut yang mana pada saat itu sedang
ada kegiatan ibadah keagamaan Kristen di
sana. Situasi di lokasi saat itu dengan
cepat berubah menjadi semakin panas
setelah adanya dugaan provokasi dari
salah satu warga yang datang ke sana
sehingga memicu reaksi warga yang lain
yang jadi emosi. Nah, jadi dipancing,
disulut emosinya, semuanya pada datang.
Seperti yang terlihat dari video yang
beredar di sosial media, warga yang
terlanjur tersulut emosi menutup paksa
kegiatan yang sedang diselenggarakan di
rumah tersebut. Terlihat juga beberapa
aparat kepolisian serta TNI yang ikut di
dalam aksi itu. Ada warga yang mencopot
simbol salib di rumah tersebut. Sebanyak
36 penghuni rumah serta tiga mobil
berhasil dievakuasi oleh aparat
setempat. Dan hal tersebut dilakukan
untuk menghindari bentrokan dan
kerusakan lebih lanjut yang akibatnya
beberapa fasilitas rumah itu mengalami
kerusakan, Geng. Kaca jendelanya pecah,
area taman rusak, gazebo di belakang
rumah hancur, kamar mandi bagian
belakang rusak, sebuah motor ya didorong
warga ke sungai, serta pintu gerbang
rumah didobrak oleh warga. Jujur ya
kayak, "Ada apa sih, Bang? Kenapa sampai
motornya didorong dibuang ke sungai?
Kenapa motornya juga kristen apa gimana?
Motor kan enggak ada agama ya. Nih gua
sebagai muslim gitu ya jadi malu sendiri
ngelihatnya. Aduh pintu dirusak.
Pintunya juga Kristen pintunya atau
gimana ya? Astagfirullahalazim. Murtad
kali itu pintu ya. Haduh ada-ada aja.
Diketahui kalau pemilik rumah tersebut
adalah seorang perempuan yang bernama
Maria Veronica Nina. Ada seorang
pengelola rumah yang berinisial YD yang
bercerita ketika terjadinya peristiwa
penggerebekan dan perusakan ini, di
rumah itu sedang ada kegiatan retreit
yang dilakukan oleh para pelajar.
Koreksi kalau gua salah nih, Geng. Ya,
bagi yang belum tahu nih, retreat itu
kayak pesantren kilat lah kalau di dalam
Islam ya. Nah, tapi retreit ini buat
agama Kristen. Jadi, mereka itu
melakukan kegiatan ibadah singkat
gitulah geng. Dan berdasarkan cerita
dari Ya, kegiatan reter tersebut
dilakukan oleh 30 orang pelajar yang
berusia 10 sampai 14 tahun dan juga
orang dewasa yang berjumlah 5 orang. Yed
juga mengaku kalau sudah melakukan
komunikasi dengan RT setempat mengenai
kegiatan retreit yang diadakan di rumah
milik Maria tersebut. Itu keterangan
dari YD nih. Tapi kalau dari pihak warga
ya beda nih keterangannya. Dikatakan
kegiatan ibadah di rumah tersebut
bukanlah yang pertama kali katanya. Jadi
bukan ibadah singkat, bukan ibadah yang
apa ya yang sesekali dilakukan. Nah, ini
menurut cerita warga. Menurut keterangan
warga, kegiatannya itu dimulai sejak
tanggal 17 Februari tahun 2025 yang mana
diadakan oleh adik dari Maria yang
bernama Wedi. Dan sejak saat itu sudah
beberapa kali kegiatan ibadah itu
dilaksanakan di rumah Maria. Antara lain
di tanggal 17 Februari pertama kalinya
kegiatan itu dilakukan. Kemudian pada
tanggal 30 April 2025 ada pemasangan
simbol salib di sana yang identik
seperti rumah ibadah atau gereja. Dan
berlanjut pada tanggal 7 Juni 2025 ada
kegiatan ibadah lagi yang dihadiri oleh
sekitar 130 orang. Dan yang terakhir
tanggal 27 Juni itu di mana hari
terjadinya penggerebekan dan perusakan
oleh warga.
[Tepuk tangan]
Di saat itu, Kepala Desa Tangkil yang
bernama Ijang Sihabudin itu membenarkan
bahwa rumah tersebut memang sering
dijadikan tempat untuk melakukan
kegiatan ibadah agama Kristen. Dan
aktivitas tersebut membuat warga
setempat mulai merasa keberatan. Nah,
gua enggak paham nih keberatannya kenapa
ya? Apakah merasa terganggu? Orang
beribadah salahnya di mana ya? giliran
orang joget-joget pakai sound gede-gede
yang sama gini-gini boleh
ngancur-ngancurin gapura bawa sounds
besar boleh orang ibadah orang dia
enggak ngeganggu apa ya enggak ngeganggu
orang lain dan juga mereka tidak
bertujuan ingin menjadi misionaris yang
ingin mengkristenkan warga sekitar juga
kan kecuali udah ada misionarisnya yang
kayak ngajak orang-orang lain mereka
berdakwah ke orang-orang lain untuk
ngajak pindah agama. Nah, itu beda hal.
ya, mereka beribadah sendiri gitu. Dan
berdasarkan keterangan dari si Pijang
ini, rumah tersebut awalnya diketahui
oleh warga sebagai bekas pabrik
pengolahan jagung, tapi kok tiba-tiba
digunakan untuk kegiatan ibadah?
Katanya, untuk menjadikan sebuah
bangunan sebagai tempat ibadah itu perlu
izin dan legalitas. Sementara selama
kegiatan ibadah dilakukan di rumah
tersebut, pihak warga ya tahunya rumah
itu ya rumah singgah, bukan rumah
ibadah. Karena itulah warga merasa
keberatan akan adanya aktivitas
keagamaan di rumah tersebut. Terus,
Geng, si Pak Ijang tadi juga mengaku
keresahan dan rasa keberatan dari warga
ini sudah disampaikan melalui peneguran
langsung dan mediasi ke pihak pengelola
rumah dari tanggal 7 Juni katanya. Jadi,
udah pernah ditegur tuh ya yang
bertepatan juga dengan kegiatan ibadah
di sana. Kegiatan ibadah di tanggal 7
itu pun diketahui oleh warga setelah
warga yang setelah pulang dari masjid ya
habis melaksanakan salat subuh mendengar
adanya kegiatan ibadah dengan nyanyian
rohani menggunakan pengeras suara
sehingga ya warga merasa terganggu.
dengan ee hal tersebut gitu. Dan warga
juga sudah melapor ke RT, MUI Desa,
serta pemerintah desa. Dan pelaporan ini
dimaksudkan untuk menanyakan perihal
legalitas penggunaan rumah tersebut
sebagai tempat ibadah. Nah, meskipun
sudah mengkonfrontasi secara langsung ke
pihak pengelola sampai pelaporan kepada
perangkat desa, ya, pihak pengelola
rumah malah masih melanjutkan kegiatan
ibadahnya ya di tanggal 27 Juni itu,
Geng. Kabarnya kayak gitu. Nah, karena
sudah merasa enggak tahan lagi nih, udah
ditegur, udah ditanyain baik-baik kata
warga ya, mungkin warga juga mikir
pengelola rumah tersebut juga enggak
kapok ya, enggak mau mendengarkan,
makanya dilakukan penggerebekan dan
perusakan tersebut. Jadi kayak gitu.
Nah, dari keterangannya berarti ya
mereka tuh sudah berusaha untuk secara
kekeluargaan. Gimana tuh, Geng, menurut
kalian? Lalu ada juga keterangan dari
AKP Endang Slamet selaku Kapolsek Cidahu
yang menyebutkan beberapa saat sebelum
pengerusakan terjadi, pihak kepolisian
itu sudah mendatangi rumah tersebut
setelah mendapatkan informasi dari pihak
RT Babinsa dan Babinkam Tipmas. Maksud
polisi mendatangi rumah tersebut untuk
menghimbau pemilik atau pengelola rumah
terkait keluarga yang menolak kegiatan
ibadah di rumah tersebut yang sudah
berjalan selama tiga kali termasuk di
hari kejadian. Tapi pihak pengelola
rumah enggak menanggapi himbauan
tersebut, Geng. Karena tidak mendapatkan
respon dari himbauan tersebut, Pak
Endang berinisiatif untuk menghadirkan
forum koordinasi pimpinan kecamatan atau
Forko Pimcha Cam yang ada di Cidahu
bersama dengan Ketua MUI Kecamatan
Cidahu, jajaran kepolisian, dan Pak
Ijang selaku Kepala Desa Tangkil. Nah,
tujuannya agar bisa menemukan solusi
terbaik untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut. Tapi, Geng, titik temu atau
solusinya enggak berhasil dicapai. Untuk
itu, pihak kepolisian mengembalikan
semuanya kepada MUI untuk mencari solusi
terbaik bagi kedua belah pihak. Ketika
berbagai pihak ini sedang berdiskusi
perihal solusi atas permasalahan ini, di
sisi lain ternyata sudah ada warga yang
mendatangi rumah tersebut dengan jumlah
yang banyak dan seketika melakukan
perusakan di sana. Kabarnya kayak gitu.
Oke, sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan mengenai penyelesaian kasus
penggerebekan dan perusakan rumah yang
dijadikan kegiatan ibadah di Sukabumi
ini.
Jadi, geng atas insiden pembubaran
kegiatan retreade pelajar di sebuah
rumah di Desa Tangkil, Forum Koordinasi
Pimpinan Daerah atau Forkopimda yang ada
di Kabupaten Sukabumi, MUI, serta
sejumlah tokoh lintas agama itu
mengadakan musyawarah bersama Dimapores
Sukabumi pada hari Senin tanggal 30 Juni
tahun 2025. Pertemuan tersebut
diinisiasi oleh AKBP Samian selaku
Kapores Sukabumi untuk membahas dan
mencari solusi setelah kejadian warga
yang membubarkan kegiatan retreit di
rumah singgah tersebut. AKBP Samian itu
menjelaskan situasi saat ini sudah
kondusif, Geng. Bahkan enggak lama
setelah insiden tersebut terjadi, aparat
kepolisian sudah melakukan upaya
penyelesaian melalui musyawarah dan
rekonsiliasi. Di saat itu, Geng, AKBP
Simian juga mengajak kepada seluruh
elemen masyarakat supaya tetap menjaga
toleransi dan menyelesaikan permasalahan
ini dengan kepala dingin. Selain itu,
perwakilan dari Forum Kerukunan Umat
Beragama atau disingkat dengan FKUB
Kabupaten Sukabumi yaitu pendeta beresan
begaring itu menegaskan bahwa bangunan
yang menjadi lokasi kegiatan ibadah
tersebut bukanlah gereja, melainkan
sebuah rumah singgah milik pribadi yang
digunakan untuk retret pelajar. Dan
pihak mereka juga sudah berkomunikasi
nih dengan camat, kepala desa, serta RT
setempat. Semua pihak sudah sepakat
untuk menyelesaikan masalah ini dengan
damai, katanya. Terus sementara itu,
Geng Tri Romadono Suwardianto selaku
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
atau disingkat dengan Ces Bank Polen
Sukabumi yang mewakili Bupati Sukabumi
itu menyebutkan bahwa akar permasalahan
ini adalah kurangnya komunikasi,
pemahaman, sikap saling menghormati
antar warga. Nah, karena itulah ke
depannya pemerintah itu mendorong akan
adanya dialog antar umat sebagai solusi
utama dalam menjaga kerukunan di tengah
keberagaman masyarakat. Lalu, Forkoim
Cham yang ada di Cidahu itu bersama
dengan warga dan juga tokoh agama serta
pemuda ya juga sudah menggelar pertemuan
sebelum pertemuan yang diinisiasikan
oleh AKBP Samian tadi. Jadi mereka itu
di belakang itu udah bertemu secara
kekeluargaan terlebih dahulu. Dan di
dalam pertemuan itu disepakati bahwa
semua kerusakan fasilitas yang terjadi
akan diperbaiki oleh warga sebagai
bentuk tanggung jawab dan kesepakatan
damai. Nah, jadi warganya bertanggung
jawab lah ya atas apa yang sudah mereka
lakukan. Tapi ya tetap aja ya akhirnya
kan sia-sia ke buang-buang duitnya ya
kan. Mending buat makan bareng-bareng ya
akhirnya buat ganti rugi kan. Meskipun
kesepakatannya diselesaikan secara damai
informasi terbarunya saat ini Polda
Jabar sudah menetapkan tujuh orang
tersangka. Jadi ada provokatornya yang
mana perusakan rumah singgah yang
dijadikan kegiatan ibadah Cidahu ini
dirusak oleh warga. Bukan ya
semerta-merta warga gerak gitu aja, tapi
ada yang menyulut api. Dan ketujuh orang
yang dianggap sebagai penyulut api ini
memiliki peran yang berbeda-beda. Mereka
ada yang berinisial RN yang merusak
pagar dan mengangkat salib. Terus ada
UE, EM dan juga DM yang ikut merusak
pagar. Serta MD yang merusak motor yang
didorong ke dalam sungai. Terus ada MSM
yang menurunkan dan merusak salib dan H
yang merusak pagar serta merusak motor.
Nah, ini gua bisa kebayang nih ya. Nih
orang-orang yang paling gede teriaknya
nih. Anjing sia hutang nyaho gitu-gitu
kali itu ya. Aduh aduh aduh aduh. Nah,
insiden ini juga sudah sampai ke Kang
Dedi Mulyadi selaku gubernur Jawa Barat
yang menyatakan bahwa perusakan yang
terjadi merupakan tindakan pidana dan
harus diproses secara hukum. Dan Kang
Deddy juga sudah bertemu dengan penghuni
rumah yang diketahui bernama Yonki
beserta dengan sembilan orang anggota
keluarga. Pak Yongki ini dan keluarganya
sudah berstatus sebagai warga Desa
Tangkil. Dan Kang Dedy juga menyoroti
adanya dampak psikologis yang mungkin
dialami oleh keluarga Pak Yongki ya,
termasuk istri dan anak-anak mereka ya.
Gua rasa anak-anaknya paling terdampak
sih ya. Gimana perasaan anak mereka kan
kalau mau keluar-keluar takut sama
warga, keluarga mereka pernah ya
dijadikan bulan-bulanan kayak gitu.
Pastikan mereka merasa asing tinggal di
lingkungan warga tersebut, apalagi
mereka minoritas. Kasihan banget.
Nah, untuk itu PEMPR Jawa Barat akan
menurunkan tim psikolog ke sana agar
proses pemulihan mental bisa segera
dilakukan. Selain Dedy ya, Kementerian
HAM juga mengirimkan tim untuk mendalami
peristiwa pembubaran kegiatan retrib
pelajar di Cidahu ini. Natalius Spigai
selaku Menteri HAM itu menegaskan aksi
kekerasan terhadap aktivitas keagamaan
di Indonesia itu merupakan bentuk
pelanggaran HAM. Sebab negara menjamin
setiap pemeluk agama beribadah sesuai
dengan keyakinan masing-masing. Dan oleh
karena itu menurut Pak Pigai ini enggak
boleh ada pelanggaran, intimidasi, atau
bahkan kekerasan yang membatasi hak
tersebut. Dan Pak Pigai juga memastikan
Kementerian HAM akan serius mendalami
permasalahan yang terjadi di Sukabumi
ini, Geng. Nah, jadi panjang urusannya,
Geng. Yang di Sukabumi ini panjang
urusannya dan penyelesaiannya akhirnya
sampai turun pihak-pihak pemerintah, ya
kan? Sampai ke menteri juga ikut angkat
bicara. Oke, itu dia cerita dari kasus
pertama di Sukabumi. Sekarang kita bakal
masuk ke dalam kasus yang kedua yang
terjadi di Tangsel, Tangerang Selatan.
Isiden ini sempat viral di sosial media
di waktu itu. Apalagi kalau kalian yang
orang Tangsel pasti pernah dengar
beritanya. Dan sekali lagi gua ingatkan
berita ini bukannya mengungkit luka lama
atau e ingin menceritakan yang sudah
selesai, enggak sama sekali. Tapi ini
diceritakan sebagai salah satu contoh,
salah satu edukasi untuk ke depannya
supaya hal yang sama tidak terulang
lagi. Kita akan masuk ke dalam
pembahasan pembubaran ibadah mahasiswa
Katolik di Tangerang Selatan.
Jadi, Geng, insiden ini terjadi pada
hari Minggu malam tanggal 5 Mei tahun
2024. Ketika itu ada beberapa mahasiswa
Katolik dari Universitas Pamulang atau
UNPAM yang sedang menjalankan ibadah doa
Rosario sekitar jam .30 malam di sebuah
kos-kosan yang berlokasi di Jalan Ampera
RT07 RW02 Kampung Poncol, Kelurahan
Babakan Setu, Kota Tangerang Selatan.
Bagi penganut agama Katolik, bulan Mei
dan bulan Oktober itu adalah bulan Bunda
Maria. Mereka yang beragama Katolik
biasanya berdoa setiap hari. Dan
biasanya bagi yang tinggal di dalam
lingkungan gereja itu mengadakan doa
bersama secara bergantian di rumah
mereka. Pada saat sedang melangsungkan
doa Rosario ini, kos-kosan itu didatangi
oleh warga yang merasa keberatan dengan
kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah
mahasiswa Katolik Unpam tersebut. Warga
yang mendatangi mereka itu menegur
mereka yang diklaim oleh warga ini.
Teguran tersebut secara langsung
disampaikan oleh RT tapi tidak digubris
oleh para mahasiswa Katolik tersebut.
Jadi ditegur enggak digubris, mereka
tetap menjalankan ibadah tersebut. Nah,
karena merasa enggak digubris inilah
baku hantam pun tidak dapat dihindari
antara warga dengan mahasiswa Katolik
UNPAM. Nah, di dalam hal ini cukup miris
ya, Geng ya kalau kita pikir-pikir ya.
Di saat banyaknya mahasiswa yang saat
ini justru melakukan kumpul kebo, justru
melakukan
bebas, ya kan ya. Datang ke kos-kosan
untuk melakukan hal-hal yang belum boleh
dilakukan. Itu malah semacam lumrah aja
bagi warga. Tapi kok yang beribadah
malah dianggap sebagai ancaman. Nah, ini
yang bikin mirisnya di saat ini.
Berdasarkan keterangan dari Polres
Tangsel, ketika doa Rosario sedang
berlangsung di rumah tersebut, tiba-tiba
aja datang seorang laki-laki dengan
inisial D selaku ketua RT yang berupaya
untuk membubarkan kegiatan tersebut
dengan cara berteriak-teriak. Teriakan
tersebut membuat beberapa orang jadi
penasaran dan ingin mencari tahu apa
yang sebenarnya terjadi. Dan dari
teriakan itulah terjadilah kegaduhan dan
kesalahpahaman yang mengakibatkan
terjadinya kekerasan dan menimbulkan
korban. Kegaduhan ini sempat direkam
oleh salah satu penghuni kontrakan yang
ada di TKP yang mana di situ terlihat
ada dua orang laki-laki yang membawa
sajam jenis pisau. Dan sementara itu ada
dua orang mahasiswa Katolik UNPAM yang
berinisial R dan juga A yang
menceritakan kronologi dari sisi mereka.
Nah, ketika itu doa Rosario itu hanya
dilakukan oleh lingkar ee pertemanan
mereka aja yaitu mahasiswa UNPAM yang
ngekos di kawasan tersebut yang
rata-rata berasal dari NTT. Dan sekitar
jam 8.00 malam ketika R dan A serta
teman-temannya hampir selesai beribadah,
mereka kedatangan D ya D tadi sambil
berteriak-teriak. Enggak jelas di saat
itu ada berapa orang yang datang
bersamaan dengan si D ini. Namun di
antara yang datang itu ada yang membawa
sajam.
R. dan A menyebutkan keributan terjadi
saat ada salah satu mahasiswi yang
sedang melakukan doa yang tiba-tiba
diintimidasi secara verbal oleh beberapa
orang pelaku. Lalu ada keterangan
lainnya dari seorang mahasiswi sastra
Inggris UNPAM yang ikut beribadah di
hari itu yang bernama Neldis Everis.
Nah, dia ini bercerita bahwa sebelum
penyerangan terjadi, D ini sempat lewat
dua kali di depan kos sambil
memperhatikan kamar yang dijadikan
tempat mahasiswa UNPAM ini beribadah. D
datang dengan langsung memarahi mereka
serta berkata akan memanggil warga ke
sana. Enggak lama kemudian, Dang membawa
warga yang kemudian kericuhan pun
dimulai dan beberapa oknum dari warga
langsung menyerang menggunakan senjata
tajam sehingga menyebabkan dua orang
sampai terluka. Nadlist itu juga mengaku
kalau di tahun 2023 si inisial D ini
sempat negur mereka juga dan mengatakan
kalau di lingkungannya enggak boleh ada
ibadah bagi umat nonmuslim. Wah, kacau
banget ya nih giliran ormas-ormas yang
suka narik-narikin duit aja dibolehin
nih kalau di Tangsel. Ormas banyak
banget loh di Tangsel, Geng. Gila
giliran orang mau beribadah malah setet.
Nah, ketika mendapatkan teguran tersebut
ya para mahasiswa ini ya mahasiswa
Katolik UNPAM ini memilih untuk mengalah
dan enggak melaporkan hal tersebut. Dan
memang Neldis akui di sana banyak
anak-anak kos yang berasal dari
Indonesia Timur. Ya, seperti yang kita
tahu ya, Teman-teman dari Indonesia
Timur kebanyakan memang beragama Kristen
atau Katolik. Nah, namun kegiatan ibadah
yang mereka lakukan itu bukan setiap
hari atau setiap bulan. Yang di saat itu
ya terjadi juga kegiatan ibadah yang
mereka lakukan bertepatan dengan hari
libur kuliah. Dan ada intimidasi yang
para mahasiswa umpamin dapatkan. Namun
ada juga yang membela mereka seperti
salah satunya si pemilik kos ya. Bapak
pemilik kos, anak pemilik kos, serta
warga sekitar itu ada yang ngebela
mereka. Enggak semuanya mengintimidasi
mereka. Dan ada sebagian dari mereka
yang takut bahwa kejadian ini dapat
berujung pada dendam kepada para
mahasiswa umpam yang ngekos di sana.
Takutnya nanti mereka lagi jalan
sendiri, tiba-tiba mereka ditikam atau
diapain. Nah, mereka jadi ketakutan.
Bahkan nih, Geng, ada seorang mahasiswa
lain yang enggak ikut di dalam kegiatan
ibadah tersebut tapi malah jadi korban.
Dia bernama Farhan Rizki Ramadan. Kalau
kita lihat dari namanya sih bukan orang
Kristen ya, bukan orang Katolik juga,
tapi orang muslim gitu ya. Nah, dia ini
adalah mahasiswa Teknik Informatika
UNPAM. Pada saat itu dia sedang
mengunjungi temannya yang juga merupakan
tetangga kos para mahasiswa Katolik
tadi. Mendengar adanya keributan
terjadi, Farhan berusaha untuk melerai
warga dan para mahasiswa Katolik UNPAM.
Sayangnya, Farhan malah jadi kena bacok
dan jadi korban. Padahal posisinya
Farhan juga enggak kenal siapapun di
saat itu. Baik enggak kenal warga juga
enggak kenal sama mahasiswa Katolik
Unpam. Meskipun mereka satu kampus gitu,
dia cuman datang ke temannya. Nah, jadi
nyerang
orang yang seagama gitu kan. Kalau lu
datang dengan tensi yang ego bawa
nama-nama agama ya yang lu serang, yang
lu bacok juga orang yang seagama sama lu
gitu. Dan Farhan ini berinisiatif
melerai karena dia merasa enggak tega
melihat salah satu korban dikeroyok di
depan matanya. Nah, karena warga yang
emosi, Farhan malah ikut jadi korban.
Dan pasca kejadian tersebut, banyak
pihak yang angkat bicara. Salah satunya
Marat selaku ketua RW02. Marat
mengatakan kegiatan kumpul-kumpul
mahasiswa dan mahasiswi umpam tersebut
selama ini sering dikeluhkan oleh
tetangga. Dan hal inilah yang kemudian
menjadi pemicu dari geramnya warga di
saat itu. Nah, tapi yang jadi
pertanyaannya nih, Geng, ya. Tetangganya
ngeluh kenapa sih?
Kan ibadah. Kalau mereka ngumpul-ngumpul
sambil mabuk-mabuk ya bisa masuk akal
gitu. Kalau ibadah kan kerasa aneh gitu.
Menurut mereka kegiatan tersebut enggak
pernah dipermasalahkan. Tapi banyaknya
jumlah mahasiswa yang berkumpul yang
jadi persoalan karena mungkin sudah
terlalu banyak yang melakukan ibadah di
sana. Nah, itu yang jadi problem mereka.
Dan memang di kos tersebut mahasiswa
Katolik Unpam rutin kumpul dan melakukan
ibadah. Sementara itu mengenai
pertikaian dan penggunaan senjata tajam,
Marat tidak menggubris. Dia enggak mau
bahas soal itu. Kenapa warga ada yang
datang pakai Sajam? Nah, dia mengaku
sudah melarang warganya untuk
menggunakan Sjam dalam aksi pembubaran
tersebut. Namun menurut dia, hal
tersebut berjalan di luar kendali ketika
warganya dipukul duluan oleh si
mahasiswa. Katanya gitu. Karena dipukul
duluan inilah makanya warga langsung
emosi. Nah, kalau keterangan dari Marat,
mahasiswalah yang melakukan penyerangan
terlebih dahulu. Selain Marat ya, ada
lagi nih lurah yang bernama Pak Teten
Haryanto. Beliau juga memberikan
keterangan. Dia menyebutkan bahwa yang
berinisial D yang menjabat sebagai ketua
RT ya, dia mengatakan selama ini enggak
pernah ada laporan intimidasi yang
disampaikan oleh para mahasiswa yang
menjalankan ibadah di kos mereka.
Menurut Teten, para warga yang tinggal
di sekitar lokasi kejadian orangnya
terbuka, open minded, dan toleran
terhadap setiap mahasiswa luar yang mana
ya mereka datang ke sana nge-cos ya kan
memeluk agama masing-masing dan enggak
mengganggu. Nah, perihal intimidasi
menurut Teten mengenai ketertiban umum
di wilayah mana pun pasti ada aturannya.
Misalnya di kosan atau kontrakan.
Mungkin ada peraturan enggak boleh
nge-cos atau ngontrak rameai-ramai. Yang
boleh cuma satu orang. Nah, boleh bawa
tamu satu sampai 3 orang. Kalau ada
aturan seperti itu, artinya gak boleh
membawa tamu lebih dari ketentuan yang
berlaku. Jadi saling menghargai gitu,
Geng. Begitu kata Pak Teten. Nah, lalu
Pak Teten ini mengaku kalau para
mahasiswa yang mengadakan ibadah
tersebut memang sering mendapatkan
teguran. Bagi beliau, wajar aja bagi
ketua RT dan RW melakukan teguran karena
mungkin ketua RT dan RW-nya juga ditegur
oleh masyarakat perihal kegiatan yang
mereka lakukan. Pak Teten ini bilang si
RT yang berinisial D pernah bercerita
kalau para mahasiswa Katolik UNPAM ini
pernah ada ibadah yang mungkin lewat
dari jam yang seharusnya dan kemungkinan
besar ibadahnya itu dilakukan lewat jam
09.00 atau jam 10.00 malam yang
seharusnya waktu tersebut menjadi waktu
istirahat warga sekitar. Nah, namun
karena ibadahnya dilakukan oleh mereka,
ada masyarakat yang merasa terganggu
karena jadi enggak bisa istirahat. Dan
si RT Inisial D ini pun dikatakan sudah
memberikan himbauan agar mentaati aturan
ketertiban umum seperti beribadah enggak
mengganggu jam istirahat para warga. Dan
teguran yang dilakukan oleh si RT ini
bagi Teten merupakan bagian dari tugas
RT sebagai kepala lingkungan, Geng.
Dari insiden ini, Forest Tangerang
Selatan sudah menetapkan empat orang
sebagai tersangka. Salah satu
tersangkanya adalah si Inisial D tadi
selaku ketua RT. Si inisialde ini
terbukti meneriaki para mahasiswa dengan
suara keras yang disertai dengan nada
umpatan intimidasi kepada para si
mahasiswa. Enggak cuma si inisial D aja,
polisi juga menetapkan tiga orang lain
sebagai tersangka yang masing-masing
berinisial I berusia 30 tahun, S usia 36
tahun, dan A usia 26 tahun. I berperan
ikut meneriaki mahasiswa dengan ucapan
intimidasi karena mahasiswa umpam di
sana menolak perintah untuk pergi dan I
itu mendorong badan korban sebanyak dua
kali. Sementara yang S dan juga A mereka
ditetapkan sebagai tersangka karena
membawa sajam jenis pisau untuk
melakukan ancaman agar korban merasa
takut dan membubarkan kegiatan doa
Rosario yang mereka lakukan. Ada tiga
pisau juga yang sudah disita oleh
polisi. Dua buah pisau bergagang hitam,
sementara satu itu bergagang putih.
Barang bukti lainnya diamankan itu
adalah rekaman video dan dua kaos. Atas
perbuatan yang mereka lakukan, mereka
semua terancam hukuman paling lama 5
tahun 6 bulan penjara.
[Musik]
Nah, itu dia, Geng pembahasan untuk hari
ini ya. Sebenarnya insiden kayak gini
tuh masih banyak lagi di negara kita.
Tapi yang gua jelasin ya cuma dua. Yang
satu yang sedang update sekarang. Yang
satu lagi itu adalah contoh yang pernah
terjadi ya. Karena kalau misalkan gua
bahas semua bakal terlalu panjang
durasinya. Dan dari dua kasus ini,
apakah ini menjadi sebuah tanda kalau
ternyata di Indonesia sekarang tidak
semua orang memiliki toleransi yang
tinggi atau semua ini cuma masalah
miskunikasi atau terlalu cepat berasumsi
aja? Coba deh menurut kalian gimana,
Geng? Coba tuliskan pendapat kalian di
kolom komentar.