Transcript
oIBsXPXsiec • SUNAT SALAH POTONG MAKIN MARAK DI INDONESIA ! ALAT VlT4L CAC4T & MASA DEPAN TERANC4M !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1455_oIBsXPXsiec.txt
Kind: captions
Language: id
Halo, Geng. Eh, udah beberapa hari ya
gua enggak ngonten. Kemarin sih sempat
satu kali gua nge-post. Itu juga e salah
satu stok yang belum kita tayangkan. Dan
hari ini kita mulai kembali dengan
kegiatan kita. mulai kembali dengan
kepadatan-kepadatan informasi di channel
ini. Oke. Nah, kemarin gua sempat libur
karena ya tim juga libur. Kita merayakan
Idul Adha dan juga cuti bersama. Mohon
maaf banget jarang-jarang nih kita libur
selama ini. Tapi enggak apa-apa,
sekarang sudah saatnya kita kembali ke
rutinitas seperti biasanya. Oke, sesuai
dengan judul yang kalian baca di
thumbnail dan juga judul video ini, hari
ini kita bakal membahas tentang mal
praktik tindakan ee dokter-dokter yang
mana ini menangani pasien-pasien yang
ingin memotong burung, ya. Nah,
pasien-pasien sunat. Nah, sebelumnya gua
jelaskan sedikit mal praktik ini adalah
istilah kata nih dari tindakan kriminal
di dalam dunia medis karena bisa
membahayakan keselamatan dari nyawa
pasiennya. Sayangnya, Geng, di Indonesia
itu masih banyak banget mal praktiknya.
Hal-hal kayak gini kayak berulang kali
terjadi. Ada aja orang-orang yang
sebenarnya enggak kompeten e mengklaim
dirinya sebagai tenaga ahli, mengklaim
dirinya sebagai tenaga medis, dokter,
dan segala macamnya gitu ya, agar bisa
mendapatkan keuntungan. Padahal dia
enggak punya lisensi, bahkan enggak
pernah sekolah hanya berdasarkan
pengalaman-pengalaman kecil. Ya,
misalkan contohnya pernah menjadi
asisten dokter, pernah menjadi perawat
atau apalah gitu. merasa bisa langsung
membuka praktik layaknya seorang dokter
yang berpengalaman. Nah, terus Geng
hal-hal kayak gini bisa terjadi itu
gara-gara kesadaran masyarakat kita di
Indonesia yang masih rendah terhadap
dunia medis. Cenderung akan langsung
percaya sama orang yang mengaku-ngaku
dirinya sebagai tenaga ahli, tenaga
medis atau dokter tanpa melihat terlebih
dahulu kredibilitas orang tersebut.
Modal ngomong, jualan liur gitu ya, udah
langsung percaya. Hal ini juga semakin
diperparah karena banyak klinik yang
malah bungkam dengan kasus-kasus kayak
gini dengan alasan mereka enggak mau
reputasi klinik mereka menjadi jelek ya
menurun yang disebabkan karena ada salah
satu dokter yang praktik di klinik
mereka yang melakukan mal praktik gagal
kayak gini. Beberapa waktu lalu gua
sempat ngebahas mengenai salah seorang
influencer dan juga tiktokers yang
menjadi korban malpraktik. Nah, video
ini kalian bisa nonton nih ya, video gua
beberapa minggu lalu yang mana si
influencer tersebut melakukan perawatan
kecantikan di klinik yang sedihnya dia
malah berakhir lumpuh dan kejang-kejang.
Nah, kalau kalian ketinggalan beritanya
bisa cek langsung. Oke, itu kan mal
praktik di klinik kecantikan ya. Nah,
kita tetap berfokus pada pembahasan kita
hari ini. Hari ini kita bakal membahas
ya tindakan medis atau mal praktik yang
terjadi terhadap pasien yang ingin
sunat. Nah, mal praktik di dalam dunia
medis yang terkhususnya masalah sunat
ini ternyata udah terjadi berkali-kali
dan berulang kali. Di video kali ini gua
bakal membahas kasus-kasusnya ya sebagai
pembelajaran, sebagai edukasi buat kita
semua agar lebih berhati-hati lagi dalam
memilih ya orang-orang yang kompeten
untuk menangani praktik kayak gini ya.
Baik itu untuk adik-adik kalian atau
justru buat anak-anak kalian, keponakan
dan siapapun. Kalian harus hati-hati
banget karena kejadian yang satu ini
membuat masa depan si korban itu enggak
bisa kembali lagi. Burungnya terbang.
Benar-benar terbang. Yang harusnya
nempel di situ doang enggak bisa
terbang, akhirnya terbang. Kacau ya.
Oke, langsung aja nih kita bahas secara
lengkap. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Untuk kasus yang pertama, kita
akan membahas kasus sunat laser yang
berujung luka. Waduh, ini terjadinya di
Kerinci.
Jadi, kasus yang pertama ini yang akan
kita bahas itu dialami oleh seorang
bocah asal Desa Sangir, Kecamatan Kayu
Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.
Inisialnya itu adalah BAI, kita sebut
aja BY gitu ya. usianya itu masih 10
tahun dan dia merupakan anak dari
pasangan e Dian dan juga Heko. Ayahnya
Heko, ibunya Dian. Memang beritanya tuh
baru viral beberapa waktu kemarin, Geng.
Tapi sebenarnya kejadiannya itu udah
terjadi di akhir tahun 2024, tepatnya
tanggal 19 Oktober tahun 2024. Jadi, ya
di sore hari sekitar jam .30 sore bayi
ini diantar oleh orang tuanya ke sebuah
klinik ya untuk menjalani tindakan sunat
laser. Wah gila ya sunat pakai laser itu
pakai kayak pedang Matriks-Matrix gitu
loh ya kan pedang-pedang ya pernahlah
lihat ya kayak di film-film action.
Namun pada proses tindakannya ternyata
terjadi kendala geng karena si bayi ini
mengalami e keluarnya cairan merah yang
banyak banget ya. Kalian paham ya cairan
merahnya ya. Dan ini cairan merah dari
bagian vitalnya dia yang gak berhenti
keluar. Sempat diupayakan untuk menjahit
bagian tersebut. Namun tetap aja cairan
merahnya keluar terus, enggak
kering-kering. Masih enggak kunjung
membaik, perawat di klinik Suna tersebut
yang bernama Yogi malah menyuruh orang
tuanya Bay untuk membawa si Bay ini
pulang. Yogi ini bilang pada saat proses
tindakan itu ya, petugas medis melakukan
kesalahan katanya karena ternyata yang
dipotong enggak cuma kuncupnya tapi
haduh gimana gua sebutnya ya itu tuh
helm PM helm polisi militernya ya. Hah?
Bagian helm polisi militernya juga
tersayat sedikit, tergores sedikit. Nah,
namun di saat itu Yogi ini ngeklaim
kalau saluran dari tempat pipisnya itu
masih ada. Jadi enggak ketutup, enggak
kepotong sehingga dampaknya enggak
serius. Nah, pihak klinik kemudian
memberikan biaya transportasi sebesar
Rp500.000 untuk membawa adik bayi ini ke
rumah sakit. Jadi, kayak ada kompensasi
gitulah ya, ada biaya yang ditanggung
oleh pihak klinik. Gara-gara kondisi
tersebut pada jam 5.00 sore bayi ini
akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Muarul
Labu, Sumatera Barat oleh orang tuanya.
Sesampainya di sana, pihak rumah sakit
menyatakan mereka malah enggak sanggup
untuk menangani kondisi dari bayi ini.
Wah, kasihan banget. Nah, karena hal
itulah si adik yang bernama Bay ini
terpaksa dirujuk lagi ke rumah sakit
lain, yaitu ke Rumah Sakit M. Jamil
Padang. Di rumah sakit yang terakhir
inilah Bay menjalani operasi. Namun
sayangnya dokter yang menangani Bay
mengatakan kalau organ vitalnya Bay
sudah terlanjur terpotong. Jadi bukan
cuma tersayat kepotong itu helm polisi
militernya dipotong, Geng. Ini gua
gimana ya nih jadi enggak enak gitu
ngomongnya. Bahasanya apa ya? Helm
polisi militer apa jamurnya? Pokoknya
bagian itulah. bagian enak-enak itu.
Nah, nah kepotong tuh. Dan itu enggak
bisa disambung lagi. Hanya bisa
dibuatkan saluran pipisnya doang. Jadi
biar enggak ketutup ya, biar enggak
nyatu dagingnya, dibukalah saluran itu.
Akhirnya orang tuanya enggak terima. Itu
kan masa depan anaknya ya. Bagian
sensitif dari seorang laki-laki ada di
bagian situ. Malah dipotong. Nah, karena
enggak terima ya, akhirnya orang tua Bay
melakukan perundingan dengan Si Yogi ya
yang ada di klinik tadi atas dugaan,
kesalahan, tindakan atau mal praktik
yang dia lakukan terhadap anak mereka.
Di dalam perundingan ini disepakatilah
kalau Yogi akan bertanggung jawab dengan
membiayai semua pengobatan bayi.
Dikatakan bay ini sudah menjalani
operasi sebanyak lima kali selama di
rumah sakit tersebut. Dari lima operasi
yang dilakukan kepada adik yang bernama
Bay ini, Yogi bertanggung jawab
sepenuhnya, Geng, untuk membiayai
pengobatannya dari operasi pertama
sampai kedua. Nah, di operasi ketiga
sampai kelima, orang tua Bay menggunakan
BPJS dan Yogi cuma memberikan uang
transpor aja, enggak membiayai
pengobatan lagi. Terus di saat itu
anehnya si Yogi ini dikatakan mulai
enggak peduli dengan kondisi buy
sebagaimana yang sudah menjadi
kesepakatan di awal. Yang mana Yogi
seharusnya membiayai semua pengobatan
buy sampai selesai. Tapi setelah 7 bulan
setelah kejadian di awal tadi, Bay masih
kesulitan buang air kecil. Bahkan dia
mengalami trauma berat dan selalu
menangis karena sakit. Nah, karena Yogi
ini malah lari dari tanggung jawab dan
enggak menunjukkan itikat baiknya, Dian
selaku ibu dari Bay menyebarkan kondisi
Bay ke Facebook. Jadi diviralin lah,
diviralin di Facebook pribadinya dia dan
menjadi viral karena mendapatkan banyak
simpati dari netizen. Enggak cuma
diviralkan aja, Geng. Dian dan juga Heko
suaminya juga memutuskan untuk menempuh
jalur hukum atas dugaan mal praktik
sunat yang terjadi ke anak mereka karena
sudah enggak tahan lagi dengan kelakuan
Yogi yang malah lari dari tanggung jawab
dan sudah melanggar kesepakatan. Mampui
kau Yogi yo. Nah, ini kalau bahasa orang
pada mampus kau Yogi. Udah dikasih apa
ya? Ya. Eh, udah di udah Allah
den kasih Allah deniah ya. Allah deniah
keringanan. Tapi
hah susah gue ng bahasa Padang udah
agak-agak lupa gue. Pokoknya intinya
udah dikasih, udah diberi keringanan
malah kabur. Harusnya kan kalau lau
tanggung jawab enggak akan disebarin tuh
sama orang tuanya si ini orang tuanya si
Bay ya kan. Nah kalau udah kayak gini
gimana? Dan orang tuanya si Bay pintar
juga nih diviralkan dulu baru dilaporin.
Nah karena kenapa? No viral, no justice.
Viralin aja dulu baru dilaporin supaya
cepat ditanganin. Terus geng, hal ini
tentunya sangat merugikan bagi orang tua
Bay dan si Binya sendiri. Pelaporan
orang tuanya Bay juga sudah dikonfirmasi
oleh Kapolres Kerinci yang bernama AKBP
Arya T. Brahmana. Saat ini pores Kerinci
itu masih mendalami dan mempelajari
kasus tersebut dan akan melakukan
penyelidikan lebih lanjut mengenai
dugaan mal praktik yang dilakukan oleh
Yogi. Terus geng, di sisi lain, Dinas
Kesehatan Kabupaten Kerinci, Provinsi
Jambi juga sudah mengetahui kasus dari
adik bayi ini. Nah, setelah mendapatkan
informasi terkait Bay yang diduga
menjadi korban malpraktik ya di saat itu
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci
yang bernama Pak Hermen Dizal. Nah,
beliau sudah bersurat ke pelayanan
terpadu satu pintu atau PTSP untuk
mencabut izin praktiknya Yogi. Namun,
Herman Diesal ini mengaku untuk saat ini
pihaknya masih fokus terhadap
penyembuhan bayi karena kondisinya
sekarang mengalami trauma dan juga
kesulitan untuk buang air kecil. Hampir
setiap waktu bayi menangis karena rasa
sakit yang dialaminya.
Kepala Puskesmas dikabarkan juga sudah
turun tangan, Geng, untuk menangani
masalah ini yang nantinya bisa berimbas
kepada pemecatan Yogi sebagai perawat.
Tuh, perawat ya, bukan seorang dokter,
bukan tenaga medis yang ya apa ya ee
bisa dikatakan tuh itu emang bidangnya
dia seharusnya, tapi dia cuma perawat.
Harusnya tuh ya maaf ya dia ini nih
koreksi gua kalau salah ya. Gu gua juga
takut nih karena profesi seorang perawat
itu adalah profesi yang terhormat juga
gitu ya. Tapi ini kok kalau nih orang
sampai yang melakukan kesalahan menurut
gua dia melanggar ketentuan atau batasan
yang seharusnya enggak boleh dia lewati
gitu mungkin ya. nih dengan keterbatasan
ilmu gua nih mohon maaf nih mungkin hal
kayak gini yang patut melakukan itu
adalah seorang dokter bukan seorang
perawat gitu tapi kok bisa Yogi
melakukan itu kok bisa Yogi yang motong
burung ya dan ada informasi yang beredar
kalau lokasi klinik tempat bayi ini
menjalani tindakan sunat laser itu cuma
mengantongi izin apotek aja jadi enggak
ada izin praktik potong-potong burung di
sana jadi bukan izin klinik atau tempat
praktik medis nah namun ini masih terus
didalami kebenarannya oleh pihak terkait
gimana sih yang benarnya. Nah, terus
geng Bupati Kerinci yang bernama Pak
Monadi juga sudah menaruh perhatian
terhadap apa yang dialami oleh adik bayi
ini. Pak Monadi ini ya sudah
berkomunikasi langsung dengan Heko dan
Dian, orang tua dari BY dengan
menegaskan kalau pemerintah akan
mendampingi BY sepenuhnya baik dalam
proses pemulihan maupun upaya untuk
penegakan hak-hak bagi BY sebagai
pasien. Dan untuk mempercepat
penanganannya, Dinas Kesehatan Kabupaten
Kerinci itu sudah mengirimkan surat
secara resmi kepada pihak Rumah Sakit M.
Jamil yang berisikan permohonan tindak
lanjut atas kondisi medis buy termasuk
kemungkinan perawatan lanjutan di Padang
atau rujukan lebih lanjut ke RSCM
Jakarta dan BY dikabarkan sudah
diberangkatkan ke Padang untuk
mendapatkan perawatan yang lebih lanjut,
Geng.
Nah, kita doakan ya semoga semuanya bisa
baik-baik aja. Kasihan gitu masih kecil
dia enggak tahu apa-apa cuma pengin ee
apa ya supaya kesehatannya prima ya
dengan bersunat. Ini ingat ya, sunat itu
enggak cuma soal agama loh, Geng. Bahkan
ada yang nonmuslim itu memilih untuk
sunat karena demi kesehatan. Itu ada.
Kalian boleh cek sendirilah beritanya.
Dia pengin sehat malah jadi sakit, kan
kasihan. Terus geng, selain itu Pak
Monadi juga memerintahkan Hermen Bizal
selaku Kepala Dinas Kesehatan Kerinci
untuk turun langsung melihat kondisi
korban dan memastikan setiap langkah
medis yang diambil untuk adik Bay ini
dilakukan secara benar dan juga
bertanggung jawab agar enggak
memperparah kondisinya dia. Terkait
dugaan mal praktik, si Yogi ya selaku
perawat yang menangani Bay dalam
prosedur sunat laser sudah dimintai
keterangan oleh pihak terkait. Dan
berdasarkan informasinya lagi, Yogi
menyatakan siap untuk bertanggung jawab
atas apa yang terjadi kepada Bay. Dan
pada tanggal 28 Mei kemarin, pimpinan
DPRD Kabupaten Kerinci yaitu Dr. Surmila
bersama dengan rekan DPRD lainnya yaitu
Adi Purnomo, Marius, serta sejumlah
wartawan itu sudah mendatangi rumah
keluarga Bay untuk melihat langsung
kondisinya Bai. Nah, Dr. Surmila ini
menyampaikan bahwa pihaknya merasa
prihatin atas apa yang menimpa pada Bay
dan akan mengawal kasus ini sampai
dengan selesai. Pihak DPRD juga sudah
meminta Dinas Kesehatan dan pihak
terkait untuk segera melakukan
investigasi. Kalau benar terjadi mal
praktik, maka harus ada
pertanggungjawaban secara hukum dan
etik. Nah, kasus ini harus diusut dengan
tuntas, Geng. Menurut Dr. Surmila, sebab
untuk mencegah keresahan di tengah
masyarakat. Karena seharusnya sunat itu
menjadi tindakan medis yang aman, tapi
bisa berakibat fatal kalau dilakukan
secara enggak profesional kayak gini.
Dan menurut beliau juga tindakan medis
seperti ini seharusnya dilakukan oleh
perawat dengan pendampingan dokter. Oleh
karena itu, penanganan terhadap kasusnya
bayi ini bukan soal mencari keadilan
lagi, tapi juga menjadi pembelajaran
penting agar praktik-praktik medis
ilegal enggak terus terjadi. Nah, Adi
Purnomo dan juga Marius juga menghimbau
masyarakat agar lebih berhati-hati lagi
dalam memilih layanan kesehatan,
terutama yang tidak memiliki izin resmi
atau dilakukan oleh pihak yang enggak
profesional. Netizen juga enggak tinggal
diam di dalam hal ini. Banyak yang
membantu BY dengan mengirimkan donasi
untuk bisa meringankan biaya pengobatan
bagi BY.
Oke, itu baru kasus yang pertama. Itu
aja udah bikin ngos-ngosan ya, Geng ya.
Gimana dengan kasus-kasus selanjutnya
nih? Udah siap belum buat mendengarkan
kasus-kasus selanjutnya? Oke, kita
langsung mulai dengan kasus selanjutnya
nih. Ini masih seputar burung ya, masih
seputar pemotongan burung yang gagal
nih. Ayo langsung aja kita bahas ya,
masuk ke dalam kasus malpraktik yang
kedua. Bocah di Palembang yang pipisnya
sampai bercabang setelah menjadi korban
dari mal praktik sunat.
[Musik]
Jadi, Geng, insiden ini dialami oleh
seorang bocah yang berinisial AL berusia
6 tahun di Palembang, Sumatera Selatan.
Sama seperti adik yang berinisial bay
tadi, insiden yang dialami oleh AL ini
juga terjadi di rentang tahun 2024,
tepatnya di tanggal 3 Juli tahun 2024.
Saat itu ibunya Al ee kita sebutnya Al
aja ya. Jadi ibunya si Al ini yang
berinisial RM itu mendapatkan informasi
kalau ada agenda sunat massal yang
diadakan oleh Dinas Kesehatan Palembang
di kantor Camat Jakabar, Kelurahan 15
Ulu. Karena hal ini belum disunat,
ibunya RM langsung memanfaatkan momen
agenda sunat massal ini untuk bisa
menyunat anaknya ini. Harganya juga
pasti lebih terjangkau dibandingkan
sunat di klinik-klinik gitu. Soalnya
sunat masal gini diadakan oleh
pemerintah. Dan barulah masalah ini
muncul setelah Al selesai sunat. Setiap
Al buang air kecil, dia malah merasa
kesakitan. Nah, selesai sunat tuh kayak
ada yang aneh dengan burungnya. Yang
mengagetkannya lagi adalah pipisnya
enggak cuma keluar dari satu saluran
aja. Tahu kan kalau kalian cowok
biasanya keluar pipisnya di mana? Ya.
Nah, adik yang bernama Al ini pipisnya
keluar di lima
sumber, di lima lubang. Terutama
keluarnya itu dari jahitan sunatnya. Kan
kacau banget, Geng. Di pinggirannya
berarti. Dan ini terus terjadi sampai 5
bulan setelah dia disunat. Aduh, kasihan
banget ya. Kesiksa banget anak orang.
Terus, Geng. Pada bulan Desember tahun
2024, Al ini masih mengeluh kesakitan
dan RM ibunya memutuskan untuk
melaporkan kondisi anaknya ini ke Dinkes
Palembang. Dan pihak Dinkes Palembang
pun di saat itu berjanji untuk melakukan
penanganan karena kan ya program sunat
massalnya mereka yang adakan. Nah, namun
hingga bulan Januari tahun 2025 menurut
ibunya ya pihak Dinkes Palembang tidak
memberikan perawatan terhadap all dan
enggak ada tindak lanjut yang
signifikan. Ya, enggak usah heran
standar ya kita tinggal di mana. Ya,
harus ingat kita tinggal di mana, Geng?
Hal-hal kayak gini ya. Kalau persoalan
bertanggung jawab tuh jangan harap dah
kalau urusan sama pemerintah. Kalau
urusan proyek ah kencang semua. Oke. Di
saat itu, Geng bahkan katanya akan
dibantu agar all ini bisa dioperasi.
Cuma itu ya janji gitu ya. Enggak ada
kabar, enggak ada kabar lebih lanjut
soal pertanggungjawaban dari pihak
Dinkes Palembang. Oleh karena itu,
Alhirnya diperiksa ke dokter menggunakan
dana pribadi dari keluarga dan hanya
diberikan obat ya obat seadanya. Yang
tadinya Al ini bisa pipis sampai lima
cabang. Dengan pengobatan tersebut
beruntungnya lubang pipis all akhirnya
bisa tertangani dan sisa satu. Nah,
karena gak ada kejelasan dari Dink Ces
Palembang untuk bertanggung jawab ya,
karena kan keluarga udah pakai dana
pribadi nih. Akhirnya keluarga yang
merasa kasihan dengan kondisi anak
mereka yang terus merasa kesakitan
membuat sang ibu mau enggak mau
melaporkan peristiwa dugaan mal praktik
sunat yang dialami oleh anaknya ini ke
Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu atau
SPKT Polrestabes Palembang. Nah,
akhirnya sampai ke jalur hukum.
Di saat itu ada keterangan yang
diberikan oleh Santi Manora selaku lurah
Tuan Kentang yang mengatakan proses
kitan atau sunat massal tersebut
dilakukan oleh dokter yang berpengalaman
serta menerapkan prosedur operasi
standar atau SOP. Memang kegiatan sunat
massal tersebut difasilitasi oleh
Kecamatan Jaka Bering dan tim medisnya
dari Dinkes yang merupakan tenaga medis
dari Puskesmas Ogan Permata Indah atau
Opi dan Pembina. Santi ini menjelaskan
nih, setelah 10 hari kegiatan sunat
massal, orang tua Al ini melapor ke
pihak kelurahan yang menurut mereka Al
ini mengalami keluhan sakit dan saat itu
kata Santi Pemkot Kota Palembang itu
langsung melakukan pengecekan dan
membantu untuk pembuatan kartu Indonesia
Sehat atau KIS ya gunanya supaya si
korban bisa langsung berobat. Terus
selanjutnya pihak gabungan Pemkot
Palembang itu membantu untuk membawa Al
agar bisa berobat ke Rumah Sakit Hermina
Palembang. Setelah menjalani perawatan
selama beberapa hari, Al diperbolehkan
untuk pulang. Nah, namun menurut Santi
ketika Al ini dipulangkan, gak ada
keluhan dan kabar apapun dari si ibu
mengenai kondisi anaknya ini. Nah,
apakah masih mengalami sakit atau
enggak? Jadi, udah kayak diam aja gitu.
Nah, dikirain udah kelar masalahnya. Dan
setelah melaporkan kejadian tersebut,
Unit Pelaksana Teknis Daerah atau
disingkat dengan UPTD, Pemberdayaan
Perempuan dan Anak atau disingkat dengan
PPAS yang ada di Sumatera Selatan itu
udah membawa al ini untuk dirujuk ke
Rumah Sakit Muhammad Husein atau RSMH
yang ada di Palembang untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut. Nah, selama
dirawat di sana, AL ini akan tetap
menjalani pendampingan dari Dinas PPA
Sumatera Selatan untuk memastikan Al ya
mendapatkan penanganan yang tepatlah.
Kepala UPTD PPA yang bernama Pak
Amiruddin itu bilang pada tanggal 9
Januari tahun 2025 hal ini sudah
menjalani tindakan operasi di rumah
sakit tersebut. Tapi Pak Amiruddin
mengaku enggak bisa menjelaskan lebih
detail mengenai kondisinya pasca operasi
karena UPTD PPA enggak mendapatkan
informasi apapun dari pihak rumah sakit
saat akan operasi dan juga pasca
operasinya. Jadi enggak ada informasi
apa-apa. Bahkan Pak Amiruddin mengatakan
kalau pihak rumah sakit tidak terbuka
dengan informasi terkait kondisinya Al.
Meskipun begitu, Pak Amiruddin
menyebutkan jika Pemkot Palembang sudah
mengurus administrasinya Al dan Dinkes
Palembang itu bakal memantau
perkembangan dari Al sampai dia sembuh.
Jadi intinya mereka mengaku ya mereka
bertanggung jawab gitu, Geng. Nah, tapi
sampai detik ini e jujur aja ya dari
pemberitaan itu tidak ada apa ya
kelanjutannya. Jadi gua juga bingung nih
menyampaikan ke kalian gimana endingnya
si ADL ini. Apakah dia mendapatkan ganti
rugi? Apakah dia akhirnya sembuh? Karena
kan dari yang tadinya lima cabang nih
dia pipis, akhirnya sisa satu kan udah
diobatin sama orang tuanya pakai duit
pribadi. Nah, tapi dia masih mengeluhkan
sakit katanya. Nah, ending-nya gua
enggak tahu. Apa kalian yang berasal
dari Palembang tahu dengan cerita ini
dan endingnya seperti apa? Kalian boleh
share di kolom komentar.
Oke, itu adalah berita kedua. Yang
pertama tadi seramnya ya kan kepotong
helm polisi militernya. Yang kedua ini
eh
pipisnya ada lima cabang. Nah, sekarang
kita masuk yang ketiga nih. Gimana nih?
Lebih seram apa enggak nih? Kita akan
masuk ke dalam kasus yang selanjutnya
mengenai kasus dugaan malpraktik sunat
yang terjadi di Pontianak, Kalimantan.
Jadi, Geng, di Pontianak, Kalimantan
Barat ada seorang bocah berusia 9 tahun
yang diduga menjadi korban malpraktik
dari seorang dokter yang berinisial IL.
Nah, ketika bocah tersebut menjalani
tindakan sunat laser, lagi-lagi sunat
laser nih. Nah, korban ini mengalami
kerusakan fisik pada organ itunya serta
lubang saluran pipisnya. Jadi, pindah ke
bagian bawah. Allahuabbi, sedih banget.
Dan kronologi kejadiannya itu ya
diungkap oleh ibu korban langsung yang
bernama Popi. Jadi kejadiannya itu pada
tanggal 1 April 2022. Di saat itu Popi
ini ee bawa anaknya ke salah satu klinik
dokter yang berada di Jalan Tanjungpura,
Pontianak untuk disunat. Sehari sebelum
tindakan sunat dilakukan, Doter I
mengirimkan sejenis salep untuk
digunakan oleh anaknya. Nah, dokter ini
memberikan instruksi untuk memakaikan
salap tersebut ya selama 20 menit
sebelum datang ke klinik. Sebab salaf
tersebut ya berfungsi agar ketika
disuntik si pasien tidak akan merasa
sakit. Jadi kayak krim anestesi gitu
lah, Geng.
Nah, singkat cerita setelah mendapatkan
arahan tersebut dari dokter Popi ini pun
memakaikan salap tersebut ke anaknya.
Nah, akhirnya sampailah tiba di proses
sunatnya. Nah, di saat proses sunat
berlangsung, anaknya ini sempat menangis
kayak kesakitan banget gitu. Padahal
udah diolesin salep itu kan. Katanya sih
enggak sakit, tapi kok anaknya nangis
kejer gitu. Nah, apakah salaap ini
enggak berfungsi atau gimana gitu. Cuma
proses sunatnya masih dilanjutkan sampai
selesai sampai si anak diperbolehkan
untuk pulang. Nah, Popi ini menemukan
adanya kejanggalan di saat itu. Organ
vital anaknya tidak diperban setelah
disunat. Kalau enggak diperban kayak
gitu kan bahaya juga ya, Geng. Bisa
kotor atau gimana dan jahitannya bisa
lepas atau organ vitalnya bisa
kegesek-gesek sama celana. nanti pasti
peri. Sampai pada akhirnya di malam
harinya anaknya mulai merasakan nyeri
dan sakit di bagian organ vitalnya itu.
Dan saking sakitnya ya dia sampai demam,
Geng. Naik ee panas badannya dan si ibu
itu masih ngerawat secara mandiri di
rumah. Karena dia pikir mungkin itu
karena rasa sakit pasca operasi biasa.
Tapi setelah beberapa hari, dia
mengamati kalau ternyata alat vital
anaknya terlihat memutih dan juga pucat
serta bagian pangkalnya udah mulai
terlihat bengkak. Jadi kayak infeksi
gitu, Geng. Nah, ketika melihat kondisi
anaknya yang udah gak wajar, Popi ini
langsung menghubungi dokter yang
menangani anaknya di saat sunat itu,
yaitu dokter I dan mengirimkan foto
kondisi anaknya. Der. I pun menyarankan
agar Poppy membawa anaknya langsung ke
rumah sakit. Bukannya dia nih, dia yang
nyunatin, ya kan? Harusnya dia yang
paham kondisi itu. Bukannya dia yang
bertanggung jawab menangani hal
tersebut, tapi dia justru minta si orang
tua anak itu untuk dibawa ke rumah sakit
anaknya. Nah, pada akhirnya di tanggal 8
April tahun 2022, Popi sebagai seorang
ibu langsung membawa anaknya ke Rumah
Sakit Anugerah Bunda Katolistiwa. Di
saat itulah Popi baru mengetahui kalau
alat vital anaknya terbakar.
Terbakar, Geng. Yang pertama, ya
kepotong pala hajinya, ya. Pala hajinya
kepotong. Yang kedua, lubangnya ada
lima, pipisnya jadi lima ini. Jadi lima
apa namanya? Lima cabang. Yang terakhir
kebakar burungnya, kebakar pala hajinya
kebakar, Geng. Ya Allah. Dan dikatakan
ini terbakar ketika proses sunat
tersebut dan harus segera dioperasi
karena ujung pangkalnya sudah habis yang
disebabkan karena terbakar tadi, Geng.
Sehingga disarankan oleh dokter di rumah
sakit tersebut untuk melakukan operasi
cangkok kulit. Hah, kasihan. Mendengar
kondisi anaknya yang seperti itu, ya, si
ibu yang bernama Popi langsung nangis
kejar. Dia juga langsung menghubungi si
I si dokter untuk memberitahu kondisi
anaknya. I cuma bisa minta maaf dan
selama anaknya di rumah sakit, I ini gak
pernah sekalipun datang ngejenguk dan
gak ada minta maaf secara langsung
kepada Popi serta anaknya ini. Dan
setelah 3 bulan pasca operasi, ternyata
organ vital anaknya Popi enggak kunjung
membaik. Popi juga ngelihat adanya
keanehan lain dari anaknya tersebut
karena anaknya enggak bisa nahan pipis.
Jadi ketika pipis, alat pitalnya juga
langsung bengkak. Dan oleh karena itu,
Popi kembali menghubungi dokter bedah
yang menangani operasi anaknya untuk
berkonsultasi. Karena enggak mendapatkan
penjelasan yang memuaskan, Popi
memutuskan untuk membawa anaknya ke
rumah sakit yang ada di Jakarta untuk
melakukan tindakan operasi yang lebih
besar lagi dan lebih proper lah.
Sesampainya di Jakarta, Popi ini pertama
kali mendatangi Rumah Sakit Mayapada.
dia langsung yang benar-benar aja gitu,
rumah sakit yang paling oke lah. Dan
setelah melakukan pemeriksaan, diketahui
kalau anaknya itu enggak cuma mengalami
terbakarnya alat vital, tapi juga
mengalami infeksi saluran kencing.
Sehingga dia harus dirujuk ke Rumah
Sakit Fatmawati untuk operasi
selanjutnya. Nah, tapi geng walaupun
sudah menjalani operasi dan kondisinya
sudah lebih baik dibandingkan
sebelumnya, tapi kondisi organ vitalnya
itu masih belum normal seperti layaknya
laki-laki lain. Ya, menurut penjelasan
dokter, anaknya harus kembali menjalani
operasi agar organ vitalnya bisa kembali
normal, tapi juga harus menunggu
kesediaan anaknya. Sementara itu, selama
perawatan yang dijalani oleh anaknya, si
dokter IL ya itu enggak bertanggung
jawab sama sekali, Geng. Sampai pada
akhirnya Popi dan I sudah melakukan
mediasi sejak awal tahun 2023, Geng.
Nah, di saat itu ya kuasa hukum dari
korban yaitu Dewi Ari Purnamawati. Nah,
itu menyebutkan STR atau surat izin
praktik milik dr. I saat menangani
korban itu masih dalam proses
perpanjangan yang mana hal tersebut
melanggar kode etik. Nah, karena pada
saat itu seharusnya DR IL tidak
melakukan praktik sementara sampai STR
atau surat izin praktiknya itu keluar.
Jadi, enggak boleh tuh. Nah, jadi geng
selain karena persoalan kode etik, Dewi
juga mengatakan pada saat proses mediasi
berlangsung, I selaku dokter yang
menangani korban itu mengaku dia sendiri
belum mengetahui bagaimana cara
menggunakan alat yang dia gunakan itu
ketika mengkitan korban. Alat yang dia
pakai itu dia enggak tahu caranya, tapi
udah main potong-potong aja pala haji
orangnya. Kacau banget. Dan dia belum
pernah mencoba alat itu sebelumnya. Jadi
si Adik ini ya itu jadi kelinci
percobaannya IL dan IL sudah mengakui
adanya kelalaian yang dia lakukan selama
proses kitan berlangsung. Nah, Dewi
sangat menyayangkan enggak adanya itikat
baik dari IL karena sebenarnya
permasalahan ini bisa diselesaikan
dengan cara baik-baik. Tapi karena
IL-nya enggak peduli makanya kasusnya
jadi berlarut-larut. Dan Ikatan Dokter
Indonesia atau IDI juga memfasilitasi
proses mediasi antara pihak korban
dengan si dokter IL ini. Dan menurut
keterangan dari ketua ID Kalimantan
Barat yang bernama Dr. Rifka, IL ini
sempat nge-down, Geng, karena masalah
ini. Ya iyalah, lu yang salah, lu enggak
bertanggung jawab. Kalau lu nge-down, ya
urusan lu, gitu. Harusnya yang ng-edown
itu korban, gitu kan. Nah, dia ini udah
enggak praktik lagi, tapi izin
praktiknya belum dicabut katanya. Dan
praktik sunat laser sendiri sampai saat
ini ya masih diizinkan, Geng. Tapi
mungkin pada saat tindakan ya, Doter I
ini di luar kendalilah, mungkin lasernya
terlalu panas atau gimana gitu. Terlebih
lagi I ini mengaku belum bisa
menggunakan alat itu dengan ee
sebenar-benarnya lah. Nah, dia baru
pertama kali nyoba dan kasus ini juga
sudah ditangani oleh KPAI dan Floresta
Pontianak. Uh, kacau.
Pihak ini juga sudah melakukan sidang
terhadap IL, tapi belum diketahui
terkait pelanggaran kode etik yang akan
diberikan kepada dia. Saat dilakukan
mediasi, pihak korban meminta ganti rugi
sebesar Rp50 juta. Menurut gua kecil
banget ya untuk masa depan anak. Rp50
juta tuh kecil banget. Rp50 juta mau
buat beli apa? Buat ngejamin dia kuliah
sampai kelar juga enggak bisa ya.
harusnya di-up lagi sih, naik lagilah
tuntutannya. Kacau ini. Dan dokter IL
ini mengatakan kalau dia sanggup untuk
membayar tapi bayarnya nyicil katanya.
Nah, sementara keluarga korban enggak
mau dicicil, maunya langsung tunai Rp50
juta dan dilakukan lagi mediasi dan
tuntutan dari pihak keluarga jadi
semakin tinggi. Nah, ini baru benar nih.
Bukannya malah dikurangi sampai
menyentuh angka Rp300 juta kabarnya.
Keluarga nuntut si Del dan D. Rel pun
menyatakan enggak sanggup untuk
mengganti rugi dengan uang yang sebesar
itu. Ganti rugi itu pun didasarkan
karena enggak cuma anaknya aja yang
dirugikan, tapi Popi sebagai ibunya juga
mengalami tekanan psikis yang berat
sehingga Poppy dan anaknya sama-sama
mendapatkan perawatan ke psikolog. Ini
masuk akal. Ini enggak mengada-ngada kok
menurut gue ya kan? Ini masa depan
anaknya Boy. Sedih banget.
Itu dia geng pembahasan kita hari ini.
Tiga kasus mal praktik sunat yang
terjadi di Indonesia. Ini enggak
kebayang ya, Geng. Sunat itu kan menjadi
salah satu tindakan medis yang ya apa
ya? Yang sangat lumrahlah. Apalagi di
Indonesia. Kalau kita berbicara soal
sunat ini mengenai mayoritas muslim yang
ada di Indonesia rata-rata melakukan
sunat dan bahkan teman-teman gua yang
nonmuslim pun banyak yang melakukan
sunat demi kesehatan. Tapi kalau
misalnya marak terjadi kasus mal praktik
kayak gini, gimana anak-anak maupun
orang tua gak takut gitu? Mungkin masih
banyak kasus mal praktik yang lain yang
terjadi di Indonesia dan tiga ini adalah
sebagian kecilnya. Dan dari tiga kasus
yang gua jelaskan tadi, gua enggak
menemukan informasi lebih lanjut apakah
tenaga medisnya dikenakan sanksi atau
enggak. Karena seharusnya jika terjadi
kesalahan dalam tindakan medis, ya bisa
aja gitu ya tenaga medisnya diberikan
hukuman. Karena kasihan, Geng, para
korban jadi enggak bisa beraktivitas
dengan normal karena terus merasa sakit
dan ya bahkan mungkin cacat seumur hidup
di bagian alat vitalnya. Orang tua
korban juga harus mengeluarkan biaya
yang enggak sedikit untuk biaya
pengobatan anaknya dan apa ya mereka
juga kepikiran dengan masa depan
anaknya. Nah, dari kasus ini semoga
menjadi edukasi dan menjadi evaluasi
bagi pemerintah kita juga untuk bisa
mengawasi dengan ketat segala prosedur
medis yang dilakukan di setiap fasilitas
kesehatan. Dan buat kalian ya,
berhati-hati memilih dokter, memilih
klinik. Jangan sampai kena ya kayak gini
jadi korban malpraktik dokter-dokter
yang enggak kompeten atau mungkin
orang-orang yang mengaku dokter.
Itu dia geng pembahasan kita kali ini.
Gimana menurut kalian tentang pembahasan
ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.