Transcript
1W7o3-En0SY • NETIZEN HEBOH BILL GATES INGIN INDONESIA JADI TUMBAL TEST VAKSIN TBC? TERNYATA FAKTANYA..
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1433_1W7o3-En0SY.txt
Kind: captions
Language: id
Beberapa hari belakangan, netizen
Indonesia lagi ramai banget nih
ngomongin soal kedatangan Bill Gates ke
Indonesia. Wah, ngapain nih seorang Bill
Gates? Orang ya termasuk barisan orang
terkaya di dunia ya, konglomerat
millioner tiba-tiba datang ke Indonesia.
Gue yakin di antara kalian enggak ada
yang enggak tahu Bill Gates ya. Dia ini
adalah pemilik dari Microsoft yang
pastinya ya benda ini ada di laptop
ataupun di komputer kalian semua. Baik
kalian yang masih sekolah, kuliah,
ataupun yang udah kerja. Dia datang nih,
Geng, ke Indonesia terus diajak oleh
Presiden kita, Pak Prabowo untuk
mengunjungi salah satu sekolah yang ada
di Jakarta Timur dan melihat penerapan
dari ee programnya Pak Prabowo yaitu
makan gizi gratis. Nah, ini benar-benar
ya cukup menghebohkan Indonesia yang
mana kedatangan Bill Gates ke Indonesia
ini juga bukan tanpa alasan atau hanya
sekedar pengin liburan atau cuma pengin
berkunjung ke sekolahan tersebut untuk
ngelihat makan gizi gratis doang gitu.
Nah, salah satu maksud dia datang ke
Indonesia adalah untuk menyoroti
mengenai sistem pendidikan di Indonesia
yang menurut dia perlu adanya
pemanfaatan AI dalam berbagai jenjang
pendidikan khususnya pendidikan menengah
dan tinggi. Nah, ini Bill Gates aja udah
ngelihat nih datang kan ke
sekolah-sekolah Indonesia gitu ya,
datang ke sekolah-sekolah kalian tuh
yang mejanya banyak coret-coretan tip X
tuh ya. Dindingnya ada tulisan Ani Love
Aang atau Are you Love Budi gitu ya.
Nah, Bill Gates datang ke sana terus
dilihat sama Bill Gates, "Wah, ini butuh
AI ya" ya, butuh penerapan atau
pemanfaatan AI dalam sistem belajar eh
di Indonesia kata Bill Gates. Nah, Bill
Gates tuh enggak tahu aja ya kalau
siswa-siswa Indonesia tuh ya enggak
senang AI, senangnya tuh Velociti ya
kan. Tak tak tak. Aduh, abang N begitu
stayu. Oke. Nah, jadi geng di saat itu
Bill Gates ya menyorotilah sistem
pendidikan di negara kita dan kalian
bisa lihat sendiri raut wajah Bill Gates
ya. Kalian bisa nilai. Nah, tapi maksud
kedatangannya enggak cuma itu doang,
Geng. Yang dibicarakan Bill Gates eh
justru lebih besar dan hal ini yang
bikin netizen Indonesia itu jadi kayak
gimana gitu. Jadi, geng Bill Gates ini
datang ke Indonesia yang menurut netizen
ini kontroversial banget. Yaitu ketika
dia ingin menjadikan negara kita sebagai
tempat uji coba vaksin TBC yang nantinya
akan diciptakan atau dibuat oleh
perusahaannya Bill Gates ini. Nah,
kebayang enggak tuh? Netizen Indonesia
pada heboh loh. Kok kayak kita jadi
bahan kelinci percobaan? Kata netizen
nih, bukan kata gua ya. Netizen tuh pada
heboh katanya, "Loh, kok jadi kita yang
ee dijadiin uji cobanya? Kenapa enggak
di negara dia aja di Amerika?" tempat di
mana diuji cobanya ee vaksin TBC ini.
Kenapa harus ke orang Indonesia? Apakah
maksudnya orang Indonesia banyak yang
terkena TBC gitu? Makanya kita yang jadi
tempat uji coba. Padahal kalau kita
lihat ya secara polusi memang sih polusi
di Indonesia khususnya Jakarta itu buruk
banget. Tapi kalau kita bandingkan
dengan daerah yang ada di India,
bukankah di sana jauh lebih buruk
kondisi udaranya? Bukankah di sana juga
banyak yang terkena TBC? Kenapa harus
Indonesia? Nah, itulah yang menjadi
pertanyaan banyak netizen saat ini.
Seperti yang kita tahu ya, Bill Gates
ini banyak juga kontroversinya ya kan?
E, termasuk salah satunya ketika dia
tiba-tiba terjun ke dunia farmasi,
obat-obatan dan membuat vaksin COVID-19.
Orang-orang tuh banyak mempertanyakan
nih orang sebenarnya jualan komputer,
jualan ee aplikasi atau jualan obat kok
semuanya dijadikan bisnis. Nah, sekarang
dia malah muncul dengan program dia yang
baru, yaitu ingin membuat vaksin TBC.
Dan yang menjadi tempat uji coba dari
vaksin itu adalah masyarakat kita. Hal
ini menjadi bola liar di tengah
masyarakat kita, Geng. Ya, seperti ada
yang merasa kalau seakan-akan kita
ditumbalkan, ya kan? Ada yang merasa
kayak kita terhina banget, gitu. Yang
kayak gua bilang tadi, seolah-olah kita
banyak banget yang penyakitan,
seolah-olah kita tuh banyak banget yang
terkena TBC gitu. Nah, di video kali ini
kita bakal membahas nih, Geng, isu ini
sekaligus menjawab apakah benar orang
Indonesia akan ditumbalkan sesuai dengan
yang kalian pikirkan gitu. Menjadi
kelinci percobaan. Apakah kayak gitu?
Ya, belum tentu gitu ya. Kita coba bahas
bareng-bareng dulu. Oke, langsung aja
kita bahas nih. Halo, Geng. Welcome back
to kamar
[Musik]
Jerry Genggeng. Oke, kita langsung masuk
ke dalam pembahasan utamanya dulu nih.
Ketika kedatangan Bill Gates ke
Indonesia dan rencana uji coba vaksin
TBC di Indonesia mulai digaungkan.
Jadi, geng Bill Gates ini dia adalah
pendiri Microsoft sekaligus pendiri Bill
and Melinda Gates Foundation. Dia tiba
di Indonesia pada hari Rabu tanggal 7
Mei tahun 2025. Kedatangan tersebut
langsung disambut oleh Presiden Prabowo
di Istana Merdeka. Di Istana Merdeka,
Bill Gates ini dikenalkan dengan
beberapa menteri, yaitu salah satunya
Rosan Ruslani selaku Menteri Investasi
dan Hilirisasi. Terus ada Mutia Hafid
selaku Menkom Digi. Terus ada Budi
Gunadi Sadikin selaku Menkes. Dan Led
Coltedi Indrawijaya selaku Seskap dan
Prasetyo Hadi selaku Mensesnek serta
Sugiono selaku Menteri Luar Negeri.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan Bill
Gates juga dilanjutkan dengan membahas
mengenai berbagai hal mulai dari isu
kesehatan global, nutrisi, keuangan,
sampai infrastruktur digital publik. Di
dalam pembahasan itu, Bill Gates
menyebutkan kalau pendidikan dan
kesehatan adalah dua hal utama yang
menentukan masa depan sebuah negara.
Karena dengan anak-anak yang sehat akan
lebih mampu untuk belajar dan pendidikan
yang baik akan menghasilkan sumber daya
manusia yang bisa meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan memperkuat
sistem kesehatan negara.
Benar banget ini. Gua setuju nih dengan
perkataan Bill Gates. Tapi apakah negara
beliau atau negara mereka berkenan gitu
kalau anak Indonesia ini pintar? Itu kan
yang jadi pertanyaannya. Ya enggak sih,
Geng? Apakah mereka rela kalau
manusia-manusia di Asia ini lebih
pintar? Atau jangan lebih pintar deh,
tapi pintarnya setara dengan
mereka-mereka orang. Nah, itu yang jadi
pertanyaannya. Kalau misalkan
mengucapkan kata-kata memberikan
motivasi, aduh siapa juga bisa gitu ya.
Ya, kayak akan lebih baik anak-anak ini
pintar-pintar generasi masa depan untuk
memajukan Indonesia. Masalahnya lu mau
enggak kalau Indonesia maju get? Itu
masalahnya. Nah, terus geng Bill Gates
juga bilang kalau Singapura dan Vietnam
sebagai negara yang menjadi contoh
terbaik yang menerapkan sistem
pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
Nah, kita diminta untuk mencontoh
Singapura dan Vietnam. Menurut Bill
Gates, Singapura unggul karena
stabilitas ekonomi dan budaya belajarnya
tinggi. Nah, tapi geng, untuk masalah
capaian pendidikan, Bill Gates
mengatakan Vietnam lah yang bisa
melakukan hal tersebut. Padahal Vietnam
memiliki tingkat pendapatan yang relatif
rendah jika dibandingkan dengan
Singapura. Untuk bisa mendukung
pendidikan, Bill Gates menekankan kalau
sangat penting untuk memanfaatkan AI di
zaman sekarang, khususnya di jenjang
pendidikan menengah dan tinggi. Sebab
Bill Gates ini percaya kalau AI bisa
menjadi alat bantu belajar yang sangat
efektif. Selain itu, melalui sambutan
Presiden Prabowo, Bill Gates sudah
memberikan bantuan dana hibah. Ada dana
yang diberikan kepada negara kita. Hibah
kepada Indonesia sebesar 159 juta dolar
Amerika atau setara dengan 2,6 triliun.
Pendiri Microsoft sekaligus filantropis
Bill Gates memberikan dana hibah
sebesar juta Do Amerika Serikat untuk
Indonesia.
Gampang banget ya ngeluarin duit ya Bill
Gates ya. Jadi lagi ngobrol nih. Iya Pak
ini kan harus tinggi gitu-gitu. Eh Pak
Pak bentar Pak ada salam tempel keluar
tuh 2,6 triliun. Enggak, enggak, enggak
gitu sih ya bayangannya gitu, gitu.
Kayak dia berkunjung ke negara kita ya
kan dijamu pakai air putih, dibalas
pakai 2,6 triliun gitu. Gokil banget.
Jadi ya segampang itulah ya seorang eh
miliarder triliuner konglomerat
mengeluarkan uang. Nah, dana yang
diberikan oleh Bill Gates ini ya
diberikan sejak tahun 2009 dan
kebanyakan ditujukan untuk bidang
kesehatan.
Prabowo menambahkan bahwa bantuan 159
juta dolar Amerika Serikat itu diberikan
Bill Gates sejak 2009.
Ada sebesar 1,3 triliun dari dana hibah
tersebut yang digunakan untuk
pengembangan vaksin polio yang
diproduksi oleh Biofarma, yaitu salah
satu produsen 2 miliar dosis vaksin tiap
tahunnya dan dimanfaatkan oleh 42 negara
di seluruh dunia serta digunakan oleh
902 juta orang. Setelah agenda diskusi
di Istana Merdeka, Presiden Prabowo
mengajak Bill Gates ini untuk melihat
penerapan kebijakan program makan
bergizi gratis atau MBG di SD Negeri
Jati 03 Pulau Asem, Jakarta. Nah,
sekitar jam 10.00 pagi di saat itu, Pak
Prabowo itu ngajak Bill Gates ini untuk
melihat menu MBG yang masih berada di
dalam wadah makanan. Selain itu, Pak
Prabowo juga mengajak Bill Gates untuk
melihat cara siswa mengkonsumsi makanan
bergizi tersebut di salah satu ruangan
kelas di sekolah itu. Nah, di depan
pintu masuk kelas, Pak Prabowo
menjelaskan gimana pelaksanaan MBG ini,
terus ya fungsi dan tujuannya buat apa,
semuanya dijelaskan. Nah, selain
meninjau pelaksanaan MBG, Presiden
Prabowo dan Bill Gates juga meninjau
area pemeriksaan kesehatan bagi para
siswa untuk mendapatkan layanan cek
kesehatan dasar secara gratis. Nah, di
sana ya Presiden Prabowo dan Bill Gates
itu mengamati langsung proses
pemeriksaan tinggi badan, berat badan,
tekanan darah, dan pemeriksaan gigi
serta telinga. Nah, Bill Gates sendiri
dikatakan sangat mengapresiasi terhadap
program yang dijalankan oleh Presiden
Prabowo tersebut. Sebab, program ini
dinilai sangat strategis bagi Bill Gates
untuk mendukung kebutuhan gizi bagi ibu
hamil, menyusui, dan anak-anak di usia
dini. Bill Gates juga melihat program
ini cuma bermanfaat bagi siswa sekolah
dasar, tapi juga ya sebagai pendukung
bagi ibu-ibu yang sedang hamil dan
menyusui. Dan atas jasa-jasa Bill Gates
yang mendukung program Indonesia,
Presiden Prabowo bakal memberikan tanda
kehormatan kepada Bill Gates pada bulan
September di New York yang bertepatan
dengan sidang umum PBB
nantinya. Nah, entah kenapa gua berpikir
ya, Geng eh seandainya ya Bill Gates itu
enggak cuma ngunjungin sekolah di
Jakarta. Sesekali boleh ngunjungin
sekolah di Lampung ya enggak sih? Di
Lampung, di Palembang mungkin atau di
Aceh sana atau di Papua, di Maluku ya
biar kelihatan gitu. Kira-kira sama
enggak ya penerapan apa yang sudah
diterapkan di Jakarta dengan yang
diterapkan di daerah-daerah? Kayaknya e
mungkin tanggapan Bill Gates bakal beda
kali ya. Gua enggak tahu juga menurut
kalian gimana, Geng? Terus geng, selain
yang sudah gua sebutkan tadi ya, ada
satu lagi pembahasan di dalam diskusi
antara Presiden Prabowo dengan Bill
Gates ini, yaitu mengenai uji coba
vaksin TBC di Indonesia. Nah, ini nih
yang bikin heboh. Nah, Bill Gates di
saat itu melalui yayasannya dia saat ini
mendanai penelitian dan uji coba vaksin
TBC yang sekarang sudah memasuki tahap
uji klinis di beberapa negara dan
Indonesia dijadikan pilihan, salah satu
pilihan gitu oleh Bill Gates sebagai
salah satu tempat untuk uji coba vaksin.
Nah, Bill Gates itu bilang akan ada dua
lokasi di Indonesia yang udah dia pilih
untuk menjadi tempat uji klinis dari
vaksin TBC ini. Nah, tapi dia enggak
menjelaskan, Geng. lebih detail ini dua
lokasi yang dimaksud tuh di mana enggak
dijelaskan, tapi dia bilang udah ada dua
lokasi. Yang jadi pertanyaannya, apa nih
alasan Bill Gates malah memilih
Indonesia untuk dijadikan salah satu
negara tempat uji coba vaksin TBC-nya
dia? Nah, ternyata jawabannya katanya
nih ya dari data TBC di Indonesia
angkanya cukup besar, penderitanya cukup
banyak. Ternyata begitu, Geng.
Terus, Geng, selain di Indonesia, uji
coba vaksin TBC ini juga bakal dilakukan
di negara lain seperti Afrika serta
India. Nah, ini dari awal tadi gua udah
mention-mention gitu ya. E, kenapa
enggak di India? Ternyata India ada,
Afrika ada, dan Indonesia ada. Kalau
kita lihat dari negara yang dia pilih,
kok seolah-olah ya negara kita tuh
setara gitu kotornya sama dua negara
yang disebutkan tadi ya. Karena kalau
kita berbicara TBC, kita sudah pasti
berbicara dengan kualitas udara ya kan.
Berarti seburuk itukah kualitas udara di
negara kita? Ya untungnya ya untungnya
negara kita ini adalah negara kepulauan.
Jadi kalau kalian mau cari udara segar
di negara kita tuh masih ada. Kalian
bisa ke Bali, kalian bisa ke Kalimantan,
kalian bisa ke Papua. Terkhusus untuk
Jakarta sebagai wajah Indonesia ketika
polusinya udah hancur banget kayak
sekarang ya otomatis Indonesia dianggap
sebagai salah satu ya negara dengan
polusi terburuk. Makanya kita menjadi
salah satu pilihan. Pemerintah Indonesia
tentunya merasa terbantu nih dengan
inisiatif dari Bill Gates tersebut
karena ya bakal membantu menurunkan
penderita TBC di negara kita. Nah, tapi
yang jadi pertanyaannya apakah vaksin
tersebut udah pasti manjur? Ampuh.
Karena kan bahasanya di sini adalah uji
coba gitu kan. Makanya rencana ini
justru banyak diprotes oleh mayoritas
masyarakat Indonesia. Banyak yang enggak
setuju. Kita bisa lihat sendiri, Geng.
Dari berbagai komentar di sosial media
mulai dari X sampai Instagram, netizen
Indonesia merasa dengan menjadikan
Indonesia sebagai tempat uji coba itu
sama aja dengan menumbalkan masyarakat,
katanya dan menjadikan kita sebagai
kelinci percobaan. Yang mana itu artinya
kalau pemerintah setuju dengan rencana
ini ya netizen menganggap kalau
pemerintah tidak peduli dengan
keselamatan nyawa masyarakat Indonesia.
Karena balik lagi konteksnya ini adalah
uji coba, bukan vaksin yang sudah
berhasil lalu diaplikasikan ke tubuh
kita orang Indonesia supaya kita sehat.
Ya, bukan itu. Tapi justru masih uji
coba. Jadi kalau gagal ya manusia yang
diaplikasikan vaksin ini harus menerima
konsekuensinya. Ya gitulah. Itulah yang
menjadi protes masyarakat.
Jadi menurut saya sih pemerintah harus
benar-benar lebih meyakinkan ya ee untuk
keamanannya untuk masyarakat atau
enggaknya gitu ya. Tapi yang jadi
pertanyaannya nih Geng, apakah benar uji
coba vaksin TBC ini justru bakal menjadi
bumerang atau menumbalkan masyarakat
kita seperti yang dikhawatirkan oleh
netizen? Nah, untuk menjawab itu kita
harus mengetahui dulu nih apa sih itu
penyakit TBC dan seberapa parah kasusnya
di Indonesia? Datanya gimana. Nah,
sekarang kita masuk ke dalam
[Musik]
pembahasannya. Jadi, Geng ya mungkin
kalian udah banyak yang tahu TBC itu
apa, tapi di sini gua ee menjelaskan
singkat aja. Jadi, TBC itu merupakan
singkatan dari
tuberkulosis dan TBC ini disebabkan oleh
bakteri myobacterium tuberkulosis yang
bisa menyerang siapa saja. Dan bagian
organ tubuh yang diserang biasanya
adalah paru-paru, tulang belakang,
kulit, otak, kelenjar getah bening, dan
juga jantung. Nah, jadi parah nih.
Penyakit ini adalah penyakit yang
menular, Geng. dan cara penularannya
melalui udara yang di mana ketika orang
yang terkena TBC itu batuk secara enggak
langsung di tempat umum tanpa ditutup
menggunakan tangan atau tisu atau masker
gitu ya, maka kuman tersebut bakal
keluar dan berpindah bertebaran melalui
udara bisa terhirup oleh orang yang ada
di sekitar yang sangat memungkinkan
orang tersebut tertular. Gejala dari
penyakit ini ada dua, yaitu gejala utama
yang mana penderitanya bakal batuk
terus-menerus mau itu berdahak ataupun
enggak berdahak. Dan gejala lain seperti
demam, meriang dalam jangka waktu yang
panjang, sesak nafas, nyeri dada, berat
badannya juga turun dan ketika batuk
terkadang sudah ada cairan merahnya ya.
Terus nafsu makannya juga turun, terus
orangnya berkeringat di malam hari
padahal enggak melakukan kegiatan yang
berat-berat. Nah, biasa tuh bakal kurus
banget orangnya. Sedih deh kalau lihat
orang TBC
tuh. Perkembangan TBC di Indonesia
memiliki sejarah yang panjang. Catatan
tertua mengenai TBC di Indonesia itu
pertama kali ditemukan di salah satu
relief Candi Borobudur pada abad ke-8
Masehi. Jadi, ini penyakit sudah tua
banget, sudah lama banget. Berlanjut
ketika Indonesia dijajah Belanda, ada
beberapa catatan mengenai TBC, yaitu
perkumpulan Centrale Fair Aning for
Tuberculose Bas Trading. Wah, susah
banget nih pengucapannya bahasa Belanda
nih. Yang mana ini dibentuk pada tahun
1908 dan tahun 1939 yang mana pada saat
itu didirikan 15 sanatorium untuk
perawatan pasien TBC paru dan 20
konsultati buru yang memberikan
penyuluhan serta pengobatan terhadap TBC
ini. Setelah Indonesia merdeka, ya,
setelah udah enggak ada lagi ee apa
Belanda tepatnya dia di era Orde Lama
tahun 1945 sampai dengan 1966,
didirikanlah sebuah lembaga yaitu
lembaga pemberantasan Penyakit paru-paru
atau LP4 di Yogyakarta. Ini dikenal
dengan Balai Pemberantasan Penyakit Paru
atau BP4. Nah, lembaga tersebut disebar
luaskan sampai ke 53 lokasi. Jadi pada
tahun 1969 sampai dengan 1973 tanggung
jawab penanganan TBC sudah dialihkan nih
dari BP4 tadi ke Direktorat Jenderal
Pemberantasan Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit Menular atau P4M
Departemen Kesehatan RI. Program ini
berkaitan dengan program pencegahan
melalui imunisasi BCG yang khususnya
diperuntukkan bagi anak-anak yang
dikenal dengan program pemberantasan TBC
dan BCG atau yang sering disebut sebagai
P2 TBC atau BCG. Nah, penemuan pasien
TBC itu sudah dimulai dengan pemeriksaan
dahak dan masa pengobatan berlangsung
sampai dengan 1 hingga 2 tahun. Jadi,
cukup panjang tuh perjalanan dari
penyakit ini. Nah, terus dilanjutkan
pada tahun 1976 sampai dengan 1994 masa
pengobatan menjadi lebih singkat. Yaitu
yang tadinya ya pengobatannya 1 sampai 2
tahun tiba-tiba menurun jadi 6 bulan.
Jadi udah mulai ketahuan nih cara
menanganinya gimana. Nah, di kurun waktu
ini juga mulai diuji coba strategi
directly observe treatment short course
atau disingkat dengan DOTS untuk pertama
kalinya. Di akhir tahun 1990-an, Dots
ini dijalankan secara programatik untuk
pertama kali di Kabupaten Muara Bungo,
Jambi, terus Kabupaten Sidoarjo, Jawa
Timur dengan angka kesembuhan mencapai
85%. Nah, jadi dulu tuh susah banget
ngobatin TBC, tapi belakangan setelah
ditemukan strateginya, nah jadi 85% bisa
sembuh dalam waktu 6
bulan. Terus, geng, di tahun 1999,
Menteri Kesehatan pada saat itu yaitu
Ahmad Sujudi membentuk gerakan terpadu
nasional atau disingkat dengan Gerdunas
TB pada tanggal 24 Maret sebagai cikal
bakal kemitraan TB di Indonesia. Nah, di
tahun 2024 diselenggarakanlah survei
secara nasional yang menunjukkan
seberapa banyak orang yang mengidap
penyakit TB atau TBC ini. Dan survei ini
dilakukan bersamaan dengan LD Bank,
Departemen Kesehatan Indonesia. Kemudian
diketahui kalau ternyata beberapa jenis
TBC ada yang kebal terhadap obat atau
istilahnya itu resistance obat. Jadi
diobatin mau berapa lama pun tetap
enggak sembuh. Nah, biasanya pengidap
TBC bakal diberikan antibiotik seperti
isoniazid, terus ada rifampisin,
pirazinamid, dan yang terakhir
etambutol. Tapi meskipun sudah diberikan
semua itu tadi, ternyata bakterinya
enggak merespon obat tersebut sehingga
ya bisa dinyatakan orang tersebut enggak
mempan lagi dengan obat-obatan dan
antibiotik-antibiotik. Jadi ibaratnya
tuh penyakitnya udah kebal, bakterinya
udah kebal. Nah, akhirnya nih ya pada
tahun 2006 dilakukan lagi nih survei
resistensi obat TB ini pertama kalinya
di Indonesia karena udah mulai
ditemukan, wah kok penyakitnya jadi
kebal gitu, kok ee malah bakterinya
beradaptasi dengan obat-obatan. Nah,
akhirnya dilakukanlah survei lagi dan 3
tahun kemudian dibuatlah program
nasional pengendalian TB Resistance Obat
di Indonesia. Kemudian pihak WHO
menerbitkan laporan yang menunjukkan
kalau orang yang mengidap HIV itu
memiliki kemungkinan 16 kali lebih besar
untuk terserang penyakit TBC ini
dibandingkan dengan orang yang ya
normal. Jadi secara enggak langsung nih
ya kan orang yang terkena HIV itu kan
daya tahan tubuhnya atau imunnya itu kan
melemah. Nah, dia gampang terkena
bakteri TBC itu dan TBC ini menjadi
penyebab kematian utama di antara
orang-orang yang hidup dengan HIV. Jadi
kalau ada orang kena HIV nih, ah
meninggalnya itu bukan karena kulitnya
melepuh, gatal-gatal atau enggak, tapi
HIV-nya memicu TBC. Orangnya batuk-batuk
terus sampai kering banget itu dadanya
sampai kelihatan tulang meningoy. Kedua,
penyakit ini adalah kombinasi yang
mematikan banget yang masing-masing bisa
mempercepat perkembangan penyakit satu
sama lain. Ya, HIV muncul mempercepat ee
kematian akan TBC ya. TBC juga bisa
memicu HIV itu untuk ya melemahkan
terus-menerus si orang yang mengidapnya.
Nah, oleh karena itu pihak WHO
merekomendasikan pendekatan dengan 12
kegiatan kolaboratif TB HIV yang
mencakup tindakan pencegahan dan
pengobatan infeksi serta penyakit yang
bertujuan untuk mengurangi kematian.
Nah, jadi di saat itu dikolaborasikanlah
tuh penyakit TBC, penyakit HIV itu udah
dianggap tuh beriringan. Harus dicek
bareng-bareng. Di tahun 2013 sampai
dengan tahun 2014, survei penderita TBC
secara nasional di Indonesia negara kita
udah menggunakan metode yang sesuai
dengan rekomendasi WHO. Dan kalau kita
lihat dari sejarahnya nih ya, yang
begitu panjang ternyata ya penyakit TBC
ini di negara kita sampai tercatat di
relief Candi Borobudur. Nah, lalu gimana
kondisinya sekarang? Ini maksudnya
tercatat di relief Candi Borobudur tuh
ini, Geng. Jadi kayak lu tahu ya, Candi
Borobudur kan ditemukan belakangan tuh
ya ketika zaman penjajahan. Nah, ketika
dilihat tuh ada tulisan-tulisan. Nah,
ketika diartikan ternyata penyakit TBC
itu masuk ke dalam salah satu tulisan
peninggalan sejarah itu. Yang mana
artinya berarti penyakit TBC ini udah
ada dari zaman kerajaan-kerajaan dulu.
Nah, berbeda dengan penyakit-penyakit
lain. Contohnya kayak flu, terus
contohnya kayak COVID. Nah, itu kan
baru-baru munculnya
tuh. Nah, terus Geng kondisinya sekarang
gimana nih? Apakah penderita TBC udah
mulai menurun di Indonesia? Jawabannya
ternyata enggak. Menurut laporan WHO
yang mengambil data dari tahun 2020
sampai 2023, justru Indonesia menjadi
negara terbesar kedua kasus TBC di
dunia. Di bawah India, ya ingat di bawah
India kita yang berada di posisi pertama
nih, India. Jumlah kasus di Indonesia
mencapai 10% dari total kasus global.
Peringkat lima besar negara yang menjadi
penyumbang kasus TBC terbanyak adalah
India sebesar 26%. Terus ya menyusul
Indonesia sebesar 10%. Baru setelah itu
ada Cina dan Filipina sebesar 6,8% dan
Pakistan yang terakhir yaitu 6,3%. Nah,
selanjutnya baru negara negara lain.
Nah, itu top five-nya lima besarnya.
Selain Indonesia, Filipina dan Myanmar
itu menjadi penyumbang terbesar juga
terhadap peningkatan kasus TBC dunia di
antara tahun 2020 sampai 2023. Nah,
terus gimana nih dengan TBC yang
resistan terhadap obat alias kebal nih
terhadap obat? Nah, sayangnya Indonesia
juga masuk ke dalam daftar ini, Geng.
dengan kontribusi sebesar 7,4% dari
total kasus global. Jadi ibaratnya gini,
dari seluruh kasus di dunia nih ya,
penyakit TBC yang susah banget diobatin
karena bakterinya udah kebal itu
7,4%-nya berasal dari Indonesia. Berarti
kan udah kronis banget, udah parah
banget. Negara-negara lain dalam
kelompok negara dengan kasus TBC yang
resistance obat tertinggi itu ada
27%-nya dari India. Terus ada Rusia tuh
setara tuh sama kita yaitu 7,4%. Terus
ada Cina 7,3% dan Filipina 7,2%. Selain
itu ada 39 negara yang mengalami
peningkatan lebih dari 5% dalam insiden
TBC ini pada tahun 2023 dibandingkan
dengan tahun 2015. Jadi pada tahun 2023
tuh banyak negara yang mulai meningkat
juga penyakit TBC-nya ya. Ini kan
berhubungan dengan ya polusi udara gitu
ya. Sekarang kita lihat aja
negara-negara sekarang polusinya pada
gila-gilaan. Dan di kawasan Asia ya,
Indonesia, Mongolia, Myanmar, Filipina
itu masuk ke dalam kelompok ini, Geng.
Nah, Indonesia juga menjadi salah satu
dari 10 negara dengan gap terbesar
antara estimasi kasus dan kasus yang
terdeteksi. Misalnya nih, ya, estimasi
kasusnya itu 10. Nah, ternyata yang
terdeteksi jauh lebih banyak. Yang
tadinya diperkira, "Ah, cuma 10 orang."
Tahu-tahu pas dicek, "Buset, ada 100
orang ternyata." ya. Nah, negara kita
ini menyumbang 11% dari total gap global
setelah India sebesar
16%. Gila. Nah, tingginya kasus TBC ini
sangat berdampak bagi kita, Geng. Selain
karena mengancam kesehatan kita semua,
ternyata juga membatasi akses kita ke
luar negeri. Jangan salah lu. Lu mau ke
luar negeri, ya ada beberapa negara yang
enggak mau nerima masyarakat kita karena
dianggap kayak, "Ah, lu bawa penyakit."
gitu.
[Musik]
Makanya kalau kalian bertanya-tanya ya,
kenapa sih paspor kita lemah banget?
Nah, paspor Indonesia ini termasuk ke
dalam paspor yang lemah. Dan gua pernah
singgung masalah ini di konten
sebelumnya yang mana ya yang berkaitan
dengan ee paspor Malaysia yang mulai
menguat dan kita ketinggalan jauh gitu.
Lemahnya paspor kita ini berkaitan
dengan tingginya kasus TBC, Geng. Jadi
ibarat itu seolah-olah nih ya kita orang
Indonesia tuh ke luar negeri kayak badan
kita kotor banget gitu. Orang-orang luar
negeri itu enggak mau nerima kita karena
takut penyakit yang kita bawa dari
negara kita sendiri. Dan belum lagi
kalau mau ke luar negeri selain ASEAN
kita pasti membutuhkan visa, kan. Nah,
ada beberapa negara yang mewajibkan bagi
setiap orang yang mau mengajukan visa
dilengkapi dengan sertifikat bebas TBC.
Salah satunya adalah negara Timur
Tengah. Nah, migran dari negara lain
yang mau kerja di Timur Tengah harus
membuktikan kalau mereka tidak pernah
terkena TBC. Sekalipun mereka dulu
pernah terkena TBC dan sudah sembuh, ya
enggak akan pernah bisa kerja di Timur
Tengah. Jadi seketat itu dan dari sini
kita bisa lihat dampak dari TBC ini bagi
Indonesia tuh krusial banget. Kita jadi
kayak terisolasi kayak
[Musik]
gitu. Dari cerita yang sebelumnya, kalau
ternyata dampak TBS sebegitu parahnya,
Geng, apakah pemerintah Indonesia udah
berupaya nih untuk menangani hal ini?
Nah, jawabannya, Geng, udah. Pemerintah
Indonesia sudah menjadikan
penanggulangan TBC sebagai program
prioritas. Di pemerintahan Presiden
Prabowo, penanganan terhadap penyakit
TBC ini masih terus dilakukan melalui
penguatan gerakan bersama desa dan
Kelurahan siaga TBC. Gerakan nasional
ini dipusatkan di Kantor Kelurahan
Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta
Timur. Pemerintah ingin mempercepat
eliminasi TBC di Indonesia pada tahun
2030 atau 20 tahun lebih cepat dari
target global yang sudah ditetapkan oleh
WHO. Di tahun 2025, pemerintah kita itu
menargetkan tercapainya 90% deteksi
kasus, 100% inisiasi pengobatan, dan
tingkat keberhasilan pengobatan harus di
atas 80%. Nah, itu niatnya, targetnya,
gitu. Nah, untuk mencapai itu semua,
pemerintah sudah menetapkan berbagai
strategi, yaitu salah satunya penguatan
promosi dan pencegahan, pemanfaatan
teknologi, integrasi data dengan rumah
sakit dan puskesmas, termasuk
pengembangan dan adopsi vaksin yang
lebih baik untuk pencegahannya.
Teknologi untuk bisa mendeteksi TBC juga
udah dimaksimalkan, Geng, dengan
penggunaan X-ray portable, tes cepat
molekuler, terus ada PCR juga. Nah,
kayaknya PCR udah familiar ya ee dengan
kalian karena selama COVID kita juga
melakukan PCR ini. Nah, sebenarnya geng
pemerintah itu sudah menggratiskan
pengobatan TBC sejak tahun 2016. Tapi
yang menjadi sulitnya adalah banyaknya
hambatan yang harus dihadapi oleh
pemerintah kita seperti salah satunya
adalah rendahnya kesadaran masyarakat
kita ya terhadap penyakit ini. Jadi
kayak batuk tuh dianggap biasa aja gitu
ya. Masyarakat kita tuh enggak
peduli-peduli amat sama dirinya sendiri.
Nah, terus ditambah lagi akses terbatas
terhadap layanan kesehatan di daerah
terpencil. Terus juga ya tingkat
kemiskinan yang semakin gila-gilaan di
negara kita ya terkadang menjadi
penyebab makin tingginya angka TBC juga.
Karena orang udah pusing mikirin
ekonominya ya terkadang enggak sempat
mikirin kebersihan gitu. Akhirnya
penyakit-penyakit pada ngumpul ya. Salah
satunya TBC. Belum lagi di bulan Januari
kemarin, Donald Trump membekukan
pendanaan dari Badan Pembangunan
Internasional AS atau USID yang
mengakibatkan terhentinya pasukan medis
dan obat-obatan yang disokong oleh UID,
termasuk obat HIV, malaria sampai dengan
obat TBC. Nah, Donald Trump ini sempat
diaah bikin ulah gitu,
Geng. Dilihat dari banyaknya kasus TBC
di Indonesia, harusnya kita sebagai
rakyat itu merasa terbantu ya. Ya, kalau
memang programnya Bill Gates untuk
membantu Indonesia dalam menyelesaikan
permasalahan ini harusnya sih merasa
terbantu. Tapi ya tapi nih Bill Gates
ini kan termasuk ke dalam eh barisan
elit global yang selalu dicurigai oleh
banyak orang. Jadinya orang-orang
Indonesia justru skeptis dengan rencana
dia ini. Setelah gua research lebih
dalam mengenai yayasan milik Bill Gates
yang memang salah satu fokusnya adalah
di bidang kesehatan. Gua jadi paham
kenapa orang Indonesia gak percaya
dengan rencana Bill Gates ini dan takut
dijadikan sebagai kelinci percobaan. Ya,
balik lagi seperti yang gua katakan
tadi, Bill Gates ya dengan vaksin
terbarunya ini bukan yang sudah teruji
klinis atau sudah berhasil dengan vaksin
itu baru diaplikasikan ke masyarakat
Indonesia, tetapi justru masyarakat
Indonesia dijadikan sebagai ya objek uji
coba gitu. Nah, itu yang jadi
permasalahannya. Nah, dan sekarang kita
bakal mencoba membahas mengenai
fakta-fakta e tentang vaksin yang akan
dikembangkan oleh Bill Gates ini. Gimana
sih
bentuknya? Jadi, Geng, vaksin yang akan
diuji coba di Indonesia adalah vaksin
TBC
M72/
AS01E namanya. Vaksin ini dikembangkan
oleh Glass Mid Klein Biological atau
disingkat dengan GSK. sejak awal tahun
2000-an nantinya keberadaan vaksin
tersebut bukannya untuk menggantikan
vaksin BCG ya yang udah ada duluan kan
vaksin BCG nih. Nah, tapi justru
kemunculan vaksin baru ini untuk
melengkapi vaksin BCG. Nah, berbeda
dengan vaksin BCG yang efektivitasnya
terbatas terutama pada remaja dan orang
dewasa. Nah, vaksin terbaru ini yang
namanya cukup panjang ya,
M72/ AS01E. Vaksin ini dirancang untuk
memberikan perlindungan yang lebih baik.
Jadi kayak apa ya? Kayak level up-nya
vaksin BCG tadi. Dan di tahun 2020, Bill
and Melinda Gates Medical Research
Institute atau yang sering disebut
dengan Gates MRI itu melisensikan vaksin
ini untuk melanjutkan perkembangannya.
Dan saat ini tahap uji klinis terhadap
vaksin tersebut udah memasuki fase
ketiga yang merupakan tahap pengujian
terakhir sebelum vaksin ini bisa
disetujui untuk digunakan secara umum,
diaplikasikan e secara global, dan uji
cobanya dilaksanakan di tujuh negara
secara keseluruhan dengan total sekitar
20.000 peserta dan distribusinya
disesuaikan berdasarkan beban penyakit
di masing-masing negara. Uji coba di
berbagai negara dengan kondisi
geografis, sosial, dan kesehatan yang
berbeda-beda, Geng. Dan ini tujuannya
untuk memastikan kalau vaksin ini
dikembangkan secara efektif dan secara
menyeluruh enggak cuma di kondisi negara
tertentu aja. Jadi, contohnya nih
misalkan diaplikasikan di negara seperti
Jepang misalkan, negaranya dingin banget
gitu. Eh, tahu-tahunya ya vaksinnya
enggak bekerja gitu ya karena bakterinya
terlalu awet, terlalu kuat gitu. Nah,
tapi dipastikan nih oleh yayasan milik
Bill Gates ini bahwa vaksin mereka itu
berlaku untuk seluruh iklim, berlaku
untuk seluruh kondisi
geografis. Terus, Geng, di antara
ketujuh negara yang akan menjadi tempat
untuk uji coba vaksin ini, seperti yang
udah gua sebutkan di awal, kalau
Indonesia menjadi salah satu di
antaranya. Dan sebenarnya, Geng,
Indonesia itu udah dari tahun lalu
menjadi bagian dari uji klinis fase 3
dari vaksin ini, tepatnya di bulan
September tahun 2024. Nah, kita aja yang
enggak tahu baru hebohnya sekarang. Nah,
ketika itu Indonesia menjadi negara
keempat yang melaksanakan ee uji coba
ini setelah Afrika Selatan, Kenya, dan
Zambia. Nah, mungkin di saat itu belum
begitu ramai kabarnya dan baru sekarang
jadi omongan karena Bill Gates-nya
langsung datang ke Indonesia dan ngomong
langsung mengenai hal itu dengan
Presiden Prabowo. Sebelumnya tuh enggak
ada yang tahu. Dan dari 20.000 peserta
di seluruh negara, 2.500-nya itu berasal
dari negara kita Indonesia. Dan netizen
Indonesia jadi mikirnya kalau kita ini
bakal jadi kelinci percobaan ya karena
menjadi objek penelitian dari Bill
Gates. Tapi sebenarnya kita itu bukan
bakal tapi sudah berjalan gitu. Sudah
berjalan ini sudah udah dari 2024 gitu.
Dan kalau kita ngomongin soal medis
memang uji klinis ini ya penting untuk
pembuktian ilmiah apakah suatu obat atau
vaksin bisa bermanfaat dan aman bagi
manusia. Nah, sebenarnya ada ada ada
bagusnya gitu. Dan sebelum sampai ke
fase, obat atau vaksin ini pastinya udah
melewati berbagai percobaan. Tapi ya
gimana bisa tahu kalau obat atau vaksin
ini terbukti ampuh untuk manusia ya
selain dengan mengujinya langsung ke
manusia gitu. Dan kenapa milihnya
Indonesia? Seperti yang udah gua
jelaskan tadi karena Indonesia punya
kasus TBC tertinggi kedua di dunia,
Geng. Nah, itu alasannya. Terus
keresahan netizen ini ya tentang program
ini juga karena kabarnya meskipun
dijadikan sebagai tempat uji coba tapi
pembuatan vaksin ini enggak akan ada di
Indonesia melainkan akan dibuat di
Singapura. Nah, itu orang Indonesia jadi
skeptis di situ tuh kalau mau ya
pabriknya juga di negara kita,
laboratoriumnya di negara kita, gitu.
Nah, netizen menganggapnya orang
Indonesia benar-benar cuma dijadikan
tumbal nih kata netizen nih yang mana
kalau vaksinnya ternyata enggak efektif
akan mengancam nyawa. Nah, kalaupun
berhasil, orang Indonesia pada akhirnya
juga bakal membeli vaksin tersebut dari
Singapura yang ujung-ujungnya Indonesia
cuma dapat sengsaranya aja. Berhasil
harus beli, enggak
berhasil nyawa. Jadi, itulah yang
diprotes oleh masyarakat dan enggak ada
untungnya bagi Indonesia dengan
menjadikan kita sebagai kelinci
percobaan. Dan hal ini dinilai enggak
adil untuk Indonesia. Nah, yang nilai
itu netizen, bukan gue ya. Gua cuma
menyampaikan hal ini sudah
diklarifikasi, Geng, oleh Budi Guna
Sadikin selaku Menteri Kesehatan yang
mengatakan kalau pihaknya meminta kepada
perusahaan Biofarma untuk memproduksi
vaksin tersebut dan meminta kepada
Biofarma mendampingi ke MKES agar
pembuatannya jangan di tempat lain
selain di Indonesia. Karena diujinya di
Indonesia ya kalau bisa manfaatnya juga
untuk Indonesia. Kalau bisa setelah
berhasil ya Indonesia ya digratiskan,
gitu. Itulah harapan masyarakat kita.
Dan selain itu, Pak Budi mengatakan
kalau informasi yang beredar mengenai
Bill Gates yang akan membuat vaksin di
Singapura ya itu enggak benar katanya.
Itu hoa katanya. Nah, pabrik vaksin ini
hanya akan dibangun di Amerika oleh
perusahaan GSK. Jadi enggak ada pabrik
vaksin di Singapura. Nah, kenapa
Amerika? Karena memang basic-nya atau
base-nya perusahaan Bill Gates itu di
sana. Dan juga dikatakan pemilihan
lokasi uji coba vaksin di Indonesia juga
dipengaruhi oleh sudah banyaknya ilmuwan
Indonesia dari Universitas Pajajaran dan
Universitas Indonesia yang sudah
bergabung di dalam uji coba vaksin ini.
Nah, jadi walaupun ini programnya Bill
Gates, tapi ilmuwan-ilmuannya,
orang-orang pintarnya yang ada di dalam
itu ya kabarnya ada yang dari Indonesia,
banyak dari Indonesia yaitu mahasiswa
dari Universitas Pajajaran atau
ilmuwan-ilmuwan dari Universitas
Pajajaran dan Universitas Indonesia.
Nah, jadi bisa dikatakan ya dua hal tadi
itu masih asumsi liar dari netizen. Tapi
ternyata ada fakta yang menunjukkan
kalau vaksin yang dibuat oleh Bill Gates
ini eh enggak berhasil. Nah, ini ada ada
faktanya dan ini terjadi di India
berkaitan dengan vaksin human papiloma
virus atau disingkat dengan HPV. Nah, di
India bukan lagi asumsi netizen nih,
tapi ini udah buktinya yang mana ya e
vaksin HPV tadi ini HPV ini adalah virus
yang bisa menyebabkan beberapa jenis
penyakit mulai dari kanker servix,
kanker anus, dan organ intim sampai ke
kutil kelamin. Nah, pada tahun 2009
beberapa sekolah untuk anak-anak suku di
Distrik Kamam yang ada di Telangana yang
sekarang merupakan bagian dari Andar
Pradesh di India itu menjadi lokasi
studi observasi untuk vaksin HPV ini.
Ada sekitar 16.000 anak perempuan
berusia 9 sampai 15 tahun yang diberikan
vaksin HPV ya dari perusahaannya Bill
Gates. Dan vaksin yang digunakan adalah
Garda Seal dari produksi oleh Merch dan
Yayasan Bill Gates lah yang mensponsori
penelitian terhadap vaksin tersebut. Dan
ketika uji coba itu dilakukan, beberapa
bulan setelah pemberian vaksin, banyak
anak perempuan di sana mulai jatuh
sakit. Dan pada tahun 2010, lima di
antara mereka sampai meninggal
dunia. Itu uji coba vaksin dari
perusahaan Bill Gates yang pernah
dilakukan di India. Dua kematian lagi
dilaporkan di Fadodara Gujarat di mana
sekitar 14.000 Ibu, anak yang bersekolah
di sekolah khusus untuk anak-anak suku
juga divaksinasi dengan merek vaksin HPV
lain yaitu Servarix yang diproduksi oleh
GSK, perusahaan yang sama yang akan
memproduksi vaksin TBC di Indonesia
nanti. Tuh, sudah ada pengalamannya.
Berdasarkan laporan dari Lembaga Suadaya
Masyarakat di bulan Maret tahun 2010,
mereka menemukan ada sebanyak 120 anak
perempuan yang mengalami reaksi kejang
epilepsi, sakit perut yang parah, sakit
kepala, dan perubahan mood yang cepat.
Ada beberapa kasus juga yang menunjukkan
mereka mengalami menstruasi lebih awal
setelah pemberian vaksin. Pendarahan
hebat, keramstruasi yang parah. Nah, ada
beberapa efek yang menyakitkan. Waktu
itu sempat ada penyelidikan mengenai hal
ini, tapi dikabarkan kalau
penyelidikannya enggak berjalan secara
transparan, bahkan cenderung buruk,
katanya. Sebab pemerintah negara bagian
yang ikut mengawasi pemberian vaksin
bilang kalau kematian yang terjadi itu
bukan disebabkan karena vaksinasi.
Pemerintah di saat itu menganggap bahwa
kematian tersebut disebabkan karena
mereka mencoba untuk mengakhiri hidup.
dan tenggelam secara enggak sengaja di
sumur. Ada juga terus ada yang bilang
malaria, terus ada infeksi virus, terus
ada pendarahan dan lain-lain. Nah, jadi
terkesan di saat itu pemerintah India
tuh kayak lebih condong ke perusahaan
Amerika ini daripada ke masyarakatnya.
Karena mungkin mereka berpikir ya udah
meninggal juga gitu kan. Nanti takutnya
ketika disalahkan si perusahaan Bill
Gates-nya nanti negara jadi ikut-ikutan
disalahkan karena mengizinkan uji coba
tersebut gitu. Ini kejadian asli geng
bukan sekedar isu belaka. Maka dari itu
gua rasa ya wajar banget ya netizen
banyak yang khawatir sama rencana Bill
Gates ini. Kalau apa yang terjadi di
India sampai terjadi juga di Indonesia
ya itu sedih banget ya kan diuji
tahu-tahu gagal yang ada meninggal. Nah,
namun geng meskipun begitu sebenarnya
rencana Bill Gates untuk menjadikan
Indonesia sebagai tempat uji coba ini
baik namun pemerintah ya jangan
semerta-merta langsung lepas tangan aja
sebab akan rentan untuk disalahgunakan.
Apalagi Bill Gates dan yayasannya ini
adalah ya orang asing gitu ya, bukan ya
enggak mungkin gak nyari keuntungan
gitu. Takutnya ada kepentingan lain atau
kepentingan tertentu di Indonesia
sehingga pemerintah harus mengawasi
dengan ketat terhadap penerapannya di
negara kita. Selain itu, pemerintah juga
harus bisa mendengarkan keresahan dari
masyarakat dan kalau bisa membuktikan
kalau vaksin yang nantinya bakal diuji
coba itu terbukti aman. Jadi kita enggak
boleh semerta-merta percaya sepenuhnya
ya. Asas curiga itu harus ada gitu ya.
karena ini berkaitan dengan keselamatan
nyawa
masyarakat. I kan. Nah, itu dia geng
pembahasan kita kali ini mengenai
rencana uji coba vaksin Bill Gates di
Indonesia yaitu vaksin TBC yang
menimbulkan pro dan kontra bagi
masyarakat. Gimana geng menurut kalian
setelah gua jelaskan sepanjang ini? Ah,
kalian masih tetap tidak mau Indonesia
menjadi tempat uji coba vaksinnya Bill
Gates ini atau justru kalian berubah
pikiran? Enggak apa-apa deh, uji coba
aja. Coba deh, tinggalkan komentar di
bawah.