CHINA DISMANTLES THE QUALITY OF WESTERN BRANDED GOODS THAT TURN OUT TO BE CHEAP! AMERICA IS CONFU...
D29axN3s8BE • 2025-04-18
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Topi kampanyenya e Donald Trump. Orang
yang benci banget sama China ya. E orang
yang pengin banget apa? Memerangi China.
Nah, ada topi dia yang tulisannya Make
America Great Again atau MAG yang sering
dipakai oleh e beliau ini. Ternyata itu
dibuatnya juga di China.
Di samping dengan biaya yang murah, bisa
membuat produk yang dihasilkan memiliki
harga yang murah. Tapi di sisi lain bisa
juga menciptakan perbudakan modern di
Cina. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe,
Geng.
Halo, Geng. Welcome back to Kamar
[Musik]
Jerry, Geng, Geng. Siapa di antara
kalian yang pengen banget punya luxury
brand seperti Herme? Bacanya nih apa
nih? Hermes, Herme, Hirmis atau apa?
Terus ada Gucci, Louis Vittong ya kan
Prada dan sejenisnya. Pokoknya ya
branded-branded lah. Enggak bisa
dipungkiri ya, Geng brand-brand tersebut
masih jadi idaman banyak orang. Karena
bagi siapapun yang punya, udah pasti
secara enggak langsung bisa ya naiklah
status ekonomi dan sosialnya. Dan
dianggap cuma orang-orang kaya yang bisa
punya barang kayak gitu. Dan emang
harganya mahal banget sih, enggak masuk
akal. Untuk tas aja sampai ada yang 1 M
ya ember gitu ya, 1 M mahal banget gitu.
Alasan harganya mahal dan eksklusif
kayak gitu juga diklaim karena
materialnya dikatakan berkualitas.
Bahkan ada yang mengklaim kalau produk
tersebut dibuat menggunakan tangan
manusia. Maksudnya bukan tangan manusia
dijadiin tas enggak, maksudnya handmade
gitu pakai tangan langsung dijahit gitu.
Dan ditambah lagi karena produk-produk
tersebut berasal dari desainer asal
Eropa. We kalau asal Bekasi kayaknya
murah tuh. Kalau asal Eropa mahal gitu
ya. Ada aja emang. Nah, tapi geng
persepsi tersebut tiba-tiba hilang
seketika. Ketika baru-baru ini ramai
banget video yang mana di video tersebut
mengungkap dan menunjukkan bagaimana
sebenarnya produksi dari brand-brand
terkenal yang mahal ini yang diklaim ya
bahannya kulit asl lah dari buaya, kulit
sunat dan segala macam lah. Pokoknya
mahal banget. handmade dibikin pakai
tangan, dijahit langsung. Bukan pakai
mesin, bukan pakai robot. Pokoknya
overclaim lah. Sehingga dianggap pantas
untuk dijual miliaran rupiah. Nah,
ternyata nih dibongkarlah produksinya
itu ternyata di sebuah pabrik yang
berasal dari China. Lagi-lagi nih kita
membahas tentang China yang mana
ternyata ya yang diklaim kalau itu
produk made in Ital, made in e India
misalkan, made in Turki misalkan,
ternyata dibuatnya Cina dari Cina
manufacture-nya Cina gitu. Dan harga
bahan bakunya sangatlah murah, tapi
justru diklaim atau dijual dengan harga
yang sangat mahal oleh si brand
tersebut. Nah, di sinilah banyak orang
yang benar-benar kaget. Yang mana ya
masih ada aja yang skeptis atau
orang-orang yang gak mau terima gitu ya
dengan pemberitaan ini yang bilang, "Ya
jelaslah mahal. Orang kan ada biaya
branding, bayar artis untuk
nge-brandingnya dan segala macam." Nah,
padahal ya yang dilihat bukan dari
situnya. Yang dilihat tuh dari bahannya.
Benarkah bahannya itu sebagus itu dan
tahap pembuatannya sedetail itu atau
justru ya sama aja kayak brand-brand
murah lain? Nah, di sinilah tiba-tiba
muncul sebuah video yang sangat viral
yang menunjukkan bagaimana murahnya
produksi barang-barang branded tersebut
yang diklaim sangat mewah dan eksklusif
dan dijual dengan harga mahal ini.
Produsen di Cina itu mengungkap harga
asli tas-tas mahal yang biasanya
dimiliki para artis itu seharusnya tidak
senilai ratusan juta. Biaya asli
pembuatan tas branded tersebut tak
sampai ratusan juta bahkan jauh di
bawahnya.
Dan di saat itu kagetlah orang-orang,
Geng. Ternyata produk yang selama ini e
dikatakan eksklusif ya aslinya ternyata
tidak seeklusif itu. Banyak pihak yang
menilai kalau tereksposnya video ini
bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Jadi
bukan gara-gara kecolongan gitu, enggak.
tetapi melainkan memang ini adalah
strategi yang dibuat oleh Cina di
tengah-tengah perang dagang mereka yang
sedang terjadi. Nah, di tengah-tengah
mereka mau menguasai seluruh perdagangan
di dunia ini ya, persaingan mereka
dengan Amerika dan juga negara-negara
lain. Nah, China sekali lagi membuat
gebrakan yang baru yang semakin
menunjukkan kekuatan mereka di situasi
yang saat ini sedang memanas. Secara
enggak langsung China ini ingin menampar
negara-negara barat sana dengan
mengatakan ya ya ini secara enggak
langsung mereka ya bilang nih yang lu
ngata-ngatain eh made in China itu
jelek, produk made in Ital itu bagus,
made in Europe, Amerika itu bagus.
Tahu-tahu produk yang lu buat itu
semuanya dibuat di China, hanya saja di
rebranding, ya. Dibuat seolah-olah itu
made in negara lain. Padahal aslinya
semua dari China. Nah, di saat itulah
China membuka semuanya,
membongkar-bongkar dapur dan menunjukkan
kepada publik dunia bahwa brand mewah
itu ya pabrik-pabriknya adalah pabrik
Cina. Dan apakah setelah kejadian ini eh
ini semua bakal berhasil buat China
untuk menjatuhkan merek-merek dari
negara barat ini. Nah, jadi di sini gua
pengen ajak kalian untuk ngebahas
tentang situasi dan ee apa ya? kehebohan
inilah gitu. Langsung aja nih kita bahas
secara lengkap di sisi
[Musik]
lain. Untuk pembahasan yang pertama,
kita bakal langsung ke kronologi
tereksposnya barang mewah yang ternyata
diproduksi di China.
Masih aja ada orang yang meragukan
barang-barang yang diproduksi dari
China. Contoh nyatanya itu kayak
handphone gitu. Kalau kalian punya
budget lebih, gua pastikan kalian enggak
akan mau beli handphone asal China
seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, atau yang
paling canggih pun Huawei. Pasti kalian
enggak mau. Pasti kalian bakal langsung
mikir untuk beli eh brand dari Apple,
yaitu iPhone. Karena kalian berpikir
kalau Apple itu adalah segalanya,
berasal dari Amerika dan kualitasnya
jauh lebih bagus dibandingkan
produk-produk lain dari China. Tapi coba
cek deh, Geng. Di mana sih Apple itu
dibuat? HP-nya itu atau produk unitnya
itu dicetaknya di mana gitu.
Kenyataannya sebagian besar dari produk
iPhone itu diproduksi di China.
Lagi-lagi China juga yang bikin. Dan
kalian bisa cek sendiri di Google atau
mungkin kalian udah punya iPhone-nya,
kalian bisa cek di belakang handphone
kalian atau di kardusnya. Jadi enggak
bisa dikatakan produk barat itu
sepenuhnya dikerjakan di negara barat.
Karena nyatanya China juga memiliki
peran besar dalam pembuatan
produk-produk mereka ini. Terus gimana
nih, Geng? Dengan luxury brand seperti
yang udah gua jelaskan tadi kayak Dior,
Herme, Louis Vitong, terus ada Prada eh
apaagi ya? Eh, channel gitu ya, ah
segala merek itulah yang kalau diucapin
itu susah gitu ya, sampai keseleo lidah
kita. Yang mana ternyata harganya jauh
lebih tinggi lagi dibandingkan harga
handphone Apple. Kalau handphone kita
bisa beli ya harga Rp1 juta second ada
gitu ya. Nih, kalau tas enggak
second-nya justru makin mahal. Bisa R
juta, bisa puluhan miliar. Memang suatu
barang itu memiliki harga mahal
disebabkan oleh banyak faktor. Enggak
cuma karena bahannya ya. Kalau dia brand
terkenal, dia mau dibikin pakai plastik
kresek pun dia bisa dijual mahal karena
ya balik ke brandingnya lagi. Ya, kita
contohkan aja kayak Balenciaga.
Balenciaga jual produk baju robek-robek,
baju rombeng. Harganya mahal banget.
Kalian bisa cek sendiri
produk-produknya. Ini semua dikarenakan
brand-brand tersebut mengklaim produk
mereka dibuat dari bahan yang
berkualitas, dibuat secara limited dan
terbatas gitu ya karena masih
mengandalkan tenaga manusia atau
handmade. Bahkan mereka menjual produk
mereka ini dengan embel-embel. Produk
tersebut sudah ada bertahun-tahun
sehingga pastinya produk yang
dikeluarkan bisa membuat status ekonomi
pemakainya menjadi meningkat. Padahal
sebenarnya ya aslinya secara kualitas
itu enggak beda jauh dengan harga yang
apa ya ee produk-produk lebih murah
gitu. enggak jauh beda kualitasnya dan
produk-produk yang gak begitu terkenal
itu ternyata ya dibuat dari bahan yang
hampir mirip dengan luxury-lxeri brand
ini. Makanya, Geng, target pasar dari e
luxury brand ini itu cuma orang-orang
kaya aja yang enggak mau barangnya itu
ya diproduksi banyak dan dipakai oleh
banyak orang karena mereka maunya itu
eksklusivitas cuma mereka doang yang
punya. Ya itu bukan hal yang salah juga,
Geng. Orang punya duit bebas mau beli
apa yang mereka mau. Sekalipun produk
tersebut memiliki harga yang mahal. Tapi
nih, Geng, apa jadinya kalau ternyata
luxury brand yang mereka punya ini
enggak seistimewa itu aslinya? Bahkan
sebenarnya kalau dihitung dari bahan
bakunya sendiri, harga produk dari
luxury brand tersebut seharusnya bisa
dijual jauh lebih murah di pasaran.
Apakah mereka kecewa ataukah mereka ya
udahlah gitu. Toh juga secara enggak
langsung status sosial mereka udah tetap
naik. Walaupun mereka tahu eh bahan tas
luxury brand mereka, sepatu luxury brand
mereka itu enggak sebagus yang
dibayangkan.
Nah, jadi geng fenomena ini sekarang
sedang terjadi, yaitu sedang
gencar-gencarnya diungkapkan di media,
diungkapkan di TikTok, Instagram, dan
media-media lain tentang luxury brand
ini yang kebanyakan ternyata itu kayak
overclaim alias ya dianggap sangat
mewah, tapi ternyata barangnya sampah.
Menurut orang-orang yang memviralkan
video ini yang mana kebanyakan dari
luxury brand itu itu berasal dari Eropa,
buatan Barat. Tapi ternyata setelah
dibongkar yang membuat produknya itu
bukan negara mereka, bukan negara asal
di mana brand itu berada, tetapi
melainkan berlokasi di negara yang
selalu direndahkan produk-produknya
yaitu dari China. Salah satunya ini ada
video yang menjelaskan bagaimana Tas
Burkin atau Burkin Bag yang berasal dari
brand Herm itu kalau kalian belum tahu
Tasbkin ini adalah salah satu produk
Herme yang terkenal banget dan memiliki
harga yang sangat fantastis mahal parah.
Alasannya sih karena tas ini dikatakan
diproduksi limited atau terbatas
sehingga membuat tas ini tuh jadi langka
dan harganya tuh enggak main-main. Nah,
pihak Herme itu mematok harga tas hingga
38.000 USD atau setara dengan
Rp655
juta. Huh, gila udah bisa dapat mobil
mewah. Kalau LCI
dapat hm berapa ya? Ya sekitar tiga
empat mobil ya. Harganya sekitar empat
mobil LCG si ayaa ya. Gila banget
pastinya orang-orang berpikir dengan
mahalnya harga tas berkin udah pasti
bahan bakunya itu juga mahal ya kan?
Kayak kulit ular, kulit buaya, kulit
sunat, kulit nenek dan kakek misalkan.
Jadi saking mahalnya. Tapi geng, di
dalam video yang viral ini
diungkapkanlah kalau ternyata
bahan-bahan yang dipakai di dalam
produksi Tas Burkin ini enggak semahal
harga jualnya. Nah, di dalam video
tersebut dijelaskan satu persatu bahan
apa saja yang dipakai untuk membuat satu
tas burkin. Dijelaskan kalau Herme hanya
menggunakan kulit dari tiga supplier
kelas atas. Nah, memang diakui ya tiga
supplier kelas atas. Yang pertama
supplier yang bernama Nuti dari Italia.
Terus yang kedua, supplier yang bernama
Wenheimer dari Jerman. Dan yang ketiga
adalah Haas dari Prancis. Tas
berkinamakan Togo Leader. Nah, satu
paket tool leader ini dipatok dengan
harga R50 USD atau setara dengan Rp7,5
juta. Gila. Dan untuk membuat satu tas
Burkin itu cukup dengan satu toko leader
aja. Gila enggak tuh? Berapa ratus kali
lipat mereka putar? Bahannya R,5 juta.
Katakanlah bayar penjahit ini ono, ini
ono ya habislah R jutaan kali ya satu
Task Berkini tuh. Tapi dijual R00 juta,
Geng. Gila enggak
tuh? Terus, Geng berlanjut nih ya ke
bahannya. Mas, ini penggunaan benang di
tas ini. Ya, sama seperti kulit, benang
yang dipakai untuk memproduksi tas
burkin ini berasal dari benang yang
berkualitas dengan standar tinggi yang
disebut dengan benang
filusinois dari Prancis. Pemakaian
benang untuk Tas Berkin ini menghabiskan
biaya sebesar 25 USD yang setara dengan
Rp420.000an. Untuk bagian hardware yang
meliputi bagian metalik atau bagian
keras-kerasnya lah ya kayak kancingnya,
katupnya gitu yang ada di tas itu
dikenal dengan sebutan 316 hardware atau
disebut juga dengan the ocean stainless
steel. Penamaan ini diberikan kepada
bahan tersebut karena besi yang dipakai
di Tas Berkin itu bisa tahan terhadap
air laut yang bisa menyebabkan karat
pada besi. Karena itulah stainless steel
yang dipakai oleh Herme dianggap menjadi
stainless steel terbaik karena enggak
bisa karatan. Nah, kalian tebak, Geng,
untuk stainless steel yang dianggap
terbaik ini kira-kira biayanya berapa
yang dibutuhkan untuk produksi satu
taskin? Nah, jawabannya adalah cuma 150
USD atau setara dengan R,5
juta.
Gil, jauh banget sama harga jualnya.
Nah, terus geng Tas Berkin ini
dilengkapi dengan H O yaitu minyak atau
bahan khusus yang digunakan untuk
merawat dan melindungi bagian tepi dari
tas. Nah, H oil untuk tas Burkin ini
diimpor dari Italia, Geng. Yang disebut
dengan heat seal. Dan untuk setiap Tas
BKIN itu pemakaian heat seal-nya ini
memakan biaya sebesar 50 USD atau setara
dengan
Rp841.000. Tetap aja ya jumlah biayanya
enggak nyampai cepek. Bahkan Rp juta
juga udah nyampai belum ya? Tapi
penjualannya Rp600 juta loh satu
produknya. Gila banget. Terus geng
bagian dalam dari Tas Burkin ini
menggunakan kulit domba yang diimpor
dari Prancis. Pemakaian kulit domba ini
di satu tas berkin memakan biaya hanya
sebesar 100 USD atau yang setara dengan
Rp1,6 juta. Dan di bagian dalam tas juga
dilengkapi dengan resleting dari brand
yang bernama Riri. Dan untuk satu
taskin, biaya untuk resleting tersebut
hanya sebesar 10 USD atau setara dengan
Rp168.000
doang. Nah, kalian bisa bayangkan ya,
jauh banget dengan harga jualnya.
benar-benar ratusan kali lipat. Di video
yang viral tersebut juga disebutkan
beberapa harga dari tenaga kerja yang
memproduksi Tasberkin ini. Nah, kan ini
harus dihitung juga ya biaya tenaga
kerjanya berapa, biaya brandingnya
berapa, gitu. Nah, karena kalau bukan
manusia siapa lagi yang bisa membuat
tas? Karena mereka juga mengklaim bahwa
ini handmade atau dibuat dengan tangan
manusia langsung. Nah, dikatakan pekerja
dari Prancis jelas harganya jauh lebih
mahal dengan pekerja dari China.
Sehingga untuk bisa menyelesaikan satu
taskin, biaya yang dikeluarkan untuk
pekerjanya bisa mencapai 600 USD atau
setara dengan Rp10 juta. Lalu ada
pembungkus atau cover dari tas yang
memakan biaya sebesar 10 USD atau setara
dengan
Rp168.000 juga. Coba tuh, Geng, kalian
total sendirilah. Jumlah keseluruhan
biayanya untuk memproduksi satu tas itu
hanya sebesar
1395 USD. Dibulatkan aja lah jadi 1400
USD. Kalau dikonversi ke mata uang kita
Indonesia, mata uang rupiah untuk saat
ini, ternyata jumlah total biaya
pembuatan satu Tasberkin yang harganya
Rp600 juta cuma bermodal Rp23
juta. Harganya benar-benar jauh dari
harga yang dipatok oleh Herme yang
sampai menyentuh Rp600 juta tadi. Nah,
jadi bisa dikatakan geng, brand Herme
yang selama ini kita tahunya adalah
brand yang memproduksi barang eh di
Prancis karena memang itu barang asal
sana dengan kualitas yang enggak
main-main, eksklusif banget. Ternyata
aslinya sama aja dengan brand tas asal
China karena sama-sama diproduksi di
China. Dan gak cuma Hermeg, ada banyak
brand-brand mewah yang juga diproduksi
di China seperti Gucci, Fendy, terus ada
Louis Vittong, Dior, Adidas, Nike, Lulu
Lemon, dan masih banyak lagi. Nah, lalu
geng setelah memproduksi produk-produk
ini di Cina, produk tersebut baru
dikirim ke Eropa dengan diberikan label
kalau produknya itu dibuat di Eropa
seperti Prancis atau Italia. Padahal
aslinya, produk tersebut dibuatnya di
China. Di tengah-tengah masih banyaknya
orang yang menghina atau mengejek kalau
China hanyalah negara yang hanya bisa
meniru produk barat atau membuat KW atau
kualitas yang e tiruan gitu ya,
barangnya buruk dan mudah rusak.
Ternyata di balik itu semua ya,
barang-barang yang selama ini kita kira
adalah murni produk Eropa dibuatnya aja
di China, Geng. Cuma nama brandnya aja
yang berasal dari Eropa. Produknya asli
buatan tangan China. Bahkan, Geng, ada
video yang menunjukkan topi kampanyenya
e Donald Trump. orang yang benci banget
sama China ya, orang yang pengin banget
apa memerangi China. Nah, ada topi dia
yang tulisannya Make America Great Again
atau MAG yang sering dipakai oleh e
beliau ini. Ternyata itu dibuatnya juga
di China dan secara enggak langsung ini
menunjukkan kalau China sudah mampu
untuk membuat barang yang berkualitas
dan merajai semua pasar. Nah, jadi
sekarang gimana tuh? Masih mau
meremehkan produk dari China, Geng kalau
kayak gini. Bahkan Amerika aja yang
mencoba. Oh, China ya menggunakan
keterampilan dan tenaga rakyat China
untuk membuat produk mereka. Jadi
semacam munafik banget ya. The merch
people
made
in the
US. Oh, no. China made in not USA. Oh,
no.
Terus, Geng, tereksposnya produksi dari
brand-brand mewah asal barat ini membuka
mata kita semua kalau beginilah realita
sebenarnya. Yang mana bisa gua katakan
ini adalah bagian dari propaganda juga,
Geng. Gimana negara-negara barat mencoba
untuk membuat citra China jelek di mata
dunia dengan membuat framing kalau China
adalah negara yang tidak semaju negara
barat, tapi barang-barang negara mereka
justru diproduksi di China. Dan kalau
gak ada video-video seperti yang tadi
nih yang ngebongkar dog asli dari
brand-brand asal barat ini yang mungkin
kita gak pernah tahu kenyataan ini,
Geng. Nah, banyaknya video-video
tersebut yang berseleweran di TikTok
dinilai sebagai salah satu strategi dari
China saat ini dalam menguatkan posisi
mereka untuk perang dagang dengan
Amerika. Karena dengan video-video
tersebut banyak orang yang menjadi tahu
kalau China memiliki peran yang sangat
besar dalam menjalankan roda
perekonomian negara-negara yang saat ini
menjadi musuh. Sehingga kalau China
nekad untuk menghentikan produksinya,
bahkan perekonomian mereka bisa colab
karena sangat bergantung dengan China.
Gila, pelan-pelan China ya kan. Enggak
apa-apa nih gua jadi buru pabrik lu, gua
jadi pekerja lu, tapi lama-lama hap
dimakan tuh orang-orang. Nah, menurut
gua sendiri ya, Geng, strategi China
kali ini cukup cerdik. yang awalnya
balas-balasan tarif sama Amerika sampai
disuruh oleh Amerika untuk menelepon
Trump. Tapi mereka enggak nurut dan
malah dengan beraninya bilang kalau
mereka enggak takut dan enggak peduli
dengan tarif yang diberlakukan oleh
Amerika kepada mereka. Dan sekarang
sengaja mereka ekspos harga produksi
sebenarnya dari produk-produk luxury
brand milik negara-negara barat ini yang
ternyata ya aslinya enggak mahal-mahal
banget dan dikerjakan di China. Nah, dan
setelah mengetahui harga produksi dari
Luxury brand tersebut, kira-kira gimana
tuh, Geng? Kalian masih pengin enggak
sih beli barang-barang branded ini? Atau
justru beralih ke barang lokal aja atau
justru ya kalau mau pakai branded
mending yang KW aja? Coba deh tinggalkan
komentar di
bawah. Dari fenomena ini, Geng, malah
jadi bikin gua penasaran kenapa sih
negara-negara barat justru memilih China
yang nota bandnya musuhnya mereka,
mereka enggak suka sama China kok
dijadikan tempat bagi mereka untuk
memproduksi produk mereka di sana.
Bukankah ini sangat riskan, sangat
beresiko sewaktu-waktu produk mereka
bisa ditiru, dibebranding dengan produk
Cina sendiri atau justru ya kayak gini
dibongkar ke dognya. Brand dari
barang-barang mewah pula. Sekarang kita
bakal masuk nih ke dalam pembahasan
mengenai kenapa alasannya Cina menjadi
pabrik bagi brand-brand mewah asal
negara barat sampai akhirnya mereka
kecolongan dan China itu langsung
membongkar ke dok brand-brand ini yang
ternyata memakai bahan murah untuk
dijual mahal.
Nah, jadi geng China menjadi salah satu
negara yang memang udah terkenal banget
memproduksi barang-barang dengan harga
yang murah. Ya, enggak usah dibandingin
dengan harga brand dari negara barat
lah. Di negara kita sendiri aja ya, yang
masih sama-sama negara Asia aja, harga
barang dari China itu jauh lebih murah
dibandingkan dengan harga barang yang
diproduksi dari dalam negeri. Apalagi
kalau dibandingin dengan harga produk
dari barat udah pasti jauh lebih murah.
e jauh bangetlah berbanding harganya.
Tapi apa yang membuat China bisa
memproduksi barang dengan harga yang
jauh lebih murah ini dibandingkan dengan
yang lain sampai dijadikan tempat bagi
banyak brand-brand ternama asal negara
barat. Ya ibaratnya gini ya, bersaing
mah bersaing gitu. Negara barat nih
bersaing nih sama China nih. Tapi mereka
juga butuh China untuk bikin produk
dagangan mereka. Ini persaingan yang
aneh menurut gua ya kan. Ini orang ya
dari barat bersaing atau perang dagang
sama China. Tapi barang mereka yang
mereka dagangkan itu mereka produksi di
China juga. Aneh banget. Dan mereka
menjadikan China sebagai salah satu
negara yang diandalkan untuk menjadi
tempat dari pabrik-pabrik ee brand-brand
besar mereka. Dan ternyata pemerintah
China bahkan sudah e merencanakan hal
ini sejak berakhirnya perang dingin,
Geng. Jadi ini sudah menjadi strategi
pemerintah China. Sejak tahun 2017,
China ini melihat bagaimana dunia sedang
berada di dalam kondisi perubahan besar
yang berkaitan dengan geopolitik serta
kemajuan teknologi. China di saat itu
memanfaatkan momentum ini, Geng, untuk
membuat negara mereka jauh lebih besar
dibandingkan sebelumnya, ya.
Suplementand gitu, ya. Di saat itu
mereka melihat, "Wah, ada kebutuhan
persaingan nih. Kita yang suplly deh lu
semua bersaing, kita suplly. Nanti kita
udah besar baru kita ikut bersaing."
Nah, kurang lebih kayak gitu tuh
pemikiran China tuh. Dan bahkan di saat
itu ee mereka ingin berubah sebagai
negara yang bisa membuat negara barat
hancur. Ya, awalnya mereka terlihat
seperti kacungnya barat, woi. Bekerja
untuk perusahaan barat, ngerjain
produk-produk barat di pabrik-pabrik
mereka. Tapi lama-kelamaan mereka buat
barat ini bergantung sama mereka. Di
situlah setelah barat bergantung
dipotong
semuanya. Gila ya China ya. Dan untuk
bisa mendapatkan posisi ini, China
tentunya harus bisa menggantikan posisi
negara barat seperti Eropa dan yang
terutama adalah Amerika Serikat. Suatu
negara itu bisa dikatakan sebagai negara
adidaya atau super power. Bukan cuma
karena negara tersebut mengontrol
ekonomi atau militer, tetapi juga negara
tersebut bisa mengatur dunia baik secara
regional seperti kawasan Asia, Afrika,
dan global itu benar-benar di bawah
pengaruh mereka. Negara kayak gini
contohnya adalah Amerika. Mereka ini
bisa mengatur dunia melalui tiga cara,
Geng. Yaitu kekuatan dengan memaksa
negara lain untuk patuh terhadap mereka.
Terus dengan imbalan atau kerja sama dan
legitimasi yang diberikan oleh negara
lain karena dianggap memiliki kemampuan
untuk memimpin negara lain. Ya,
contohnya seperti Korea Selatan nih yang
terlihat patuh banget sama Amerika. Nah,
karena mereka tuh yakin Amerika nih ya
sebagai kakak pertama, pemimpin nih,
dewa nih, disembah-sembah, ya kurang
lebih kayak gitulah. Nah, begitulah
Korea Selatan kepada Amerika. Nah, di
dalam kondisi ini Amerika tuh
diuntungkan banget ya karena mereka tuh
menjadi negara yang bisa mengatur negara
yang apa ya menunjukkan power-nya lah
gitu. Nah, hal inilah yang membuat China
itu jadi berambisi besar ingin menggeser
Amerika. Dan agar China bisa menggeser
posisi Amerika tersebut, mereka mencoba
menggunakan pengaruh melalui hegemoni
untuk melawan Amerika tanpa harus
melalui perang menggunakan senjata.
Pintar banget. Ada dua cara yang
dilakukan oleh China, Geng. Yang pertama
itu dengan mengurangi kekuatan Amerika
terhadap China agar China enggak terus
dikendalikan oleh Amerika. Terus yang
kedua, mereka mulai membangun pengaruh
di negara-negara lain dengan melakukan
kerja sama. Jadi, makanya jangan heran
kenapa di negara kita ya banyak
infrastruktur-infrastruktur atau
fasilitas umum yang dibangun pakai uang
yang dipinjam dari China. Secara logika
nih ya, ngapain China bantu kita
ngebangun tol, ngebangun LRT, MRT,
ngapain? Kenapa mereka enggak gunain
duit mereka sendiri aja kenyang? Ya, itu
adalah bagian dari strategi China untuk
membangun pengaruh mereka di negara
kita. Dan itulah memang yang sudah
direncanakan oleh China. Mereka
membangun pengaruh yang sangat besar di
banyak negara. Tujuannya adalah untuk
menggeser Amerika sebagai negara
adidaya. China
owns around 34% of all the ships that
are currently on water were made in
China. At the same time, about 57.1% of
ships currently under construction are
at Chinese
shipyards. Terus salah satu kerja sama
lain yang sering dilakukan China untuk
bisa mendapatkan pengaruh adalah
menjadikan negara mereka sebagai tempat
yang ideal bagi perusahaan-perusahaan
besar untuk mendirikan pabrik dengan
menawarkan harga yang murah. Misalkan
nih, "Weih, perusahaan lu nih, Louis
Vitong ya kan nih diriin pabrik di
tempat gua. Murah deh para pekerjanya.
pintar-pintar boleh lu gaji murah juga,
enggak perlu pakai pajak segala macam.
Ada lagi enggak? Nah, diriin di sini.
Kayak gitulah kurang lebih. Nah, tapi
pertanyaannya adalah kenapa bisa China
memberikan harga yang begitu murah?
Apakah mereka enggak rugi? Nah, jadi
geng ada beberapa alasan. Yang pertama
dikatakan karena China memiliki basis
manufacture yang luas dan memungkinkan
perusahaan-perusahaan yang memiliki
pabrik di negara tersebut memproduksi
barang dalam jumlah yang sangat banyak.
Karena perusahaan tersebut membuat
produk dalam jumlah besar. Biaya
produksinya bisa dibagi ke banyak produk
sehingga satu barang harganya bisa lebih
murah. Jadi mainnya di quantity gitu
enggak apa-apa nih, untungnya kecil tapi
penjualannya atau barang produksinya itu
banyak. Nah, contoh gampangnya nih,
Geng. Misalkan nih, kalian punya bisnis
pakaian, kalau kalian cuma buat 10 baju,
biaya mesin jahit, listrik, dan gaji
pegawai akan terasa mahal untuk satu
bajunya. Tapi kalau kalian buat 10.000
baju, biaya produksi bisa kalian
bagi-bagi atau kalian comot-comot dari
banyak baju yang kalian hasilkan. Nah,
jadinya harga satu baju bakal jauh lebih
murah. Nah, itu adalah alasan yang
pertama. Nah, terus alasan yang kedua.
Alasan kedua dikatakan karena China ini
memiliki banyak sumber daya alam seperti
logam, batu bara, minyak, dan bahan
mentah lain yang dibutuhkan untuk
membuat berbagai macam barang di pabrik.
Oleh sebab itu, perusahaan yang ada di
China enggak perlu mengimpor terlalu
banyak bahan baku dan membuat barang
yang diproduksi di China jauh lebih
murah. Karena enggak ada ongkos kirim,
ya kan? Enggak ada ongkos untuk membawa
barang-barang tersebut dari negara lain.
Semuanya udah ada di China. Orang-orang
enggak perlu belanja lagi keluar.
Perusahaan-perusahaan enggak perlu
repot-repot lagi. Ya, siapa yang enggak
tergiur dengan hal itu? Udah mana murah
ditambah dengan mudah. Terus, Geng,
alasan selanjutnya adalah karena Cina
ini memiliki sistem rantai pasokan yang
sangat canggih dan efisien bahkan
termasuk yang terbaik di dunia. Hal ini
bakal berdampak terhadap proses dari
awal produksi, yaitu pengadaan bahan
baku sampai pengiriman produk yang sudah
jadi bisa berjalan dengan sangat lancar
dan juga cepat. Wilayah yang menjadi
industri utama di China adalah di
Guangzo dan juga Shanghai yang sudah
didukung oleh banyak pemasuk bahan baku.
Pelabuhan besar untuk memfasilitasi
kegiatan ekspor impor. Ya, mau ngirim
mereka udah ada pelabuhannya, enggak
perlu repot-repot dan serta jalur
transportasi mereka yang saling
terhubung. Nah, dengan sistem inilah
barang-barang bisa diproduksi, dikirim,
dan dijual dengan cepat. Ditambah lagi
murah. Biaya yang dikeluarkan selama
proses produksi bisa ditekan semurah
mungkin, serta pengiriman ke konsumen
bisa dilakukan secepat mungkin dan tepat
waktu. Jadi, dari alasan ini udah tiga
nih, gimana orang enggak tergiur gitu.
Gimana perusahaan-perusahaan tidak
tergiur untuk mendirikan ya pabrik
mereka di sana. Ditambah lagi alasan
keempat, pemerintah Cina itu sering
memberikan bantuan keuangan kepada
produsen atau pabrik, terkhususnya bagi
mereka yang bergerak di bidang
elektronik dan juga tekstil. Nah,
bantuan yang diberikan ini bisa berupa
pengurangan pajak, hibah, atau dana
gratis sampai memberikan pinjaman dengan
bunga rendah. Bantuan inilah yang
membuat atau membantu produsen bisa
menurunkan biaya produksi mereka, tapi
produsen bisa tetap mendapatkan untung
dari produk yang mereka jual. Karena
mereka no worry, mau jual murah, mau
jual harga modal, mereka udah dapat
untung dari subsidi pemerintah. Terus,
Geng, alasan yang terakhir adalah biaya
tenaga kerja di China itu murah banget,
rendah dibandingkan dengan negara lain.
Dengan tenaga kerja yang besar di sektor
manufactur, Cina bisa mempertahankan
upah yang jauh lebih rendah daripada di
negara-negara seperti Amerika dan Eropa.
Dan biaya yang hemat dari tenaga kerja
di sana itu sering banget diteruskan
melalui rantai pasokan sehingga
menyebabkan harga produk yang mereka
jual itu bisa dijual dengan harga rendah
karena biaya untuk bayar pekerjanya udah
murah. Tapi, Geng, biaya tenaga kerja
yang murah ini bisa menjadi pedang
bermata dua sebenarnya. Di samping
dengan biaya yang murah, bisa membuat
produk yang dihasilkan memiliki harga
yang murah, tapi di sisi lain bisa juga
menciptakan perbudakan modern di Cina
secara enggak langsung. Nah, potensi
terjadinya perbudakan modern di China
itu sebagian besar disebabkan dari
praktik pemerintah yang merugikan dan
diskriminatif terhadap rakyatnya
sendiri. Salah satunya adalah etnis
Uigur yang menempati wilayah Sinjiang.
Mereka ini menjadi kelompok yang
mengalami kerja paksa, Geng. Nah, ini
sedihnya ya ada apa ya sisi gelapnya lah
dari China ini yang mana pemerintah
China berusaha untuk mengendalikan etnis
tersebut dengan menggunakan narasi kalau
mereka akan mengancam keamanan China
karena menganut pemahaman ekstrem atas
agama Islam. Jadi orang-orang iwigur ini
rata-rata pemeluk agama Islam dan
pemerintah China agak sensitif nih
dengan agama Islam dan selalu menganggap
kalau orang-orang Uigur ee yang beragama
muslim ini adalah para ekstremis.
Pemerintah China juga enggak segan untuk
memberikan hukuman kepada mereka dari
etnis Uigur ini yang melanggar aturan
yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
Hukumannya mulai dari ditahan sampai
melakukan kerja paksa. Nah, orang-orang
yang berasal dari etnis Uiguri ini juga
bakal dipekerjakan oleh pemerintah China
di dalam rantai pasokan global untuk
brand-brand ternama seperti Apple, Nike,
dan juga Dell. Mereka disuruh kerja
paksa dengan upah yang kecil bahkan
enggak diupah. Jadi ya ini adalah salah
satu faktor kenapa barang China itu
murah. Nah karena praktik ini ada
sebanyak 37 perusahaan dari berbagai
sektor mulai dari pertambangan, tenaga
surya sampai tekstil asal China di
blacklist dan dilarang untuk mengekspor
produk mereka ke Amerika Serikat. Ya,
alasannya masuk akal bukan karena perang
dagang, tetapi Amerika mengetahui bahwa
ada perbudakan modern dalam sistem
industri China atau pabrik-pabrik di
China itu pasti ada Muslim Uigur yang
diperbudakkan atau dikerja paksa.
Beijing central planners pay companies
in Eastern China to open factories in
Shinjong and train weager workers. And
the Shinjong local government gets paid
to build factories near Weer detention
camps. Their communications were
monitored. They were paid in a year, but
they should have been paid in a month.
Namun jangan salah ya, Geng, kalau
kalian mengira yang mendapatkan
perlakuan diskriminatif seperti itu cuma
etnis Uigur aja, ya salah. Yang mana
etnis lain ya yang sama-sama orang China
juga itu juga sangat rentan mendapatkan
perlakuan yang diskriminatif di sana.
Bagi mereka yang berasal dari wilayah
pedesaan yang lapangan kerjanya enggak
menentu dan enggak sebanyak yang ada di
kota-kota besar seperti di Guandong dan
di Shanghai yang mereka pada akhirnya
memutuskan buat pindah ke sana, pindah
ke kota untuk bisa mendapatkan
pekerjaan. Tapi biasanya mereka ini
bakal dipekerjakan dengan gaji yang
rendah. Ya, karena itu tadi mereka
dianggap orang-orang bodoh yang enggak
tahu apa-apa. Dan jumlah orang China
yang mendapatkan gaji rendah cukup
banyak, Geng. Yaitu sekitar
376 juta orang. Nah, jika dibandingkan
dengan penduduk asli dari kota besar,
para migran yang berasal dari desa ini
biasanya enggak mendapatkan fasilitas
sosial yang sama seperti asuransi
kesehatan, pendidikan, atau tunjangan
lain-lain karena mereka enggak terdaftar
secara resmi sebagai penduduk kota
tersebut. Nah, walaupun pemerintah China
mengklaim kalau sistem ini sudah
diperbaiki, tetapi bagi sebagian besar
orang yang berasal dari desa yang enggak
punya surat domisili resmi ee dari kota
tetap itu enggak bisa mengakses layanan
publik sehingga kondisi mereka selama
bekerja di kota semakin sulit aja, Geng.
Nah, dan hal inilah yang membuat
kesenjangan sosial dan ekonomi menjadi
semakin besar di China. Nah, cuma Geng
karena Cina sedang gencar-gencarnya
mengembangkan teknologi, praktik kerja
yang cenderung eksploitatif ini
pelan-pelan tuh mulai ditinggalkan oleh
mereka. Nah, yang sempat gua singgung di
video sebelumnya yang membahas soal
kedatangan ASO Speed ke China, di video
tersebut gua udah jelaskan kalau China
sekarang sedang memasuki era Dark
Factory. Nah, yaitu istilah ketika
produksi tetap berjalan meskipun enggak
ada pekerja alias pekerjaan manusia udah
digantikan oleh robot. ya, tenaga
manusia sudah digantikan oleh robot yang
mana artinya mereka bisa menghasilkan
produk yang mereka buat sepanjang waktu
tanpa henti. Karena kalau misalkan
manusia ada limitnya, ada tenaga yang ya
maksudnya batas kekuatannya lah ya kan.
Apalagi kalau kalian-kalian nih yang
hobinya cuma main PUBG, nongkrong,
begadang tengah malam ya paling 3 jam
kerja udah mau resign. Nah, kalau di
China sekarang justru yang bekerja itu
robot dan bahkan mereka enggak
memerlukan lampu alias bisa lebih hemat
energi. Ya, ya walaupun robotnya pakai
energi juga nih pakai listring nih, tapi
di dalam gelap tanpa pakai lampu kayak
gini mereka bisa tetap bekerja, bisa
tetap menghasilkan produk-produk yang
mereka buat.
[Musik]
Terus hal ini, Geng, juga terlihat
ketika sejumlah perusahaan besar di
China itu mulai meninggalkan sistem
kerja
996. Nah, apa itu 996? Nah, jadi sistem
kerja 996 ini adalah sebuah skema waktu
kerja yang diterapkan oleh perusahaan
yang merujuk pada sistem masuk kerja
yaitu jam 09.00 pagi, pulang jam 09.00
malam, dan bekerja 6 hari dalam
seminggu. Nah, pelarangan terhadap
sistem 996 ini itu sudah diterapkan
sampai sekarang. Enggak terkecuali untuk
perusahaan-perusahaan besar, Geng. Salah
satu perusahaan yang udah menetapkan
larangan atau meninggalkan sistem 996
adalah perusahaan Midea. Kalian pasti
pernah tuh ya di rumah kalian punya e
alat elektronik yang mereknya MideAC,
microwave atau dispenser pasti ada tuh
yang mereknya MideA. Perusahaan asal
Cina ini itu termasuk perusahaan besar
di sana. Nah, mereka memproduksi
peralatan rumah tangga. Manajemen
perusahaan ini udah minta karyawan
mereka untuk pulang paling telat jam
0.20 itu udah harus pulang. Itu udah
paling telat tuh, enggak boleh lebih.
Nah, padahal dulunya mereka itu bisa
kerja sampai larut malam, lembur-lembur
habis-habisan gitu. Nah, Midea juga
ngelarang adanya rapat setelah jam
kerja. Jadi, di luar jam kerja udah
enggak boleh ada apapun. Harus pulang,
harus istirahat. Dan di samping itu,
China juga sudah mulai memikirkan
kesejahteraan dari para pekerja mereka
dengan meningkatkan taraf hidup mereka
melalui gaji yang lebih baik dan
mengadakan pembinaan di bidang teknologi
digital bagi para pekerja atau calon
pekerja mereka. Nah, karena Cina ini
mulai sadar, Geng, kalau untuk bisa
menjadi negara yang terdepan di dalam
perekonomiannya, mereka itu ya butuh
buat menggerakkan sektor industri dengan
orang-orang yang terampil di bidangnya.
Ya, secara logika ya, kalau lu pengin
menghasilkan perekonomian yang bagus,
maka ya hasil kerja dari para pekerja lu
juga harus bagus. Kalau hasil kerjanya
harus bagus, artinya para pekerjanya
juga harus dijamin kesehatannya,
kehidupannya, kesejahteraannya juga
harus bagus. Dengan begitu semuanya akan
berangsur-angsur bagus, gitu. Nah,
apalagi sekarang adalah era di mana
teknologi berkembang dengan pesat banget
sehingga Cina itu enggak boleh
ketinggalan dengan perkembangan
teknologi saat ini, Geng. Nah, enggak
heran ya Cina itu bisa seperti sekarang
karena terus melakukan inovasi dan terus
membuktikan diri kalau e mereka mampu
untuk menjadi negara super power seperti
negara barat. Beda banget ya. Kalau di
negara kita tuh yang dikembangkan suara
sound paling gede sama joget gini tuh
pinggir jalan tuh begitu ya.
Gua penasaran tuh sama gitu-gituan.
[Musik]
Hah? Negara orang lain sudah
berlomba-lomba ya kan memikirkan
bagaimana ee memajukan teknologi. Terus
pemerintahnya juga memikirkan
kesejahteraan para pekerja yang nota
bandnya itu adalah rakyat. Nah, kalau di
sini berlomba-lombanya aneh-aneh,
beda-beda gitu ya. Dan bahkan pemerintah
kita fokusnya korupsi di sini. Kalau di
sana benar-benar rakyatnya
disejahterakan. Terus, Geng, setelah
terekspos harga-harga dari produk Luxury
brand yang ternyata jauh lebih murah
dibandingkan dengan yang dijual di
pasaran oleh produsen-produsen asal Cina
ini. Nah, apakah strategi yang dibuat
oleh Cina ini berhasil meruntuhkan
kepercayaan atau image yang selama ini
sudah dibangun oleh luxury brand itu
sehingga apakah akan berdampak pada
menurunnya penjualan dari brand-brand
tersebut? Nah, sekarang kita bakal masuk
ke dalam pembahasan nih, Geng. Mengenai
efek dari strategi China yang mengekspos
harga murah dari bahan pembuatan
luxury-lxuiy brand
ini. Jadi, Geng, banyaknya video
mengenai harga asli dari e bahan
pembuatan luxury brand yang diproduksi
di China membuat kita semua jadi
mempertimbangkan apakah membeli
barang-barang dari brand terkenal
tersebut masih worth itak. atau justru
udah enggak ya udah enggak masuk akal
lah, udah enggak sesua lah gitu. Nah,
apalagi dengan kondisi perekonomian
negara kita kayak sekarang nih ya kan
apa-apa lagi susah susah semua. Nah,
barang yang berasal dari luar negeri itu
jadi makin mahal karena nilai dolar juga
saat ini tuh makin tinggi terhadap
rupiah ya. Patokannya kan dolar nih. Dan
kalau orang kaya ya beda cerit lah geng.
Mereka udah punya uang banyak. naiknya
dolar ya mungkin gak begitu berpengaruh
buat mereka untuk belanja barang-barang
branded atau justru mereka ya nyimpan
dolar juga. Dolar naik rupiah turun.
Mereka punya dolar yang bisa ditukar ke
rupiah. Jadi duitnya tetap tercover
tetap banyak. Dan meskipun sudah
dibongkar oleh China dari video-video
tadi gua juga yakin pasti ada di antara
kalian yang masih kepengin beli barang
branded tersebut. Ya enggak usah bohong
lah ya. Mau bagaimanapun dibongkar ya
keburukannya atau kekurangan dari produk
tersebut, kayaknya akan sulit untuk
orang-orang meninggalkan produk ini
karena mereka udah berhasil membangun
image dan branding mereka sehingga
orang-orang sudah terdoktrin dengan hal
itu. Dan gue yakin juga enggak semua
orang ngelihat video tentang produsen
China membongkar bahan dasar dari
produk-produk brandy tersebut yang
katanya murah gitu kan ya. Itu kayaknya
enggak ngaruh banget gitu ya. seperti
salah satu sampelnya ya, yaitu iPhone
yang memang kalau fature-feature-nya itu
dibandingkan dengan kompetitornya
sebenarnya enggak canggih-canggih
banget. Tapi tetap aja masih banyak yang
memilih iPhone, yang membeli iPhone,
yang FOMO dengan iPhone ya karena memang
secara brandingnya mereka udah berhasil.
Sama ditambah lagi iPhone itu ya ini
yang gua tahu nih kenapa mereka sangat
diminati karena banyaknya orang yang
memakai aplikasi Instagram. Kalau kalian
lihat, geng, iPhone ini sama Instagram
kayak klop banget gitu, ya. Gimana
enggak, Instagram kan punya Amrik,
Facebook juga punya Amrik. iPhone kalau
upload video atau foto di Instagram itu
kualitasnya bakal wah banget. Di reels
itu bakal wah banget, enggak ada
pecah-pecahnya. Tapi kalau Android,
kualitasnya di iPhone itu kayak menurun
gitu, kureng banget. Nah, salah satu
penyebab kenapa iPhone ini dianggap wah
bagus banget, canggih banget ya itu
karena memang sinkron banget dengan
Instagram. Kalau upload video ke
Instagram dari hasil rekaman iPhone itu
jauh lebih bagus daripada Android yang
udah-udah kayak gitu. Terus, Geng,
kenapa ya walaupun udah dibongkar kayak
gini, orang-orang tetap pengen beli
barang-barang branded tersebut. Nah,
sebenarnya hal ini bisa gua jelaskan,
Geng. Dan gua bakal menjelaskan beberapa
alasannya yang mana ini ada beberapa
poin. Kita bahas poin yang pertama dulu.
Poin yang pertama itu adalah
barang-barang mewah tersebut selalu
dikaitkan dengan simbol pencapaian,
kekayaan, dan status sosial. Barang dari
luxury brand itu enggak cuma dibeli
karena fungsinya di dalam kehidupan
sehari-hari. Jadi, mau bahannya apapun,
sesampah apapun e bahan bakunya, tetapi
ya karena fungsinya adalah sebagai
penanda status karena brand tersebut
menempati status tertentu di dalam
masyarakat, yaitu untuk status ekonomi
bagi kelas atas, ya. Mau enggak mau
banyak yang tetap beli karena berpikir
ya cuma mereka yang mampu membeli itu
dan orang-orang di bawah mereka enggak
akan mampu membeli itu. Jadi mereka
merasa kayak ada spesialnya gitu enggak
bisa sama dengan orang-orang. Mereka
yang menggunakan barang-barang mewah
agar bisa mendapatkan pengakuan oleh
orang lain biasanya enggak peduli dengan
ya hal-hal viral kayak gini tentang
bahan baku produk yang mereka beli
dengan harga yang sangat mahal. Itu
adalah poin yang pertama. Nah, terus
geng poin yang kedua menurut orang-orang
ini membeli produk mewah itu bisa
meningkatkan kebahagiaan sekaligus harga
diri. Ya, bagi banyak orang membeli dan
memiliki barang mewah itu jadi
pengalaman yang menyenangkan. Self
reward dan ya ini adalah momen berharg
lah buat mereka. Nah, dari segi medis,
membeli barang mewah itu bisa membuat
otak merasa senang kayak apa ya? Eh, ada
unsur-unsur yang meledak gitu di kepala
kayak wah happy banget gitu. Ketika
seseorang membeli barang mewah itu,
bagian otak yang mengatur rasa senang
dan puas itu akan aktif lalu melepaskan
zat kimia yang bernama dopamin yang
bakal membuat orang tersebut benar-benar
kayak merasa, "Wah, ini candunya gua
nih." Ini sama aja nih kayak efek eh apa
ya? Orang pai narkoba. Sama tuh mirip.
Kalau dia enggak dapat barang itu ya
rasanya tuh kayak wah enggak senang
gitu, kurang semangat. Nah, perbedaannya
membeli barang mewah itu ya positifnya
membuat seseorang tuh jadi berusaha
bekerja keras. Nah, endingnya, finalnya,
dan hasilnya itu adalah membeli barang
mewah. Nah, itu
positifnya. Oke, terus poin yang ketiga
nih, Geng. Poin yang ketiga adalah brand
mewah ini memiliki efek yang disebut
dengan Hello Effect, yaitu efek dari
reputasi baik yang dimiliki oleh sebuah
brand. Nah, efek ini terjadi ketika
konsumen itu menganggap barang mewah
sudah pasti membuat produk yang bagus.
Nah, sekalipun mereka sendiri belum tahu
atau belum ngecek secara pasti ya, belum
uji gitu ini brand nih beneran e bagus
produknya atau enggak atau bisa
dikatakan nilai sejarahnya itu ada atau
enggak. Nah, kita contohin aja kayak jam
mewah antara Rolex sama Richard Mil.
Nah, Rolex itu gak cuma menjual produk
doang. Mereka juga e historicalnya tuh
bagus banget ya kan dari sejarah
panjangnya itu yang membuat mereka
mahal. Enggak cuma karena bahannya dari
emas atau mungkin ada berlian, enggak
cuma itu, tapi sejarahnya itu geng. Nah,
sementara Richard Mil itu adalah salah
satu jenis jam yang baru ya. Munculnya
itu belum lama. Enggak kayak Rolex yang
udah berpuluh-puluh tahun, ratusan
tahun. Nah, tapi Richard Mil itu bisa
menyamai bahkan menandingi harga Rolex.
Nah, kok bisa? Padahal juga terkadang
nih ya produk dari Richard Mail ini
enggak semua bahan bakunya itu bahan
baku mahal seperti berlian, emas, dan
lain-lain. Kadang ada yang cuma karbon,
ada yang cuma karet. Nah, tapi beda-beda
serinya harganya bisa mm-an bahkan lebih
mahal dari Rolex. Kok bisa? Ya, balik
lagi itu dia berhasilnya mereka dalam
membangun branding tersebut. Nah, itu
udah tiga poin. Oke, sekarang kita ke
poin yang
keempat yang membuat orang-orang tetap
pengin membeli barang branded walaupun
udah tahu bahan bakunya biasa aja adalah
langkanya produk tersebut. Kelangkaan
eksklusivitas yang mana ini memainkan
peran penting di dalam brand mewah. Nah,
ketika brand mengatakan kalau produk
yang mereka hasilkan adalah barang
langka atau limited, ya seperti hukum
ekonomi aja, Geng. permintaan terhadap
barang tersebut menjadi semakin tinggi
dan harganya akan semakin mahal. Dengan
memproduksi barang dalam jumlah yang
terbatas, brand ini bakal ya menciptakan
permintaan yang tinggi dan secara
psikologis bakal mempengaruhi ya
konsumen untuk cepat-cepat pengin beli
produk tersebut sebelum kehabisan. Ini
hipnotis nih kayak, "Uh, gua harus beli
nih nanti gua enggak dapat." Ya,
orang-orang udah pada punya guanya
enggak. kayak boneka Labubu tuh
contohnya tuh. Kejadiannya mirip nih.
Dan hal kayak gini ya bakal menciptakan
persepsi kalau barang mewah itu jadi
lebih berharga karena kelangkaannya.
Nah, jadi orang-orang ibaratnya tuh
kalau bahasa gaulnya tuh FOMO, fear of
missing out. FOMO ya tidak mau
ketinggalan gitu. Nah, terus poin yang
kelima nih, Geng. Karena mereka bukan
cuma membeli barang yang berguna aja
bagi mereka, tapi nilai seni yang
dimiliki oleh barang tersebut. Nah, ini
juga sebenarnya ini sisi positif ya.
Walaupun barang tersebut terbuat dari
bahan yang kureng ya, yang biasa aja,
murah gitu harusnya, tapi seninya itu
yang terkadang tidak bisa ee apa ya
dinilai murah seninya. misalkan kayak
ada coraknya kayak gimana, ada bentuknya
yang kayak seperti apa. Nah, itu yang
mahal sebenarnya dan itu worth it kalau
kita beli. Nah, karena mau bagaimanapun
ide untuk menciptakan barang tersebut
dan bagaimana pembuatan barang tersebut
yang mengharuskan pengrajinnya
mengerjakan dengan teliti dan ee
benar-benar harus rapi gitu. Nah, itulah
yang dibayar. Nah, jadi kalau alasan
yang kelima ini atau poin yang kelima
ini menurut gua agak worth untuk dibeli.
Terus poin yang terakhir nih, karena
adanya pengaruh media sosial dan para
influencer yang sering memamerkan barang
mewah yang mereka punya. Nah, ini salah
satu hal yang mendoktrin atau m-trigger
orang-orang harus punya barang tersebut.
Enggak peduli di belakangnya tuh kayak
gimana. Tapi selama dipakai sama artis,
influencer, atau selebgram yang mereka
suka, mereka tertarik untuk punya juga
ya. Salah satu contohnya adalah boneka
Labubu. Ketika dimiliki oleh Lisa
Blackpink, semua Lisa Black and white
yang ada di dunia, Black and White
pokoknya semua yang nge-fans sama Lisa
Blackpink ikutan beli. Jadi pengen punya
kayak Lisa Blackpink. Walaupun mukanya
kagak sealus muka Blackpink, yang
penting punya Labubu. Udah tuh berasa
jadi Lisa Blackpink dah tuh. Termasuk
abang-abang gemula ya yang
jenggot-jenggotnya tebal yang suka sama
Lisa Blackpink. Berasa gimana? berasa
cantik gitu kalau udah punya boneka
Labubu. Nah, ini adalah tren yang
diciptakan. Nah, jadi kurang lebih geng
itu dia beberapa poin yang bisa gua
jelaskan kenapa orang-orang tetap
membeli barang mewah atau barang
branded. Walaupun mereka sudah tahu
bahwa barang tersebut ya dibuat dari
bahan-bahan yang sama aja dengan
barang-barang yang dijual murah di
pasaran. Ya, karena ada hal yang
sangat-sangat mereka junjung, yaitu
ingin berbeda dengan orang lain atau
ingin sama dengan idolanya. Jadi, mereka
enggak peduli, mereka tetap pengin punya
barang-barang
tersebut. Nah, itu dia, Geng, pembahasan
kita kali ini tentang China yang
mengekspos harga dari brand-brand mewah
yang menghabiskan ongkos produksi yang
ternyata sangat murah tapi dijual dengan
harga yang benar-benar super fantastis.
Gimana menurut kalian, Geng, tentang
strategi China ini? Apakah ini bakal
bisa menjatuhkan negara barat atau
tidak? Coba tinggalkan komentar di
bawah. Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:42 UTC
Categories
Manage