Transcript
D29axN3s8BE • CHINA DISMANTLES THE QUALITY OF WESTERN BRANDED GOODS THAT TURN OUT TO BE CHEAP! AMERICA IS CONFU...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1406_D29axN3s8BE.txt
Kind: captions Language: id Topi kampanyenya e Donald Trump. Orang yang benci banget sama China ya. E orang yang pengin banget apa? Memerangi China. Nah, ada topi dia yang tulisannya Make America Great Again atau MAG yang sering dipakai oleh e beliau ini. Ternyata itu dibuatnya juga di China. Di samping dengan biaya yang murah, bisa membuat produk yang dihasilkan memiliki harga yang murah. Tapi di sisi lain bisa juga menciptakan perbudakan modern di Cina. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Geng. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jerry, Geng, Geng. Siapa di antara kalian yang pengen banget punya luxury brand seperti Herme? Bacanya nih apa nih? Hermes, Herme, Hirmis atau apa? Terus ada Gucci, Louis Vittong ya kan Prada dan sejenisnya. Pokoknya ya branded-branded lah. Enggak bisa dipungkiri ya, Geng brand-brand tersebut masih jadi idaman banyak orang. Karena bagi siapapun yang punya, udah pasti secara enggak langsung bisa ya naiklah status ekonomi dan sosialnya. Dan dianggap cuma orang-orang kaya yang bisa punya barang kayak gitu. Dan emang harganya mahal banget sih, enggak masuk akal. Untuk tas aja sampai ada yang 1 M ya ember gitu ya, 1 M mahal banget gitu. Alasan harganya mahal dan eksklusif kayak gitu juga diklaim karena materialnya dikatakan berkualitas. Bahkan ada yang mengklaim kalau produk tersebut dibuat menggunakan tangan manusia. Maksudnya bukan tangan manusia dijadiin tas enggak, maksudnya handmade gitu pakai tangan langsung dijahit gitu. Dan ditambah lagi karena produk-produk tersebut berasal dari desainer asal Eropa. We kalau asal Bekasi kayaknya murah tuh. Kalau asal Eropa mahal gitu ya. Ada aja emang. Nah, tapi geng persepsi tersebut tiba-tiba hilang seketika. Ketika baru-baru ini ramai banget video yang mana di video tersebut mengungkap dan menunjukkan bagaimana sebenarnya produksi dari brand-brand terkenal yang mahal ini yang diklaim ya bahannya kulit asl lah dari buaya, kulit sunat dan segala macam lah. Pokoknya mahal banget. handmade dibikin pakai tangan, dijahit langsung. Bukan pakai mesin, bukan pakai robot. Pokoknya overclaim lah. Sehingga dianggap pantas untuk dijual miliaran rupiah. Nah, ternyata nih dibongkarlah produksinya itu ternyata di sebuah pabrik yang berasal dari China. Lagi-lagi nih kita membahas tentang China yang mana ternyata ya yang diklaim kalau itu produk made in Ital, made in e India misalkan, made in Turki misalkan, ternyata dibuatnya Cina dari Cina manufacture-nya Cina gitu. Dan harga bahan bakunya sangatlah murah, tapi justru diklaim atau dijual dengan harga yang sangat mahal oleh si brand tersebut. Nah, di sinilah banyak orang yang benar-benar kaget. Yang mana ya masih ada aja yang skeptis atau orang-orang yang gak mau terima gitu ya dengan pemberitaan ini yang bilang, "Ya jelaslah mahal. Orang kan ada biaya branding, bayar artis untuk nge-brandingnya dan segala macam." Nah, padahal ya yang dilihat bukan dari situnya. Yang dilihat tuh dari bahannya. Benarkah bahannya itu sebagus itu dan tahap pembuatannya sedetail itu atau justru ya sama aja kayak brand-brand murah lain? Nah, di sinilah tiba-tiba muncul sebuah video yang sangat viral yang menunjukkan bagaimana murahnya produksi barang-barang branded tersebut yang diklaim sangat mewah dan eksklusif dan dijual dengan harga mahal ini. Produsen di Cina itu mengungkap harga asli tas-tas mahal yang biasanya dimiliki para artis itu seharusnya tidak senilai ratusan juta. Biaya asli pembuatan tas branded tersebut tak sampai ratusan juta bahkan jauh di bawahnya. Dan di saat itu kagetlah orang-orang, Geng. Ternyata produk yang selama ini e dikatakan eksklusif ya aslinya ternyata tidak seeklusif itu. Banyak pihak yang menilai kalau tereksposnya video ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Jadi bukan gara-gara kecolongan gitu, enggak. tetapi melainkan memang ini adalah strategi yang dibuat oleh Cina di tengah-tengah perang dagang mereka yang sedang terjadi. Nah, di tengah-tengah mereka mau menguasai seluruh perdagangan di dunia ini ya, persaingan mereka dengan Amerika dan juga negara-negara lain. Nah, China sekali lagi membuat gebrakan yang baru yang semakin menunjukkan kekuatan mereka di situasi yang saat ini sedang memanas. Secara enggak langsung China ini ingin menampar negara-negara barat sana dengan mengatakan ya ya ini secara enggak langsung mereka ya bilang nih yang lu ngata-ngatain eh made in China itu jelek, produk made in Ital itu bagus, made in Europe, Amerika itu bagus. Tahu-tahu produk yang lu buat itu semuanya dibuat di China, hanya saja di rebranding, ya. Dibuat seolah-olah itu made in negara lain. Padahal aslinya semua dari China. Nah, di saat itulah China membuka semuanya, membongkar-bongkar dapur dan menunjukkan kepada publik dunia bahwa brand mewah itu ya pabrik-pabriknya adalah pabrik Cina. Dan apakah setelah kejadian ini eh ini semua bakal berhasil buat China untuk menjatuhkan merek-merek dari negara barat ini. Nah, jadi di sini gua pengen ajak kalian untuk ngebahas tentang situasi dan ee apa ya? kehebohan inilah gitu. Langsung aja nih kita bahas secara lengkap di sisi [Musik] lain. Untuk pembahasan yang pertama, kita bakal langsung ke kronologi tereksposnya barang mewah yang ternyata diproduksi di China. Masih aja ada orang yang meragukan barang-barang yang diproduksi dari China. Contoh nyatanya itu kayak handphone gitu. Kalau kalian punya budget lebih, gua pastikan kalian enggak akan mau beli handphone asal China seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, atau yang paling canggih pun Huawei. Pasti kalian enggak mau. Pasti kalian bakal langsung mikir untuk beli eh brand dari Apple, yaitu iPhone. Karena kalian berpikir kalau Apple itu adalah segalanya, berasal dari Amerika dan kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan produk-produk lain dari China. Tapi coba cek deh, Geng. Di mana sih Apple itu dibuat? HP-nya itu atau produk unitnya itu dicetaknya di mana gitu. Kenyataannya sebagian besar dari produk iPhone itu diproduksi di China. Lagi-lagi China juga yang bikin. Dan kalian bisa cek sendiri di Google atau mungkin kalian udah punya iPhone-nya, kalian bisa cek di belakang handphone kalian atau di kardusnya. Jadi enggak bisa dikatakan produk barat itu sepenuhnya dikerjakan di negara barat. Karena nyatanya China juga memiliki peran besar dalam pembuatan produk-produk mereka ini. Terus gimana nih, Geng? Dengan luxury brand seperti yang udah gua jelaskan tadi kayak Dior, Herme, Louis Vitong, terus ada Prada eh apaagi ya? Eh, channel gitu ya, ah segala merek itulah yang kalau diucapin itu susah gitu ya, sampai keseleo lidah kita. Yang mana ternyata harganya jauh lebih tinggi lagi dibandingkan harga handphone Apple. Kalau handphone kita bisa beli ya harga Rp1 juta second ada gitu ya. Nih, kalau tas enggak second-nya justru makin mahal. Bisa R juta, bisa puluhan miliar. Memang suatu barang itu memiliki harga mahal disebabkan oleh banyak faktor. Enggak cuma karena bahannya ya. Kalau dia brand terkenal, dia mau dibikin pakai plastik kresek pun dia bisa dijual mahal karena ya balik ke brandingnya lagi. Ya, kita contohkan aja kayak Balenciaga. Balenciaga jual produk baju robek-robek, baju rombeng. Harganya mahal banget. Kalian bisa cek sendiri produk-produknya. Ini semua dikarenakan brand-brand tersebut mengklaim produk mereka dibuat dari bahan yang berkualitas, dibuat secara limited dan terbatas gitu ya karena masih mengandalkan tenaga manusia atau handmade. Bahkan mereka menjual produk mereka ini dengan embel-embel. Produk tersebut sudah ada bertahun-tahun sehingga pastinya produk yang dikeluarkan bisa membuat status ekonomi pemakainya menjadi meningkat. Padahal sebenarnya ya aslinya secara kualitas itu enggak beda jauh dengan harga yang apa ya ee produk-produk lebih murah gitu. enggak jauh beda kualitasnya dan produk-produk yang gak begitu terkenal itu ternyata ya dibuat dari bahan yang hampir mirip dengan luxury-lxeri brand ini. Makanya, Geng, target pasar dari e luxury brand ini itu cuma orang-orang kaya aja yang enggak mau barangnya itu ya diproduksi banyak dan dipakai oleh banyak orang karena mereka maunya itu eksklusivitas cuma mereka doang yang punya. Ya itu bukan hal yang salah juga, Geng. Orang punya duit bebas mau beli apa yang mereka mau. Sekalipun produk tersebut memiliki harga yang mahal. Tapi nih, Geng, apa jadinya kalau ternyata luxury brand yang mereka punya ini enggak seistimewa itu aslinya? Bahkan sebenarnya kalau dihitung dari bahan bakunya sendiri, harga produk dari luxury brand tersebut seharusnya bisa dijual jauh lebih murah di pasaran. Apakah mereka kecewa ataukah mereka ya udahlah gitu. Toh juga secara enggak langsung status sosial mereka udah tetap naik. Walaupun mereka tahu eh bahan tas luxury brand mereka, sepatu luxury brand mereka itu enggak sebagus yang dibayangkan. Nah, jadi geng fenomena ini sekarang sedang terjadi, yaitu sedang gencar-gencarnya diungkapkan di media, diungkapkan di TikTok, Instagram, dan media-media lain tentang luxury brand ini yang kebanyakan ternyata itu kayak overclaim alias ya dianggap sangat mewah, tapi ternyata barangnya sampah. Menurut orang-orang yang memviralkan video ini yang mana kebanyakan dari luxury brand itu itu berasal dari Eropa, buatan Barat. Tapi ternyata setelah dibongkar yang membuat produknya itu bukan negara mereka, bukan negara asal di mana brand itu berada, tetapi melainkan berlokasi di negara yang selalu direndahkan produk-produknya yaitu dari China. Salah satunya ini ada video yang menjelaskan bagaimana Tas Burkin atau Burkin Bag yang berasal dari brand Herm itu kalau kalian belum tahu Tasbkin ini adalah salah satu produk Herme yang terkenal banget dan memiliki harga yang sangat fantastis mahal parah. Alasannya sih karena tas ini dikatakan diproduksi limited atau terbatas sehingga membuat tas ini tuh jadi langka dan harganya tuh enggak main-main. Nah, pihak Herme itu mematok harga tas hingga 38.000 USD atau setara dengan Rp655 juta. Huh, gila udah bisa dapat mobil mewah. Kalau LCI dapat hm berapa ya? Ya sekitar tiga empat mobil ya. Harganya sekitar empat mobil LCG si ayaa ya. Gila banget pastinya orang-orang berpikir dengan mahalnya harga tas berkin udah pasti bahan bakunya itu juga mahal ya kan? Kayak kulit ular, kulit buaya, kulit sunat, kulit nenek dan kakek misalkan. Jadi saking mahalnya. Tapi geng, di dalam video yang viral ini diungkapkanlah kalau ternyata bahan-bahan yang dipakai di dalam produksi Tas Burkin ini enggak semahal harga jualnya. Nah, di dalam video tersebut dijelaskan satu persatu bahan apa saja yang dipakai untuk membuat satu tas burkin. Dijelaskan kalau Herme hanya menggunakan kulit dari tiga supplier kelas atas. Nah, memang diakui ya tiga supplier kelas atas. Yang pertama supplier yang bernama Nuti dari Italia. Terus yang kedua, supplier yang bernama Wenheimer dari Jerman. Dan yang ketiga adalah Haas dari Prancis. Tas berkinamakan Togo Leader. Nah, satu paket tool leader ini dipatok dengan harga R50 USD atau setara dengan Rp7,5 juta. Gila. Dan untuk membuat satu tas Burkin itu cukup dengan satu toko leader aja. Gila enggak tuh? Berapa ratus kali lipat mereka putar? Bahannya R,5 juta. Katakanlah bayar penjahit ini ono, ini ono ya habislah R jutaan kali ya satu Task Berkini tuh. Tapi dijual R00 juta, Geng. Gila enggak tuh? Terus, Geng berlanjut nih ya ke bahannya. Mas, ini penggunaan benang di tas ini. Ya, sama seperti kulit, benang yang dipakai untuk memproduksi tas burkin ini berasal dari benang yang berkualitas dengan standar tinggi yang disebut dengan benang filusinois dari Prancis. Pemakaian benang untuk Tas Berkin ini menghabiskan biaya sebesar 25 USD yang setara dengan Rp420.000an. Untuk bagian hardware yang meliputi bagian metalik atau bagian keras-kerasnya lah ya kayak kancingnya, katupnya gitu yang ada di tas itu dikenal dengan sebutan 316 hardware atau disebut juga dengan the ocean stainless steel. Penamaan ini diberikan kepada bahan tersebut karena besi yang dipakai di Tas Berkin itu bisa tahan terhadap air laut yang bisa menyebabkan karat pada besi. Karena itulah stainless steel yang dipakai oleh Herme dianggap menjadi stainless steel terbaik karena enggak bisa karatan. Nah, kalian tebak, Geng, untuk stainless steel yang dianggap terbaik ini kira-kira biayanya berapa yang dibutuhkan untuk produksi satu taskin? Nah, jawabannya adalah cuma 150 USD atau setara dengan R,5 juta. Gil, jauh banget sama harga jualnya. Nah, terus geng Tas Berkin ini dilengkapi dengan H O yaitu minyak atau bahan khusus yang digunakan untuk merawat dan melindungi bagian tepi dari tas. Nah, H oil untuk tas Burkin ini diimpor dari Italia, Geng. Yang disebut dengan heat seal. Dan untuk setiap Tas BKIN itu pemakaian heat seal-nya ini memakan biaya sebesar 50 USD atau setara dengan Rp841.000. Tetap aja ya jumlah biayanya enggak nyampai cepek. Bahkan Rp juta juga udah nyampai belum ya? Tapi penjualannya Rp600 juta loh satu produknya. Gila banget. Terus geng bagian dalam dari Tas Burkin ini menggunakan kulit domba yang diimpor dari Prancis. Pemakaian kulit domba ini di satu tas berkin memakan biaya hanya sebesar 100 USD atau yang setara dengan Rp1,6 juta. Dan di bagian dalam tas juga dilengkapi dengan resleting dari brand yang bernama Riri. Dan untuk satu taskin, biaya untuk resleting tersebut hanya sebesar 10 USD atau setara dengan Rp168.000 doang. Nah, kalian bisa bayangkan ya, jauh banget dengan harga jualnya. benar-benar ratusan kali lipat. Di video yang viral tersebut juga disebutkan beberapa harga dari tenaga kerja yang memproduksi Tasberkin ini. Nah, kan ini harus dihitung juga ya biaya tenaga kerjanya berapa, biaya brandingnya berapa, gitu. Nah, karena kalau bukan manusia siapa lagi yang bisa membuat tas? Karena mereka juga mengklaim bahwa ini handmade atau dibuat dengan tangan manusia langsung. Nah, dikatakan pekerja dari Prancis jelas harganya jauh lebih mahal dengan pekerja dari China. Sehingga untuk bisa menyelesaikan satu taskin, biaya yang dikeluarkan untuk pekerjanya bisa mencapai 600 USD atau setara dengan Rp10 juta. Lalu ada pembungkus atau cover dari tas yang memakan biaya sebesar 10 USD atau setara dengan Rp168.000 juga. Coba tuh, Geng, kalian total sendirilah. Jumlah keseluruhan biayanya untuk memproduksi satu tas itu hanya sebesar 1395 USD. Dibulatkan aja lah jadi 1400 USD. Kalau dikonversi ke mata uang kita Indonesia, mata uang rupiah untuk saat ini, ternyata jumlah total biaya pembuatan satu Tasberkin yang harganya Rp600 juta cuma bermodal Rp23 juta. Harganya benar-benar jauh dari harga yang dipatok oleh Herme yang sampai menyentuh Rp600 juta tadi. Nah, jadi bisa dikatakan geng, brand Herme yang selama ini kita tahunya adalah brand yang memproduksi barang eh di Prancis karena memang itu barang asal sana dengan kualitas yang enggak main-main, eksklusif banget. Ternyata aslinya sama aja dengan brand tas asal China karena sama-sama diproduksi di China. Dan gak cuma Hermeg, ada banyak brand-brand mewah yang juga diproduksi di China seperti Gucci, Fendy, terus ada Louis Vittong, Dior, Adidas, Nike, Lulu Lemon, dan masih banyak lagi. Nah, lalu geng setelah memproduksi produk-produk ini di Cina, produk tersebut baru dikirim ke Eropa dengan diberikan label kalau produknya itu dibuat di Eropa seperti Prancis atau Italia. Padahal aslinya, produk tersebut dibuatnya di China. Di tengah-tengah masih banyaknya orang yang menghina atau mengejek kalau China hanyalah negara yang hanya bisa meniru produk barat atau membuat KW atau kualitas yang e tiruan gitu ya, barangnya buruk dan mudah rusak. Ternyata di balik itu semua ya, barang-barang yang selama ini kita kira adalah murni produk Eropa dibuatnya aja di China, Geng. Cuma nama brandnya aja yang berasal dari Eropa. Produknya asli buatan tangan China. Bahkan, Geng, ada video yang menunjukkan topi kampanyenya e Donald Trump. orang yang benci banget sama China ya, orang yang pengin banget apa memerangi China. Nah, ada topi dia yang tulisannya Make America Great Again atau MAG yang sering dipakai oleh e beliau ini. Ternyata itu dibuatnya juga di China dan secara enggak langsung ini menunjukkan kalau China sudah mampu untuk membuat barang yang berkualitas dan merajai semua pasar. Nah, jadi sekarang gimana tuh? Masih mau meremehkan produk dari China, Geng kalau kayak gini. Bahkan Amerika aja yang mencoba. Oh, China ya menggunakan keterampilan dan tenaga rakyat China untuk membuat produk mereka. Jadi semacam munafik banget ya. The merch people made in the US. Oh, no. China made in not USA. Oh, no. Terus, Geng, tereksposnya produksi dari brand-brand mewah asal barat ini membuka mata kita semua kalau beginilah realita sebenarnya. Yang mana bisa gua katakan ini adalah bagian dari propaganda juga, Geng. Gimana negara-negara barat mencoba untuk membuat citra China jelek di mata dunia dengan membuat framing kalau China adalah negara yang tidak semaju negara barat, tapi barang-barang negara mereka justru diproduksi di China. Dan kalau gak ada video-video seperti yang tadi nih yang ngebongkar dog asli dari brand-brand asal barat ini yang mungkin kita gak pernah tahu kenyataan ini, Geng. Nah, banyaknya video-video tersebut yang berseleweran di TikTok dinilai sebagai salah satu strategi dari China saat ini dalam menguatkan posisi mereka untuk perang dagang dengan Amerika. Karena dengan video-video tersebut banyak orang yang menjadi tahu kalau China memiliki peran yang sangat besar dalam menjalankan roda perekonomian negara-negara yang saat ini menjadi musuh. Sehingga kalau China nekad untuk menghentikan produksinya, bahkan perekonomian mereka bisa colab karena sangat bergantung dengan China. Gila, pelan-pelan China ya kan. Enggak apa-apa nih gua jadi buru pabrik lu, gua jadi pekerja lu, tapi lama-lama hap dimakan tuh orang-orang. Nah, menurut gua sendiri ya, Geng, strategi China kali ini cukup cerdik. yang awalnya balas-balasan tarif sama Amerika sampai disuruh oleh Amerika untuk menelepon Trump. Tapi mereka enggak nurut dan malah dengan beraninya bilang kalau mereka enggak takut dan enggak peduli dengan tarif yang diberlakukan oleh Amerika kepada mereka. Dan sekarang sengaja mereka ekspos harga produksi sebenarnya dari produk-produk luxury brand milik negara-negara barat ini yang ternyata ya aslinya enggak mahal-mahal banget dan dikerjakan di China. Nah, dan setelah mengetahui harga produksi dari Luxury brand tersebut, kira-kira gimana tuh, Geng? Kalian masih pengin enggak sih beli barang-barang branded ini? Atau justru beralih ke barang lokal aja atau justru ya kalau mau pakai branded mending yang KW aja? Coba deh tinggalkan komentar di bawah. Dari fenomena ini, Geng, malah jadi bikin gua penasaran kenapa sih negara-negara barat justru memilih China yang nota bandnya musuhnya mereka, mereka enggak suka sama China kok dijadikan tempat bagi mereka untuk memproduksi produk mereka di sana. Bukankah ini sangat riskan, sangat beresiko sewaktu-waktu produk mereka bisa ditiru, dibebranding dengan produk Cina sendiri atau justru ya kayak gini dibongkar ke dognya. Brand dari barang-barang mewah pula. Sekarang kita bakal masuk nih ke dalam pembahasan mengenai kenapa alasannya Cina menjadi pabrik bagi brand-brand mewah asal negara barat sampai akhirnya mereka kecolongan dan China itu langsung membongkar ke dok brand-brand ini yang ternyata memakai bahan murah untuk dijual mahal. Nah, jadi geng China menjadi salah satu negara yang memang udah terkenal banget memproduksi barang-barang dengan harga yang murah. Ya, enggak usah dibandingin dengan harga brand dari negara barat lah. Di negara kita sendiri aja ya, yang masih sama-sama negara Asia aja, harga barang dari China itu jauh lebih murah dibandingkan dengan harga barang yang diproduksi dari dalam negeri. Apalagi kalau dibandingin dengan harga produk dari barat udah pasti jauh lebih murah. e jauh bangetlah berbanding harganya. Tapi apa yang membuat China bisa memproduksi barang dengan harga yang jauh lebih murah ini dibandingkan dengan yang lain sampai dijadikan tempat bagi banyak brand-brand ternama asal negara barat. Ya ibaratnya gini ya, bersaing mah bersaing gitu. Negara barat nih bersaing nih sama China nih. Tapi mereka juga butuh China untuk bikin produk dagangan mereka. Ini persaingan yang aneh menurut gua ya kan. Ini orang ya dari barat bersaing atau perang dagang sama China. Tapi barang mereka yang mereka dagangkan itu mereka produksi di China juga. Aneh banget. Dan mereka menjadikan China sebagai salah satu negara yang diandalkan untuk menjadi tempat dari pabrik-pabrik ee brand-brand besar mereka. Dan ternyata pemerintah China bahkan sudah e merencanakan hal ini sejak berakhirnya perang dingin, Geng. Jadi ini sudah menjadi strategi pemerintah China. Sejak tahun 2017, China ini melihat bagaimana dunia sedang berada di dalam kondisi perubahan besar yang berkaitan dengan geopolitik serta kemajuan teknologi. China di saat itu memanfaatkan momentum ini, Geng, untuk membuat negara mereka jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya, ya. Suplementand gitu, ya. Di saat itu mereka melihat, "Wah, ada kebutuhan persaingan nih. Kita yang suplly deh lu semua bersaing, kita suplly. Nanti kita udah besar baru kita ikut bersaing." Nah, kurang lebih kayak gitu tuh pemikiran China tuh. Dan bahkan di saat itu ee mereka ingin berubah sebagai negara yang bisa membuat negara barat hancur. Ya, awalnya mereka terlihat seperti kacungnya barat, woi. Bekerja untuk perusahaan barat, ngerjain produk-produk barat di pabrik-pabrik mereka. Tapi lama-kelamaan mereka buat barat ini bergantung sama mereka. Di situlah setelah barat bergantung dipotong semuanya. Gila ya China ya. Dan untuk bisa mendapatkan posisi ini, China tentunya harus bisa menggantikan posisi negara barat seperti Eropa dan yang terutama adalah Amerika Serikat. Suatu negara itu bisa dikatakan sebagai negara adidaya atau super power. Bukan cuma karena negara tersebut mengontrol ekonomi atau militer, tetapi juga negara tersebut bisa mengatur dunia baik secara regional seperti kawasan Asia, Afrika, dan global itu benar-benar di bawah pengaruh mereka. Negara kayak gini contohnya adalah Amerika. Mereka ini bisa mengatur dunia melalui tiga cara, Geng. Yaitu kekuatan dengan memaksa negara lain untuk patuh terhadap mereka. Terus dengan imbalan atau kerja sama dan legitimasi yang diberikan oleh negara lain karena dianggap memiliki kemampuan untuk memimpin negara lain. Ya, contohnya seperti Korea Selatan nih yang terlihat patuh banget sama Amerika. Nah, karena mereka tuh yakin Amerika nih ya sebagai kakak pertama, pemimpin nih, dewa nih, disembah-sembah, ya kurang lebih kayak gitulah. Nah, begitulah Korea Selatan kepada Amerika. Nah, di dalam kondisi ini Amerika tuh diuntungkan banget ya karena mereka tuh menjadi negara yang bisa mengatur negara yang apa ya menunjukkan power-nya lah gitu. Nah, hal inilah yang membuat China itu jadi berambisi besar ingin menggeser Amerika. Dan agar China bisa menggeser posisi Amerika tersebut, mereka mencoba menggunakan pengaruh melalui hegemoni untuk melawan Amerika tanpa harus melalui perang menggunakan senjata. Pintar banget. Ada dua cara yang dilakukan oleh China, Geng. Yang pertama itu dengan mengurangi kekuatan Amerika terhadap China agar China enggak terus dikendalikan oleh Amerika. Terus yang kedua, mereka mulai membangun pengaruh di negara-negara lain dengan melakukan kerja sama. Jadi, makanya jangan heran kenapa di negara kita ya banyak infrastruktur-infrastruktur atau fasilitas umum yang dibangun pakai uang yang dipinjam dari China. Secara logika nih ya, ngapain China bantu kita ngebangun tol, ngebangun LRT, MRT, ngapain? Kenapa mereka enggak gunain duit mereka sendiri aja kenyang? Ya, itu adalah bagian dari strategi China untuk membangun pengaruh mereka di negara kita. Dan itulah memang yang sudah direncanakan oleh China. Mereka membangun pengaruh yang sangat besar di banyak negara. Tujuannya adalah untuk menggeser Amerika sebagai negara adidaya. China owns around 34% of all the ships that are currently on water were made in China. At the same time, about 57.1% of ships currently under construction are at Chinese shipyards. Terus salah satu kerja sama lain yang sering dilakukan China untuk bisa mendapatkan pengaruh adalah menjadikan negara mereka sebagai tempat yang ideal bagi perusahaan-perusahaan besar untuk mendirikan pabrik dengan menawarkan harga yang murah. Misalkan nih, "Weih, perusahaan lu nih, Louis Vitong ya kan nih diriin pabrik di tempat gua. Murah deh para pekerjanya. pintar-pintar boleh lu gaji murah juga, enggak perlu pakai pajak segala macam. Ada lagi enggak? Nah, diriin di sini. Kayak gitulah kurang lebih. Nah, tapi pertanyaannya adalah kenapa bisa China memberikan harga yang begitu murah? Apakah mereka enggak rugi? Nah, jadi geng ada beberapa alasan. Yang pertama dikatakan karena China memiliki basis manufacture yang luas dan memungkinkan perusahaan-perusahaan yang memiliki pabrik di negara tersebut memproduksi barang dalam jumlah yang sangat banyak. Karena perusahaan tersebut membuat produk dalam jumlah besar. Biaya produksinya bisa dibagi ke banyak produk sehingga satu barang harganya bisa lebih murah. Jadi mainnya di quantity gitu enggak apa-apa nih, untungnya kecil tapi penjualannya atau barang produksinya itu banyak. Nah, contoh gampangnya nih, Geng. Misalkan nih, kalian punya bisnis pakaian, kalau kalian cuma buat 10 baju, biaya mesin jahit, listrik, dan gaji pegawai akan terasa mahal untuk satu bajunya. Tapi kalau kalian buat 10.000 baju, biaya produksi bisa kalian bagi-bagi atau kalian comot-comot dari banyak baju yang kalian hasilkan. Nah, jadinya harga satu baju bakal jauh lebih murah. Nah, itu adalah alasan yang pertama. Nah, terus alasan yang kedua. Alasan kedua dikatakan karena China ini memiliki banyak sumber daya alam seperti logam, batu bara, minyak, dan bahan mentah lain yang dibutuhkan untuk membuat berbagai macam barang di pabrik. Oleh sebab itu, perusahaan yang ada di China enggak perlu mengimpor terlalu banyak bahan baku dan membuat barang yang diproduksi di China jauh lebih murah. Karena enggak ada ongkos kirim, ya kan? Enggak ada ongkos untuk membawa barang-barang tersebut dari negara lain. Semuanya udah ada di China. Orang-orang enggak perlu belanja lagi keluar. Perusahaan-perusahaan enggak perlu repot-repot lagi. Ya, siapa yang enggak tergiur dengan hal itu? Udah mana murah ditambah dengan mudah. Terus, Geng, alasan selanjutnya adalah karena Cina ini memiliki sistem rantai pasokan yang sangat canggih dan efisien bahkan termasuk yang terbaik di dunia. Hal ini bakal berdampak terhadap proses dari awal produksi, yaitu pengadaan bahan baku sampai pengiriman produk yang sudah jadi bisa berjalan dengan sangat lancar dan juga cepat. Wilayah yang menjadi industri utama di China adalah di Guangzo dan juga Shanghai yang sudah didukung oleh banyak pemasuk bahan baku. Pelabuhan besar untuk memfasilitasi kegiatan ekspor impor. Ya, mau ngirim mereka udah ada pelabuhannya, enggak perlu repot-repot dan serta jalur transportasi mereka yang saling terhubung. Nah, dengan sistem inilah barang-barang bisa diproduksi, dikirim, dan dijual dengan cepat. Ditambah lagi murah. Biaya yang dikeluarkan selama proses produksi bisa ditekan semurah mungkin, serta pengiriman ke konsumen bisa dilakukan secepat mungkin dan tepat waktu. Jadi, dari alasan ini udah tiga nih, gimana orang enggak tergiur gitu. Gimana perusahaan-perusahaan tidak tergiur untuk mendirikan ya pabrik mereka di sana. Ditambah lagi alasan keempat, pemerintah Cina itu sering memberikan bantuan keuangan kepada produsen atau pabrik, terkhususnya bagi mereka yang bergerak di bidang elektronik dan juga tekstil. Nah, bantuan yang diberikan ini bisa berupa pengurangan pajak, hibah, atau dana gratis sampai memberikan pinjaman dengan bunga rendah. Bantuan inilah yang membuat atau membantu produsen bisa menurunkan biaya produksi mereka, tapi produsen bisa tetap mendapatkan untung dari produk yang mereka jual. Karena mereka no worry, mau jual murah, mau jual harga modal, mereka udah dapat untung dari subsidi pemerintah. Terus, Geng, alasan yang terakhir adalah biaya tenaga kerja di China itu murah banget, rendah dibandingkan dengan negara lain. Dengan tenaga kerja yang besar di sektor manufactur, Cina bisa mempertahankan upah yang jauh lebih rendah daripada di negara-negara seperti Amerika dan Eropa. Dan biaya yang hemat dari tenaga kerja di sana itu sering banget diteruskan melalui rantai pasokan sehingga menyebabkan harga produk yang mereka jual itu bisa dijual dengan harga rendah karena biaya untuk bayar pekerjanya udah murah. Tapi, Geng, biaya tenaga kerja yang murah ini bisa menjadi pedang bermata dua sebenarnya. Di samping dengan biaya yang murah, bisa membuat produk yang dihasilkan memiliki harga yang murah, tapi di sisi lain bisa juga menciptakan perbudakan modern di Cina secara enggak langsung. Nah, potensi terjadinya perbudakan modern di China itu sebagian besar disebabkan dari praktik pemerintah yang merugikan dan diskriminatif terhadap rakyatnya sendiri. Salah satunya adalah etnis Uigur yang menempati wilayah Sinjiang. Mereka ini menjadi kelompok yang mengalami kerja paksa, Geng. Nah, ini sedihnya ya ada apa ya sisi gelapnya lah dari China ini yang mana pemerintah China berusaha untuk mengendalikan etnis tersebut dengan menggunakan narasi kalau mereka akan mengancam keamanan China karena menganut pemahaman ekstrem atas agama Islam. Jadi orang-orang iwigur ini rata-rata pemeluk agama Islam dan pemerintah China agak sensitif nih dengan agama Islam dan selalu menganggap kalau orang-orang Uigur ee yang beragama muslim ini adalah para ekstremis. Pemerintah China juga enggak segan untuk memberikan hukuman kepada mereka dari etnis Uigur ini yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Hukumannya mulai dari ditahan sampai melakukan kerja paksa. Nah, orang-orang yang berasal dari etnis Uiguri ini juga bakal dipekerjakan oleh pemerintah China di dalam rantai pasokan global untuk brand-brand ternama seperti Apple, Nike, dan juga Dell. Mereka disuruh kerja paksa dengan upah yang kecil bahkan enggak diupah. Jadi ya ini adalah salah satu faktor kenapa barang China itu murah. Nah karena praktik ini ada sebanyak 37 perusahaan dari berbagai sektor mulai dari pertambangan, tenaga surya sampai tekstil asal China di blacklist dan dilarang untuk mengekspor produk mereka ke Amerika Serikat. Ya, alasannya masuk akal bukan karena perang dagang, tetapi Amerika mengetahui bahwa ada perbudakan modern dalam sistem industri China atau pabrik-pabrik di China itu pasti ada Muslim Uigur yang diperbudakkan atau dikerja paksa. Beijing central planners pay companies in Eastern China to open factories in Shinjong and train weager workers. And the Shinjong local government gets paid to build factories near Weer detention camps. Their communications were monitored. They were paid in a year, but they should have been paid in a month. Namun jangan salah ya, Geng, kalau kalian mengira yang mendapatkan perlakuan diskriminatif seperti itu cuma etnis Uigur aja, ya salah. Yang mana etnis lain ya yang sama-sama orang China juga itu juga sangat rentan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif di sana. Bagi mereka yang berasal dari wilayah pedesaan yang lapangan kerjanya enggak menentu dan enggak sebanyak yang ada di kota-kota besar seperti di Guandong dan di Shanghai yang mereka pada akhirnya memutuskan buat pindah ke sana, pindah ke kota untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi biasanya mereka ini bakal dipekerjakan dengan gaji yang rendah. Ya, karena itu tadi mereka dianggap orang-orang bodoh yang enggak tahu apa-apa. Dan jumlah orang China yang mendapatkan gaji rendah cukup banyak, Geng. Yaitu sekitar 376 juta orang. Nah, jika dibandingkan dengan penduduk asli dari kota besar, para migran yang berasal dari desa ini biasanya enggak mendapatkan fasilitas sosial yang sama seperti asuransi kesehatan, pendidikan, atau tunjangan lain-lain karena mereka enggak terdaftar secara resmi sebagai penduduk kota tersebut. Nah, walaupun pemerintah China mengklaim kalau sistem ini sudah diperbaiki, tetapi bagi sebagian besar orang yang berasal dari desa yang enggak punya surat domisili resmi ee dari kota tetap itu enggak bisa mengakses layanan publik sehingga kondisi mereka selama bekerja di kota semakin sulit aja, Geng. Nah, dan hal inilah yang membuat kesenjangan sosial dan ekonomi menjadi semakin besar di China. Nah, cuma Geng karena Cina sedang gencar-gencarnya mengembangkan teknologi, praktik kerja yang cenderung eksploitatif ini pelan-pelan tuh mulai ditinggalkan oleh mereka. Nah, yang sempat gua singgung di video sebelumnya yang membahas soal kedatangan ASO Speed ke China, di video tersebut gua udah jelaskan kalau China sekarang sedang memasuki era Dark Factory. Nah, yaitu istilah ketika produksi tetap berjalan meskipun enggak ada pekerja alias pekerjaan manusia udah digantikan oleh robot. ya, tenaga manusia sudah digantikan oleh robot yang mana artinya mereka bisa menghasilkan produk yang mereka buat sepanjang waktu tanpa henti. Karena kalau misalkan manusia ada limitnya, ada tenaga yang ya maksudnya batas kekuatannya lah ya kan. Apalagi kalau kalian-kalian nih yang hobinya cuma main PUBG, nongkrong, begadang tengah malam ya paling 3 jam kerja udah mau resign. Nah, kalau di China sekarang justru yang bekerja itu robot dan bahkan mereka enggak memerlukan lampu alias bisa lebih hemat energi. Ya, ya walaupun robotnya pakai energi juga nih pakai listring nih, tapi di dalam gelap tanpa pakai lampu kayak gini mereka bisa tetap bekerja, bisa tetap menghasilkan produk-produk yang mereka buat. [Musik] Terus hal ini, Geng, juga terlihat ketika sejumlah perusahaan besar di China itu mulai meninggalkan sistem kerja 996. Nah, apa itu 996? Nah, jadi sistem kerja 996 ini adalah sebuah skema waktu kerja yang diterapkan oleh perusahaan yang merujuk pada sistem masuk kerja yaitu jam 09.00 pagi, pulang jam 09.00 malam, dan bekerja 6 hari dalam seminggu. Nah, pelarangan terhadap sistem 996 ini itu sudah diterapkan sampai sekarang. Enggak terkecuali untuk perusahaan-perusahaan besar, Geng. Salah satu perusahaan yang udah menetapkan larangan atau meninggalkan sistem 996 adalah perusahaan Midea. Kalian pasti pernah tuh ya di rumah kalian punya e alat elektronik yang mereknya MideAC, microwave atau dispenser pasti ada tuh yang mereknya MideA. Perusahaan asal Cina ini itu termasuk perusahaan besar di sana. Nah, mereka memproduksi peralatan rumah tangga. Manajemen perusahaan ini udah minta karyawan mereka untuk pulang paling telat jam 0.20 itu udah harus pulang. Itu udah paling telat tuh, enggak boleh lebih. Nah, padahal dulunya mereka itu bisa kerja sampai larut malam, lembur-lembur habis-habisan gitu. Nah, Midea juga ngelarang adanya rapat setelah jam kerja. Jadi, di luar jam kerja udah enggak boleh ada apapun. Harus pulang, harus istirahat. Dan di samping itu, China juga sudah mulai memikirkan kesejahteraan dari para pekerja mereka dengan meningkatkan taraf hidup mereka melalui gaji yang lebih baik dan mengadakan pembinaan di bidang teknologi digital bagi para pekerja atau calon pekerja mereka. Nah, karena Cina ini mulai sadar, Geng, kalau untuk bisa menjadi negara yang terdepan di dalam perekonomiannya, mereka itu ya butuh buat menggerakkan sektor industri dengan orang-orang yang terampil di bidangnya. Ya, secara logika ya, kalau lu pengin menghasilkan perekonomian yang bagus, maka ya hasil kerja dari para pekerja lu juga harus bagus. Kalau hasil kerjanya harus bagus, artinya para pekerjanya juga harus dijamin kesehatannya, kehidupannya, kesejahteraannya juga harus bagus. Dengan begitu semuanya akan berangsur-angsur bagus, gitu. Nah, apalagi sekarang adalah era di mana teknologi berkembang dengan pesat banget sehingga Cina itu enggak boleh ketinggalan dengan perkembangan teknologi saat ini, Geng. Nah, enggak heran ya Cina itu bisa seperti sekarang karena terus melakukan inovasi dan terus membuktikan diri kalau e mereka mampu untuk menjadi negara super power seperti negara barat. Beda banget ya. Kalau di negara kita tuh yang dikembangkan suara sound paling gede sama joget gini tuh pinggir jalan tuh begitu ya. Gua penasaran tuh sama gitu-gituan. [Musik] Hah? Negara orang lain sudah berlomba-lomba ya kan memikirkan bagaimana ee memajukan teknologi. Terus pemerintahnya juga memikirkan kesejahteraan para pekerja yang nota bandnya itu adalah rakyat. Nah, kalau di sini berlomba-lombanya aneh-aneh, beda-beda gitu ya. Dan bahkan pemerintah kita fokusnya korupsi di sini. Kalau di sana benar-benar rakyatnya disejahterakan. Terus, Geng, setelah terekspos harga-harga dari produk Luxury brand yang ternyata jauh lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pasaran oleh produsen-produsen asal Cina ini. Nah, apakah strategi yang dibuat oleh Cina ini berhasil meruntuhkan kepercayaan atau image yang selama ini sudah dibangun oleh luxury brand itu sehingga apakah akan berdampak pada menurunnya penjualan dari brand-brand tersebut? Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan nih, Geng. Mengenai efek dari strategi China yang mengekspos harga murah dari bahan pembuatan luxury-lxuiy brand ini. Jadi, Geng, banyaknya video mengenai harga asli dari e bahan pembuatan luxury brand yang diproduksi di China membuat kita semua jadi mempertimbangkan apakah membeli barang-barang dari brand terkenal tersebut masih worth itak. atau justru udah enggak ya udah enggak masuk akal lah, udah enggak sesua lah gitu. Nah, apalagi dengan kondisi perekonomian negara kita kayak sekarang nih ya kan apa-apa lagi susah susah semua. Nah, barang yang berasal dari luar negeri itu jadi makin mahal karena nilai dolar juga saat ini tuh makin tinggi terhadap rupiah ya. Patokannya kan dolar nih. Dan kalau orang kaya ya beda cerit lah geng. Mereka udah punya uang banyak. naiknya dolar ya mungkin gak begitu berpengaruh buat mereka untuk belanja barang-barang branded atau justru mereka ya nyimpan dolar juga. Dolar naik rupiah turun. Mereka punya dolar yang bisa ditukar ke rupiah. Jadi duitnya tetap tercover tetap banyak. Dan meskipun sudah dibongkar oleh China dari video-video tadi gua juga yakin pasti ada di antara kalian yang masih kepengin beli barang branded tersebut. Ya enggak usah bohong lah ya. Mau bagaimanapun dibongkar ya keburukannya atau kekurangan dari produk tersebut, kayaknya akan sulit untuk orang-orang meninggalkan produk ini karena mereka udah berhasil membangun image dan branding mereka sehingga orang-orang sudah terdoktrin dengan hal itu. Dan gue yakin juga enggak semua orang ngelihat video tentang produsen China membongkar bahan dasar dari produk-produk brandy tersebut yang katanya murah gitu kan ya. Itu kayaknya enggak ngaruh banget gitu ya. seperti salah satu sampelnya ya, yaitu iPhone yang memang kalau fature-feature-nya itu dibandingkan dengan kompetitornya sebenarnya enggak canggih-canggih banget. Tapi tetap aja masih banyak yang memilih iPhone, yang membeli iPhone, yang FOMO dengan iPhone ya karena memang secara brandingnya mereka udah berhasil. Sama ditambah lagi iPhone itu ya ini yang gua tahu nih kenapa mereka sangat diminati karena banyaknya orang yang memakai aplikasi Instagram. Kalau kalian lihat, geng, iPhone ini sama Instagram kayak klop banget gitu, ya. Gimana enggak, Instagram kan punya Amrik, Facebook juga punya Amrik. iPhone kalau upload video atau foto di Instagram itu kualitasnya bakal wah banget. Di reels itu bakal wah banget, enggak ada pecah-pecahnya. Tapi kalau Android, kualitasnya di iPhone itu kayak menurun gitu, kureng banget. Nah, salah satu penyebab kenapa iPhone ini dianggap wah bagus banget, canggih banget ya itu karena memang sinkron banget dengan Instagram. Kalau upload video ke Instagram dari hasil rekaman iPhone itu jauh lebih bagus daripada Android yang udah-udah kayak gitu. Terus, Geng, kenapa ya walaupun udah dibongkar kayak gini, orang-orang tetap pengen beli barang-barang branded tersebut. Nah, sebenarnya hal ini bisa gua jelaskan, Geng. Dan gua bakal menjelaskan beberapa alasannya yang mana ini ada beberapa poin. Kita bahas poin yang pertama dulu. Poin yang pertama itu adalah barang-barang mewah tersebut selalu dikaitkan dengan simbol pencapaian, kekayaan, dan status sosial. Barang dari luxury brand itu enggak cuma dibeli karena fungsinya di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mau bahannya apapun, sesampah apapun e bahan bakunya, tetapi ya karena fungsinya adalah sebagai penanda status karena brand tersebut menempati status tertentu di dalam masyarakat, yaitu untuk status ekonomi bagi kelas atas, ya. Mau enggak mau banyak yang tetap beli karena berpikir ya cuma mereka yang mampu membeli itu dan orang-orang di bawah mereka enggak akan mampu membeli itu. Jadi mereka merasa kayak ada spesialnya gitu enggak bisa sama dengan orang-orang. Mereka yang menggunakan barang-barang mewah agar bisa mendapatkan pengakuan oleh orang lain biasanya enggak peduli dengan ya hal-hal viral kayak gini tentang bahan baku produk yang mereka beli dengan harga yang sangat mahal. Itu adalah poin yang pertama. Nah, terus geng poin yang kedua menurut orang-orang ini membeli produk mewah itu bisa meningkatkan kebahagiaan sekaligus harga diri. Ya, bagi banyak orang membeli dan memiliki barang mewah itu jadi pengalaman yang menyenangkan. Self reward dan ya ini adalah momen berharg lah buat mereka. Nah, dari segi medis, membeli barang mewah itu bisa membuat otak merasa senang kayak apa ya? Eh, ada unsur-unsur yang meledak gitu di kepala kayak wah happy banget gitu. Ketika seseorang membeli barang mewah itu, bagian otak yang mengatur rasa senang dan puas itu akan aktif lalu melepaskan zat kimia yang bernama dopamin yang bakal membuat orang tersebut benar-benar kayak merasa, "Wah, ini candunya gua nih." Ini sama aja nih kayak efek eh apa ya? Orang pai narkoba. Sama tuh mirip. Kalau dia enggak dapat barang itu ya rasanya tuh kayak wah enggak senang gitu, kurang semangat. Nah, perbedaannya membeli barang mewah itu ya positifnya membuat seseorang tuh jadi berusaha bekerja keras. Nah, endingnya, finalnya, dan hasilnya itu adalah membeli barang mewah. Nah, itu positifnya. Oke, terus poin yang ketiga nih, Geng. Poin yang ketiga adalah brand mewah ini memiliki efek yang disebut dengan Hello Effect, yaitu efek dari reputasi baik yang dimiliki oleh sebuah brand. Nah, efek ini terjadi ketika konsumen itu menganggap barang mewah sudah pasti membuat produk yang bagus. Nah, sekalipun mereka sendiri belum tahu atau belum ngecek secara pasti ya, belum uji gitu ini brand nih beneran e bagus produknya atau enggak atau bisa dikatakan nilai sejarahnya itu ada atau enggak. Nah, kita contohin aja kayak jam mewah antara Rolex sama Richard Mil. Nah, Rolex itu gak cuma menjual produk doang. Mereka juga e historicalnya tuh bagus banget ya kan dari sejarah panjangnya itu yang membuat mereka mahal. Enggak cuma karena bahannya dari emas atau mungkin ada berlian, enggak cuma itu, tapi sejarahnya itu geng. Nah, sementara Richard Mil itu adalah salah satu jenis jam yang baru ya. Munculnya itu belum lama. Enggak kayak Rolex yang udah berpuluh-puluh tahun, ratusan tahun. Nah, tapi Richard Mil itu bisa menyamai bahkan menandingi harga Rolex. Nah, kok bisa? Padahal juga terkadang nih ya produk dari Richard Mail ini enggak semua bahan bakunya itu bahan baku mahal seperti berlian, emas, dan lain-lain. Kadang ada yang cuma karbon, ada yang cuma karet. Nah, tapi beda-beda serinya harganya bisa mm-an bahkan lebih mahal dari Rolex. Kok bisa? Ya, balik lagi itu dia berhasilnya mereka dalam membangun branding tersebut. Nah, itu udah tiga poin. Oke, sekarang kita ke poin yang keempat yang membuat orang-orang tetap pengin membeli barang branded walaupun udah tahu bahan bakunya biasa aja adalah langkanya produk tersebut. Kelangkaan eksklusivitas yang mana ini memainkan peran penting di dalam brand mewah. Nah, ketika brand mengatakan kalau produk yang mereka hasilkan adalah barang langka atau limited, ya seperti hukum ekonomi aja, Geng. permintaan terhadap barang tersebut menjadi semakin tinggi dan harganya akan semakin mahal. Dengan memproduksi barang dalam jumlah yang terbatas, brand ini bakal ya menciptakan permintaan yang tinggi dan secara psikologis bakal mempengaruhi ya konsumen untuk cepat-cepat pengin beli produk tersebut sebelum kehabisan. Ini hipnotis nih kayak, "Uh, gua harus beli nih nanti gua enggak dapat." Ya, orang-orang udah pada punya guanya enggak. kayak boneka Labubu tuh contohnya tuh. Kejadiannya mirip nih. Dan hal kayak gini ya bakal menciptakan persepsi kalau barang mewah itu jadi lebih berharga karena kelangkaannya. Nah, jadi orang-orang ibaratnya tuh kalau bahasa gaulnya tuh FOMO, fear of missing out. FOMO ya tidak mau ketinggalan gitu. Nah, terus poin yang kelima nih, Geng. Karena mereka bukan cuma membeli barang yang berguna aja bagi mereka, tapi nilai seni yang dimiliki oleh barang tersebut. Nah, ini juga sebenarnya ini sisi positif ya. Walaupun barang tersebut terbuat dari bahan yang kureng ya, yang biasa aja, murah gitu harusnya, tapi seninya itu yang terkadang tidak bisa ee apa ya dinilai murah seninya. misalkan kayak ada coraknya kayak gimana, ada bentuknya yang kayak seperti apa. Nah, itu yang mahal sebenarnya dan itu worth it kalau kita beli. Nah, karena mau bagaimanapun ide untuk menciptakan barang tersebut dan bagaimana pembuatan barang tersebut yang mengharuskan pengrajinnya mengerjakan dengan teliti dan ee benar-benar harus rapi gitu. Nah, itulah yang dibayar. Nah, jadi kalau alasan yang kelima ini atau poin yang kelima ini menurut gua agak worth untuk dibeli. Terus poin yang terakhir nih, karena adanya pengaruh media sosial dan para influencer yang sering memamerkan barang mewah yang mereka punya. Nah, ini salah satu hal yang mendoktrin atau m-trigger orang-orang harus punya barang tersebut. Enggak peduli di belakangnya tuh kayak gimana. Tapi selama dipakai sama artis, influencer, atau selebgram yang mereka suka, mereka tertarik untuk punya juga ya. Salah satu contohnya adalah boneka Labubu. Ketika dimiliki oleh Lisa Blackpink, semua Lisa Black and white yang ada di dunia, Black and White pokoknya semua yang nge-fans sama Lisa Blackpink ikutan beli. Jadi pengen punya kayak Lisa Blackpink. Walaupun mukanya kagak sealus muka Blackpink, yang penting punya Labubu. Udah tuh berasa jadi Lisa Blackpink dah tuh. Termasuk abang-abang gemula ya yang jenggot-jenggotnya tebal yang suka sama Lisa Blackpink. Berasa gimana? berasa cantik gitu kalau udah punya boneka Labubu. Nah, ini adalah tren yang diciptakan. Nah, jadi kurang lebih geng itu dia beberapa poin yang bisa gua jelaskan kenapa orang-orang tetap membeli barang mewah atau barang branded. Walaupun mereka sudah tahu bahwa barang tersebut ya dibuat dari bahan-bahan yang sama aja dengan barang-barang yang dijual murah di pasaran. Ya, karena ada hal yang sangat-sangat mereka junjung, yaitu ingin berbeda dengan orang lain atau ingin sama dengan idolanya. Jadi, mereka enggak peduli, mereka tetap pengin punya barang-barang tersebut. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini tentang China yang mengekspos harga dari brand-brand mewah yang menghabiskan ongkos produksi yang ternyata sangat murah tapi dijual dengan harga yang benar-benar super fantastis. Gimana menurut kalian, Geng, tentang strategi China ini? Apakah ini bakal bisa menjatuhkan negara barat atau tidak? Coba tinggalkan komentar di bawah. Yeah.