Transcript
ecuj_Occ0ZE • Berserah Diri Dengan Penuh Keyakinan Kepada Takdir Allah - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2537_ecuj_Occ0ZE.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufqihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuimani
wa asadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh ridwan allahumma sholli alaihi
wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani.
Ibu-ibu yang dirahmati oleh Allah
subhanahu wa taala. Demikian juga
bapak-bapak para hadirin dan hadirat.
Pada kesempatan bahagia ini kita akan
bahas tentang
ibadah yang sangat agung yaitu pasrah
dan tunduk kepada keputusan Allah
Subhanahu wa taala.
Dan inilah salah satu adab
kepada Allah subhanahu wa taala. Syekh
Muhammad bin Shh Al-Utsimin rahimahullah
ketika menyebutkan tentang akhlak,
beliau membagi dua. Akhlak kepada Allah
dan akhlak kepada sesama manusia. Dan di
antara akhlak kepada Allah yaitu
menerima segala keputusannya.
Dan itulah yang kita disuruh untuk
berikrar akan hal ini setiap pagi dan
petang dengan berkata, "Roditu billahi
rba."
Aku rida Allah sebagai Rabbku. Itu rida
Allah sebagai Rabbku, sebagai pengaturku
dan segala pengambil keputusan untukku.
rida dengan keputusan-keputusan Allah
Subhanahu wa taala.
Dan itu konsekuensi dari kata al-Islam.
Alislam artinya al-istislam, yaitu
tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala.
Selain tunduk kepada syariatnya adalah
tunduk kepada keputusan-keputusannya.
Allah berfirman, "Wam yuslim wajhahu
ilallahi wahua muhsin faqad istamsaka
faqad istamsaka bilwatil wq." Siapa yang
ee menyerahkan wajahnya kepada Allah dan
dia dalam kondisi berbuat ihsan, berbuat
baik, maka dia telah berpegang dengan
tali yang kuat.
Rasul sahu alaih wasallam juga berkata,
"Allahumma laka aslamtu wabika amantu wa
alaika tawakaltu
waika anabtu wabika
ya
wailaika khamtu dan seterusnya." Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya
Allah laka aslamtu kepada Engkaulah aku
menyerahkan diriku."
Inilah ciri khas orang-orang beriman
yang tunduk kepada keputusan Allah
Subhanahu wa taala
yang dengan itu mereka pun meraih
kebahagiaan di dunia terlebih lagi
kebahagiaan di akhirat. Salah satu sebab
utama seorang bahagia di atas muka bumi
ini yang penuh dengan ujian dan cobaan
adalah rida dan tunduk dengan keputusan
Allah Subhanahu wa taala.
Karenanya rasul sahu al wasallam
bersabda, "Ajaban liamril mukmin inna
amrahu kullahu khair waisaika lilukmin."
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Sungguh menakjubkan perkara seorang
mukmin, sungguh perkaranya seluruhnya
adalah baik dan itu tidak berlaku
kecuali kepada seorang mukmin. In
asobahu sarakaro
fakana khair lahu wain asobahu
sharo fakana khair lahu. Jika dia
mendapatkan kesenangan maka dia pun
bersyukur dan itu baik baginya dan jika
dia mendapatkan
atau ditimpa dengan keburukan maka dia
bersabar dan itu juga baik baginya. Dan
ini ciri utama orang beriman.
Beriman kepada takdir. Salah satu dari
rukun iman. Iman yang keenam ya yang
mungkin tidak pernah dibahas dalam
agama-agama yang lain. Beriman kepada
takdir.
Karenanya apa yang ditimpa oleh kaum
mukminin berupa kesulitan-kesulitan,
penderitaan-penderitaan
[Musik]
menjadikan orang-orang nonmuslim takjub
dengan mereka. Bagaimana kaum muslimin
kita lihat diuji dengan berbagai macam
ujian ya, dengan berbagai macam
penderitaan. Namun mereka tegar.
Mereka sangat tegar.
Contoh nyata depan mata kita adalah
saudara-saudara kita di Palestina.
Ya, bagaimana mereka tegar tidak lain
karena bersandar kepada Allah Subhanahu
wa taala. Ya, meyakini
ya segala keputusan Allah Subhanahu wa
taala yang terbaik bagi mereka sehingga
mereka bisa kuat dan tegar. Dan juga
kita sering mendengar bagaimana para
dokter-dokter nonmuslim ketika
menghadapi pasien-pasien muslim, mereka
dapati bahwasanya pasien-pasien muslim
begitu sabar dan tegar karena mereka
terbiasa
tunduk kepada takdir Allah Subhanahu wa
taala.
Ya. Dan demikian pula ya secara umum
seorang mukmin yang beriman
dia akan tegar dalam menghadapi
ujian-ujian kehidupan.
Ibu yangu dirahmati oleh Allah Subhanahu
wa taala.
Pembahasan ini
sangat penting bagi kita semua ya.
Karena kita tahu dalam kehidupan ini
tidak semuanya berjalan dengan yang kita
inginkan.
Tidak semua cita-cita kita tercapai.
Bahkan apa yang kita
angan-angankan terkadang yang terjadi
adalah bertolak belakang.
Ya, sebagaimana dikatakan seorang ingin
berlabuh ke utara, ternyata angin
bergerak menuju selatan sehingga dia
sulit untuk berlabuh. Tapi dia harus
berlabuh.
Masing-masing kita diuji.
Saya rasa tidak ada seorang pun yang
tidak diuji ya.
siapapun dia, mau dia pejabat, mau
rakyat jelata,
mau orang kaya, orang miskin, ya
laki-laki, perempuan ya, ibu-ibu,
bapak-bapak, suami, istri,
ya, anak-anak,
orang dewasa
semuanya diuji.
Coba tunjukkan kepada saya ada seorang
yang tidak diuji. Pasti enggak ada.
Semuanya pasti sudah diuji dan sedang
dalam ujian. Karena memang Allah
Subhanahu wa taala ciptakan kita untuk
diuji.
Untuk diuji
banyak ayat yang menunjukkan akan hal
tersebut. Di antaranya Allah Subhanahu
wa taala berfirman, "Alladzi khalaqal
mauta walata liyabluakum ayukum ahsanu
amala." Dialah yang menciptakan
kehidupan dan kematian untuk menguji
kalian mana di antara kalian yang
terbaik amalnya.
Allah juga berfirman, "Nsinqatul mautum
walir fitnah waina turun. Setiap yang
bernyawa akan merasakan kematian.
Kami menguji kalian dengan kesenangan
dan kesulitan
sebagai fitnah, sebagai ujian." Waaina
turjaun. Dan kepada kamilah kalian akan
dikembalikan. itu akan kalian kembali
untuk menerima rapor dari hasil ujian
yang kalian kerjakan selama ini.
Demikian juga Allah Subhanahu wa taala
berfirman, "Allah menciptakan alam
semesta ini sebagai sarana prasarana
untuk menguji manusia." Kata Allah
subhanahu wa taala, "Wahualladzi
khalaqas samawati wal ardha fi sitati
ayyamin wana arsyuhu alal ma liyabluakum
ayyukum ahsanu amala." Dan dialah Allah
Subhanahu wa taala yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam waktu
6 hari. Sementara arsnya ketika itu
sudah di atas air. Buat apa Allah
menciptakan langit dan bumi? Labluakum
ayyukum ahsanu amala. Untuk menguji
kalian mana di antara kalian amalan yang
terbaik. Jadi Allah ciptakan langit dan
bumi ini untuk ujian kita. Menguji
manusia.
Allah juga berfirman dalam surat Alkahf.
Inna ja'alna ma alal ardhi zinata laha
linabluahum ayyuhum ahsanu amala.
Sesungguhnya kami telah menjadikan apa
yang di atas muka bumi ini sebagai
perhiasan keindahan
untuk menguji mereka mana di antara
mereka amalannya yang terbaik.
Nabi sallallahu alaihi wasallam juga
bersabda,
"Innad dunya hulwatun khirah wa
inallahahlifukum
fiha liur kaifaalun wattaqu dunya
wattaquisa a fitnati bani israilat
finisa." Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Sungguhnya dunia ini manis
dan hijau. Manis dirasakan,
kemudian hijau dipandang. Dan Allah
menjadikan kalian hidup di atas muka
bumi ini." Buat apa? Liyanzur kaifa
tamalun. untuk melihat bagaimana amal
perbuatan kalian, maka bertakwalah.
Oleh karenanya, kehidupan kita
di atas muka bumi untuk diuji.
Kita bukan seperti orang-orang kafir
yang merasa bahwasanya dunia untuk
kesenangan semata. Itu mindset mereka
sebagaimana hewan. Kata Allah Subhanahu
wa taala, walladzina kafaru yatamattauna
kama takulamuahum.
Adapun orang-orang kafir maka mereka
bersenang-senang dan mereka hanya
makan-makan sebagaimana binatang ternak
yang makan. Wararu matwallahum. Kemudian
tempat kembali mereka adalah di neraka
jahanam. Allah tidak menciptakan kita
hanya sekedar untuk memuaskan hawa
nafsu, untuk makan-makan, untuk
melampiaskan hasrat. Tidak. Itu semua
hanyalah pernak-pernik kehidupan. Tapi
tujuan utama adalah untuk diuji. Untuk
diuji. Dan namanya ujian
adalah hal-hal yang banyak di antaranya
hal-hal yang tidak kita sukai,
yang tidak menyenangkan hati, yang
memilukan hati.
Namun itulah ujian. Siapa yang lulus
maka dia akan meraih hasil yang terbaik
di dunia sebelum di akhirat.
Maka kita harus tanamkan dalam hati
kita, ibu-ibu yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala, bahwasanya kita
hidup ini untuk diuji. Saya rasa
semuanya diuji, Ibu-ibu, ada enggak yang
enggak diuji? Hah? Enggak ada. semuanya
diuji. Ada yang diuji karena suaminya
selingkuhlah,
diuji suaminya poligamilah,
diji suaminya
pelitlah
dan juga banyak suami diuji sama
istrinya ngomel mulu lah.
Maunya ke salon-salon mahal padahal
duitnya enggak ada. Maunya beli tas-tas
branded padahal suaminya
enggak punya duit. Ya, ada yang diuji
dengan mertuanya,
ada yang diuji dengan mantunya. Ada
enggak diuji dengan mantunya? Ada. Mantu
kurang ajar, tidak menghargai anak.
Ada diuji dengan mertuanya. Mertuanya
tidak menghargai dia, merendahkan dia,
menghinakan dia. Dia mantu yang miskin,
mertuanya kaya, dia terhina. Kasihan.
Ada yang seperti itu, ada yang kasus
seperti itu.
Ada yang diuji dengan orang tuanya
sendiri, ada yang diuji dengan anaknya.
Diuji dengan kesenangan, diuji dengan
penderitaan. Intinya semua orang diuji.
Yang Allah ingin lihat bagaimana sikap
kita terhadap ujian tersebut. Mak saya
sering bilang, emang kalau jadi orang
kaya tidak diuji? Emang kalau jadi
pejabat tidak diuji? Diuji.
Betapa banyak pejabat diuji lebih berat
daripada kita. Mereka tersenyum, tapi di
balik senyuman tersebut penderitaan.
Emang raja tidak diuji?
Emang raja tidak sakit perut? Emang cuma
kita aja yang mencret? Raja juga
mencret. Siapa bilang raja tidak pernah
mencret?
Emang raja tidak pernah diomelin istri?
Semua diuji. Enggak ada yang enggak
diuji. Memang cuma si miskin yang tidak
bisa tidur memikirkan sesuatu. Terkadang
orang si kaya tidak bisa tidur.
Oleh karenanya hidup ini pasti ujian.
Nah, sekarang bagaimana agar kita rida
dengan ujian-ujian tersebut?
Agar kita tunduk dan pasrah dengan
segala keputusan Allah Subhanahu wa
taala. Ya, terutama ibu-ibu yang
kadang-kadang ibu-ibu hatinya lemah ya,
baper sehingga ketika dikasih ujian
kurang siap menghadapinya.
Ya, oleh karenanya
perlu kita
berpasrah diri di hadapan keputusan
Allah Subhanahu wa taala.
Apa yang dimaksud dengan pasrah dan
tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu
wa taala? Maksudnya yaitu kita rida
bahwasanya apa yang Allah berikan itu
yang terbaik bagi kita. Itu namanya kita
pasrah.
Kita pasrah kita sebagai makhluk.
Allah yang mengatur kita. Dia berhak
melakukan apa yang Dia kehendaki bagi
kita. Dan apa yang Allah pilihkan itu
yang terbaik. Itu namanya rida.
Bukan berarti rida kepada keputusan
Allah tidak boleh menangis. Bukan
berarti demikian. Nangis sedih itu
biasa.
Sedih, khawatir, gelisah, tetapi tetap
ada rida. Makanya Ibnu Qayyim
rahimahullahu taala membahas tentang
masalah ini. Beliau berkata, "Apakah
seorang menangis? Apakah orang kesakitan
berlawanan dengan rida? Tidak
berlawanan. Sebagaimana seorang yang
sakit, dia harus minum obat yang pahit
dan dia rida minum obat pahit tersebut.
Meskipun dia rasa pahit ketika minum
obat tersebut, tapi dia rida karena dia
tahu ini obat yang terbaik bagi dia.
Meskipun pahit, dia tidak suka, dia
telan obat tersebut, dia minum jamu
tersebut, dia menjalani proses misalnya
operasi. Dia tahu ini tidak
menyenangkan. Tapi dia rida dengan
keputusan tersebut. Rida. Tidak rida itu
namanya protes.
Kenapa Allah ginikan saya? Kenapa harus
saya yang terkena musibah ini? Apa
kesalahan saya? Kenapa Allah ambil anak
saya? Kenapa begini? Kenapa begitu? Itu
namanya protes dengan keputusan Allah
atau teriak ya marah-marah. Seperti kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Laisa
minna manabal khududaqal juyuba w
jahiliyah." Bukan dari golongan kami
seorang ketika terkena musibah lantas
dia mukul-mukul wajahnya. Dia
robek-robek bajunya dan dia menyeruh
dengan seruan jahiliah. Itu kalau itu
tidak rida. Jadi rida bukan berarti
ketawa ketiwi selalu. Enggak ya. Hati
itu masalah hati. Bahwasanya apa yang
Allah berikan kepada saya terbaik
meskipun kita pahit menjalaninya.
Oleh karenanya Nabi sallallahu alaihi
wasallam ya ketika
ya putranya Ibrahim
meninggal dia menangis ya. Sebagaimana
cucunya juga ketika meninggal Nabi
bersedih ya ketika putranya Ibrahim
meninggal Rasul sahu alaihi wasallam
menangis Rasul sahu alaih wasallam
berkata, "Innal aina tadma wa innalqba
yahzan wala naquulu illa bima yurdibana
wa inna bifiraqika ya Ibrahim lamahzunun
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam
sungguh mata ini mengalirkan air mata
dan sungguh hati ini bersedih
tetapi kita tidak mengucapkan kecuali
apa yang mendatangkan keridaan Allah
subhanahu wa taala
Sungguh kami sangat sedih dengan
kepergian engkau wahai putraku Ibrahim.
Dilihat bagaimana Nabi bersedih.
Oleh karenanya ketika Ibnu Qayyim
ditanya
tentang sikap Abu Ali yaitu Fudhail bin
Iyad rahimahullahu taala yang dia
memiliki seorang anak yang saleh namanya
Ali. Anak yang saleh yang sangat dia
cintai, dia sayangi. Tahu-tahu anak
tersebut meninggal dunia. Dan ketika
anaknya meninggal dia tidak bersidih dan
dia tertawa.
Dia tertawa. Maka ditanya kepada Ibn
Taimiyah rahimahullah, "Mana yang lebih
afdal?
Tertawa seperti Abu Ali Fudhail bin Iyad
yang ketika anaknya meninggal dia masih
tertawa ataukah Nabi yang menangis
ketika anaknya meninggal?" Pertanyaan
sulit.
Maksudnya apakah
Fudhail bin Iyad lebih rida daripada
Nabi sallallahu alaihi wasallam?
Jawabannya Ibnu Qayyim menukil daripada
kata Ibnu Taimiyah bahwasanya Nabi
sallallahu alaihi wasallam lebih afdal
dan lebih tahu tentang keputusan Allah
Subhanahu wa taala. Dan Nabi beribadah
kepada Allah dengan berbagai ibadah. Di
antaranya ibadah rida di antaranya
ibadah rahmat kepada
kerabatnya, kepada anaknya. Maka Nabi
menangis sebagai tanda rahmat kepada
kepada anaknya. Dan itu adalah ibadah
sayang kepada seorang anak. Sementara
Fudil bin Iyadominasi
sisi rida dan tidak bisa melakukan
ibadah rahmat kepada sang anak, maka dia
melakukan satu sisi ibadah saja. Adapun
Nabi sallallahu alaihi wasallam ya
melakukan berbagai macam ibadah. Di
antaranya ibadah rida kepada keputusan
Allah dan ibadah rahmat kepada sang
anak.
Makanya beliau menangis menunjukkan
rahmat hati yang luar biasa kepada sang
anak dan sayang kepada anak adalah
ibadah. Oleh karenanya
ee namanya rida kepada keputusan Allah
bukan berarti tertawa tertiwi ketika
terkena musibah. Bukan berarti
menunjukkan kegembiraan. Tidak harus
demikian.
Yang penting seorang hatinya
tahu ini keputusan Allah dan yakin yang
terbaik. Maka dia sudah mencapai derajat
apa? Rida. Mencapai derajat rida yaitu
pasrah kepada keputusan Allah Subhanahu
wa taala.
Adapun jika dia protes ya itu baru tidak
tidak rida. Ya,
tentunya juga bukanlah yang dimaksud
dengan rida kepada keputusan Allah.
Kemudian seorang pasrah tidak melakukan
usaha. Ya, seorang tetap berusaha. Dia
sakit, dia rida dengan kesutan Allah,
tapi dia berusaha berobat. Dia berusaha
berobat. Ya, ada masalah dihadapi. Dia
rida bahwa ini Allah takdirkan masalah
ini, tapi dia berusaha mencari solusi.
Dia mencari solusi. Oleh karenanya Allah
berfirman, "Fasbir kama shobar ul azmi
minar rasul." Sabarlah engkau wahai
Muhammad sebagaimana para ulmi dari
kalangan para rasul. Ternyata para rasul
sangat sabar dikenal dengan ulul azmi
seperti Nabi Nuh alaihi salam yang
sangat sabar luar biasa. Nabi Ibrahim
sangat sabar luar biasa. Nabi Musa
sangat sabar luar biasa. Nabi Isa sangat
sabar luar biasa. Kata Allah, "Sabarlah
engkau w Muhammad seperti kesabaran
mereka." Tapi Allah sifati mereka dengan
ulul azmi salah. Yaitu orang-orang yang
memiliki tekad menunjukkan apa? Dalam
kesabaran mereka, mereka punya tekad
yang kuat untuk mencari yang terbaik.
Makanya Nabi Nuh alaihi salam ketika
pasrah, ternyata dia berdakwah sekian
ratus tahun, tidak beriman, dia tetap
berdakwah. Tetap berdakwah.
sampai Allah mengatakan
lan yuk
tidak akan beriman kepada engkau illa
manq aman kecuali yang telah beriman
baru setelah itu dia tahu bahwasanya dia
berdakwah pun tidak mungkin bisa ada
hasilnya karena Allah subhanahu wa telah
mengatakan
umatmu tidak akan beriman lag
ymm laka illa minika illa manq aman
bahwasanya Tidak ada lagi beriman
kecuali yang telah beriman.
Tapi selama itu dia tetap berusaha. Jadi
maksud saya rida kepada keputusan Allah
bukan berarti seorang kemudian tunduk
hanya sekedar diam di rumah, tidak
beraktivitas, tidak berusaha mencari
solusi, itu kesalahan. Jadi rida adalah
tahu ini yang terbaik dari Allah dan
berusaha melakukan yang terbaik sehingga
berusaha mencari solusi yang
disyariatkan.
Tayib. Ee ibu-ibu yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala.
Nah, bagaimana cara kita pasrah dengan
keputusan Allah subhanahu wa taala?
Dengan takdir Allah subhanahu wa taala?
Yang pertama, Ibu-ibu yang dirahmati
oleh Allah Subhanahu wa taala, apa sih
takdir? Takdir kata
al Imam Ahmad rahimahullahu taala,
"Al-qadar qudratullah." Takdir adalah
kekuasaan Allah. Al-Qadar qudratullah.
Takdir adalah kekuasaan Allah Subhanahu
wa taala. Maksudnya bagaimana adanya
takdir? Menunjukkan Allah maha kuasa.
Apa sih mekanisme takdir atau filosofi
takdir? Takdir itu maksudnya sebelum
Allah ciptakan alam semesta, Allah tulis
dulu apa yang akan terjadi.
Allah tahu apa yang akan terjadi. Allah
sudah rencanakan dan Allah tulis rencana
tersebut di sebuah kitab namanya Lail
Mahfud.
Setelah Allah tuliskan, kemudian Allah
eksekusi, Allah jalankan. Maka semua
yang terjadi
sejak saat kali Allah mengeksekusi
pertama kali sampai hari kiamat, maka
sesuai dengan apa yang telah Allah
rencanakan, yang telah Allah tuliskan.
Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Innallaha kataba maqadir
khaiq qla yakluq samawati wal ard bina
alanah." Allah mencatat takdir seluruh
makhluk.
yang akan terjadi Allah catat 50.000
tahun sebelum Allah ciptakan langit dan
bumi. Jadi sebelum langit dan bumi
diciptakan 50.000 tahun sebelumnya Allah
sudah catat semua takdir makhluk yang
akan terjadi di alam semesta. Nabi juga
sallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Awalu ma khalaqallahu alqalam faqala
lahu uktub." Pertama kali Allah ciptakan
adalah pena. Lalu Allah berkata,
"Tulislah wahai pena." Pena berkata,
"Wza aktub." Apa yang aku tulis ya
Allah? Kata Allah subhanahu wa taala,
"Uktub ma hua kainun ila yaumilqiamah."
Tulislah semua yang akan terjadi sampai
hari kiamat. Maka setelah itu, pena
menulis di lauhil mahfud 50.000 tahun
sebelum menciptakan langit dan bumi.
Kemudian pena selesai menulis rufiatil
aklam wati suhuf. Pena diangkat lembaran
lauhil mahfuz sudah kering. Tidak akan
berubah. Tidak ada yang bisa menipeks.
Tipex enggak ada. Tidak akan berubah.
Wajaffati suhuf.
lembaran sudah kering tidak tidak akan
berubah. Oleh karenanya baru Allah
mengeksekusi
apa yang terjadi terjadi. Semua yang
terjadi tidak ada yang keluar dari garis
yang telah Allah canangkan, yang Allah
telah rencanakan. Itu namanya takdir.
Ibarat sering saya sampaikan seperti
kalau kita di dunia ini ada seorang
arsitek misalnya dia pengin bikin rumah,
maka dia tulis gambar rumah tersebut
kemudian dia canangkan RAB-nya berapa.
Dia rencanakan berapa lama akan
dilakukan proyek ini, perkiraan,
keuntungan semuanya dia tulis kemudian
dia eksekusi. Namun betapa sering
rencananya tidak sesuai. Ternyata ada
yang miss, ilmu dia kurang. Oh, ternyata
ini kurang. Ternyata ada perubahan nilai
mata uang. Oh, ternyata harga bisa
berubah. Ternyata sang pemilik rumah di
tengah jalan pengin tambah kamar satu
misalnya sehingga rubah lagi ya.
Ternyata ada kejadian alam major
sehingga tidak bisa dilanjutkan ya.
Ternyata tukang-tukangnya pada mogok
sehingga berubah semuanya bisa berubah
dan itu yang terjadi
karena sang arsitek ilmunya terbatas,
pengetahuannya terbatas, kemampuannya
terbatas. Lain halnya Allah subhanahu wa
taala kalau Allah yang menentukan Allah
tulis maka semuanya terjadi tinggal kun
fayakun. Tidak ada yang keluar dari
takdir Allah Subhanahu wa taala. Inilah
konsep takdir. Sehingga semua apa yang
menimpa kita, Ibu-ibu,
apa yang menimpa kita, semuanya sudah
dicatat oleh Allah Subhanahu wa taala.
Dan tujuannya Allah menulis takdir ini
bukan untuk kita cari tahu, "Ya, Ustaz
bisa tunjukkan enggak lauhil mahfuz?"
Enggak.
Itu hal gaib. Tidak ada yang tahu. Allah
sembunyikan takdirnya. Tidak Allah
beritahukan kepada malaikat dan tidak
Allah beritahukan kepada para nabi.
Kecuali sebagian saja Allah kasih tahu.
Gak ada yang tahu isi lauhil mahfud.
Gak ada.
Makanya Allah sebutkan tujuan dari
adanya takdir. Kata Allah subhanahu wa
taala dalam surat al-Hadid, ma asoba m
musibatin fil ardhi wala fi anfusikum
illa fi kitabin minqobli anabraaha
inzalika alallahi yasir
lika tau ala ma fatakum wala tafrahu
bima atakum wallahu la yuhibbu ka
mukhtalin fakur kata Allah subhanahu wa
taala tidak ada satu musibah pun yang
menimpa di atas muka bumi ini apapun
yang terjadi. Bencana alam, banjir ya,
gempa bumi, gunung meletus, apapun
kebakaran ya. Ma asoba min musibatin fil
ardhi. Tidak ada satu musibah pun yang
menimpa dari muka bumi ini. Wala fi
anfusikum. Dan juga tidak musibah yang
menimpa diri kalian. Kecelakaanlah,
sakitlah, ya.
Sakit fisik, sakit hati, ya.
anak meninggal
kemudian kekurangan harta ya banyak
menimpa seseorang ya
illa fi kitabin minq anabraaha semuanya
telah tercatat di lauhil mahfud sebelum
kami mengeksekusinya sebelum kami
menciptakannya
innaalika alallahi yasir yang yang
seperti itu sangat mudah bagi Allah maha
kuasa sebelum Allah ciptakan Allah tulis
dulu mudah bagi Allah buat apa faedahnya
nyaum.
Kalau ada suatu kebaikan yang luput
darimu yang kau harapkan tidak kau
dapatkan cita-citamu yang kandas,
harapanmu yang pupus, maka jangan kau
putus asa. Karena semuanya telah dicatat
oleh Allah. Kau boleh berharap, kau
boleh bercita-cita, tapi yang menentukan
semuanya siapa? Allah Subhanahu wa
taala. Ini yang pertama. Jadi kalau ada
yang tidak kita sukai jangan putus asa.
Sebaliknya kalau kita berhasil wala
tafrahu bima atakum. Maka jangan sombong
dengan apa yang Allah berikan kepadamu.
Kalau tiba-tiba seorang kaya raya,
tiba-tiba seorang bahagia, ketahuilah
semua dari Allah. Semua dari Allah.
Allah telah mentakdirkannya. Itu tujuan
kita beriman dengan takdir, pasrah
dengan keputusan Allah, tidak putus asa
dari apa yang menimpa
dan tidak sombong dengan apa yang telah
Allah berikan kepada kita.
Jadi
ini yang pertama seorang mengetahui
bahwa segala sesuatu yang terjadi
sudah ditakdirkan oleh Allah
dan takdir adalah kekuasaan Allah.
Ibu-ibu bisa lihat bagaimana alam
semesta. Siapa yang bikin alam semesta?
Allah Subhanahu wa taala. Dengan aturan
yang begitu canggih, alam semesta ini
Allah bikin
dengan keterkaitan yang begitu rumit.
Ini seandainya alam semesta
diperlihatkan tentu orbit-orbit,
planet-planet, orbit bintang-bintang
semua luar biasa.
Gampangannya bagaimana matahari yang
mungkin sudah berjalan selama entah juta
tahun ya tetap pada orbitnya. Wun fi
falaqin yasbahun.
Matahari rembulan pada orbitnya.
Bintang-bintang dan yang lainnya. Luar
biasa ya. Bagaimana Allah bisa mengatur
alam semesta luar biasa seperti ini?
Bagaimana Allah menciptakan manusia yang
luar biasa. Bagaimana Allah menyiapkan
sarana prasarana untuk manusia.
Bagaimana Allah menjadikan ternyata
dalam bumi berbagai macam kekayaan yang
cocok untuk keperluan manusia. Banyak
sekali ya. Ini menunjukkan Allah
sangat luar biasa profesional ketika
mengatur alam semesta ini.
Aturan yang sunatullah yang luar biasa
yang kemudian muncullah pakar-pakar
setelah itu Allah bukakan ilmu mereka
sedikit-sedikit sehingga mereka akhirnya
menemukan rumus-rumus aturan-aturan alam
semesta. Rumus kimia itu akibat apa
maksudnya? Alam semesta aturan yang
sudah berjalan. Siapa bikin aturan
tersebut? Allah Subhanahu wa taala.
Rumus-rumus fisika itu apa yang bikin?
Siapa? Allah Subhanahu wa taala.
Aturan-aturan yang Allah jalankan baru
kemudian terungkap oleh seseorang, "Oh,
ternyata begini aturannya. Oh, ternyata
begini aturannya." Jadi, seorang yang
melihat alam semesta, dia tahu
pengaturannya sangat hebat luar luar
biasa. Nah, demikian juga Allah bukan
cuma ngatur alam semesta. Allah juga
mengatur kehidupan setiap hamba.
Kalau kita pasrah dengan keputusan
Allah, kita tahu pasti yang terbaik.
Pasti yang terbaik dengan syarat pasrah
dengan keputusan Allah Subhanahu wa
taala. Jadi serahkanlah
ya apa yang Allah pilihkan karena itu
yang terbaik.
Allah berfirman,
"Warabbuka yakluqu ma yasyau wa yakhtar
maana lahumul khiarah."
Dan dialah Rabbmu yang telah menciptakan
apa yang dia kehendaki dan memilihkan
apa yang Dia kehendaki. Bukan pilihan
kita. Makan lahumul khiarah. Tidak ada
pilihan bagi mereka.
Siapapun kita, hebatnya kita, tinggi
jabatan kita, pilihan bukan di tangan
kita. Ada sebagian kita bisa milih dan
banyak bukan pilihan kita.
Bahwasanya alam semesta ini ada yang
mengatur, kehidupan kita juga ada yang
mengatur.
Jadi
ketika kita tahu yang mengatur adalah
zat yang maha hebat, serahkanlah
dia yang mengatur. Apa yang dia pilih
pasti yang terbaik. Kita ini banyak
milih untuk diri kita sendiri, ternyata
keliru, ternyata salah. Kenapa? Ilmu
kita minim. Kita enggak tahu tentang
masa depan. Ilmu kita mikro. Kita enggak
tahu hal-hal yang seputar kita. Adapun
Allah tahu si fulan ini bagaimana,
bagaimana? Bagaimana Allah tahu ketika
Allah pilihkan sesuatu maka terimalah,
pasrah. Ini yang terbaik dari Allah
Subhanahu wa taala.
Bab yang berikutnya agar kita tunduk
kepada keputusan Allah, sering kita
belajar tentang
al-asma alhusna nama. Nama-nama Allah
yang terindah terutama nama-nama Allah
al-Hakim.
Ya, Allah maha bijak
ya.
Dan juga Allah maha adil. Allah maha
adil.
Allah maha bijak dan Allah maha adil.
Ya.
Demikian juga Allah maha berilmu. Allah
maha berilmu. Allah maha mengetahui.
Allah maha bijak.
Dan Allah maha adil.
Tiib. Allah maha berilmu
yaitu Allah tahu segala sesuatu ya. Dan
Allah mengurusi hambanya satu persatu.
Allah tahu tentang kita secara detail.
Afaman hua qoimun ala kulli nafsin bima
kasabat. Kata Allah, "Apakah sama?"
Yaitu sembahan-sembahan selain Allah,
apakah sama dengan zat yang mengurusi
setiap jiwa? Yang inin sampaikan kepada
ibu-ibu, kita ini diurusi oleh Allah
person demi person. Bukan diurusi oleh
Allah secara global, bukan.
Kalau kita tahu di pabrik-pabrik atau di
perusahaan, direktur hanya ngurus secara
global. Dia tidak bisa mengetahui secara
detail anak buahnya. Kenapa? Kemampuan
dia terbatas. Raja tidak bisa mengurusi
seluruh rakyatnya dengan detail. Dia
pasti punya direksi-direksi anak buah
anak buah. Di bawahnya lagi anak
buah-anak buah. Kenapa kemampuannya
terbatas? Beda dengan Allah Subhanahu wa
taala. Allah ngurusin kita, mengilmui
kita secara detail.
Jangankan kita, bahkan daun yang jatuh
saja Allah urusin. Kata Allah Subhanahu
wa taala, wasquqtin
illa yamuha.
Tidak ada satu daun pun yang jatuh
kecuali Allah mengetahuinya.
Jadi kita tahu di alam semesta ini daun
begitu banyak. Jangankan daun, pohon
begitu banyak.
Satu pohon berapa daun, Ibu-ibu?
Ada yang pernah hitung?
Baik. Jadi daun di alam semesta ini
entah berapa triliun.
Tetapi kata Allah Subhanahu wa taala ada
satu daun yang jatuh entah di belantara
Afrika ada daun satu jatuh. Allah tahu
tentang daun tersebut. Kenapa? Karena
daun ini ciptaan Allah Subhanahu wa
taala. Jangankan kita manusia, setiap
hewan melata,
Allah tahu urusannya. Allah mengatakan
wabatin
fil ard illa alallahi rizquha wamqha
kata Allah tidak ada satu hewan melata
di atas muka bum cacing kek apa kek
serangga kekuali
rezekinya diatur oleh Allah subhanahu wa
taalaamu mustaqar mustaudaah Allah tahu
di antara makna mustaqar kata Ibnu
Katsir itu Allah tahu di mana sarangnya
wa mustaudaah di Allah tahu di mana
mainnya ini hewan ini ketika keluar
keluar dari sarangnya dia ke mana Allah
tahu. Maka Allah akan siapkan rezekinya.
Jadi Allah ngatur hewan satu persatu.
Dalam sebagian tafsiran mustaqarah
mustaudaah maksudnya Allah tahu kapan
lahirnya hewan ini dan kapan matinya
hewan ini. Maka Allah atur rezekinya
dari dia hidup sampai dia mati. Allah
sudah atur itu hewan. Gimana lagi dengan
manusia?
Daun saja Allah urusin. Bagaimana lagi
dengan manusia? Jadi kita ini diurusin
oleh Allah. Ilmu Allah mengetahui
tentang kita secara detail. Secara
detail. Buktinya apa? Betapa sering kita
berdoa, bisik-bisik doa kita dikabulkan.
Berarti Allah dengar enggak
bisikan-bisikan kita? Dengar. Dengar.
Ya. Tapi tidak semua yang kita inginkan
Allah kabulkan karena tidak maslahat
bagi kita. Makanya Allah mengatakan, "Ya
walau batallahu rizqibadi
ard wakin yunazilu biqari ma yasya."
Seandainya Allah bentangkan rezeki
kepada seluruh manusia semuanya pada
minta rezeki Allah kasih rusak mereka
sombong angkuh. Ini baru punya HP baru
aja sudah sombong. Gimana kalau punya
mobil baru? Gimana kalau punya istri
baru? Gimana kalau punya rumah baru?
Sombong. Manusia kalau diberikan
semuanya akan angkuh. Wakin yunazilu
biqadari ma yasya. Tapi Allah turunkan
sebenarnya kadar yang Allah tentukan.
Yang Allah tentukan. Ya, kalau semua
dipenuhi kebutuhannya, orang akan
sombong dan angkuh. Betapa mudah harta,
jabatan buat orang sombong dan angkuh.
Sudah banyak contoh kita lihat. Sombong,
angkuh, mentang-mentang, semena-mena
ya. Tapi yakinlah Allah tahu kita secara
detail. Afaman hua qoimun ala kulli
nafsin bima kasabat. Apakah sama dengan
zat yang mengurusi setiap jiwa satu
persatu? Jadi, ilmu Allah meliputi kita
seluruhnya. Jangan khawatir saya enggak
diurusin Allah. Enggak. Kita semua
diurusin oleh Allah.
Kita diurusin semuanya oleh Allah. Maka
di antara maknanya Rabb. Arrab itu
pengurus. Ngurusin kita.
Jadi kita husnuzan kepada Allah. Saya
diurusin oleh Allah. Saya salat Allah
tahu. Saya berdoa Allah tahu. Ya ini di
antara nama Allah yang membuat kita
pasrah dengan Allah. Kita diurusin oleh
Allah.
Mana yang lebih hebat yang ngurusin
kita? Orang tua kita atau Allah yang
ngurusin? Allah Subhanahu wa taala.
Orang tua ngurusin begitu hebatnya, tapi
masih ada tendensi duniawi, masih ada
kepentingan. Terkadang bertentangan
dengan kepentingan anaknya. Allah tidak
ada.
Tidak ada kepentingan sama kita. Allah
ngurus kita karena murni kebaikan Allah
Subhanahu wa taala. Tib ini alalim.
Allah mengetahui kita secara detail. Di
antaranya al-hakim bijak. Allah
Subhanahu wa taala maha bijak, maha
hikmah. Ketika Allah Subhanahu wa taala
menetapkan suatu pada kita, pasti ada
hikmah di balik segala keputusannya.
Pasti ada hikmah. Cuma hikmah tersebut
tidak Allah bukakan.
Karena kalau setiap hikmah Allah bukakan
tidak ada ujian. Misalnya, misalnya Nabi
Yusuf dikasih tahu, "Kau dipenjara, dibu
dijual jadi budak di penjara karena kau
akan menjadi bangsawan." Kira-kira Nabi
Yusuf ketika di penjara ketawa ketiwi
enggak? ketawa ketiwi.
Ketika dibuang sama kakaknya masuk sumur
dia sudah tahu, "Wah, ini ujian pertama
nanti saya bakalan jadi bangsawan." Dia
ketawa-ketiwi. Kalau gitu nilai ujian
enggak ada. Padahal kita diciptakan
untuk diu uji. Maka hikmah itu Allah
tutup supaya kita diuji. Tapi kita yakin
di balik itu pasti ada hikmah. Pasti ada
hikmah. Dan di antara rahmat Allah,
di antara rahmat Allah,
sebagian musibah yang kita alami, kita
lihat hikmahnya. Tapi tidak semua Allah
tampakkan.
Sebagian musibah yang kita alami, kita
lihat hikmahnya di balik itu terkadang
langsung, terkadang butuh waktu
bertahun-tahun. Benar ini. Oh, ternyata
ada hikmahnya. Oh, ternyata ada
hikmahnya. Allah tidak ungkap langsung
kadang-kadang bertahun-tahun. Nah,
sebagian ujian kita belum paham tapi
cukup apa yang Allah sudah bukakan
hikmahnya kita analogikan, kita kiaskan,
selesai. Bukankah kau pernah mengalir
musibah-musibah dan kau tahu hikmahnya
di balik itu? Nah, banyak musibah yang
kau tidak paham hikmahnya sudah kau
hukumnya sama. Pasti ada hikmah dengan
syarat engkau bersabar, husnuzan kepada
Allah Subhanahu wa taala.
Maka
Allah alhakim. Tidak mungkin Allah
berbuat sesuatu ngawur. Enggak mungkin.
Ya. Ketika Allah membinasakan
para mujrimin itu pun di atas hikmah
kebijakan Allah Subhanahu wa taala.
Ketika Allah menguji orang-orang beriman
itu pun atas kebijakan Allah Subhanahu
wa taala. Tidak mungkin Allah
menciptakan atau memutuskan suatu
perkara abatan. Hanya sia-sia, hanya
main-main, hanya senda gurau.
Gak kita yakin Allah maha bi bijak. Ini
membuat kita tenang.
Apapun yang menimpa kita pasti ada
hikmahnya dan pasti baik. Makanya di
antara tafsiran firman Allah, maana
lahumul khiarah warabbuka yakluquar
dalam surat Alqasas. Dan dialah Allah
yang menciptakan apa yang dia kehendaki,
yaitu mengeksekusi apa yang dia
inginkan. W tasyauna illa yasyaallahbul
alamin. Apa yang kalian kehendaki di
bawah kehendak Allah subhanahu wa taala.
Apa yang kau kehendaki yang dia
kehendaki yang terjadialah kehendak
Allah. Bukan kehendakku bukan
kehendakmu.
Allah menciptakan apa yang dia
kehendaki. Waakar dan dia memilih apa
yang dia kehendaki.
Tidak ada pilihan bagi mereka. Ini
tafsiran pertama dan ini tafsiran
mayoritas ulama. Sebagian ulama seperti
Ibnu Jarir At Thaabari menafsirkan,
"Makanul khiarah." Maksudnya apa yang
Allah pilihkan bagi mereka itu yang
terbaik.
Maana lahumul khiarah. Ma di sini bukan
bukan ma nafiah tapi ma almausulah.
Kalau yang pertama maum khiarah tidak
ada pilihan bagi mereka ma adalah ma
annafiah. Tapi tafsiran kedua ma adalah
almausula yaitu alladzi ya ee kana lahum
alkhiarah. Apa yang Allah tetapkan
adalah yang terbaik bagi mereka. Dan itu
pasti ada hikmahnya karena Allah adalah
alhakim maha bijak.
Bab di antaranya yang perlu kita
renungkan, Ibu yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala, Allah adalah maha
adil. Allah maha adil. Saya bawa bawa
sedikit perenungan ya. Allah maha adil.
Ti mungkin ada I bertanya, "Ustaz,
kenapa dia cantik? Saya kok kurang
cantik?"
Mana keadilan Allah Subhanahu wa taala?
Ketahuilah
masing-masing ada ujiannya. Si cantik
ada ujiannya, enggak.
Ada ujian yang mungkin tidak seperti si
kurang cantik.
Gara-gara dia cantik, maka dia sering
joget-joget di TikTok.
Tergoda dia pengin menampilkan
kecantikannya. Coba yang wajahnya kurang
cantik, malu. Sudah welek, ireng,
tiktokan ya.
Sehingga dia terjauhkan dari maksiat.
Orang cantik terkadang terkena banyak
musibah. Bukankah Nabi Yusuf Alaih Salam
dipenjara gara-gara ganteng?
Coba kita enggak ada yang bukan enggak
ada yang ganteng, maksudnya kurang
ganteng makanya enggak ada yang
dipenjara.
Nabi Yusuf Alaih Salam gara-gara ganteng
di penjara. Benar enggak, Ibu-ibu?
Benar. Gara-gara ganteng di penjara.
Gara-gara dia ganteng digoda oleh
Zulaha.
Alhamdulillah Allah berikan iman yang
kuat. Kalau enggak hilang ya gugur. Maka
masing-masing ada ujiannya.
Jadi Allah maha adil. Allah maha adil.
Ustaz, kenapa dia kaya? Saya miskin. Tib
miskin kaya masing-masing ada ujiannya.
Contoh saja saya sebutkan contoh masalah
sedekah. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam,
sabaqo dirhamun miata alfi dirham. Satu
keping dirham mengungguli 100.000
dirham. Kok bisa? Wakaifaalik. Kenapa
bisa demikian? Rasulullah jelaskan
bahwasanya ini seorang miskin dia pulang
ke rumahnya dia mendapati dua keping
dirham. Maka dia pilih keping dirham
yang terbaik. Keping dirham dari logam,
dari fidah, dari perak. Sama-sama
misalnya nilainya 1 dirham, 1 dirham.
Tapi ini kepingannya lebih bagus. Dia
ambil kepingan yang lebih bagus daripada
kepingan satunya dia sedekahkan. Berarti
dia sedekahkan 50% lebih hartanya.
Minimal 50%. Yang satunya dia punya uang
mungkin jutaan dirham. Dia sedekahkan
100.000 dirham dengan kurang rasa
kebutuhan. Ya, 100.000 dirham dia kasih
aja. Tidak ada rasa tidak tidak seperti
yang dirasakan oleh si miskin ketika
bersedekah 1 dirham. Tapi kata Nabi 1
dirham mengungguli 100.000 dirham. Ini
contoh adil enggak adil?
Sedekah ini tidak sama dengan sedekah
yang sana.
Ya. Si sakit dengan si sehat. Kalau
badannya sehat kadang-kadang sombong,
kadang angkut. Kadang kesehatannya buat
kemaksiatan.
Badannya sixpack jalan sana jalan sini
pamer sixpack-nya. yang one pack malu
roti sobek
sehingga dia terpancing untuk
macam-macam ya. Jadi masing-masing ada
ujiannya. Masing-masing ada ujiannya.
Jadi jangan pernah mengatakan Allah
tidak tidak adil. Tib saya pegawai bos
saya kaya raya ustaz. Gimana keadilan
antum? Kira yang kaya raya bisa belum
tentu tidur nyenyak seperti antum? Antum
makan Indomie langsung tidur nyenyak?
Dia belum tentu
sebagian Subhanallah mungkin ustaz
kenapa kita rakyat enggak jadi pejabat
ya akhi? Teman saya pejabat cerita
pejabat itu kadang tidur jam .00 malam
masih rapat jam .00 malam masih rapat
sampai subuh rapat diskusi tentang
kegiatan politik antum ada isya sudah
tidur sudah ngorok.
Maksud saya Allah maha adil
masing-masing dengan ujiannya.
Masing-masing dengan apa? Ujian.
Si miskin bahagia ketika lebaran dapat
THR. Yang punya perusahaan pusing karena
mau bagai THR. Pusing dia. Aduh, THR
banyak sekali.
Ini karenanya Allah maha adil. Apa yang
Allah pilihkan? Ujian yang kita jalani.
Ustaz, kenapa saya enggak terkenal? Enak
orang terkenal. Apa enaknya yang
terkenal? Di Malam dikejar orang,
diikuti oleh wartawan, bikin sedikit
akhirnya jadi berita. harus selalu
bersifat munafik. Di mana-mana
kelihatannya oke.
Sementara orang tidak terkenal cuek aja.
Oh, enggak ada yang liput.
Cuek aja. Mau gini, mau begitu ala
kadarnya, seadanya. Tapi orang kalau
terkenal selalu bersandiwara. Harus
begini. Kalau keluar sama istri harus
tampilnya begini. Lagi jalan di mana
diikuti orang seakan-akan mata melihat
dia. Sedikit orang datang minta foto.
Sedikit ada yang maki-maki.
Terkenal kan? Ada yang maki, ada yang
suka. Enggak ada orang terkenal. Semua
orang suka. Jarang bisa jadi maki-maki,
apalagi kita.
Oleh karenanya
sudahlah Allah maha adil. Allah maha
adil. Maka apa yang Allah berikan kepada
kita, kita terima.
Tayib. Ini yang ke berapa tadi? Yang
kedua ya. Ya itu kita menghayati
beberapa nama-nama Allah. Tadi apa?
Al-Alim, al-Hakim yang maha adil.
Termasuk dalam maha bijak adalah maha
adil.
Kemudian arrahim albar yang maha sayang
yang maha baik. Allah maha sayang lebih
sayang daripada ibu kita kepada kita.
Ya, sebaik-baiknya ibu terhadap kita,
sesayang-sayangnya
masih kalah dengan kasih sayang Allah
Subhanahu wa taala. Seorang husnudzan
kepada Allah. Apa yang Allah tetapkan
adalah yang terbaik.
Berikutnya yang ketiga,
Ibu yangu dirahmati Allah Subhanahu wa
taala. Ini poin penting. Rezeki
itu ada dua, Ibu-ibu yang dirahmati
Allah Subhanahu wa taala. Mungkin orang,
"Kenapa saya miskin, kenapa saya kurang
cantik?" Rezeki. Ya, rezeki itu banyak
ya. Ada keamanan, kesehatan tubuh,
kecantikan rezeki, tampanan, duit
banyak, mobil mewah, rumah luas, itu
rezeki semua. Ternyata rezeki itu ada
dua, rezeki dunia sama rezeki di
akhirat.
Rezeki di dunia, rezeki di akhirat.
Jangan lupa, jangan sampai seorang hanya
fokus rezeki di dunia sehingga ternyata
jatahnya di akhirat sedikit.
Bisa jadi seorang jatah rezekinya di
dunia sedikit, ternyata jatahnya di
akhirat banyak. Allah menamakan
kenikmatan surga dengan rezeki pada
dalam banyak ayat
ya. Seperti Allah Subhanahu wa taala,
lahum magfiratunzkun karim.
Bagi mereka orang yang bertakwa ampunan
dan rezeki yang mulia. Wabasyirilladina
amanu wail shihatium.
anharqu
minha. Ya. Kata Allah, "Berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang beriman
saleh bahwasanya bagi mereka surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Setiap mereka diberi rezeki." Allah
menamakan
surga dengan apa? Riz rezeki.
Demikian juga ee
seperti firman Allah Subhanahu wa taala
terhadap istri-istri Nabi. Ketika
istri-istri Nabi minta tambahan uang
dapur maka Allah turunkan ayat takyir.
Ya ayyuhan nabli azwajika inun
jamil. Wahai Nabi, katakan kepada
istri-istrimu,
kalau kalian menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, maka saya kasih. Tapi
kita cerai baik-baik. Maksudnya Allah
ingin ngajarin yang mau hidup sama Nabi
tidak boleh duniawi. Gak boleh duniawi.
Kalau duniawi gak bisa hidup sama Nabi.
Nabi hidupnya sederhana. Kalau kalian
ingin harta saya kasih tapi kita cerai
baik-baik. Wauntuallahu waasulah darul
akhirah faallah muhsinati ajranim. Tapi
kalau kalian mencari Allah rasulnya,
Allah akan siapkan ganjaran yang besar.
itu Allah mengatakan di ayat berikutnya,
wam yaqnut minunna lillahi waasulihi
waal shihan
nutiha ajraha marain waadna laha rizq
karima. Siapa di antara kalian
istri-istri nabi kalau kalian tidak
dapat dunia tapi siapa yang qunut taat
beribadah karena Allah dan rasulnya maka
kami akan berikan ganjaran dua kali
lipat. Waadna laha rizqon karima. Kami
siapkan bagi dia rezeki yang mulia.
Maksudnya apa? Di surga. Allah namakan
kenikmatan
surga dengan apa? Riz rezeki. Demikian
juga ketika penghuni neraka melihat
penghuni surga lagi makan-makan, lagi
senang-senang kata mereka kata Allah
wada asada asabunari asabal jannati al
minal maimakumullah.
Berkata penghuni neraka kepada penghuni
surga, "Wahai penghuni surga, berikanlah
kepada kami sebagian rezeki yang Allah
berikan kepada kalian." Mereka lagi
senang-senang.
Rezeki. Jangankan di akhirat, di alam
barzak Allah namakan rezeki.
Jangan engkau menyangka bahwasanya
orang-orang yang meninggal di jalan
Allah sudah mati. Sesungguhnya mereka
hidup yaitu di alam barzakh.
Mereka di sisi Allah sedang diberi
rezeki, sedang bersenang-senang di alam
barzakh. Alam kubur menjadi taman surga.
Nah, kita ini harus tahu rezeki ada dua.
Oleh karenanya ketika kita tidak dapat
rezeki di dunia, mungkin dapat rezeki di
akhirat. Lihatlah bagaimana
pemahaman Umar bin Khattab dan
Abdurrahman bin Auf. Ini salah satu
pemahaman para sahabat. Umar bin Khattab
radhiallahu anhu ketika melihat ada
seorang seorang sahabat yang lain
kemudian beli sesuatu, dia mengatakan,
"Apa itu? Buat apa?" Kata Umar bin
Khattab, "Apakah setiap kau ingin
sesuatu kau beli?" Apa? Siap kau ingin
sesuatu kau beli. Kata Umar, "Saya takut
ini adalah kenikmatan rezeki akhirat
yang disegerakan."
Yaitu para sahabat dahulu memahami
kalau kita terlalu banyak nikmat-nikmat
di dunia akan mengurangi jata di
akhirat. Ini mazhab sebagian sahabat. Di
antaranya Umar bin Khattab. Dia
Abdurrahman bin Auf radhiallahu taala
anhu ketika dia akan buka puasa
tahu-tahu dia ingat tentang Musa bin
Umair yang meninggal dalam kondisi
sangat miskin tidak punya apa-apa sampai
kain kafan untuk dirinya pun tidak cukup
jika tutup kepalanya gina rahu badat
rijlahu kalau tutup kepalanya kedua
kakinya kelihatan wahana rijlaihi baduh
kalau tutup kakinya kepalanya kelihatan
miskin kain kafan aja tidak cukup
sehingga
Abdullah bin Auf mengatakan, "Kemudian
dibukakan dunia bagi kami." Dia khawatir
bahwasanya adalah minibatikum
ujilatibatukum hayati dunya. Ini adalah
kenikmatan surga, rezeki surga yang
disegerakan.
Jadi, ma ibu-ibu dirahmati Allah
Subhanahu wa taala, rezeki ada dua.
Kalau seorang ternyata di dunia
rezekinya kurang, bisa jadi rezekinya
banyak di akhirat.
Orang yang rezekinya banyak di dunia
belum tentu rezekinya banyak di akhirat
belum tentu. Kalau dia salah gunakan
rezekinya belum tentu banyak di akhirat
maka husnudan ya Allah maha adil. Allah
maha adil. Jadi jangan kita jadikan
dunia ini sebagai akhir dari segala
sesuatu. Tidak. Setelah ini ada alam
berikutnya, alam barzakh. Kau dapat
rezeki enggak di situ? Belum tentu
dapat. Setelah alam barzakh dalam
kebangkitan. Dapat rezeki enggak? Itu
jadi pertanyaan kita. Maka seorang
ketika dia di dunia mendapat musibah,
dia rida. Mungkin kekurangan harta,
mungkin parasnya tidak seperti yang
lain, mungkin kesehatan tidak seperti
yang lain, mungkin ada rezeki-rezeki
yang Allah siapkan di akhirat kelak.
Oleh karenanya apa kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam? Yawadu ahluliah
hina yar hina y ahl ahlul bawa minwab la
julahumat
fid dunya bil maqid. Maka orang-orang
ketika Allah bagi-bagikan rezeki pahala
di akhirat kelak ternyata orang yang
sering sakit-sakitan, yang sering
terkena musibah dapat ganjaran yang
sangat banyak. Sehingga orang yang masuk
surga tapi dia ternyata hidupnya nyaman,
dia pengin kembali lagi ke dunia.
berangan-angan. Seandainya di dunia dulu
kulit kami digunting-gunting oleh
gunting besi. Kenapa? Karena dia tahu
ternyata orang terkena musibah pahalanya
sangat besar, rezekinya sangat banyak di
akhirat. Tentunya kita tidak ingin
dikasih musibah, tapi kalau dikasih
musibah kita positive thinking.
Jadi kita rida dengan Allah Subhanahu wa
taala.
Tib ibu yang dirahmati oleh Allah
Subhanahu wa taala.
Di antara yang membuat kita bisa rida
dengan Allah Subhanahu wa taala
bahwasanya
kita baca tentang kisah-kisah yang Allah
sebutkan dalam Al-Qur'an tentang
orang-orang saleh. Bagaimana ketika
mereka bersabar dan rida dengan
keputusan Allah, kapan mereka rida? Maka
ada solusi dan solusinya sangat indah.
Solusinya sangat indah dengan syarat
bersabar.
Allah berfirman tentang bani israil,
watamat kalimatual husna ala bani israil
bimaar.
Maka tetaplah keputusan Allah yang indah
bagi Bani Israil ketika mereka bersabar.
Ketika mereka bersabar, ketika mereka
pasrah baru Allah kasih solusi.
Sebelumnya mereka tidak bersabar. Datang
Nabi Musa Alaih Salam mengatakan, "Ya
kaumis biru." Wahai kaumku, bersabarlah.
Nabi Musa ajarin mereka bersabar. Sampai
ketika mereka bersabar Allah kasih
solusi. Allah kasih solusi. Solusinya
pasti indah. Solusinya pasti indah.
Lihatlah saya sebutkan sekedar secara
singkat kisah para nabi. Nabi Yusuf
alaihi salam diuji ujungnya indah atau
tidak indah? Happy ending. Dimusi oleh
kakak-kakaknya. Ujian pertama. Ujian
kedua dibuang ke sumur dibuka bajunya.
Ujian ketiga dijual jadi budak. Uangnya
diambil kakak-kakaknya. Ujian keempat
jadi budak kerja tanpa gaji. Ujian
kelima dituduh mau berzina. Yang keenam
dipermalukan harga dirinya. Yang keenam
dimasukkan dalam penjara.
Yang ketujuh yang paling parah
dipisahkan dari ayah dan ibunya yang
sangat dia cintai.
Yang kedelapan dijauhkan dari kampung
halamannya.
Kemudian ternyata ujungnya jadi
bangsawan di Mesir. Akhirnya Allah
pertemukan mereka kembali Nabi Yusuf
dengan keluarganya. Di akhir ayat kata
Nabi Yusuf, "Inna rabbi latiful lima
yasya." Sesungguhnya Allah sangat
lembut, yaitu Allah menggiring segala
kebaikan ini tanpa saya sadari.
Ini contoh bahwasanya kalau orang sabar
ujungnya indah. Karena Nabi Musa
berkata, Nabi Yusuf berkata alaihi
salam, "Innahu yattaqi waasbir
fainnallaha la yud ajral muhsin." Siapa
yang bertakwa dan bersabar, Allah tidak
menyia-nyiakan kebaikan orang yang baik.
Allah kasih solusi yang indah. Syaratnya
harus bersabar. Kapan bersabar? Kapan
rida? Kapan pasrah? Ketahuilah
ujungnya indah. Tapi kalau tidak rida,
tidak bersabar, ujungnya berentu indah.
Mau cari solusi sendiri tanpa sabar,
ujungnya belum tentu indah. Bisa semakin
ruwet, bisa amburadul, semakin kacau,
semakin parah. Tapi kalau sabar
hasilnya indah. Lihatlah Nabi Musa Alaih
Salam ketika dia dimusuhi oleh Firaun
dan bala tentaranya dikejar ingin
dibunuh.
jadi bandit ketika itu bandit bagi
kerajaan Firaun di Mesir maka dia tak
harus kabur tanpa persiapan. Tadinya dia
tinggal di istana mewah milik Firaun
jadi anak angkat Firaun dengan kehidupan
yang mewah akhirnya dia harus pergi
meninggalkan Mesir kabur pergi menuju
Madyan tanpa persiapan sampai kelaparan.
Kelaparan sampai disebutkan dia makan
dedaunan. Karena dia pergi tang
persiapan berjalan ratusan kilo dari
Mesir ke Madian. dari benua Afrika ke
benua Asia luar biasa antar benua sampai
kelaparan,
sampai tubuhnya hijau karena banyak
makan daun. Tapi ternyata diusir itu ada
hikmahnya. Ternyata dia ketemu wanita
salehah luar biasa. Ternyata ada cewek
salehah yang Allah siapkan di Madyan
antar benua. Luar biasa
ya. Gak apa-apa. Bolehkah nikah antar
benua? Boleh.
Jadi Allah siapkan wanita salehah ini.
Wita saleh ini yang tidak pernah
interaksi sama laki-laki, tidak pernah
ikhtilat sama laki-laki. Ternyata Allah
siapkan lelaki saleh dari jauh dari
Mesir datang menjemputnya. Subhanallah.
Ternyata Nabi Musa juga mendapati mertua
yang saleh. Ternyata Nabi Musa harus
jadi penggembala kambing. Ternyata di
balik penggembala kambing adalah
persiapan dia untuk ngurusi umat. Dan
setiap nabi pasti menggembalakan apa?
kambing. Siapa yang sangka Nabi Musa
anak raja jadi penggembala kambing,
ternyata Allah atur dia jadi penggembala
kambing. Hasilnya indah atau tidak indah
dengan sabar. Lihatlah Nabi Ibrahim
Alaih Salam diusir dari negerinya,
harus keluar dari negerinya.
Kemudian
akhirnya dia bersabar. Akhirnya berdoa
kepada Allah dapat anak saleh. Akhirnya
punya anak apa? Ismail.
Istrinya cemburu, Sarah dia sabar.
Akhirnya dia bawa anaknya ke Hijaz ke
Makkah. Di Makkah akhirnya bangun Ka'bah
tu keluarlah Nabi Muhammad sallallahu
alaihi wasallam dari keturunannya. Luar
biasa. Seandainya Sarah tidak cemburu,
mungkin Hajar tidak dibawa ke Makkah.
Dan tidak ada cerita Nabi Muhammad di
Makkah. Di balik kesabarannya terhadap
kecemburuan istrinya, perpisahan dengan
istrinya, hajar, ternyata ada hikmah
akan lahirlah Nabi Muhammad sallallahu
alaihi wasallam. Banyak cerita kalau
kita mau baca kisah-kisah ya para nabi,
kisah-kisah salihin, semuanya di balik
itu ada hikmah, maka seorang
pasrah dengan keputusan Allah Subhanahu
wa taala. Di antaranya yang membuat kita
juga
pasrah dengan keputusan Allah Subhanahu
wa taala.
adalah ketahuilah ibu-ibu,
terkadang musibah itu itulah yang
terbaik
dan tidak perlu diganti dengan
kenikmatan. Terkadang musibah itulah
solusi yang terbaik.
Seperti datang seorang wanita
berkulit hitam. Kata
Ibnu Abbas
kepada At, "Alauluka
bimraatin min ahlil jannah." Mau kau
tunjukkan kepada engkau seorang wanita
penghuni surga. Hadil maratus sauda
atatin Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Inilah wanita berkulit hitam datang
kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Dia berkata, "Ya Rasulullah, inni usra
wa inni atakasyafadullah
an yasfiani." Ya Rasulullah, saya ini
kena kejang-kejang. Ada yang mengatakan,
"Saya kerasukan jin dan saya kalau sudah
sedang kamut, saya sedang kumat, maka
saya kemudian kejang-kejang dan akhirnya
tersingkap sebagian auratku. Mungkin
kakinya terbuka, mungkin lengannya
terbuka, mungkin rambutnya terbuka.
Doalah kepada Allah agar saya sembuh.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Ini daullahafiaki."
Kalau kau mau saya doakan doakan berdoa
kepada Allah maka kau sembuh.
Kalau kau mau kau sabar kau masuk surga
kata dia saya pilih sabar.
Jadi ternyata solusinya tetap
berpenyakit sampai meninggal dunia.
Tapi dia berkata,
"Walakin atakasyaf." Tapi berdoalah
kepada Allah agar ketika saya kumat
tidak terbuka aurat. Rasulullah doakan
sehingga ketika dia kejang-kejang tidak
tersingkap aurat. Sampai mati dia
kejang-kejang.
Sampai mati penyakitnya tidak hilang.
Ternyata dia berpenyakit itulah solusi
terbaik bagi dia. Maksudnya tidak mesti
solusi kemudian berganti dengan apa yang
kita inginkan.
Paham? Terkadang solusi adalah kematian.
Seperti apa? Seperti Ashabul Ukhdud
kata Allah Subhanahu wa taala ya. Ketika
sang raja zalim maka dia kumpulkan orang
beriman laki-laki perempuan dia galek
parit dia nyalakan api besar kemudian
dia bunuh mereka. Ternyata itu solusinya
mereka harus mati. Allah berfirman,
amanu wailhati lahum jannatunaj tahtihal
anharikal
fauzul kabir. Kata Allah, "Sungguhnya
orang-orang yang disiksa, dibakar
hidup-hidup, beriman dan beramal saleh,
maka bagi mereka surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai itulah kemenangan
yang besar." Makanya Haram bin Milhan
radhiallahu anhu ketika diutus oleh Nabi
kemudian ada orang berkhianat kemudian
ditikam dari belakang. ditikam akhirnya
tembus keluar darah di dadanya dia
mengata mengatakan fuzubu warabbil
Ka'bah saya telah berhasil demi Allah
subhanahu wa taala jadi terkadang
musibah itulah solusinya bukan hilangnya
musibah
bukan hilangnya apa musibah
ada ustaz saya sudah nikah 30 tahun
suami saya begitu-begitu saja ustaz
bikin masalah terus ya mungkin itu
solusinya begitu memang tidak pada
penghujungnya.
Seperti tadi, wanita sakit sampai mati
sakit. Iya. Enggak. Allah tahu itu yang
terbaik.
Allah tahu yang itu yang terbaik.
Makanya dalam surat Muhammad
Allah Subhanahu wa taala ya
e berfirman yaumina
kafarum
kata Allah
kalau Allah berkehendak Allah akan
menangkan mereka
tetapi Allah ingin menguji Jadi memang
Allah ingin kasih ujian. Allah terkadang
tidak menangkan kaum muslimin. Terkadang
tidak menangkan. Memang Allah ingin
mereka mati. Makanya Allah mengatakan
kalau Allah berkehendak Allah menangkan
selalu. Ternyata Allah tidak menangkan
sebagaimana ashabul ukhdud. Allah tidak
menangkan. Memang Allah ingin mereka
mati. Kata Allah walladina qutilu
fiabilillahi falan falan yudillalahum.
Adapun orang yang meninggal di jalan
Allah maka Allah tidak akan sesatkan
atau sia-siakan amalan mereka.
Sayahdihimusahum.
Maka Allah akan beri petunjuk kepada
mereka dan Allah perbaiki urusan mereka
di alam barzakh mereka dalam dapat
kenyamanan.
Ternyata mereka dapat rezeki dengan cara
meninggal dunia. Rezeki yang indah di
alam barzakh. Waudilumul jannata
arafahahum. Dan di akhirat Allah
masukkan surga dan Allah kenalkan di
mana tempat mereka tinggal di surga.
Ternyata solusinya adalah kematian.
Jadi terkadang ustaz saya sudah berusaha
berdoa ternyata ya sudah memang sulit
seorang punya anak misalnya sakit dia
berdoa berdoa tidak bertahun-tahun
akhirnya meninggal saya punya kawan ada
begitu
anaknya autis bertahun-tahun sampai
besar meninggal akhirnya ya sudah bilang
bukan kenapa Allah tidak kabulkan enggak
ya itu solusinyaang kau ingin dikasih
pahala dengan cara seperti itu. Ini anak
juga autis mungkin dia meninggal sebelum
balik menjadi pemberi syafaat bagimu.
Kalau dia normal belum tentu dia bisa
hidup jadi anak yang saleh. Kita enggak
tahu. Kita enggak tahu. Oleh karena apa
yang Allah putuskan itu yang terbaik
dengan syarat kita bersabar. Jadi kaidah
menyatakan
keputusan Allah pasti yang terbaik bagi
seorang mukmin dengan syarat dia apa?
Ber sabar. Kalau enggak bersabar
keputusannya belum tu baik. Tambah
parah, tambah buruk. Semakin habis
imannya semakin rusak.
Tayib.
Yang terakhir karena waktu sudah habis
ya
atau sebelum terakhir jangan lupa
sebelum melakukan sesuatu ibu-ibu ikut
prosedural apa? Istikharah agar kita
tidak diwaswasi oleh setan. Jadi
prosedural seorang dalam melakukan suatu
kegiatan dia prosedural dia bertakwa,
dia berdoa, dia istikharah, musyawarah,
dia ambil keputusan. Kalau ternyata
tidak sesuatu itu yang terbaik. Meskipun
kelihatannya buruk, itu yang terbaik
membuat kita menyesal. terkadang was-was
suudan kepada Allah kalau kita tidak
prosedural, kita curang, kita tidak
istikharah.
Ee intinya yang terakhir bahwasanya
orang yang
pasrah dengan keputusan Allah maka dia
akan bahagia di dunia sebelum di
akhirat. Itulah perkataan Ibnu Taimiyah
rahimahullahu taala. Inna fil jannati
inna fid dunya jannatan manam yadkhulha
lam yadkhul jannatal akhirah. Di dunia
ini ada surga.
Siapa yang tidak biasa memasuki surga
dunia, dia tidak akan masuk surga
akhirat. Ibnu Timyin mengatakan, orang
beriman, orang sabar dia pasti bahagia.
Bagaimana tidak bahagia? Innallaha
maobirin. Allah bersama orang-orang yang
sabar. Bagaimana tidak bahagia? Wallahu
yuhibbusirin. Allah mencintai
orang-orang yang bersabar. Ibnu Taimiyah
menyampaikan perkataan ini sementara dia
dipenjara berulang-ulang. Dimusi oleh
banyak orang. Tapi dia menunjukkan dia
bahagia. Dia mengatakan, "Sesungguhnya
di dunia ada surga. Siapa yang tidak
bisa masuk surga kebahagiaan dunia, dia
tidak akan merasakan kebahagiaan di
akhirat. Artinya dia mengatakan orang
beriman pasti surga, pasti bahagia di
dunia apapun yang dia rasakan. Apa kata
orang beriman ketika
ditakut-takuti dengan kekalahan? Qul
yusibana illa ma kataballahu lana hua
maulana wa alallahi falyatawakalil
mukminun.
Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Katakanlah, tidak ada yang menimpa kami
kecuali apa yang telah Allah catatkan,
yang Allah takdirkan. Tidak ada yang
keluar dari keputusan Allah. Apa yang
menimpa kami?" Yusibana illa ma
kataballahu lana. Tidak ada yang menimpa
kami kecuali keputusan Allah. Hua
maulana. Dialah penolong kami. Dialah
yang pengurus kami. Kita ini yang urus
siapa? Allah Subhanahu wa taala.
Waallahi falyatawakal mukminun. Tujuan
yang penting bertawakallah kepada Allah.
Pasrah, tawakal.
Tawakal.
Tenang hati seorang mukmin. Allah juga
berfirman, "Ma asoba m musibatin illa
biidnillah w ymin billahi yahdi qolbah."
Wallahu bikulli alim. Apapun musibah
yang menimpa maka semua dari izin Allah.
Siapa yang beriman tahu bahwasanya itu
atas keputusan Allah, Allah akan beri
hidayah kepada hatinya. Dia pasti
bahagia. Pasti bahagia. Pasti bahagia.
Karena Allah mengatakan wam yukmin.
Siapa yang beriman dia tahu ini adalah
karena keputusan Allah. Allah yang
memutuskan. Allah yang milihkan dia
musibah ini. Dia tahu Allah tidak salah
pilih. Dia tahu yang pilihkan buat dia
yang maha penyayang penciptanya yang
mengatur urusannya memberi rezeki kepada
dia. Yang membuat dia jadi beriman.
Ketika Allah pilihkan
dia tahu dari Allah maka yahdi Allah
akan beri iman tambah hatinya. Iman
dalam hatinya dia akan bahagia.
Kemudian juga kata Allah Subhanahu wa
taala tentang orang-orang yang terkena
musibah. Alladina asatum musibatun qu
inna lillahi wa inna ilaihii rojiun.
Ulaika alaihim shawatbihim warahmah
waulaika humul muhtadun. Orang-orang
tatkala terkena musibah dia berkata inna
lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami ini
milik Allah dan kami semua akan kembali
kepada Allah. Kata Allah alaihim
shawatbihim warahmah. Mereka akan
mendapatkan keberkahan yang banyak dari
Allah. mendapatkan rahmat dari Allah.
Merekalah orang yang dapat petunjuk.
Jadi mereka pasti bahagia
karena Allah kirimkan banyak keberkahan.
Maka inilah perbedaan antara orang
mukmin dengan orang yang tidak beriman.
Maka seorang tinggal pasrah dengan
keputusan Allah. Yakinlah
pasti itu yang terbaik yang Allah
pilihkan ee baginya. Demikian saja ibu
yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.
Demikian saja kurang lebihnya saya mohon
maaf. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Oh.